Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada saat dilakukan perawatan saluran akar instrumen yang digunakan dapat patah dan
menghambat akses menuju apeks akar. Biasanya jenis instrumen yang digunakan berupa
file, reamer termasuk gates gliden, peeso drill, lentulo-spiral paste fillers,
thermomechanic gutta percha compactor, atau ujung dari alat-alat mekanis seperti
eksplorer atau spreader.

Selama prosedur preparasi saluran akar, kemungkinan patahnya instrumen selalu ada.
Saat ini instrumen yang patah dapat dikeluarkan dengan menggunakan alat ultrasonik
seperti jarum Miller yang dihubungkan dengan tip ultrasonik endo, selain itu diperlukan
juga akses dan visibilitas yang baik sehingga memudahkan operator untuk mengeluarkan
instrumen yang patah tersebut.Apapun jenis bahan instrumen yang digunakan, baik niti
atau stainless steel dan apapun cara penggunaannya manual ataupun dengan
menggunakan mesin dapat berpotensi patah saat dilakukan perawatan saluran akar. Hal-
hal yang paling sering menyebabkan patahnya instrumen adalah penggunaan yang salah
seperti:
1. Tekanan kearah apikal yang berlebihan khususnya pada penggunaan file NiTi.
Tekanan ini dapat menyebabkan instrumen melengkung (defleksi) dalam dinding
saluran akar, gesekan yang kuat pada dinding saluran akar menyebabkan tekanan
berlebihan pada logam sehingga menyebabkan instrumen patah.
2. Aplikasi instrumen pada saluran akar tanpa dilakukan irigasi. Saluran akar yang
kering menyebabkan gaya gesek berlebih dan dapat menyebabkan instrumen patah.
3. File memiliki galur yang dapat mempreparasi dentin yang jika dipakai terus menerus
efisiensinya akan berkurang dan dapat menyebabkan tekanan gesekan yang
berlebihan. Untuk itu tekanan saat instrumentasi dilakukan secara periodik dan
dibersihkan dari debris.
4. Preparasi akses yang tidak adekuat. Dinding pulpa yang menghalangi instrumen pada
saat perawatan endodontik menyebabkan tekanan pada instrumen.
5. Anatomi saluran akar yang sulit.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan patahnya file atau instrument dalam
saluran akar?
b. Apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi file atau instrument yang patah?
c. Apa saja teknik yang dapat digunakan untuk mengatasi file atau instrument yang
patah?

1
1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adaalah sebagai berikut:
a. Agar mahasiswa mengetahui factor-faktor yang dapat menyebabkan patahnya file
atau instrument dalam saluran akar.
b. Agar mahasiswa mengetahui hal apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi
patahnya file atau instrument dalam saluran akar.
c. Agar mahasiswa mengetahui teknik-teknik apa saja yang dapat dilakukan untuk
mengambil file atau instrument yang patah dalam saluran akar.

2
BAB II PEMBAHASAN

Adanya instrumen patah akan menghambat instrumentasi mekanis berikutnya,


sehingga perlu segera dilakukan pengangkatan. Pengangkatan instrumen yang patah
dipengaruhi oleh anatomi gigi, derajat kemiringan saluran akar, dan lokasi patahan instrumen.
Faktor yang mempengaruhi pengambilan instrumen patah harus dapat diidentifikasi.
Kemampuan untuk mengakses serta menyingkirkan instrumen patah secara non bedah
dipengaruhi oleh diameter saluran akar, panjang saluran akar, kelengkungan saluran akar
serta posisi obstruksi dalam saluran akar. Ketika terjadi patah instrument dalam saluran akar,
akan menimbulkan kecemasan dan berharap instrumen dapat dikeluarkan tanpa melakukan
prosedur bedah.

2.1 Faktor-Faktor Penyebab Patahnya Instrument

Menurut Martin, sejumlah faktor dapat dikaitkan dengan patahnya instrumen rotari yang 78,1
% ternyata terbuat dari nikel titanium. Faktor-faktor tersebut adalah:
1. Pengalaman operator.
2. Kecepatan rotasi.
3. Tingkat kelengkungan saluran akar.
4. Desain instrumen.
5. Teknik aplikasi.
6. Prosedur manufaktur.
7. Non-patensi saluran akar

2.2 Prognosa Instrumen yang Patah Dalam Saluran Akar

Patahnya instrumen yang terjadi pada waktu melakukan perawatan saluran akar akan
mempengaruhi prognosis keberhasilan dan kegagalan perawatan. Prognosisnya
bergantung pada seberapa banyak saluran sebelah apikal patahan yang masih belum
dibersihkan dan belum diobturasi serta seberapa banyak patahannya. Prognosis yang baik
jika patahan instrumen yang besar dan terjadi ditahap akhir preparasi serta mendekati
panjang kerja. Prognosis yang lebih buruk jika saluran akar belum dibersihkan dan
patahannya terjadi dekat apeks atau diluar foramen apikalis pada tahap awal preparasi.
(Cohen S, Hargreaves KM. Pathway of the Pulp. 9th ed. Columbus : Mosby; 2006)

3
2.3 Tindakan yang Dapat Dilakukan Untuk Menangani Instrumen yang Patah

Pada saat perawawatan endodontic, resiko patahnya instrument bisa saja terjadi. Instrument-
instrumen yang bisa saja apatah antara lain file stainless steel, Ni-Ti files, lentulo, atau
material lain yang biasanya dimasukkan dlam saluran akar.

Pada beberapa kasus, menghilangkan instrumen yang patah bisa saja tidak memungkinkan
atau sulit dilakukan. Alternatifnya adalah: meninggalkan instrument yang patah tersebut di
tempat, mencoba untuk memotong instrumen, atau operasi pengangkatan. Jika pengambilan
instrument gagal, maka menggunakan teknik bypass terhadap instrument merupakan tindakan
yang konservatif, yang mana teknik ini digunakan disekitar instrument yang patah dengan
instrument yang lain yang biasanya berukuran lebih kecil. Dengan cara ini, saluran akar
dengan instrument yang patah bisa bersih dan instrument yang patah tersebbut dapat
dijadikan sebagai bahan pengisi saluran akar.

2.4 Teknik-Teknik yang Dapat Dilakukan Untuk Menangani Instrumen yang Patah
Banyak teknik yang dapat digunakan untuk pengambilan instrumen yang patah dalam
saluran akar, dan dan pilihan teknik harus didasarkan pada lokasi dari instrumen yang patah.
(Cohen S, Hargreaves KM. Pathway of the Pulp. 9th ed. Columbus : Mosby; 2006) Sebelum
dilakukan pengambilan instrumen yang patah, perlu dilakukan radiografi untuk
memperkirakan ketebalan dinding dentin, kedalaman dan kelengkungan dari saluran akar
tersebut. (Ruddle CJ. Broken Instrument Removal: The Endodontic Challenge. Dentistry
Today. 2002)

Akses koronal adalah tahap awal pada pengambilan instrumen patah. Bur highspeed,
friction grip, dan surgical length burs diperlukan untuk meluruskan preparasi akses pada
orifis saluran akar, selain itu diperlukan pelebaran dinding aksial pada saluran akar tempat
patahnya instrumen. Akses radikular adalah tahap kedua yang diperlukan dalam pengambilan
instrumen yang patah. Jika akses radikular terbatas, dapat diperbesar menggunakan file dari
ukuran kecil sampai file ukuran besar, dan obstruksi korona untuk mendapatkan tempat yang
aman dan cukup dalam penggunaan gates gliden. (Ruddle CJ. Broken Instrument Removal:
The Endodontic Challenge. Dentistry Today. 2002)
Jika file yang patah secara klinis dapat terlihat melalui akses korona maka
pengambilan instrumen yang patah dapat menggunakan hemostat atau stieglitz pliers yang
digunakan untuk memegang file yang patah dengan kuat dan mengeluarkan file tersebut
melalui preparasi akses.. Saat file yang patah sudah terjepit keluarkan dengan diputar
berlawanan arah jarum jam untuk melepas ulir file yang melekat pada dentin. (Cohen S,
Hargreaves KM. Pathway of the Pulp. 9th ed. Columbus : Mosby; 2006)

4
Berikut adalah beberapa teknik yang dapat dilakukan untuk menangani kaasus intrumen yang
patah.

1. Teknik Ultrasonic
Jika letak instrumen yang patah lebih dalam dan visibilitas terbatas, dokter gigi harus
membuat preparasi akses korona-radikular yang lurus dengan menggunakan gates
gliden dan penggunaan instrumen ultrasonik. Ujung ultrasonik diletakkan pada ujung
file yang dimasukkan pada dinding saluran akar kemudian dilakukan vibrasi disekitar
obstruksi dengan memutar berlawanan arah jarum jam untuk melepas tekanan dari
file. Dengan demikian file akan bergerak keluar saluran akar. Untuk mencegah
patahan file masuk ke orifis yang lain, saluran akar tersebut ditutup dengan
menggunakan kapas atau paperpoint. (Cohen S, Hargreaves KM. Pathway of the Pulp.
9th ed. Columbus : Mosby; 2006)

Terdapat berbagai ukuran dan sudut dari ultrasonik tip, semakin dalam obstruksi yang
terjadi dalam saluran akar semakin panjang dan kecil ultrasonik tip yang digunakan
dan harus digunakan dalam kekuatan yang rendah untuk mencegah patahnya
ultrasonik tip. (Cohen S, Hargreaves KM. Pathway of the Pulp. 9th ed. Columbus :
Mosby; 2006)

Menurut M. Syafri dan T. Nugraheni, kasus lentulo patah dapat diakibatkan oleh
kesalahan operator. Pengambilan lentulo yang patah berhasil dilakukan menggunakan
jarum Miller dihubungkan dengan tip ultrasonik endo dan dikombinasi dengan
Hedstroem file no 25 yang sangat efektif dalam mengeluarkan lentulo dari saluran
akar. Pelebaran koronal menggunakan Heroshaper dari Micro mega, cukup
membantu dalam memberikan akses dan visibilitas ke dalam saluran akar, sehingga
proses pengeluaran lentulo yang patah berhasil dilakukan. Penggunaan alat rotari
selama prosedur perawatan saluran akar diperlukan ketelitian dan kewaspadaan dari
operator selama prosedur pengerjaan untuk menghindari terjadinya patah instrumen.
Saat menge-luarkan instrumen yang patah, sangat penting dilakukan pelebaran
koronal sebagai akses dan visibiliti ke dalam saluran akar sehingga prosedur
pengambilan instrumen dapat berhasil dilakukan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan teknik ultrasonic:


a. Gunakan rekomendasi yang diberikan oleh pabrikan (pengaturan daya,
penggunaan, dan lain-lain)
b. Periksa tip ultrasonic, jika lapisan diamond hilang sebaiknya jangan gunakan
instrument untuk menghindari lebih banyak tekanan pada instrumen.

5
2. Teknik bypass

Pemisahan instrumen intrakanal biasanya kompromi hasil perawatan endodontik dan


mengurangi kemungkinan retreatment yang berhasil. Dalam kasus seperti itu, prognosis lebih
baik ketika perpisahan instrumen besar terjadi pada tahap akhir persiapan dekat dengan
panjang kerja. Prognosa lebih rendah untuk gigi dengan kanal yang tidak didebridasi dimana
instrumen kecil dipisahkan pendek dari apeks atau di luar foramen apikal. Meskipun berbagai
teknik dan perangkat untuk mengambil fragmen telah dicoba, tidak ada standar prosedur
untuk menghilangkan instrument yang patah pada salauran akar yang berhasil.

Di antara berbagai metode yang digunakan untuk pengambilan instrumen yang patah, metode
kimia telah
disarankan. Dalam teknik ini, zat kimia seperti yodium triklorida, asam nitrat, asam
hidroklorida dan asam sulfat digunakan untuk mencapai kesengajaan korosi benda logam.
Tapi hal ini dapat mengganggu jaringan periapikal ketika diekstrusi melalui foramen apikal.
Meskipun metode kimia telah digunakan selama lebih dari 30 tahun sebagai perangkat untuk
melepas instrumen yang patah, dan tingkat keberhasilan masing-masing sebanyak 73 dan
44% telah dilaporkan tentang penggunaannya di gigi anterior dan posterior. Ada risiko tinggi
perforasi di bagian apikal saluran akar. Selain itu, teknik ini memiliki aplikasi terbatas pada
gigi dengan akar tipis, akar melengkung atau dalam pengambilan instrumen yang patah
secara apikal. Apalagi itu menggunakan trephans yang relatif besar dan kaku mengambil
sejumlah besar akar dentin dengan demikian maka akan menyebabkan melemahnya gigi atau
risiko perforasi.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sultana, dkk (2017), kinerja instrumen pengambilan
fragmen dengan teknik bypass dengan menggunakan File endodontik bersama dengan irigasi
berlebihan adalah diverifikasi. Ditemukan bahwa teknik ini sederhana dan kurang invasif.
Penelitian sebelumnya telah mengindikasikan hal itu dengan teknik memotong, ada
kemungkinan fragmen untuk mendorong keluar dari root root yang mungkin menyebabkan
iritasi dan patologi periapikal.9 Namun, dalam kasus ini, fragmen dilewati dan tidak ada
dorongan apikal dari yang rusak instrumen dan perawatan dilakukan dengan kerusakan
minimal pada gigi dan pendukung tisu. Selanjutnya, jika pasien tetap bergejala atau ada
kegagalan berikutnya, gigi bisa diperlakukan secara pembedahan. Karena itu, meski ada

6
kekhawatiran pasien dan dokter gigi, prognosis yang rusak pengambilan instrumen
menggunakan teknik memotong tampak menguntungkan.

3. Teknik Masseran Kit


Ketika teknik bypass gagal untuk mengatasi penyumbatan ini, maka harus digunakan
alat mekanik untuk mengeluarkan patahan jarum file yang patah tersebut. Masserann
Kit adalah salah satu alat untuk mengangkat patahan jarum dalam saluran akar.

Patahnya jarum file pada perawatan endodontic merupakan suatu masalah yang dapat
terjadi dengan prevalensi 2-6% selama perawatan. Patahan jarum file endo
menyebabkan sumbatan dalam saluran akar sehingga menimbulkan hambatan dalam
proses cleaning dan shaping serta dapat pula menyebabkan iritasi daerah periapikal
apabila jarum file endo menonjol pada bagian foramen. Hal ini signifikan dengan gigi
yang non vital dan berhubungan dengan patosis periapikal yang memberi dampak
pada hasil akhir dari perawatan endodontik. Oleh karena itu usaha untuk
mengeluarkan jarum file yang patah harus dilakukan dengan teknik bypass atau
dengan menggunakan alat, sebelum jarum tersebut ditinggalkan atau sebelum obturasi
atau sebelum dilakukan tindakan bedah. Pengangkatan orthograde merupakan
tindakan yang sulit, memerlukan waktu yang banyak, dan tingkat keberhasilannya
dari 55-79%.

Teknik Masserann merupakan salah satu metode pengangkatan instrument. Teknik ini
berguna dalam pengangkatan instrument jarum file endo yang patah, silver point, dan
post dari saluran akar dan secara umum tingkat keberhasilan yang telah dilaporkan
sebesar 55%.

Teknik Klinis
Armamentarium digunakan untuk menentukan panjang, bur crown cutting diamond,
GGD, handpiece kontra angle, dan Masserann Kit dengan berbagai ukuran yang
dikodekan dengan warna, yang terdiri dari bur traphan cutting dari ukuran kecil ke
besar yang berputar dengan arah anti clockwise untuk menciptakan ruang disekitar
bagian ujung koronal patahan jarum file endo dengan memotong dentin saluran akar
pada daerah sekitar patahan jarum dan ektraktor dengan 2 ukuran 1.2 mm dan 1.5mm
yang dimasukan untuk menciptakan ruang. Ektraktor berbentuk seperti tabung disertai
dengan plunger rod(stylet) yang ketika diputar kedalam saluran akar ekstraktor akan
mengunci bagian ujung koronal dari patahan jarum file endo yang sedikit menonjol
sehingga dapat dikeluarkan.

Pada kunjungan pertama dari dilakukan penentuan panjang kerja dari mahkota gigi
hingga bagian koronaldari fragmen patahan jarum file dengan menggunakan bantuan
gambar radiografi. Setelah panjang kerja ditentukan dilanjutkan tahap opening akses
yang dibagi menjadi 2 tahap, tahap opening bagian korona dan tahap opening bagian
radikular. Tahap opening bagian korona digunakan bur crown cutting panjang untuk

7
mendapatkan akses yang tegak lurus dari mahkota gigi. Dilanjutkan dengan tahap
opening radikular hingga mencapai ujung koronal fragmen dengan menggunakan
GGD, tujuannya adalah untuk membentuk corong lurus hingga mencapai bagian
koronal fragmen.

Tahap selanjutnya adalah tahap pengeluaran fragmen jarum file dengan menggunakan
masserann kit, pertama memilih ukuran diameter trephan (1,2 mm), trephan
dikuncikan pada handpiece kontra angle dan diputarkan dengan arah anti clockwise
untuk agar tercipta celah disekitar daerah koronal fragmen dengan menyisihkan
dentin. Centering dari trephan pada fragmen harus dikonfirmasi dengan menggunakan
radiografi.

Apabila trephan sudah tepat, tahap selanjutnya adalah memasukan ekstraktor dengan
diameter yang sama dengan trephan 1,2 mm didorong masuk ke dalam trephan hingga
mencapai ujung koronal fragmen dan menjepit bagian ujung koronal fragmen, hal ini
dibutuhkan konfirmasi dengan radiografi untuk memastikan apakah ekstraktor sudah
pada posisi yang tepat. Bila posisi ekstraktor sudah tepat, punger rod diputar secara
manual dengan tangan searah jarum jam untuk mengeluarkan fragmen jarum. Teknik
ini memerlukan kecermatan dan ketelitian yang tinggi pada tahap menjepit fragmen
dan satu hal penting yang perlu diperhatikan saat menarik fragmen terasa sangat
kencang yang dapat dirasakan dari gaya tactile dari fragmen, pemutaran yang
dilakukan harus berlawanan dengan arah jarum jam dengan tujuan agar fragmen tidah
lebih terkunci pada dentin dan tarik fragmen untuk melihat apakah fragmen sudah
terangkat. Waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan fragmen jarum file endo
kurang lebih 1 jam.

Pada kunjungan kedua, dilakukan retreatment saluran akar tahap cleaning dan shaping
silanjutkan dengan obturasi dengan teknik lateral condensasi. Dan tetap dilakukan
observasi pada gigi tersebut. Dan jika setelah dilakukan observasi tidak terdapat
masalah, maka dapat dilakukan restorasi seperti PFM untuk merestorasi jaringan
tersebut.

Masserann kit sangat berguna untuk mengeluarkan obstruksi metal dalam saluran akar
gigi, terutama pada gigi anterior yang memiliki saluran akar yang lurus dan dinding
saluran akar yang tebal. Dan juga ekstraktor memiliki mekanikal locking yang baik
sehingga dapat menjepit fragmen dengan baik sehingga bila terdapat fragmen yang
terkunci erat di dalam saluran akar dapat dikeluarkan. Tetapi pengeluaran fragmen
instrument yang patah dapat dikeluarkan dengan ultrasonic atau dengan bedah
mikroskop, dan hal ini juga tergantung dari kasus.

Dalam menggunakan teknik masserann untuk mendapatkan akses lurus untuk


mencapai ujung koronal dari fragmen sangat penting karena hal ini bertujuan untuk
menyediakan jalur trephan sehingga didapatkan centering trephan terhadap fragmen
tepat. Selain itu pembuatan celah daerah koronal fragmen juga penting dengan

8
mengikis dentis sekitar koronal fragmen yang bertujuan agar ekstraktor dapat
menjepit frgamen denagn erat sehingga fragmen dapat lebih mudah untuk
dikeluarkan.

9
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pada saat perawatan endodontic kemungkinan terjadinya rusak atau patahnya
instrument bisa saja terjadi. Faktor-faktor yang dapat memengaruhi patahnya
instrument seperti pengalaman operator, Kecepatan rotasi, Tingkat kelengkungan
saluran akar, Desain instrument, Teknik aplikasi, Prosedur manufaktur, dan Non-
patensi saluran akar.

Prognosisnya bergantung pada seberapa banyak saluran sebelah apikal patahan yang
masih belum dibersihkan dan belum diobturasi serta seberapa banyak patahannya.
Prognosis yang baik jika patahan instrumen yang besar dan terjadi ditahap akhir
preparasi serta mendekati panjang kerja. Prognosis yang lebih buruk jika saluran akar
belum dibersihkan dan patahannya terjadi dekat apeks atau diluar foramen apikalis
pada tahap awal preparasi.

Untuk menangani patahnya instrument bisa saja instrument yang patah tersebut dapat
ditinggalkan di tempat patahan atau diambil dengan teknik-teknik tertentu. Teknik-
teknik untuk pengambilan instrument yang patah ada 3, yaitu teknik ultrasonic, teknic
bypass, dan teknik masseran kit.

3.2 Saran
Sebaiknya dalam melakukan perawatan saluran akar harus dengan penuh kehati-
hatian. Walaupun jika mengalami kasus instrument yang patah sudah ada metode
untuk menanganinya, namun alangkah lebih baik jika hal ini tidak terjadi karena
prognosinya lebih baik.

10
DAFTAR PUSTAKA

Syafri M, Nugraheni T. Pengambilan Lentulo Patah Pada Perawatan. Fakultas Kedokteran


Gigi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Maj Ked Gi. 2013; 20(1): 78-84

Attar OH, Chogle SM, Hsu TY. Common complications in Endodontics: Instrumentation-
Related Complications. Henry M. Goldman School of Dental Medicine, Boston
University, Boston, MA, USA. Springer International Publishing AG, 2018

Radeva Elka. Bypassing a Broken Instruments (Clinical Cases). Medical University, Faculty
of Dental medicine, Department of Conservative dentistry, Bulgaria. International
Journal of Science and Research 2017; 6(2) : 227-229

Parveen Sultana, Hossain Mozammal, Uddin MDF. Management of Broken Instrument by


File Bypass Technique. Departement of Conservative and Endodontiics, Faculty
of Dentistry, Bangabandhu Syeikh Mujib Medical University, Bangladesh.
Bangabandhu Syeikh Mujib Med Univ J. 2017; 10:41-43

11