Anda di halaman 1dari 6

Analisis Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia

Pembangunan ekonomi suatu negara yang dilakukan dalam jangka panjang

yang disertai dengan pertumbuhan pendapatan nasional atau PDB akan mendorong

negara tersebut mengalami perubahan struktur ekonomi. Perubahan struktur ekonomi

yang dimaksud adalah perubahan orientasi negara tersebut terhadap

perekonomiannya, dari ekonomi tradisional yang berorientasi pada pertanian sebagai

sektor utamanya ke ekonomi yang lebih modern dimana sektor non-primer seperti

industri manufaktur dan jasa menjadi fokusnya.

Ada kecenderungan bahwa semakin tinggi laju pertumbuhan ekonomi yang

akan membuat semakin tinggi pendapatan masyarakat per-kapita, semakin cepat

perubahan struktur ekonomi, dengan asumsi faktor-faktor penentu lain, seperti tenaga

kerja, bahan baku, dan teknologi mendukung proses tersebut.

Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya perubahan dalam struktur

ekonomi suatu negara antara lain:

1. Sifat manusia dalam kegiatan konsumsinya,


Apabila pendapatan naik, elastisitas permintaan yang diakibatkan oleh

perubahan pendapatan (income elasticity of demand) adalah rendah untuk

konsumsi bahan makanan. Sedangkan permintaan terhadap bahanbahan

pakaian, perumahan, dan barang-barang konsumsi hasil industri adalah

sebaliknya. Sifat permintaan masyarakat tersebut sesuai dengan hukum

Engels, dimana teori Engels mengatakan bahwa, makin tinggi pendapatan


masyarakat maka akan semakin sedikit proporsi pendapatan yang

digunakan untuk membeli bahan pertanian, sebaliknya proporsi pendapatan

yang digunakan untuk membeli produksi barang-barang industri menjadi

bertambah besar.
2. Perubahan teknologi yang terusmenerus berlangsung.
Perubahan teknologi yang terjadi di dalam proses pembangunan akan

menyebabkan perubahan pada struktur produksi yang bersifat compulsory

dan inducive. Kemajuan teknologi akan mempertinggi produktivitas

kegiatan-kegiatan ekonomi, pada akhirnya menyebabkan terjadinya

perluasan pasar serta kegiatan perdagangan. Dengan demikian akan tercipta

produk baru yang tidak hanya diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan

bagi konsumsi masyarakat desa tetapi juga untuk kebutuhan masyarakat

kota. Produk baru tersebut timbul karena adanya kemajuan teknologi,

dengan demikian perubahan seperti itu disebut dengan perubahan struktur

produksi nasional yang bersifat compulsory yaitu memproduksi produk

yang belum tentu diperlukan masyarakat yang masih tradisional.


Selain itu, kemajuan teknologi juga menyebabkan perubahan dalam

struktur produksi nasional yang bersifat inducive, yaitu kemajuan dalam

menciptakan produk baru akan menyebabkan bertambahnya pilihan produk

yang dapat dikonsumsi masyarakat, dengan demikian kemajuan teknologi

menyebabkan terciptanya barang-barang yang lebih beragam dan bermutu.

Perubahanperubahan seperti ini selanjutnya menyebabkan peranan

produksi barang-barang industri dalam negeri menjadi bertambah penting.


Pembahasan mengenai perubahan struktur ekonomi suatu negara tidak terlepas

dari teori perubahan struktural. Teori perubahan struktural (structural change theory)

memusatkan perhatiannya pada mekanisme yang memungkinkan negara-negara yang

sedang berkembang untuk mentransformasikan struktur perekonomian dalam negeri

mereka dari pola perekonomian pertanian subsisten (perekonomian tradisional) ke

perekonomian yang lebih modern, lebih berorientasi ke kehidupan perkotaan, serta

memiliki sektor industri manufaktur yang lebih bervariasi dan sektor jasa yang

tangguh (Todaro: 2006). Aliran pendekatan perubahan struktural didukung oleh W.

Arthur Lewis dengan teori surplus tenaga kerja dua sektor (two sector surplus labor)

dan Holis B. Chenery dengan teori pola-pola pembangunan (patterns of

development).

Teori Surplus Tenaga Kerja Dua Sektor - Lewis


Teori Lewis pada dasarnya membahas proses pembangunan ekonomi yang

terjadi di perdesaan dan di perkotaan. Dalam teorinya, mengasumsikan bahwa

perekonomian suatu negara pada dasarnya terbagi menjadi 2, yaitu

perekonomian tradisional di perdesaan yang didominasi oleh sektor pertanian

dan perekonomian modern di perkotaan dengan industri sebagai sektor utama.

Di daerah pedesaan, karena pertumbuhan penduduknya tinggi, maka kelebihan

suplai tenaga kerja dan tingkat hidup masyarakatnya berada pada kondisi

subsisten (pertanian tradisional) akibat perekonomian daerahnya yang sifatnya

juga subsisten.
Teori Pola-pola Pembangunan Chenery
Kerangka pemikiran teori Chenery pada dasarnya sama seperti di model

Lewis. Teori Chenery, dikenal dengan teori pattern of development atau pola

perkembangan, memfokuskan pada perubahan struktur dalam tahapan proses

perubahan ekonomi di negara sedang berkembang, yang mengalami

transformasi dari pertanian tradisional ke sektor industri sebagai mesin

penggerak utama pertumbuhan ekonomi.

Kenaikan produksi sektor industri manufaktur yang terjadi saat adanya

perubahan struktur ekonomi suatu negara dinyatakan sama besarnya dengan jumlah

dari 4 faktor berikut.

a. Kenaikan permintaan domestik, yang memuat permintaan langsung untuk

produk industri manufaktur plus efek tidak langsung dari kenaikan

permintaan domestik untuk produk sektor-sektor lainnya terhadap sektor

industri manufaktur.
b. Perluasan ekspor (pertumbuhan dan diversivikasi) atau efek total dari

kenaikan jumlah ekspor tehadap produk industri manufaktur.


c. Subsitusi impor atau efek total dari kenaikan proporsi permintaan disetiap

sektor yang dipenuhi lewat produksi domestik terhadap output industri

manufaktur.
d. Perubahan teknologi atau efek total dari perubahan koefisien input-output

didalam perekonomian akibat kenaikan upah dan tingkat pendapatan

terhadap sektor industri manufaktur..


Didalam kelompok negara-negara sedang berkembang (NSB), banyak negara

yang juga mengalami transisi ekonomi yang sangat pesat dalam tiga dekade terakhir,

walaupun pola dan prosesnya berbeda antarnegara. Variasi ini disebabkan oleh

perbedaan faktor internal antarnegara tersebut seperti berikut.

a. Kondisi dan struktur awal ekonomi dalam negeri (basis ekonomi)


Suatu negara yang pada awal pembangunan

ekonomi/industrialisasinya sudah memiliki industri-industri dasar yang relatif

kuat akan mengalami proses industrialisasi yang lebih cepat/pesat

dibandingkan dengan negara yang hanya memiliki industri-industri ringan.


b. Besarnya pasar dalam negeri
Besarnya pasar domestik ditentukan oleh kombinasi antara jumlah

populasi dan tingkatan pendapatan rill per-kapita. Pasar dalam negeri yang

besar merupakan salah satu faktor intensif bagi pertumbuhan kegiatan

ekonomi, termasuk industri, karena menjamin adanya skala ekonomis dan

efisiensi dalam proses produksi (dengan asumsi bahwa faktor-faktor penentu

lainnya mendukung).
c. Pola distribusi pendapatan
Faktor ini sangat mendukung faktor pasar diatas. Walaupun tingkat

pendapatan rata-rata per-kapita naik pesat, tetapi kalau distribusinya pincang

maka kenaikan pendapatan tersebut tidak terlalu berarti bagi pertumbuhan

industri-industri selain industri-industri yang membuat barang-barang

sederhana, seperti makanan, minuman, sepatu, dan pakaian jadi (tekstil).


d. Karakteristik dan industrialisasi
Misalnya, cara pelaksanaan atau strategi pengembangan industri yang

diterapkan, jenis industri yang diunggulkan, pola pembangunan industri, dan


insentif yang diberikan. Aspek-aspek ini biasanya berbeda antarnegara yang

menghasilkan pola industrialisasi yang juga berbeda antarnegara.


e. Keberadaan SDA
Ada kecenderungan bahwa negara yang kaya akan SDA mengalami

pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah atau terlambat melakukan

industrialisasi atau tidak berhasil melakukan diversivikasi ekonomi

(perubahan struktur) daripada negara yang miskin SDA.


f. Kebijakan perdagangan luar negeri
Fakta menunjukan bahwa di negara yang menerapkan kebijakan

ekonomi tertutup (inward looking), pola dan hasil industrialisasinya berbeda

dibandingkan dengan negara yang menerapkan kebijakan ekonomi terbuka

(outward looking).

DAFTAR PUSTAKA

Tambunan, Tulus. (2011). Perekonomian Indonesia. Bogor: Ghalia Indonesia