Anda di halaman 1dari 3

Perbedaan hepatitis A,B,C,D,E

Jenis Hepatitis
Hepatitis A Hepatitis B Hepatitis C Hepatitis D Hepatitis E
Jenis Virus Virus Hepatitis Virus Hepatitis Virus Hepatitis Virus Hepatitis Virus Hepatitis
A (HVA) B (HVB) C (HVC) D (HVD) E (HVE)
Klasifikasi Picornavirus Hepadnavirus Flavivirus Deltavirus Hepevirus
virus
Masa 15-45 hari 45-160 hari 15-150 hari 30-60 hari 15-50 hari
inkubasi
Transmisi Enteric Parental Parental Parental Enteric
Genom RNA DNA RNA RNA RNA
Penularan Fekal oral Darah/Sekret Darah Darah Darah
Tipe Akut Akut/Kronis Akut/Kronis Akut/Kronis Akut
Penyakit
Pengobatan Simptomatik Simptomatik Simptomatik Simptomatik Simptomatik
Anti-viral Anti-viral Anti-viral
Gejala Ringan-Berat Ringan-Berat Ringan Ringan-Berat Ringan-Berat
Karier Tidak Ya Ya Ya Tidak
Sirosis Tidak Ya Ya Ya Tidak

Segitiga Epidemiologi STDs

1. Host
Host/pejamu dalam segitiga epidemiologi STDs berhubungan dengan beberapa kondisi, seperti:
 Immunology
Imunologi dalam hal ini berhubungan dengan kekebalan tubuh seorang saat agen mulai
masuk dan menginfeksi tubuh. Seseorang dengan kondisi imun yang lemah sangat
memudahkan agen untuk masuk dan mulai menginfeksi tubuh. Namun tidak menutup
kemungkinan bahwa seseorang dengan system imun yang baik tidak terinfeksi,
contohnya dapat dilihat pada seseorang yang melakukan hubungan seksual dengan
seseorang yang positif HIV, orang tersebut secara otomatis akan langsung terinfeksi
walaupun dalam kondisi imun yang baik.
 Genetik
Genetik dalam hal ini seseorang berpotensi terinfeksi PMS jika salah satu anggota
keluarganya sudah positif terjangkit satu PMS. Contoh nya seorang wanita yang positif
terkena HIV/AIDS, ketika ia memiliki anak tidak menutup kemungkinan anaknya juga
akan terinfeksi HIV/AIDS, walaupun kemungkinan untuk negative sangatlah kecil.
 Health Care Seeking
Dalam hal ini berhubungan dengan keinginan seseorang untuk peduli akan hidup sehat.
Seseorang yang selalu memperhatikan semua aspek kesehatan dalam kehidupannya
tentu sangat kecil kemungkinan bagi dia untuk terinfeksi berbagai agen penyakit.
Begitupun sebaliknya, jika seseorang cenderung tidak peduli akan kesehatan dan
menerapkan budaya “Hidup Bebas” lebih tinggi beresiko untuk terinfeksi berbagai agen
penyakit.
 Umur
 Jenis Kelamin
 Pilihan dalam Hubungan seksual
 Lama bekerja sebagai pekerja seks komersial.
 Pemakaian kondom
 Status perkawinan
Insiden PMS lebih tinggi pada orang yang belum kawin, bercerai atau orang yang
terpisah dari keluarganya bila dibandingkan dengan orang yang sudah kawin karena
pemenuhan kebutuhan seksualnya terpenuhi (Setyawulan, 2007).

2. Agent
Semua jenis pathogen yang menyebabkan timbulnya penyakit :
 Bakteri
Contohnya:
 Bakteri Chlamydia trachomatis (Klamidia
 Nesseria gonorrhoeae (Gonore/Kencing nanah)
 Treponema pallidum (Sifilis)
 Gardanella vaginalis (vaginosis gardanella)

 Virus
 Herpes simplex (Herpes genital)
 Human Immunodeficiency Virus (HIV/AIDS)
 Human pailloma virus/HPV (Kutil Kelamin)
 Hepatitis (Hepatitis A-E)
 Cytomegalovirus
 Jamur
 Candida albicans(Kandidiasis Vagina)
 Parasit
 Trikomonas vaginalis (Trikomoniasis)
3. Environment/Lingkungan
Environment dalam hal ini adalah segala sesuatu yang mengelilingi dan juga kondisi di luar
manusia atau hewan yang menyebabkan atau memungkinkan penularan penyakit.
Environment juga merupakan faktor ekstrinsik yang cukup penting dalam menentukan
terjadinya proses interaksi antara pejamu dengan unsur penyebab dalam proses terjadinya
penyakit. Beberapa environment dalam STDs yang paling bepengaruh adalah :
 Demografi
 Bertambahnya jumlah penduduk dan pemukiman yang padat.
 Perpindahan populasi yang menambah migrasi dan mobilisasi penduduk
misalnya : perdagangan, hiburan dan lain-lain.
 Meningkatnya prostitusi dan homo seksual.
 Remaja lebih cepat matang dibidang seksual yang ingin lebih cepat
mendapatkan kepuasan seksual.
 Lingkungan Sosial-Ekonomi
Alasan seorang wanita terjerumus menjadi pekerja seks adalah karena desakan
ekonomi, dimana untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari, namun sulitnya mencari
pekerjaan, sehingga menjadi pekerja seks merupakan pekerjaan yang termudah (Utami,
2010). Pelacuran erat hubungannya dengan masalah sosial. Kemiskinan sering memaksa
orang bisa berbuat apa saja demi memenuhi kebutuhan hidup termasuk melacurkan diri
ke lingkaran prostitusi. Hal ini biasanya dialami oleh perempuan kalangan menengah
kebawah (Utami, 2010). Penyebab lain diantaranya tidak memiliki modal untuk kegiatan
ekonomi, tidak memiliki keterampilan maupun pendidikan untuk mendapatkan
pekerjaan yang lebih baik sehingga menjadi pekerja seks merupakan pilihan. Faktor
pendorong lain untuk bekerja sebagai PSK antara lain terkena PHK sehingga untuk dapat
memenuhi kebutuhan hidup menjadi PSK merupakan pekerjaan yang paling mudah
mendapatkan uang (Utami, 2010).
 Faktor kebudayaan
Kekosongan spiritual berhubungan dengan rendahnya pemahaman terhadap nilai-nilai
agama pada pekerja seks komersial yang terlihat. Berdasarkan hasil penelitian bahwa
konflik kebutuhan justru menjadi konflik utama dalam diri mereka, dan bukan konflik
yang disebabkan munculnya perasaan bersalah dan berdosa pada Tuhan. Manajemen
konflik yang dilakukan subjek juga terpusat pada pengelolaan konflik kebutuhan,
sehingga adanya kekosongan spiritual dalam diri mereka yang menyebabkan mereka
tetap bertahan dari pekerjaannya sebagai wanita pekerja seks komersial (Utami, 2010).