Anda di halaman 1dari 22

BAB I

ANALISIS GRAVIMETRI METODE PENGUAPAN

Indikator :
1. Mendeskripsikan prinsip analisis gravimetri
2. Mendeskripsikan metode analisis gravimetri
3. Mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan analisis gravimetri
4. Mendeskripsikan pengaturan proses analisis gravimetri
5. Mendeskripsikan macam-macam kandungan air
6. Mendeskripsikan analisis kadar air dan mineral

A. PRINSIP ANALISIS GRAVIMETRI

Analisis gravimetri merupakan salah satu metode analisis kuantitatif dengan


penimbangan. Metode analisis gravimetri adalah suatu metode analisis yang
didasarkan pada pengukuran berat, yang melibatkanpembentukan, isolasi dan
pengukuran berat dari suatu endapan. Tahapawal analisis gravimetri adalah
pemisahan komponen yang ingin diketahuidari komponen-komponen lain yang
terdapat dalam suatu sampelkemudian dilakukan pengendapan.
Analisis gravimetri atau analisa kuantitatif berdasarkan bobot adalah proses
isolasi serta pertimbangan suatu unsur atau senyawa tertentu dari unsur
tersebut dalam bentuk yang semurni mungkin. Bagian besar penetapan-
penetapan pada gravimetri menyangkut pengubahan unsur atau radikal yang
akan ditetapkan menjadi sebuah senyawa yang murni dan stabilyang dapat
dengan mudah diubah menjadi satu bentuk yang sesuai dan ditimbang. Metode
pengendapan adalah metode yang paling penting dalam analisis gravimetri

Gambar 1.1 analisis gravimetri


Analisis gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur
atau senyawa tertentu. Berat molekul dihitung berdasarkan rumus senyawa dan
berat atom unsur yang menyusunnya. Pemisahan unsur-unsur atau senyawa
1
dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu seperti metode penguapan,
pengendapan, elektrolisis atau berbagai metode lainnya ( Khopkar, 2002 ).
Analisis gravimetri merupakan cara analisis tertua dan paling
murah.Gravimetri memerlukan waktu yang relatif lama dan hanya
dapatdigunakan untuk kadar komponen yang cukup besar. Suatu kesalahan
kecil,secara relatif akan berakibat besar. Gravimetri masih dipergunakan
untukkeperluan analisis, karena waktu pengerjaannya yang tidak perlu terus-
menerus, dan setiap tahapan pengerjaan memakan waktu yang cukup
lama.Selain itu, ketepatan analisis gravimetri untuk bahan tunggal dengan
kadarlebih dari 1% jarang menggunakan metode lain.

Beberapa hal yang harus diperhatikandalam penilaian analisis secara


gravimetri:

1. Waktu analisis
Analisis secara gravimetri lebih menguntungkan, karena tidak memerlukan
alat-alat yang terkalibrasi (kecuali neraca) dan standarisasi. Waktu yang
diperlukan untuk analisis dibedakan menjadi dua macam, yaitu waktu total
dan waktu kerja. Waktu total (elapsed time) ialah waktu mulai awal
pekerjaan sampai selesai sepenuhnya, sedangkan waktu kerja adalah jumlah
waktu yang benar-benar digunakan untuk melakukan pekerjaan. Dalam
gravimetri waktu total jauh lebih besar daripada waktu kerja, karena
pengerjaannya tidak perlu terus-menerus ditunggui. Contohnya, memijarkan
dan mengeringkan endapan, digestion endapan. Jika dilihat dari segi waktu
kerja maka gravimetri menguntungkan bila jumlah analisis tidak banyak.

2. Kepekaan analisis gravimetri


Kepekaan analisis sering dibatasi oleh alat-alat yang digunakan. Hal ini jarang
mempengaruhi dalam analisis gravimetri. Dengan neraca yang sesuai dan
terkalibrasi, maka berat endapan dapat ditentukan dengan tingkat kesalahan
yang sangat kecil. Kepekaan analisis gravimetri lebih ditentukan oleh
kesulitan untuk memisahkan endapan yang hanya sedikit dari larutan yang
cukup besar volumenya. Dapat juga terjadi kesalahan karena kelarutan, maka
sebaiknya tidak menggunakan cara gravimetri bila komponen yang dicari
tidak lebih dari 1% dari bahan yang harus dianalisis.

3. Ketepatan analisis gravimetri


Secara umum sulit untuk membicarakan ketepatan (akurasi) dalam analisis
gravimetri. Banyak kesalahan dapat timbul karena kelarutan, kopresipitasi,
2
ketidakpastian susunan akhir endapan yang ditimbang, dan sebagainya.
Pengaruh sumber-sumber kesalahan tidak sama pada semua zat, bahkan
untuk zat yang sama sekalipun, karena matriks atau pengganggu ikut
menentukan. Misalnya dalam penentuan kadar besi, kesalahan hanya
beberapa ppm, jika tidak terdapat logam-logam berat lain dalam analat.
Sebaliknya, kesalahan akan meningkat menjadi % jika disamping besi, bahan
yang mengandung kation divalen seperti Zn, Ni, atau Cu karena terjadi
kopresipitasi. Untuk bahan tunggal dengan kadar lebih dari 1% ketepatan
analisis gravimetri jarang dapat ditandingi oleh cara-cara lain.

4. Kekhususan cara gravimetri


Pereaksi gravimetri jarang khas (spesifik), bahkan hampir semuanya selektif,
dalam arti mengendapkan sekelompok ion. Maka ion dalam kelompok itu
secara potensial merupakan penggangu analisis ion lain dalam kelompok
tersebut, kecuali kalau dilakukan pemisahan terlebih dahulu. Pada umumnya,
cara gravimetri kurang spesifik dibandingkan dengan banyak cara lainnya.

Sumber-sumber kesalahan analisis gravimetri dapat terjadi karena:


1. Metode tidak sesuai karena kadar terlalu rendah. Jika kadar zat yang akan
dianalisa kurang dari 1 % maka hasil analisa jadi tifak akurat.
2. Penyiapan sampel tidak tepat. Sampel tercemar, tidak
mencerminkankeseluruhan bahan, sampel berubah selama penyimpanan.
3. Proses penimbangan. Pengeringan bahan/wadah belum konstan, cara
menimbang salah.
4. Kurang sempurna melarutkan komponen yang dicari. Sampel harus
dilarutkan secara sempurna supaya bisa bereaksi dengan senyawa
pengendap secara baik.
5. Bahan pengganggu tidak tersingkir atau hilang seluruhnya,
ataupenyingkiran pengganggu menyebabkan komponen yang dicari
ikuthilang.
6. Pengendapan, penyaringan dan pencucian.Pengendapan belumsempurna,
kontaminasi karena endapan lain, kehilangan endapansewaktu menyaring
dan karena air pencuci.
7. Pemijaran dan pengeringan endapan.Belum tercapai penimbangan yang
tepat, kertas saring belum habis terbakar,penguraian endapan karena
pemijaran/pemanasan berlebihan,kerusakan wadah
pengeringan/pemijaran, reduksi endapan olehkertas saring, penyerapan
H2O dari udara atau dari bahan pengeringyang sudah jenuh.
8. Perhitungan tidak tepat.
3
B. METODE ANALISIS GRAVIMETRI

Macam-macam Metode Gravimetri adalah sebagai berikut :


1. Metode Penguapan
Metode penguapan dalam analisis gravimetri digunakan untuk menetapkan
komponen-komponen dari suatu senyawa yang relatif mudah menguap. Cara
yang dilakukan dalam metode ini dapat dilakukan dengan cara pemanasan
dalam gas tertentu atau penambahan suatu pereaksi tertentu sehingga
komponen yang tidak diinginkan mudah menguap atau penambahan suatu
pereaksi tertentu sehingga komponen yang diinginkan tidak mudah
menguap.
Dalam cara evolusi bahan direaksikan, sehingga timbul suatu gas. Caranya
dapat dengan memanaskan bahan tersebut atau mereaksikan dengan suatu
pereaksi. Pada umumnya yang dicari adalah banyaknya gas yang terjadi.

2. Metode Pengendapan
Suatu sampel yang akan ditentukan secara gravimetri mula-mula ditimbang
secara kuantitatif, dilarutkan dalam pelarut tertentu kemudian diendapkan
kembali dengan reagen tertentu. Senyawa yang dihasilkan harus memenuhi
syarat yaitu memiliki kelarutan sangat kecil sehingga bisa mengendap
kembali dan dapat dianalisis dengan cara menimbang.
Endapan yang terbentuk harus berukuran lebih besar dari pada pori-pori alat
penyaring (kertas saring), kemudian endapan tersebut dicuci dengan larutan
elektrolit yang mengandung ion sejenis dengan ion endapan.
Hal ini dilakukan untuk melarutkan pengotor yang terdapat dipermukaan
endapan dan memaksimalkan endapan. Endapan yang terbentuk dikeringkan
pada suhu 100 – 130 ⁰C atau dipijarkan sampai suhu 800 ⁰C tergantung suhu
dekomposisi dari analit.
Pengendapan kation misalnya, pengendapan nikel dengan DMG,
pengendapan perak dengan klorida atau logam hidroksida dengan mengatur
pH larutan. Penambahan reagen dilakukan secara berlebihan untuk
memperkecil kelarutan produk yang diinginkan.Gravimetri cara
pengendapan, analat direaksikan sehingga terjadi suatu endapan dan
endapan itu yang ditimbang.

3. Metode Elektrolisis
Metode elektrolisis dilakukan dengan cara mereduksi ion-ion logam terlarut
menjadi endapan logam. Ion-ion logam berada dalam bentuk kation apabila
4
dialiri dengan arus listrik tertentu dalam waktu tertentu maka akan terjadi
reaksi reduksi menjadi logam dengan bilangan oksidasi nol.
Endapan yang terbentuk selanjutnya dapat ditentukan berdasarkan beratnya,
misalnya mengendapkan tembaga terlarut dalam suatu sampel cair dengan
cara mereduksi. Cara elektrolisis ini dapat diberlakukan pada sampel yang
diduga mengandung kadar logam terlarut cukup besar seperti air limbah.

Berdasarkan pembentukan suatu gas, gravimetri dibedakan menjadi 2 cara :


1. Gravimetri Penguapan Tidak langsung
Gravimetri dapat digunakan dalam analisis kadar air. Kadar air bahan bisa
ditentukan dengan cara gravimetri evolusi langsung ataupun tidak langsung.
Bila yang diukur ialah fase padatan dan kemudian fase gas dihitung
berdasarkan padatan tersebut, maka disebut gravimetri evolusi tidak
langsung.
Metode penguapan tidak langsung dapat digunakan untuk menentukan
kadar air (hidrat) dalam suatu senyawa atau kadar air dalam suatu sampel
basah. Berat sampel sebelum dipanaskan merupakan berat senyawa dan
berat air kristal yang menguap. Pemanasan untuk menguapkan air kristal
adalah 105-130 ⁰C garam-garam anorganik banyak yang bersifat higroskopis
sehingga dapat ditentukan kadar hidrat/air yang terikat sebagai air kristal.
Contoh lain adalah penentuan karbonat. Karena pemanasan, karbonat
terurai dan mengeluarkan gas CO2. Berat gas juga ditentukan dengan
menimbang bahan sebelum dan sesudah pemanasan.

2. Gravimetri Penguapan Langsung


Gas yang terjadi ditimbang setelah diserap oleh suatu bahan yang khusus
untuk gas yang besangkutan. Sebenarnya yang ditimbang ialah bahan
penyerap itu, yaitu sebelum dan sesudah penyerapan sedangkan berat gas
diperoleh sebagai selisih kedua penimbangan. Pada penentuan kadar air,
maka uap air yang terjadi dilewatkan tabung berisi bahan higroskopis yang
tidak menyerap gas-gas lain.
Berat tabung dengan isi sebelum dan sesudah uap diserap menunjukkan
jumlah air. Untuk penentuan karbonat yang tidak dapat terurai karena
dipanaskan, maka karbonat yang bersangkutan direaksikan, misalnya
dengan menambah HCl. CO2 yang terjadi dilewatkan pada tabung berisi
bahan yang hanya menyerap CO2. Berat tabung dengan isi sebelum dan
sesudah menyerap gas memberikan berat CO2.
Penguapan cara langsung lebih sulit, karena harus diusahakan jangan
sampai ada gas yang tidak melewati tabung, misalnya karena kebocoran
5
dalam alat. Misalnya pada penentuan kadar air, mungkin bukan hanya air
yang menguap, tetapi juga zat-zat yang titik didihnya rendah ikut menguap.

Berdasarkan proses pembentukan endapan, maka gravimetri dibedakan


menjadi dua macam :
1. Endapan dibentuk dengan reaksi antara analat dengan suatu pereaksi,
endapan biasanya berupa senyawa. Baik kation maupun anion dari analat
mungkin diendapkan, bahan pengendapnya mungkin anorganik atau organik.
Cara inilah yang biasanya disebut gravimetri.
2. Endapan dibentuk secara elektrokimia, dengan perkataan lain analat
dielektrolisa, sehingga terjadi logam sebagai endapan. Cara ini biasanya
disebut elektrogravimetri. Dengan sendirinya umumnya kation yang dapat
diendapkan.

C. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ANALISIS GRAVIMETRI

Kelebihan analisis gravimetri adalah sebagai berikut :


1. Pengotor dalam sampel dapat diketahui. Pengotor pada sampel dihilangkan
dengan proses pencucian endapan.
2. Mudah dilakukan. Tahap analisis meliputi penimbangan sampel, pelarutan
sampel, pembentukan endapan, pencucian endapan dan pengeringan
endapan.
3. Hasil analisisnya spesifik dan akurat. Data hasil analisis benar dan tepat
4. Presisi.Kesesuaian beberapa data pengukuran sama yang dilakukan secara
berulang.
5. Sensitif.Analisis gravimetri merupakan analisis yang peka.

Kekurangan analisis gravimetri adalah sebagai berikut :


1. membutuhkan waktu yang cukup lama. Waktu yang dibutuhkan untuk
pengendapan dan pengeringan endapan lama.
2. hanya dapat digunakan untuk kadar komponen yang cukup besar. Analisis
gravimetri tidak valid untuk jumlah sampel yang sangat kecil.

Jika analitnya merupakan penyusun utama (> 1% dari sampel), dapatlah


diharapkan ketepatan beberapa bagian tiap ribu, jika sampel itu terlalu rumit.
Jika analitnya berada dalam jumlah kecil atau runutan (< 1%), biasanya tidak
menggunakan metode gravimetri. Pada umumnya metode-metode gravimetri
tidaklah sangat khas (spesifik). Seperti telah disebutkan ahli-ahli kimia tertentu
pernah memikirkan bahwa kita akhirnya harus mempunyai suatu pengendap
6
spesifik untuk tiap kation. Sementara hal ini tidak lagi diharapkan, regensia
gravimetri bersifat selektif dalam arti mereka membentuk endapan dalam hal
kelompok-kelompok tertentu ion. Kereaktifan zat pengendap itupun sering
masih dapat ditingkatkan dengan mengendalikan faktor-faktorsemacam pH dan
konsentrasi zat-zat penopang tertentu.

D. PENGATURAN PROSES ANALISIS GRAVIMETRI

Secara umum pengaturan proses analisis gravimetri adalah sebagai berikut :


1. Persiapan Contoh/sampel
Cuplikan padatan yang diambil dari lapangan atau diterima di laboratorium
dapat berbentuk serbuk, gumpalan atau lempengan. Jika sampel akan
ditimbang maka harus dijadikan serbuk dulu sehingga cukup merata dan
mempermudah penimbangan. Bila cuplikan yang diterima banyak, agar
ditimbang cukup mewakili (representatif), maka jumlahnya harus diperkecil.
Salah satu cara yang paling populer ialah dengan mengkuarter
(memperempat), caranya:
 Hamparkan cuplikan di atas kertas atau lempeng plastik secara merata
sehingga ketebalannya 2-3 cm
 Buat diagonal dari sudut-sudutnya sehingga terdapat 4 buah segitiga
 Ambil dua segitiga yang berhadapan, sedangkan dua segitiga yang lain
disimpan.
 Cuplikan yang berasal dari dua segitiga pertama diaduk lagi sampai
serba sama kemudian ulangi pekerjaan mulai dari awal sehingga
didapatkan cuplikan yang jumlahnya 50-100 gram.

Gambar 1.2 teknik kuarterner

2. Penimbangan Cuplikan
Cuplikan yang sudah diquarter dapat langsung ditimbang. Penimbangan
dapat memakai botol timbang atau kaca arloji bila contohnya cukup stabil.
Jangan sekali-kali menimbang pakai kertas tanpa diberi alas kaca arloji

7
untuk menghindari korosif akibat cuplikan yang tercecer atau menempel
pada piringan timbangan. Cara penimbangan adalah sebagai berikut :
 Timbang botol timbang, berapa bobotnya (a gram)
 Bubuhi cuplikan yang akan ditimbang sejumlah yang diperlukan dengan
dilebihkan sedikit, timbang dengan teliti (b gram)
 Masukkan cuplikan pada b ke dalam gelas piala, dan jangan dibilas.
 Kemudian botol timbang ditimbang kembali (c gram)
 Bobot contoh atau cuplikan = (b - c) gram.
 Untuk menimbang contoh dipakai neraca analitik dengan ketelitian 4
desimal dalam gram (0,0001 g).

3. Pelarutan Cuplikan
Cuplikan dilarutkan dalam gelas piala yang volumenya disesuaikan dengan
kebutuhan. Supaya jangan keliru hendaknya gelas piala diberi tanda dengan
spidol besar, atau pada bagian yang di asah dapat ditulis dengan pensil.
Cuplikan yang telah ditimbang dengan hati-hati dimasukkan ke dalam gelas
piala dengan bantuan pengaduk. Cuplikan yang tersisa disemprot dengan
air suling melalui labu semprot. Bila cuplikan mudah larut dalam air,
penambahan air pembilas cukup 100-150 ml atau seperti yang tertulis
dalam cara kerja.
Tidak semua cuplikan larut dalam air. Misalnya karbonat, fosfat atau logam.
Cuplikan harus dibilas dulu dalam gelas piala 100 atau 150 ml, kemudian
dibubuhi larutan asam sesuai dengan kebutuhan.
Larutan asam yang digunakan untuk melarutkan adalah sebagai berikut :
 Karbonat, fosfat dipakai larutan HCl 1:1
 Besi seng dan logam-logam yang kurang mulia dipakai larutan HNO3 1:1
 Logam setengah mulia atau mulia dipakai larutan campuran HNO3pekat
+ HCl pekat 1 : 3
 Untuk silikat harus dilebur dulu dengan soda. Pada waktu melarutkan
dengan asam setengah pekat, gelas piala ditutup dengan kaca arloji,
setelah selesai kaca arloji di bilas dengan air. Proses pelarutan dengan
asam harus dalam ruang asam, karena uapnya berbahaya.

4. Pengendapan
Masalah utama dalam analisis gravimetri adalah pembentukan endapan
yang murni dan mudah disaring.
Tahap-tahap pembentukan endapan :
a. Pengelompokan ion
8
b. Pembentukan partikel yang sangat kecil (inti endapan) menuju terjadinya
nukleasi
c. Pembentukan endapan yang makroskopik.

Terbentuknya endapan dimulai dari terbentuknya larutan lewat jenuh


(super saturated solution). Nukleasi, sejumlah partikel (ion, atom atau
molekul) membentuk inti mikroskopik dari fasa padat, semakin tinggi
derajat lewat jenuh, semakin besar laju nukleasi. Pembentukan nukleasi
dapat secara langsung atau dengan induksi.

Gambar 1.3 Pembentukan nukleasi


Proses pengendapan selanjutnya merupakan kompetisi antara nukleasi dan
particle growth. Begitu suatu situs nukleasi terbentuk, ion-ion lain tertarik
sehingga membentuk partikel besar yang dapat disaring.

Gambar 1.4 Proses pengendapan ( kompetisi antara nukleasi dan particle


growth)
Apabila nukleasi yang lebih dominan, maka partikel kecil yang banyak, bila
particle growth yang lebih dominan maka partikel besar yang dihasilkan.
Jika pengendapan terbentuk pada RSS relatif besar maka nukleasi
merupakan mekanisme utama sehingga endapan yang dihasilkan berupa
partikel kecil (Widiarto 2009).

9
5. Penyaringan dan Pencucian Endapan
Tujuan dari penyaringan adalah untuk mendapatkan endapan bebas
(terpisah) dari larutan (cairan induk). Untuk memisahkan endapan dari
larutan induk dan cairan pencuci, endapan dapat di sentrifuge atau disaring.
Endapan yang disaring perlu dicuci untuk menghilangkan larutan induk yang
menguap dan zat-zat pengotor yang mudah larut.
Dasar pemilihan zat pencuci adalah:
a. Dapat melarutkan zat pengotor dengan baik tetapi hampir tidak
melarutkan endapan
b. Dapat mencegah terjadinya peptisasi/pengendapan halus pada waktu
pencucian
c. Tidak mengandung garam yang tidak dapat menguap jika endapan
dipijarkan.

Pencucian dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :


a. Penyaringan sampai larutan habis lalu memasukan semua endapan ke
dalam saringan. Cairan pencuci dituang ke dalam endapan dan dibiarkan
mengalir habis berulang-ulang hingga endapan bersih.
b. Penyaringan dengan dekantasi. Caranya dilakukan sama seperti cara
penyaringan, hanya saja endapan tidak langsung dipindahkan ke dalam
saringan melainkan ditinggalkan di wadah dan cairan pencuci
ditambahkan, diaduk dan didiamkan sampai endapan mengendap.
Cairan pencuci ditambahkan secara berulang-ulang hingga endapan
bersih. Setelah selesai endapan dimasukan ke dalam saringan.

Air cucian dapat melarutkan endapan sehingga penambahan air cucian


diusahakan tidak terlalu banyak. Larutan elektrolit dapat ditambahkan pada
endapan berbentuk koloid untuk mencegah peptisasi (penguraian kembali
gumpalan-gumpalan koloid menjai butir-butir koloid), karena butir-butir
koloid terlalu halus untuk disaring, sehingga kemungkinan untuk hilang
menjadi lebih besar. Contoh larutan elektrolit adalah HNO3 encer yang
digunakan dalam pencucian AgCl.

Endapan yang terjadi dapat disaring dengan kertas saring bebas abu, cawan
penyaring dengan asbes atau penyaring gelas. Saringan yang digunakan
tergantung dari sifat endapan. Alat yang digunakan untuk menyaring
adalah kertas saring. Kertas saring untuk analisis gravimetri jika dibakar
hampir tidak meninggalakan abu. Kertas saring memiliki kelemahan dan
keuntungan sebagai berikut :
10
Kelemahan-kelemahan kertas saring adalah :
 Tidak Inert, yaitu dapat rusak oleh basa dan asam pekat, macam-
macam oksidator yang dapat mengakibatkan bocor.
 Kekuatan mekanisnya kurang, mudah sobek sehingga dapat bocor dan
mengotori endapan karena serat-seratnya terbawa, terutama
penyaringan yang menggunakan vakum.
 Dapat mengadsorpsi bahan-bahan dari larutan yang disaring.
 Harus dibakar sampai habis, karena tidak dapat dikeringkan sampai
mencapai berat konstan.

Keuntungan menggunakan kertas saring ialah :


 Murah
 Mudah diperoleh
 efisiensi penyaringan tinggi disebabkan karena permukaannya yang
luas dan perbandingan luas pori-pori terhadap luas permukaan
seluruhnya besar.
 Kertas saring tersedia dengan pori-pori halus, medium dan kasar.

Gambar 1.5 teknik pemasangan kertas saring pada corong


Teknik penyaringan dengan kertas saring :

Gambar 1.6 teknik pencucian / membilas endapan

11
6. Pengabuan dan Penimbangan Sisa Pijar
Endapan yang telah disaring dan dicuci kemudian dikeringkan, diabukan
dan dipijarkan sampai beratnya konstan. Pengeringan endapan bertujuan
untuk menghilangkan air dan zat yang mudah menguap, sedangkan tujuan
pemijaran untuk merubah endapan ke dalam suatu senyawa kimia yang
rumusnya diketahui dengan pasti. Kemudian setelah pemijaran, sisa pijar
ditimbang.
Dalam analisis gravimetri, endapan yang terbentuk dipijarkan. Pada waktu
pemijaran beberapa endapan mungkin masih melangsungkan reaksi, maka
yang diperhatikan bukan hanya senyawa yang diendapkan tetapi dilihat
juga senyawa yang akan ditimbangnya.

7. Perhitungan Hasil
Komponen yang ditentukan dapat dihitung dari berat endapan dengan
menggunakan faktor gravimetri atau faktor kimia :
berat P x faktor gravimetri
%A= 𝑥 100 %
berat sampel

Ar atau Mr yang dicari


Faktor gravimetri =
Mr endapan yang ditimbang

berat P x faktor gravimetri


%A= 𝑥 100 %
berat sampel

Dimana,
A = Analit
P = Endapan
Mr = massa molekul relatif

Banyaknya atom atau molekul pada pembilang dan penyebut dalam faktor
gravimetri harus ekivalen.

12
Beberapa contoh faktor gravimetri

Senyawa /
Senyawa yang
unsur yang Faktor gravimetri
ditimbang
dicari
AgCl Cl 𝐶𝑙
𝐴𝑔𝐶𝑙
CuO Cu 𝐶𝑢
𝐶𝑢𝑂
Mg2P2O7 P 2P
Mg 2 P2 O7
MgO 2 MgO
Mg 2 P2 O7
Fe2O3 Fe 2 Fe
Fe2 O3
FeO 2 FeO
Fe2 O3
BaSO4 Ba 𝐵𝑎
𝐵𝑎𝑆𝑂4

E. MACAM-MACAM KANDUNGAN AIR

Air adalah senyawa yang paling berlimpah pada sistem kehidupan. Air
menyusun hingga 70% atau lebih berat dari kebanyakan organisme. Air adalah
pelarut polar yang dapat melarutkan sebagian besar biomolekul, yang umumnya
merupakan senyawa bermuatan atau polar. Air murni Pada tekanan 1 atm akan
membeku atau meleleh pada suhu 0°C, dan mendidih atau mengembun pada
suhu 100°C.
Diantara pelarut-pelarut lainnya, air memiliki titik leleh, titik didih dan
panas penguapan yang tertinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya ikatan hidrogen
yang menyebabkan kohesi internal yang kuat pada air cair. Ikatan hidrogen ini
mudah terurai dan terbentuk kembali, sehingga panas yang diserap air tidak
langsung digunakan untuk melepas molekul air menjadi gas, melainkan
digunakan untuk memecahkan ikatan hidrogen antar molekul air, dan begitu
pecah, ikatan ini dapat segera terbentuk kembali, Ikatan ini tidak akan
terbentuk kembali saat suhu air telah mencapai titik didih, dan molekul air
bergerak terlalu cepat.

13
Menurut derajat keterikatan air, air terikat dibagi menjadi empat tipe.
1. Tipe I : Adalah molekul air yang terikat pada molekul-molekul lain melalui
suatu ikatan hydrogen berenergi besar. Molekul air membentuk hidrat
dengan molekul-molekul lain yang mengandung atom O dan N seperti
karbohidrat, protein dan garam. Air tipe ini tidak dapat membeku pada
proses pembekuan, tetapi sebagian air ini bisa dihilangkan dengan
pengeringan biasa.
2. Tipe II : Adalah molekul-molekul air yang membentuk ikatan hidrogen
dengan molekul air lain, terdapat dalam mikrokapiler. Air jenis ini lebih
sukar dihilangkan dan penghilangan air tipe II akan mengakibatkan
penurunan aw (water activity). Bila sebagian air tipe II dihilangkan,
pertumbuhan mikroba dan reaksi-reaksi kimia yang bersifat merusak bahan
makanan seperti reaksi browning, hidrolisis atau oksidasi lemak akan
berkurang. Jika air tipe II ini dihilangkan seluruhnya, kandungan air bahan
akan berkisar 3 – 7%, dan kestabilan optimum bahan makanan akan
tercapai.
3. Tipe III : Adalah air yang secara fisik terikat dalam jaringan matriks bahan
seperti membran, kapiler, serat dan lain-lain. Air tipe III sering disebut
sebagai air bebas. Air tipe ini mudah diuapkan dan dapat dimanfaatkan
untuk pertumbuhan mikroba dan media bagi reaksi-reaksi kimia. Apabila air
tipe III ini diuapkan seluruhnya, kandungan air bahan akan berkisar antara
12 – 25%.
4. Tipe IV : Adalah air yang tidak terikat dalam jaringan suatu bahan atau air
murni, dengan sifat-sifat air biasa dan keaktifan penuh. Contohnya adalah
air yang menempel pada bahan makanan setelah proses pencucian bahan.

F. ANALISIS KADAR AIR DAN MINERAL

Contoh analisis gravimetri dalam penentuan Kadar Air. Bahan yang dianalisa
biasanya mengandung air yang jumlahnya tidak menentu. Contoh : tanah,
bahan-bahan yang berasal darihewan dan tumbuh-tumbuhan, bahan
higriskopis, dan sebagainya.
Jumlah air yang terkandung sering tergantung dari perlakuan yangtelah
dialami bahan, kelembaban udara tempat disimpannya danlain sebagainya.
Suatu kemungkinan kesalahan penentuan kadar air yaitu adanyabahan lain yang
mudah menguap dan ikut menguap bersama-samadengan air sewaktu
dipanaskan. Selain itu bahan akan terurai,seperti bahan yang mengandung
karbonat atau macam-macambahan organik, sehingga akan menyebabkan
14
selisih berat yangdicari menjadi terlalu besar, yaitu lebih besar daripada berat
airyang hilang. Untuk mengatasi hal tersebut, maka selain dapatdigunakan
penguapan cara langsung, dapat juga denganmengadakan pembakuan cara
penentuan kadar air (standarisasi).Pembakuan tersebut misalnya menentukan
berapa suhunya,berapa lama pemanasannya, berapa gram bahan yang
dipanaskan,dan bahan harus dihaluskan. Penentuan kadar air tergantung dari
sifat bahan. Pada umumnyamengeringkan pada suhu 105 – 110 C selama 3 jam
atau sampaididapat berat konstan dalam oven. Selisih berat sebelum dan
sesudah pengeringan adalah banyaknya air yang diuapkan. Untukbahan tidak
tahan panas seperti yang berkadar gula tinggi, minyak,daging, kecap, dilakukan
pada kondisi vakum dengan suhu lebihrendah. Kadang-kadang pengeringan
dilakukan tanpa pemanasan,bahan dimasukan ke dalam eksikator dengan H2SO4
pekat sebagai pengering hingga didapat berat konstan.
Bahan dengan kadar air tinggi dan mengandung senyawa yangmudah
menguap (seperti susu, sayuran) penentuan kadar airnyadengan cara destilasi
yaitu dengan pelarut tertentu, misalnyatoluen, xilol dan heptana yang berat
jenisnya rendah.
Contoh/sampel dimasukan ke dalam labu destilasi dan ditambahkan pelarut
toluen/xilol kemudian dipanaskan. Air danpelarut menguap, diembunkan dan
jatuh pada tabung Aufhauseryang berskala. Air yang mempunyai berat jenis
tinggi berada dibawah, sehingga dapat dibaca pada skala tabung Aufhauser.
Bahandengan kadar gula tinggi, kadar airnya dapat diukur denganmenggunakan
refraktometer, disamping dapat menentukanpadatan terlarutnya. Dalam hal ini
air dan gula dianggap sebagaikomponen-komponen yang mempengaruhi indeks
refraksi.
Penentuan kadar air cara pengeringan, prinsipnya menguapkan airyang ada
dalam bahan dengan cara pemanasan. Bahan ditimbanghingga berat konstan
yang dapat diartikan semua air sudahteruapkan. Cara ini relatif mudah dan
murah. Penguapan dapatdipercepat dan reaksi yang menyebabkan
terbentuknya air ataureaksi lain dapat dicegah dengan melakukan pemanasan
pada suhurendah dan tekanan vakum. Bahan-bahan yang mempunyai kadargula
tinggi akan mengalami pengerakan (gosong) yang terjadi pada permukaan
bahan bila dipanaskan pada suhu ± 100⁰C.
Beberapa hal penting dari metode penguapan cara langsung adalah
lamanya pemasanan. Jika bahan harus dipanaskan pada suhu 105⁰Cselama 3
jam, maka harus diperhatikan agar oven benar-benar sudah mencapai suhu
105⁰C sebelum bahan dimasukkan kedalamnya, disamping itu oven jangan
dibuka tutup sebelumberlangsung 3 jam, atau dapat juga harus mengeringkan

15
bahanmasing-masing di dalam oven, dan setiap memasukkan bahansendiri-
sendiri apabila sudah siap.
Hal-hal yang dapat menyebabkan kesalahan besar dalampenentuan kadar
kadar air, yaitu setiap kali oven dibuka suhudidalamnya turun, makin lama
terbuka makin banyak turunnyasuhu. Berarti bahwa bahan yang dimasukkan
sebelumnya, tidak benar-benar dipanaskan pada suhu 105⁰C selama 3 jam. Jadi
harusdiusahakan agar hanya sekali membuka oven, sekali memasukkanbahan
yang harus dikeringkan, itupun harus secepat mungin, supaya suhunya yang
semula sudah mencapai 105 ⁰C tidak turunterlalu banyak. Hal ini dapat diatur
misalnya dengan mengeluarkanrak-rak oven sebelumnya, lalu mengatur semua
botol timbangdiatasnya, baru oven dibuka lagi dan seluruhnya sekaligus
bahandalam botol timbang dimasukkan ke dalam oven.
Suatu bahan yang telah mengalami pengeringan akan bersifat
lebihhigroskopis daripada bahan asalnya. Selama pendinginan
sebelumpenimbangan, bahan harus selalu ditempatkan dalam ruangtertutup
dan kering, misalnya dalam eksikator atau desikator yangtelah diberi zat
penyerap air. Penyerap air/uap air yang dapatdigunakan antara lain kapur aktif,
silika gel, asam sulfat, aluminiumoksida, kalium klorida, kalium hidroksida,
kalium sulfat ataubarium sulfat. Silika gel lebih sering digunakan karena
memberikanperubahan warna saat jenuh dengan air/uap air.
Dalam penentuan kadar air ada beberapa hal yang perludiperhatikan, yaitu:
1. Padatan yang dikeringkan harus dihaluskan
2. Padatan disebar merata dalam botol timbang sehingga tingginya sama
3. Bila botol timbang ditutup, selama pemanasan botol terbuka, tetapi setelah
pemanasan selalu tertutup sampai selesaiditimbang

Penyiapan sampel pada analisis mineral baik dengan metode klasik maupun
metode yang terbaru memerlukan penyiapan sampel, sebelum dapat dilakukan
analisis dalam metode-metide tersebut. Ada dua macam cara penyiapan sampel
yaitu dengan pengabuan basah dan pengabuan kering.
Penentuan kandungan mineral dalam bahan makanan dapat dilakukan
dengan metode pengabuan (destruksi) yaitu pengabuan kering dan pengabuan
basah. Pemilihan cara tersebut tergantung pada sifat zat organik dan anorganik
yang ada dalam bahan mineral yang akan dianalisis. Metode pengabuan basah
untuk penentuan unsur-unsur mineral di dalam bahan makanan merupakan
metode yang paling baik. Prinsip pengabuan basah adalah penggunaan HNO3
pekat untuk mendestruksi zat organik pada suhu rendah agar kehilangan
mineral akibat penguapan dapat dihindari. Pada tahap selanjutnya proses
berlangsung sangat cepat akibat pengaruh H2SO4 atau H2O2. Pada umumnya
16
metode ini digunakan untuk menganalisis As, Cu, Pb, Sn dan Zn. Keuntungan
pengabuan basah adalah: suhu yang digunakan tidak dapat melebihi titik didih
larutan dan pada umumnya karbon lebih cepat hancur. Sehingga perlu
dilakukan pratikum tentang bagaimana preparasi sampel untuk penetapan
mineral.

Abu merupakan zat anorganik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik.
Kandungan abu dan komposisinya bergantung pada macam bahan dan cara
pengabuan yang digunakan. Kandungan abu dari suatu bahan menunjukkan
kadar mineral dalam bahan tersebut.
Ada dua macam garam mineral yang terdapat dalam bahan, yaitu:
1. Garam organik : garam asam malat, oksalat, asetat, pektat
2. Garam anorganik : garam fosfat, karbonat, klorida, sulfat, nitrat
Pengabuan dilakukan untuk menentukan jumlah mineral yang
terkandung dalam bahan. Penentuan kadar mineral bahan secara asli sangatlah
sulit sehingga perlu dilakukan dengan menentukan sisa hasil pembakaran atas
garam mineral bahan tersebut. Pengabuan dapat menyebabkan hilangnya
bahan-bahan organik dan anorganik sehingga terjadi perubahan radikal organik
dan terbentuk elemen logam dalam bentuk oksida atau bersenyawa dengan ion-
ion negatif.
Penentuan abu total dilakukan dengan tujuan untuk menentukan baik
tidaknya suatu proses pengolahan, mengetahui jenis bahan yang digunakan,
serta dijadikan parameter nilai gizi bahan makanan.
Dalam proses pengabuan suatu bahan, ada dua macam metode yang dapat
dilakukan, yaitu cara kering (langsung) dan cara tidak langsung (cara basah).
Cara kering dilakukan dengan mengoksidasikan zat-zat organik pada suhu 500-
600⁰C kemudian melakukan penimbangan zat-zat tertinggal. Pengabuan cara
kering digunakan untuk penentuan total abu, abu larut, tidak larut air dan tidak
larut asam. Waktu pengabuan lama, suhu yang diperlukan tinggi, serta untuk
analisis sampel dalam jumlah banyak. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam melakukan pengabuan cara kering, yaitu mengusahakan suhu pengabuan
sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kehilangan elemen secara mekanis
karena penggunaan suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan terjadinya
penguapan beberapa unsur, seperti K, Na, S, Ca, Cl, dan P.
Sedangkan cara basah dilakukan dengan menambahkan senyawa tertentu pada
bahan yang diabukan sepeti gliserol, alkohol asam sulfat atau asam nitrat.
Pengabuan cara basah dilakukan untuk penentuan elemen mineral. Waktu
pengabuan relatif cepat, suhu yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi, untuk

17
analisis sampel dalam jumlah sedikit, memakai reagen kimia yang sering
berbahaya sehingga perlu koreksi terhadap reagen yang digunakan.
Jumlah sampel yang akan diabukan bergantung pada keadaan bahannya. Dalam
hal ini, kandungan abunya dan kadar air bahan. Bahan-bahan yang kering
biasanya 2-5 gram, seperti biji-bijian dan pakan ternak. Untuk bahan yang
kandungan airnya tinggi, jumlah bahan yang diabukan adalah cukup tinggi
sekitar 10-50 gram karena saat dipanaskan maka air dalam bahan akan
menguap dan bahan menjadi mengalami susut berat sehingga apabila sampel
yang dianalisis terlalu sedikit, kemungkinan sisa zat tertinggal yang akan
ditimbang tidak ada sehingga analisis bisa terganggu.
Bahan yang mengandung kadar air tinggi perlu dioven terlebih dahulu sebelum
diabukan agar proses pengabuan tidak berlangsung terlalu lama. Bahan yang
berlemak banyak dan mudah menguap harus diabukan menggunakan suhu
mula-mula selama beberapa saat lalu baru dinaikkan ke suhu pengabuan agar
komponen volatil bahan tidak cepat menguap dan lemak tidak rusak karena
teroksidasi. Sedangkan untuk bahan yang dapat membuih perlu dikeringkan
dalam oven terlebih dahulu dan ditambahkan zat antibuih, seperti olive atau
parafin lalu bisa mulai diabukan. Hal ini dilakukan karena timbulnya banyak buih
dapat menimbulkan potensi ledakan yang cukup membahayakan (Apriantono,
1989).
Bahan yang akan diabukan dimasukkan ke dalam wadah yaitu harus baik dari
porselen, quartz, silika ataupun nikel. Penggunaan wadah bergantung pada jenis
bahan dan cara pengabuan yang digunakan. Ukuran wadah mulai dari 15mL
sampai 100mL. Dengan demikian, bahan-bahan yang banyak mengandung
senyawa-senyawa yang bersifat asam sangat dianjurkan menggunakan wadah
yang terbuat dari porselen yang dilapisi silika bagian pernukaan dalam wadah,
seperti saat menganalisis kadar abu buah-buahan.
Untuk mengetahui kandungan abu yang dapat larut dan tidak dapat larut, perlu
dilakukan tindakan berupa melarutkan sisa pengabuan dalam aquades,
kemudian disaring. Endapan yang terdapat di kertas saring merupakan abu yang
tidak dapat larut. Sedangkan yang ada dalam air merupakan abu yang mudah
larut. Untuk mengetahui jenis mineral yang terkandung di dalamnya, dapat
dilakukan dengan menggunakan metode titrasi atau serapan panjang
gelombang dengan spektrofotometer ( Fauzi 1994).

MINERAL

Mineral adalah nutrisi penting untuk pemeliharaan kesehatan dan pencegahan


penyakit. Mineral dan vitamin bertindak secara interaksi. Mineral dapat
18
diklasifikasikan menurut jumlah yang dibutuhkan tubuh manusia. Mineral
utama (mayor) adalah mineral yang kita perlukan lebih dari 100 mg sehari,
sedangkan mineral minor (trace elements) adalah yang kita perlukan kurang
dari 100 mg sehari. Kalsium, tembaga, fosfor, kalium, natrium dan klorida
adalah contoh mineral utama, sedangkan kromium, magnesium, yodium, besi,
flor, mangan, selenium dan zinc adalah contoh mineral minor

G. SOAL DAN PEMBAHASAN

1. Sebanyak 20 gram minyak goreng dimasukkan dalam cawan porselin ( berat


cawan 20,8630 gram ), kemudian dioven sehingga diperoleh data
penimbangan berturut-turut 40,6712 gram, 40,6632 gram, 40,6630 gram.
Tentukan kadar air dalam minyak goreng tersebut !
W :beratsampel : 20 gram
beratcawankosong : 20,8630 gram
W1 :beratcawan + sampelsebelumdioven : 20,8630 gram + 20 gram :
40,8630 gram
Beratpenimbanganberturut-turut40,6712 gram; 40,6632 gram; 40,6630
gram.
Berat yang dimasukkandalamperhitungan :40,6630 gram
W2 :beratcawan + sampelsetelahdioven : 40,6630 gram
Tentukankadar air dalamminyakgorengtersebut
𝑊1 − 𝑊2
kadar air = x 100 %
W
40,8630 − 40,6630
kadar air = x 100 %
20
0,2
kadar air = x 100 %
20
20
kadar air = %
20
kadar air = 1 %

2. 18,2 gram kristal MgSO4.x H2O dipanaskan seluruh air kristalnya menguap
dan massa yang tersisa 10,4 gram. Jumlah air kristal pada senyawa
Massa MgSO4.x H2O = 18,2 g
19
Massa sisa = 10,4 g
Massa air Kristal = ( 18,2 – 10,4 ) g = 7,8 g
Mr MgSO4.x H2O = 1.Mg + 1.S + 4.O + x.H2O
= 1.24 + 1.32 + 4.16 + x .18
= 120 + 18x
Mr A
massa A = x Masa total
Mr total

x . Mr H2 O
massa H2 O = x Masa MgSO4 . xH2 O
Mr MgSO4 . xH2 O

x . 18
7.8 = . 18,2
120 + 18x

7.8 (120 + 18x ) = 18x . 18,2

936 + 140,4 x = 327,6 x

936 = 327,6 x − 140,4 x

936 = 187,2 x

936
𝑥=
187,2

𝑥=5

3. Sebanyak 4 gram minyak goreng dimasukkan dalam cawan porselin ( berat


cawan 20,9630 gram ), kemudian dioven sehingga diperoleh data
penimbangan berturut-turut 24,7712 gram, 24,7632 gram, 24,7630 gram.
Tentukan kadar air dalam minyak goreng tersebut !
W :beratsampel : 4 gram
beratcawankosong : 20,9630 gram
W1 :beratcawan + sampelsebelumdioven : 20,9630 gram + 4 gram : 24,9630
gram
20
Beratpenimbanganberturut-turut 24,7712 gram; 24,7632 gram; 24,7630
gram.
Berat yang dimasukkandalamperhitungan : 24,7630 gram
W2 :beratcawan + sampelsetelahdioven : 24,7630 gram
Tentukankadar air dalamminyakgorengtersebut

W1 − W2
kadar air = x 100 %
W

24,9630 − 24,7630
kadar air = x 100 %
4

0,2
kadar air = x 100 %
4

20
kadar air = x 100 %
4

kadar air = 5 %

4. A

5. A

6. A

7. A

21
8. A
9. A
10. A
11. A
12. A
13. A
14.
a

22