Anda di halaman 1dari 24

TANTANGAN DARI SISI

PERATURAN UNTUK
LIMA TAHUN KEDEPAN

A. Kemalsjah Siregar
KEMALSJAH & ASSOCIATES
KRITIK TERHADAP REDAKSIONAL PERUNDANG-UNDANGAN
KETENAGAKERJAAN YANG KONTRA PRODUKTIF
I. Kalimat Tidak Jelas Dan Berakibat Timbulnya Perbedaan Penafsiran

1. Pasal 151 (2) UU No. 13/2003.


Dalam hal segala upaya telah dilakukan tetapi PHK tidak dapat dihindarkan
maka maksud PHK wajib dirundingkan oleh pengusaha dan serikat pekerja
atau dengan pekerja apabila pekerja tidak menjadi anggota serikat pekerja.

Tidak jelas apa yang dimaksudkan dengan maksud PHK.

UU No. 2/2004 tidak mengatur kewajiban pengusaha untuk melakukan


perundingan terkait dengan pekerja yang menjadi anggota SP.
2. Pasal 164 (3) UU No. 13/2003
Pengusaha dapat melakukan PHK terhadap pekerja karena perusahaan
tutup bukan karena mengalami kerugian 2 tahun berturut-turut atau bukan
karena keadaan memaksa tetapi perusahaan melakukan efisiensi.
3. Pasal 168 (3) UU No. 13/2003
Pekerja yang mangkir selama 5 hari kerja atau lebih berturut-turut tanpa
keterangan secara tertulis yang dilengkapi dengan bukti yang sah dan telah
dipanggil oleh pengusaha dua kali secara patut dan tertulis dapat
diputuskan hubungan kerjanya karena dikualifikasikan mengundurkan diri.

Tidak jelas apa yang dimaksudkan dengan karena dikualifikasikan.


II. Pertentangan Antara UU dan Peraturan Pelaksanaan

1. Pasal 92 (1) UU No. 13/2003:


Pengusaha menyusun struktur dan skala upah dengan memperhatikan
golongan, jabatan, masa kerja, pendidikan, dan kompetensi.

Pasal 14 (2) PP No. 78/2015


Struktur dan skala upah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disusun
oleh pengusaha dengan memperhatikan golongan, jabatan, masa kerja,
pendidikan, dan kompetensi.
2. Pasal 59 UU No. 13/2003 tidak mengatur kewajiban untuk melakukan
pencatatan PKWT.

Pasal 13 Pasal 14 Kepmenakertrans No. Kep-100/Men/2004


PKWT wajib dicatatkan oleh pengusaha kepada instansi ketenagakerjaan
selambat-lambatnya 7 hari kerja sejak penandatanganan.
3. Penjelasan Pasal 66 (1) UU No. 13/2003
Kegiatan tersebut antara lain:
1. usaha pelayanan kebersihan;
2. usaha penyediaan makanan bagi pekerja;
3. usaha tenaga pengamanan;
4. usaha jasa penunjang di bidang pertambangan;
5. usaha penyediaan angkutan pekerja.
Pasal 17 Permenaker No. 19/2012
Kegiatan tersebut meliputi:
1. usaha pelayanan kebersihan;
2. usaha penyediaan makanan bagi pekerja;
3. usaha tenaga pengamanan;
4. usaha jasa penunjang di bidang pertambangan;
5. usaha penyediaan angkutan pekerja.
III. Tidak Bersikap Tegas Terhadap Jajaran Instansi Ketenagakerjaan

Pasal 5 Permenaker No. 19/2012


Jenis pekerjaan yang akan diserahkan kepada perusahaan penerima
pemborongan HARUS dilaporkan oleh perusahaan pemberi pekerjaan
kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan
kabupaten/kota tempat pemborongan pekerjaan dilaksanakan.
Pasal 6 Permenaker No. 19/2012
Instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 mengeluarkan bukti pelaporan jenis
pekerjaan penunjang yang akan diserahkan melalui pemborongan
pekerjaan paling lambat 1 minggu sejak pelaporan dilaksanakan oleh
perusahaan pemberi pekerjaan.

Permenaker No. 19/2012 tidak mengatur akibat hukum apabila instansi


yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota lalai
menerbitkan bukti pelaporan dalam batas waktu paling lambat 1 minggu.
IV. Benturan Antara Pemborongan Pekerjaan Secara Perdata Dan UU No.
13/2003

1. Apakah lima pekerjaan dalam Penjelasan Pasal 66 (1) yaitu:


1. usaha pelayanan kebersihan;
2. usaha penyediaan makanan bagi pekerja;
3. usaha tenaga pengamanan;
4. usaha jasa penunjang di bidang pertambangan;
5. usaha penyediaan angkutan pekerja.

bukan merupakan kegiatan yang masuk dalam wilayah perjanjian secara


keperdataan?
V. UU Tidak Mengamanatkan Untuk Membuat Peraturan Pelaksanaan

Bagian Menimbang PP No. 78 Tahun 2015 mengatur bahwa PP No. 78


diterbitkan sebagai pelaksanaan dari Pasal 97 UU No. 13/2003.

Pasal 97 UU No. 13/2003 mengatur bahwa:


Ketentuan mengenai penghasilan yang layak, kebijakan pengupahan
kebutuhan hidup yang layak dan perlindungan upah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 88, penetapan upah minimum sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 89 dan pengenaan denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 ayat
(1) dan ayat (3) diatur dengan peraturan pemerintah.
PP No. 78 Tahun 2015 mengatur mengenai struktur dan skala upah dalam
Pasal 92 (1) UU No. 13/2003 yang tidak diamanatkan dalam Pasal 92 dan
Pasal 97 UU No. 13/2003.
VI. Tidak Diterbitkannya Ketentuan Mengenai PKWT Bagi Tenaga Kerja Asing

Pasal 42 (4) UU No. 13/2003


Tenaga kerja asing hanya dapat dipekerjakan di Indonesia hanya dalam
hubungan kerja untuk jabatan tertentu dan waktu tertentu.

Pasal 42 (5) UU No. 13/2003


Ketentuan mengenai jabatan tertentu dan waktu tertentu sebagaimana
dimaksud dalam ayat (4) ditetapkan dengan Keputusan Menteri.
VII. Pemuatan Istilah Tanpa Dijelaskan Apa Yang Dimaksud

Pasal 10.1.e Permenakertrans No. 17 Tahun 2014


Mediator berwenang menolak kuasa para pihak yang berselisih apabila
tidak memiliki surat kuasa khusus.

Pasal 28.2 Permenaker No. 28/2004


2. Dalam hal PKB ditandatangani oleh wakil direksi atau wakil pimpinan
perusahaan harus melampirkan surat kuasa khusus.

Tidak ada penjelasan apa yang dimaksudkan dengan surat kuasa khusus.
VIII. Apakah Sifat Dari Surat Edaran Menaker?

➢ Apa sifat dari edaran?


1. apakah sebagai petunjuk?
2. petunjuk bagi siapa?
3. apakah wajib dilaksanakan?
➢ Apakah ditujukan hanya untuk instansi ketenagakerjaan?
Surat Edaran Menakertrans No. SE-01/PHIJSK/I/2006 Tentang Petunjuk
Pelaksanaan Penanganan Perselisihan Hubungan Industrial Di Luar
Pengadilan Sebagai Pelaksanaan UU No. 2/2004.

Ditujukan kepada Para Kepala Dinas Ketenagakerjaan Tingkat Propinsi,


Kota dan Kabupaten.
➢ Apakah edaran ditujukan kepada pengusaha?
Surat Edaran Menakertrans No. SE-907Men/PHI-PPHI/X/2004 Tentang
Pencegahan PHK Massal.

Ditujukan kepada Pimpinan Perusahaan di seluruh Indonesia.

Tidak dicantumkan ditujukan kepada siapa.


Surat Edaran Menakertrans No. SE-13/Men/SJ-HK/I/2005 Tentang Putusan
MK Atas Uji Materil UU No. 13/2003 Terhadap UUD RI 1945
➢ Apakah ditujukan hanya untuk Kepala Daerah?
Surat Edaran Menakertrans No. SE-13/Men/SJ-HK/I/2005 Tentang
Pencegahan PHK.
Ditujukan kepada Para Gubernur, Bupati dan Walikota.
IX. Mengatur Yang Tidak Perlu Diatur

Pasal 30.1 Permenaker No. 28/2004


1. Pengusaha mendaftarkan PKB kepada instansi yang bertanggung jawab di
bidang ketenagakerjaan.

2. Pasal 30.2 Permenaker No. 28/2004


Pendaftaran PKB dimaksudkan:
sebagai alat monitoring dan evaluasi pengaturan syarat-syarat kerja yang
dilaksanakan di perusahaan.
Sebagai rujukan utama dalam hal terjadi perselisihan pelaksanaan hak.
Pasal 29.1 Permenaker No. 28/2004
1. Masa berlaku PKB paling lama dua tahun terhitung sejak ditandatangani
atau diatur lain dalam PKB.
KESIAPAN JAJARAN KETENAGAKERJAAN DAN KEBERADAAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG MENDORONG
PRODUKTIFITAS
1. Tidak ada peraturan buatan manusia yang sempurna.

2. Pengusaha dan masyarakat semakin kritis dalam memahami peraturan


perundang-undangan.

3. Peraturan perundang-undangan yang tidak jelas menimbulkan perbedaan


pendapat antara pengusaha, pekerja/serikat pekerja dan pegawai instansi
ketenagakerjaan.
KESIAPAN JAJARAN KETENAGAKERJAAN DAN KEBERADAAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG MENDORONG
PRODUKTIFITAS
4. Peraturan perundang-undangan yang tidak jelas menimbulkan perbedaan
pendapat perselisihan hubungan industrial antara pengusaha dan
pekerja/serikat pekerja yang berakibat tidak produktif dalam kegiatan usaha.

5. Jajaran instansi ketenagakerjaan di seluruh Indonesia harus meningkatkan


kemampuan dalam memahami peraturan perundang-undangan termasuk
membaca putusan MK dengan benar.

6. Jajaran instansi ketenagakerjaan di seluruh Indonesia harus mampu bersikap


tegas dalam menyampaikan sikap atas setiap permasalahan yang diajukan
oleh pengusaha dan pekerja/serikat pekerja.
7. Sebagai pegawai yang telah diberikan pelatihan dan pembekalan dalam
menjalan mediasi, setiap mediator harus meningkatkan kemampuan dan
ketrampilan dalam melakukan tugas mereka.

8. Untuk menambah wawan mereka, alangkah baiknya apabila para praktisi


SDM dan industrial diberikan kesempatan memberikan pembekalan kepada
para calon mediator.