Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS TANGGUNGJAWAB AUDITOR TERHADAP

KASUS BANK BUKOPIN BERDASARKAN STANDAR


PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK (SPAP)

Disusun oleh:

RIZKA DESTIANA 18/MAT81687/391022

MAGISTER AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2018
ANALISIS TANGGUNGJAWAB AUDITOR TERHADAP KASUS
BANK BUKOPIN BERDASARKAN STANDAR PROFESIONAL
AKUNTAN PUBLIK (SPAP)
Modifikasi laporan keuangan bukan merupakan hal baru dalam industri perbankan di
Indonesia. Kasus terbaru dari modifikasi laporan keuangan ini muncul di PT Bank Bukopin Tbk
(BBKP) yang merevisi laporan keuangan miliknya untuk tiga tahun terakhir, yaitu tahun 2015,
2016, dan 2017. Direktur Utama Bukopin Eko Rachmansyah Gindo menjelaskan bahwa
permasalahan mengenai restated atau penyampaian kembali laporan keuangan tahun 2016
merupakan temuan dari manajemen yang telah disampaikan kepada Kantor Akuntan Publik
untuk dilakukan restated pada laporan keuangan tahun 2017. Pada bagian Penyajian Kembali
Laporan Keuangan Konsolidasian tahun 2017disebutkan bahwa koreksi laporan keuangan tahun
2015 dan 2016 dilakukan karena telah terjadi kesalahan penyajian pada piutang kartu kredit
Bank dan penambahan saldo cadangan kerugian penurunan nilai asset.

Permasalahan pada kartu kredit disebabkan oleh adanya penjurnalan transaksi abnormal
kartu kredit yang dihasilkan oleh sistem yang tidak sesuai dengan standar akuntansi serta
ketentuan internal perusahaan. Penjurnalan transaksi pada katru kredit bersifat fiktif yang
sebenarnya tidak terdapat aliran dana dari penjurnalan tersebut. Hal tersebut menyebabkan
BBKP merevisi laba bersih tahun 2016 menjadi Rp 183,56 miliar dari laba bersih semula sebesar
Rp 1,08 triliun. Penurunan terbesar (dari Rp 1,06 triliun menjadi 317,88 miliar) terdapat pada
bagian pendapatan provisi dan komisi yang merupakan pendapatan yang berasal dari kartu
kredit. Revisi atas laporan keuangan juga dilakukan pada pembiayaan anak usaha Bank Syariah
Bukopin (BSB) terkait dengan penambahan saldo cadangan kerugian penurunan nilai debitur
tertentu. Akibatnya biaya penyisihan kerugian penurunan nilai atas asset keuangan meningkat
dari Rp 649,05 miliar menjadi Rp 797,65 miliar, sehingga total biaya perseroan juga ikut
mengalami peningkatan sebesar Rp 148,6 miliar.

BBKP secara keseluruhan tidak mengalami dampak khusus yang mengganggu aktivitas
operasional perseroan, layanan nasabah, maupun dampak hukum. Penyesuaian tersebut
berdampak pada Rasio Kecukuoan Modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) yang menurun
manjadi 10,52% di akhir tahun 2017 dan 11,09% pada kuartal I tahun 2018. Hal ini memaksa
Bank Bukopin untuk membuat action plan agar menaikkan rasio CAR menjadi lebih dari 14%.
BBKP akan melakukan Corporate Action pada Juni 2018, Right Issue 30% saham BBKP, dan
akan melakukan revaluasi asset dan divestasi saham perseroan pada Bank Syariah Bukopin
(BSB) sampai dengan 50%.

Menurut informasi yang diperoleh dari CNBC Indonesia, BBKP diketahui melalukan
modifikasi pada data kartu kredit di Bank Bukopin selama lebih dari 5 tahun lalu. Namun pihak
manajemen hanya melakukan penyajian kembali laporan keuangan selama tiga tahun terakhir.
Hal ini disebabkan oleh dibatasinya maksimal penyajian kembali laporan keuangan sampai
dengan tiga tahun. Jumlah kartu kredit yang dimodifikasi juga cukup besar, yakni lebih dari
100.000 kartu kredit. Modifikasi tersebut menyebabkan posisi kredit dan pendapatan berbasis
komisi Bank Bukopin bertambah tidak semestinya. Kejadian tersebut tidak pernah
dipermasalahkan oleh berbagai pengawasan dan audit selama bertahun-tahun. Mulai dari audit
internal, Kantor Akuntan Publik (KAP) sebagai auditor independen, Bank Indonesia sebagai
otoritas sistem pembayaran yang menangani kartu kredit, serta OJK sebagai lembaga yang
bertanggungjawab dalam pengawasan perbankan.

Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai dengan saat ini belum menerima jawaban atas
klarifikasi tindakan modifikasi laporan keuangan yang dilakukan oleh Bank Bukopin kepada
Kantor Akuntan Publik Purwanto, Sungkoro, dan Surja selaku auditor independen yang
mengaudit laporan keuangan milik BBKP selama bertahun-tahun. Kantor Akuntan Publik
Purwanto, Sungkoro, dan Surja terafiliasi dengan Ernst and Young (EY) yang merupakan salah
satu dari anggota big four kantor akuntan dan konsultan terbesar di dunia. Deputi Pengawas
Pasar Modal II Otoritas Jasa Keuangan yaitu Fakhri Hilmi mengatakan bahwa pihaknya sedang
dalam proses melakukan pemeriksaan terhadap laporan keuangan modifikasian milik BBKP
tersebut. Jika ditemukan adanya tindakan kecurangan, baik Bank Bukopin maupun KAP yang
terlibat akan mendapatkan sanksi yang sesuai atas tindakan yang telah dilakukan. Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) berkomitmen akan lebih meningkatkan pengawasan kegiatan perbankan, bukan
hanya dari segi kartu kredit melainkan semua kegiatan operasional bank.

SA Seksi 110 (PSA No.01) paragraf 03 menyebutkan bahwa manajemen bertanggung


jawab untuk menerapkan kebijakan akuntansi yang sehat dan untuk membangun dan
mempertahankan pengendalian intern yang akan, antara lain mencatat, mengolah, meringkas, dan
melaporkan transaksi yang konsisten dengan asersi manajemen yang terkandung dalam laporan
keuangan. Pada kasus Bank Bukopin, pihak manajemen bank telah melakukan kekeliriuan dalam
penjurnalan transaksi yang mengakibatkan pendapatan atas komisi kartu kredit dicatat lebih
besar dari yang seharusnya. Kekeliruan dalam pencatatan tersebut pun masih terus dilakukan
hingga lebih dari satu periode akuntansi. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar atas tanggung
jawab auditor dalam proses pemeriksaan laporan keuangan Bank Bukopin. Auditor memiliki
tanggung jawab dalam merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan
yang memadai tentang apakah laporan keuangan bebasa dari salah saji material, baik dari salah
saji yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan (SA Seksi 110 paragraf 02).

Standar auditimg mengharuskan auditor untuk menyatakan pendapat bahwa laporan


keuangan yang diperiksa sudah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia. Meskipun keyakinan tidak bersifat absolut, namun seorang auditor harus memperoleh
bukti audit yang memadai. Auditor diharuskan untuk bersikap independen yang artinya tidak
mudah untuk dipengaruhi. Indepensi seorang auditor sangat dibutuhkan untuk memberikan
penilaian yang objektif atas bukti audit tersebut. Bukti audit kompeten yang cukup harus
diperoleh melalui proses inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan informasi yang
memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit. Seorang auditor
professional perlu mempertahankan skeptisme profesionalnya dan bersifat konservatif dalam
memeriksa laporan keuangan.

Skeptisme professional dapat dilaksanakan jika auditor menggunakan kemahiran


profesionalnya dengan cermat dan seksama. SA Seksi 230 paragraf 06 menyebutkan bahwa
skeptisme professional adalah sikap yang mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan
melakukan evaluasi secara kritis atas bukti audit. Auditor tidak menganggap bahwa manajemen
bersifat tidak jujur, namun juga tidak menganggap bahwa kejujuran manajemen tidak perlu
dipertanyakan lagi. Auditor sebaiknya tidak cukup puas dengan bukti yamg kurang persuasif
karena keyakinan bahwa manajemen bersifat jujur. Skeptisme professional ini menuntut auditor
untuk selalu berhati-hati dalam menilai bukti audit yang diperoleh.

Auditor akan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai akan kemungkinan
terjadinya salah saji setelah mengaudit sebuah klien dalam beberapa tahun. Namun kebanyakan
auditor lebih cenderung untuk mengurangi risiko bawaan pada tahun-tahun berikutnya
dibandingkan pada tahun pertama audit. Auditor dianggap lalai jika tidak memperhatikan hasil
audit tahub sebelumnya dalam audit tahun berjalan. Salah saji yang terjadi pada periode
sebelumnya memiliki kemungkinan untuk terjadi lagi pada tahun berjalan. Hal tersebut
disebabkan karena beberapa salah saji mempunya sifat yang sistematis dan manajemen
cenderung tidak cepat dalam melakukan perubahan untuk mengatasinya. Situasi seperti ini
menuntut auditor agar lebih bersifat konservatif dalam memeriksa bukti laporan keuangan.
Auditor dibenarkan untuk memiliki sifat “curiga” terhadap laporan keuangan yang di audit.
Konsevatisme (Suwardjono, 2005) adalah sikap dalam menghadapi ketidakpastian untuk
mengambil tindakan atau keputusan atas dasar munculan yang terjelek dari ketidakpastian
tersebut.

Penggunaan kemahiran professional dengan cermat dan seksama memungkinkan auditor


untuk memperoleh keyakinan memahami bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material,
baik yang disebabkan kekeliriuan atau kecurangan. Keyakinan mutlak tidak dapat dicapai karena
sifat bukti audit dan karakteristik kecurangan (dapat disembunyikan). Oleh karena itu, bahkan
jika audit sudah dilaksanakan sesuai dengan standard audit yang ditetapkan Ikatan Akuntan
Indonesia, salah saji material tidak dapat terdeteksi. Penemuan salah saji material di kemudian
hari tidak dapat dijadikan bukti atas (a) kegagalan auditor untuk memperoleh keyakinan
memadai, (b) tidak memadainya perencanaan, pelaksanaan, atau pertimbangan, (c) tidak
digunakannya kemahiran professional dengan cermat dan seksama, atau (d) kegagalan untuk
memenuhi standard auditing yang ditetapkan IAI (SA seksi 230 paragraf 12). Sehingga auditor
bukan merupakan penjamin dan laporannya bukan merupakan sebuah jaminan. Meski demikian,
dalam kasus Bank Bukopin sudah selayaknya auditor yang bertanggung jawab atas laporan yang
diterbitkannya dapat lebih bersifat konservarif dan mempertahankan skeptisme profesionalnya.