Anda di halaman 1dari 13

METODE HANLON

Disusun oleh:
Kelompok 1
Nama : Ade Febrianto (G1D116003)

Windra Yanti (G1D116093)

Rizka Fulma Wildani (G1D116095)

Jefri Prabowo (G1D116102)

Reina Apriliani (G1D116104)

Novita Ulfia Rahmi (G1D116113)

Ulfia Rahmi (G1D116114)

Dosen Pengampu : Drg. Willia Novita Eka Rini

ADMINISTRASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS JAMBI

2019
A. Metode Hanlon (Kuantitatif)
 Komponen A - Ukuran/Besarnya Masalah
Komponen ini adalah salah satu yang faktornya memiliki angka yang kecil.
Pilihan biasanya terbatas pada persentase dari populasi yang secara langsung
terkena dampak dari masalah tersebut, yakni insiden, prevalensi, atau tingkat
kematian dan angka.
Ukuran/besarnya masalah juga dapat dipertimbangkan dari lebih dari satu
cara. Baik keseluruhan populasi penduduk maupun populasi yang
berpotensi/berisiko dapat menjadi pertimbangan. Selain itu, penyakit–penyakit
dengan faktor risiko pada umumnya, yang mengarah pada solusi bersama/yang
sama dapat dipertimbangkan secara bersama-sama. Misalnya, jika kanker yang
berhubungan dengan tembakau dijadikan pertimbangan, maka kanker paru-paru,
kerongkongan, dan kanker mulut dapat dianggap sebagai satu. Jika akan dibuat
lebih banyak penyakit yang juga dipertimbangkan, penyakit cardiovascular
mungkin juga dapat dipertimbangkan. Nilai maksimal dari komponen ini adalah 10.
Keputusan untuk menentukan berapa ukuran/besarnya masalah biasanya
merupakan konsensus kelompok.

 Komponen B – Tingkat Keseriusan Masalah


Kelompok harus mempertimbangkan faktor-faktor yang mungkin dan
menentukan tingkat keseriusan dari masalah. Sekalipun demikian, angka dari faktor
yang harus dijaga agar tetap pada nilai yang pantas. Kelompok harus berhati-hati
untuk tidak membawa masalah ukuran atau dapat dicegahnya suatu masalah ke
dalam diskusi, karena kedua hal tersebut sesuai untuk dipersamakan di tempat yang
lain.
Maksimum skor pada komponen ini adalah 20. Faktor-faktor harus
dipertimbangkan bobotnya dan ditetapkan secara hati-hati. Dengan menggunakan
nomor ini (20), keseriusan dianggap dua kali lebih pentingnya dengan
ukuran/besarnya masalah.
 Faktor yang dapat digunakan adalah:
a) Urgensi : Sifat alami dari kedaruratan masalah; tren insidensi,
…………………….tingkat kematian, atau faktor risiko; kepentingan relatif
…………………….terhadap masayarakat; akses terkini kepada pelayanan
…………………….yang diperlukan.
b) Tingkat keparahan: Tingkat daya tahan hidup, rata-rata usia kematian,
……………………..kecacatan/disabilitas, angka kematian prematur relatif.
c) Kerugian ekonomi: untuk masyarakat (kota / daerah / Negara), dan untuk
……………………..masing-masing individu.

Masing-masing faktor harus mendapatkan bobot. Sebagai contoh, bila


menggunakan empat faktor, bobot yang mungkin adalah 0-5 atau kombinasi
manapun yang nilai maksimumnya sama dengan 20. Menentukan apa yang akan
dipertimbangkan sebagai minimum dan maksimum dalam setiap faktor biasanya
akan menjadi sangat membantu. Hal ini akan membantu untuk menentukan batas-
batas untuk menjaga beberapa perspektif dalam menetapkan sebuah nilai numerik.
Salah satu cara untuk mempertimbangkan hal ini adalah dengan menggunakannya
sebagai skala seperti:
0 = tidak ada
1 = beberapa
2 = lebih (lebih parah, lebih gawat, lebih banyak, dll)
3 = paling
Misalnya, jika kematian prematur sedang digunakan untuk menentukan
keparahan, kemudian kematian bayi mungkin akan menjadi 5 dan gonorea akan
menjadi 0.

 Komponen C - Efektivitas dari Intervensi


Komponen ini harus dianggap sebagai "Seberapa baikkan masalah ini dapat
diselesaikan?" Faktor tersebut mendapatkan skor dengan angka dari 0 - 10.
Komponen ini mungkin merupakan komponen formula yang paling subyektif.
Terdapat sejumlah besar data yang tersedia dari penelitian-penelitian yang
mendokumentasikan sejauh mana tingkat keberhasilan sebuah intervensi selama
ini.
Efektivitas penilaian, yang dibuat berdasarkan tingkat keberhasilan yang
diketahui dari literatur, dikalikan dengan persen dari target populasi yang
diharapkan dapat tercapai.
Contoh: Berhenti Merokok

Target populasi 45.000 perokok

Total yang mencoba untuk berhenti 13.500

Efektivitas penghentian merokok 32% atau 0,32

Target populasi x efektivitas 0,30 x 0,32 = 0,096 atau 0,1 atau 1

Contoh: Imunisasi

Target populasi 200.000

Jumlah yang terimunisasi yang diharapkan 193.000

Persen dari total 97% atau 0,97

Efektivitas 94% atau 0,94

Populasi yang tercapai x efektivitas 0,97 x 0,94 = 0,91 atau 9,1

Sebuah keuntungan dengan mempertimbangkan populasi target dan jumlah


yang diharapkan adalah akan didapatkannya perhitungan yang realistis mengenai
sumber daya yang dibutuhkan dan kemampuan yang diharapkan untuk memenuhi
tujuan yang ditetapkan.

 Komponen D – PEARL

PEARL yang merupakan kelompok faktor itu, walaupun tidak secara


langsung berkaitan dengan masalah kesehatan, memiliki pengaruh yang tinggi
dalam menentukan apakah suatu masalah dapat diatasi.

P – Propierity/Kewajaran.
Apakah masalah tersebut berada pada lingkup keseluruhan misi kita?
E – Economic Feasibility/Kelayakan Ekonomis.
Apakah dengan menangani masalah tersebut akan bermakna dan memberi arti
secara ekonomis? Apakah ada konsekuensi ekonomi jika masalah tersebut
tidak diatasi?
A – Acceptability.
Apakah dapat diterima oleh masyarakat dan / atau target populasi?
R – Resources/Sumber Daya.
Apakah tersedia sumber daya untuk mengatasi masalah?
L – Legalitas.
Apakah hukum yang ada sekarang memungkinkan masalah untuk diatasi?
Masing-masing faktor kualifikasi dipertimbangkan, dan angka untuk setiap
faktor PEARL adalah 1 jika jawabannya adalah "ya" dan 0 jika jawabannya adalah
"tidak." Bila penilaian skor telah lengkap/selesai, semua angka-angka dikalikan
untuk mendapatkan jawaban akhir terbaik. Karena bersama-sama, faktor-faktor ini
merupakan suatu produk dan bukan merupakan jumlah. Singkatnya, jika salah satu
dari lima faktor yang "tidak", maka D akan sama dengan 0. Karena D adalah pengali
akhir dalam rumus , maka jika D = 0, masalah kesehatan tidak akan diatasi dibenahi
dalam OPR, terlepas dari seberapa tingginya peringkat masalah di BPR. Sekalipun
demikian, bagian dari upaya perencanaan total mungkin termasuk melakukan
langkah-langkah lanjut yang diperlukan untuk mengatasi PEARL secara positif di
masa mendatang.

Misalnya, jika intervensi tersebut hanya tidak dapat diterima penduduk,


dapat diambil langkah-langkah bertahap untuk mendidik masyarakat mengenai
manfaat potensial dari intervensi, sehingga dapat dipertimbangkan di masa
mendatang. Semua komponen tersebut diterjemahkan ke dalam dua rumus yang
merupakan nilai numerik yang memberikan prioritas utama kepada mereka
penyakit / kondisi dengan skor tertinggi.

Nilai Prioritas Dasar/ NPD = (A + B) C / 3

Nilai Prioritas Keseluruhan/ NPT = [(A + B) C / 3] x D

Prioritas pertama adalah masalah dengan skor NPT tertinggi. Metode


Hanlon (Kuantitatif) ini lebih efektif bila digunakan untuk masalah yang bersifat
kuantitatif. Contoh sederhana adalah sebagai berikut:
Penting untuk mengenal dan menerima hal-hal tersebut, karena dengan
berbagai proses seperti itu, akan terdapat sejumlah besar subyektivitas. Pilihan,
definisi, dan bobot relatif yang ditetapkan pada komponen merupakan keputusan
kelompok dan bersifat fleksibel. Lebih jauh lagi, nilai tersebut merupakan
penetapan dari masing-masing individu pemberi nilai. Namun demikian, beberapa
kontrol ilmiah dapat dicapai dengan menggunakan definisi istilah secara tepat, dan
sesuai dengan data statistik dan akurat.

B. Metode Hanlon (Kualitatif )


Metode Hanlon (Kualitatif) ini lebih efektif dipergunakan untuk masalah
yang bersifat kualitatif dan data atau informasi yang tersediapun bersifat kualitatif
misanya peran serta masyarakat,kerja sama lintas program, kerja sama lintas
sektor dan motivasi staf.
Prinsip utama dalam metode ini adalah membandingkan pentingnya
masalah yang satu dengan yang lainnya dengan cara “matching”. Langkah-
langkah metode ini adalah sebagai berikut :
a. Membuat matriks masalah
b. Menuliskan semua masalah yang berhasil dikumpulkan pada sumbu
vertikal dan horizontal.
c. Membandingkan (matching) antara masalah yang satu dengan yang
lainnya pada sisi kana diagonal dengan memberi tanda (+) bila masalah
lebih penting dan memberi tanda (-) bila masalah kurang penting.
d. Menjumlahkan tanda (+) secara horozontal dan masukan pada kotak total
(+) horizontal.
e. Menjumlahkan tanda (-) secara vertikal dan masukan pada kotak total
vertikal (-) vertikal.
f. Pindahkan hasil penjumlahan pada total (-) horizontal dibawah kotak (-)
vertikal
g. Jumlah hasil vertikal dan horizontal dan masukan pada kotak total.
h. Hasil penjumlahan pada kotak total yang mempunyai nilai tertinggi adalah
urutan prioritas masalah.

Metode Hanlon (Kualitatif)


Masalah A B C D E Total
Horizontal

A + + + + 4

B + - + 2

C - - 0

D + 1

E 0

Total Vertikal 0 0 0 2 1
(-)
Total 4 2 0 1 0
Horizontal (+)
Total 4 2 0 3 1

Priorotas I III V II IV
Masalah
Kriteria yang dipakai :
a) Mendesak (urgency)
Pertimbangan dari aspek waktu, masih dapat ditunda atau harus
segera ditanggulangi. Semakin pendek tenggang waktunya artinya semakin
mendesak masalah itu untuk di tanggungulangi.
Masalah A B C Total
ISPA Diare Hipertensi Horizontal

A - - 0
ISPA
B + 1
Diare
C 0
Hipertensi
Total Vertikal 0 1 1

Total Horizontal 0 1 0

Total 0 2 1

b) Kegawatan (seriousness)
Besarnya akibat atau kerugian yang dinyatakan dalam besaran
kuantitaif berapa rupiah, berapa orang dan lain-lain.
Masalah A B C Total
ISPA Diare Hipertensi Horizontal

A - - 0
ISPA

B + 1
Diare
C
Hipertensi
Total Vertikal 0 1 1

Total 0 1 0
Horizontal
Total 0 2 1

c) Perkembangan
Kecenderungan atau perkembangan akibat dari suatu permasalahan.
Semakin berkembangan masalah maka masalah tersebut semakin di
prioritaskan.
Masalah A B C Total
ISPA Diare Hipertensi Horizontal

A - + 1
ISPA
B + 1
Diare
C 0
Hipertensi
Total Vertikal 0 1 0

Total Horizontal 1 1 0

Total 1 2 0

 Prioritas Masalah
MASALAH U S G TOTAL PRIORITAS

A 0 0 1 1 III

B 2 2 2 6 I

C 1 1 0 2 II
Contoh Metode Hanlon

Hasil observasi dan diskusi dengan tokoh masyarakat komunitas adat terpencil
terdapat beberapa masalah yang terjadi di komunitas adat terpencil Desa Nyogan

1. Sanitasi yang tidak terawat


2. Kurangnya prilaku PHBS
3. Gizi kurang
Masalah Sanitasi PHBS Gizi Total
Kurang Horizontal

Sanitasi - + 1

PHBS + 1

Gizi Kurang 0

Total Vertikal(-) 0 1 0

Total Horizontal(+) 1 1 0

Total 1 2 0

Priorotas Masalah II I III

Berdasarkan tabel prioritas masalah I, II, dan III secara berurutan adalah
PHBS SAD di desa nyogan, Sanitasi yang tidak terawat SAD desa nyogan dan Gizi
kurang SAD nyogan.
 Kriteria Mendesak (Urgency)
Masalah Sanitasi PHBS Gizi Total
Kurang Horizontal

Sanitasi - - 0

PHBS + 1

GIzi kurang 0

Total Vertikal 0 1 1

Total Horizontal 0 1 0

Total 0 2 1

 Kriteria Kegawatan (Seriousness)


Masalah Sanitasi PHBS Gizi Kurang Total
Horizontal

Sanitasi - + 1

PHBS - 0

Gizi Kurang 0

Total Vertikal 0 1 0

Total Horizontal 1 0 0

Total 1 1 0
 Kriteria Perkembangan (Growth)
Masalah Sanitasi PHBS Gizi Kurang Total
Horizontal

Sanitasi - + 1

PHBS + 1

Gizi Kurang 0

Total Vertikal 0 1 0

Total Horizontal 1 1 0

Total 1 2 0

 Prioritas masalah
Masalah U S G Total Prioritas

Sanitasi 0 1 1 2 II

PHBS 2 1 2 5 I

Gizi kurang 1 0 0 1 II

Berdasarkan kriteria USG prioritas masalah secara berurutan ialah PHBS,


sanitasi selanjutnya gizi kurang pada SAD nyogan.
DAFTAR PUSTAKA

Azhari, Achmad Rizki. 2015. Tahap Penentuan Prioritas Masalah Metode Hanlon
…………dan Tahap Analisis Akar Penyebab Masalah Fish Bone. Semarang:
…………Universitas Diponegoro.
Intiasari, Arih Diyaning. 2011. Menetapkan Prioritas Masalah. (Online)
http://www.budidarma.com/2011/06/menetapkan-prioritas-
masalah.html