Anda di halaman 1dari 7

MATERI 3 PPKN : KONSTITUSI

Dosen Pembimbing : Nurhayati Harahap, Dra.,M.Hum

Oleh : KELOMPOK 3

1. USWATUN PANJAITAN 150406030


2. ENDANG PUTRI HEMANDA 150406031
3. RIDWAN HASVI 150406032
4. ARLIYAN RAMADHAN 150406033
5. PRATIWI NINGTYAS 150406035
6. RIRIN ASFRITA 150406036
7. CHRISTIN BUTAR-BUTAR 150406038
8. SONIA R.M Br. SITOMPUL 150406039
9. THAREQ MUHAMMAD M. SOLIN 150406040
10. RAHMI HAMSAINI H. 150406041

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2018
1. Kemukakan dua contoh tantangan kehidupan bernegara saat ini, yang menurut Anda
perlu diantisipasi. Apakah pasal-pasal dalam UUD NKRI 1945 sekarang sudah
mampu menjadi pedoman untuk menyelesaikan tantangan tersebut? Jika belum,
apakah aturan tersebut perlu dilakukan perubahan? Mengapa demikian?

Jawab :

Contoh tantangan kehidupan bernegara saat ini, yang menurut Anda perlu diantisipasi di
Indonesia yaitu :

 Sikap intoleran terhadap Bhineka Tunggal Ika yang mengusung ideologis selain
Pancasila.

kehidupan berbangsa dan bernegara sedang mengalamai tantangan. Kebhinekaan kita sedang
diuji.

Saat ini ada pandangan dan tindakan yang mengancam kebhinekaan dan kebersamaan kita.
Saat ini ada sikap tidak toleran yang mengusung ideologis selain Pancasila.

Masalah ini semakin mencemaskan tatkala diperparah oleh penyalahgunaan media sosial
yang banyak menggunakan Hoax alias kabar bohong.

“Maka dari itu kita perlu belajar dari pengalaman buruk Negara lain yang dihantui oleh
radikalisme, konflik sosial, terorisme, dan perang ssaudara” .

Dengan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, bisa
terhindar dari masalah tersebut. Kita bisa hidup rukun dan bergotong royong untuk
memajukan Negeri. Dengan Pancasila, Indonesia adalah harapan dan rujukan masyarakat
internasional untuk membangun dunia yang damai, adil dan makmur ditengah kemajemukan.

Oleh karena itu, Presiden mengajak peran aktif para ulama, ustadz, pendeta, pastor, bhiksu,
pedanda, tokoh masyarakat, pendidik, pelaku seni dan budaya, pelaku media, jajaran
birokrasi, TNI dan Polri serta seluruh komponen masyarakat untuk menjaga Pancasila.
Pemahaman dan Pengamalan Pancasila dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus
terus di tingkatkan. Ceramah keagamaan, materi pendidikan, fokus pemberitaan dan
perdebatan di media sosial harus menjadi bagian dalam pendalaman dan pengalaman nilai
nilai Pancasila.

Komitmen Pemerintah untuk penguatan Pancasila sudah jelas dan sangat kuat. Berbagai
upaya terus kita lakukan. Telah diundangkan peraturan Presiden nomor 54 tahun 2017
tentang unit kerja Presiden pembinaan ideologi Pancasila. Bersama seluruh komponen
bangsa, lembaga baru ini ditugaskan untuk memperkuat pengalaman Pancasila dalam
kehidupan sehari – hari, yang terintegrasi dangan program program Pembangunan.
Pengentasan kemiskinan, pemerataan kesejahteraan dan berbagai program lainnya menjadi
bagian integral dari pengalaman nilai nilai Pancasila.

Kita juga harus waspada terhadap segala bentuk pemahaman dan gerakan yang tidak sejalan
dengan Pancasila. Pemerintah akan bertindak tegas terhadap organisasi organisasi dan
gerakan gerakan yang anti Pancasila, anti UUD 1945, anti NKRI, anti Bhineka Tunggal Ika.
Pemerintah pasti bertindak tegas jika masih terdapat paham dan gerakan komunisme yang
jelas jelas sudah dilarang dibumi Indonesia.

Meskipun tokoh-tokoh LSM banyak yang menyatakan hal ini sebagai sesuatu yang mengada-
ada, pada kenyataannya potensi ancaman yang dihadapi negara Republik Indonesia
tampaknya akan lebih banyak muncul dari dalam negeri, antara lain dalam bentuk :
a. Disintegrasi bangsa, melalui gerakan-gerakan separatis berdasarkan sentimen
kesukuan atau pemberontakan akibat ketidakpuasan daerah terhadap kebijakan
pemerintah pusat.

b. Keresahan sosial akibat ketimpangan kebijakan ekonomi dan pelanggaran Hak Asasi
Manusia yang pada gilirannya dapat menyebabkan huru-hara/kerusuhan massal.

c. upaya penggantian ideologi PancaSila dengan ideologi lain yang ekstrim atau yang
tidak sesuai dengan jiwa dan semangat perjuangan bangsa Indonesia

d. potensi konflik antar kelompok/golongan baikakibat perbedaan pendapat dalam


masalah politik, maupun akibat masalah SARA

e. makar atau penggulingan pemerintah yang sah dan konstitusional

 Permasalahan Korupsi yang merajalela di Indonesia merupakan salah satu


faktor utama timbulnya permasalahan ketimpangan Sosial.
Demokrasi yang dijalankan bangsa ini yang selalu didengung-dengungkan keberhasilannya,
ternyata menurut tokoh agama Franz Magnis Suseno, masih menunjukkan banyak
kelemahan. Salah satunya ditandai dengan semakin banyaknya tindak korupsi yang terungkap
ke publik. Ini menjadi tantangan serius yang dihadapi bangsa ini.

Menurut dia, banyaknya tindakan korupsi berdampak pada kehidupan banyak orang yang
diliputi ketakutan dan akhirnya menimbulkan kekerasan, penghancuran hak milik dan
pelanggaran kebebasan bergerak.

“Tindakan itu semua bisa kita sebut sebagai kelemahan demokrasi yang berkaitan dengan
kegagalan revolusi 1998,” paparnya dalam diskusi Aliansi Kebangsaan bertema ‘Pembukaan
UUD 1945 sebagai Tolak Ukur dan Rujukan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara’, di
Jakarta, Jumat lalu.

Hadir dalam diskusi ini antara lain, budayawan Dr Taufik Abdullah, politisi Hajriyanto
Tohari, pengamat politik Dr Yudi Latif, dan Sekretaris Pribadi anggota Dewan Pertimbangan
Presiden (Wantimpres) KH Ahmad Hasyim Muzadi, Aas Subarkah.

Karenanya, kata Franz Suseno, bangsa Indonesia harus kembali berorientasi pada Pembukaan
Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

“Mengapa, karena Pembukaan UUD 1945 dengan indah merumuskan apa yang akan menjadi
tekad dan cita-cita bangsa Indonesia pada saat memproklamasikan kemerdekaan. Bangsa
Indonesia harus senantiasa setia kepada semangat Pembukaan UUD 1945, berkomitmen pada
demokrasi dan hak asasi manusia,” tegasnnya.

Ia menegaskan, kita harus mampu menutup pintu terhadap kembalinya segala bentuk
neofeodalisme dan kekuasaan oligarki. Karena sudah menjadi hak rakyat Indonesia untuk
ikut menentukan ke mana arah bangsa ini dan siapa yang memimpin.

Sementara itu, KH. Hasyim Muzadi mengakui saat ini korupsi memang makin merebak. Tak
hanya di kalangan politik tapi juga hingga ke pelosok daerah. Hal itu bisa terjadi akibat
otonomi daerah yang kebablasan.

Karenanya, ia berpendapat, saat ini Indonesia mengalami ketimpangan dan ketidakadilan


sosial yang melebar. Ketidakadilan sosial ini bisa menjadi predator dari segala sesuatu yang
bisa dicapai oleh bangsa ini. Bisa dikatakan dalam perjalanannya hingga saat ini, bangsa dan
negara kita belum mencapai optimasi nilai luhur dari Pancasila yang sudah jelas tersirat di
dalam Pembukaan UUD 1945.

“Namun ketika banyak orang mulai dari rakyat hingga bagian pemerintahan mulai
meributkan untuk meninggalkan Pancasila itu artinya bangsa ini sudah bermasalah. Karena
ada yang salah dengan arah bangsa ini yang tidak sesuai dengan cita-cita pendiri republik
ini,” paparnya.

Diungkapkan, Indonesia yang sesuai dengan isi Pembukaan UUD 1945 memerlukan basis
nilai dan lingkungan strategis yang mendukung. Di antaranya agama sebagai sumber nilai
kemajuan, pendidikan yang mampu memberikan pencerahan, kepemimpinan yang profetik
dan keadaban publik.

“Dengan rekontruksi kehidupan kebangsaan itu maka bangsa kita akan benar-benar memiliki
rancangan membangun masa depan yang lahir dari kekuatan rohaniah dan kecerdasan diri
yang utama. Karena seluruh kekuatan bangsa harus memiliki tekad yang kuat dan bersatu
untuk mewujudkan idealisme dan cita-cita kemerdekaan itu guna mencapai negara Indonesia
yang berkemajuan.

Sementara itu, Ketua Aliansi Kebangsaan, Potjo Sutowo mengatakan, Pembukaan UUD 1945
yang menjadi tolak ukur untuk kehidupan bangsa Indonesia sebenarnya masih jauh dari cita-
cita bangsa ini. Namun, sebagai bentuk komitmen moral dan tanggungjawab yang melekat
pada jiwa pergerakan mengenai Indonesia yang mungkin bisa dicapai melalui rekontruksi
kehidupan kebangsaan.

“Untuk mewujudkan rekontruksi kehidupan itu, kita bisa memulainya dengan realita
kehidupan nasional dengam aspek kesejahteraan dan kemakmuran,” ujarnya.

Karena, kata dia, bangsa Indonesia dalam hidup bernegara telah memiliki suatu pandangan
hidup bersama yang bersumber pada akar budayanya dan nilai-nilai religiusnya dengan
pandangan hidup yang mantap. Dengan begitu, bangsa Indonesia akan mengetahui ke arah
mana tujuan yang ingin dicapainya.

 Menurut saya, pasal-pasal dalam UUD NKRI 1945 sudah tepat sebagai pedoman
untuk menyelesaikan tantangan-tantangan kehidupan bernegara tersebut karena
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia untuk
memajukan kesejahteraan umum ,mencerdaskan kehidupan bangsa,melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial, namun yang menjadi kendala di Indonesia adalah Penerapan Hukum Indonesia
yang lemah seperti pisau , Tumpul keatas dan Tajam kebawah. Seharusnya Indonesia
berkaca pada negara-negara lain dengan hukum yang adil, seperti China yang
memberi hukuman mati pada pelaku korupsi yang merugikan negaranya. Bukan
hanya pelaku , namun sekeluarga pelaku pun ikut menanggung kesalahan para pelaku
korupsi. Sekiranya Indonesia harus bertindak tegas seperti negara tersebut agar dapat
membunuh kasus Korupsi yang sudah mendarah daging di Indonesia. Perlunya
Ketegasan ,keadilan dan Kesadaran untuk dapat mengatasi permasalahan-
permasalahan di Indonesia.

2. Anda telah mempelajari konstitusi dan UUD NRI 1945 sebagai konstitusi negara
Indonesia. Kemukakan kembali dengan kalimat Anda sendiri, apa sebenarnya hakikat
dari konstitusi itu?

Jawab:

Konstitusi menurut saya merupakan undang undang atau aturan yang menjadi dasar dari
segala aturan yang berlaku di negara tersebut yang wajib secara keras dipatuhi secara mutlak.

3. Apa pentingnya konstitusi bagi suatu negara, seperti halnya Indonesia dengan adanya
UUD NRI 1945?

Jawab :

Konstitusi memiliki kemuliaan dan arti penting bagi kehidupan suatu negara. Kemuliaan
suatu konstitusilah yang menjadikannya sebagai fundamental law (hukum dasar) dan the
higher law (hukum tertinggi).

Konstitusi memiliki arti penting bagi negara karena tanpa konstitusi bisa jadi tidak akan
terbentuk negara.

Ada tiga hal yang diatur dalam sebuah konstitusi, yaitu sebagai berikut.
a. Jaminan hak asasi manusia bagi seluruh warga negara dan penduduk.
b. Sistem ketatanegaraan yang mendasar.
c. Kedudukan, tugas, dan wewenang lembaga-lembaga negara.

Fungsi konstitusi ada dua, yaitu .


a. membagi kekuasaan dalam negara, yakni antarcabang kekuasaan negara (terutama
kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif) sehingga terwujud sistem checks and
balances dalam penyelenggaraan negara;
b. membatasi kekuasaan pemerintah atau penguasa dalam negara.