Anda di halaman 1dari 6

e-Journal Keperawatan (e-Kp) Volume 5.

Nomor 1, Februari 2017

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PERAWAT DENGAN KEPATUHAN TERHADAP


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMASANGAN INFUS DI INSTALASI
GAWAT DARURAT RSUP PROF.DR.R.D.KANDOU MANADO
Tirsa Yuniske Kaloa
Lucky T.Kumaat
Mulyadi

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Unsrat


Email : tirsakaloa95@gmail.com

Abstract :Characteristics are the traits of individuals. compliance is appropriate behavior


rules and disciplined. Installation of an infusion of fluids and electrolytes is the grant to meet
the needs of the liquid. The purpose of the research: relationship characteristics of nurses
(level of education, employment, emergency training) and adherence to SOPS installation of
infusion. Methods: using design research analytic survey with cross sectional approach. The
sample numbered 40 respondents obtained by using purposive sampling technique. Data
collection using the questionnaire and observation sheets. Results: the results of the analysis
using chi-square test obtained p value = 0.387 for educational level, p = 0.369 for work, and
p = 0.552 for emergency training. Summary: there is no relationship between the level of
education, work, and emergency pelatiihan with adherence to standard operating procedures
in the Emergency installation of infusion was Prof. Dr. r. d. Kandou Manado. Advice: for
more nurses to preserve the quality of the service in compliance with the established
standards.

Keywords : Nurse Characteristics, installation compliance, infusion

Abstrak: Karakteristik adalah ciri-ciri dari individu. kepatuhan adalah perilaku sesuai aturan
dan berdisiplin. Pemasangan infus merupakan pemberian cairan dan elektrolit untuk
memenuhi kebutuhan cairan. Tujuan Penelitian : hubungan karakteristik perawat (Tingkat
pendidikan, masa kerja, pelatihan gawat darurat) dengan kepatuhan terhadap SOP
pemasangan infus. Metode: menggunakan desain penelitian survey analitik dengan
pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 40 responden yang didapat dengan
menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan
lembar observasi. Hasil : hasil analisis menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p =0,387
untuk tingkat pendidikan, p=0.369 untuk masa kerja, dan p= 0,552 untuk pelatihan gawat
darurat. Simpulan: tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan, masa kerja, dan
pelatiihan gawat darurat dengan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur
pemasangan infus di Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Saran:
bagi perawat lebih pertahankan kualitas pelayanan dalam kepatuhan terhadap standar yang
telah ditetapkan.
Kata Kunci : Karakteristik perawat, kepatuhan, pemasangan infus
e-Journal Keperawatan (e-Kp) Volume 5. Nomor 1, Februari 2017

PENDAHULUAN
Pelayanan keperawatan gawat pemasangan infus yang dilakukan di
darurat meliputi pelayanan keperawatan Instalasi Gawat Darurat non trauma
yang ditujukan kepada pasien yang tiba- mencapai 1.185 orang pada bulan Juli,
tiba berada dalam keadaan gawat atau 1.164 orang bulan Agustus dan bulan
akan menjadi gawat dan terancam 1105 orang pada bulan September.
nyawanya bila tidak mendapat Menurut data surveilans World
pertolongan secara cepat dan tepat Health Organisation (WHO) dinyatakan
(Musliha, 2010). Pemasangan infus bahwa angka kejadian pemasangan infus
(pemberian cairan intravena) merupakan di Instalasi Gawat Darurat cukup tinggi
tindakan pada kondisi gawat darurat yang yaitu 85% per tahun, 120 juta orang dari
sangat menentukan keselamatan hidup 190 juta pasien yang di rawat di rumah
pasien (Riyadi S & Harmoko, 2012). sakit menggunakan infus dan didapatkan
Maka dari itu perawat yang bertugas di juga 70% perawat tidak patuh dalam
Instalasi Gawat Darurat (IGD) dituntut melaksanakan standar pemasangan infus
untuk memiliki kemampuan lebih berdasarkan standar yang telah
dibandingkan yang lain, karena IGD ditetapkan.
merupakan sebuah pelayanan awal pada Hasil penelitian yang dilakukan
rumah sakit. Ayu S, 2014 dari 36 responden hanya 15
Perawat harus memiliki dasar responden (41.7%) dikatakan patuh
pengetahuan dan kompetensi mengenai sedangkan 21 responden (58.3%) tidak
protokol pelaksanaan dan implementasi patuh. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa
untuk mencegah terjadinya komplikasi masih banyak perawat yang belum
(Suprapto 2015). Penelitian yang melakukan pemasangan infus sesuai
dilakukan Tippins (2005) pada sebuah dengan standar yang berlaku. %.
rumah sakit pendidikan di London Penelitian lain yang dilakukan oleh Maria,
didapatkan bahwa perawat IGD tidak 2012 dikatakan bahwa 90% pasien yang
selalu memberikan tindakan keperawatan mendapat terapi intravena atau infus dan
dengan hasil yang optimal pada pasien, 50% dari pasien tersebut beresiko
walaupun mereka memiliki pengalaman mengalami kejadian infeksi komplikasi
pengetahuan tentang bagaimana lokal (phlebitis).
melakukan intervensi keperawatan pada Infeksi nasokomial dalam hal ini
pasien dengan berbagai macam tingkat phlebitis dapat terjadi karena kurangnya
kegawatan, namun terkadang masih ada higenitas petugas pada saat pelaksanaan
yang mengalami kegagalan yang tindakan. Infeksi dari tindakan
membuat pasien mengalami perburukan pemasangan infus (phlebitis) bagi pasien
kondisi klinis (Puspitasari 2015). menimbulkan dampak yang nyata yaitu
Tindakan pemasangan infus akan ketidaknyamanan pasien, pergantian
berkualitas apabila dalam pelaksanaannya kateter baru, menambah lama perawatan
selalu patuh pada standar yang telah menambah biaya lama perawatan di
ditetapkan demi terciptanya pelayanan rumah sakit bahkan dapat menyebabkan
kesehatan yang bermutu (Priharjo,2008). kematian (Djoni Djunaedi, 2001).
Menurut Depkes RI Tahun 2006 jumlah Sehingga dari uraian di atas penelitian
pemasangan infus di rumah sakit di tentang hubungan antara karakteristik
Indonesia sebanyak (17,11%) (Suprapto, perawat dengan kepatuhan terhadap
2015). Data yang diperoleh dari RSUP standar operasional prosedur pemsangan
Prof.DR.R.D Kandou Manado diruangan infus di Instalasi Gawat Darurat RSUP
Instalasi Gawat Darurat didapatkan data, Prof.DR.R.D.Kandou Manado perlu
jumlah tenaga perawat pelaksana ada 69 dilakukan penelitian.
orang dengan jumlah tindakan
e-Journal Keperawatan (e-Kp) Volume 5. Nomor 1, Februari 2017

METODE PENELITIAN sudah lebih dari 80 % perawat


Penelitian ini menggunakan berpendidikan Ners.
penelitian kualitatif dengan jenis
penelitian survey analitik, dan
menggunakan pendekatan cross sectional Tabel 2. Distribusi Frekuensi
, yaitu dengan cara pendekatan observasi Karakteristik Responden Berdasarkan
atau pengumpulan data sekaligus pada Masa Kerja
suatu saat antara karakteristik perawat
Masa Kerja n %
dengan kepatuhan terhadap standar
operasional prosedur pemasangan infus ≤2 tahun (Tidak 11 27,5
(Notoadmojo,2010). berpengalaman)
Karakteristik perawat dan kepatuhan
terhadap standar operasional prosedur di > 2 tahun 29 72,5
instalasi gawat darurat RSUP. Prof. Dr. R. (berpengalaman)
D. Kandou Manando di ukur secara Total 40 100
bersamaan pada suatu waktu dimana Sumber : Data Primer 2016
Karakteritik perawat diukur menggunakan Lama bekerja responden paling
kuesioner dan kepatuhan diukur dengan banyak ada pada ≤ 2 tahun yaitu sebanyak
lembar observasi. Populasi adalah 29 responden (72,5%) dan paling sedikit
keseluruhan subjek penelitian yang akan yaitu < 2 tahun sebanyak 11 responden
diteliti (Setiadi, 2013) yaitu sebanyak 69 (27,5%).
perawat. Sampel pada penelitian ini
adalah perawat yang ada di instalasi Tabel 3. Distribusi Frekuensi
gawat darurat RSUP. Prof. Dr. R. D. Karakteristik Responden Berdasarkan
Kandou Manando, yang berjumlah 40 Pelatihan Gawat Darurat
perawat.
Pelatihan Gawat n %
HASIL dan PEMBAHASAN Darurat
A. Analisa Univariat Dasar 36 90
Lanjut 4 10
Tabel 1. Distribusi Frekuensi
Karakteristik Responden Berdasarkan Total 40 100
Tingkat Pendidikan Sumber : Data Primer 2016
Tinggi Pendidikan N %
Vokasional 26 65,0 Hasil penelitan didapatkan bahwa
sebagian besar responden yang telah
Profesional 14 35,0 mengikuti pelatihan dasar yaitu sebnyak
Total 40 100 36 responden (90%) dan sisanya 14
mengikuti pelatihan lanjut yaitu sebanyak
Sumber : Data Primer 2016 4 responden (10 %) .
Hasil penelitan didapatkan bahwa Tabel 4. Distribusi Frekuensi kepatuhan
sebagian besar responden adalah perawat perawat terhadap SOP
vokasional yaitu sebnyak 26 responden
(65,0%) dan sisanya 14 responden (35,0 Kepatuhan perawat N %
%) perawat profesional. Patuh 33 82,5
Masih mendominasinya responden Tidak Patuh 7 17,5
dengan tingkat pendidikan diploma Total 40 100
kesehatan belum sesuai dengan yang Sumber : Data Primer 2016
diharapkan dimana pada tahun 2015
e-Journal Keperawatan (e-Kp) Volume 5. Nomor 1, Februari 2017

Hasil penelitian dari 40 responden mempraktikan keterampilan kerja yang


yang diteliti, dalam hal kepatuhan telah didapat dari pendidikannya sesuai
perawat terhadap standar operasional dengan standar operasional prosedur yang
pemasangan infus di Instalasi Gawat telah ditetapkan.
Darurat RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Peneliti berpendapat ada faktor
Manado didapatkan sebagian besar berada lain yang mungkin dapat mempengaruhi
dalam kategori patuh yaitu sebanyak 33 kepatuhan seseorang bisa saja dipengaruhi
responden (82,5 %), sedangkan responden karena sikap dari perawat tersebut.
yang tidak patuh sebanyak 7 responden
(17,5%). Tabel 6. Hasil Analisis Hubungan Masa
Kerja dengan kepatuhan terhadap Standar
B. Analisa Bivariat Operasional Prosedur Pemasangan Infus
Tabel 5. Hasil Analisis Hubungan
Tingkat pendidkan dengan kepatuhan Kepatuhan Perawat
terhadap Standar Operasional Prosedur Terhadap SOP p
Pemasangan Infus
Pemasangan Infus
Tidak
Kepatuhan Masa Patuh Total
Patuh
Perawat
Terhadap Kerja N % n % n %
P
SOP
Pemasanga ≤2 tahun
n Infus (Tidak
0
Pa Berpeng
Tidak ,
Tingkat tu Total alaman) 3 27,3 8 72, 11 100
Patuh 3
h >2tahun 4 13,8 25 86,2 29 100
6
Pendidi (Berpen
n % n % N % 9
kan galaman
)
Vokasio 23 76 Jumlah 7 17,5 33 82,5 40 100
0,
nal 6 ,1 20 ,9 26 100
38
Profesio 1 7, 13 92 14 100 Sumber: Data Primer, 2016
7
nal 1 ,9
Hasil analisis pada tabel 2x2
17 82
Jumlah 7
,5
33
,5
40 100 didapatkan masih ada satu sel yang
Sumber : Data Primer 2016 memiliki nilai harapan <5, maka uji yang
digunakan adalah uji fisher’s exact test.
Hasil analisis pada tabel 2x2 Hasil uji fisher’s exact test pada tingkat
didapatkan nilai harapan (expected kemaknaan 95 %(α<0,05) menunjukan
count)<5 sebanyak 2 sel (50 %). Menurut nilai P = 0,369, nilai P ini lebih besar
Hastono 2007 jika pada tabel 2x2 masih dari α (0,05) menunjukan bahwa tidak
terdapat nilai harapan <5 maka uji yang terdapat hubungan antara masa kerja
digunakan adalah uji fisher’s Exact Test. dengan kepatuhan terhadap standar
Hasil uji fisher’s exact test pada tingkat operasional prosedur pemasangan infus di
kemaknaan 95 % (α<0,05) menunjukan Instalasi Gawat Darurat RSUP
nilai P = 0,387, nilai P ini lebih besar Prof.Dr.R.D.Kandou Manado.
dari α (0,05) menunjukan bahwa tidak Hal ini didukung oleh teori Robin
terdapat hubungan antara tingkat (2007) yang mengatakan bahwa tidak ada
pendidikan dengan kepatuhan terhadap alasan yang meyakinkan bahwa orang-
standar operasional prosedur pemasangan orang yang telah lebih lama berada dalam
infus di Instalasi Gawat Darurat RSUP suatu pekerjaan akan lebih produktif dan
Prof.Dr.R.D.Kandou Manado. bermotivasi tinggi ketimbang mereka
Menurut Saragih (2010) hal ini yang senioritasnya yang lebih rendah
dapat terjadi karena tidak adanya (Maatilu, 2014).
kemauan, kesadaran atau motivasi dalam
e-Journal Keperawatan (e-Kp) Volume 5. Nomor 1, Februari 2017

Peneliti berpendapat hal ini dapat SIMPULAN


terjadi kemungkinan karena kurangnya Hasil penelitian yang dilakukan
pengawasan dari atasan. Penelitian yang diInstalasi Gawat Darurat RSUP Prof Dr.
telah dilakukan Haniva Hani (2015). R. D. Kandou Manado, dapat ditarik
simpulan sebagai berikut: Gambaran
Tabel 7. Hasil Analisis Hubungan tingkat pendidikan perawat sebagian besar
Pelatihan Gawat Darurat dengan ada pada D3 (Perawat Vokasional),
kepatuhan terhadap Standar Operasional gambaran masa kerja perawat sebagian
Prosedur Pemasangan Infus besar ada pada perawat dengan masa kerja
lebih dari 2 tahun (Berpengalaman),
Kepatuhan Perawat gambaran pelatihan perawat sebagian
Terhadap SOP p
Pemasangan Infus
besar ada pada pelatihan dasar gawat
Pelatiha Tidak darurat, gambaran tingkat kepatuhan
Patuh Total
n Patuh perawat sebagian besar patuh,
n % n % n % Karakteristik perawat dalam hal ini
Gadar Tingkat Pendidikan, Masa Kerja, dan
0
,
Pelatihan Gawat Darurat tidak ada
Dasar 6 26,7 8 72, 11 100 hubungan dengan kepatuhan terhadap
3
Lanjut 1 25,1 25 86,2 29 100
6 standar operasional prosedur pemasangan
9
infus.
Jumlah 7 17,5 33 82,5 40 100

Sumber: Data Primer, 2016 DAFTAR PUSTAKA


Hastono, SP. (2007). Analisis Data
Hasil analisis pada tabel 2x2 Kesehatan.Fakultas Kesehatan
didapatkan nilai harapan (expected Masyarakat Universitas Indonesia
count)<5 sebanyak 2 sel (50 %). Hasil uji
fisher’s exact test pada tingkat kemaknaan Maatilu. (2014). Faktor-faktor yang
95 % (α<0,05) menunjukan nilai P = berhubungan dengan response
0,552, nilai P ini lebih besar dari α (0,05) time perawat pada penanganan
menunjukan bahwa tidak terdapat pasien gawat darurat Di IGD
hubungan antara pelatihan gawat darurat RSUP rof. Dr . R. D. Kandou
dengan kepatuhan terhadap standar Manado
operasional prosedur pemasangan infus di ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp
Instalasi Gawat Darurat RSUP /article/download/5229/4743
Prof.Dr.R.D.Kandou Manado. Diakses pada tanggal 13 Oktober
Hal ini bisa terjadi dikarenakan 2016 pukul 21.00 WITA
kemampuan yang didapat perawat dari
pelatihan tidak dapat dipraktekkan denga Musliha. (2010). Keperawatan Gawat
baik karna tidak didukung oleh sarana Darurat Plus Contoh Askep
prasarana ataupun lingkungan yang ada. dengan Pendekatan NANDA NIC
Peneliti berpendapat bahwa NOC. Yogyakarta : Nuha Medika
kualitas pelayanan perawat di Instalasi
Gawat Darurat RSUP Notoadmojo, S. (2010). Metodologi
Prof.Dr.R.D.Kandou Manado sudah baik, Penelitian Kesehatan. Jakarta :
karena sudah sesuai dengan standar Rineka Cipta
pelayanan Instalasi Gawat Darurat Priharjo, R. (2008). Tehnik Dasar
(Kepmenkes 856 tahun 2009) dimana
semua perawat pelaksana telah mengikuti Pemberian Obat Bagi Perawat.
Pelatihan dasar gawat darurat. Jakarta: EGC
e-Journal Keperawatan (e-Kp) Volume 5. Nomor 1, Februari 2017

Saragih. (2010). Hubungan Karakteristik


Perawat Dengan Tingkat
Kepatuhan Perawat Melakukan
Cuci Tangan di Rumah Sakit
Columbia Asia Medan
https://www.academia.edu/660723
6/Hubungan_Karakteristik_Peraw
at_Dengan_Tingkat_Kepatuhan_P
erawat Diakses pada tanggal 16
oktober 2016 22.40 WITA
Suprapto (2015). Hubungan Antara
Tingkat pengetahuan perawat
Tentang Pemasangan infus
dengan kepatuhan pelaksanaan
protap Pemasangan infuse Di
instalasi gawat darurat RS TK II
Pelamonia Makassar
https://jurnalilmiahkesehatansandi
husada.files.wordpress.com/2016/
05/04-suprapto.pdf Diakses pada
tanggal 14 Oktobar 2016 pukul
21.38 WITA