Anda di halaman 1dari 18

MENGUKUR PENDAPATAN SUATU NEGARA DAN

PERHITUNGAN BIAYA HIDUP

Nama Kelompok :
 Akhul Yunia Sofa
 Devinna Aulia Putri
 Riri Novrianti

Dosen Pengampu :
Winda Widyanti, SKM, MM.

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MERCU BUANA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt yang maha kuasa karena
dengan rahmat serta karunianya, penulis dapat menyelesaikan makalah mengenai
lingkungan dan budaya perusahaan dengan baik meskipun dalam pembuatan
makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Dalam makalah ini disajikan
beberapa penjelasan singkat mengenai mengukur pendapatan suatu Negara
disertai dengan tambahan jurnal nasional sebagai referensi dan pendukung bagi
penulis dalam membuat makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan mengenai Mengukur pendapatan suatu Negara dan
penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan, untuk itu penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan yang
membangun demi perbaikan dalam pembuatan makalah-makalah selanjutnya,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa adanya saran serta kritik yang
membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya makalah ini juga dapat berguna bagi saya sendiri dan
pembaca sekalian. Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan Makalah......................................................................................2
1.4 Manfaat Penulisan Makalah....................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................................4
2.1 Pendapatan dan pengeluaran dalam Perekonomian................................................4
2.2 Pengukuran Produk Domestik Bruto......................................................................6
2.3 Komponen-Komponen PDB...................................................................................9
2.4 PDB Rill Versus PDB Nominal............................................................................10
2.5 PDB dan Kesehatan Perekonomian......................................................................11
2.6 Manfaat dan Keterbatasan Perhitungan PDB........................................................12
BAB III PENUTUP.........................................................................................................14
3.1 Kesimpulan...........................................................................................................14
3.2 Saran.....................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................15

ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kondisi perekonomian secara keseluruhan sangatlah besar pengaruhnya
terhadap kita semua, perubahan kondisi perekonomian banyak tersiar dimanamana
baik media elektronik dan juga media cetak Bahkan kurang rasanya apabila kita
membaca surat kabar tanpa mengamati laporan atau kondisi terbaru tentang
statistik perekonomian. Statistik tersebut kemungkinan mengukur pendapatan total
semua orang dalam perekonomian. Dalam bukunya, N. Gregory Mankiw
berpendapat bahwa ekonomi makro (Macroeconomics) adalah ilmu tentang
perekonomian secara keseluruhan.
Salah satu indikator ekonomi makro yang digunakan untuk melihat atau
mengukur stabilitas perekonomian suatu negara adalah PDB. Perubahan dalam
indikator ini akan berdampak terhadap dinamika pertumbuhan ekonomi. Dalam
perspektif ekonomi, inflasi merupakan fenomena moneter dalam suatu negara
dimana naik turunnya inflasi cenderung mengakibatkan terjadinya gejolak
ekonomi.
Untuk mengukur keberhasilan perekonomian suatu negara salah satunya
dapat dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Pertumbuhan
ekonomi (economic growth) dapat diukur dari kenaikan besarnya pendapatan
nasional (produksi nasional) pada periode tertentu. Oleh karena itu, nilai dari
pendapatan nasional (national income) ini merupakan gambaran dari aktivitas
ekonomi secara nasional pada periode tertentu. Tingginya tingkat pendapatan
nasional dapat mencerminkan besarnya barang dan jasa yang dapat diproduksi.
Besarnya kapasitas produksi tersebut dapat menunjukkan tingginya tingkat
kemakmuran masyarakat dalam suatu negara. Baik negara yang sedang
berkembang maupun Negara-negara maju, semua mengiginkan tingkat
pertumbuhan ekonomi yang tinggi. PDB merupakan nilai pasar untuk semua
barang dan jasa yang diproduksi didalam negeri.

1
Menurut (Mankiw, 2009: 5) PDB Mengukur dua hal saat bersamaan yakni
total pendapatan semua orang dalam perekonomian dan total pembelanjaan
Negara untuk membeli barang dan jasa dari perekonomian. Alasan PDB dapat
melakukan pengukuran total pendapatan dan pengeluaran adalah karena kedua hal
ini benar-benar sama persis. Untuk suatu perekonomian secara keseluruhan,
pendapatan pasti sama dengan pengeluaran. Pertumbuhan ekonomi berkaitan
dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi
masyarakat. Untuk mengukur pertumbuhan ekonomi, nilai PDB yang digunakan
adalah PDB berdasarkan harga konstan (PDB riil) sehingga angka pertumbuhan
yang dihasilkan merupakan pertumbuhan riil yang terjadi karena adanya tambahan
produksi. Adanya keseimbangan dalam suatu perekonomian merupakan salah satu
target dalam rangka peningkatan perekonomian suatu negara. Hal tersebut dapat
dicapai melalui keterlibatan variabel ekonomi yang mempengaruhi dalam
keseimbangan tersebut.(Silvia, Wardi, & Aimon, 2013: 225)

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja jenis pendapatan dan pengeluaran dalam suatu Negara?
2. Bagaimana cara mengukur pendapatan suatu Negara?
3. Apa saja komponen-komponen Produk Domestik Bruto?
4. Bagaimana cara pengukuran Produk Domestik Bruto?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah


1 Untuk mengetahui apa saja jenis pendapatan dan pengeluaran dalam suatu
Negara
2 Untuk mengetahui Bagaimana cara mengukur pendapatan suatu Negara
3 Untuk mengetahui Apa saja komponen-komponen Produk Domestik Bruto
4 Untuk mengetahui Bagaimana cara pengukuran Produk Domestik Bruto

1.4 Manfaat Penulisan Makalah

2
1. Menambah pengetahuan dan wawasan pembaca mengenai Manajemen
perubahan terutama pembahasan mengenai Lingkungan dan budaya
perusahaan
2. Sebagai referensi dan acuan bagi penulisan Tugas Mandiri dengan materi
yang sama selanjutnya.

3
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pendapatan dan pengeluaran dalam Perekonomian


Dalam menilai apakah perekonomian berjalan dengan baik atau buruk,
merupakan hal alamiah untuk melihat pendapatan total yang diperoleh oleh semua
orang dalam perekonomian tersebut. Inilah fungsi dari Produk Domestik Bruto
(PDB). PDB mengukur dua hal sekaligus yaitu pendapatan total semua orang
dalam perekonomian dan jumlah pembelanjaan untuk membeli barang dan jasa
hasil dari perekonomian. Alasan PDB dapat mengukur pendapatan total dan
pengeluaran secara bersama adalah kedua hal ini pada dasarnya sama saja. Untuk
suatu perekonomian secara keseluruhan, pendapatan total harus sama dengan
pengeluaran total. Pendapatan dan pengeluaran perekonomian sama karena
transaksi ini melibatkan dua pihak yakni penjual dan pembeli. Cara lain untuk
memandang persamaan pendapatan dan pengeluaran adalah dengan diagram arus
lingkar. (Mankiw, Quah, & Wilson, 2014: 4)

•Barang dan •Barang dan


Jasa dijual Jasa yang
dibeli

Pasar
Rumah
Barang dan
Tangga
Jasa

Pasar
Perusahaan Faktor
Produksi
•Faktor- •Tenaga
faktor Kerja, Lahan
Produksi dan Modal

Gambar 2.1 Diagram Arus Lingkar


Kita dapat menghitung PDB perekonomian ini melalui satu dari dua cara
yaitu dengan menjumlahkan pengeluaran rumah tangga atau menjumlahkan

4
pendapatan (upah, sewa, dan keuntungan) yang dibayar oleh perusahaan. Karena
seluruh pengeluaran dalam perekonomian pada akhirnya menjadi pendapatan bagi
seseorang, PDB selalu sama tanpa memandang cara perhitungannya.
Perekonomian secara nyata tentu saja jauh lebih rumit daripada perekonomian
yang diilustrasikan diatas. Secara spesifik rumah tangga tidak membelanjakan
seluruh pendapatannya. Mereka memberikan sebagian pendapatan mereka kepada
pemerintah dalam bentuk pajak dan mereka menyimpan sebagian pendapatan
mereka untuk digunakan pada masa depan. Selain itu, rumah tangga tidak
membeli seluruh barang dan jasa yang diproduksi dalam perekonomian. Sebagian
barang dan jasa dibeli oleh pemerintah dan sebagian lain dibeli oleh perusahaan
yang berencana untuk menggunakannya pada masa depan untuk memproduksi
produk mereka sendiri. Namun, tanpa memandang apakah rumah tangga,
pemerintah, atau perusahaan yang membeli barang dan jasa, transaksi tersebut
melibatkan penjual dan pembeli. Dengan demikian dalam perekonomian secara
keseluruhan pendapatan dan pengeluaran selalu sama. (Mankiw et al., 2014: 5)
Berikut ini data performa PDB Indonesia, negara dengan perekonomian
terbesar di Asia Tenggara yang mana Antara tahun 1965 sampai dengan 1997
perekonomian Indonesia tumbuh dengan persentase rata-rata per tahunnya hampir
tujuh persen. Pencapaian ini memampukan perekonomian Indonesia bertumbuh
dari peringkat “Negara berpendapatan rendah” masuk ke dalam kategori “negara
berpendapatan menengah ke bawah”. Kendati begitu, Krisis Finansial Asia yang
“meletus” pada akhir tahun 1990-an mengakibatkan dampak sangat negatif untuk
perekonomian Indonesia, menyebabkan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB)
sebesar 13,6 persen pada tahun 1998 dan pertumbuhan yang sangat terbatas pada
0,3 persen pada tahun 1999. Kemudian sejak akhir 2000-an hingga saat ini dan
menyorot dengan lebih spesifik pada dua topik yaitu perlambatan perekonomian
yang terjadi di periode 2011-2015 dan lambatnya proses percepatan pertumbuhan
ekonomi yang mulai dari 2016.

5
Rata – rata pertumbuhan PDB (%)
1998 – 1999 -6,65
2000 – 2004 4,60
2005 – 2009 5.62
2010 – 2015 5,63
2016 – 2017 5,05
Sumber : Indonesia Investments

Pada Tabel diatas diketahui bahwa persentase PDB tertinggi berada diantara
tahun 2010-2015 yaitu sebesar 5,63%. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh
meningkatnya laju perkembangan nilai konsumsi dan investasi yang juga
meningkat pada tahun tersebut serta penurunan inflasi pada tahun tersebut. Badan
Pusat Statistik mencatat pertumbuhan perekonomian indonesia tahun 2017 sebesar
5,07% meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 5,03% Sedangkan
tingkat PDB 2017 tercatat sebesar Rp 13.588,8 triliun. Meskipun jumlah PDB
mengalami peningkatan ditahun 2017 namun inflasi tetap terjadi. Badan Pusat
Statistik (BPS) merilis data inflasi tahun tahun 2017 sebesar 3,61%. Realisasi
inflasi ini lebih tinggi dibanding inflasi 2016 yang sebesar 3,02%. Kenaikan
inflasi ini kemungkinan disebabkan oleh meningkatnya jumlah uang beredar.
ketika PDB meningkat inflasi akan turun, karena bisa menyebabkan kelebihan
penawaran. Hal ini akan mengakibatkan harga-harga akan turun.

2.2 Pengukuran Produk Domestik Bruto


1. PDB adalah Nilai Pasar
Menurut (Mankiw et al., 2014: 6) PDB adalah nilai pasar semua
barang dan jasa akhir yang diproduksi dalam satu perekonomian dalam
kurun waktu tertentu. Nilai pasar dalam pengertian tersebut merupakan
suatu ukuran jumlah tertentu yang bersedia dibayarkan oleh masyarakat
pada komoditas yang berbeda, masing-masing mencerminkan nilai dari
komoditas yang bersangkutan yang meliputi seluruh macam barang yang

6
dijual di pasar secara legal. Ditekankan pula bahwa yang masuk dalam
penghitungan PDB hanyalah barang akhir, ini dilakukan karena nilai barang
setengah jadi sudah termasuk ke dalam harga barang jadi. Penambahan nilai
pasar dari barang setengah jadi akan menyebabkan penghitungan ganda dari
harga suatu komoditas

2. PDB Nilai dari semua


PDB mencakup seluruh barang yang diproduksi dalam perekonomian
dan kemudian dijual secara legal dipasar. PDB juga mencakup nilai pasar
jasa perumahan yang disediakan oleh stok perumahan dalam perekonomian.
PDB tidak menghitung jika si penyewa rumah menggunakan rumahnya
untuk tinggal sendiri, karena PDB menghitung pendapatan dan pengeluaran
yang dikeluarkan yang memiliki nilai pasar serta di jual secara legal.
Namun ada sebagian produk yang tidak dimasukkan kedalam PDB karena
sulit diukur. PDB tidak memasukkan sebagian besar barang yang diproduksi
dan dijual secara tidak sah misalnya obat-obat terlarang. Pengecualian
beberapa barang dari PDB terkadang dpaat memberikan hasil yang bertolak
belakang. (Mankiw et al., 2014: 6)

3. PDB Nilai akhir


PDB disebut nilai akhir Artinya PDB hanya menghitung nilai akhir
dari proses suatu barang dari bahan baku menjadi barang jadi. Seperti baju,
yang berawal dari benang lalu benang menjadi kain lalu kain menjadi baju,
PDB tidak menghitung nilai dari proses pembuatan benang atau kain
melainkan nilai pasar dari baju itu sendiri Karena benang dan kain
merupakan barang antara. Pengecualian penting untuk prinsip ini timbul
apabila suatu barang antara diproduksi, bukan digunakan atau kemudian
dimasukkan kedalam persediaan barang perusahaan untuk digunakan atau
dijual dikemudian hari. Dalam hal ini barang antara tersebut untuk
sementara dianggap sebagai barang jadi (Mankiw et al., 2014).

7
4. PDB yang diproduksi
PDB yang diproduksi mencakup barang dan jasa yang sedang di
produksi, PDB tidak termasuk transaksi barang-barang yang di produksi
pada masa lalu. (Mankiw et al., 2014: 7) Seperti ketika Samsung
memproduksi dan menjual sebuah HP baru, nilai tersebut di masukkan ke
dalam PDB. Sedangkan jika seseorang menjual HP bekas, nilai HP tersebut
tidak masuk ke dalam PDB.

5. PDB dalam Suatu Negara


PDB suatu Negara mengukur nilai produksi di dalam batas-batas
wilayah geografis suatu Negara. Jika seorang warga Australia bekerja untuk
sementara waktu di Indonesia, maka produksi yang ia hasilkan menjadi
bagian dari PDB Indonesia. Apabila seorang warga singapura memiliki
sebuah pabrik di Filipina, produksi pabriknya bukan merupakan bagian dari
PDB singapura. Dengan demikian, barang-barang dimasukkan kedalam
PDB suatu Negara jika diproduksi secara domestic tanpa memandang
kewarganegaraan produsennya (Mankiw et al., 2014: 8).

6. PDB Pada suatu periode


PDB mengukur nilai produksi yang dilakukan dalam rentang waktu
tertentu. Rentang waktu tersebut biasanya selam satu tahun atau satu tri
wulan (tiga bulan). PDB mengukur arus pendapatan dan pengeluaran
perekonomian selama rentang waktu tersebut. Ketika melaporkan PDB
untuk satu triwulan, pemerintah biasanya menyajikan dalam bentuk tahunan.
Ketika memonitor kondisi perekonomian, para ekonom dan pembuat
kebijakan sering ingin melihat lebih dari sekedar perubahan musiman rutin
(Mankiw et al., 2014: 8).

8
2.3 Komponen-Komponen PDB
Menurut (Mankiw et al., 2014: 9) Pembelanjaan dalam perekonomian
bervariasi bentuknya. Untuk memahami bagaimana ekonomi memanfaatkan
sumber daya langka, para ekonomi sering tertarik untuk mempelajari
komposisi PDB (Produk Domestik Bruto)dari berbagai jenis pembelanjaan.
Untuk melakukannya, PDB (yang dilambangkan Y) dibagi menjadi empat
komponen, yaitu konsumsi (C), investasi (I), belanja pemerintah (G), dan
ekspor neto (NX):

Y = C + I +G + NX

Persamaan ini merupakan persamaan identitas-persamaan yang


kebenarannya ditentukan oleh difinisi variabel-variabel di dalamnya. Ini
dikarenakan setiap unit pengeluaran yang dimasukkan ke dalam PDB
merupakan satu dari empat komponen PDB maka jumlah keempat
komponen tersebut harus sama dengan PDB.
1. Konsumsi
Konsumsi (Consumption) adalah Pembelanjaan rumah tangga untuk
barang dan jasa. Barang tersebut meliputi pembelanjaan rumah tangga untuk
barang awet seperti mobil dan peralatan rumah tangga, tidak awet seperti
pangan dan sandang. Sedangkan jasa berupa barang-barang tidak kasat mata
seperti biaya pendidikan.
2. Investasi
(Mankiw et al., 2014: 10) Investasi adalah pembelian barang yang
akan digunakan pada masa depan untuk menghasilkan barang dan jasa yang
lebih banyak. Pengeluaran untuk peralatan modal, persediaan, dan bangunan
atau struktur, termasuk belanja rumah tangga untuk rumah baru. Pembelian
rumah baru adalah satu bentuk pembelanjaan rumah tangga yang
dikatagorikan sebagai investasi, bukan konsumsi. Salah satu tujuan PDB

9
adalah untuk mengukur nilai produksi ekonomi dan barang yang
ditambahkan ke dalam persediaan merupakan bagian dari produksi pada
periode tersebut.
3. Belanja pemerintah
(Mankiw et al., 2014) Belanja pemerintah merupakan pembelanjaan
untuk barang dan jasa yang dilakukan oleh pemerintah. Belanja pemerintah
meliputi upah pegawai negeri dan pengeluaran untuk pekerjaan umum.
Karena tujuan dari PDB untuk mengukur pendapatan dan pengeluaran untuk
produksi barang dan jasa, pembayaran transfer tidak dihitung sebagai bagian
dari belanja pemerintah.
4. Ekspor Neto
(Mankiw et al., 2014: 11) Ekspor neto sama dengan pembelian barang
produksi domestic oleh warga asing (ekspor) dikurangi dengan pembelian
barang asing oleh warga domestic (impor). Penjualan yang dilakukan oleh
prusahaan domestic kepada pembeli luar negeri, seperti penjualan boeing
kepada Air Asia, meningkatkan ekspor neto. Kata neto dalam kata ekspor
neto berarti impor dikurangi dari ekspor. Pengurangan ini dilakukan karena
impor barang dan jasa termasuk ke dalam komponen PDB lainnya. Dengan
demikian, apabila rumah tangga, perusahaan, atau pemerintah membeli
barang atau jasa dari luar negeri, pembelian tersebut mengurangi
ekspornamun karena meningkatkan konsumsim investasi, atau belanja
pemerintah, pembelian itu tidak memengaruhi PDB.

2.4 PDB Rill Versus PDB Nominal


(Mankiw et al., 2014: 12) PDB mengukur jumlah pembelanjaan untuk
barang dan jasa di seluruh pasar dalam perekonomian. Para ekonom ingin
memisahkan kedua pengaruh ini.PDB dibagi atas PDB Nominal dan PDB Riil.
PDB Nominal mengukur nilai output selama tahun tertentu menggunakan harga
yang berlaku selama tahun itu. Seiring waktu, tingkat umum harga naik karena

10
inflasi , yang menyebabkan peningkatan PDB Nominal bahkan jika jika volume
barang dan jasa yang dihasilkan tidak berubah.
PDB Riil mengukur nilai output dalam dua tahun atau lebih yang berbeda
dengan menilai barang dan jasa disesuaikan dengan inflasi. Secara khusus, para
ekonom ingin mengukur jumlah barang dan jasa yang di produksi oleh
perekonomian yang tidak dipengaruhi oleh perubahan harga barang dan jasa. PDB
riil menjawab satu pertanyaan hipotesis, yakni berapa nilai barang dan jasa yang
diproduksi pada tahun ini jika kita menilai barang dan jasa tersebut dengan harga
yang berlaku pada tahun tertentu pada masa lampau. PDB riil memperlihatkan
bagaimana produksi barang dan jasa dalam perekonomian berubah seiring
berjalannya waktu.
Ukuran tingkat harga yang dihitung sebagai rasio PDB nominal dengan PDB
Rill dikali 100 disebut deflator PDB. Deflator PDB mengukur tingkat harga kini
relative dengan tingkat harga pada tahun basis. Deflator ini merupakan satu
ukuran yang digunakan oleh para ekonom untuk memonitor tingkat harga-harga
dalam perekonomian.

2.5 PDB dan Kesehatan Perekonomian


(Mankiw et al., 2014: 16) PDB (Produk Domestik Bruto) mengukur
pendapatan total dalam perekonomian ataupun pengeluaran total barang dan jasa
dalam perekonomian. Sehingga PDB per kapita memberikan informasi tentang
pendapatan dan pengeluaran warga rata-rata dalam perekonomian. PDB per kapita
menjadi suatu ukuran alamiah dalam mengetahui kesehatan perekoniam rata-rata
warga, dimana sebagian besar warga akan memilih untuk memperoleh pendapatan
yang besar dan menikmati pengeluaran yang lebih banyak. Terdapat beberapa hal
yang tidak diperhitungkan didalam PDB, yaitu :
1. PDB tidak menghitung sebagian hal yang menentukan hidup yang lebih
baik. Contohnya adalah waktu luang. Jika orang-orang tidak memperoleh
waktu luang maka akibat dari berkurangnya waktu luang tersebut akan

11
menghapuskan keuntungan dari produksi dan konsumsi barang dan jasa
dalam jumlah yang besar.
2. PDB juga mengabaikan seluruk kegiatan yang dilakukan di luar pasar.
Seperti barang-barang produksi yang tidak dijual di pasar konvensional,
contohnya adalah masakan yang dibuat oleh koki yang disajikan
dirumahnya sendiri tidak termasuk kedalam PDB, berbeda jika disajikan
direstoran maka makanan tersebut menjadi bagian PDB.
3. Hal lain yang dikecualikan oleh PDB adalah mutu lingkungan dan PDB
juga mengabaikan distribusi pendapatan.

2.6 Manfaat dan Keterbatasan Perhitungan PDB


Ada beberapa manfaat dan keterbatasan dalam buku (Rahardja & Manurung,
2008: 28) yakni :
a. Perhitungan PDB dan Analisis Kemakmuran
Perhitungan PDB akan memberikan gambaran ringkas tentang tingkat
kemakmuran suatu negara, dengan cara membaginya dengan jumlah
penduduk. Angka tersebut dikenal dengan angka PDB per kapita.
Kelemahan dari pendekatan ini adalah tidak terlalu memerhatikan aspek
distribusi pendapatan. Akibat angka PDB per kapita kurang memberikan
gambaran yang lebih rinci tentang kondisi kemakmuran suatu Negara. Hal
ini terjadi karena ada masalah pada distribusi pendapatan.
b. Perhitungan PDB dan Masalah Kesejahteraan Sosial
Perhitungan PDB maupun PDB per kapita juga dapat digunakan untuk
menganalisis tingkat kesejahteraan social suatu masyarakat. Umumnya
ukuran tingkat kesejahteraan yang dipakai adalah tingkat pendidikan,
kesehatan dan gizi, kebebasan memilih pekerjaan dan jaminan masa depan
yang baik. Masalah mendasar dalam perhitungan PDB adalah tidak
diperhatikannya dimensi nonmaterial sebab PDB hanya menghitung output
yang dianggap memenuhi kebutuhan fisik/material yang dapat diukur
dengan nilai uang. PDB tidak menghitung nilai output yang tidak terukur

12
dengan uang misalnya ketenangan batin yang diperoleh dengan
menyandarkan hidup pada norma-norma agama.
c. PDB per kapita dan Masalah Produktivitas
Sampai batas-batas tertentu, ankga PDB per kapita dapat mencerminkan
tingkat produktivitas suatu Negara. Untuk memperoleh perbandingan
produktivitas antarnegara, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan
seperti jumlah dan komposisi penduduk, jumlah dan struktur kesempatan
kerja dan faktor-faktor nonekonomi.
d. Perhitungan PDB dan kegiatan-kegiatan ekonomi tak tercatat
Angka statistic PDB indonesia yang dilaporkan oleh badan Pusat Statistik
hanya mencatat kegiatan-kegiatan ekonomi formal. Karena itu, statistic
PDB belum mencerminkan seluruh aktivitas perekonomian suatu Negara.
Misalnya upah pembantu rumah tangga di indonesia tidak tercatat dalam
statistic PDB. Dinegara-negara berkembang, keterbatasan kemampuan
pencatatan lebih disebabkan oleh kelemahan administratif dan struktur
kegiatan ekonomi masih didominasi oleh kegiatan pertanian dan formal.

13
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
PDB merupakan ukuran yang baik untuk kesejahteraan ekonomi untuk
sebagian besar , namun tidak semua tujuan. PDB adalah nilai pasar semua barang
dan jasa akhir yang diproduksi dalam satu perekonomian dalam kurun waktu
tertentu. PDB mencakup seluruh barang yang diproduksi dalam perekonomian dan
kemudian dijual secara legal dipasar. PDB juga mencakup nilai pasar jasa
perumahan yang disediakan oleh stok perumahan dalam perekonomian. PDB
suatu Negara mengukur nilai produksi di dalam batas-batas wilayah geografis
suatu Negara. PDB Nominal mengukur nilai output selama tahun tertentu
menggunakan harga yang berlaku selama tahun itu. Seiring waktu, tingkat umum
harga naik karena inflasi yang menyebabkan peningkatan PDB Nominal bahkan
jika jika volume barang dan jasa yang dihasilkan tidak berubah. PDB Riil
mengukur nilai output dalam dua tahun atau lebih yang berbeda dengan menilai
barang dan jasa disesuaikan dengan inflasi. Secara khusus, para ekonom ingin
mengukur jumlah barang dan jasa yang di produksi oleh perekonomian yang tidak
dipengaruhi oleh perubahan harga barang dan jasa.

3.2 Saran
PDB memang digunakan sebagai indikator pengukuran pendapatan suatu
Negara. Namun dengan meningkatnya PDB suatu Negara belum tentu
perekonomian masyarakat mengalami peningkatan. Pemerintah hanya mengukur
secara garis besar. Namun Masih banyak masyarakat yang hidup dibawah digaris
kemiskinan yang berarti PDB hanya digunakan sebagai tolak ukur tetapi tidak
berdampak pada meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu,

14
pemerintah harus lebih memaksimalkan pemerataan dan mendistribusikan
pendapatan, agar tidak menjadi kesenjangan di dalam tingkat kehidupan
masyarakat yang berakibat munculnya suatu ketegangan.
DAFTAR PUSTAKA

Mankiw, N. G. (2009). Principles of ECONOMICS Pengantar Ekonomi Makro.


(R. Widyaningrum, Ed.) (ketiga.). Jakarta: Salemba Empat.
Mankiw, N. G., Quah, E., & Wilson, P. (2014). PENGANTAR EKONOMI
MAKRO. (L. Febriana, Ed.) (Edisi Asia.). Jakarta: Salemba Empat.
Rahardja, P., & Manurung, M. (2008). Teori Ekonomi Makro suatu pengantar
(keempat.). Jakarta: Lembaga Penerit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia.
Silvia, E. D., Wardi, Y., & Aimon, H. (2013). Analisis Pertumbuhan Ekonomi,
Investasi, Dan Inflasi Di Indonesia. Jurnal Kajian Ekonomi, 1(2), 224–243.

15