100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
290 tayangan11 halaman

Sanitasi Kapal Kargo dan E.Coli di Surabaya

Studi ini menilai sanitasi kapal kargo dan keberadaan bakteri E. coli pada makanan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar sanitasi kapal memiliki risiko rendah, sedangkan tidak ditemukan bakteri E. coli pada makanan. Upaya yang dapat dilakukan adalah menjaga kebersihan kapal dan pengawasan sanitasi oleh petugas kesehatan pelabuhan.

Diunggah oleh

Joe Vandra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
290 tayangan11 halaman

Sanitasi Kapal Kargo dan E.Coli di Surabaya

Studi ini menilai sanitasi kapal kargo dan keberadaan bakteri E. coli pada makanan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar sanitasi kapal memiliki risiko rendah, sedangkan tidak ditemukan bakteri E. coli pada makanan. Upaya yang dapat dilakukan adalah menjaga kebersihan kapal dan pengawasan sanitasi oleh petugas kesehatan pelabuhan.

Diunggah oleh

Joe Vandra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

STUDI SANITASI KAPAL KARGO DAN KEBERADAAN BAKTERI E.

COLI
PADA MAKANAN JADI DI WILAYAH PELABUHAN TANJUNG PERAK
SURABAYA
Study of Cargo Vessel Sanitation and the Presence E.Coli Bacteria on Food in the Port
Area of Tanjung Perak Surabaya

Puspita Tri Mutiarani


Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga
puspitatrimutiarani@gmail.com

Abstrak: Sanitasi kapal merupakan upaya yang dilakukan agar tidak terjadi infestasi bakteri Eschericia coli sebagai
salah satu indikator tercemarnya air dan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sanitasi kapal
kargo dan keberadaan bakteri E.coli pada makanan jadi di wilayah Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Tahun 2014.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Instrumen dalam
penelitian ini adalah form observasi pemeriksaan sanitasi kapal Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya dan
hasil laboratorium pemeriksaan keberadaan bakteri E.coli pada makanan jadi di kapal kargo. Besar sampel dalam
penelitian ini sebanyak 30 kapal yang diambil secara accidental sampling. Variabel penelitian ini adalah sanitasi kapal
kargo dan keberadaan bakteri E.coli pada makanan jadi di kapal kargo. Hasil penelitian menunjukkan sanitasi kapal
di wilayah Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya meliputi sanitasi dapur, sanitasi ruang penyiapan makanan, sanitasi
gudang, sanitasi air minum, sanitasi makanan, sanitasi limbah padat sebagian besar mempunyai risiko sanitasi rendah,
sedangkan untuk keberadaan bakteri E.coli pada makanan jadi di kapal kargo keseluruhan sampel makanan tidak
terdapat bakteri E.coli. Upaya yang dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kapal oleh ABK dan pengawasan
sanitasi oleh petugas KKP Kelas I Surabaya.

Kata kunci: sanitasi kapal kargo, keberadaan bakteri E.coli pada makanan jadi di kapal kargo

Abstract: Vessel sanitation is the effort made to prevent infestation of bacteria Escherichia coli as an indicator of
contamination of water and foods. This study aimed to identify the presence of the vessel sanitation E.coli bacteria
in processed foods in the region cargo vessel Port of Tanjung Perak Surabaya in 2014. This study was observational
descriptive with cross-sectional approach. Instrument in this study was the observation form vessel sanitation inspection
of Port Health Office Class I Surabaya and the results of laboratory examination of the presence of E.coli bacteria in
food on a cargo vessel. The sample size in this study as many as 30 vessels were taken by accidental sampling. The
variables of this study was vessel sanitation and the presence of E.coli bacteria in food on a cargo ship. The results
showed the ship sanitation in the area of Tanjung Perak Surabaya include kitchen sanitation, sanitary food preparation
space, warehouse sanitation, drinking water sanitation, food sanitation, solid waste sanitary mostly have low sanitary
risk, where as for the presence of E.coli in processed food the overall cargo vessel food samples contained no E.coli
bacteria. Efforts that can be done by keeping the ship clean by crews and sanitation inspection by officer of Port Health
Office Class I Surabaya.

Keywords: cargo vessel sanitation, presence of E.coli on the food on the cargo vessel

PENDAHULUAN laut merupakan pintu gerbang lalu lintas orang,


barang dan alat angkut baik dari luar negeri
Transportasi laut berperan sebagai sarana
maupun antar pulau (interinsular). Pelabuhan
untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan
Tanjung Perak Surabaya merupakan pelabuhan
nasional, mendukung terwujudnya wawasan
tersibuk kedua di Indonesia setelah Pelabuhan
nusantara serta mempererat hubungan antar
Tanjung Priok Jakarta. Pelabuhan ini juga menjadi
bangsa. Pelabuhan merupakan pelabuhan
pelabuhan utama di wilayah Indonesia Timur.
laut atau pelabuhan yang terletak pada sungai
Tempat bersandarnya kapal baik kapal asing
dan danau, tempat kapal yang melakukan
maupun kapal domestik.
perjalanan internasional atau nasional baik pada
Kapal domestik atau kapal antar pulau
keberangkatan maupun kedatangan. Pelabuhan
di Indonesia mengangkut berbagai macam

111
112 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 9, No. 2 Juli 2017: 111–121

kebutuhan seperti barang elektronik, furnitur, dan Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
sebagainya serta bahan yang mudah membusuk Lingkungan (Ditjen PP-PL). KKP mempunyai tugas
seperti makanan, sayuran, buah-buahan, dan melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya
lain-lain. Kapal merupakan salah satu transportasi penyakit karantina dan penyakit menular potensial
perpindahan vektor, sebagai transmisi penyakit. wabah, kekarantinaan, pelayanan kesehatan
Kapal yang memuat berbagai macam jenis barang terbatas di wilayah kerja pelabuhan/bandara
tersebut adalah kapal kargo (cargo ship). Kapal dan lintas batas, serta pengendalian dampak
kargo merupakan kapal yang memuat bahan kesehatan lingkungan.
makanan berpotensi sebagai habitat vektor dan Menurut Keputusan Menteri Kesehatan
rodent. RI No. 431/MENKES/SK/IV/2007 tentang
Menurut International Health Regulations Pedoman Teknis Pengendalian Risiko Kesehatan
(IHR), 2005, kapal merupakan alat angkut yang Lingkungan di Pelabuhan /Bandara/Pos Lintas
dapat berlayar menggunakan mesin maupun layar Batas dalam Rangka Karantina Kesehatan, definisi
yang melakukan perjalanan nasional maupun operasional pengawasan sanitasi alat angkut
internasional. Sanitasi kapal merupakan salah adalah pengawasan sanitasi semua bagian
satu usaha yang ditujukan terhadap faktor risiko dalam alat angkut sehingga alat angkut tersebut
lingkungan di kapal untuk memutuskan mata layak dari segi sanitasi untuk mengangkut atau
rantai penularan penyakit guna memelihara dan ditinggali orang. Pemeriksaan sanitasi kapal
mempertinggi derajat kesehatan. Sanitasi kapal yang dilakukan antara lain adalah pemeriksaan
mencakup seluruh aspek penilaian kompartemen rutin merupakan pemeriksaan yang dilakukan
kapal antara lain dapur, ruang penyediaan terhadap setiap kapal dan pesawat yang datang;
makanan, palka, gudang, kamar anak buah kapal, pemeriksaan berkala merupakan pemeriksaan
penyediaan air bersih, dan penyajian makanan yang dilakukan setiap 6 bulan sekali bersamaan
serta pengendalian vektor penular penyakit atau dengan penerbitan sertifikat sanitasi; pemeriksaan
rodent. Operator alat angkut yang seterusnya khusus merupakan pemeriksaan yang dilakukan
harus menjaga alat angkut bebas dari sumber pada saat terjadi kejadian luar biasa (KLB) di
penyakit atau kontaminasi, dan juga bebas dari kapal atau pesawat. Hasil pemeriksaan sanitasi
vektor penyakit. kapal yang menunjukkan hasil risiko sanitasi
Sanitasi kapal merupakan segala usaha tinggi apabila terdapat tanda kehidupan vektor
yang ditujukan terhadap faktor lingkungan di dan rodent sehingga diterbitkan Sertifikat
kapal untuk memutuskan mata rantai penularan Tindakan Penyehatan Kapal (Ship Sanitation
penyakit guna memelihara dan mempertinggi Control Certificates/S SCC). Selanjutnya
derajat kesehatan. Tujuan peningkatan sanitasi tindakan pengendalian yang dilakukan untuk
kapal adalah meniadakan atau menghilangkan mengendalikan faktor risiko pada kapal yang
sumber penularan penyakit di dalam kapal, mempunyai risiko sanitasi tinggi antara lain
agar kapal tetap bersih sewaktu mau berangkat seperti fumigasi dan disinseksi. Sedangkan kapal
maupun sedang berlayar, dan supaya penumpang yang diperiksa menunjukkan hasil risiko sanitasi
maupun anak buah kapal (ABK) senang berada rendah maka diterbitkan Sertifikat Bebas Tindakan
didalamnya (Permenkes Republik Indonesia Penyehatan Kapal (Ship Sanitation Control
No. 530/Menkes/Per/VII/1987). Exemption Certificates/SSCEC). Pemeriksaan
Permenkes RI No. 2348/ Menkes/Per/ sanitasi kapal untuk memperoleh sertifikat tersebut
IV/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor dilakukan secara berkala setiap 6 bulan sekali.
Kesehatan Pelabuhan, pemeriksaan sanitasi Escherichia coli atau E.coli merupakan bakteri
kapal berlaku untuk semua jenis kapal seperti dari mikroflora yang secara normal ada dalam
kapal penumpang, kapal perang, dan kapal saluran pencernaan manusia dan hewan berdarah
barang. Hasil pemeriksaan sanitasi kapal untuk panas. Bakteri E.coli juga merupakan bakteri
memperoleh sertifikat sanitasi kapal. Pemeriksaan indikator kualitas air karena keberadaannya di
sanitasi kapal merupakan kewenangan Kantor dalam air mengindikasikan bahwa air tersebut
Kesehatan Pelabuhan yang selanjutnya disebut terkontaminasi oleh feses, yang kemungkinan
KKP. Kantor Kesehatan Pelabuhan adalah unit juga mengandung mikroorganisme enterik
pelaksana teknis di lingkungan Kementerian patogen lainnya. Bakteri E.coli menjadi patogen
Kesehatan Republik Indonesia yang berada di jika jumlah bakteri ini dalam saluran pencernaan
bawah dan bertanggungjawab kepada Direktorat meningkat atau berada di luar usus. Bakteri E.coli
P T Mutiarani, Studi Sanitasi Kapal Kargo dan Keberadaan Bakteri E. Coli 113

menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan perut serta muntah. Pada kebanyakan penderita,
beberapa kasus diare (Brooks dkk, 2004). diare berdarah biasanya muncul 1–2 hari setelah
Bakteri E .coli merupakan indikator gejala pertama timbul, tetapi tidak terkait dengan
tercemarnya air dan makanan. Keberadaan bakteri keberadaan leukosit dalam tinja. Enterotoxigenic
E.coli dalam sumber air atau makanan merupakan E.coli (ETEC) menyebabkan diarrhea (diare
indikasi pasti terjadinya kontaminasi tinja manusia terus menerus) seperti pada kolera strain kuman
(Chandra, 2006). Bakteri E.coli yang terdapat ini mengeluarkan toksin LT (termolabil) dan ST
pada makanan dan minuman yang masuk ke (termostabil). Faktor permukaan untuk perlekatan
dalam tubuh manusia dapat menyebabkan sel kuman pada mukosa usus penting di dalam
penyakit seperti kolera, disentri, gastroeinteritis, patogenesis diare karena sel kuman harus melekat
diare, dan berbagai penyakit saluran pencernaan dulu pada sel epitel mukosa usus sebelum kuman
yang lain. Selain itu penularan dapat terjadi mengeluarkan toksin (Brooks dkk, 2004).
melalui kontak dari penjamah makanan yang Kemampuan organisme untuk tumbuh
terinfeksi selama mengolah makanan sehingga dan tetap hidup merupakan hal penting dalam
bakteri E.coli dapat menjadi salah satu penyebab ekosistem pangan. Suatu pengetahuan dan
penularan penyakit melalui makanan (foodborne pengertian tentang faktor yang mempengaruhi
disease). Penyakit akibat makanan (foodborne kemampuan tersebut sangat penting untuk
disease), biasanya bersifat toksik maupun mengendalikan hubungan antara mikroorganisme,
infeksius, disebabkan oleh agen penyakit yang makanan dan manusia. Beberapa faktor utama
masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi makanan yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri E.coli
dan air yang terkontaminasi. Peranan air dan meliputi suhu, aktivitas air, pH dan tersedianya
makanan dalam penularan penyakit diare tidak oksigen. Bakteri E.coli adalah salah satu indikator
dapat diabaikan karena air merupakan unsur untuk menilai pelaksanaan sanitasi makanan
yang ada dalam makanan maupun minuman dan (WHO, 2005).
juga digunakan untuk mencuci tangan, bahan Dalam Permenkes RI No. 1096/MENKES/
makanan serta peralatan untuk memasak atau VI/2011 tentang Higiene Sanitasi Jasa Boga
makan. Jika air terkontaminasi dan higiene bahwa angka bakteri E.coli dalam makanan
yang baik tidak dipraktikkan, makanan yang jadi disyaratkan 0 per gram contoh makanan
dihasilkan kemungkinan besar juga terkontaminasi dan minuman disyaratkan angka bakteri E.coli
(Adams dkk, 2004). harus 0 per 100 ml contoh minuman. Salah satu
Bakteri E.coli dihubungkan dengan tipe kontaminan yang paling sering dijumpai pada
penyakit usus (diare) pada manusia. Gejala makanan adalah bakteri coliform, E.coli dan Faecal
timbul 18–48 jam setelah memakan makanan coliform. Bakteri ini berasal dari tinja manusia
yang tercemar, berupa nyeri dan diare, terkadang dan hewan, tertular ke dalam makanan karena
disertai oleh demam serta muntah. Beberapa penjamah yang tidak higienis, pencucian peralatan
faktor berperan dalam pencegahan infeksi bakteri yang tidak bersih, kesehatan pada pengolah
E.coli seperti keasaman lambung, keutuhan flora dan penjamah makanan serta penggunaan air
dan motilitas usus. Periode inkubasi Enteroinvasive pencuci yang mengandung Coliform, E.coli, dan
E.coli (EIEC) berkisar 1–2 hari kemudian berlanjut Faecal coliform. Pengelolaan makanan adalah
dengan timbulnya diare berair (water diarrhea) rangkaian kegiatan yang meliputi penerimaan
tanpa disertai darah, lendir atau leukosit. Muntah bahan mentah atau makanan terolah, pembuatan,
dapat timbul, tetapi sebagian besar penderita pengubahan bentuk, pengemasan, pewadahan,
tidak disertai demam. Gejala ini akan hilang pengangkutan, dan penyajian. Higiene sanitasi
sendiri dalam kurun waktu kurang dari 5 hari. adalah upaya untuk mengendalikan faktor risiko
Enteropathogenic E.coli (EPEC) yang menyerang terjadinya kontaminasi terhadap makanan, baik
terutama bayi dan anak, menyebabkan diare yang berasal dari bahan makanan, orang, tempat,
berair. Jika keadaan ini menjadi parah pada anak- dan peralatan agar aman dikonsumsi.
anak akan terjadi dehidrasi yang mengarah pada Banyak penyakit serius dan membahayakan
gagalnya pertumbuhan. Gejala yang ditimbulkan yang terjadi akibat penularan oleh orang yang
oleh Enterohaemorhagic E.coli (EHEC) berkisar tidak mencuci tangannya. Terutama penyakit yang
dari diare berair ringan hingga colitis hemoragik ditularkan melalui rute fekal-oral. Tinja yang masih
yang parah. Setelah masa inkubasi 1–5 hari dilalui, melekat di tangan setelah buang air besar dapat
diare berair terjadi dan kerap diikuti oleh kram masuk ke dalam tubuh saat mengontaminasi
114 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 9, No. 2 Juli 2017: 111–121

makanan, saat menyimpan makanan atau pada METODE PENELITIAN


saat memasukkan tangan ke dalam mulut. Bakteri
Penelitian ini merupakan penelitian
E coli, colera, demam tifoid, diare, keracunan
observasional dengan menggunakan pendekatan
makanan merupakan beberapa contoh penyakit
waktu cross sectional yang dianalisis secara
yang ditularkan melalui rute fekal-oral (Timmreck,
deskriptif.
2004).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
Perlu disadari bahwa menangani makanan
kapal yang bersandar di wilayah Pelabuhan
dapat secara langsung atau tidak langsung
Tanjung Perak Surabaya. Sampel dalam penelitian
bakteri ini tidak dapat berpindah sendiri dari
ini diambil dengan menggunakan data kapal
satu tempat ke tempat lain. Dengan demikian,
yang melakukan clearance pada kedatangan dan
bakteri memerlukan perantara, yang dapat
keberangkatan kapal dari KKP Kelas I Surabaya
berupa serangga, udara, debu, air, peralatan,
dengan rerata setiap harinya 30 kapal. Dalam
dan terutama manusia yang biasanya menjadi
penelitian ini sampel diambil secara non probability
perantara utama (Purnawijayanti, 2001).
sampling dengan teknik accidental sampling.
Survei pendahuluan yang dilakukan pada
Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Oktober
kapal di wilayah Pelabuhan Tanjung Perak
2013 sampai dengan Bulan Agustus 2014.
Surabaya diperoleh hasil 76,66% atau 23 ABK
Variabel dalam penelitian ini adalah sanitasi
dari 30 ABK menyatakan pernah mengalami diare,
kapal kargo yang terdiri dari sanitasi dapur,
meski hasil laboratorium tidak terdapat bakteri
sanitasi ruang penyiapan makanan, sanitasi
E.coli pada makanan jadi. Menurut laporan Sistem
gudang, sanitasi air minum, sanitasi makanan,
Informasi Manajemen Kesehatan Pelabuhan
sanitasi limbah padat dan keberadaan bakteri
(SIMKESPEL) KKP Kelas I Surabaya pada Tahun
E.coli pada makanan jadi di kapal kargo.
2011 terdapat 40 kapal yang menunjukkan risiko
Pengumpulan data primer diperoleh
sanitasi tinggi dengan ditemukannya infestasi
dengan cara melakukan pemeriksaan sanitasi
vektor dan rodent dari 2.266 kapal yang diperiksa
kapal dengan menggunakan Form Observasi
sanitasinya. Sedangkan laporan Simkespel pada
Pemeriksaan Higiene Sanitasi Kapal KKP Kelas
Tahun 2012 tedapat 42 kapal yang menunjukkan
I Surabaya (2009) sedangkan untuk keberadaan
risiko sanitasi tinggi dengan ditemukannya
bakteri E.coli pada sampel makanan jadi di kapal
infestasi vektor dan rodent dari 2.521 kapal yang
kargo dengan uji mikrobiologi di Pemerintah
diperiksa sanitasinya.
Kota Surabaya Dinas Kesehatan Laboratorium
Identifikasi penyebab masalah antara lain
Kesehatan Surabaya. Data sekunder diperoleh
keadaan sanitasi kapal yang memiliki risiko
dari KKP Kelas I Surabaya meliputi data jumlah
sanitasi rendah tetapi terdapat terdapat infestasi
kapal yang melakukan clearance kedatangan dan
vektor dan rodent atau binatang pengganggu
keberangkatan kapal rerata setiap harinya, jumlah
yang akan banyak menimbulkan permasalahan
kapal yang melakukan perpanjangan sertifikat
baik secara fisik, kesehatan, estetika, dan daya
sanitasi kapal (SSCEC) serta jumlah kapal yang
tahan hidup manusia sehingga termasuk risiko
dilakukan tindakan pengendalian (SSCC) tahun
sanitasi tinggi. Meskipun persyaratan sanitasi
2011 dan 2012 di wilayah Pelabuhan Tanjung
kapal seperti pencahayaan 10fc, kelembapan
Perak Surabaya.
65-95%, pH air 6,5-8, dan sisa khlor 0,2-0,4 ppm
Data dalam penelitian ini diolah dan disajikan
telah sesuai dengan persyaratan sanitasi kapal.
dalam bentuk tabel dan naratif kemudian dianalisis
Keberadaan bakteri E.coli pada makanan jadi di
secara deskriptif.
kapal kargo merupakan indikator tercemarnya air
dan makanan yang dapat menularkan penyakit
salah satunya diare. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tujuan umum dari penelitian ini adalah Sanitasi Kapal Kargo
mengidentifikasi sanitasi kapal kargo dan
keberadaan bakteri E.coli pada makanan jadi di Hasil pengukuran sanitasi kapal kargo
kapal kargo wilayah Pelabuhan Tanjung Perak diklasifikasikan menjadi 2 kategori, yaitu kategori
Surabaya. risiko sanitasi tinggi apabila hasil pengukuran
P T Mutiarani, Studi Sanitasi Kapal Kargo dan Keberadaan Bakteri E. Coli 115

Tabel 1. mempunyai pengaruh terhadap perkembangan


Sanitasi Kapal Kargo di Wilayah Pelabuhan Tanjung fisik manusia, kesehatan maupun kelangsungan
Perak Surabaya Tahun 2014 hidupnya yang berpengaruh terhadap derajat
Sanitasi kapal Jumlah Persentase (%)
kesehatan manusia dengan melakukan usaha
pencegahan munculnya penyakit, sehingga
Risiko Rendah 26 86,7
kelangsungan hidup dapat terjamin (Siswanto,
Risiko Tinggi 4 13,3 2003).
Total 30 100,0 Sanitasi kapal yang buruk/jelek yaitu kapal
yang mempunyai risiko sanitasi tinggi akan
banyak menimbulkan permasalahan baik secara
sanitasi kapal yang di observasi kurang dari fisik, kesehatan, estetika, dan daya tahan hidup
standar ataupun ditemukan adanya tanda manusia yang terdapat pada kapal tersebut
kehidupan vektor dan rodent. Sedangkan kategori (Supriyadi dkk, 2006). Menurut penelitian Soejoedi
risiko sanitasi rendah apabila sesuai dengan (2005) bahwa tindakan hapus tikus atau fumigasi
persyaratan sanitasi kapal kargo. di kapal merupakan salah satu bentuk tindakan
Distribusi sanitasi kapal kargo pada penelitian sanitasi kapal dalam mengendalikan faktor risiko
ini dapat dilihat pada Tabel 1. yang terdapat di kapal yaitu vektor dan rodent
Berdasarkan Tabel 1 dapat dijelaskan bahwa bahkan merupakan item penting dalam dokumen
sanitasi kapal kargo di wilayah Pelabuhan Tanjung MDH (Maritime Declaration of Health). Salah satu
Perak Surabaya sebagian besar mempunyai risiko pertanyaan dalam MDH adalah tentang adanya
sanitasi rendah yaitu sebanyak 26 kapal (86,7%). indikasi penyakit pes baik yang timbul di antara
Sedangkan sebagian kecil risiko sanitasi tinggi ABK maupun di antara tikus. Kepemilikan sertifikat
yaitu sebanyak 4 kapal (13,3%) Ship Sanitation Control Exemption Certificates
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian (SSCEC) juga sangat memperhatikan Surat
Adriyani (2005) di Pelabuhan Domestik Gresik, Keterangan Hapus Tikus (SKHT), artinya bahwa
Jawa Timur yang mengemukakan bahwa kepemilikan sertifikat SSCEC mutlak harus
persoalan sanitasi pelabuhan mencakup sanitasi memperhatikan sanitasi kapal secara keseluruhan
kapal masih sangat rendah. Kontribusi sanitasi meskipun pemeriksaan dilakukan setiap 6 bulan
kapal sangat besar terhadap perwujudan sanitasi sekali.
pelabuhan secara keseluruhan. Cakupan sanitasi Menurut penelitian Supriyadi dkk (2006)
kapal hanya 32,6% dari 3.091 kapal yang yang mengemukakan bahwa determinan sanitasi
bersandar. Rendahnya sanitasi kapal tersebut kapal yang buruk di Pelabuhan Pangkalbalam
mengindikasikan minimnya penyediaan air bersih adalah faktor karakteristik manajemen yang
dan sanitasi dok kapal, serta masih ditemukannya meliputi kepemimpinan nakhoda, karakteristik
vektor atau rodent dalam kapal meskipun dalam perilaku ABK yang meliputi tingkat pendidikan
jumlah yang relatif kecil. dan pelatihan, pemahaman Standar Operasional
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun Prosedur (SOP), serta karakteristik pendukung
1962 tentang Karantina Laut, sanitasi kapal yang meliputi tersedianya sarana-prasarana, dana,
merupakan salah satu faktor yang sangat penting bahan dan waktu. Pemahaman dan pelaksanaan
dalam mendukung pengawasan kesehatan SOP yang baik oleh para ABK di kapal cenderung
lingkungan kapal khususnya manusia yang mempunyai sanitasi kapal yang baik dibandingkan
terdapat di dalamnya maupun masyarakat dengan pemahaman dan pelaksanaan SOP oleh
pada umumnya yaitu sekitar pelabuhan tempat ABK di kapal yang tidak baik.
kapal tersebut bersandar. Sanitasi adalah
Sanitasi Dapur
upaya kesehatan dengan cara memelihara dan
melindungi kebersihan lingkungan dari subyeknya, Hasil pengukuran sanitasi kapal kargo untuk
misalnya menyediakan air yang bersih untuk variabel sanitasi dapur diklasifikasikan menjadi 2
keperluan mencuci tangan, menyediakan tempat kategori, yaitu kategori risiko sanitasi rendah bila
sampah untuk mewadahi sampah agar sampah bersih yaitu tidak terlihat kotoran, tertata rapi, dan
tidak dibuang sembarangan (Depkes RI, 2001). sampah dibuang pada tempatnya; pertukaran
Sanitasi merupakan suatu tindakan udara bagus yaitu asap dapur dibuang melalui
pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan cerobong asap atau exhauster atau ventilasi
fisik manusia yang mempunyai atau mungkin biasa; pencahayaan bagus yaitu pencahayaan
116 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 9, No. 2 Juli 2017: 111–121

Tabel 2. keadaan tidak bersih karena terdapat sampah


Sanitasi Kapal Kargo menurut Variabel Sanitasi Dapur yang berserakan sehingga menyebabkan
di Wilayah Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Tahun munculnya lalat dan kecoa. Peralatan makan yang
2014
bersih disimpan dengan peralatan makan yang
Sanitasi kapal Jumlah Persentase (%) kotor, dapur dilengkapi dengan ventilasi biasa
untuk mengeluarkan asap. Pencahayaan di dalam
Risiko Rendah 26 86,7
dapur tidak baik sehingga memperlambat proses
Risiko Tinggi 4 13,3
pengolahan makanan dan pengolahan makanan
Total 30 100,0 tidak dapat dilakukan dengan baik. Pertukaran
udara di dalam dapur sudah baik sehingga tidak
lebih dari 10fc atau bisa untuk membaca koran; terasa pengap.
cara pencucian bagus yaitu dilengkapi dengan
saluran air panas dan bahan pembersih khusus; Sanitasi Ruang Penyiapan Makanan
bebas serangga dan tikus yaitu tidak ditemukan Hasil pengukuran sanitasi kapal kargo untuk
serangga dan tikus atau binatang pengganggu variabel sanitasi ruang penyiapan makanan
lain. Sedangkan hasil pengukuran sanitasi kapal diklasifikasikan menjadi 2 kategori, yaitu kategori
kargo untuk kategori risiko sanitasi tinggi apabila risiko sanitasi rendah bila bersih yaitu tidak
hasil pengukuran sanitasi kapal kargo yang di terlihat kotoran, tertata rapi, dan sampah dibuang
observasi kurang dari standar ataupun ditemukan pada tempatnya; pertukaran udara bagus yaitu
adanya tanda kehidupan vektor dan rodent. pertukaran udara memakai exhauster, AC atau
Distribusi sanitasi kapal kargo pada penelitian ventilasi, kelembapan 65–95%; pencahayaan
ini dapat dilihat pada Tabel 2. bagus yaitu pencahayaan lebih dari 10fc atau
Berdasarkan Tabel 2 dapat dijelaskan bahwa bisa untuk membaca koran; cara penyimpanan
sanitasi kapal kargo di wilayah Pelabuhan Tanjung bagus yaitu makanan kering dan basah disimpan
Perak Surabaya sebagian besar mempunyai risiko tersendiri di lemari es atau freezer atau rak;
sanitasi rendah yaitu sebanyak 26 kapal (86,7%). bebas serangga dan tikus yaitu tidak ditemukan
Sedangkan sebagian kecil risiko sanitasi tinggi serangga dan tikus atau binatang pengganggu
yaitu sebanyak 4 kapal (13,3%) lain. Sedangkan hasil pengukuran sanitasi kapal
Menurut Depkes RI (1996), variabel dapur kargo untuk kategori risiko sanitasi tinggi apabila
dengan dinding dan atap memiliki permukaan hasil pengukuran sanitasi kapal yang di observasi
yang lembut, rapi, dan bercat terang. Filter kurang dari standar ataupun ditemukan adanya
udara berserabut tidak boleh dipasang di atap tanda kehidupan vektor dan rodent .
atau melintasi peralatan pemrosesan makanan. Distribusi sanitasi kapal kargo menurut
Penerangan tidak kurang dari 20 lilin atau sekitar variabel sanitasi ruang penyiapan makanan pada
200 lux. Diberikan ventilasi yang cukup untuk penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.
menghilangkan hawa busuk dan kondensasi, Berdasarkan Tabel 3 dapat dijelaskan bahwa
ventilasi alam ditambah sesuai kebutuhan, sanitasi kapal kargo di wilayah Pelabuhan Tanjung
lubang hawa di unit ventilasi mudah dilepas Perak Surabaya sebagian besar mempunyai risiko
untuk keperluan pembersihan. Rak penyimpanan sanitasi rendah yaitu sebanyak 26 kapal (86,7%).
perkakas dan perabot tidak boleh diletakkan di Sedangkan sebagian kecil risiko sanitasi tinggi
bawah ventilasi. Peralatan dan perkakas dapur yaitu sebanyak 4 kapal (13,3%).
yang terkena kontak langsung dengan makanan Menurut Sumantri (2010), penyajian makanan
dan minuman dibuat dari bahan yang halus anti yang telah matang harus memenuhi persyaratan
karat, tidak mengandung racun, kedap air dan
mudah dibersihkan. Tabel 3.
Dapur merupakan tempat yang paling Sanitasi Kapal Kargo menurut Variabel Sanitasi Ruang
Penyiapan Makanan di Wilayah Pelabuhan Tanjung
penting dan krusial dalam proses pengolahan
Perak Surabaya Tahun 2014
makanan dimana dapat memungkinkan terjadinya
penyebaran penyakit atau kontaminasi melalui Sanitasi kapal Jumlah Persentase (%)
vektor dan makanan (Humaan, 2012). Risiko Rendah 26 86,7
Hasil penelitian ini berbeda dengan Mandagie
Risiko Tinggi 4 13,3
(2011) yang mengemukakan bahwa kondisi dapur
yang dipakai untuk mengolah makanan dalam Total 30 100,0
P T Mutiarani, Studi Sanitasi Kapal Kargo dan Keberadaan Bakteri E. Coli 117

sanitasi yaitu bebas dari kontaminasi, bersih, dan Sedangkan sebagian kecil risiko sanitasi tinggi
tertutup serta dapat memenuhi selera makan bagi yaitu sebanyak 4 kapal (13,3%).
yang mengonsumsi makanan yang disajikan. Menurut Depkes RI (1996), variabel gudang
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian atau ruang penyimpanan bahan makanan
Mandagie (2011), tempat penyajian makanan di merupakan ruang penyimpanan yang cukup
KM. Ratu Maria dalam bentuk rak yang berukuran memperoleh ventilasi, bersih, kering, dan
kecil memiliki permukaan yang kasar sehingga memberikan ruang pembersih di bawahnya.
sulit dibersihkan, peralatan makan dan peralatan Tempat penyimpanan dibuat dari materi yang
masak serta barang lainnya tidak tersusun dengan kedap air, tahan karat, tidak mengandung racun,
rapi. Makanan yang sudah masak tidak disimpan halus, kuat dan tahan terhadap goresan.
di wadah yang bersih dan tertutup akan tetapi Hasil penelitian ini sesuai dengan
hanya dibiarkan di wajan dan tidak ditutup dengan hasil penelitian Marpaung dkk (2013) yang
rapat sehingga menyebabkan makanan tersebut mengemukakan bahwa penyimpanan bahan
mudah terkontaminasi dengan lalat dan kotoran makanan harus dilakukan dalam suatu tempat
lainnya. Wadah tempat nasi disimpan diwadah khusus atau gudang untuk bahan makanan
yang mempunyai penutup akan tetapi diletakkan kering dan dalam lemari pendingin untuk bahan
di lantai. makanan basah serta penyimpanan harus
diatur dan disusun dengan baik dan rapi.
Sanitasi Gudang Sedangkan hasil penelitian ini berbeda dengan
Hasil pengukuran sanitasi kapal kargo untuk penelitian Mandagie (2011) yang mengemukakan
variabel sanitasi gudang diklasifikasikan menjadi bahwa bahan makanan yang telah dibeli seperti
2 kategori yaitu kategori risiko sanitasi rendah laksa, beras dan lainnya disimpan dalam gudang
bila bersih yaitu tidak terlihat kotoran, tertata penyimpanan bahan makanan. Kondisi gudang
rapi, dan sampah dibuang pada tempatnya; penyimpanan bahan makanan tidak bersih
pertukaran udara bagus yaitu pertukaran udara karena terdapat sampah dan berdebu, tidak
memakai exhauster, AC atau ventilasi, kelembapan tertata dengan rapi, dinding dan langit-langit
65–95%; pencahayaan bagus yaitu pencahayaan tidak berwarna terang dan terdapat kecoa. Bahan
lebih dari 10fc atau bisa untuk membaca koran; makanan disimpan dengan barang lainnya seperti
bebas serangga dan tikus yaitu tidak ditemukan sandal, kasur, dan tas barang.
serangga dan tikus atau binatang penggangu
Sanitasi Air Minum
lain. Sedangkan hasil pengukuran sanitasi kapal
kargo untuk kategori risiko sanitasi tinggi apabila Hasil pengukuran sanitasi kapal kargo
hasil pengukuran sanitasi kapal yang di observasi untuk variabel sanitasi air minum diklasifikasikan
kurang dari standar ataupun ditemukan adanya menjadi 2 kategori yaitu kategori risiko sanitasi
tanda kehidupan vektor dan rodent. rendah bila tersedia air yang langsung dapat
Distribusi sanitasi kapal kargo menurut diminum melalui proses pengolahan terlebih
variabel sanitasi gudang pada penelitian ini dapat dahulu; indikasi kualitas air memenuhi syarat
dilihat pada Tabel 4 . secara fisik yaitu jernih, pH 6,5-8, sisa chlor 0,2-
Berdasarkan Tabel 4 dapat dijelaskan bahwa 0,4 ppm; saluran dan alat pengambil air serta
sanitasi kapal kargo di wilayah Pelabuhan Tanjung tempat penyimpanannya bersih yaitu tidak
Perak Surabaya sebagian besar mempunyai risiko tampak kotoran pada kran pengambilan air dan
sanitasi rendah yaitu sebanyak 26 kapal (86,7%). alat pengambilnya. Sedangkan hasil pengukuran
sanitasi kapal kargo untuk kategori risiko sanitasi
Tabel 4. tinggi apabila hasil pengukuran sanitasi kapal
Sanitasi Kapal menurut Variabel Sanitasi Gudang di
yang di observasi kurang dari standar ataupun
Wilayah Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Tahun
ditemukan adanya tanda kehidupan vektor dan
2014
rodent.
Sanitasi kapal Jumlah Persentase (%) Hasil pengukuran sanitasi kapal dengan
Risiko Rendah 26 86,7 variabel sanitasi air minum pada kapal kargo
di wilayah Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya
Risiko Tinggi 4 13,3
mempunyai risiko sanitasi rendah yaitu sebanyak
Total 30 100,0
30 kapal (100%).
118 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 9, No. 2 Juli 2017: 111–121

Menurut Depkes RI (1996), variabel tangki Menurut Husain (2011), yang mengemukakan
penyimpanan air. Air layak minum disimpan di satu bahwa makanan yang akan dikonsumsi
atau lebih tangki yang dikonstruksi, ditempatkan hendaknya memenuhi kriteria antara lain
dan dilindungi sedemikian rupa, sehingga aman makanan tersebut layak untuk dimakan dan tidak
dari segala pencemar yang berasal dari luar menimbulkan penyakit, diantaranya berada dalam
tangki. Tangki dibuat dari metal, harus tersendiri, derajat kematangan yang dikehendaki, bebas
tidak bersekatan dengan tangki yang memuat air dari pencemaran di setiap tahap produksi dan
bukan untuk minum. Tangki air minum dan bagian penanganan selanjutnya, bebas dari perubahan
lainnya didesinfeksi dengan klorin. fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai akibat
Menurut Beaumier (2007), dalam program dari pengaruh enzim, aktivitas mikroba, hewan
sanitasi kapal yang dilakukan kerjasama antar pengerat, serangga, parasit dan kerusakan karena
pemerintahan Amerika dengan industri kapal tekanan, pemasakan dan pengeringan. Bebas dari
pesiar untuk meningkatkan kesehatan masyarakat mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan
yang mengemukakan bahwa beberapa kapal penyakit yang dihantarkan oleh makanan.
sudah mempunyai tangki air minum dimana air Kasus penyakit melalui makanan dapat
minum tersebut langsung diminum. Tangki air dipengaruhi beberapa faktor antara lain
minum berada di lambung kapal. kebiasaan mengolah makanan secara tradisional,
penyimpanan, dan penyajian yang tidak bersih,
Sanitasi Makanan serta pencucian dan penyimpanan alat-alat atau
Hasil pengukuran sanitasi kapal kargo untuk perlengkapan (Chandra, 2006).
variabel sanitasi makanan diklasifikasikan menjadi Makanan jajanan yang mengandung air
2 kategori yaitu kategori risiko sanitasi rendah bila dan penyajiannya dalam keadaan tidak panas
sumber bahan makanan dari pemasok resmi, cara mempunyai risiko tinggi untuk terkontaminasi
penyimpanan yaitu makanan kering dan basah (Vitayata, 1995). Menurut Moehyi (1992) yang
disimpan terpisah dalam lemari es atau freezer mengemukan bahwa apabila memajang makanan
atau rak; cara penyiapan makanan yaitu penjamah yang telah matang seharusnya tertutup rapat guna
makanan; pelayanan waktu penyajian makanan menghindari kemungkinan terjadinya pencemaran
tidak melebihi 4 jam. Sedangkan hasil pengukuran makanan akan menjadi kecil.
sanitasi kapal kargo untuk kategori risiko sanitasi
Sanitasi Limbah Padat atau Tempat Sampah
tinggi apabila hasil pengukuran sanitasi kapal
yang di observasi kurang dari standar ataupun Hasil pengukuran sanitasi kapal kargo untuk
ditemukan adanya tanda kehidupan vektor dan variabel sanitasi limbah padat atau tempat sampah
rodent. diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu kategori
Distribusi sanitasi kapal kargo menurut risiko sanitasi rendah bila sarana pembuangan
variabel sanitasi makanan pada penelitian ini limbah cair sarananya berupa saluran tertutup,
dapat dilihat pada Tabel 5. tidak bocor dan dialirkan ke tempat khusus; bebas
Berdasarkan Tabel 5 dapat dijelaskan bahwa serangga dan tikus tidak ditemukan serangga
sanitasi kapal kargo di wilayah Pelabuhan Tanjung atau binatang pengganggu lain. Sedangkan hasil
Perak Surabaya sebagian besar mempunyai risiko pengukuran sanitasi kapal kargo untuk kategori
sanitasi rendah yaitu sebanyak 26 kapal (86,7%). risiko sanitasi tinggi apabila hasil pengukuran
Sedangkan sebagian kecil risiko sanitasi tinggi sanitasi kapal yang di observasi kurang dari
yaitu sebanyak 4 kapal (13,3%). standar ataupun ditemukan adanya tanda
kehidupan vektor dan rodent.
Tabel 5. Distribusi sanitasi kapal kargo menurut
Sanitasi Kapal Kargo menurut Variabel Sanitasi variabel sanitasi limbah padat atau tempat sampah
Makanan di Wilayah Pelabuhan Tanjung Perak pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 6.
Surabaya Tahun 2014
Berdasarkan Tabel 6 dapat dijelaskan bahwa
Sanitasi Kapal Jumlah Persentase (%) sanitasi kapal kargo di wilayah Pelabuhan Tanjung
Perak Surabaya sebagian besar mempunyai risiko
Risiko Rendah 26 86,7
sanitasi rendah yaitu sebanyak 26 kapal (86,7%).
Risiko Tinggi 4 13,3
Sedangkan sebagian kecil risiko sanitasi tinggi
Total 30 100,0 yaitu sebanyak 4 kapal (13,3%).
P T Mutiarani, Studi Sanitasi Kapal Kargo dan Keberadaan Bakteri E. Coli 119

Tabel 6. leptospira. Bakteri tersebut banyak terdapat di


Sanitasi Kapal Kargo menurut Variabel Sanitasi dalam darah, hati, dan limfa penderita. Penyakit
Limbah Padat atau Tempat Sampah di Wilayah tersebut dapat menimbulkan keluhan seperti
Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Tahun 2014
demam, muntah-muntah, selaput bening mata
Sanitasi kapal Jumlah Persentase (%) kemerahan , hati dan limfa membengkak, dan kulit
menguning (sakit kuning). Menjaga kebersihan
Risiko Rendah 26 86,7
untuk menghindari kontak dengan tikus dan
Risiko Tinggi 4 13,3
menghindari tertular penyakit (Wijaya, 2008).
Total 30 100,0
Keberadaan Bakteri E.coli
Menurut Depkes RI (1996), variabel sampah Hasil laboratorium pada penelitian ini tentang
dengan ketentuan hendaknya dibuat untuk keberadaan bakteri E.coli pada sampel makanan
penyimpanan dan pembuangan yang tersanitasi. jadi di kapal kargo wilayah Pelabuhan Tanjung
Tempat sampah dapat digunakan di daerah Perak Surabaya secara keseluruhan tidak terdapat
penyiapan dan penyimpanan makanan, hanya keberadaan bakteri E.coli sebanyak 30 sampel
untuk keperluan penggunaan segera. Tempat makanan (100%).
sampah berada di ruang yang khusus, terpisah Bakteri E.coli secara normal (komensal)
dari tempat proses pengolahan makanan, mudah terdapat pada saluran usus besar/kecil anak dan
dibersihkan, tahan terhadap tikus (rodent) dan orang dewasa sehat dan jumlahnya mencapai
rayap (vermin), mempunyai pegangan, dibuat 109 CFU (Colony Forming Unit)/gr. Bakteri ini
kedap air, dilengkapi dengan penutup yang dikenal sebagai mikroba indikator fekal dan
rapat. dibagi dalam dua kelompok yaitu non patogenik
Sampah di bagian dapur hendaknya dan patogenik. Bakteri E.coli memfermentasikan
dimasukkan ke dalam tempat sampah yang laktosa dan memproduksi indol yang digunakan
dilapisi dengan plastik sampah, tertutup dan untuk mengidentifikasikan bakteri pada makanan
kedap air, dipisahkan antara sampah basah dan dan air. Bakteri E.coli dapat bertahan hingga suhu
sampah kering masing-masing mempunyai tempat 6°C selama 15 menit atau pada 55°C selama
sendiri, waktu pengangkutan sampah ke tempat 60 menit (BPOM, 2003).
penampungan lainnya supaya diperhatikan jangan Perkembangan bakteri dalam makanan
sampai berceceran atau menimbulkan bau (Sihite, ditentukan oleh keadaan lingkungan serta
2000). temperatur yang cocok, selain ketersediaan zat
Tempat sampah yang tidak dijaga gizi sebagai sumber makanan. Satu sel bakteri
kebersihannya berpotensi sebagai tempat yang hidup dalam lingkungan yang sesuai,
berkembang biak vektor dan rodent. Vektor dan misalnya dalam waktu 20–30 menit, akan
rodent dapat mencemari lingkungan dengan membelah diri sehingga menurut perhitungan
paparan biologis. Contoh vektor dan rodent laboratorium, dalam waktu 7 jam saja jumlah
seperti kecoa, tikus, lalat. Kecoa merupakan bakteri tersebut akan bertambah menjadi 2
salah satu vektor mekanik, yang berperan juta. Laju pertumbuhan bakteri bukan hanya
menghantarkan penyakit yang disebabkan bergantung pada faktor waktu. Banyak faktor
oleh virus, bakteri, protozoa, cacing, dan fungi, yang mendukung perkembangbiakan bakteri,
umumnya menimbulkan penyakit diare, disentri, terutama faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor
kolera, dan demam tifoid (Yudhastuti, 2011). intrinsik menguraikan parameter yang khas untuk
Sedangkan penyakit yang bersumber tikus atau bahan makanan tersebut (pH dan kelembapan)
rodent yang mempunyai gejala mirip dengan sementara faktor ekstrinsik (pemrosesan,
beberapa penyakit lain. Hepatitis karena bakteri, penyimpanan, dan kemasan) menjelaskan
cacing, atau protozoa. Infeksi mikroorganisme, keadaan lingkungan makanan (Arisman, 2009).
seperti leptospira dapat ditularkan melalui air Prosedur pengolahan makanan yaitu pencucian
kencing tikus yang menjadi penyebab penyakit tangan sebelum pengolahan makanan, kebersihan,
leptospirosis. Leptospira masuk ke dalam tubuh dan kesehatan diri. Penyebaran penyakit yang
manusia melalui selaput lendir hidung atau kulit diakibatkan oleh bakteri memerlukan perantara
yang terluka dan kadang melalui pencernaan berupa serangga, udara, debu, air, peralatan,
dari makanan yang terkontaminasi air seni tikus, dan terutama manusia yang biasanya menjadi
anjing, kucing, atau kuda yang mengandung perantara utama (Purnawijayanti, 2001).
120 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 9, No. 2 Juli 2017: 111–121

Menurut Djaja (2003), dalam diduga karena proses pemasakan yang matang
penyelenggaraan makanan dan minuman untuk sehingga kontaminasi dari air, kontaminasi dari
mendapatkan makanan yang bermanfaat dan bahan makanan serta kontaminasi dari penjamah
tidak membahayakan bagi yang memakannya makanan akan hilang (Sanjaya, 2013).
perlu adanya suatu penyehatan makanan dan Penelitian Beaumier (2007), dalam program
minuman, yaitu upaya pengendalian faktor yang sanitasi kapal yang dilakukan kerjasama antar
memungkinkan terjadinya kontaminasi yang pemerintahan Amerika di Pelabuhan Amerika
akan mempengaruhi pertumbuhan kuman dan Serikat yang mengemukakan bahwa meskipun
bertambahnya bahan aditif pada makanan dan wabah penyakit diare di kapal sering dikaitkan
minuman yang berasal dari proses pengolahan dengan kontak orang ke orang, pencegahan dan
makanan dan minuman yang disajikan di pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan
pelabuhan agar tidak menjadi mata rantai dalam mempromosikan kesehatan masyarakat dan
penularan penyakit. kesehatan lingkungan.
Agar kondisi makanan sehat maka makanan
tersebut harus bebas dari kontaminasi. Makanan
KESIMPULAN DAN SARAN
yang terkontaminasi akan menyebabkan penyakit
bawaan makanan. Agar makanan tetap aman dan Penelitian ini menggambarkan bahwa sanitasi
sehat diperlukan beberapa cara yang meliputi kapal kargo di wilayah Pelabuhan Tanjung Perak
penyimpanan, pencegahan kontaminasi, dan Surabaya sebagian besar mempunyai risiko
pembasmian organisme dan toksin (Mukono, sanitasi rendah. Sedangkan keberadaan bakteri
2006). E.coli pada sampel makanan jadi di kapal kargo
Pemasakan merupakan satu cara yang wilayah Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya
penting untuk memastikan bahwa makanan secara keseluruhan tidak terdapat keberadaan
tersebut aman, meskipun cara itu sendiri tidak bakteri E.coli.
selalu memadai (Adams dkk, 2004). Makanan Upaya yang dapat dilakukan oleh ABK
yang tidak dikelola dengan baik dan benar oleh dengan menjaga kebersihan kapal kargo dan
penjamah makanan dapat menimbulkan dampak melakukan pengawasan pemeriksaan secara rutin
negatif seperti penyakit dan keracunan akibat oleh petugas KKP Kelas I Surabaya guna menjaga
bahan kimia, mikroorganisme, tumbuhan atau sanitasi kapal kargo yang bersandar di wilayah
hewan, serta dapat pula menimbulkan alergi, dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
diare (Adam, 2011).
Makanan merupakan hal yang penting DAFTAR PUSTAKA
bagi kesehatan manusia. Saat ini banyak terjadi
Adams. M, dan Motarjemi. Y. (2004). Dasar-dasar
penyakit melalui makanan yang disebut foodborne
Keamanan Makanan untuk Petugas Kesehatan. Alih
disease atau penyakit bawaan makanan seperti Bahasa Maria A. Wijayarani; editor edisi bahasa
diare atau keracunan makanan. Penyebab Indonesia. Jakarta: EGC.
penyakit bawaan makanan dipengaruhi oleh Adam, Y.M. (2011). Pengetahuan dan Perilaku Higiene
berbagai faktor salah satunya bakteri patogen Tenaga Pengolah Makanan di Instalasi Gizi Rumah
Sakit Umum Daerah Dr.Kanujoso Djatiwibowo
seperti E.coli. Penyakit bawaan makanan biasanya
Balikpapan. Tesis. Program Studi Ilmu Gizi Kedokteran
bersifat toksik maupun infeksius, disebabkan Universitas Diponegoro: Semarang.
oleh agen penyakit yang masuk ke dalam tubuh Adriyani. R. (2005). Manajemen Sanitasi Pelabuhan
melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi Domestik. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol 1. No.
(WHO, 2005). 2: Hal. 130–141.
Anonim. (2008). Hygiene dan sanitasi makanan.http://
Guna mencegah jangan sampai terjadinya
putraprabu.wordpress.com/2008/12/27/higiene-dan-
penularan penyakit sebagai akibat dari penjamah sanitasi-makanan/ (sitasi 20 Juni 2014)
makanan, maka perlu diadakan pengawasan Arisman. (2009). Buku Ajar Ilmu Gizi Keracunan Makanan.
kesehatan dari penjamah makanan antara lain Jakarta: EGC.
penjamah harus memperhatikan kesehatan Beaumier, L. (2007). The Vessel Sanitation Program:
Government Partnering with the Cruise Ship Industry
perorangan, memiliki dasar pengetahuan tentang
to Improve Public Health. Journal of Environmental
higiene dan sanitasi makanan serta memiliki Health. Vol. 70, No. 3, Oktober 2007: Hal. 53–55
keterampilan kesehatan (Anonim, 2008). Pada Brooks, G.F, Butel, J.S, Morse, Ornston, N.L. (2004).
sampel yang tidak ditemukan bakteri E.coli Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20. Alih Bahasa Edi
Nugroho dan RF Maulany. Jakarta: EGC.
P T Mutiarani, Studi Sanitasi Kapal Kargo dan Keberadaan Bakteri E. Coli 121

BPOM. (2003). Hygiene dan Sanitasi Pengolahan Mukono, J. (2006). Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan.
Pangan. Jakarta: BPOM. Edisi Kedua. Surabaya: Airlangga University Press.
Chandra, B. (2006). Pengantar Kesehatan Lingkungan. Permenkes RI No.530/Menkes/Per/VII/1987 tentang
Jakarta: EGC. Sanitasi Kapal. Jakarta: Depkes RI.
Depkes RI. (1990). Pendidikan Medik Pemberantasan Permenkes RI No.1096/MENKES/VI/2011 tentang
Diare. Jakarta: Ditjen PPM & PLP. Higiene Sanitasi Jasa Boga, Jakarta: Kemenkes RI
Depkes RI. (1996). Pedoman Sanitasi Kapal. Jakarta: Permenkes RI No.2348/Menkes/Per/IV/2011 tentang
Ditjen PP-PL. Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan
Depkes RI. (2001). Kumpulan Modul Kursus Penyehatan Pelabuhan. Jakarta: Ditjen PP-PL.
Makanan bagi Pengusaha Makanan dan Minuman. Purnawijayanti, H.A. (2001). Sanitasi, Hygiene, dan
Jakarta: Ditjen PP-PL. Keselamatan Kerja dalam Pengolahan Makanan.
Djaja, I M. (2003). Kontaminasi E.coli pada makanan Yogyakarta: Kanisius.
dari tiga jenis tempat pengelolaan makanan (TPM) Sanjaya, T.A. (2013). Deteksi Echerichia coli pada
di Jakarta Selatan Tahun 2003. Jurnal Makara Jajanan Cendol yang dijual di Pasar Tradisional
Kesehatan. Vol. 12, No. 1, Juni 2008: Hal 36–41. Kota Bandar Lampung. Medical Journal of Lampung
Husain, A. (2011). Keberadaan Eschericia Coli pada University: ISSN 2337-3776: Hal. 10–17.
Makanan Siap Saji di Instalasi Gizi RSUD Luwuk, Sihite. (2000). Sanitation and Hygiene. Jakarta: SIC.
Skripsi. Luwuk: Indonesia. Siswanto, H, 2003. Kamus Popular Kesehatan Lingkungan.
Humaan. (2012). Studi Pelaksanaan Inspeksi Sanitasi Jakarta: EGC.
Kapal Penumpang di Wilayah Kerja Kantor Kesehatan Soejoedi, H. (2005). Pengendalian Rodent, Suatu
Pelabuhan (KKP) Kelas I Makassar (Pelabuhan Induk Tindakan Karantina. Jurnal Kesehatan Lingkungan.
Makassar). Skripsi. FKM. UNHAS. Vol. 2 No. 1 Juli 2005: Hal. 53–66.
International Health Regulation (IHR). (2005). Jakarta: Sumantri, A. (2010). Kesehatan Lingkungan & Perspektif
Ditjen PP-PL. Islam. Jakarta: Prenada Media.
KKP Kelas I Surabaya. (2009). Form Observasi Supriyadi, Haryoto K., I Made D. (2006). Faktor yang
Pemeriksaan Higiene Sanitasi Kapal. Surabaya. Berhubungan dengan Tingkat Sanitasi pada
KKP Kelas I Surabaya. (2013). Laporan Simkespel KKP Kapal yang Sandar di Pelabuhan Pangkalbalam
Kelas I Surabaya 2013. Surabaya. Pangkalpinang Tahun 2005. Jurnal Makara Kesehatan,
Keputusan Menteri Kesehatan RI No.431/MENKES/ Vol. 10, No. 2, Desember 2006: Hal. 71–77.
SK/IV/2007 tentang Pedoman Teknis Pengendalian Timmreck, T.C. (2004). Epidemiologi Suatu Pengantar.
Risiko Kesehatan Lingkungan di Pelabuhan /Bandara/ Jakarta: EGC.
Pos Lintas Batas. Jakarta: Ditjen PP-PL. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun
Mandagie H.Y. (2011). Tinjauan Fasilitas Sanitasi 1962 tentang Karantina Laut.
Kapal Motor Ratu Maria Jurusan Manado-Talaud Vitayata, A. (1996). Pembinaan Pengusaha Makanan
Tahun 2010. JKL Volume 1 No. 1, Oktober 2011: Jajanan dalam Upaya Peningkatan Kualitas, Seminar
Hal. 28–38. Nasional Sehari dan Festival Makanan Tradisional.
Marpaung, N.D. Nuraini, S, dan I. Marsaulina. (2012). Pusat Penelitian Pengembangan Teknik Lembaga
Hygiene Sanitasi Pengolahan dan Pemeriksaan Penelitian Universitas Diponegoro. Semarang.
Escherichia Coli dalam Pengolahan Makanan di WHO. (2005). Penyakit Bawaan Makanan: Fokus
Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Pendidikan Kesehatan. Jakarta: EGC.
Malik. Jurnal Lingkungan dan Kesehatan Kerja. Wijaya, H. (2008). Tumpas Hepatitis dengan Ramuan
Vol. 1 No. 2: Hal. 1–10. Herbal. Jakarta: EGC.
Moehyi. (1992). Penyelenggaraan Makanan Institusi dan Yudhastuti, R. (2011). Pengendalian Vektor dan Rodent.
Jasa Boga. Jakarta: Bhratara. Surabaya: Pustaka Melati.

Anda mungkin juga menyukai