0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
252 tayangan17 halaman

Farmakokinetik dan Mekanisme Asetaminofen

Dokumen tersebut memberikan ringkasan singkat tentang farmakokinetika, farmakodinamika, mekanisme kerja, efek samping, dan interaksi obat acetaminophen (parasetamol). Secara ringkas, acetaminophen akan diabsorpsi dari saluran pencernaan dan didistribusikan ke seluruh tubuh, kemudian sebagian besar akan dimetabolisme di hati sebelum diekskresi melalui urin.

Diunggah oleh

yulia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
252 tayangan17 halaman

Farmakokinetik dan Mekanisme Asetaminofen

Dokumen tersebut memberikan ringkasan singkat tentang farmakokinetika, farmakodinamika, mekanisme kerja, efek samping, dan interaksi obat acetaminophen (parasetamol). Secara ringkas, acetaminophen akan diabsorpsi dari saluran pencernaan dan didistribusikan ke seluruh tubuh, kemudian sebagian besar akan dimetabolisme di hati sebelum diekskresi melalui urin.

Diunggah oleh

yulia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER BAHASA INDONESIA

“ACETAMINOPHEN”

Oleh:

Yulia Anggraini (I1C017001)

Shafira Nabila N (I1C017004)

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2019

1
DAFTAR ISI

Judul .................................................................................................................1
Daftar isi ...........................................................................................................2

Bab 1 PENDAHULUAN ........................................................................................3


1.1. Latar belakang ...........................................................................................3
1.2. Pengertian ..................................................................................................4
Bab 2 TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................................5
2.1. Farmakokinetika .......................................................................................5
2.1.1 Absorbsi...............................................................................................6
2.1.2 Distribusi..............................................................................................6
2.1.3 Metabolisme.........................................................................................6
2.1.4 Eliminasi...............................................................................................7
2.2. Farmakodinamik.........................................................................................8
2.3. Mekanisme dan Target Aksi Obat..............................................................9
2.4. Efek Obat dan Efek Samping.....................................................................10
2.5. Interaksi Obat.............................................................................................12
Bab 3. KESIMPULAN..............................................................................................14
Bab 4. DAFTAR PUSTAKA....................................................................................15

2
BAB 1
PENDAHULUAN

ACETAMINOPHEN
(Parasetamol)

1.1 Latar Belakang

Parasetamol merupakan salah satu obat NSAID yang lebih sering digunakan
sebagai analgesik dan antipiretik. Obat ini adalah menghambat sintesis
prostaglandi di otak sehingga efek analgesi dan antipiretik yang lebih baik
(Renner, 2007). Penghambatan sintesis prostaglandin oleh parasetamol terjadi
karena penghambatan proses perubahan asam arakidonat (AA) oleh enzim
siklooksigenasi (Marta & Jerzy, 2014).
Semua obat golongan NSAID termasuk parasetamol bekerja menghambat
perubahan asam arakidonat dengan cara menghambat enzim siklooksigenase
(COX).Penghambatan kerja enzim siklooksigenase menyebabkan prostaglandin,
tromboksan, dan prostasiklin tidak terbentuk (Marta & Jerzy, 2014). Namun,
parasetamol hanya dapat bekerja baik dalam menghambat enzim siklooksigenase
pada kadar peroksidase yang rendah sehingga mekanisme kerja analgesik
parasetamol masih sulit untuk dijelaskan (Regina, 2000).

3
1.2. Pengertian
Parasetamol adalah paraaminofenol yang merupakan metabolit fenasetin dan
telah digunakan sejak tahun 1893. (Wilmana, 1995). Parasetamol (asetaminofen)
mempunyai daya kerja analgetik, antipiretik, tidak mempunyai daya kerja anti
radang dan tidak menyebabkan iritasi serta peradangan lambung (Sartono,1993).
Parasetamol larut dalam 70 bagian air hal ini berarti parasetamol agak sukar
larut dalam air dengan pemerian serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa sedikit
pahit (Depkes RI, 1979:37)
Parasetamol (asetaminofen) merupakan obat analgetik non narkotik
dengan cara kerja menghambat sintesis prostaglandin terutama di Sistem Syaraf
Pusat (SSP) . Parasetamol digunakan secara luas di berbagai negara baik dalam
bentuk sediaan tunggal sebagai analgetik-antipiretik maupun kombinasi dengan
obat lain dalam sediaan obat flu, melalui resep dokter atau yang dijual bebas.
(Lusiana Darsono, 2002)
Hal ini disebabkan Parasetamol bekerja pada tempat yang tidak terdapat
peroksid sedangkan pada tempat inflamasi terdapat lekosit yang melepaskan
peroksid sehingga efek anti inflamasinya tidak bermakna. Parasetamol berguna
untuk nyeri ringan sampai sedang, seperti nyeri kepala, mialgia, nyeri paska
melahirkan dan keadaan lain (Katzung, 2011)
Kadar tertinggi parasetamol di sirkulasi darah ditemukan kira-kira 2 jam
setelah pemberian peroral (Syarif et al., 2007). Waktu paruh dari obat ini dalam
plasma adalah 1-3 jam setelah pemberian peroral (Tan dan Kirana, 2007).
Setelah dikonsumsi, 90% parasetamol di metabolisme menjadi inaktif secara
farmakologi seperti asam glucoronik dan cystein. Namun, 5% dari metabolisme
parasetamol menjadi sebuah senyawa toxic berupa N-acetyl-p-benzpquinone.
Toxin ini dapat menyebabkan disfungsi renal dan kegagalan sistim hepatik
(Marta & Jerzy, 2014).

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Farmakokinetik
Parasetamol cepat diabsorbsi dari saluran pencernaan, dengan kadar
serum puncak dicapai dalam 30-60 menit. Waktu paruh kira-kira 2 jam.
Metabolisme di hati, sekitar 3 % diekskresi dalam bentuk tidak berubah melalui
urin dan 80-90 % dikonjugasi dengan asam glukoronik atau asam sulfurik
kemudian diekskresi melalui urin dalam satu hari pertama; sebagian
dihidroksilasi menjadi N asetil benzokuinon yang sangat reaktif dan berpotensi
menjadi metabolit berbahaya. Pada dosis normal bereaksi dengan gugus
sulfhidril dari glutation menjadi substansi nontoksik. Pada dosis besar akan
berikatan dengan sulfhidril dari protein hati.(Lusiana Darsono 2002).

2.1.1. Absorbsi
Paracetamol siap diabsorpsi dari saluran gastrointestinal dengan
konsentrasi puncak plasma mencapai sekitar 10-60 menit dengan dosis per oral.
Paracetamol didistribusikan ke hampir semua jaringan tubuh. Melewati plasenta
dan mengalir melalui air susu. Ikatan protein plasma dapat diabaikan pada
konsentrasi terapeutik normal, namun dapat meningkat dengan peningkatan
konsentrasi. Waktu paruh eliminasi dari paracetamol bervariasi antara 1 hingga 3
jam (Sweetman, 2009).

2.1.2. Distribusi
Setelah diabsorbsi, obat akan didistribusi keseluruh tubuh melalui
sirkulasi darah. Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga
ditentukan oleh sifat fisikokimianya. Distribusi obat dibedakan atas dua fase
berdasarkan penyebarannya di dalam tubuh. Distribusi fase pertama terjadi
segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik misalnya
jantung, hati, ginjal dan otak. Selanjutnya distribusi fase kedua jauh lebih luas
yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik organ diatas misalnya
otot, visera kulit dan jaringan lemak.

5
Distribusi ini baru mencapai keseimbangan setelah waktu yang lebih
lama. Obat yang mudah larut dalam lemakakan melintasi membran sel dan
terdistribusi ke dalam sel sedangkan obat yang tidak larut ke dalam lemak akan
sulit menembus membran sel sehingga distribusinya terbatas terutama di cairan
ekstra sel. Parasetamol terdistribusi dengan cepat pada hampir seluruh jaringan
tubuh. Lebih kurang 25% parasetamol dalam darah terikat pada protein plasma.

2.1.3. Metabolisme
Paracetamol sebagian besar dimetabolisme di hepar dan sejumlah kecil
tidak dimetabolisme dan dieliminasi keluar dari tubuh melalui urin. (Mohammed
dan Safwat, 2013). Parasetamol sedikit terikat pada protein plasma dan sebagian
dimetabolisme oleh enzim mikrosomal hati. Pada proses metabolisme ini, dua
enzim mikrosomal yang memegang peran utama, yaitu reduktase NADPH-
sitokrom P450 dan sitokrom P450 (Hardman dan Limbird, 2007).
Parasetamol dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. Sebagian
parasetamol dikonjugasi dengan asam glukuronat dan sebagian kecil lainnya
dengan asam sulfat (Wilmana dan Gan, 2008). Bila jalur glukuronidasi dan
sulfatasi jenuh, maka akan terjadi peningkatan jumlah NAPQI (N-Asetil-p-
benzoquinon) melalui jalur oksidasi oleh sitokrom P450. NAPQI akan cepat
dieliminasi dengan dikonjugasi oleh glutathion dan akan diubah menjadi asam
merkapturat yang kemudian di ekskresikan melalui urin.
Bila dosis parasetamol berlebih, maka jumlah glutathion pada sel hati
akan habis, sehingga jumlah NAPQI yang tinggi akan berikatan dengan sel
makromolekul dalam hati yang akan menyebabkan efek hepatotoksik (Goodman
dan Gilman, 2006)

6
2.1.4. Eliminasi
Parasetamol berguna untuk nyeri ringan sampai sedang, seperti nyeri
kepala, mialgia, nyeri paska melahirkan dan keadaan lain (Katzung, 2011)
Parasetamol, mempunyai daya kerja analgetik dan antipiretik sama dengan
asetosal, meskipun secara kimia tidak berkaitan. Tidak seperti Asetosal,
Parasetamol tidak mempunyai daya kerja antiradang, dan tidak menimbulkan
iritasi dan pendarahan lambung. Sebagai obat antipiretika, dapat digunakan baik
Asetosal, Salsilamid maupun Parasetamol. Diantara ketiga obat tersebut,
Parasetamol mempunyai efek samping yang paling ringan dan aman untuk anak-
anak. Untuk anak-anak di bawah umur dua tahun sebaiknya digunakan
Parasetamol, kecuali ada pertimbangan khusus lainnya dari dokter. Dari
penelitian pada anak-anak dapat diketahui bahawa kombinasi Asetosal dengan
Parasetamol bekerja lebih efektif terhadap demam daripada jika diberikan
sendiri-sendiri. (Sartono 1996).

Eliminasi sebagian besar obat dari tubuh terdiri dari dua proses yaitu
metabolisme (biotransfromasi) dan ekskresi. Seperti halnya biotransformasi,
ekskresi suatu obat dan metabolitnya menyebabkan penurunan konsentrasi
bahan berkhasiat dalam tubuh. Ekskresi dapat terjadi tergantung pada sifat
fisiokimia (bobot molekul, harga pKa, kelarutan, dan tekanan uap). Parasetamol
diekskresikan melalui urin sebagai metabolitnya, yaitu asetaminofen
glukoronoid, asetaminofen sulfat, merkaptat dan bentuk yang tidak berubah.

7
2.2. Farmakodinamik

Efek analgesik Parasetamol serupa dengan Salisilat yaitu menghilangkan


atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Parasetamol menurunkan suhu
tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti
salisilat.
Efek anti-inflamasinya sangat lemah, oleh karena itu Parasetamol tidak
digunakan sebagai antireumatik. Parasetamol merupakan penghambat biosintesis
prostaglandin (PG) yang lemah. Efek iritasi, erosi dan perdarahan lambung tidak
terlihat pada kedua obat ini, demikian juga gangguan pernapasan dan
keseimbangan asam basa. (Mahar Mardjono 1971)
Semua obat analgetik non opioid bekerja melalui penghambatan
siklooksigenase. Parasetamol menghambat siklooksigenase sehingga konversi
asam arakhidonat menjadi prostaglandin terganggu. Setiap obat menghambat
siklooksigenase secara berbeda. Parasetamol menghambat siklooksigenase pusat
lebih kuat dari pada aspirin, inilah yang menyebabkan Parasetamol menjadi obat
antipiretik yang kuat melalui efek pada pusat pengaturan panas. Parasetamol
hanya mempunyai efek ringan pada siklooksigenase perifer.
Inilah yang menyebabkan Parasetamol hanya menghilangkan atau
mengurangi rasa nyeri ringan sampai sedang. Parasetamol tidak mempengaruhi
nyeri yang ditimbulkan efek langsung prostaglandin, ini menunjukkan bahwa
parasetamol menghambat sintesa prostaglandin dan bukan blokade langsung
prostaglandin. Obat ini menekan efek zat pirogen endogen dengan menghambat
sintesa prostaglandin, tetapi demam yang ditimbulkan akibat pemberian
prostaglandin tidak dipengaruhi, demikian pula peningkatan suhu oleh sebab
lain, seperti latihan fisik. (Aris 2009).

8
2.3. Mekanisme dan Target Aksi Obat
Jenis obat : Analgesik-Antipiretik
Golongan : Obat Bebas
Kegunaan : Menurunkan demam, meringankan nyeri ringan hingga
sedang seperti sakit kepala, sakit gigi, nyeri haid, migrain,
nyeri dan demam akibat pilek dan nyeri otot akibat trauma
Dikonsumsi : Dewasa, Anak-anak
Bentuk obat : Tablet, Kaplet, Kapsul, Sirup, Drop, Infus dan Suppositoria
Merek dagang : Flutop, Hufagesic, Hufagripp Sirup, Intunal, Iftamol, Inza,
Itamol, Migran, Mixaflu, Nalgesik, Nellco Spesial OBH,
Neozep, Nihiza, Nipe, Nogren, Novagesic, Noza, Nufadol,
Nodrof, Oskadon, Pamol, Panadol, Parasetamol, Paraco,
Paradyn, Paratenza, Paratusin, Patral, Saridon, Supraflu,
Tramifen, Tempra, Termorex, Tera-F, Tropas.

Mekanisme Aksi utama dari parasetamol adalah hambatan terhadap


enzim siklooksigenase (COX, cyclooxygenase), dan penelitian terbaru
menunjukkan bahwa obat ini lebih selektif menghambat COX-2. Meskipun
mempunyai aktivitas antipiretik dan analgesik, tetapi aktivitas anti inflamasinya
sangat lemah karena dibatasi beberapa faktor, salah satunya adalah tingginya
kadar peroksida dapat lokasi inflamasi. Hal lain, karena selektivitas
hambatannya pada COX-2, sehingga obat ini tidak menghambat aktivitas
tromboksan yang merupakan zat pembekuan darah. (Granberg dan Rasmuson,
1999).
Mekanisme analgetik parasetamol bertindak dengan mengurangi kadar
peroksida sitoplasma, peroksida diperlukan untuk mengaktifkan enzim COX
dengan mengubah ferro ke bentuk ferri. Dalam kondisi inflamasi akut,
parasetamol sangat O H2N NH2 11 tidak efektik karena neutrofil dan monosit
memproduksi H2O2 dan lipid peroksida dalam jumlah yang tinggi, dimana
mampu menanggulangi aksi obat. Bagaimanapun, parasetamol merupakan
analgetik yang efektif dalam kondisi dimana tidak ada atau sedikit infiltrasi
leukosit (Neal, 2009).

9
Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa mekanisme parasetamol
dengan penghambatan selektif enzim COX-2 sehingga aman bagi lambung
(Hinz dkk., 2008). Hasil tersebut diperkuat berdasarkan dari data molecular
docking terhadap COX-1, COX-2, dan COX-3 bahwa parasetamol merupakan
potensial inhibitor COX-2 (Qureshi dkk., 2011).
Parasetamol didalam tubuh mengalami metabolisme fase 1 menghasilkan
metabolit reaktif dan toksik N-Asetil-Parabenzo-Quinon-Imina (NAPQI)
(gambar 4), yang selanjutnya pada metabolisme fase 2 akan berkonjugasi dengan
glutation (GSH) menjadi turunan asam merkapturat sehingga dapat
diekskresikan dari tubuh melalui urin. Dosis normal pemakaian parasetamol
untuk orang dewasa berkisar antara 500-1.000 mg tiap 4-5 jam. Pada dosis ini,
konsumsi parasetamol tidak mengganggu sistem pencernaan, sistem pembekuan
darah, dan ginjal. Akan tetapi, parasetamol dapat memberikan efek
hepatotoksisk jika dikonsumsi secara terus-menerus di luar dosis yang telah
ditentukan. Parasetamol dapat menyebabkan kerusakan hati, terutama setelah
pemberian dosis yang berlebihan (lebih dari 10 g/hari dosis tunggal) maupun
penggunaan jangka panjang (7-10 hari) (Mutschler, 1986)

2.4. Efek Obat dan Efek Samping Obat

Parasetamol berguna untuk nyeri ringan sampai sedang, seperti nyeri


kepala, mialgia, nyeri paska melahirkan dan keadaan lain (Katzung, 2011)
Parasetamol merupakan pilihan lini pertama bagi penanganan demam dan nyeri
sebagai antipiretik dan analgetik. Parasetamol digunakan bagi nyeri yang ringan
sampai sedang.(Cranswick 2000)
Parasetamol, mempunyai daya kerja analgetik dan antipiretik sama
dengan asetosal, meskipun secara kimia tidak berkaitan. Tidak seperti Asetosal,
Parasetamol tidak mempunyai daya kerja antiradang, dan tidak menimbulkan
iritasi dan pendarahan lambung. Sebagai obat antipiretika, dapat digunakan baik
Asetosal, Salsilamid maupun Parasetamol. Diantara ketiga obat tersebut,
Parasetamol mempunyai efek samping yang paling ringan dan aman untuk anak-
anak. Untuk anak-anak di bawah umur dua tahun sebaiknya digunakan
Parasetamol, kecuali ada pertimbangan khusus lainnya dari dokter. Dari

10
penelitian pada anak-anak dapat diketahui bahawa kombinasi Asetosal dengan
Parasetamol bekerja lebih efektif terhadap demam daripada jika diberikan
sendiri-sendiri. (Sartono 1996)
 Efek samping
Reaksi alergi terhadap derivate para-aminofenol jarang terjadi.
Manifestasinya berupa eritem atau urtikaria dan gejala yang lebih berat berupa
demam dan lesi pada mukosa. Fenasetin dapat menyebabkan anemia hemolitik,
terutama pada pemakaian kronik. Anemia hemolitik dapat terjadi berdasarkan
mekanisme autoimmune, defisiensi enzim G6PD dan adanya metabolit yang
abnormal. Methemoglobinemia dan Sulfhemoglobinemia jarang menimbulkan
masalah pada dosis terapi, karena hanya kira-kira 1-3% Hb diubah menjadi met-
Hb.
Food and Drug Administration (FDA) menjelaskan bahwa, dosis aman
penggunaan parasetamol untuk dewasa dan anak yang lebih dari 12 tahun adalah
maksimal 4 gram/hari. Konsumsi parasetamol dosis toksik sebesar 15 gram akan
menyebabkan kerusakan hati (hepatotoxicity) dan kerusakan hati ini akan
diiringi kerusakan organ lain, salah satunya adalah ginjal berupa nekrosis
tubulus akut (Rini et al, 2013). Pada sebagian kasus, kerusakan ginjal bisa terjadi
tanpa adanya kerusakan hepar dan dosis yang dibutuhkan untuk menyebabkan
kerusakan pada ginjal lebih rendah dibanding hepar (Mazer dan Perrone 2008).
Penggunaan akut parasetamol dengan dosis yang berlebih berpotensi
menyebabkan gagal hati dan ginjal yang fatal dan pada beberapa kasus hingga
menyebabkan kematian (Lorz et al, 2004). Nefrotoksisitas akut oleh parasetamol
dicirikan dengan perubahan morfologi dan fungsional dari ginjal yang
dibuktikan dengan kerusakan tubulus proksimal pada manusia dan binatang
percobaan, sedangkan penggunaan parasetamol dosis terapi berisiko
menyebabkan gagal ginjal akut pada pecandu alkohol. Oleh karena itu,
pemakaian parasetamol telah direkomendasikan hanya untuk jumlah dan waktu
yang terbatas (Lorz et al, 2005). Gagal ginjal akut akan mulai tampak 7 hari
setelah pemberian.

11
Parasetamol, relatif lebih lambat dibanding kerusakan hepar yang terjadi
maksimal 2- 4 hari (Hook, 1993). Pemakaian parasetamol yang berlebih akan
menyebabkan hepatotoksik yang merupakan suatu tanda khas dari overdosis
parasetamol. Dampak pada ginjal yang disebabkan overdosis parasetamol lebih
jarang ditemukan dibanding dampaknya pada hati, namun gangguan ginjal oleh
karena penggunaan parasetamol yang berlebihan mulai telah banyak ditemukan
dibanding kasus-kasus sebelumnya. (Loh dan Ponampalam, 2006).

2.5. Interaksi Obat


2.5.1. Definisi

Interaksi obat merupakan efek suatu obat yang disebabkan bila dua obat
atau lebih berinteraksi dan dapat mempengaruhi respon tubuh terhadap
pengobatan. Hasilnya berupa peningkatan atau penurunan efek yang dapat
mempengaruhi outcome terapi pasien (Yasin et al., 2005). Interaksi obat dapat
terjadi minimal melibatkan 2 jenis obat, yaitu :
a. Obat obyek, yaitu obat yang aksinya atau efeknya dipengaruhi atau
diubah oleh obat lain.
b. Obat presipitan, yaitu obat yang mempengaruhi atau mengubah aksi atau
efek obat lain. (Tatro,2006)
 Tipe Interaksi Obat

Tipe interaksi obat-obat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:


a. Duplikasi yaitu ketika dua obat yang sama efeknya diberikan, efek
samping mungkin dapat meningkat.
b. Opposition yaitu ketika dua obat dengan aksi berlawanan diberikan
bersamaan dapat berinteraksi, akibatnya menurunkan efektivitas obat
salah satu atau keduanya.
c. Alteration yaitu ketika suatu obat mungkin dirubah melalui absorbsi,
distribusi, metabolisme, dan ekskresi oleh obat lain.
(Hussar,2007)

12
Contoh interaksi obat:
1. Isoniazid dengan parasetamol
Jenis obat Isoniazid : Obat Presipitan (Anti - TB)
Jenis obat Parasetamol : Obat obyek
Jenis interaksi obat : Interaksi obat Duplikasi
Isoniazid dapat meningkatkan efek parasetamol dengan cara
menghambat metabolisme hepatik dari parasetamol. Perlu diwaspadai
efek toksisitas pada pasien saat kedua obat tersebut dikombinasikan
karena telah dilaporkan terjadi hepatotoksik (Tatro, 2001).
2. Rifampisin dengan parasetamol
Jenis obat Rifampisin : Obat Presipitan (Antibiotik)
Jenis obat Parasetamol : Obat obyek
Jenis interaksi obat : Interaksi obat Opposition
Rifampisin dapat menurunkan efek parasetamol dengan
melibatkan kerja enzimenzim mikrosomal hepatik yang dapat
mempercepat luruhnya parasetamol. Resiko paling besar adalah ketika
parasetamol diminum dengan dosis berlebih dan bersamaan dengan
pemberian rifampisin secara regular. Sebaiknya digunakan parasetamol
dalam rentang dosis yang disarankan atau lakukan monitoring (Tatro,
2001).
3. Diazepam dengan parasetamol
Jenis obat Diazepam : Obat Presipitan (Benzodiazepin)
Jenis obat Parasetamol : Obat obyek
Jenis interaksi obat : Interaksi obat Opposition
Diazepam golongan Obat Psikotropika yang dapat menurunkan
efek parasetamol dengan cara menaikkan metabolismenya. Metabolisme
yang tinggi dapat menaikkan kadar metabolit hepatotoksiknya
(Medscape, 2011). Parasetamol dapat menurunkan ekskresi diazepam
tetapi kadar plasmanya hanya sedikit, sehingga tidak berpengaruh secara
signifikan (Stockley, 1999).

13
BAB 3
KESIMPULAN

Parasetamol (asetaminofen) merupakan obat analgetik non narkotik


dengan cara kerja menghambat sintesis prostaglandin terutama di Sistem Syaraf
Pusat (SSP). Parasetamol cepat diabsorbsi dari saluran pencernaan, dengan kadar
serum puncak dicapai dalam 30-60 menit. Waktu paruh kira-kira 2 jam.
Metabolisme di hati dan sekitar 3 % diekskresi dalam bentuk tidak berubah
melalui urin dan 80-90 % dikonjugasi dengan asam glukoronik atau asam sulfurik
kemudian diekskresi melalui urin dalam satu hari pertama. Parasetamol
merupakan penghambat biosintesis prostaglandin (PG) yang lemah. Parasetamol
merupakan pilihan lini pertama bagi penanganan demam dan nyeri sebagai
antipiretik dan analgetik. Parasetamol digunakan bagi nyeri yang ringan sampai
sedang.

14
BAB 4
DAFTAR REFERENSI

Anggi, G., Kusdianti., dan Rini Sholihat. 2013. Analisis Pertumbuhan Tanaman
Kubis (Bracia oleracea) pada tanah yang terakumulasi Logam Berat
Kadmium (Cd) di Perkebunan Pangelengan Kabupaten Bandung.
Azka Ghafoor, Tahir Masood Qureshi, Hassan Rasool Azeemi and Syed Tahir
Hijazi. 2011. Mediating role of creative self-efficacy. African Journal of
Business Management Vol. 5(27), pp. 11093-11103, 9 November, 2011.
Azrai, Muhammad., Made J. Mejaya, dan M.Yasin H.G., 2005. Pemuliaan Jagung
Khusus. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros. Hal 96.
Cranswick, N dan Coghlan D. 2000. Paracetamol Efficacy and Safety in Children :
the first 40 years. Victoria : Clinical Pharmacologist, Royal Children’s
Hospital.
Darsono Lusiana. 2002. Diagnosis dan Terapi Intoksikasi Salisilat dan
Parasetamol. JKM. Vol. 2. No. 1.
DEPKES RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi ke tiga: Jakarta. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia
Frick, Heinz. 2008. Ilmu Fisika Bangunan, kanisius, Yogyakarta

Granberg RA, Rasmuson AC. 1999. Solubility of paracetamol in pure solvents.


Journal of Chemical & Engineering Data 44 (6): 1391–95.

Gunawan, Aris. 2009. Perbandingan Efek Analgesik antara Parasetamol dengan


Kombinasi Parasetamol dan Kafein pada Mencit. Jurnal Biomedika,
Volume 1, Nomor 1.
Hardman, J.G dan Limbird, L.E. 2007. Dasar Farmakoterapi Terapi Goodman &
Gilman. Volume 1. Edisi ke-10. Penerjemah: Aisyah,C, Elviana, E, Syarf,
W.R., Hanif, A., dan Manurung, J. Judul buku asli: Goodman &
Gilman’s The Pharmacological Basic of Therapeutics. Penerbit Buku
Kedokteran ECG, Jakarta. 667-682.
Hook JB (ed) .1993. Toxicology of the kidney. Edisi 2. New York: Raven Press.

15
Hussar, D. A., 2007. Drug Interaction: Factor affecting respon. Prescriptions with
potential drug interactions dispensed at Swedish pharmacies in January
1999: cross sectional study. BMJ. 2001; 323:427-428.
Katzung, B.G. 2011. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 10. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.
Lorz C, Justo P, Sanz A, Subira D, Egido J, Ortiz A. 2004. Paracetamol-induced
renal tubular injury: A role for er stress. J Am Soc Nephrol, 15: 380-389.
Lorz C, Justo P, Sanz AB, Egido J,Ortiz A. 2005. Role of bcl-xl in
paracetamolinduced tubular ephitelial cell death. Kidney Int, 67: 592-
601.
Loh CS, Ponampalam R. 2006. Nephrotoxicity associated with acute paracetamol
overdose: A case report and review of the literature. Hong Kong J Emerg
Med, 13 (2): 105-110.
Marta, J.B. dan Jerzy, Z.N. 2014. Paracetamol: Mechanism of Action, Applications
and Safety Concern. Journal of Acta Poloniae Pharmaceutica. 19:45-60.
Mazer M, Perrone J. 2008. Acetaminophen-induced nephrotoxicity:
Pathophisiology, clinical manifestasions, and management. J Med
Toxicol, 4 (1): 1-5.
Medscape. 2011. Medscape Reference, Aplikasi Medscape.[Akses 2018].
Mohammed, E.T dan Safwat, G.M. 2013. Assessment of the Ameliorative Role of
Selenim Nanoparticles on th Oxidative Stress of Acetaminophen in Some
Tissue of Male Albino Rats. Journal of Bacis and Applied Sciences.
2(2013): 80-85
Mutschler, E., 1986. Dinamika Obat : Buku Ajar Farmakologi dan Toksikologi,
diterjemahkan oleh Widianto, M.B., dan Ranti, A.S., Edisi Kelima, 157-
158, Penerbit ITB, Bandung
Sartono., 1993. Pengaruh Pemberian Dosis Tunggal Parasetamol Terhadap
Komposisi Metabolit Parasetamol Dalam Urin Tikus Jantan Malnutrisi.
Dalam: Darsono, I., 2002. Diagnosis dan Terapi Intoksikasi Salisilat dan
Parasetamol.
Sartono. 1996. Obat-obat Bebas Dan Bebas Terbatas. Jakarta: Penerbit
PT.Gramedia Pustaka Utama. Halaman 6, 8.

16
Sweetman, S.C., 2009. Martindale The Complete Drug Reference, Thirty Sixth
Edition, Pharmaceutical Press, New York
Stockley, I.H., 1999. Drug Interaction, 505-534, Cambridge University Press,
Cambridge.
Tatro, D., 2001, Drug Interaction Facts , 6th Ed, Facts and Comparison A Wolter
Kluwers Company, St. Louis.
Tatro D., 2006, Drug Interaction Facts TM, editor: David S. Tatro, Facts and
Comparisons, St. Louis, Missouri.
Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting Khasiat,
Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya, Edisi Keenam, 262, 269-271,
PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.
Wilmana, P.F. 1995. Analgesik-Antipiretik,Analgesik Anti-Inflamasi Non Steroid
dan Obat Pirai : Farmakologi dan Terapi. Edisi ke 4. Jakarta. Bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Halaman : 217-
218
Wilmana, P. F., Sulistia G., 2008. Analgesik – Antipiretik, Analgesik AntiInflamasi
Nonsteroid, dan Obat Gangguan Sendi Lainnya, dalam: Farmakologi dan
Terapi, Sulistia Gan Gunawan (Ed.), edisi 5, Balai Penerbit FKUI,
Jakarta, 240

17

Anda mungkin juga menyukai