Anda di halaman 1dari 6

Manajemen Proyek Irigasi

Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian yang
jenisnya meliputiirigasi air permukaan, irigasi air bawah tanah,irigasi pompa dan irigasi rawa.

Manajemen Proyek adalah suatu penerapan ilmu pengetahuan, keahlian dan juga ketrampilan,
cara teknis yang terbaik serta dengan sumber daya yang terbatas untuk mencapai sasaran atau
tujuan yang sudah ditentukan agar mendapatkan hasil yang optimal dalam hal kinerja, waktu,
mutu dan keselamatan kerja.

Manajemen Proyek Irigasi adalah adalah suatu bentuk pengelolaan eksploitasi dan
distribusi air irigasi terutama di daerah yang kering atau yang memiliki periode musim
kelangkaan air dengan tujuan meningkatkan produksi tanaman pertanian.

Siklus manajemen Irigasi:


1. Tahap Konsektual Gagasan : Tahapan ini terdiri atas kegiatan, perumusan gagasan, kerangka acuan,
studi kelayakan awal, indikasi awal dimensi, biaya dan jadwal proyek.
2. Tahap Studi Kelayakan : Studi kelayakan dengan tujuan mendapatkan keputusan tentang kelanjutan
investasi pada proyek yang akan dilakukan. Informasi dan data dalam implementasi perencanaan
proyek lebih lengkap dari langkah diatas, sehingga penentuan dimensi dan biaya proyek lebih akurat
lagi dengan tinjauan terhadap aspek social, budaya, ekonomi, financial, legal, teknis dan
administrative yang komprehensif.
3. Tahap Detail Design : Tahapan ini terdiri atas kegiatan, pendalaman berbagai aspek
persoalan, design engineering dan pengembangan, pembuatan jadwal induk dan anggaran serta
menentuksan perencanaan sumber daya, pembelian dini, penyiapan perangkat dan penentuan peserta
proyek dengan program lelang.
4. Tujuan tahap ini adalah menetapkan dokumen perencanaan lengkap dan terperinci, secara teknis dan
administrative, untuk memudahkan pencapaian sasaran dan tujuan proyek.
5. Tahap Pengadaan : Tahapan ini adalah memilih kontraktor pelaksana dengan menyertakan dokumen
perencanaan, aturan teknis dan administrasi yang lengkap, produk tahapan detail design. Dari proses
ini diperoleh penawaran yang kompetitif dari kontraktor dengan tingkat akuntabilitas dan
transparansi yang baik.
6. Tahap Implementasi : Tahap ini terdiri atas kegiatan, design engineering yamg rinci, pembuatan
spesifikasi dan criteria, pembelian peralatan dan material, fabrikasi dan konstruksi, inspeksi mutu,
uji coba, start-up, demobilisasi dan laporan penutup proyek. Tujuan akhir proyek adalah
mendapatkan kinerja biaya, mutu, waktu dan keselamatan kerja paling maksimal, dengan melakukan
proses perencanaan, penjadwalan, pelaksanaan dan pengendalian yang lebih cermat serta trperinci
dari proses sebelumnya. Pada tahap ini kontraktor memilki peran dominan dengan tujuan akhir
sasaran proyek tercapai dan mendapatkan keuntungan maksimal. Peran memiliki proyek pada
tahapan ini dilakukan oleh agen pemilik sebagai konsultan pengawas pelaksanaan, dengan tujuan
mereduksi segala macam penyimpangan serta melakukan tindakan koreksi yang diperlukan.
7. Tahap Operasi dan Pemeliharan : Tahap ini terdiri atas kegiatan operasi rutin dan pengamatan
prestasi akhir proyek serta pemeliharaan fasilitas bangunan yang dapat digunakan untuk kepentingan
social dan ekonomi masyarakat. Biaya yang dikeluarkan pada tahap ini bersifat rutin dan nilainya
cenderung menurun dan pada tahap ini adanya pemasukan dana dari operasional proyek.
Agar Manajemen Irigasi Berhasil dan sukses apabila dikerjakan sesuai waktu, sesuai ruang
lingkup dan sesuai budget. Kadang definisi sukses hanya dilihat dari yang sifatnya sepihak
untuk karir seorang Manajer Proyek atau Sponsor Proyek. Dilain pihak, pengguna melihat
kesuksesan dari tingkat kepuasan mereka.
Oleh karena itu, kesuksesan suatu proyek bisa diklasifikasikan sebagai kesuksesan
pelaksanaan, kesuksesan hasil, dan kesuksesan proyek secara keseluruhan yang merupakan
perpaduan antara sukses pelaksanaan dan sukses hasil. Tentunya, yang diinginkan oleh
organisasi adalah kesuksesan proyek secara keseluruhan karena memuaskan semua pihak.

Tantangan utama sebuah proyek adalah mencapai tujuan proyek dengan menyadari adanya
batasan-batasan yang telah dipahami sebelumnya. Dalam mencapai keberhasilan suatu proyek
tentunya dipengaruhi oleh beberapa banyak faktor diantaranya adalah tata kelola organisasi,
manajer proyek, tim proyek, proyek yang dilaksanakan, tahapan manajemen proyek, pengaruh
luar dan metodologi manajemen proyek.

Salah satu faktor yang krusial adalah adanya peran seorang Manajer Proyek. Manajer Proyek
merupakan ujung tombak pelaksanaan sebuah proyek. Manajer Proyek haruslah memiliki
keahlian-keahlian tertentu untuk mencapai kesuksesan sebuah proyek. Diantaranya :

1. Problem Solving

Mampu menyelesaikan masalah secara efektif dan efisien.

2. Budgeting and Cost Skills

Mampu menganalisis anggaran biaya proyek, kelayakan investasi agar keuangan proyek dapat
berjalan optimal.

3. Scheduling and Time Management Skills

Mampu menjadwalkan proyek dalam arti lain dapat mengelola waktu secara baik agar proyek
dapat selesai tepat waktu seperti yang diharapkan.

4. Technical Skills

Mampu secara teknis dalam pengetahuan dan pengalaman mengatasi proyek dengan prosedur-
prosedur dan mekanisme proyek.

5. Leadership Skills

Kepemimpinan menjadi salah satu peranan penting yang harus dimiliki manajer proyek.
Manajer proyek mampu mempengaruhi tim kerja.

6. Resource Management and Human Relatioship Skills

Mampu mendapatkan sumber daya sehingga mampu membangun jaringan sosial dengan
orang-orang yg terlibat dalam proyek.

Dengan kemampuan kemampuan yang dimiliki diatas, Manajer Proyek akan mudah dalam
menyelesaikan tasks dan responsibilities terhadap sebuah proyek. adapun tugas dan tanggung
jawab Manajer Proyek mencakup :
1. Menjadwalkan Proyek

Bertugas untuk merencanakan pelaksanaan proyek agar dapat selesai tepat waktu.

2. Mengimplementasikan Rencana Proyek

Setelah membuat perencanaan, selanjutnya adalah mengimplementasi perencanaan tersebut


dilapangan.

3. Mengontrol Pekerjaan

Mengontrol semua pekerjaan proyek hingga selesai dan menjaga serta mengantisipasi agar
semua proyek berjalan lancar.

4. Membina Hubungan Kooperatif

Bertanggung jawab untuk membina hubungan kooperatif dengan semua pihak yang terlibat
baik dalam struktur vertikal maupun horizontal.

5. Melakukan Inovasi

Melakukan inovasi untuk merespon peluang dan ancaman yang tak terduga.

6. Memperkirakan Durasi Tugas

Teknik memperkirakan durasi tugas (Optimistic Duration, Pessimistic Duration, Expected


Duration, Most Likely Duration).

7. Mengintegrasikan Sumber Daya Sesuai Posisi dan Jadwal yang Sudah dibuat dalam
Perencanaan

Mampu mengelola perubahan dalam hal sumber daya, manusia maupun lingkungan.

8. Mengarahkan Usaha Tim

Salah satu dimensi terpenting mengarahkan usaha tim adalah pengawasan manusia.

9. Memonitor dan Mengontrol Perkembangan

Memonitor perkembangan proyek terhadap lingkup, jadwal dan anggaran.

10. Menilai Hasil dan Pengalaman Proyek

Pengumpulan umpan balik dari anggota-anggota tim proyek mengenai pengalaman-


pengalaman proyek dan saran-saran yang ditujukan untuk memperbaiki manajemen dan proses
organisasi.
Pekerjaan Konstruksi Irigasi
Pekerjaan Konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau
pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal,
dan tata lingkungan masing-masing beserta kelengkapannya, untuk mewujudkan suatu bangunan atau
bentuk fisik lain.” (Pasal 1 Angka 2 UU Nomor 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi).
Setiap pekerjaan memiliki unsur karakternya masing masing, begitupula denga pekerjaan konstruksi
diantaranya:

 Bersifat Unik, Suatu proyek konstruksi selalu memiliki sifat keunikan yang berbeda-beda
dalam pelaksanaannya, walaupun misalkan proyek X memiliki spesifikasi dan jenis yang sama dengan
proyek Y tetapi dikarenakan lokasi proyek yang berbeda tentunya memiliki keunikan tersendiri dalam
proses pelaksanaannya baik dikarenakan kondisi alam, transportasi material, akses peralatan, maupun
faktor lain yang berpengaruh dalam pelaksanaan proyek tersebut.
Terbatas Dengan Waktu, Mutu dan Biaya, Tentunya secara umum semua proyek juga
dibatasi oleh biaya, mutu dan waktu dalam proses pelaksanaannya, dikarenakan proyek secara umum
dibiayai dengan biaya yang terbatas (sesuai angaran) dan dengan waktu yang harus dicapai sesuai
dengan scheduled plan serta dengan kualitas yang sesuai dengan kontrak kerja. Dalam proyek
konstruksi parameter waktu dan biaya memang menjadi tolak ukur yang harus diupayakan dan
ditargetkan di samping unsur kualitas dan keselamatan kerja, sehingga proyek dapat berjalan sesuai
dengan tujuan yang direncanakan. Oleh karena itu pada dasarnya umur suatu proyek konstruksi
bersifat sementara karena dibatasi oleh durasi yang telah direncanakan.
Item Pekerjaan Dilakukan Secara Sistematis, Dalam pelaksanaan suatu proyek konstruksi
setiap item pekerjaan dilakukan secara sistematis dan berurutan sesuai dengan metode
pelaksanaannya, jadi setiap elemen suatu struktur bangunan konstruksi umumnya dikerjakan
berdasarkan susunan yang sistematis misalnya mulai dari sub-structures, upper structures, dan
pekerjaan finishing dan tidak berulang setelah item pekerjaan tersebut selesai dikerjakan.
Umumnya Menggunakan Tenaga Kerja Ahli dan Profesional, Dalam praktik konstruksi di
lapangan tenaga kerja yang digunakan umumnya menggunakan tenaga kerja terlatih, terdidik sampai
profesional karena pekerjaan yang dikerjakan memang membutuhkan suatu skill tersendiri mulai dari
tahap perencanaan oleh insinyur perencana sampai pelaksanaannnya di lapangan oleh pekerja seperti
pekerjaan pengelasan, perakitan tulangan, pengecetan, plesteran, instalasi listrik-air, dsb. Kendala
akhir-akhir ini yaitu sulitnya memperoleh tenaga kerja yang berkompeten dan profesional
dibidangnnya.
 Umumnya Pekerja/Labour Bersifat Tenaga Kerja Lepas, Pada industri proyek
konstruksi umumnya tenaga yang digunakan lebih bersifat tenaga kerja lepas sehingga jumlah tenaga
kerja lepas pada dasarnya lebih besar dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja tetap yang dimiliki oleh
pihak pelaksana. Hal ini dikarenakan karena salah satu ciri dari suatu proyek yaitu bersifat sementara
(terbatas oleh durasi suatu proyek), sehingga jika proyek telah selesai biasanya pekerja akan mencari
proyek baru dengan pihak pelaksana yang baru pula. Berbeda dengan industri manufaktur dimana pada
umumnya jumlah pekerjanya bersifat tetap dan tetap bekerja selama proses produksi terus berjalan.

Umumnya Bekerja di Ruangan Terbuka, Hampir semua pekerjaan konstruksi dilakukan di


ruangan terbuka dalam proses pelaksanaannnya dimana sangat dipengaruhi oleh iklim/cuaca. Bekerja
di ruangan terbuka juga berpotensi menimbulkan risiko kecelakan kerja bagi pekerja di lapangan.
Sehingga proyek konstruksi berbeda dengan industri manufaktur yang umumnya dilakukan di dalam
ruangan.
Pekerjaannya Tidak Berulang-Ulang, Pada industri manufaktur proses pekerjaannya
dilakukan secara berulang-ulang (Cycle), berbeda dengan proyek industri konstruksi dimana item
pekerjaannya tidak dilakukan secara berulang dimana prosesnya bersifat berkelanjutan dan sistematis
(jika item pekerjaan X selesai maka berlanjut ke item pekerjaan Y).

Hasil Pekerjaan Bersifat Handmade, Berbeda dengan industri manufaktur dimana output dari
proses pembuatan produknya umumnya menggunakan mesin sedangkan proyek konstruksi umumnya
hasil output pekerjaannya bersifat handmade. Perluh diketahui bahwa hasil dari output pekerjaan
konstruksi biasanya tidak sesempurnah jika dibandingkan dengan buatan mesin, oleh karena itu
ketidaksempurnaan dari hasil produk konstruksi merupakaan hal yang normal selama dalam batas-batas
yang dapat diterima.

Perhitungan Biaya Dilakukan Sebelum Pelaksanan, Pada umumnya perhitungan biaya


dilakukan pada tahap awal pengadaan (procerument) kemudian jika telah disepakati maka
dilaksanakan pada tahap konstruksi, berbeda dengan industri manufaktur dimana perhitungan biayanya
dilakukan setelah produk selesai dikerjakan yang berupa harga pokok produksi (HPP). Oleh karena itu
khusus untuk proyek konstruksi sering ditemukan kesalahan perhitungan maupun akibat faktor lain
yang menyebabkan pembengkakan biaya setelah proyek selesai dikerjakan dikarenakan perhitungan
biaya secara dini dan dengan waktu yang terbatas serta akibat faktor-faktor lain selama konstruksi yang
mempengaruhi biaya total proyek.

Volume Pekerjaan yang Terukur, Pada proyek konstruksi pada umumnya setiap item
pekerjaannya memiliki volume yang dapat diukur sehingga memudahkan dalam proses penganggaran
dan pelaksanaannya di lapangan. Setiap item pekerjaan konstruksi pastinya memiliki nilai volume yang
harus dan wajib ditentukan sebelum proyek dilaksanakan. baik berupa besar volume, luas, panjang,
unit, dsb.

Irigasi menurut PU terdapat pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Republik Indonesia Nomor 14/PRT/M/2015 yang mengatur tentang Kriteria dan Penetapan Status
Daerah Irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan irigasi. Di dalam Peraturan
Menteri tersebut khususnya pada pasal 9,10 dan 11 dijelaskan pula tentang kriteria pembagian
tanggungjawab pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi pada saluran utama (primer dan
sekunder) yang didasarkan pada keberadaan jaringan irigasi terhadap strata luasan jaringan irigasi
dengan ketentuan : Daerah Irigasi dengan luasan wilayah diatas 3000 ha menjadi wewenang dan
tanggung jawab pemerintah pusat, Daerah Irigasi yang memiliki luasan wilayah antara 1000 ha –
3000 ha menjadi wewenang dan tanggungjawab pemerintah daerah provinsi dan Daerah Irigasi
yang memiliki luasan wilayah kurang dari 1000 ha menjadi tanggungjawab pemerintah daerah
kabupaten/kota. Jika Daerah Irigasi yang wilayahnya berada pada lintas kabupaten, maka kewenangan
dan tanggungjawab ada pada pemerintah daerah provinsi. Sedangkan untuk pengembangan dan
pengeloaan sistem irigasi di tingkat jaringan tersier, sepenuhnya merupakan tanggungjawab
organisasi Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dalam hal ini yang dimaksud
adalah subak.
Pembangunan irigasi tidk dapat lepas dari unsur unsur yang ada didalamnya

 Tim Perencana
 Tim Pengawas
 Tim Pelaksana

Unsur yang terkait dalam pembangunan irigasi biasanya melibatkan Pemerintah


setempat,PUPR,kontraktor,Konsultan dan peran masyarakat sekitar

Didalam Pembangunan irigasi terdapat personil yang berperan penting di dalam proyek
tersebut,seperti:
 Pemilik Proyek ( Owner )
 Konsultan Pengawas
 Konsultan Perencana
 Kontraktor Pelaksana