Anda di halaman 1dari 12

Berikut adalah Istilah-Istilah yang umum dan seringkali Anda jumpai dalam kegiatan ekspor dan

impor barang:
1. Customs Clearance = Adalah suatu proses pemeriksaan dokumen, perhitungan biaya-
biaya pajak resmi, dan proses pengeluaran barang yang dilakukan pada negara tujuan
2. FOB = Adalah singkatan dari Free On Board,
yang artinya anda memberikan penawaran harga
barang hanya sampai keatas kapal, ongkos/biaya kapal belum/tidak termasuk.
Pembeli anda yang akan menanggung biaya kapalnya .atau dengan kata lain harga barang
di tempat asal, ada juga misalnya, harga sudah FOB Port tujuan, misalnya FOB Jakarta,
artinya harga tersebut sudah termasuk ongkos kirim sampai Jakarta, dasar ini menjadi
perhitungan bea-bea suatu barang
3. CIF = Adalah singkatan dari Cost, Insurance and Freight artinya
Harga penawaran anda selainmencakup harga barang, biaya kapal, juga termasuk asuran
si. Dengan kata lain harga barang disatukan dengan ongkos kirim dan biaya asuransi
barang, selain FOB, dasar ini menjadi perhitungan bea-bea suatu barang
4. CNF = Adalah singkatan dari Cost and Freight dengan kata lain harga barang ditambah
dengan ongkos kirim, tetapi tidak termasuk biaya asuransi barang
5. OFR = Adalah singkatan dari Ocean Freight Rate, atau tarif dasar ongkos
pengiriman lewat laut, biasanya dihitung per cbm atau kubikasi
6. AFR = Adalah singkatan dari Air Freight Rate, atau tarif dasar ongkos
pengiriman melalui udara, biasanya dihitung berdasarkan satuan kilogram atau pound
(lbs)
7. FCL = Adalah singkatan dari Full Container Loaded, atau dengan kata lain kiriman
ini setara dengan kurang lebih 20 MT (metrix tons) dengan menggunakan kontainer
40ft dan hanya 10 MT (metrix tons) jika menggunakan kontainer 20ft
8. Notul = Adalah suatu kejadian dimana barang tidak dapat dikeluarkan karena terkena
pemutihan, documen yang tidak valid atau dipalsukan, Perubahan Invoice, sehingga bea
masuk terlalu tinggi, dan biasanya terkena sewa gudang di pelabuhan
9. PIB = Pemberitahan Impor Barang. Pengisian form PIB dilakukan dengan system online
EDI (Electronic Data Interchange). Jika pemeriksaan PIB disetujui, maka akan terbit
SPPB
10. PEB = Pemberitahuan Export Barang. Pengisian form Pemberitahuan Export Barang di
ajukan dengan system online melalui system EDI (Electronic Data Interchange). Jika
pemeriksaan PEB di setujui, maka akan keluar P.E. Adapun data-data yang diisikan saat
pengajuan pengisian form PEB adalah semua data-data yang ada di Packing List &
Commercial Invoice seperti
11. Ada rencana import atau ekspor? Proses Pengurusan Import yang panjang dan berliku
kini begitu mudah dengan mempercayakannya kepada HSH. Kami siap memberikan
solusi untuk segala kebutuhan pengurusan barang import dan pengurusan barang
ekspor Anda mulai dari A sampai Z (All in One).
12. HSCode = Adalah suatu istilah untuk mengidentifikasi suatu klasifikasi barang,
HSCode ini menggunakan angka untuk memudahkan perhitungan bea-bea
13. Volumetrix = Adalah suatu istilah untuk perbandingan antara berat aktual barang dan
berat hasil perkalian dimensi barang, istilah lain adalah Barang ringan makan
tempat (Ringan Makan Tempat) jadi kurir akan menghitung yang terberat diantara 2
(Dua) perbandingan tersebut
14. AWB = Adalah kependekan dari Airway Bill yang diberikan sebagai bukti
pengiriman barang melalui udara, pada airway bill terdapat barcode yang dapat
melacak posisi barang, Airway bill ini juga berguna untuk mengidentifikasi barang
15. BL = Adalah kependekan dari Bill of Lading yang diberikan sebagai bukti
pengiriman barang melalui laut, fungsinya sama dengan AWB pada jalur udara
16. Commercial Invoice = dalah suatu dokumen yang diperlukan untuk barang-barang
yang terkena bea saat tiba di Negara tujuan, dokumen ini akan menjadi dasar
perhitungan pihak bea dan cukai
17. API = Adalah kependekan dari Angka Pengenal Importir, bentuk lain adalah API-T
(Terbatas).
18. API-U (Umum) adalah suatu izin sebagai identitas suatu perusahaan atau perorangan
dalam bidang import
19. SRP = Adalah kependekan dari Surat Registrasi Pabean, surat ini berguna
untuk importer sebagai identitas yang memenuhi persyaratan dari Bea dan Cukai
untuk melakukan import barang
20. LCL = Adalah singkatan dari Less Container Loaded, adalah suatu istilah
untuk pengiriman yang tidak mencapai 1 (satu) Kontainer penuh, hitungannya
adalah kubikasi atau kubikmeter
21. Consolidasi = Adalah proses yang biasanya dilakukan freight forwarders untuk
menggabungkan banyak kiriman menjadi satu kiriman, dan hal ini dapat memperkecil
biaya ongkos kirim secara keseluruhan
22. Delivery Order / DO adalah Surat yang diterbitkan pihak shipping atau forwarder kepada
shipper sebagai tanda bukti pengambilan container kosong dan atau tanda bukti
pengiriman barang dari gudang shipper ke UTPK atau Warehouse.
Tentang freight forwarding :
Definisi dan pengertian Freight Forwarding
Freight Forwarding adalah perusahaan yang memiliki usaha dalam bidang pengangkutan barang
secara keseluruhan, freight forwarding juga dapat berfungsi sebagai EMKL (Ekspedisi Muatan
Kapal Laut), Pelayaran, Jasa kepabeanan, bahkan dapat juga berfungsi sebagai pengiriman door
to door.
Usaha Jasa Pengurusan Transportasi (freight forwading) merupakan kegiatan usaha yang
ditujukan dalam kepengurusan semua kegiatan yang diperlukan bagi terlaksananya pengiriman
dan penerimaan barang melalui transportasi baik melalui jalur darat, laut atau maupun udara.
Dalam hal ini kegiatan freight forwading dapat mencakup kegiatan :
 penerimaan
 penyimpanan
 sortasi (Pengelompokan)
 pengepakan (Packing)
 pengukuran
 penimbangan
 pengurusan penyelesaian dokumen penerbitan dokumen angkut
 perhitungan biaya angkut
 klaim asuransi atas pengiriman barang
serta penyelesaian tagihan dan biaya-biaya lainnya berkaitan dengan pengiriman barang- barang
tersebut sampai diterimanya oleh yang pihak pemesan barang.

Sedangkan freight forwarder orang ataupun badan hukum yang melaksanakan pekerjaan
forwarding.
Tugas dan Tanggung Jawab Forwarder dalam perusahaan Freight Forwarding yaitu:
 Forwarder hanya bekerja atas “ perintah “ dari customer yang menginginkan agar
barangnya dikirim ke tempat lain.
 Untuk menggerakkan barang muatan ke tempat lain maka forwarder tidak harus memiiki
sarana angkut sendiri
 Forwarder bertindak sebagai perantara antara si pengirim (Shipper) , pengangkut (Carier)
, dan penerima barang (Consignee).
Dari definisi yang telah dijelaskan diatas maka dapat disimpulkan bahwa Freight
forwarder adalah :
Badan hukum yang melaksanakan perintah pengiriman barang (muatan/cargo) dari satu
atau beberapa orang pemilik barang, yang di kumpulkan dari satu tempat atau beberapa tempat,
sampai ke tempat tujuan akhir yaitu penerima barang dengan melalui sistem pengaturan lalu
lintas barang dan dokumen, dengan menggunakan satu atau beberapa moda transportasi tanpa
harus memiliki sarana angkutan sendiri.
Peran Freight Forwarder dalam operasional Perusahaan Freight Forwarding
Forwarder adalah tempat dimana para pemilik barang akan menerima berbagai macam
advise/nasehat darinya tentang segala sesuatu mengenai aspek-aspek dalam pengiriman dan
pengangkutan barang :
 Tata cara pengepakan atau pengemasan barang
 Negara tujuan barang beserta meninjau peraturan-peraturan setempat tentang pemasukan
barang dari luar.
 Mengenai jalur dan rute angkutan barang yang terbaik dan tercepat.
 Pengaturan dokumen dan pemantauan barang selama proses angkutan (shipment).
Untuk melaksanakan kegiatan operasional, sehari-harinya forwarder selalu melibatkan pihak-
pihak tertentu dalam pekerjaan serta jasa yang ditawarkan kepada para pemilik barang supaya
berjalan lancar.
Pihak-pihak yang berkaitan dengan Freight Forwarding adalah :
 Pemilik barang (penjual atau pembeli atau pihak lainnya)
 Pihak Stevedore yang di Indonesia disebut dengan perusahaan Bongkar muat (PBM)
yang membantu forwarder untuk melakukan kegiatan memuat dan membongkar
barangnya.
 Cargo Surveyor sebagai pemeriksa barang di pelabuhan.
 Pihak pengangkut barang (carier) serta dokumen muatannya.
 Asuransi dan Bank dalam hal dokumentasi dan keamanan barang serta sistem barang
yang terkait.
 Badan dan Instansi pemerintah yang terkait seperti :
 Bea Cukai
 perdagangan
 Perhubungan dan lain sebagainya
Disini seorang Forwarder berperan sebagai seorang koordinator dalam suatu proses pengiriman
barang, dengan menggunakan sarana angkutan tertentu yang dipilih dengan menyesuaikan jenis,
berat, serta nilai barang bersangkutan.
Maka dapat kita rumuskan :
Status seorang Forwarder dalam perusahaan Freight Forwarding
 Konsultan dari para pemilik barang.
 Kuasa dari pemilik barang yang diserahkan kepadanya untuk segera dikirimkan sampai
ketempat tujuan akhir(penerimaan dan penyerahan barang).
 Koordinator serta pengawas terhadap dalam proses pengiriman barang.
Dari urian tersebut diatas maka sekarng dapat disimpulkan bahwa pihak yang termasuk dalam
lingkup kerja seorang Forwarder adalah :
 Perusahaan jasa pengiriman paket dan dokumen.
 Perusahaan EMKL(Ekspedisi Muatan Kapal Laut), EMKU(Ekspedisi Muatan Kapal
Udara) dan EMKA (Ekspedisi Muatan Kereta Api) serta sejenisnya.
 Perusahaan pengepakan barang atau packing companies.
 Perusahaan barang pindahan (Cargo Moving Company) yang pada umumnya
perusahaan-perusahaan di atas ini,bekerja berdasarkan kontrak angkutan/pengiriman
barang yang di tanda tangani kedua belah pihak dengan kondisi angkutan tertentu
(biasanya atas dasar “door to door services” / jasa pengiriman dari pintu ke pintu.
Beberapa pengertian tentang Freight Forwarding telah kita bahas pada bersama diatas.
Selanjutnya bagaimanakah perusahaan Freight Forwarding dijalankan serta bagaimanakah
tatalaksananya. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa pada dasarnya Forwarder adalah seorang
perantara atau agen dari pihak yang memerlukan adanya ruang muatan dan dilain pihak ada
pemilik sarana angkutan yang memerlukan barang muatan untuk diangkutnys. Jadi seorang
Forwarder harus dapat berdiri dan bertindak dengan baik untuk keuntungan dan kepentingan dari
pihak-pihak yang terkait.

Pada saat-saat tertentu, pihak-pihak yang berkepentingan itu akan selalu mencari
Forwarder untuk membantu menyelesaikan berbagai masalah yang timbul terhadap muatan atau
kekosongan ruang muatan. Biasanya yang sering membutuhkan jasa seorang Forwarder itu
adalah para pemilik barang, sedangkan pihak pengangkut tidak akan selalu demikian karena
pihak pengangkut hanya menghadapi beberapa masalah saja seperti:

a. Bagaimanakah caranya mereka mampu menjaga ketepatan waktu yang mengisi ruang
muatannya dengan barang muatan (cargo).
b. Selanjutnya bagaimana mereka akan memastikan barang muatan yang berada dikapalnya
selalu aman dan utuh selama proses pengangkutannya sampai ke tempat tujuan.

Segala ketentuan dalam hal diatas telah dengan jelas tertulis di dalam suatu kontrak
angkutan yang dikenal dengan nama Bill Of Lading/BL pada angkutan laut, dan pada kontrak
angkutan udara adalah Airway Bill atau di kenal dengan AWB. Pada kedua jenis dokumen
muatan terdapat segala persyaratan yang dapat dibaca mengenai ketentuan pengangkutan barang
yang mengikat kedua belah pihak.
Kemudian bagaimanakah alur kegiatan operasional dari perusahaan Freight Forwarding.
Ada beberapa macam tahap forwarder dalam pengelola usaha jasa forwarding tersebut. Secara
singkat beberapa tahapan langkah yang biasanya akan di ambil oleh perusahaan Forwarding
dalam Kegiatan operasional adalah sebagai berikut ini :
a. Mencari calon customer/pengguna jasa, dan apabila memungkinkan dijadikan pelanggan tetap
(client) dengan cara: melalui jasa pos atau email dengan menjelaskan jasa-jasa ditawarkan,
maupun melalui pintu ke pintu dengan kunjungan ke lapangan ataupun dengan cara lain yang
efektif.
b. Melakukan negosiasi atau perundingan lain,sehingga calon customer setuju menggunakan jasa
Forwarding yang ditawarkan.
c. Melaksanakan persiapan-persiapan untuk memberikan pelayanan terbaik terhadap barang-
barang yang telah diterima dari pemilik barang.
d. Melakukan pengecekan segala sesuatu yang diperlukan agar barang dapat segera di kirim,
seperti umpamanya :
 isi barang
 jenis barang
 berat barang
 volume barang
 Nama dan Pemilik Barang.
 Kemana tujuan barang ini akan di kirim.
 Kelengkapan dokumen penunjangnya.
 Nama penerima barang di tempat tujuan.
 Apa saja dan bagaimana persyaratan sarana angkutnya.
 Apabila barang tersebut disertai L/C dan bagaimanakah persyaratan yang dibebankan
terhadapnya.
 Bagaimakah syarat pembayaran uang tambang dan berapa jumlahnya.
 Kepada siapakah barang tersebut diserahkan untuk dikirim.
 Apabila selesai proses pengiriman barangnya bagaimanakah tata cara penagihan kepada
pemilik barang,dimanakah tagihannya.
 Bagaimanakah dengan polis asuransinya.
e. Proses kepengurusan dokumen, pemeriksaan barang pada petugas pabean.
f. Melakukan negosiasi tariff sarana pengangkut

Pengiriman Via Trucking


Pengiriman via trucking merupakan pengiriman via darat dengan menggunakan truk kontainer.
Pengiriman via trucking ini merupakan metode pengiriman barang area domestik. Barang yang
dikirimkan merupakan skala yang tidak terlampau besar atau boleh dikatakan skala sedang.
Ketentuan menggunakan pengiriman via trucking ini setidaknya barang atau paket yang dikirim
minimal 10 kg. Apabila barang atau paket yang dikirimkan kurang dari 10 kg maka akan dikirim
dengan metode ekspedisi biasa. Pengiriman via trucking ini biasa dimanfaatkan untuk
pengiriman motor.
Kelebihan menggunakan pengiriman via trucking ini yaitu:
-Risiko kerusakan barang lebih kecil dari pada ekpedisi biasa
-Barang lebih cepat sampai
-Risiko ketidaktepatan penanganan atau perlakukan barang kecil
Kekurangan menggunakan pengiriman via container LCL atau Full Container Load ini yaitu:
-Barang yang dikirim bercampur dengan barang dari pengirim lainnya
-Barang yang dikirim berisiko tertukar dengan barang pengirim lain
-Barang yang dikirim berisiko rusak karena tercampur dengan barang pengirim lainnya
-Perlu menunggu kontainer terisi penuh
-Perlu menunggu loading barang dari pengirim lain
-Lebih mahal daripada pengiriman biasa

Pengiriman Via Container FCL


FCL atau Full Container Load adalah pengiriman internasional skala besar yang menggunakan
satu kontainer untuk satu pengirim. Dalam satu kontainer penuh dibooking oleh satu pengirim
saja. FCL lazimnya digunakan untuk ekspor maupun impor.
Kelebihan menggunakan pengiriman via container FCL atau Full Container Load ini yaitu:
-Barang yang dikirim tidak bercampur dengan barang dari pengirim lainnya
-Barang yang dikirim tidak berisiko tertukar dengan barang pengirim lain
-Barang yang dikirim tidak berisiko rusak
-Waktu pengiriman relatif lebih cepat dari pada LCL
-Tidak perlu menunggu kontainer terisi penuh
-Tidak perlu menunggu loading barang dari pengirim lain
-Tidak perlu transit dengan waktu yang lama
Kekurangan menggunakan pengiriman via container FCL atau Full Container Load ini yaitu:
-Lebih mahal dari pada LCL karena pengirim berhak atas satu kontainer penuh
-Berat atau banyaknya barang tidak mempengaruhi toleransi tarif pengiriman

Pengiriman Via Container LCL


LCL atau Less Container Load adalah pengiriman internasional skala besar yang menggunakan
satu kontainer untuk beberapa pengirim. Satu kontainer berisi barang-barang dari pengirim yang
berbeda.
Kelebihan menggunakan pengiriman via container LCL atau Less Container Load ini yaitu:
-LCL merupakan ekspedisi murah dibandingkan dengan pengiriman FCL
-Tidak perlu melakukan booking full container
-Menggunakan penghitungan perkubik kontainer
Kekurangan menggunakan pengiriman via container LCL atau Full Container Load ini yaitu:
-Barang yang dikirim bercampur dengan barang dari pengirim lainnya
-Barang yang dikirim berisiko tertukar dengan barang pengirim lain
-Barang yang dikirim berisiko rusak karena tercampur dengan barang pengirim lainnya
-Waktu pengiriman relatif lebih lama dari pada FCL
-Perlu menunggu kontainer terisi penuh
-Perlu menunggu loading barang dari pengirim lain
-Perlu transit dengan waktu yang lama dari pada pengiriman FCL maupun pengiriman via
trucking

Letter of credit adalah :


Surat kredit (letter of credit, L/C, LC, atau LOC) adalah sebuah cara pembayaran internasional
yang memungkinkan eksportir menerima pembayaran tanpa menunggu berita dari luar negeri
setelah barang dan berkas dokumen dikirimkan keluar negeri (kepada pemesan/importir) dan
akan memudahkan pihak-pihak yang berada didalamnya.
Pelaku L/C
 Applicant atau pemohon kredit adalah importir (pembeli) yang mengajukan aplikasi L/C.
 Beneficiary adalah eksportir (penjual) yang menerima L/C.
 Issuing bank atau opening adalah bank pembuka L/C.
 Advising bank adalah bank yang meneruskan L/C, yaitu bank koresponden (agen) yang
meneruskan L/C kepada beneficiary. Bank tidak bertanggung jawab atas isi L/C dan
hanya bertindak sebagai perantara.
 Confirming bank adalah bank yang melakukan konfirmasi atas permintaan issuing bank
dan menjamin sepenuhnya pembayaran.
 Paying bank adalah bank yang secara khusus ditunjuk dalam L/C untuk melakukan
pembayaran dan beneficiary berkewajiban
 Carrier adalah pengangkut barang yang dikirim (Perusahaan Pelayaran/Penerbangan)
untuk dibeberapa negara dengan perbatasan darat bisa juga perusahaan angkutan darat
seperti truk, kereta Dll).

Tata cara pembayaran dengan L/C


Importir meminta kepada banknya (bank devisa) untuk membuka suatu L/C untuk dan atas nama
eksportir. Dalam hal ini, importir bertindak sebagai opener. Bila importir sudah memenuhi
ketentuan yang berlaku untuk impor seperti keharusan adanya surat izin impor, maka bank
melakukan kontrak valuta (KV) dengan importir dan melaksanakan pembukaan L/C atas nama
importir. Bank dalam hal ini bertindak sebagai opening/issuing bank. Pembukaan L/C ini
dilakukan melalui salah satu koresponden bank di luar negeri. Koresponden bank yang bertindak
sebagai perantara kedua ini disebut sebagai advising bank atau notifiying bank. Advising bank
memberitahukan kepada eksportir mengenai pembukaan L/C tersebut. Eksportir yang menerima
L/C disebut beneficiary.
1. Eksportir menyerahkan barang ke Carrier, sebagai gantinya Eksportir akan
mendapatkan bill of lading.
2. Eksportir menyerahkan bill of lading kepada bank untuk mendapatkan
pembayaran. Paying bank kemudian menyerahkan sejumlah uang setelah mereka
mendapatkan bill of lading tersebut dari eksportir. Bill of lading tersebut kemudian
diberikan kepada Importir.
3. Importir menyerahkan bill of lading kepada Carrier untuk ditukarkan dengan barang yang
dikirimkan oleh eksportir.
Pihak-pihak dalam LC
1. Pemohon (Applicant).
2. Bank Penerbit (Issuing Bank).
3. Penerima (Beneficiary).
4. Bank Penerus (Advising Bank).
5. Bank yang ditunjuk (Nominated Bank).
6. Bank Penegosiasi (Negotiating Bank).
7. Bank Pengkonfirmasi (Confirming Bank).
Dokumen-dokumen dalam L/C
a. Full set of Bill of Lading (Konosemen)
b. Commercial Invoice (Faktur Perdagangan)
c. Packing List
d. Weight note
e. Measurement list
f. Insurance Certificate
g.Consular Invoice
h.Brochure/leaflet
i. Surveyor Report
j. Manufacture’s Certificate
k. Certificate of Origin
l. Processing License
m.Instruction Manual

Jenis-jenis L/C
Dilihat dari kekuatannya:
 Revocable L/C
Adalah L/C yang sewaktu-waktu dapat dibatalkan atau diubah secara sepihak oleh opener atau
oleh issuing bank tanpa memerlukan persetujuan dari beneficiary.
 Irrevocable L/C
Irrevocable L/C adalah L/C yang tidak bisa dibatalkan selama jangka berlaku (validity) yang
ditentukan dalam L/C tersebut dan opening bank tetap menjamin untuk menerima wesel-wesel
yang ditarik atas L/C tersebut. Pembatalan mungkin juga dilakukan, tetapi harus atas persetujuan
semua pihak yang bersangkutan dengan L/C tersebut.
 Irrevocable dan Confirmed L/C
L/C ini diangggap paling sempurna dan paling aman dari sudut penerima L/C (beneficiary)
karena pembayaran atau pelunasan wesel yang ditarik atas L/C ini dijamin sepenuhnya
oleh opening bank maupun oleh advising bank, bila segala syarat-syarat dipenuhi, serta tidak
mudah dibatalkan karena sifatnya yang irrevocable.
Dilihat dari persyaratannya:
 Clean Letter of Credit
Dalam L/C ini tidak dicantumkan syarat-syarat lain untuk penarikan suatu wesel. Artinya, tidak
diperlukan dokumen-dokumen lainnya, bahkan pengambilan uang dari kredit yang tersedia dapat
dilakukan dengan penyerahan kuitansi biasa.
 Documentary Letter of Credit
Penarikan uang atau kredit yang tersedia harus dilengkapi dengan dokumen-dokumen lain
sebagaimana disebut dalam syarat-syarat dari L/C.
 Documentary L/C dengan Red Clause
Jenis L/C ini, penerima L/C (beneficiary) diberi hak untuk menarik sebagian dari jumlah L/C
yang tersedia dengan penyerahan kuitansi biasa atau dengan penarikan wesel tanpa memerlukan
dokumen lainnya, sedangkan sisanya dilaksanakan seperti dalam hal documentary L/C. L/C ini
merupakan kombinasi open L/C dengan documentary L/C.
 Revolving L/C
L/C ini memungkinkan kredit yang tersedia dipakai ulang tanpa mengadakan perubahan syarat
khusus pada L/C tersebut. Misalnya, untuk jangka waktu enam bulan, kredit tersedia setiap
bulannya US$ 1.200, berarti secara otomatis setiap bulan (selama enam bulan) kredit tersedia
sebesar US$ 1.200, tidak peduli apakah jumlah itu dipakai atau tidak.
Jenis lainnya:
 Back to Back L/C
Dalam L/C ini, penerima (beneficiary) biasanya bukan pemilik barang, tetapi hanya perantara.
Oleh karena itu, penerima L/C ini terpaksa meminta bantuan banknya untuk membuka L/C untuk
pemilik barang-barang yang sebenarnya dengan menjaminkan L/C yang diterimanya dari luar
negeri.
 Transferable L/C
Beneficiary berhak memnita kepada bank yang diamanatkan untuk melakukan
pembayaran/akseptasi kepada setiap bank yang berhak melakukan negosiasi, untuk menyerahkan
hak atas kredit sepenuhnya/sebagian kepada pihak ketiga.
 Stand by Letter of Credit
Suatu jaminan khusus yang biasa nya dipakai sebagai "stand by" oleh pihak beneficiary atau
bank atas nama nasabah nya. Dalam hal ini apabila pihak applicant gagal untuk melaksanakan
suatu kontrak/gagal untuk membayar pinjaman/memenuhi pinjamannya, maka Bank yang
bersangkutan akan membayar kepada pihak beneficiary atas penyerahan selembar sight draft &
surat pernyataan dari pihak beneficiary yang menyatakan bahwa applicant atau kontraktor tidak
dapat melaksanakan kontrak yang di setujui, membayar pinjaman/memenuhi kewajibannya.