Anda di halaman 1dari 59

HALAMAN 6 - 1

6.1. PRODUK SEKTOR PERTANIAN


6.1.1. KOMODITAS KENTANG (HORTIKULTURA SAYURAN)

U
A. POTENSI PRODUKSI
saha Tani Kentang di Kabupaten Banjarnegara sudah di usahakan oleh petani
sejak lama dan berlangsung secara turun-temurun. Pengusahaan dilakukan
secara modern dengan tingkat intensifikasi yang tinggi. Kabupaten
Banjarnegara yang mempunyai ketinggian lebih dari 1.000 meter diatas
permukaan laut serta hawanya yang dingin sangat memungkinkan untuk tanaman
kentang berkembang dengan baik.
Tanaman kentang tersebar di 4 kecamatan, yaitu Pejawaran, Batur, Wanayasa, dan
Kalibening. Kapasitas produksi kentang Kabupaten Banjarnegara 133.417,5 ton/tahun.
Dan luas panen tanaman kentang Kabupaten Banjarnegara 8.434 Ha.
TABEL: 6.1. LUAS PANEN DAN PRODUKSI TANAMAN KOMODITAS KENTANG
Kecamatan Luas Panen (Ha) Produksi (ton) Rata-rata (ton/Ha)
1. Pejawaran 2.560,00 275.600,00 107,66
2. B a t u r 4.432,00 760.182,00 171,52
3. Wanayasa 207,00 27.744,00 134,03
4. Kalibening 17,00 1.874,00 110,24
Jumlah 7.216,00 1.065.400,00 147,64
Tahun 2011 7.300,00 997.563,00 136,65
Tahun 2010 7.339,00 1.096.132,00 149,36
Tahun 2009 9.060,00 1.250.772,00 138,05
Tahun 2008 8.434,00 1.334.175,00 158,19
Sumber Data : Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara

Kentang Sebagai salah satu produk ungulan , kentang terus di budidayakan khususnya
di daerah yang paling cocok yaitu Kecamatan Batur dan Kecamatan Pejawaran.
Sebagian hasil pertanian keluarga ubi_ubian berkalori rendah ini dikirim ke Jakarta an
kota-kota besar lainnya di Indonesia. Hal ini selain untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi rumah tangga, restoran, juga untuk PT. Indofood sebagai produsen makanan
olahan.
HALAMAN 6 - 2

Gambar : Potensi agribisnis tanaman kentang

B. POTENSI PENGEMBANGAN KENTANG


Bagi Indonesia beras sebagai makanan pokok, namun dengan adanya fenomena
semakin meningkatnya harga dan impor beras merupakan indikasi merapuhnya
ketahanan pangan. Berbagai studi telah memprediksi bahwa ketahanan pangan
berkelanjutan tidak mungkin dapat terwujud jika tidak disertai dengan penguatan
program diversifikasi.
Komparasi dengan bahan pangan utama lain menunjukkan bahwa kentang memiliki
potensi dan prospek yang baik untuk mendukung program diversifikasi dalam rangka
mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan. Sampai saat ini, komoditas kentang
masih diposisikan sebagai salah satu jenis tanaman sayuran. Oleh karena itu hendaknya
direkomendasikan sebagai tanaman ketahanan pangan, prioritasinya perlu
dipertimbangkan tidak lagi sebagai komoditas sayuran, tetapi sebagai salah satu
komoditas prioritas non-beras (pangan). Perbaikan kebijakan yang mendorong
penajaman program penelitian pemuliaan untuk menempatkan pencapaian
output (pelepasan varietas) dan pencapaian outcome ; (adopsivarietas) secara
proporsional harus segera dilakukan. Re-evaluasi varietas yang telah dilepas harus
dilaksanakan sampai tuntas untuk memperoleh umpan balik bagi program perakitan
varietas baru agar tidak berhenti di tahap pelepasan saja, tetapi terus berlanjut sampai
tahap adopsi.

Kentang prioritasinya perlu dipertimbangkan tidak lagi sebagai komoditas


sayuran, tetapi sebagai salah satu komoditas prioritas non-beras (pangan), dan
direkomendasikan sebagai tanaman ketahanan pangan.

Kebijakan pengembangan varietas perlu dirancang secara komprehensif dan


melembaga untuk mendorong:
(a) peningkatan partisipasi petani, konsumen, prosesor dan stakeholders lainnya
dalam proses seleksi varietas;
(b) pemahaman tentang karakteristik-karakteristik varietas utama yang dikehendaki
oleh petani, konsumen, prosesor dan stakeholders lainnya;
(c) peningkatan kemampuan untuk merancang, mendokumentasi dan menganalisis
persepsi stakeholders dalam seleksivarietas;
(d) perhatian lebih serius terhadap tahapan on-farm evaluation under farmer
managed conditions dan
HALAMAN 6 - 3

(e) perbaikan strategi bisnis program untuk memproduksi benih berkualitas dengan
jumlah yang cukup pada saat menginisiasi kegiatan diseminasi dan difusivarietas,
Segera setelah varietas tersebut dilepas, berbagai masalah kelembagaan dapat
diatasi jika didukung oleh kebijakan pengembangan varietas kentang yang juga
mengakomodasi promosi varietas dan strategi diseminasi/difusi yang inovatif.
Kebijakan ketahanan benih harus memberlakukan berbagai aturan dan regulasi seperti
prosedur pelepasan varietas, intellectual property rights program sertifikasi, dan
standarisasi secara setara dan proporsional terhadap sistem formal dan informal.
Kebijakan penelitian dan pengembangan sistem perbenihan kentang perlu memberikan
penekanan terhadap:
(a) harmonisasi distribusi benih dan varietas untuk menghindarkan marginalisasi
kontribusi sistem informal terhadap sistem perbenihan kentang.
(b) identifikasi titik-titik keterkaitan antara sistem formal dan informal agar dapat
bersinergi, sehingga setiap sistem dapat menawarkan kekuatannya masing-masing
untuk mencapai manfaat bersama.
(c) Tuntutan peningkatan produksi kentang untuk mendukung ketahanan pangan
tentu akan menimbulkan tekanan yang lebih tinggi terhadap ekosistem dataran
tinggi.

KENTANG GORENG KRIPIK KENTANG

KRUPUK KENTANG STICK KENTANG GORENG


Gambar : Diversifikasi produk olahan kentang
HALAMAN 6 - 4

C. PERMASALAHAN DAN SOLUSI


Untuk memajukan pertanian, ada 3 hal yang selalu berhubungan, yaitu pendapatan
petani, komoditas dan lingkungan. Berkaitan dengan kesejahteraan petani, perhatian
dan upaya-upaya tertentu harus selalu dilakukan untuk meningkatkan pendapatan
petani, tetapi sekian kali upaya tersebut ditempuh pendapatan petani selalu saja
rendah.
Komoditas berkait dengan pengembangan usaha bisnis pertanian. Penanganan usaha
pertanian ini harus dirubah dari penanganan pola tradisional. Pengelolaan komoditas
usaha pertanian adalah sebuah sistem. Sistem ini bermula dari hal paling dasar yaitu
pemilihan bibit, pengelolaan bibit, budidaya tanam yang benar, pengelolaan paska
panen, pengepakan, manejemen pemasaran.
Faktor Lingkungan : Faktor yang paling aktual dan paling riskan dalam pengembangan
pertanian adalah faktor lingkungan. Bila upaya ini tidak terkendali, maka kerusakan
lingkungan ancamanya.
Solusi : Berkaitan dengan kerusakan lingkungan di Dieng akibat eksploitasi tanah secara
berlebihan untuk tanaman kentang, maka harus ada upaya untuk konservasi dengan
segera agar tidak semakin parah keadaannya. Cara-cara persuasif dan alternatif bisa
ditempuh untuk upaya perbaikan lingkungan agar petani peduli dan sadar akan bahaya
ancaman kerusakan lingkungan bagi masa depan.

Faktor Harga Kentang : Harga kentang lokal kalah bersaing dengan kentang impor asal
China. Hal ini disebabkan karena produktifitas petani kentang di Dieng masih sangat
rendah. Terbatasnya ketersediaan bibit berkualitas bagi petani, sehingga harganya
menjadi tinggi. Untuk itu, Banjarnegara ditargetkan bisa berswasembada bibit kentang
pada 2014
Solusi:
1. Upaya konservasi dengan memilih pohon yang memberikan alternatif ekonomi bagi
petani.
2. Sebagai solusinya penangkaran bibit unggul kentang. Diharapkan produktifitas
meningkat, juga akan menekan biaya pembelian bibit yang selama ini didatangkan
dari luar kota.
3. Solusi kedua adalah kebijakan pemerintah yang harus berpihak kepada petani dalam
distribusi impor produk kentang.
HALAMAN 6 - 5

6.1.2. KOMODITAS SALAK (HOTIKULTURA FRUTIKULTUR)


A. POTENSI PRODUKSI
Kabupaten Banjarnegara adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah penghasil salak
pondoh utama. Luas areal lahan salak pondoh mencapai 8.502 Ha dengan jumlah
rumpun produktif ± 14.834.415 pohon. Secara umum sentra perkebunan salak
pondoh berada di Kecamatan Madukara, Kecamatan Banjarmangu Kecamatan Sigaluh,
Kecamatan Pagentan dan Kecamatan Karangkobar. Sekitar 200 hektar diantaranya yaitu
di Kecamatan Madukara dan Banjarmangu telah diregistrasi sehingga dapat dijadikan
sumber produksi untuk tujuan ekspor.
Total produksi salak di Kabupaten Banjarnegara pada tahun 2011 sebesar 263,028,823
kg. Produksi salak tertinggi adalah di Kecamatan Madukara (219,263,221 kg),
Kecamatan Karangkobar (13.559.800 kg) Kecamatan Banjarmangu (9.660.000 kg),
Kecamatan Sigaluh (5.709.500 kg) Kecamatan Pagentan (5.500.000 kg). Jenis salak yang
dikembangkan ada 2 macam yaitu jenis lokal dan pondoh dengan perbandingan jumlah
tanaman 50:50 %.

TABEL: 6.2. LUAS PANEN DAN PRODUKSI TANAMAN KOMODITAS KENTANG DI 4


KECAMATAN
Jml Pohon Panen Produksi Rata- rata
Kecamatan
(Rumpun/ Clump) (Kg) (Kg/Rpn)
O1.Susukan 5.790,00 99.900,00 17,25
02. Purwareja Klampok - - -
03. Mandiraja 9.346,00 133.200,00 14,25
04. Purwanegara 2.553,00 21.600,00 8,46
05. B a w a n g 9.904,00 51.500,00 5,20
06. Banjarnegara 332.140,00 3.036.000.00 9,14
07. Pagedongan 241.352,00 3.720.6000 15,42
08. S i g a l u h 995.200,00 4.251.60000 4,27
09. Madukara 6.829.602,00 277.387.500,00 40,62
10. Banjarmangu 4.863.917,00 46.848.400,00 9,63
11. Wanadadi 8.124,00 15.600,00 1,92
12. R a k i t - - -
13. Punggelan 60.295,00 1.331.900,00 22,09
14. Karangkobar 453.387,00 7.436.300,00 16,40
15. Pagentan 1.679.678,00 32.028.500,00 19,07
16. Pejawaran 4.200,00 25.500,00 6,07
17. B a t u r - - -
18. Wanayasa 113.146,00 1.575.900,00 13,93
19. Kalibening 70.000,00 1.105.000,00 15,79
20. Pandanarum 2.500,00 15.000,00 6,00
Jumlah 15.681.134,00 379.084.000,00 24,17
Tahun 2011 14.834.415,00 263.028.823,00 17,73
Tahun 2010 14.855.786,00 228.226.078,00 15,36
Tahun 2009 13.127.941,00 215.819.300,00 16,44
Tahun 2008 12.651.800,00 193.662.100,00 15,31
Sumber Data : Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara
HALAMAN 6 - 6

B. POTENSI PERMINTAAN
Dengan produksi demikian besar dimana
salak pondoh Banjarnegara diperdagangkan?
Jawabannya adalah Pasar Jagabela
Banjarnegara yang dibangun tahun 2009. Di
pasar ini salak datang dari beberapa
Kecamatan dan pergi ke seantero Nusantara,
bahkan mancanegara. Jakarta, Tangerang,
Bandung, Batam, Palembang, Kalimantan,
Sulawesi adalah sebagian daerah tujuan salak
pondoh Banjarnegara. Untuk ekspor
dilaporkan sudah mencapai China dan Singapura. Agar tetap dapat memperoleh
keuntungan yang layak, beberapa kelompok tani melakukan pengolahan salak menjadi
kerupuk dan dodol salak.
Permintaan terhadap buah salak yang datang dari pasar lokal dan pasar nasional
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah :
(a) dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk yang berminat pada buah salak
sebagai dampak keberhasilan program penyuluhan dan program peningkatan gizi
masyarakat yang dilaksanakan oleh pemerintah,
(b) tingkat harga salak di pasar eceran,
(c) tingkat harga buah-buahan lainnya, dan
(d) tingkat pendapatan konsumen buah salak atau kekuatan daya beli masyarakat
pada umumnya.
Buah salak dapat dipanen hampir disepanjang tahun menyebabkan buah ini dapat hadir
pula di pasar lokal dan pasar nasional relatif sepanjang tahun pula. Dengan demikian
buah salak yang merupakan salah satu buah di Indonesia yang dapat meningkatkan
kesejahteraan umum masyarakat hanya karena adanya kesinambungan ketersediannya
di pasar eceran.
HALAMAN 6 - 7

Permintaan yang datang dari pasar lokal dan nasional juga akan datang dari sektor
industri olah lanjut yang menggunakan buah salak sebagai bahan bakunya. Penyediaan
jenis makanan mengggunakan buah salak segar sebagai bahan baku akan menambah
kemungkinan semakin besarnya permintaan buah salak segar untuk juice salak, salak
kaleng dan manisan buah salak.
Buah asli Indoensia ini mempunyai potensi untuk dipasarkan ke luar negeri.
Kecenderungan meningkatnya volume pemasaran buah salak ke luar negeri sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :
a) Buah salak harus tidak cepat busuk;
b) Buahnya harus berdaging tebal;
c) Buahnya memiliki rasa manis, boleh sedikit asam tetapi harus tidak ada rasa sepet;
d) Kulit buahnya mudah dikupas;
e) Buahnya segar dan tidak masir. Sepanjang buah salak dapat dihasilkan dengan ciri-
ciri seperti diatas dan sifat-sifat ini bertahan sampai di konsumen akhir di luar negeri,
maka buah salak ini mempunyai potensi besar untuk terus ekspor.
Melimpahnya buah salak yang bermutu seperti di atas sepanjang tahun akan
menempatkan buah ini sebagai mata dagangan yang berpotensi untuk mensubstitusi
buah impor, bahkan disamping itu dapat pula menganeka-ragamkan ketersediaan buah.
Besarnya suplai atau penawaran buah salak akan sangat dipengaruhi oleh beberapa
faktor sebagai berikut :
a) Kecenderungan meningkatnya luas areal tanam salak;
b) Iklim;
c) Harga sarana reproduksi;
d) Perkembangan teknologi yang diterapkan untuk memproduksikan buah salak;

C. PENGEMBANGAN
Pengembangan pasar buah salak masih sangat potensial untuk ditingkatkan. Diawali
dari perbaikan mutu buahnya dengan penerapan teknologi yang maju, yaitu melalui
pemangkasan terhadap buah yang kecil-kecil, sehingga buah yang besar dapat tumbuh
secara maksimal (merata). Mengefisienkan proses pemasaran sehingga dari tingkat
harga di pasar konsumen sebagian besar dapat diterima kembali oleh petani produsen.
Melalui program-program penyuluhan yang dapat meningkatkan dan tumbuhnya minat
masyarakat luas untuk membeli buah salak, melalui penyediaan buah salak di pasar-
pasar eceran dalam kemasan-kemasan buah salak yang sesuai dengan derajat mutu
buah dan diversifikasi produk buah salak dengan proses lanjutan.
Bilamana buah salak telah berhasil diekspor maka besaran harga di tingkat produsen
dapat diturunkan dari titik-titik pasar dan tingkat harga salak di pasar-pasar yang
bersangkutan yang sedang berlaku. Untuk harga di tingkat produsen salak pondoh
tercatat sebesar Rp. 5.000.
HALAMAN 6 - 8

Dodol salak merah dibuat dengan campuran tepung ketan sebagai perekat dan rasa
kenyal. Rasa salak tetap kuat dengan bau harum terasa.

Dodol salak Kripik salak

Krupuk salak Dodol salak


HALAMAN 6 - 9

Manisan salak Manisan salak

Brownies salak pondoh Brownies salak pondoh


Gambar : Diversifikasi olahan produk salak
6.1.3. KOMODITAS KELAPA (TANAMAN PERKEBUNAN)
Kabupaten Banjarnegara mempunyai potensi yang besar untuk menjadi sentra produksi
tanaman perkebunan, Berdasarkan data dari Banjarnegara dalam angka 2012 terdapat 17
komoditas tanaman perkebunan di Kabupaten Banjarnegara. Dari 17 komoditas yang yang
ada terdapat 4 komoditas yang dinyatakan memiliki keunggulan yang khas dan unik yaitu :
kelapa, teh, kopi, dan melati gambir, hal ini sesuai dengan trianggulasi hasil analisis dengan
LQ, analisis daftar skala prioritas dan analisis SWOT.

A. POTENSI PRODUKSI KELAPA


Sebagai “Tree of Life” kelapa tidak hanya pohonnya saja yang bermanfaat tetapi semua
komponen tanaman kelapa mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia. Pohon
kelapa merupakan tanaman yang banyak ditemukan di wilayah Kabupaten
Banjarnegara, karena sudah sejak lama terbiasa dalam membudidayakan kelapa
sebagai salah satu sumber pendapatan utama mereka. Dari tanaman kelapa itulah
mereka memperoleh pendapatan untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari
maupun untuk membiayai sekolah anak-anak mereka. Tanaman kelapa sendiri
termasuk tanaman yang cukup istimewa. Karena, hampir seluruh bagian tanaman
tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai produk kebutuhan sehari-hari.
Pada tahun 2012 komoditas kelapa yang memiliki produksi paling besar adalah kelapa
deres dengan produksi sebanyak 10,273,31 ton. Namun produksi kelapa deres
mengalami penurunan sampai tahun 2012 menjadi 8.510,90 ton. Di bawah ini adalah
tabel yang menjelaskan sebaran tanaman rakyat kelapa di setiap kecamatan dan
lembaga penjualan hasil komoditas kelapa di Kabupaten Banjarnegara.
HALAMAN 6 - 10

TABEL: 6.3. LUAS TANAMAN PERKEBUNAN DAN PRODUKSI KOMODITAS KELAPA


MENURUT KECAMATAN DI KABUPATEN BANJARNEGARATAHUN 2012
KELAPA DERES HIBRIDA KELAPA DALAM
KECAMATAN LUAS (HA) PROD LUAS PROD LUAS PROD
(TON) (HA) (TON) (HA) (TON)
01. Susukan 647,75 5.257,56 - - 2 .119,59 1 .735,00
02. Purwareja Klampok 78,40 819,03 - - 3 21,91 1 86,28
03. Mandiraja 210,96 2.060,63 - - 1 .180,91 8 17,26
04. Purwanegara 177,45 1.003,00 - - 1 .140,90 1 .000,87
05. B a w a n g 67,82 101,04 6,72 6 ,00 8 58,96 1 .240,00
06. Banjarnegara 18,50 114,57 3,50 1 ,60 4 27,05 3 00,74
07. Pagedongan 34,00 7,70 2,90 0 ,51 1 .093,00 3 11,60
08. S i g a l u h 36,50 270,49 - - 7 85,25 6 48,00
09. Madukara - - - - 6 88,00 4 32,12
10. Banjarmangu 12,90 100,00 0,30 0 ,05 5 71,91 6 83,30
11. Wanadadi - - 4,00 3 ,80 7 00,00 3 52,36
12. R a k i t 95,80 151,29 8,10 1 ,63 9 36,65 1 40,13
13. Punggelan 51,10 388,00 - - 1 .246,75 6 45,90
14. Karangkobar - - - - 2 0,23 6 ,70
15. Pagentan - - - - 5 7,08 2 ,06
16. Pejawaran - - - - - -
17. B a t u r - - - - - -
18. Wanayasa - - - - 8 ,40 4 ,08
19. Kalibening - - - - 8 ,43 4 ,50
20. Pandanarum - - - - -
Jumlah 1.431,18 10.273,31 25,52 1 3,59 1 2.165,02 8 .510,90
Tahun 2011 1 .442,53 11.668,45 27,64 2 9,77 1 2.141,36 9 .354,13
Tahun 2010 1 .472,43 12.414,87 29,14 2 6,22 1 2.074,51 9 .347,51
Tahun 2009 1 .500,35 12.838,45 28,02 4 2,27 1 2.104,46 9 .587,73
Tahun 2008 1.329,10 13.922,91 30,02 30,60 1 2.042,28 9 .950,65
Sumber Data : Dishutbun Kabupaten Banjarnegara

Industri pengolahan yang ada di Kabupaten Banjarnegara salah satunya adalah industri
gula kelapa yang pusatnya terletak di Desa Gumelem wetan Kecamatan Susukan. Faktor
yang mempengaruhi lokasi karena dekat dengan bahan baku, tersedianya tenaga kerja
dan keputusan perilaku usaha.
Dari gambar di samping dapat dilihat terdapat dua perbedaan alur penjualan, jika
penjualan dilakukan melalui tengkulak maka margin nilai akan lebih tinggi jika
dibandingkan menjual langsung kepedagang besar tanpa melalui tengkulak.
HALAMAN 6 - 11

Petani kelapa dalam

Tengkulak Pasar tradisional

Pedagang besar

Pedagang pengecer

Konsumen

GAMBAR: 6.1. ORGANISASI LEMBAGA PEMASARAN KELAPA

B. PROSPEK, POTENSI, DAN ARAH PENGEMBANGAN


Selama ini produk olahan kelapa yang dihasilkan di kabupaten Banjarnegara masih
terbatas baik dalam jumlah maupun jenisnya. Padahal, sebagai the tree of life banyak
sekali yang dapat dimanfaatkan dari setiap bagian pohon kelapa. Produk-produk yang
dapat dihasilkan dari buah kelapa dan banyak diminati karena nilai ekonominya yang
tinggi diantaranya adalah VCO, AC, CF, CP, CC, serta oleokimia yang dapat menghasilkan
asam lemak, metal ester, fatty alkohol, fatty amine, fatty nitrogen, glyserol, dan lain-
lainnya. Demikian pula batang kelapa juga merupakan bahan baku industri untuk
menghasilkan perlengkapan rumah tangga (furniture) yang masih prospektif untuk
dikembangkan.
a) Daun kelapa dapat dimanfaatkan untuk membuat sapu lidi,
b) Bunga kelapa dapat disadap niranya yang kemudian dapat diproses menjadi gula
kelapa.
c) Kayu kelapa yang berasal dari batang pohon kelapa banyak dimanfaatkan sebagai
bahan bangunan disamping sebagai bahan baku untuk pembuatan furniture.
d) Dari buah kelapa, selain buahnya, sabut kelapa bermanfaat untuk memproduksi
berbagai barang kerajinan seperti kemoceng, tambang sabut kelapa atau keset
sabut kelapa. Belakangan, sabut kelapa dikombinasi dengan lateks karet
dimanfaatkan untuk membuat busa sabut kelapa untuk pembuatan jok mobil, kasur
atau matras dan lain-lain.
e) Batok kelapa dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai barang kerajinan seperti
mulai dari kancing, manik-manik, berbagai jenis asesoris, hiasan interior, piring,
taplak meja hingga ubin batok kelapa yang sangat indah.
f) Daging buah kelapa dimanfaatkan untuk memproduksi santan kelapa yang banyak
dibutuhkan untuk kebutuhan memasak sebagai bumbu dapur. Santan kelapa juga
dapat diproses lebih lanjut menjadi minyak goreng kelapa (klentik) yang memiliki
aroma yang sangat khas. Selain dapat diparut untuk diambil santannya, daging buah
kelapa juga dapat diproses terlebih dahulu menjadi kopra. Kopra sendiri merupakan
bahan baku utama untuk pembuatan minyak kopra. Baik kopra maupun minyak
kopra selama ini menjadi komoditi dagang yang banyak dicari importir dari
mancanegara.
HALAMAN 6 - 12

NATA
KELAP
A
VINEGAR
AIR
KECAP

MINUMA
VCO
DC
PARUT CONCENT
SKIM MILK
COCOMI
SKIM COCO
SHAKE
SEMI
DAGING KULIT
COCO

M,GORE
BUAH CCO
OLEOKIM
KOPRA

PAKAN
TEPUNG
TEMPURU TEPUNG
NG ARANG
AKTIF

BERKARE
SERAT
SABUT GEOTEX
COCOPE
FURNITUR
SERAT
BATAN KAYU BANGUNA
G NE
COCOPE

LIDI KERAJINA
N

GAMBAR: 6.2. POHON INDUSTRI KELAPA


HALAMAN 6 - 13

KOPRA : merupakan salah satu produk turunan kelapa yang sangat penting,karena
merupakan bahan baku pembuatan minyak kelapa dan turunannya.

HASIL KERAJINAN TEMPURUNG :


tempurung kelapa tidak hanya untuk
bahan bakar, tetapi dengan bahan
tersebut dapat menghasilkan hasil
kerajinan tangan yang unik dan
memiliki nilai tambah, seperti : tas
cantik, asesoris, hiasan dinding,
tempat pensil dll.

Minyak kelapa murni, atau lebih dikenal dengan Virgin Coconut Oil (VCO), adalah
modifikasi proses pembuatan minyak kelapa sehingga dihasilkan produk dengan kadar
air dan kadar asam lemak bebas yang rendah, berwarna bening, berbau harum, serta
mempunyai daya simpan yang cukup lama yaitu lebih dari 12 bulan.
GAMBAR: 6.3. GAMBAR : POTENSI DAN PELUANG INVESTASI KOMODITAS KELAPA DAN
DIVERSIFIKASINYA
HALAMAN 6 - 14

C. POTENSI PASAR
Menurut APCC (Asean Pasific Coconut Community) perolehan ekspor produk kelapa
Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan perolehan negara pesaing utama
(Filipina). Padahal bila dibandingkan tingkat harga ekspor antar produk kelapa di kedua
negara, harga beberapa produk kelapa asal Indonesia lebih murah. Hal ini
mengindikasikan dalam perolehan manfaat perdagangan kelapa Indonesia pengaruh
faktor non harga masih cukup signifikan. Faktor-faktor yang terkait dengan: kualitas
produk, tingginya biaya transportasi, dan kompleksitas prosedur ekspor diduga turut
berpengaruh terhadap perolehan manfaat perdagangan (ekspor) produk kelapa
Indonesia yang belum maksimal.
Produk kelapa nasional sebagian besar merupakan komoditi ekspor, dengan pangsa
pasar sekitar 75%, sedangkan sisanya dikonsumsi oleh pasar domestik. Pada tahun 2010,
total ekspor aneka produk kelapa Indonesia mencapai US$ 396 juta dengan volume
ekspor 708 ribu ton yang dikirim ke negara-negara USA, Belanda, Inggris, Jerman,
Perancis, Spanyol, Italia, Belgia, Irlandia, Singapura dan ke negara-negara Asia lainnya
seperti Malaysia, Cina, Bangladesh, Sri Lanka, Taiwan, Korea Selatan dan Thailand.
Belakangan ini mulai dibuka penetrasi pasar aneka produk kelapa ke pasar-pasar baru
seperti negara-negara yang termasuk kelompok Asia Pasifik, Eropa Timur dan negara-
negara Timur Tengah. Permintaan pasar ekspor produk olahan kelapa umumnya
menunjukkan trend yang meningkat. Sebagai contoh, pangsa pasar DC Indonesia
terhadap ekspor DC dunia cenderung meningkat dalam lima tahun terakhir.
Kecenderungan yang sama terjadi pada arang aktif. Sebaliknya pangsa ekspor CCO
mengalami penurunan. Situasi ini mengisyaratkan perlunya mengarahkan
pengembangan produk olahan pada produk-produk baru yang permintaan pasarnya
cenderung meningkat (demand driven).

D. PERMASALAHAN DAN SOLUSI


(1) Kegunaan Kelapa saat ini.
Kelapa masih cenderung dikonsumsi dalam bentuk kelapa segar, dimana
konsumen utamanya adalah masyarakat perkotaan. Kondisi demikian
mengakibatkan produk kelapa tidak memiliki added value sehingga margin
keuntungannya juga kecil. Hal ini dapat diatasi jika dikembangkan beberapa
produk kelapa terutama santan untuk dapat mensubtitusi santan yang langsung
dibuat oleh rumah tangga dari kelapa segar, yang merupakan penggunaan yang
dominan, disamping hasil-hasil turunannya seperti kerajinan dari tempurung,
furniture dll seperti terlihat pada pohon industry kelapa.
(2) Kebijakan Harga, Perdagangan, dan Investasi.
Intervensi kebijakan pemerintah dalam mendukung agribisnis kelapa selama ini
masih sangat terbatas. Pada komoditas kelapa ini belum pernah diberlakukan
kebijakan harga output (price policy). Penentuan harga jual output selama ini
diserahkan pada mekanisme pasar. Status komoditas yang bukan merupakan
kebutuhan dasar dan tingkat penggunaan perkapita yang relatif rendah dapat
menjadi faktor penjelas belum adanya urgensi intervensi kebijakan harga pada
produk kelapa. Dalam perdagangan internasional untuk kegiatan ekspor kelapa
pemerintah belum melakukan intervensi kebijakan. Secara formal belum ada
pemberlakuan peraturan yang terkait dengan pembatasan ekspor, baik
menyangkut volume, bentuk produk maupun tujuan eskpor. Begitu pula kebijakan
HALAMAN 6 - 15

pendukung kegiatan ekspor, juga belum ada. Intervensi kebijakan pemerintah baru
dilakukan pada kegiatan impor. Intervensi tersebut berupa penetapan bea masuk
barang impor dan pajak penjualan yang selain memberikan pemasukan bagi
Negara juga dimaksudkan untuk melindungi para produsen di dalam negeri.
(3) Dalam bidang investasi, insentif pemerintah untuk mendukung pengembangan
agribisnis kelapa belum ada yang bersifat khusus. Penyediaan dan peningkatan
kualitas infra-struktur yang selama ini juga dilakukan di daerah-daerah sentra
produksi itupun tidak secara khusus dimaksudkan untuk mendukung
pengembangan investasi dalam agribisnis kelapa.
(4) Pada aspek modal, meskipun terdapat penyediaan fasilitas kredit untuk usaha
skala kecil dari beberapa bank pemerintah, tetapi pemberian fasilitas tersebut
tidak secara khusus disediakan untuk usaha yang mengelola atau mengolah
produk kelapa.

6.1.4. KOMODITAS AREN (TANAMAN PERKEBUNAN)


A. POTENSI PRODUKSI
Aren (Arenga pinnata)
merupakan tanaman yang
sudah lama dimanfaatkan
oleh penduduk Indonesia
dengan produk utama
berupa gula merah. Aren
memiliki berbagai nama
seperti nau, hanau, peluluk,
biluluk, kabung, juk atau ijuk
(aneka nama lokal di
Sumatra dan Semenanjung
Malaya); kawung, taren (Sd.);
akol, akel, akere, inru, indu
(bahasa-bahasa di Sulawesi); moka, moke, tuwa, tuwak (di Nusa Tenggara), dan lain-
lain.Yang menarik, tanaman aren tidak membutuhkan pemupukan untuk tumbuh, tidak
terserang hama dan penyakit yang mengharuskan penggunaan pestisida sehingga aman
bagi lingkungan. Bahkan boleh dikatakan produknya organik.
Aren dapat tumbuh pada lahan marginal di lereng gunung atau berbukit-bukit bersama
tanaman lain. aren diusahakan petani-petani kecil dan kebanyakan masih belum
dibudidayakan dan tumbuh liar di hutan-hutan sekitar pemukiman. Karena itu produk-
produk ekonomis dimanfaatkan rakyat yang berpenghasilan rendah.
Aren dijadikan program penanggulangan pengangguran dan kemiskinan di pedesaan.
Dari segi kelestarian lingkungan, aren tumbuh subur bersama-sama pohon lain. Oleh
karena itu, aren mampu menciptakan ekologi yang baik sehingga tercipta
keseimbangan biologi. Di samping itu, karena aren tumbuh bersama-sama pohon lain
dapat menjadi penahan air yang baik dan aren relatif sulit untuk terbakar.
Potensi aren di Banjarnegara luar biasa besar. Aren jauh lebih produktif dari tanaman
tebu dalam menghasilkan kristal gula dan biofuel per satuan luas. Produktivitasnya bisa
4-8 kali dibandingkan tebu, rendemen gulanya 12%, sedangkan tebu rata-rata hanya 7%.
Gula aren dinilai baik dan dapat dijadikan gula kristal yang dapat diekspor.
HALAMAN 6 - 16

TABEL: 6.4. LUAS TANAMAN PERKEBUNAN DAN PRODUKSI KOMODITAS AREN


MENURUT KECAMATAN DI KABUPATEN BANJARNEGARATAHUN 2012
No Kecamatan Luas (Ha) Produksi (Ton) Rata-rata (Ku/Ha)
01. Susukan - - -
02. Purwareja Klampok - - -
03. Mandiraja - - -
04. Purwanegara - - -
05. Bawang - - -
06. Banjarnegara 4,30 4,95 11,51
07. Pagedongan 4,10 0,20 0,49
08. Sigaluh 57,05 161,00 28,22
09. Madukara - - -
10. Banjarmangu 1,80 5,50 30,56
11. Wanadadi 3,00 1,75 5,83
12. Rakit - - -
13. Punggelan 30,70 47,16 15,36
14. Karangkobar 12,70 24,00 18,90
15. Pagentan 2,85 0,65 2,28
16. Pejawaran - - -
17. Batur - - -
18. Wanayasa - - -
19. Kalibening 37,90 36,90 9,74
20. Pandanarum 86,15 142,72 16,57

Jumlah 240,55 424,83 17,66


Tahun 2010 247,26 470,50 19,03
Tahun 2010 253,94 485,66 19,12
Tahun 2009 252,44 512,87 20,32
Tahun 2008 253,87 501,89 19,77
Sumber Data : Dishutbun Kabupaten Banjarnegara

B. PROSPEK PASAR
Aren memiliki potensi ekonomi yang tinggi karena hampir semua bagiannya dapat
memberikan keuntungan finansial. Buahnya dapat dibuat kolang-kaling yang digemari
oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Daunnya dapat digunakan sebagai bahan
kerajinan tangan dan juga sebagai atap, sedangkan akarnya dapat dijadikan bahan
obat-obatan. Dari batangnya dapat diperoleh ijuk dan lidi yang memiliki nilai ekonomis.
Proses produksi gula aren di tingkat petani dilakukan dengan peralatan yang sangat
sederhana, yaitu menggunakan kuali, pengaduk dan tungku kayu bakar.
Gula aren cetak dari hasil produksi para pengrajin (petani) biasanya langsung dijual ke
pasar atau pengumpul yang datang pada hari-hari tertentu. Selain daya tahan yang
pendek, gula aren cetak memiliki kelemahan, yaitu tingkat harga yang sangat fluktuatif.
Gula aren yang kaya nutrisi sejak lama bermanfaat untuk membuat aneka herbal guna
mengobati berbagai penyakit. Jika dikombinasikan dengan jahe, gula aren dapat
mencegah mual, mengatasi masalah pencernaan, melancarkan sirkulasi darah dan
mengobati arthritis (radang sendi). Perbedaan gula aren dengan gula kelapa (sering
disebut gula jawa atau gula merah) adalah pada sumber niranya dan komposisi
kimianya.
HALAMAN 6 - 17

Sumber nira Gula kelapa dibuat dari nira pohon kelapa, sedangkan gula aren dibuat dari
nira pohon aren. Komposisi kimia gula sederhana dan gula komplek antara gula aren
dan gula kelapa sangat berbeda. Juga kandungan zat gizi dan non gizinya sangat
berbeda. Gula aren dipakai sebagai bahan pembantu untuk menimbulkan warna,
memperkuat ketahanan warna dari pewarna alami.
Warna cokelatnya ternyata adalah kandungan serat makanan yang bermanfaat untuk
kesehatan pencernaan. Bagus untuk mengobati batuk demam. Terdapat senyawa –
senyawa yang berfungsi menghambat penyerapan kolesterol disaluran pencernaan.
Baik untuk Terapi Asthma, Kurang darah/Anemia, Lepra/kusta, dan untuk mempercepat
pertumbuhan Anak. Bagus utuk makanan awal bagi orang yang terkena penyakit typhus.
Sangat bagus bagi orang yang ingin menurunkan BP, mengurangi panas Pankreas,
menguatkan Jantung, membantu pertumbuhan gigi kuat.
Selain itu potensi nira aren yang lain adalah dapat diolah menjadi etanol, sumber energi
yang bisa diperbarui. Selain menghasilkan gula dan etanol, pohon aren juga bisa
memproduksi lidi, ijuk, daun untuk atap rumah, dan kayu dengan kualitas sangat baik.
Dari aren juga bisa dihasilkan makanan enak, yaitu kolang kaling. Aren mempunyai
potensi yang luar biasa besarnya dari segi ekonomi, pemerataan pendapatan, dan
penanggulangan kemiskinan, serta pelestarian lingkungan.

C. POTENSI PENGEMBANGAN AREN


Aren mempunyai potensi yang luar biasa besarnya dari segi
ekonomi, aren melalui suatu proses sangat sederhana
menghasilkan nira sebagai produk utama yang bisa
diproses jadi gula merah sebagai pengganti gula putih dan
etanol yang sangat penting untuk energi. Pemasok gula
aren di Jepang saat ini masih didominasi Thailand yang
menguasai pasar 49%, Australia 39%, dan Afrika Selatan
12%.
Dengan demikian dibutuhkan inovasi teknologi untuk
mengembangkan tanaman aren sebagai penghasil
bioetanol meliputi :

 sumber benih,
 budidaya,
 penyadapan nira dan
 pengolahan nira menjadi bioetanol.
Di Indonesia, berdasarkan data, kebutuhan bioetanol meningkat. Indonesia butuh 153
ribu KL bioetanol sedangkan pada 2011 lalu meningkat menjadi 272 ribu KL. Maka
potensi aren ke depan harus ada area khusus untuk aren sebagai bahan baku etanol.
Bahan baku memang masih sangat terbatas tapi untuk aren bisa dikembangkan.
HALAMAN 6 - 18

GULA JAWA : yang dibuat dari bunga pohon kelapa/aren, lebih sering digunakan
untuk bumbu dapur. Dalam satu hari, pankreas normal mampu mengubah 90 gram
(sekitar 9 sendok makan) gula merah menjadi energi. Jika dibandingkan, gula merah
adalah gula yang paling sehat di antara gula pasir dan gula batu.

GULA AREN terbuat dari nira/sari bunga pohon aren. Aromanya lebih khas dari pada
gula jawa. Umumnya berwarna lebih gelap dari gula jawa.
HALAMAN 6 - 19

GULA SEMUT :
- gula nira kelapa kristal memiliki daya simpan lebih lama yaitu sampai 1 tahun
dibanding gula kelapa pada umumnya yang hanya tidak lebih dari 1 bulan.
- Gula semut dgn berbagai rasa empon-2 (rasa jahe, kencur, kunir, kunir putih,
lengkuas, temu lawak dan temu kunci. Kegunaan untuk pengobatan ataupun
pencegahan gangguan kesehatan.

SERABUT : Produk primer sabut kelapa dapat diproses menjadi serat berkaret,
matras, geotextile, karpet, dan produk-produk kerajinan/industri rumah tangga.
Matras dan serat berkaret banyak digunakan dalam industri jok, kasur, dan pelapis
panas. Debu sabut dapat diproses jadi kompos dan cocopeat, dan particle
board/hardboard.Cocopeat digunakan sebagai substitusi gambut alam untuk industri
bunga dan pelapis lapangan golf. Di samping itu, bersama bristle dapat diolah
menjadi hardboard

D. KENDALA
Masalah pengembangan komoditas aren adalah pengetahuan mengenai aren masih
minim, karena hingga kini Banjarnegara belum melakukan pengembangan tanaman
aren sebagai tanaman pangan sekaligus bahan bakar nabati (BBN) sebagai bahan
altenatif dari energy fosil yang tak terbarukan.
Maka jika aren akan dikembangkan sebagai komoditas unggulan yang khas dan unik,
maka pengetahuan tentang aren harus ditambah :
 Pengetahuan yang mendesak adalah mengenai seleksi tanaman yang mempunyai
produktivitas tinggi dan cara perbanyakannya.
 Pengetahuan mengenai proses panen yang efisien dan efektif.
 Transportasi nira dari pohon ke pabrik agar tidak rusak.
 Sistem pengolahan hasil yang modern.
 Masalah organisasi dan manajemen, mulai dari organisasi petani, organisasi pabrik,
dan organisasi distribusi dari petani ke pabrik, serta manajemen yang mengelola
sistem agribisnis berbasis aren tersebut.
HALAMAN 6 - 20

6.1.5. KOMODITAS KOPI ARABIKA DAN KOPI ROBUSTA (TANAMAN PERKEBUNAN)


A. POTENSI PRODUKSI KOPI ARABIKA DAN KOPI ROBUSTA
Kabupaten Banjarnegara sebagai
daerah sentra pertanian termasuk
perkebunan di dalamnya, memegang
peranan strategis dalam
pertumbuhan ekonomi sektor
perkebunan menyediakan lapangan
kerja, menyediakan bahan baku bagi
industri hasil perkebunan dan
meningkatkan perolehan devisa
dengan jalan meningkatkan volume
eksport. Keunggulan komperatif
sektor perkebunan adalah ketersediaan lahan, iklim yang menunjang, ketersediaan
tenaga kerja yang mampu memperkuat saya saing. Ketersediaan lahan dan bahan baku
yang melimpah yang ditunjukan dengan data potensi luas areal perkebunan kopi di
Kabupaten Banjarnegara pada tahun 2012 seluas 1.859,79 Ha untuk kopi robusta
tersebar di semua kecamatan. Seluas 549,6 Ha untuk kopi arabika yang tersebar di 7
(tujuh) Kecamatan.
TABEL: 6.5. LUAS PANEN, PRODUKSI DAN RATA –RATA PRODUKSI KOPI DI KABUPATEN
BANJARNEGARA TAHUN 2011
Robusta Arabika
Kecamatan Luas Produksi Rata-rata Luas Produksi Rata-rata
(Ha) (Ton) (Ku/Ha) (Ha) (Ton) (Ku/Ha)
01. Susukan 29,75 0,20 0,07 - - -
02. Purwareja Klampok 4,41 0,55 1,25 - - -
03. Mandiraja 53,00 7,63 1,44 - - -
04. Purwanegara 34,24 32,23 9,41 - - -
05. B a w a n g 50,44 2,00 0,40 - - -
06. Banjarnegara 119,50 48,50 4,06 - - -
07. Pagedongan 34,00 5,95 1,75 - - -
08. S i g a l u h 56,75 11,40 2,01 - - -
09. Madukara 39,00 4,00 1,03 - - -
10. Banjarmangu 60,15 23,00 3,82 - - -
11. Wanadadi 176,75 19,18 1,09 - - -
12. R a k i t 20,04 1,11 0,55 - - -
13. Punggelan 124,25 60,06 4,83 - - -
14. Karangkobar 232,30 257,60 11,09 32,30 9,00 2,79
15. Pagentan 52,04 1,03 0,20 24,30 0,53 0,22
16. Pejawaran 158,50 41,00 2,59 221,02 4,00 0,18
17. B a t u r 12,50 0,45 0,36 9,60 0,06 0,06
18. Wanayasa 205,10 33,92 1,65 57,28 7,25 1,27
19. Kalibening 293,52 284,54 9,69 155,62 106,51 6,84
20. Pandanarum 103,55 41,08 3,97 49,50 19,12 3,86
Jumlah 1.859,79 875,43 4,71 549,62 146,47 2,66
Tahun 2011 1 .843,01 674,25 3,66 450,71 105,00 2,33
Tahun 2010 1 .817,31 666,70 3,67 4 45,99 102,70 2,30
Tahun 2009 1 .624,46 426,03 2,62 4 46,29 87,58 1,96
Tahun 2008 1.509,64 344,18 2,28 446,19 76,24 1,71
HALAMAN 6 - 21

Kopi Arabica dan robusta, namun robusta yang paling cocok ditanam di Indonesia

Kopi bubuk robustas asli Temanggung Bp. Imam Sajidin menjuarai The 5th
Indonesian Specialty Coffe Contest

B. JALUR PEMASARAN PRODUK


Kopi robusta di Kabupaten Banjarnegara diolah di Desa Binangun Kecamatan
Karangkobar sehingga Desa Ambal menjadi sentra pengolahan kopi robusta. Kondisi
lahan yang mendukung di Kecamatan Karangkobar untuk produksi kopi robusta
menjadikan bahan baku untuk diolah tercukupi. Faktor perilaku usaha yaitu adanya
kelompok tani “Gondo Arum” sebagai pencetus dan pemilik usaha pengolahan kopi
robusta memepengaruhi berkembangnya pengolahan kopi robusta di Kecamatan
Karangkobar. Ketersediaan tenaga kerja yang sebagian besar adalah petani di
Kecamatan Karangkobar juga mempengaruhi ketersediaan bahan baku dan tenaga
kerja dalam produksi kopi robusta di Kecamatan Karangkobar. Organisasi Lembaga
Pemasaran Kopi Robusta dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

PETANI (BAHAN BAKU)

KELOMPOK TANI GONDO ARUM PENGEPUL/TENGKULAK


(PENGOLAHAN)

HASIL PENGOLAHAN (BIJI HASIL PENGOLAHAN PEDAGANG BESAR


KOPI KERING) ( KOPI BUBUK) (KOPI MENTAH)

PEDAGANG SURABAYA, PEDAGANG KECIL


BANDUNG, (KOPERASI
YOGYAKARTA) BANJARNEGARA)

KONSUMEN

GAMBAR: 6.4. ORGANISASI LEMBAGA PEMASARAN KOPI (ANALSIIS KONSULTAN, 2013)


HALAMAN 6 - 22

Dari gambar di atas dapat dilihat penjualan bahan baku kopi dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu langsung ke kelompok tani atau melalui tengkulak, jika melalui tengkulak
maka harga akan lebih murah. Tengkulak juga menjualnya kepada kelompok tani fondo
arun, namun ada tengkulak yang menjual dalam bentuk mentah ke pedagang besar di
luar Kabupaten Banjarnegara yang membuat pasokan bahan baku untuk diolah
berkurang.

C. PROSPEK, POTENSI, DAN ARAH PENGEMBANGAN


Tanaman kopi merupakan komoditi ekspor yang cukup menggembirakan karena
mempunyai nilai ekonomis yang relative tinggi di pasaran dunia, di samping itu
tanaman kopi ini adalah salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan di
Kabupaten Banjarnegara. Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan harga kopi
Robusta di pasaran dunia antara lain :
 Kelangkaan pasok jenis kopi Arabika.
 Kopi robusta mengalami over supply.
 Penggunaan kopi Robusta semakin tinggi.
 Situasi pasaran dunia untuk jenis Robusta menurun sehingga ICO (International
Coffee Organization) melakukan pemotongan kuota sebanyak 2 kali lipat dalam
setahun.
Dari hal tersebut perlu adanya usaha pemilihan jenis kopi yang mempunyai nilai
ekonomis dan rasa yang relatif baik serta yang tahan terhadap penyakit karat daun.
Usaha untuk merebut peluang pasar kopi antara lain dengan Pengembangan tanaman
kopi Arabika melalui kegiatan peremajaan, peluasan dan rehabilitasi tanaman kopi dari
kopi Robusta menjadi kopi Arabika.
Sebagian besar produksi kopi di Indonesia merupakan komoditas perkebunan yang
dijual ke pasar dunia. Menurut International Coffee Organization (ICO) konsumsi kopi
meningkat dari tahun ke tahun sehingga peningkatan produksi kopi memiliki peluang
besar untuk mengekspor kopi ke negara-negara pengonsumsi kopi utama dunia seperti
Uni Eropa, Amerika Serikat dan Jepang.
Bagi sebagian besar negara-negara berkembang, kopi memegang peranan penting
dalam menunjang perekonomiannya, baik sebagai penghasil devisa di luar minyak dan
gas maupun sebagai mata pencaharian rakyat. Saat ini Indonesia tergolong negara
produsen kopi terbesar keempat setelah Brazil, Vietnam dan Colombia. Produksi kopi
Indonesia berpeluang meningkat beberapa tahun mendatang seiring dengan
peningkatan produksi kopi dan perluasan lahan penanaman kopi yang dilakukan oleh
petani. Gambaran Peluang/Prospek komoditi perkebunan teh antara lain sebagai
berikut :
a) Areal perkebunan kopi rakyat di Banjarnegara, berkembang dengan baik dengan
terdapatnya sentra-sentra pekebunan kopi rakyat, hal ini sejalan dengan makin
meningkatnya permintaan pasar di dalam dan luar negeri akan kopi.
b) Peningkatan permitaan tersebut juga dikarenakan meningkatnya penduduk,
pendapatan serta pemanfaatan produk kopi serta turunannya untuk berbagai
macam bahan makanan.
c)Tanpa mengesampingkan pasar ekspor, peluang kopi di dalam negeri pun sangat
besar hal ini ditunjukan dengan berkembangnya industri hilir berbahan baku kopi
untuk berbagai bentuk bahan makanan / konsumsi
d) Dengan jumlah penduduk yang lebih 220 Juta jiwa serta meningkatnya pendapatan
perkapita pendududuk Indonesia, menumbuhkan konsumsi kopi perkepita menjadi
HALAMAN 6 - 23

dua kali lipat dari saat ini (0,12 kg/kapita/pertahun) akan memerlukan volume
produk kopi serta lahan perkebunan yang sangat besar.

D. PERMASALAHAN DAN SOLUSI


Prospek ekspor kopi robusta Indonesia di pasar internasional sangat menjanjikan. Hal
ini dapat terjadi karena trend konsumsi atau permintaaan pasar kopi dunia dalam kurun
lima tahun terakhir jauh lebih cepat dibandingkan produksi kopi dunia. Data dari
International Coffee Organization (ICO) menyebutkan bahwa trend peningkatan
konsumsi kopi dunia terjadi sejak tahun 2010 dengan jumlah peningkatan rata-rata
sebesar 2,5%/tahun. Pada tahun 2020, diperkirakan kebutuhan kopi dunia akan
mencapai 10,3 juta ton.
Meskipun produksi dan ekspor kopi robusta Indonesia masih belum optimal, namun
optimisme dan motivasi bagi seluruh stakeholder perkebunan kopi robusta untuk lebih
berusaha dalam meningkatkan produksi dan ekspor kopi robusta nasional.
Perkebunan kopi memiliki potensi yang dapat ditingkatkan lagi. Menurut Soetriono
(2009), hasil penelitiannya menyatakan bahwa usahatani kopi robusta yang dilakukan
petani Indonesia masih mempunyai peluang yang besar dan sangat menjanjikan untuk
dikembangkan. Hal ini dibuktikan dengan kondisi komoditas kopi robusta yang
dihasilkan oleh petani mempunyai daya saing yang kuat.
Beberapa alasan dapat dikemukakan bahwa peluang-peluang untuk pengembangan
perkopian di masa yang akan datang.
a) permintaan produk-produk kopi dan olahannya masih sangat tinggi, terutama di
pasar domestic dengan penduduk yang melebihi 200 juta jiwa merupakan pasar
potensial.
b) peluang ekspor terbuka terutama bagi negara-negara pengimpor wilayah
nontradisional seperti Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Eropa Timur.
c) kelimpahan sumber daya alam dan letak geografis di wilayah tropis merupakan
potensi besar bagi pengembangan agribisnis kopi.
d) Lahan yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya kopi masih sangat luas, jika dapat
dieksploitasikan secara benar dan terpadu dengan kawasan hutan, maka produksi
kopi akan meningkat.
Persoalan investasi dan permodalan menjadi faktor kunci untuk mendorong tumbuh
kembangnya kegiatan agribisnis kopi di Banjarnegara. Sebaiknya pemerintah
memberikan iklim yang lebih baik untuk mendorong bergairahnya kegiatan agribisnis
kopi robusta yang diusahakan oleh rakyat, sehingga pada akhirnya kondisi tersebut
dapat mendorong peningkatan daya saing dan perdagangan kopi robusta Banjarnegara
di pasar nasional dan di pasar internasional.
Masih banyaknya potensi yang dapat ditingkatkan dari perkebunan kopi. Hal ini
tentunya dapat mendorong peningkatan volume dan nilai ekspor kopi robusta. Oleh
karena itu pemerintah harus mendukung terwujudnya kondisi ekspor yang baik di
masa yang akan datang, dengan merumuskan kebijakan yang berorientasi kepada
kesejahteraan petani melalui penghargaan terhadap hasil produksi kopi petani yang
berkualitas, penyediaan infrastruktur yang memadai, dan peningkatan daya saing kopi
robusta. Sehingga pada akhirnya posisi di pasar dunia lebih kuat sebagai salah satu
produsen kopi robusta.
HALAMAN 6 - 24

6.1.6. KOMODITAS TEH (TANAMAN PERKEBUNAN)


Produksi Teh di Kabupaten Banjarnegara pada 3 tahun menunjukkan peningkatan. Pada
tahun 2009 mampu memperoduksi 2.167,94 ton, tahun 2010 sebanyak 2.243,27 ton, namun
di tahun 2011 produksi terjadi penurunan sebanyak 1.945,20 ton. Pertanian the terdapat di
di 7 (tujuh) Kecamatan yaitu Kecamatan Karangkobar, Pagentan, Pejawaran, B a t u r,
Wanayasa, Kalibening dan Pandanarum.

TABEL: 6.6. LUAS PANEN, PRODUKSI DAN RATA –RATA PRODUKSI TEH DI KABUPATEN
BANJARNEGARA TAHUN 2011
KECAMATAN Produksi Rata-rata
(Ton) (Ku/Ha)
1. Karangkobar 420,00 20,77
2. Pagentan 1,74 0,32
3. Pejawaran 12,30 4,20
4. Batur 22,92 4,73
5. Wanayasa 621,21 8,04
6. Kalibening 569,40 9,87
7. Pandanarum 530,15 21,37
Jumlah 2.177,72 11,27
Tahun 2011 1.945,20 10,09
Tahun 2010 2.243,27 11,70
Tahun 2009 2.167,94 11,45
Tahun 2008 1.692,69 8,51
Sumber Data : Dishutbun Kabupaten Banjarnegara

A. JALUR PEMASARAN PRODUK


Pabrik pengolahan teh berada di Desa Jatilawang Kecamatan Wanayasa. Pemilihan
lokasi perdasarkan lokasi dekat dengan bahan baku yaitu tanaman teh yang sebagian
besar tumbuh di Kecamatan Wanayasa. Ketersediaan tenaga kerja yang murah juga
mempengaruhi letak pabrik teh. Selain itu Desa Jatilawang memiliki akses yang baik jika
dibandingdang desa lain yang memiliki potensi tanaman teh. Pengolahan teh dilakukan
oleh PT. Pagilaran Unit Jatilawang mendapatkan bahan baku dari perkebunan teh milik
PT. Pagilaran dan perkebunan teh rakyat yang ada di Kabupaten Banjarnegara.
Pucuk teh yang telah dipanen oleh petani diserahkan kepada PT. Pagilaran. Selain itu
petani juga mengolah teh secara tradisioan dengan jumlah yang relatif sedikit dan
langsung dijual ke pasar untuk memnuhi permintaan teh dalam skala lokal. Pagilaran
untuk selanjutnya diolah dan djual ke negara-negara eropa dan ke Negara Timur
Tengah. Organisasi Lembaga Pemasaran pengolahan teh di Kabupaten Banjarnegara
dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
HALAMAN 6 - 25

PETANI (BAHAN BAKU TEH)

PT. PAGILARAN UNIT PETANI (HASIL PENGOLAHAN


JATILAWANG (PENGOLAHAN SECARA TRADISIONAL
MODERN)

HASIL PENGOLAHAN HASIL PENGOLAHAN


(TEH HITAM) (TEH HITAM)

PEDAGANG BESAR (EKSPOR) PEDAGANG KECIL

KONSUMEN

GAMBAR: 6.5. ORGANISASI LEMBAGA PEMASARAN TEH (ANALSIIS KONSULTAN, 2013)

B. PROSPEK DAN POTENSI PERKEBUNAN TEH


Komoditi perkebunan memiliki berbagai manfaat serta mempunyai nilai ekonomis
tinggi, produk utama, produk turunan serta produk sampingan mempuyai banyak
manfaat dan fungsi sebagai bahan makanan/minuman, bahan industri
makanan/minuman olahan, industri obat-obatan, industri kosmetik, industri otomotif
dan industri bahan bakar. Berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor 511/Kpts/
PD.31/9/2006 terdapat 126 Komoditi yang menjadi binaan Direktorat Jenderal
Perkebunan. Salah satunya adalah tanaman teh yang terdapat di Kabupaten
bnajarnegara. Gambaran Peluang/Prospek komoditi perkebunan teh antara lain sebagai
berikut :
a) Meningkatnya kesadaran akan konsumsi makanan dan minuman alami dan juga
memberikan dampak terhadap kesehatan yang baik telah meningkatkan
permintaan akan teh serta produk minuman berbahan teh, dari hasil penelitian di
dalam dan luar negeri dampak teh dapat memberikan dampak terhadap
pencegahan dan penyembuhan berbagai penyakit.
b) Peningkatan perekonomian serta pendapatan masyarakat di dalam dan luar
negeri juga membuka peluang bagi peningkatan permintaan terhadap teh saat ini.
c) Selain pasar luar negeri, konsumsi teh perkapita pendududk Indonesia yang baru
mencapai 0,31 Kg/ tahun akan meningkat dengan berkembangnya berbagai
produk minuman teh dalam kemasan siap dikonsumsi (botol dan kotak) yang
semakin marak saat ini dengan berbagai macam rasa, kemasan serta merek hal ini
juga ditunjang dengan maikn baiknya perekonomian dalam negeri serta semakin
meningkatnya pendapatan masyarakat.
d) Berkembangnya pasar dan harga teh di dunia dan nasional akan memberikan
dampak psoitif terhadap petani teh rakyat dalam peningkatkan pendapatan, taraf
hidup dan daya beli .
HALAMAN 6 - 26

6.2. PRODUK SEKTOR PETERNAKAN


6.2.1. SAPI POTONG
A. POTENSI PRODUKSI
Selama tahun 2012 populasi sapipotong dan sapi perah mengalami peningkatan
populasi. Populasi sapi potong meningkat tajam yaitu sebesar 8.004% dan sapi perah
meningkat sebesar 4,709% dibandingkan tahun 2011.
TABEL: 6.7. JUMLAH TERNAK SAPI BESAR MENURUT KECAMATAN DI KABUPATEN
BANJARNEGARA TAHUN 2012
Kecamatan Sapi Perah Sapi Potong
01. Susukan - 851
02. Purworejo Klampok 5 492
03. Mandiraja - 523
04. Purwonegoro - 2.269
05. B a w a n g 1 3.65
06. Banjarnegara 4 1.713
07. Pagedongan - 1.593
08. S i g a l u h - 521
09. Madukara 10 1.163
10. Banjarmangu - 489
11. Wanadadi 23 723
12. R a k i t - 925
13. Punggelan - 1.784
14. Karangkobar 62 1.611
15. Pagentan 211 2.199
16. Pejawaran 654 1.521
17. B a t u r 417 602
18. Wanayasa 1.337 6.114
19. Kalibening 276 4.439
20. Pandanarum 2 3.885
Jumlah 3002 37067
2011 2867 34320
2010 42 41842
2009 21 41638
Sumber Data : Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara

B. POTENSI PERMINTAAN
Masyarakat Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta jiwa tentunya semakin banyak
membutuhkan protein asal daging ini. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya lonjakan
permintaan yang cukup signifikan akan daging. Ternak sapi merupakan penyedia
protein hewani asal daging yang cukup potensial.Indonesia yang kaya raya ini
menyediakan sarana produksi yang cukup berlimpah untuk usaha pengembangan
ternak sapi, diantaranya sapi potong.
Program swasembada daging untuk menekan jumlah impor ternak sapi potong maupun
daging, telah dicanangkan dan perlu dilaksanakan secara terintegrasi oleh seluruh stake
holder di bidang persapian. Sampai saat ini, pencapaian populasi ternak sapi potong
HALAMAN 6 - 27

dan sapi perah masih belum mampu memberi kemandirian produktifitas untuk
memenuhi permintaan masyarakat. Jumlah populasi ternak sapi potong yang kurang
dari 5% jumlah penduduk Indonesia menunjukkan betapa ketidak seriusan para stake
holder dalam mengembangkan peternakan sapi potong Indonesia. Pemotongan betina
produktif yang rata-rata mencapai 200.000 ekor per tahun memberi penegasan masih
jauh dari niatan untuk berswasembada daging dan air susu sapi.
Nilai impor daging dari luar negeri yang masih berpotensi polemik terus mengalir
ditambah dengan membanjirnya impor ternak sapi terutama dari Australia merupakan
bukti betapa negara ini lebih senang disebut ‘shopaholic of cattle‘ daripada ‘producer of
cattle‘.
Kondisi peternakan rakyat yang senang dengan ternak lokal (brahman, simmental,
limousine, brangus, angus, peranakan ongole, bali, madura, grati) yang memiliki nilai
reproduktif tinggi tentunya berbeda dengan jenis ternak impor dari Australia yang
merupakan Brahman Cross (ternak Brahman yang disilangkan dengan beberapa jenis
ternak lain, seperti Shorthorn, Hereford, Braford atau Drougmaster) dan lebih
mengarah pada ‘ternak hibrida’ sehingga nilai reproduktifnya terbilang rendah.
Data Deptan tahun 2012 diperkirakan keadaan populasi sapi Indonesia hanya mampu
memasok 80% dari total kebutuhan dalam negeri. Keadaan tersebut sangat
menghawatirkan karena kebutuhan daging sapi dalam negeri sangat tergantung kepada
impor.Kebutuhan daging sapi yang semakin meningkat, jika tidak disertai pertumbuhan
populasi, mengakibatkan semakin banyaknya sapi lokal yang diptong termasuk sapi
betina, sehingga jika tidak waspada Indonesia akan masuk dalam food trap. Di mana
ketergantungan akan impor akan semakin besar dan pada akhirnya akan 100%
tergantung impor.Itu sebabnya, bisnis ternak sapi potong, menjadi salah satu lahan
usaha yang prospektif.
Usaha peternakan yang terintegrasi (Integrated Farming) diharapkan dapat
meningkatkan nilai efisiensi usaha dengan pemanfaatan by product yang diharapkan
dapat menurunkan cost of production dan sekaligus meningkatkan pay of income.
Sapi potong merupakan salah satu jenis ternak yang berperan dalam melakukan supply
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan protein hewani asal daging. Pengelolaan
yang baik dengan pola manajerial yang sempurna akan menghasilkan kinerja ternak
potong yang ideal sehingga diperoleh hasil baik. Hasil yang baik akan memberi banyak
keuntungan,
 pertama : pemenuhan supply protein hewani asal daging;
 kedua : pembukaan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar farm;
 ketiga : peningkatan nilai penggunaan lahan-lahan pertanian marjinal sehingga
memberi nilai guna pada lahan secara positif;
 keempat : peningkatan kualitas lahanseiring denganintrodusir penggunaan kompos
(by product usaha peternakan);
 kelima : peningkatan Pendapatan Asli Daerah yang mengikuti peningkatan income
pengusaha atas peternakan yang diusahakan.

C. PROSPEK PASAR
Sapi potong merupakan jenis ternak yang mempunyai nilai jual tinggi diantara
ternak- ternak lainnya.Pada umumnya masyarakat membutuhkan hewan ini dikonsumsi,
karena kandungan proteinnya yang tinggi. Laju pertambahan penduduk yang terus
meningkat menuntut ketersediaan akan daging yang terus meningkat pula, oleh karena
itu usaha sapi potong merupakan salah satu usaha yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
HALAMAN 6 - 28

Usaha penggemukan sapi potong memiliki prospek cerah karena beberapa negara
ASEAN kini lebih menyukai sapi potong dari Indonesia.Dalam pemeliharaanpun relatif
tidak begitu sulit karena jenis pakan yang dimakan sapi potong biasanya adalah rumput,
jerami, bungkil pisang ataupun berbagai jenis dedaunan yang banyak tumbuh disekitar.
Dengan ketersediaan padang rumput yang masih sangat luas peluang membuka usaha
penggemukan sapi potong masih terbuka lebar. Pada lahan yang tidak begitu luas pun
usaha ini masih dapat dilakukan yaitu dengan sistem atau teknik ”kereman”, yaitu suatu
cara pemeliharaan dikandang secara terus menerus dalam kurun waktu 4 sampai 12
bulan. Tujuan pemeliharaan sapi dengan cara ini adalah untuk meningkatkan atau
menghasilkan daging yang relatif lebih cepat.
 Selain menghasilkan daging yang dibutuhkan masyarakat hasil ikutannya pun seperti
pupuk kandang, kulit, tulang dan lain sebagainya dapat memberikan pendapatan
sampingan. kotoran sapi mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk
organik yang dibutuhkan semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi
sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih
gembur dan subur.
 Kulit sapi, dapat dijadikan sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi,
jaket. Tulangnya dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan
barang kerajinan atau dibuat makanan seperti sop kaki.
 Tanduknya dapat digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding
dan sebagainya.
 Ekornya pun masih dapat dimanfaatkan sebagai makanan khas yaitu sop buntut.

D. POTENSI PENGEMBANGAN
Sapi Potong Banjarnegara sangat sesuai untuk budidaya sapi-sapi unggul ras Eropa
(jenis Charollois, Simental, FH dan peranakannya). Populasi sapi saat ini 40.426 ekor.
Produksi daging sapi 1.279.494 kg.
Peternakan Banjarnegara juga didukung oleh sumber pakan yang meliputi limbah
pertanian (jerami padi, jerami jagung dan daun-daunan) seluas 36.551 Ha dan rumput-
rumputan seluas 20.919 Ha.
Prospek investasi juga terdapat pada peternakan sapi betina. Saat ini populasi sapi
betina di Kabupaten Banjarnegara 10.926 ekor. Peternak sapi potong ini banyak
terdapat di wilayah Kecamatan bagian atas seperti Kalibening, Karangkobar, Wanayasa,
Pejawaran, dan Pagentan.
HALAMAN 6 - 29

E. KENDALA
1. Tata niaga
Permasalahan ini masih sangat menganggu dan terus menghantui perkembangan
usaha peternakan sapi. Proses distribusi menunjukkan betapa lemahnya tata niaga
daging. Nilai permintaan dan penawaran pada beberapa produk daging lebih
mengarah pada sistem kartel dan monopoli sehingga banyak kepentingan yang
terjadi dalam ranah perkembangan ternak sapi potong Indonesia.
Harga daging yang saat ini tertekan akibat banjirnya daging impor dan aliran ternak
impor yang tidak berpihak pada peternakan rakyat memberi signal-signal yang jelas
bagi perlemahan nilai-nilai peternakan sapi.
Undang-undang no 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan hewan secara
jelas disebutkan dalam pasal 36 ayat 1 dan 2 menyatakan tentang kewajiban
pemerintah dalam menyelenggarakan dan memfasilitasi pemasaran produk
peternakan.
Pola tata niaga dengan menyerahkan pada mekanisme pasar yang dilakukan oleh
pemerintah dalam mendukung peternak (terutama peternak rakyat untuk
meningkatkan kesejahteraan melalui peternakan).
2. Penegakan Aturan
Seluruh aktifitas perkembangan persapian masih diwarnai dengan berbagai
pelanggaran dan hal ini menyebabkan terjadinya stagnasi.
3. Ketidakjelasan Program Pemerintah
Pemerintah sebagai regulator perkembangan persapian, kadang kala masih
melakukan program-program yang tidak jelas arah dan tujuannya. Konsep
pengembangan peternakan sapi potong dengan memberlakukan impor sapi
Brahman Cross betina bunting sungguh tidak bijak, karena evaluasi terhadap nilai
kebuntingan kembali sangat rendah dan tidak pernah terlaporkan secara gamblang.
HALAMAN 6 - 30

Aturan-aturan yang tidak jelas, pembatasan-pembatasan yang sangat kabur serta


ketidakberanian pemerintah dalam menentukan keputusan merupakan pemicu
ketidakberhasilan program pemerintah
4. Penyediaan pakan ternak
Tentunya sebagai salah satu hal penting dalam segitiga produksi, penyediaan pakan
ternak merupakan hal yang patut menjadi perhatian. Penelitian-penelitian tentang
pakan ternak dari berbagai bahan hasil samping usaha dan agroindustri pertanian -
perkebunan menunjukkan potensi pakan ternak merupakan hal yang patut menjadi
perhatian.
5. Pendampingan dan bimbingan
Peternakan rakyat saat ini masih menjadi obyek persapian. Mereka masih berada
dibawah kendali tata niaga yang dikuasai oleh pemodal kuat milik pebisnis sapi.
Kebanyakan Koperasi Unit Desa sebagai pengayom mereka belum menunjukkan
fungsi dan peran seperti yang diharapkan.
Ketiadaan pendampingan dan pembimbingan kepada peternakan rakyat menjadikan
kualitas reproduktif ternak sapi menurun, pemotongan ternak betina produktif,
ketidakmampuan dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi air susu dan
rendahnya nilai tawar peternakan rakyat adalah bukti konkret yang patut
digarisbawahi.

6.2.2. KAMBING DAN DOMBA (KADO)


A. POTENSI PRODUKSI
Domba yang dibudidayakan di Kabupaten Banjarnegara adalah domba asli Kabupaten
Banjarnegara dengan nama Domba Batur. Domba Batur ini memiliki beberapa
kelebihan antara lain memiliki bobot badan maksimal (+ 100 – 120 Kg), bobot badan
rata-rata (+ 60-90 Kg), bulu halus dan tebal sehingga cocok untuk dijadikan
benang. Kandang yang digunakan juga mudah dan murah, karena tidak membutuhkan
lahan yang terlalu luas. Domba has Batur merupakan satu jenis Domba eks Tapos,yang
merupakan tipe bulu domba Australia, sehingga sangat cocok untuk dikembangkan di
daerah dataran tinggi seperti Batur yang memiliki suhu 15 ºC. Berat domba ini bisa
mencapai antara 60-80 kg dan berat maksimal 140 kg, serta berbulu lebat dan halus
mencapai 2 kali lipat domba lokal. Domba Batur tidak hanya tipe pedaging , bulunya
yang tebal dapat diolah menjadi benang wool sebagai bahan tekstil. Namun potensi ini
belum dapat dijalankan secara optimal dikarenakan terbatasnya teknologi yang dimiliki.
Ada dua jenis kambing yang saat ini tengah giat dikembangkan di Banjarnegara, yaitu
jenis Jawa Randu dan Kambing Peranakan Etawa (PE).Peternakan kambing jawa randu
untuk penggemukan sedangkan tenak kambing PE adalah untuk pembibitan dan
diambil susunya. Daerah utama pengembangan adalah kecamatan Karangkobar,
Punggelan, Banjarmangu, Sigaluh, Pagedongan, Bawang, Purwareja Klampok, Susukan,
Rakit, Wanadadi, Madukara, Pagentan, dan Kalibening.
Di Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara terdapat satu jenis domba khas ex Tapos
yang merupakan tipe bulu dari Australia.Domba khas ini bisa berbobot dua kali lipat
domba lokal yaitu antara 60 – 80 kg dan bobot maksimal 140 kg serta berbulu lebat dan
halus.Keunggulan spesifik tersebut membuat harga ternak tinggi mencapai antara 600
ribu hingga 1, 5 juta rupiah (harga domba lokal Rp.300.000 – Rp.600.000 dengan berat
badan rata-rata 40 kg.). Saat ini Domba Batur tidak hanya ada di Kecamatan Batur saja
HALAMAN 6 - 31

namun sudah berkembang di Kecamatan sekitar yang beriklim dingin/sejuk seperti


Kecamatan Wanayasa dan Pejawaran.
Domba Batur tidak hanya tipe pedaging, bulunya yang tebal dapat diolah menjadi
benang wool sebagai bahan tekstil.Namun potensi ini belum dapat dijalankan secara
optimal dikarenakan terbatasnya teknologi yang dimiliki.Jumlah domba batur
diperkirakan lebih dari 20.777 ekor.

TABEL: 6.8. JUMLAH TERNAK KECIL MENURUT KECAMATAN DAN JENIS TERNAK DI
KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2012
Kecamatan Kambing Domba
01. Susukan 7.337 716
02. Purworejo Klampok 2.487 305
03. Mandiraja 11.726 704
04. Purwonegoro 13.211 2.407
05. B a w a n g 3.868 822
06. Banjarnegara 5.959 856
07. Pagedongan 4.494 779
08. S i g a l u h 9.035 1.694
09. Madukara 2.825 1.063
10. Banjarmangu 19.033 1.091
11. Wanadadi 2.905 235
12. R a k i t 4.439 1.511
13. Punggelan 16.400 1.834
14. Karangkobar 28.867 15.446
15. Pagentan 19.306 18.640
16. Pejawaran 7.811 18.744
17. B a t u r 175 21.636
18. Wanayasa 11.218 17.180
19. Kalibening 11.387 3.398
20. Pandanarum 9.011 2.848
Jumlah 191.494 111.909
Tahun 2011 187.647 110.876
Tahun 2010 184.847 108.318
Tahun 2009 182.612 107.159
Tahun 2008 178.879 107.272
Sumber Data: Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara

B. KEUNTUNGAN EKONOMI KAMBING ETAWA


Budidaya ternak kambing etawa lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan
memelihara kambing lokal atau domba.Berikut ini beberapa keuntungan ekonomis dari
berternak kambing etawa.
1. Penghasil susu
Susu kambing etawa dikonsumsi sebagai obat alternatif, bukan sebagai pelengkap
gizi. Biasanya orang mengonsumsi susu kambing etawa guna membantu
menyembuhkan penyakit asma, tuberkolosis / TBC, eksim, membantu
menyehatkan kulit, mencegah penuaan dini serta mencegah osteoporosis. Pada
HALAMAN 6 - 32

masa laktasi kambing etawa bisa menghasilkan 0,8 Lt - 2,5 Lt susu perhari, dengan
harga jual antara Rp 15.000 - Rp 20.000/ liter. Sebagai gambaran bila seorang
peternak kambing etawa memelihara 7 hingga 10 ekor, diperkirakan yang laktasi 5
ekor dan rata-rata menghasilkan 1 liter per hari, maka penghasilan peternak
tersebut setiap hari adalah sekitar 5 liter susu dengan harga rata-rata Rp. 15.000
perliter, maka pendapatan peternak tersebut adalah sekitar Rp.75.000/hari dari
susu kambing etawa.
2. Penghasil Daging
Disamping menghasilkan susu kambing etawa, kambing etawa juga potensial
sebagai penghasil daging yang menguntungkan. Saat ini banyak pejantan kambing
etawa yang dipakai oleh peternak guna memperbaiki kualitas kambing pedaging
lokal. Perkawinan silang ini menghasilkan kambing dengan sosok badan lebih besar
layaknya kambing etawa
3. Penghasil Pupuk dan Kulit.
Kotoran kambing etawa juga bisa dipakai sebagai pupuk organik, sedangkan
kulitnya dipakai sebagai bahan baku kerajinan kulit. Ini di karenakan kulit kambing
etawa memiliki ukuran yang lebih lebar dibanding kulit kambing lokal, kualitasnya
juga dikenal lebih baik.
4. Sebagai Sumber Pendapatan.
Budidaya kambing etawa bisa digunakan sebagai sumber pendapatan alternatif di
pedesaan yang sangat menjanjikan jika ditekuni secara serius, biaya yang
dikeluarkan untuk pembuatan kandang dan biaya perawatan relatif sama dengan
biaya memelihara kambing lokal.

C. PROSPEK PASAR
Agribisnis komoditas ternak kambing dan domba (kado) di Indonesia mempunyai
prospek yang sangat besar, mengingat dalam 10 tahun mendatang akan ada 5 juta
kepala keluarga muslim yang masing-masing kepala keluarga akan menyembelih satu
ekor ternak kambing ataupun domba untuk kurban, satu ekor untuk setiap anak
perempuan dan dua ekor untuk anak laki-laki untuk akikah. Disamping itu untuk
keperluan ibadah haji di tanah suci akan dibutuhkan 2,5 juta ekor kado untuk keperluan
membayar dam ataupun untuk kurban para jemaah haji.
Secara mandiri swasta dapat bergerak di sektor hulu (usaha penyediaan calon induk,
penyediaan pejantan, penyediaan semen, pabrik pakan mini,dll), serta di kegiatan hilir
(RPH, industri pengolahan daging, susu, kulit, kompos dll.). Usaha-ternak budidaya oleh
swasta dilakukan melalui pendekatan pola kemitraan, dimana peternak menghasilkan
bakalan dan inti membeli untuk digemukkan atau langsung dipasarkan. Variasi dari pola
kemitraan dan investasi dalam pengembangan kado sistem integrasi mungkin cukup
beragam, dan harus disesuaikan dengan kondisi setempat.
Investasi penyediaan bibit unggul, untuk calon induk maupun pejantan adalah sangat
strategis, karena saat ini praktis belum ada pihak yang tertarik. Pusat pembibitan ternak
milik pemerintah yang sudah ada belum mampu untuk merespon perkembangan yang
terjadi di masyarakat. Namun ke depan kegiatan ini justru harus dilakukan oleh swasta
atau peternak kecil yang maju. Investasi untuk usaha ini dapat dimulai dengan skala
sedang 200-500 ekor untuk kemudian dikembangkan menjadi usaha yang besar.
Investasi yang diperlukan usaha ini sedikitnya sekitar Rp. 0,5-1 milyar, tidak termasuk
HALAMAN 6 - 33

kebutuhan lahan. Diharapkan usaha ini dapat dikembangkan di kawasan perkebunan


yang sudah tersedia bahan pakan yang memadai. Sementara itu investasi untuk pabrik
pakan, pabrik obat, pabrik kompos, pabrik pengolahan susu, dll., dapat disesuaikan
dengan kapasitas yang diperlukan, yang bernilai setara dengan nilai investasi pada
ternak lainnya.
Dukungan kebijakan investasi perlu menyertakan petani sebagai end user dan pada
akhirnya memberikan titik terang dalam pemberdayaan petani, peningkatan
kesejahteraan disamping penambahan devisa dari ekspor bila pasar ekspor ke negara-
negara jiran dapat dimanfaatkan. Untuk mendukung pembangunan/ revitalisasi
pertanian dan menciptakan iklim investasi guna pengembangan dan peningkatan mutu
ternak kado diperlukan berbagai kebijakan, antara lain: (a) penyederhanaan prosedur
dan persyaratan untuk investasi usaha pengembangan peternakan kado; (b)penyediaan
kredit bagi hasil dan (c) penyediaan informasi (harga dan teknologi)
D. POTENSI PENGEMBANGAN
Usaha peternakan domba termasuk salah satu jenis usaha yang harus mendapat
perhatian untuk dikembangkan.Pada saat ini kegiatan ekonomi yang berbasis ternak
domba terpusat pada peternakan rakyat di daerah pedesaan dengan motif usaha
subsistens. Beberapa ciri dari usaha seperti ini adalah skala usaha kecil, modal kecil,
bibit lokal, pengetahuan teknis beternak rendah, usaha bersifat sampingan,
pemanfaatan waktu luang, tenaga kerja keluarga, sebagai tabungan dan pelengkap
kegiatan usaha tani.
Di beberapa daerah kantong produksi ternak domba, peranan wanita dalam usaha
peternakan domba sangat besar. Pekerjaan yang ditangani kaum wanita berhubungan
dengan penyediaan pakan ternak, pemberian pakan, pemeliharaan kebersihan kandang
dan pemberian air minum. Pekerjaan kaum wanita ini sering pula dibantu oleh anak
laki-laki yang sudah cukup umur. Kaum lelaki menangani pekerjaan pembuatan
kandang,membeli dan menjual domba serta mengawinkan ternak domba.
Basis budidaya tersebut membentuk system pemasaran yang monopsonistik yang
menyebabkan peternak cenderung berada pada posisi tawar yang lemah. Dalam
pemasaran domba yang berlangsung sampai saat ini, peternak bersifat pasif dan
pedagang aktif mencari peternak yang akan menjual domba. Dengan demikian, maka
laku tidaknya ternak domba yang ditawarkan peternak akan sangat tergantung kepada
pedagang. Faktor penyebab lain yang membentuk sitem pemasaran seperti ini adalah
keterbatasan peternak dalam segi pengetahuan umum, informasi pasar, waktu,
keberanian dan transportasi.
Selama belum ada perubahan dari faktor-faktor tersebut, maka ketergantungan
peternak kepada pedagang akan terus berlanjut dan kondisi sosial-ekonomi peternak
akan tetap jelek.
Upaya meningkatkan posisi tawar peternak dalam kaitannya dengan penguasaan
pedagang pengumpul terhadap fenomena pasar domba, dicoba dipecahkan melalui
pendekatan kelompok. Penyatuan langkah peternak domba dalam kelompok, pada
beberapa kasus menunjukan keberhasilan, namun sebaliknya banyak juga yang gagal.
Pembentukan kelompok peternak domba sampai saat ini, lebih didasarkan pada
efisiensi budidaya yang lebih memberikan curahan perhatian pada kelancaran produksi
untuk menghasilkan karakteristik domba yang baik menurut produsen. Jika usaha
ternak domba akan diarahkan pada usaha semi komersial untuk menuju yang
komersial,selayaknya curahan perhatian diberikan pada karakteristik produk yang
HALAMAN 6 - 34

diinginkan konsumen. Pembentukan dan dinamika kelompok peternak, proses


budidaya serta dukungan teknis diarahkan pada upaya memahami dan menghasilkan
produk yang dibutuhkan dan dibeli konsumen.
Kelompok peternak domba sebagai titik sentral yang menjadi andalan dinamisator
agribisnis ternak domba harus mempunyai pola usaha yang bersifat membangun
jaringan system agribisnis dapat dibangun melalui empat subsistem, yaitu:
 Sub system off-farm hulu yang menyediakan sarana produksi.
 Sub system on farm yang melakukan budidaya.
 Sub system off-farm hilir yang mengolah dan memperdagangkan produk.
 Sub system jasa penunjang yang menyediakan jasa bagi kelancaran agribisnis ternak
domba
Dengan system tersebut di atas, maka pembangunan ekonomi yang berbasis ternak
domba adalah membangun sistim agribisnis secara menyeluruh dan berkelanjutan.

E. KENDALA
Meskipun asetnya besar, namun pengembangan ternak kambing di Desa Pagerpelah,
bukan berarti tanpa kendala. Salah satu kesulitan yang kerap dikeluhkan peternak
kambing yakni masalah minimnya ketersediaan pakan konsentrat sebagai tambahan
hijauan pakan ternak. Hal itu sangat terasa,jika memasuki masa paceklik hijauan,
HALAMAN 6 - 35

maka untuk mendapatkan pakan konsentrat, peternak harus memesan hingga ke


Kabupaten Purworejo, Semarang dan kota-kota lainnya.
Harga di luar Banjarnegara pun cukup tinggi. Untuk pemasaran, Sutoyo mengakui, tidak
ada masalah.Sebab selalu terserap ke pembeli, baik itu di sekitar Banjarnegara hingga
Purworejo dan kota-kota lainnya. Belakangan ini, untuk lebih mengoptimalkan usaha
ternak kambing di Desa Pagerpelah, pihak desa setempat sudah mendirikan Badan
Usaha Milik Desa (BUMDes) Sida Mukti serta koperasi. Kedua badan hukum
ini diharapkan bisa menjadi pusat kegiatan para peternak dalam mengembangkan
ternak kambing miliknya.

6.3. PRODUK SEKTOR PARIWISATA


Potensi dan daya tarik wisata unggulan di Banjarnegara. Dari data yang dikeluarkan Dinas
Pariwisata setempat (Oktober 2011), terdapat sedikitnya 25 objek dan daya tarik yang
tersebar di delapan kecamatan. Berikut data selengkapnya.
TABEL: 6.9. POTENSI OBJEK WISATA KABUPATEN BANJARNEGARA
Jenis Wisata Nama Objek Lokasi/ Kecamatan
(1) Curug Sikopel Pagentan
(2) Curug Giri Tirta Pejawaran
(3) Sumber air panas Wanayasa
(4) Agrowisata teh Pagilaran Kalibening
Alam (5) Sumber air panas Kalibening
(6) Arung jeram Sigaluh
(7) Curug Pitu Sigaluh
(8) Telaga Merdada Batur
(9) Kawah Sikidang Batur
(10) Telaga Balekambang Batur
(11) Air panas Bitingan Batur
(12) Kawah Candradimuka Batur
(13) Sumur Jalatunda Batur
(14) Tlaga Dringo Batur
(15) Curug Sirawe Batur
(16) PLTA Mrica Bawang
Budaya (17) Kompleks Candi Arjuna Batur
(18) Museum Kailasa Batur
(19) Masjid Soko Tunggul Klampok
(20) Kerj Batik Gumelem Susukan
(21) Kerj Bambu dan Keramik Klampok
Buatan (22) Anglir Mendung Paweden Karang Kobar
(23) Kolam renang Leksana Karang Kobar
(24) Surya Yudha Park Madukara
(25) TRMS Seruling Mas Banjarnegara
Edukasi (26) Panas bumi Dieng (PLTP) Dieng
(27) PLTS Kalibening
(28) PLTMM Banjarnegara,
Wanadadi, Rakit,
Purwonegoro
Sumber : Dinas Pariwisata Banjarnegara, 2011
HALAMAN 6 - 36

6.3.1. WISATA ALAM


A. KAWAH SIKIDANG DIENG
Indahnya pemandangan dan eksotisnya kawah yang sering berpindah-pindah tersebut,
terdapat hiburan dengan adanya pelaksanaan upacara Tawur Agung Labuh Gentuh
yang diselenggarakan umat Hindu Bali. Upacara Tawur Agung Labuh Gentuh diikuti
sedikitnya 130 warga Bali. Mereka datang dengan membawa seluruh perlengkapan
upacara baik sesajian maupun kelengkapan acara berupa seperangkat gamelan Bali.
Suasana di kawasan Kawah Sikidang juga ditata sedemikian rupa hingga terlihat seperti
di Bali.
B. “JELAJAH ” GUNUNG PANGONAN DIENG

Dieng dengan beragam pesona keindahan alam,budaya, seni dan tradisi selalu dapat
memukau para wisatawan. Salah satunya adalah pesona indah Gunung Pangonan. Jarak
tempuh yang pendek mempermudah wisatawan untuk mencapai puncak Gunung.
Perjalanan di tempuh sekitar 30 menit, selama perjalanan kita bisa melihat indahnya
Telaga Merdada dari atas, cantiknya bunga edelwise dan daisy menghiasi kanan dan kiri
jalan setapak yang dilalui, hamparan padang safana yang indah itulah Telaga Sumurub.
C. MENGGAPAI MATAHARI DI BUKIT PRAU DIENG
Keindahan bukit – bukit yang tergambarkan,
bisa kita lihat di Puncak Gunung Prau. Diawali
dengan munculnya Matahari terbit di atas
bukit, dan keindaharan hamparan bunga
Daisy serta rumput yang sangat indah nyata
ada di Puncak Gunung Prau.

D. KAWAH
HALAMAN 6 - 37

1 Kawah Candradimuka
Kawah ini sebenarnya bukan kawah gunung
berapi, tetapi merupakan pemunculan Solfatara
dari rekahan tanah. Terdapat dua lubang
rekahan yang masih aktif mengeluarkan
Solfatara. Di Kawah ini terdapat sumber air yang
dipercaya memiliki kekuatan magic, sehingga
banyak wisatawan yang memanfaatkannya.

2 Kawah Sikidang
Kawah Sikidang merupakan tempat favorit bagi
wisatawan, karena merupakan kawah vulkanik
denganlubang kepundan yang dapat disaksikan
dari bibir kawah. Uap air dan lava berwarna
kelabu selalu bergemulak muncul berpindah-
pindah bahkan melompat seperti seekor kidang.
Sehingga dikenal dengan nama Kawah Sikidang.

3 Kawah Sileri
Kawah Sileri merupakan kawah terluas di
Dataran Tinggi Dieng yang masih aktif. Air
Kawahnya gemulak dan mendidih persis seperti
bekas cucian beras atau leri, sehingga
dinamakan KawahSileri. Tidak jauh dari sini, kita
juga dapat menikmati Air Panas Bitingan dan
Curug Si Rawe.

E. SUMUR, TELAGA AIR TERJUN


1 Sumur Jalatunda
Sumur Jalatunda merupakan kepundan gunung
berapi yang meletus dan menjadi sumur dengan
kedalaman100 Meter Konon sumur Jalatunda
merupakan salah satu pintu ghaib menuju
penguasa laut selatan. Ada kepercayaan
masyarakat barang siapa yang dapat melempar
batu hingga melintasi sumur maka cita-citanya
akan tercapai.

2 Telaga Balekambang
HALAMAN 6 - 38

Telaga ini lokasinya tidak jauh dari Kompleks Candi Arjuna, disini banyak terdapat
ikan air tawar. Dan oleh wisatawan dan masyarakat dijadikan sebagai lokasi
pemancingan.

3 Telaga Merdada
Telaga Merdada merupakan telaga
terluas di dataran tinggi Dieng dengan
latar belakang bukit yang hijau
merupakan pemandangan yang sungguh
menakjubkan. Disini Wisatawan dapat
memancing dan bersampan mengelilingi
Telaga.

4 Curug Sirawe
Adalah tempat wisata berupa curug/air terjun
yang terletak tidak jauh dari zona inti kawasan
wisata Dieng, tepatnya di dusun Bitingan Desa
kepakisan sebelah barat Dieng . Memiliki
ketinggian kurang lebih 80 m berada di
pegunungan yang hijau dengan panorama yang
sangat indah. Untuk mencapai ke air terjun ini
anda bisa memakai sepeda motor atau bisa
treking melalui bukit sipandu sebuah bukit yang
konon katanya adalah salah satu gerbang atau
pintu masuk kawasan Dieng dari arah utara. Air terjun ini sangat unik selain area
sekitarnya yang masih sangat alami karena tumbuhan yang mengelilinginya masih
benar-benar tumbuhan gunung yang sangat beragam air terjun ini juga sangat
mempesona karena air panas dan dingin menyatu jadi satu.

5 Curug Pitu
Curug pitu merupakan obyek wisata
HALAMAN 6 - 39

alam dengan daya tarik utama berupa Air terjun yang berjumlah tujuh buah curug
secara bertingkat dari atas kebawah, maka diberi nama Curug Pitu. Antara Curug
Pertama yang berada di paling atas hingga Curug Ketujuh yang berada di paling
bawah mempunyai ketinggian yang berbeda-beda dan masing-masing memiliki
keindahan sendiri-sendiri. Dari curug pertama (tingkat I), kita bisa menyaksikan air
terjun dengan debit air yang cukup besar. Di kanan kiri adalah hutan yang masih
asri yang didominasi tanaman keras. Banyak juga pohon durian.
Jika kita ingin melihat curug di atasnya, kita harus mendaki jalan setapak di kanan
jalan. Ada anak tangga yang cukup memudahkan mendaki. Setiap sekitar 50 meter,
curug kedua dan seterusnya sudah menanti. Di curug teratas (tingkat tujuh),
pemandangan lebih eksotis lagi karena keenam curug di bawahnya terlihat indah
bak kaki-kaki bidadari yang lembut menjuntai.
Dari Kota Banjarnegara kita berkendara ke arah timur sekitar 10 kilometer
sampailah di pertigaan Desa Sigaluh. Ambil jalan kanan, mulailah menyusuri
jalanan desa yang halus dengan udara yang segar, dengan jarak tempuh sekitar 7
kilo meter. Tak jauh dari Balai Desa Kemiri, kita bisa langsung menikmati
keindahan dan kesegaran Curug Pitu.
6 Wisata Waduk Mrica
Kawasan Waduk Mrica ini erletak
arah Barat + 10 Km dari Kota
Banjarnegara. Merupakan lokasi
wisata yang sangat menarik,
karena disamping hamparan air
yang sangat luas, juga terdapat
bukit-bukit yang rimbun oleh
pepohonan nan indah dan asri.
Adalah waduk terpanjang di Asia
Tenggara yang membendung Sungai Serayu dan mempunyai kapasitas tenaga
listrik 184,5 Mega Watt. Obyek wisata Waduk Mrica menawarkan berbagai paket
wisata air yakni berperahu mengelilingi waduk, Olahraga dayung maupun
memancing. Disamping Arena Permainan Anak dan Panggung Terbuka, disini juga
terdapat Padang Golf dengan 8 Hole.

F. AGRO WISATA “DESA KUTAYASA KEC. MADUKARA”


1 Wisata Arung Jeram
Wilayah selatan Desa Kutayasa yang
dilalui aliran sungai Serayu telah
dimanfaatkan sebagai tempat wisata
air arung jeram. Tempat wisata arung
jeram tersebut bernama Pikas.
HALAMAN 6 - 40

2 Wisata Pemancingan
Wisata ini merupakan kegiatan
pemancingan ikan di kolam-kolam milik
penduduk Desa Kutayasa.

3 Agrowisata Salak
Wisata ini yaitu mengamati sekaligus berpartisipasi langsung dalam kegiatan
pertanian salak. Wisatawan diajak mengenal bagaimana cara melakukan
persilangan pohon salak (penyerbukan) dan bisa memetik buah salak secara
langsung dari pohonnya.
4 Agrowisata Padi
Dalam wisata ini wisatawan diajak
berpertisipasi langsung dalam kegiatan
bertani mulai dari cara pengolahan
tanah (pembajakan), pemupukan,
penyemaian benih dan penanaman
bibit padi.

5 Misteri Batu Pangethokan


Batu pangethokan terletak di bagian
timur Desa Kutayasa, merupakan batu
besar yang dipercaya penduduk
setempat sebagai batu yang dahulu
digunakan sebagai tempat
pemenggalan bagi orang-orang yang
berbuat kesalahan. Kata pangethokan
sendiri berasal dari kata kethok yang
berarti penggal, jadi pangethokan berarti pemenggalan.
6 Makam Nyai Ronggeng
Nyai Ronggeng adalah seorang
penari (ronggeng) cantik yang
karena kecantikannya maka dia
dimusuhi banyak orang dan
akhirnya dibunuh. Jasad Nyai
Ronggeng dimakamkan di dekat
Batu Pangethokan, dan sampai saat
ini karena Nyai Ronggeng juga
HALAMAN 6 - 41

dipercaya memiliki kesaktian maka makamnya dikeramatkan oleh penduduk


sekitar.
7 Legenda Watu Mbalong
Watu Mbalong merupakan batu
besar yang berada di pinggir
sungai Serayu. Konon dahulu
pemimpin pandawa lima yaitu
Semar memindahkan batu dari
Gunung Sinumpuk menuju Sungai
Serayu. Batu tersebut dibawa
dengan cara digendong dengan
tujuan untuk membendung Sungai
Serayu untuk kepentingan irigasi.
Tetapi sebelum sampai Sungai
Serayu batu tersebut jatuh di suatu tempat bernama Mbalong. Oleh karena itu
batu tersebut dinamakan Watu Mbalong atau Batu Mbalong.

G. ARUNG JERAM SERAYU


Wisata minat khusus, Arung
Jeram ini berada di sungai
Serayu yang membelah
sepanjang wilayah Kabupaten
Banjarnegara. Dimulai dari Desa
Tunggoro menuju Desa
Singomerto Kecamatan Sigaluh
dengan panjang + 12 Km. Arung
Jeram dilokasi ini memiliki
Grade yang sangat baik dan
banyak diminati oleh para Atlet
Arung Jeram. Kelas yang ditawarkan antara lain : excellent, middle, exotic, family fun
dan river camp. Wisatawan yang datang akan mendapatkan welcome drink, snack, air
mineral, makan, transportasi lokal, kelapa muda, guide, peralatan arung jeram, asuransi
dan sertifikat. Tahun 1997, di lokasi ini dijadikan sebagai lokasi Kejurnas I Arung Jeram.
Pada bulan April 2010 di lokasi ini juga dilaksanakan Australasian Champ 2010.

6.3.2. WISATA BUDAYA

Wisata Budaya Kabupaten Banjarnegara


sebagian besar berada di Kawasan Dataran
Tinggi Dieng. Disana terdapat banyak bangunan
Candi yang semuanya berlatar belakang Ciwaistis
dan mempunyai bentuk arsitektur sederhana
dan diperkirakan digunakan mulai abad IX hingga
Abad XII AD. Candi-candi yang terdapat di Dieng
HALAMAN 6 - 42

menggunakan nama tokoh-tokoh pewayangan seperti, Dwarawati, Puntadewa, Arjuna,


Semar dan Gatotkaca.
A. CANDI DWARAWATI

Candi Dwarawati terletak paling utara diantara


candi-candi di Dataran Tinggi Dieng yang didi
rikan di bukit Perahu,mempunyai denah empat
persegi panjang yang berukuran panjang 5 m
dan lebar 4 m, tinggi bangunan 6 m dan
dilengkapi dengan penampil pada masing-
masing sisinya. Pada masing-masing dinding luar
dan dalam bilik candinya terdapat relung-relung
tempat arca.

B. CANDI GATOTKACA

Candi Gatotkaca terletak di sebelah barat


Telaga Balekambang dan di dekat bukit
Pangonan. Susunan bangunannya mirip dengan
Candi Dwarawati, hanya pada atap penampilnya
berpuncak Amalaka. Tidak jauh dari Candi
Gatotkaca terdapat Museum yang menyimpan
koleksi arca.

C. KELOMPOK CANDI ARJUNA


Kelompok Candi ini terdiri dari lima candi
tersusun dua deret, deret sebelah timur terdiri
dari empat bangunan candi yang semuanya
menghadap ke barat yaitu Candi Arjuna, Candi
Srikandi,Candi Puntadewa dan Candi Sembadra.
Deret sebelah barat menghadap ke timur yaitu
Candi Semar. Candi Arjuna diperkirakan
dibangun pada tahun 809 M masing-masing
memiliki ciri khas dan keindahan tersendiri. Pada
Candi-candi ini digambarkan Dewa-dewa
pendamping utama Agama Hindu yaitu Brahma,
Siwa dan Wisnu.
D. KOMPLEKS CANDI DIENG
Bangunan Candi di Dataran Tinggi Dieng
semuanya berlatar belakang Ciwaistis dan
mempunyai bentuk arsitektur sederhana
dan diperkirakan digunakan mulai abad IX
hingga Abad XII AD. Candi-candi yang
terdapat di Dieng menggunakan nama
tokoh-tokoh pewayangan seperti,
Dwarawati, Puntadewa, Arjuna, Semar dan
HALAMAN 6 - 43

Gatotkaca.

E. TAWUR AGUNG LABUH GENTUH


Ritual di kawasan kawah Sikidang, hikmat
dan menyedot perhatian warga setempat
dan wisatawan. Tawur Agung Labuh
Gentuh digelar setiap 10 tahun sekali.
Tapi itu tidak pasti juga, semua
tergantung wahyu yang didapat saat
meditasi untuk menyelenggarakan
upacara ini. Ritual tawur labuh dibuka
dengan guru piduka atawa memohon ijin
kepada leluhur. Lalu dilanjutkan dengan pecarwan atau sesaji dalam bentuk ternak dan
labuh gentuh atau melarung seluruh sesajian ke kawah Sikidang. Prosesi ini
dimaksudkan untuk memohon keseimbangan alam agar kebaikan selalu menaungi
seluruh manusia.
F. FESTIFAL SERAYU “PARAK IWAK”

Pesta parak iwak adalah rangkaian proses, yang akan diawali dengan pengambilan air
dan ikan dari tujuh telaga Di Dataran Tinggi Dieng. Tujuh telaga tersebut yaitu telaga
Balekembang, telaga Sendang Sedayu, telaga Warna, telaga Pengilon, telaga Merdada,
telaga Sewiwi dan telaga Cebong. Pengambilan ikan dari tujuh telaga tersebut akan
dilaksanakan pada tangga 26 Agustus 2013.
Ikan yang diambil dari tujuh telaga itu akan dimasukan ke dalam bokor yang kemudian
dikirab dari Batur- Wanayas- karangkobar- Banjarmaggu dan akan diinapkan di
Madukara. Acara puncak pesta parak iwak dilaksanakan pada tanggal 27 Agustus 2013,
ikan dari tujuh telaga yang diambil dari dataran tinggi Dieng akan dikirab lagi dari desa
Talunamba Madukara menuju The Pikas dan selanjutnya ikan dilarung ke sungai serayu
Banjarnegara. Pesta parak iwak tersebut dikemas secara apik, eksitik dan menarik.
Dalam kegiata ini terdapat ribuan tenong dan para pengunjung bisa menikmati
makanan yang terdapat didalam tenong. Selain itu para pengunjung juga bisa
menikmati hiburan seni budaya Banjarnegara.
G. MUSEUM KAILASA
Kailasa adalah sebuah museum yang berisi artefak dan keterangan geologi, pertanian,
kesenian, kepercayaan, flora, fauna dan warisan arkeologi Dataran Tinggi Dieng.
Museum kailasa terletak di komplek candi Gatutkaca secara administratif masuk
Kabupaten Banjarnegara. Museum ini diberi nama Kailasa, yang diambilkan dari nama
salah satu gunung tempat tinggal Dewa Syiwa. Nama ini diambil karena kepurbakalaan
HALAMAN 6 - 44

Dieng diwarnai dengan pemujaan terhadap Dewa Syiwa, yang dapat diketahui dari
percandian maupun prasasti. Museum kailasa diresmikan pada tanggal 28 Juli 2008
Oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (Ir Jero Wacik).
Museum kailasa merupakan salah satu obyek wisata religius yang terdapat di dataran
tinggi dieng, didalam museum terdapat peninggalan peradaban Hindu Jawa kuno pada
abad ke-7 sampai dengan abad ke -8. Di dalam Museum Kailasa dilengkapi dengan
teater yang berisi film dokumenter tentang candi, arkeologi, dan prasasti dieng. Fasilitas
lain yang terdapat disekitar museum kailasa seperti, Cafe sebagai tempat peristirahatan
yang nyaman untuk wisatawan dan pusat oleh - oleh berupa cideramata khas dieng.

6.3.3. WISATA BUATAN


A. TAMAN REKREASI ANGLIR MENDUNG PAWEDEN
Terletak di daerah pegunungan dikelilingi hutan lindung kurang lebih 18 km dari Kota
Banjarnegara kearah utara, jalan menuju obyek ini berkelok-kelok dengan
pemandangan alam yang indah disekitarnya. Fasilitas yang tersedia : tempat parkir,
MCK, rumah makan, kios cinderamata, kolam renang, tempat penginapan, bumi
perkemahan

B. TAMAN REKREASI SURYA YUDHA PARK


Wahana ini melengkapi kolam arus,
lagoon, kolam pijat ikan, dan 3 kolam
lain yang telah tersedia. Sejak awal
pengelola mengonsep Surya Yudha
Park dengan mengintegrasikan hotel,
sport center, permainan, dan
petualangan. Wahana yang tersedia
memungkinkan anak-anak hingga
dewasa menikmatinya.
HALAMAN 6 - 45

C. TRMS SERULING MAS


Taman Rekreasi Margasatwa (TRMS) Seruling Mas terletak di kompleks Makam Ki
Ageng Selamanik, di Lembah Sungai Serayu, kurang dari 1 km utara kota Banjarnegara.
Sarana wisata yang ada di Taman Rekreasi Margasatawa Selamanik Seruling Mas antara
lain : Taman satwa lengkap, kolam renang dengan waterboom-nya, Arena permainan
anak, Panggung hiburan, Wisata arena pemancingan umum, juga terdapat Makam Ki
Ageng Selomanik yang dikeramatkan. Beberapa satwa yang ditangkarkan antara lain :
Singa, Gajah, Harimau, Ular, Orang Utan, berbagai jenis burung, dan lain-lain.
Disediakan pula fasilitas wisata menunggang gajah keliling taman dengan dipandu
seorang pawang.
Kolam renang cukup memadai, terdiri atas 3 bagian kolam untuk anak-anak dan orang
dewasa, serta fasilitas mandi / bilas. Makam Ki Ageng Selomanik yang merupakan
keturunan Raja Mataram pun sering dikunjungi wisatawan. Taman rekreasi ini dilintasi
oleh aliran Sungai Serayu yang menambah keindahan pemandangan taman. Sangat
diminati oleh anak-anak dan remaja, pada hari-hari libur atau liburan sekolah obyek
wisata ini selalu padat pengunjung. Untuk memeriahkan suasana di panggung hiburan
diadakan pentas kesenian daerah dan pentas musik yang dapat dinikmati wisatawan
sambil duduk-duduk di bawah pohon rindang di arena bawah panggung. Kebun
binatang itu satu-satunya di Karesidenan Banyumas.

6.4. PRODUK SEKTOR EKONOMI KREATIF


6.4.1. KERAJINAN BATIK TULIS GUMELEM
Salah satu produk unggulan yang dimiliki
Kabupaten Banjarnegara yaitu kerajinan batik
tulis. Kerajinan ini bersentra di Desa Gumelem,
Kecamatan Susukan, berjarak sekitar 30 km ke
arah selatan dari pusat kota Banjarnegara. Di
desa inilah berbagai pengrajin batik tulis
tersebar dan terhimpun dalam suatu
HALAMAN 6 - 46

wadah/komunitas usaha kecil dan menengah (UKM).


Produk kerajinan batik tulis Banjarnegara
(Batik Gumelem) ternyata memiliki kekhasan
apabila dibanding produk batik tulis lainnya
yang pernah ditemui di pasaran regional.
Seperti halnya di daerah Jawa, batik tulis
sering ditemui berasal dari Yogyakarta, Solo,
Pekalongan dan beberapa daerah sekitar
selama ini sudah dikenal banyak orang. Batik
tulis Gumelem ini mempunyai corak khas
berupa udan liris dan rujak senthe yang
diproduk secara turun-temurun oleh warga setempat. Di samping itu, batik Gumelem
memiliki kekhasan lain yaitu didominasi warna sogan (cokelat), hitam, dan kuning, serta
memiliki motif bunga-bunga, kawung, dan parang.
Dalam perkembangannya, batik tulis
Gumelem sudah dimanfaatkan untuk
memenuhi konsumsi atau kebutuhan lokal,
seperti halnya di kalangan pemerintah
daerah (Pemkab Banjarnegara) dianjurkan
untuk memakai seragam batik pada hari
tertentu. Ini merupakan langkah kebijakan
sekaligus sebagai upaya memasyarakatkan
penggunaan produk lokal dan sebagai upaya
untuk melestarikannya. Sementara itu
kalangan luas kini juga mulai melirik, tertarik
serta berminat untuk memilikinya. Terutama para kolektor batik tulis yang berasal dari luar
daerah maupun para pecinta batik tulis untuk memakainya sebagai produk kain bermotif
khas Gumelem, Banjarnegara.
Untuk mendapatkan batik tulis khas Gumelem
ini cukup mudah. Anda bisa menemui di
beberapa tempat di seputaran kota
Banjarnegara. Bahkan jika mau berkunjung
langsung ke Desa Gumelem, di sana akan
terpampang tulisan Sentra Pengrajin Batik
Tulis Gumelem. Anda bisa mendatangi
langsung tempat penjualan yang sudah
dikelola sedemikian rupa layaknya toko khas
batik dan terpampang beragam kain batik
tulis serta pakaian jadi beraneka ukuran. Sentra Batik Gumelem tepatnya berada di Dukuh
Dagaran dan Karangpace (Gumelem Wetan) dan Dukuh Ketandan, Beji dan Kauman
(Gumelem Kulon).
Harga jual kain batik Gumelem ini dapat dibilang relatif lebih murah dibanding batik yang
berasal dari Yogyakarta dan Pekalongan. Satu lembar kain berukuran panjang 240 cm dan
lebar 105 cm hanya seharga Rp 80.000, sedang yang berukuran panjang 275 cm dan lebar
105 cm seharga Rp 100.000 - Rp 300.000. Sementara itu bahan baju dijual Rp 75.000 dan
taplak Rp 40.000. Perlu pula diketahui bahwa batik tulis Gumelem yang memiliki warna
dan corak serta motif khas ini sangat cocok digunakan dalam suasana resmi atau pakaian
seragam di perkantoran dan berbagai kegiatan. Apalagi untuk kegiatan santai, pastinya
HALAMAN 6 - 47

lebih menambah kenyamanan. Harga baju batik tulis Gumelem siap pakai cukup terjangkau
yakni berkisar antara Rp165.000 hingga Rp 190.000.-
TABEL: 6.10. UKM PENGRAJIN BATIK GUMELEM BANJARNEGARA

NO KECAMATAN DESA NAMA KELOMPOK

1. Susukan Susukan Prana Mukti

2. Susukan Gumelem Wetan Giat Usaha

3. Susukan Gumelem Wetan Setya Usaha

4. Susukan Gumelem Wetan Nova Batik

5. Susukan Gumelem Kulon Amorista

6. Susukan Gumelem Kulon Mekar Sari

7. Susukan Gumelem Kulon Tunjung Biru

8. Susukan Gumelem Kulon Al-Hikmah

9. Susukan Panerusan Wetan Wardah

10. Susukan Panerusan Wetan Mirah

11. Mandiraja Kertayasa Guyub Rukun


Sumber: http://www.banjarnegaraKabupatengo.id

6.4.2. KERAJINAN KERAMIK KLAMPOK


Sentra kerajinan keramik ini terletak di bagian barat Banjarnegara, lebih tepatnya dekat
perbatasan Banjarnegara dan Purbalingga. Nama daerah sentra keramik tersebut adalah
Purworejo Klampok, sehingga keramiknya dikenal dengan nama keramik Klampok. Di
sepanjang jalan kecamatan Klampok banyak terdapat show room keramik yang memiliki
koleksi beraneka macam keramik yang indah. Mungkin jika Anda penggemar keramik maka
tidak ada salahnya Andamembeli keramik Klampok ini karena tentu saja memiliki ciri yang
berbeda dengan keramik Kasongan (Yogya).
HALAMAN 6 - 48

6.4.3. SENTRA KERAJINAN KAYU DAN BAMBU


Kerajinan yang lebih bernuansa alam, seperti kerajinan kayu ataupun bambu di Kecamatan
Wanadadi, Banjarmangu, Mandiraja, Rakit dan Sigaluh. Terdapat berbagai macam kerajinan
kayu dan bambu, mulai dari beraneka ragam perabotan rumah sampai hiasan-hiasan untuk
mempercantik ruang tamu.

6.4.4. KERAJINAN TATAH SUNGGING


Melihat secara langsung proses pembuatan wayang kulit di daerah Mandiraja dan Susukan.
Di dua (2) kecamatan tersebut kita bisa melihat secara langsung proses pengolahan kulit
kambing menjadi wayang kulit.

6.4.5. SAPU SHORGHUM.


Sapu Shorghum adalah sapu lantai
dengan kualitas export yang
dihasilkan oleh pengrajin dari
Kecamatan Pandanarum. Industri
rumah tangga ini sudah bisa
memenuhi permintaan dari PT FREE
PORT Indonesia di Provinsi Papua
untuk di export ke Negara Jepang.
Kendala yang dihadapi adalah
keterbatasan bahan baku sapu
HALAMAN 6 - 49

shorghum.

6.4.6. KERAJINAN BORDIR.


Kerajinan bordir saat ini semakin pesat
perkembangannya, produk yang dihasilkanpun
semakin bervariasi antara lain berupa busana
muslim, baju koko,sepreai, sarung bantal,
taplak meja, atribut, topi, kaligrafi Al Quran dll.
Di Kabupaten Banjarnegara jumlah unit
usaha kerajinan bordir sebanyak 18 unit
dengan menyerap tenaga kerja 196 orang
dengan kapasitas produksi 216.000
potong/tahun. Yang diharapkan pengusaha
bordir saat ini adalah penambahan modal usaha
untuk peningkatan ketrampilan tenaga kerja dan pengembangan pemasaran yang lebih luas.

6.4.7. KERAJINAN DARI BAHAN BAKU KERANG.


Masyarakat di Kecamatan Susukan memproduksi
kerajinan dengan bahan baku kulit kerang yang dibuat
berbagai jenis barang dalam bentuk dan Kerajinan yang
mempunyai nilai seni tinggi ini sangat diminati oleh
masyarakat dan juga wisatawan sebagai
souvenir.Pengrajin bambu tersebut masih merupakan
pekerjaan sambilan untuk mengisi waktu luang bagi
masyarakat yang kebanyakna sebagai petani/buruh.
Untuk mengembangkan usaha kerajinan ini dibutuhkan
tambahan modal dari pengusaha dan selanjutnya bisa
menampung hasil kerajinan tersebut

6.4.8. KULINER KHAS BANJARNEGARA


1 Dawet Ayu
Setelah capek berjalan-jalan keliling berbagai sentra kerajinan di Banjarnegara maka
sekarang saatnya kita melepas dahaga dan capek kita sambil minum minuman khas
Banjarnegara, yaitu Dawet Ayu. Dawet merupakan minuman segar yang terbuat dari
cendol. Dawet ayu merupakan salah satu “maskot” kota Banjarnegara, Anda bisa
melihat buktinya di Alun-alun kota karena di sana terdapat monumen Dawet yang
berupa patung 2 (dua) orang penjual dawet. Kalau diperhatikan secara teliti gerobak
(atau bakul ya?) dawet maka bisa melihat gambar dua orang tokoh wayang yang sangat
terkenal, yaitu tokoh Punakawan: Semar dan anaknya Garéng. Kenapa penjual dawet
memasang dua tokoh wayang tersebut? Kata orang tua sih karena seMAR dan garËng
akan membentuk kata “maréng” yang artinya adalah kemarau.
HALAMAN 6 - 50

2 Kuliner Khas
Banjarnegara memiliki banyak makanan tradisional khas seperti buntil, , aneka keripik,
aneka manisan, atau makanan yang telah dikenal masyarakat luas yaitu dan minuman
Dawet Ayu. makanan yang terbuat dari tempe yang dbungkus tepung ditambah dengan
irisan daun bawang dan digoreng.

6.4.9. PENGUSAHA KERIPIK TEMPE "SUKA NICKY" DARI GUMIWANG


“Makanan itu biasanya diingat atau dikenang karena
bentuk dan kualitas rasa. Selain bentuk tempe yang
kami buat unik, yaitu bulat-bulat kecil”.
HALAMAN 6 - 51

6.5. SEKTOR PERTAMBANGAN DAN ENERGI


6.5.1. PERTAMBANGAN
Sektor Pertambangan merupakan salah satu sektor penting sebagai sumber pendapatan di
Kabupaten Banjarnegara, terutama untuk bahan galian golongan mineral non logam dan
batuan. Jumlah pemakaian bahan galian golongan C yang meliputi batu dan pasir pada tahun
2011 di Kabupaten Banjarnegara masing-masing sebesar 153.536 m3 dan 87.105 m3.
Sedangkan untuk bahan galian jenis Feldspar jumlah produksi pada tahun 2011 sebesar
14.975.000 ton.
Dalam rangka meningkatkan kegiatan investasi di Kabupaten Banjarnegara salah satu
potensi yang akan dikembangkan adalah sektor pertambangan dan galian mineral non
logam dan batuan yang lokasinya menyebar di wilayah Kabupaten Banjarnegara.
Melihat potensi yang ada, pertambangan yang sudah tergali/dieksploitasi pada saat ini
khususnya di Banjarnegara adalah Feldspar, batu lempeng, andesit, granit, talk, dan masih
banyak beberapa bahan galian yang belum tergali/dieksploitasi. Mineral/bahan galian yang
sudah digali/dieksploitasi sebagian besar belum/tidak melalui proses pengolahan terlebih
dahulu, bahan tambang yang dijual masih dalam bentuk row material/bahan baku. Oleh
sebab itu investasi pendirian pabrik pengolahan hasil tambang masih terbuka lebar di
Banjarnegara.
Potensi mineral logam belum tergali, untuk izin usaha pertambangan mineral logam harus
melalui prosedur lelang, sudah ada peraturan dan perundang-undangan yang mengatur hal
tersebut. Banjarnegara sudah memiliki PERDA yang mengatur usaha sektor pertambangan
umum, yaitu PERDA Nomor 11 Tahun 2010 tentang Pertambangan Mineral di Kabupaten
Banjarnegara, dimana PERDA tersebut sudah mengacu kepada Peraturan dan perundangan
dari pemerintah pusat yang mengatur sektor pertambangan umum.
Sudah ada beberapa investor lokal yang masuk dan berinvestasi di Banjarnegara,
diantaranya PT. Banjar Mineral Resources, PT. Astri Tata Resources, PT. Tata Mining
Resources, yaitu melakukan penyelidikan bahan tambang untuk mengetahui depositnya
sampai dengan studi kelayakan dan eksploitasi. Hal ini bisa memberikan motivasi kepada
investor lain untuk berinvestasi di Banjarnegara. Jenis pertambangan yang ada di Kabupaten
Banjarnegara adalah :
a Marmer
b Feldspar
c Trass
d Batu Lempeng
e Batu Granit
A MARMER
Marmer merupakan bahan galian dari batu
gamping/ kapur (CoCo3) yang mengalami proses
ubah (metamort) karena tahunan dan temperatur
yang sangat tinggi. Marmer mempunyai nilai
ekonomis yang sangat tinggi dan proses
pengolahannya sangat sederhana, mutu cukup
baik dengan jumlah Deposit 18.676.000 M3 dan
HALAMAN 6 - 52

Berat Terkanya 48.557.600 Ton, yang tersebar di 3 Kecamatan yaitu :

1. Kecamatan Banjarnegara 16.874.000 M3/43.872.400 ton


2. Kecamatan Bawang 324.000 M3/ 842.000 ton
3. Kecamatan Purwanegara 1.478.000 M3/ 3.842.800 ton
Di Kabupaten Banjarnegara terdapat beberapa jenis/warna batu marmer yang tidak
dimiliki daerah lain seperti marmer berwarna merah, hijau, abu-abu ,dan hitam. Marmer
yang umum serta persediaannya cukup besar adalah marmer warna putih. Status
kepemilikan lahan tambang marmer di Kabupaten Banjarnergara adalah milik perorangan.
Kerjasama yang diharapkan Pemerintah Kabupaten: adalah Pembuatan
pabrik pengolahan batu marmer.
B FELDSPAR
Feldspar suatu kelompok mineral batuan beku
terutama terdiri senyawa alumina silikat yang
mengandung satu atau lebih unsur basa seperti Kalium,
Natrium, Kalsium, Barium yang salah satu kation basa
tersebut merupakan kation utama. Mutu feldspar di
Kabupaten Banjarnegara mempunyai kandungan albit,
kuarsa, mikroklin dan sanadin, baik digunakan untuk
pembuatan keramik dan mika namun kurang baik
untuk pembuatan kaca.
Tambang Feldspar ini tersebardi beberapa lokasi antara lain :
a Kecamatan Bawang 12.021.923 M3 / 31.257.000 ton
b Kecamatan Purwanegara 34.421.923 M3 / 89.497.000 ton
c Kecamatan Banjarnegara 7.200.000 M3 / 18.720.000 ton
d Terkaan diatas adalah 20 – 30 % dari jumlah keseluruhan.
Perkiraan luas lahan : 19 ha. Perkiraan volume 51.643.846 m3 (status milik
Perusda Kabupaten Banjarnegara) selebihnya dikelola oleh perorangan. Potensi cadangan
feldspar Banjarnegara, berdasarkan data kajian dari JICA dan Balai Besar Keramik baru bisa
memenuhi kebutuhan untuk pasokan feldspar sekitar 14 % dari kebutuhan, hal ini
menunjukkan ketergantungan industri keramik Indonesia kepada feldspar asal impor.
Feldspar digunakan untuk industri gelas, keramik dan semen. Kerjasama yang
diharapkan Pemerintah Kabupaten adalah pendirian pabrik keramik.

C T R A S S.
Trass merupakan endapan sekunder dari
pelapukan andesit tua, bahan tambang
ini dapat digunakan untuk mencampuri
/melengkapi bahan baku tambang lain
untuk industri strategis misalnya
pembuatan semen. Jumlah cadangan
Trass di Kabupaten Banjarnegara cukup
besar dengan perkiraan volume 14,09
juta M3, sebarannnya berada di 6
HALAMAN 6 - 53

Kecamatan, yaitu :

 Kecamatan Karangkobar 1.120.000 M3 / 2.941.581,33 ton


 Kecamatan Sigaluh 4.250.000 M3 / 11.162.250,56 ton
 Kecamatan Wanayasa 1.827.500 M3 / 4.799.767,74 ton
 Kecamatan Punggelan 5.212.000 M3 / 13.688.858,81 ton
 Kecamatan Pagentan 145.000 M3 / 380,829,73 ton
 Kecamatan Pejawaran 1.320.000 M3 / 3.466.863,70 ton.
Trass yang berlokasi di daerah ini ditambang oleh perorangan dan ditampung oleh suatu
perusahaan yang berlokasi diluar daerah/Kabupaten dan sudah berjalan selama lebih
dari 4 tahun. Trass digunakan sebagai bahan batako, industri bahan bangunan. Dari hasil
peninjauan lapangan bisa dilihat bahwa pengusaha kurang memperhatikan keselamatan
tenaga penambang karena bekerja tanpa alat pengaman.
Beberapa hal yang diperlukan untuk melakukan penambangan adalah :
 Pembukaan lahan tambang / pembebasan lahan.
 Pengadaan alat pengeruk
 Perizinan
 AMDAL
 Transportasi : Truk-truk pengangkut
 Peningkatan kualitas jalan
 Rekruitmen tenaga kerja
 Kebijakan Pemerintah berupa : Kemudahan Birokrasi dan Perda Tata Ruang
 Kerjasama yang diharapkan berupa pendirian pabrik pengolahan trass (semen).

D BATU LEMPENG
Batu lempeng merupakan bahan galian yang
mempunyai nilai ekomonis tinggi dan cara
pengolahannya sederhana, mutunya baik,
jumlah cadangan cukup besar, dan sangat
potensial untuk dikembangkan. Batu lempeng ini
dapat digunakan untuk ornament dinding dan
trotoar, yang selama ini pemasarannya ke
daerah Jawa Barat dan belum dikelola secara
baik.

Tambang batu lempeng berada di 5 Kecamatan yaitu :


 Kecamatan Pagentan 17.345.000 M3
 Kecamatan Batur 2.347.698 M3
 Kecamatan Pejawaran 19.354.600 M3
 Kecamatan Karangkobar 10.987.375 M3
 Kecamatan Wanayasa 11.987.659 M3
Kerjasama yang diharapkan Pemerintah Kabupaten: berupa pendirian pabrik pengolah
batu lempeng.
HALAMAN 6 - 54

E BATU GRANIT.

Batu granit adalah bahan galian yang proses pengolahannya memerlukan tehnologi dan
penelitian yang berlanjut agar hasil yang diperoleh mempunyai nilai ekonomis yang lebih
tinggi, karena batu granit ini banyak digunakan untuk lantai dan dinding gedung-gedung
mewah. Banjarnegara memiliki Deposit batu granit sebesar 287.148.000 M3 dan Berat
Terka sebesar 1.303.865.951 Ton, yang tersebar di 5 Kecamatan :
a Kecamatan Bawang 2.735.500 M3 / 7.112.300 ton
b Kecamatan Banjarmangu 3.525.000 M3 / 9.165.000 ton
c Kecamatan Karangkobar 25.002.500 M3 / 65.006.500 ton
d Kecamatan Pagentan 13.142.500 M3 / 34.170.500 ton
e Kecamatan Wanayasa 23.267.500 M3 / 60.495.500 ton
Potensi tambang batu granit yang dikelola oleh Perusda Kabupaten Banjarnegara seluas
1.250 m2. Upaya exploitasi batu granit dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti
peningkatan kualitas jalan utama kabupaten agar dapat dilalui alat angkut berat.
Analisa kebutuhan sarana prasarana untuk melakukan exploitasi batu granit sbb. :
A. Pembukaan lahan tambang dengan :
1. Jalan rolak 1 Km dari lokasi tambang
2. Pembebasan lahan tambang
3. Alat pengeruk
4. Perizinan
5. Rekruitmen tenaga kerja
B. Transportasi : sarana prasarana jalan memenuhi syarat untuk truk-truk pengangkut
C. Kebijakan Pemerintah : Kemudahan Birokrasi dan Perda Tata Ruang
D. Depo Penampungan yang dibutuhkan : Tenaga Keja, Pembebasan lahan, Perizinan dan
sarpras internal di lokasi.

F ASBES
Asbes digunakan untuk industri, pelapis dinding, kebanyakan digunakan sebagai bubur.
Tersebar di 2 Kecamatan yaitu Kecamatan Bawang dengan jumlah deposit sebesar
1.575.000 M3 dengan Berat Terka sebesar 35.781.586 Ton, dan Kecamatan
Purwanegara dengan jumlah deposit sebesar 1.010.250 M3 dengan Berat Terka sebesar
22.951.332 Ton.
G PASIR KUASA
HALAMAN 6 - 55

Terdapat di Kecamatan Banjarnegara dengan jumlah deposit sebesar 254.000 M3 dan


Berat Terka 673.100 Ton.
H LEMPUNG
Digunakan sebagai bahan baku pembuatan genteng, batu bata dan industri keramik.
Tersebar di 9 Kecamatan di Kabupaten Banjarnegara yaitu sebagai berikut :
a Kecamatan Mandiraja 3.136.075 M3 / 46.371.954,47 Ton
b Kecamatan Banjarnegara 274.375 M3 / 4.057.077,56 Ton
c Kecamatan Banjarmangu 187.425.000 M3 / 2.771.381.366,41 Ton
d Kecamatan Punggelan 900.000 M3 / 13.307.953,74 Ton
e Kecamatan Wanayasa 957.500 M3 / 14.158.184 Ton
f Kecamatan Karangkobar 951.500 M3 / 14.069.464,43 Ton
g Kecamatan Kalibening 242.750 M3 / 3.589.450,86 Ton
h Kecamatan Pagentan 906.200 M3 / 13.399.630,75 Ton
i Kecamatan Pejawaran 318.720 M3/ 4.712.790,02 Ton
I OKER
Terdapat di Kecamatan Purwanegara dengan deposit 1.250.000 M3 dengan Berat Terka
554.038.331 Ton. Digunakan dalam industri cat, karet, plastik.
J BATU TULIS / SLATE
Dengan jumlah deposit 147.000 M3 dan Berat Terka 376.320 ton, terdapat di Kecamatan
Purwanegara dan digunakan sebagai bahan bangunan.
K ZEOLITE
Digunakan sebagai industri pengolahan limbah, terdapat di Kecamatan Mandiraja dengan
jumlah deposit sebesar 1.102.500 M3 dan Berat Terka 2.866.500 ton.
L ANDESIT
Digunakan sebagai bahan bangunan dan ornamen dinding, dengan jumlah total deposit
42.760.206 M3 dan Berat Terka 111.176.535 ton. Tersebar di 5 Kecamatan yaitu :
a Kecamatan Sigaluh 6.874.366 M3 / 17.873.351,60 ton
b Kecamatan Banjarnegara 3.523.000 M3 / 9.159.800 ton
c Kecamatan Kalibening 32.143.500 M3 / 83.573.100 ton
d Kecamatan Karangkobar 195.015 M3 / 507.039 ton
e Kecamatan Pagentan 24.325 M3 / 63.245 ton
M PASIR DAN BATU (SIRTU)
Digunakan sebagai bahan bangunan dengan jumlah total deposit sebesar 5.012.400 M3
dan Berat Terka 13.032.240 ton, tersebar di 7 Kecamatan yaitu :
a Kecamatan Banjarnegara 835.000 M3 / 2.171.000 ton
b Kecamatan Purwanegara 201.500 M3 / 523.900 ton
c Kecamatan Sigaluh 404.200 M3 / 1.050.920 ton
d Kecamatan Wanayasa 1.527.500 M3 / 3.971.500 ton
e Kecamatan Kalibening 1.949.500 M3 / 5.068.700 ton
f Kecamatan Pejawaran 85.000 M3 / 221.000 ton
g Kecamatan Batur 9.700 M3 / 25.220 ton
N BREKSI
HALAMAN 6 - 56

Digunakan dalam industri bahan bangunan, terdapat di 3 Kecamatan yaitu :


a Kecamatan Banjarmangu 235.488 M3
b Kecamatan Pejawaran 43.978 M3
c Kecamatan Punggelan 34.594 M3

6.5.2. POTENSI ENERGI


POTENSI sumber daya alam di Banjarnegara sangat melimpah dan dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila dikelola dengan baik, sebaliknya jika
pengelolaannya tidak tepat akan menimbulkan dampak lingkungan yang tidak kecil. Ada dua
potensi besar yang ada di wilayah ini, yakni dari sektor energi dan sektor sumber daya mineral.
Sektor energi tersebar di seluruh wilayah Banjarnegara antara lain potensi panas bumi di
wilayah Dieng, Wanayasa, Pejawaran, Kalibening, dan Susukan. Yang kedua yakni potensi
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).
Potensi ini tersebar baik di irigasi teknis sekitar 63 titik dan di sungai kurang dari 10 titik.
Permasalahan pemanfaatan energi ini adalah pada kontinuitas debit aliran dan tingkat erosi.
Potensi ketiga adalah minyak dan gas bumi. Potensi minyak bumi indikasi rembesannya ada di
lahan sawah blok Latung, Desa Pasegeran, Kecamatan Pandanarum. Sedangkan potensi gas
bumi ada dua jenis yaitu gas hidrokarbon, proses rembesannya ada di Desa Sijenggung
Kecamatan Banjarmangu dan Desa Pagerpelah Kecamatan Karangkobar. Gas hidrokarbon
proses merupakan satu produk dari serangkaian proses terbentuknya minyak bumi.
Untuk sektor sumber daya mineral, potensi ini tersebar hampir di seluruh Kabupaten
Banjarnegara. Jika dikelola dengan baik dengan memmudahkan akses masyarakat terhadap
sumber daya, pembinaan yang kontinu, dan kepastian hukum maka sektor ini akan lebih
banyak menciptakan lahan usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat.Hal ini sangat
dimungkinkan karena investasi di sektor ini nyaris “tidak terlalu” mahal dan dapat
dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Potensi ini antara lain pasir dan batu (sirtu) yang
tersebar di hampir semua sungai yang mengalir di Banjarnegara. Ada potensi granit di tersebar
mulai dari Desa Sijeruk, Desa Beji, Desa Sijenggung di Kecamatan Banjarmangu hingga di Desa
Sembawa, Kecamatan Kalibening.
Potensi andesit yang tersebar merata di Pegunungan Serayu Selatan hingga Pegunungan
Serayu Utara. Lalu, ada feldspar yang tersebar di wilayah Pegunungan Selatan mulai dari Desa
Kalitengah Kecamatan Purwonegoro di barat hingga di Desa Pesangkalan Kecamatan
Pagedongan di Timur.Batuan ini terbentuk pada wilayah batuan malihan (metamorf), potensi
ini sudah diusahakan sejak awal tahun 1990-an dan hingga saat ini merupakan pemasok
utama bahan baku keramik di pabrik-pabrik yang ada di Jakarta.
Namun demikian patut disayangkan hingga saat ini feldspar yang keluar dari Banjarnegara
masih dalam kondisi raw matrial (bahan mentah). Padahal jika diolah menjadi bahan baku
dengan memroses membentuk menjadi powder akan meningkatkan beberapa kali lipat
nilainya. Di samping itu akan membuka lapangan kerja baru. Oleh karena itu perlu dicari solusi
bagaimana agar nilai tambah feldspar dapat dinikmati masyarakat Banjarnegara dan dampak
yang ditimbulkan dari aktivitas pertambangan
dapat diminimalisir.
A. POTENSI ENERGI MIKROHIDRO
Banjarnegara kaya akan potensi sumber daya
alam yang dapat digunakan sebagai pembangkit
tenaga listrik berbasis energi terbarukan,
seperti mikrohidro hingga panas bumi. Namun,
HALAMAN 6 - 57

ironisnya rasio elektrifikasi di Banjarnegara termasuk yang paling rendah diantara kota
dan kabupaten di Jawa Tengah.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjarnegara terus menggenjot pemanfaatan
potensi energi mikrohidro untuk menjangkau seluruh dusun di wilayah pegunungan
yang hingga kini belum dialiri listrik. Pemkab setempat telah menerbitkan izin untuk
pembangunan 23 titik pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) dengan nilai
investasi Rp 841 miliar.
Menurut Bupati Banjarnegara Sutejo Slamet Utomo, dari 23 titik PLTMH, masing-
masing memiliki kapasitas produksi listrik yang berbeda. Ada yang hanya beberapa
kilowatt, namun ada juga yang sampai megawatt (MW). Investasi PLTMH memang
cukup mahal. Untuk membangun 1 MW butuh dana kurang dari Rp 18 miliar.

B. POTENSI PANAS BUMI

TABEL: 6.11. POTENSI PANAS BUMI KABUPATEN BANJARNEGARA


Potensi (MWe) Kapasitas
Lokasi Sumber Daya (MWe) Cadangan (MWe) Terpasang Keterangan
Spekulatif Hipotesis Terduga Mungkin Terbukti (MWe)
2 3 4 5 6 7 8 9
Dataran Tinggi Dieng - 200 185 115 280 60 PT.Geo Dipa Energi
Kec.Batur WKP 2032.
Candradimuka, Kec. Batur 25 - - - - - Belum disusun WKP.
Mangunan, Tempuran, Kec. - - 100 - - - Sedang disusun
Wanayasa WKP.
Kalibening, Kec. Kalibening - - - - - - Belum dilakukan
eksplorasi
Sarwodadi dan Giritirta Kec. - - - - - - Belum dilakukan
Pejawaran eksplorasi
Gumelem Wetan - - - - - - Belum dilakukan
Kec. Susukan eksplorasi
Sumber Data : Ditjen MINERBAPABUM (2010)
HALAMAN 6 - 58

TABEL: 6.12. LOKASI, SUMBER ENERGI PEMANFAATAN DAN PROGRAM DI KABUPATEN BANJARNEGARA
NO LOKASI DME SUMBER ENERGI LUAS DANA/PROGRAM
(KAB, KEC. DESA,) (Jenis Tanaman/ternak) AREAL/KAPASITAS/ PEMANFAATAN DUKUNGAN/ KETERANGAN
JUMAH TERNAK KEMEMTERIAN
I. Biogas
1 Desa Wanaraja Kec. Wanayasa Sapi 4 - 10 ekor Biogas 2 Unit APBD Kabupaten 2009 Digunakan perorangan
2 Desa Kutayasa Kec. Bawang Sapi 4 - 10 ekor Biogas 1 Unit APBD Kabupaten 2009 Digunakan perorangan
3 Desa Kaliwungu Kec. Mandiraja Sapi 4 - 10 ekor Biogas 1 unit APBD Kabupaten 2009 Digunakan perorangan
4 Desa Karangkobar Kec. Karangkobar Sapi > 15 ekor Biogas 1 Unit APBD Kabupaten 2009 Digunakan perorangan
5 Desa Blambangan Kec. Bawang Sapi > 15 ekor Biogas 1 Unit APBD Kabupaten 2009 Digunakan perorangan
6 Desa Limbangan Kec. Banjarnegara Sapi > 15 ekor Biogas 1 Unit APBD Kabupaten 2009 Digunakan perorangan
7 Kec. Wanayasa Sapi 8.678 ekor Biogas - Potensi Digunakan Kelompok
8 Kec. Kalibening Sapi 5.993 ekor Biogas - Potensi Digunakan Kelompok
9 Kec. Karangkobar Sapi 4.678 ekor Biogas - Potensi Digunakan Kelompok
10 Kec. Bawang Desa Gemuruh Sapi 20 ekor Biogas 1 Unit APBD Prov. 2011 Digunakan Kelompok
11 Kec. Bawang Desa Watuurip Sapi 20 ekor Biogas 1 Unit APBD Prov 2011 Digunakan Kelompok
12 Kec. Bawang Sapi 10 ekor Biogas 1 Unit APBD Kab 2012 Digunakan perorangan
II. Biofuel (BBN)
1 Desa Lengkong Kec. Rakit Salak Afkir 8 ton/hari Bioetanol APBN 2009 Tidak produksi
2 Desa Sawangan Kec. Punggelan Ketela Pohon 1.297 ha, Pabrik 400 ltr/hr Bioetanol Dep ESDM Tahun 2009 Tidak produksi
3 Kec. Purwonegoro Ketela Pohon 3.900 ha Bioetanol - Produksi Kec. 92.545,00 ton
4 Kec. Bawang Ketela Pohon 1.630 ha Bioetanol - Produksi Kec. 34.689,00 ton
5 Kec. Madukara Salak 1.359.582 kwintal Bioetanol Produktifitas 33 kg/phn
6 Kec. Banjarmangu Salak 265.233 kwintal Bioetanol - Produktifitas 33 kg/phn
APBD Prov 2011, belum
7 Desa Karangkemiri Kec. Wanadadi Salak Afkir/Ketela/tetes 300 l/hari Bioetanol Tidak produksi
optimal
III. Biomassa
Sisa gergajian belum
1 Kabupaten Banjarnegara Kayu (Biomassa) Luas Hutan Rakyat 23.994 ha Biomassa -
dimanfaatkan
IV. Gas Alam
1 Desa Sidengok Kec. Pejawaran Gas Alam 310 KK Bahan Bakar APBD Prop. 2009 Digunakan perorangan 50 KK
2 Dsn Simpar, Desa Pagundungan Gas Alam 97 KK Bahan Bakar - Belum dimanfaatkan
Kec. Pejawaran
3 Dsn Pegundungan, Desa Pegundungan Gas Alam 256 KK Bahan Bakar - Baru dimanfaatkan 3 KK
4 Dsn Tempuran Desa Sijenggung Gas Alam Bahan Bakar - Belum dimanfaatkan
HALAMAN 6 - 59

NO LOKASI DME SUMBER ENERGI LUAS DANA/PROGRAM


(KAB, KEC. DESA,) (Jenis Tanaman/ternak) AREAL/KAPASITAS/ PEMANFAATAN DUKUNGAN/ KETERANGAN
JUMAH TERNAK KEMEMTERIAN
Kec. Banjarmangu
5 Dsn Krandegan Desa Pagerpelah Gas Alam Bahan Bakar - Belum dimanfaatkan
Kec. Karangkobar
6 Dsn Plunjaran Desa Majasari Gas Alam 690 KK Bahan Bakar - Baru dimanfaatkan 1 KK
Kec. Pagentan
V. PLTMH, PLTS
1 Desa Kaliwungu Kec. Mandiraja PLTS Terpusat 30 KK, 5 kW Listrik Kementerian PDT 2008 Tidak berfungsi (PLN masuk)
2 Desa Kebutuh Duwur PLTS Terpusat 30 KK, 5 kW Listrik Kementerian PDT 2008
3 Dsn. Kaligaru Desa Karanganyar PLTS Tersebar 100 KK, SHS 59 WP Listrik Kementrian PDT 2009 OMS Kaligaru bersinar
Kec. Purwonegoro
4 Dsn. Gringging Ds. Pesangkalan Air (PLTMH) 100 KK, 20 kW Listrik APBD Prop. 2009 OMS Ngudi Rahayu
Kec. Pagedongan
5 Dsn. Kaliduren Desa Purwasana Air (PLTMH) 115 KK, 13.5 kW Listrik FS/DE Tahun 2009 Belum dibangun
Kec. Punggelan
6 Dsn. Simpar Desa Tlaga Air (PLTMH) 300 KK Listrik FS/DE Tahun 2009 Rencana APBN 2012
Kec. Punggelan
APBN Tahun 2011
7 Dsn. Wanarata Desa Gumelem Kulon Air (Picohidro) hibrid 400 KK Listrik Sudah ada kincir air sederhana
Picohidro
Kec. Susukan PLTS Pikohidro, utk usaha produktif
8 Dsn. Jumbleng Desa Pasegeran Air (PLTMH) 85 KK, 80 kW Listrik FS/DE Tahun 2009
Kec. Pandanarum
APBN Tahun 2011
9 Dsn. Jombok Desa Petuguran Air (Picohidro) hibrid 192 KK Listrik Sudah ada kincir air sederhana
Picohidro
Kec. Punggelan PLTS Pikohidro, utk usaha produktif
10 Dsn Kalisatkidul Desa Kalisatkidul PLTS Terpusat 85 KK, 15 kW Listrik APBN Prop. 2012 OMS Kalisat Terang
Kec. Kalibening
11 Desa Petir Kec. Purwanegara PLTS Tersebar 70 KK, 50 WP Listrik APBD Prop. 2011
12 Desa Kandangwangi Kec. Wanadadi PLTS Tersebar 19 KK 50 WP Listrik APBD Prop. 2011 Listrik masuk 2013
13 Desa Kaliajir Kec. Purwanegara PLTS Tersebar 30 KK, 50 WP Listrik APBD Prop 2012
14 Desa Kaliajir Kec. Purwanegara PLTS Tersebar 61 KK, 50 WP Listrik APBD Prov 2013