Anda di halaman 1dari 89

STUDI KASUS GABUNGAN APT SENJA 29

Kasus Kata Kunci dan Judul dan Pasal UU/Butir Sanksi Upaya Pencegahan
Peluang Pelanggaran Pedoman Disiplin/Kode Etik
yang dilanggar +
IDENTIFIKASI
1) Industri manufaktur obat Kata kunci: UU No 36 tahun 2009 tentang Sanksi terhadap - Sertifikat CPOB
memiliki Sertifikat CPOB  Sertifikat CPOB Kesehatan pelanggaran menurut UU No. 36 sesuai dengan sediaan,
untuk sediaan kapsul  sediaan kapsul antibiotik Pasal 98 tahun 2009 Pasal 98: sehingga industri
antibiotik, kemudian  Produksi sediaan injeksi (1) Sediaan farmasi dan alat Setiap orang yang harus memiliki
memproduksi sediaan kesehatan harus aman,
dengan sengaja memproduksi sertifikat CPOB untuk
dengan bahan aktif yang Peluang Pelanggaran: berkhasiat/bermanfaat, bermutu, dan
atau mengedarkan sediaan sediaan yang akan
sama dalam bentuk injeksi Industri memproduksi terjangkau. farmasi dan/atau alat kesehatan diproduksi
sediaan antibiotik steril (2) Setiap orang yang tidak memiliki
yang tidak memenuhi standar - Industri harus
Industri memproduksi keahlian dan kewenangan dilarang
dan/atau persyaratan keamanan, melakukan registrasi
sediaan non steril mengadakan, menyimpan, mengolah,
khasiat atau kemanfaatan, dan baru untuk sediaan
mempromosikan, dan mengedarkan
mutu sebagaimana dimaksud injeksi yang akan
obat dan bahan yang berkhasiat obat.
dalam Pasal 98 ayat (2) dan ayat diproduksi
(3) Ketentuan mengenai pengadaan,
(3) dipidana dengan pidana
penyimpanan, pengolahan, promosi,
penjara paling lama 10 (sepuluh)
pengedaran sediaan farmasi dan alat
tahun dan denda paling banyak
kesehatan harus memenuhi standar
Rp.1.000.000.000,00 (satu
mutu pelayanan farmasi yang miliar rupiah).
ditetapkan dengan Peraturan Sanksi terhadap
Pemerintah. pelanggaran menurut PP No. 72
tahun 19998 Pasal 2:
PP No 72 Tahun 1998 Barangsiapa dengan
tentang Pengamanan Sediaan sengaja memproduksi dan/atau
Farmasi Dan Alat Kesehatan mengedarkan sediaan farmasi
Pasal 2 berupa obat atau bahan obat
(1) Sediaan farmasi dan alat yang tidak memenuhi
kesehatan yang diproduksi dan/atau persyaratan sebagaimana
diedarkan harus memenuhi dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)
persyaratan mutu, keamanan, dan dan ayat (2) huruf a, dipidana
kemanfaatan dengan pidana penjara paling
Pasal 3 lama 15 (lima belas) tahun dan
Sediaan farmasi dan alat kesehatan pidana denda paling banyak
hanya dapat diproduksi oleh badan Rp.300.000.000,- (tiga ratus juta
usaha yang teleh memiliki izin usaha rupiah) sesuai dengan ketentuan
industri sesuai dengan ketentuan dalam dalam Pasal 80 ayat (4)
peraturan perundang-undangan yang Undang-Undang Nomor 23
berlaku. Tahun 1992 tentang kesehatan.
Pasal 9 Sanksi terhadap
(1) Sediaan farmasi dan alat pelanggaran menurut PMK No.
kesehatan hanya dapat diedarkan 1010/MENKES/PER/XI/2008
setelah memperolah izin edar dari Dengan tidak mengurangi
Menteri. ancaman pidana sebagaimana
diatur dalam Undang-undang
PMK No Nomor 23 Tahun 1992
1010/MENKES/PER/XI/2008 tentang Kesehatan, Kepala
tentang Registrasi Obat Badan dapat memberikan sanksi
Pasal 4 administratif berupa
Obat yang memiliki izin edar harus pembatalan izin edar apabila
memenuhi kriteria berikut: terjadi salah satu dari hal-hal
Mutu yang memenuhi syarat yang berikut:
dinilai dari proses produksi sesuai a. Tidak memenuhi kriteria
Cara Pembuatan Obat Yang Baik sebagaimana dimaksud
(CPOB), spesifikasi dan metoda dalam pasal 4 berdasarkan
pengujian terhadap semua bahan data terkini.
yang digunakan serta produk jadi b. Penandaan dan promosi
dengan bukti yang sahih. menyimpang dari
persetujuan izin edar
c. Tidak melaksanakan
kewajiban sebagaimana
PerKaBPOM No dimaksud dalam Pasal 21.
HK.03.1.23.10.11.08481 tahun 2011 d. Selama 12 (dua belas) bulan
tentang Kriteria dan Tata Laksana berturut-turut obat yang
Registrasi Obat bersangkutan tidak
Pasal 8 Ayat 1 diproduksi, diimpor atau
Registrasi Obat Produksi Dalam diedarkan.
Negeri dilakukan oleh Pendaftar yang e. lzin lndustri Farmasi, yang
harus memenuhi persyaratan sebagai mendaftarkan, memproduksi
berikut: atau mengedarkan dicabut.
a. Memiliki izin industri farmasi; f. Pemilik izin edar melakukan
dan pelanggaran di bidang
b. Memiliki sertifikat CPOB yang produksi dan/atau peredaran
masih berlaku sesuai dengan obat.
jenis dan bentuk sediaan yang Sanksi terhadap
diregistrasi pelanggaran menurut
PerKaBPOM RI No
HK.04.1.33.12.11.09937 Tahun
2011 Tentang Tata Cara
Sertifikasi Cara Pembuatan
Obat Yang Baik:
a. peringatan;
b. peringatan keras;
c. penghentian sementara
kegiatan;
d. pembekuan Sertifikat
CPOB/CPBBAOB;
e. Pencabutan Sertifikat
CPOB/CPBBAOB;
dan/atau
f. rekomendasi pencabutan
izin industri farmasi;

Sedangkan menurut
PerKaBPOM RI
HK.03.1.23.10.11.08481 Tahun
2011 tentang Kriteria dan Tata
Laksana Registrasi Obat:
a. Peringatan tertulis
b. Pembatalan proses
registrasi obat
c. Pembekuan izin edar
obat yang bersangkutan
d. Pembatalan izin edar
obat yang bersangkutan
Sanksi administratif lain sesuai
ketentuan peraturan perundang-
undangan
2) Apoteker Pimpinan Industri Kata Kunci: PP 51 Tahun 2009 Tentang Sanksi menurut PMK 1. Sarjana kimia dan atau
manufaktur obat Mempekerjakan sarjana Pekerjaan Kefarmasian RI No sarjana biologi di
memperkerjakan sarjana kimia dan atau sarjana Pasal 9 ayat 1 : Industri farmasi 1799/MENKES/PER/XII/2010 bagian pengawasan
kimia dan atau sarjana biologi di bagian harus memiliki 3 orang Apoteker tentang Industri Farmasi mutu tidak boleh
biologi di bagian pengawasan mutu sebagai penanggung jawab masing- a. Peringatan secara tertulis dijadikan penanggung
pengawasan mutu masing pada bidang pemastian mutu, b. Larangan mengedarkan jawab, namun dapat
produksi, dan pengawasan mutu untuk sementara waktu dipekerjakan pada
setiap produksi Sediaan Farmasi dan/atau perintah untuk posisi lain selain
penarikan kembali obat penanggung jawab.
Pelanggaran Pedoman Disiplin atau bahan obat dari 2. Apoteker Pimpinan
Butir ke-3: Mendelegasikan peredaran bagi obat atau Industri
pekerjaan kepada tenaga kesehatan bahan obat yang tidak memperkerjakan satu
tertentu dan/ atau tenaga-tenaga memenuhi standar dan orang apoteker yang
lainnya yang tidak memiliki persyaratan keamanan, ditunjuk sebagai
kompetensi untuk melaksanakan khasiat/kemanfaatan, peanggung jawab pada
pekerjaan tersebut atau mutu; bagian pengawasan
c. Perintah pemusnahan mutu
Butir ke-12: Dalam penatalaksanaan obat atau bahan obat,
praktik kefarmasian, melakukan yang jika terbukti tidak
seharusnya tidak dilakukan atau tidak memenuhi persyaratan
melakukan yang seharusnya keamanan,
dilakukan, sesuai dengan tanggung khasiat/kemanfaatan,
jawab profesionalnya, tanpa alasan atau mutu;
pembenar yang sah, sehingga dapat d. Penghentian sementara
membahayakan pasien kegiatan
e. Pembekuan izin industri
Identifikasi : Menurut PP 51/2009 farmasi;
tentang Pekerjaan Kefarmasian, f. Pencabutan izin industri
Penanggung jawab bidang farmasi.
pengawasan mutu setiap produksi
Sediaan Farmasi adalah apoteker,
sehingga jika Apoteker Pimpinan
Industri manufaktur obat
memperkerjakan sarjana kimia dan
atau sarjana biologi di bagian
pengawasan mutu untuk menjadi
Penanggung jawab adalah suatu
pelanggaran.
3) Apoteker di Industri Memiliki sertifikat CPOB UU 36 Tahun 2009 tentang Dapat dikenakan sanksi Pengurusan sertifikat dan
manufaktur obat yang telah untuk sediaan kapsul kesehatan administratif berupa: izin Cara Pembuatan
memiliki sertifikat CPOB antibiotik tetapi juga Pasal 105 ayat 1 1. Peringatan; Bahan Baku Aktif Obat
untuk sediaan kapsul membuat cangkang kapsul Sediaan farmasi yang berupa obat 2. Peringatan keras; yang baik (CPBBAOB)
antibiotik, juga membuat keras (bahan baku) dan bahan baku obat harus 3. Penghentian sesuai aturan dan
cangkang kapsul keras. memenuhi syarat sementara kegiatan; ketentuan yang berlaku.
farmakope Indonesia atau 4. Pembekuan Sertifikat Berdasarkan
buku standar lainnya. CPOB/CPBBAOB; NOMOR
5. Pencabutan Sertifikat HK.04.1.33.12.11.09937
PerKaBPOM No. CPOB/CPBBAOB; dan TAHUN 2011 tentang tata
HK.04.1.33.12.11.09937/2011 pasal 6. Rekomendasi cara sertifikasi cara
2 (2), 4 pencabutan izin industri farmasi. pembuatan obat yang baik
Selain ketentuan sebagaimana pasal 6
dimaksud pada ayat (1), Industri
Farmasi yang membuat Bahan Baku
Aktif Obat wajib memenuhi Berdasarkan kajian dan
persyaratan pada Pedoman inspeksi, Kepala Badan
CPBBAOB yang berlaku dapat menerbitkan
karena membuat cangkang Sertifikat CPBBAOB bagi
kapsul (bahan baku) tanpa memiliki industri yang membuat
sertifikat CPBBAOB bahan tidak berkhasiat
yang digunakan dalam
pengolahan obat dengan
standar mutu sesuai
dengan Farmakope

4) Apoteker di Industri Kata kunci: Peraturan Menteri Kesehatan


Dapat berupa sanksi Pengurusan sertifikat dan
manufaktur obat yang telah Industri memiliki sertifikat Republik Indonesia Nomor
administrative antara lain : izin Cara Pembuatan Obat
memiliki sertifikat CPOB CPOB untuk sediaan non 1175/Menkes/PER/VIII/2010 a. peringatan secara tertulis; yang Baik (CPKB) sesuai
untuk sediaan krim non antibiotik, tetapi membuat Tentang Izin Produksi Kosmetika.
b. larangan mengedarkan untuk aturan dan ketentuan yang
antbiotik, juga membuat pula sediaan kosmetik. Pasal : sementara waktu dan/atau berlaku sebelum industry
kosmetika krim pelembut o 4 : Industri kosmetika yang perintah untuk penarikan tersebut memulai produksi
Kemungkinan Terjadinya akan membuat kosmetika kembali produk dari krim pelembab. Atau
pelanggaran harus memiliki izin produksi
peredaran bagi kosmetika mendaftarkan CPOB
1. Belum tentu ada surat o 7 : Industri kosmetika dalam yang tidak memenuhi standar industry tersebut ke
keterangan penggunaan membuat kosmetika wajib dan persyaratan mutu, BPOM untuk
fasilitas bersama sesuai menerapkan CPKB keamanan, dan kemanfaatan; mendapatakan izin tentang
dengan jenis sediaan c. perintah pemusnahan produk, penggunaan Fasilitas
produk yang sama. / blm Namun pada tahun 2013 ada jika terbukti tidak memenuhi Bersama.
peraturan baru yang menerapkan
tentu telah disetujui fasilitas bersama untuk pembuatan persyaratan mutu, keamanan,
BPOM obat dan kosmetik dengan fasilitas dan kemanfaatan;
2. Mutu kosmetik atau obat produksi yang sama. Namun, pabrik d. penghentian sementara
bisa diragukan apabila atau industry farmasi harus kegiatan;
adanya ketercampuran mendaftarkannya ke BPOM dengan e. pembekuan izin produksi;
obat dan kosmetik terjadi persyaratan CPOB aktif untuk dapat atau
3. Prosedur pembersihan SK perizinan Fasber barulah tidak f. pencabutan izin produksi.
yang bisa saja masih perlu lagi mengharuskan CPKB
menyisakan residu baik untuk produksi Kosmetik.
residu krim obat dan krim
pelembut Karena menurut UU 39/2013
4. Pembuatan jadwal tentang standar pelayanan publik di
produksi yang antara obat lingkungan badan pengawas obat dan
dengan kosmetik yang makanan, notifikasi kosmetik
tidak jelas dapat memerlukan CPKB dan atau CPOB
mengontaminasi sediaan dengan Keterangan Fasilitas Bersama
5) Industri manufaktur obat 1. Izin edar Pelanggaran hukum: 1. PMK NO. 1010 Tahun 2008 - Mendaftarkan nomor
yang telah memiliki nomor izin 1. PKaBPOM No. : Registrasi Obat izin edar sirup kering
edar untuk amoksisilin kaplet, HK.03.1.23.10.11.08481 Tahun Dengan tidak mengurangi amoksisilin.
membuat sirup kering 2011 Tentang Kriteria dan Tata ancaman pidana - Mengikuti peraturan
amoksisilin Laksana Registrasi Obat sebagaimana diatur dalam perundang-undangan
Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 di bidang registrasi
“Obat yang akan diedarkan di Tahun 1992 tentang obat.
wilayah Indonesia wajib memiliki Kesehatan, Kepala Badan
izin edar.” dapat memberikan sanksi
Penjelasan administratif berupa
Hal ini dapat menjadi faktor pembatalan izin edar apabila
terjadinya pelanggaran hukum terjadi salah satu dari hal-hal
apabila industri tersebut berikut:
mengedarkan produk sirup kering (a) Tidak memenuhi kriteria
amoksisilin tanpa mengajukan izin sebagaimana dimaksud
edar terlebih dahulu. dalam pasal 4 berdasarkan
data terkini.
Pelanggaran Disiplin Pasal 4 (b) : Mutu yang
1. Pedoman Disiplin Apoteker memenuhi syarat yang
a. butir 6 dinilai dan proses
“Tidak membuat dan/atau tidak produksi sesuai Cara
melaksanakan Standar Prosedur Pembuatan Obat Yang
Operasional sebagai Pedoman Baik (CPOB),
Kerja bagi seluruh personil di spesifikasi dan metode
sarana pekerjaan/pelayanan pengujian terhadap
kefarmasian, sesuai dengan semua bahan yang
kewenangannya.” digunakan serta produk
Penjelasan jadi dengan bukti yang
Apoteker sebagai penanggung sahih.
jawab produksi di industri (b) Penandaan dan promosi
manufaktur melakukan kesalahan menyimpang dari
pada Standar Prosedur persetujuan izin edar
Operasional apabila (c) Pemilik izin edar
memproduksi sirup kering dalam melakukan pelanggaran di
jumlah besar dengan tujuan untuk bidang produksi dan/atau
diedarkan. peredaran obat.

Namun apabila apoteker


membuat sirup kering amoksisilin
hanya untuk pengkajian dan
pengembangan produk sediaan
amoksisilin, apoteker tidak
menyalahi Standar Prosedur
Operasional
b. butir 7
“Memberikan sediaan farmasi
yang tidak terjamin ‘mutu’, dan
‘khasiat’/‘manfaat’ kepada
pasien”

Penjelasan
Apabila pembuatan sirup kering
amoksisilin bertujuan untuk
diedarkan dan belum
mendapatkan izin edar,
kemungkinan produk belum
memenuhi mutu, khasiat,
manfaat, dan keamanan yang
sesuai dengan aturan yang
ditetapkan. Sehingga, dapat
menyalahi UU perlindungan
konsumen.

Pelanggaran kode etik:


1. KEIA
a. Pasal 5
“Di dalam menjalankan tugasnya
Seorang Apoteker harus
menjauhkan diri dari usaha
mencari keuntungan diri semata
yang bertentangan dengan
martabat dan tradisi luhur jabatan
kefarmasian.”
Penjelasan
Apabila apoteker mengedarkan
sirup kering amoksisilin tanpa
dilakukan pendaftaran izin edar,
dapat mengurangi biaya untuk
melakukan registrasi, sehingga
menguntungkan pihak industry
farmasi namun hal ini menyalahi
aturan perundang-undangan
terutama perlindungan konsumen
b. Pasal 9
“Seorang Apoteker dalam
melakukan praktik kefarmasian
harus mengutamakan
kepentingan masyarakat.
Menghormati hak azasi pasien
dan melindungi makhluk hidup
insani.”
Penjelasan
Apabila produk sirup kering
amoksisilin diedarkan tanpa
melakukan registrasi atau
pendafatara untuk mendapatkan
izin edar, makan mutu,
keamanan, dan khasiat/mandaat
produk belum terjamin dan dapat
membahayakan pasien.
6) Pabrik kosmetika yang 1. Mengedarkan Pelanggaran hukum: Pelanggaran hukum: - Mengganti bahan
memiliki sertifikat CPKB 2. Hidrokuinon 1. UU No. 8 tahun 1999 tentang 1. UU No.8 tahun 1999 pemutih dengan bahan
memproduksi dan perlindungan konsumen Pelaku usaha yang melakukan selain hidrokinon yang
mengedarkan krim pemutih Pasal 7, point d pelanggaran dilarang diizinkan (contoh :
mengandung hidrokuinon “menjamin mutu barang dan/atau memperdagangkan barang AHA, vitamin C &
jasa yang diproduksi dan/ atau dan/atau jasa tersebut serta derivatnya).
diperdagangkan berdasarkan wajib menariknya dari - Mengikuti peraturan
ketentuan standar mutu barang peredaran perundang-undangan
dan/atau jasa yang berlaku” di bidang kosmetik.
Pasal 8, point a 2. PerKBPOM tahun 2003
tentang Kosmetik
“pelaku usaha dilarang a. Peringatan tertulis,
memproduksi dana tau b. penarikan kosmetik dari
memperdagangkan barang peredaran termasuk penarikan
dan/atau jasa: iklan,
a. Tidak memenuhi atau tidak c. pemusnahan kosmetik,
sesuai dengan standard yang d. penghentian sementara
dipersyaratan dan peraturan kegiatan produksi, impor,
perundang-undangan. distribusi, penyimpanan,
2. PerKBPOM tahun 2008 tentang pengangkutan, dan
bahan kosmetik disebutkan bahwa penyerahan kosmetik
hidrokinon hanya diperbolehkan e. pencabutan seritifikat
untuk sediaan pewarnaan rambut dan/atau izin edar
dan artifisial kuku
Pelanggaran disiplin:
Pelanggaran disiplin: Pemberian peringatan tertulis,
point 8 rekomendasi
“Melakukan pengadaan (termasuk pembekuan/pencabutan
produksi dan distribusi) obat dan / STRA/SIPA, kewajiban
atau bahan baku obat , tanpa prosedur mengikuti pendidikan atau
yang berlaku, sehingga berpotensi pelatihan di institusi apoteker
menimbulkan tidak terjaminnya
mutu, khasiat obat.” Pelanggaran kode etik:
Sanksi dapat berupa pembinaan,
Pelanggaran kode etik: peringatan, pencabutan
Pasal 5 keanggotaan sementara, dan
“Di dalam menjalankan tugasnya pencabutan keanggotaan tetap
seorang Apoteker harus menjauhkan
diri dari usaha mencari keuntungan
diri semata yang bertentangan dengan
martabat dan tradisi luhur jabatan
kefarmasian.”
7) Apoteker yang telah Kata kunci:  PP 51/2009  PMK 889/2011 tentang Apoteker memilih
memiliki STRA dan SIP utk RS Memiliki STRA dan SIP utk Pasal 39 Registrasi, Izin Praktek, dan salah satu tempat kerja
bekerja di Industri manufaktur RS, bekerja di industri 1. Setiap Tenaga Kefarmasian yang Izin Kerja Tenaga yang sesuai dengan SIP
obat melakukan Pekerjaan Kefarmasian yang bersangkutan.
Peluang pelanggaran: Kefarmasian di Indonesia wajib Pasal 23 

SIP untuk RS digunakan memiliki surat tanda registrasi. 
 Mengikuti
(1) Kepala Dinas perkembangan peraturan
untuk bekerja di industri
2. Surat tanda registrasi sebagaimana Kesehatan Kabupaten/Kota perundang-undangan
dimaksud pada ayat (1) dapat mencabut SIPA, SIKA tentang kefarmasian.
diperuntukkan bagi: atau SIKTTK karena:
o Apoteker berupa STRA; 
 o Atas permintaan yang
bersangkutan; 

 PMK 31/2016 tentang Perubahan o STRA atau STRTTK
Atas PMK 889/2011 tidak berlaku lagi; 

Pasal 1
o yang bersangkutan tidak
1. Nomenklatur yang berbunyi Surat
bekerja pada tempat yang
Izin Kerja harus dibaca dan dimaknai
sebagai Surat Izin Praktik. tercantum dalam surat 

 PMK 889/2011 tentang izin; 

Registrasi, Izin Praktek, dan Izin o yang bersangkutan tidak
Kerja Tenaga Kefarmasian lagi memenuhi
Pasal 1 persyaratan fisik dan
Surat Izin Kerja Apoteker, yang
selanjutnya disebut SIKA adalah mental untuk 

surat izin praktik yang diberikan menjalankan pekerjaan
kepada Apoteker untuk dapat kefarmasian berdasarkan
melaksanakan pekerjaan kefarmasian pembinaan dan 

pada fasilitas produksi atau fasilitas pengawasan dan
distribusi atau penyaluran. 
 ditetapkan dengan surat
keterangan dokter; 

Pasal 17 o melakukan pelanggaran
(1) Setiap tenaga kefarmasian yang disiplin tenaga
akan menjalankan pekerjaan kefarmasian berdasarkan
kefarmasian wajib memiliki surat izin 
 rekomendasi KFN;
sesuai tempat tenaga kefarmasian
atau 

bekerja. 

o melakukan pelanggaran
(2) Surat izin sebagaimana dimaksud
hukum di bidang
pada ayat (1) berupa:
kefarmasian yang
 SIPA bagi Apoteker
penanggung jawab di fasilitas dibuktikan 
 dengan
pelayanan kefarmasian; 
 putusan pengadilan. 

 SIPA bagi Apoteker
pendamping di fasilitas
pelayanan kefarmasian; 
  SANKSI DISIPLIN
Sanksi disiplin yang
 SIKA bagi Apoteker yang dapat dikenakan oleh MEDAI
melakukan pekerjaan berdasarkan Peraturan per-
kefarmasian di fasilitas 
 Undang-Undang an yang
produksi atau fasilitas berlaku adalah:
1. Pemberian peringatan
distribusi/penyaluran; atau 

tertulis;
 SIKTTK bagi Tenaga Teknis 2. Rekomendasi
Kefarmasian yang melakukan pembekuan dan/atau
pekerjaan 
 kefarmasian pencabutan Surat Tanda
pada fasilitas kefarmasian. Registrasi Apoteker,
atau Surat Izin Praktik

Apoteker, atau Surat Izin
Pasal 18 
 Kerja Apoteker;
(1) SIPA bagi Apoteker dan/atau
penanggung jawab di 3. Kewajiban mengikuti
fasilitas pelayanan pendidikan atau
kefarmasian atau SIKA
hanya diberikan untuk 1 pelatihan di institusi
(satu) tempat fasilitas pendidikan apoteker.
kefarmasian. 


Pasal 20
SIPA, SIKA, atau SIKTTK masih
tetap berlaku sepanjang:
STRA atau STRTTK masih berlaku
;dan 

Tempat praktik/bekerja masih sesuai
dengan yang tercantum dalam SIPA,
SIKA, 
 atau SIKTTK.

 Pedoman Disiplin IAI


Butir 19: Berpraktik dengan
menggunakan Surat Tanda Registrasi
Apoteker (STRA) atau Surat Izin
Praktik Apoteker/Surat Izin kerja
Apoteker (SIPA/SIKA) dan/atau
sertifikat kompetensi yang tidak sah.

 Kode Etik
Pasal 1
Sumpah/janji Apoteker, setiap
Apoteker harus menjujung tinggi,
meng-hayati dan mengamalkan
sumpah Apoteker
Pedoman Pelaksanaan:
Sumpah/janji Apoteker yang
diucapkan seorang Apoteker untuk
dapat diamalkan dalam
pengabdiannya, harus dihayati
dengan baik dan dijadikan landasan
moral dalam setiap tindakan dan
prilaku
Dalam sumpah Apoteker ada
beberapa hal yang harus
diperhatikan, yaitu:
1. Melaksanakan asuhan
kefarmasian
2. Merahasiakan kondisi pasien,
resep dan “medication record”
untuk pasien
3. Melaksanakan praktik profesi
sesuai landasan praktik profesi
yaitu ilmu, hukum dan etik
Identifikasi:

 apoteker memiliki STRA →


bukan pelanggaran
 pada peraturan telah jelas
disebutkan bahwa SIP bagi
Apoteker hanya diberikan untuk 1
buah tempat fasilitas kefarmasian
→ Apoteker pada kasus
menggunakan SIP RS untuk
bekerja di industri → pelanggaran
 apoteker melanggar Kode Etik
dan Pedoman Disiplin IAI karena
tidak melaksanakan praktik
profesi sesuai landasan hukum
8) Apoteker yang  surat ijin praktik di A. Hukum Pemberian peringatan Apoteker memilih
memiliki surat ijin praktik di Klinik Permenkes No. 31 Th 2016 tertulis; salah satu tempat kerja
Klinik menjadi penanggung  penanggung jawab PBF Pasal 17 Rekomendasi yang sesuai dengan SIP
jawab PBF bahan baku bahan baku (1) Setiap tenaga kefarmasian pembekuan dan/atau pencabutan yang bersangkutan.
yang akan menjalankan pekerjaan Surat Tanda Registrasi
kefarmasian wajib memiliki surat izin Apoteker, atau Surat Izin Praktik Mengikuti
sesuai tempat tenaga kefarmasian Apoteker (sementara atau perkembangan peraturan
bekerja. selamanya) perundang-undangan
(2) Surat izin sebagaimana dimaksud tentang kefarmasian.
pada ayat (1) berupa 1. Dilakukan pembinaan khusus
a. SIPA bagi Apoteker, atau 2. Pencabutan SIPA
b. SIPTTK bagi Tenaga Teknis
Kefarmasian

Permenkes No. 1148 Th. 2011


Pasal 7 – persyaratan administratif
pemohon izin PBF
a. fotokopi KTP direktur/ketua;
b. susunan direksi/pengurus;
c. pernyataan komisaris/dewan
pengawas dan direksi/pengurus
tidak pernah terlibat pelanggaran
peraturan perundang-undangan di
bidang farmasi;
d. akta pendirian badan hukum yang
sah sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan;
e. surat Tanda Daftar Perusahaan;
f. fotokopi Surat Izin Usaha
Perdagangan;
g. fotokopi Nomor Pokok Wajib
Pajak;
h. surat bukti penguasaan bangunan
dan gudang;
i. peta lokasi dan denah bangunan
j. surat pernyataan kesediaan bekerja
penuh apoteker penanggung jawab;
dan
k. fotokopi Surat Tanda Registrasi
Apoteker penanggung jawab

B. Pedoman Disiplin Apoteker


Butir 12 :
Dalam penatalaksanaan
praktik kefarmasian, melakukan yang
seharusnya tidak dilakukan atau tidak
melakukan yang seharusnya
dilakukan, sesuai dengan tanggung
jawab profesionalnya, tanpa alasan
pembenar yang sah, sehingga dapat
membahayakan pasien

Butir 17:
Menyalahgunakan kompetensi
Apotekernya.

C. Kode Etik
Pasal 3:
Seorang apoteker harus senantiasa
menjalankan profesinya sesuai
kompetensi serta selalu
mengutamakan dan berpegang teguh
pada prinsip kemanusiaan dalam
menjalankan kewajibannya.

9) Apoteker / Kepala Instalasi Kata Kunci: PMK No.58 Tahun 2014 Standar Diberikan teguran dan surat Dilakukan pengawasan
Farmasi Rumah Sakit - Memproduksi sediaan Pelayanan Kefarmasian di Rumah peringatan. terhadap proses produksi
memproduksi sediaan farmasi farmasi Sakit. di Instalasi Farmasi
yang akan dipakai dalam - Untuk pelayanan di Rumah Sakit
pelayanan di rumah sakit dan rumah sakit. BAB 2 poin (3b) tentang produksi
untuk penelitian khasiat obat - Untuk penelitian khasiat sediaan farmasi Diberlakukan aturan
dirumah sakit obat secara ketat dan sanksi
Instalasi farmasi rumah sakit dapat yang tegas bagi yang
Peluang Terjadinya memproduksi sediaan tertentu melanggar.
apabila
Apoteker/Kepala Instalasi 1) Sediaan farmasi tidak ada di
Farmasi Rumah Sakit pasaran
memproduksi sediaan 2) Sediaan farmasi lebih murah jika
farmasi yang tidak diproduksi sendiri
digunakan untuk pelayanan 3) Sediaan farmasi dengan formula
di rumah sakit dan tidak khusus
untuk penelitian khasiat obat 4) Sediaan farmasi dengan kemasan
dirumah sakit yang lebih kecil atau re-packing
5) Sediaan farmasi untuk penelitian
dan
6) Sediaan farmasi yang tidak stabil
dalam penyimpanan/harus dibuat
baru
Sediaan yang dibuat di RS harus
memenuhi persyaratan mutu dan
terbatas hanya untuk memenuhi
kebutuhan pelayanan di RS
tersebut

Apoteker juga dapat berperan


dalam uji klinik obat yang
dilakukan RS dengan mengelola
obat-obat yang diteliti sampai
dipergunakan oleh subjek
penelitian dan mencatat ROTD
yang terjadi selama penelitian.
10) Apoteker di Industri Kata Kunci: 1. Menurut PKaBPOM RI Nomor: 1. Permenkes RI 1175 tahun  Menerapkan undang-
Kosmetika Golongan A Industri kosmetik, produksi, HK.00.05.42.1018 Tentang 2010 tentang Izin Produksi undang yang berlaku
memproduksi krim pemutih krim pemutih, hidrokuinon Bahan Kosmetik tahun 2008 Kosmetik  Selalu mengingat akan
mengandung hidrokuinon hidrokinon diperbolehkan untuk  Pasal 16: Industri ada sanksi disiplin
Peluang terjadinya sediaan pewarna rambut dengan kosmetika tidak boleh yang akan diterapkan
pelanggaran: konsentrasi maksimal 0,3% membuat kosmetika bila melanggar
 Melanggar ketentuan yang 2. Menurut PKaBPOM RI Nomor: dengan menggunakan  Dilakukan pengawasan
ditetapkan Kepala BPOM HK.03.1.23.08.11.07517 tahun bahan kosmetika yang yang ketat di dalam
 Termasuk dalam 2011 hidrokinon diperbolehkan dilarang pabrik itu sendiri
pelanggaran disiplin untuk kuku artifisial dengan  Pasal 23 ayat 1:
apoteker konsentrasi maksimal 0,02% Pelanggaran terhadap
peraturan dikenakan sanksi
Untuk penggunaan sebagai pemutih administratif berupa:
dalam krim pemutih menyalahi a. peringatan secara tertulis;
aturan yang telah dibuat oleh Badan b. larangan mengedarkan
POM RI. untuk sementara waktu
dan/atau perintah untuk
3. Pelanggaran Disiplin Apoteker penarikan kembali produk
Butir 1 dari peredaran bagi
Melakukan praktik kefarmasian kosmetika yang tidak
dengan tidak kompeten. memenuhi standar dan
persyaratan mutu,
Melakukan Praktek kefarmasian keamanan, dan
tidak dengan standar praktek kemanfaatan;
Profesi/standar kompetensi yang c. perintah pemusnahan
benar, sehingga berpotensi produk, jika terbukti tidak
menimbulkan/mengakibatkan memenuhi persyaratan
kerusakan, kerugian pasien atau mutu, keamanan, dan
masyarakat kemanfaatan;
d. penghentian sementara
Butir 12 kegiatan;
Dalam penatalaksanaan praktik e. pembekuan izin produksi;
kefarmasian, melakukan yang atau
seharusnya tidak dilakukan atau f. pencabutan izin produksi.
tidak melakukan yang seharusnya
dilakukan, sesuai dengan 2. PKaBPOM RI Nomor 18
tanggung jawab profesionalnya, Tahun 2015 tentang
tanpa alasan pembenar yang sah, Persyaratan Teknis Bahan
sehingga dapat Kosmetika, BAB III Pasal 7
membahayakan pasien. yaitu:
Pelanggaran terhadap
ketentuan dalam Peraturan
ini dapat dikenakan sanksi
administratif berupa:
a. peringatan tertulis;
b. larangan mengedarkan
Kosmetika untuk
sementara;
c. penarikan Kosmetika
yang tidak memenuhi
persyaratan keamanan,
kemanfaatan, mutu dan
penandaan dari peredaran;
d. pemusnahan Kosmetika;
e. pembatalan notifikasi;
dan/atau
f. penghentian sementara
kegiatan produksi
dan/atau peredaran
Kosmetika.
3. Sanksi Disiplin
a. Pemberian Peringatan
Tertulis
b. Kewajiban mengikuti
pendidikan atau pelatihan
di institusi pendidikan
apoteker.
 Pendidikan formal
 Pelatihan pengetahuan
dan atau keterampilan
 Magang di institusi
pendidikan atau sarana
pelayanan kesehatan yang
ditunjuk, sekurang-
kurangnya 3 (tiga) bulan
dan paling lama1 (satu)
tahun.
c. Rekomendasi Pembekuan
atau pencabutan STRA atau
SIPA atau SIKA
 Pencabutan sementara
paling lama 1 tahun
 Pencabutan tetap/
selamanya
Judul dan Pasal UU/Butir
Kata Kunci dan
Pedoman Disiplin/Kode Etik
Kasus Peluang Sanksi Upaya Pencegahan
yang dilanggar +
Pelanggaran
IDENTIFIKASI
11) Apoteker yang Kata Kunci: PMK No. 06 Tahun 2012 Tentang 1. PMK06 /12 Pasal 45 Pencegahan yang dapat dilakukan
bekerja di UKOT
UKOT, effervescent Industri dan Usaha Obat (1) Pelanggaran terhadap pada kasus ini adalah:
memproduksi jamu
pegal linu dalam Tradisional ketentuan dalam Peraturan Menteri Apoteker sebelumnya
bentuk sediaan
Pasal 1 Ayat 5: ini dapat mempelajari mengenai peraturan-
effervescen
Pelanggaran yang Usaha Kecil Obat Tradisional yang dikenakan sanksi administrasi peraturan tentang Industri dan
mungkin terjadi: selanjutnya disebut UKOT adalah berupa: Usaha Obat Tradisional agar dapat
Pemberian usaha yang membuat semua a. peringatan; membedakan hak dan kewajiban
penambahan bahan bentuk sediaan obat tradisional, b. peringatan keras; ketika bekerja di UKOT yang jelas
kimia dlm kecuali bentuk sediaan tablet dan c. perintah penarikan produk dari berbeda dengan IOT.
pembuatan efervesen. peredaran;
effervescent d. penghentian sementara
sehingga obat bukan Pedoman Disiplin Apoteker kegiatan; atau
termasuk obat Butir ke-8: e. pencabutan izin industri atau
tradisional lagi Melakukan pengadaan (termasuk izin usaha.
produksi dan distribusi) obat
dan/atau bahan baku obat, tanpa 2. Surat peringatan tertulis dari
prosedur yang berlaku, sehingga MEDAI
berpotensi menimbulkan tidak
terjaminnya mutu, khasiat obat.

Identifikasi:
UKOT dapat membuat semua
bentuk sediaan obat tradisional,
kecuali bentuk sediaan tablet dan
efervesen, sedangkan IOT dapat
membuat semua bentuk sediaan obat
tradisional. Sehingga jika Apoteker
yang bekerja di UKOT
memproduksi jamu dalam bentuk
sediaan efervesen, maka hal tersebut
adalah suatu pelanggaran karena
UKOT melakukan kegiatan
sebagaimana IOT tanpa
mengajukan izin IOT. Izin IOT
yang tidak dipenuhi oleh UKOT
adalah memiliki Apoteker sebagai
penanggung jawab yang bekerja
penuh dan memenuhi persyaratan
CPOTB.

12) Apoteker penanggung Kata Kunci: - PMK RI No. Sanksi melanggar - Pengecekan kosmetika secara
1175/MENKES/PER/VIII/2010 teliti ketika sedang dilakukan
jawab industri kosmetik APA, Kosmetik, Krim, HK.03.1.23.12.11.10689 Tahun
tentang Izin Produksi Kosmetika surveillanc
golongan B membuat dan Industri golongan B, Izin produksi sebagaimana 2011 tentang jenis dan bentuk
mengedarkan krim tabir dibedakan atas 2 (dua) golongan sediaan industri golongan B pasal
surya dan pencerah kulit Pelanggaran yang sebagai berikut: 4:
mungkin terjadi : a. golongan A yaitu izin produksi Pasal 5
melanggar ketiga untuk industri kosmetika yang Dikenakan sanksi administratif
Aspek yang menjadi dapat membuat semua bentuk sebagaimana dimaksud dalam
pedoman seorang dan jenis sediaan kosmetika; Peraturan Menteri Kesehatan no.
apoteker yaitu kode b. golongan B yaitu izin produksi 1175/Menkes/Per/VIII/2010 tahun
Etik, pedoman disiplin untuk industri kosmetika yang 2010 tentang izin produksi
dan aturan hukum dapat membuat bentuk dan kosmetika
jenis sediaan kosmetika a. Peringatan secara tertulis
tertentu dengan b. Larangan mengedarkan untuk
sementara waktu dan/atau
menggunakan teknologi perintah untuk penarikan
sederhana. kembali produk dari peredaran
bagi kosmetika yang tidak
- PerKa BPOM RI No memenuhi standard an
HK.03.1.23.12.11.10689 Tahun persyaratan mutu, keamanan,
2011 dan kemanfaatan
Industri Kosmetika yang memiliki c. Perintah pemusnahan produk,
Izin Produksi Kosmetika jika terbukti tidak memenuhi
golongan B sebagaimana persyaratan mutu, keamanan,
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) dan kemanfaatan
dilarang memproduksi d. Penghentian sementara kegiatan
kosmetika: e. Pembekuan izin produksi, atau
a. jenis sediaan untuk bayi; f. Pencabutan izin produksi
b. mengandung bahan
antiseptik, anti ketombe, pencerah
kulit, dan tabir surya.

- Kode etik
Di dalam menjalankan tugasnya
setiap Apoteker harus menjauhkan
diri dari usaha mencari
keuntungan diri semata yang
bertentangan denganmartabat dan
tradisi luhur jabatan kefarmasian.

- Pedoman disiplin
Dalam penatalaksanaan praktik
kefarmasian, melakukan yang
seharusnya tidak dilakukan atau
tidak melakukan yang seharusnya
dilakukan, sesuai dengan
tanggung jawab profesionalnya,
tanpa alasan pembenar yang sah,
sehingga dapat membahayakan
pasien.

13) Apoteker di IOT Kata Kunci :


memproduksi jamu
IOT (Industri Obat
dengan bahan
kurkumin murni Tradisional) dan
Kurkumin murni

Tidak Terjadi
Pelanggaran
14) Apoteker Pegawai Kata kunci : 1. Pemberian peringatan tertulis; 1. Perketat peraturan yang
1. PP 47 tahun 2005 pasal 2
Negeri Sipil di BPOM 2. Rekomendasi pembekuan
juga berperan sebagai  Apoteker Pegawai Negeri Sipil
dan/atau pencabutan Surat Izin
mengatur persyaratan untuk
apoteker pengelola di  PNS dilarang menduduki jabatan Praktik Apoteker, dan atau, menjadi APA
apotek swasta  BPOM Rekomendasi pencabutan Surat
 Apoteker Pengelola rangkap 2. IAI diharapkan melakukan
Tanda Registrasi atau Surat
Apotek Swasta 2. PP 53 tahun 2010 pasal 4 Izin Praktik yang dimaksud pemeriksaan secara berkala
(1) Tanpa izin Pemerintah dapat berupa:
terhadap anggotanya. Jika ada
Pelanggaran yang a. Rekomendasi pencabutan
menjadi pegawai atau
Surat Tanda Registrasi atau anggotanya yang memiliki
mungkin terjadi : bekerja untuk negara lain Surat Izin Praktik sementara
pekerjaan rangkap dapat
Kemungkinan pada selama-lamanya 1 (satu)
dan/atau lembaga atau
tahun, atau dilakukan
apotek swasta, organisasi internasional b. Rekomendasi pencabutan
penundaan/pencabutan
Apoteker tersebut Surat Tanda Registrasi atau
(2) Melakukan kegiatan
Surat Izin Praktik tetap atau rekomendasi untuk
jarang visite bersama dengan atasan, selamanya;
mendapatkan/memperpanjang
teman sejawat, bawahan,
SIPA
atau orang lain di dalam
3. Perketat pengawasan
maupun di luar lingkungan
terhadap kerja PNS oleh
kerjanya dengan tujuan
pihak pemerintah.
untuk keuntungan
4. Peningkatan imbal jasa
pribadi, golongan, atau
pekerjaan apoteker sehingga
pihak lain, yang secara
tidak ada apoteker yang
langsung atau tidak
memiliki kerja sampingan
langsung merugikan untuk mendapatkan
negara penghasilan tambahan

3. Pedoman Disiplin Apoteker


(1) Melakukan praktek
kefarmasian dengan tidak
kompeten

Melakukan praktek
kefarmasian tidak dengan
standar praktek profesi/ standar
kompetensi yang benar,
apoteker tidak menjalankan
tugasnya sesuai dengan
kewajibannya

15) Apoteker pegawai Kata kunci : 1. Butir Pedoman Disiplin 1. Pemberian peringatan tertulis; Pemerintah rutin
negeri sipil sebagai Apoteker Indonesia 2. Rekomendasi pembekuan
Penanggung jawab  Apoteker dan/atau pencabutan Surat
melakukan penyidikan mendadak
terkait Kefarmasian di  PNS Identifikasi:
Izin Praktik Apoteker, dan terkait kelengkapan surat izin dari
Dinas Kesehatan  Dinkes atauRekomendasi pencabutan
Butir 2. apoteker ke setiap apotek, serta
Kab/Kota juga Surat Tanda Registrasi atau
berperan sebagai  Apoteker Pengelola “Membiarkan Surat Izin Praktik yang memastikan tidak terjadi
berlangsungnya
Apoteker Pengelola Apotek Swasta dimaksud dapat berupa:
praktek kefarmasian yang menjadi Rekomendasi pencabutan Surat perangkapan jabatan oleh
Apotek Swasta.
Pelanggaran yang tanggung jawabnya, tanpa Tanda Registrasi atau Surat Izin apoteker.
mungkin terjadi : kehadirannya, ataupun tanpa Praktik sementara selama-lamanya
Kemungkinan pada Apoteker penggantidan/ atau 1 (satu) tahun, atau Rekomendasi
apotek swasta, Apoteker pendamping yang sah” pencabutan Surat Tanda Registrasi
Apoteker tersebut Ketika seorang apoteker telah atau Surat Izin Praktik tetap atau
jarang visite. menjadi pegawai negeri sipil maka selam
kesempatan apoteker untuk
mempunyai waktu luang dalam
mengelola apotek akan minimal. Hal
ini dapat membuat kehadirannya
pada apotek swasta tersebu akan
sangat jarang.

2. Kode Etik Apoteker


Indonesia
Identifikasi:
Pasal 3
“Setiap Apoteker harus senantiasa
menjalankan profesinya sesuai
kompetensi Apoteker Indonesia
serta selalu mengutamakan dan
berpegang teguh pada prinsip
kemanusiaan dalam melaksanakan
kewajibannya”
Sebagai Apoteker sebaiknya tidak
hanya berfokus kepada kepentingan
pribadi namun harus mementingkan
kepentingan pasien untuk menjaga
keselamatan hidup pasien dan kita
harus selalu menjalankan profesi
sesuai standar kompetensi apoteker
yang telah ditetapkan.
16) Apoteker mengganti Kata kunci : 1. Hukum Jika apoteker mengganti obat Sebelum mengganti obat merk
obat paten/nama
Apoteker, penggantian Identifikasi: merk dagang dengan obat dagang dengan obat generik
dagang yang tertulis
dalam resep dokter obat paten ke generik - UU/08/1999/Perlindungan generik yang sama komponen dengan komponen zat aktif yang
dan menyerahkan
Konsumen/Pasal 4 aktifnya tanpa persetujuan sama, sebaiknya apoteker
obat generik dengan
kandungan yang sama b. hak untuk memilih barang dokter atau pasien, apoteker berkonsultasi dengan dokter atau
pada pasien
Peluang terjadi dan/atau jasa serta mendapatkan dapat diberikan sanksi memberikan informasi kepada
pelanggaran : barang dan/atau jasa tersebut peringatan tertulis. pasien dan memberikan
sesuai dengan nilai tukar dan kewenangan pasien untuk memilih
obat yang akan dikonsumsi.
Bila pemberian obat kondisi serta jaminan yang
tidak dengan dijanjikan
persetujuan pasien c.hak atas informasi yang benar,
jelas, dan jujur mengenai kondisi
dan jaminan barang dan/atau
jasa;

-
UU/36/2009/Kesehatan/Pas
al 98
(1) Sediaan farmasi dan alat
kesehatan harus aman,
berkhasiat/bermanfaat, bermutu,
dan terjangkau.

- PP/51/2009/Pekerjaan
Kefarmasian/Pasal 24 Dalam
melakukan Pekerjaan
Kefarmasian pada Fasilitas
Pelayanan Kefarmasian,
Apoteker dapat: b. mengganti
obat merek dagang dengan obat
generik yang sama komponen
aktifnya atau obat merek dagang
lain atas persetujuan dokter
dan/atau pasien;

- PMK/68/2010/Kewajiban
Menggunakan Obat Generik Di
Fasilitas Pelayanan
Kesehatan/Pasal 7
Apoteker dapat mengganti obat
merek dagang/obat paten dengan
obat generik yang sama
komponen aktifnya atau obat
merek dagang lain atas
persetujuan dokter dan/atau
pasien
2. Kode Etik Apoteker
Indonesia
- Kode Etik Apoteker/ Pasal 9
Seorang apoteker dalam
melakukan praktik kefarmasian
harus mengutamakan
kepentingan masyarakat,
menghormati hak asasi pasien
dan melindungi makhluk hidup
insani
Kode Etik Apoteker
/Implementasi/ Pasal 9
Dalam hal seorang apoteker akan
mengambil kebijakan yang
berbeda dengan permintaan
seorang dokter, maka apoteker
harus melakukan kounikasi
dengan dokter tersebut, kecuali
peraturan perundangan
membolehkan apoteker
mengambil keputusan demi
kepentingan pasien
Namun, berdasarkan peraturan
perundangan, disiplin, ataupun
kode etik, apoteker harus
melakukan komunikasi untuk
meminta persetujuan dokter
dan/atau pasien

17) Petugas apotek bukan Kata kunci : 1. Pelanggaran Disiplin 1.Pemberian Peringatantertulis Pencegahan yang dapat dilakukan
apoteker mengganti Poin 3. Mendelegasikan pekerjaan
 Apotek oleh MEDAI pada kasus ini adalah
allopurinol 100 mg
yang tertulis dalam  Dosis kepada tenaga kesehatan tertentu
- Apoteker harus selalu ada
resep dokter dengan  Allopurinol dan/ atau tenaga-tenaga lainnya di apotek untuk dapat
Zyloric 300 mg dan mengawasi semua aktivitas
yang tidak memiliki kompetensi
menyerahkan kepada 2.UU36/14 Pasal 83 di apotek
pasien untuk melaksanakan - Dibuat SOP yang jelas dan
Pelanggaran yang Setiap orang yang bukan Tenaga
tegas mengenai jobdesk
pekerjaantersebut.
mungkin terjadi : Kesehatan melakukan dari masing-masing tenaga
kefarmasian yang ada di
- Petugas apotek praktik seolah-olah sebagai Tenaga
apotek
yang bukan 2. Pelanggaran Hukum Kesehatan yang telah
apoteker mengganti UU no. 36 tahun 2014 tentang
Obat generik Tenaga Kesehatan memiliki izin sebagaimana
diganti dengan dimaksud dalam Pasal 64
merek dagang Apabila petugas apotek yang
- Dosis obat generik dimaksud bukan merupakan tenaga
yang diganti tidak
sama dengan dosis kesehatan seperti yang tertera dalam dipidana dengan pidana penjara
obat generiknya
UU no. 36 tahun 2014 tentang paling lama 5 (lima) tahun.
Tenaga Kesehatan, maka ia
dianggap melanggar hukum.
Berdasarkan pasal 64 UU no 36
tahun 2014, “Setiap orang yang
bukan Tenaga Kesehatan dilarang
melakukan praktik seolah-olah
sebagai Tenaga Kesehatan.”
Berdasarkan pasal 10 ayat 2
UU no. 36 tahun 2014 tentang
Tenaga Kesehatan, “Asisten Tenaga
Kesehatan hanya dapat bekerja di
bawah supervisi Tenaga
Kesehatan.” Apabila petugas apotek
yang dimaksud merupakan asisten 3. UU 8/99
apoteker, maka segala tindakan Pasal 62
yang dilakukannya harus (1) Pelaku usaha yang melanggar
sepengetahuan apoteker yang ketentuan sebagaimana dimaksud
menjadi penanggung jawab apotek. dalam Pasal 8,dipidana dengan
Apabila tindakan tersebut tidak
diketahui oleh apoteker penanggung pidana penjara paling lama 5 (lima)
jawab apotek, maka asisten tahun atau
apoteker dianggap melanggar pidana denda paling banyak Rp
hukum berdasarkan UU no. 36 2.000.000.000,00 (dua milyar
tahun 2014. rupiah).

UU no. 8 tahun 1999 tentang


Perlindungan Konsumen
Berdasarkan Pasal 4 UU no. 8
tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen, salah satu hak
konsumen adalah: hak atas
kenyamanan, keamanan, dan
keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa. Apabila
petugas apotek bukan apoteker
menyerahkan obat dengan dosis
yang berbeda dengan dosis obat
yang tertera pada resep, maka ia
dianggap melanggar hak konsumen
atas kenyamanan, keamanan dan
keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa. 4. UU 36/09
Berdasarkan Pasal 8 ayat 1 UU Pasal 198
no. 8 tahun 1999, pelaku usaha Setiap orang yang tidak memiliki
dilarang memproduksi dan/atau keahlian dan kewenangan untuk
memperdagangkan barang dan/atau melakukan praktik kefarmasian
jasa yang: sebagaimana dimaksud dalam
a. tidak memenuhi atau tidak Pasal 108 dipidana dengan pidana
sesuai dengan standar yang
denda paling banyak
dipersyaratkan dan
ketentuan peraturan Rp100.000.000,00 (seratus juta
perundang-undangan;
rupiah).
b. tidak sesuai dengan berat
bersih, isi bersih atau netto,
dan jumlah dalam hitungan
sebagaimana yang
dinyatakan dalam label atau
etiket barang tersebut;
c. tidak sesuai dengan ukuran,
takaran, timbangan dan
jumlah dalam hitungan
menurut ukuran yang
sebenarnya;
Petugas apotek dianggap
melanggar hukum dengan
menyerahkan dosis obat yang tidak
sesuai dengan dosis obat seperti
yang tertera pada resep berdasarkan
UU no. 8 tahun 1999 pasal 8 ayat 1
poin a-c.
UU no. 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan
Berdasarkan Bagian Kelima
Belas Pasal 98 ayat 2 mengenai
Pengamanan dan Penggunaan
Sediaan Farmasi dan Alat
Kesehatan UU no. 36 tahun 2009
tentang Kesehatan, “Setiap orang
yang tidak memiliki keahlian dan
kewenangan dilarang mengadakan,
menyimpan, mengolah,
mempromosikan, dan mengedarkan
obat dan bahan yang berkhasiat
obat.” Apabila petugas apotek
bukan apoteker bukan merupakan
tenaga kesehatan yang memiliki
kewenangan dan keahlian dalam
mengedarkan obat dan bahan
berkhasiat obat, termasuk
mengganti dosis obat yang
diberikan kepada pasien tanpa
sepengetahuan apoteker, maka
dianggap melanggar hukum
berdasarkan UU no. 36 tahun 2009.
PP No. 51 Tahun 2009 Tentang
Pekerjaan Kefarmasian
Pada kasus tersebut hanya
dijelaskan petugas apotek bukan
apoteker, sedangkan yang berhak
membantu apoteker seharusnya
tenaga teknis kefarmasian (pasal 14
dan 20) dan itupun tugasnya hanya
membantu apoteker. Yang berhak
mengganti obat adalah apoteker
(pasal 24).
Pasal 14
(1) Setiap Fasilitas Distribusi atau
Penyaluran Sediaan Farmasi
berupa obat harus memiliki
seorang Apoteker sebagai
penanggung jawab.
(2) Apoteker sebagai penanggung
jawab sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat dibantu oleh
Apoteker pendamping dan/atau
Tenaga Teknis Kefarmasian.
(3) Ketentuan lebih lanjut
mengenai pelaksanaan
Pekerjaan Kefarmasian dalam
Fasilitas Distribusi atau
Penyaluran Sediaan Farmasi
sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) diatur
dengan Peraturan Menteri.
Pasal 20
Dalam menjalankan
Pekerjaan kefarmasian pada
Fasilitas Pelayanan Kefarmasian,
Apoteker dapat dibantu oleh
Apoteker pendamping dan/ atau
Tenaga Teknis Kefarmasian.
Pasal 24
a. Dalam melakukan Pekerjaan
Kefarmasian pada Fasilitas
Pelayanan Kefarmasian,
Apoteker dapat:
b. mengangkat seorang Apoteker
pendamping yang memiliki
SIPA;
c. mengganti obat merek dagang
dengan obat generik yang sama
komponen aktifnya atau obat
merek dagang lain atas
persetujuan dokter dan/atau
pasien; dan
d. menyerahkan obat keras,
narkotika dan psikotropika
kepada masyarakat atas resep
dari dokter sesuai dengan
ketentuan peraturan
perundang-undangan.
18) Apoteker mengajukan Kata Kunci Dari segi etik Tidak ada sanksi pidana Setiap apoteker
izin dan membuka
Apotek baru persis di Pasal 10 Kode Etik namun kemungkinan akan ada memahami, menanamkan, dan
apotek baru persis
disebelah apotek yang sebelah Apotek yang Apoteker Indonesia sanksi sosial (mengganggu mematuhi KDAI (dalam hal ini
sudah ada, tanpa
sudah ada; tanpa “Seorang Apoteker harus hubungannya dengan rekan terutama prinsip “memperlakukan
berkonsultasi
dengan/sepengetahuan berkonsultasi/ memperlakukan teman sejawatnya sejawat). teman sejawatnya sebagai-mana ia
apoteker pengelola
sepengetahuan APA sebagai-mana ia sendiri ingin sendiri ingin diperlakukan”) dan
apotek yang sudah ada
tersebut yang sudah ada diperlakukan” selalu menjaga hubungan baik
Meski tidak diatur dalam dengan rekan sejawat.
Peluang pelanggaran per-UU-an dan pedoman disiplin,
a.Tidak ada rasa dalam Kode Etik Apoteker
menghargai antar Indonesia tertulis bahwa sesama
teman sejawat rekan sejawat seharusnya saling
menghargai, salah satunya dengan
b.Tidak dilakukannya melakukan komunikasi yang baik
komunikasi antar dan santun ketika menghadapi
sejawat dengan situasi yang problematik baik secara
baik dan santun moral atau peraturan perundangan
dalam yang berlaku mengenai hubungan
menghadapi dengan sejawatnya.
situasi yang
problematik
19) Apoteker yang bekerja Kata kunci : Permenkes 31 Tahun 2016 Kepala Dinas Kesehatan - Setiap industri farmasi wajib
mengawasi karyawanya
sebagai Medical  Apoteker : (1) SIPA bagi Apoteker di fasilitas Kabupaten/ kota dapat
terkait dengan pekerjaan lain
Representative di  MedRep kefarmasian hanya diberikan untuk mencabut SIPA atau SIKA bila yang tidak boleh dilakukan.
 APA Jika melanggar diberikan
industri farmasi 1 tempat fasilitas kefarmasian (2) melakukan pelanggaran disiplin
sanksi yang tegas hingga
diam-diam menjadi Dikecualikan, SIPA bagi Apoteker tenaga kefarmasian berdasarkan pemecatan.
- Apotek harus memberi
Apoteker Pengelola Pelanggaran yang di fasilitas pelayanan kefarmasian rekomendasi dari KFN (PMK no persyaratan kepada calon
Apotek Swasta mungkin terjadi : dapat diberikan untuk paling banyak 889 tahun 2011 pasal 23) APA nya bahwa tidak boleh
memiliki dua pekerjaan
Apoteker memiliki 2 3 tempat pelayanan kefarmasian  antara pelayanan dengan
pekerjaan tanpa izin Apoteker yang bekerja di industri industri serta dengan sanksi
yang tegas jika terbukti
farmasi seharusnya tidak bisa
melanggar.
menjadi APA di Apotek swasta
tersebut
UU 36 Tahun 2009, BAB
V: Sumber Daya di Bidang
Kesehatan, Pasal 23 (4) : selama
memberikan pelayanan kesehatan
sebagaimana dimaksud ayat (1)
dilarang mengutamakan
kepentingan yang bernilaimateri

PD poin 17 :
Menyalahgunakan kompetensi
Apotekernya  untuk meraup
banyak materi dengan memiliki 1
pekerjaan tanpa izin dengan
mendayagunakan surat kompetensi,
STRA dll yang dimilikinya

KE, BAB I : Kewajiban


Umum, Pasal 5 : Didalam
menjalankan tugasnya, seorang
Apoteker harus menjauhkan diri dari
usaha mencari keuntungan diri
semata yang bertentangan dengan
martabat dan tradisi luhur jabatan
kefarmasian

20) Apoteker Penanggung Kata kunci : Permenkes 31 Tahun 2016 : Kepala Dinas Kesehatan  Setiap industri farmasi
wajib mengawasi
Jawab Penilaian  Apoteker (1) SIPA bagi Apoteker di fasilitas Kabupaten/ kota dapat mencabut
karyawanya terkait dengan
Keamanan Kosmetik  Safety Assessor kefarmasian hanya diberikan untuk SIPA atau SIKA bila melakukan pekerjaan lain yang tidak
 Kosmetik boleh dilakukan. Jika
(Safety Assessor) diam –  APA 1 tempat fasilitas kefarmasian (2) pelanggaran disiplin tenaga
melanggar diberikan
diam menjadi Apoteker Dikecualikan, SIPA bagi Apoteker kefarmasian berdasarkan sanksi yang tegas hingga
pemecatan.
Pengelola Apotek di fasilitas pelayanan kefarmasian rekomendasi dari KFN (PMK no
 Apotek harus memberi
Pelanggaran yang dapat diberikan untuk paling banyak 889 tahun 2011 pasal 23) persyaratan kepada calon
mungkin terjadi : 3 tempat pelayanan kefarmasian ( APA nya bahwa tidak
boleh memiliki dua
Apoteker memiliki 2 Apoteker yang bekerja di industri pekerjaan antara pelayanan
pekerjaan tanpa izin farmasi seharusnya tidak bisa dengan industri serta
dengan sanksi yang tegas
menjadi APA di Apotek swasta jika terbukti melanggar.
tersebut

UU 36 Tahun 2009, BAB V


: Sumber Daya di Bidang
Kesehatan, Pasal 23 (4) : selama
memberikan pelayanan kesehatan
sebagaimana dimaksud ayat (1)
dilarang mengutamakan
kepentingan yang bernilai materi

PD poin 17 :
Menyalahgunakan kompetensi
Apotekernya ( untuk meraup banyak
materi dengan memiliki 1 pekerjaan
tanpa izin dengan mendayagunakan
surat kompetensi, STRA dll yang
dimilikinya

KE, BAB I : Kewajiban


Umum, Pasal 5 : Didalam
menjalankan tugasnya, seorang
Apoteker harus menjauhkan diri dari
usaha mencari keuntungan diri
semata yang bertentangan dengan
martabat dan tradisi luhur jabatan
kefarmasian
Kasus Kata Kunci dan Judul dan Pasal UU/Butir Pedoman Disiplin/Kode Etik Sanksi Upaya Pencegahan
Jenis Pelanggaran yang dilanggar + IDENTIFIKASI
21) Apoteker Dokter melakukan BUKAN MERUPAKAN PELANGGARAN, jika di daerah Dokter yang melakukan 1. Sebelum seorang
pengelola apotek penyerahan terpencil tersebut tidak ada apotek/apoteker. Hal tersebut dispensing langsung Apoteker Pengelola
menerima /dispensing langsung dijelaskan dalam peraturan berikut ini. kepada pasien bukan Apotek atau Apoteker
pesanan obat dari kepada pasien di a. Undang – Undang No. 36 Tahun 2009 tentang merupakan pelanggaran yang memiliki
Dokter didaerah daerah terpencil. Kesehatan, Pasal 98 ayat 2 (2) Setiap orang yang tidak jika di daerah terpencil wewenang untuk
terpencil. memiliki keahlian dan kewenangan dilarang tersebut tidak ada apotek. mendistribusikan obat,
Apoteker di mengadakan, menyimpan, mengolah, Namun menurut Undang- maka Apoteker tersebut
Apotek tersebut mempromosikan, dan mengedarkan obat dan bahan undang No. 36 tahun wajib memastikan
menyerahkan yang berkhasiat obat. 2009 tentang kesehatan kelengkapan syarat dan
obatnya kepada b. Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan Pasal 198 jika ada pihak legalitas pemesan obat,
dokter dan dokter Pasal 108 ayat (1) yang tanpa kewenangan sehingga tidak terjadi
melakukan menyebutkan bahwa praktik kefarmasian dalam dan keahlian melakukan penyalahgunaan obat.
penyerahan/dispe pengadaan, distribusi dan pelayanan sediaan farmasi praktik kefarmasian 2. Apoteker harus
nsing langsung harus dilakukan oleh tenaga kesehatan tertentu yang sebagaimana dimaksud mendokumentasikan
kepada pasien. mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan dalam maka
Pasal 108
seluruh catatan
ketentuan peraturan perundang undangan. Yang dimaksud
akan dikenakan sanksi pemesanan dan catatan
dengan “tenaga kesehatan” dalam ketentuan ini adalah pidana dan denda paling pengiriman sediaan
tenaga kefarmasian sesuai banyak sebesar seratus farmasi.
dengan keahlian dan kewenangannya. Dalam hal tidak ada juta rupiah.
3. Apoteker harus
tenaga kefarmasian, tenaga kesehatan tertentu dapat
melakukan praktik kefarmasian secara terbatas, misalnya mendokumentasikan
antara lain dokter dan/atau dokter gigi, bidan, dan perawat, seluruh sediaan farmasi
yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang- (obat) yang masuk
undangan. maupun yang keluar dari
c. Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang instalasi farmasi.
Pekerjaan Kefarmasian, Pasal 22 Menjelaskan bahwa, “
Dalam hal di daerah terpencil yang tidak ada apotek,
dokter atau dokter gigi yang telah memiliki Surat
Tanda Registrasi mempunyai wewenang meracik dan
menyerahkan obat kepada pasien yang dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
d. Peraturan Pemerintah No.1 Tahun 1988 tentang Masa
Bakti dan Praktek Dokter dan Dokter Gigi, Bab V
mengenai Pembinaan dan Pengawasan pasal 12. Dalam
pasal ini, disebutkan bahwa dokter dapat melakukan
dispensing hanya dalam keadaan darurat dan jika tidak
tersedia sarana kesehatan atau untuk tujuan menolong.
e. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran Pasal 35 ayat (i) dan (j)
(i) Dokter mempunyai wewenang menyimpan obat
dalam jumlah dan jenis yang diizinkan
(ii) Dokter mempunyai wewenang meracik dan
menyerahkan obat kepada pasien di daerah
terpencil yang tidak ada apotek.
f. Kode Etik Apoteker Bab 1 Pasal 3
Seorang Apoteker harus senantiasa menjalankan
profesinya sesuai kompetensi Apoteker Indonesia serta
selalu mengutamakan dan berpegang teguh pada prinsip
kemanusiaan dalam melaksanakan kewajibannya.
Dari pasal diatas dapat disimpulkan bahwa
dalam keadaan tertentu, seperti daerah terpencil,
Apoteker boleh menyerahkan obat kepada dokter sesuai
pesanan selama mengikuti segala peraturan yang berlaku
demi mengedepankan prinsip kemanusiaan.
Identifikasi
Dokter yang melakukan dispensing langsung kepada
pasien bukan merupakan pelanggaran jika di daerah
terpencil tersebut tidak adanya fasilitas kesehatan yaitu
apotek. Namun perlu diperhatikan persyaratan yang harus
dimiliki dokter tersebut, seperti telah disumpah, memiliki
Surat Tanda Regstrasi dan memiliki Surat Izin Praktik, serta
melengkapi segala aturan administrasi kedokteran sebelum
menjalankan praktik kedokterannya. Maka dari itu,
Apoteker yang mendistribusikan obat-obatan kepada dokter
di daerah terpencil perlu memastikan kelengkapan syarat
dokter tersebut, agar tidak terjadi praktik ilegal. Apoteker
juga perlu mendokumentasikan seluruh catatan pemesanan
dan catatan pengiriman agar tidak terjadi kesalahan dan
penyalahgunaan.
22) Apoteker  Diazepam UU no. 5 tahun 1997 UU no. 5 tahun 1997 1. BPOM memperketat
melayani merupakan obat Pasal 14 Pasal 60 penjualan dan
pembelian golongan Ayat 2: Penyerahan psikotropika dalam rangka peredaran Ayat 4 pendistribusian obat
diazepam injeksi Psikotropika. hanya dapat dilakukan oleh Barangsiapa menyerahkan psikotropika.
oleh bidan praktik  Menyerahkan a. Apotek psikotropika selain yang 2. Apoteker memahami
mandiri psikotropika b. rumah sakit ditetapkan dalam Pasal 14 dan mengetahui sanksi-
kepada yang c. puskesmas ayat (1), Pasal 14 ayat (2), sanksi yang akan
tidak memiliki d. balai pengobatan, Pasal 14 ayat (3), dan Pasal diterima dari
wewenang (bidan e. dokter. 14 ayat (4) dipidana pelanggaran
praktik mandiri) Ayat 3: Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dengan pidana penjara 3. Calon Apoteker diberi
dilakukan kepada paling lama 3 (tiga) tahun bekal mengenai hukum
a. apotek lainnya dan pidana denda paling profesi kefarmasian
banyak Rp. 60.000.000,00
Jenis pelanggaran: b. rumah sakit (enam puluh juta rupiah).
Hukum, disiplin dan c. puskesmas 

kode etik. d. balai pengobatan Ayat 5
e. dokter Barangsiapa menerima
f. pengguna/pasien. penyerahan psikotropika
PMK no. 3 tahun 2015 selain yang ditetapkan
Pasal 19 dalam Pasal 14 ayat (3),
Ayat 1: Penyerahan Narkotika dan/atau Psikotropika hanya Pasal 14 ayat (4) dipidana
dapat dilakukan oleh: dengan pidana penjara
a. Apotek paling lama 3 (tiga) tahun
b. Puskesmas dan pidana denda paling
c. Instalasi Farmasi Rumah Sakit banyak Rp. 60.000.000,00
d. Instalasi Farmasi Klinik (enam puluh juta rupiah).
e. Dokter.

 Apabila yang menerima
Ayat 2: Apotek hanya dapat menyerahkan Narkotika
dan/atau Psikotropika kepada: penyerahan itu pengguna,
a. Apotek lainnya maka dipidana dengan
b. Puskesmas pidana penjara paling lama
c. Instalasi Farmasi Rumah Sakit 3 (tiga) bulan.
d. Instalasi Farmasi Klinik PMK no. 3 tahun 2015
e. Dokter Pasal 47
f. Pasien. Pelanggaran terhadap
Pasal 20 ketentuan dalam Peraturan
Ayat 1: Penyerahan Narkotika dan Psikotropika oleh Menteri ini dikenai sanksi
Apotek kepada Dokter hanya dapat dilakukan dalam hal: administratif sesuai dengan
a. dokter menjalankan praktik perorangan dengan ketentuan peraturan
memberikan Narkotika dan Psikotropika melalui perundang- undangan.
suntikan; dan/atau SANKSI DISIPLIN
b. dokter menjalankan tugas atau praktik di daerah Sanksi disiplin yang dapat
terpencil yang tidak ada Apotek atau sesuai dengan dikenakan oleh MEDAI
ketentuan peraturan perundang-undangan. berdasarkan PerUU yang
BUTIR PEDOMAN DISIPLIN yang dilanggar berlaku:
Butir 12 Dalam penatalaksanaan praktik kefarmasian, 1. Pemberian peringatan
melakukan yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak tertulis
melakukan yang seharusnya dilakukan, sesuai dengan 2. Rekomendasi
tanggung jawab profesionalnya, tanpa alasan pembenar pembekuan dan/atau
yang sah, sehingga dapat membahayakan pasien. pencabutan Surat
BUTIR KODE ETIK yang dilanggar Tanda Registrasi
Pasal 5 Di dalam menjalankan tugasnya setiap Apoteker Apoteker, atau Surat
harus menjauhkan diri dari usaha mencari keuntungan Izin Praktek, atau
diri semata yang bertentangan dengan Surat Izin Kerja
Apoteker
3. Kewajiban mengikuti
pendidikan atau
pelatihan di institusi
pendidikan apoteker
SANKSI KODE ETIK
Pembinaan dan peringatan
tertulis dari organisasi
profesi
23) Apoteker  Apoteker PerKa BPOM RI 7/2016 Berdasarkan acuan daru Petugas BPOM harus
melayani  Penjualan bebas Pasal 1 PerKa BPOM 7/2016 melakukansidak secara rutin
penjualan  Triheksipenidil Obat-obat Tertentu yang sering disalahgunakan yang Sanksi terhadap apotek dan rumah
triheksipenidil selanjutnya disebut dengan Obat-obat Tertentu adalah obat- administrative : sakit agar tidak ada penjualan
kepada seorang Jenis pelanggaran: obat yabg bekerja di SSP selain Narkotika dan Psikotropika a. peringatan, bebas obat –obat yang sering
pasien Hukum, disiplin, dan yang pada penggunaan diatas dosis terapi dapat b. peringatan keras, disalahgunakan
tetangganya kode etik. menyebabkan ketergantungan dan perubahan khas pada c. rekomendasi
aktivitas mental dan perilaku, terdiri atas obat-obat yang pencabutan izin
mengandung Tramadol, Triheksipenidil, Klorpromazin,
Amitriptilin dan/atau Halloperidol
Kode Etik Pasal 5
Di dalam menjalan tugasnya Seorang Apoteker
harus menjauhkan diri dari usaha mencari keuntungan diri
semata yang bertentangan dengan martabat dan tradisi
leluhur jabatan kefarmasian
Implementasi :
Setiap apoteker Indonesia harus mengerti tugas dan
apa saja larangan yang tidak diperbolehkan dalam
berpraktek (ketrampilan, sikap, dan perilkau yang
berdasarkan pada ilmu, hukum, dan etik).
Pedoman Disiplin Butir 12
Dalam penatalaksanaan praktik kefarmasian,
melakukan yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak
melakukan yang seharusnya dilakukan sesuai dengan
tanggung jawab profesionalitasnya tanpa alas an
pembenaran yang sah sehingga dapat membahayakan
pasien.
24) Apoteker Apoteker menjual BUTIR PEDOMAN DISIPLIN yang dilanggar: Sanksi disiplin yang dapat 1. Apoteker menggali
menyarankan dan tablet Levonorgestrel- Butir 1: Melakukan praktik kefarmasian dengan tidak dikenakan oleh MEDAI lebih dalam kondisi
menjual tablet etinil estradiol pada kompeten. berdasarkan PerUU yang pasien terlebih dahulu
Levonorgestrel- pasien dengan Butir 12: Dalam penatalaksanaan praktik kefarmasian, berlaku: sebelum menyarankan
etinil estradiol gangguan ginjal. melakukan yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak 1. Pemberian peringatan terapi pada pasien.
kepada seorang Penggunaan melakukan yang seharusnya dilakukan, sesuai dengan tertulis 2. Apoteker meng-update
pasien yang telah levonogestrel-etinil tanggung jawab profesionalnya, tanpa alasan pembenar 2. Rekomendasi pengetahuan terkait
dikenalnya dan estradiol perlu yang sah, sehingga dapat membahayakan pasien. pembekuan dan/atau obat agar dapat
mengalami diberikan perhatikan Butir 13: Melakukan pemeriksaan atau pengobatan dalam pencabutan Surat Tanda mengoptimalkan
oedem / khusus pada pasien pelaksanaan praktik swa-medikasi (self medication) yang Registrasi Apoteker, pengobatan pasien.
pembengkakan dengan gangguan tidak sesuai dengan kaidah pelayanan kefarmasian. atau Surat Izin Praktek, 3. Apoteker bertanggung
pada pergelangan ginjal. BUTIR KODE ETIK yang dilanggar: atau Surat Izin Kerja jawab secara
kaki karena Pasal 9: Seorang Apoteker dalam melakukan praktik Apoteker professional untuk
gangguan ginjal Jenis pelanggaran: kefarmasian harus mengutamakan kepentingan masyarakat, 3. Kewajiban mengikuti memberikan nasehat dan
Disiplin dank ode etik. menghormati hak azazi pasien dan melindungi makhluk pendidikan atau informasi yang benar,
hidup insani. pelatihan di institusi cukup, dan objektif
pendidikan apoteker tentang swamedikasi
SANKSI KODE ETIK dan semua produk yang
Pembinaan dan peringatan tersedia untuk
tertulis dari organisasi swamedikasi.
profesi
25) Apoteker Hidrokuinon, a. Pelanggaran hukum UU 36 / 2009 1. Pembinaan agar
pengelola apotek swamedikasi 1). UU 36 / 2009 pasal 5 ayat (2) : Setiap orang Pasal 196 : Setiap orang apoteker menyadari
melakukan mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan yang dengan sengaja pentingnya
peracikan Jenis pelanggaran: kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. memproduksi atau mengutamakan
kosmetik yang Hukum, disiplin, dan 2). UU 8 / 1999 pasal 4 : Hak konsumen adalah hak mengedarkan sediaan keamanan pasien.
mengandung kode etik. atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan farmasi dan/atau alat 2. Tidak mencari
Hidrokuinon dan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa. kesehatan yang tidak keuntungan pribadi
arbutin untuk 3). PP 51 / 2009 pasal 3 : Pekerjaan Kefarmasian memenuhi standar dan/atau dalam hal merugikan
pasien dalam dilakukan berdasarkan pada nilai ilmiah, keadilan, persyaratan keamanan, pasien.
rangka pelayanan kemanusiaan, keseimbangan, dan perlindungan khasiat atau kemanfaatan, 3. Sesama apoteker harus
swamedikasi. serta keselamatan pasien atau masyarakat yang dan mutu sebagaimana saling mengingatkan
berkaitan dengan Sediaan Farmasi yang memenuhi dimaksud dalam Pasal 98 dan menasehati untuk
standar dan persyaratan keamanan, mutu, dan ayat (2) dan ayat (3) mencegah terjadi
kemanfaatan. dipidana dengan pidana palnggaran.
Alasan : karena hidrokuinon termasuk zat yang penjara paling lama 10 4. Melakukan
dilarang dalam pembuatan kosmetik sehingga tidak (sepuluh) tahun dan denda swamedikasi yang
aman. Dan harus dengan resepdari dokter paling banyak menjamin keamanan
4). PMK 1175 / 2010 pasal 2 : Kosmetika yang Rp1.000.000.000,00 (satu pasien.
beredar harus memenuhi persyaratan mutu, miliar rupiah).
keamanan, dan kemanfaatan
Alasan : Meracik sendiri kosmetik belum tentu Pasal 197 : Setiap orang
aman, bermutu dan bermanfaat karena belum tentu yang dengan sengaja
ada uji keamanan mutu memproduksi atau
5) PMK 73 / 2016 bab III : Apoteker di Apotek juga mengedarkan sediaan
dapat melayani Obat non Resep atau pelayanan farmasi dan/atau alat
swamedikasi. Apoteker harus memberikan edukasi kesehatan yang tidak
kepada pasien yang memerlukan Obat non Resep memiliki izin edar
untuk penyakit ringan dengan memilihkan Obat sebagaimana dimaksud
bebas atau bebas terbatas yang sesuai. dalam Pasal 106 ayat (1)
Alasan : karena kosmetik tidak termasuk dalam dipidana dengan pidana
pelayanan swamedikasi. penjara paling lama 15
6) Perka BPOM 18 / 2015 lampiran 5 no. 384 : (lima belas) tahun dan
hidrokuinon masuk ke dalam daftar bahan yang denda paling banyak
dilarang dalam kosmetik Rp1.500.000.000,00 (satu
Alasan : kosmetik yang diracik mengandung miliar lima ratus juta
hidrokuinon. rupiah).
b. Pelanggaran disiplin
Butir 7 : Memberikan sediaan farmasi yang tidak
terjamin mutu, keamanan, dan khasiat atau manfaat
kepada pasien.
Alasan : karena hidrokuinon termasuk zat yang dilarang
dalam pembuatan kosmetik sehingga tidak aman.
c. Pelanggaran kode etik
Pasal 9 : Seorang apoteker dalam melakukan praktik
kefarmasian harus mengutamakan kepentingan
masyarakat. Menghormati hak asasi pasien dan
melindungi makhluk hidup insani.
Alasan : hidrokuinon tidak melindungi pasien melainkan
mengancam kesehatan pasien.
26) Apoteker berada Obat keras, pelayanan a. Pelanggaran Hukum UU No. 36 tahun 2009 (PP 51 2009 pasal 24)
di apotek, resep Obat keras oleh PP 51: Pasal 198 : Setiap orang Sebaiknya Apoteker
pelayanan resep TTK Pasal 51, ayat (3) menyebutkan dalam hal apoteker di yang tidak memiliki melimpahkan tugasnya
obat keras bantu oleh tenaga teknis kefarmasian, pelaksanaan keahlian dan kewenangan kepada Apoteker
dilayani oleh Jenis pelanggaran: pelayanan kefarmasian tetap dilakukan oleh apoteker untuk melakukan praktik pendamping yang memiliki
tenaga teknis Hukum, disiplin, dan dan tanggung jawab tetap berada ditangan apoteker. kefarmasian sebagaimana SIPA untuk menyerahkan
kefarmasian. kode etik. Pasal 21, ayat (2) dimaksud dalam pasal 108, dan menerima resep obat
Penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan resep dipidana dengan pidana keras.
dokter dilaksanakan oleh Apoteker. denda paling banyak Rp
Kecuali dalam daerah terpencil tidak terdapat apoteker, 100.000.000,00 (seratus
Tenanga teknis kefarmasian yang telah memiliki juta rupiah).
STRTTK boleh meracik dan menyerahkan obat kepada Sanksi disiplin yang
pasien. (pasal 21 ayat 3) dapat dikenakan oleh
Pasal 24, poin c MEDAI berdasarkan
Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian pada Peraturan per-Undang-
Fasilitas Pelayanan Kefarmasian, Apoteker dapat Undangan yang berlaku
menyerahkan obat keras, narkotika, dan psikotropika adalah:
kepada masyarakat atas resep dari dokter sesuai dengan 1. Pemberian peringatan
ketentuan peraturan perundang-undangan. tertulis;
b. Pelanggaran Disiplin 2. Rekomendasi
Butir 2 : Membiarkan berlangsungnya praktek pembekuan dan/atau
kefarmasian yang menjadi tanggung jawabnya, tanpa pencabutan Surat
kehadirannya, ataupun tanpa Apoteker pengganti dan/ Tanda Registrasi
atau Apoteker pendamping yang sah. Apoteker, atau Surat
Butir 12 : Dalam penatalaksanaan praktik kefarmasian, Izin Praktik Apoteker,
melakukan yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak atau Surat Izin Kerja
melakukan yang seharusnya dilakukan, sesuai dengan Apoteker; dan/atau;
tanggung jawab profesionalnya, tanpa alasan pembenar 3. Kewajiban mengikuti
yang sah, sehingga dapat membahayakan pasien. pendidikan atau
c. Pelanggaran Kode etik pelatihan di institusi
Pasal 1 : Sumpah/janji Apoteker, setiap Apoteker harus pendidikan apoteker.
menjujung tinggi, menghayati dan mengamalkan
sumpah Apoteker.
Pasal 3 : Seorang Apoteker harus senantiasa
menjalankan profesinya sesuai kompetensi Apoteker
Indnonesia serta selalu mengutamakan dan berpegang
teguh pada prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan
kewajibannya.
Identifikasi mengapa disebut pelanggaran :
Pendelegasian wewenang yang tidak tepat, sehingga
kemungkinan terjadi medication error meningkat. TTK
yang diberi kelimpahan tidak memiliki wewenang
penyerahan obat berdasarkan resep dokter. Apalagi,
apoteker yang berwenang ada di tempat.
27) Apoteker yang Apoteker yg sakit, 1. Undang-Undang Obat Keras Pasal 3 (St. No.419) Pasal 12 Undang-Undang 1. Agar setiap apoteker
sedang menderita mendelegasikan tugas, yang berbunyi, “ Penyerahan persediaan untuk Obat Keras : hukuman berusaha dengan
flu berat datang resep obat keras penyerahan dan penawaran untuk penjualan dari bahan- penjara setinggi-tingginya seungguh-sungguh dalam
ke Apotek, bahan G , demikian pula memiliki bahan-bahan ini 6 bulan atau denda uang menjaga kondisi fisiknya
namun dalam jumlah sedemikian rupa sehingga secara normal setinggi-tingginya 5000 dalam segi kesehatan agar
mendelegasikan Jenis pelanggaran: tidak dapat diterima bahwa bahan-bahan ini hanya gulden. tetap mampu dalam
tugas kepada Hukum dan disiplin. diperuntukkan pemakaian pribadi adalah dilarang. melakukan pekerjaan
Tenaga Teknis Larangan ini tidak berlaku untuk pedagang-pedagang kefarmasian secara
Kefarmasian besar yang diakui, Apoteker-Apoteker, yang profesional.
untuk melayani memimpin Apotek dan Dokter hewan.” 2. Jika memang masih
resep obat keras. Identifikasi : Dari pernyataan pasal tersebut terkait memungkinkan untuk
kasus ini yang berhak menyerahkan obat keras dari melakukan pelayanan
daftar G adalah Apoteker, bukan Tenaga Teknnis kefarmasian, agar
Kefarmasian. menggunakan masker
2. PP Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan saat berhadapan dengan
Kefarmasian Pasal 51 ayat 1 berbunyi, “Pelayanan pasien karena
Kefarmasian di apotek, puskesmas, atau instalasi farmasi dikhawatirkan
Rumah Sakit hanya dapat dilakukan oleh Apoteker”, dan menularkan penyakit ke
Pasal 24 ayat c yang berbunyi, “Dalam melakukan pasien.
Pekerjaan Kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan 3. Jika sama sekali tidak
Kefarmasian, Apoteker dapat menyerahkan obat keras, dapat melakukan
narkotika dan psikotropika kepada masyarakat atas resep aktifitas, agar Apoteker
dari dokter sesuai dengan ketentuan peraturan izin tidak masuk pada hari
perundang-undangan.” tersebut dari pekerjaan
kefarmasiannya dann
Identifikasi : Pada kasus ini, Apoteker tidak melakukan istirahat demi
pelayanan kefarmasian terhadap resep obat keras oleh memulihkan kesehatan
dirinya sendiri, melainkan mendelegasikannya kepada dan agar mengamanatkan
Tenaga Teknis Kefarmasian dan/ tenaga tenaga ;ainnya kepada TTK nya untuk
yang tidak memiliki kompetensi untuk melaksanakan tidak melayani resep obat
pekerjaan tersebut. keras melainkan hanya
3. Pedoman Disiplin Bab IV tentang Bentuk Pelanggaran obat bebas dan bebas
Disiplin Apoteker Butir ke 11 berbunyi, “Menjalankan terbatas saja.
praktik kefarmasian dalam kondisi tingkat kesehatan
fisik ataupun mental yang sedang terganggu sehingga
merugikan kualitas pelayanan profesi.”
Identifikasi : Pada kasus ini, kondisi fisik Apoteker
sedang tidak optimal dalam melakukan pekerjaan
kefarmasian sehingga mengakibatkan apoteker
berinisiatif untuk mengalihkan pekerjaannya dalam
melayani resep obat keras kepada TTK, sehingga
kualitas pelayanan profesi tidak bisa diberikan secara
maksimal sesuai dengan ketentuan pekerjaan pelayanan
kefarmasian.
28) Apoteker Rekomendasi SIP, 1. UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Tidak ada sanksi karena 1. Memberikan
sebagai Ketua PC kab/kota berbeda Pasal 23 ayat 3 belum ada pelanggaran edukasi/informasi
IAI di suatu Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan, tenaga yang dilanggar oleh Ketua kepada apoteker bahwa
kab/kota, tidak kesehatan wajib memiliki izin dari pemerintah. PC IAI ataupun Apoteker pengurusan SIP berada
mau memberikan 2. UU No. 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan yang mengajukan. pada tempat praktik
Rekoemndasi Pasal 46 ayat 3 dan 4 2. Membuat surat
mengurus SIP, a. SIP diberikan oleh pemerintah daerah Keterangan mutasi dari
karena Apoteker kabupaten/kota atas rekomendasi pejabat kesehatan Pengurus Daerah asal
tersebut beradadi anggota, yang ditujukan
kab/kota yang yang berwenang di kabupaten/ kota tempat Tenaga ke Pengurus Daerah
berbeda Kesehatan menjalankan praktiknya. dimana praktik/kerja
b. Untuk mendapatkan SIP, Tenaga Kesehatan harus kefarmasian akan
memiliki; dilaksanakan (bagi
1) STR yang masih berlaku; pemohon yang berasal
2) Rekomendasi dari Organisasi Profesi; dari Kabupaten/Kota luar
3) tempat praktik. propinsi) jika ingin
mendapatkan
3. PMK No. 889 tahun 2011 tentang Registrasi, Izin rekomendasi dari ketua
Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian PC IAI daerah tersebut.
Pasal 21
1. Untuk memperoleh SIPA atau SIKA, Apoteker
mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota tempat pekerjaan
kefarmasian dilaksanakan dengan menggunakan
contoh sebagaimana tercantum dalam Formulir 6
terlampir.
2. Permohonan SIPA atau SIKA harus melampirkan:
a) fotokopi STRA yang dilegalisir oleh KFN;
b) surat pernyataan mempunyai tempat praktik
profesi atau surat keterangan dari pimpinan
fasilitas pelayanan kefarmasian atau dari
pimpinan fasilitas produksi atau
distribusi/penyaluran;
c) surat rekomendasi dari organisasi profesi; dan
d) pas foto berwarna ukuran 4 x 6 sebanyak 2
(dua) lembar dan 3 x 4 sebanyak 2 (dua)
lembar;
4. PMK No. 31 tahun 2016 tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
889/Menkes/Per/V/2011 tentang Registrasi, Izin
Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian
Pasal 17
a. Setiap tenaga kefarmasian yang akan
menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib
memiliki surat izin sesuai tempat tenaga
kefarmasian bekerja.
b. Surat izin sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) berupa:
1) SIPA bagi Apoteker; atau
2) SIPTTK bagi Tenaga Teknis
Kefarmasian.
Pasal 19
SIPA atau SIPTTK sebagaimana dimaksud dalam Pasal
17 diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota
atas rekomendasi pejabat kesehatan yang berwenang di
kabupaten/kota tempat Tenaga Kefarmasian
menjalankan praktiknya.
5. Peraturan Organisasi (IAI)
PO.005/PP.IAI/1418/V/2015 tentang Rekomendasi
Ijin Praktik atau Kerja Ikatan Apoteker Indonesia
Ketentuan Umum
a. Rekomendasi ijin praktik/kerja hanya diberikan
kepada Apoteker anggota Ikatan Apoteker Indonesia
b. Permohonan rekomendasi ijin praktik/kerja oleh
anggota ditujukan kepada Pengurus Cabang
setempat dimana praktik/pekerjaan kefarmasian
akan dilaksanakan
c. Surat Rekomendasi ijin praktik/kerja ditujukan
kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat dimana Pengurus Cabang tersebut berada
dan memberikan tembusan kepada Pengurus Daerah
sebagai laporan.
Alasan:/ identifikasi:
Ketua PC IAI telah benar tidak memberikan
rekomendasi kepada apoteker yang praktik di
kab/kota yang berbeda.
29) Apoteker Teman Sejawat, 1. Kode Etik Apoteker Indonesia Bab 3 Kewajiban Tidak ada sanksi berat. 1. Seorang apoteker
sebagai Ketua PC Rekomendasi, apoteker terhadap teman sejawat: dengan jabatan ketua
IAI di suatu Mengurus SIP. Pasal 10 : Seorang Apoteker harus memperlakukan PC IAI di suatu
kab/kota, tidak Jenis pelanggaran : teman Sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin kabupaten/kota
mau memberikan 1. Kode Etik diperlakukan. seharusnya
Rekomendasi Apoteker Pasal 12 :Seorang Apoteker harus mempergunakan memberikan
kepada Apoteker Indonesia setiap kesempatan untuk meningkatkan kerjasama yang rekomendasi kepada
lain untuk baik sesama apoteker di dalam memelihara keluhuran apoteker lain untuk
mengurus SIP di 2. Disiplin martabat jabatan kefarmasian, serta mempertebal rasa mengurus SIP di suatu
suatu Apotek, saling mempercayai di dalam menunaikan tugasnya. apotik. Dan menjadi
karena Apoteker Identifikasi : Dari pernyataan pasal tersebut terkait sumber informasi untuk
tersebut telah kasus ini seorang apoteker dengan jabatan ketua PC IAI teman sejawat.
melakukan kerja di suatu kabupaten/kota seharusnya memberikan 2. Agar setiap apoteker
sama untuk rekomendasi kepada apoteker lain untuk mengurus SIP tetap mampu
menjadi APA di suatu apotik. melakukan pekerjaan
2. Pedoman Displin kefarmasian secara
profesional perlu
dengan PSA di BAB IV point 6: tidak membuat dan/atau tidak adanya pengawasan
Apotek tersebut melaksanakan Standar Prosedur Operasional sebagai dan pembinaan agar
Pedoman Kerja bagi seluruh personil disarana ketidakpedulian sesama
pekerjaan/pelayanan kefarmasian, sesuai dengan apoteker tidak terjadi.
kewanangannya.
BAB II point 18: Standar Prosedur Operasional adalah
serangkaian instruksi tertulis yang dilakukan mengenai
sebagai proses penyelenggaraan aktivitas organisasi,
bagaimana dan kapan harus dilakukan, dimana dan oleh
siapa dilakukan.
30) Apoteker yang SIPA penanggung 1. Permenkes nomor 31 tahun 2016 pasal 18 ayat 1 Pencabutan SIPA Perlu pemahaman tentang
telah memiliki jawab pada dua tempat Pasal 18 Permenkes 889 tahun 2011
SIP sebagai yang berbeda. (1) SIPA bagi Apoteker di fasilitas kefarmasian hanya dan Permenkes 31 tahun
Apoteker diberikan untuk 1 (satu) tempat fasilitas kefarmasian. 2016.
Pengelola Apotek Pelanggaran : menjadi 2. Permenkes 889 tahun 2011 dan Permenkes 31 tahun
dan SIA utk satu Apoteker penanggung 2016. Permenkes 889 tahun 2011
Apotek di Kab X, jawab pada dua tempat PASAL 18 PASAL 18
mengajukan yang berbeda (1) SIPA bagi Apoteker penanggung jawab di fasilitas (1) SIPA bagi Apoteker
kembali menjadi pelayanan kefarmasian atau SIKA hanya diberikan penanggung jawab di
APA di Kab. untuk 1 (satu) tempat fasilitas kefarmasian. fasilitas pelayanan
tetangganya. Penjelasan : karena SIPA sebagai penanggung jawab kefarmasian atau SIKA
sudah digunakan di satu tempat, tidak boleh digunakan hanya diberikan untuk 1
di tempat lainnya (satu) tempat fasilitas
kefarmasian.
(2) Apoteker penanggung
jawab di fasilitas
pelayanan kefarmasian
berupa puskesmas dapat
menjadi Apoteker
pendamping di luar jam
kerja.
(3) SIPA bagi Apoteker
pendamping dapat
diberikan untuk paling
banyak 3 (tiga) tempat
fasilitas pelayanan
kefarmasian.
(4) SIKTTK dapat diberikan
untuk paling banyak 3
(tiga) tempat fasilitas
kefarmasian.

Permenkes No 31 tahun
2016
PASAL 18
(1) SIPA bagi Apoteker di
fasilitas kefarmasian
hanya diberikan untuk (
satu ) tempat fasilitas
kefarmasian
(2) Dikecualikan dari
ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat ( 1 )
SIPA bagi Apoteker di
fasilitas pelayanan
kefarmasian dapat
diberikan untuk paling
banyak 3 ( tiga ) tempat
fasilitas pelayanan
kefarmasian
(3) Dalam hal Apoteker telah
memiliki Surat Izin
Apotek , maka Apoteker
yang bersangkutan
hanya dapat memiliki 2
(dua) SIPA pada fasilitas
pelayanan kefarmasian
lain.
(4) SIPTTK dapat
diberikan untuk paling
banyak 3 ( tiga ) tempat
fasilitas kefarmasian.
Kasus Kata Kunci dan Judul dan Pasal UU/Butir Pedoman Sanksi Upaya Pencegahan
Peluang Disiplin/Kode Etik yang dilanggar +
Pelanggaran IDENTIFIKASI
31) PSA suatu Apotek Pengajuan Apoteker tidak melakukan pelanggaran Tidak dijelaskan Perlu perjanjian kontrak yang jelas dan
menulis surat penutupan apotek dalam kasus ini yang melakukan pelanggaran mengikat secara hukum antara PSA dan
kepada Dinkes oleh PSA adalah PSA karena sebetulnya PSA tidak Apoteker. Didalam kontrak harus
KabKota dengan berwenang untuk melakukan pengajuan terdapat hal-hal yang menjadi wewenang
tembusan kepada permohonan apotek. PSA dan hal-hal yang menjadi wewenang
APA, untuk Hal ini dijelaskan dalam peraturan apoteker.
menutup berikut:
Apoteknya, lalu PP 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Perlu pemahaman yang mendalam
menutup Apotek Kefarmasian Pasal 25 ayat 1 dan 2 mengenai peraturan perundang-
tersebut (1) Apoteker dapat mendirikan Apotek dengan undangan.
modal sendiri dan/atau modal dari pemilik
modal baik perorangan maupun
perusahaan.
(2) Dalam hal Apoteker yang mendirikan
Apotek bekerja sama dengan pemilik modal
maka pekerjaan kefarmasian harus tetap
dilakukan sepenuhnya oleh Apoteker yang
bersangkutan

KEP MENKES 1332 TAUN 2002 tentang


Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin
Apotek

Pasal 1 ayat 3
Surat izin apotek atau SIA adalah Surat izin
yang diberikan oleh Menteri kepada
apoteker atau apoteker bekerjasama dengan
pemilik sarana untuk menyelenggarakan
apotik di suatu tempat tertentu

Pasal 25
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat
mencabut surat izin apotik
apabila:
a. Apoteker sudah tidak lagi memenuhi
ketentuan yang dimaksud pasal 5 dan
atau;
b. Apoteker tidak memenuhi kewajiban
dimaksud dalam Pasal 12 dan Pasal 15
ayat (2) dan atau;
c. Apoteker Pengelola Apotik terkena
ketentuan dimaksud dalam pasal 19 ayat
(5) dan atau;
d. Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan
peraturan perundang-undangan,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dan
atau;
e. Surat Izin Kerja Apoteker Pengelola
Apotik dicabut dan atau;
f. Pemilik sarana Apotik terbukti terlibat
dalam pelanggaran Perundangundangan
di bidang obat, dan atau;
g. Apotik tidak lagi memenuhi persyaratan
dimaksud dalam pasal 6.

Identifikasi
Dalam peraturan ini disebutkan bahwa apoteker
dapat mendirikan apotek dengan bekerja sama
dengan PSA. PSA disini hanya bertindak
sebagai investor terhadap pendirian apotek dan
yang mengelola apotek tetap adalah seorang
apoteker.

Untuk dapat melakukan kegiatan


operasionalnya, apotek harus memiliki Surat
Izin Apotek. Surat Izin apotek ini diajukan oleh
apoteker dan diberikan kepada apoteker.
Penutupan apotek hanya dapat terjadi apabila
izin apotek tersebut dicabut. Pencabutan izin
apotek hanya dapat dilakukan oleh dinas
kesehatan apabila terjadi pelanggaran seperti
pada butir-butir pada pasal 25 diatas.
Dalam hal ini, pemilik sarana apotek tidak
berwenang untuk mengajukan penutupan
apotek. Pihak yang berwenang mengajukan
penutupan apotek adalah apoteker pengelola
apotek yang memang memiliki Surat Izin
Apotek.
32) APAsekaligus  Memperkerjakan PMK No. 35 Tahun 2014 Sanksi PMK No. 35 Tahun 2014
PSA memperkerjakan  Apoteker Pasal 1. Kode Etik Apoteker Pasal 1.
sebagai Tenaga Tenaga Teknis Kefarmasian adalah Penegahan:
Apoteker lain sebagai Teknis Pasal 15
tenaga yang membantu apoteker dalam
Kefarmasian menempatkan orang sesuai dengan
Tenaga Teknis menjalani Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri Jika seorang apoteker
atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, posisinya masing-masing serta
Kefarmasian baik dengan sengaja
Hubungan apoteker Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah menjadikan apoteker sebagai mitra
Farmasi/Asisten Apoteker. ataupun tidak sengaja
dengan PSA adalah Identifikasi: dengan system kerja sama bukan sebagai
melanggar atau tidak
mitra, sehingga Di pasal tersebut dijelaskan bahwa
pekerja (ada baiknya dijadikan sebagai
Apoteker tidak masuk kedalam tenaga teknis mematuhi kode etik
apoteker bukanlah kefarmasian apoteker pendamping) karena dengan
apoteker Indonesia maka
pekerja. apabila apoteker hanya menjadi tenaga
dia wajib mengakui dan
Apoteker bukan Kode Etik Apoteker teknis kefarmasian maka akan ada hak dan
menerima sanksi dari
termasuk Tenga Pasal 10 kewajiban pihak yang bersangkutan
peerintah
Teknis Kefarmasian. Seorang Apoteker harus memperlakukan teman sebagai apoteker yang dicabut
ikatan/organisasi profesi
Sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin
farmasi yang
diperlakukan.
Kode Etik Apoteker
menanganinya (IAI) dan
Identifikasi:
Pasal 10
mepertanggungjawabkan
APA harus memperlakukan Apoteker sebagai
harus memperlakukan teman Sejawatnya
kepada Tuhan Yang
TTK artinya tidak memperlakukan teman
sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan
Maha Esa
sejawat sebagaimana harusnya. Apoteker yang
sesuai dengan kode etik apoteker yang
artinya harus menghargai dan
di rekrut seharusnya sebagai Apoteker meningkatkan kerjasama yang baik
pendamping, bukan TTK. sesama Apoteker di dalam memelihara
keluhuran martabat jabatan kefarmasian,
Pasal 12 serta mempertebal rasa saling
Seorang Apoteker harus mempergunakan setiap mempercayai di dalam menunaikan
kesempatan untuk meningkatkan kerjasama tugasnya
yang baik sesama Apoteker di dalam
memelihara keluhuran martabat jabatan
kefarmasian, serta mempertebal rasa saling
mempercayai di dalam menunaikan tugasnya.
Identifikasi
APA yang dalam hal ini juga PSA harusnya
memperlakukan Apoteker sebagai mitra bukan
pekerja.

Pasal 13
Seorang Apoteker harus mempergunakan setiap
kesempatan untuk membangun dan
meningkatkan hubungan profesi, saling
mempercayai, menghargai dan menghormati
sejawat petugas kesehatan lain
Identifikasi:
Sesuai pasal ini seharusnya APA menghormati
dan menghargai Apoteker lain sebagai teman
sejawat bukan diperlakukan sebagai TTK.
33) Apoteker yang Kata kunci : Berdasarkan, PMK No. 31 tahun 2016, Menurut PMK 31/16’ Pencegahan yang dapat dilakukan pada
bekerja di Rumah Apoteker yang Apoteker yang bekerja di rumah sakit dapat SIPA berlaku untuk kasus ini adalah
Sakit mengajukan diri bekerja di Rumah mengajukan diri sebagai Apoteker Pengelola paling banyak 3 (tiga) - Apoteker membuat time
management agar dapat mengatur
sebagai Apoteker Sakit ingin Apotek dengan persyaratan sebagai berikut : tempat pelayanan
waktu kapan Apoteker bekerja di
Pengelola Apotek mengajukan diri Pasal 18 kefarmasian. Tetapi RS dan kapan Apoteker bekerja di
Apotek
sebagai Apoteker a. SIPA bagi Apoteker di fasilitas sanksi ini berlaku bagi
- Jika Apoteker tidak bisa konsiste
kefarmasian hanya diberikan untuk 1
Pengelola Apotek apoteker yang melanggar makan Apoteker tersebut harus
(satu) tempat fasilitas kefarmasian
memilih salah satu tempat praktik
b. Dikecualikan dari ketentuan pedoman disiplin apabila
kefarmasiannya.
sebagaimana yang dimaksud pada ayat
Peluang melalaikan tugas dan
1 SIPA bagi Apoteker di fasilitas
terjadinya pelayanan kefarmasian dapat diberikan kewajiban di salah satu
untuk paling banyak 3 (tiga) tempat
pelanggaran tempat pelayanannya.
pelayanan kefarmasian
1. Apoteker dapat c. Dalam hal Apoteker telah memiliki
Surat Izin Apotek, maka Apoteker yang
kehilangan tanggung 1. Teguran Lisan
bersangkutan hanya dapat memiliki 2
jawab dalam (dua) SIPA pada fasilitas kefarmasian 2. Peringatan
lain
menjalankan praktek tertulis dari MEDAI
d. SIPTTK dapat diberikan untuk paling
kefarmasian dengan banyak 3 (tiga) tempat fasilitas 3. PMK 889/11
kefarmasian
sering tidak hadir di Pasal 23
apotek atau rumah Berdasarkan, PMK No. 993 tentang Tata Kepala Dinas
sakit cara pendirian Apotek, persyaratan Apoteker Kesehatan
Pengelolah Apotek, meliputi : Kabupaten/Kota dapat
2. Apoteker Pasal 5 mencabut SIPA,
memiliki niat a. Ijazahnya telah terdaftar pada karena:
Departemen Kesehatan.
mencari keuntungan c. yang
b. Telah mengucapkan
diri sendiri tanpa bersangkutan tidak
Sumpah/Janji sebagai Apoteker.
memikirkan pasien bekerja pada tempat yang
c. Memiliki Surat izin Kerja dari Menteri.
d. Memenuhi syarat-syarat tercantum dalam surat
kesehatan fisik dan mental untuk
izin;
meiaksanakan tugasnya, sebagai
e. melakukan
Apoteker.
pelanggaran disiplin
e. Tidak bekerja di suatu Perusahaan
tenaga kefarmasian
farmasi dan tidak menjadi Apoteker
Pengelola Apotik di Apotik iain. berdasarkan
rekomendasi KFN; atau
1. Pelanggaran disiplin
Poin 2 : Membiarkan berlangsungnya
praktek kefarmasian tanpa tanggung jawab,
tanpa kehadiran, ataupun tanpa apoteker
pengganti/ tanpa apoteker pendamping yang sah
Identifikasi : Apoteker tersebut dapat
kehilangan tanggung jawab dalam
melaksanakan praktek kefarmasian yang berupa
sering tidak hadirnya di apotek atau rumah sakit,
maka apoteker tersebut melanggar pedoman
disiplin apoteker

1. Pelanggaran Kode Etik


Pasal 5 : Didalam menjalankan
tugasnya seorang Apoteker harus menjauhkan
diri dari usaha mencari keuntungan diri semata
yang bertentangan dengan martabat dan tradisi
luhur kefarmasian
Identifikasi : Apabila apoteker tersebut
berniat mencari keuntungan semata tanpa
memikirkan kesehatan pasien, maka apoteker
tersebut melanggar kode etik pasal 5
34) Apoteker yang Kata kunci : UU No. 36 Tahun 2009 Sanksi jika apoteker Sebelum mengajukan diri sebagai APA,
tidak berada di apotek: dosen tersebut harus meminta izin
bekerja sebagai Apoteker – dosen – Pasal 5
 Peringatan secara terlebih dulu kepada atasan
dosen, mengajukan APA Setiap orang mempunyai hak dalam tertulis.
diri sebagai APA Peluang memperoleh pelayanan kesehatan yang aman,  Pembekuan izin a KepMenKes No.
potek. 1332/MENKES/PER/SK/X/2002
di apotek swasta pelanggaran: bermutu dan terjangkau.
 Apoteker Pasal 8  Rekomendasi - Apotek harus memiliki Apoteker
memiliki dua pembekuan Pendamping atau Apoteker
Setiap orang berhak memperoleh informasi
pekerjaan yang dan/atau Pengganti
memungkinkan tentang data kesehatan dirinya termasuk pencabutan Surat - Jika tidak memungkinkan, apotek
pada waktu Tanda Registrasi harus tutup sementara ketika APA
tindakan dan pengobatan yang telah maupun
tertentu apoteker Apoteker atau tidak berada di apotek
tidak berada di yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan. Surat Izin Praktik
apotek. Apoteker.
Pasal 108
 Jika apotek tetap
buka tanpa ada Praktik kefarmasian yang meliputi pembuatan
APA, apoteker termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi,
pendamping
ataupun apoteker pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan
pengganti, pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep
memungkinkan
praktik dokter, pelayanan informasi obat serta
kefarmasian pengembangan obat, bahan obat dan obat
didelegasikan
kepada tenaga tradisional harus dilakukan oleh tenaga
yang tidak kesehatan yang mempunyai keahlian dan
memiliki
kewenangan. kewenanangan sesuai dengan ketentuan
 Praktik peraturan perundang-undangan.
kefarmasian yang
dilaksanakan oleh UU No. 8 Tahun 1998
tenaga yang tidak Pasal 4
memiliki
kewenangan dapat Hak konsumen adalah hak atas kenyamanan,
meningkatkan keamanan, dan keselamatan dalam
kejadian
medication error mengonsumsi barang dan/atau jasa.
PP No. 20 Tahun 1962
Lafal Sumpah Apoteker : Saya akan
menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya
sesuai dengan martabat dan tradisi luhur jabatan
kefarmasian.
PP No. 51 Tahun 2009
Pasal 1
Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian
tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh
Apoteker.
Pasal 21
Penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan
resep dokter dilaksanakan oleh Apoteker.
Pasal 51
Pelayanan kefarmasian di apotek, puskemas
atau IFRS hanya dapat dilakukan oleh
Apoteker.
PMK No. 35 Tahun 2014
Pasal 1
Apotek adalah sarana pelayanan kesehatan
tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh
Apoteker.
Kode Etik Apoteker
Pasal 3
Seorang apoteker harus senantiasa menjalankan
profesinya sesuai kompetensi apoteker
Indonesia serta selalu mengutamakan dan
berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan
dalam melaksanakan kewajibannya.
Pasal 5
Di dalam menjalankan tugasnya seorang
apoteker harus menjauhkan diri dari usaha
mencari keuntungan diri semata yang
bertentangan dengan martabat dan tradisi luhur
jabatan kefarmasian.
Pedoman Displin
1. Membiarkan berlangsungnya praktik
kefarmasian yang menjadi
tanggungjawabnya tanpa kehadirannya
ataupun apoteker pengganti dan/atau
apoteker pendamping yang sah
2. Mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga
lainnya yang tidak memiliki kompetensi
untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
35) APA Kata Kunci : Undang-undang No.36 Tahun 2009 Sanksi disiplin : Dinas Kesehatan setempat
menghentikan Ketentuan kode etik, tentang Kesehatan 1. Pemberian melakukan sidak dan pembinaan kepada
peringatan tertulis
kerjasama secara standar profesi Pasal 24 ayat 1 APA dan PSA. Bila dalam sidak tersebut,
2. Rekomendasi
sepihak dengan PSA (1) Tenaga kesehatan sebagaimana pembekuan memang ditemukan beberapa
dan/atau
dalam pengelolaan Peluang dimaksud dalam Pasal 23 harus memenuhi pelanggaran, dimana apotek memesan
pencabutan surat
Apotek , dan tidak mau terjadi pelanggaran ketentuan kode etik, standar profesi, hak tanda registrasi obat dalam sediaan dan jumlah yang dan
apoteker, atau
mencarikan APA : pengguna pelayanan kesehatan, standar tanpa adanya faktur pemesanan, dan
surat izin praktek
pengganti  APA mengetahui pelayanan, dan standar prosedur operasional. apoteker, atau kesalahan beberapa administrasi resep.
ada kejanggalan surat izin kerja
(2) Ketentuan mengenai kode etik dan Dalam pembinaan tersebut, Dinkes
dalam apoteker,
pemesanan obat standar profesi sebagaimana dimaksud pada dan/atau meminta kepada APA dan PSA untuk
(jumlah dan 3. Kewajiban
ayat (1) diatur oleh organisasi profesi. membuat surat pernyataan bahwa Apotek
sediaan) tanpa mengikuti
diketahui APA, (3) Ketentuan mengenai hak pengguna pendidikan atau Dirgantara tidak akan melakukan
dan pelatihan di
pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan pelanggaran lagi, jika tidak APA wajib
mengebalikan institusi
SIA ke Suku standar prosedur operasional sebagaimana pendidikan menyerahkan kembali SIA ke Dinkes.
DInas Kesehatan apoteker
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
setempat. Dan
APA tidak akan Menteri.
mencarikan bila
PSA tidak
memperbaiki Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999
sistem di tempat
Tentang Perlindungan Konsumen
usahanya.
Pasal 6
a. Mendapatkan perlindungan hukum
dari tindakan konsumen yang beriktikad tidak
baik;
b. Melakukan pembelaan diri yang
sepatutnya di dalam penyelesaian hukum
sengketa konsumen;
 Bila APA di c. Rehabilitasi nama baik apabila tidak
laporkan ke
terbukti secara hukum bahwa kerugian
pihak berwajib
oleh PSA yang konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/
merasa dirugikan
atau jasa yang diperdagangkan;
karena temuan.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia Nomor 1332/MENKES/PER/X/2003

Pasal 8
Segala tindakan atau perbuatan yang
dilakukan oleh Pihak kedua tanpa
sepengetahuan dan persetujuan dari Pihak
Pertama menjadi tanggungan dan resiko Pihak
Kedua sendiri, demikian pula sebaliknya segala
tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh
Pihak Pertama tanpa sepengetahuan dan
persetujuan dari pihak Kedua menjadi
tanggungan dan resiko Pihak Pertama sendiri.

Pasal 9
a. Perjanjian ini dimulai pada saat akta ini
ditandatangani dan masing-masing pihak
 berhak untuk membatalkan perjanjian kerja
sama ini secara sepihak dengan tidak
merugikan pihak lain, dengan cara salah satu
pihak memberitahukan maksudnya tersebut
secara tertulis kepada pihak lainnya 3 (tiga)
bulan sebelumnya..

b. Apabila Pihak Kedua berhenti secara


mendadak tanpa melaksanakan ketentuan
pada pasal 9, maka Pihak Kedua harus
mencarikan Apoteker Pengganti dan
bertanggung jawab dalam proses
penggantian Apoteker tersebut sampai
keluarnya ijin apotek yang baru. Sedangkan
apabila Pihak Pertama memberhentikan
Pihak Kedua secara mendadak tanpa
melaksanakan ketentuan pada pasal 9, maka
Pihak Pertama harus membayar jasa profesi
selama 2 (dua) bulan kedepan
36) Apoteker Apoteker o Hukum  Sanksi administratif Apoteker melakukan pekerjaan
menyerahkan obat anti menyerahkan obat Peraturan Menteri Kesehatan berupa peringatan kefarmasian sesuai dengan Kompetensi
diabetes tanpa resep anti diabetes tanpa No. 9 Tahun 2017 tentang Apotek Pasal tertulis, penghentian profesi yang berlaku. Meyerahkan
dokter, kepada resep dokter 19 sementara kegiatan golongan obat keras harus dengan resep
pelanggannya yang Setiap Apoteker dan Tenaga Teknis atau pencabutan SIA dokter yang diterima oleh pasien.
sudah biasa dilayani Kefarmasian harus bekerja sesuai dengan  Sanksi dari organisasi Memberikan penjelasan kepada pasien
dengan resep dokter. standar profesi, standar prosedur profesi farmasi yang kalau obat antidiabetes yang
operasional, standar pelayanan, etika dapat berupa digunakannya tidak boleh dibeli tanpa
profesi, menghormati hak pasien dan pembinaan, resep dokter. Menyadari bahwa
mengutamakan kepentingan pasien. peringatan, pencabutan menyerahkan obat keras kepada pasien
Identifikasi : Dengan menyerahkan keanggotaan justru dapat membahayakan pasien itu
obat anti diabetes yang merupakan obat sementara, dan sendiri. Mengingatkan dan
keras kepada pasien tanpa resep dokter, pencabutan menyarankan kepada pasien untuk cek
apoteker berarti tidak bekerja sesuai dengan keanggotaan up ke dokter secara rutin.
standar prosedur operasional, standar tetap.karena tidak
pelayanan, dan etika profesi. Walaupun mentaati dan
pasien tersebut sudah terbiasa melaksanakan Kode
menggunakan obat antidiabetes tetapi tetap Etik Apoteker
saja memberikan obat keras tanpa resep Indonesia
dokter dapat membahayakan keselamatan  Sanksi disiplin yang
dapat dikenakan oleh
pasien. Sehingga apoteker telah melanggar MEDAI karena
ketentuan perundang-undangan ini. melanggar Pedoman
Peraturan Pemerintah No. 51 Disiplin Apoteker
Tahun 2009 tentang Pekerjaan Indonesia.
Kefarmasian Pasal 24 Butir C
Menyerahkan obat keras, narkotika
dan psikotropika kepada masyarakat atas
resep dari dokter sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Identifikasi : Sangat jelas bahwa
apoteker telah melanggar ketentuan
perundang-undangan ini karena
menyerahkan obat keras kepada pasien
tanpa resep dokter. Walaupun pasien sudah
biasa menggunakan obat anti diabetes
tersebut, penyerahan obat tanpa resep
dokter dapat meningkatkan resiko
keselamatan pasien dan juga rentan
penyalahgunaan.
o Kode Etik
Pasal 1
Seorang Apoteker harus
menjunjung tinggi, menghayati dan
mengamalkan Sumpah Janji Apoteker.
Identifikasi : Apoteker harus
melaksanakan praktik profesi sesuai
landasan praktik profesi yaitu ilmu, hokum
dan etik. Dengan menyerahkan obat keras
kepada pasien tanpa resep dokter berarti
apoteker telah melanggar hukum yang
otomatis juga melanggar kode etik karena
telah menjalankan praktik profesi tanpa
landasan hukum.
Pasal 9
Seorang Apoteker dalam
melakukan praktik kefarmasian harus
mengutamakan kepentingan masyarakat.
menghormati hak azasi pasien dan
melindungi makhluk hidup insani.
Identifikasi : Dengan menyerahkan
obat keras tanpa resep dokter berarti
apoteker telah membahayakan keselamatan
pasien, karena bisa saja pasien lupa cara
menggunakannya dan juga rentan
disalahgunakan.
o Pedoman Disiplin
Poin 1
Melakukan praktik kefarmasian
dengan tidak kompeten.
Identifikasi : Apoteker melakukan
praktik kefarmasian dengan tidak
kompeten karena menyerahkan obat
antidiabetes yang merupakan obat keras
kepada pasien.
Poin 6
Tidak membuat dan/atau tidak
melaksanakan Standar Prosedur
Operasional sebagai Pedoman Kerja bagi
seluruh personil di sarana
pekerjaan/pelayanan kefarmasian, sesuai
dengan kewenangannya.
Identifikasi : Apoteker tidak
melaksanakan SPO di sarana pelayanan
kefarmasian
Poin 12
Dalam penatalaksanaan praktik
kefarmasian, melakukan yang seharusnya
tidak dilakukan atau tidak melakukan yang
seharusnya dilakukan, sesuai dengan
tanggung jawab profesionalnya, tanpa
alasan pembenar yang sah, sehingga dapat
membahayakan pasien.
Identifikasi : Apoteker seharusnya
tidak menyerahkan obat keras kepada
pasien tanpa resep dokter sehingga berarti
apoteker melakukan hal yang seharusnya
tidak dilakukan.
Poin 13
Melakukan pemeriksaan atau
pengobatan dalam pelaksanaan praktik
swa-medikasi (self medication) yang tidak
sesuai dengan kaidah pelayanan
kefarmasian.
Identifikasi : Seharusnya untuk
swamedikasi apoteker tidak boleh
menyerahkan obat keras kepada pasien,
artinya apoteker telah melakukan
swamedikasi yang tidak sesuai dengan
kaidah pelayanan kefarmasian.
37) Apoteker tidak Kata Kunci: PP 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Sanksi Dengan mewajibkan apoteker untuk selalu
berada di Apotek yang Apoteker yang tidak Kefarmasian  Peringatan secara ada dan berpraktik di apoteknya.
berlokasi yang sama ada di apotek selama Pasal 20 : Dalam menjalankan Pekerjaan tertulis kepada
dengan sebuah klinik, jam kerja kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan APA secara tiga
pelayanan resep Kefarmasian, Apoteker dapat dibantu oleh kali berturut-turut
dilakukan oleh tenaga Apoteker pendamping dan/ atau Tenaga Teknis dengan tenggang
paramedis yang ada di Kefarmasian. waktu masing-
klinik tersebut Pelanggaran Pedoman Disiplin masing dua bulan.
Butir 2 :Membiarkan berlangsungnya praktek  Pembekuan izin a
kefarmasian yang menjadi tanggung jawabnya, potek untuk jangk
tanpa kehadirannya, ataupun tanpa Apoteker a waktu selama-
pengganti dan/ atau Apoteker pendamping yang lamanya enam
sah. bulan sejak
dikeluarkannya
Identifikasi : Menurut PP 51/2009 tentang penetapan pembe
Pekerjaan Kefarmasian dalam penanggung kuan izin apotek.
jawab adalah Apoteker dapat dibantu oleh  Pembekuan
Apoteker pendamping dan/ atau Tenaga Teknis dan/atau
Kefarmasian, maka kalau tidak ada Apoteker di pencabutan Surat
Apotek seharusnya tidak boleh apotek masih Tanda Registrasi
berjalan. Apoteker atau
Surat Izin Praktik
Apoteker.

38) seorang Dokter Menyerahkan obat Pelanggaran pedoman disiplin Sanksi jika apoteker Perlu adanya resep untuk dapat
tidak berada di apotek:
datang ke Apotik, Amlodipin sebanyak Dalam penatalaksanaan praktek kefarmasian, menyerahkan obat Amlodipin kepada
 Peringatan secara
bermaksud membeli 10 tablet kepada melakukan yang seharusnya tidak dilakukan tertulis. dokter tersebut
Amlodipin sebanyak Dokter untuk dirinya atau tidak melakukan yang seharusnya  Pembekuan izin a
potek.
10 tablet untuk dirinya sendiri dilakukan, sesuai dengan, sesuai dengan  Rekomendasi Perlu pemahaman yang mendalam
sendiri. Setelah tanggung jawab profesionalnya, tanpa alasan pembekuan mengenai peraturan perundang-
dan/atau
bertanya tentang pembenar yang sah, sehingga dapat pencabutan Surat undangan.
identitas dokter membahayakan pasien Tanda Registrasi
Apoteker atau
tersebut, Apoteker Surat Izin Praktik
Kode etik apoteker Apoteker.
menyerahkan obat Seorang Apoteker hendaknya menjauhkan diri
tersebut. dari tindakan atau perbuatan yang dapat
mengakibatkan berkurangnya atau hilangnya
kepercayaan masyarakat kepada sejawat
petugas kesehatan lainnya.