Anda di halaman 1dari 37

PERAN UNITED NATIONS WORLD FOOD

PROGRAME TERHADAP KRISIS PANGAN DI


INDONESIA BAGIAN TIMUR

( Tahun 2012 - 2015 )

USULAN PENELITIAN

Diajukan untuk memenuhi tugas


pada Mata Kuliah Metode Penelitian Hubungan Internasional

Oleh,

NAMA : FEBBY REGINA RISTA MANOPO

NIM : 44315017
PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

BANDUNG

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Banyak faktor yang menjadi penyebab atas terjadinya krisis pangan


diantaranya pertambahan jumlah penduduk yang terjadi secara terus menerus di
dunia hampir mencapai 7miliar jiwa. Bertambahnya penduduk secara signifikan
ini menyebabkan ketersediaan pangan semakin menipis, maka itu memungkinkan
untuk terjadinya krisis pangan, kelaparan dan gizi buruk di dunia.

Indonesia termasuk negara yang mulai mengalami krisis pangan. Ini semua
menjadi ironi karen Indonesia sebagai negara agraris yang sebagian besar
penduduknya adalah petani tetapi negaranya mengalami krisis pangan. Krisis
pangan yang terjadi di Indonesia merupakan dampak dari kebijakan pemerintah
Indonesia.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia bekerjasama dengan WFP dalam


memerangi masalah krisis pangan dan gizi buruk di Indonesia. WFP ( World Food
Programme ) adalah badan pangan dunia yang didirikan oleh Perserikatan
Bangsa-Bangsa. Awal berdirinya World Food Programme seturut dengan sejarah
perkembangan masuknya pangan dalam salah satu permasalahan antar bangsa.

Pada masa setelah Perang Dunia I pangan menjadi perhatian masyarakat


internasional. Isu food security menjadi perhatian hingga usai Perang Dunia II, isu
tersebut menjadi perhatian didalam diskusi negara anggota PBB.

Pada 16 Oktober 1945, dibentuk FAO ( Foor and Agriculture Organization )


dibawah naungan PBB, yang dikhususkan untuk membahas perihal pangan dan
agrikultur. Tujuan utama dari dibentuknya FAO adalah untuk membebaskan
manusia di muka bumi dari kelaparan dan malnutrisi serta mengatur sistem
pangan global.
Pada tahun 1952, FAO membentuk CCP ( Committee on Commodity
Problems ). CPP ini bertujuan sebagai bentuk kesadaran kepada negara anggota
akan kelebihan pangan yang disebabkan oleh produksi berlebih terhadap
komoditas agrikultur agar kelebihan yang terjadi tersebut dapat digunakan sebagai
bantuan pangan kepada negara yang mengalami krisis pangan.

Sebagai bentuk setuju dengan rekomendasi CCP pada tahun 1961 dibentuklah
World Food Programme oleh Majelis Umum PBB. Tujuan dibentuknya WFP
untuk mendapatkan solusi terhadap masalah kelaparan dan malnutrisi yang terjadi
di negara-negara berkembang.

WFP berpendapat, masyarakat yang dapat dianggap bebas dari ancaman


permasalahan pangan adalah ketika mereka memiliki ketersediaan pangan yang
cukup, aman dan bergizi. Analisa food security WFP melihat kombinas dari tiga
elemen utama, yaitu:

1. Food Availability

Dapat diartikan ketersediaan pangan dengan kuantitas yang cukup.


Elemen ini mempertimbangkan ketersediaan pangan cukup disuatu
area/kawasan dan kapasitas untuk membawa pangan tersebut dari tempat
lain melalui perdagangan atau bantuan.

2. Food Access

Dapat diartikan bahwa masyarakat dapat memperoleh kuantitas pangan


yang cukup melalui pembelian, barter atau yang lainnya.

3. Food Utilization

Lebih mengutamakan pada nutrisi dan gizi pangan yang dikonsumsi oleh
masyarakat. Elemen ini mengharuskan masyarakat terbiasa dengan hidup
bersih seperti memasak sendiri, menggunakan air yang bersih,
menyiapkan makanan yang higienis.
Indonesia adalah penerima bantuan pertama saat WFP pertama kali dibentuk.
Pada 1964, Indonesia mendapatkan bantuan senilai US$1 juta untuk korban
letusan gunung Agung di Bali. WFP sempat berhenti beroperasi di Indonesia pada
tahun 1996 seiring dengan kemajuan Indonesia dalam hal kemajuan pangan.

Tetapi pada tahun 1998 Indonesia kembali bekerjasama dengan WFP dalam
menangani bencana kekeringan dan krisis yang terjadi di negeri ini yang
dikarenakan krisis moneter yang terjadi. WFP pada saat itu membantu menangani
krisis yang terjadi melalui program beras subsidi untuk masyarakat Jakarta dan
Surabaya.

Kerjasama antara Indonesia dan WFP pun terus berlanjut hingga tahun-tahun
berikutnya. WFP terus membantu memberikan bantuan pangan bagi
daerah-daerah yang terkena bencana di Indonesia. Seperti, tsunami di Aceh tahun
2004, gempa di Nias 2005, serta gempa Yogyakarta dan Jawa Barat tahun 2006.

Pada tahun 2012, WFP dan Pemerintah Indonesia sepakat menndatangani


perjanjian Country Programme Indonesia untuk tahun 2012-2015 dan itu semua
telah melalui Dewan Eksekutif tahun 2011. Bentuk kerjasama dari pemerintahan
Indonesia dan WFP ini memfokuskan pada Indonesia Timur dengan tiga program
utama, yaitu: Food Security Analysis, Mentoring and Mapping, Disaster Risk
Reduction and Management, dan Nutrition/Social Safety Net.

Dulu Indonesia dikategorikan sebagai low income country sehingga


mendapatkan bantuan komoditas pangan dari WFP. Tetapi status Indonesia kini
telah berubah, sekarang Indonesia tergolong middle income country. Oleh karena
itu, Indonesia tidak lagi mendapatkan bantuan pangan secara penuh dari WFP.

Maka paradigmanya menjadi partnership sehinggan Indonesia berkewajiban


berbagi beban atau cost sharing dengan WFP. Disini, Indonesia berkomitmen
memberikan US$2,8 juta untuk periode 2012-2015, dan sebagai timbal baliknya
WFP memasok komoditas pangan senilai US$47.
Meskipun termasuk golongan middle income country tetapi perkembangan
ekonomi di Indonesia belum merata. Meskipun produksi pangan terus bertambah
konsisten tetapi kesenjangan gizi dan pangan masih banyak dijumpai terutama di
bagian Timur Indonesia.

Di wilayah ini masalah kelaparan, dan gizi masih sangat memperihatinkan.


Jika permasalahan itu tidak ditanganani akan menyebabkan peningkatan
frekuensinya dan berpotensi memperburuk kondisi krisis pangan, dan
memperberat beban anggaran negara.

Beberapa data menunjukan bahwa masyarakat Indonesia serius mengalami


krisis pangan dan malnutrisi.

Populasi : 237.550.000 (2010 BPS)

Anak Balita 9.2% (2010 BPS)

Indeks peringkat perkembangan SDM : 124 (2011 UNDP report)

Indeks perkembangan jender : 100 dari 146 negara (2011 UNDP report)

PDB per kapita :US$ 3,494 (2011 World Bank report)

Garis Kemiskinan Nasional : 12,36% dibawah garis kemiskinan nasional


(US$ 1,55 ppp/person/day) 2011 BPS

Tingkat Melek Huruf : Laki-laki 94,56%

Perempuan 88,39%

Total 92,6% (2010 BPS)

Angka Kehadiran Sekolah Dasar : Anak Laki-laki 94,79%

Anak Perempuan 94,62% (2010 BPS)

Angka Kematian Ibu : 220 per 100.000 kelahiran (2010 MDG report)

Gizi Anak Balita : Gizi Kurang - 18,00% (status kurang baik, 10-19%)
(2010 Riskesdas)
Stunting : Malnutrisi Kronis - 35,60% (serius, 30-39%) (2010 Riskesdas)

Wasting : Malnutrisi Akut - 13,30% (serius, 10-14%) (2010 Riskesdas)

Visi dan strategi WFP di Indonesia adalah untuk bekerjasama dengan


pemerintah Indonesia dalam upaya pencapaian ketahanan pangan nasional dan
dalam rangka memerangi kelaparan yang ada di Indonesia. Tiga prioritas strategi
WFP dalam kerjasama Country Programme Indonesia 2012-2015 adalah:

1. Menguatkan kapasitas Indonesia dalam menangani kerawanan pangan


melalui kemampuan pengawasan, analisis dan pemetaan yang baik.

2. Menguatkan kapasitas Indonesia untuk siap siaga dan tanggap akan


bencana dan guncangan.

3. Menguatkan kapasitas Indonesia untuk mengurangi kerawanan gizi


dibawah garis kritis.
1.2 Rumusan Masalah

Jika dilihat dari pemaparan latar belakang diatas, maka rumusan masalah
untuk penelitian ini adalah:

Rumusan Masalah Makro

“Bagaimana Peran WFP dalam Membantu Indonesia Menangani Krisis


Pangan di Indonesia Timur?”

Rumusan Masalah Mikro

1. Upaya apa saja yang telah dilakukan WFP dalam membantu Indonesia
dalam permasalahan krisis pangan?

2. Dampak apa yang dirasakan Indonesia setelah mendapatkan bantuan dari


WFP dalam menangani krisis pangan?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1 Maksud

Maksud dari penulis melakukan penelitian ini adalah untuk


mengetahui, menganalisa dan menjelaskan sejauh mana peran dari WFP
dalam membantu Indonesia dalam menangani masalah pangan yang terjadi.

1.3.2 Tujuan

1. Untuk mengetahui upaya apasaja yang telah dilakukan WFP


dalam membantu Indonesia menangani masalah krisis pangan.

2. Untuk mengetahui dampak apa yang dirasakan masyarakat


Indonesia setelah adanya bantuan dari WFP

3. Untuk mengetahui seberapa efektif kerjasama antara Indonesia


dan WFP ini dalam menangani masalah pangan.
1.4 Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Akademis

Bagi perguruan tinggi, penelitian ini diharapkan dapat sebagai


referensi yang berguna untuk dijadikan acuan bagi mahasiswa dan juga
membuka wawasan pengetahuan.

1.4.2 Kegunan Praktis

Bagi penulis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu


dan wawasan bagi penulis dan mengasah kemampuan penulis.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Kerjasama Internasional

Kerjasama internasional secara teori meliputi hubungan antara dua

negara atau hubungan antara unit-unit yang lebih besar disebut juga dengan

multilateralisme. Walaupun bentuk kerjasama seringkali dimulai diantara dua

negara, namun fokus utama dari kerjasama internasional adalah kerjasama

multilateral. Multilateralisme didefinisikan oleh John Ruggie sebagai bentuk

intstitusioanl yang mengatur hubungan antara tiga atau lebih negara

berdasarkan pada prinsip-prinsip perilaku yang berlaku umum yang

dinyatakan dalam berbagai bentuk institusi termasuk didalamnya organisasi

internasional, rezim internasional, dan fenomena yang belum nyata terjadi,

yakni keteraturan internasional (Dougherty&Pflatzgraff,1997:420).

Perilaku kerjasama dapat berlangsung dalam situasi institusional yang

formal, dengan aturan-aturan yang disetujui, norma-norma yang disetujui,

norma-norma yang diterima, atau prosedur-prosedur pengambilan keputusan

yang umum. Teori kerjasama internasional sebagai dasar utama dari

kebutuhan akan pengertian dan kesepakatan pembngunan politik mengenai

dasar susunan internasional dimana perilaku muncul dan berkembang.

Melalui multilateralisme dari organisasi internasional, rezim internasional,


dan aktor internasional meletakan konsep masyarakat politik dan proses

integrasi dimana kesatuan diciptakan. (Dougherty&Pflatzgraff,1997:420).

Suatu kerjasama internasional didorong oleh beberapa faktor:

1. Kemajuan dibidang teknologi yang menyebabkan semakin mudahnya

hubungan yang dapat dilakukan negara sehingga

meningkatkan ketergantungan satu dengan yang lainnya.

2. Kemajuan dan perkembangan ekonomi mempengaruhi

kesejahteraan bangsa dan negara. Kesejahteraan suatu negara dapat

mempengaruhi kesejahteraan bangsa-bangsa.

3. Perubahan sifat peperangan dimana terdapat suatu keinginan bersama

untuk saling melindungi dan membela diri dalam bentuk

kerjasama internasional.

4. Adanya kesadaran dan keinginan untuk bernegosiasi,

salah satu metode kerjasama internasional yang dilandasi

atas dasar bahwa dengan bernegosiasi akan memudahkan

dalam pemecahan masalah yang dihadapi (Kartasasmita,1997:19).

2.1.2 Organisasi Internasional

Organisasi internasional adalah aktor hubungan internasional yang

tak kalah pentingnya dari negara, pengertian organisasi internasional menurut

Robert O. Keohane menjelaskan institusi sebagai seperangkat aturan yang


secara terus menerus terhubung secara formal maupun informal yang

menentukan peran atau tingkah laku, membatasi aktivitas, membentuk

harapan. (Darmayadi Dkk 2015:78)

Pada umumnya organisasi internasional dibentuk dalam rangka

mencapai seluruh atau beberapa tujuan berikut:

1. Regulasi hubungan internasional terutama melalui teknik-teknik

penyelesaian pertikaian antar negara secara damai.

2. Meminimalkan atau paling tidak mengendalikan perang atau konflik

internasional.

3. Memajukan aktivitas-aktivitas kerjasama dan pembangunan antar

negara demi keuntungan-keuntungan sosial dan ekonomi dikawasan

tertentu atau untuk manusia pada umumnya.

4. Pertahanan kolektif sekelompok negara untuk menghadapi

ancaman eksternal (Coulombis&Wolfe,1990:276).

Organisasi internasional terbagi menjadi dua kategori yang utama,

yaitu:

1. IGO ( International Governmental Organization ) adalah yang anggotanya

antar pemerintahan negara untuk mencapai tujuan bersama.

2. INGO ( International Non Governmental Organization ) adalah organisasi

internasional yang anggotanya individual. (Benneth 1995:2-3)


Menurut Leroy Bennet, fungsi utama dari organisasi

internasional yaitu untuk mengadakan upaya-upaya kerjasama

antarnegara dalam bidang-bidang tertentu dimana kerjasama

tersebut memberikan keuntungan-keuntungan bagi seluruh maupun

sebagian besar anggotanya (1995:3).

Sedangkan menurut Peter Toma dan Robert F Gorman,

suatu organisasi internasional mempunyai fungsi-fungsi utama yaitu

untuk mengadakan suatu kontak diplomatik secara

berkesinambungan antarnegara, mengontrol suatu konflik, serta

sebagai fasilitator bagi interaksi ekonomi antar negara

(1991:250-251).

Clive Archer membagi fungsi organisasi internasional kedalam

sembilan fungsi, yaitu:

1. Artikulasi dan Agregasi,

Organisasi internasional berfungsi sebagai instrumen bagi negara

untuk mengartikulasikan dan mengagregasikan kepentingannya, dan

organisasi internasional juga dapatmengartikulasikan kepentingannya

sendiri. Organisasi menjadi salah satu bentuk kontak

institusionalisme antara partisipan aktif dalam sistem

internasional yaitu sebagai forum diskusi dan negosiasi.

2 Norma
Organisasi internasional sebagai aktor, forum, instrument,

yang memberikan kontribusi yang berarti bagi

aktivitas-aktivitas normatif dari sistem politik internasional.

Misalnya dalam penetapan nilai-nilai atau prinsip-prinsip

non-diskriminasi.

3 Rekruitmen

Organisasi internasional menunjang fungsi penting untuk menarik

atau merekrut partisipan dalam sistem politik internasional.

4 Sosialisasi,

Sosialisasi berarti upaya sistematis unutk mentransfer

nilai-nilai kepada seluruh anggota sistem. Proses sosialisasi

pada level internasional berlangsung pada tingkat nasional

yang secara langsung mempengaruhi individu-individu atau

kelompok-kelompok di dalam sejumlah negara-negara yang bertindak

pada lingkungan internasional atau diantara wakil mereka di

dalam organisasi. Dengan demikian organisasi internasional memberikan

kontribusi bagi penerimaan dan peningkatan nilai kerjasama.

5 Pembuat Peraturan

Sistem internasional tidak mempunyai pemerintahan dunia, karena itu

pembuatan keputusan intenasional biasanya didasarkan pada praktek

masa lalu, panjanjian ad hoc, atau oleh organisasi

internasional.
6 Pelaksanaan Peraturan,

Pelaksanaan keputusan organisasi internasional hampir

pasti diserahkan kepada kedaulatan negara, karena tidak ada

lembaga otoritatif organisasi yang melaksanakan tugas tersebut

tersebut. Didalam prakteknya, fungsi aplikasi aturan oleh

organisasi Internasional seringkali lebih terbatas pada pengawasan

pelaksanaannya karena aplikasi sesungguhnya ada di tangan negara

anggota.

7 Pengesahan Peraturan,

Organisasi intenasional bertugas untuk mengesahkan aturan-aturan

dalam sistem internasional. Fungsi ajudikasi dilaksanakan oleh

lembaga kehakiman, namun fungsi ini tidak dilengkapi dengan

lembaga yang memadai dan tidak dibekali oleh sifat yang memaksa

sehingga hanya terlihat jelas bila ada pihak-pihak negara yang

bertikai.

8 Informasi,

Organisasi internasional melakukan pencarian,

pengumpulan, pengolahan, dan penyebaran informasi.

9 Operasional

Organisasi internasional menjalankan sejumlah fungsi operasioal di

banyak hal yang sama seperti halnya pemerintahan.


Fungsi pelaksanaan yang dilakukan organisasi internasional terlihat

dari apa yang dilakukan oleh WFP yang membantu negara-negara

dalam menangani masalah ketahanan pangan dan gizi.(Archer1983)

Suatu organisasi internasional memiliki struktur

organisasi untuk mencapai tujuannya. Masing-masing struktur

memiliki fungsinya sendiri yang mengacu pada tujuan dari

organisasi yang telah disepakati bersama. Apabila struktur-struktur

tersebut telah menjalankan fungsi-fungsinya, maka organisasi itu telah

menjalankan peranan tertentu. Dengan demikian, peranan dapat

dianggap sebagai fungsi baru dalam rangka pengejaran

tujuan-tujuan kemasyarakatan. Peranan dapat dikatakan juga sebagai

seperangkat perilaku yang diharapkan dari seseorang atau struktur

tertentu yang menduduki suatu posisi dalam suatu sistem

(Kantaprawira,1987:32).

2.1.3 Food Security

Food security menjadi salah satu fokus yang cukup penting di mata

global. Ketahanan pangan didefinisikan pada World Food Summit 1974

sebagai “Ketersediaan makanan dunia yang cukup dari bahan makanan dasar

untuk mempertahankan stabil perluasan konsumsi makanan dan untuk

mengimbangi fluktuasi produksi dan harga”(ReportWFP1975)


Menurut FAO, ketahanan pangan adalah situasi dimana semua rumah

tangga mempunyai akses secara fisik dan ekonomi untuk memperoleh pangan

bagi seluruh anggota keluarganya, dimana rumah tangga tidak beresiko

kehilangan keduanya (Mulyo & Sugiyarto, 2010). Kedua definisi tersbut

menggambarkan bahwa semua rumah tangga/individu dapat mendapatkan

pangannya disetiap waktu, disetiap tempat, dan terjangkau untuk semuanya,

pangan yang tersedia mampu memenuhi kebutuhan gizi dan aman untuk

dikonsumsi.

Krisis pangan terjadi karena tidak mampunya memenuhi standar

ketahanan pangan yaitu tidak terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat baik

secara kualitas maupun kuantitas. Dengan tercapainya ketahanan pangan

maka krisis pangan atas teratasi. Sementara ketahanan pangan dapat tercapai

ketika semua orang disetiap waktu, memiliki kondisi fisik, sosial dan ekonomi

yang cukup, makanan yang bergizi dan aman untuk memenuhi kebutuhan

pangan.

Ketahanan pangan dapat diwujudkan oleh hasil kerja sistem ekonomi

pangan yang terdiri atas tiga subsistem, yaitu subsistem penyediaan pangan,

distribusi dan konsumsi yang saling mempengaruhi secara berkesinambungan.

Subsistem penyediaan pangan mencakup aspek produksi, cadangan pangan,

bantuan pangan dan impor. Ketersdiaan pangan diutamakan dari hasil

produksi sendiri melalui swasembada (Mulyo & Sugiyarto, 2010).


Subsistem distribusi berkaitan pada aspek penyaluran yang merata ke

semua wilayah dan merata sepanjang waktu. Sedangkan subsistem konsumsi

adalah dampak dari sub sistem penyedian dan sub sistem distribusi. Subsistem

konsumsi mencakup pengarahan agar pola pemanfaatan pangan memenuhi

kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, keamanann dan kehalalan (Mulyo

& Sugiyarto, 2010).

Sedangkan menurut Dewan Ketahanan Pangan (2009) dalam

membentuk ketahanan pangan didasarkan pada tiga aspek utama yaitu:

(1) Ketersediaan pangan, tersedianya pangan secara fisik di daerah yang

diperoleh dari produksi domestik, impor/perdagangan maupun bantuan

pangan. Ketersedian pangan lebih ditentunkan dari produksi domestik.

(2) Akses pangan, kemampuan rumah tangga untuk memperoleh

pangan cukup, baik yang berasal dari produksi sendiri, pembelian,

barter, hadiah, pinjaman, dan bantuan maupun dari kelimanya.

(3) Pemanfaatan pangan dapat dilihat dari penggunaan pangan oleh

rumah tangga dan kemampuan individu untuk menyerap dan

memetabolisme zat gizi.

Konsep pendekatan yang sama juga digunakan Wijaya, et al (2016)

dalam membangun ketahanan pangan melalui:

(1) Keterjangkauan pangan yang berbasis pada pemanfaatan

sumberdaya lokal secara optimal.


(2) keterjangkauan pangan dari aspek fisik dan ekonomi oleh seluruh

masyarakat.

(3) pemanfaatan pangan atau konsumsi pangan dan gizi untuk hidup

sehat, aktif dan produktif.

Kerawanan pangan adalah kondisi kebalikan dari ketahanan pangan.

Kerawanan pangan dapat bersifat kronis atau sementara (transien).

Kerawanan pangan kronis dapat dilihat berdasarkan indikator yang

berhubungan dengan ketersedian pangan, akses pangan dan penghidupan,

serta pemanfaatan pangan dan gizi (Dewan Ketahanan Pangan, 2009).

Sedangkan untuk kerawanan pangan yang bersifat sementara, dapat

terjadi akibat bencana alam atau teknologi, perubahan harga, konflik sosial,

epidemik penyakit dan lain lain yang mempengaruhi ketahanan wilayah baik

sementara maupun jangka panjang (Dewan Ketahanan Pangan, 2009).

Indikator ketahanan pangan

Penggunaan indikator untuk mengukur keadaan ketahanan pangan

sangat bergantung pada ketersediaan data (Rindayati, 2009). Indikator

pencapaian ketahanan dapat dibagi menjadi dua indikator yaitu indikator

proses dan indikator dampak. Indikator proses dapat dijelaskan oleh

(1) ketersediaan, berkaitan dengan produksi pertanian, iklim, akses terhadap

sumberdaya alam, pengembangan institusi, pasar dll

(2) akses pangan, meliputi pendapatan, akses terhadap modal dll. Sementara

untuk indikator dampak terdiri dari dampak langsung dan tidak langsung.
Dampak langsung meliputi konsumsi, frekuensi pangan, status gizi,

sedangkan untuk dampak tidak langsung meliputi penyimpanan pangan

(Maxwell dan Frankenberger, 1992 dalam lubis, 2010).

Menurut Addibi, et al (2015) indikator yang digunakan untuk

mengidentifikasi suatu wilayah dikatakan tahan pangan atau rawan pangan,

menggunakan 10 indikator yaitu:

(1) ketersediaan pangan digunakan proporsi konsumsi normatif

terhadap ketersediaan netto padi dan jagung

(2) persentase penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan.

(3) persentase penduduk tanpa akses listrik

(4) persentase perempuan buta huruf

(5) persentase penduduk tanpa akses roda empat.

(6) persentase berat badan balita dibawah standar

(7) angka harapan hidup

(8) persentase kematian bayi

(9) persentase penduduk tanpa akses air bersih

(10) persentase penduduk yang jauh dari puskesmas.

Semantara itu menurut Wijaya, et al (2016) mengidentifikasi wilayah

tahan pangan atau rawan pangan terbagi atas tiga sub sistem utama, yaitu
aspek ketersediaan pangan, aspek akses pangan dan utilitas/penyerapan.

Indikator untuk mengukur aspek ketersediaan

(1) persentase rasio konsumsi dan ketersediaan pangan domestik.

(2) rasio layanan toko-toko prancangan/klontongan aktual dan

normatif

(3) lahan tidak beririgasi.

Indikator yang dapat digunakan pada aspek akses menggunkan 5

indikator yaitu:

(1) persentase rumah yang terbuat dari bambu.

(2) persentase tingkat penduduk tidak bekerja.

(3) persentase penduduk miskin.

(4) persentase penduduk tidak akses listrik.

(5) persentase pendidikan < SD.

Sedangkan untuk mengukur aspek utilitas/penyerapan dapat

digunakan 4 indikator yaitu:

(1) tingkat kematian bayi (Infant Mortality Rate – IMR).

(2) persentase penduduk tidak akses air bersih.

(3) persentase balita gizi kurang.

(4) persentase penduduk buta huruf.


Pada aspek akses pangan dan penghidupan, menggunakan 3 indikator

yaitu:

(1) persentase penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.

(2) persentase desa yang tidak memiliki akses penghubung yang

memadai.

(3) persentase rumah tangga tanpa akses listrik.

Ada 5 Indikator untuk menjelaskan ketahanan pangan pada aspek

pemanfaatan pangan. Kelima indikator tersebut yaitu:

(1) angka harapan hidup pada saat lahir

(2) berat badan balita dibawah standar (Underweight)

(3) perempuan buta huruf

(4) persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih

(5) persentase rumah tangga yang tinggal lebih dari 5 km dari fasilitas

kesehatan.

Mengukur ketahanan pangan di suatu wilayah berkaitan dengan

masalah kemiskinan yang terjadi pada wilayah tersebut. Konsep kemiskinan

sebagai gejala ekonomi sangat berbeda dengan konsep kemiskinan dilihat dari

gejala sosial (Santosa, 2005). Kemiskinan dilihat dari ekonomi merupakan

gejala yang terjadi di lingkungan penduduk miskin, biasanya berkaitan

dengan rendahnya pendapatan. Sedangkan bila dilihat dari gejala sosial lebih
banyak terdapat dari diri penduduk miskin sendiri seperti cara hidup, filosofis,

tingkah laku, nilai-nilai tradisional, persepsi dan pemahaman kehidupan

(Santosa, 2005).

Menurut Supriatna (1997) dalam Kadji (2013) mengatakan bahwa

kemiskinan adalah situasi yang serba terbatas yang terjadi bukan atas

kehendak orang bersangkutan. Suatu penduduk miskin dapat ditandai oleh

rendahnya tingkat pendidikan, produktivitas kerja, pendapatan, kesehatan,

gizi serta kesejahteraan hidupnya. Sementara menurut Suharyanto (2011)

dalam Syawie (2011) kemiskinan didefinisikan sebagai suatu kondisi saat

seseorang atau sekelompok orang tak mampu memenuhi hak-hak dasarnya

untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat.

Kemiskinan terbagi menjadi 2 macam, yaitu kemiskinan kultur dan

struktural. Kemiskinan kultur disebabkan oleh faktor-faktor adat atau budaya

suatu daerah tertentu yang membelenggu seseorang atau sekelompok

masyarakat tertentu sehingga membuatnya tetep melekat dengan kemiskinan.

Sedangkan pada kemiskinan struktural diakibatkan ketidakberdayaan

seseorang atau sekelompok masyarakat tertentu terhadap sistem atau tatanan

sosial yang tidak adil (BPS 2016).

Menurut BPS (2016) secara konseptual, kemiskinan terbagi menjadi 2

bagian. Pertama kemiskinan relatif merupakan kondisi miskin yang

disebabkan pengaruh kebijakan pembangunan yang belum mampu

menjangkau lapisan masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan pada


distribusi pendapatan. Standar yang ditetapkan berubah-ubah mengikuti

kondisi suatu negara yang terfokus pada penduduk termiskin. Kedua,

kemiskinan absolut adalah seberapa jauh perbedaan antara tingkat pendapatan

seseorang dengan tingkat pendapatan yang dibutuhkan untuk memenuhi

kebutuhan dasarnya. Kemiskinan absolut ditentukan berdasarkan ketidak

mampuan untuk mencukupi kebutuhan pokok minimum seperti pangan,

sandang, dan papan sebagai ukuran finansial dalam bentuk uang.

Menurut DKP (2009) mengartikan akses pangan sebagai kemampuan

rumah tangga untuk memperoleh cukup pangan, baik yang berasal dari

produksi sendiri, stok, pembelian, barter, hadiah, pinjaman dan bantuan

pangan. Akses pangan (food accessibility) bagi masyarakat dikatakan

terjamin ketika semua rumah tangga dan semua individu dalam rumah tangga

mempunyai sumber daya yang cukup untuk memperoleh pangan yang layak

dan bergizi (Riely et al, 1995 dalam Weingartner, 2004 dalm Mulyo &

Sugiyarto, 2010). Menurut Mulyo & Sugiyarto (2010) bahwa akses pangan

dapat dibagi atas 3 macam akses yaitu:

a) Akses ekonomi

Akses ekonomi berkaitan dengan kemampuan rumah tangga dalam

menyediakan sumber daya ekonomis (uang) untuk dapat memperoleh bahan

pangan. Akses ekonomi ini terkait dengan pendapatan, kesempatan kerja dan

harga pangan. Adanya kesempatan kerja bagi individu/anggota rumah tangga

akan mempunyai kekuatan akses yang lebih besar dibandingkan rumah


tangga yang lain. Faktor harga pangan berbanding terbalik dengan akses

ekonomi individu/rumah tangga, semakin tinggi harga pangan akan

menyebabkan akses terhadap pangan menjadi rendah. Akses pangan yang

rendah menjadikan rumah tangga/individu akan sulit untuk mendapatkan

pangan dengan cukup.

b) Akses fisik

Akses fisik berkaitan dengan kondisi sarana dan prasarana distribusi. Kondisi

sarana dan prasarana yang mendukung (adanya pasar, jalan, alat transportasi)

memungkinkan individu/rumah tangga mengakses pangan dengan lebih baik.

c) Akses sosial

Pada kondisi normal akses sosial terkait preferensi individu/rumah tangga

terhadap pangan. Preferensi itu sendiri tidak terlepas dari pengetahuan

(knowledge) dan tingkat pendapatan (level of income) dari individu/rumah

tangga. Sedangkan level harga berkaitan dengan harga itu sendiri.

2.2 Kerangka Pemikiran

Kemiskinan

Krisis Pangan

Kerjasama
Internasional

Ketahanan Pangan
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk memberikan

gambaran secara tepat mengenai keadaan atau perkembangan suatu objek

penelitian yang sedang berlangsung.

Menurut Nazir dalam bukunya Metode Penelitian dalam bentuk penelitian

deskriptif adalah: “Suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia suatu

objek, suatu set kondisi, suatu system pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa

pada masa sekarang, tujuan penelitian dari deskriptif ini adalah untuk membuat

deskripsi, gambaran atai lukisan secara sitematis, factual dan akurat mengenai

fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki”. (2003:54)

Berdasarkan definisi diatas dapat dilakukan suatu analisis bahwa metode

Deskriptif Analisis adalah suatu penelitian yang menggambarkan, melukiskan dan

melaporkan suatu keadaan objek atau peristiwa tertentu yang terjadi di lapangan

pada saat penelitian. Penelitian deskriptif analisis ini diajukan untuk

mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada,

mendefinisikan masalah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang

berlaku, membuat perbandingan atau evaluasi, mengumpulkan dan menuangkan

data dari lapangan melalui observasi, wawancara untuk kemudian di analisis.


3.2 Informan Penelitian

Informan kunci untuk penelitian ini adalah Tsani Najmal selaku owner

dari produ SiRangu.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam

penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa

mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data

yang memenuhi standar data yang di tetapkan.

3.3.1 Studi Pustaka

Memahami apa yang di teliti, maka upaya untuk menjadikan

penelitian tersebut baik. Perlu adanya materi-materi yang diperoleh dari

pustaka-pustaka lainnya. Menurut J.Supranto dalam buku Rosadi Ruslan,

mengemukakan:

“Studi pustaka adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan

dengan materi data atau informasi melalui jurnal ilmiah, bukubuku

referensi dan bahan-bahan publikasi yang tersedia diperpustakaan”

(Ruslan, 2003:31)

Peneliti disini dalam melakukan penelitian tentu tidak terlepas dari

adanya pencarian data dengan menggunakan studi kepustakaan. Disini

peneliti menggunakan studi pustaka dengan mencari berbagai data sebagai


pendukung dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti, yaitu dengan

menggunakan:

a. Referensi buku

Referensi buku adalah buku yang dapat memberikan

keterangan topik perkataan, tempat pariwisata ,data

statistika ,pedoman, alamat, nama orang, riwayat orang-orang

terkenal. Pelayanan referensi adalah pelayanan dalam

menggunakan buku-buku referensi dan disebut “koleksi referensi”,

sedangkan ruang tempat penyimpanan disebut ruang referensi

karena sifatnya dapat memberikan petunjuk harus selalu tersedia di

perpustakaan sehingga dapat dipakai oleh setiap orang pada setiap

saat.

b. Skripsi peneliti terdahulu,

Disini peneliti menggunakan studi pustaka dengan melihat

hasil karya ilmiah para peneliti terdahulu, yang mana pada

dasarnya peneliti mengutip beberapa pendapat yang dibutuhkan

oleh peneliti sebagai hasil pendukung penelitian. Tentunya dengan

melihat hasil karya ilmiah yang memiliki serta tinjauan yang sama.

c. Penulusuran Data Online,

Pada penelitian apapun bisa juga dalam pengumpulan data

dilakukan secara online atau media internet dengan mencari dan

mengumpulkan informasi-informasi berupa data-data yang

berkaitan dengan penelitian yang sedang diteliti oleh peneliti.


Diantaranya melalui alamat-alamat website seperti

www.google.com, jurnal-jurnal elektronik, berita-berita online dan

lain-lain.

Dengan hal ini, upaya penelitian yang dilakukan pun dapat menjadi

baik karena tidak hanya berdasarkan pemikiran sendiri selaku peneliti

melainkan pemikiran-pemikiran dan pendapat dari para ahli atau penulis

lainnya. Sehingga bisa dibandingkan serta referensi yang dapat

memberikan arah kepada peneliti.

3.3.2 Studi Lapangan

Adapun studi lapangan yang dilakukan oleh peneliti untuk

memperoleh data yang valid dan faktual yang diharapkan berkenaan

dengan penelitian yang dilakukan mencakup beberapa cara diantaranya

yakni:

a. Wawancara Untuk memperoleh data atau informasi yang akurat dan

relevan, peneliti melakukan studi lapangan dengan teknik wawancara

dari para narasumber. Wawancara adalah percakapan dengan maksud

tertentu. Seperti yang diungkapkan oleh Sugiono (2009:72).

“Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila

peneliti ingin menggunakan studi pendahuluan untuk menemukan

permasalahan yang ingin di teliti, tetapi juga apabila peneliti ingin

mengetahui responden yang lebih mendalam.”


Wawancara, peneliti melakukan dengan partisipan. Wawancara

seperti ini memerlukan pertanyaan-pertanyaan yang secara umum tidak

terstruktur (unstructured) dan bersifat terbuka (openened) yang dirancang

untuk memunculkan pandangandan opini dari para partisipan. Maka,

dalam hal ini peneliti pun mengumpulkan datadata dengan salah satu

caranya melalui wawancara untuk mendapatkan informasi yang

benar-benar relevan dari narasumber terkait.

b. Observasi non Partisipatif. Dalam observasi ini, peneliti tidak terlibat

aktif dan hanya sebagai pengamat independen. Sedangkan menurut

Sutoyo (2012:87), ada tambahan satu jenis observasi berdasarkan

pelaksanaan pengumpulan datayaitu observasi kuasi partisipan.

Observasi kuasi partisipan yaitu bila observer terlibat pada sebagian

kegiatan yang sedang dilakukan oleh observe, sementara pada

sebagian kegiatan yang lain observer tidak melibatkan diri.

Merupakan suatu “proses pengamatan observer tanpa ikut dalam

kehidupan orang yang diobservasi dan secara terpisah berkedudukan

sebagai pengamat” (Margono, 2005 : 161-162)

Berdasarkan definisi di atas observasi bukan hanya melihat

kenyataan yang ada tetapi peneliti juga belajar perilaku, kebiasaan dan

arti/makna dari perilaku tersebut. Dengan observasi peneliti akan lebih

mampu memahami konteks data dalam keseluruhan situasi sosial, jadi

akan dapat diperoleh pandangan yang holistic dan menyeluruh


Dokumentasi Memuat data-data pada penelitian sebagai upaya

untuk menafsirkan segala hal yang ditemukan dilapangan, perlu adanya

dokumentasi-dokumentasi dalam berbagai versi. Dalam buku yang

berjudul Memahami penelitian kualitatif karangan Sugiyono, menuturkan:

“Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu

dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya

monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan

misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, (life histories), cerita,

biografi, peraturan kebijakan. Dokumen yang berbentuk karya

misalnya karya seni yang berbentuk gambar, misalnya foto,

gambar hidup, sketsa dan lain-lain.”(Sugiono, 2010:82)

Pada penelitian ini, peneliti ikut mendokumentasikan apa yang

dilihat teliti di lapangan yang dijadikan sebagai gambaran yang ada di

lapangan.

3.4 Uji Keabsahan Data

Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi beberapa pengujian.

Peneliti menggunakan uji credibility (validitas interbal) atau uji kepercayaan

terhadap hasil penelitian. Uji keabsahan data ini diperlukan untuk menentukan

valid atau tidaknya suatu temuan atau data yang dilaporkan peneliti dengan apa

yang terjadi sesungguhnya di lapangan. Cara pengujian kredibilitas data atau

kepercayaan terhadap hasil penelitian menurut Sugiyono dilakukan dengan

perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian,

triangulasi,diskusi dengan teman sejawat,, dan membercheck. (2005:270)


1. Perpanjangan pengamatan, berarti peneliti kembali ke lapangan,

melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui

maupun yang baru.

2. Triangulasi, diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber

dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Triangulasi sumber dilakukan dengan

cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Triangulasi

teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan

teknik berbeda. Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan

observasi, dokumentasi, atau kuesioner. Triangulasi waktu dilakukan dengan cara

melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi,atau teknik lain dalam

waktu atau situasi yang berbeda. (Sugiyono, 2005:270-274). Pada penelitian ini

triangualasi data dilakukan dengan cara membandingan jawaban yang

disampaikan oleh informan utama dengan data yang ada

3. Diskusi dengan teman sejawat, teknik ini dilakukan dengan

mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi

dengan rekan-rekan sejawat. Pemeriksaan sejawat berarti pemerikasaan yang

dilakukan dengan jalan mengumpulkan rekan-rekan sebaya, yang memiliki

pengetahuan umum yang sama tentang apa yang sedang diteliti, sehingga bersama

mereka peneliti dapat me-review persepsi, pandangan dan analisis yang sedang

dilakukan. (Moleong, 2007:334)

3.5 Teknik Analisa Data


Suatu kegiatan yang mengacu pada penelaahan atau pengujian yang

sistematik mengenai suatu hal dalam rangka mengetahui bagian-bagian, hubungan

diantara bagian, dan hubungan bagian dengan keseluruhan.

Menurut Bodgan & Biklen bahwa:

“Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja

dengan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola,

mensistensikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang

penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat

diceritakan kepada orang lain” (Bodgan dan Biklen dalam Moleong,

2005:248)

Logika yang dilakukan dalam penarikan kesimpulan penelitian kualitatif

bersifat induktif (dari yang khusus kepada yang umum), seperti dikemukakan

Faisal (dalam Bungin, 2003: 68-69):

“Dalam penelitian kualitatif digunakan logika induktif abstraktif.

Suatu logika yang bertitik tolak dari ”khusus ke umum”; bukan

dari ”umum ke khusus” sebagaimana dalam logika deduktif

verifikatif. Karenanya, antara kegiatan pengumpulan data dan

analisis data menjadi tak mungkin dipisahkan satu sama lain.

Keduanya berlangsung secara simultan atau berlangsung serempak.

Prosesnya berbentuk siklus, bukan linier”.

Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan

data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu.
Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban

yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa

belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi, sampai tahap

tertentu, diperoleh data yang dianggap kredibel.

Data yang diperoleh dari lapangan dilakukan analisis melalui tahap-tahap

sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data (Data collection): Data yang dikelompokkan

selanjutnya disusun dalam bentuk narasi-narasi, sehingga berbentuk

rangkaian informasi yang bermakna sesuai dengan masalah penelitian.

2. Reduksi Data (Data reduction): Kategorisasi dan mereduksi data, yaitu

melakukan pengumpulan terhadap informasi penting yang terkait dengan

masalah penelitian, selanjutnya data dikelompokkan sesuai topik masalah.

3. Penyajian Data (Data Display): Melakukan interpretasi data yaitu

menginterpretasikan apa yang telah diinterpretasikan informan terhadap

masalah yang diteliti.

4. Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawing): Pengambilan kesimpulan

berdasarkan susunan narasi yang telah disusun pada tahap ketiga, sehingga

dapat memberi jawaban atas masalah penelitian

5. Evaluasi: Melakukan verifikasi hasil analisis data dengan informan, yang

didasarkan pada kesimpulan tahap keempat. Tahap ini dimaksudkan untuk

menghindari kesalahan interpretasi dari hasil wawancara dengan sejumlah

informan yang dapat mengaburkan makna persoalan sebenarnya dari fokus

penelitian.
Dari kelima tahap analisis data diatas setiap bagian-bagian yang ada di

dalamnya berkaitan satu sama lainnya, sehingga saling berhubungan antara tahap

yang satu dengan tahap yang lainnya.

3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini memiliki lokasi yang menjadi lapangan penelitian serta

waktu berlangsungnya penelitian ini, adapun lokasi dan waktunya sebagai berikut:

3.6.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Kota Bandung.

3.6.2 Waktu Penelitian

Waktu yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini kurang lebih

selama 6 bulan, yaitu mulai dari bulan Juni 2018 sampai dengan bulan

November 2018, tahapan penelitian ini meliputi persiapan,

pelaksanaan,penelitian lapangan dan penulisan.