Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN MAGANG

BAGIAN PELAYANAN

RS. MITRA IDAMAN KOTA BANJAR

Tinjauan kasus hipertensi di poliklinik Interna periode Januari-Desember 2018

Kota Banjar tahun 2019

Disusun Oleh :

Asep Peri Setiawan

4004150003

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA PUTERA BANJAR

TAHUN 2019
LAPORAN MAGANG

BAGIAN PELAYANAN

RS. MITRA IDAMAN KOTA BANJAR

Laporan ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada
program studi Ilmu Kesehatan Masyarakat

*Peminatan Epidemiologi Kesehatan

Disusun Oleh :

Asep Peri Setiawan

400415003

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA PUTERA BANJAR

TAHUN 2019
FORMAT IDENTITAS PEMAGANG

IDENTITAS PEMAGANG

A. Identitas Pribadi

Nama : Asep Peri Setiawan

NPM : 4004150003

Tempat Tanggal lahir : Banjar, 21 April 1993

Alamat : Ling. Pintusinga RT 001 RW 017 Banjar

Jumlah SKS yang telah lulus : 144

B. Lokasi Magang

Nama Institusi Magang : RS. Mitra Idaman

Alamat : Jl. Sudiro W no 57 Banjar

Unit kerja : Bidang Pelayanan

Bidang Konsentrasi : Rekam Medis

Waktu Pelaksanaan : 28 Januari 2019 sd 2 Maret 2019

C. Pembimbing

Pembimbing Lapangan : Kusdian Mayasari, S.Psi

Dosen Pembimbing Akademik : Arie Ardiyanti.,S.KM.,M.Si

Banjar, 14 Januari 2019

Asep Peri Setiawan

i
LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan magang ini telah disetujui oleh pembimbing akademik dan ketua Program Studi
Ilmu Kesehatan Masyarakat STIKes Bina Putera Banjar

Banjar, Maret 2019


Disetujui Oleh :

Mengetahui :
Pembimbing Lapangan Pembimbing Akademik

Kusdian Mayasari, S.Psi Arie Ardiyanti, S.KM.,M.Si

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan akhir kegiatan magang ini telah Dipertahankan dihadapan Tim Penguji dan telah
diperbaiki sesuai dengan masukan Tim Penguji

Banjar, Maret 2019


Disahkan :

Pembimbing Akademik Ketua Tim Penguji

Arie Ardiyanti, S.KM.,M.Si __________________________

iii
RINGKASAN

RS. MITRA IDAMAN

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ...

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas ridhonya, kami RS. Mitra Idaman terus maju dan
terus berkembang ke arah yang lebih baik.

Rumah Sakit Mitra Idaman berkedudukan sebagai unit usaha PT. Banjar Mekar yang
bergerak dalam bidang jasa pelayanan kesehatan yang dipimpin oleh seorang kepala
dengan sebutan Direktur yang secara teknis operasional bertanggung jawab kepada
Direksi PT. Banjar Mekar sebagai wakil pemilik institusi tersebut.

Rumah sakit Mitra Idaman mempunyai prinsip sosio ekonomi dimana merupakan rumah
sakit for profit namun tidak meninggalkan prinsip – prinsip sosial dengan tujuan membantu
pemerintah daerah dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal melalui upaya
kesehatan yang terjangkau masyarakat, bermutu, efektif dan efisien dengan senantiasa
berorientasi pada keselamatan pasien (patient safety)

Atas dasar kekeluargaan dokter-dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia
Kota Banjar maka tanggal 4 September 2006 didirikanlah Rumah Sakit Mitra Idaman.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat kota Banjar dan
sekitarnya dan untuk mendukung visi Indonesia sehat 2010 seperti tertuang dalam tujuan
Pembangunan Nasional yaitu untuk meningkatkan derajat kesehatan dalam mencapai
tujuan pembangunan kesehatan.

Terima Kasih

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, atas


rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas pembuatan Laporan Magang
yang berisi mengenai pengelolaan rekam medis di Rumah Sakit Mitra Idaman Kota Banjar
dan berbagai permasalahannya ini dengan baik.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada


pihak-pihak yang telah memberikan banyak dukungan, yakni :

1. Ibu Dr. Hj. Suryani, S.Pd.,MM.,M.KEs, sebagai Ketua STIKes Bina Putera
Banjar yang memberikan kesempatan terhadap kami untuk melakukan
praktik Magang di Rumah Sakit Umum Mitra Idaman Kota Banjar.
2. Bapak drg. Darmadji Prawirasetia.,M.Kes sebagai Direktur Rumah Sakit
Umum Mitra Idaman Kota banjar yang telah menerima kami untuk
melakukan praktik magang di Rumah Sakit Umum Mitra Idaman Kota
Banjar.
3. Bapak Drs. Ide Suhendar M.Kes. sebagai Ketua program studi Ilmu
kesehatan masyarakat STIKes Bina Putera Banjar yang telah mendukung
dalam pelaksanaan kegiatan praktik magang di Rumah Sakit Umum Mitra
Idaman Kota Banjar.
4. Ibu dr. Rosita sebagi Kepala Bagian Pelayanan Rumah Sakit Umum Mitra
Idaman Kota Banjar yang telah menerima kami untuk melakukan praktek
magang di bagian Rekam Medis.
5. Ibu Dwi Untari N.A Amd sebagi Kepala Seksi Rekam Medis Rumah Sakit
Umum Mitra Idaman Kota Banjar yang telah menerima kami untuk
melakukan praktek magang di bagian Rekam Medis.
6. Ibu Kusdian Mayasari S.Psi, sebagai Pembimbing lapangan yang telah
membimbing kami selama melakukan praktikum dan menyelesaikan
laporan kegiatan praktik magang di ruang Rekam Medis.
7. Ibu Arie Ardiyanti S.KM.,M.Si selaku Pembimbing Akademik Magang.
8. Staf dan Dosen STIKes Bina Putera Banjar.

v
9. Staf dan Pegawai Rekam Medis Rumah Sakit Umum Mitra Idaman Kota
Banjar.
10. Ayah, Ibu, Istri, anak, Kakak dan keluarga yang selalu memberikan
dukungan, semangat, dan do’a kepada penulis.
11. Teman-teman seperjuangan serta semua pihak yang telah membantu
dan memberikan motivasi kepada penulis.
Akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan praktik magang ini dengan
baik. Penulis mohon maaf apabila dalam penulisan laporan ini masih terdapat kesalahan.
Oleh karena itu, penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun.

Banjar, Januari 2019

Asep Peri Setiawan

vi
DAFTAR ISI

SAMPUL LUAR .....................................................................................................................

SAMPUL DALAM...................................................................................................................

IDENTITAS PEMAGANG ..................................................................................................... i

LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................................... ii

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................................... iii

RINGKASAN ....................................................................................................................... iv

KATA PENGANTAR ............................................................................................................ v

DAFTAR ISI ........................................................................................................................ vii

DAFTAR TABEL ...................................................................................................................x

DAFTAR GAMBAR .............................................................................................................. xi

DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................................... xii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1

1.2Tujuan .................................................................................................................... 2

1.3 Manfaat ............................................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................. 3

2.1 Rumah Sakit........................................................................................................ 3

2.1.1 Pengertian Rumah Sakit ............................................................................ 3

2.1.2 Fungsi Rumah Sakit ................................................................................... 3

vii
2.1.3 Tugas Rumah Sakit .................................................................................... 4

2.2 Rekam Medis ...................................................................................................... 4

2.2.1 Pengertian Rekam Medis ........................................................................... 4

2.2.2 Tujuan Penyelenggaraan Rekam Medis .................................................... 5

2.2.3 Kegunaan Rekam Medis ............................................................................ 5

2.2.4 Isi Rekam Medis ......................................................................................... 6

2.2.5 Sistem Penyelenggaraan Rekam Medis .................................................. 10

2.2.6 Pengelolaan Dokumen Rekam Medis ...................................................... 15

BAB III METODE KEGIATAN ........................................................................................... 27

3.1 Rencana Kegiatan Harian .................................................................................. 27

3.2 Teknik Pengumpulan Data ................................................................................. 27

3.3 Strategi Analisi Data .......................................................................................... 27

3.4 Tempat Magang ................................................................................................. 29

3.3 Waktu Pelaksanaan Magang ............................................................................. 29

BAB IV HASIL KEGIATAN..................................................................................................30

4.1 Gambaran umum tempat magang.........................................................................30

4.1.1 Sekilas pandang RS. Mitra Idaman............................................................30

4.1.2 Visi, Misi dan Moto RS. Mitra Idaman.........................................................31

4.1.3 Jenis pelayanan di RS. Mitra Idaman.........................................................32

4.1.4 Data Ketenagaan........................................................................................35

4.2 Kegiatan Magang...................................................................................................35

viii
4.3 Pembahasan..........................................................................................................37

4.3.1 Pengelolaan Rekam medis di RS. Mitra Idaman........................................37

4.3.1.1 Identifikasi pasien..........................................................................37

4.3.1.2 Sistem penyelenggaraan Rekam Medis........................................37

4.3.1.3 Proses pengelolaan Rekam Medis................................................38

4.3.2 Pembahasan...............................................................................................42

4.3.2.1 Pendaftaran...................................................................................42

4.3.2.2 Assembling....................................................................................43

4.3.2.3 Coding...........................................................................................43

4.3.2.4 Indeksing.......................................................................................43

4.3.2.5 Filling.............................................................................................44

BAB V PENUTUP................................................................................................................45

5.1 Kesimpulan............................................................................................................45

5.2 Saran.....................................................................................................................45

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................46

LAMPIRAN..........................................................................................................................47

ix
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Rencana Kegiatan ............................................................................................ 27

Tabel 4.1 Daftar ruangan rawat inap RS. Mitra Idaman ..................................................... 34

Tabel 4.2 Data ketenagaan RS. Mitra Idaman....................................................................35

Tabel 4.3 Kegiatan magang................................................................................................36

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Alur Proses Penyusutan dan Pemusnahan Berkas Rekam Medis..................15

Gambar 4.1 RS. Mitra Idaman.............................................................................................31

xi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Identifikasi pasien rawat jalan ......................................................................... 47

Lampiran 2 Identifikasi pasien rawat inap...........................................................................47

Lampiran 3 Identifikasi Pasien rawat darurat......................................................................47

Lampiran 4 Dokumen rekam medis yang di Assembling ...................................................48

Lampiran 5 Dokumen rekam medis yang di simpan...........................................................48

Lampiran 6 Form pengantar registrasi pasien IGD dan Observasi.....................................48

Lampiran 7 Form pendaftaran pasien baru.........................................................................49

xii
13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hipertensi atau yang sering disebut dengan tekanan darah tinggi adalah
suatu kondisi di mana tekanan darah mengalami peningkatan yang persisten.
Setiap kali jantung berdetak, maka jantung akan memompa darah ke
pembuluh darah, kemudian membawa darah ke seluruh tubuh. Pada orang
dewasa, tekanan darah normal yaitu 120 mmHg sistolik dan 80 mmHg
diastolik. Seseorang dikatakan hipertensi apabila tekanan darah sistolik sama
dengan atau di atas 140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik sama
dengan atau di atas 90 mmHg (WHO, 2015).
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) 2015, satu diantara
lima orang dewasa di seluruh dunia mengalami peningkatan tekanan darah.
Prevalensi kejadian hipertensi di seluruh dunia sekitar 972 juta orang atau 26,4%
masyarakat dunia mengalami hipertensi. Angka ini kemungkinan akan
mengalami peningkatan menjadi 29,2% di tahun 2030. Dari 972 juta penderita
hipertensi, 333 juta berada di negara maju dan sisanya (639 juta) berada di
negara berkembang. Prevalensi hipertensi tertinggi berada di daerah Afrika
yaitu 46% orang dewasa berusia di atas 25 tahun telah didiagnosis
hipertensi(WHO, 2013)
Dalam sistem kesehatan Indonesia terjadi perubahan epidemiologi
dimana terdapat penurunan penyakit menular dan peningkatan dalam
penyakit tidak menular salah satunya yaitu hipertensi (Depkes RI, 2015).
Prevalensi hipertensi di Indonesia didapat data dengan angka kejadian
tertinggi terdapat di daerah Bangka Belitung (30,9%), Kalimantan Selatan
(30,8%), Kalimantan Timur (29,6%), dan Jawa Barat (29,4%). Prevalensi
hipertensi di Indonesia berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah pada
umur ≥18 tahun sebesar 25,8 persen (Riskesdas, 2013).
Jumlah kasus Hipertensi di jawa barat salah satunya disumbang dari Kota
14

Banjar dengan Total Kasus Hipertensi sebanyak 125.969 dengan jumlah kasus
pada laki-laki sebanyak 61.647 dan perempuan 64.322. (profil jawa barat, 2014).
Jumlah kasus hipertensi di Kota Banjar dapat dilihat salah satunya dari laporan
penyakit terbanyak rawat jalan di Rumah Sakit Mitra Idaman pada tahun 2018
yaitu sebanyak 2.287 kasus dengan jumlah kasus pada laki-laki sebanyak 839
kasus dan perempuan 1.448 kasus.
Hipertensi merupakan tantangan besar dalam sistem pelayanan
kesehatan Indonesia, hipertensi yang tidak terkontrol dapat menimbulkan
kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung), dan otak
(menyebabkan stroke). Komplikasi hipertensi menyebabkan sekitar 9,4 kematian
di seluruh dunia setiap tahunnya. Hipertensi menyebabkan setidaknya 45%
kematian karena penyakit jantung dan 51% kematian karena penyakit
stroke (Kemenkes, 2014). Oleh karena itu penderita hipertensi perlu
menyadari bahwa pengendalian tekanan darah perlu dilakukan untuk
meminimalisir komplikasi.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi adalah faktor
genetik, umur, jenis kelamin, obesitas, asupan garam, kebiasaan merokok dan
aktifitas fisik. Individu dengan riwayat keluarga hipertensi mempunyai resiko 2
kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada orang yang tidak
mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Hipertensi meningkat seiring
dengan pertambahan usia, dan pria memiliki resiko lebih tinggi untuk
menderita hipertensi lebih awal. Obesitas juga dapat meningkatkan kejadian
hipertensi, hal ini disebabkan lemak dapat menimbulkan sumbatan pada
pembuluh darah sehingga dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap.
Asupan garam yang tinggi akan menyebabkan pengeluaran kelebihan dari
hormon natriouretik yang secara tidak langsung akan meningkatkan tekanan
darah. Asupan garam antara 5-15 gram perhari juga dapat meningkatkan
prevalensi hipertensi sebesar 15-20%. Kebiasaan merokok berpengaruh
dalam meningkatkan resiko hipertensi walaupun mekanisme timbulnya
hipertensi belum diketahui secara pasti.(armilawati HA dan Ridwan, 2016).
15

Berdasarkan latar belakang diatas maka saya selaku mahasiswa ilmu kesehatan
masyarakat yang sedang melakukan praktik magang di RS. Mitra Idaman tertarik
untuk menganalisa kunjungan pasien dengan diagnose hipertensi di poliklinik
interna periode januari-desember 2018.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui gambaran umum RS Mitra Idaman Kota Banjar.
2. Diketahuinya gambran umum penderita hipertensi di poliklinik interna rs. Mitra
idaman periode januari-desember 2018
3. Mengetahui penyebab masalah penyakit hipertensi berdasarkan analisa pohon
penyebab.
4. Diketahuinya alternatife pemecahan masalah berdasarkan hasil analisa pohon
penyebab.

1.2 Manfaat
1. Bagi Penulis
Laporan ini sebagai salah satu bahan pembelajaran bagi penulis khususnya
untuk pengetahuan mengenai pengelolaan rekam medis.
2. Bagi Akademis
Laporan ini sebagai bahan masukan untuk institusi pendidikan dalam hal
pengembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan serta ketrampilan bagi
mahasiswa.
3. Bagi Rumah Sakit
Laporan ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam rangka
peningkatan mutu pelayanan rumah sakit terutama bagi pihak manajemen rumah
sakit.
16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 HIPERTENSI
2.1.1 Pengertian Hipertensi
Tekanan darah adalah jumlah gaya yang diberikan oleh darah di
bagian dalam pembuluh arteri saat darah dipompa ke seluruh peredaran
darah. Tekanan darah tidak pernah konstan dan dapat berubah drastis
dalam hitungan detik, menyesuaikan diri dengan tuntutan pada saat itu
(Casey aggie RN,2012).
Tekanan darah dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa
darah. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyakit kronik
akibat desakan darah yang berlebihan dan hampir tidak konstan pada
pembuluh arteri, berkaitan dengan meningkatnya tekanan pada arterial
sistemik, baik diastolik maupun sistolik, atau bahkan keduanya secara
terus-menerus (Sutanto, 2010).
2.1.2 Jenis Hipertensi
Menurut Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan tahun 2006,
menyebutkan bahwa ada dua jenis hipertensi, yaitu (Depkes, 2006):
a) Hipertensi primer (Esensial)
Hipertensi primer merupakan suatu peningkatan presisten tekanan arteri
yang dihasilkan oleh ketidakteraturan mekanisme kontrol homeostatik
normal. Hipertensi ini tidak diketahui penyebabnya dan mencakup ±
90% dari kasus hipertensi.pada umumnya hipertensi esensial tidak
disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan karena berbagai faktor yang saling
berkaitan. Menurut Rohaendi tahun 2008, faktor yang paling mungkin
berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi esensial adalah faktor genetik,
karena hipertensi sering turun temurun dalam suatu keluarga.
b) Hipertensi sekunder
Kurang dari 10% penderita hipertensi merupakan penderita hipertensi
17

sekunder dari berbagai penyakit atau obat-obat tertentu yang dapat


meningkatkan tekanan darah. Disfungsi renal akibat penyakit ginjal kronis
atau penyakit renovaskuler adalah penyebab sekunder yang paling sering.
Obat-obat tertentu, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
mengakibatkan hipertensi bahkan memperberat hipertensi dengan menaikkan
tekanan darah. Apabila penyebab sekunder dapat diidentifikasi dengan
menghentikan obat atau mengobati penyakit yang menyertai
merupakan tahap awal penanganan hipertensi sekunder.
2.1.3 Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi hipertensi menurut The Seventh report of joint national committee
on prevention, detection, evaluation and the treatments of high blood
pressure.
Tabel 2.1 klasifikasi Hipertensi menurut JNC-7
Kategori Sistolik (mmHg) DIastolik (mmHg)
Optimal 115 atau kurang 75 atau kurang
Normal Kurang dari 120 Kurang dari 80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi tahap I 140-159 90-99
Hipertensi tahap II Lebih dari 160 Lebih dari 100
Sumber : Chobanian AV, 2003
WHO (world Healr Organization) dan ISH (International Society of
Hypertension) mengelompokan hipertensi sebagai berikut :
Tabel 2.2 Klasifikasi hipertensi menurut WHO dan ISH
Kategori Sistolik Diastolik
(mmHg) (mmHg)
Optimal <120 <80
Normal <130 <85
Normal-tinggi 130-139 85-89
Grade 1 (hipertensi ringan) 140-159 90-99
Grade 2 (hipertensi sedang) 160-179 100-109
Grade 3 (hipertensi berat ) >180 >110
Hipertensi sistolik terisolasi > 140 <90
Sumber : Suparto, 2010
Perhimpunan hipertensi Indonesia (PHI) pada januari 2007 meluncurkan
pedoman penanganan hipertensi di Indonesia yang diambil dari pedoman
negara maju dan negara tetangga dengan merujuk hasil JNC dan WHO.
18

2.1.4 Etiologi Hipertensi


Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang
beragam. Pada kebanyakan pasien, etiologi patofisiologisnya tidak
diketahui (hipertensi primer atau essensial). Hipertensi primer ini tidak
dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Kelompok lain dari populasi
dengan presentase rendah mempunyai peyebab yang khusus, dikenal
sebagai hipertensi sekunder. Banyak penyebab hipertensi sekunder, baik
endogen maupun eksogen. Bila penyebab hipertensi sekunder dapat
diidentifikasi, hipertensi pada pasien-pasien ini dapat disembuhkan secara
potensial (Depkes RI,2006).
2.1.5 Patofisiologi Hipertensi
Berbagai faktor dapat mempengaruhi konstriksi dan relaksasi
pembunuh darah yang berhubungan dengan tekanan darah. Bila seseorang
mengalami emosi yang tinggi, maka sebagai respon konteks adrenal
mengekresi epinefrin yang menyebabkan vasokontriksi. Selain itu,
konteks adrenal mengekresi kortisol dan steroid lainnya yang bersifat
memperkuat respon vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi
mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal menyebabkan pelepasan
renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian
diubah oleh enzim ACE (Angionensin Converting Enzyme) menjadi
angiotensin II, suatu vasokontriktor kuat yang pada gilirannya akan
merangsang sekresi aldosteron oleh konteks adrenal.
Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tulubus
ginjal, sehingga terjadi peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor
tersebut cenderung mencetus keadaan hipertensi (Tjay TH, 2002).
19

Gambar 2.1. mekanisme patofisiologi hipertensi (Depkes RI, 2006)

Kaplan menggambarkan beberapa faktor yang berperan dalam


pengendalian tekanan darah yang mempengaruhi rumus dasar: Tekanan
Darah = Curah Jantung x Tahanan Perifer. Mekanisme patofisiologi yang
berhubungan dengan peningkatan hipertensi esensial antara lain :
1) Curah jantung dan tahanan perifer
Keseimbangan curah jantung dan tahanan perifer sangat berpengaruh
terhadap kenormalan tekanan darah. Pada sebagian besar kasus
hipertensi esensial curah jantung biasanya normal tetapi tahanan
perifernya meningkat. Tekanan darah ditentukan oleh konsentrasi sel otot
halus yang terdapat pada arteriol kecil. Peningkatan konsentrasi sel otot
halus akan berpengaruh pada peningkatan konsentrasi kalsium
intraseluler. Peningkatan konsentrasi otot halus ini semakin lama akan
mengakibatkan penebalan pembuluh darah arteriol yang mungkin
dimediasi oleh angiotensin yang menjadi awal meningkatnya tahanan
perifer yang irreversible (Gray, et, al, 2005).
2) Sist em Renin-Angiotensin
Ginjal mengontrol tekanan darah melalui pengaturan volume cairan
ekstraseluler dan sekresi renin. Sistem Renin-Angiotensin merupakan
sistem endokrin yang penting dalam pengontrolan tekanan darah.
Renin disekresi oleh juxtaglomerulus aparantus ginjal sebagai respon
glomerulus underperfusion atau penurunan asupan garam, ataupun
20

respon dari sistem saraf simpatetik (Gray, et, al , 2005). Mekanisme


terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari
angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE
memegang peranan fisiologis penting dalam mengatur tekanan
darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi hati,
yang oleh hormon renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah
menjadi angiotensin I (dekapeptida yang tidak aktif). Oleh ACE yang
terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II
(oktapeptida yang sangat aktif). Angiotensin II berpotensi besar
meningkatkan tekanan darah karena bersifat sebagai vasoconstrictor
melalui dua jalur, yaitu:
a. Meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus.
ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada
ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan
meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar
tubuh (antidiuresis) sehingga urin menjadi pekat dan tinggi
osmolalitasnya. Untuk mengencerkan, volume cairan ekstraseluler
akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian
instraseluler. Akibatnya volume darah meningkat sehingga
meningkatkan tekanan darah.
b. Menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron
merupakan hormon steroid yang berperan penting pada ginjal.
Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan
mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari
tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali
dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada
gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah (gray, et al,
2005)
3) Sist em Saraf Otonom
Sirkulasi sistem saraf simpatetik dapat menyebabkan vasokonstriksi dan
dilatasi arteriol. Sistem saraf otonom ini mempunyai peran yang penting
dalam pempertahankan tekanan darah. Hipertensi dapat terjadi
21

karena interaksi antara sistem saraf otonom dan sistem renin-angiotensin


bersama–sama dengan faktor lain termasuk natrium, volume sirku
lasi, dan beberapa hormon (Gray et al, 2005)
4) Disfung si Endotelium
Pembuluh darah sel endotel mempunyai peran yang penting dalam
pengontrolan pembuluh darah jantung dengan memproduksi
sejumlah vasoaktif lokal yaitu molekul oksida nitrit dan peptida
endotelium. Disfungsi endotelium banyak terjadi pada kasus
hipertensi primer. Secara klinis pengobatan dengan antihipertensi
menunjukkan perbaikan gangguan produksi dari oksida nitrit (gray et al,
2005)
5) Sub stan si vasoaktif
Banyak sistem vasoaktif yang mempengaruhi transpor natrium
dalam mempertahankan tekanan darah dalam keadaan normal.
Bradikinin merupakan vasodilator yang potensial, begitu juga
endothelin. Endothelin dapat meningkatkan sensitifitas garam pada
tekanan darah serta mengaktifkan sistem renin-angiotensin lokal.
Arterial natriuretic peptide merupakan hormon yang diproduksi di
atrium jantung dalam merespon peningkatan volum darah. Hal ini
dapat meningkatkan ekskresi garam dan air dari ginjal yang akhirnya
dapat meningkatkan retensi cairan dan hipertensi (gray et al, 2005)
6) Hipe rkoagu la si
Pasien dengan hipertensi memperlihatkan ketidaknormalan dari
dinding pembuluh darah (disfungsi endotelium atau kerusakan sel
endotelium), ketidaknormalan faktor homeostasis, platelet, dan
fibrinolisis. Diduga hipertensi dapat menyebabkan protombotik dan
hiperkoagulasi yang semakin lama akan semakin parah dan merusak
organ target. Beberapa keadaan dapat dicegah dengan pemberian
obat anti-hipertensi (gray et al, 2005)
7) Disfung si diastolik
Hipertropi ventrikel kiri menyebabkan ventrikel tidak dapat
beristirahat ketika terjadi tekanan diastolik. Hal ini untuk memenuhi
22

peningkatan kebutuhan input ventrikel, terutama pada saat olahraga


terjadi peningkatan tekanan atrium kiri melebihi normal, dan
penurunan tekanan ventrikel (gray et al, 2005)
2.1.6 Diagnosis Hipertensi
Diagnosis hipertensi diperoleh melalui anamnesis mengenai
keluhan pasien, riwayat penyakit terdahulu dan penyakit keluarga,
pemeriksaan fisik meliputi pengukuran tekanan darah, pemeriksaan
funduskopi, pengukuran indeks masa tubuh (IMT), pemeriksaan lengkap
jantung dan paru-paru, pemeriksaan abdomen untuk melihat pembesaran
ginjal, massa intra abdominal, dan pulsasi aorta yang abnormal, palpasi
ekstemitas bawah untuk melihat adanya edema dan denyut nadi, serta
penilaian neurologis (Depkes RI, 2006)
Selain pemeriksaan fisik diperlukan juga tes laboratorium dan
prosedur diagnostik lainnya. Tes laboratorium meliputi urinalisis rutin,
Blood Ureum Nitrogen (BUN) dan kreatinin serum untuk memeriksa
keadaan ginjal, pengukuran kadar elektrolit terutama kalium untuk
mendeteksi aldosteronisme, pemeriksaan kadar glukosa darah untuk
melihat adanya diabetes mellitus, pemeriksaan kadar kolesterol dan
trigiserida untuk melihat adanya risiko aterogenesis, serta pemeriksaan
kadar asam urat berkaitan dengan terapi yang memerlukan diuretik.
2.1.7 Komplikasi Hipertensi
Hipertensi dalam jangka waktu lama akan merusak endothel arteri dan
mempercepat atherosclerosis. Komplikasi dari hipertensi termasuk
rusaknya organ tubuh seperti jantung, mata, ginjal, otak, dan pembuluh
darah besar. Hipertensi merupakan faktor resiko utama untuk penyakit
serebrovaskuler yaitu stroke, transient ischemic attack, penyakit arteri
koroner yaitu infark miokard angina, penyakit gagal ginjal, dementia, dan
atrial fibrilasi. Bila penderita hipertensi memiliki faktor risiko
kardiovaskuler yang lain, maka akan meningkatkan mortalitas dan
mordibitas akibat gangguan kardiovaskulernya tersebut. Menurut studi
Framigham, pasien dengan hipertensi mempunyai peningkatan risiko
yang bermakna untuk penyakit koroner, stroke, penyakit arteri perifer,
23

dan gagal jantung (Depkes RI, 2006).

2.2 FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN HIPERTENSI


Hipertensi merupakan penyakit yang disebabkan karena interaksi berbagai
faktor risiko. Risiko relative hipertensi tergantung pada jumlah dan tingkat
keparahan dari faktor risiko yang dapat dikontrol seperti stress, obesitas,
nutrisi dan gaya hidup, serta faktor yang tidak dapat dikontrol seperti genetik,
usia, jenis kelamin dan etnis.
2.2.1 Usia
Hipertensi merupakan penyakit multifaktor yang disebabkan oleh
interaksi berbagai faktor risiko yang dialami seseorang. Pertambahan usia
menyebabkan adanya perubahan fisiologis dalam tubuh seperti penebalan
dinding arteri akibat adanya penumpukan zat kolagen pada lapisan otot,
sehingga pembuluh darah akan mengalami penyempitan dan menjadi
kaku dimulai saat usia 45 tahun. Selain itu juga terjadi peningkatan
resistensi perifer dan aktivitas simpatik serta kurangnya sensitivitas
baroreseptor (pengatur tekanan darah) dan peran ginjal aliran darah ginjal
dan laju filtrasi glomerulus menurun (Arif D, 2013)
Menurut penelitian dari Febby Hendra tahun 2012 menunjukkan
adanya hubungan antara usia dengan kejadian hipertensi. Hal ini
disebabkan karena tekanan arterial yang meningkat sesuai dengan
bertambahnya usia, terjadinya regurgitasi aorta, serta adanya proses
degeneratif, yang lebih sering pada usia tua (Haendra F, 2012)
2.2.2 Jenis Kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria hampir sama dengan
wanita. Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum
menopause. Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh
hormon esterogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density
Lipoprotein (HDL).
24

Menurut penelitian dari Sapitri tahun 2016, menunjukkan bahwa ada


hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi. Jenis
kelamin terbanyak pada laki-laki yaitu 56,4% (Sapitri N, 2016)
2.2.3 Genetik
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu juga akan
menyebabkan keluarga itu memiliki risiko untuk menderita penyakit
hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar sodium
intraselular dan rendahnya rasio antara potassium terhadap sodium.
Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali
lebih besar untuk menderita hipertensi daripada orang yang tidak
mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Selain itu didapatkan 70-
80% kasus hipertensi esensial dengan riwayat hipertensi dalam
keluarga (Rohaendi, 2008).
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh sapitri tahun 2016,
menunjukkan bahwa mayoritas responden hipertensi memiliki riwayat
hipertensi keluarga sebanyak 71,8%. Keluarga yang memiliki hipertensi
dan penyakit jantung meningkatkan risiko hipertensi 2 sampai 5 kali lipat
(Sapitri N, 2016).
2.2.4 Etnis
Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam dari pada yang
berkulit putih. Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti
penyebabnya. Namun pada orang kulit hitam ditemukan kadar renin yang
lebih rendah dan sensitivitas terhadap vasopressin lebih besar (Armilawaty
HA, 2007)
2.2.5 Aktivitas Fisik
Perkembangan hipertensi dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah
satunya adalah aktifitas fisik. Orang yang dengan aktifitas fisik kurang
tapi dengan nafsu makan yang kurang terkontrol sehingga terjadi
konsumsi energi yang berlebihan mengakibatkan nafsu makan bertambah
yang akhirnya berat badannya naik dan dapat menyebabkan obesitas. Jika
berat badan seseorang bertambah, maka volume darah akan bertambah
25

pula, sehingga beban jantung untuk memompa darah juga bertambah.


Semakin besar bebannya, semakin berat kerja jantung dalam memompa
darah ke seluruh tubuh sehingga tekanan perifer dan curah jantung dapat
meningkat kemudian menimbulkan hipertensi (Utami P, 2009)
Penelitian dari Framingham study menyatakan bahwa aktivitas fisik
sedang dan berat dapat mencegah kejadian stroke. Selain itu, meta
analisis yang dilakukan juga menyebutkan hal yang sama. Hasil analisis
pertama menyebutkan bahwa berjalan kaki menurunkan tekanan darah
pada orangdewasa sekitar 2%. Analisis kedua pada 54 randomized
controlled trial (RCT), aktivitas aerobik menurunkan tekanan darah rata-rata
TDS 4 mmHg dan 2 mmHg TDD pada pasien dengan dan tanpa

hipertensi.(23) Peningkatan intensitas aktivitas fisik, 30-45 menit per hari


penting dilakukan sebagai strategi untuk pencegahan dan pengelolaan
hipertensi.
Aktivitas fisik yang mampu membakar kalori 800-1000 kalori akan
meningkatkan high density lipoprotein (HDL) sebesar 4.4 mmHg
(Khomsan, 2004). Sebagian besar studi epidimiologi dan studi intervensi
olahraga memberikan dukunga tegas bahwa peningkatan aktivitas fisik,
durasi yang cukup, intensitas dan jenis sesuai mampu menurunkan
tekanan darah secara signifikan, baik dengan tersendiri maupun
sebagai bagian dari terapi pengobatan. Aktivitas fisik yang baik dan rutin
akan melatih otot jantung dan tahanan perifer yang dapat
mencegah peningkatan tekanan darah. Disamping itu, olahraga yang
teratur dapat merangsang pelepasan hormon endorfin yang menimbulkan
efek euphoria dan relaksasi otot sehingga tekanan darah tidak meningkat
(Kokkinos PF ea, 2009)
Frekuensi adalah seberapa sering aktivitas dilakukan berapa hari
dalam seminggu. Intesitas adalah seberapa keras suatu aktifitas dilakukan.
Biasanya diklasifikasikan menjadi intensitas rendah, sedang, dan tinggi.
Waktu mengacu pada durasi, seberapa lama aktifitas dilakukan dalam satu
26

pertemuan (Ambardini, R.L, 2009). Kategori aktifitas fisik dipaparkan pada


tabel berikut:
Kategori aktivitas fisik Kegiatan
Rendah Duduk, berdiri, menyetir mobil, pekerja
laboratorium, mengetik, menyapu, menyetrika,
memasak, berjalan dengan kecepatan 2,5-3 mph,
bekerja dibengke, pekerjaan yang berhubungan
dengan listrik, tukang kayu, pekerjaan yang
berhubungan dengan restoran, membersihkan
rumah, mengasuh anak.
Sedang Berjalan dengan kecepatan 3,5-4 mph, mencabut
rambut, menangis dengan suara keras, bersepeda
Tinggi Berjalan mendaki, menebang pohon, menggali
tanah, sepak bola (Ambardini, R.L, 2009)
Aktivitas fisik dikelompokan menjadi 3 kelompok, yaitu :
1. Tinggi, jika dilakukan > 30 menit , > 3 kali per minggu
2. Sedang, jika dilakukan > 30 menit , < 3 kali per minggu
3. Tinggi, jika dilakukan < 30 menit , < 3 kali per minggu (WHO, 2013).
2.2.6 Obesitas
Obesitas merupakan keadaan kelebihan berat badan sebesar 20%
atau lebih dari berat badan ideal. Obesitas mempunyai korelasi positif
dengan hipertensi. Anak-anak remaja yang mengalami kegemukan
cenderung mengalami hipertensi. Ada dugaan bahwa meningkatnya berat
badan normal relatif sebesar 10% mengakibatkan kenaikan tekanan darah 7
mmHg (Mannan H, 2012)
Penyelidikan epidemiologi membuktikan obesitas merupakan ciri khas
pada populasi pasien hipertensi. Curah jantung dan volume darah pasien
obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingkan penderita yang
mempunyai berat badan normal dengan tekanan darah yang setara. Akibat
obesitas, para penderita cenderung menderita penyakit kardiovaskuler,
hipertensi dan diabetes mellitus (Rohaendi, 2008)
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sapitri tahun 2016
menunjukkan bahwa orang dengan obesitas (IMT>25) beresiko menderita
hipertensi sebesar 6,47 kali dibanding dengan orang yang tidak
obesitas (Sapitri N, 2016)
27

2.2.7 Konsumsi Lemak


Konsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan peningkatan berat
badan yang beresiko terjadinya hipertensi. Konsumsi lemak jenuh juga
meningkatkan risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan
tekanan darah. Penurunan konsumsi lemak jenuh, terutama lemak dalam
makanan yang bersumber dari hewan dan peningkatan konsumsi lemak
tidak jenuh secukupnya yang berasal dari minyak sayuran, biji-bijian dan
makanan lain yang bersumber dari tanaman dapat menurunkan tekanan
darah (Rohaendi, 2008).
2.2.8 Konsumsi Natrium
Garam merupakan faktor penting dalam pathogenesis hipertensi.
Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada suku bangsa dengan
asupan garam rendah. Apabila asupan garam antara 5-15 g/hr prevalensi
hipertensi meningkat menjadi 15-20% (Depkes RI, 2008)
Pengaruh asupan garam terhadap hipertensi terjadi melalui
peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah. Konsumsi
garam yang dianjurkan tidak lebih dari 6 gr/hr yang setara dengan 110
mmol natrium atau 2400 mg/hr. asupan natrium yang tinggi dapat
menyebabkan tubuh meretensi cairan sehingga meningkatkan volume
darah (Armilawaty HA, 2007)
Menurut Depkes RI, klasifikasi dari banyaknya asupan natrium yang
dikonsumsi sehari-hari yaitu tinggi: jika ≥6 grm sehari atau >3 sdt dan
normal: jika <6 grm sehari atau ≤3 sdt (Depkes RI, 2006)
Hal ini sejalan degan hasil penelitian yang dilakukan oleh Raihan tahun
2014, menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara pola asupan
garam dengan kejadian hipertensi (Raihan LN, 2014)
2.2.9 Merokok
Hubungan antara merokok dengan peningkatan risiko terjadinya
penyakit kardiovaskuler telah banyak dibuktikan. Selain dari lamanya
28

merokok, risiko akibat merokok terbesar tergantung pada jumlah rokok


yang dihisap per hari.
Seseorang yang merokok lebih dari satu pak (15 batang) rokok
sehari memiliki risiko 2 kali lebih rentan untuk menderita hipertensi dan
penyakit kardiovaskuler daripada mereka yang tidak merokok (Armilawaty
HA, 2007).
2.2.10 Konsumsi alcohol dan kafein
Konsumsi alkohol dan kafein secara berlebihan yang terdapat
dalam kopi, teh, dan cola akan meningkatkan aktifitas syaraf simpatis
karena dapat merangsang sekresi Corticotropin Releasing Hormone
(CRH) yang berujung pada peningkatan tekanan darah. Sementara kafein
dapat menstimulasi jantung untuk bekerja lebih cepat sehingga
mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya (Sugiyono A, 2007)
2.2.11 Stres
Stress diyakini memiliki hubungan dengan hipertensi. Hal ini
diduga melalui aktivitas syaraf simpatis yang dapat meningkatkan tekanan
darah secara intermiten. Disamping itu juga dapat merangsang kelenjar
anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut
lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat. Jika
stress berlangsung cukup lama, tubuh akan berusaha mengadakan
penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau perubahan patologis.
Gejala yang akan muncul berupa hipertensi atau penyakit mag. Stress
dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu dan bila stress
sudah hilang tekanan darah bisa normal kembali (Sugiyono A, 2007).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sapitri tahun 2014
menunjukkan bahwa orang yang memiliki riwayat stress mempunyai
risiko mendertia hipertensi sebesar 0,19 kali dibanding dengan yang tidak
memiliki riwayat stress (Sapitri N, 2016)
29

BAB III

METODE KEGIATAN

3.1 Kegiatan Harian

Tabel 3.1 kegiatan Harian Magang

Lama (Hari) Kegiatan


28 januari – 1 Pengenalan Unit Rekam Medis dan proses pengelolaan rekam medis
februari
4 februari – 8 Mengambil data yang bersumber dari rekam medis mengenai penyakit
februari poliklinik interna periode januari-desember 2018
11 februari – Melakukan proses analisa terhadap data yang sudah dikumpulkan
15 februari
18 februari – Melakukan proses penilaian penyebab melalui pohon penyebab dan
22 februari menarik kesimpulan untuk dilakukan intervensi
25 februari – 1 Penyusunan akhir laporan magang beserta penilaian akhir dari
maret pembimbing lapangan RS. Mitra Idaman

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Sumber data Laporan Magang ini terdiri atas sumber data primer dan data sekunder
yaitu:
1. Data primer disini adalah Data yang didapatkan dari hasil wawancara atau Bertanya
Langsung mengenai Hipertensi kepada penderita hipertensi yang datang berobat ke
poliklinik interna Rs. Mitra Idaman.
2. Data sekunder disini adalah Data yang didapatkan dengan melihat langsung rekam
medis rawat jalan guna mengetahui penderita yang betul didiagnosis hipertensi oleh
dokter penanggung jawab pasien di RS. Mitra Idaman
30

3.3 Strategi Analisis Data

1. Menetapkan Masalah
Secara umum pengertian masalah adalah kesenjangan yang terjadi antara
harapan dengan kenyataan. Sedangkan dalam penelitian, masalah dapat diartikan
sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar
terjadi, antara teori dengan praktek, antara aturan dengan pelaksanaan, antara
rencana dengan pelaksanaannya dan yang sejenis dengan itu. Ada tiga karakteristik
yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi masalah :
a. Masalah tersebut “layak diteliti”, artinya pengkajian terhadap masalah
tersebut dapat dilakukan dengan cara terukur secara empiris melalui
pengumpulan data dan pengolahan data. Dengan demikian, masalah-
masalah yang berkaitan dengan isu-isu filosofis, etika, moral atau nilai-nilai
ideal tidak bisa dijadikan masalah karena sulit diukur.
b. Sifat dari masalah tersebut, yaitu mempunyai nilai teoritis dan praktis artinya
masalah tersebut diangkat dan ada teorinya yang kuat dan mempunyai
dampak praktis.
c. Masalah tersebut realistis, arti realistis di sini sangat luas, diantaranya
masalah itu terjangkau oleh kemampuan, baik dari segi keilmuan,
penguasaan konsep atau teori, waktu, tenaga dan biaya, dan lain-lain (Toha
Anggoro,dkk., 2007: 1.15).
2. Menetapkan prioritas masalah
Jika terdapat lebih dari satu masalah, maka harus ditentukan prioritas masalah.
Hal ini disebabkan oleh adanya keterbatasan dan sumber daya, serta kemungkinan
masalah-masalah tersebut saling berkaitan. Masalah yang menjadi prioritas masalah
adalah yang dianggap paling penting, dimana jika masalah tersebut diatasi maka
masalah-masalah lain juga dapat teratasi.
3. Penentuan Penyebab Masalah
Untuk menentukan penyebab masalah harus dilakukan identifikasi penyebab
masalah dengan syarat seorang peneliti harus mempunyai pengetahuan tentang
data yang di analisisnya. Dimulai dengan mengkaji ulang terlebih dahulu subjek-
31

subjek permasalahan yang telah ditemukan oleh analis. Dari permasalahan yang
ada kemudian diidentifikasi penyebab terjadinya masalah.
4. Alternatif Pemecahan Masalah
Dimulai dari merumuskan masalah yaitu dengan memperhatikan baik-baik apa
masalahnya kemudian uraikan dengan serinci mungkin serta pahami apa yang
menyebabkan masalah itu timbul. Setelah itu berfikir untuk melakukan beberapa
alternatif untuk pemecahan. Tulislah semua alternatif yang mungkin bisa dilakukan
sebagai acuan pelaksanaan untuk memecahkan masalah tersebut.

3.4 Tempat Magang

Magang dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Mitra Idaman Kota Banjar, di Bidang
Pelayanan Unit Rekam Medis. Yang berada di alamat Jl. Sudiro W No. 57 Kota Banjar,
Telp (0265) 742 175.

3.5 Waktu Pelaksanaan Magang

Waktu pelaksanaan magang lamanya 30 hari kerja atau sama dengan 5 minggu,
yang dimulai pada tanggal 28 Januari 2019 sampai dengan 02 Maret 2019.
BAB IV

HASIL KEGIATAN

1.1 Gambaran Umum Tempat Magang


1.1.1 Sekilas Pandang RS. Mitra Idaman

Rumah Sakit Mitra Idaman adalah institusi pelayanan kesehatan swasta


milik para dokter yang tergabung dalam IDI Kota Banjar Jawa Barat yang berbadan
hukum Perseroan Terbatas (PT), dengan nama PT. Banjar Mekar. Selang dua tahun
kemudian, rencana pembangunan rumah sakit ini akhirnya dapat terealisasikan,
dengan mengambil alih Klinik Bersalin Annisa milik dr. H. Djadja Kosnendar, Sp.OG
yang kemudian direnovasi dan diubah jenis pelayanannya menjadi rumah sakit
umum.

Rumah Sakit Mitra Idaman mulai beroperasi pada tanggal 4 September


2006. Diawal operasional, rumah sakit ini hanya memberikan layanan rawat jalan
berupa klinik spesialis sembari manajemen rumah sakit melengkapi pelayanannya,
dan selang satu minggu kemudian unit rawat inap dibuka. Ijin operasional yang
menjadi landasan hukum berdasarkan Surat Keputusan Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Barat Nomor 503/SK.1331-Yankes/2007 tentang Pemberian Ijin
Menyelenggarakan Sementara Rumah Sakit. Dan saat ini memegang ijin
operasional tetap dari Dinas Kesehatan Kota Banjar no.441/Kpts.087Dinkes/2015,
tanggal 26 Oktober 2015.

Rumah Sakit Mitra Idaman berada dibawah naungan PT. Banjar Mekar
dimana kepemilikan sahamnya dimiliki oleh para dokter yang tergabung
dalam IDI Kota Banjar, yang disahkan oleh Akta Notaris Nomor 23 tanggal 12 Mei
2004 Notaris Tien Norman Lubis, SH. dan terakhir diubah dengan Akta Penegasan
Pernyataan Keputusan Rapat PT Banjar Mekar Nomor 373 tanggal 28 Mei 2015,
dibuat dihadapan Notaris Hj. Hani Mulyani, SH, Sp1, Notaris di Tasikmalaya dimana
Akta tersebuttelah mendapat pengesahan berdasarkan Surat Keputusan Menteri

32
Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU- 0936701.
AH. 01. 02 Tahun 2015 tanggal 8 Juni 2015.

1.1.2 Visi, Misi dan Moto RS. Mitra Idaman

Gambar 4.1 Rumah Sakit Mitra Idaman

Visi Menjadikan Rumah Sakit Mitra Idaman sebagai idaman masyarakat


dan pusat pelayanan kesehatan terbaik di Priangan Timur dan
berstandar nasional.

Misi 1. Sebagai mitra pelayanan kesehatan lainnya di kota Banjar.

2. Menjadi Rumah Sakit Idaman masyarakat kota Banjar dengan


membangun citra yang baik melalui pelayanan prima.
3. Meningkatkan kepuasan pelanggan.
4. Meningkatkan mutu secara berkesinambungan.
5. Pendidikan dan pelatihan.
6. Menggunakan system management K3 (Keselamatan
Kesehatan Kerja).

Motto “Mitra Sehati Kesehatan Anda”


1.1.3 Jenis Pelayanan di RS. Mitra Idaman

Pelayanan IGD  Pelayanan Gawat Darurat


24 Jam
 Pelayanan Rawat Jalan IGD

Poliklinik  Klinik Penyakit Dalam


Rawat Jalan
 Klinik Kesehatan Anak

 Klinik Kebidanan dan Kandungan

 Klinik Bedah Umum

 Klinik Radiologi

 Klinik Bedah Saraf

 Klinik Bedah Orthopaedi

 Klinik Saraf

 Klinik Paru

 Klinik Jantung dan Pembuluh


Darah
 Klinik Gigi

 Klinik Umum

Rawat Inap President Suit

VVIP

VIP

Kelas 1
Kelas 2

Kelas 3

Penunjang  Pelayanan Laboratorium


1. Pemeriksaan Hematologi
2. Pemeriksaan Kimia Darah
3. Pemeriksaan Serologi
4. Pemeriksaan Klinik Rutin
5. Pemeriksaan Elektrolit
 Pelayanan Radiologi
1. Foto Rontgen (Thorax AP/PA)
2. Foto Lateral
3. BNO
4. Abdomen 2 posisi
5. Abdomen 3 posisi
6. Extremitas 1 Film 2 posisi / Atas
7. Extremitas 2 Film 2 posisi / Bawah
8. Schedel
9. Lumbo Sacral
10. Lumbal AP
 Pemeriksaan USG
1. Pemeriksaan Abdomen
2. Pemeriksaan Organ Kecil dengan
Colour Doppler

3. Lumbal Lat
4. Cervical/leher
5. Pelvic
6. EKG
7. Pemeriksaan Dengan Kontras
 Pelayanan Farmasi
 Rehabilitasi Medik
 Pelayanan Gizi & Konsultasi Gizi

Tabel 4.1 Daftar Ruangan Rawat Inap RS. Mitra Idaman


Pelayanan Rawat Inap
NAMA JMLH JMLH
NO. KELAS
RUANGAN KAMAR BED

1. Cendana A 1-4 VVIP 4 4

2. Cendana B 1-4 VVIP 4 3

3. Rasamala B-4 VVIP 1 1

4. Rasamala 1-2 VIP 2 2

5. Meranti 1-9 VIP 9 9

6. Meranti 10 a-b I 1 2

7. Mahoni 1-5 I 5 5

8. Pinus I 2 2

9. Rasamala 3 a-c II 1 3

10. Rasamala 5 a-c II 1 3

11. Rasamala 6 a-f III 1 6

12. Rasamala 7 a-g III 1 7

Intermediet
13. (Damar 1-15) 1 15

Perinatologi
14. (Jati Emas 1-10) 1 10

15. HCU 1-5 1 5

Observasi
16. (VK 1-6) 1 6

Jumlah 25 83
1.1.4 Data Ketenagaan

Tabel 4.2 Data ketenagaan RS. Mitra Idaman

Data Ketenagaan
No. Nama Jabatan / Profesi Jumlah

1 Dokter spesialis penyakit anak 2


2 Dokter spesialis bedah 2
3 Dokter spesialis kebidanan 4
4 Dokter spesialis penyakit dalam 2
5 Dokter spesialis radiologi 1
6 Dokter spesialis THT-KL 1
7 Dokter spesialis orthopedi 1
8 Dokter spesialis bedah saraf 1
9 Dokter spesialis saraf 1
10 Dokter spesialis anestesi 1
11 Dokter spesialis patologi klinik 1
12 Dokter spesialis jiwa 1
13 Dokter gigi 1
14 Dokter umum 9
15 Perawat 89
16 Bidan 14
17 Apoteker 3
18 Asisten Apoteker 11
19 Ahli Gizi 2
20 Radiografer 3
21 Analis Kesehatan 7
22 Perekam medik 4
23 Non kesehatan 110
1.2 Pembahasan
1.2.1 Distribusi penyakit hipertensi poliklinik interna Rs. Mitra idaman tahun
2018

Berdasarkan data registrasi Pasien di Poliklinik Interna RS. Mitra Idaman pada
tahun 2018, maka diperoleh distribusi penyakit sebagai berikut :

Tabel 4.3 Distribusi 10 besar penyakit rawat jalan poliklinik Interna Januari 2018

No Penyakit Jumlah
1 Gastropathy 270
2 CAD 216
3 HT 184
4 Tb paru 155
5 HHD 149
6 DM type 2 123
7 DM unspecified 70
8 CHF 63
9 PPOK 54
10 Cholelitiasis 30

Tabel 4.4 Distribusi 10 besar penyakit rawat jalan poliklinik Interna februari 2018

No Penyakit Jumlah
1 gastropathy 230
2 HT 217
3 CAD 198
4 tb paru 145
5 HHD 133
6 DM type 2 104
7 DM unspecified 83
8 CHF 64
9 PPOK 42
10 cholelitiasis 26
Tabel 4.5 Distribusi 10 besar penyakit rawat jalan poliklinik Interna maret 2018

No Penyakit Jumlah
1 gastropathy 210
2 HT 179
3 CAD 171
4 tb paru 145
5 DM type 2 94
6 HHD 86
7 Dm unspecified 71
8 CHF 40
9 PPOK 38
10 cholelitiasis 35

Tabel 4.6 Distribusi 10 besar penyakit rawat jalan poliklinik Interna april 2018

No Penyakit Jumlah
1 gastropathy 182
2 HT 147
3 tb paru 144
4 CAD 106
5 DM type 2 82
6 DM unspecified 71
7 HHD 63
8 CHF 50
9 PPOK 40
10 cholelitiasis 22
Tabel 4.7 Distribusi 10 besar penyakit rawat jalan poliklinik Interna mei 2018

No Penyakit Jumlah
1 HT 185
2 gastropathy 158
3 TB paru 150
4 CAD 112
5 HHD 82
6 DM unspecified 78
7 gastritis 75
8 DM type 2 72
9 CHF 50
10 PPOK 40

Tabel 4.8 Distribusi 10 besar penyakit rawat jalan poliklinik Interna juni 2018

No Penyakit Jumlah
1 HT 129
2 gastropathy 127
3 TB paru 116
4 CAD 91
5 DM unspecified 63
6 HHD 61
7 DM type 2 55
8 CHF 43
9 PPOK 40
10 gastritis 34
Tabel 4.9 Distribusi 10 besar penyakit rawat jalan poliklinik Interna juli 2018

No Penyakit Jumlah
1 gastropathy 186
2 HT 173
3 tb paru 120
4 DM type 2 90
5 HHD 80
6 CAD 79
7 CHF 67
8 PPOK 52
9 DM unspecified 48
10 bronchitis chronic 36

Tabel 4.10 Distribusi 10 besar penyakit rawat jalan poliklinik Interna agustus 2018

No Penyakit Jumlah
1 HT 198
2 gastropathy 145
3 tb paru 108
4 HHD 82
5 CAD 50
6 DM type 2 53
7 DM unspecified 57
8 CHF 54
9 PPOK 27
10 Bronchitis 41
Tabel 4.11 Distribusi 10 besar penyakit rawat jalan poliklinik Interna september 2018

No Penyakit Jumlah
1 HT 168
2 Gastropathy 108
3 Tb paru 83
4 DM unspecified 65
5 DM type 2 65
6 CAD 60
7 HHD 58
8 CHF 46
9 Gastritis 38
10 PPOK 31

Tabel 4.12 Distribusi 10 besar penyakit rawat jalan poliklinik Interna oktober 2018

No Penyakit Jumlah
1 HT 245
2 DM unspecified 151
3 gastropathy 131
4 HHD 111
5 CHF 81
6 gastritis 73
7 tb paru 75
8 CAD 48
9 DM type 2 44
10 ISK 26
Tabel 4.13 Distribusi 10 besar penyakit rawat jalan poliklinik Interna November 2018

No Penyakit Jumlah
1 HT 235
2 DM unspecified 170
3 gastropathy 123
4 CHF 92
5 CAD 90
6 HHD 79
7 gastritis 61
8 Tb paru 53
bronchitis
9 unspecified 27
10 DM type 2 28

Tabel 4.14 Distribusi 10 besar penyakit rawat jalan poliklinik Interna Desember 2018

No Penyakit Jumlah
1 HT 201
2 DM unspecified 136
3 gastropathy 111
4 HHD 90
5 CAD 69
6 CHF 51
7 gastritis 38
8 tb paru 32
9 Dm type 2 30
10 ISK 21
Sumber : Data laporan penyakit rawat jalan tahun 2018 RS. Mitra Idaman

Berdasarkan data penyakit poliklinik interna diatas maka bisa dilihat untuk tren
penyakit Hipertensi adalah sebagai berikut :
Distribusi kasus hipertensi januari -
desember 2018

245 235
217
198 201
184 179 185
173 168
147
129

JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGU SEP OKT NOV DES

Sumber : Data laporan penyakit rawat jalan tahun 2018 RS. Mitra Idaman

Gambar 4.2 Distribusi kasus hipertensi Januari – desember 2018

Berdasarkan gambar diatas, dapat dilihat jumlah kasus hipertensi yang paling
tinggi adalah pada bulan oktober 2018 dengan jumlah kasus 245 kasus, dan yang paling
sedikit jumlah kasus pada bulan juni 2018 dengan jumlah 129 kasus.
1.2.2 Alternatif Pemecahan Masalah
Analisis pohon masalah (problem tree analysis) terhadap kasus hipertensi
adalah sebagai berikut : Meningkatnya

Meningkatnya angka kematian

biaya kesehatan

Meningkatnya Menurunnya
angka kesakitan produktifias kerja

HIPERTENSI

Obesitas Stres Genetik


s
Kurang Kebiasaan merokok Kurangnya
aktifitas fisik dan minum alkohol pengetahuan
masyarakat tentang
hipertensi
Kurangnya
Gaya hidup
Tingginya konsumsi penyuluhan
masyarakat
garam & makanan
tinggi lemak, serta
Masalah Kurangnya
kurang konsumsi
ekonomi sosialisasi
makanan berserat

Tidak ada
Budaya
pekerjaan tetap
masyarakat

Gambar 4.3 analisis pohon penyebab masalah hipertensi

Berdasarkan analisis pohon masalah terhadap kasus hipertensi di poliklinik interna


RS. Mitra Idaman , ditemukan empat penyebab terjadinya penyakit hipertensi yaitu:

1. Budaya masyarakat, yang mendorong perubahan gaya hidup masyarakat seperti


tinginya konsumsi garam dan makanan tinggi lemak serta kurang mengkonsumsi
makanan berserat, kurangnya aktifitas fisik masyarakat yang lebih banyak
menggunakan kendaraan dibandingkan berjalan kaki, serta tingkat kesibukan
masyarakat yang cukup tinggi sehingga tak memiliki cukup waktu untuk berolahraga,
yang akhirnya menyebabkan obesitas, serta konsumsi rokok dan minuman beralkohol
yang juga merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi yang cukup tinggi.

2. Pekerjaan yang tidak tepat bagi masyarakat memicu munculnya masalah ekonomi guna
pemenuhan kebutuhan keluarga, karena kebutuhan keluarga tidak terpenuhi seluruhnya
maka menyebabkan masyarakat mengalami stress. Stress yang tidak terkontrol dapat
memicu terjadinya hipertensi.

3. Kurangnya sosialisasi berupa penyuluhan oleh petugas kesehatan menyebabkan


masyarakat kurang mengetahui tentang hipertensi, baik faktor risiko, tanda dan
gejala sehingga upaya pencegahan sulit dilakukan.
4. Faktor genetic atau riwayat keluarga hipertensi

Berdasarkan hasil yang didapatkan dengan metode analisis pohon masalah terhadap
kasus hipertensi di RS. Mitra Idaman, maka alternatife pemecahan masalah yang
didapatkan adalah sebagai berikut :

1. Mendorong masyarakat untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri (secara


mandiri) guna pemenuhan kebutuhan keluarga, dan menghindari keadaan stress karena
ekonomi.

2. Meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan melakukan penyuluhan kepada


masyarakat tentang hipertensi, yang bertujuan untuk mengubah gaya hidup
masyarakat dalam hal konsumsi makanan, meningkatkan aktifitas fisik, menghindari
konsumsi rokok dan minuman beralkohol, serta mengajak masyarakat dengan riwayat
keluarga hipertensi untuk rutin melakukan pemeriksaan tekanan darah, selain itu juga
upaya penyuluhan rutin yang dilakukan oleh Tim promosi kesehatan RS. Mitra Idaman
memegang peran penting dalam menyampaikan informasi mengenai hipertensi baik
kepada penderita maupun orang yang mengantar penderita.
3. Selain itu pihak Rumah Sakit juga bisa menyediakan poster dan leaflet mengenai
hipertensi sebagai upaya promotif dan preventif di RS. Mitra Idaman.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Hipertensi adalah penyakit tidak menular yang angka kunjungan
penderitanya terus berada di 10 besar penyakit poliklinik interna selama
periode tahun 2018
2. Adapun alternative pemecahana masalah yang perlu dilakukan oleh
pihak Rumah Sakit Mitra Idaman melalui hasil analisis pohon masalah
adalah sebagai berikut :
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Hatta, Gemala R. 2008. “Pedoman Manajemen Informasik Kesehatan di Sarana


Pelayanan Kesehatan”. Jakarta : UI-Press.

Permenkes RI No. 269/ MENKES/ PER/ III/ 2008. Rekam Medis. Jakarta : Depkes RI.

Anonim.2010.”Definisi, Tugas dan Fungsi Rumah Sakit Menurut WHO”.


http://KedaiObat.co.cc/ diakses tanggal 12 Juni 2015.
LAMPIRAN

Lampiran 1 Identifikasi Pasien Rawat Jalan

No Nomor RM
1 144865
2 145062
3 145175
4 145428
5 145835
6 145935
7 146035

Lampiran 2 Identifikasi Pasien Rawat Inap

No Nomor RM
1 145542
2 145824
3 146025
4 146255
5 146478
6 146895
7 147200

Lampiran 3 Identifikasi pasien rawat darurat

No Nomor RM
1 146522
2 146835
3 146978
4 147075
5 147125
6 147725
7 147542
Lampiran 4 Dokumen Rekam medis yang di Assembling

No Nomor RM
1 125078
2 134558
3 110501
4 145425
5 136859
6 102578
7 092578

Lampiran 5 Dokumen Rekam medis yang di simpan (filling)

No Nomor RM
1 025785
2 035846
3 078542
4 045868
5 082465
6 112501
7 130514

Lampiran 6 Form pengantar registrasi pasien IGD dan Observasi


Lampiran 7 Form pendaftaran pasien baru