Anda di halaman 1dari 16

PENUGASAN MAKALAH

MATA KULIAH ARSITEKTUR INDONESIA


BANGUNAN PASCA KEMERDEKAAN
“Gedung Phinisi (Gedung Pusat Pelayanan Akademik UNM karya Yu Sing”

Nama : I Made Agung Mas Surianta


Nim : 1705521057

UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR
2018
Kata Pengantar

Om Swastiastu

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah
kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan Makalah yang berjudul “Gedung Phinisi
(Gedung Pusat Pelayanan Akademik UNM karya Yu Sing” tepat pada waktunya. Makalah
ini merupakan tindak lanjut dari penugasan Mata Kuliah Arsitektur Indonesia. Diharapkan
Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang salah satu contoh
bangunan Arsitektur Pasca Kemerdekaan.

Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan senantiasa meridhai segala
usaha kita.

Om Santhi Santhi Santhi Om

Denpasar, 21 September 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Arsitektur adalah proses atau produk rancangan bangunan dan struktur fisik lainnya.
Istilah “arsitektur” berasal dari bahasa Latin architectura yang diambil dari bahasa Yunani
ἀρχιτέκτων (arkhitekton) yang berasal dari dua kata yaitu ἀρχι- (kepala) dan τέκτων
(pembangun, tukang kayu, tukang). Karya arsitektur sering dianggap sebagai simbol budaya
dan sebagai karya seni. Jika arsitekturnya maju, maka peradaban tersebut dianggap maju
pula. Arsitektur harus dilakukan dengan perencanaan, perancangan, dan pembangunan
bentuk, ruang, dan suasana serta mempertimbangkan fungsional, teknis, dampak sosial,
lingkungan, dan estetika. Hal ini membutuhkan kreativitas dan koordinasi antara bahan,
cahaya, bayangan, dan teknologi. Arsitek juga harus mempertimbangkan jadwal
pembangunan, estimasi biaya, dan koordinasi saat pembangunan. Hasilnya dapat berupa
gambar, cetak biru (blue print), spesifikasi teknis, dan rencana. Kata “arsitektur” juga telah
digunakan untuk menggambarkan sistem lain terutama pada bidang teknologi informasi.

Arsitektur merupakan ilmu yang sangat luas, jenisnya pun beragam. Mulai dari arsitektur
vernacular sampai dengan arsitektur kontemporer ciri khas dari Zaha Hadid. Semua gaya
maupun langgam arsitektur nampaknya memiliki ciri khas kental dan memiliki elemen yang
berbeda Antara satu dengan yang lain. Arsitektur Indonesia merupakan sebuah kelompok
arsitektur yang berkembang dipengaruhi oleh banyak aspek. Arsitektur Indonesia dipengaruhi
oleh keanekaragaman budaya, sejarah dan geografi di Indonesia. Para penyerang, penjajah,
dan pedagang membawa perubahan kebudayaan yang sangat memperuhi gaya dan teknik
konstruksi bangunan. Pengaruh asing yang paling kental pada zaman arsitektur klasik
adalah India, meskipun pengaruh Cina dan Arab juga termasuk penting. Kemudian
pengaruh Eropa pada seni arsitektur mulai masuk sejak abad ke-18 dan ke-19.
Ketika mempelajari ilmu arsitektur, sangatlah penting untuk mempelajari contoh
karya arsitektur yang memiliki langgam yang beragam. Kali ini penulis mengangkat topik
bahasan mengenai Gedung Phinisi yang merupakan Gedung Pusat Pelayanan Akademik
Universitas Negeri Makassar karya arsitek kelahiran bandung Yu Sing. Memiliki ciri khas
dengan mengankat lokalitas konsep dan desain serta filosofi menjadi bangunan karya arstiek
tamatan Institut Teknologi Bandung ini patut untuk dibahas dan dijadikan objek study.

1.2 Rumusan Masalah


Dalam makalah ini, terdapat beberapa topik bahasan sebagai berikut :
1. Bagaimana bentuk arsitektur, tata ruang, maupun kondisi lingkungan sekitar dari
Gedung Phinisi tersebut ?
2. Bagaimana system konstruksi dan tektonika dari Gedung Phinisi ?
3. Apa saja material yang digunakan di Gedung Phinisi ?
4. Apa saja ornament Gedung Phinisi ?
5. Bagaimana respon desain Gedung Phinisi terhadap lingkungan ?
1.3 Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah :
1. Mengetahui bentuk arsitektur, tata ruang, maupun kondisi lingkungan sekitar dari
Gedung Phinisi tersebut
2. Memahami system konstruksi dan tektonika dari Gedung Phinisi
3. Mengetahui material yang digunakan di Gedung Phinisi
4. Mengetahui ornamen Gedung Phinisi
5. Mengetahui respon desain Gedung Phinisi terhadap lingkungan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bentuk Arsitektur, Tata Ruang, dan Lingkungan Sekitar Gedung Phinisi

Gedung Phinisi UNM , didesain sebagai ikon baru bagi UNM, kota Makassar dan

sekaligus Sulawesi Selatan. Gedung ini mengambil konsep Perahu Pimisi, perahu khas Bugis

– Makassar di mana sejak dahulu kala perahu pinisi tangguh dalam mengarungi samudra.

Itulah sebabnya bangsa Bugis – Makassar Terkenal sebagai Pelaut ulung. Bangsa ini

mempunyai semboyan “Takunjungan Bangung Turu’. Naku Gunciri Gulingku. Kualleanna

Tallanga Natoalia” yang artinya “sekali layar terkembang, pantang biduk surut kepantai”.

Gambar 1. Perspektif Gedung Pinisi


Gedung ini

terletak di Kampus Universitas Negeri (UNM) Makassar, Jl Andi Pangerang Pettarani.

Menara Pinisi UNM juga disebut gedung Tellu Cappa (tiga Puncak). Konsep dasar gedung ini

didesain sebagai ikon baru bagi UNM, kota Makassar dan sekaligus Sulawesi Selatan.

Eksplorasi desain gedung ini mengutamakan pada pendalaman kearifan lokal sebagai

sumber inspirasi, yaitu makna Logo UNM, Rumah Tradisional Makassar, falsafah hidup

masyarakat Sulawesi Selatan (Sulapa Eppa/empat persegi), dan maha karya perahu pinisi

sebagai simbol kejayaan, kebanggaan, dan keagungan. Seluruh lahan di sekeliling bangunan
difungsikan sebagai hutan universitas. Di depan landasan bagian Barat terdapat danau buatan

yang cukup luas berbentuk segitiga dengan kolam-kolam yang berundak mengalir ke arah

kolam. Danau buatan ini berfungsi sebagai kolam penyaringan alami dari air hujan dan air

kotor bekas pakai yang akan digunakan kembali sebagai sumber air bersih untuk penyiraman

toilet dan taman.

Bagian kolong merupakan ruang terbuka di bawah podium sebagai ruang sosialisasi

bersama. Ketinggiannya 1,5 kali ketinggian lantai lainnya untuk memberikan kesan luas dan

lega. Di lantai ini terdapat fungsi kantin kampus yang sifatnya semi terbuka. Bagian landasan

yang menghadap ke arah kampus eksisting didesain sebagai amphitheater dengan tangga-

tangga sebagai tempat duduk di sepanjang sisi Timur bangunan.

Gambar 2. Lantai Dasar Gedung Pinisi


2.1.1 Konsep Dasar

Gedung Pusat Pelayanan Akademik (GPPA) didesain sebagai ikon baru bagi UNM,

kota Makassar dan sekaligus Sulawesi Selatan (Sulsel). Eksplorasi desain gedung ini

mengutamakan pada pendalaman kearifan lokal sebagai sumber inspirasi, yaitu makna Logo

UNM, Rumah Tradisional Makassar, falsafah hidup masyarakat Sulawesi Selatan (Sulapa

Eppa/empat persegi), dan maha karya perahu pinisi sebagai simbol kejayaan, kebanggaan,

dan keagungan. Serangkaian eksekusi bentuk dan detail-detail solusi desain yang bersumber

pada kearifan lokal, dipercaya mampu membentuk lingkungan kampus masa kini yang

berkelas internasional.

GPPA UNM menjadi gedung tinggi pertama di Indonesia dengan sistem fasade

Gambar 3. Bentuk Gedung Pinisi Hiperbolic

Paraboloid,

yang merupakan ekspresi futuristik dari aplikasi kecanggihan ilmu pengetahuan dan

teknologi. Bangunan ini sebagai perwujudan dari serangkaian makna, fungsi, dan aplikasi

teknologi yang ditransformasikan ke dalam sosok arsitektur. Kekayaan makna tersebut akan

meningkatkan nilai arsitektur GPPA UNM menjadi lebih dari sekedar sosok estetis, tetapi

juga memiliki keagungan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.


2.2 Sistem konstruksi bangunan & tektonikanya

GPPA UNM yang merupakan gedung tinggi pertama di Indonesia dengan sistem
fasade Hiperbolic Paraboloid, merupakan ekspresi futuristik dari aplikasi kecanggihan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Bangunan Pusat Pelayanan Akademik UNM merupakan
perwujudan dari serangkaian makna, fungsi, dan aplikasi teknologi yang ditransformasikan
ke dalam sosok arsitektur. Kekayaan makna tersebut akan meningkatkan nilai arsitektur
GPPA UNM menjadi lebih dari sekedar sosok estetis, tetapi juga memiliki keagungan nilai-
nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai filosofi yang tergambar pada perahu Phinisi dengan
segala pengelolaannya sebagai alat transportasi dari satu tempat ke tempat tujuan baru.
Rasanya tidak ada bedanya dengan pengelolaan sebuah institusi perguruan tinggi sebagai
pusat transparansi pencerdasan kehidupan bangsa.Di dalamnya penuh perjuangan untuk
menaiki cita-cita.
Jenis struktur dan material dari Gedung Pusat Pelayanan Akademik UNM, sebagai
berikut:
1. Pondasi yang digunakan adalah pondasi tiang pancang dengan kedalaman yang
bervariasi antara 12 – 15 meter, dengan diameter 50 cm.
2. Lantai GPPA UNM terdiri 17 lantai yang setiap lantainya dibuat dari material
beton dengan finishing keramik dan tegel. Keramik digunakan pada bagian –
bagian sirkulasi yang mudah terkena air agar tidak licin, sedangkan tegel
digunakan pada bagian yang tidak mudah terkena air. Tebal plat pada setiap lantai
yaitu 12 cm.
3. Salah satu struktur GPPA UNM yang paling menarik adalah dindingnya. Secara
konvensional, struktur dinding dibuat dari pasangan bata, atau batako. Namun
pada bagian – bagian tertentu, terutama pada finishingnya, menggunakan struktur
dinding baja ringan. Selain itu, bangunan ini tidak menggunakan shear wall tetapi
menggunakan core wall. Selain itu, kaca dengan ketebalan ± 5 mm digunakan

sebagai material pelengkap dinding dan jendela bangunan GPPA UNM. Untuk

Gambar 4. Kolom dan dinding Gedung Pinisi


material penutup dinding, pada bagian luar menggunakan bahan Alumunium
Composite Panel ( ACP ) sedangkan bagian dalamnya menggunakan marmer.

4. Kolom GPPA UNM menggunakan system grid 4 x 4 dalam penentuan kolom


bangunan. Diameter kolom bangunan berbeda – beda, dari lantai 1 ke lantai 11
diameter kolomnya 100 cm, dari lantai 11 ke 13 diameter kolomnya 80 cm dan
dari lantai 13 ke 17 diameternya 50 cm.

Gambar 5. Kolom dan fungsinya Pada Gedung Pinisi


5.
Balok-Balok lantai pada bangunan berfungsi manahan beban lantai. Ada dua jenis
balok lantai yaitu balok induk dan balok anak.

6. Struktur atap adalah bagian bangunan yang menahan /mengalirkan beban-beban


dari atap. Struktur atap terbagi menjadi rangka atap dan penopang rangka atap.
Rangka atap berfungsi menahan beban dari bahan penutup. Penopang rangka atap
adalah balok kayu / baja yang disusun membentuk segitiga,disebut dengan istilah
kuda-kuda. Rangka atap dan penopang rangka atap yang digunakan pada GPPA
UNM adalah baja. Sedangkan penutup atapnya menggunakan seng yang dilapisi
alumunium.

Gambar 6. Atap Gedung Pinisi


2.3 Material

Seperti pada rumah tradisional Makassar yang terdiri dari 3 bagian (kolong/awa bola,

badan/lotang, dan kepala/rakkeang) dan dipengaruhi struktur kosmos (alam bawah, alam

tengah, dan alam atas), GPPA UNM juga terdiri dari 3 bagian, yaitu :

1. Kolong/Panggung

Bagian ini posisinya terletak sekitar 2 meter di atas jalan agar bangunan terlihat

lebih megah dari lingkungan sekitar. Lantai kolong ini didesain menyatu dengan

lansekap yang didesain miring sampai ke pedestrian keliling lahan.

Gambar 7. Kolong Gedung Pinisi


2. Badan

Bagian badan berupa podium, terdiri dari 3 lantai, simbol dari 3 bagian badan

pada Rumah Tradisional Makassar (bagian depan/lotang risaliweng, ruang

tengah/Lotang ritenggah, dan ruang belakang/Lontang rilaleng). Bagian podium

ini juga bermakna ganda sebagai simbol dari tanah dan air.
 Bagian depan dari gedung ini di manfaatkan sebagai area yang di hiasi dengan

beberapa macam tanaman dan sebuah kolam kecil yang akan memberikan arti

tersendiri bagi setiap yang memandang ke tempat ini.

 Bagian tengah dari gedung ini di kosongkan dan tidak di berikan atap karena di

fungsikan sebagai sarana jalur naik ataupun turun dari setiap lantai. Tangga yang

di sesuaikan dengan kolam berbentuk oval agar siapa pun yang melewati area

tersebut akan merasa senang dengan kejernihan air yang di sinari oleh cahaya

matahari langsung yang mana berperan juga dalam system pencahayaan alami

untuk area tengah dari gedung.

Gambar 8. Perspektif Ruang Dalam Gedung Pinisi

 Gedung ini juga di lengkapi dengan jembatan penghubung berjumlah 3 buah di

mana setiap jembatan penghubung, tampak fasade yang di munculkan berbeda

dengan fasade dari dinding biasa. Hal ini di karenakan supaya pemandangan dari

setiap sudut dari gedung ini akan lebih terlihat jika melintasi jembatan

penyebrangan dan melihat yang ada di sekitarnya. Bahan material yang di

gunakan itu berupa kaca tembus pandang yang menghiasi jembatan

penyembrangan tersebut.
3. Kepala

Bagian kepala berupa menara, terdiri dari 12 lantai yang merupakan metafora dari

layar perahu pinisi dan juga bermakna ganda sebagai simbol dari angin dan api.

Dalam proses desain, bangunan podium dibelah menjadi 4 bagian sesuai dengan simbol

falsafah hidup masyarakat Sulsel yang terdiri dari empat persegi (makna 4 unsur/kesadaran

manusia akan diberikan metafora ke dalam bagian bangunan yang lainnya).

Bangunan terbelah menjadi 4 bagian (yang terinspirasi dari deretan perahu pinisi di

pinggir pantai) menciptakan lorong angin dan jalur masuk bagi cahaya matahari ke dalam

seluruh ruang dalam podium. Tepat di tengah sumbu axis bagian belakang bangunan menara,

terdapat void kosong berbentuk elips yang memotong bangunan podium. Di bagian paling

bawah void berfungsi sebagai kolam air mancur yang selalu bergemericik dengan ramp yang

mengelilingi void. Void kosong di bagian tengah merupakan metafora dari lingkaran

berwarna terang di pusat logo UNM, yang dijelaskan sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan,

teknologi, dan/atau kesenian. Di puncaknya terdapat exhaust turbine untuk mengalirkan uap

kolam sebagai elemen pendinginan suhu bangunan, merupakan yang metafora 3 layar

segitiga yang menghadap ke arah void.

Gambar 9. Bentuk Gedung Pinisi saat Malam Hari


Bangunan podium juga merupakan metafora dari unsur tanah dan air. Dinding

bangunan podium berupa kaca reflektor sinar matahari yang berwarna kecoklatan seperti

warna tanah, dengan sirip-sirip penahan matahari yang terbuat dari stainless steel yang

memantulkan cahaya seperti air. Sirip-sirip ini juga didesain sebagai bagian dari façade

bangunan dengan pola ombak. Dimalam hari, lampu pada eksterior menara berubah-ubah

warna secara teratur, rotasi dari 12 warna yang mewakili 12 fakultas yang ada di UNM.

Gedung ini baru digunakan pada tahun 2013 ini.

2.4 Sistem dekorasi dan ornamen dan Respon terhadap Lingkungan

A. Dinding

Konsep dari dinding gedung ini menggunakan konsep elemen budaya yang di

desain sehingga dapat di manfaatkan menjadi elemen fasade yang baru. Konsep

penataan fasade dinding yang miring juga merupakan respon terhadap sudut lahan dan

juga sebagai strategi untuk memperpanjang fasad bangunan serta sebagai kontrol

visual dari luar bangunan. Orang di luar lahan akan selalu melihat bangunan secara

perspektif untuk meningkatkan kualitas visual ruang kota.

B. Kaki

Gambar 10. Perspektif Lantai Dasar Gedung Pinisi


Bangunan kaki terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian landasan dan kolong. Bagian

landasan merupakan 1 lantai semi besmen yang berfungsi sebagai area parkir dan

servis. Bagian landasan ini didesain seolah-olah terletak di bawah lansekap yang

ditinggikan sampai sekitar 2 meter, membentuk pagar alami sekeliling lahan

C. Badan

Bangunan podium memiliki denah yang berbentuk trapesium dengan sisi

miringnya menghadap ke jalan utama pada sisi Barat. Bangunan yang miring

merupakan respon terhadap sudut lahan dan juga sebagai strategi untuk

memperpanjang fasad bangunan serta sebagai kontrol visual dari luar bangunan.

Orang di luar lahan akan selalu melihat bangunan secara perspektif untuk

meningkatkan kualitas visual ruang kota.

Gambar 11. Bentuk Fasad Gedung Pinisi


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Gedung Phinisi UNM , didesain sebagai ikon baru bagi UNM, kota Makassar
dan sekaligus Sulawesi Selatan. Gedung ini mengambil konsep Perahu Pimisi,
perahu khas Bugis – Makassar di mana sejak dahulu kala perahu pinisi
tangguh dalam mengarungi samudra.

2. Serangkaian eksekusi bentuk dan detail-detail solusi desain yang bersumber


pada kearifan lokal, dipercaya mampu membentuk lingkungan kampus masa
kini yang berkelas internasional.

3. GPPA UNM menjadi gedung tinggi pertama di Indonesia dengan sistem


fasade Hiperbolic Paraboloid, yang merupakan ekspresi futuristik dari aplikasi
kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bangunan ini sebagai
perwujudan dari serangkaian makna, fungsi, dan aplikasi teknologi yang
ditransformasikan ke dalam sosok arsitektur. Kekayaan makna tersebut akan
meningkatkan nilai arsitektur GPPA UNM menjadi lebih dari sekedar sosok
estetis, tetapi juga memiliki keagungan nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya.

4. Pondasi yang digunakan adalah pondasi tiang pancang dengan kedalaman


yang bervariasi antara 12 – 15 meter, dengan diameter 50 cm. Lantai GPPA
UNM terdiri 17 lantai yang setiap lantainya dibuat dari material beton dengan
finishing keramik dan tegel. Secara konvensional, struktur dinding dibuat dari
pasangan bata, atau batako. Namun pada bagian – bagian tertentu, terutama
pada finishingnya, menggunakan struktur dinding baja ringan.
5. Kolom GPPA UNM menggunakan system grid 4 x 4 dalam penentuan kolom
bangunan. Rangka atap dan penopang rangka atap yang digunakan pada GPPA
UNM adalah baja. Sedangkan penutup atapnya menggunakan seng yang
dilapisi alumunium

3.2 Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
kedepannya penulis akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan makalah diatas
dengan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu kritik
dan saran sangatlah diharapkan untuk meningkatkan kualitas tulisan makalah ini.

Daftar Pustaka

Yusing. 2009. YUSING: Menara Pinisi. http://rumah-yusing.blogspot.com/2009/01/menara-


pinisi.html. Diakses 20 September 2018

Hidayat, Anas. 2017. 15 Cerita Arsitek Muda. Jakarta: IMAJI