0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
483 tayangan5 halaman

Paradigma Administrasi Publik

Teks tersebut membahas tiga paradigma administrasi publik yaitu Old Public Administration (OPA), New Public Management (NPM), dan New Public Service (NPS). OPA berfokus pada efisiensi, NPM memperkenalkan pendekatan bisnis ke sektor publik, sedangkan NPS lebih menekankan pada pelayanan masyarakat dan partisipasi warga.

Diunggah oleh

Sayasay
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
483 tayangan5 halaman

Paradigma Administrasi Publik

Teks tersebut membahas tiga paradigma administrasi publik yaitu Old Public Administration (OPA), New Public Management (NPM), dan New Public Service (NPS). OPA berfokus pada efisiensi, NPM memperkenalkan pendekatan bisnis ke sektor publik, sedangkan NPS lebih menekankan pada pelayanan masyarakat dan partisipasi warga.

Diunggah oleh

Sayasay
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

Paradigma Administrasi Publik


Teori dalam administrasi Negara dapat dilacak dari perkembangan paradigma ilmu administrasi itu
sendiri. Yang pada awalnya paradigma merupakan suatu konsep yang digunakan oleh para ilmuwan
untuk menjelaskan fenomena-fenomena perkembangan ilmu atau cara pandang untuk menganalisis
fenomena social yang berkembang di masyarakat. Dan buku tulisan Janet V. Denhardt dan Robert B.
Denhardt yang berjudul The New Public Service: Serving, not Steering dapat digunakan untuk
memahami ilmu administrasi. Janet V. Denhardt dan Robert B. Denhardt membagi mencoba membagi
paradigma administrasi Negara atas tiga kelompok besar, yaitu paradigma The Old Public
Administration (OPA), The New Public Management (NPM) dan The New Public Service (NPS).
Menurut Denhardt dan Denhardt paradigma OPA dan NPM kurang relevan dalam menangani
persoalan-persoalan publik karena memiliki landasan filosofis dan ideologis yang kurang sesuai dengan
administrasi Negara, sehingga perlu paradigma baru yang kemudian disebut sebagai NPS.

I. Paradigma OPA
Paradigma OPA memiliki tiga pemikiran, yaitu :
1. Pertama, paradigma dikotomi yang dikemukakan oleh Henry, memiliki dua kunci pokok yaitu
 Politik berbeda (distinct) dengan administrasi. Politik adalah arena dimana kebijakan (policy)
diambil sehingga administrasi tidak berhak berada dalam arena tersebut. Administrasi hanya
bertugas mengimplementasikan (administered) kebijakan tersebut.
 OPA juga tidak bisa dilepaskan dari prinsip-prinsip manajemen ilmiah (scientific management)
Frederick W. Taylor dan manajemen klasik POSDCORB ciptaan Luther Gullick. Administrasi
negara harus berorientasi secara ketat kepada efisiensi. Semua sumber daya (man, material,
machine, money, method, market) digunakan sebaik-baiknya untuk mencapai prinsip efisiensi.

2. Kedua, manusia rasional (administratif) Herbert Simon juga memberikan pengaruh terhadap
OPA.
Menurut Simon, manusia dipengaruhi oleh rasionalitas mereka dalam mencapai tujuan-tujuannya.
Rasionalitas yang dimaksud di sini hampir sama dengan efisiensi yang dikemukakan oleh aliran
scientific management. Manusia yang bertindak secara rasional ini disebut dengan manusia
administratif (administrative man).

3. Ketiga, teori pilihan publik (public choice) merupakan teori yang melekat dalam OPA.
Teori pilihan publik berasal dari filsafat manusia ekonomi (economic man) dalam teori-teori ekonomi.
Menurut teori pilihan publik manusia akan selalu mencari keuntungan atau manfaat yang paling tinggi
pada setiap situasi dalam setiap pengambilan keputusan. Manusia diasumsikan sebagai makhluk
ekonomi yang selalu mencari keuntungan pribadi melalui serangkaian keputusan yang mampu
memberikan manfaat yang paling tinggi.

Denhardt dan Denhardt menguraikan karakteristik OPA sebagai berikut:

 Fokus utama adalah penyediaan pelayanan publik melalui organisasi atau badan resmi
pemerintah.
 Kebijakan publik dan administrasi negara sebagai tujuan yang bersifat politik.
 Administrator publik memainkan peranan yang terbatas dalam perumusan kebijakan publik dan
pemerintahan; mereka hanya bertanggung-jawab mengimplementasikan kebijakan publik.
 Pelayanan publik harus diselenggarakan oleh administrator yang bertanggung-jawab kepada
pejabat politik (elected officials) dan dengan diskresi terbatas.
 Nilai pokok yang dikejar oleh organisasi publik adalah efisiensi dan rasionalitas.
 Peranan administrator publik adalah melaksanakan prinsip-prinsip Planning, Organizing,
Staffing, Directing, Coordinating, Reporting dan Budgetting.

II. Paradigma NPM


Paradigma NPM memiliki konsep yang terkait dengan manajemen kinerja sektor publik, yang mana
pengukuran kinerja merupakan salah satu dari prinsip-prinsipnya. NPM mengacu kepada sekelompok
ide dan praktik kontemporer untuk menggunakan pendekatan-pendekatan dalam sektor privat (bisnis)
pada organisasi sektor publik. Pemerintahan yang kaku dan sentralistik sebagaimana yang dianut oleh
OPA harus diganti dengan pemerintahan yang berjiwa wirausaha. NPM menganjurkan pelepasan
fungsi-fungsi pemerintah kepada sektor swasta. Inti dari ajaran NPM dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Pemerintah diajak untuk meninggalkan paradigma administrasi tradisional dan


menggantikannya dengan perhatian terhadap kinerja atau hasil kerja.
2. Pemerintah sebaiknya melepaskan diri dari birokrasi klasik dan membuat situasi dan kondisi
organisasi, pegawai dan para pekerja lebih fleksibel.
3. Menetapkan tujuan dan target organisasi dan personel lebih jelas sehingga memungkinkan
pengukuran hasil melalui indikator yang jelas.
4. Staf senior lebih berkomitmen secara politis dengan pemerintah sehari-hari daripada netral.
5. Fungsi pemerintah adalah memperhatikan pasar, kontrak kerja keluar, yang berarti pemberian
pelayanan tidak selamanya melalui birokrasi, melainkan bisa diberikan oleh sektor swasta.
6. Fungsi pemerintah dikurangi melalui privatisasi.

III. Paradigma NPS


Akar dari NPS dapat ditelusuri dari berbagai ide tentang demokrasi yang pernah dikemukakan oleh
Dimock, Dahl dan Waldo. NPS berakar dari beberapa teori, yang meliputi :

1. Teori tentang demokrasi kewarganegaraan. Perlunya perlibatan warganegara dalam pengambilan


kebijakan dan pentingnya deliberasi untuk membangun solidaritas dan komitmen guna
menghindari konflik. Dengan terjadi peningkatan tuntutan pembaharuan kewarganegaraan yang
didasarkan pada kepentingan sispil, bukan kepentingan diri sendiri dimana penduduk melakukan
kegiatan dalam demokrasi dengan memberikan konstribusi untuk kebaikan masyarakat serta
untuk pertumbuhan mereka sebagai manusia yang aktif dan bertanggungjawab.
2. Model komunitas dan masyarakat sipil; akomodatif terhadap peran masyarakat sipil dengan
membangun social trust, kohesi sosial dan jaringan sosial dalam tata pemerintahan yang
demokratis. Dalam suatu komunitas perlu adanya sebuagh filosofi pluralisme, sebuah sifat
terbuka bagi perbedaan pendapat. Komunitas didasarkan pada kepedulian, saling percaya dan
kerjasama, yang disatukan oleh sebuah system yang kuat dan efektif bagi komunikasi dan
penyelesaian konflik.
3. Teori organisasi humanis dan administrasi negara baru; administrasi negara harus fokus pada
organisasi yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan (human beings) dan respon terhadap nilai-
nilai kemanusiaan, keadilan dan isu-isu sosial lainnya.
4. Administrasi negara postmodern; mengutamakan dialog (dirkursus) terhadap teori dalam
memecahkan persoalan publik daripada menggunakan one best way perspective. Dasar dari
manajemen publik post-modern iniadalah ide bahwa administasi publik mainstream seperti ilmu
sosial lainnya. Post-modernisme itu sangat kompleks dan beragam, namun masalah yang
dihadapkan saat ini adalah karena hilangnya kemampuan kita untuk mengungkapkan kenyataan
atau fakta. Dalam perspektif post-modern baik administrator maupun penduduk harus terlibat
sepenuhnya, tidak hanya berperan sebagai individu tetapi juga sebagai partisipan.

Para ahli kewarganegaraan, komunitas dan masyarakat sipil, humanisme organisasional dan
adminintrasi publik baru serta post-modernisme membantu menetapkan ide-ide Layanan Publik Baru,
yaitu :

1. Melayani penduduk, bukan konsumen (Lebih memfokuskan pada hubungan saling percaya)
2. Mencari kepentingan publik
3. Menilai penduduk lebih dari kewirausahaan
4. Berfikir strategis, bertindak demokratis
5. Menyadari akuntabilitas bahwa itu tidak sederhana
6. Melayani bukan menyetir
7. Menilai orang, bukan hanya produktivitasnya

2. Pengertian New Public Management


Administrasi Publik mulai mengenalkan New Public Management (NPM) yang merupakan paradigma
baru pada tahun 1990-an. Istilah NPM pertama kali dikemukakan Crishtopher Hood dalam artikelnya “
All Public Management of All Seasons”. Nama New Public Management sering disebut dengan nama
lain misalnya Post-bureucratis Paradigm (Barzeley, 1992), dan Reinventing Government (Osborne dan
Gaebler, 1992).
New Publik Management (NPM) adalah paradigma baru dalam manajemen sektor publik. NPM
biasanya dikawankan dengan Old Publik Management (OPM). Konsep NPM muncul pada tahun 1980-
an dan digunakan untuk mellukiskan sektor publik di Inggrin dan Selandia Baru. NPM menekankan
ada control atas output kebijakan pemerintah, desentrallisasi otoritas menajement, pengenalan pada
dasar kuasi-mekanisme pasar, serta layanan yang berorientasi customer.
Asal NPM berasal dari pendekatan atas menejemen publik dan birokrasi. Selama ini birokrasi erat
dikaitakan dengan manajemen sektor publik itu sendiri. Birokrasi dianggap erat berkait dengan
keengganan maju, kompeksitas hirarki jabatan dan tugas, serta mekanisme pembuatan keputusan yang
top-down. Fokus dari NPM sebagai sebuah gerakan adalah pengadopsian keunggulan teknik
manajemen perusahaan sektor publik untuk diimplementasikan dalam sektor publik dan
pengadministrasiannya.
Prinsip-prinsip NPM

NPM adalah konsep payung yang menaungi serangkaina makna seperti desain organisasi dan
manajeman, penerapan kelembagaan ekonomi atas menejemen publik, serta pola-pola kebijakan.
Prinsip-prinsip NPM merupakan sebagai berikut:
1. Penekanan pada keahlian menajemen profesioanal dalam mengendalikan organisasi.
2. Standar-standar yang tegas dan terukur atas performa organisasi, termasuk klarifikasi tujuan,
target, dan indikator-indikator keberhasilannya.
3. Peralihan dan pemanfaatan kendali input menjadi output, dalam prosedur-prosedur birokrasi yang
seluruhnya diukur lewat indikator-indikator performa kuantitatif.
4. Peralihan dari sistem manajemen tersentral menjadi desentralistik dari unit-unti sektor publik.
5. Pengenalan pasa kompetisi yang lebih besar dalam seltor publik, seprti penghematan dana dan
pencapaian stanndar tinggi lewat kontrak dan sejenisnya.
6. Penekanan pada praktek-praktek manajeman bergaya perusahaan swasta seperti kontrak kerja
singkat, pembangunan rencana korporasi, dan pernyataan misi.
7. Penekanan pasa pemangkasan, efisiensi, dan melakukan elebih banyak sumber daya yang sedikit.
Perkembangan dan penerapan New Public Management di
Indonesia
Berberapa pihak berpendapat bahwa NPM tidak tapat diterapkan untuk negara-negara berkembang,
karena dalam implementasinya mereka mengalami kesulitan, akibat adanya kecenderungan birokrasi
yang masih sulit dihilangkan. Pengadopsian model NPM yang dilakukan oleh negara berkembang ini
belum diketahui efektifitasnya khusunya di Indonesia.
Sebagai negara yang ingin menjadi negara yang maju, Indonesia berusaha menerapkan NPM meski ada
sikap pesimis dari berbagai pihak mengenai kesanggupan penerapannya. Salah satu yang menonjol
adalah Reformasi birokrasi Departemen Keuangan dan Badan Pemeriksa Keuangan. Dalam
reformasinya, kedua instansi ini berfokus pada pilar-pilar yang menajpi pokok perubahan birokrasi.
Dalam reformasi birokrasinya, sebagai penerapan dari NPM, baik Departemen Keuangan maupun
Badan Pemeriksaan menggunakan konsep Balanced Score Card, yaitu dengan membentuk strategy map
dan key performence indicators (KPI) sebagai standar dan alat pengukuran kinerja. Bisa dikatakan
bahwa dalam konsepnya kedua instansi ini sukses, hanya saja dalam pelaksanaanya dirasa masih
setengah hati, terllihat dari belum sinkronnya antara program dengan strategi yang dibentuk, juga antara
program dengan KPI, terlebih pada anggarannya ada format DIPA. Hal ini saling berkaitan, karena
money follow functions. Ketika strategi, program beserta KPInya terbentuk secara rapi, maka tentunya
anggaran akan mengikuti mekanisme tersebut.

Selain itu, beberapa hal yang menandakan karakteristik NPM menurut Crishtopher Hood yang telah
diterapkan di Depkeu dan BPK adalah:
1. Manajemen profsional disektor publik; secara bertahap, mereka sudah mulai menerapkan, yaitu
mengelola organisasi secara profesional, memberikan batasan, tugas pokok dan fungsi serta
deskripsi kerja yanag jelas, memberikan kejelasan, wewenang dan tanggung jawab.
2. Penekanan terhadap pengendalian output dan outcome; sudah dilakukan dengan penggunaan
performance budgeting yang dirancang oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Perubahan atas
sistem anggaran yang digunakan ini merupakan yang tepenting yang terkait dengan penekanan
atas pengndalian output dan outcome.
3. Pemecahan unit-unit kerja di sektor publik; hal ini sudah sejak lama dilakukan oleh Depkeu juga
BPK, yaitu adanya unit-unit kerja tingkat eselon 1.
4. Menciptakan persaingan disektor publik; hal ini juga sudah dilakukan, yaitu adanya mekanisme
kontrak dan tender kompetitif dalam rangka penghematan biaya dan peningkatan kualitas serta
privatisasi.
5. Mengadopsi gaya manajemen dari sektor bisnis ke sektor publik; hampir diseluruh eselon 1 di
Depkeu sudah menerapkannya, dengan adanya modernisasi kantor baik di Ditjen Pajak, Ditjen
Perbendaharaan, maupun Ditjen Bea Cukai, juga terkait dengan pemberian remunerasi sesuai job
grade karyawan. Demikian juaga di BPK, selain modernisasi kantor dan remunerasi, hubungan
antara atasan dan bawahan semakin dinamis, gap senioritas dan hanya muncul dalam hal-hal
profesionalisme yang dibutuhkan.
6. Disiplin dan penghematan penggunaan sumber daya; dalam hal disiplin biaya, implementasi pada
kedua instansi ini masih diragukan karena masih ada aset-aset yang dibelu melebihi spesifikasi
kebutuhan. Sedangkan dalam hal disiplin pegawai adanyamodal presensi menggunakan finger
print sudah sangat efektif dilakukan.

Penerapan New Public Management di Indonesia dapat dilihat dari penerapan beberapa karakteristik-
karakteristiknya didalam praktek-praktek yang tengah dijalankan oleh instansi-instansi pemerintahan
di Indonesia.

Terlepas dari kedua instansi pemerintahan tersebut, dalam ranah yang lebih luas, NPM ini telah dicoba
diterapkan juga pada Pemerintahan Daerah, yaitu sejalan dengan penerapan otonomi daerah di
Indonesia muali tahun 2004. Bisa dikatakan, bahwa penerapan NPM ini memberikan dampak positif
dalam beberapa hal., misalnya peningkatan efisiensi dan produktifitas kinerja pemerintah daerah, yang
pada akhirnya mampu meningkatakan kualitas pelayanan publik. Hal ini dapat dipahami melalui salah
astu karakteristik NPM menurut Christopher Hood, yaitu menciptakan persaingan disektor publik.
Sehingga apa yang dikatakan oleh pemerintah daerah adalah berusaha bersaing untuk memberikan
pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat, dan pada gilirannya, publiklalh yang diuntungkan
dalam upaya ini.

3. LEARNING ORGANIZATION
Learning Organization atau Organisasi belajar adalah suatu konsep dimana organisasi
dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran mandiri (self leraning)
sehingga organisasi tersebut memiliki ‘kecepatan berpikir dan bertindak’ dalam merespon
beragam perubahan yang muncul. Peter Senge adalah salah satu tokoh penting yang membuat
teori Learning Organization (LO). Dia melontarkan gagasannya dalam buku Fifth Disipline
(1990). Marquardt (1996) juga mengemukakan teorinya tentang Learning Organization. Peter
Senge dan Marquardt memiliki perbedaan pendapat dalam mengemukakan teori Learning
Organization. Tetapi Peter Senge Dan Marquart juga memiliki persamaan dalam teori Learning
Organization. Berikut ini akan dikemukakan mengenai teori-teori kedua tokoh ini.
Peter Senge (1990: 3) learning organizations are:
…organizations where people continually expand their capacity to create the results they truly
desire, where new and expansive patterns of thinking are nurtured, where collective aspiration
is set free, and where people are continually learning to see the whole together.
Organisasi belajar adalah organisasi dimana orang mengembangkan kapasitas mereka secara
terus-menerus untuk menciptakan hasil yang mereka inginkan, dimana pola pikir yang luas dan
baru dipelihara, dimana aspirasi kolektif dipoles, dimana orang-orang belajar tanpa henti untuk
melihat segala hal secara bersama-sama.

4. DISIPLIN KELIMA
1. Personal Mastery (Penguasaan Pribadi) – belajar untuk memperluas kapasitas personal
dalam mencapai hasil kerja yang paling diinginkan, dan menciptakan lingkungan organisasi
yang menumbuhkan seluruh anggotanya untuk mengembangkan dirimereka menuju
pencapaian sasaran dan makna bekerja sesuai dengan harapan yang mereka pilih.
2. Mental Models (Model Mental) – proses bercermin, sinambung memperjelas, dan
meningkatkan gambaran diri kita tentang dunia luar, dan melihat bagaimana mereka
membentuk keputusan dan tindakan kita.
3. Shared Vision (Visi bersama) – membangun rasa komitmen dalam suatu kelompok, dengan
mengembangkan gambaran bersama tentang masa depan yang akan diciptakan, prinsip dan
praktek yang menuntun cara kita mencapai tujuan masa depan tersebut.
4. Team Learning (Belajar beregu) – mentransformasikan pembicaraan dan keahlian berfikir
(thinking skills), sehingga suatu kelompok dapat secara sah mengembangkan otak dan
kemampuan yang lebih besar dibanding ketika masing-masing anggota kelompok bekerja
sendiri.
5. System Thinking (Berpikir sistem) – cara pandang, cara berbahasa untuk menggambarkan
dan memahami kekuatan dan hubungan yang menentukan perilaku dari suatu system. Faktor
disiplin kelima ini membantu kita untuk melihat bagaimana mengubah sistem secara lebih
efektif dan untuk mengambil tindakan yang lebih pas sesuai dengan proses interaksi antara
komponen suatu sistem dengan lingkungan alamnya.

Anda mungkin juga menyukai