Anda di halaman 1dari 22

ARSITEKTUR TRADISIONAL MOLOKU KIE RAHA "MALUKU

UTARA"
Moloku Kie Raha atau yang lebih dikenal dengan "MALUKU UTARA" atau disingkat menjadi MalUt yang
berarti Maluku Utara. mempunyai banyak kekayaan budaya yang merupakan aset bangsa Indonesia, Kekayaan
budaya merupakan aset nasional Indonesia yang tidak ada duanya di dunia. Salah satu khazanah budaya yang
menonjol adalah bangunan tradisional yang bentuknya beragam, arsitekturnya indah, dan setiap bangunan
merepresentasikan kebudayaan daerah tertentu. Arsitektur tradisional merupakan identitas budaya suatu suku bangsa
karena di dalamnya terkandung segenap perikehidupan masyarakatnya.
Arsitektur tradisional ini berkaitan erat dengan hunian atau tempat tinggal beserta bangunan pelengkapnya,
seperti lumbung, tempat pemujaan, dan bangunan tambahan lainnya. Bangunan hunian didirikan menurut konsep,
nilai dan norma-norma yang diwariskan nenek moyang.Namun demikian, seiring dengan perkembangan teknologi,
karya arsitektural masa kini berkembang ke arah arsitektur modern. Perkembangan ini menyebabkan arsitektur
tradisional mengalami transformasi yang cenderung meninggalkan keaslian, keunikan, dan keindahannya.
Transformasi ini dialami oleh rumah tradisional Siko dan Pacei di Maluku Utara. Saat ini bangunan aslinya tidak
ditemukan lagi. Oleh sebab itu, pelestarian arsitektur tradisional perlu dilakukan.

Maluku Utara yang terdiri dari gugusan pulau dan dihuni berbagai suku mempunyai bangunan tradisional
yang khas. Hal ini dapat dilihat dari berbagai bentuk rumah tradisional yang unik di setiap wilayahnya, misalnya
rumah adat Sasadu atau rumah adat Folajikusesurabi. Kedua rumah adat ini merupakan bagian dari arsitektur
tradisional Moloku Kie Raha. Moloku Kie Raha adalah nama adat dari Maluku Utara yang mengandung makna
persaudaraan empat kerajaan, yaitu kesultanan Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Berdasarkan informasi dari
masyarakat setempat dan juga beberapa penelitian sebelumnya ada indikasi bahwa meskipun bangunan tradisional di
setiap wilayah itu memiliki ciri khas masing-masing, bangunan tradisional ini tetap memiliki persamaan filosofi.
Oleh karena itu, rumah-rumah tradisional ini sangat menarik untuk dikaji lebih dalam.

Bentuk bangunan

Arsitektur tradisional Moloku Kie Raha memiliki bentuk yang khas di setiap daerah sesuai keadaan alam dan
budaya masing-masing suku bangsa. Namun demikian, arsitektur tradisional ini masih memiliki kesamaan, yaitu
sebagai perwujudan bentuk tubuh manusia yang terbagi dalam tiga bagian utama 4-6 sebagai berikut:

· Kepala: bagian atap bangunan diibaratkan kepala manusia. Kepala manusia merupakan bagian tertinggi
dan paling penting peranannya dalam struktur tubuh manusia. Keindahan penampilan seseorang juga tercermin
dari bagian kepala, yaitu muka. Karakteristik ini dijadikan landasan filosofi pada bagian atap bangunan
arsitektur tradisional Moloku Kie Raha dengan menganggap bahwa kepala bangunan sebagai bagian yang
paling tinggi kedudukannya dan harus dihormati. Kepala atau atap harus menampilkan bentuk yang khas, dan
mengandung nilai-nilai yang sakral.

· Badan: badan bangunan diibaratkan badan manusia. Badan bangunan merupakan inti bangunan yang
meliputi dinding dan ruang yang terdiri dari sistem konstruksi, bahan, ornamen, dan pola penataan ruang.

· Kaki: pondasi bangunan diibaratkan kaki manusia yang harus mampu menjadi tumpuan dalam kondisi
apapun. Kaki bangunan meliputi sistem struktur dan bahan pondasi.

"Filosofi tubuh manusia pada bangunan"

Dalam rumah adat Sasadu, misalnya, kepala bangunan dianalogikan sebagai perahu kesultanan (kagunga),
dan di kedua ujung bubungan terdapat najung perahu (kalulu) sebagai haluan atau buritan. Bagi masyarakat
setempat perahu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan dan sejarah perkembangan daerahnya
karena perahu merupakan kendaraan perang untuk melawan musuh, kendaraan utama untuk mencari nafkah di laut,
alat transportasi antarpulau, bahkan pada kondisi-kondisi tertentu perahu merupakan rumah sementara.
Arsitektur tradisional Moloku Kie Raha juga menggunakan bagian-bagian tubuh manusia dewasa sebagai
sistem satuan ukuran (measurement unit system), seperti tapak kaki, jengkal tangan, depa, dan tinggi badan. Sistem
satuan ukuran ini masih digunakan hingga saat ini. Jika satuan ukuran ini diubah ke satuan Sistem Internasional
agak sulit mendapatkan ukuran yang tepat karena sistem ukuran berdasarkan tubuh manusia sangat dipengaruhi
oleh postur seseorang. Namun, sebagai perkiraan 1 kaki setara dengan ± 30 cm; 1 jengkal setara dengan ± 22.5 cm;
1 depa setara dengan ± 150 cm; tinggi badan diasumsikan ± 165 cm.

Pola keruangan umumnya terdiri atas ruang penerima tamu, kamar tidur, dan penyimpanan benda-benda
pusaka atau adat. Umumnya dapur berada terpisah dari bangunan utama. Pada rumah Fala Kancing di Ternate,
penempatan kamar tidur di sebelah kiri melambangkan letak jantung manusia yang berada di dada kiri. 4 Bangunan
tempat tinggal umumnya konsentris, yaitu terdiri dari bagian inti di tengah (bilik dalam) dan bagian luar yang
mengelilingi bagian inti (bilik luar).3 Jumlah tiang rumah tradisional Moloku Kie Raha menunjukkan status sosial
penghuninya. Misalnya rumah-rumah tradisional di Ternate, rumah yang memiliki 8 tiang pada bagian teras (bagian
depan rumah) menandakan bahwa penghuni rumah berasal dari keluarga sultan, rumah yang memiliki 6 tiang
menandakan rumah para jogubu (perdana menteri dan panglima dalam kesultanan), dan yang bertiang 4
menandakan rumah para fanyira (ketua adat atau marga/kepala kampung).

Ornamen atau ragam hias bangunan lebih banyak ditemukan pada bagunan yang digunakan untuk upacara
adat seperti pada rumah tradisional Sasadu. Pada tiang ruamah adat Sasadu terdapat ukiran bermotif hewan (kura-
kura, ular, dan ikan) dan tumbuhan (bunga dan dedaunan). Rumah keluarga Sultan Ternate juga mempunyai
ornamen di atas pintu dan jendela berupa ukiran motif bunga.

Konstruksi bangunanPondasi

Rumah tradisional Moloku Kie Raha umumnya menggunakan pondasi susunan batu (sengkedan) dan pondasi
kayu yang ditinggikan di atas umpak batu. Jenis pondasi yang digunakan disesuaikan dengan lokasi bangunan dan
kondisi lahan. Di daerah pegunungan, pondasi rumah umumnya menggunakan pondasi kayu dengan umpak batu
utuh. Kayu yang ditinggikan di atas batu ini menciptakan lantai yang tinggi sehingga dapat membentuk rumah
panggung. Maksud penggunaan jenis pondasi ini adalah untuk menyesuaikan dengan kontur tanah yang miring dan
perlindungan terhadap ancaman binatang buas. Sedangkan di daerah landai, lembah, atau tepi pantai pondasinya
menggunakan susunan batu tanpa perekat (spesi). Lantai bangunan dengan pondasi jenis ini tidak ditinggikan karena
lebih praktis, dan kondisi lahannya juga tidak berkontur. Pada perkembangan selanjutnya, pondasi yang
menggunakan batu kali dengan perekat dari kelero, yaitu berupa campuran hasil pembakaran batu kapur atau batu
karang. Dinding terbuat dari campuran kerikil, pasir, dan kalero. Bagian tengah dinding terdapat tulangan dari bilah-
bilah bambu.

Badan bangunan

Badan bangunan rumah tradisional Moloku Kie Raha meliputi dinding dan ruang bangunan yang mencakup
konstruksi, bahan, dan ornamen. Konstruksi dindingnya berupa rangka (skeleton) yang menggunakan sambungan
sistem pasak atau pengikat dari tali ijuk. Ada juga yang menggunakan rangka sistem bongkar pasang (knock-down)
sehingga memungkinkan untuk dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Dinding terbuat dari anyaman bambu
atau susunan batang ijuk dengan posisi vertikal. Setiap lembaran dinding diperkuat dengan tiang kayu atau bambu).
Bahan dinding dari bambu yang mengunakan sambungan kombinasi antara pasak dan ikatan gumutu (tali ijuk) dapat
ditemukan pada rumah Fala Boga di Ternate.

Atap

Bentuk atap rumah-rumah tradisional bervariasi, di daerah Ternate dikenal dengan nama Fala Boga yang
berarti rumah beratap patah atau bengkok (lihat Gambar 5a). Ini berbeda dengan atap rumah adat Sasadu, atap
merupakan perwujudan perahu kesultanan (kagunga) dan terdapat najung perahu (kalulu) pada kedua ujung
bubungan (lihat Gambar 5b-d). Atap rumah bangsawan daerah Ternate lebih tinggi daripada atap rumah rakyat
biasa, rumah rakyat biasa ketinggian tiang rajanya tidak lebih dari ¼ lebar bangunan, seperti pada Fala Kancing.
Tiang raja memliki makna dan arti bagi masing-masing daerah, pada rumah Fala Kancing terdapat tiga buah tiang
raja sebagai simbol hubungan kepada Tuhan dan kepada kedua orangtua.

Struktur rangka atap umumnya menggunakan kayu, namun ada pula yang menggunakan bambu dengan
sistem rangka yang menyatu dengan rangka dinding. Bahan penutup atap menggunakan daun sagu atau ijuk. Helai-
helai daun sagu disusun dan ditekuk secara sederhana pada sebilah bambu yang telah dikeringkan sehingga
membentuk persegi panjang menyerupai bentuk sisir.4,5 Bentuk ini memberikan kesan yang berirama, alami dan
indah. Panjang atap daun sagu adalah satu depa atau sekitar 1.5 meter.

Tradisional – Tradisi – Arsitektur Tradisional

Kata tradisi berasal dari bahasa Latin traditionem, dari traditio yang berarti "serah terima,
memberikan, estafet", dan digunakan dalam berbagai cara berupa kepercayaan atau kebiasaan
yang diajarkan atau ditularkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, biasanya disampaikan
secara lisan dan turun temurun. Sebagai contoh adalah tradisi kegiatan masyarakat di Indonesia
saat perayaan peringatan hari kemerdekaan RI di setiap tanggal 17 Agustus. Masyarakat
Indonesia kerap menyelenggarakan perlombaan-perlombaan, tumpengan dan berbagai kegiatan
unik lainnya. Kegiatan semacam ini tidak diketahui kapan dimulainya dan siapa yang
memulainya. Namun demikian, kegiatan ini telah berlangsung sekian lama secara berulang-ulang
sehingga masyarakat menjadikan kegiatan tersebut perlu dan harus dilakukan. Inilah yang bisa
disebut sebagai tradisi. Demikian pula kegiatan-kegiatan yang mengatasnamakan aktivitas-
aktivitas keagamaan.

Tradisi adalah sebuah praktek, kebiasaan, atau cerita yang dihafalkan dan diwariskan dari
generasi ke generasi, awalnya tanpa memerlukan sebuah sistem tulisan. Tradisi sering dianggap
menjadi kuno; dianggap sangat penting untuk dijaga. Namun demikian ada juga beberapa tradisi
yang memang sengaja diciptakan demi mencapai tujuan-tujuan tertentu; sebagai alat untuk
memperkuat kepentingan atas kalangan tertentu dan lain sebagainya. Tradisi semacam itu
ternyata dapat diubah sesuai dengan kebutuhan saat itu dan perubahan itu masih bisa diterima
sebagai bagian dari tradisi kuno. Sebagai contoh yang termasuk "penemuan tradisi" di Indonesia
adalah pada masa pendudukan kolonial Belanda, mereka membutuhkan pengakuan kekuasaan di
wilayah mereka berada sehingga usaha terbaik yang harus mereka lakukan adalah dengan
menciptakan sebuah "tradisi" yang bisa mereka gunakan sebagai alat untuk melegitimasikan
posisi mereka sendiri. Dalam hal ini mereka memanfaatkan keberadaan seorang raja sebagai alat
untuk mempersatukan rakyat dibawahnya agar tetap loyal dan hormat pada sang raja sehingga
mudah dikendalikan oleh sang raja dan tentu saja oleh pendudukan kolonial yang menguasai
sang raja. Dengan demikian kekuasaan kolonial secara tidak langsung akan menyerap ke dalam
tradisi rakyat setempat.

Dalam tataran teoritis, tradisi dapat dipandang sebagai informasi atau terdiri atas
informasi. Informasi yang dibawa dari masa lalu ke masa kini dan dalam konteks sosial tertentu.
Sehingga informasi ini bisa dianggap sebagai bagian yang paling mendasar meski secara fisik
ada tindakantindakan atau aktifitas tertentu yang secara terus menerus juga dilakukan
pengulangan-pengulangan sepanjang waktu. Dengan demikian Tradisi adalah sebuah kegiatan
yang dilakukan secara terus menerus atau sebuah kebudayaan atau sebuah hasil karya yang
dianggap berhasil dan memiliki legitimasi dalam kurun waktu yang cukup panjang dan bahkan
sangat panjang (lama) yang diikuti oleh generasi generasi berikutnya secara turun temurun.

Vernakular – Arsitektur Vernakular

Menurut Yulianto Sumalyo (1993), vernacular adalah bahasa setempat, dalam arsitektur
istilah ini untuk menyebut bentuk-bentuk yang menerapkan unsur-unsur budaya, lingkungan
termasuk iklim 594 ComTech Vol.2 No. 2 Desember 2011: 592-602 setempat, diungkapkan
dalam bentuk fisik arsitektural (tata letak denah, struktur, detail-detail bagian, ornamen, dll).

Sementara definisi arsitektur vernakular menurut Paul Oliver dalam Encyclopedia of


Vernacular Architecture of the World adalah terdiri dari rumah-rumah rakyat dan bangunan lain,
yang terkait dengan konteks lingkungan mereka dan sumber daya tersedia yang dimiliki atau
dibangun, menggunakan teknologi tradisional. Semua bentuk arsitektur vernakular dibangun
untuk memenuhi kebutuhan spesifik untuk mengakomodasi nilai-nilai, ekonomi dan cara hidup
budaya yang berkembang.

Arsitektur Tradisional
Arsitektur tradisional adalah suatu bangunan yang bentuk,struktur ,fungsi,ragam hias dan
cara pembuatannya diwariskan secara turun temurun serta dapat di pakai untuk melakukan
aktivitas kehidupan dengan sebaik-baiknya. Dalam rumusan arsitektur dilihat sebagai suatu
bangunan, yang selanjutnya dapat berarti sebagai suatu yang aman dari pengaruh alam seperti
hujan, panas dan lain sebagainya. Suatu bangunan sebagai suatu hasil ciptaan manusia agar
terlindung dari pengaruh alam, dapatlah dilihat beberapa komponen yang menjadikan bangunan
itu sebagai tempat untuk dapat melakukan aktivitas kehidupan dengan sebaik-baiknya. Adapun
komponen-komponen tersebut adalah : bentuk, struktur , fungsi, ragam hias serta cara pembuatan
yang diwariskan secara turun temurun. Selain komponen tersebut yang merupakan faktor utama
untuk melihat suatu arsitektur tradisional, maka dalam inventarisasi dan dokumentasi ini
hendaknya setiap bangunan itu harus merupakan tempat yang dapat dipakai untuk melakukan
aktivitas kehidupan dengan sebaik-baiknya. Dengan memberikan pengertian ini, maka arsitektur
tradisional dapat pula dikategorikan berdasarkan kepada aktivitas yang ditampungnya.

Rumah Adat Maluku Utara

Rumah Baileo adalah rumah adat Maluku dan Maluku Utara, Indonesia Rumah Baileo
merupakan representasi kebudayaan Maluku dan memiliki fungsi yang sangat penting bagi
kehidupan masyarakat Rumah Baileo adalah identitas setiap negeri di Maluku selain Masjid atau
Gereja Baileo berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda suci, tempat upacara adat,
sekaligus sebagai balai warga Ciri utama rumah Baileo adalah ukurannya besar, dan memiliki
bentuk yang berbeda jika dibandingkan dengan rumah-rumah lain di sekitarnya

Fungsi
Salah satu fungsi rumah adat Baileo adalah tempat untuk berkumpul seluruh warga.
Perkumpulan warga di rumah adat Baileo merupakan aktivitas yang dilakukan dalam rangka
mendiskusikan permasalahn-permasalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat setempat. Selain
itu, tempat ini memiliki fungsi lain yaitu tempat untuk menyimpan benda-benda keramat, tempat
upacara adat dan sekaligus tempat untuk bermusyawarah.

Simbol
Ada beberapa simbol yang memberikan ciri bahwa itu adalah Rumah adat Balieo.
Pertama, Batu Pamali. Pada rumah adat Baileo posisi batu pamali berada di depan pintu tepat
dimuka pintu rumah Balieo. Keberadaan batu pamali di muka pintu menunjukan bahwa rumah
itu adalah balai adat. Batu pamalai adalah tempat untuk menyimpan sesaji. Selain itu, balai adat
ini merupakan bangunan induk anjungan. Tiang-tiang yang menyangga rumah berjumlah
sembilan yang berada di bagian depan dan belakang juga lima tiang di sisi kanan dan kiri
merupakan lambang Siwa Lima. Siwa Lima adalah simbol persekutuan desa-desa di Maluku dari
kelompok Siwa dan Kelompok Lima. Siwa Lima memiliki arti kita semua punya.

Konstruksi
Rumah adat Baileo merupakan rumah panggung. Posisi lantai berada diatas permukaan
tanah. Baileo tidak berdinding hal itu dilakukan merujuk kepada kepercayaan masyarakat
setempat yang meyakini bahwa dengan tidak adanya jendela rumah adat Baileo maka roh-roh
nenek moyang bebas untuk masuk atau keluar ke rumah Baileo. Hal yang lebih penting adalah
dengan tidak adanya jendela maka saat bermusyawarah masyarakat yang melihat dari luar Baileo
akan lebih mudah melihat. Lantai balai yang tinggi memiliki arti yaitu agar roh-roh nenek
moyang memiliki tempat dan derajat yang tinggi dari tempat berdirinya masyarakat. Selain itu,
masyarakat akan mengetahui bahwa permusyawaratan berlangsung dari luar ke dalam dan dari
bawah ke atas. Pamali sebagai tempat persembahan dan bilik pamali sebagai tempat
penyimpanan atau tempat meletakan barang-barang keramat masyarakat setempat berada di
dekat pintu masuk rumah adat Baileo.
Rumah Baileo

Konstruksi dan Ruang Rumah Baileo


Fasad Rumah Baileo

Ukiran
Pada rumah adat Baileo terdapat banyak ukiran-ukiran bergambar dua ekor ayam
berhadapan dan diapit oleh dua ekor anjing di sebelah kiri kanan. Posisi ukiran ini berada di
ambang pintu. Ukiran tersebut mempunyai arti dan perlambang tentang kedamaian dan
kemakmuran. Hal itu terjadi karena rog nenek moya yang menjaga masyarakat Maluku. Ukiran
lainnya adalah bulan, bintang dan matahari yang berada di atap dengan warna merah-kuning dan
hitam. ukiran tersebut melambangkan kesiapan balai adat dalam menjaga keutuhan adat beserta
hukum adatnya.

Budaya
Provinsi Maluku Utara, masyarakat di sini multietnik terdiri dari 28 sub etnis dengan 29
bahasa lokal. Maluku Utara didominasi oleh Muslim. Ternate dan Tidore telah dikunjungi para
pedagang dari berbagai negara sejak abad ke-16.Bangsa-bangsa Eropa memburu rempah-rempah
yang berharga saat itu dan berupaya memonopolinya. Saat ini Rempah rempah ini masih
dianggap berharga tapi tidak seberharga seperti sebelumnya. Pala dan cengkeh berlimpah di sini
yang digunakan sebagai bumbu masakan dan permen, juga Peninggalan-peninggalan sejarah
masa silam antara lain Kadaton Sultan Ternate dan Kadaton Sultan Tidore. Anda dapat melihat
warisan kekayaan budaya dan sejarahnya di museum dan kedaton. Anda dapat mengunjungi
bangunan yang fantastis yaitu Masjid Sultan yang berbentuk piramida, masjid ini terletak di
sebelah selatan istana di Ternate.

Corak kehidupan sosial budaya masyarakat di provinsi Maluku Utara secara umumm
sangat tipikal yaitu perkawinan antara ciri budaya lokal Maluku Utara dan budaya Islam yang
dianut empat kesultanan Islam di Maluku Utara pada masa lalu. Kehidupan masyarakat Maluku
Utara dipengaruhi oleh kondisi wilayahnya yang terdiri dari laut dan kepulauan, perbukitan, dan
hutan-hutan tropis. Desa-desa di Maluku Utara umumnya terletak di pesisir pantai dan sebagian
besar lainnya berada di pulau-pulau kecil. Oleh sebab itu, pola kehidupan seperti menangkap
ikan, berburu, bercocok tanaman, dan berdagang masih sangat mewarnai dinamika kehidupan
sosial-ekonomi masyarakat Maluku Utara. Di kalangan masyarakat Maluku Utara, semboyan
yang sekarang yang menjadi motto pemerintah Provinsi Maluku Utara, yakni Marimoi Ngone
Futura Masidika Ngone Foruru (Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh), adalah ajakan ke arah
solidaritas dan partisipasi. Potensi kultural ini merupakan modal pembangunan yang paling
berharga untuk dikembangka

Indonesia memiliki banyak sekali arsitektur lokal semacam ini, dengan ragamnya yang
amat kaya tersebar di seantero kepulauan kita. Berjenis arsitektur lokal di pelbagai daerah di
Indonesia ini, jelas merupakan sumber-sumber informasi bagi pengetahuan khususnya tentang
bangunan-bangunan dan lingkungan fisik yang khas dari masyarakat pribumi daerah yang
bersangkutan.

Pendahuluan
Sudah diakui, bahwa dunia kini memiliki satu corak arsitektur. Perwujudannya adalah
"Arsitektur Modern" yang disebut pula sebagai Arsitektur "Gaya Internasional". Corak ini
merupakan hasil dari kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad 19 dan
20 yang mengakibatkan sebagian kebutuhan dan persyaratan hidup menjadi relatif sama pada
masyarakat-masyarakat di dunia.

Pemilikan teknik bangunan, teknologi membangun. bahan bangunan produk industri serta
standar pendidikan arsitek/teknisi yang sama, terpakai dan berlaku di mana-mana, yang
kemudian memperkuat kecenderungan wajah arsitektur di kota-kota dan kota-kota besar di dunia
menjadi senada dan sebahasa. Asal usul gaya ini dan sejarah perkembangannya, sudah lama
difikirkan dan ditulis orang, dan kini sudah merupakan pengetahuan tentang sejarah arsitektur
dunia.
Di pihak lain, walaupun belum (atau tidak) dimasukkan dalam bagian pengetahuan tentang
sejarah arsitektur dunia tersebut di atas, sesungguhnya di bagian-bagian lain di dunia ini masih
ada lagi arsitektur dengan corak yang sangat berbeda dengan corak modern. Banyak orang belum
pernah tahu, bahkan memang orang belum memberikan nama pada arsitektur jenis ini. Kita
boleh menamakannya arsitektur diaiek (vernacular), arsitektur tanpa nama (anonymus),
arsitektur pedesaan (rural), arsitektur asli (indigenous), arsitektur alamiah (spontaneous), atau
apa pun, tapi yang jelas ia adalah arsitektur lokal, setempat, sangat khas, yang dibangun menurut
tradisi budaya masyarakat yang bersangkutan.

Arsitektur-arsitektur lokal ini pada dasarnya berkaitan erat dengan hunian atau tempat
tinggal beserta bangunan-bangunan dan struktur pelengkapnya (lumbung, tempat pemujaan,
bangunan-bangunan tambahan, dll). Bangunan-bangunan hunian itu didirikan menurut konsep-
konsep, nilai-nilai dan norma-norma yang diwariskan nenek moyang mereka. Perwujudan bentuk
sebagai hasilnya seperti terlihat saat ini dapat dianggap tidak berbeda jauh dari perwujudan
bentuk hasil tradisi yang sama pada masa-masa yang lampau walaupun perubahan-perubahan
kecil maupun besar bisa saja terjadi pada masa yang silam.

Dengan demikian, kalau kita mengamati bangunan-bangunan dalam "enclave" arsitektur


lokal sekarang ini, yang dianggap oleh para anggota masyarakat setempat sebagai bangunan
yang struktur dan bentuknya adalah sesuai dengan tradisi budaya mereka, paling tidak, ia dapat
dianggap sebagai perwujudan tradisi mereka yang sama di masa lampau.

Atas dasar anggapan ini, arsitektur lokal seperti yang dimaksud di atas dalam tulisan ini
akan disebut sebagai arsitektur tradisional karena pernyataan bentuknya sesuai dengan kaidah-
kaidah yang diakui bersama atau masih dianut oleh sebagian besar anggota masyarakat sebagai
tradisi yang turun temurun. Kini, apa yang sedang terjadi pada kantong-kantong arsitektur
tradisional kita ? Beberapa kasus dapat disebutkan berikut Ini:

Masyarakat To Lore yang sudah ribuan tahun beranak pinak dan hidup serasi dengan tanah
dan- hutan di dataran tinggi Sulawesi Tengah, mungkin akan segera dipindahkan dan
dimukimkan kembali ke daerah lain. Hutan dan lembah di lereng Gunung Nokilalaki tempat
mereka bermukim ini akan dijadikan cagar alam dan taman nasional "Lore Kalamanta".
Tidakkah pemisahan secara drastis semacam ini, akan menimbulkan dekadensi kebudayaan dan
punahnya suatu tradisi lama sebelum kita mengenalnya secara mendalam.

Program "pemukiman kembali" yang teratur dan terarah terhadap masyarakat Badui Luar
di Jawa Barat dari daerah asalnya di Kanekes ke Gunung Tunggal merupakan contoh yang
sejenis dengan kasus masyarakat To Lore. Cepat atau lambat kemungkinan besar masyarakat
Badui Dalam akan mengalami pula gilirannya.
Contoh lain adalah program "turun ke tanah" yang dilaksahakan terhadap masyarakat
Dayak di pedalaman Kalimantan Timur, yang selain dimukimkan kembali akibat daerah
pemukiman asalnya termasuk hutan yang di-"konsesikan" mereka juga diajar untuk tinggal satu
keluarga dalam satu rumah, tidak lagi bersama-sama dengan keluarga-keluarga lain
semasyarakat.

Banyak sekali lingkungan dan bangunan tradisional harus dibongkar dan dihancurkan
akibat dilaksanakannya rencana pelebaran jalan, atau pembangunan "fasilitas" baru bagi
lingkungan (shopping center, perkantoran dll.), baik pada tingkat kota, kecamatan maupun
kabupaten.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa bangunan-bangunan dan lingkungan


tradisional kini berada dalam masa transisi di mana ia sedang mengalami perubahan-perubahan
besar yang mengandung unsur kecenderungan untuk punah. Keinginan untuk memperbanyak
usaha melakukan pencatatan dan perekaman pengetahuan tentang arsitektur tradisional adalah
dalam rangka menyelamatkan pengetahuan ini agar tidak musnah bersamaan dengan musnahnya
arsitektur itu sendiri.

Penelitian arsitektur tradisional di Ternate, Halmahera dan sekitarnya yang dipaparkan


dalam tulisan ini, merupakan realisasi dari keinginan dan usaha tersebut di atas. Penelitian ini
masih merupakan penelitian awal dari serentetan rencana penelitian serupa yang akan dilakukan
pada sebanyak mungkin arsitektur tradisional daerah-daerah lain di Indonesia. Penelitian-
penelitian awal ini dilaksanakan dalam kerangka "Pra-Penelitian Sejarah Arsitektur Indonesia"
oleh Jurusan llmu-ilmu Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Penelitian-penelitian Awal Yang Telah Dilaksanakan


1. Ruang Lingkup.
Penelitian awal ini berusaha merekam arsitektur tradisional sebagaimana ia dibangun dan
sebagaimana adanya dari beberapa lokasi di Ternate, Halmahera dan sekitarnya. Pengertian
arsitektur, demikian pula arsitektur tradisional sebenarnya luas sekali. la mencakup bagian-
bagian yang teraga dan juga yang tidak teraga. la mengandung standar-standar fisik dan simbolik
dan ia memiliki pula banyak aspek, baik alamiah maupun manusiawi. Sebagai tahap paling awal
penelitian ini membatasi diri pada perekaman kenyataan-kenyataan fisik saja dari bangunan-
bangunan yang berkaitan dengan hunian atau tempat hnggal beserta bangunan-bangunan lain
sebagai pelengkapnya.

2. Metode Penelitian.
Menentukan contoh-contoh yang kiranya mewakili bentuk hunian atau lingkungan suatu wilayah
dengan bantuan kepustakaan yang ada serta wawancara di lapangan.
Melakukan pengukuran terhadap bangunan secara keseluruhan dan detail-detail bagian-
bagian yang dianggap penting dalam arti mengandung telaah yang kaya dan majemuk. Untuk
mendapatkan kesan-kesan yang menyeluruh digunakan alat potret sehingga terekam keterangan
visual seperti suasana gelap/terang, warna, tekstur, hubungan-hubungan konstruksi dan bentuk-
bentuk hiasan yang rumit.

Untuk mencatat kemungkinan adanya varian dalam suatu `penyelesaian arsitektural,


adanya bagian-bagian yang pernah diubah atau perubahan-perubahan akibat pengaruh ikiim dan
cuaca, dilakukan wawancara dengan orang-orang terpandang yang tahu dalam bidang yang
bersangkutan dengan menggunakan pita kaset.

Menghubungkan data-data pengukuran dengan keterangan-keterangan hasil wawancara


maupun literatur dan menuangkannya dalam bentuk "penggambaran kembali".

Hasil yang diperoleh adalah data-data dalam bentuk gambar-gambar yang terukur dan
terskala sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

3. Hasil-hasil Penelitian Awal


Hasil-hasil penelitian awal ini merupakan arsitektur-arsitektur daerah-daerah Siko dan Facei di
Ternate, Dokiri di Tidore, Taraudu (Sahu), Cempaka (Sahu), Katana (Tobelo) dan Galela di
Halmahera. Gambar-gambar dan keterangan-keterangan yang diberikan di sini, diambil dan
merupakan sebagian kecil dari bahan laporan data.

Kesimpulan-Kesimpulan Sementara
Pra-penelitian yang hanya mengamati kenyataan-kenyataan fisik ini sangat dibatasi oleh obyek
yang ada, sifat-sifatnya dan jumlah yang berhasil diamati.

Sesungguhnya makin beragam dan majemuk serta makin banyak jumlah obyek yang
diamati, akan makin memperhalus hasil yang dapat diperoleh. Pada penelitian awal yang telah
dilakukan ini masih dianggap bahwa obyek yang diamati terlampau sedikit sehingga dalam
menarik hasil daripadanya peneliti banyak melakukan "rampatan" (generalization). Oleh karena
itu hasil-hasil ini perlu dianggap sebagai hasil yang masih bersifat sementara.

Dari hasil rekaman yang sudah dikumpulkan, dapat diambil kesimpulan-kesimpulan


sementara yang menunjukkan sifat-sifat umum arsitektur tradisional Halmahera dan sekitarnya,
sebagai benkut :

Bangunan-bangunan tempat tinggal umumnya konsentris, terdiri dari bagian inti di tengah
(bilik dalam) dan bagian-bagian luar yang mengelilingi bagian inti (bilik luar).
Bangunan-bangunan ini sebagian berdiri dengan lantai diangkat ±90 -150 cm di atas tanah
(Siko, Pacei, Taraudu) dan sebagian lagi berlantai langsung di atas tanah (Dokiri, Katana,
Galela). (c) Struktur bangunan adalah s`stem rangka (skeleton) dari kayu, bambu dan kombinasi
dari keduanya.

Bentuk bangunan adalah geometris, bentuk tetap segi delapan, dengan bagian yang
tertinggi berbentuk pelana mengindikasikan bilik dalam sebagai bagian yang terpenting dari
rumah.

Bahan bangunan yang dipakai adalah bahan bangunan lokal, yang langsung terdapat di
daerah itu seperti : kayu untuk rangka rumah; bambu untuk tulangan utama dinding, untuk
tulangan dasar dari dinding, untuk bahan dinding/lantai (bambu belah); daun nipah untuk bahan
atap, dan untuk dinding (pelepahnya).

Tiang-tiang utama rangka rumah dan tulangan dasar dinding berdiri di atas umpak batu.

Penyelesaian-penyelesaian detail sambungan konstruksi dan ke-mampuan membuat aneka


ragam ornamen cukup unik, menunjukkan adanya potensi pertukangan yang besar (skilled).

Bangunan-bangunan memberikan asosiasi pada bentuk kapal.

Kemungkinan-kemungkinan Penelitian Lebih Lanjut


Dalam Laporan Pra-penelitian Sejarah Arsitektur Indonesia, telah disebut kemungkinan-
kemungkinan penelitian lebih lanjut, yang jelas berlaku pula bagi kelanjutan penelitian awal
terhadap arsitektur tradisional Ternate dan Halmahera. Kemungkinan- kemungkinan tersebut
adalah sebagai berikut :

Rekaman-rekaman yang telah diperoleh, merupakan rekaman dari keadaannya pada satu
waktu tertentu. Dengan perkataan lain, perekaman ini pada waktu-waktu tertentu di masa yang
akan datang perlu dikerjakan lagi secara berkala tapi terus menerus agar dapat menghasilkan
rekaman-rekaman yang dapat memperlihatkan po/a perubahannya di kemudian hari. Perekaman
terus menerus ini akan dapat memberikan petunjuk akan arah-arah perubahan yang disukai oleh
seseorang atau sekelompok masyarakat yang bersangkutan. Langkah selanjutnya adalah meneliti
perangai seseorang atau sekelompok masyarakat tersebut, dalam menghadapi setiap bentuk
perubahan di tengah-tengah pembangunan ini.

Rekaman-rekaman yang telah diperoleh, merupakan rekaman petunjuk-petunjuk untuk


menyempurnakan metode penelitian yang dianut sebelumnya. Dengan metode yang
disempurnakan ini penelitian-penelitian serupa dapat segera diterapkan pada daerah-daerah lain
guna memperkaya jumlah obyek yang diamati sehingga dengan demikian generalisasi yang
terpaksa telah di-lakukan pada hasil-hasil penelitian yang sekarang dapat diperhalus.

Penelitian ini pun dapat membuka mata ke arah kenyataan akan adanya hubungan timbal
balik antara "kepercayaan" (yakni hu-bungan kejiwaan antara manusia dengan alam
lingkungannya) dengan pemanfaatan atau pengolahan benda. Hal ini menunjuk kepada gejala-
gejala semiologik/semiotika, kaidah-kaidah linguis-tik atau penciptaan simbol-simbol, yang pada
gilirannya merupa-kan bagian dari environmental communication. Hasil dari kegiatan ini akan
mencakup berbagai bidang keilmuan.

Data lengkapnya tersusun dalam :


Laporan Pra-Penelitian Sejarah Arsitektur Indonesia, Proyek Study Sektoral / Regional No.
281/PSSR/DPPM/1977.

Laporan Data Studi Arsitektur Tradisional Aceh, Sumba, Maluku Utara. Pra-Penelitian
Sejarah Arsitektur Indonesia. Jurusan llmu-ilmu Sejarah Indonesia, Fakultas Sastra, Iniversitas
Indonesia 1978-1979.

PENDAHULUAN

Sudah diakui, bahwa dunia kini memiliki satu corak arsitektur. Perwujudannya adalah
“Arsitektur Modern” yang disebut pula sebagai Arsitektur “Gaya Internasional”. Corak ini
merupakan hasil dari kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad 19 dan
20 yang mengakibatkan sebagian kebutuhan dan persyaratan hidup menjadi relatif sama pada
masyarakat-masyarakat di dunia.

Pemilikan teknik bangunan, teknologi membangun. bahan bangunan produk industri serta
standar pendidikan arsitek/teknisi yang sama, terpakai dan berlaku di mana-mana, yang
kemudian memperkuat kecenderungan wajah arsitektur di kota-kota dan kota-kota besar di dunia
menjadi senada dan sebahasa. Asal usul gaya ini dan sejarah perkembangannya, sudah lama
difikirkan dan ditulis orang, dan kini sudah merupakan pengetahuan tentang sejarah arsitektur
dunia.

Di pihak lain, walaupun belum (atau tidak) dimasukkan dalam bagian pengetahuan tentang
sejarah arsitektur dunia tersebut di atas, sesungguhnya di bagian-bagian lain di dunia ini masih
ada lagi arsitektur dengan corak yang sangat berbeda dengan corak modern. Banyak orang belum
pernah tahu, bahkan memang orang belum memberikan nama pada arsitektur jenis ini. Kita
boleh menamakannya arsitektur diaiek (vernacular), arsitektur tanpa nama (anonymus),
arsitektur pedesaan (rural), arsitektur asli (indigenous), arsitektur alamiah (spontaneous), atau
apa pun, tapi yang jelas ia adalah arsitektur lokal, setempat, sangat khas, yang dibangun menurut
tradisi budaya masyarakat yang bersangkutan.
Arsitektur-arsitektur lokal ini pada dasarnya berkaitan erat dengan hunian atau tempat
tinggal beserta bangunan-bangunan dan struktur pelengkapnya (lumbung, tempat pemujaan,
bangunan-bangunan tambahan, dll). Bangunan-bangunan hunian itu didirikan menurut konsep-
konsep, nilai-nilai dan norma-norma yang diwariskan nenek moyang mereka. Perwujudan bentuk
sebagai hasilnya seperti terlihat saat ini dapat dianggap tidak berbeda jauh dari perwujudan
bentuk hasil tradisi yang sama pada masa-masa yang lampau walaupun perubahan-perubahan
kecil maupun besar bisa saja terjadi pada masa yang silam.

Dengan demikian, kalau kita mengamati bangunan-bangunan dalam “enclave” arsitektur


lokal sekarang ini, yang dianggap oleh para anggota masyarakat setempat sebagai bangunan
yang struktur dan bentuknya adalah sesuai dengan tradisi budaya mereka, paling tidak, ia dapat
dianggap sebagai perwujudan tradisi mereka yang sama di masa lampau.

Atas dasar anggapan ini, arsitektur lokal seperti yang dimaksud di atas dalam tulisan ini
akan disebut sebagai arsitektur tradisional karena pernyataan bentuknya sesuai dengan kaidah-
kaidah yang diakui bersama atau masih dianut oleh sebagian besar anggota masyarakat sebagai
tradisi yang turun temurun. Kini, apa yang sedang terjadi pada kantong-kantong arsitektur
tradisional kita ? Beberapa kasus dapat disebutkan berikut Ini :

— Masyarakat To Lore yang sudah ribuan tahun beranak pinak dan hidup serasi dengan
tanah dan- hutan di dataran tinggi Sulawesi Tengah, mungkin akan segera dipindahkan dan
dimukimkan kembali ke daerah lain. Hutan dan lembah di lereng Gunung Nokilalaki tempat
mereka bermukim ini akan dijadikan cagar alam dan taman nasional “Lore Kalamanta”.
Tidakkah pemisahan secara drastis semacam ini, akan menimbulkan dekadensi kebudayaan dan
punahnya suatu tradisi lama sebelum kita mengenalnya secara mendalam.

— Program “pemukiman kembali” yang teratur dan terarah terhadap masyarakat Badui
Luar di Jawa Barat dari daerah asalnya di Kanekes ke Gunung Tunggal merupakan contoh yang
sejenis dengan kasus masyarakat To Lore. Cepat atau lambat kemungkinan besar^masyarakat
Badui Dalam akan mengalami pula gilirannya.

— Contoh lain adalah program “turun ke tanah” yang dilaksahakan terhadap masyarakat
Dayak di pedalaman Kalimantan Timur, yang selain dimukimkan kembali akibat daerah
pemukiman asalnya termasuk hutan yang di-“konsesikan” mereka juga diajar untuk tinggal satu
keluarga dalam satu rumah, tidak lagi bersama-sama dengan keluarga-keluarga lain
semasyarakat.

— Banyak sekali lingkungan dan bangunan tradisional harus dibongkar dan dihancurkan
akibat dilaksanakannya rencana pelebaran jalan, atau pembangunan “fasilitas” baru bagi
lingkungan (shopping center, perkantoran dll.), baik pada tingkat kota, kecamatan maupun
kabupaten.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa bangunan-bangunan dan lingkungan


tradisional kini berada dalam masa transisi di mana ia sedang mengalami perubahan-perubahan
besar yang mengandung unsur kecenderungan untuk punah. Keinginan untuk memperbanyak
usaha melakukan pencatatan dan perekaman pengetahuan tentang arsitektur tradisional adalah
dalam rangka menyelamatkan pengetahuan ini agar tidak musnah bersamaan dengan musnahnya
arsitektur itu sendiri.

Penelitian arsitektur tradisional di Ternate, Halmahera dan sekitarnya yang dipaparkan


dalam tulisan ini, merupakan realisasi dari keinginan dan usaha tersebut di atas. Penelitian ini
masih merupakan penelitian awal dari serentetan rencana penelitian serupa yang akan dilakukan
pada sebanyak mungkin arsitektur tradisional daerah-daerah lain di Indonesia. Penelitian-
penelitian awal ini dilaksanakan dalam kerangka “Pra-Penelitian Sejarah Arsitektur Indonesia”
oleh Jurusan llmu-ilmu Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
PENELITIAN-PENELITIAN AWAL YANG TELAH DILAKSANAKAN

1. Ruang Lingkup.

Penelitian awal ini berusaha merekam arsitektur tradisional sebagaimana ia dibangun dan
sebagaimana adanya dari beberapa lokasi di Ternate, Halmahera dan sekitarnya. Pengertian
arsitektur, demikian pula arsitektur tradisional sebenarnya luas sekali. la mencakup bagian-
bagian yang teraga dan juga yang tidak teraga. la mengandung standar-standar fisik dan simbolik
dan ia memiliki pula banyak aspek, baik alamiah maupun manusiawi. Sebagai tahap paling awal
penelitian ini membatasi diri pada perekaman kenyataan-kenyataan fisik saja dari bangunan-
bangunan yang berkaitan dengan hunian atau tempat hnggal beserta bangunan-bangunan lain
sebagai pelengkapnya.

2. Metode Penelitian.

a. Menentukan contoh-contoh yang kiranya mewakili bentuk hunian atau lingkungan suatu
wilayah dengan bantuan kepustakaan yang ada serta wawancara di lapangan.

b. Melakukan pengukuran terhadap bangunan secara keseluruhan dan detail-detail bagian-


bagian yang dianggap penting dalam arti mengandung telaah yang kaya dan majemuk. Untuk
mendapatkan kesan-kesan yang menyeluruh digunakan alat potret sehingga terekam keterangan
visual seperti suasana gelap/terang, warna, tekstur, hubungan-hubungan konstruksi dan bentuk-
bentuk hiasan yang rumit.
c. Untuk mencatat kemungkinan adanya varian dalam suatu ‘penyelesaian arsitektural,
adanya bagian-bagian yang pernah diubah atau perubahan-perubahan akibat pengaruh ikiim dan
cuaca, dilakukan wawancara dengan orang-orang terpandang yang tahu dalam bidang yang
bersangkutan dengan menggunakan pita kaset.

d. Menghubungkan data-data pengukuran dengan keterangan-keterangan hasil wawancara


maupun literatur dan menuangkannya dalam bentuk “penggambaran kembali”. .

e. Hasil yang diperoleh adalah data-data dalam bentuk gambar-gambar yang terukur dan
terskala sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

3. Hasil-hasil Penelitian Awal

Hasil-hasil penelitian awal ini merupakan arsitektur-arsitektur daerah-daerah Siko dan


Facei di Ternate, Dokiri di Tidore, Taraudu (Sahu), Cempaka (Sahu), Katana (Tobelo) dan
Galela di Halmahera. Gambar-gambar dan keterangan-keterangan yang diberikan di sini, diambil
dan merupakan sebagian kecil dari bahan laporan data.
KESIMPULAN-KESIMPULAN SEMENTARA

Pra-penelitian yang hanya mengamati kenyataan-kenyataan fisik ini sangat dibatasi oleh obyek
yang ada, sifat-sifatnya dan jumlah yang berhasil diamati.

Sesungguhnya makin beragam dan majemuk serta makin banyak jumlah obyek yang
diamati, akan makin memperhalus hasil yang dapat diperoleh. Pada penelitian awal yang telah
dilakukan ini masih dianggap bahwa obyek yang diamati terlampau sedikit sehingga dalam
menarik hasil daripadanya peneliti banyak melakukan “rampatan” (generalization). Oleh karena
itu hasil-hasil ini perlu dianggap sebagai hasil yang masih bersifat sementara.

Dari hasil rekaman yang sudah dikumpulkan, dapat diambil kesimpulan-kesimpulan sementara
yang menunjukkan sifat-sifat umum arsitektur tradisional Halmahera dan sekitarnya, sebagai
benkut :

a. Bangunan-bangunan tempat tinggal umumnya konsentris, terdiri dari bagian inti di


tengah (bilik dalam) dan bagian-bagian luar yang mengelilingi bagian inti (bilik luar).
b. Bangunan-bangunan ini sebagian berdiri dengan lantai diangkat ±90 -150 cm di atas
tanah (Siko, Pacei, Taraudu) dan sebagian lagi berlantai langsung di atas tanah (Dokiri, Katana,
Galela). (c) Struktur bangunan adalah s’stem rangka (skeleton) dari kayu, bambu dan kombinasi
dari keduanya.

d. Bentuk bangunan adalah geometris, bentuk tetap segi delapan, dengan bagian yang tertinggi
berbentuk pelana mengindikasikan bilik dalam sebagai bagian yang terpenting dari rumah.

e. Bahan bangunan yang dipakai adalah bahan bangunan lokal, yang langsung terdapat di
daerah itu seperti : kayu untuk rangka rumah; bambu untuk tulangan utama dinding, untuk
tulangan dasar dari dinding, untuk bahan dinding/lantai (bambu belah); daun nipah untuk bahan
atap, dan untuk dinding (pelepahnya).

f. Tiang-tiang utama rangka rumah dan tulangan dasar dinding berdiri di atas umpak batu.

g. Penyelesaian-penyelesaian detail sambungan konstruksi dan ke-mampuan membuat


aneka ragam ornamen cukup unik, menun-jukkan adanya potensi pertukangan yang besar
(skilled).
h. Bangunan-bangunan memberikan asosiasi pada bentuk kapal.

KEMUNGKINAN-KEMUNGKINAN PENELITIAN LEBIH LANJUT

Dalam Laporan Pra-penelitian Sejarah Arsitektur Indonesia, telah disebut kemungkinan-


kemungkinan penelitian lebih lanjut, yang jelas berlaku pula bagi kelanjutan penelitian awal
terhadap arsitektur tradisional Ternate dan Halmahera. Kemungkinan-kemungkinan tersebut
adalah sebagai berikut :

1. Rekaman-rekaman yang telah diperoleh, merupakan rekaman dari keadaannya pada satu
waktu tertentu. Dengan perkataan lain, perekaman ini pada waktu-waktu tertentu di masa yang
akan datang perlu dikerjakan lagi secara berkala tapi terus menerus agar dapat menghasilkan
rekaman-rekaman yang dapat memperlihatkan po/a perubahannya di kemudian hari. Perekaman
terus menerus ini akan dapat memberikan petunjuk akan arah-arah perubahan yang disukai oleh
seseorang atau sekelompok masyarakat yang bersangkutan. Langkah selanjutnya adalah meneliti
perangai seseorang atau sekelompok masyarakat tersebut, dalam menghadapi setiap bentuk
perubahan di tengah-tengah pembangunan ini.

2. Rekaman-rekaman yang telah diperoleh, merupakan rekaman petunjuk-petunjuk untuk


menyempurnakan metode penelitian yang dianut sebelumnya. Dengan metode yang
disempurnakan ini penelitian-penelitian serupa dapat segera diterapkan pada daerah-daerah lain
guna memperkaya jumlah obyek yang diamati sehingga dengan demikian generalisasi yang
terpaksa telah di-lakukan pada hasil-hasil penelitian yang sekarang dapat diper-halus.

3. Penelitian ini pun dapat membuka mata ke arah kenyataan akan adanya hubungan timbal
balik antara “kepercayaan” (yakni hu-bungan kejiwaan antara manusia dengan alam
lingkungannya) dengan pemanfaatan atau pengolahan benda. Hal ini menunjuk kepada gejala-
gejala semiologik/semiotika, kaidah-kaidah linguis-tik atau penciptaan simbol-simbol, yang pada
gilirannya merupa-kan bagian dari environmental communication. Hasil dari kegiatan ini akan
mencakup berbagai bidang keilmuan.

Data lengkapnya tersusun dalam :

· Laporan Pra-Penelitian Sejarah Arsitektur Indonesia, Proyek Study Sektoral / Regional


No. 281/PSSR/DPPM/1977.
· Laporan Data Studi Arsitektur Tradisional Aceh, Sumba, Maluku Utara. Pra-Penelitian
Sejarah Arsitektur Indonesia. Jurusan llmu-ilmu Sejarah Indonesia, Fakultas Sastra, Iniversitas
Indonesia 1978-1979.