Anda di halaman 1dari 6

Nama : Ni Komang Hyang Permata Danu Asvatham

NIM : 1704551177

Kelas : B (Reguler Pagi)

Pengantar Filsafat Hukum

1. Buatlah perbandingan Mazhab Ilmu Hukum Sosiologi Pasca Eugen Ehrlich dan
Max Weber!
Menurut Eugen Ehrlich, berlakunya hukum tergantung pada penerimaan masyarakat, dan
sebenarnya tiap masyarakat menciptakan sendiri hukumnya yang hidup. Daya kreativitas
masing-masing golongan berbeda dalam penciptaan hukumnya. Dari kenyataan tersebut,
faktor masyarakat sangat penting untuk mengetahui efektifitas hukum dalam masyarakat.
Eugen Ehrlich (Austira, 1826-1922) dianggap sebagai sociological jurisprudence. Ajaran
Ehlirch berpokok pada pembedaan antara hukum positif dengan hukum yang hidup
(living law). Ia menyatakan bahwa hukum positif hanya akan efektif apabila selaras
dengan hukum yang hidup dalam masyarakat, atau dengan apa yang disebut oleh para
antropolog sebgai pola-pola kebudayaan (culture patterns).Teori Ehrlich juga mempunyai
kelemahan, yaitu adalah menentukan ukuran-ukuran apakan yang dapat dipakai untuk
menentukan suatu kaidah hukum benar-benar merupakan hukum yang hidup (dan
dianggap adil).

Dalam pandangan Max Weber, hukum merupakan aturan-aturan yang mengizinkan orang
pada umumnya untuk secara aktif melaksanakan melalui pranata-pranata khusus yang
mempunyai kewenangan untuk melakukan paksaan secara sah, sanksi ekonomi seperti
denda, dan lain-lain, sumber kekuasaan yang membuat orang tunduk atau untuk
menjatuhkan hukuman bagi pelaku kekerasan. Max Weber berpendapat bahwa suatu alat
pemaksa menentukan bagi adanya hukum. Alat pemaksa tersebut tidak perlu berbentuk
badan peradilan sebagaimana yang dikenal di dalam masyarakat yang modern dan
kompleks. Alat tersebut dapat berwujud suatu keluarga atau mungkin clan. Konvensi,
sebagaimana dijelaskan juga meliputi kewajiban kewajiban tanpa suatu alat pemaksa.
Konvensi tersebut harus dibedakan dari kebiasaan (usage) dan adat istiadat (Custom).
Selanjutnya, Max Weber mengemukakan bahwa pembedaan antara hukum publik dan
hukum perdata tidak bermanfaat bagi suatu analisa sosiologis walaupun metodenya dapat
membantu para sosiolog (dalam bidang tatahukum pembedaan ini juga semakin tidak
relevan). Dan pembedaan lain yaitu antara hukum positif dengan hukum alam juga
dianggap tidak relevan bagi suatu analisa sosiologis karena dilihat dari definisi sosiologi
sebagai suatu ilmu yang menelaah tentang fakta sosial, maka perhatianya hanya terpusat
pada hukum positif.

2. Buatlah bagan aliran sosiologi!

Aliran Social Jurisprudence Aliran Pragmatical Legal Aliran Social Utilitarianism

Realism

Tokoh Eugene Ehrlich Tokoh Roscoe Pound Tokoh Rudolf van Jhering

3. Jelaskan mengenai aliran sosiologi hukum!


Aliran sociological jurisprudence atau aliran sosiologi hukum ialah aliran yang
menghendaki bahwa dalam proses pembentukan pembaharuan hukum harus
memperhatikan kesadaran masyarakat. Memperhatikan nilai-nilai hukum yang hidup
dalam masyarakat. Tokoh mazhab yang mengemukakan aliran ini adalah Eugen Ehrlich
dan Roscoe Pound. Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat masyarakat,
perilaku masyarakat, dan perkembangan masyarakat. Sosiologi merupakan cabang Ilmu
Sosial yang mempelajari masyarakat dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia.
Sebagai cabang Ilmu, Sosiologi dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, August
Comte.

4. Berikan contoh serta tunjukkan teori hukum dalam aliran sosiologi hukum
tersebut!
1. Mazhab Formalistis
a) Kaum Positivis

Berpendapat bahwa hukum dan moral merupakan dua bidang yang terpisah serta
harus dipisahkan. Beberapa pendapat para ahli: John Austin (1790 – 1859)

Bahwa hukum merupakan perintah dari mereka yang memegang kekuasaan tertinggi
atau dari yg memegang kedaulatan. Bahwa hukum adalah merupakan perintah yang
dibebankan untuk mengatur makhluk berpikir, dimana perintah dilakukan oleh makhluk
berpikir yang memegang dan mempunyai kekuasaan.Bahwa hukum sebagai suatu sistem
yang logis, tetap dan bersifat tertutup, dan oleh karena itu ajarannya dinamakananalytical
jurisprudence.Analytical Jurisprudence dibagi dua yaitu hukum yang dibuat oleh Tuhan
dan hukum yang disusun oleh Manusia. Hukum yang disusun oleh manusia dibedakan
menjadi dua, yaitu hukum yang sebenarnya dan hukum yang tidak sebenarnya.

b) Hans Kelsen (Teori Murni tentang Hukum)

Suatu sistem hukum sebagai suatu sistem pertanggapan dari kaidah- kaidah , dimana
suatu kaidah hukum tertentu akan dapat dicari sumbernya pada kaidah hukum yg lebih
tinggi derajatnya. Kaidah yg merupakan puncak dari sistem pertanggapan dinamakan
kaidah dasar atau Grundnorm. Setiap sistem hukum merupakan Stunfenbau daripada
kaidah-kaidah.

Penamaan teori murni tentang hukum murni mempunyai makna tersendiri untuk
menyatakan bahwa hukum berdiri sendiri terlepas dari aspek- aspek kemasyarakatan
yang lain. Yang bermaksud menunjukkan bagaimana hukum itu sebenarnya tanpa
memberikan penilaian apakah hukum itu cukup adil atau kurang adil.

2. Mazhab Sejarah dan Kebudayaan


a) Friedrich Karl Von Savigny (ahli ilmu sejarah hukum)

Hukum merupakan perwujudan dari Kesadaran hukum masyarakat. (volksgeit) Semua


hukum berasal dari adat istiadat dan kepercayaan bukan dari pembentuk UU.

b) Sir Henry Maine (Bukunya Ancient Law)

Perkembangan hukum dari status ke Kontrak yang sejalan dengan perkembangan


masyarakat sederhana ke masyarakat yang modern dan kompleks. Hubungan- hubungan
hukum yang didasarkan pada status warga- warga masyarakat yang masih sederhana,
berangsur- angsur akan hilang apabila masyarakat tadi berkembang menjadi masyarakat
yang modern dan kompleks.

3. Aliran Utilitarianism

Jeremy Bentham (1748-1832).

Bahwa manusia bertindak untukk memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi


penderitaan. setiap kejahatan harus disertai dengan hukuman yang sesuai dengan
kejahatan tersebut, dan derita yang dijatuhkan tidak lebih dari pada apa yang diperlukan
untuk mencegah terjadinya kejahatan. Pembentuk hukum harus membentuk hukum yang
adil bagi segenap warga masyarakat secara individiual.Setiap manusia tidak mempunyai
ukuran yang Sama mengenai keadilan, kebahagiaan dan penderitaan.

4. Aliran Sociological Jurisprudence


a) Eugen Ehrlich

Pembedaan antara hukum positif dengan Hukum yang hidup (living law) atau
pembedaan antara kaidah- kaidah hukum dengan kaidah- kaidah sosial lainnya.Bahwa
hukum positif hanya akan efektif apabila selaras dengan hukum yang ada dalam
masyarakat. Pusat perkembangan dari hukum bukanlah terletak pada Badan-badan
legislatif, keputusan- keputusan Badan yudikatif ataupun Ilmu hukum, akan tetapi
terletak justru terletak dalam masyarakat itusendiri.

b) Roscoe Pound
Hukum harus dilihat/dipandang sebagai suatu lembaga Kemasyarakatan yang
berfungsi untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan Sosial, sedangkan tugas dari ilmu
hukum yaitu untuk memperkembangkan suatu kerangka dimana kebutuhan- kebutuhan
Sosial terpenuhi secara maksimal.Konsepnya yg terkenal adalah law as a tool of Social
engineering artinya hukum sebagai alat untuk mewujudkan perubahan- perubahan di
bidang sosial.Maknanya saat itu bahwa fungsi hukum adalah untuk Merubah perilaku
(sikap mental) warga masyarakat Amerika serikat yg rasial dan diskriminasi.

5. Aliran Realisme Hukum

Konsep yang radikal tentang proses peradilan dengan menyatakan bahwa hakim-
hakim tidak hanya menemukan hukum akan tetapi membentuk hukum.Seorang hakim
harus selalu memilih, dia yang menentukan prinsip-prinsip mana yg dipakai dan pihak-
pihak mana yang akan menang. Keputusan- keputusan hakim seringkali mendahului
penggunaan prinsip- prinsip hukum yg formal. Keputusan- keputusan pengadilan dan
doktrin hukum Selalu dapat diperkembangkan untak menunjang perkembangan atau
hasil- hasil proses hukum. Karl Llewellyn mengembangkan teori tentang hubungan
antara peraturan- peraturan hukum dengan perubahan- perubahan sosial yg terjadi dalam
masyarakat. Pendapatnya bahwa tugas pokok dari pengadilan adalah menetapkan fakta
dan rekonstruksi dari kejadian-kejadian yang telah lampau yang menyebabkan terjadinya
perselisihan.

5. Jelaskan sosiologi hukum masing – masing dua teori yang berkembang di


Indonesia.
Aliran Utilitarianism

Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832), dengan memegang


prinsip manusia akan melakukan tindakan untuk mendapatkan kebahagiaan yang
sebenar-benarnya dan mengurangi penderitaan. Bentham mencoba menerapkannya di
bidang hukum. Atas dasar ini, baik buruknya suatu perbuatan diukur apakah perbuatan itu
mendatangkan kebahagiaan atau tidak. Demikianpun dengan undang-undang, baik
buruknya ditentukan pula oleh hukum tersebut. Jadi undang-undang yang banyak
memberikan kebahagiaan pada bagian terbesar masyarakat akan dinilai sebagai undang-
undang yang baik. Ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianism yang individual.

Tokoh lain dari aliran ini adalah Rudolph von Jhering (1818- 1892) yang
ajarannya biasanya disebut sebagai social utilitarianism. Von Jhering menganggap bahwa
hukum merupakan suatu alat bagi masyarakat untuk mencapai tujuannya. Dia
menganggap hukum sebagai sarana untuk mengendalikan individu-individu agar
tujuannya sesuai dengan tujuan masyarakat di mana mereka menjadi warganya. Bagi
Jhering, hukum juga merupakan suatu alat yang dapat dipergunakan untuk melakukan
perubahan-perubahan sosial. Ajaran-ajaran Jhering banyak mempengaruhi jalan pikiran
para sarjana sosiologi hukum Amerika, antara lain Roscoe Pound.

Aliran Sociological Jurisprudence

Seorang ahli hukum dari Austria yaitu Eugen Ehrlich (1826- 1922) dianggap
sebagai pelopor dari aliran ini, berdasarkan hasil karyanya yang berjudul Fundamental
Principles of the Sociolologi of Law. Dia menyatakan bahwa hukum positif hanya akan
efektif apabila selaras dengan hukum yang hidup dalam masyarakat, atau dengan apa
yang disebut oleh para antropolog sebagai pola-pola kebudayaan. Ehrlich mengatakan,
bahwa pusat perkembangan dari hukum bukanlah terletak pada badan-badan legislatif,
keputusan-keputusan badan judikatif ataupun ilmu hukum, akan tetapi justru terletak di
dalam masyarakat itu sendiri. Tata tertib dalam masyarakat didasarkan pada peraturan-
peraturan yang dipaksakan oleh negara.

Teori Ehrlich pada umumnya berguna sebagai bantuan untuk lebih memahami
hukum dalam konteks sosial. Akan tetapi, sulitnya adalah untuk menentukan ukuran-
ukuran apakah yang dapat dipakai untuk menentukan suatu kaidah hukum benar-benar
merupakan hukum yang hidup (dan dianggap adil).