Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK II

PEMERIKSAAN BILIRUBIN TOTAL DAN BILIRUBIN DIREK

Oleh:
Agita Fortuna Septa Ningsih
151710113026
Kelompok 8

PROGRAM STUDI D3 TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS


FAKULTAS VOKASI
UNIVESITAS AIRLANGGA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Tujuan Praktikum


Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengukur kadar bilirubin total dan
bilirubin direk dalam serum secara kuantitatif meggunakan fotometer.

1.2. Dasar Teori


Bilirubin merupakan produk akhir yang dihasilkan dari metabolisme
pemecahan protein hemoglobin dalam tubuh. Sebagian besar bilirubin diproduksi
dari protein yang mengandung heme dalam sel darah merah. Bilirubin dalam
darah 25 % berasal melalui penghancuran eritrosit immature dan protein heme
yang lainnya seperti myoglobin, sitokrom, katalase dan peroksidase (Lubis,
2013). Bilirubin adalah produk ekskretorik, zat ini tidak mempunyai fungsi dalam
darah dan empedu. Pemeriksaan di laboratorium akan membedakan 2 jenis
bilirubin yaitu bilirubin direct dan indirect (Kee, 2007).
Bilirubin dibagi menjadi dua jenis yaitu bilirubin indirek dan bilirubin
direk. Bilirubin indirek merupakan bilirubin yang belum mengalami konjugasi
oleh hati dengan asam gukoronat di dalam hati. Sedangkan bilirubin direk
merupakan bilirubin yang telah mengalami konjugasi di dalam hati. Pada
pemeriksaan di laboratorium, untuk membedakan kadar bilirubin direk dan
indirek maka dilakukan pemeriksaan bilirubin total. (Wibowo, 2007)
Pemecahan dari sistem RES (reticuloendothelial system) yang diawali
dengan pelepasan besi dan ranati peptide globulin. Bilirubin berawal dari turunan
cincin porifirin yang terbuka dan menjadi rantai lurus. Dalam RES turunan
tersebut disebut sebagai biliverdin yang kemudian dikeluarkan ke sirkulasi. Dia
dalam plasma bilirubin diikat oleh albumin ini disebut sebagai bilirubin indirek
(Kosasih, 2008). Bilirubin indirek masuk ke dalam sel hepar, sedangkan yang lain
tetap berada di sirkulasi darah. Bilirubin yang masuk ke sel hepar dalam keadaan
bebas akan berikatan dengan asam glukoronat dan disebut sebagai bilirubin
terkonjugasi (bilirubin direk). Sebagian besar bilirubin direk akan masuk ke
saluran empedu dan sebagian lagi masuk ke sirkulasi darah. maka dari itu, dalam
sirkulasi darah terdapat bilirubin direk dan indirek. Bilirubin direk yang
memasuki saluran empedu akan terkumpuldalam kantong empedu da akhirnya
akan masuk ke dalam usus. Pada lumen usus, bilirubin direk dioksidasi oleh flora
normal dalam usus menjadi urobilinogen. (Sutedjo, 2009)
Sebagian bilirubin dimetabolisme dan menjadi bilirubin yang terkonjugasi
(bilirubin direk). Bila bilirubin direk rendah/normal kadarnya sedangkan kadar
bilirubin total meningkat maka dapat menunjukkan adanya kerusakan hati atau
gangguan pada saluran empedu. Apabila kadar bilirubin meningkat dapat
menyebabkan kulit dan mata menjadi kuning, ini lah gejala dari ikterus. (Kosasih,
2008)
Maka dari itu, pemeriksaan bilirubin merupakan salah satu pemeriksaan
fungsi hati yang juga penting untuk untuk menggambarkan keadaan ikterus atau
gangguan pada hati.
BAB II
METODE PRAKTIKUM

2.1. Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 02 April 2019 dan 30
April 2019 bertempat di Ruang Praktikum Patologi Klinik Analis Medis (Ex-
Upeddi), Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, Surabaya.

2.2. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum pemeriksaan bilirubin total dan
bilirubin direk adalah fotometer, tabung serologi, rak tabung, timer, mikropipet,
blue tip dan yellow tip. Selanjutnya, bahan yang digunakan untuk pemeriksaan
bilirubin total yaitu Total Bilirubin Reagent (R1) dengan komposisi asam sulfanilat
(28,9 mmol/L), TAB (9 mmol/L), bahan pengawet dan pengstabil serta Total
Bilirubin Activator (R2). Sedangkan reagen yang digunakan untuk pemeriksaan
bilirubin direk adalah Direct Bilirubin Reagent (R1) dengan komposisi asam
sulfanilat (28,9 mmol/L), asam hidroklorit (165 mmol/L), bahan pengawet dan
pengstabil serta Direct Bilirubin Activator (R2).

2.3. Bahan Pemeriksaan


Sampel yang diuji dalam praktikum ini adalah serum. Selain serum juga
dapat menggunakan plasma. Perlu diperhatikan bahwa sampel tanpa hemolisis.

2.4. Prosedur Kerja


2.4.1. Pemeriksaan Bilirubin Total

Blanko Sampel 1 & 2


4

1000µl R1 + 20µl R2 1000 µl R1 + 20 µl R2 + 50 µl serum

Homogenkan
Homogenkan, inkubasi 5 menit pada suhu ruang

Baca absorbansi setelah 1 menit dengan λ 546 nm


menggunakan pengukuran endpoint.

2.4.2. Pemeriksaan Bilirubin Direk

Blanko Sampel 1 & 2


4
4

1000µl R1 + 20µl R2 1000 µl R1 + 20 µl R2 + 50 µl serum

Homogenkan, inkubasi 5 menit pada suhu


ruang
inkubasi 5 menit pada suhu ruan

Baca absorbansi setelah 1 menit dengan λ 546 nm


menggunakan pengukuran endpoint.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Pemeriksaan


Hasil (mg/dL)
Interpretasi Hasil (mg/dL)
Sampel 1 Sampel 2

Bilirubin total < 1,2 0,7 0,9

Bilirubin direk < 0,40 0,19 0,22

3.2. Pembahasan
Bilirubin dan zat lainnya yang berhubungan diukur kadarnya melalui cairan
tubuh menggunakan metode spektrofotometer/fotometer, kromatgrafi, dan
elektroforesis (Higgins et al, 2008). Pada praktikum ini yang digunakan adalah
metode fotometer berdasarkan reaksi diazo.

3.2.1. Preanalitik
Pada pemeriksaan bilirubin dan bilirubin direk sampel yang digunakan
adalah serum atau plasma, namun lebih dianjurkan menggunakan plasma.
Pasien dianjurkan puasa karena dapat memengaruhi kadar lipid, apabila lipid
dalam sampel tinggi maka dapat menyebabkan pengukuran kadar bilirubin
meningkat. Sampel lisis juga harus dihindari karena dapat menurunkan
reaksi antara bilirubin dengan reagen diazo (bishop 547). Interferensi dapat
timbul pada pemeriksaan bilirubin total dan bilirubin direk apabila kadar
asam askorbat >50 mg/dL dan kadar hemoglobin >1000 mg/dL. (Young,
2000)
Bilirubin sangat sensitif terhadap cahaya karena mudah rusak olehnya.
Maka dari itu sampel harus dihindarkan dari cahaya sampai waktu
pemeriksaan. Apabila tidak maka kadar bilirumin dapat menurun 30% - 50%
per jam (Higgins et al, 2008). Penurunan kadar bilirubin yang mencolok
dapat terjadi setelah paparan sinar fluorescent atau sinar matahari secara
langsung maupun tidak langsung. Serum atau plasma yang disimpan dalam
keadaan terhindar dari cahaya atau disimpan dalam gelap setelah pemisahan
dapat bertahan selama 2 hari pada suhu ruang, bertahan 1 minggu pada suhu
4 oC, dan dapat bertahan lebih lama pada penyimpanan -20 oC (bisop 548).
Selain itu penyimpanan reagen juga perlu diperhatikan, botol reagen yang
masih tersegel dapat bertahan hingga batas masa kaduluarsa walaupun hanya
disimpan pada suhu ruang, sedangkan aktivator harus disimpan pada suhu 2-
8 oC. Bila botol reagen telah dibuka hanya dapat bertahan selama 4 minggu
untuk reagen bilirubin total, dan 15 hari untuk reagen bilirubin direk.
(Chiasera dan Xin Xu, 2010)

3.2.2. Metode dan Analitik


Metode yang paling banyak digunakan untuk pemeriksaaan bilirubin
adalah metode berdasarkan reaksi diazo. Pada reaksi ini sulfanilic acid
dengan reagen diazo bereaksi dengan bilirubin membentuk dua azodipyrrole
yang berwarna ungu kemerahan pada pH netral dan warna biru pada pH
rendah atau tinggi. Pada reaksi ini menggunakan alcohol sebagai akselerator.
Fraksi bilirubin yang yang bereaksi dengan reagen diazo tanpa adanya
akselerator merupakan bilirubin direk. (Higgins et al, 2008)
Untuk pemeriksaan bilirubin total dalam serum, Clinical Laboratory
Standarads Institute (CLSI) merekomendasikan metode Jendrassik-Grof
(Higgins et al, 2008). Pada metode ini, pigmen bilirubin dalam serum beraksi
denga reagen diazo (sulfanilic acid dalam hydrochloric acid dan sodium
nitrate), menghasilkan produk berwarna ungu, azobilirubin dan diukur
absorbansinya menggunakan fotometer. Dengan penambahan kafein-
benzoat sebagai akselerator dapat memisahkan bilirubin yang berikatan
dengan albumin dan melarutkan fraksi bilirubin yang tidak larut air, maka
bisa didapatkan nilai dari total bilirubin yang terdiri dari semua fraksi
bilirubin. Sedangkan reaksi tanpa penambahan akselerator akan
menunjukkan nilai dari bilirubin yang terkonjuasi saja (bilirubin direk)
(Chiasera dan Xin Xu, 2010). Hal ini karena bilirubin terkonjugasi
merupakan zat yang larut air. Pada pengukuran kadar bilirubin direk, untuk
mencegah agar bilirubin tidak terkonjugasi ikut bereaksi dengan reagen diazo
maka reaksi perlu dijaga pada pH mendekati 1.0 (Higgins et al, 2008). Prinsip
ini lah yang dipakai dalam pemeriksaan bilirubin total dan bilirubin direk
pada praktikum kali ini, dengan TAB sebagai akselerator dan pembacaan
absorbansi pada panjang gelombang 546 nm. Untuk kadar bilirubin indirek
(bilirubin yang tidak terkonjugasi) bisa didapatkan dari selisih antara kadar
bilirubin total dengan bilirubin direk.
Dalam prakikum ini, pengerjaan dilakukan sebanyak dua kali dari
sampel serum yang sama. Berdasarkan praktikum hasil kadar bilirubin total
dalam serum yang diperiksa pada pengukuran pertama sebesar 0,7 mg/dL,
dan pada pengukuran kedua sebesar 0,9 mg/dL. Kedua hasil tersebut dapat
dikatakan normal karena nilainya <1,2 mg/dL. Sedangkan untuk
pemeriksaan bilirubin direk hasilnya adalah kadar bilirubin direk sebesar
0,19 mg/dL pada pengukuran sampel yang pertama dan 0,22 mg/dL pada
pengukuran yang kedua. Pengukuran dilakukan dua kali untuk melihat
gambaran seberapa baik presisi dari pengerjaan. Dari hasil yang didapatkan
selisih antar keduanya sebesar 0,2 mg/dL untuk bilirubin total dan selisih
0,03 mg/dL pada bilirubin direk ini menunjukkan bahwa presisinya cukup
baik.

3.2.3. Abnormalitas pada Kadar Bilirubin


Kadar bilirubin dalam serum sangat dipengaruhi oleh metabolisme
hemoglobin, fungsi hati dan kejadian-kejadian pada saluran empedu.
Peningkatan kadar bilirubin total menunjukkan adanya gangguan pada hati
yakni kerusakan pada sel hati atau kerusakan pada saluran empedu bisa
karena terbentuk batu pada saluran empedu atau karena tumor. Bilirubin
terkonjugasi tidak dapat keluar dari epedu ke usus sehingga akan masuk
kembali dan terabsorbsi ke dalam aliran darah. Tingkat destruksi atau
penghancuran eritrosit (hemolisis) dapat meningkat pada penyakit-penyakit
seperti gangguan hemolitik oleh autoimun, tranfusi, atau eritoblastosis
fatalis. Peningkatan destruksi eritrosit yang tidak diimbangi dengan
kecepatan konjugasi dan ekskresi ke saluran empedu dapat menyebabkan
peningkatan kadar bilirubin. (Joyce, 2007)
Peningkatan kadar bilirubin total dapat terjadi karena ikterik obstruktif
oleh adanya batu atau neoplasma empedu, hepatitis, sirosis hati, moonukleus
infeksiosa, metastasis hati, dan penyakit Wilson. Sedangkan penurunan
kadar bilirubin total dan bilirubin direk dapat disebabkan oleh anemia
defisiensi besi dan pengaruh beberapa obat-obatan. (Joyce, 2007)
Peningkatan produksi bilirubin tidak terkonjugasi dari heme dapat
disebabkan oleh adanya hemolisis, gangguan erythropoiesis, dan pergantian
singkat dari massa eritrosit. Sedangkan peningkatan kadar bilirubin
terkonjugasi disebabkan oleh penurunan sekresi bilirubin terkonjugasi ke
kanalikuli karena penyakit haptoseluler seperti hepatitis/kolestasis dan
biliary atresia. (Higgins et al, 2008)
Peningkatan bilirubin merupakan masalah yang sering dijumpai pada
bayi baru lahir, dimana terjadi peralihan transisi normal atau fisiologis yang
lazim terjadi pada 60 % pada bayi cukup bulan dan 80 % pada bayi kurang
bulan. Pada bayi baru lahir yang organ hatinya masih lemah tidak bisa
mengkonjugasi bilirubin sehingga menyebabkan ikterik. Namun kadar
bilirubin yang berlebih pada bayi dapat diturunkan dengan fototerapi.
(Puspitosari et al, 2013)
BAB IV
KESIMPULAN

Dari praktikum ini kadar bilirubin total yang diperoleh adalah 0,7 mg/dL pada
pengukuran pertama dan 0,9 mg/dL pada pengukuran kedua. Hasil tersebut adalah
normal dan presisinya cukup baik. Sedangkan untuk pengukuran kadar bilirubin direk
didapatkan hasil sebesar 0,19 mg/dL pada pengukuran pertama dan 0,22 mg/dL pada
pengukuran kedua. Hasil tersebut dinyatakan normal dan presisinya juga cukup baik.
DAFTAR PUSTAKA

Bishop, Michael L., Edward P. Fody, Larry E. Schoeff. 2010. Clinical Chemistry:
Techniques, Principles, Correlation 6th Edition. Philadelphia: Lippincott
Wiliams & Wilkins.

Chiasera, Janelle M. dan Xin Xu. 2010. Liver Function. Dalam: Bishop, Michael L.,
Edward P. Fody, Larry E. Schoeff. Clinical Chemistry: Techniques,
Principles, Correlation 6th Edition. Philadelphia: Lippincott Wiliams &
Wilkins.

Higgins, Trefor, Ernest Beutler, dan Basil T. Doumas. 2008. Hemoglobin, Iron, and
Bilirubin. Dalam: Burtis, Carl A., Edward S. Ashwood, David E. Burns, dan
Barbara G. Sawyer. Tietz Fundamental of Clinical Chemistry 6th Edition.
USA: Saunders Elsevier.

Joyce, L.F.K. 2007. Predoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik Edisi 6.


Jakarta: EGC.
Kee, J. L. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik/ Joyce LeFever
Kee, alih bahasa, Sari Kurnianingsih et al. editor edisi bahasa Indonesia,
Ramon P Kapoh- Ed 6. EGC. Jakarta.

Kosasih, E.N, dan A.S. Kosasih. 2008 Tafsiran Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Klinik, Edisi Kedua. Tangrang: Karisma Publishing Group.

Kustiningsih, Yayuk, et al. 2017. Pengaruh variasi suhu awal reagen terhadap kadar
glukosa darah metode enzimatik. Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes
Kemenkes Banjarmasin. Volume 3(1): 103-107.

Lubis, Murdiana B. 2013. Rasio Bilirubin Albumin pada neonatus dengan


hiperbilirubinemia. Jurnal Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara.

Puspitosari, Dewi R. 2006. Pengaruh paparan sinar matahari pagi terhadap


penurunan tanda ikterus pada ikterus neonatorum fisiologis . Jurnal
Kedokteran Brawijaya Universitas Brawijaya.

Sutedjo, A.Y. 2009. Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeeriksaan Laboratorium.


Yogyakarta: Asmara Books

Wibowo, S. 2007. Perbandingan kadar bilirubin neonatus dengan dan tanpa defisiensi
glucose-6-phophate dehydrogenase, infeksi dan tidak infeksi. Diss. Program
Pasca Sarjana Universitas Diponegoro, Semarang.
Young DS. 2000. Effects of Drugs on Clinical Laboratory Tests 5th Edition. Volume 1
dan 2. Washington, DC: The American Assocation for Clinical Chemistry
Press.