Anda di halaman 1dari 172

SEJARAH PERKEMBANGAN ARSITEKTUR NUSANTARA

A. Sejarah Nusantara

Ancangan Sejarah manapun tidak akan mencapai tujuannya jika tidak memperhatikan faktor geografis.1

Berdasarkan latar belakang historis bahwa tata Nusantara adalah sebuah kata majemuk yang diambil dari bahasa Jawa kuno. Kata

ini terdiri dari kata-kata nusa yang berarti pulau dan antara berarti lain. Istilah ini digunakan dalam konsep kenegaraan Jawa

artinya daerah di luar pengaruh budaya Jawa. Dalam penggunaan bahasa modern, istilah nusantara biasanya meliputi daerah

kepulauan Asia Tenggara atau wilayah Austronesia. Sehingga pada masa sekarang ini banyak orang menggunakan istilah geografis

ini untuk menunjukkan sebagai satu kesatuan pulau di Nusantara termasuk wilayah-wilayah di Semenanjung Malaya (Malaysia,

Singapura) dan Filipina bahkan beberapa negara di wilayah Indochina seperti Kamboja akan tetapi tidak termasuk wilayah Papua. Di

sisi lain, istilah geografis Nusantara saat ini sering diartikan sebagai Indonesia yang merupakan satu entitas politik. Fokus dari

diskusi buku ajar ini adalah kepada istilah geografis Nusantara sebagai wilayah Indonesia pada masa sekarang ini.

A.1. Sejarah Singkat Nusantara

Wilayah Nusantara terletak pada persilangan jalan, antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, atau lebih khusus, Benua Asia

dan Australia. Persilangan ini telah menjadikan wilayah Nusantara sebagai tempat persinggahan bagi pelayar dan pedagang

terutama dari China ke India atau sebaliknya. Persinggahan para pelayar dan pedagang dari berbagai mancanegara telah

menjadikan Nusantara sebagai tempat kehadiran semua kebudayaan besar didunia. Bukti-bukti penemuan artefak-artefak seperti

prasasti, uang logam dan gerabah memberikan informasi kehadiran bangsa-bangsa besar tersebut. Seperti prasasti berbahasa

Tamil ditemukan di desa Lobu Tua pesisir Barat Sumatra (Barus)1, porselin dan gerabah Cina ditemukan di Palembang, nisan dan
uang logam Arab ditemukan di Aceh. Dari penemuan-penemuan tersebut, para arkeolog dan sejarahwan menyusun kronologis

sejarah Indonesia. Dapat dikatakan bahwa sekitar seribu tahun lamanya, dari abad ke-5 sampai ke-15, kebudayaan-kebudayaan

India mempengaruhi Sumatra, Jawa dan Bali, dan Kalimantan bersamaan dengan dataran-dataran rendah yang luas di

Semenanjung Indocina. Kebudayaan India ini awalnya pada penyebaran agama Hindu dan Buddha dan Islam di Indonesia. Di Jawa

Tengah, candi Borobudur dan Prambanan adalah monumen yang sama nilainya dengan Angkor dan Pagan.

Pada abad ke-7 hingga ke-14, kerajaan Budha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I Ching mengunjungi

ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan

Semenanjung Melayu. Pada abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih

Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya

adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dalam

kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.

Islam tiba di Indonesia sekitar abad ke-12, menggantikan Hindu sebagai kepercayaan utama pada akhir dekad ke-16 di Jawa dan

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-1.htm (1 of 5)5/8/2007 3:32:52 PM


SEJARAH PERKEMBANGAN ARSITEKTUR NUSANTARA

Sumatra. Hanya Bali yang tetap mempertahankan mayoriti Hindu. Agama Islam ini dibawa oleh pedagang Arab dari Parsi dan

Gujarat melalui pembauran. Kesultanan kecil Samudra Pasai disebelah utara Sumatra menjadi bandar yang ramai pada masa itu.

Berdasarkan catatan Gastaldi (1548), seorang ahli kosmografi dan enjineer dari Italia, pelabuhan atau bandar kesultanan Samudra

sebagai yang terbaik di pulau tersebut, dan melalui proses evolusi nama, istilah Sumatra dikenalkan pertama kali oleh orang Eropa

Nichol de Conti, sebelumnya Marcopolo menyebut dengan Samara, kemudian Friar dan Odoric menyebut dengan Sumoltra,

Ibnu Battuta menyebut Samudra. 2 Melalui evolusi yang sama, nama Borneo pada mulanya adalah nama sebuah pelabuhan

Brunei, yang pada masa itu merupakan nama kerajaan terpenting di Kalimantan Barat.3
Di kepulauan-kepulauan di timur, rohaniawan-rohaniawan Kristen dan Islam diketahui sudah aktif pada abad ke-16 dan 17, dan

saat ini ada mayoritas yang besar dari kedua agama di kepulauan-kepulauan tersebut. Penyebaran Islam didorong hubungan

perdagangan di luar Nusantara; umumnya pedagang dan ahli kerajaan lah yang pertama mengadopsi agama baru tersebut.

Kerajaan penting termasuk Mataram di Jawa Tengah, dan Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore di Maluku di timur.

Peradaban Eropa, hadir sejak abad ke-16, mula-mula dalam bentuk peradaban Iberia (Spanyol dan Portugis), kemudian Britania

Raya, dan Belanda. Marcopolo menjadi orang Eropa pertama yang bercerita tentang perjalanannya ke bandar-bandar pantai utara

Samara pada tahun 1291.

Mulai tahun 1602 Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah Nusantara dengan memanfaatkan perpecahan di antara

kerajaan-kerajaan kecil yang telah menggantikan Majapahit. Pada dekad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara

langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (Verenigde

Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah

tersebut oleh parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta. VOC menjadi terlibat

dalam politik internal Jawa pada masa itu dan bertempur dalam beberapa peperangan yang melibatkan pemimpin Mataram dan

Banten. Setelah VOC jatuh bangkrut pada akhir dekad ke-18 dan setelah kekuasaan Britania yang pendek di bawah Thomas

Stamford Raffles, pemerintah Belanda mengambil alih kepemilikan VOC pada tahun 1816. Pada 1901 pihak Belanda melancarkan

Politik Etis (Ethische Politiek), yang termasuk investasi yang lebih besar dalam pendidikan bagi orang-orang pribumi, dan sedikit

perubahan politik. Di bawah gubernur-jendral J.B. van Heutsz pemerintah Hindia-Belanda memperpanjang kekuasaan kolonial

secara langsung di sepanjang Hindia-Belanda, dan dengan itu mendirikan fondasi bagi negara Indonesia saat ini. Pada saat ini,

Pemerintah Hindia Belanda mendirikan kota-kota dengan berbagai macam fasilitas seperti bangunan perkantoran, rumah sakit,

bangunan ibadah (masjid dan gereja) dan lain sebagainya.

Penetrasi Jepang di Asia Tenggara pada tahun 1941 disambut pada bulan yang sama dengan menerima bantuan Jepang untuk

mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Belanda. Pasukan Belanda terakhir dikalahkan Jepang pada Maret 1942.

A.2. Geografi dan Lingkungan

Nusantara beriklim tropis sesuai dengan letaknya yang melintang di sepanjang garis khatulistiwa. Dataran Indonesia kurang lebih

1.904.000 kilometer persegi terletak antara 60 garis lintang utara dan 110 garis lintang selatan serta 950 dan 1400 garis bujur timur.
Dataran ini dibagi menjadi empat satuan geografis yaitu kepulauan Sunda Besar (Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi),

Kepulauan Sunda Kecil (Lombok, Sumba, Sumbawa, Komodo, Flores, Alor, Savu, dan Lembata), Kepulauan Maluku (Halmahera,

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-1.htm (2 of 5)5/8/2007 3:32:52 PM


SEJARAH PERKEMBANGAN ARSITEKTUR NUSANTARA

Ternate, Tidore, Seram dan Ambon), dan Irian Jaya beserta kepulauan Aru. Seluruh pulau di Indonesia termasuk dalam zona iklim

khatulistiwa dengan suhu yang hampir konstan serta dipengaruhi oleh angin musim dan angin pasat.

Secara geologis, Nusantara terdiri dari bentukan vulkanik dan nonvulkanik yang saling berjalin, sehingga Indonesia merupakan

wilayah seismik paling aktif di dunia, tercatat kira-kira 500 gempa bumi setahun. Sejak akhir tahun 2004 hingga 2006 tercatat lebih

dari 1000 kali gempa bumi. Selain gempa bumi, wilayah Nusantara juga merupakan wilayah yang rawan tsunami, berdasarkan

katalog gempa (1629 - 2002) di Indonesia pernah terjadi Tsunami sebanyak 109 kali, terakhir kali bencana tsunami yang paling

besar terjadi akhir 2004 melanda wilayah Naggroe Aceh Darussalam.

A.3. Keragaman Budaya

Indonesia memiliki 18,018 buah pulau yang tersebar di sekitar khatulistiwa mulai dari 60 garis lintang utara dan 110 garis lintang

selatan serta 950 dan 1400 garis bujur timur. Diantara puluhan ribu pulau tersebut terdapat lima pulau besar, yaitu: Jawa, Sumatra,
Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya, dengan pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, di mana lebih dari setengah (65%)

populasi Indonesia hidup dipulau ini. Flora dan fauna Indonesia sangatlah beragam jenisnya. Setiap pulau memiliki kekhasan sendiri

dan sering menjadi ikon dalam perkembangan wilayah atau daerah tersebut. Selain itu, Indonesia juga kaya dengan keberagaman

etnis, terdapat kurang lebih 300 suku yang berbicara dalam 500 bahasa dan dialek.

Berdasarkan sosial linguistik, kebanyakan orang Indonesia berbahasa Austronesia yang kelompok wilayahnya persebarannya

meliputi banyak pulau di Asia Tenggara, sebagian dari Vietnam Selatan, Taiwan Mikronesia, Polinesia dan Madagaskar sehingga

memiliki banyak kesamaan warisan budaya. Pengaruh budaya Austronesia pada budaya Indoenesia terlihat dalam budaya materi,

organisasi sosial, kepercayaan, mitos, serta bahasa. Indonesia, selain kekayaan bahasa, masing-masing etnis memiliki keunikan

adat istiadat dan budaya yang sering direfleksikan dalam keunikan arsitektur lokal atau vernakular. Apabila setiap etnik memiliki

satu karakteristik arsitektur vernakular, maka terdapat kurang lebih 500 arsitektur vernakular di Indonesia yag merupakan kekayaan

tiada tara bagi bangsa Indonesia.

B. Nusantara dan Jaringan Asia

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, wilayah Nusantara terletak pada persilangan jalan, antara Samudera Hindia dan

Samudera Pasifik, atau lebih khusus, Benua Asia dan Australia. Persilangan ini telah menjadikan wilayah Nusantara sebagai tempat

persinggahan bagi pelayar dan pedagang terutama dari China ke India atau sebaliknya. Selain kedua bangsa Asia ini, terdapat juga

pengaruh lain dari berbagai budaya hebat di dunia seperti peradaban Iberia (Spanyol dan Portugis), kemudian Britania Raya, dan

Belanda. Dari luas dan letak wilayahnya, Indonesia dikategorikan sebagai negara besar yang cukup berpengaruh di Asia. Jaringan

ini telah berlangsung beratus tahun lamanya, beberapa peninggalan budaya yang nampak atas pengaruh yang pernah singgah

masih ada seperti misalnya kebudayaan India pengaruhnya mencakup terhadap penyebaran dan perkembangan Hindu Buddha dan

Islam di Indonesia yang bisa diketahui dari tinggalan budayanya yaitu arsitektur candi dan arsitektur masjid bergaya Moghul di

Indonesia. Sama halnya dengan India, pengaruh kebudayaan China hingga sekarang ini masih sangat besar dapat terlihat dalam

berbagai sapek kehidupan; kepercayaan, bahasa, makanan, sistem pertanian dan lain sebagainya.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-1.htm (3 of 5)5/8/2007 3:32:52 PM


SEJARAH PERKEMBANGAN ARSITEKTUR NUSANTARA

Kemajuan maritim di China pada masa Dinasti Ming telah membawa pelayar-pelayar tangguh mengarungi wilayah Nusantara.

Perdagangan silang antara China dan India telah membuat Nusantara dan Asia Tenggara menjadi tempat persinggahan setiap kali

berlayar. Pertukaran budaya terjadi dengan adanya interaksi perdagangan antara pedagang atau pelayar China dengan penduduk

setempat yang disinggahi. Terdapat banyak tinggalan sejarah yang mendapat pengaruh peradaban Cina di Indonesia terutama

pada klenteng dan bangunan pertokoan yang tersebar pada kota-kota lama di seluruh wilayah Indonesia.

Budaya Jepang pertama kali masuk ke Nusantara pada sepertiga abad ke 20. Melalui propaganda militer saudara tua Jepang

dengan leluasa masuk ke wilayah Nusantara. Penetrasi politik Jepang selama 3,5 tahun tidak banyak meninggalkan monumen atau

tinggalan bangunan bersejarah di Indonesia seperti halnya India dan Cina, akan tetapi kemiripan pada arsitektur vernakular yang

sangat dipengaruhi oleh budaya Austronesia menjadi pembahasan yang menarik dalam buku ajar ini. Sebagai salah satu negara

besar dengan konsep arsitektur timur yang kuat pernah menduduki Nusantara maka sangat penting untuk diketahui bagaimana

sejarah perkembangan dan konsep arsitektur Jepang.

Pembahasan buku ajar ini selain menjabarkan sejarah perkembangan arsitektur di Indonesia yang mendapatkan pengaruh dari

peradaban Asia (India, Cina dan Jepang) di Indonesia juga membahas konsep dan perkembangan arsitektur di ketiga negara

tersebut. Arsitektur Nusantara, dan Arsitektur Asia : India, Cina dan Jepang mewakili pemikiran tentang arsitektur timur.

Gambar 1.1. Indonesia dan Jaringan Asia

C. Sejarah Perkembangan Arsitektur Indonesia

Perkembangan kebudayaan erat kaitannya dengan sejarah kebangsaan. Secara umum periodisasi sejarah budaya Indonesia dibagi

atas tiga bagian besar yaitu Zaman Hindu-Budha, Zaman Islamisasi dan Zaman Modern, dengan proses oksidentalisasi. Sebenarnya

terdapat satu zaman lagi sebelum zaman Hindu Buddha yaitu Zaman prasejarah akan tetapi pembahasan serta diskusi tentang

zaman ini tidak banyak contoh yang tersisa dalam bidang arsitektur terutama pada masa prasejarah awal.1 Perkembangan
arsitektur mulai dari masa Prasejarah Akhir yang ditandai dengan ditemukannya kubur batu di Pasemah, Gunung Kidul dan

Bondowoso. Kemudian situs-situs megalitikum punden berundak di Leuwilang, Matesih, Pasirangin.

Sebagaimana diketahui bahwa sejarah budaya yang melahirkan peninggalan budaya termasuk arsitektur sejalan dengan periodisasi

tersebut diatas, maka dapat dikategorikan sebagai arsitektur percandian, arsitektur selama peradaban Islam (bisa termasuk

arsitektur lokal atau tradisional, dan pra modern) dan arsitektur modern (termasuk arsitektur kolonial dan pasca kolonial).

Keberadaan arsitektur lokal yang identik dengan bangunan panggung berstruktur kayu telah ada sebelum atau bersamaan dengan

pembangunan candi-candi. Hal ini ditunjukkan dari berbagai keterangan pada relief candi-candi dimana terdapat informasi tentang

arsitektur lokal/domestik atau tradisional atau vernakular nusantara. Akan tetapi jikalau menilik usia dari bangunan vernakular yang

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-1.htm (4 of 5)5/8/2007 3:32:52 PM


SEJARAH PERKEMBANGAN ARSITEKTUR NUSANTARA

ada di Indonesia, tidak ada yang lebih dari 150 tahun.

Pembahasan pada buku ajar ini tentang perkembangan arsitektur Indonesia dapat diurutkan sebagai berikut :

Arsitektur vernakular

Arsitektur klasik atau candi

Arsitektur pada masa perabadan atau kebudayaan Islam

Arsitektur Kolonial

Arsitektur Modern (pasca kemerdekaan)

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-1.htm (5 of 5)5/8/2007 3:32:52 PM


2

.
2 Arsitektur NUSANTARA PADA ERA
Hindu dan Buddha

A. Kerajaan Hindu dan Budha di Nusantara

Selama era kerajaan Hindu dan Buddha terdapat dua dinasti yang berkuasa sekitar abad ke-8 hingga ke-10

yaitu dinasti Sanjaya dan Syailendra. Dinasti Sanjaya beragama Hindu aliran Siwa, sementara dinasti

Syailendra menganut agama Buddha Mahayana atau Vajrayana. Peninggalan dari ketdua dinasti ini berupa

prasasti dan candi. Keluarga Sanjaya memiliki kekuasaan di bagian utara Jawa Tengah, dan keluarga

Syailendra di bagian Selatan Jawa Tengah. Sehingga dari abad ke-8 dan ke-9, candi yang ada di Jawa

Tengah Utara bersifat Hindu, dan yang ada di Jawa Tengah Selatan bersifat Buddha

Pembangunan candi terkait dengan kerajaan di Nusantara pada masa perkembangan agama Buddha dan

Hindu di Indonesia. Terdapat ratusan prasasti-prasasti yang ditanda tangani oleh raja-raja yang berkuasa

pada saat itu.

Keberadaan kerajaan-kerajaan Hindu Budha dimasa lampau diketahui dari prasasti-prasasti. Prasasti dari

kerajan tertua di nusantara ditemukan di Kutei, Kalimantan Timur. Prasati ni berbentuk yupa. Yaitu tugu

peringatan upacara kurban. Menurut bentuk dan tulisan yang digunakan, prasasti ini diperkirakan dibuat pada

tahun 400 Masehi, prasasti ini menceritakan sebuah kerajaan di Kalimantan timur (Kutei) diperintah oleh

seorang raja bernama Mulawarman. Setelah prasasti Kutei ini, terdapat ratusan prasasti yang bercerita

tentang kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha di Nusantara sekaligus juga bercerita tentang bangunan suci

(candi), bahkan ada nama candi di prasasti yang tidak bisa ditelusuri namanya dengan candi yang dikenal.

Umumnya prasasti tersebut dibuat pada abad ke-9. Selain peninggalan prasasti, terdapat pula candi-candi

yang didalamnya terdapat arca yang menjadi bukti keberadaan kerajaan-kerajaan tersebut di masa lampau.

Ada juga berita tentang keberadaan kerajaan tersebut berasal dari berita ekspedisi pada pendeta Buddha

Tiongkok (Cina) ke nusantara misalnya berita dari pendeta I-Tsing yang menyebutkan keberadaan kerajaan

Holing (Kaling), kerajaan-kerajaan di Sumatera : Tulang Bawang (Sumatera Selatan), Melayu (Jambi), dan

Sriwijaya. Dari I-Tsing diketahui bahwa Sriwijaya merupakan pusat kegiatan ilmiah agama Budha pada masa

itu. Buku atau kitab kuno juga merupakan sumber informasi keberadaan kerajaan-kerajaan di masa lampau,

seperti kitab Pararaton dan juga kitab Negarakertagama.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (1 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

Berikut adalah rangkuman dari berbagai sumber terhadap beberapa prasasti dan candi peninggalan kerajaan-

kerajaan pada era Hindu dan Buddha atau sebelumnya.

Tabel 2.1. Tinggalan Sejarah Kerajaan-kerajaan selama era Hindu Budha

Nama Prasasti Arca/Monumen Candi Agama


Kerajaan/
Dinasti
Kutei, 7 buah prasasti - - -
Kalimantan Mulawarman, 400 M
Timur
Taruma-negara, 7 buah prasasti - Batu Jaya, Kerawang Budha
Jawa Barat Purnawarman, 400-500 M
Kaling, Jawa Tuk Mas, 650 M - - Hindu-Budha
Tengah
Sriwijaya 5 buah prasasti, 683 M Arca Buddha, 600 M Muara Takus. Muara Budha
jambi, 1064 M Budha
Biara di Padang
Lawas, 1024 M Budha
Mataram, Jawa Canggal, 732 M Lingga dan Yoni Gunung Wukir Hindu
Tengah Arjuna, 809 M Kelompok C.Dieng Hindu
Kanjuruhan, Kanjuruhan, Dinoyo, 760 M Lingga Badut Siwa, Hindu
Jawa Timur/ 3 prasasti (a,b,c),856 M
Dinasti Sanjaya Raja Balitung, 907 M Wihara Ratu Boko Hindu-Budha
Dinasti Kalasan, 778 M Arca Tara Kalasan, Prambanan Budha
Syailendra Plaosan Hindu-Budha
Kelurak, 782 M Arca Manjucri Sewu, Lorojonggrang, Hindu-Budha
Karang Tengah, 824 M Borobudur, Pawon, Budha
Mendut
Keluarga Isana, Sindok, sekitar 929 M - Ngetos, Ngawi Hindu
Jawa Timur Pucangan, dikenal dengan Arca Durga Gunung gangsir, Hindu
Prasasati Calcutta gempol-Pasuruan
Keluarga Sanur, 914 M - Padas, Gunung Kawi, Hindu
Warmadewa Tampak Siring

Airlangga Pucangan, dikenal dengan Arca Wisnu dan Belahan, Jawa TImur Hindu
Prasasati Calcutta garuda (garuda-
mukha)
Kerajaan Kadiri Sri Jayawarsa, 1104 - - Hindu
Singhasari Prajnaparamita (Ken Kidal, 1427 M Hindu-Budha
Dedes) Jago. 1268 M Budha
Jawi Siwa-Budha
Wur are,1289 M Joko Dolok
Pamalayu. 1292 M Amoghapaca Singhasari Siwa-Budha

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (2 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

Majapahit - Candi Sumberjati, Blitar Siwa


Candi Anta Antapura
Candi Rimbi, Mojokerto
Batutulis, Bogor, 1333 M Harihara Candi Panataran Budha
Adityawarman, Candi Jabung, 1354 M
Batusangkar Candi Surawana dan Hindu
Candi
Tigawangi,1365M Hindu

Hindu

Hindu

Hindu

B. Arsitektur Candi

B.1. Fungsi Candi

Kata Candi pada umumnya dianggap berasal dari kata candikagrha, nama tempat tinggal Candika, Dewi

Kematian dan Permaisuri Siwa. Maka, secara harfiah Candi bisa ditafsirkan sebagai bangunan yang digunakan

untuk keperluan pemakaman, atau bahkan sebagai makam. 1. Dahulukala, diduga abu dari jenazah seorang
raja dikubur dibawah bagian tengah candi (peripih). Sehingga seringkali dulu candi digunakan sebagai tempat

pemujaan dan memuliakan raja yang sudah meninggal. Akan tetapi, Candi dibangun bukan semata hanyalah

sebagai makam atau tempat pemujaan dan memuliakan raja yang sudah meninggal, lebih dari candi itu,

candi juga difungsikan sebagai tempat pemujaan kepada para Dewa yang dilambangkan sebagai arca. Arca

tersebut diletakan di ruang tengah candi dahulu kala hanya Pendeta yang memimpin acara pemuajaan yang

diperkenankan masuk kedalam ruang tersebut. Candi lebih diyakini sebagai kuil atau tempat pemujaan

daripada sebagai makam.

B.2. Tatanan, Bagian dan Konsep Arsitektural Candi

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (3 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (4 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

Secara

vertikal,

struktur

bangunan

candi terdiri

dari tiga

bagian yang

melambangkan

kosmologi atau

kepercayaan

terhadap

pembagian

dunia sebagai

satu kesatuan

alam semesta

yang sering

disebut

dengan

Triloka terdiri

dari dunia

manusia

(bhurloka),

dunia tengah

untuk orang-orang yang disucikan (bhuvarloka) kemudian dunia untuk para dewa (svarloka). Ketiga tingkatan

ini, dalam struktur candi adalah digambarkan sebagai bagian kaki, badan dan kepala. Arsitektur candi sering

juga diidentikan dengan makna perlambangan Gunung Meru. Dalam mitologi Hindu-Buddha, Gunung Meru

adalah sebuah gunung di pusat jagat yang berfungsi sebagai pusat bumi dan mencapai tingkat tertinggi

surga. Keyakinan seolah-olah mengatakan bahwa gunung sebagai tempat tinggal para dewa.

Pada bangunan candi di Indonesia, selain berbagai macam arca Budha dan para dewa yang terdapat di ruang

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (5 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

dalam candi, elemen atau bagian bangunan yang terdapat pada arsitektur candi baik candi Hindu dan Buddha

yaitu kala-mekara, peripih, stupa, ratha (mahkota), lingga dan yoni.

Kala merupakan makhluk legenda yang diciptakan Siwa untuk membunuh seorang raksasa. Kala ini

diwujudkan dalam berbagai variasi bentuk seperti mahkluk aneh tanpa rahang bawah atau hiasan dengan

satu mata. Sedangkan Mekara adalah binatang mitologi berbelalai gajah, surai singa, paruh burung nuri,

dan ekor seperti ikan, yang semuanya merupakan lambang air dan birahi.2 Hiasan mekara ini sering
ditemukan baik pada candi Hindu dan Buddha. Biasanya patung makara ditemukan pada gapura sebagian

besar candi klasik awal, makara jarang ditemukan pada jaman klasik akhir di Jawa, tetapi di Sumatra,

seperti di kompleks candi Padang Lawas, dimana didirikan perkiraan pada abad 10 mekara ini masih terus

digunakan.

Peripih adalah sebuah peti batu yang digunakan awalnya sebagai tempat abu jenazah seorang raja,

kemudian pada kenyataan lain, peripih digunakan sebagai wadah untuk menaruh unsur-unsur yang

melambangkan dunia materi : emas, perak, perunggu, batu akik dan biji-bijian yang diduga sebagai

benda-benda upacara pemujaan. Di dalam peripih terdapat bagian-bagian yang diatur dalam pola seperti

mandala, sembilan atau 25 titik. 3


Stupa merupakan unsur perlambang Buddha dengan bentuk setengah bulatan mempunyai pengertian

falsafah melambangkan kubah syurga (Dome og Heaven) atau melambangkan struktur kosmik yang

menetap. Biasanya diletakkan di bagian atas candi.

Lingga dan yoni adalah sepasang relief atau monumen yang terdapat pada candi Hindu Siwa. Lingga

terdiri dari silinder terpadu atau berdiri diatas dasar yang disebut yoni.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (6 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

B.3. Teknik Konstruksi dan Pembangunan Candi

Bangunan candidi Indonesia umumnya dibangun dengan cara a joint vif, yaitu bebatuan yang saling

ditumpuk diatasnya tanpa ada bahan pengikat. Pada awalnya teknik penumpukan batu dilakukan dengan

cara membuat perkuatan dengan memotong bagian balok batu untuk membuat semacam lidah dan tekukan

yang saling mengunci dengan balok-balok yang bersebelahan baik secara mendatar maupun ke atas. Pada

awal abad ke-9, ahli bangunan Jawa menggunakan teknik India mengenai dinding batu berdaun ganda. Jawa

merupakan satu-satunya wilayah di Asia Tenggara yang menggunakan cara konstruksi seperti ini. Teknik ini

memerlukan pembuatan sepasang dinding sejajar dan pengisian rongga diantaranya dari puing atau dari batu

dengan bentuk yang tidak beraturan direkatkan dengan lumpur, kadang-kadang ditambah sedikit kapur

seperti di Loro Joggrang. Lapisan luar batu biasanya diarahkan ke bagian luar dalam serangkaian bebatuan

menggantung berjarak tidak rata yang menghasilkan kesan bagian luar bagikan dipahat atau di sesak.

Setelah abad ke 9, teknik kontruksi candi agak sedikit berubah sejalan dengan peralihan pusat politik pada

masa itu ke Jawa Timur.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (7 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

Pembangunan candi memiliki tata cara dn upacara ritual. Upacara yang dilaksanakan serigkali dicatat dalam

tulisan batu (piagem) atau lempengan perak atau tembaga. Yang brinisiatif membangun candi pada pertama

kalinya adalah bangsawan (orang suci) dengan mengajak orang-orang di kampungnya (sekelilingnya) untuk

bergotong royong membangun candi. Pertama sekali bangsawan yang menyelenggarakan acara membagikan

hadiahpada semua orang yang datang. Kemudian peserta menghiasi diri dengan bunga dan pewarna dan

batu suci diletakkan ditengah halaman candi yang yang akan dibangun. Tata cara urutan pembangunan candi

seperti yang terlihat pada gambar berikut ini.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (8 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

B.4. Pembagian kelompok arsitektur candi

Melihat dari masa pembangunan candi-candi di Nusantara, maka dibagi atas tiga periode1 yaitu masa Klasik
Awal (600 M-900 M), dimana candi Prambanan dan Borobudur dibangun pada masa ini, kemudian masa

Klasik Madya (900 M- 1250 M) yaitu candi-candi yang terdapat di Sumatera seperti candi-candi yang ada di

Padang Lawas, Muara Takus, dan Muara Jambi. Candi-candi yang dibangun pada Masa Klasik Akhir (1250 M

1500 M) umumnya terdiri dari konstruksi bata yang secara meluas banyak terdapat di Jawa Timur dimana

candi berundak di lereng gunung popular pada akhir periode ini.

Jika dilihat dari sudut pengelompokkan langgam atau jenis serta agama yang mewakili keberadaan candi

tersebut, Soekmono membagi menjadi tiga jenis yaitu jenis Jawa tengah Utara mewakili agama Hindu (Siwa),

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (9 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

jenis Jawa Tengah Selatan mewakili agama Budha (Mahayana) dan jenis Jawa Timur mewakili aliran

Tantrayana (baik Siwa maupun Budha). Dalam hal ini kellompok candi Loro Jonggrang meruipakan

perkecualian, karena berasal dari jaman setelah berpadunya keluarga Sanjaya dan keluarga Syailendra

sehingga susunannya terlihat sebagai kelompok candi di Jawa Tengah Selatan akan tetapi keagamaannya

mewakili agama Hindu. Pengelompokkan ini sejalan dengan pengelompokkan candi berdasarkan masa

pembangunannya.

Candi-candi di Jawa Tengah Utara merupakan candi pada masa klasik awal. Candi di wilayah ini merupakan

pemujaan terhadap Siwa dengan bentuk mendekati tipe candi di India, sebagai contoh yaitu candi Arjuna

yang merupakan kelompok candi Dieng. Dahulunya, diperkirakan di candi tersebut pernah terdapat arca atau

lingga yang akan dimandikan dengan upacara khusus, dengan pengaturan bilik dan saluran air suci

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (10 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

menembus tembok, upacara ini mirip dengan upacara Siwais dengan cara yang sama seperti candi-candi

Palawa di India selatan. Begitu pula halnya dengan candi Bima dimana pada awalnya sama dengan bentuk

candi dari provinsi Orissa di India, akan tetapi kemudian banyak mengalami perubahan sekitar tahun 800 M

disesuaikan dengan penggunaannya oleh penganut Budha. Beberapa candi yang terpenting lain pada masa

dan wilayah ini adalah Candi Gunung Wukir dekat Magelang (732 M), Candi Badut, dekat Malang (760 M),

kelompok candi Gedong Songo di lereng gunung Ungaran.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (11 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

Candi-candi di Jawa Tengah Selatan merupakan candi-candi Budha pertama di Jawa atau dikategorikan juga

sebagai candi pada masa Klasik awal. Candi yang termasuk adalah candi Kalasan, dekat Yogyakarta (778 M),

candi Sari di dekat candi kalasan, candi Borobudur, candi Mendut di sebelah timur Borobudur, kelompok

candi Sewu di dekat Prambanan, kelompok candi Plaosan disebelah timur candi Sewu.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (12 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

Sebenarnya, terdapat perbedaaan yang cukup signifikan antara candi Jawa Tengah Utara dengan candi Jawa

tengah Selatan karena perbedaan peruntukan bangunan keagamaannya. Misalnya, kelompok candi Dieng dan

kelompok candi Gedung songo yang merupakan candi Hindu didalamnya terdapat yoni dan lingga, dan

sebagian besar menghadap ke barat. Akan tetapi kemudian, dominasi candi Budha di Jawa tengah Selatan

telah memberikan image bahwa candi di Jawa tengah adalah candi budha, dan memang kemudian pengruh

Budha juga terdapat pada candi-candi di Jawa tengah Utara. Sehingga akhirnya bisa dikatakan tidak ada

perbedaan yang mendasar antara candi di Jawa tengah Utara dengan candi di Jawa tengah Selatan, hanya

candi di Jawa tengah Selatan lebih mewah dan lebih megah dari segi bentuk dan hiasan daripada candi di

Jawa Tengah Utara. Oleh karena itu, sering tipe candi di kedua wilayah ini disatukan, perbedaan yang

mendasar terlihat dengan candi di Jawa Timur.

Candi-candi terpenting di Jawa Timur adalah candi-candi di sekitar Malang : candi Kidal (candi Anusapati),

candi Jago disebut juga candi Wisnuwardhana, candi Singosari (candi Krtanagara). Kemudian candi Jawi

dekat Prigen, kelompok candi Panataran dekat Blitar, candi Jabung dekat Kraksaan.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (13 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (14 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

Perbedaan dari kedua tipe candi antara dua wilayah ini dijelaskan pada tabel 2.2.

Tabel 2.2. Perbedaan bentuk dan langgam candi Jawa tengah dan Jawa Timur.

Bentuk dan Tipe candi Jawa Tengah Bentuk dan Tipe candi Jawa Timur

Bentuk bangunan candi lebih Bentuk bangunan candi lebih ramping


tambun/lebar Atapnya merupakan perpaduan tingkatan
Atapnya nyata berundak-undak Puncaknya berbentuk kubus
Puncaknya berbentuk ratna atau Makara tidak ada, dan pintu serta relung
stupa hanya ambang atasnya saja diberi kepala Kala
Gawang pintu dan relung Reliefnya timbul sedikit saja dan
berhiaskan kala mekara lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit
Reliefnya timbul agak tinggi dan Letak candi di bagian belakang halaman
lukisannya naturalistik Kebanyakan menghadap ke Barat
Letak candi di tengah halaman Kebanyakan terbuat dari bata
Kebanyakan menghadap ke Timur

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (15 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

Kebanyakan terbuat dari batu


andesit
Sumber : Soekmono, 1973, vol.2, hal 86

Di pulau Sumatra seperti candi Muara takus, candi-candi di Padang Lawas terdapat beberapa candi yang

digolongkan sebagai candi pada masa klasik madya. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-11 dan ke-

13 merupakan tempat pemujaan dari batubata aliran Budha esoterik. Diperkirakan bahwa keberadaan candi-

candi ini berhubungan erat dengan kerajaan Adityawarman, seorang putra Pangeran Jawa yang pindah dan

mendirikan kerajaan di pedalaman Sumatra. Bukti sejarah berupa prsasasti Adityawarman mengungkapkan

beberapa fakta sejarah di pedalaman sumatra saat itu. Selain prasasti, terdapat cerita sajarah Kerajaan

Pannei (di daerah sekitar sungai Panai, Padang Lawas) diserang oleh kerajaan Cola (India Selatan) pada

tahun 1025. Salah satu Bangunan biaro (berasal dari kata vihara) di Padang Lawas memiliki hiasan singa

yang mirip dengan ukiran di Polonaruva, ibukota Sriklanka abad ke-11.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (16 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

Selain kedua bentuk dan langgam diatas, terdapat tipe lain dari candi yang berbeda yang sering disebut

dengan pertirtaan dan candi padas. Kelompok ini dimasukan kedalam candi pada masa klasik akhir.

Pentirtaan dan Candi padas yang terkenal adalah candi belahan di lereng gunung Penanggungan dekat

Mojokerto, dikenal dengan candi berundak, candi Tikus di bekas kota Majapahit (abad ke-14), dan gunung

kawi di Tampaksiring (Bali). Kemudian ada lagi jenis bangunan candi yang berupa gapura, terdapat dua jenis

gapura yaitu yang pertama, bagian pintu keluar masuk yang mana bagian tubuhnya terdapat lobang pintu,

misalnya candi Jedong, candi Plumbangan, dan candi Bajang Ratu. Jenis gapura kedua, rupanya seperti

bangunan candi yang dibelah dua atau disebut juga dengan candi bentar yang biasanya identik dengan seni

bangunan pada masa Majapahit. Selain candi Waringin Lawang di Majapahit, juga terdapat di Kapal, Bali.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (17 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%202.htm (18 of 18)5/8/2007 3:32:54 PM


2

3 .

Arsitektur NUSANTARA pADa masa


perkembangan ISLAM

A. Kerajaan Islam di Nusantara

Islam masuk ke Indonesia kurang lebih abad ke-13 sangat terkait dengan perkembangan perdagangan di

wilayah Nusantara. Pada awalnya kedatangan Islam ke nusantara melalui pembauran para pedagang yang

berasal dari Gujarat, sebuah wilayah di bagian barat India. Pada masa tersebut terdapat beberapa kota-kota

pelabuhan seperti Barus, Pasai, Banten, Demak, Madura yang menjadi titik pertemuan dan penyebaran

Islam di nusantara.

Dalam ekspedisi Marco Polo dari Tiongkok ke Persia tahun 1292, kemudian singgah di Peureula, bagian

utara Sumatera (Aceh), pada waktu itu dijelaskan bahwa terdapat penduduk yang beragama Islam dan juga

pedagang-pedagang dari India yang giat menyebarkan agama tersebut walaupun disekitar kota masih

banyak yang belum memeluk Islam. Tak lama setelah persinggahannya tersebut, pada tahun 1297 di

Samudra, sebuah kerajaan di Aceh, ditemukan makam raja Islam, salah satunya makam Sultan Malik al-

Saleh. Dari bukti sejarah ini, disimpulkan bahwa Kerajaan Samudra menjadi kerajaan Islam yang pertama di

Nusantara. Samudra menjadi pelabuhan niaga yang terpenting di Nusantara hingga akhir abad ke-14. Pada

awal abad ke-15, Malaka timbul sebagai pusat perdagangan dan pangkal penyebaran agama Islam.

Sementara di bagian Timur Nusantara timbul pula pusat kegiatan Islam, yaitu Ternate (1430) yang

meluaskan ajaran Islam hingga ke pantai timur Sulawesi. Kejayaan Malaka mencapai daerah Riau (Kampar,
Indragiri), akan tetapi tidak lama bertahan hingga Portugis menakhlukan Malaka pada tahun 1511. Di pulau

Jawa, kerajaan Majapahit mendekati masa punjak kejayaannya dibawah pemerintahan raja Hayam Wuruk

(1611). Demikian pula, Majapahit digantikan kedudukannya oleh Kerajaan Demak yang kemudian meluaskan

agama Islam ke seluruh Jawa hingga bagian selatan Kalimantan sehingga tersebut kerajaan Mataram dan

Banten menjadi kerajaan Islam yang besar setelah Demak. Pada abad ke-16 juga timbul kerajaan Brunei

yang meluaskan ke Islaman hingga bagian barat Kalimantan, dan juga Filipina. Atas kegiatan orang-orang

Bugis, maka Islam masuk ke Kalimantan Timur dan Sulawesi Tenggara dan juga beberapa pulau di Nusa

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/bab%203.htm (1 of 14)5/8/2007 3:32:55 PM


2

Tenggara. Kerajaan Goa menjadi kerajaan besar Islam pada masa itu. Dari Ternate (Kesultanan Ternate dan

Tidore), Islam meluas meliputi pulau-pulau di seluruh Maluku, dan di daerah pantai Timur Sulawesi serta

Sulawesi Utara. Demikianlah, hingga akhir abad ke 16, boleh dikata bahwa Islam telah tersebar dan mulai

mengakar di Nusantara. 1
Penyebaran Islam keseluruh Kepulauan Indonesia terbagi dalam tiga tataolahsejarah berbeda (three

dintinct historical processes), yang mana masing-masing dikaitkan dengan pola perkembangan. Pendirian

negara Islam di Sumatera utara mencerminkan pemunculan pemerintah baru bukan melalui penakhlukan

atau peralihan kerajaan yang ada. Namun di Jawa, penguasa Islam menggantikan kekuasaan politis raja

Hindu. Elit politik baru tidak sepenuhnya merombak ideologi ataupun lambang penampilan luar penguasa

lama; melainkan mereka sangat mempertahankan kesinambungan dengan masa sebelumnya seraya

memperkuat peralihan dan perluasan pemerintahan Hindu terdahulu. Sementara di Indonesia timur

(Kalimantan, Sulawesi dan Maluku), raja-raja dengan mudah beralih ke Islam, tidak ada perubahan berarti

dalam hukum dasar negara (kerajaan).2

B. Pertumbuhan Kota-Kota Islam Awal

Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan kota pertama di Indonesia adalah peningkatan

perdagangan kelautan Asia secara umum pada abad ke-13 dan ke-14. Pada masa itu, perdagangan rempah-

rempah dari nusantara ke beberapa negara Asia seperti India dan China mengalami kemajuan yang pesat

sementara bangsa Eropa mulai menapak kakinya menguasai pusat pemasok utama rempah-rempah saat itu

di Banda. Pusat kerajaan Hindu dan Budha yang sebelumnya menjadi tempat tujuan dan persinggahan dari

pedagang dan biksu China maupun India seperti Sriwijaya/Palembang, Mataram dan Trowulan telah tumbuh

menjadi pemukiman perkotaan. Disamping itu pusat kerajaan Islam yang tumbuh setelah pudarnya

kejayaan kerajaan Hindu Budha menjadi bandar-bandar baru sebagai titik pintu masuk menuju perairan

internasional bersamaan dengan perkembangan kota-kota pelabuhan yang mulai dikuasai oleh Potugis dan

VOC.

Bukti kebahasaan sering dikaitkan dengan kemunculan tradisi pemukiman perkotaan di Asia Tenggara.

Sebutan Bandar sering digunakan untuk kota-kota pelabuhan saat itu, kata ini berasal dari bahasa Persia

yang berarti pelabuhan dagang resmi diterjemahkan secara bebas sebagai town dan city dalam bahasa

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/bab%203.htm (2 of 14)5/8/2007 3:32:55 PM


2

Inggris, cicade (Portugis), stad (Belanda). Sementara, istilah kota dalam babad tanah Jawi padanannya

khita, kuta, kuto dan negeri, istilah yang sering digunakan sebelumnya pada masa Hindu. Sebutan kuto

dalam beberapa sastra Jawa Kuno dan Jawa Peralihan juga dicantumkan seperti dalam Kitab Bomakywya,

Ramayana, Bharatayuddha, dan Pararaton. Sebutan kuto ini memiliki persamaan dengan kata yang lazim

didapatkan dalam bahasa Belanda sebagai burcht, kaasteel, vesting, vesterkte legerplaats. 3 Kemudian
dalam bahasa Hindi, kota semula menggambarkan pemukiman bertembok atau benteng, tetapi kemudian

menjadi pusat masyarakat, dan sekarang mencakup konsep kota Metropolitan. Dari bukti kebahasaan

tersebut diketahui ada dua model kota yang dilihat dari pola modern kehidupan kota yaitu pelabuhan dan

benteng.

Pada saat itu,

tampaknya

ada dua jenis

kota yang

muncul;

pertama, kota

sebagai

pelabuhan

dagang

dengan pintu

masuk

menuju jalur

perairan

internasional,

dan kedua,

kota sebagai pusat administratif dengan daerah pertanian yang makmur. Kota yang terletak di pesisir dan

muara-muara sungai besar disebut sebagai pusat Kerajaan Maritim berfungsi sebagai pelabuhan atau titik

masuk dan keluar pelayaran seperti Sriwijaya/Palembang, Aceh/Pasai, Banten, Batavia, Banjarmasin,

Semarang, Demak, Jepara, Gersik, Tuban, Surabaya, Makassar, Ternate dan Banda. Sedangkan kota jenis

kedua, kota yang berada di pedalaman (hinterland) seperti Pagaruyung, Jambi dan Mataram. Perkembangan

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/bab%203.htm (3 of 14)5/8/2007 3:32:55 PM


2

perdagangan monopoli rempah oleh Persekutuan Dagang Hindia Timur (VOC) juga mempengaruhi

perkembangan kota-kota tersebut di atas pada masa pendudukan Belanda.

Pertumbuhan kota dan permukiman pada kedua kota memiliki karakteristik dan pola sendiri. Kota pesisir di

utara pulau Jawa dalam sejarah sangat berbeda dengan daerah pedalaman. Kota pedalaman dicirikan

dengan kota dengan istana yang memiliki upacara yang rumit dengan arsitektur yang didasarkan pada

penduduk yang bermata pencaharian utama pertanian. Sementara disepanjang pantai utara digambarkan

sebagai masyarakat kosmopolitan dengan sederet bandar perdagangan yang lebih cenderung memandang

ke luar daripada ke dalam. Perkembangan kota-kota pesisir ini mendapat dukungan dari Pemerintah Hindia

Belanda sehingga pada abad ke-17 berkembang pesat dapat dilihat dari perwujudan arsitekturnya.

Kemajuan kota-kota tersebut selain didukung oleh faktor geografi, politik dan ekonomi, juga tidak terlepas

dari faktor magis-religius atau unsur kosmologi. Seperti halnya pada pendirian kota kerajaan di Indonesia

seperti Yogyakarta, Surakarta, Demak, Cirebon, Banten, dan lain-lain biasanya dihubungkan simbol meru

dalam mitologi Hindu. Umumnya kota-kota di Jawa mengikuti poros utara-selatan. Dari beberapa

keterangan, lukisan, map, terhadap beberapa kota tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa morpologi kota-

kota pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam di Nusantara mempunyai ciri antara lain : ada yang

berpagar keliling/benteng (Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Demak, Banten) ada juga yang tidak berpagar

keliling (kota Majapahit, Aceh, Gersik, Tuban, Surabaya), pasar, tempat peribadatan (mesjid),

perkampungan, kelompok bangunan keraton, tempat raja atau penguasa yang biasanya terletak di bagian

selatan. Pembuatan pagar keliling masa itu ber fungsi sebagai benteng pertahanan terhadap gangguan dari

luar kota. Selain itu, dari sudut ekonomi, pagar keliling diperlukan sebagai tempat pemungutan bea-cukai

barang-barang dagangan yang keluar masuk kota. Biasanya perkampungan pendatang atau pedagang baik

dari wilayah Indonesia yang lain, maupun dari Gujarat, Parsi, Arab, dan Cina (perkampungan dan pasar

berada di luar pagar keliling. Pengelompokan perkampungan pendatang ada yang berdasarkan etnis dan

ada juga yang berdasarkan pekerjaannya. Sehingga pada saat itu terdapat sebutan Kampung Melayu,

Kampung Makasar, Bugis, Ternate, Banda, dan Banjar dan lain sebagainya. Demikian pula kampung

pendatang dari luar wilayah Indonesia dikenal dengan nama kampung Gujarat, Arab, Benggala dan Cina. Di

Aceh, kampung pendatang juga dikelompokkan berdasarkan pekerjaannya seperti kampung Pande

( tukang), begitu pula halnya di kota Cirebon, ada yang disebut dengan Panjunan, adalah sebutan untuk

kampung para pembuat periuk belanga (a jun). Elemen lain dalam kota masa Islam awal adalah lebuh

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/bab%203.htm (4 of 14)5/8/2007 3:32:55 PM


2

agung atau alun-alun, lapangan yang terletak di tengah-tengah kota dan berfungsi sebagai tempat

berkumpul atau upacara ritual kerajaan/kota dan kegiatan hiburan.

Perekembangan

pesat pada

kota-kota

pelabuhan

dagang Islam

membentuk

titik perhatian

utama

pembaharuan

arsitektur dan

pembangunan

kota saat itu,

masyarakat

pertanian melanjutkan penyesuaian susunan ruang sejenis mandala pada zaman Hindu-Budha. Sementara

itu, masjid menggantikan candi sebagai titik utama kehidupan keagamaan. Islam datang ke Indonesia tidak

menyebabkan revolusi dalam gaya bangunan, sehingga peralihan dari zaman Hindu-Budha ke era Islam

memberikan suatu warna eklektisme seperti halnya yang terlihat peninggalan yang tersisa pemakaman

Imogiri di Yogyakarta, Masjid Kudus, Istana Keraton Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Deli dan Ternate.

C. Makam dan Pekuburan Orang Islam

Masa Islam Awal ditandai dengan ditemukannya bentuk monumen seperti makam, mesjid, kuburan dan

keraton. Beberapa makam berasas Islam yang ditemukan diperkirakan dibangun pada masa sebelum

masyarakat Indonesia sepenuhnya beralih ke Islam. Batu nisan Islam tertua di Indonesia adalah nisan

seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun bin Habatallah ditemukan di Leran Surabaya sebelah barat,

Jawa Timur. Akan tetapi tidak ada informasi yang detail mengenai wanita tersebut.4 Makam yang lain
ditemukan di Aceh diyakini sebagai makam penguasa pelabuhan Samudra di pantai utara Aceh. Makam yang

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/bab%203.htm (5 of 14)5/8/2007 3:32:55 PM


2

masih terawat hingga saat ini adalah makam Malik Ibrahim yang meninggal tahun 1419 di Gresik, Jawa

Timur. Dari segi perletakan, makam kadang-kadang berada di dekat mesjid, dan seringkali terletak di tanah

lapang di luar desa/kota bersangkutan. Makam tidak pernah ditemukan dalam lingkungan istana setempat.

Tidak ada bentuk dan hiasan makam yang spesifik, salah satu ciri utama bentuk makam yaitu balok batu

persegi panjang yang menyerupai bangunan, terukir dengan ayat-ayat yang diambil dari Al Quran serta

dibubuhi ragam hias yang disebut sayap; sedangkan jenis yang satu lagi lebih umum disebut sebagai bentuk

jada atau club. Jenis ini dipakai oleh orang-orang sepanjang Sumatera, dekat kepulauan Riau, dan

Semenanjung Malaka pada abad ke-15 dan 17. 5 Bentuk dan makam di Jawa dipengaruhi oleh budaya Hindu
yang berkembang pada masa sebelumnya. Beberapa makam para sufi atau ulama sperti di Jawa dikenal

dengan 9 wali menjadi tempat berziarah hingga saat ini.

D. Mesjid sebagai tempat suci

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/bab%203.htm (6 of 14)5/8/2007 3:32:55 PM


2

Berdasarkan uraian tentang kota-kota pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam awal dijelaskan

bahwa mesjid menjadi tempat peribadatan menggantikan fungsi candi pada masa tersebut. Letak mesjid di

kota-kota pusat kerajaan di Jawa disebelah barat alun-alun dan tidak terpisahkan dari komponen inti kota

yaitu keraton. Dahulu, pusat kota kerajaan terdiri dari bangunan keraton/istana, alun-alun, masjid, dan

tempat tinggal para bangsawan. Dari keterangan dan data sejarah disebutkan bahwa pada sebuah kota

pusat kerajaan terdapat beberapa buah mesjid disamping beberapa langgar atau surau atau meunasah.

Biasanya inisitaif dari mendirikan mesjid mula-mula timbul dari sultan atau wali, diperkuat dengan unsur-

unsur tradisional yang memandang raja atau sultan dan wali sebagai orang-orang magis. Menurut babad,

mesjid-mesjid kuno yang didirikan di bawah pimpinan Wali Sanga secara gotong royong adlah mesjid Agung

Demak dan Mesjid Agung Cirebon. Di Sumatera, pendirian mesjid juga di inisiasi oleh Sultan atua Raja,

begitu juga dari segi letak, seringkali dekat dengan istana. Pada awalnya mesjid didirikan sebagai tempat

ibadaah, sejalan dengan perkembangan politik dan pemerintahan, mesjid juga digunakan sebagai pusat

kehidupan masyarakat yang berhubungan urusan keagamaan seperti wakaf, peradilan, hukum Islam, zakat.

D.1. Kronologis perkembangan arsitektur masjid

Mesjid-mesjid kuno di Indonesia menunjukkan kekhasan yang membedakannya arsitektur mesjid-mesjid di

negeri Islam. Mesjid-mesjid kuno pada awal perkembangan Islam yang mengadopsi konsep-konsep

arsitektur Candi (Hindu/Budha), arsitektur lokal serta arsitektur Cina. Kekhasan gaya arsitektur mesjid-

mesjid kuno ini dinyatakan oleh bentuk atap tumpang atau bertingkat 2,3,5, dengan puncaknya dihiasi

mustaka atau memolo, denahnya persegiempat atau bujursangkar dengan serambi di depan atau di

samping; fondasinya pejal dan tinggi, pada bagian depan atau samping terdapat parit berair (kulah) serta

gerbang. Umumnya mesjid tua di Jawa berciri seperangkat empat tiang yang dikenal dengan saka guru

seperti :

Masjid Menara Kudus, di Kudus,Jawa Tengah

Masjid Sendang Dawur di Lamongan, Cirebon

Masjid Mantingan di Jepara, Jawa Tengah

Masjid Lima Kaum, Tanah Datar di Sumatera Barat

Surau Syeh Burhanuddin, di Ulakan, Padang Pariaman, Sumatera Barat.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/bab%203.htm (7 of 14)5/8/2007 3:32:55 PM


2

Masjid Sultan Abdul Rahman, Kalimantan

Masjid Agung Anke di Jakarta

Masjid Sumenep di Madura

Mesjid Angke dan Marunda di Jakarta

Mesjid Agung Demak

Mesjid Agung Banten

Mesjid Baiturrahman pada masa Sultan Iskandar Muda

Mesjid di Ternate tahun abad ke 19 (sebelum perubahan)

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/bab%203.htm (8 of 14)5/8/2007 3:32:55 PM


2

Kemudian, sekitar awal abad ke-19, arsitektur mesjid-mesjid yang mendapat pengaruh arsitektur India,

Timur Tengah dan Kolonial Belanda. Beberapa mesjid yang mendapat pengaruh gaya ini adalah :

Masjid Raya Baiturahman di Aceh

Masjid Raya Al Osmani di Labuhan, Deli

Masjid Azizi Tanjung Pura, Langkat

Masjid Raya Al Maksum di Deli, Medan

Masjid Agung di Palembang

Masjid Al Azhar di Jakarta

Masjid Agung Yogyakarta

Masjid Syuhada Yogyakarta

Masjid Agung di Banyuwangi

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/bab%203.htm (9 of 14)5/8/2007 3:32:55 PM


2

Perkembangan

mesjid sangat

pesat setelah

kemerdekaan

Negara Indonesia.

Pada masa ini

arsitektur mesjid

dipengaruhi oleh

gaya modern yang

berkembang pada

masa itu. Mesjid-

mesjid pasca

kemerdekaan

Indonesia awal yang menonjol yaitu Masjid Agung Istiqlal Jakarta dirancang oleh arsitek F.Silaban, kemudian

masjid Salman di Bandung, dan masjid Agung di Jember

D2. Tatanan, Bagian dan Konsep Arsitektural Mesjid

Arsitektur mesjid di Indonesia beragam, tidak ada suatu rancangan atau pola tertentu yang mengikat.

Namun, pada umumnya arsitektur mesjid Indonesia mempunyai konsep dan elemen sebagai berikut:

Ruang Utama, ruang utama tempat sholat, terdapat didalamnya mihrab dan mimbar

Mihrab, ruang tempat berdiri imam ( pemimpin sholat berjamaah ) yang berbentuk ceruk atau

relung di dinding sisi Kiblat

Mimbar, kursi atau singgahsana atau tahta tempat para pemimpin memberikan atau

menyampaikan masalah-masalah kepada umat atau rakyat.

Maksurah, bilik berbentuk kotak, berdindingkan pagar atau terali sehingga tembus pandang yang

diperuntukan khusus untuk pemimpin pada waktu sholat

Halaman Terbuka, bagian dari masjid yang berupa lapangan terbuku biasanya dibangun tamana

dan sebuah kolam atau pancuran air sebagai tempat bersuci

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/bab%203.htm (10 of 14)5/8/2007 3:32:55 PM


2

Serambi, selasar atau koridor yang mengelilingi ruang utama, biasanya tidak berdinding penuh

atau hanya dibatasi tiang saja.

Menara (minaret), bangunan tinggi tempat muazin mengumandangkan azan.

Tempat bersuci, tempat mengambil wudhu sebelum masuk ke dalam Masjid berupa kolam,

pancuran dan kamar mandi

Dibagian belakang dan samping mesjid kuno di Indonesia biasanya terdapat pula makam raja-raja atau

sultan-sultan, anggota keluarga raja dan orang-orang yang dianggap keramat, H.A.R Gibb dan Kramer6
menjelaskan mengutip dari Masjid makam ini digolongkan sebagai masyhad, contohnya mesjid Demak,

mesjid Kadilangu, mesjid Ampel, mesjeid Kuto Gede, Mesjid banten dan sebagainya.

E. Istana Kerajaan Islam

Keraton atau istana selama masa Islam tumbuh subur di Indonesia meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan,

Sumbawa, Sulawesi dan Maluku. Setiap raja, besar atau kecil, membangun gugus bangunan lambang

kejayaan dan kekuasaan. Umumnya keraton atau istana berada di dalam pagar keliling dan di pusat kota

kerajaan. Sehingga terdapat perbedaan di antara dunia dalam dan dunia luar yang diwakili oleh istana

(di Jawa terkadng dikenal dengan Dalem) serta lingkungan alam sekitar di luar istana. Pagar keliling tersebut

juga membedakan antara ruang yang sakral dan profan. Lingkungan di dalam istana dikenal sebagai ruang

yang bersifat sakral, beradab dan halus, dan lingkungan di luar istana sebagai sesuatu yang liar, kasar dan

profan. Tata letak istana/keraton diibaratkan berporos pada gunung yang suci atau berada dalam satu garis

imajiner dengan gunung dan laut, seperti halnya yang terjadi di Jawa, Sumatera, Sumbawa, dan ternate,

dibelakang keraton/istana terdapat gunung yang dianggap suci. Didalam satu kompleks istana terdapat

beberapa bangunan yang mana orientasi atau penempatannya mengekspresikan perumpamaan tingkatan

atau hierarki dalam masyarakat tersebut. Hal ini terlihat dalam kompleks keraton Yogyakarta.

Di Sumatera, terdapat beberapa istana Kerajaan Islam yang berkuasa pada masa lampau. Sekarang ini

masih terdapat beberapa peninggalan bangunannya meskipun kekuasaan raja telah hilang karena

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/bab%203.htm (11 of 14)5/8/2007 3:32:55 PM


2

perubahan sistem pemerintahan di negara Indonesia, dengan perkecualian Kesultanan Yogyakarta.

Seperti halnya dengan mesjid, hampir tidak ada suatu pola khusus dalam rancangan istana. Unsur

arsitektur lokal dan kolonial mendominasi konsep arsitektural istana pada abad ke-19 dan ke-20, seperti

yang terlihat bangunan istana di Sumatera dan Ternate.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/bab%203.htm (12 of 14)5/8/2007 3:32:55 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/bab%203.htm (13 of 14)5/8/2007 3:32:55 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/bab%203.htm (14 of 14)5/8/2007 3:32:55 PM


2

4A .

rsitektur VERNAKULAR INDONESIA

A. Sejarah Perkembangan Arsitektur Vernakular Indonesia

A.1. Hubungan Austronesia dan Indonesia

Berdasarkan linguistik, kebanyakan orang Indonesia berbahasa Austronesia, suku bangsa ini memiliki

kekayaan 700 - 800 bahasa tersebar pada banyak pulau di Asia Tenggara, termasuk pula Vietnam Selatan,

Taiwan, Mikronesia, Polinesia dan Madagaskar. Selain kekayaan bahasa, juga memiliki kekayaan dari

budaya materi seperti arsitektur. Budaya Austronesia diperkirakan berasal dari masyarakat yang hidup

disepanjang sungai di Cina Selatan dan Vietnam utara sekitar pertengahan abad ke-4 SM. Persebaran

orang-orang ini dari tanah leluhur berlangsung sekitar 6.000 tahun yang lalu, dan memuncak sekitar 500 M

dengan menyebarkan penggunan bahasa Austronesia ke sekeliling dunia.1


Pengaruh

budaya

Austronesia

terlihat

dalam

budaya

materi,

organisasi

sosial,

kepercayaan,

mitos, dan

bahasa.

Pengaruh

yang tampak dalam budaya materi adalah pengetahuan bercocok tanam padi, irigasi, beternak kerbau dan

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (1 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

kambing, penggunaan logam yang sederhana, dan pelayaran. Termasuk pula budaya berburu, mendirikan

megalit, upacara ritual kematian, berlayar, menenun, membuat gerabah juga peralatan kampak batu untuk

bertukang dan sebagai peralatan memotong. Kearifan nenek moyang, mitos, animisme, penguburan mayat

dalam peti, tempat pemujaan yang terletak di tempat yang tinggi merupakan pengaruh dalam

kepercayaan. Tradisi monumen-monumen dari batu besar masih subur di beberapa tempat di Indonesia;

yang paling menonjol di pulau Nias (pantai barat Sumatra) dan Sumba di kepulauan Nusa Tenggara.

Banyak kosa kata dalam bahasa Austronesia saat ini mempunyai asal yang sama, misalnya kata rumah, di

Jawa disebut omah, toraja banua, di Roti (Nusa tenggara) uma, minangkabau rumah. Begitu pula

halnya pengaruh dalam konsep dan bentuk rumah Austronesia di Indonesia, bagi orang Austronesia rumah

bukan sekedar tempat tinggal, melainkan merupakan bangunan teratur berlambang yang menunjukkan

sejumlah ide penting perwujudan keramat para leluhur, perwujudan fisik jatidiri kelompok, dunia kecil di

jagad raya, dan ungkapan tingkat dan kedudukan sosial. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Rapoport,

bahwa rumah pada masyarakat tradisional mengekspresikan hierarki status masyarakat dan budaya lokal.1
Ciri dan karakteristik mendasar dari rumah austronesia yaitu terdiri atas bangunan persegi empat, berdiri di

atas tiang-tiang, beratap ilalang. Pintu masuk berupa tangga yang ditakik dan ada perapian dengan rak di

atasnya untuk kayu bakar dan penyimpanan. Bentuk dasar ini mengalami pembaharuan di daerah

Austronesia dan ditemukan di rumah Batak, rumah gadang di Minangkabau, rumah Tongkonan di

Toraja, dan rumah panjang di dayak, Kalimantan.

Pengaturan perlambang rumah di dalam rumah yang merupakan ciri lain dari rumah austronesia sering

menggunakan pasangan koordinasi ruang yang berlawanan dalam dan luar, depan dan belakang,

kiri dan kanan , timur dan barat dipetakan dalam kelompok sosial yang dikaitkan dengan hubungan

erat antar jenis kelamin, sanak dan saudara, generasi muda dan tua, bahkan antara yang masih hidup dan

yang sudah meninggal, untuk membentuk opografi perlambang yang mengatur dan mewakili hubungan

sosial ini.2
Perlambangan dalam rumah austronesia nampak pada struktur dan bentuk atap menggambarkan berbagai

macam bentuk dan simbol dari benda seperti kipas, perahu, dan tanduk kerbau yang mencerminkan

kekuasaan dan nilai kesakralan. Simbol tersebut umumnya juga terdapat pada dinding penutup atap

(gable-end). Status sosial atau hierarki dari rumah sering digambarkan dalam dekorasi yang ada di dinding

penutup atap.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (2 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (3 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

A.2. Pengertian Arsitektur Vernakular

Kata Vernakular berasal dari vernaculus (latin) berarti asli (native). Maka vernakular arsiektur dapat

diartikan sebagai arsitektur asli yang dibangun oleh masyarakat setempat. Paul Oliver dalam bukunya

Ensikolopedia Arsitektur Vernakular menjabarkan bahwa arsitektur vernakular konteks dengan lingkungan

sumber daya setempat yang dibangun oleh suatu masyarakat dengan menggunakan teknologi sederhana

untuk memenuhi kebutuhan karakteristik yang mengakomodasi nilai ekonomi dan tantanan budaya

masyarakat dari masyarakat tersebut. Arsitektur vernakular ini terdiri dari rumah dan bangunan lain seperti

lumbung, balai adat dan lain sebagainya.

Beberapa rangkuman pengertian vernakular arsitektur :

" Vernacular architecture owes its spectacular longevity to a constant redistribution of hard-won knowledge,

channeled into quasi-instinctive reactions to the outer world. 3


" Vernacular architecture is the manual-artisan culture of building, based on tectonic logic..."

"Building is a craft culture which consists in the repetition of a limited number of types and in their

adaptation to local climate, materials and custom. 4


" Vernacular buildings are built by ordinary people who possess principles, or patterns, that have

traditionally been handed over from generation to generation. A living pattern language is essential to true

vernacular construction by those not trained in architecture.4

Dalam hal ini, pengertian vernakular arsitektur sering juga disamakan dengan arsitektur tradisional. Josep

Prijotomo berpendapat bahwa secara konotatif kata tradisi dapat diartikan sebagai pewarisan atau

penerusan norma-norma adat istiadat atau pewarisan budaya yang turun temurun dari generasi ke

generasi. Kemudian, Ismunandar menjelaskan bahwa arsitektur traditional, yang diturunkan dari generasi

ke generasi. Arsitektur dan bangunan tradisional merupakan hasil seni budaya tradisional, yang merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia budaya tradisional, yang mampu memberikan ikatan lahir

bathin. Di dunia global, kata tradisional sering digunakan untuk membedakan dengan modern. Di

Indonesia, sebutan yang berasal dari kata Belanda traditionell Architectuur, pada waktu itu istilah ini

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (4 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

diberikan untuk karya-karya arsitektur asli daerah di Indonesia, salah satu alasannya adalah untuk

membedakan jenis arsitektur yang timbul dan berkembang dan merupakan karakteristik suku-suku bangsa

di Indonesia dari jenis arsitektur yang tumbuh dan berkembang atas dasar pemikiran dan perkembangan

5
arsitektur di Eropa, khususnya arsitektur kolonial Belanda. Kata tradisional berasal dari kata tradisi yang
di Indonesia sama artinya dengan adat (custom), kata adat ini di adopsi dari bahasa Arab. Sehingga

seringkali bangunan tradisional disebut dengan rumah adat. Pada prinsipnya, baik di dunia global dan

Indonesia, kata tradisional diartikan sebagai sesuatu yang dilakukan secara turun temurun dari generasi ke

generasi.

Selain itu, istilah-istilah lain sering bersentuhan arti dan maknanya dengan vernakular arsitektur yaitu

arsitektur rakyat (Folk Architecture), arsitektur lokal atau kontekstual (indigenous architecture) bahkan ada

juga yang kemiripan dengan arsitektur alamiah (spontanous architecture). Secara garis arsitektur rakyat

diartikan sebagai arsitektur yang menyimbolkan budaya suatu suku bangsa dengan beberapa atribut yang

melekat dengannya. Sementara itu, arsitektur lokal atau kontekstual, adalah arstektur yang beradaptasi

dengan kondisi budaya, geografi, iklim dan lingkungan dan arsitektur alamiah adalah arsitektur yang

dibangun oleh satu masyarakat berdasarkan proses alamiah seperti kebutuhan dasar manusia.

Terdapat beberapa perdebatan tentang sebutan yang tepat bagi arsitektur Indonesia ini, akan tetapi karena

kemiripan makna dan arti satu dengan yang lainnya yang semuanya terangkum dalam pengertian arsitektur

vernakular seperti yang di jelaskan oleh Paul Oliver dalam bukunya Ensiklopedia Vernacular Architecture,

maka penggunaan istilah vernakular menjadi pilihan dalam buku ajar ini.

B. Tipe Arsitektur Vernakular Indonesia: Keberagaman dan


Kesamaannya

Indonesia adalah negara kaya dengan ratusan etnis yang mana setiap etnis memiliki kekhususan budaya

tersendiri, sehingga terdapat pula ratusan tipe rumah vernakular di Indonesia. Dari semua tipe tersebut,

terdapat beberapa tipe yang memiliki keunikan dan karakteristik yang sangat kuat seperti yang terlihat

pada gambar berikut ini.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (5 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (6 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

Gambar 4.4. Macam ragam arsitektur vernakular Indonesia

Dari keberagaman arsitektur vernakular Indonesia, jika ditelusuri terdapat kesamaan dari keberagaman

tersebut yang berasal dari akar yang sama yaitu budaya Austronesia. Bahkan kesamaan dari keberagaman

itu juga nampak dari pada arsitektur non-austronesia seperti Papua. Kesamaan ciri-ciri arsitektur vernakular

Nusantara yang juga merupakan ciri dari arsitektur austronesia :

Tipe rumah panggung

Sebagian besar rumah vernakular Indonesia kecuali rumah Jawa, Bali, Lombok dan Papua,

menggunakan struktur rangka tiang kayu atau tipe rumah panggung sebagai upaya adaptasi dengan

iklim dan geografi, menggunakan sistem sambungan tarik dan tekan (sistem pen) tanpa menggunakan

paku dan sistem cros-log foundation (balok kayu yang saling tumpang tindih secara horizontal).

Tiang bangunan mempunyai alas batu. Tiang tidak ditanam didalam tanah, melainkan beralas batu

sehingga lebih fleksibel ketika ada guncangan atau gempa.

Lantai bangunan didukung oleh tiang dan balok kayu yang saling mengikat satu sama lain,

biasanya tanpa menggunakan paku.

Pemanjangan bubungan atap sering dangan sopi-sopi mencondong keluar. Seringklai pemanjangan

dibuat lekukan sehingga menimbulkan daya tarik estetis. Dominasi atap tampak pada keseluruhan

bangunan. Proporsi atap lebih besar dari pada badan dan kaki (bagian bawah) bangunan. Selain itu itu

atap pelana (saddle roof) lebih umum digunakan.

Memiliki ornamen pada dinding penutup atap (gable end) yang menyimbolkan status sosial,

kekuasaan dan karakteristik budaya.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (7 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

B.1. Pola Perkampungan

Tipikal perkampungan di Indonesia pada dasarnya menggambarkan respon terhadap kondisi alam, tatanan

sosial, sistem bercocok tanam, dan kosmologi masyarakat yang mendiaminya. Konsep ruang dalam tatanan

rumah dan kampung merupakan bagian penting dari tradisi vernakular. Di Indonesia, terdapat dua tipe

tatanan permukiman dan rumah dari kampung-kampung tradisional yaitu linear dan konsentris. Di masa

mendatang tatanan ini mengalami evolusi dalam perkembangannya seperti bentuk radial pada kampung di

Sumba Barat dan Ruteng di Flores, begitu pula bentuk huruf T pada kampung di Nias Selatan

(Bawomataluo) dan bentuk silang (cross type) pada kampung di Bali.

Kampung-kampung dengan tantanan linear biasanya terdapat di pesisir-pesisir pantai Indonesia, namun

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (8 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

juga terdapat di pedalaman Sumatra, Nias, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan beberapa wilayah di Jawa.

Bangunan pada kampung bersifat linear letaknya berbaris dan berhadapan satu sama lainnya, diantara

barisan bangunan tersebut terdapat ruang bersama yang digunakan untuk berbagai macam kegiatan seperi

berkumpul, pemujaan atau ritual keagamaan, acara kesenian dan lain sebagainya. Pada ruang terbuka ini

pula sering ditempatkan batu megalith, tugu dan tiang sakral keagamaan seperti halnya yang nampak pada

kampung-kampung di Nias dan Sumba. Bangunan pemimpin (chief house) atau raja ditempatkan dekat

dekat batu atau tugu tersebut atau di ujung pelataran yang membelah barisan rumah dan menjadi akhir

dari deretan rumah dan kampung, tetapi ada juga yang ditempatkan di tengah-tengah barisan seperti

halnya pada permukiman di Batak Toba.

Ditinjau dari fungsinya, bangunan vernakular Indonesia umumnya terdiri dari tiga bagian ; rumah tinggal,

bale adat atau ruang pengadilan atau ruang musyawarah, dan lumbung. Letak ketiga bangunan tersebut

bisa saling berhadapan seperti halnya yang terjadi di perkampungan Batak Toba dan Bali Aga.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (9 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

Perkampungan dengan pola konsentris terdapat di Flores dan Sumba dan Jawa Tengah. Tantanan

perkampungan seperti ini memiliki bagian tengah yang dianggap sakral dan penting, misalnya ruang

terbuka (tempat berkumpul), batu megalith, tugu atau kuburan para nenek moyang. Orientasi dari barisan

rumah menghadap ke titik tersebut yang terdiri dari beberapa layer berdasarkan hierarki atau kedudukan

dari status sosial masyarakat. Secara evolusi beberapa kampung memiliki pola gabungan dari linear dan

kosentris yang sering disebut dengan compound type.

Pola perkampungan dan perletakan rumah pimpinan menandakan sistem sosial dan kekuatan masyarakat

yang mendiaminya. Kampung dengan pola kosentris menyimbolkan penerapan sistem pemerintahan pada

kekuatan tunggal yang memusat. Terdapat strata sosial agak kompleks dengan kekuatan terpusat pada

satu orang, grup atau kelompok. Semetara, kampung dengan pola linear menggambarkan demokrasi dari

distribusi kekuasaan dengan strata sosial lebih sederhana.

Selain kedua tatanan tersebut, ada juga yang disebut dengan pola menyebar (scattered type) atau disperse

settlement pattern. Pola perkampungan ini seringkali menggambarkan persamaan struktur sosial (less

stratified social struktur) dan kelompok masyarakat yang lebih kecil, bahkan seringkali mencerminkan

kehidupan yang berpindah-pindah sebagai akibat dari pergantian sistem bercocok tanam.

B.2. Rumah dan Tatanan Ruang

Konsep tatanan ruang dalam rumah umumnya sama dengan konsep tantanan ruang dalam satu

perkampungan. Pembagian ruang dapat dikategorikan secara vertikal dan horizontal, seperti yang telah

dibahas sebelumnya bahwa pembagian ruang ini sebagai respon terhadap sistem sosial kekerabatan,

kosmologi dan kondisi alam sekitar.

Secara horizontal, terdapat bagian dari rumah yang dianggap paling sakral atau suci adalah bagian yang

paling dalam atau belakang, sehingga menjadi tempat pemujaan atau penyimpanan benda-benda keramat

atau warisan leluhur. Di dalam rumah Jawa, ruang yang paling suci berada pada bagian inti rumah yang

disebut dengan dalem tepatnya di senthong. Di rumah Batak Toba, bagian yang paling inti atau penting

yaitu terletak pada sisi sebelah kanan belakang dari interior rumah yang diebut dengan jabu bona,.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (10 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

Secara vertikal, pembagiann ruang terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah, dengan bagian atas sebagai

ruang yang paling sakral sehingga barang-barang yang dianggap keramat disimpan di dalam ruang atas ini.

Ruang tengah, adalah untuk kehidupan manusia dan ruang bawah adalah untuk binatang ternak atau

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (11 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

gudang. Pembagian atas tiga bagian ini (tripatite) dipengaruhi oleh kondisi alam dan kosmologi dari

masyarakatnya. Umumnya masyarakat primitif memiliki kepercayaan terhadap pembagian dunia atau alam

ke dalam tiga bagian yaitu dunia atas sebagai tempat para dewa, dunia tengah bagi kehidupan manusia,

dan dunia bawah bagi roh-roh jahat.

Dari segi bentuk dan morphologi ruang, umumnya rumah vernakular di Indonesia terdiri dari persegi

panjang dan bujur sangkar seperti halnya rumah Aceh, Melayu, Batak, Nias Selatan, Mentawai, Jawa,

Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Sumba. Namun ada juga yang menggunakan bentuk lingkaran dan ellips

seperti rumah di Nias Utara, Lombok dan Papua. Bentuk dan organisasi ruang bergantung kepada

kebiasaan dan adat istiadat setempat. Beberapa rumah vernakular Indonesia merupakan tipe rumah

komunal artinya terdapat beberapa keluarga yang memiliki kekerabatan dengan beberapa generasi yang

berbeda, tinggal dalam satu rumah besar seperti rumah Batak Toba, Karo, Mingkabau, Mentawai,

Kalimantan, Lio (Flores), Sumba. Keluarga tersebut menempati masing-masing ruang dengan masing-

masing letak yang telah disepakati, ada yang hanya dibatasi oleh dinding ada pula yang dibatasi oleh

perbedaan tinggi lantai, alas (tikar) saja. Ruang-ruang tersebut dihubungkan oleh ruang bersama.

Umumnya dalam satu rumah terdapat pemimpin sebagai kepala suku mendiami salah satu ruang yang

dianggap paling utama.

B.3. Teknologi Bangunan : Bahan Bangunan dan Teknik Konstruksi

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (12 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

Salah satu ciri arsitektur vernakular adalah menggunakan bahan yang alami dan teknik konstruksi yang

sederhana dengan cara menyusun tiang dan balok. Penyatuan semua bagian bangunan dilakukan dengan

cara membentuk dan menyambung bagian kayu dengan beberapa alat khusus sederhana seperti kampak,

gergaji, pahat, golok (parang). Untuk kemudahan pemasangan, seringkali tiang dan balok disambung di

tanah sebelum diletakkan di atas batu pondasi.

Penyusunan tiang dan balok pada prinsipnya tidak menggunakan paku, tapi menggunakan sambungan

lubang dengan pasak, sambungan pangku dan sambungan takik. Susunan tiang-tiang tersebut bersandar

di atas batu pondasi dengan stabilitas didapat dari rel-rel melintang yang masuk ke lubang yang dibuat di

dalam tiang.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (13 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

Perkuatan sistem konstruksi rumah untuk mengantisipasi kondisi alam yang arawan gempa terlihat pada

rumah Nias, dengan menambahkan penopang atau batang silang menbentuk huruf X dan V.

Pada bangunan lumbung di Indonesia memiliki kekhususan dari teknik konstruksi yaitu pemasangan

piringan kayu besar disusun di atas puncak tiang dasar untuk mencegah hewan pengerat mencapai tempat

penyimpanan padi.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (14 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

B.4. Upacara Pendirian Bangunan

Bagi orang Indonesia rumah lebih dari sekedar tempat tinggal, tempat berteduh dari panas dan hujan

melainkan merupakan bangunan yang ditata secara perlambang yang konteks dengan sosial budaya

masyarakat yang tinggal didalamnya. Dengan kata lain, rumah menjadi perlambang status kedudukan

seseorang dalam masyarakat, sehingga diperlukan tata cara dalam pendirian rumah. Dalam hal ini,

mendirikan rumah dapat dilihat sebagai penerapan hidup dalam lingkungan sosial yang diwakilinya.

Upacara dilakukan mulai dari pembersihan lahan rumah, penentuan titik pembangunan rumah, pendirian

tiang utama/seri/tengah, pemasangan bubungan atau atap rumah, sampai upacara masuk/penghunian

rumah. Hal ini dilakukan secara bertahap dan melibatkan pemilik rumah dan pemuka kampung atau ahli

tukang (chief carpenter) atau orang yang dianggap keramat atau sakti. Misalnya, proses pembersihan dan

pendirian tanda rumah dilakukan pemilik rumah dalam hal ini ibu/perempuan pemilik rumah dengan orang

sakti yang dipanggil bomoh yang tahapannya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (15 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

Upacara pembersihan dan meminta izin kepada roh di dunia dan dewa-dewa yang memiliki tanah dilakukan

oleh hampir semua etnis atau masyarakat tradisional Indonesia. Ritual ini bertujuan untuk memberikan

spirit atau jiwa bagi kehidupan yang berlangsung didalam rumah/bangunan yang didirikan. Spirit atau jiwa

dari rumah yang didirikan sering disimbolkan dalam benda keramat yang diletakkan di dalam rumah,

seringkali di letakkan pada bagian tengah atau atas (atap) rumah. Misalnya raga-raga6 yang digantung
dibawah atap rumah Batak Toba. Selain menjadi jiwa atau nyawa dari rumah, berfungsi juga mengusir roh-

roh atau gangguan dari luar terhadap keselamatan penghuni rumah.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (16 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

Selain itu, rumah juga dianggap sebagai perwujudan jagad kecil dari jagat raya. Rumah adalah tempat

kelahiran, perkawinan dan kematian. Seringkali upacara yang berhubungan dengan ketiga hal tersebut

dikaitkan dengan arah mata angin dan pergerakan matahari. Sehingga unsur kejagadan ini menciptakan

tatanan upacara yang mengatur kegiatan di dalam rumah. Sebagai contoh timur dianggap serupa dengan

hal-hal memberi kehidupan dan barat identik dengan kematian; maka wanita melahirkan ditempatkan di

bagian timur rumah dan orang meninggal ditempatkan dibaringkan di bagian barat. Dalam sisi tegak,

pembagian ruang dalam rumah sebagai jagad kecil merefleksikan pembagian ruang dalam alam semesta.

Sebagian besar masyarakat tradisional Indonesia membagi alam kedalam tiga bagian; dunia atas, dunia

tengah dan dunia bawah. Kosmologi ini juga mempengaruhi pembagian ruang dalam rumah ; ruang

dibawah atap disamakan dengan alam dewa dan leluhur, lantai mewakili dunia biasa pengalaman sehari-

hari dan ruang kosong dibawah rumah dihubungkan dengan alam baka yang dihuni oleh roh jahat, jiwa

orang mati dan hal-hal gaib lainnya. Pembagian ini sangat jelas terlihat pada rumah-rumah di Sumatra

khususnya Batak Toba7, rumah di Kalimantan, Tongkonan di Toraja, Sulawesi dan beberapa rumah Sumba
di Nusa Tenggara.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (17 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

Dalam

masyarakat

tradisional,

selain

pembagian

rumah yang

dikaitkan

dengan simbol

sebagai jagad

kecil, arah

kejagadan

rumah sesuai

dengan

penataan

ruang

perlambang

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (18 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

lain, seperti pembagian dengan konsep berdasar gender serta gagasan mengatur perilaku pria dan wanita.

Seringkali wanita dikaitkan dengan bagian dalam atau belakang rumah, dan pria serupa dengan bagian

depan atau luar rumah. Pengaturan ruangan keluarga di dalam rumah suku Minangkabau di Sumatera

Barat sangat dipengaruhi oleh konsep gender tersebut.

C. Arsitektur Vernakular Indonesia

C.1. Sumatra

C.2. Jawa

C.3. Kalimantan

C.4. Bali dan Nusat Tenggara

C.5. Sulawesi

C.6. Papua

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (19 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%204.htm (20 of 20)5/8/2007 3:32:57 PM


2

.
5 Arsitektur kolonial indonesia

A. Sejarah Kolonialisasi di Indonesia

Kolonialisasi wilayah Indonesia didahului oleh kemunduran dari pengaruh Majapahit yang berhasil

mempersatukan Nusantara. Diawali dengan perdagangan bilateral yang dilakukan oleh Persekutuan Dagang

Hindia Timur atau lebih dikenal dengan sebutan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) kemudian

ekspansi ke penguasaan perdagangan dan wilayah. Sebelumnya ekspansi Portugis yang dipimpin oleh

Alfonso De Albuquerque masuk melalui pendudukan yang dimulai di Malaka pada tahun 1511, setelah

Malaka ditaklukan oleh Portugis, sasaran berikutnya adalah kepulauan Maluku yang berpusat di Pulau

Banda dan Ternate dengan maksud menguasai perdagangan rempah yang sangat menguntungkan di Asia.

Dimulai dengan perhubungan dagang dengan masyarakat setempat, Portugis dan Perusahaan Belanda

yang dikenal dengan VOC lalu kemudian meluas pada hubungan kerjasama dengan raja-raja karena pada

masa itu umumnya pemerintahan di Indonesia berbentuk Kerajaan. Sehingga pada akhirnya banyak raja-

raja yang takhluk dan tunduk dengan pemerintahan kolonial yang disebut dengan Pemerintah Hindia

Belanda.

Untuk mengukuhkan penguasaan perdagangan rempah di Nusantara, VOC mendirikan pos-pos dagang

yang terdiri dari gudang, penginapan bagi pedagang utama (opperkoopsman) dan pegawainya di berbagai

kota di wilayah Nusantara seperti Maluku, Banda, Batavia, dan Makassar. Namun hubungan yang

bergejolak dengan penduduk asli dan saingan Eropa, memerlukan pertahanan dan tingkat kelengkapan bagi

pos dagang tersebut, sehingga akhirnya VOC mendirikan benteng-benteng pertahanan di beberapa kota

dagang tersebut, benteng tertua di pulau Banda didirikan tahun 1550. Kemudian setelah itu didirikan

juga beberapa benteng-benteng lain seperti benteng di Ternate tahun 1576, benteng Victoria di Ambon

pada tahun 1580, benteng di Banten tahun 1603, benteng di Batavia pada tahun 1619, dan benteng (Fort)

Rotterdam di Makasar.1
Setelah VOC memindahkan pusat perdagangannya di Batavia (pulau Jawa) maka batu pertama dimulainya

Arsitektur Kolonial menjadi kenyataan dengan didirikannya Fort Batavia yang kemudian berkembang pula

kota Batavia sebagai merupakan cikal kota Jakarta sekarang ini.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (1 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

B. Pembentukan Kota-kota kolonial di Indonesia

Setelah dilanda perang politik yang timbul dari perang Napoleon, administrasi VOC Hindia Belanda diganti

oleh pemerintahan jajahan yang dipertanggungjawabkan ke Belanda tahun 1800. Pemerintahan jajahan

baru ini meluaskan kekuasaannya ke kota dan pedalaman Nusantara.

Kota-kota di Nusantara pada masa prakolonial dapat dikelompokkan menjadi dua tipe kota, yaitu :

1. Kota-kota perdagangan di daerah pesisir yang bersifat heterogen dan profan

2. Pusat-pusat kerajaan yang bersifat homogen dan sakral yang berada di tengah-tengah daerah

pedalaman yang agraris.

Menurut Santoso (1984, Bab IV)2, konsepsi yang menghubungkan elemen-elemen pembentuk ruang pada
kota tradisional Jawa, antara satu dengan yang lain digunakan 2 prinsip yaitu :

Mikrokosmos-dualitis maksudnya setiap kota di Jawa dibagi atas dua bagian yaitu bagian profan

disebelah utara dan bagian sakral disebelah selatan. Perwujudan konsep ini tampak dari penempatan

benda secara simetris yang dimaksudkan sebagai lambang harmonis kehidupan, seperti penataan

keraton dan elemen-elemen di sekelilingnya diupayakan simetris.

Mikrokosmos-hierarkis maksudnya sebagai pengadaan ruang suci dengan tembok sebagai batas

antara ruang dalam dan luar. Tembok pembatas ini bukan sekedar batas yang berfungsi sebagai

penunjang keamanan atau batas teritorial, tetapi lebih merupakan struktur hubungan antara elemen-

elemen pembentuk ruang.

Awalnya kota Kolonial Belanda berada di daerah pesisir yang dulunya merupakan kota-kota perdagangan

yang telah terjadi sejak masa Hindu dan Islam seperti kota Ambon, Batavia (Jakarta), Banten, Cirebon,

Palembang, Surabaya, Semarang, Ujung Pandang. Kemudian beberapa kota baru terbentuk selama masa

kolonial Belanda seperti kota Bandung, Medan, Balikpapan, Malang dan lain sebagainya.

Kemudian Pemerintahan Hindia Belanda juga mengadopsi konsep kota-kota asli dengan ciri budaya

Indonesia asli seperti kota Yogyakarta, Banten, Cirebon, Surakarta dan Banda Aceh. Pada kota-kota

tersebut Pemerintah kolonial hanya menambah beberapa elemen atau fasilitas yang menunjang kekuasaan

pemerintahan kolonial. Lodji, atau kantor residen biasanya terletak di sisi timur alun-alun, berhadapan

dengan mesjid. Kemudian bangunan lain yang dibangun pemerintah Hindia Belanda yaitu penjara kota juga

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (2 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

mengelilingi alun-alun. Pada masa itu Pemerintah kolonial membangun berbagai macam fasilitas kota

bangunan pusat pemerintahan, perkantoran (kantor pos, bank, pengadilan) stasiun, taman, rumah sakit,

gereja dan lain sebagainya di pusat kota-kota tersebut. Perpaduan khas antara unsur Belanda dan

Indonesia merupakan ciri kha kota abad ke-19 teruatama di Jawa.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (3 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (4 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

C. Arsitektur Kolonial Indonesia

C.1. Perkembangan Arsitektur Kolonial Indonesia

Perkembangan Arsitektur kolonial Belanda di Indonesia dibagi atas 4 periode ( Helen Jessup:2, kutipan dari

Ir. Handinoto dalam bukunya Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya) :

1. Abad 16 sampai tahun 1800-an

Waktu itu Indonesia masih disebut sebagai Nederland Indische (Hindia Belanda) di bawah kekuasaan

perusahaan dagang Belanda, VOC. Arsitektur Kolonial Belanda selama periode ini cenderung kehilangan

orientasinya pada bangunan tradisional di Belanda. Bangunan perkotaan orang Belanda pada periode ini

masih bergaya Belanda dimana bentuknya cenderung panjang dan sempit, atap curam dan dinding

depan bertingkat bergaya Belanda di ujung teras.3 Bangunan ini tidak mempunyai suatu orientasi
bentuk yang jelas, atau tidak beradaptasi dengan iklim dan lingkungan setempat. Kediaman Reine de

Klerk (sebelumnya Gubernur Jenderal Belanda) di Batavia.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (5 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

2. Tahun 1800-an (awal abad ke 19) sampai dengan tahun 1902

Pemerintah Belanda mengambil alih Hindia Belanda dari VOC. Setelah pemerintahan tahun 1811-1815

wilayah Hindia Belanda sepenuhnya dikuasai oleh Belanda.

Pada tahun 1865 oleh karena jarak yang jauh dan komunikasi yang sulit dengan Pemerintah Belanda

sehingga perkembangan kemajuan arsitektur modern di Belanda tidak sampai gemanya ke Indonesia.

Pada saat itu, di Hindia Belanda terbentuk gaya arsitektur tersendiri yang dipelopori oleh

GubernurJenderal HW yang dikenal dengan the Empire Style, atau The Ducth Colonial Villa: Gaya

arsitektur neo-klasik yang melanda Eropa (terutama Prancis) yang diterjemahkan secara bebas. Hasilnya

berbentuk gaya Hindia Belanda yang bercitra Kolonial yang disesuaikan dengan lingkungan lokal, iklim

dan material yang tersedia pada masa itu. Pada periode ini, gaya neo-klasik merupakan gaya arsitektur

yang sangat cocok untuk mengungkapkan kemegahan kemaharajaan.

Seperti Gereja Protestan di pusat kota tua Semarang, gereja Williams di Batavia (sekarang gereja), Balai

Kota Medan dan beberapa bangunan di beberapa kota di Hindia Belanda.

Bangunan-bangunan yang berkesan grandeur (megah) dengan gaya arsitektur Neo Klasik dikenal

Indische Architectuur sebenarnya berlainan dengan gaya arsitektur Nasional Belanda pada waktu itu.

Abad ke 19 perkembangan Indische Architectuur atau dikenal dengan Rumah Landhuis yang merupakan

tipe rumah tinggal di seluruh Hindia Belanda pada masa itu memiliki karakter arsitektur seperti :

Denah simetris dengan satu lantai, terbuka, pilar di serambi depan dan belakang (ruang makan)

dan didalamnya terdapat serambi tengah yang mejuju ke ruang tidur dan kamar-kamar lainnya.

Pilar menjulang ke atas ( gaya Yunani) dan terdapat gevel atau mahkota di atas serambi depan

dan belakang.

Menggunakan atap perisai.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (6 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

3.

Tahun

1902-

1920-

an

Kaum

Liberal

Belanda pada masa antara tahun 1902 mendesak politik etis diterapkan di tanah jajahan. Sejak itu

pemukiman orang Belanda di Indonesia tumbuh dengan cepat. Indishe Architectuur menjadi terdesak

dan sebagai gantinya muncul standar arsitektur modern yang berorientasi ke Belanda.

4. Tahun 1920-an sampai tahun 1940-an

Gerakan pembaharuan dalam arsitektur baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini

mempengaruhi arsitektur kolonial Belanda di Indonesia. Pada awal abad 20, arsitek-arsitek yang baru

datang dari negeri Belanda memunculkan pendekatan untuk rancangan arsitektur di Hindia Belanda.

Aliran baru ini, semula masih memegang unsur-unsur mendasar bentuk klasik, memasukkan unsur-

unsur yang terutama dirancang untuk mengantisipasi matahari hujan lebat tropik. Selain unsur-unsur

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (7 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

arsitektur tropis, juga memasukkan unsur-unsur arsitektur tradisional (asli) Indonesia sehingga menjadi

konsep yang eklektis. Konsep ini nampak pada karya Maclaine Pont seperti kampus Technische

Hogeschool (ITB), Gereja Poh sarang di Kediri.

Secara umum, ciri dan karakter arsitektur kolonial di Indonesia pada tahun 1900-1920-an4:
Menggunakan Gevel ( gable) pada tampak depan bangunan

Bentuk gable sangat bervariasi seperti curvilinear gable, stepped gable, gambrel gable, pediment

( dengan entablure).

Penggunaan Tower pada bangunan

Tower pada mulanya digunakan pada bangunan gereja kemudian diambil alih oelh bangunan umum

dan menjadi mode pada arsitektur kolonial Belanda pada abad ke 20.

Bentuknya bermacam-macam, ada yang bulat, segiempat ramping, dan ada yang dikombinasikan

dengan gevel depan.

Penggunaaan Dormer pada bangunan

Penyesuaian bangunan terhadap iklim tropis basah

o Ventilasi yang lebar dan tinggi.

o Membuat Galeri atau serambi sepanjang bangunan sebagai antisipasi dari hujan dan sinar

matahari.

C.2. Arsitek dan biro arsitek yang berkarya di Indonesia

Pada masa pendudukan Belanda, banyak terdapat arsitek Belanda yang berkarya di Hindia Belanda,

diantaranya yang ternama adalah sebagai berikut :

W.Lemei

Seorang arsitek terkemuka di masa Belanda, salah satu karyanya yang terkenal dan masih berdiri

hingga kini yaitu , rancangan bangunan dipengaruhi oleh gaya Art deco untuk jendela dan ventilasi,

meskipun denah berbeda secara keseluruhan bangunan kantor Gubernur ini mirip dengan bangunan

Balai Kota Hilversum di Netherland yang dirancang oleh Willem Dudok. W.Lemei juga merancang

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (8 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

bangunan di luar Jawa yaitu Postpaarbank di Makasar, 1932.

Herman Thomas Karsten

Seorang arsitek Belanda yang berpraktik di Batavia dan terakhir menjadi professor perencanaan

perkotaan dan terakhir di Sekolah Teknik Bandung (ITB sekarang). Salah satu karya terbaiknya

adalah kantor lama perusahaan pelayaran kapal uap Belanda Stoomvart Maatschappij Netherland

(SMN) di pusat kota lama Semarang. Sepanjang tahun 20-an dan 30-an, Karsten merancang

sebagian pasar-pasar kotamadya yang meliputi Pasar Gede di Surakarta (1929), Pasar Johar

Semarang 91938). Karya arsitektur Karsten menunjukkan perhatiannya terhadap iklim tropik terlihat

pada tingginya jendela, kisi-kisi ventilasi yang menjulang tinggi dari lantai ke langit-langit yang

berfungsi selain sebagai corong pergantian udara yang leluasa juga memanfaatkan cahaya matahari.

Selain sebagai arsitek, Karsten juga berprofesi sebagai ahli perencana kota (planologi). Beberapa

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (9 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

karya rancangan kota atau kawasan Karsten perencanaan pengemnbagan kota Semarang, kawasan

candi Semarang. Bebeberapa karya arsitektur karsten yang lain yaitu :

Kantor Zuztermaatschapijen Semarang

Museum Sonobudoyo, Yogyakarta

Henri Maclaine Pont

Merupakan arsitek Belanda yang lahir dan besar di Netherlandsch Indie (Hindia Belanda) kemudian

mendapatkan pendidikan arsitektur di Sekolah Teknik di Delf (Belanda). Ia pernah berkarir dua tahun

setelah menamatkan studinya di Belanda dan termasuk salah satu arsitek Belanda yang terkemuka

saat itu, kemudian pulang dan berkarir di tanah kelahirannya, Hindia Belanda tahun 1911. Di Hindia

Belanda karyanya banyak terinspirasi oleh arsitektur vernakular nusantara dan juga menekankan

pada adaptasi dengan iklim. Beberapa karyanya di Hindia Belanda :

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (10 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

Kantor Pusat Perusahaan Tram-Uap Semarang-Cirebon di Tegal, 1911

Gerbang masuk Pekan raya dan Pameran Perumahan Kolonial di Semarang tahun 1914

Kompleks kampus Technische Hoogescool tahun 1934, sekarang ITB

Pohsarang, Gereja Misi Katolik Roma di Kediri, 1938

Museum Trowulan

C.P. Wolf Schoemaker

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (11 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

Seorang arsitek terkemuka Belanda yang banyak berkarya di Indonesia (Hindia Belanda). Selain

itu hasil karya berupa tulisan dari hasil penelitiannya mengenai kebudayaan Indonesia termasuk

arsitektur candi-candi, seperti bukunya yang berjudul Aesthetiek en oorsprong der Hindoe koenst

op Java (Estetika dan keaslian Hindu di Jawa) tahun 1924. Salah satu karyanya yang terkenal

adalah vila Isola di Bandung. Beberapa karya yang lain yaitu Societeit Concordia, gereja

Protestan, gereja Katolik, Jaarbeurs, beberapa rumah tinggal yang semuanya berada di Bandung.

Kemudian karyanya yang di Surabaya yaitu gedung International Credit (sekarang Kantor Aneka

Niaga), gedung Kolonial Bank Surabaya, kawasan beneden (sekarang kota lama), bangunan Java

Store.

C.Citroen

Salah seorang arsitek penting pada zaman Belanda, salah satu karyanya yang terkenal adalah

Radhuis atau Balai Kota di Ketabang Surabaya yang hingga sekarang ini masih difungsikan

sebagai Balai kota Surabaya. Arsitektur bangunan dapat dikatakan perpaduan selaras antara tiga

unsur : tradisional, modern dan tropis.2 Karya Citroen yang lain adalah sebuah gereja yang

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (12 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

berhadapan langsung dengan gedung Radhuis diresmikan pada tahun 1931. Bangunan gereja ini

mencerminkan arsitektur modern berbeda dengan bangunan Balai Kota didepan yang

memasukkan unsur tradisional. Kemudian, karya Citroen yang menggunakan arsitektur modern

kubisme yaitu sebuah rumah sakit di Raya Darmo yang mirip perancangannya dengan bangunan

gereja di depan Balai Kota dan gedung Borsumij di kawasan kota lama Surabaya. Gedung

Bursumij ini yang merupakan milik sebuah perusahaan dagang Belanda dinding-dindingnya

membentuk sebuah unit-unit blok tiga dimensional, dimana perspektif keseluruhan mirip dengan

sebuah kubus.

MJ. Hulswit & Peter JH. Cuypers, Edward Cuypers (Biro Arsitek Ed.Cuypers&Hulswit)

Sebuah biro arsitek ternama di Indonesia pada Belanda yang banyak karya di beberapa kota-kota

di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Surakarta, Yogyakarta, Makassar (Ujung

Pandang, Medan dan lain-lain. Biro arsitek ini merupakan cabang dari dari perusahaan yang

bernama Architecten Bureau Ed. Cuypers and Hulswit yang berpusat di Amsterdam Belanda.

Beberapa karya Ed. Cuypers & Hulswit yaitu :

Kantor pusat Javasche Bank di Batavia (Jakarta), Bandung, dan Medan. Kesemua

bangunan tersebut satu dengan lainnya berbeda dalam denah dan perletakannya,namun

masing-masing mempunyai ciri khas yang mirip yaitu arsitektur renaissance dan beberapa

ornament dari arsitektur candi.

Gedung Chartered Bank of India Australia dan China, sekarang masih difungsikan sebagai

bank. Bangunan yang berarsitektur neo-klasik ini terletak di belakang gedung kantor lama

Javaseche Bank Jakarta.

Hongkong and Shanghai Banking Corporation, jl Kali Besar Timur Batavia.

Kantor NHM ( Netherlandsche Handel Maatschapij) di Pasar Baru , Jakarta, NHM

Bandung, NHM Makasar.

Kantor Lindeteves Stokvis Surabaya

Kantor Levensverz Weltrevreden, sekitar lapangan Banteng di Jakarta

Kantor Handelsvereeneging Amsterdam (HVA), jalan Merak Surabaya

Balai Kota Jakarta, sekarang museum Fatahillah, di kawasan kota lama Jakarta.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (13 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

Kantor WEHA ( West Java Handel Maatshappij), disebelah utara dari museum Fatahillah.

Bangunan ini mewakili arsitektur transisi kalsik Eropa, modern dengan tetap berciri tropis.

Kantor lama NKPM, di jalan Merdeka Selatan, sekitar kawasan Monas Jakarta

Gereja Katolik darmo Surabaya.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (14 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

AIA ( Algemeen Infineurs En Architecten)

AIA singkatan dari Algemeen Ingineurs en Architecten adalah sebuah biro umum sipil dan

arsitektur sekaligus sebagai kontraktor didirikan pada tahun 1916 oleh tiga orang arsitek dan

engineer masing-masing F.J.L Ghysell, Hein avon Essen dan F. Stlitz. Beberapa bangunan yang

dirancang dan dibangun AIA yaitu :

Berbagai kantor di Kali Besar, Jakarta

Gedung Firma Geo Wehry & Co. di Kota Lama

Kantor KPM ( Koninklijke Paketvaart Maatschapij) di sekitar Monas ( Koningsplein)

Statsiun Kota, Jakarta, bagian fasade depan mirip dengan stasiun central Helsinki yang

dirancang oleh Eliel Saarinen

Rumah sakit KPM

Gereja Katolik di Jatinegara (Meester Cornelis), dan gereja Kristen di kawasan Menteng

Kantor NIJM Yogyakarta

Selain arsitek yang dijabarkan di atas, ada beberapa arsitek pada masa Belanda sempat berkarya di

Indonesia khusunya pada awal abad ke-20 yaitu P.A.J. Munjen (Gedung Lingkaran Seni Hindia Belanda/The

art society building, Jakarta, 1914), HP Berlage (Gedung Jawa Maluku tahun 1900, de Algemenee/

Perusahaan Umum Asuransi Jiwa dan Cagak Hidup, 1900), Klinkhamer dan Oundag (Kantor Pusat

Perusahaan Jawatan Kereta Api Hindia Belanda di Semarang, 1902-1907), J. Gerber (Gedung Sate, 1920),

AF Aalbers (bangunan Bank DENIS, kini Bank Jabar tahun 1935, Homann Hotel tahun 1939).

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (15 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (16 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%205.htm (17 of 17)5/8/2007 3:32:58 PM


2

.
6
Arsitektur INDONESIA pasca
kemerdekaan)

A. Arsitektur Warisan Belanda

Arsitektur Indonesia awal kemerdekaan masih banyak dipengaruhi oleh Modernisme Belanda, terutama

aliran perancangan arsitektur Delf dan De Stijl. Hal ini diebabkan oleh kenyataan bahwa banyak arsitek

Indonesia pada saat itu belajar di Negeri Belanda atau bekerja untuk perusahaan-perusahaan konstruksi

Belanda sebelum Perang Dunia II. Namun tak dapat dipungkiri bahwa pilar arsitektur modern pasca

kemerdekaan Indonesia juga dipancangkan sejak didirikannya Sekolah Teknik pertama Technische

Hogeschool (TH) pada tanggal 3 Juli 1920 oleh Gubernur Hindia Belanda yang sekarang lebih dikenal

dengan Institut Teknologi Bandung. Kemudian perkembangan mulai pesat setelah Jurusan Arsitektur baru

dibuka pada tahun 1950. Tonggak pendidikan arsitektur di Indonesia juga mulai bergema setelah

beberapa lulusan pertama berkarya dan lulusan dari luar negeri kembali ke tanah air Indonesia. Mereka

yang berkarya setelah kemerdekaan merupakan arsitek generasi pertama Indonesia; Susilo, Suhamir dan

Silaban. Karyakarya arsitektural mereka banyak terpengaruhi oleh aliran Delf, yang menggabungkan

bangunan kotak dengan sistem kisi (grid) rasional yang memungkinkan penggunaan unsur-unsur pra-

cetak untuk dinding luar. Sebagian besar arsitek Indonesia mengerjakan rancangan sendiri pada akhir

dasawarsa 50-an, ketika menggantikan arsitek-arsitek Belanda yang pulang ke negerinya menyusul

pemberlakuan program nasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia. Pada saat itu Presiden Soekarno

mengumumkan Dekrit Presiden yang disebut dengan Demokrasi terpmpin, program nasionalisasi ini

menyebabkan kesinambungan sejarah antara arsitektur modern Indonesia dan tradisi arsitektur Hindia

Belanda terhenti.

B. Kronologis Perkembangan Arsitektur Modern Indonesia

Kronologis perkembangan arsitektur Indonesia (modern) pasca kemerdekaan dibagi atas lima periode

yaitu 1

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%206.htm (1 of 10)5/8/2007 3:32:59 PM


2

Periode Pertama

Periode ini ditandai dengan muncul kota satelit Kebayoran Baro di Jakarta oleh R. Soesilo. Periode ini

berlangsung setelah kemerdekaan hingga tahun 1960. Arsitek generasi pertama mendominasi periode ini

dengan pengaruh kuat dari aliran Delft. Beberapa arsitek yang muncul dan berkarya pada periode ini

adalah :

R.Soesilo dengan karyanya Perencanaan Kota Satelit Kebayoran Baru ( 1948 )

Lim Bwan Tjie (1932-1964)di Semarang

Soehamir, akan tetapi sayang tidak didapatkan informasi tentang karyanya

Soedarsono, dengan karyanya Tugu Monumen Nasional (MONAS) Jakarta

F. Silaban dengan karyanya SPMA, Bogor (1951), Bank Indonesia, Jakarta (1958), Markas Besar

AURI, Jakarta (1958) dan Masjid Istiqlal (1965)

Fokus arsitektur pada periode ini lebih kepada bagaimana mengembangkan arsitektur tropis modern

Indonesia dengan tradisi berarsitektur modernis rasional sejati.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%206.htm (2 of 10)5/8/2007 3:32:59 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%206.htm (3 of 10)5/8/2007 3:32:59 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%206.htm (4 of 10)5/8/2007 3:32:59 PM


2

Periode kedua

Periode ini dipelopori oleh generasi Arsitek kedua Indonesia yaitu Suhartono (anak Susilo), Hasan Purbo,

dan Achmad Noeman. Periode ini berlangsung tahun 1960-1970, secara makro merupakan periode

pembentukan pendidikan arsitektur di Indonesia, seperti (Prof. Ir.) Hasan Purbo di Institut Teknologi

Bandung, (Prof. Ir.) Suhartono Susilo di Universitas Prahyangan Bandung, (Prof. Ir.) Sidharta di

Universitas Diponegoro Semarang, (Prof. Ir.) Parmono Atmadi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta,

(Prof. Ir.) Johan Silas di Istitut Teknologi Surabaya.

Terdapat sesuatu yang penting terjadi pada periode kedua ini yaitu kembalinya pada arsitek muda dari

pendidikan dan ITB menghasilkan lulusan pertama yang kemudian menggerakkan arsitektur pada periode

ini. Arsitek muda ini kemudian bergabaung sebagai generasi kedua Arsitek Indonesia. Beberapa dari

mereka yang tersebut dalam periode ini yaitu :

Soejoedi ( karyanya Conefo/MPR/DPR Jakarta ) dan Han Awal dari TU Berlin,1960

Soewondo Bismo Sutedjo dari TH Hannover, 1961

Djauhari Sumintardja ( dari sekolah arsitektur Stockholm, Swedia 1960 )

Hasan Purbo, Suhartono Susilo, Sidharta, Parmono Atmadi, Zaenuddin Kartadiwiria, Wastu

Pragantha, Johan Silas, Danisworo, Slamet Wirosanjaya dari ITB

Meletusnya gerakan G30 S PKI mengakibatkan tidak banyaknya karya yang dihasilkan dalam periode ini.

Fokus arsitektur pada periode ini kecenderungan meninggalkan pemikiran arsitektur tropis modern

Indonesia yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya dan ketertarikan pada arsitektur tradisional mulai

muncul serta menguatnya tradisi berarsitektur modernis rasional sejati.

Periode Ketiga

Periode ini berlangsung antara tahun 1970-1980 ditandai dengan munculnya orde baru dalam politik

Indonesia. Pencanangan pembangunan nasional berjangka (PELITA) yang dibuat penguasa politik pada

saat itu membuat iklim rancang bangun bergairah kembali. Periode ini merupakan puncak karya dari

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%206.htm (5 of 10)5/8/2007 3:32:59 PM


2

generas kedua seperti :

Han Awal : Konsep Tower in Park pada kompleks Inversitas Atmadjaya, Jakarta

Soejoedi : Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Kedutaan Prancis dan Sekretariat ASEAN.

Slamet Wirosanjaya, dikenal sebagai landscape handal.

Djauhari Sumintardja, menerbitkan buku Kompendium Sejarah Indonesia.

Kemudian para lulusan pertama pendidikan arsitektur dalam negeri yang lulus pada tahun 1970-an

seperti Robi Sularto, Adhi Moersid, Yuswadi Saliya, Dharmawan, Eko Budiardjo, dan Gunawan Tjahyono

muncul sebagai generasi arsitek ketiga di Indonesia setelah dua generasi sebelumnya mencapai puncak

karyanya pada periode ketiga ini. Yang menjadi fokus arsitektur pada masa ini adalah pencarian identitas

Arsitektur Indonesia dan kebangkitan arsitektur tradisional. Tradisi modernis rasional yang dibawa dua

periode sebelumnya mendapat kritikan keras sejalan dengan derasnya arus pemikiran arsitektur dunia.

Periode Keempat

Periode ini berlangsung antara tahun 1980-1990, arsitek generasi ketiga mencapai puncak karyanya.

Proyek-proyek yang ditangani adalah proyek-proyek yang berskala besar (pemerintah). Periode ini

diramaikan juga oleh para arsitek yang juga merupakan produk kedua pendidikan arsitektur dalam negeri,

yaitu Josep Prijotomo, Budi Sukada, Bagoes P.Wiryomartono, Baskoro Tedjo, Zhou Fuyuan, Andi Siswanto

serta beberapa arsitek lulusan luar negeri yaitu Antonio Ismael, Budiman H. Hendropurnomo, dan Budi

Lim. Kemudian beberapa biro-biro arsitek muncul seperti biro arsitek: Atelier 6, Gubah Laras, Encona,

Tripanoto Sri, Team 4, Arkonin, dan Parama Loka.

Puncak dari karya arsitek pada periode ketiga yang beberapa diselubungi oleh nama besar biro

arsiteknya, seperti :

Atelier 6 dengan karyanya Executive Club Hilton Jakarta, serial Hotel Santika, gedung STEKPI,

Hotel Nusa Dua dan Masjid Said Naum (karya terbaik Adhi Moersid).

Tripanoto Sri, dengan serial arsitektur Keluarga Cendana, kompleks TMII, RS. Kanker Indonesia.

Y.B. Mangunwijaya dari TH Aachen Jerman, dengan karyanya perumahan di Kali Code

Yogyakarta, tempat ziarah Sendang Sono, rumah tinggal Arief Budiman di Salatiga

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%206.htm (6 of 10)5/8/2007 3:32:59 PM


2

Gunawan Tjahyono, dengan karyanya Gedung Rektorat UI.

Yang menjadi fokus arsitektur pada periode ini yaitu keinginan untuk mensenyawakan arsitektur modern

dan tradisional dengan penekanan lebih kepada simbol makna dan budaya dibandingkan dengan

permasalahan kondisi tropis.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%206.htm (7 of 10)5/8/2007 3:32:59 PM


2

Periode Kelima

Periode ini berlangsung antara tahun 1990-2000, merupakan kondisi kontemporer arsitektur Indonesia

dan percepatan peristiwa merupakan karakter yang menonjol pada periode ini. Periode ini ditandai

dengan munculnya arsitek muda Indonesia (AMI) : Sonny Sutanto, Marco Kusumawijaya dkk., dan

bergabungnya arsitek periode keempat (Josep Prijotomo dkk) dalam periode ini.

Beberapa karya yang menonjol periode ini dan mendapat penghargaan yaitu:

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%206.htm (8 of 10)5/8/2007 3:32:59 PM


2

DCM (Budiman, Sonny, Dicky) : Tugu Park Hotel di Malang, Gedung Ford Foundation untuk

ASEAN (bekerja sama dengan Gunawan Tjahyono).

Budi Lim : Urban Infill di Bank Universal Hayam Wuruk dan Konservasi Bank Universal Melawai.

Thamrin dan Kelompok Kumuh : Gerbang Utara ITB.

Arcadia (Gatot, Armand dan Tony) : The Condor, Dunia Fantasi Ancol.

Krish Suharnoko, Caf Batavia

Irianto : Kantor Bank Exim Kamayoran.

Sardjono Sani : Rumah Tinggal Tusuk Sate di Pondok Indah Jakarta.

Fuyuan : Rumah Pabrik.

Yori dan Marco K. : Rumah Murah Swadaya Plan International Kupang

Fokus arsitektur pada periode ini lebih kepada pengungkapan tradisi berarsitektur AMI yaitu peningkatan

profesionalisme, penjelajahan desain dan kejujuran berekspresi

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%206.htm (9 of 10)5/8/2007 3:32:59 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%206.htm (10 of 10)5/8/2007 3:32:59 PM


7

.
7 sejarah perkembangan dan konsep
arsitektur india

A. Sejarah Perkembangan Arsitektur India

Arsitektur India menunjukkan keberagaman ditnjau dari sejarah, budaya dan geografi. Keberagaman

arsitektur tersebut menyebabkan kesulitan untuk mengidentifikasikan ke dalam satu karakterisktik style

yang mewakili keseluruhannya. Kesemuanya merupakan hasil dari rangkaian tradisi masa kuno dan

berbagai ragam budaya setempat ke dalam tipe dan bentuk bangunan, serta pengaruh teknologi dari

Barat, Asia tengah maupun Eropa.

Sejarah arsitektur India dimulai dari masa peradaban lembah Indus (Indus Valley Civilisation), kemudian

arsitektur pada masa Vedik1, berlanjut hingga masa Maurya-Gupta atau dikenal dengan era
perkembangan Buddha, arsitektur biara (monastery) dan batu/dinding pahat (rock cut), kemudian diikuti

dengan kemegahan bangunan kuil pada masa pertengahan. Sementara, penguasa Turki dan Afghannistan

di utara pada masa pertengahan telah membawa India kepada tradisi arsitektur kubah (dome dan vault).

Munculnya arsitektur Mughal pada abad ke-16 menggambarkan penggabungan antara elemen arsitektur

regional India dengan elemen arsitektur Persia dan Asia Barat. Pengaruh Barat terutama Eropa tak

terelakkan selama masa kolonisasi Eropa di India termasuk gaya Manneris, Barok, Neo-klasik, dan Neo-

gotik mulai dari abad ke-16 hingga akhir abad ke-19, yang kemudian dikenal dengan gaya Indo Saracenic.

Arsitektur India telah membawa pengaruh yang besar terutama ke Asia Timur sejak kelahiran dan

penyebaran agama Budha. Sejumlah elemen arsitektur India seperti stupa, sikhara, pagoda (meru),

torana (gerbang) telah menjadi simbol terkenal arsitektur Hindu dan Budha yang berkembang dan

digunakan di Asia Timur dan Asia Tenggara seperti yang terdapat pada bangunan candi Angkor Wat di

Kamboja dan Prambanan di Indonesia.

Peradaban awal India dimulai dari Lembah Indus, yang terdiri dari permukiman perkotaan kuna termasuk

kota metropolitan; Mahenjo Daro dan Harappa dengan berbagai macam karakteristik rumah, tempat

pemandian yang dihubungkan dengan sistem drainase umum yang baik pada masa itu. Struktur kota

berbentuk grid diikuti jalur drainase disepanjang jalan umum dikelilingi oleh benteng. Selain benteng, tipe

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (1 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

bangunan yang penting lainnya saat itu adalah lumbung, tempat berdagang, pemandian umum, yang

terakhir ini diyakini sebagai tempat pemujaan untuk kesuburan. Keseragaman tatanan kota, tipologi

bangunan, dan ukurannya yang terbuat dari batu bata bakar yang menunjukkan koordinasi yang baik

antara sosial dan politik pada saat itu.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (2 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

B. Arsitektur Hindu

Seperti halnya diketahui dari sejarah perkembangan kebudayaan Timur, bahwa agama Hindu lahir di

lembah sungai Indus ( kawasan Sind dan Punjab ). Agama ini lahir dari perpaduan agama Tuhan Vedis

sebagai agama sukubangsa Aryan (Aria) dengan agama suku bangsa Dravidians (percaya adanya

inkarnasi) yang merupakan daerah invasi dari sukubangsa Aryan pada masa itu. Perpaduan itu tercetus

dalam buku Rig-Veda (kitab agama Veda) yang pada permulaan tahun masehi disempurnakan dengan

terciptanya kedewaan Trimurti : Brahma, Wisnu dan Siwa.

Arsitektur hindu dikenal lewat rancangan kuil-kuil hingga sampai ke Asia Tenggara mulai abad ke-5

hingga ke-13. Pada masa itu terdapat beberapa kerajaan yang terbagi wilayahnya menjadi utara dan

selatan. Dua kutub kerajaan ini mempengaruhi bentuk dan performansi dari kuil-kuil Hindu, seringkali

disebut dengan Kuil Dravida di India Selatan, dan kuil Nagara di India Utara. Diantara kedua style

tersebut juga berkembang kuil dengan style yang berbeda seperti yng terdapat di wilayah Bengal,

Kashmir dan Kerala. Umumnya kuil-kuil dengan rancangan terbaik yang menjadi ikon bagi arsitektur

Hindu berada di wilayah Selatan. Arsitektur kuil di India Selatan tidak menggunakan konsep arsitektur kuil

di India Utara yang dipengaruhi oleh Persia, Rajastan dan langgam Jaina. Di India Selatan terdapat tujuh

kerajaan yang memberikan pengaruh besar dalam perkembangan arsitektur kuil Hindu yaitu:

Kerajaan Pallava, memerintah dari abad ke-6-9 Masehi. Kuil besar yang dibangun pada masa

pemerintahannya yaitu kuil Mahabalipuram dan ibukotanya Kanchipuram, sekarang berada di wilayah

Tamilnadu.

Kerajan Chola, kerajaan ini berkuasa pada tahun 900-1150 M diperintah oleh Rajaraja Chola I dan

putranya Rajendra Cholaruled dan membangun kuil Brihadeshvara dan kuil Siwa Thanjavur.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (3 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

Kerajaan Chalukya Badami yang disebut Chalukya awal yang diperintah oleh, Badami pada tahun

543 - 753 M yang kemudian menghasilkan langgam Vesara disebut juga Arsitektur Chalukya Badami.

Contoh yang paling bagus dari seni kuil ini nampak pada kuil Pattadakal, Aihole dan Badami di

Karnataka utara. Leibh dari 150 kuil tertinggal di lembah Malaprabha.

Kerajaan Rashtrakuta yang memerintah wilayah Manyakheta, Gulbarga tahun 753-973 M

membangun beberapa kuil Dravida di Ellora (kuil Kailasanatha). Kuil lain yang menarik yaitu kuil Jaina

Narayana di Pattadakal dan kuil Navalinga, Kuknur di Karnataka.

Chalukya Barat disebut juga Chalukya Akhir yang memerintah Decca dari tahun 973-1180 M

menghasilkan kembali langgam chalukya dikenal dengan langgam Gadag, yang artinya di dalam dan

antara (in-between). Terdapat lebih dari 50 kuil yang masih bediri di sekitar sungai Krishna, di tengah

Kartanaka. Kuil Kasi Vishveshvara di Lakkundi, Mallikarjuna di Kuruvatii, Kalleshwara di Bagali dan

Mahadeva di Itagi merupakan kuil-kuil yang indah dan menarik yang dibangun oleh arsitek-arsitek

semasa kerajaan Chalukya akhir.

Raja Hoysala memerintah India Selatn pada tahun 1100-1343M dan mengembangkan sebuah

konsep arsitektur yang disebut Hoysala Arsitektur id negara Karnataka. Karya arsitektur kuil yang

terbaik yaitu kuil Chennakesava di Belur, kuil Hoysaleswara di Halebidu, dan kuil Kesava di

Somanathapura.

Kerajaan Vijayanagar yang memerintah seluruh wilayah India Selatan pada tahun 1343-1565 M

membangun sejumlah kuil di ibukota Vijayangar dengan menggabungkan beberapa langgam yang

berkembang di India Selatan pada masa sebelumnya. Beberapa elemen yang dihasilkan dari karya

tersebut yaitu pilar Yali (pillar yang bersimbol kuda), balustrade (parapets) and pilar berhias

(manatapa). Beberapa raja yang memerintah Vijayanagar membangun kuil-kuil terkenal dengan gaya

arsitektur Vijayanagar.

Menurut Fergusson2, Arsitektur hindu di India dibagi atas tiga langgam:


Langgam Hindu Selatan, dipraktekkan oleh bangsa ras Tamil dan seluruh wilayah yang terletak

antara Cape Comorin dan Nerbuddha or wilayah Vidya.

Langgam Utara atau Hindu Arya, ditemukan hanya di wilayah Himalaya yang berbatasan

dengan ras Arya yang berbahasa Sancrit atau dikenal dengan the Bengal Presidency.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (4 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

Langgam Kasmir atau Punjab, berbeda dari kedua diatas, akan tetapi lebih mirip kepada

langgam yang di selatan.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (5 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

Selama abad pertengahan, banyak kuil Hindu dibuat dari pahatan dinding tebing atau bukit. Hingga saat

ini konsep arsitektural Hindu mempengaruhi bangunan-bangunan atau arsitektur Budha. Konsep

merancang kuil dibuat oleh seorang Brahmin. Brahmin juga menentukan pemilihan tapak dan menguji

keadaan tanah, dan tebalnya sesuatu dinding atau tiang mengikut segi mithologykal adan astronomikal

Hindu yang dikenal dengan Formula Vastupurshamandala (tatanan untuk bangunan sakral). Tantanan

ini dituangkan dalam tatanan ilmu arsitektur Hindu dinamakan vastushastra. Tatanan inilah yang

mengatur konsistensi rancangan dari kuil-kuil di wilayah India.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (6 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

Kuil-kuil hindu menggunakan bentuk empat persegi daripada bentuk lingkaran seperti yang digunakan

dalam arsitektur Budha. Bentuk empat persegi ini menyimbolkan kestabilan dan kekekalan. Beberapa ciri

lain dari arsitektur hindu yaitu penggunaan sistem trabeate yaitu massive block dari batu yang menjadi

material dasar dalam pembangunan kuil India. Sistem ini berupa tiang tegak dengan alang melintang

sistem ini digunakan dengan begitu meluas sekali. Walaupun sistem Arch Vault lebih ekonomis dan

digunakan di seluruh dunia. Mandala empat segi atau charta firasat arsitek Hindu, mengandung 64 atau

81 kotak. Brahma, Dewa utama, pemelihara dan pemusnah menduduki empat segi tengah. Dewa-dewa

lain menduduki tempat-tempat di penjuru.

Kuil hindu memiliki empat ruang prinsip dalam perancangannya yang menjadi konsep arsitektur Hindu

yaitu Garbha griha, Mantapa, Gopura dan Choultri dengan penjelasan sebagai berikut.

B.1. Garbha griha

Merupakan bagian utama dan terpenting dari kuil dan merupakan inti/induk bangunan yang disebut

vimana (di India Selatan) atau mulaprasada (di India Utara). Denahnya berbentuk bujursangkar atau

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (7 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

persegi, untuk kuil yang kecil biasanya perbandingan antara tinggi dan lebar bangunan 1:1 atau

berbentuk kubus, dan kuil yang besar biasanya tingginya jauh lebih besar daripada lebarnya. Terdapat

bagian yang tegak lurus terbuat dari batu dan granit yang didekorasi dengan pilaster dan ornamen.

Vimana beratap tingkat seperti pyramid umumnya terbuat dari bata yang diplester dengan semen

kemudian diakhiri dengan dome kecil (umumnya di india selatan). Vimana yang terbesar di Tanjore yang

terdiri dari 14 tingkat dengan tinggi hampir 200 ft.

B.2. Pelataran depan atau Mandapa

Pelataran depan atau Mantapa, ruang bagian luar yang sebagian dilingkupi dinding dilingkupi oleh

dinding yang memiliki pintu, satu pintu merupakan penghubung untuk ke vimana sedangkan pintu yang

lain merupakan akses dan masuknya cahaya ke ruang dalam. Ruang mandapa berbentuk bujursangkar

atau persegi, biasanya sama bentuknya dengan bangunan kuil inti (vimana). Beberapa kuil memilki

mandapa luar atau Maha Mandapa dan mandapa dalam atau Ardha Mandapas. Ada juga kuil yang

memiliki gabungan dari kedua mandapa, biasanya yang mandapa luar bersifat terbuka dan mandapa

dalam bersifat tertutup. Atapnya berbentuk piramid, tapi jauh lebih rendah dari atap vimana, sering juga

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (8 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

berbentuk flat yang tidak berornamen. Atap ditopang oleh pilar, akan tetapi sebisa mungkin dikurangi

jumlah pilar dengan membuat kotak-kotak pembalokan pada ceiling (bracketing) dan projecting cornices.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (9 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (10 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

B.3. Gerbang Piramid Gopura

Gerbang atau Gopura adalah jalan masuk (entrance) untuk memasuki kompleks halaman kuil yang

berbentuk persegi yang biasanya mengitari vimana. Jumlah gerbang mengikuti jumlah dinding pagar,

kadang-kadang juga bisa melebihi jumlah dinding pagar. Bentuk gapura indentik dengan vimana,

meskipun demikian terdapat satu sisi yang lebih besar dan lebih panjang. Pada sisi yang panjang terdapat

bukaan yang biasanya 1/4-1/7 dari lebarnya.

Menurut Fergusson, gerbang piramid yang paling besar dimiliki oleh kuil di Combaconum, yang

merupakan ibukota Kerajaan Chola setelah penolakan Tanjore. Terdiri dari 12 tingkat termasuk basement

yang terbuat dari granit dan datar, sementara keseluruhan piramid terbuat dari batu bata diplester

dengan sculpture dan ornamen.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (11 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (12 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

B.4. Hall

berpilar

atau

Choultri,

Choultri ini

berada

bangunan

extra di

sekitar

kompleks

kuil biasanya

digunakan

untuk

berbagai

macam

kegiatan

upacara dengan tarian dan nyanyian serta upacara perkawinan. Pada awalnya sebagai beranda (porches),

kemudian berkembang menjadi ruang untuk berbagai kegiatan terutama untuk upacara yang

berhubungan dengan perkawinan. Hall berpilar yang besar yaitu ada di Tinnevelly yang terdiri dari 100

kolom pada sisi yang panjang dan 10 pada sisi yang lebarnya. Kemudian hall berpilar di Chillumbrum

terdiri dari 24 kolom pada sisi lebar dan 41 kolom pada sisi panjangnya.

C. Arsitektur Budha

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (13 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

Arsitektur

batu (stone

architecture)

juga telah

tumbuh di

India

terbukti pada

tinggalan

sejarah

istana

Pataliputra

dan juga

Ashoka

Stambha

(prasasti

tugu

monolitik)

yang

bertuliskan

maklumat

dari raja

Ashoka. Pada ujung atas prasasti terdapat ukiran batu berkepala empat singa yang menjadi simbol dari

kerajaan Ashoka. Pada masa Ashoka telah diperkenalkan arsitektur batu pahat yang mentradisi hingga

lebih dari 100 tahun lamanya hingga masa arsitektur Budha, Jaina dan Hindu, terdapat banyak ruang-

ruang pemujaan yang dipahat di dinding tebing atau gunung. Konon katanya tradisi ini berasal dari Mesir

kuna dan Persia. Pada saat yang sama, Viharas (Buddhist monasteries), mulai dibangun setelah kematian

Budha terutama pada masa Kerajaan Mauryan with karakteristik monumen stupa, chaitya; ruang meditasi

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (14 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

yang terdapat stupa didalamnya.

Arsitektur Budha berkembang pada masa Pemerintahan Ashoka, terdapat tiga bangunan yang penting

dalam arsitektur Budha yaitu chaitya (ruang meditasi para biksu), vihara (asrama) dan stupa (monumen

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (15 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

budha). Dalam satu lahan paling sedikit terdapat satu chaitya dan beberapa vihara.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (16 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

C.1. Stupa

Stupa adalah monument untuk memperingati Budha dan para pengikutnya berbentuk setengah bulatan

mempunyai pengertian falsafah melambangkan kubah syurga (Dome of Heaven) atau melambangkan

struktur kosmik yang menetap terbuat dari batu atau tanah atau material lainnya dengan struktur dan

konsep arsitektural sebagai berikut:

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (17 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

Bangunan stupa terdiri dari beberapa bagian atau elemen yang membentuk satu konsep arsitektur

sebagai berikut:

Harmika yaitu pagar empat segi stupa memberi peringatan syurga 33 tahun lambang dari peti
suci Budha dan menjadi sentral dari meditasi

Yashti berbentuk tiga Lapis payung yang melambangkan paksi dunia.

Stambha, tiang yang bertuliskan ukiran ayat-ayat suci dari kitab Pali berfungsi sebagai alat

sebaran agama Budha

Vedik, pagar yang mengelilingi stupa pada mulanya dibuat dari bahan kayu, pada zaman syuga
digantikan dengan bahan batu.

Torana, gerbang (jalan/pintu masuk) ke dalam stupa yang berasal dari bahasa Sansekerta.

C.2. Chaitya Griha

Chaitya griha adalah tempat meditasi para sami Budha dalam mempelajari ajaran Budha, kata ini berasal

dari bahasa Sansekerta yang artinya tempat suci. Chaitya terdiri dari barisan tiang yang beratap, di

ujungnya yang membentuk membentuk garis keliling melingkari stupa yang ada didalamnya. Pada

beberapa site dari tipikal chaitya ada yang berbentuk sekuen dari bentuk persegi diakhiri dengan ruang

suci tempat stupa. Contoh Chaitya yang paling bagus terdapat Ajanta and Ellora.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (18 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (19 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

Berbagai

macam

bentuk

dan

konsep

chaitya

dapat

dilihat

pada

gambar

berikut ini.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (20 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

C.3.Vihara (Monasteries)

Monasteries (Vihara) merupakan asrama atau tempat tinggal para sami Buddha selama mereka

bermeditasi. Vihara terdiri dari ruang-ruang sel kecil yang terisolasi dan ruang bersama berupa hall yang

dikelilingi oleh tiang-tiang (portico) yang merefleksikan ruang komunal dari asrama, sehingga vihara

dikenal sebagai hall dengan serambi. Orientasi dari vihara bervariasi tidak ada arah tertentu sebagai

patokan. Berbagai macam tipikal dari vihara terdapat pada gambar berikut ini.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (21 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


7

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab-7.htm (22 of 22)5/8/2007 3:33:01 PM


2

sejarah perkembangan dan konsep


8 arsitektur
.
china

A. Sejarah Perkembangan Budaya dan Pemerintahan di China

Cina memiliki

sejarah yang

panjang dan

bergejolak sejak

masa primitif

hingga saat ini.

Peradaban Cina

mulai terbangun

sejak 4000 hingga

5000 tahun yang

lampau. Secara

umum Wilayah

China secara garis

besar terbagi atas

Huabei ( China

Utaradan Huanan

( China Selatan ).Pada abad ke 2 SM terdapat suatu pemerintah yang bertsruktur di Cina yang memmasuki

masa ke kaisaran atau Dinasti. Dinasti Tang disebut sebagai masa emas dari Sejarah Cina, dimana pada saat

itu seni lukisan, patung, sastra, dan kayu cetak dan produksi massal buku mengalami perkembangan yang

pesat. Begitu pula, pada saat dinasti Tang ini pula, agama budha disebarkan ke Jepang. Pengaruh rancangan

arsitektur kota dan Budha pada masa itu sangat besar pada perancangan kota dan bangunan kuil Budha di

Jepang. Dinasti Ming, dinasti terakhir yang diperintah pribumi berkembang hingga ke Mongol atau Yuan yang

merupakan dinasti yang didirikan oleh Kublai Khan.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (1 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

Tabel. 7.1. Tata Urutan Dinasti di Cina dan Karakteristik Sejarahnya

Dinasti Karakteristik dan Sejarah


Hsia c.1994-c.1523 SM Membangunan saluran irigasi, mereklamasi tanah, senjata perunggu,
kendaraan tempur, penggunaan binatang domestik, bercocok tanam
padi dan gandum, penggunaan simbol dalam penulisan
Tonggak sejarah dinasti china pertama, masyarakat pertanian
Shang or Yin c.1523-c.1027
dengan birokrasi, perumusan strata social, aksara dan penulisan
SM
lebih baik, kalendar China, dan masa emas pencetakan perunggu
Masa Klasik (Konfusius, Lao Tzu, Mencius), kekisruhan dalam politik,
Chou c.1027-256 SM rancangan hukum tertulis, ekonomi mata uang, penggunaan besi,
kerbau dalam pembajakan sawah, masa peperangan 403-221 SM
Penyatuan Cina dibawah kekerasan Shih Huang-ti, feodalisme
Ch'in 221-206 SM digantikan oleh birokrasi pemerintah berjenjang, standadisasi
penulisan, pembangunan jalan, kanal dan Tembok raksasa
Penyatuan lebih solid, kekerasan berkurang, konfusianisme menjadi
Han 202 SM- 220M dasar pemerintahan birokrasi bertingkat, pengenalan terhadap
Budha, kompilasi sejarah dan kamus bahasa
Pembagian atas tiga pemerintahan: Wei, Shu, Wu. Wei menjadi
Three Kingdoms 220-265 dominan, konfusianisme meredup, penguatan Taoism dan
Buddhisme, pengetahuan ilmiah diadopsi dari India
Dikembangkan oleh Wei, ekspansi perlahan ke Asia Tenggara,
Tsin or Chin 265-420 rangkaian barbarisme dari dinasti Cina utara, pertumbuhan dan
perkembangan Budha
Reunifikasi, pendirikan kembali sentralisasi pemerintahan, Budhaisme
Sui 581-618 dan Taoisme menjadi favorit, tembok raksasa dibangun kembali,
sistem kanal didirikan
Ekspansi teritorial, budhaisme dibawah tekanan, pelayanan
T'ang 618-907 masyarakat berdasarkan Konfusianisme, masa keemasan seni sastra
dan sajak ( Li Po , Po Ch-i , Tu Fu ), patung dan lukisan
Five Dynasties and Ten Masa perang, korupsi pemerintahan, kesukaran, pengembangan luas
Kingdoms 907-960 percetakan, pencetakan uang kertas pertama.
Masa perubahan sosial dan intelektual, neo-konfusianisme mencapai
keunggulan dari Taoisme dan Budhaisme, sentralisasi birokrasi,
Sung 960-1279
pengembangan perkebunan the dan katun (tekstil), serbuk mesiu
pertama kali digunakan oleh militer.
Dinasti Mongol ditemukan oleh Kublai Khan, kontak dengan asing
Yan 1271-1368 (barat), ide konfusianisme mengecewakan, masa emas aksara Cina,
pemberontakan di Mongolia dan Cina Selatan mengakhiri dinasti
Mongolia keluar, konfusianisme dan pelayanan masyarakat diterima
Ming 1368-1644 kembali, kontak dengan pedagang Eropa, misionari, pengembangan
arsitektur porselin, novel dan drama.
Pendirian Mancu, perluasan teritorial tetapi kekuasaan Cina melemah
secara perlahan, penurunan kekuasaan sentral, peningkatan
Ch'ing or Manchu 1644-
perdagangan eropa, kekuatan asing membagi Cina kedalam
1912
lingkungan yang terpengaruh Perang Opium, Hongkong diserahkan,
pesilatan berkembang, kerajaan Cina terakhir

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (2 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

B. Sistem sosial budaya Cina

Cina memiliki wilayah yang luas dengan total area wilayah 9,596,960 kilometer persegi dihuni oleh beragam

etnis seperti suku Han, Zhuang, Uygur, Hui, Yi, Tibetan, Miao, Manchu, dan Mongol. Sejak dahulu Cina

memiliki kepercayaan kepada pemujaan roh nenek moyang, kemudian pada masa dinasti Chou sekitar tahun

1027-256 SM muncul suatu ajaran Konfusianisme, ajaran Lao-tse, Mo Ti, dan Mencius yang menjadi dasar

filosofi masyarkat Cina hingga kini. Budhisme yang berasal dari India. Budhisme mencapai titik emas dalam

penyebaran agama di Cina yang masuk pada masa Dinasti Han.

Hierarki sosial dalam masyarakat diperkenalkan pada ketika mulai terbentuk suatu organisasi masyarakat

yang sejalan dengan ditemukannya aksara dan penulisan. Strata sosial pada masa itu masih terbagi atas

pekerjaan dan kemakmuran yang diperoleh misalnya Raja dan bangsawan, petani, seniman, dan pedagang.

Pada masa dinasti Chou sistem pertanian dikelola dengan baik, penerapan sistem pembajakan sawah meluas

hingga ke Asia Tenggara ketika terjadi ekspansi wilayah dan budaya ke bagian selatan Cina.

Cina masih terisolasi dari dunia luar hingga abad ke-2 Masehi ketika datang pengaruh Budha dari

India, pada masa itu Cina mengadopsi kemajuan ilmiah dari India. Kemudian kontak dengan Barat terjadi

pada masa Dinasti Yuan sekitar abad ke-12. Portugis menduduki Macao, dan Inggris di Hongkong. Pada abad

ke-19, Cina melepaskan Hongkong untuk menjadi satu negara sendiri setelah pendudukan Inggris pada

pertengahan abad ke-19.

Seni Lukisan, kaligrafi dan keramik berkembang luas dan banyak dikagumi oleh bangsa lain. Keramik dan

porselin Cina merupakan suat komoditas perdagangan Cina ke beberapa negara pada masa itu.

C. Sejarah Perkembangan Arsitektur Cina

B.1. Konsep dan Filosofi Arsitektur Cina

Filosofi arsitektur Cina sangat dipengaruhi oleh filosofi dari kepercayaan dan ajaran Konfusianisme, Taoisme

dan Budhisme. Terdapat simbol dan lambang-lambang dari bentuk ideal dan keharmonisan dalam tatanan

masyarakat. Bentuk ideal dan keharmonisan dalam masyarakat tersebut dapat dilihat dari filosofi Tien-Yuan Ti-

Fang yang berarti langit bundar dan bumi persegi, dimana persegi melambangkan keteraturan, intelektualitas

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (3 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

manusia sebagai manifestasi penerapan keteraturan atas alam dan bundar melambangkan ketidakteraturan

sifat alam. Kemudian filosofi Tien-Yen-Chih-Chi, artinya diantara langit dan manusia yang menggambarkan

peralihan dua alam yang disimbolkan dalam bentuk bundar-segi empat-bundar.

Konsep Keseimbangan dalam kehidupan diatur dalam dualitas Yin dan Yang, hong Shui atau Feng Shui. Yang

adalah sebagai energi positif, jantan, terang, kuat, buatan manusia. Sementara, yin digambarkan sebagai

energi negatif, betina, gelap, menyerap elemen.

Hong shui atau Feng Shui merupakan kompas kehidupan yang mengaur keseimbangan yang memiliki elemen

alam seperti angin, air, tanah dan metal. Kompas merupakan adaptasi metodis karya manusia terhadap

struktur alam raya sehingga menjadi pedoman dalam pendayagunaan energi dan sumber alam untuk

penyelarasan nafas dunia. Selain itu juga membantu manusia memanfaatkan gaya-gaya alam dari bumi dan

menyeimbangkan Yin dan Yang guna memperoleh Qi yang baik, yang menggambarkan kesehatan dan

vitalitas.

Hal-hal yang mempengaruhi Hong Shui menyangkut keseimbangan 5 (Lima) Unsur yaitu waktu Kelahiran,

kondisi tanah pada lokasi ( tapak) , arah dan ukuran bangunan, orientasi Ruang Dalam, pola Penempatan

ruang dalam

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (4 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (5 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (6 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

Dari filosofi arsitektur yang dijelaskan sebelumnya maka prinsip-prinsip dasar dalam arsitektur Cina adalah

sebagai berikut:

1. Memfokuskan pada bumi bukan surga, mengutamakan ilmu pengetahuan bukan kemuliaan, seperti
tidak ada pembedaan prinsip antara bangunan sakral/religius dengan bangunan umum, hanya arah

kegiatan, susunan ruang yang memiliki penekanan berbeda, secara umum bersifat sequensial

Horisontal, sakral Hirarkis Konsentris, mengutamakan posisi, gerak dan orientasi manusia dalam ruang

Eksplorasi prinsip tersebut dalam Arsitektural yaitu

Potensialitas Dinding

Penonjolan individualitas bangunan

Pengorganisasian susunan CourtYard

Permainan tinggi lantai

Bangunan dibatasi taman

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (7 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2
Rumah utama bersumbu Utara-Selatan dan selalu memilih tempat yang lebih tinggi

Interior dengan elemen utama perabot berukir dengan warna megah sebagai lambang gengsi.

Pintu dan jendela menjadi elemen penunjang yang penting dalam tatanan permukaan

bangunan.

Adanya privasi berdasarkan rasa hormat dan keintiman tata laku/ Etiket Bangsa Cina yang

diterapkan secara vertikal dengan langit-langit, atap dan secara horisontal dengan Court Yard dan

Lantai

4. Hirarki dan Status, pada umumnya dicirikan oleh lokasi lahan terhadap jalan Utama/Strategis, jumlah
Court Yard, warna tiang, bentuk dan kerumitan ornamen atap, serta jumlah trave hall : 9 (kaisar ) 7

(putra mahkota) 5 (Mandarin) 3 ( rakyat biasa)

5. Koordinasi atau orientasi, sebagai sikap dan pandangan terhadap rumah sebagai sel dasar arsitektur
dan keluarga merupakan mikrokosmos dari tatanan masyarakat umum sehingga pengaturan dan

koordinasi sel dasar memiliki arti sebagai pengaturan dan koordinasi dunia

6. Tata Ruang Rumah


7. Struktur dan Konstruksi, konsep yang diterapkan pada rangka atap dengan sistem saling tumpang,
bukan kuda-kuda dengan penyangga miring, kolom sebagai pendukung beban atap, dinding sebagai

pembatas non struktural dan sistem bracket ( Tou Kung).

8. Stilistika, seluruh permukaan bangunan penuh dengan dekorasi,


pola lantai : diagonal ( jen), hexagonal (Kou), Susunan Bata ( Ting),

bangunan menggunakan konstruksi kayu dan dengan kombinasi

warna yang menyolok seperti merah, kuning dan hitam.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (8 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

Hierarki pemerintahan administrasi perkotaan dan desa di Cina yang diterapkan sejak masa dinasti Chin terdiri

dari empat tingkat yaitu :

County town = kota ( xian )

Township = sub kota ( xiang )

Market Town = kota dagang ( zhen )

Village = desa ( cun )

Dalam perencanaan kota-kota awal di Cina terdapat beberapa prinsip sebagai berikut.

1. Kota Berdinding

Dinding sebagai unsur penting dalam formulasi bentuk/struktur kota

2. Konsep Keseimbangan

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (9 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

Kesan Stabil dengan Keseimbangan Dinamis

Komposisi Arsitektural

Konsepsi Confusius : Formal, Simetri, Garis Lurus, Beraturan, Kejelasan

Komposisi Lansekap

Komposisi Taoisme : Informal, Asimetri, Misteri, Garis Lengkung, Tak Beraturan, Romantis dan

Alam Liar

3. Prosedur Perancangan dan Perencanaan Kota

Pemilihan Tapak berdasarakan pengamatan Aspek Alami : Topografi, Geologi, Sumber Air,

Orientasi

Hubungan Lahan dengan Bentuk/Struktur Kota dimana bentuk ditentukan oleh hubungan Simbolik,

Estetik dan Fungsional antara Kota dan Lingkungan

Berdasarkan Prinsip-prinsip Keseimbangan Yin dan Yang

B.2. Tipologi Arsitektur Cina

Dari perjalan

sejarah yang

panjang

terhadap

perkembangan

arsitektur di

Cina terdapat

beberapa

tipologi

arsitektur Cina

seperti Istana,

Kuil atau

Kelenteng,

Gerbang (Pai Lou), Pagoda ( 5 7 tingkat), Tembok Raksasa sekitar 3000 kilometer, Kuburan yang memiliki

fungsi dan karakteristik sendiri. Pada dasarnya arsitektur Budha Cina terbagi atas arsitektur pagoda, kuil

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (10 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2
budha, dan pahat dinding batu.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (11 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

Dari bangunan arsitektur religius yang beragam dan dipengaruhi oleh Budha, Cina juga kaya dengan

arsitektur vernakular. Di wilayah bagian selatan, yang merupakan induk dari rumpun Austronesia menjadi

konsep awal dari aristektur Austronesia. Beberapa tipologi rumah vernakular Cina yang ada di Cina dibagi atas

beberapa tipe seperti :

Rumah bata dengan ruang terbuka persegi di sebelah utara China (siheyuan) (I)

Arsitektur subterranean di wilayah loess seperti Shanxi, Shaanxi dan provinsi Henan (II)

Arsitektur dengan konstruksi kayu dan bata di sebelah barat dan barat daya China(III)

Konstruksi kayu di sebelah timur china (IV)

Arsitektur tanah liat dan kayu di Hakka (Fujian), Guangdong dan Jiangxi (V)

Batu bata, kayu dan bangunan batu sepanjang selatan China (VI)

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (12 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

Tipikal rumah di China Bagian Utara ( Northern China)

Tipe rumah yang memiliki halamn tengah atau dijenal dengan sebutan siheyuan (Courtyard house)

Adanya hutong (gang sempit sebagai frontage dari rumah )

Gerbang yang berornamen menuju ke court yard yang disebut dengan chuihuamen (hanging flower

gate)

Pada tipe dasar hanya terdapat satu ourt yard, sedangkan jumlah court yard bergantung pada besar

rumah.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (13 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (14 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (15 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

Tipikal rumah dan desa di Loess Region

Cave dwelling (troglodytic houses)

Subterranean house (semi troglodytic house)

Adanya kang (tempat tidur yang terbuat dari tanah liat)

Desa gua

Desa gua di Gansu yang menunjukkan masing-masing rumah memiliki courtyard

Rumah Gua (cave dwelling) memiliki konsep arsitektur sebagai berikut:

Pintu masuk (Entriway) berbentuk vault

Adanya courtyard

Satu rumah biasanya terdiri atas dua atau tiga ruang

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (16 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (17 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

Tipe rumah Subterranean house (semitroglodytic houses)

Frontage rumah berada pada sisi sebuah tebing

Adanya close courtyard

Entryway memiliki vault

Keuntungannya, lebih banyak bukaan untuk sirkulasi udara dan angina dan lebih sedikit resikonya

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (18 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

terhadap

gempa

China

Bagian

Timur

(Eastern

China)

Terbagi

atas dua

geografi :

dataran

landai

(Jiangsu

dan

sebelah

utara

Zhejiang)

dan

berbukit

(sebelah

selatan

Anhui dan Zhejiang)

Sepanjang sungai Yangtze, sebagai area paling subur di china

Courtyard brick gate

Suzhou house (row houses)

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (19 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2
China Bagian Barat dan Barat Daya

(Western and South-Western China)

Brick house

Bentuk atap berundak atau bertingkat-tingkat

Small courtyard

Hakka Region

Besar, berbentuk persegi dan lingkaran

Terbuat dari bata (brick)

Adanya enclose structure (weizi)

Dataran pantai sebelah selatan (The Southern Coast)

Courtyard house

Material bangunan granite block dan bata merah dan kayu

Dekorasi biasanya pada bagian atap yang terbuat dari kayu

Material Bangunan dan Teknologi

Pit dwelling =Rumah bawah tanah (yaodong):

Tanah kuning =tanah liat =huangtu ( clay brick)

Endapan lumpur sungai yang dikeringkan (mud brick)

Tanah lempung ( pounded earth)

Setelah tahun 1949 :

Adobe brick = tanah liat dan jerami yang dipadatkan kemudian dibakar

Granite block dan Bata merah

Konstruksi atap : kayu dan genteng

Bentuk dan Ruang

Modul atau standar dimensi ruang adalah jian

Jian adalah ruang yang berada pada interval kolom yang memiliki ukuran tertentu (lebar dan

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (20 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

panjang) termasuk ukuran tingginya (volume ruang)

Banyaknya jian mulai dari satu, tiga dan lima. Jumlah jian yang genap dihindarkan karena mewakili

bentuk asimetri dan bentuk yang tidak tentu.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%208.htm (21 of 21)5/8/2007 3:33:02 PM


2

9s .

ejarah perkembangan dan konsep


arsitektur JEPANG

A. Sejarah Perkembangan Budaya dan Pemerintahan di Jepang

Jepang adalah sebuah negara kepulauan yang terdiri dari kira-kira 4000 pulau mulai dari Hokkaido di utara

hingga Okinawa di Selatan. Ada empat pulau besar yang memiliki populasi cukup tinggi yaitu Honshu,

Hokkaido, Kyushu, dan Shikoku Jepang beriklim sejuk, cuaca dingin berasal dari utara dan panas berasal dari

Selatan. Hampir seluruh wilayah memiliki empat musim; dingin, gugur, semi dan panas, terutama di wilayah

utara. Area pegunungan meliputi hampir 75% dari seluruh luas wilayahnya dan termasuk negara yang memiliki

gunung berapi yang banyak di dunia sehingga gempa sering terjadi dan terdapat banyak titik sumber air panas

(hotspring). Perkembangan budaya, ekonomi, dan politik mengalami proses yang panjang sejak dari masa

prasejarah hingga sekarang ini.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (1 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

Tabel 9.1. Kronologi Perkembangan Sejarah dan Pemerintahan di Jepang

Jaman/ Masa Periode Pemerintahan/ Karakteristik dan Sejarah


Kekaisaran
Jaman Prasejarah Paleolithic age Budaya primitif : Gua sebagai habitat
(before 10.000 SM) hidup manusia, budaya berburu, kapak
batu
Jomon Period Pit dwelling, barang tembikar, alat-alat
(10.000 SM-300SM) selain batu, berburu, menangkap ikan,
pertanian primitive dengan penebangan
dan pembakaran
Yayoi Period (300 Teknik bercocok tanam padi,
SM-300) masyarakat komunal, perlengkapan
mulai bervariasi dari kayu dan batu

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (2 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

Kofun/Yamato Ekonomi pertanian berkembang,


Period ( 300- 552) bangunan panggung, rumah individu
berkembang, pembuatan tungku
pembakaran dari tanah liat,
perkembangan peralatan tembikar dan
perunggul, pembentukan komunitas
kecil (kuni) dengan tata aturannya.
Jaman Klasik Asuka Period (552- Ekonomi pertanian berkembang pesat,
645) pembentuk birokrasi pemerintahan
dengan sentralisasi kekuasaan (tenno),
ritsuryo sistem, agama budha
diperkenalkan, pengaruh budaya dan
teknologi dari Cina dan Korea,
pembangunan fisik ibukota Heijo (Nara)
dan Heian (Kyoto), munculnya strata
sosial dalam masyarakat
Nara Period (645- Perdagangan berkembang,
794) pembentukan kota-kota, pembangunan
dua ibukota, strata sosial masyarakat
menguat, perubahan ritsuryo sistem,
pembangunan kuil-kuil Budha (Pagoda)
Heian Period (794- Golongan aristokrat terbentuk,
1185) akulturasi agama asli dengan budha,
adopsi arsitektur Budha dari Cina
(Pagoda), tumbuhnya rumah
bangsawan (shinden style), townhouse,
dan farm house.

Jaman Pertengahan Kamakura Period (1185- Peralihan pemerintah dari istana ke


1333) golongan militer (shogun), pemindahan
ibukota ke Kamakura, kyoto sebagai
pusat ekonomi dan budaya, pengenalan
Zen-Budhism, tipe rumah samurai
Peningkatan craftsmenship berikut
organisasinya, pembangunan jalan
(highway) dari Kamakura ke Kyoto,
munculnya lebih dari 30 post-town
(shukuba machi), konsep tea house
mulai tumbuh.
Nambokucho (1333 Kekuasaan Shogunate makin menguat,
1392) samurai dwelling, peralihan shogun
Kamakura ke shogun Muromachi
Muromachi Period (1392- Shogun Muromachi menggantikan
1568) shogun Kamakura, Kyoto sebagai
perwakilan pemerintahan, terdapat
bangunan Shoin style,samurai resident
masih berkembang, pengembangan
shinden style,munculnya konsep
ukuran ruang, kuil budha makin
berkembang dipengaruhi arsitektur Cina.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (3 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

Jaman Pre Modern Momoyama (1568-1615) Peningkatan keahlian dan peralatan


pertukangan (craftsment), shoin style,
townhouse dan farm house makin
berkembang, perekonomian
berkembang dari skala kecil menjadi
provinsial estat, dan timbul konsep kota
baru : castel-town.
Edo (Tokugawa) Period Shogun Tokugawa, pemindahan ibukota
(1615-1867) ke Edo (Tokyo), istana dan kekaisaran
masih exist, perkembangan sosial
masyarakat biasa (commoners); petani
dan pedagang, townhouse (machiya)
dan farm house (minka) makin
bervariasi, pengembangan sistem
sankin-kotai dan muncul katsura
detached palace, alat pertukangan
makin maju, pembangunan highway
dan pertumbuhan kota-kota baru (post
town) sepanjang jalur kereta api.

Jaman Modern Meiji Period (1867-1912) Shogun Tokugawa jatuh, era


pemerintahan modern terbentuk, Kaisar
Meiji pindah ke Kyoto, restorasi Meiji,
Tokyo sebaga ibukota pemerintahan,
pembentukan kekaisaran dalam
pemerintahan, pembangunan jalur
kereta api, kontak dengan asing (barat),
promosi kaum kapitalis, pembangunan
pabrik modern, masyarakat menengah
tumbuh dan berkembang, pendirian
sekolah formal teknik, pengaruh
western style dalam rancangan
bangunan dan lingkungan
Taisho Period ( 1912- Pemerintahan modern masih berlanjut,
1926) perubahan lifestyle menjadi modern life
style, modernisasi meliputi segala aspek
termasuk arsitektur, pembangunan
apartemen, kota metropolitan dan
perkembangan industri modern.
Showa Period (1926- Pemerintahan modern masih berlanjut,
1989) penggunaan peralatan modern,
pembangunan pabrik, nasional housing,
industri booming, westernisasi dalam
banyak aspek termasuk tenik bangunan
Heisei Period (1989- Modernisasi dengan isu-isu sentral :back
present) to nature, kemanusiaan serta
pembangunan berkelanjutan

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (4 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

B. Kronologi Sejarah Perkembangan Arsitektur

Perkembangan arsitektur Jepang yang dimulai sejak masa pra-sejarah yang pada saat itu sangat dipengaruhi

oleh budaya Austronesia hingga berbagai macam pengaruh dari negara tetangga: Cina dan Korea serta

pengaruh barat yang pertama kali dibawa bangsa Eropa. Secara singkat kronologi perkembangan arsitektur di

Jepang dapat dilihat dari skema dibawah ini.

9.2. Kronologi

Perkembangan

Arsitektur

Jepang mulai

masa pra-

sejarah

hingga

modern

Berbagai tipe

dan fungsi

bangunan

yang

berkembang

mulai masa prasejarah, medieval (Nara) hingga periode Edo dalam arsitektur Jepang, antara lain rumah

primitif, bangunan religius: Kuil (Shinto dan Buddha), istana dan puri, rumah toko (machiya), rumah tinggal

prajurit (rumah para samurai), vila atau paviliun bangsawan, gedung teater kabuki, rumah tinggal petani

(minka), sekolah dan rumah tempat minum teh. Kesemuanya memiliki karakteristik desain tersendiri.

B.1. Pertumbuhan Kota-kota Awal Jepang

Pertumbuhan kota-kota baru di Jepang dimulai sejak masa Nara. Masuknya Budha pada abad ke-6 telah

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (5 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

membuka hubungan perdagangan internasional yang erat dengan Asia khususnya Cina yang dikuasai oleh

Dinasti Tang pada masa itu dan Kerajaan yang menguasai jalan sutra. Hubungan dagang tersebut telah

membawa pengaruh pada ekonomi, sosial politik dan hukum. Sehingga tidak heran bahwa perencanaan kota

Heian (Kyoto) merupakan replika yang lebih kecil dari desain kota Cangan, ibukota Dinasti Tang. Konsep itu

pula sebelumnya telah diadopsi dalam perencanaan kota Naniwa pada tahun 645 (sekarang Osaka), kota

Fujiwara pada tahun 694 (sekarang sebelah selatan kota Nara), kota Heijo pada tahun 710 (Nara), kota Kuni

pada tahun 740, kota Nagaoka, dan kota Otsu.

Perencanaan kota-kota tersebut umumnya menggunakan konsep grid. Jalan menjadi pemisah setiap zona,

terdapat satu jalan raya utama menuju kompleks istana Kekaisaran yang memerintah pada masa itu dan

membelah kota menjadi dua bagian disebut Kota sebelah kiri (Sakyo) dan kota sebelah kanan (Ukyo). Rumah

kerabat atau bangsawan berada disekitar komplek istana. Besarnya kota banyaknya zona ditentukan dari sosial

ekonomi dan politik dari pemerintahan pada masa tersebut. Kota Heian lebih besar dari kota-kota awal Jepang

saat itu.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (6 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (7 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

B.2. Tipologi Bangunan Vernakular Jepang

Rumah Primitif

Ciri-ciri dan karakteristik rumah Austronesia tampak pada rumah Jepang pada masa prasejarah. Pengaruh

budaya, iklim dan alam sangat menentukan konsep arsitektur rumah awal Jepang. Bentuk rumah tenda berdiri

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (8 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

diatas tanah yang dilubangi (pit dwelling) merupakan perkembangan dari rumah gua. Kemudian, sejalan

dengan perkembangan peradaban, telah mengakibatkan terjadinya evolusi pada bentuk dan konsep rumah. Pit

dwelling berevolusi menjadi pit dwelling dengan dinding, kemudian menjadi rumah panggung (raised floor

dwelling) dengan struktur kayu dan atap alang-alang. Semua perangkat dan peralatan yang digunakan

mengalami perubahan dan kemajuan. Pada saat itu rumah bukan lagi semata sebagai tempat berlindung dari

panas dan hujan akan tetapi sudah menjadi penanda status sosial di dalam masyarakat. Pada masa Jomon, pit

dwelling dengan dinding banyak didirikan, Kemudian pada masa Yayoi dan Kofun, rumah panggung (takayuka)

yang pada sebelumnya hanya dibangun sebagai tipikal lumbung menjadi favorit.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (9 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

Pada masa Kofun, terdapat gap yang lebar antara kaum petani yang maju dan kaum aristokrat. Antara

pertengahan abad ke-4 hingga abad ke-5 muncul satu sistem strata sosial yang disebut uji-kabane.

Kemungkingan sistem strata sosial ini dipengaruhi oleh Kerajaan Silla di semenanjung Korea. Kemudian agama

Budha masuk dari Cina dan Korea, akan tetapi pada masa itu kepercayaan lokal (Shinto) yang disimbolkan

dengan Amaraterasu o-mikami (dewa Matahari) telah mengakar dan menjadi simbol pemerintahan pada masa

itu. Beberapa kuil Shinto yang megah telah dibangun baik di Ise, Izumo dan Sumiyoshi. Konstruksi ketiga kuil

ini menggambarkan konsep bangunan Austronesia; bangunan yang dinaikan, denah ruang persegi, lantai ruang

berada di atas tiang-tiang yang beralaskan batu, atap pelana, simbol menyilang seperti tanduk kuda di ujung

atap. Pada saat yang bersamaan waktu itu pengaruh Budha datang dari Cina dan Korea. Pengaruh teknik

bangunan kuil Budha sangat besar pada perkembangan kuil Shinto.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (10 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (11 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (12 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

Bangunan Religius

Setelah Budha masuk ke daratan Jepang dari Cina dan Korea, pengaruh arsitektur Budha dari Cina sangat

besar. Pada masa itu, orang Cina datang bukan hanya membawa dan menyebarkan agama Budha, akan tetapi

juga membawa atribut yang berhubungan dengan tempat peribadatan agama Budha. Kuil Budha pertama yang

dibangun abad ke-7 yaitu kompleks kuil Horyu-ji, di dekat Nara. Pembangunan kuil ini memakan waktu sekitar

8 tahun dan selama itu pula telah terjadi transfer teknologi arsitektur Budha antara para tukang dari Cina yang

datang khusus mendirikan bangunan tersebut dengan tukang Jepang sendiri. Konsep Pagoda bertingkat 5 yang

biasanya terdapat pada kuil Budha dari Cina diadopsi pada kuil ini. Jumlah Pagoda hanya satu dan berada di

tengah kompleks kuil. Material bangunan yang digunakan seperti halnya di Cina, kuil Budha ini terbuat

keseluruhan dari kayu, dengan konsep sambungan balok dan tiang menggunakan pasak dan tekan, bagian

sambungan balok atas menggunakan teknik bracket yang merupakan teknik konstruksi khas kuil Budha di Cina.

Setelah selesai pembangunan kuil Horyu-ji kemudian disambung dengan pembangunan kuil Todai-ji di sebelah

Timur dari kuil Horyu-ji, Nara pada tahun 745 yang memiliki dua buah pagoda tujuh tingkat didalamnya terdapat

patung Budha raksasa. Berikutnya, kuil Budha yang menerapkan konsep arsitektur Jepang berkembang pada masa Heian.

Kuil Budha terkenal pada itu dan mewakili kuil Budha berarsitektur Jepang yaitu Phoenix Hall di Uji, dekat Kyoto. Awalnya

bangunan ini adalah vila bangsawan, kemudian berubah menjadi kuil. Kuil ini merepresentasikan puncak dari kuil budha

dengan arsitektur Jepang yang kemudian dikenal dengan Fujiwara Style dengan penerapan konsep Pagoda yang baru

berbeda dari yang sebelumnya, disebut dengan hoto. Hoto menerapkan heaven dome dari simbol Budha pada atap pagoda

kemudian digabungkan dengan pent-roof (mokoshi) pada keempat sisinya.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (13 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

Pada abad ke-13 muncul konsep arsitektur kuil Zen-Budhisme. Konsep denah kuil Jepang melekat pada konsep simetris

pada kuil Cina. Penekanan pada hiasan patung dan eklektisme pada kuil Budha terus berlangsung hingga pertengahan abad

ke-14. Hingga sekarang ini kuil budha memiliki berbagai macam langgam namun konse pagoda bertingkat mulai

ditinggalkan, prototipe kuil Shinto diabadikan sebagai konsep awal kuil Shinto yang sederhana. Lokasi kuil yang dianggap

baik yaitu di atas lahan berbukit dekat dengan hutan, danau kemudian penataan tata ruang luar yang menunjang bagi

proses meditasi.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (14 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (15 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

Rumah Rakyat

Biasa

( Machiya dan

Minka)

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (16 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

Perkembangan

perdagangan mulai

tampak pada masa

Heian. Pembentukan

kota-kota awal Jepang

merupakan titik awal

perdagangan

internasional pada

masa itu dengan Asia

khususnya Cina. Dalam

perencanaan kota

Fujiwara, Heijo dan

Heian terdapat dua

lokasi pasar yang

menjadikan titik

tersebut lokasi

komersial dari kota-

kota yang

direncanakan. Dari

perkembangan kota

tersebut muncul satu

tipe bangunan komersial yang disebut dengan Machiya (lebih mirip artinya dengan rumah toko di Indonesia).

Machiya adalah sebuah konsep rumah perkotaan/toko (townhouse) yang mulai berkembang sejak masa Heian

sejalan perkembangan perekonomian, konsep perdagangan dan politik yang membentuk pertumbuhan kota-

kota baru. Biasanya rumah tersebut tidak lebar, bagian depan untuk berdagang dan bagian belakang untuk

tinggal, suasana interior dapat dilihat pada gambar berikut ini.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (17 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

Selain machiya, rumah untuk rakyat biasa (commoners house) yang mengalami pertumbuhan pesat pada masa

Edo yaitu minka. Penekanan perekoknomian pada pertanian sejak masa medieval hingga awal modern telah

menyebabkan tumbuh suburnya tipe rumah petani. Minka ini bukan hanya sebagai rumah petani, tetapi

termasuk juga rumah para pedagang-pedagang kaya. Terdapat banyak tipe minka yang tersebar di seluruh

wilayah Jepang seperti tipe Odachi, Sasu, Gassho, Takabei, Bunto, Kudo dan lain sebagainya. Jika ditinjau dari

material dan teknologi bangunan, semua tipe minka menggunakan struktur kayu, dengan dinding dari plesteran

tanah liat, kayu dan bambu, atapnya dari jerami dan alang-alang serta genteng. Secara garis besar tatanan

ruang dalam minka dibagi atas tiga bagian yaitu Doma, ima dan zashiki. Doma adalah ruang dengan lantai

tanah, digunakan sebagai entrance, ruang kerja, dapur dan kandang ternak. Ima (hiroma/ itanoma) adalah

ruang keluarga (living room), dan zashiki adalah ruang tamu (guest room). Biasanya didalam ruang tamu diberi

alas tikar yang disebut tatami, terdapat tokonoma: sebuah yang ditinggikan lantainya, tempat hiasan lukisan

dan rangkaian bunga (ikebana).

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (18 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

Ditinjau dari segi bentuk dan ruangnya maka terdapat beberapa bentuk yaitu persegi (sugoya), bentuk L

(magariya) dan Chmon (U-shape). Berdasarkan bentuk atap, terdapat tiga bentuk dasar atap yaitu atap pelana

atau kampung dengan sopi-sopi (kirizuma/gable roof), atap limasan (yosemune/hip roof), gabungan atap

pelana dan limasan (irimoya/hipped and gabled roof). Atap pelana atau kampung merupakan atap yang banyak

digunakan dalam rumah petani. Struktur bangunan bergantung kepda tipe bangunan dan atap.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (19 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

Puri dan Kota Puri (Castel and Casteltown)

Konsep kota Puri (casteltown) dimulai sejak masa shogun Momoyama. Bangunan puri (donjon) dan kota puri ini

dibangun sebagai benteng pertahanan atas serangan musuh. Pada saat itu (medieval era) di Jepang juga

disebut dengan era perang. Peperangan terjadi pada dasarnya terjadi antara dua kubu militer kuat Jepang

masa itu : Minamoto dan Taira, yang sering juga disebut dengan Genji dan Heike. Penggunaan senjata api

yang diperkenalkan oleh Portugis pada masa sebelumnya telah membawa wilayah Jepang kepada masa

peperangan yang hebat. Hampir setiap wilayah ibukota pemerintahan Shogun memiliki puri dengan desain dan

ukuran sesuai dengan kedudukan penguasa pada saat tersebut. Kuil Maruoka dan Matsumoto menjadi kuil

pertama yang dibangun pada akhir abad ke-16. Kuil yang terbesar dan termegah dibangun tahun 1609 hingga

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (20 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

sekarang ini masih berdiri adalah puri Himeji, terletak di Hyogo Prefecture, sebelah barat Tokyo. Puri ini

memiliki tinggi 45 meter, terdiri dari 5 tingkat dan 6 lantai (satu lantai dibangun dalam pondasi batu yang

tingginya 15 meter). Ada tiga bangunan puri di sekitar puri utama ini yang dinamakan puri barat, puri barat

laut, dan puri Timur. Keempat puri ini dihubungkan oleh koridor (watariyagura) dan dikelilingi oleh pagar

tembok tinggi. Jalan masuk dari gerbang hingga ke puri utama dibuat membingungkan dan menjebak sehingga

tidak mudah bagi musuh untuk masuk ke dalamnya. Pagar tembok dikelilingi oleh parit/selokan yang cukup

dalam dan lebar, sebagai pertahanan pertama terhadap serangan musuh. Tipikal tata ruang luar ini juga

diterapkan oleh puri-puri lain.

Secara keseluruhan struktur bangunan puri terdiri dari konstruksi kayu, yang mudah terbakar sehingga menjadi

kelemahan ketika perang berlangsung. Akan tetapi pondasi bangunan yang tinggi dan terbuat dari batu

menyulitkan bagi musuh naik keatas. Pada dasarnya terdiri bangunan bertumpu pada dua tiang utama yang

besar menerus hingga ke bagian atas bangunan, tiang ini disebut dengan tiang kehidupan. Puri ini dirancang

sebagai tempat tinggal temporer selama pengepungan oleh musuh, bukan dirancang untuk didiami dalam

jangka waktu yang lama. Pada lantai atas, terdapat ruang pengintai yang digunakan untuk melakukan

serangan. Atap bangunan bertingkat dan menunjukkan kestabilan struktur bangunan. Lokasi puri ini berada di

are perbukitan, dari puri dapat dilihat pemandangan kota Himeji.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (21 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

Rumah Minum teh

Pembangunan rumah atau tempat minum teh dimulai sejak masa Kamakura dan mulai menjadi tradisi sejak

masa Muromachi. Pada awalnya upacara teh ini ditujukan untuk menjamu orang-orang yang dekat dengan

shogun yang berkuasa pada masa itu sambil santai dan menikmati seni porselin Cina. Kemudian dalam

perkembangannya tujuan dari pendirian rumah minum teh ini adalah untuk menjamu dan mengisi waktu

bersama teman, kerabat, kolega sambil menikmati seni rancangan taman disekitarnya dan interior bangunan

untuk menyegarkan pikiran tas kegiatan rutinitas yang membosankan. Upacara minum teh di dalam cangkir tak

bertangkai kecil memiliki seni dan aturan yang khas, rasanya teh yang segar dan hangat dapat menghilangkan

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (22 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

kepenatan setelah selesai bekerja.

Desain rancangan rumah minum teh bervariasi di seluruh wilayah Jepang dan menekankan pada material alami

seperti kayu, bambu, dinding tanah liat, anyaman jerami. Ada beberapa tipe rumah minum teh seperti tipe

Taian, tipe Soan, tipe Konnichian, tipe Kebun (Tipe Fushinan dan Zangetsutei). Dari semua tipe tersebut dapat

dilihat bahwa tata ruang rumah minum teh adalah sederhana, pada prinsipnya terdiri dari dua ruang, ruang

duduk untuk minum teh, dan ruang pantri atau ruang untuk menyediakan teh atau ruang mencuci peralatan.

Ruang duduk biasanya beralas tikar atau tatami sedangkan ruang persiapan dan cuci berlantai papan kayu.

Seringkali terdapat tungku ditengah-tengah ruang duduk yang berfungsi untuk menghangatkan teh dan orang

yang duduk didalamnya dari cuaca dingin di luar bangunan. Ukuran besar ruang minum teh juga bervariasi

mulai dari dua tatami hingga empat setengah tatami, akan tetapi ada juga yang lebih dari empat setengah

tatami tergantung kebutuhan dan status sosial pemilik. Terkadang rumah teh berdekatan dengan rumah induk,

tapi ada juga yang terisolasi, tipe rumah teh ini seringkali digunakan untuk beristirahat melepaskan kepenatan

dan kelelahan setelah bekerja, misalnya tipe Fuhinan dan Zangetsutei, tipe ini terdapat di tengah kota Kyoto

Tipe Taian adalah tipe yang terdapat di kota yamasaki sebelah selatan Kyoto. Tipe ini memiliki hiasan pada

interior baik pada tokonoma yang disebut dengan murodoko. Tipe rumah teh dengan ukuran dua tatami

banyak terdapat di kepulauan Rikyu, sebelah selatan Jepang. Tipe Yuin merupakan rancangan rumah tea yang

banyak terdapat di Kyoto berikut dengan tipe Konnichian yang sering terdapat bersama-sama dengan tipe Yuin.

Tipe Joan banyak diterapkan di Inuyama, sebelah timur Kyoto (Jepang tengah).

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (23 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

C. Sistem Ukuran dan Proporsi

Pada akhir abad pertengahan, para tukang menemukan satu sistem ukuran dan proporsi yang diterapkan untuk

seluruh tipe bangunan mulai dari kuil, rumah, pagoda, gerbang, istana dan lain sebagainya. Sistem tersebut

dinamakan Kiwari yang berarti pembagian kayu. Selain untuk menentukan panjang kayu untuk ruangan, juga

menentukan tebal tiang kayu. Standar ukuran rumah yang disebut dengan satu modul yaitu satu ken atau 6.5

syaku sama dengan 197 cm dan tebal kolom adalah 1/10 dari ken atau 19.7 cm. Sudut tiang kayu dipotong

450. Sistem ukuran ini masih berlangsung hingga sekarang ini, dan banyak diterapkan pada pembuatan industri
di Jepang..

Dalam

perkembangannya,

sejak masa Edo

hingga saat ini,

standar ukuran

syaku mengalami

perubahan. Pada

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (24 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

saat itu satu syaku

sama dengan 6

ken (1 syaku sama

dengan 0.303 m,

dan 1 ken sama

dengan 1.818 m).

Kemudian akhir-

akhir ini digunakan

satu standar

ukuran yang

dinamakan tsubo

yang sama

besarnya dengan 6

feet square atau 3.3. m2. Akan tetapi, sejak masa heian, untuk ukuran ruang telah digunakan konsep tatami.

Berbagai macam model dan konfigurasi tatami menentukan bentuk ruang. Hingga saat ini, konsep tatami ini

masih digunakan untuk menentukan besaran dan bentuk ruang walaupun merupakan bangunan dengan

langgam barat (western style).

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%209.htm (25 of 25)5/8/2007 3:33:04 PM


2

.
10 PENUTUP

Pemikiran dan konsep arsitektur Timur bisa diwakili dari melihat konsep arsitektur di Nusantara, Cina dan

India. Terdapat perbedaan dan persamaan di antara arsitektur tersebut dimana kebudayaan yang lebih

dahulu di daerah tertentu mempengaruhi kebudayaan di daerah lain. Penyebaran abama menjadi satu

jalan untuk menyebarkan keilmuan baik dalam bidang kebudayaan, politik, dan arsitektur. Satu contoh

seperti evolusi stupa dari India hingga pagoda di Cina dan Jepang, kemudian di Indonesia menjadi meru

yang meyimbolkan kepada bangunan sakral untuk pencipta.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%2010.htm (1 of 3)5/8/2007 3:33:04 PM


2

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%2010.htm (2 of 3)5/8/2007 3:33:04 PM


2

Pemikiran atas pembagian ruang sakral dan profan menjadi ciri dalam konsep rumah dan tata ruang kota

timur. Perletakannya tergantung dari agama, tradisi, lingkungan dan alam sekitar dari masyarakat yang

mendiami wilayah tersebut.

Strata sosial memberikan pengaruh dalam perletakan rumah dan desa. Seringkali simbol status dan

kedudukan penghuni rumah diungkapkan dalam ornamen yang menghiasi bangunan.

Pemikiran ketiga hal tersebut tidak kuat muncul dalam arsitektur Barat. Kecenderungan akan pemikiran

rasio sangat terlihat sehingga menjadi salah satu perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan

arsitektur timur.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Bab%2010.htm (3 of 3)5/8/2007 3:33:04 PM


file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/coverbukuajar.htm

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/coverbukuajar.htm (1 of 2)5/8/2007 3:33:05 PM


file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/coverbukuajar.htm

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/coverbukuajar.htm (2 of 2)5/8/2007 3:33:05 PM


Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang

D aftar Gambar
hal.

Gambar 1.1. Indonesia dan Jaringan Asia 4

Gambar 2.1. Struktur Candi 11

Gambar 2.2. Berbagai macam elemen dan hiasan pada bangunan candi 13

Gambar 2.3. Teknik Konstruksi Dinding Berdaun Ganda 14

Gambar 2.4. Tata Urutan Pembangunan Candi 15

Gambar 2.5. Sebaran Arsitektur Klasik Indonesia 11

Gambar 2.6. Candi-candi di Jawa Tengah Utara 17

Gambar 2.7. Candi di Jawa Tengah Selatan 17

Gambar 2.8. Candi Panataran di Blitar 18

Gambar 2.9. Candi Jago (Wisnuwardhana) 18

Gambar 2.10. Candi Jabung, Jawa Timur 19

Gambar 2.11. Candi Biaro Bahal 1, Padang Lawas, Sumatera 20

Gambar 2.12. Candi Pada Masa Klasik Akhir 21

Gambar 3.1. Persebaran Kota-Kota Islam Awal di Nusantara 24

Gambar 3.2. Pelabuhan di lingkungan Banda Aceh 26

Gambar 3.3. Bentuk dan ragam hias batu nisan kuno 27

Gambar 3.4. Mesjid yang mendapat pengaruh arsitektur candi dan arsitektur vernakular 29

Gambar 3.5. Mesjid yang mendapatkan pengaruh India (arsitektur Moghul) 30

Gambar 3.6. Mesjid yangmendapat pengaruh arsitektur kolonial (modern Eropa) 30

Gambar 3.7. Kompleks Keraton Yogyakarta 33

Gambar 3.8. Istana Pagaruyung Sumatera Barat 33

Gambar 3.9. Istana Maimoon Kesultanan Deli, Medan 34

Gambar 3.10. Bekas Istana Ternate (awal abad ke-18) 34

Gambar 4.1. Lokasi Persebaran Austronesia 35

Gambar 4.2. ArsitekturVernakular Indonesia yang menggunakan tanduk kuda dan atap pelana 38

Gambar 4.3. Sebaran Lokasi arsitektur vernakular Indonesia 41

Gambar 4.4. Tipe Arsitektur Vernakular Indonesia 40

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/daftar%20gambar.htm (1 of 4)5/8/2007 3:33:05 PM


Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang

Gambar 4.5. Pola Perkampungan di Bawomataluo, Nias Selatan 42

Gambar 4.6. Perkampungan dengan pola Linear 43

Gambar 4.7. Pembagian ruang pada rumah Batak Toba dan Jawa 44

Gambar 4.8. Tata ruang rumah Kalimantan 45

Gambar 4.9. Proses Pendirian Tiang dan Balok pada rumah Batak Toba 46

Gambar 4.10. Teknik konstruksi rumah vernakular Indonesia 46

Gambar 4.11. Penopang batang silang pada rumah Nias Utara dan Selatan 47

Gambar 4.12. Pemasangan piringan kayu besar menjadi ciri khas konstruksi lumbung Indonesia berasal 47

dari Austronesia

Gambar 4.13. Ritual permulaan pendirian rumah Melayu 48

Gambar 4.4. Raga-raga pada rumah Batak Toba 49

Gambar 4.15. Kosmologi rumah toraja sebagai jagad kecil 50

Gambar 4.16. Pembagian jagat kecil pada rumah Batak Toba 51

Gambar 5.1. Kota-kota Kolonial di Indonesia 54

Gambar 5.2. Siatuasi Pelabuhan Batavia 54

Gambar 5.3. Ibukota Kerajaan Banten abad ke-16, berdasarkan Willem Lodewiyckz 55

Gambar 5.4. Kediaman Reine de Klerk di Batavia, sekarang kantor Arsip Nasional 56

Gambar 5.5. Bangunan Kolonial Bergaya neo-Klasik 57

Gambar 5.6. Rumah Pedalaman gaya Hindia Belanda di pemukiman Arab, Semarang 57

Gambar 5.7. Kantor Gubernur Pemerintah Hindia Belanda di Surabaya dirancang arsitek W.Lemei 59

Gambar 5.8. Beberapa karya arsitektur Thomas Karsten 60

Gambar 5.9. Beberapa bangunan karya arsitek Henri Maclaine Pont 61

Gambar 5.10. Beberapa rancangan bangunan karya C.P. Wolf Schoemaker 62

Gambar 5.11. Kantor Pusat Bank Jawa, arsitek Hulswit Fermont dan Cuypers,1909 63

Gambar 5.12. Gedung Lingkaran Seni Hindia-Belanda (1914), Batavia, arsitek P.A.J.Mooijen 64

Gambar 5.13. Kantor Pusat Perusahaan Jawatan Kereta Api Hindia Belanda, Semarang, 1902-1907 65

Gambar 5.14. Algemeene Maatschappij voor Levensverzekering en Lijfrente (Perusahaan Umum 66

untuk Asuransi Jiwa dan Cagak Hidup), Surabaya, H.P. Berlage 1900

Gambar 5.15. Gedung Sate, karya J.Gerber, 1920 66

Gambar 6.1. Gedung Bank Indonesia, karya arsitek F. Silaban 66

Gambar 6.2. Tugu Monumen Nasional (MONAS), Jakarta 68

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/daftar%20gambar.htm (2 of 4)5/8/2007 3:33:05 PM


Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang

Gambar 6.3. Masjid Istiqlal karya F.Silaban Jakarta 69

Gambar 6.4. Kampus STEKPI Jakarta, karya grup arsitek Atelier 6 72

Gambar 6.5. Kantor Rektorat UI Depok Jakarta 72

Gambar 6.6. Tugu Park Hotel, karya trio arsitek DCM, B.Hendropurnomo, S.Sutanto, dan D. Hendrasto 73

Gambar 7.1. Peta Wilayah India sejak 1780-1905 75

Gambar 7.2. Persebaran Wilayah Kerajaan Hindu di India abad ke-5 sampai dengan abad ke-13 78

Gambar 7.3. Mandala dan Vastuphursamandala 79

Gambar 7.4. Garbha griha, inti dari sebuah kuil Hindu dalam Vimana 80

Gambar 7.5. Mandapa pada Kuil Sunak, Nilakanta 81

Gambar 7.6. Mandapa pada kuil Mahabalipuram 81

Gambar 7.7. Pemandangan kompleks kuil Tiruvarur dengan beberapa lapis gopura 82

Gambar 7.8. Gopura bagian dalam kuil Rajarajeshvara di Tanjavur 83

Gambar 7.9. Persebaran Tinggalan Sejarah pada masa awal Budha (abad ke-4 SM - 5 M) 84

Gambar 7.10. Tugu Prasasti Maurya, bagian dari kebijakan kerajaaan Ashoka 85

Gambar 7.11. Situs Kompleks Mahastupa Sanchi 86

Gambar 7.12. Struktur dan konsep arsitektur stupa 87

Gambar 7.13. Ajanta, salah satu lokasi chaitya 88

Gambar 7.14. Berbagai macam tipikal Chaitya dari persebarannya di seluruh India 89

Gambar 7.15. Berbagai macam Tipikal Vihara (monasteries) 90

Gambar 8.1. Peta Wilayah Cina 91

Gambar 8.2. Kompas dari filosofi Feng Shui 94

Gambar 8.3. Diagram dari landscape elemen topografi yang baik 95

Gambar 8.4. Situs Kota Terlarang Cina 97

Gambar 8.5. Gerbang sebagai symbol sosial masyarakat yang berdiam 98

Gambar 8.6. Beberapa tipe pagoda dan spesifikasi material bangunannya 99

Gambar 8.7. Pembagian tipe rumah berdasarkan wilayah 100

Gambar 8.8. Tata ruang rumah tipe siheyuan 101

Gambar 8.9. Tipe rumah siheyuan yang tedapat di wilayah Cina utara 102

Gambar 8.10. Bentuk dan dimensi ruang dari rumah gua 103

Gambar 8.12. Desa gua di Loess region 103

Gambar 8.13. Tipe rumah semitroglodytic 104

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/daftar%20gambar.htm (3 of 4)5/8/2007 3:33:05 PM


Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang

Gambar 9.1. Peta wilayah Jepang 107

Gambar 9.2. Kronologi Perkembangan Arsitektur Jepang mulai masa pra-sejarah hingga modern 111

Gambar 9.3. Kota-kota Awal Jepang pada abad pertengahan 112

Gambar 9.4. Konsep Perancangan Ibukota Heian, sekarang Kyoto 113

Gambar 9.5. Denah dan Ekterior Pit Dwelling Yayoi 114

Gambar 9.6. Bangunan primitive Jepang dan evolusinya 115

Gambar 9.7. Tipikal bangunan kuil Shinto 116

Gambar 9.8. Kompleks Kuil Budha Horyu-ji di Nara dengan satu pagoda 118

Gambar 9.9. Teknik konstruksi bangunan pagoda dan kuil Budha 119

Gambar 9.10. Kuil Budha yang mendapat pengaruh Arsitektur Budha dari Cina 119

Gambar 9.11. Tipikal Rumah Perkotaan (Machiya) 120

Gambar 9.12. Berbagai macam variasi tipe rakyat biasa (minka) 122

Gambar 9.13. Berbagai macam tipe puri digunakan sebagai benteng pertahanan dalam masa 124

peperangan mulai Kamakura hingga Edo

Gambar 9.14. Berbagai macam variasi tipe rumah/tempat minum teh 126

Gambar 9.15. Tatami sabagai konsep ukuran dan bentuk ruang 127

Gambar 10.1. Evolusi Stupa ke Pagoda dan Meru 128

Gambar 10.2. Atap meru Indonesia 129

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/daftar%20gambar.htm (4 of 4)5/8/2007 3:33:05 PM


Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang

D aftar Isi

Hal.

Kata Pengantar

Daftar Isi ii

Daftar Gambar v

Daftar Tabel viii

1 SEJARAH PERKEMBANGAN ARSITEKTUR INDONESIA 1

A.Sejarah Nusantara 1

A.1. Sejarah Singkat Nusantara 1

A.2. Geografi Dan Lingkungan 3

A.3. Keragaman Budaya 3

B.Nusantara dan Jaringan Asia 3

C.Sejaah Perkembangan Arsitektur Indonesia 5

2 Arsitektur INDONESIA PADA ERA Hindu dan Buddha 8

A.Kerajaan Hindu dan Budha di Nusantara 8

B.Arsitektur Candi 10

B.1. Fungsi 10

B.2. Tatanan, Bagian dan Konsep Arsitektural Candi 11

B.3. Teknik Konstruksi dan Pembangunan Candi 13

B.4. Pembagian kelompok arsitektur candi 15

3 Arsitektur INDONESIA pADa masa perkembangan ISLAM 22

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Daftar%20isi-fix.htm (1 of 4)5/8/2007 3:33:06 PM


Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang

A.Kerajaan Islam di Nusantara 22

B.Pertumbuhan Kota-Kota Islam Awal 23

C.Makam dan Pekuburan Orang Islam 26

D.Masjid sebagai Tempat Suci 28

C.1. Kronologis perkembangan arsitektur masjid 28

C.2. Tatanan , Bagian dan Konsep Arsitektural Mesjid 31

E.Istana Kerajaan Islam 32

4 Arsitektur VERNAKULAR INDONESIA 35

ASejarah Perkembangan Arsitektur Vernakular Indonesia 35

A.1. Hubungan Austronesia dan Indonesia 35

A.2. Pengertian Arsitektur Vernakular 38

B.Tipe Arsitektur Vernakular Indonesia: Keberagaman dan Kesamaannya 39

B.1. Pola Perkampungan 41

B.2. Rumah dan Tantanan Ruang 44

B.3. Teknologi Bangunan : Bahan Bangunan dan Teknik Konstruksi 45

B.4. Upacara ritual Pendirian Bangunan 48

5 Arsitektur kolonial indonesia

A.Sejarah Kolonialisasi di Indonesia 52

B.Pembentukan Kota-kota kolonial di Indonesia 53

C.Arsitektur Kolonial Indonesia 55

C.1. Perkembangan Arsitektur Kolonial Indonesia 55

C.2. Arsitek dan biro arsitek yang berkarya di Indonesia 59

6 Arsitektur INDONESIA pasca kemerdekaan)

A.Arsitektur Warisan Belanda 67

B.Kronologis Perkembangan Arsitektur Modern Indonesia 67

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Daftar%20isi-fix.htm (2 of 4)5/8/2007 3:33:06 PM


Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang

7 sejarah perkembangan dan konsep arsitektur india

A.Sejarah Perkembangan Arsitektur India 74

B.Arsitektur Hindu 76

B.1. Garbha griha 79

B.2. Pelataran depan atau Mandapa 80

B.3. Gerbang Piramid Gopura 82

B.4. Hall Berpilar atau Choultri 83

C.Arsitektur Budha 84

C.1. Stupa 87

C.2. Chaitya Griha 88

C.3.Vihara (Monasteries) 90

8 sejarah perkembangan dan konsep arsitektur china

A.Sejarah Perkembangan Budaya dan Dinasti di China

B.Sistem sosial budaya Cina 93

C. Sejarah Perkembangan Arsitektur Cina 93

B.1. Konsep dan Filosofi Arsitektur Cina 93

B.2. Tipologi Arsitektur Cina 98

9 sejarah perkembangan dan konsep arsitektur JEPANG

A.Sejarah Perkembangan Budaya dan Pemerintahan di Jepang 107

B.Kronologi Sejarah Perkembangan Arsitektur 110

B.1. Pertumbuhan Kota-kota Awal Jepang 111

B.2. Tipologi Bangunan Vernakular Jepang 113

C.Sistem Ukuran dan Proporsi 126

10 PENUTUP 128

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Daftar%20isi-fix.htm (3 of 4)5/8/2007 3:33:06 PM


Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang

Kepustakaan dan Sumber Gambar 130

CATATAN 133

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Daftar%20isi-fix.htm (4 of 4)5/8/2007 3:33:06 PM


Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang

D aftar Tabel

hal.
Table 2.1. Tinggalan Sejarah Kerajaan-kerajaan selama era Hindu Budha 9

Tabel 2.2. Perbedaan bentuk dan langgam candi Jawa tengah dan Jawa Timur. 19

Tabel 8.1. Tata Urutan Dinasti di Cina dan Karakteristik Sejarahnya 92

Tabel 9.1. Kronologi Perkembangan Sejarah dan Pemerintahan di Jepang 106

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/daftar%20tabel.htm5/8/2007 3:33:06 PM
Kata Pengantar

K ata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat Karunia-Nyalah buku ajar ini
dapat tersusun. Buku ajar ini disusun merupakan salah satu hasil pengembangan program E-learning

yang sedang dilakukan di Universitas Sumatera Utara yang dimaksudkan untuk peningkatan proses

belajar mengajar yang dpat diakses dimana saja dan kapan saja.

Buku ini ditujukan sebagai salah satu bahan ajar untuk mata kuliah untuk mata kuliah Sejarah Teori

Arsitektur 03, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Secara garis besar,

buku ajar ini berisi dua bagian, pertama yaitu perkembangan sejarah arsitektur Indonesia, dan kedua,

sejarah perkembangan atsitektur di Asia khususnya di India, China dan Jepang. Selain itu buku ini juga

ditujukan untuk mengisi keterbatasan pustaka yang sangat diperlukan oleh mahasiswa dalam mempelajari

sejarah perkembangan arsitektur di tanah air. Buku ini menggambarkan secara singkat dan padat

tentang sejarah perkembangan arsitektur di India, China dan Jepang khususnya arsitektur vernakular di

ketiga negara tersebut.

Mengingat waktu pengerjaan yang singkat sekitar 6 (enam) minggu, tentu banyak terdapat

kekurangan pada buku ajar ini sehingga kami sebagai penulis dengan segala kerendahan hati

mengharapkan kesediaan reviewer dan pembaca memberikan kritikan dan saran bagi perbaikan buku ajar

ini di masa yang akan datang. Untuk itu kepada pengelola program pengembangan E-learning, jajaran

pimpinan Universitas Sumatra Utara, rekan-rekan di departemen Arsitektur, serta pembaca kami ucapkan

terima kasih yang tak terhingga, harapan kami agar buku ini dapat mencapai sasaran dan dimanfaatkan

secara optimal.

Medan, Desember 2006

Penulis,

Isnen Fitri, ST, M.Eng.

NIP. 132 206 819

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Kata%20Pengantar.htm5/8/2007 3:33:06 PM
KEPUSTAKAAN DAN SUMBER GAMBAR

KEPUSTAKAAN DAN SUMBER GAMBAR


AlSayyad, Nezar/Bourdier, Jean-Paul (ed.) 1989. Traditional Dwellings and Settlements Working

Paper Series, ca 40 vols.; Berkeley.

Ananda K. Coomaraswamy, 1965, History of Indian and Indonesian Art, Dover Publication, Inc.,

New York,

Atmadi, Parmono, 1990, Arsitektur Candi Indoensia, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Budihardjo, Eko, 1991, Jatidiri Arsitektur Indonesia, Alumni, Bandung.

Cribb, Robert, 2000, Historical Atlas of Indonesia, Curzon press, New Azian Library.

Crouch, P. Dora et al, 2001, Tradition in Architecture, Oxford University Press, New York,

Dawson, Barry & Gillow, John, 1994, The Traditional Architecture of Indonesia, Thames and

Hudson, London.

Domenig, G. 1980, Tektonik im Primitiven Dachbau (Tectonics in Primitive Roof Construction ),

Zurich;Institut Gaudenz/ETH.

Eryudhawan,Bambang dkk (ed), 1990, Karya Arsitektur Muda Indonesia, , PT Subur, Jakarta.

Fergusson, James, 1859, Handbook of Architecture, John Murray Albemarble Street, London.

Fletcher, Sir Banister, 1975, A History of Architecture, Athlone Press, London,

Frampton, Kenneth et al, 1997, Japanese Building Practice; From Ancient Times to the Meiji Period,

Van Nostrand Reinhold, New York,

Hanafi, Zulkifli, 1985, Kompendium Sejarah: Seni Bina Timur, USM Press, P.Pinang.

Inoue, Matsuo, (1985), Space in Japanese Architecture, Hiroshi Watanabe trans. New York; John

Weatherhill Inc.

G. Knapp, Ronald, 2003, Asias Old Dwelling; Tradition, Resilience, and Change, Oxford University

Press, Hongkong.

Guillot, Claude (ed), 2002, Lobu Tua Sejarah Awal Barus, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

G. Knapp, Ronald, 2003, Asias Old Dwelling; Tradition, Resilience, and Change, Oxford University

Press, Hongkong.

Lombard Denys, 1996, Nusa Jawa: Silang Budaya, Buku 1, Batas-batas Pembaratan, Gramedia

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20...xtbook/KEPUSTAKAAN%20DAN%20SUMBER%20GAMBAR.htm (1 of 3)5/8/2007 3:33:06 PM


KEPUSTAKAAN DAN SUMBER GAMBAR

Pustaka Utama, Jakarta.

________, 1996, Nusa Jawa: Silang Budaya, Buku 2, Jaringan Asia, Gramedia Pustaka Utama,

Jakarta.

________, 1996, Nusa Jawa: Silang Budaya, Buku 3, Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris,

Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Mangunwijaya, Y.B., 1992, Wastu Citra, Penerbit Gramedia, Jakarta.

Miksic, John (ed), 1993, Indonesian Heritage, vol.2 : Sejarah awal , Archipelago Press, Singapura,

1993.

Morse, Edward S., 1961, Japanese Homes and Their Surroundings, Dover Publication Inc., New

York.

Nishi Kazuo et al, 1985, What is Japanese Architecture?, Kodansha International Ltd, Tokyo,

Oliver, Paul (ed), 2003, Dwellings; The vernacular House world wide, Phaidon Press Limited,

London,

______________, 1986, Dwellings; The house across the world, University of Texas Press, Austin..

______________, 1997, Encyclopedia of Vernacular Architecture of the world, volume 1,

Cambridge University Press, United Kingdom.


O. L. Tobing, 1963.The structure of the Toba-Batak belief in the High God, South and South-East
Celebes Institute for Culture.
Prijotomo, Josef (1988), Pasang Surut Arsitektur di Indonesia, Surabaya: Penerbit CV. Ardjun

Rapoport, Amos, , 1969, House form and Culture, Prentice Hall, London.

Rudofsky, Bernard, 1964, Architecture without architects, Academy Editions, London.

Sergeant,G., and.Saleh,R., 1973, Traditional Building of Indonesia, vol.1:Batak Toba;Vol.2:Batak

Karo;Vol.3:Batak Simalungun/Mandailing, Bandung,Rehoce (Regional Housing Centre).

Soekmono, 1973, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, volume 1, Kanisius, Yogyakarta.

_________, 1973, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, volume 2, Kanisius, Yogyakarta.

_________, 1973, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, volume 3, Kanisius, Yogyakarta.

________, 2005, Candi : Fungsi dan Pengertiannya, Jendela Pustaka.

S.P. Napitupulu, et al, 1986, Arsitektur Tradisional Sumatra Utara, Jakarta, Departemen Pendidikan

dan Kebudayaan.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20...xtbook/KEPUSTAKAAN%20DAN%20SUMBER%20GAMBAR.htm (2 of 3)5/8/2007 3:33:06 PM


KEPUSTAKAAN DAN SUMBER GAMBAR

Sures, Thomas, 1999, Early Mapping of Southeast Asia, Periplus Edition, Singapore.

Sumalyo, Yulianto, 1993, Arsitektur Masjid Kuno, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

_________________, 2000, Arsitektur Masjid dan Monumen Sejarah Muslim, Gadjah Mada

University Press, Yogyakarta.

_________________, 1993, Arsitektur Kolonial Belanda, Gadjah Mada University Press,

Yogyakarta,

Sumintardja, D., 1978, Kompendium Sejarah Arsitektur Indonesia, Yayasan LPMB

Tadgell, Christopher, 1990, The History of Architecture in India, Phaidon Press Limited, Singapore.

Tjahyono, Gunawan (ed), 1993, Indonesian Heritage, vol.6 : Arsitektur, Archipelago Press,

Singapura.

Uka, Tjandrasasmita, 2000, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia dari abad
XIII hingga abad ke XVIII, Menara Kudus, Kudus.

Viaro, M.Alain, 1980, Urbanisme et architecture tradisionnels du sud de lle de Nias, UNESCO.

Waterson, Roxane, 1991, The Living House, Oxford Univ. Press, Singapore.

Yuan, Lim Jee, 1987, The Malay House Rediscovering Malaysias Indigenous Shelter System,

Malaysia: The Institut Masyarakat

------------------, Bulettin Koninklijke Nederlandse Oudheidkundige Bond (KNOB), Jaargang 104,

2005, no. 6, Walburg Grafische Diensten, AL Zutphen

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20...xtbook/KEPUSTAKAAN%20DAN%20SUMBER%20GAMBAR.htm (3 of 3)5/8/2007 3:33:06 PM


1

Catatan

Bab 1
1. Guillot, Claude, Lobu Tua, Sejarah Awal Barus, Yayasan Obor, Jakarta, 2002, hal 51-53.
2. Sures, Thomas, 1999, Early Mapping of Southeast Asia, Periplus Edition, Singapore, hal.122, 147
3. Lombart, Nusa Jawa : Silang Budaya, 1996, hal 14.

Bab 2
1. Miksic, John, 1993, Indonesian Heritage, vol.2 : Sejarah awal, hal.58, Archipelago Press,
Singapura, 1993.
2. ibid
3. ibid

Bab 3
1. Soekmono, 1973, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, volume 3, hal.K 43-48, Kanisius,
Yogyakarta.
2. Miksic, John, 1993, Indonesian Heritage, vol.2 : Sejarah awal, hal. 88, Archipelago Press,
Singapura, 1993
3. Uka, Tjandrasasmita, 2000, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia dari
abad XIII hingga abad ke XVIII, hal.45
4. Soekmono, 1973, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, volume 3, hal., Kanisius, Yogyakarta.
5. Miksic, John, 1993, Indonesian Heritage, vol.2 : Sejarah awal, hal. 88, Archipelago Press,
Singapura, 1993
6. Uka, Tjandrasasmita, 2000, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia dari
abad XIII hingga abad ke XVIII, hal. 168
7. lihat Domenig 1981 hal. 162

Bab 4
1. Tjahyono, Gunawan (ed), 1993, Indonesian Heritage, vol.6 : Architecture , Archipelago Press,

Singapura hal. 9

2. Rapoport, Amos, , 1969, House form and Culture, Preentice Hall, London

3. Bernard Rudofsky, dirangkum dari Architecture without Architects, 1964, Academy Editions,
London.

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Note.htm (1 of 2)5/8/2007 3:33:07 PM


1

4. o.p cit. Leon Krier

5. op. cit. Steve Mouzon

6. Tobing (1963:p.78), raga-raga adalah benda yang dikeramatkan dari daun-daunan diletakan

dalam keranjang kemudian digantungkan ke struktur atap rumah. Raga-raga ini dipercayai sebagai

spirit untuk mengusir roh jahat atau gangguan dari luar yang mengancam keselamatan rumah.

Bab 5

1. Ir. Handinoto dalam bukunya Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya)
2. Ir. Handinoto dalam bukunya Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya)
3. Tjahyono, Gunawan (ed), 1993, Indonesian Heritage, vol.6 : Architecture , Archipelago Press,
Singapura hal. 9

4. Ir. Handinoto dalam bukunya Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya)

Bab 6.
1. Suryono Herlambang dalam tulisannya pada buku AMI, Penjelajahan 1990-1995, sekaligus
merupakan generasi ketiga arsitek Indonesia?, hal.34-39):

Bab 7
1. Budaya dan arsitektur Veda memberi pengaruh yang besar dalam arsitektur India, banyak
manuscript yang ditulis dalam bahasa Veda menceritakan tentang benteng yang terbuat dari batu dan
metal. Suku veda memiliki sejumlah kata-kata yang mengungkapkan berbagai jenis rumah termasuk
chhardis (rumah dengan atap alang-alang), harmyam (rumah dari batu dengan court yard pada
tengah-tengah bangunan dan gotra (multi-dwelling complex dengan kandang untuk binatang).

file:///D|/E-Learning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/Note.htm (2 of 2)5/8/2007 3:33:07 PM