Anda di halaman 1dari 67

1

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Ikan kakap putih (Lates calcarifer) merupakan salah satu komoditas yang
memiliki prospek cerah untuk dapat dikembangkan (Shubhi dkk., 2017). Menurut
Rayes dkk., (2013) pengembangan budidaya ikan kakap putih mudah dilakukan,
karena habitat dan penyebaran ikan kakap putih yang sangat luas mulai dari air laut,
air payau, sampai air tawar. Budidaya kakap putih secara komersial sudah
dilakukan di Thailand, Malaysia, Singapore, Hongkong, Taiwan, dan Indonesia
(Priyono dkk., 2013). Pesatnya perkembangan budidaya kakap putih disebabkan
oleh akses pasar ekspor yang cukup luas, seperti Thailand, Eropa, Malaysia, dan
Amerika.
Produksi ikan kakap putih di Indonesia sebagian besar merupakan hasil
penangkapan dari laut lepas, dan masih sedikit yang diperoleh dari hasil budidaya.
Dalam hal memenuhi permintaan pasar, diperlukan suatu usaha penyediaan stok
yang mampu memenuhi pasar dan efisien dalam proses produksinya. Selain itu
produksi ikan kakap putih harus memenuhi standarisasi kualitas dan kuantitas
melalui kegiatan budidaya, terutama dalam hal pembesaran (Surya, 2011).

Pada tahun 2012 indonesia menempati urutan ke 4 (empat terbesar sebagai


penghasil produk ikan kakap putih dengan memberikan kontribusi sekitar (8,2 %
terhadap total produksi ikan kakap putih dunia sebesar 75,406 ton). Posisi Indonesia
tersebut setelah Taiwan memberikan kontribusi sebesar (34,6 %) berikutnya
Malaysia sebesar (26,6 %), dan Thailand (22,7 %). Prospek pasar ikan kakap putih
baik luar dan dalam negeri semakin menjanjikan sehingga mendorong untuk
pengembangan budidaya kakap putih melalui marikultur pada perairan offshore
(Direktorat Jendral Perikanan Budidaya, 2014).
Budidaya ikan kakap putih mempunyai kelebihan yaitu pertumbuhannya
yang relatif cepat, mudah dipelihara, mempunyai toleransi yang tinggi terhadap
perubahan lingkungan sehingga menjadikan ikan kakap putih cocok untuk usaha
budidaya skala kecil maupun besar dan dapat dibudidayakan di tambak air tawar
maupun laut (euryhaline) (Chan, 1982 dalam Jaya dkk., 2012). Namun kendala
yang sering dihadapi dalam pengembangan usaha budidaya perikanan laut adalah
2

menurunnya mutu kualitas air budidaya ikan yang disebabkan oleh pencemaran
lingkungan dan tingginya limbah hasil kegiatan budidaya (Ganjar dan Hany, 2015).

Budidaya kakap putih dengan sistem KJA merupakan sistem budidaya ikan
yang cocok diterapkan di kawasan pesisir, dimana kawasan pesisir merupakan
perairan tergenang yang tidak dapat kering. Pertimbangan lainnya adalah fakta
bahwa KJA merupakan sistem budidaya yang berhasil dikembangkan oleh negara-
negara Eropa dan Amerika Utara (Phillipose dkk., 2013 dalam Shubhi dkk., 2017).

Banyak industri yang bergerak dalam usaha budidaya kakap putih di


Indonesia, seperti Fega Marikultura di Kepulauan Seribu, Indonesia Mariculture
Industries di Kepulauan Riau, Fish farm milik group Japfa Comfeed di situbondo
dan Bali, Philips Seafood serta Bali Barra di Bali, Selain itu, di Kepulauan Yapen,
Provinsi Papua Barat (Phillipose dkk., 2013 dalam Shubhi dkk., 2017). Berdasarkan
latar belakang diatas, penulis memilih judul praktik integrasi yaitu ‘‘Tehnik dan
Analisa Finansial Pembesaran Kakap Putih (Lates calcarifer), di PT Indonesia
Mariculture Industries, Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau’’.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktik integrasi adalah :
1. Mengevaluasi performansi kinerja budidaya kakap putih (Lates calcarifer).
2. Menganalisis aspek finansial budidaya kakap putih (Lates calcarifer).
3. Mengidentifikasi masalah dan usulan interverensi pemecahan masalah kinerja
budidaya kakap putih (Lates calcarifer)
1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dari praktik integrasi adalah :
1. Perfomansi kinerja budidaya kakap putih (Lates calcarifer) meliputi
Produktifitas, Survival Rate (SR), Feed Conventation Ratio (FCR), Biomassa,
Feed/Day, Pertumbuhan, dan Kualitas air.
2. Analisa finansial meliputi Rugi/Laba, (R/L), Benefit Cost Ratio (B/C Ratio),
Break Even Point (BEP), Payback Period (PP), Retrun On Investmen (ROI).
3. Mengidentifikasi masalah dilakukan terhadap penerapan sumberdaya manusia
(Man), metode yang dilakukan (Method), bahan dan material (Material), serta
sarana dan prasarana (Machine).
3

2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biologi ikan kakap putih (Lates calcarifer, Bloch)
2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi
Klasifikasi ikan kakap putih menurut Methew (2009) adalah :
Phylum : Chordata
Sub-phylum : Vertebrata
Class : Pisces
Sub-class : Teleostomi
Order : Percomorphi
Famili : Centropomidae
Genus : Lates
Spesies : Lates calcarifer (Bloch)

Adapun beberapa ciri-ciri khusus yang dapat kita lihat secara kasat mata yang
terdapat pada ikan kakap putih yaitu badan memajang, gepeng, batang sirip ekor
lebar, kepala lancip dengan bagian atas cekung dan cembung didepan sirip
punggung. Mulut lebar, gigi halus dan bagian bawah preoporculum berduri kuat,
operculum mempunyai duri kecil, cuping bergerigi diatas pangkal gurat sisi. Sirip
punggung berjari-jari keras 7-9 dan 10-11 jari jari lemah. Sirip dada pendek dan
membulat, Sirip punggung dan sirip dubur mempunyai lapisan bersisik. Sirip dubur
bulat, berjari keras 3 dan berjari lemah 7-8. Sirip ekor bulat, sisik bertype sisir besar,
tubuh berwarna dua tingkatan yaitu kecoklatan dengan bagian sisik dan perut
berwarna keperakan untuk ikan yang hidup dilaut dan coklat keemasan pada ikan
yang ada dilingkungan tawar. Ikan dewasa berwarna kehijauan atau keabu-abuan
pada bagian atas dan keperakan pada bagian bawah (Razi, 2013). Ikan kakap dapat
dilihat seperti Gambar 1
4

Gambar 1. Ikan Kakap Putih (FAO, 1982)


2.1.3 Kebiasaan Makan

Ikan kakap putih yaitu ikan yang bersifat predator. Ikan kakap putih dewasa
termasuk rakus karnivora, namun juvenilnya bersifat omnivora. Ikan ini terampil
menyergap mangsa. Untuk ikan yang berukuran 1-10 cm dalam lambungnya
menunjukkan 20 % terdiri dari plankton terutama diatom dan ganggang dan sisanya
untuk udang kecil, ikan dll. Untuk ikan yang berukuran lebih dari 20 cm, isi dalam
perutnya terdiri dari 100% hewan mangsa, 70% crustacean (seperti udang, kepiting
kecil dan 30 % ikan kecil (Methew, 2009).

2.1.4 Habitat

Habitat ikan kakap putih ini hampir banyak dijumpai hidup di pantai atau
laut (kedalaman 1 m sampai 10 m) dan di muara. Selain itu, ikan ini dapat hidup di
muara sungai, tambak, teluk hutan mangrove (bakau) yang mempunyai air jernih
dan air beriak-riak, pantai karang, perairan laut dangkal sampai dalam, pelabuhan
(kedalaman air kurang dari 8 m), pantai berbatu, muara sungai dengan kondisi khas
tertentu (Fatmawati, 2014).
2.2 Pra produksi
2.2.1 Pemilihan Lokasi
Agar pemilihan lokasi dapat memenuhi persyarataan teknis sekaligus
terhindar dari kemungkinan pengaruh penurunan daya dukung lingkungan akibat
pemanfaatan perairan di sekitarnya oleh kegiatan lain, maka lokasi yang dipilih
5

adalah yang memenuhi usaha budidaya ikan di laut adalah daerah perairan teluk,
laguna dan perairan pantai yang terletak diantara dua buah pulau (selat) (WWF,
2015).
Menurut kordi (2005), persyaratan lokasi untuk ikan kakap putih di keramba
jaring apung adalah Kedalaman air yang paling rendah yaitu 10 meter dari pasang
surut terendah.Lokasi harus terlindung dari arus dan angin yang kuat. Kecepatan
arus maksimum 75 cm per detik dengan tinggi dan kecepatan gelombang masing-
masing 0,5 m dan kurang dari 1 meter per detik. Fluktuasi pasang surut tertinggi
dan terendah antara 2-4 meter. Kadar garam 15-33 mg/l, suhu 25-31 0C, kandungan
oksigen tidak kurang dari 4 ppm dan pH 6,5-8,5. Lokasi budidaya bukan lalu lintas
kapal laut. Jauh dari sumber pencemaran limbah industri, limbah rumah tangga dan
limbah pertanian. Tersedia transportasi yang cukup, sehingga pangangkutan benih
dan hasil panen agak mudah. Sebaiknya lokasi yang dipilih merupakan habitat yang
terdapat ikan kakap, sehingga menjadi indicator pemeliharaan. Lokasi dipilih dekat
dengan bahan-bahan untuk membuat KJA. Tersedianya tenaga kerja lokal yang
cukup.
2.2.2 Kesesuaian Lokasi
Kesesuaian lokasi untuk persyaratan lahan budidaya ikan laut di keramba
jaring apung menurut Hasnawi dkk., (2010) dapat dilihat pada Tabel 1. Kesesuaian
lokasi.
Tabel 1. Kesesuaian lokasi
Peubah Sangat Sesuai Cukup Sesuai Kurang sesuai
variable
Ombak (m) 0,01-0,09 0,1-1,0 >1.0
Kedalaman 10-15 16-20 < 10 & > 20
(m)
Arus (cm/dt) 5-10 11-15 < 5 & > 15
Kecerahan (%) 80-100 60-79 < 60
Substrat Dasar Pasir, sedikit Pasir, berlumpur Pasir berlumpur banyak
berlumpur, dan sedang
pecahan
karang
6

Salinitas (g/l) 31-35 25-30 < 25 & > 35

2.2.3 Kontruksi Keramba Jaring Apung


A. Sarana Pokok
Sarana pokok untuk pemeliharaan ikan kakap putih dengan sistem KJA yaitu :
a. Kerangka Rakit
Perakitan karamba jaring bisa dilakukan di darat dengan terlebih dahulu
dilakukan pembuatan kerangka rakit sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan.
Kerangkan ditempatkan di lokasi budidaya yang telah direntukan dan agar tetap
pada tempatnya (tidak terbawa arus) diberi jangkar sebanyak 4 buah. Jaring apung
apa yang telah dibuat berbentuk bujur sangkar pada kerangka rakit dengan cara
mengikat keempat sudut kerangka untuk membuat jaring agar berbentuk bujur
sangkar, maka pada sudut bagian bawah jaring diberi pemberat seperti Gambar 2,
untuk dapat mengikat bambu/kayu (Tarwiyah, 2001).

Gambar 2. Cara mengikat jaring dan pemberatnya (Tarwiyah, 2010)


b. Rakit
Rakit berfungsi mengikat jaring atau kurungan terapung, bahannya dapat
dibuat dari bambu, kayu, atau besi yang dilapisi anti karat serta disesuaikan dengan
ketersediaan bahan dilokasi pemeliharaan. Pemilihan bahan disesuaikan dengan
kemampuan dan ketersediaan di lokasi budidaya. Bentuk ukuran bervariasi
tergantung ukuran keramba (Sudrajad, 2008).
c. Pelampung
Pelampung berfungsi untuk melampungkan seluruh sarana budidaya
termasuk rumah jaga dan benda atau barang lain yang diperlukan untuk kepentingan
pengelolaan. Bahan pelampung dapat berupa drum plastik/besi atau Styrofoam
7

(pelampung strofoam). Ukuran dan jumlah pelampung yang digunakan disesuaikan


dengan besarnya beban. Pelampung diikat dengan tali polyethyline (PE) yang
bergaris tengah 0,8-1,0 cm (Tarwiyah, 2001).
d. Kurungan
Kurungan atau wadah untuk memelihara ikan, disarankan terbuat dari bahan
polyethline (PE) karena bahan ini disamping tahan terhadap pengaruh lingkungan
juga harganya relatif murah jika dibandingkan dengan bahan-bahan lainnya. Bentuk
kurungan bujur sangkar dengan ukuran (3x3x3) m³ . Ukuran mata jaring
disesuaikan dengan ukuran ikan yang dibudidayakan. Untuk ukuran ikan dengan
panjang kurang dari 10 cm lebar mata yang digunakan adalah 8 mm. Jika panjang
ikan berkisar antara 10-15 cm lebar mata jaring digunakan adalah 25 mm,
sedangkan untuk ikan dengan ukuran panjang 15-40 cm atau lebih digunakan lebar
mata jaring ukuran 25-50 mm.
Pemasangan kurungan pada kerangka dilakukan dengan cara mengikat
ujung tali ris atas pada sudut rakit. Agar kurungan membentuk kubus/kotak
digunakan pemberat yang diikatkan pada keempat sudut tali ris bawah. Selanjutnya
pemberat diikatkan ke kerangka untuk mempermudah pekerjaan pengangkatan/
penggantian untuk mencegah kemungkinan lolosnya ikan atau mencegah serangan
hewan pemangsa, pada bagian atas kurungan sebaiknya diberi tutup dari bahan
jaring (Fadhliani dkk., 2015).
e. Jangkar
Jangkar digunakan agar seluruh saran budidaya tidak bergeser dari
tempatnya akibat pengaruh arus angin maupun gelombang, digunakan jangkar.
Jangkar dapat terbuat dari beton atau besi. Setiap unit kurungan jaring apung
menggunakan 4 buah jangkar dengan berat antara 25-50 kg. Panjang tali jangkar
biasanya 1,5 kali kedalaman perairan pada waktu pasang tinggi 8-9 (Fadhliani dkk.,
2015).
f. Pengikat
Pengikat berfungsi untuk mengikat jaring kurungan dengan rakit,
pelampung dengan rakit dan pemberat serta jangkar. Tali pengikat dapat berupa tali
polyetilen dengan ukuran 0,5-0,7 cm (Kordi, 2005).
g. Pemberat
8

Pemberat berfungsi sebagai penahan keramba jaring apung agar tidak


terbawa oleh arus air. Jangkar dapat dibuat dari besi, beton, atau kayu keras yang
dibuat seperti jangkar besi (biasanya dipakai pada kapal). Berat jangkar disesuaikan
dengan kondisi perairan. Untuk perairan teluk dan selat berat jangkar yang
digunakan sekitar 40-50 kg/buah. Masing- masing unit di dipasangkan jangkar pada
setiap sudutnya. Panjang tali jangkar yang digunakan harus 3 kali kedalaman laut.
Antara jangkar utama dan rakit harus dipasangkan pemberat (Sudrajat, 2008).
B. Sarana Penunjang
Sarana penunjang untuk budidaya ikan kakap putih menurut sudrajat (2008)
yaitu :
a. Perahu
Perahu digunakan sebagai alat transportasi untuk mengangkut ikan / benih,
pakan, jaring, hasil panen, dll
b. Aerator
Aerator digunakan sebagai penyuplai oksigen dalam bak-bak tangki selama
sampling pertumbuhan atau pengobatan ikan
c. Generator
Generator digunakan sebagai alat pembangkit listrik untuk penerangan
d. Freezer
Freezer digunakan untuk menyimpan pakan segar, obat-obatan dan vitamin dll.
2.3 Produksi
2.3.1 Pemilihan benih
Pemilihan benih ikan kakap putih dapat diperoleh dari alam atau dari panti
benih. Ukuran panjang 2-3 an (30-40 hari) atau ukuran besar 25-30 gram/ekor.
Benih berenang cepat/gesit sisik mengkilat tergolong benih yang baik dan sehat.
Benih ikan kakap putih yang baik dan sehat berdasarkan SNI 6145.2:2014 tentang
benih ikan kakap putih dapat dilihat pada Tabel 2. Kriteria benih.

Kriteria Satuan Benih 1-1,5 Benih 2-3 cm Benih 5-6 cm


cm
1. Umur Hari 30-35 35-45 50-65
2. Bobot Gr 0,19-0,31 0,32-0,50 1,25-2,50
9

3. Keseragaman % ≥ 80 ≥ 80 ≥ 80
ukuran
Tabel 2. Kriteria benih

Menurut Sudrajad (2008) kriteria benih yang sehat yaitu bentuk dan
badannya normal (tidak cacat). Ukuran harus seragam (untuk menghindari
kanibalisme). Agar bisa ditebar di KJA, sebaiknya benih berukuran 7 cm dan
responsif terhadap pakan.
2.3.2 Penebaran Benih
Ukuran benih yang optimal untuk dibesarkan pada keramba jaring apung
biasanya berukuran 50-70 gram/ekor, Penebaran benih dilakukan pada kegiatan
sore hari dengan adaptasi terlebih dahulu. Padat penebaran yang ditetapkan adalah
50 ekor/m3 volume air (Fahmawati, 2014). Sedangkan menurut Mayunar dan
Genisa (2002) kepadatan optimal untuk benih di KJA yang berukuran 25-30
gram/ekor adalah 100 ekor/m3. Sedangkan benih berukuran 100-150 gram/ekor,
padat tebarnya adalah 40-50 ekor/m3.
2.3.3 Monitoring Pertumbuhan
Pertumbuhan kakap putih dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas pakan, padat
penebaran dan kondisi lingkungan. Lama pemeliharaan bergantung pada ukuran
awal tebar. Penebaran dilakukan dengan aklimatitasi terlebih dahulu. Pertama,
wadah pengangkutan atau plastik diapung-apungkan dahulu selama 10 menit, lalu
plastik dibuka. Masukan air dari KJA ke dalam plastik, lalu biarkan benih kakap
keluar dengan sendirinya. Padat tebar yang optimal untuk ikan kakap putih ini
adalah 50 ekor/m3 volume air (Soemarjati dkk., 2015).
2.3.4 Pengelolaan Pakan
Ridho dan Patriono (2016), dalam penelitiannya menyatakan bahwa makanan
ikan kakap putih di alam liar cenderung lebih banyak yaitu memakan ikan, udang
dan cacing. Menjadikan ikan kakap ini termasuk dalam golongan ikan karnivora.
Oleh karena itu pemilihan jenis pakan akan mempengaruhi pertumbuhan ikan
kakap begitu juga ukuran dari pakan itu sendiri.
10

Ada dua jenis pakan yang biasa diberikan dalam kegiatan budidaya ikan
kakap yaitu :

a) Pakan segar
Pakan segar adalah pakan yang berupa ikan segar atau yang telah dibekukan.
Ikan-ikan yang biasa digunakan antara lain: ikan lajang, petek, selar, mujair, dll.
b) Pakan buatan
Pakan buatan pabrik yang nutrisinya dapat memenuhi kebutuhan energi dan
pembentukan daging bagi ikan budidaya. Selain itu ketersediaan lebih stabil tanpa
dipengaruhi oleh musim.
Selain jenis pakan, ukuran pakan harus disesuaikan dengan ukuran atau umur
ikan sehingga mulutnya dapat menelan pakan yang diberikan. Begitu juga dengan
pakan dari ikan segar, pemberiannya lebih efektif bila dicincang terlebih dahulu
sesuai dengan ukuran bukaan mulut ikan kakap.
Frekuensi pemberian pakan juga disesuaikan dengan ukuran bukaan mulut,
tingkat pemberian pakannya harus lebih sering karena ikan kakap yang masih kecil
bersifat kanibal dan kebutuhannya akan energi cukup banyak. Untuk benih ukuran
3-5 cm, pemberian pakan bisa diberikan 4-5 kali sehari setelah berukuran 7-12 cm,
pemberian pakan cukup 2 hari sekali. Pakan ikan segar yang telah dicincang
maupun pakan berupa pellet, diberikan sedikit demi sedikit ke dalam KJA (sampai
ikan kenyang) atau berdasarkan dosis pakan (Soemarjati dkk., 2015).
2.3.5 Pengelolaan Kualitas Air
Dalam budidaya ikan dengan sistem KJA ini kualitas air merupakan faktor
yang dapat berubah (variabel) yang mempengaruhi pengolahan, kelangsungan
hidup, dan produktifitas ikan yang sedang dipelihara. Adapun parameter kualitas
air yang cocok untuk budidaya ikan kakap adalah sebagai berikut :
1) Disolved Oxygen (DO)
Pada perairan dengan konsentrasi DO di bawah 4 ppm ikan masih mampu
bertahan akan tetapi nafsu makannya mulai menurun. Untuk pemeliharaan ikan
kakap yang baik kandungan DO dalam perairan sebaiknya antara 5-7 g/l (Kordi,
2011).
2) Suhu
11

Suhu sangat mempengaruhi kehidupan dan perkembangan biota laut,


peningkatan suhu dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut dalam
perairan serta peningkatan konsentrasi karbon dioksida. Keadaan tersebut akan
mempengaruhi proses metabolisme dalam tubuh biota laut, misalnya laju
pernafasan dan konsumsi oksigen terlarut (Affan, 2012). Menurut Sudrajad (2015),
suhu optimal untuk budidaya ikan kakap putih adalah 27-32 °C.
3) pH
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat
keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu perairan. Derajat keasaman (pH)
perairan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan.
Nilai pH optimal untuk budidaya laut bervariasi tergantung terhadap jenis biota laut
yang akan dibudidayakan, misalnya untuk budidaya ikan kakap putih berkisar 6,5-
9,0 (Ernawati dan Dewi, 2016).
4) Salinitas
Salinitas adalah konsentrasi rata-rata seluruh larutan garam yang terdapat di
dalam air laut. Konsentrasi garam jumlahnya relatif sama dalam setiap contoh air
walaupun pengambilannya dilakukan di tempat yang berbeda. Salinitas di samudera
lebih tinggi dibanding dengan salinitas di pinggir pantai, hal ini disebabkan karena
pada daerah pantai terjadi pengenceran oleh aliran sungai. Daerah dengan
penguapan yang tinggi bisa meningkatkan salinitas, Salinitas optimal dalam
budidaya ikan kakap putih di KJA adalah 28-30 mg/l (Kordi, 2005).
5. Kecerahan
Kecerahan perairan mempunyai peranan penting dalam produktivitas
perairan karena berpengaruh terhadap fotosintesis tumbuhan air maupun
fitoplankton dan juga kadar oksigen terlarut (Shubhi, 2017).
2.3.6 Hama dan Penyakit
a. Hama
Hama adalah organisme yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan
budiadaya secara langsung maupun tidak langsung. Hama dapat berupa pemangsa
(predator), kompetitor, perusak sarana budidaya, dan pencuri. Hama yang masuk
dalam area budidaya dapat merugikan karena bisa mengurangi populasi biota,
12

menjadi carrier penyakit. Menjadi pesaing dalam memperebutkan makanan,


oksigen terutama pada malam hari (Kordi, 2004).
Jenis hama yang potensial mengganggu usaha budidaya kakap dalam KJA
adalah ikan buntal, penyu, dan burung. Penanggulangannya dapat melakukan
pembersihan dan penggantian jaring secara berkala (Dwiyanto dan Suriawan,
2008).
b. Penyakit
Menurut Kordi (2004), penyakit didefinisikan sebagai segala sesuatu yang
dapat menimbulkan gangguan suatu fungsi atau struktur dari alat tubuh scara
langsung atau tidak langsung. Sedangkan menurut (Dwiyanto dan Suriawan, 2008),
penyakit merupakan suatu ketidaknormalan fungsi tubuh yang ditunjukan dengan
gejala spesifik atau non spesifik. Faktor yang dapat menimbulkan penyakit adalah
fluktuasi suhu yang sangat tinggi, adanya radiasi sinar UV, kontaminasi obat-
obatan, racun, dan penggunaan bahan kimia yang berlebihan.
Pada kesehatan ikan ada kisaran nilai tertentu misalnya kegiatan enzim
tertentu dalam darah berhubungan dengan kegiatan sistem heopoitik dan sistem ini
bisa merangsang peningkatan aktivitass organ untuk menduga potensinya. Karena
ikan bersifat poikilotermis terdapat variasi metabolisme yang luas diantara spesies
dan variasi di dalam system budidaya sehingga menghasilkan parameter kesehatan
sendiri-sendiri sehingga sulit untuk diduga (Kordi, 2004).
Menurut Razi (2013), penyakit yang sering menyerang ikan kakap putih
adalah bitnik putih, penyakit gatal, peduncle, dan Viral Necrosis Virus (VNN).
1) Bintik Putih
Penyakit yang disebabkan protozoa Icthtiopthirius multifillis pada air tawar.
Faktor pendukung penyebab penyakit ini adalah kualitas air yang buruk, suhu yang
terlalu rendah, dan manajemen pakan yang buruk. Pengobatan penyakit ini dapat
dilakukan melalui perendaman menggunakan larutan garam dapur dengan dosis 1-
3 g /1000 cc air selama 5-10 menit (Razi, 2013).
2) Trichodina
Penyakit gatal disebabkan oleh protozoa Trichodina. Protozoa jenis ini
banyak menempel pada insang dan permukaan kulit bagian luar tubuh dan sirip
ikan. Gejala yang tampak oleh penyakit ini adalah produksi lendir berlebihan dan
13

necrosis pada kulit luar. Ikan yang terkena serangan ini gerakannya melemah dan
akan menggosok-gosokan tubuhnya ke benda keras. Pengobatan penyakit ini
dilakukan dengan perendaman menggunakan formalin 150-200 g/l atau ekstrak
daun sambiroto 0,2 ml/2 l air selama 15 menit (Razi, 2013).
3) Peduncle
Peduncle disebut juga penyakit air dingin (cold water descareases), terjadi
pada suhu 16 oC disebabkan oleh bakteri Flexbacterpsychropalhia (6 mikron). Ikan
yang terkena peduncle akan timbul gejala bergerak lemah, nafsu makan menurun
serta muncul borok pada kulit secara perlahan. Penanggulangan peduncle dapat
dilakukan dengan perendaman menggunakan Oxytetracycline (OTC) 100 g/l (30
menit) atau ekstrak kunyit 1 ml/l (15 menit) (Razi, 2013).
4) Viral Nervous Ne crosis (VNN)
Penyakit Viral Nervous Necrosis (VNN) merupakan masalah serius pada
budidaya kerapu dana kakap, karena dapat menyebabkan kematian 50-100%. VNN
umumnya menginfeksi stadia larva sampai yuwana dan menyerang system organ
syaraf mata dan otak dengan gejala cukup spesifik.
Replikasi virus secara horizontal lebih rentan terjadi pada kakap muda (benih)
sehingga memicu terjadinya VNN (Razi, 2013).

2.4 Pasca Produksi


2.4.1 Panen
Kakap putih umumnya dipanen ukuran sesuai dengan permintaan pasar.
Kakap putih memiliki bobot tubuh antara 500-3000 g/ekor. Pasar singapura
menginginkan kakap kakak putih ukuran 500-800 g/ekor dan 3.000 g/ekor.
Sedangkan dipasar dalam negeri, kakap putih dikehendaki pasar antara 500-800
g/ekor dan 1.000-1.500 g/ekor (Sudrajad, 2008).
Pada hari pemanenan pakan dihentikan. Langkah persiapan panen meliputi
penyediaan sarana prasarana seperti serok, bak air, aerator, timbangan dan perahu
atau kapal. Pemanenan kakap putih di KJA sangat mudah, setelah tali pemberat
dilepas, tali keramba ditarik perlahan-lahan hingga ikan terkumpul pada satu
bagian. Kemudian ikan diserok dengan serokan bermata halus agar tidak
menimbulkan luka pada ikan. Ikan dipindahkan keatas palka khusus untuk
menampung ikan, atau langsung dikemas diatas rakit secara tertutup, menggunakan
14

plastik yang berisi air dan oksigen. Ikan dapat dipindahkan ke perahu atau kapal
dan langsung dibawa ke daerah pemasaran (Sudrajad, 2008).

2.4.2 Pasca panen


Untuk penanganan pasca panen, yang perlu diperhatikan yaitu proses
distribusi dari tempat budidaya ke tangan para konsumen. Kesegaran kakap harus
tetap terjaga agar kualitasnya tidak menurun. Ikan hidup yang terluka akan
memiliki harga jual yang lebih rendah. Jadis, selama proses panen dan penganganan
hasil panen harus dilaksanakan secara tepat seperti penanganan ikan hidup dengan
dipuasakan, dipingsankan dll (Sudrajat, 2008).
2.5 Analisa Finansial
Analisa usaha merupakan perhitungan yang di buat untuk menentukan suatu
usaha itu layak atau tidak secara finansial Biaya tetap adalah biaya yang tidak
mengalami perubahan dalam suatu periode produksi tertentu, sedangkan biaya tidak
tetap adalah biaya yang dapat mengalami perubahan pada suatu periode usaha
produksi dan berakibat pada perubahan nilai usaha.
Parameter yang digunakan dalam analisis usaha ini meliputi titik impas
(Break-Even Point), ratio keuntungan terhadap biaya (R/C ratio), dan periode
pulang modal (Payback Periode). Biaya atau harga bahan dan peralatan yang
dicantumkan dalam analisis ini menggunakan harga saat ini.

2.5.1 Perhitungan Biaya


a. Biaya Investasi
Sudrajad (2015) menyatakan biaya investasi dalam suatu usaha adalah lokasi
dana kedalam usaha yang bersangkutan, dimana investasi tersebut meliputi
penggunaan dana untuk pengadaan sarana dan prasarana produksi yang akan
digunakan.

b. Biaya Produksi
Menurut Sudrajat (2015), biaya produksi merupakan modal yang harus
dikeluarkan untuk membudidayakan biota laut, mulai dari persiapan sampai panen.
Biaya perawatan sampai hasil panen terjual termasuk ke dalam biaya produksi.
Biaya produksi dibedakan antara biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap
15

merupakan biaya yang penggunaannya tidak habis dalam satu masa produksi,
sementara biaya variabel merupakan biaya yang habis dalam satu masa produksi.

c. Analisa Laba Rugi


Menurut Umar (2005), laba/rugi adalah selisih antara pendapatan total dan
biaya total. Bila selisih usaha tersebut menunjukkan angka positif berarti laba dan
selisih yang menunjukkan angka negatif berarti rugi.
d. Analisa Benefit Cost Ratio (B/C Ratio)
Analisa yang digunakan untuk mengetahui perbandingan rasio hasil yang
diperoleh terhadap suatu jumlah biaya yang dikeluarkan. Semakin besar rasio
berarti usaha tersebut semakin menguntungkan.
Menurut Umar (2005), B/C >1 maka, usaha dikatakan layak untuk
dilanjutkan; B/C <1, maka usaha tersebut dikataan tidak layak, dan apabila B/C=0
maka usaha tersebut dalam keadaan impas.
e. Analisa Break Even Point (BEP)
Umar (2005), mengatakan bahwa BEP atau yang dikenal sebagai analisa
pulang pokok adalah suatu alat analisis yang digunakan untuk mengetahui
hubungan antara beberapa variabel didalam kegiatan perusahaan, seperti luas
produksi atau tingkat produksi yang dilaksanakan, biaya yang dikeluarkan, serta
pendapatan yang diterima perusahaan dari kegiatannya.
f. Analisa Payback Period (PP)
Menurut Umar (2005), Payback Period adalah periode yang diperlukan untuk
menutup kembali pengeluaran investasi, disamping itu Sumardika (2013), juga
menambahkan bahwa Payback Period itu adalah panjangnya waktu yang
diperlukan untuk mengembalikan investasi yang ditanam. Semakin cepat dalam
pengembalian biaya investasi sebuah usaha, semakin baik usaha tersebut karena
semakin lancar perputaran modal.

g. Perhitungan Return on Investment (ROI)


Menurut Umar (2005), Return on Investment (ROI) atau disebut juga dengan
Return on Asset (ROA) adalah tingkat pengembalian investasi atau aset yaitu
membandingkan hasil usaha yang diperoleh dari operasi perusahaan atau nilai
16

keuntungan yang diperoleh dari sejumlah modal. Nilai ini dapat digunakan untuk
mengetahui efisiensi penggunaan modal.
2.5.3 Identifikasi masalah
Ada beberapa metode untuk mengidentifikasi masalah antara lain fishbone
analysis (analisis tulang ikan), Lockframe Analysis atau problem tree (pohon
masalah), 5 W + 1 How dll.

1. Fishbone analysis
Fishbone analysis merupakan alat untuk menanalisis persoalan dan faktor
yang menimbukan masalah tersebut. Fishbone analysis atau fishbone diagram
disebut cause and effect diagram. Diagram sebab akibat berkaitan dengan
pengendalian proses statistika yang digunakan untuk menunjukan faktor-faktor
penyebab dan akibat. Diagram sebab akibat ini sering disebut diagram tulang ikan
(fishbone diagram) karena bentuknya seperti kerangka ikan. Diagram fishbone
pertama digunakan sebagai alat quality mangement tools dengan 5 (lima) kategori
yakni manpower, method, material, media (Sugianto, 2012).

Gambar 3. fishbone analysis (Sugianto, 2012)

2. Lock frame analisis (problem tree)

Lock frame Analysis (problem tree ) atau analisis pohon masalah


merupakan analisa yang menunjukan masalah serta akar akibatnya yang berarti
menunjukan keadaan sebenarnya atau situasi yang tidak diharapkan. Analisis
pohon masalah membantu untuk menemukan solusi dengan memetakan sebab
17

dan akibat disekitar masalah utama untuk membentuk pola pikir tetapi dengan
lebih terstruktur.

Gambar 4. Analisis pohon (Sugianto, 2012)


3. 5 W + 1 H
5W + 1 H adalah sebuah metode yang paling sederhana dalam usaha
menemukan root cause. Lakukan pertanyaan Why sampai 5 atau 4 kali, lalu
pada pertanyaan “ Why yang ke 5 atau ke dengan melakukan pertanyaan “How”
setelahnya, kita akan menemukan solusi masalah yang ada, bisa jadi 1 atau
lebih. Root cause bisa jadi lebih dari satu, namun coba lakukan dengan memilih
pilihan yang paling mungkin menjadi penyebab dari suatu masalah (Sugianto,
2012).
4. Swort Analysis
Metode untuk menganalisa kondisi suatu organisasi baik lingkungan
internal dan eksternal. Analisis ini selain menggambarkan kondisi juga
menggambarkan strategi (Sugianto, 2012).
18

3. METODE PRAKTIK
3.1 Waktu dan Tempat
Praktik integrasi dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 2018 sampai 01
Oktober 2018. Lokasi praktik dilakukan di PT. Indonesia Mariculture Industries
Desa Keban, Kecamatan Moro, Kabupaten Tanjung Balai Karimun, Kepulauan
Riau.

3.2 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada saat praktik disajikan pada lampiran 1.

3.3 Pengumpulan Data


3.3.1 Data Primer
Data primer yang dikumpulkan adalah data dari hasil wawancara dan
pengamatan secara langsung. Data yang diambil dapat disajikan pada Tabel 1.

Tabel 3. Data Primer

No Uraian Data yang dikumpulkan


1. Kesesuaian lokasi a. Tata letak KJA
b. Akses transportasi
c. Keamanan
d. Sosial dan tenaga kerja
2. Desain dan konstruksi a. Layout
b. Konstruksi KJA
c. Ukuran KJA
3. Persiapan sarana pemeliharaan a. Jenis sarana KJA seperti karangka,
pelampung, jangkar, pemberat, dan
perawatan sarana.
4. Pemilihan benih a. Sumber benih (asal)
b. Kualitas benih
c. Umur (hari)
d. Ukuran benih (panjang).
5. Penebaran benih a. Waktu penebaran
19

b. Transportasi benih
c. Proses penebaran
d. Kepadatan .
6. Pemberian pakan a. Jenis pakan
b. Nutrisi pakan
c. Frekuensi dan waktu pemberian
pakan
d. Metode pemberian pakan
e. Teknik pemberian pakan
f. Penyimpanan pakan
7. Pengukuran kualitas air a. Mengukur parameter kualitas air
(suhu dan oksigen terlarut)
b. Jenis alat yang digunakan
c. Waktu pengukuran
d. Jumlah stasiun pengukuran
8. Pengamatan pertumbuhan a. Persiapan sampling
b. Waktu sampling
c. Proses sampling
d. Hasil sampling (berat, dan
panjang/ekor)
e. Jumlah pengambilan sampel
f. ABW, ADG, SR, FCR
9. Pengendalian hama penyakit a. Pemasangan Bird Net Protection
b. Waktu monitoring kesehatan ikan
c. Pengamatan tingkah laku ikan
d. Catatan kematian ikan dan
penyebabnya
e. Jenis hama dan penyakit
f. Cara penanggulangan
10. Panen a. Alat dan bahan untuk panen
b. Waktu pemanenan
c. Jenis pemanenan
20

d. Size panen
e. Teknik/cara pemanenan
f. Penanganan ikan sebelum dilakukan
pemackingan
11. Pasca Panen a. Alat dan bahan untuk packing
b. Teknik/cara pemackingan
12. Perawatan sarana prasarana a. Waktu perawatan KJA
b. Proses perawatan KJA

3.3.2 Data sekunder

Data sekunder diperoleh dari studi literatur, arsip-arsip, dan dokumen yang
dimiiki oleh instansi terkait. Data sekunder pada umumnya juga dapat berupa bukti,
catatan, dan laporan histori yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter) yang
dipublikasi dan yang tidak dipublikasikan.

Tabel 4. Data sekunder yang akan dikumpulkan

No Jenis data Data yang dikumpulkan


1. Informasi perusahaan Sejarah, lokasi, dokumenter, arsip-arsip
perusahaan.
2. Pengorganisasian Data struktur organisasi
3. Panen Hasil panen dan target pemanenan.
3.4 Metode Kerja

Metode kerja dilakukan dengan mengikuti semua kegiatan di PT. Indonesia


Mariculture Industries dengan Standar Operasional Prosedure (SOP) yang berlaku.
Langkah kerja dapat dilihat pada Lampiran 2.

3.5 Performansi Kinerja Budidaya

Performansi kinerja budidaya dilakukan dengan mengambil data


pengelolaan sumberdaya manusia meliputi mengidentifikasi target produksi
perusahaan meliputi Produksi, FCR, SR, struktur organisasi perusahaan,
21

mengidentifikasi peran dan fungsi pihak-pihak yang berkaitan dengan proses


budidaya.

3.5.1 Pra Produksi

a. Kesesuain lokasi

Pengambilan data mengenai kesesuaian lokasi meliputi melihat lokasi


tempat praktik sesuai atau tidaknya lokasi yang digunakan untuk budidaya,
mengetahui tata letak KJA, akses transportasi yang digunakan, keamanan lokasi
budidaya, tenaga kerja dan pengaruh sosial dari kegiatan budidaya terhadap
masyarakat sekitar.

c. Desain dan kontruksi


Pengambilan data desain dan konstruksi meliputi dengan memperhatikan
tata letak dari setiap fungsi sarana, membuat layout sesuai dengan sketsa pada
lokasi KJA, mengetahui konstruksi KJA.

b. Persiapan Wadah

Rangkaian prosedur persiapan wadah yaitu melakukan pemenuhan sarana


budidaya yang akan dibutuhkan meliputi sarana pokok dan sarana penunjang,
melakukan pemasangan bottom frame (pemberat jaring) dengan tali berukuran 20
mm dengan jumlah 16 titik, menentukan lokasi petakan mana yang digunakan,
melakukan penggeseran karamba dengan menggunakan bantuan kapal menuju
lokasi yang ditentukan, memeriksa kondisi jaring dengan cara diselam,
pemeriksaan jaring meliputi rusuk-rusuk jaring, serta bagian sudut-sudut jaring.

3.5.2 Produksi

a. Pemilihan benih

Benih berasal dari hatchery sendiri dengan ukuran 10-30 grm, kemudian
benih dibesarkan di unit pendederan yaitu Grow Out 1, setelah mencapai ukuran
100-150 gr/ekor benih dilakukan grading dan pemilihan benih sebelum dilakukan
penebaran ke unit Grow Out 2.
22

Rangkaian prosedur pemanenan, pengangkutan dan penebaran benih


meliputi penyekatan dengan cara memindahkan 2 sisi ikatan jaring menjadi
berdekatan dengan sisi yang lainnya, melakukan pengangkutan benih dengan
menyerok menggunakan basket berdiameter 50 cm, kemudian dimasukkan ke
palkah kapal. Transportasi yang digunakan untuk pengangkutan benih yaitu
transportasi dengan system terbuka dengan bantuan aerasi dari tabung oksigen ke
palkah kapal, Penebaran benih dilakukan dengan bantuan rege berukuran 50 cm,
melakukan perhitungan jumlah benih dengan sistem sampling pada basket. Pada
saat penebaran benih tidak perlu dilakukan aklimatisasi, karena keberadaan antara
unit pendederan dan pembesaran tidak terlalu jauh dan masih dalam kondisi
perairan yang sama.

d. Pengelolaan pakan

Prosedur dalam pengelolaan pakan meliputi mengidentifikasi pakan yang


digunakan, penyimpanan, pemberian pakan, pengangkutan dan pengorderan pakan.
Rangkaian kegiatan yang dilakukan yakni pakan disimpan di ketiga gudang,
pengangkutan pakan dari gudang ke unit karamba dilakukan sehari sekali sesuai
kebutuhan pakan perhari dengan menggunakan kapal, pakan yang digunakan yaitu
pelet dengan tipe mengapung atau floating. Pemberian pakan dilakukan 2 kali
sehari pada pukul 05:30 WIB dan 18.00 WIB. Pakan yang tidak habis disimpan di
frame karamba dengan ditutup menggunakan terpal sebagai pelindung dari hujan
dan panas. Teknik pemberian pakan dilakukan dengan menebar pakan pada bagian
tengah karamba dengan memperhatikan arus air.

e. Monitoring pertumbuhan

Prosedur yang dilakukan dalam pengamatan pertumbuhan yakni


mengetahui size saat ini sehingga dapat mengetahui ikan yang diperlihara dengan
kondisi bertambah berat atau panjang sudah sesuai dengan yang diharapkan,
pengamatan ini dilakukan pada 3 karamba yang dianggap mewakili dari tingkat
pertumbuhan ikan kakap putih. Kegiatan sampling dilakukan setiap satu bulan
sekali pada awal bulan. Rangkaian kegiatan sampling dimulai pada pagi hari pada
pukul 08.00 WIB dalam keadaan ikan dipuasakan, mengetrol ikan dengan
menggunakan jaring pukat berukuran 16x16x3 m, messize 1 inci, memasukkan ikan
23

sampel sebanyak 50 ekor kedalam bak fiber kapasitas 200 l, kemudian ditambahkan
larutan anestesi sebagai obat bius untuk ikan untuk meminimalisir pergerakan ikan.
Mengukur berat dan panjang dari sampel ikan yang diambil.

f. Pengukuran kualitas air

Prosedur kerja yang dilakukan dalam monitoring kualitas air meliputi


pengukuran suhu dan oksigen terlarut. Titik pengambilan sampel yaitu 4 titik. Titik
1 dan 2 berada di arah masuk air pada saat pasang, sedangkan titik 3 dan 4 berada
di arah air keluar pada saat surut. Frekuensi pengukuran suhu yaitu 2 kali. Alat yang
digunakan untuk pengukuran suhu dan oksigen terlarut yaitu DO meter.

g. Pengendalian dan penanganan hama penyakit

Proses pengendalian hama dan penanganan hama meliputi mengetahui


hama yang berada di sekitar lokasi karamba, mengetahui jenis penyakit yang
menyerang ikan kakap putih, mengambil sampel ikan yang diduga terkena
penyakit, mengidentifikasi jenis hama dan penyakit yang mengganggu atau terkena
pada ikan yang dipeliharaan, mencatat hasil identifikasi, mengetahui teknik
penanganan hama dan penyakit, mengetahui proses penanganan hama dan penyakit
dan waktu penanganan, mengetahui alat dan bahan yang digunakan.

h. Perawatan sarana

Perawatan sarana dilakukan agar dapat mendukung produksi ikan kakap


putih. Data yang diambil dalam perawatan sarana yaitu perawatan karamba
dilakukan 5 bulan sekali, kegiatan pembersihan drum pelampung dilakukan setiap
sebulan sekali dengan cara membalikkan drum, pembersihan tali dilakukan satu
bulan sekali.

3.5.3. Pasca produksi

Panen dan pasca panen adalah kegiatan yang dilakukan apabila ikan kakap
putih yang dipelihara telah mencapai ukuran yang sesuai untuk dipasarkan yang
memenuhi target berat dan ukuran.
24

1. Panen
Terdapat dua teknik pemanenan yang dilakukan yakni panen total dan
parsial. Prosedur kerja yang dilakukan dalam panen yaitu menentukan petakan
mana yang akan dipanen, memuasakan ikan yang akan dipanen minimal 12 jam,
menyiapkan peralatan panen seperti pompa air, bak fiber, basket, jaring trawl,
timbangan, lumpur es, dan peralatan lain diletakan di kapal, membuka jaring
penutup atau paranet, memasang jaring pukat dan mengetrol ikan ke arah kapal,
menyerok ikan menggunakan serok jaring dan melakukan penimbangan ikan,
memasukkan ikan ke dalam bak fiber yang telah diberikan aquis atau obat bius
sebanyak 25 ppm, melakukan grading ikan yang sesuia dengan permintaan panen,
mengembalikan ikan yang belum memenuhi syarat dan memasukan ke dalam
lumpur es yang berada di palkah kapal yang bersuhu 00 C.
2. Pasca panen

Kegiatan yang dilakukan dalam penanganan setelah pengangkatan ikan dari


keramba sampai dengan ikan menuju lokasi pembeli. Pengambilan data meliputi
pengamatan prosedur, penanganan ikan setelah pemanenan dan tujuan pemasaran.
Adapun tahapam dalam kegiatan penanganan ikan setelah pemanenan adalah
packing yaitu dengan mempersiapkan peralatan untuk packing berupa plastik, karet,
strerofoam, lakban, plastik rapling, keranjang, timbangan, sekop, label, tali striping,
alat striping dan klem striping. Mengambil ikan yang telah dipanen pada palkah
kapal, menimbang dan memisahkan ikan sesuai ukuran, memasukkan ikan ke
dalam keranjang dan melakukan penimbangan, menyusun ikan pada plastik di
dalam strearofoam dengan susunan es-ikan-es-ikan dengan berakhir es, mengikat
palstik dengan karet dan menutup strerofoam kemudian lakban dengan erat,
melapisi strerofoam dengan plastik rapling hingga 3-4 lapisan, menyusun
strerofoam pada kapal pancung untuk dibawa ke tempat konsumen.

3.6 Metode Pengelolaan Data

3.6.1 Aspek Teknis


a. Average Body Weight
Average Body Weight (ABW) atau berat rata-rata. Menurut Amri dan Kanna
(2008), dapat dihitung dengan rumus:
25

Berat total (gram)


ABW (gr/ekor) = Jumlah (ekor)

b. Average Daily Growth (ADG)


Average Daily Growth (ADG) atau pertumbuhan rata-rata per hari.
Menurut Darmawan (2009) dapat dihitung dengan rumus :

gram 𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑎𝑚𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 (𝑔) − 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙 𝑖𝑘𝑎𝑛
ADG ( )=
hari 𝐿𝑎𝑚𝑎 𝑝𝑒𝑚𝑒𝑙𝑖ℎ𝑎𝑟𝑎𝑎𝑛 (ℎ𝑎𝑟𝑖)

c. Survival Rate (SR)


Menurut Asma dkk, (2006) rumus Survival Rate (SR) adalah sebagai
berikut :

Jumlah tebar awal (ekor)-jumlah ikan yang mati (ekor)


SR = x 100 %
Jumlah tebar awal (ekor)

d. Biomassa

Menurut Darmawan (2009), rumus perhitungan biomassa adalah :

Biomasaa =Berat rata-rata (g) x Total populasi (ekor)

e. Feed Convertion Ratio (FCR)


Perhitungan FCR menurut Haliman dan Adijaya dalam Zakaria (2005) dapat
dihitung dengan rumus :

Jumlah komulatif pakan (kg)


FCR = x 100 %
Biomassa (kg)

3.6.2 Analisa Finansial


Analisis finansial yang ada adalah analisis Laba/Rugi, BEP, B/C ratio. Besarnya
nilai Analisis Laba/Rugi, B/C Ratio dan BEP dihitung dengan menggunakan rumus
dibawah ini :
26

a. Laba-rugi
Laba/Rugi menurut Sumardika (2013).

Analisis laba/rugi = Total penjualan – Total biaya

b. Benefit Cost Ratio menurut Sumardika (2013).

Keuntungan
B/C Ratio =
Biaya Operasional

c. Break Even Point (BEP) Menurut Sumardika (2013).

Biaya tetap/ 1- biaya variabel


BEP Produksi (Rp) =
Penjualan
BEP (Rp)
BEP Volume (Q) =
Harga

d. Payback Period menurut Sumardika (2013).

Nilai Investasi
PP = Kas bersih/tahun x 1 Tahun

e. Return On Invesment menurut sumardika (2013)


Laba Usaha
ROI =
Modal Usaha x 100%
3.6.3 Metode Analisa Data
3.6.3.1 Performansi kinerja budidaya
Metode yang digunakan dalam perfomansi kinerja budidaya menggunakan
analisis deskriptif yaitu penyajian dilakukan dengan menjelaskan hal-hal yang
diamati selama praktik sesuai dengan batasan masalah terhadap perfomansi yang
akan diukur yaitu Produktifitas, Survival Rate (SR), Feed Conventation Ratio
(FCR), Biomassa, Feed/Day, Pertumbuhan, dan Kualitas air. Kemudian
membandingkan dengan literature, SOP yang berlaku di perusahaan dan SNI.
Selanjutnya dianalisis menggunakan analisis fishbone.
27

3.6.3.2 Identifikasi masalah dan intervensi


Identifikasi masalah interverensi dilakukan berdasarkan performansi
budidaya dengan pendekatan 4 M analisis (Man, Metode, Material, Machine) dan
menganalisis penyebab masalah menggunakan fishbone analisis dalam
memperoleh sebab akibat masalah yang terjadi.
3.6.3.3 Aspek ekonomi
Analisis aspek ekonomi menggunakan laba/rugi penjualan yang diperoleh
sesuai dengan prioritas usulan pemecahan masalah dianalisis menggunakan
skoring. Skoring prioritas tersebut berdasarkan kemudahan biaya, kemudahan
penerapan, dan perolehan dampak. Analisis kelayakan finansial dianalisis
menggunakan Benefit Cost Ratio (B/C Ratio), Break Even Point (BEP), Payback
Period (PP), serta Retrun On Investement (ROI).
28

4. Keadaan Lokasi
4.1 Letak dan Sejarah Perusahaan

PT. Indonesia Mariculture Industries dipimpin seorang CEO yang bergerak


dalam bidang dibangun pada tahun 2003 yang awalnya bergerak di bidang kapal
tangkap dan collecting ikan bersama perusahaan Mitra Mas. Usaha budidaya mulai
berjalan pada tahun 2004 dengan biota ikan kerapu macan menggunakan KJA
berbahan kayu. Pergantian biota dari kerapu macan ke kakap putih terjadi pada
tahun 2006 yang disebabkan kurangnya peminat pasar ekspor pada saat itu.

Pada tahun 2007 perusahaan mengganti KJA dengan bahan galvanis karena
permintaan yang sangat tinggi dengan produksi yang belum bisa memenuhi
permintaan. Penggunaan KJA besi karena memili ketahanan dari pada KJA kayu
dan besi. Konstruksi galvanis dari Jepang, sehingga perusahaan mengimpor unit
KJA dari Jepang. Pada tahun 2015 usaha penangkapan ikan dan kapal collecting
ikan Mitra Mas ditutup karena adanya peraturan menteri yang melarang kapal
dengan kapasitas yang melebihi standar yang ada di Indonesia, sehingga sampai
saat ini perusahaan hanya memiliki satu usaha yaitu budidaya ikan kakap putih.

4.2 Sarana prasarana


Adapun sarana dan prasarana yang terdapat di PT. Indonesia Mariculture
Industries

Tabel 5. Sarana prasarana

No Fasilitas Jumlah
1. Karangka 9 unit
2. Sampan 5 unit
3. Kapal 3 unit
4. Gudang pakan 2 unit
5. Mess karyawan 1 unit
6. Lab kesehatan 1 unit
7. Kantor 1 unit
8. Dapur 1 unit
29

9. Ruang makan 1 unit


10. Pelabuhan 1 unit
11. Pos keamanan 1 unit
12. Speedboot 1 unit
13. Mushola 1 unit
14. Tempat packing 1 unit
15. Tempat konstruksi 1 unit

4.3 Struktur Organisasi


Struktur organisasi di PT. Indonesia Mariculture Industries dapat dilihat
pada bagan dibawah ini :

Manajer
produksi

SPV

Kepala Pemeliharaan ikan

Workshop Kepala panen Kesehatan Keamanan


Pemeliharaan
ikan ikan

4.4 Pengorganisasian
Pembagian tenaga kerja yang dilakukan pada kegiatan pembesaran ikan
kakap putih ini memiliki peran penting masing-masing di mana peran ini sangat
tergantung satu sama lain. Perusahaan ini memiliki 9 orang karyawan untuk
mengoprasikan kegiatan budidaya dengan dipimpin oleh seorang manager yang
bertanggung jawab kepada CEO perusahaan. Karyawan ini dibagi menjadi 7 divisi
dengan rincian 1 orang divisi farm manager, 1 orang divisi fish healt dan
30

laboratorium, 1 orang supervisor, 2 orang divisi workshop, 1 orang kepala


pemeliharaan ikan, 7 orang divisi pemeliharaan ikan, dan 4 orang divisi keamanan.
Adapun pengelompokan dan tanggung jawab dari masing masing divisi adalah
sebagai berikut
a. Manajer produksi atau Farm manager bertanggung jawab dari seluruh
rangkaian pembesaran kakap putih di KJA, membuat perencanaan seluruh
kegiatan pembesaran ikan kakap putih, membagi tugas karyawan, dan
membuat SOP.
b. Supervisor bertanggung jawab dari pembesaran ikan kakap putih. Mewakili
manager di lapangan
c. Kepala pemelihara ikan bertanggung jawab dari ikan yang dipelihara.
d. Kesehatan ikan atau Fish Healt dan labolatorium bertanggung jawab dari
pengukuran kualitas air , kandungan bakteri di pakan dan penanganan ikan
yang terkena penyakit.
e. Workshop bertanggung jawab dari perawatan dan perbaikan kja.
f. Pemelihara ikan melakukan rangkaian kegiatan.
g. Kepala panen yaitu bertanggung jawab kegiatan panen
h. Keamanan bertanggung jawab dari keamanan seluruh perusahaan
31

5. Hasil dan Pembahasan


5.1 Teknologi dan Proses Produksi
Budidaya ikan kakap putih menggunakan teknologi intensif. Proses
produksi meliputi pra produksi, produksi dan pasca produksi.

5.1.1 Pra produksi


a. Kesesuaian lokasi
Pengamatan lokasi keramba jaring apung di kepulauan Riau terhadap
kesesuaian lokasi ditinjau dari aspek lingkungan yakni lokasi KJA berada di antara
beberapa pulau, sehingga gelombang tidak besar. Hal ini sesuai dengan pendapat
lokasi KJA yang sesuai yaitu terlindung dari pengaruh angin dan gelombang yang
besar (Shubhi dkk., 2017). Pemilihan lokasi yang tepat sangat terkait dengan faktor
resiko, kemudahan dan ekologis (Shubhi, dkk., 2017), sedangkan menurut Johan
dkk.,(2015) pemilihan lokasi yang tepat merupakan salah satu faktor penentu
keberhasilan budidaya laut seperti kondisi gelombang, arus, pH atau ammonia
perairan maupun kondisi non-teknis seperti penggunaan lahan oleh sektor lain atau
kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Lokasi dasar perairan budidaya ikan kakap putih yaitu lumpur berpasir, hal
ini sesuai dengan pendapat Shubhi (2017) yaitu lokasi yang ideal mempunyai dasar
perairan berupa campuran antara pasir dan lumpur. Sedangkan menurut Phillipose
et al., (2013) menyatakan bahwa sebaiknya lokasi budidaya untuk ikan kakap putih
mempunyai dasar perairan berupa campuran antara kerikil halus, pasir dan lumpur.

Hasil pengukuran kualitas air pada perairan KJA berkisar 29.1-30oC,


sehingga Perairan tropis mempunyai sebaran suhu yang relatif merata dan stabil,
Menurut Shubhi dkk., (2017) Rata-rata suhu permukaan laut di Indonesia berkisara
antara 27–32 oC, artinya kondisi ini sangat baik untuk mendukung kehidupan
organisme akuatik laut tropis dapat dikatakan bahwa suhu sesuai. Sedangkan hasil
pengukuran oksigen terlarut berkisar antara 6.1-7.86, kondisi ini sangat sesuai
untuk mendukung kegiatan budidaya ikan kakap putih yang memerlukan oksigen
terlarut >5 ppm, konsumsi oksigen tiap jenis ikan berbeda-beda, ikan-ikan pelagis
seperti kakap merah dan kakap putih memerlukan DO yang lebih tinggi
dibandingkan ikan domersal (Shubhi dkk., 2017).
32

Kedalaman perairan yaitu 10-15 m diukur dari surut terendah, dengan


kedalaman jaring 4-5 m. Menurut Shubhi (2017), ideal untuk budidaya ikan kakap
putih minimal dua kali kedalaman jaring yang digunakan diukur pada saat surut
terendah, hal ini dimaksudkan agar sirkulasi air terjadi baik dari arah samping
maupun bawah KJA, semakin dalam sampai dengan kedalaman tertentu lebih
menguntungkan bagi pembudidaya maupun ikan itu sendiri karena sisa pakan dan
feses ikan akan berada jauh di dasar perairan sehingga diharapkan tidak terlalu
mempengaruhi kualitas air diatasnya.

5.1.1.1 Persiapan sarana prasarana

1. Karamba

Karamba berbentuk persegi dan terbuat dari besi galvanis berukuran 15x15
m. Diameter besi galvanis yaitu 3 inc. Pembuatan karamba dilakukan, dengan
merakit bagian-bagian karamba seperti besi galvanis, sekrup, pelampung dll.
Setelah dirangkai, dilakukan penyetingan tali untuk karamba. Tali yang dipasang
berupa tali utama dan tali sayap. Tali utama berfungsi untuk menghubungkan
karamba satu ke karamba yang lain dan berujung ke jangkar dengan ketebalan tali
48 mm, agar tali utama dapat terikat ke karamba, dipasang tali otot yang berukuran
10 mm, dengan panjang 5 meter. Kemudian dipasang tali sayap yang berukuran 36
mm. Tali sayap berfungsi untuk menjaga posisi karamba tetap simetris. Setelah
dilakukan pemasangan tali, karamba dibawa ke laut dengan ditarik menggunakan
kapal dan ditempatkan ke posisi yang sudah ditetapkan.

Gambar 5. Bentuk Karamba


33

2. Pelampung

Pelampung terbuat dari bahan drum plastik, hal ini sesuai dengan pendapat
Fadliani., dkk (2015) bahwa Bahan pelampung dapat berupa drum plastik/besi atau
styrofoam (pelampung strofoam). Diameter pelampung yaitu 50 m dengan panjang
90 m. Terdapat 40 buah pelampung dalam satu karamba. Pelampung diikat ke
karamba menggunakan tali berukuran 6 mm dengan 2 ikatan. Satu pelampung dapat
menahan beban 250 kg, sehingga untuk 40 pelampung dapat menahan beban 10 ton.
Masa pergantian pelampung yaitu 5 tahun sekali. Sedangkan untuk perawatan
pelampung dilakukan 1 bulan sekali. Perawatan pelampung dilakukan dengan
membersihkan teritip yang menempel, mengecek kondisi pelampung, dan
mengecek ikatan pelampung.

3. Jaring

Jaring yang digunakan berukuran 15 x 15 x 8 m, namun kedalaman jaring


mengikuti jumlah populasi dan biomassa ikan. Ukuran mata jaring antara lain, 1,
1.5, dan 2 inci. Jaring berbahan dasar polyethelen. Jenis jaring yang digunakan yaitu
knotles atau tanpa simpul. Bagian jaring yang dipasang ke karamba yaitu tali utama
jaring sejumlah 16 buah. Tali dasar jaring dipasang ke bottom frame untuk
menyempurnakan kedalaman jaring sejumlah 16 buah yang berukuran 12 mm,
dengan panjang 3.5 m. Setelah itu dipasang tali samping untuk merapikan jaring
sejumlah 40 pcs yang berukuran 10 mm, dengan panjang 2 m. Setelah jaring
terpasang, dilakukan pengecekan jaring. Bagian jaring yang dicek yaitu tulang,
dinding dan dasar.

Gambar 6. Bentuk Jaring


34

4. Bottom frame

Bottom frame atau pemberat merupakan pemberat untuk menahan jaring


dari arus atau gelombang agar tetap simetris. Bahan dasar bottom frame yaitu besi
galvanis yang berukuran 15 x 15 m dengan berat 1,5 ton. Bentuk bottom frame yaitu
berbentuk persegi, penggunaan bottom frame berbentuk persegi ini lebih mudah
dan lebih kuat menahan bentuk jaring yang berukuran 15 x 15 meter agar tetap
simetris, hal ini sesuai dengan pendapat Akmal (2011), yang mengatakan pemberat
jaring berfungsi untuk menjaga agar dasar jaring tetap membuka sehingga
membentuk ruang yang cukup untuk ikan agar dapat bergerak dengan bebas. Tali
yang digunakan untuk mengikat karamba dengan bottom frame yaitu tali berukuran
20 mm, dengan panjang 16 m, sejumlah 16 buah. Masa perawatan bottom frame
yaitu 2 bulan, dengan pembersihan teritip yang menempel.
5. Jangkar
Jangkar terbuat dari semen cor dan besi ulir. Jangkar berbentuk persegi
empat, dengan berat 20 ton. Jangkar dipasang sebanyak 4 titik, 2 titik digunakan
untuk menahan karamba pada saat arus pasang, dan 2 titik digunakan untuk
menahan pada saat arus surut. Untuk memudahkan pengecekan jangkar, dipasang
pelampung jangkar yang bertujuan untuk memberi tanda bahwa terdapat jangkar
pada bagian dasar, serta menunjukan titik koordinat jangkar, jika terjadi kondisi
yang menyebabkan tali putus, dapat diketahui dengan cepat letak jangkar berada.
Masa perawatan jangkar yaitu 1 bulan sekali.

b. Sarana Penunjang
1) Gudang pakan
Gudang pakan merupakan sarana penunjang dalam kegiatan budidaya ikan,
khususnya budidaya ikan kakap dengan skala besar, gudang pakan bertujuan
sebagai tempat menyimpan pakan, ada 3 gudang pakan yang ada di lokasi praktik,
lokasi pertama dan kedua berada di pulau Batu atau pulau inti perusahaan, lokasi
ketiga berada di sebelah rumah jaga unit pendederan DE. Pondasi gudang pakan
terbuat dari semen cor dan bagian rumah terbuat dari kayu.
2) Mes Karyawan
Rumah jaga atau mes karyawan ini berfungsi sebagai tempat tinggal
karyawan, rumah jaga berada di pinggir pulau dekat dengan unit keramba, terbuat
35

dari kayu dan menggunakan sistem rumah panggung, keberadaan rumah jaga ini
juga bertujuan agar para karyawan dapat melakukan tindakan secara cepat jika
terjadi suatu kendala pada unit keramba.
3) Perahu/sampan
Alat transportasi yang digunakan karyawan unuk melakukan aktifitas
produksi ataupun kegiatan sehari hari adalah perahu/sampan, perahu digunakan
karena letak rumah jaga dengan unit keramba berjauhan dan memerlukan alat
transportasi untuk menuju keramba dan perkantoran, perahu yang digunakan
terbuat dari fiber dengan alat penggerak berupa dayung.
4) Paranet
Paranet adalah jaring penutup atas yang berfungsi sebagai jaring penahan
agar ikan tidak melompat ke luar keramba, ataupun melindungi ikan dari hama
burung yang dapat menyerang ikan di dalam keramba, paranet berukuran 15 x15
meter mengikuti ukuran jaring pemeliharaan, dengan ukuran jaring 4 inci.
5) Rakit cuci jaring
Tempat pembersihan jaring yang ada di lokasi praktik berada disebelah
tempat sandar kapal, fungsi rakit ini adalah sebagai tempat penyimpanan sementara
dan tempat membersihkan jaring yang telah dipakai, dan juga sebagai lokasi
packing untuk pengiriman ikan. Rakit ini terbuat dari rangkaian keramba yang telah
tidak terpakai dan diberi lantai menggunakan tanaman nibung (sejenis tanaman
pinang).
6) Mesin semprot jaring
Mesin semprot jaring pada lokasi praktik menggunakan pompa alkon 15 PK
dengan bahan bakar solar. Air yang digunakan untuk membersihkan jaring adalah
air laut yang disemprotkan dengan selang berukuran 2 inci.
5.1.2 Produksi

1. Pemilihan, Transportasi dan Penebaran Benih

Benih yang ditebar berasal dari GO 1, berukuran ≥ 100 gr. Pemilihan benih
dilakukan dengan pengamatan secara visual. Setelah pemilihan benih, dilakukan
persiapan karamba dengan membungkus baut yang menonjol pada bottom frame,
memasang kantong jaring sebagai wadah terima ikan dan memeriksa kantong
36

Jaring yang telah terpasang, dengan cara selam. Bagian jaring yang di cek yaitu
dinding, dasar, dan tulang jaring.

Persiapan penebaran dimulai dengan pengisian air laut dalam palkah kapal
sebanyak 1-2 ton, kemudian dilakukan penyetingan aerasi untuk suplai oksigen.
Setelah air dalam palkah siap, dilakukan transportasi ke GO 1 menggunakan kapal.
Jaring yang akan dipindahkan ikannya disekat untuk memudahkan penyerokan,
kemudian menyerok ikan dan dimasukan dalam palkah kapal. Transportasi ikan
dilakukan secara terbuka.

Penebaran benih dilakukan tanpa aklimatisasi karena unit GO 1 dan 2


berada dalam satu kawasan (kondisi perairan sama). Sebelum benih ditebar, air
dalam palkah kapal disurutkan untuk memudahkan penyerokan ikan. Kemudian
dimasukan aquis ke dalam palkah untuk membius ikan. Setelah ikan pingsan, benih
dari palkah diserok kemudian ditebar ke jaring yang sudah disiapkan. Penebaran
dilakukan dengan menggunakan rege alumunium. Penebaran benih dilakukan
dengan lapisan jaring sebagai antisipasi bila jika ada ikan yang loncat sehingga
tidak keluar dari jaring. Setelah itu dilakukan pengamatan kondisi ikan yang sudah
ditebar.

Tabel 6. Data penebaran benih karamba yang diamati :


No Nomor Tanggal Size Populasi Biomassa Padat
Keramba Tebar (gram) (ekor) (gram) Tebar
kg/m3
1 13 14-05- 2018 121.32 32.292 3.917.655 4.3
2 19 11-08-2018 168.5 17.243 2.905.445 4.2
21-09- 220 3.327 731.940 1.1
2018
3 20 26-06-2018 127.75 18.375 2.347.406 3.4
37

Gambar 7. Proses penebaran benih

2. Pemberian Pakan

Pakan yang diberikan untuk pembesaran ikan kakap putih merupakan pakan
buatan dalam bentuk pelet. Tipe pakan yang digunakan yaitu floating atau
mengapung. Keuntungan menggunakan pakan yang terapung yaitu dapat
mengetahui apabila pakan tersebut termakan atau tidak. Pakan diberikan secara
restricted feed yaitu pemberian pakan sesuai dengan persentase biomassa ikan. Ikan
kakap putih termasuk ikan nocturnal atau aktif mencari makan pada waktu malam
hari, sehingga pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari sebelum matahari terbit dan
setelah matahari tenggelam, hal ini sesuai dengan pendapat Fathmawati (2014),
yang menyatakan pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari.
Jumlah pakan diberikan sesuai dengan standar pakan.
Metode pemberian pakan yaitu dengan menebar pakan di tengah karamba,
melihat respon ikan terhadap pakan dan usahkan agar pakan tidak keluar dari
jaring, pemberian pakan dihentikan bila ikan sudah tidak mau makan, biasanya
ditandai dengan adanya pakan yang mengapung. Faktor yang harus diperhatikan
pada saat pemberian pakan meliputi kecepatan arus, respon ikan terhadap pakan,
tipe pakan, dan ukuran ikan. Di karamba juga terdapat jaring penahan pakan atau
JPP yang berfungsi sebagai penahan pakan agar tidak keluar dari jaring. Pakan
yang tidak habis dapat disimpan sementara di karamba, dan ditutup menggunakan
plastik atau terpal, agar pakan tidak terkena hujan dan panas. Jenis pakan yang
digunakan yaitu KAE 7, KAE 10, dan MFF 15. Kandungan nutrisi pakan, ukuran
ikan dan diameter pakan, dapat dilihat pada Tabel 5. Kandungan nutrisi pakan.
38

Tabel 7. Kandungan nutrisi pakan

Jenis Ukuran Diameter Protein Lemak Abu Serat Kadar


Pakan Ikan (gr) Pakan (%) (%) (%) (%) Air %
(mm)
KAE 7 150-300 7.0-8.5 44-46 12 15 3 11
KAE 300-650 10.0-11.0 44-46 12 15 3 11
10
MFF15 650-3500 15.0- 16.0 36-38 14 14 2,5 12

Pada tabel diatas protein berkisar antara 36-46 %. Menurut Priyono (2013),
ikan kakap putih diberi pakan dengan kandungan protein 38-40 % memberikan
berat lebih baik dari pada pemberian pakan dengan kandungan protein 30-35 %.
Sedangkan lemak berkisar antara 12-14

3. Pengkayaan Pakan

Pengkayaan pakan atau enrichment dilakukan dengan cara oral


(memasukan sesuatu ke mulut ikan) menggunakan pakan yang dicampur dengan
minyak cumi. Jumlah pakan yang dioral sebesar 50 % dari kebutuhan pakan per
hari. Sedangkan dosis minyak cumi sebesar 3 % dari jumlah pakan yang akan
diperkaya. Proses pengkayaan pakan dimulai dengan mempersiapkan baskom
dengan volume 50 liter, minyak cumi, pakan, dan gelas ukur. Setelah itu pakan
dimasukan ke dalam baskom, kemudian minyak cumi dituang ke dalam gelar ukur
sesuai dosis, lalu dicampurkan ke dalam pakan, dan diaduk sampai merata. Pakan
yang sudah diperkaya kemudian dimasukkan kedalam karung pakan dan diikat
rapat. Maksimal penyimpanan pakan setelah diperkaya dengan minyak cumi
adalah 48 jam.
39

Gambar 8. Pengkayaan pakan

4. Pengelolaan Pakan

Terdapat dua tempat penyimpanan pakan yaitu di gudang dan karamba.


Untuk pakan di gudang dialasi menggunakan pallet dan disusun berdasarkan jenis
dan ukurannya. Pallet berfungsi agar pakan tidak menyentuh lantai langsung
sehingga tidak lembab. Penempatan pakan pada pallet maksimal sebanyak 30
tumpuk ke atas. Pengeluaran pakan dari gudang menggunakan sistem FIFO atau
First In First Out. Namun jika ada pakan yang baru datang dalam keadaan basah
atau kemasan rusak, pakan tersebut didahulukan untuk diberikan ke ikan. Suhu
gudang untuk penyimpanan pakan bekisar antara 25-360C, hal ini sesuai dengan
pendapat Anisa (2015), yang menyatakan gudang penyimpanan pakan harus
memiliki kisaran suhu 30-34°C dan memiliki ventilasi agar terjadi pertukaran udara
dalam ruang penyimpanan pakan, pakan harus terhindar dari kontak langsung
dengan lantai atau dapat menggunakan pallet/rak, serta menggunakan sistem FIFO.
Sedangkan untuk kelembaban air yaitu 90 %. Pakan yang baru datang dilakukan
pengecekan fisik seperti diameter pakan, warna, aroma, tesktur dan kadar air. Jika
ada pakan yang berjamur, dilakukan pemisahan dan tidak diberikan untuk ikan.
Sedangkan untuk penyimpanan pakan di karamba, pakan disimpan dalam jumlah
sedikit dan sesuai dengan kebutuhan pemberian pakan 1-2 hari. Pakan di karamba
ditutup menggunakan terpal agar tidak basah bila terkena hujan.
40

Gambar 9. Gudang pakan

5. Monitoring Pertumbuhan

Monitoring pertumbuhan dilakukan untuk mengamati laju pertumbuhan


dengan cara sampling. Sampling dilakukan 1 bulan sekali untuk mengetahui size
terupdate. Sehingga dapat menentukan biomassa, kebutuhan dan jenis pakan.
Jumlah pengambilan sampel pada saat sampling yaitu ≥ 50 ekor per jaring.
Sampling dilakukan pada pagi hari dalam kondisi ikan dipuasakan dan
dipingsankan. Pertumbuhan yang diamati meliputi berat (gr) dan panjang total
(cm). Sampling dilakukan dengan sekali pukat yang diambil secara acak, kemudian
ikan dipingsankan menggunakan minyak cengkeh atau aquis, dengan dosis 5 ml
per 150 liter air. Setelah itu dilakukan penimbangan berat ikan, pengukuran
panjang total ikan, serta pencatatan data yang didapatkan. Setelah kegiatan
sampling selesai, ikan dikembalikan dalam jaring. Hasil sampling dapat dilihat
pada lampiran hasil sampling.

Gambar 10. Pengukuran berat dan panjang


41

6. Pengukuran Kualitas Air

Kualitas air yang diukur adalah DO (Disolved Oxygen) dan suhu.


Pengukuran dilakukan 2 kali yaitu pada pagi dan sore hari. Pengukuran
menggunakan alat ukur yaitu DO meter. Titik pengambilan sampel yaitu titik 1, 2,
3, dan 4. Titik 1 dan 2 berada di arah air masuk pada saat pasang, sedangkan titik
3 dan 4 berada di arah air keluar saat pasang. Begitu juga sebaliknya.

Gambar 11. Pengukuran suhu dan DO

7. Monitoring kesehatan ikan dan cek jaring

Monitoring kesehatan ikan dan cek jaring dilakukan setiap hari dengan cara
di selam. Monitoring ini dilakukan oleh penyelam dan pendamping. Tugas
penyelam yaitu mengecek jaring bagian dasar, dinding dan tulang serta mengambil
apabila ada ikan yang mati dalam jaring. Sedangkan tugas pendamping yaitu
membantu mempersiapkan alat untuk penyelam, mencatat jumlah kematian,
penyebab kematian ikan dan memfoto kematian ikan. Monitoring ini dilakukan
disemua jaring secara berurutan.

8. Hama dan Penyakit

Hama yang mengganggu ikan kakap putih yaitu burung, teritip dan kerang.
Penanganan hama burung dilakukan dengan menggunakan Bird Net Protection
berukuran 15x15 m, berbahan dasar Polyethelen. Jenis knotless (tanpa simpul).
Sedangkan penyakit yang menyerang ikan kakap yaitu Scale Drop Disease,
Benedenia Sp. dan Streptococus.
42

Salah satu parasit yang sering menyerang ikan kakap putih diantaranya adalah
Benedenea, parasit ini biasanya akan menempel pada sisik dan insang ikan, jika
didiamkan akan menyebabkan luka selanjutnya ikan akan terinfeksi oleh bakteri
yang biasanya berupa bakteri Tennacibaculum maritimum dan bakteri Vibriosp
(Subhi, 2017).

9. Perendaman

Perendaman dilakukan untuk mencegah dan mematikan kutu atau parasite.


Perendaman dilakukan menggunakan H202 (Hidrogen peroxsida) dengan dosis 300
ppm. Proses perendaman yaitu mempersiapkan parasut yang berukuran 16x16x3
m, H202, aerasi, pemberat, kapal, air laut, water pump, selang spiral. Setelah itu
menarik Tali Bottom frame hingga naik di permukaan untuk memudahkan
menyeting kedalaman jaring. Tali yang ditarik yaitu 4 titik bagian pojok. Kemudian
jaring dirapikan dengan diikat ke karamba. Jika arus sudah tenang, pasang
pemberat ke parasut, kemudian menarik parasut dan memasukan dibawah jaring
hingga jaring tertutup semua. Setelah itu suplai oksigen dengan menggunakan
aerasi. Sebelum dan sesudah ikan direndam menggunakan H202 , ikan diambil
sampel dengan cara diserok untuk dilakukan pengecekan kutu atau parasite. Ikan
direndam menggunakan H202 selama ± 1 jam. Kebutuhan H202 diberikan
berdasarkan biomassa ikan dan kedalaman jaring.

Gambar 12. Proses perendaman


43

5.1.3 Pra Produksi


1. Panen
Panen dilakukan secara parsial dan total. Untuk transportasi ikan dilakukan
secara hidup ataupun dalam keadaan mati.

a. Panen

Ikan dipanen dalam keadaan ikan dipuasakan, Untuk mengambil ikan di


dalam jaring digunakan jaring pukat, setelah ikan terambil Ikan diserok kemudian
dimasukan kedalam bak fiber. Kemudian dilakukan grading untuk mengetahui size
ikan pada saat panen. Proses grading yaitu dengan mempersiapkan alat grading,
memposisikan bak fiber untuk grading, memasukkan air ke dalam bak fiber
sebanyak 150 l, menambahkan minyak cengkeh atau aquis sebagai obat bius
sebanyak 5 ml, menunggu ikan hingga ikan tenang dan tidak memberontak,
kemudian memasukan ikan kedalam keranjang dan menimbang ikan untuk
mengetahui size. Setelah mengetahui size, memilih ikan sesuai permintaan
konsumen. Apabila ada ikan yang under size atau over size, ikan dipisahkan
dimasukan kembali ke jaring.

Setelah grading, ikan dimasukkan kedalam lumpur es. Wadah yang


digunakan yaitu bak fiber atau palkah kapal. Ikan yang dimasukan bak fiber atau
palkah kapal berisi air dan es yang sudah di curah sehingga menjadi lumpur es.
Perbandingan air dan es curah yaitu 1:2 (1 kg ikan untuk 2 kg es). Ikan dimasukkan
kedalam bak fiber dengan kapasitas 120-130 kg. Sedangkan kapasitas dalam
palkah yaitu 2 ton. Ikan yang berada di palkah atau bak fiber dapat ditutup untuk
menjaga suhu dalam palkah atau bak fiber.

Gambar 13. Proses panen


44

b. Transportasi ikan hidup

Untuk sampai ke tangan konsumen ikan harus dalam keadaan hidup. Hal
yang perlu dipersiapkan yaitu mempersiapkan air laut sebanyak 75 % dalam palkah
kapal. Ikan yang sudah di grading dimasukkan dalam palkah, kemudian suplai
dengan oksigen. Memasukkan es yang sudah dicurah dalam palkah hingga suhu air
mencapai 22-25 0C. Pada saat transportasi ikan hidup dilakukan pengecekan suhu
dan DO setiap satu jam sekali dan membuang busa yang terdapat dalam palkah.

e. Pasca Panen

Pasca panen dilakukan pemackingan dengan mengggunakan bak fiber atau


sterofoam. Untuk pemackingan menggunakan bak fiber dilakukan dengan cara
memasukkan es yang sudah dicurah kedalam bak fiber sebanyak 5 kg. Jika
permintaan konsumen menggunakan tagging, ikan terlebih dahulu ditagging.
Kemudian memasukan ikan kedalam bak fiber dalam posisi berjejer, perut diatas,
lapisan pemackingan yaitu es, ikan, es, ikan, es. Kemudian fiber ditutup dengan
menggunakan tali striping dan klem striping. Berikan label pada bak fiber seperti
penerima ikan, jumlah ikan dan ukurannya.

Proses pemackingan ikan yaitu menggunakan strofoam dengan cara


mempersiapkan alat dan bahan seperti plastik, koran, sterofoam, karet, wraping,
lakban, es, sekop, timbangan dll. Wadah sterofoam dilapisi menggunakan Koran,
kemudian memasukkan plastik kedalam strerofoam, menimbang ikan
menggunakan timbangan gantung, menyusun ikan secara berjejer dengan posisi
ikan bagian perut diatas, dan bershaf yaitu es, ikan, es, ikan, es. Kapasitas muat
ikan yaitu dalam steerofoam yaitu 25-30 kg. Setelah ikan dimasukan dalam
sterofoam, plastik diikat menggunakan karet. menutup sterofoam. Bagian samping
kanan kiri dilakban dari atas ke bawah, kemudian wraping pada bagian samping
secara menyeluruh, memberi label pada sterofoam, memasukan sterofoam kedalam
plastik, mengikat sterofoam menggunakan karet, kemudian merapikan plastik dan
melakban plastik. Ikan siap dikirim.
45

5.2. Performansi Kinerja Budidaya

Analisis data performansi kinerja budidaya dibandingkan menggunakan


literature, SOP dan SNI 6145.3:2014 tentang ikan kakap putih (Lates calcarifer,
Bloch 1790) Bagian 3: Produksi Induk. Analisis performansi kinerja budidaya dapat
disajikan pada Tabel 6.

Tabel 8. Analisis performansi kinerja budidaya

No Indikator Kriteria Satuan Size (gr) Referensi Kisaran


. Keberhasilan
1. Produksi Umur Hari 100-1000 SOP 60 - 210
pemeliharaan

1000-2000 SOP 210-420

Laju Hari Kenaikan SOP 30


pertumbuhan 300 gr
Tonase panen Ton SOP 377
/tahun
Luas petakan Ha SOP 0.06-
0.135
2. SR Persentase SR % 100-2000 SOP 95
Padat tebar Ekor 100-150 SOP 40
/m3
3 FCR Ratio SOP 1:1.2
Nutrisi Protein Priyono, 28-44
(%) (2013)
4. Pertumbuh ADG g/hr 100-2000 SOP 3.60-
an 19.65
ABW g/ekor 100-2000 SOP 50-150
46

5. Kualitas Suhu SNI 28-32


air
Oksigen SNI Min 4
terlarut

5.2.1 Target waktu produksi

Tabel 9. Target waktu produksi masing-masing unit adalah :

No Unit Waktu (hari) Waktu


(Bulan)
1 Hatchery 30 hari 1 bulan
2 Nursery 1 25 hari 0,83 bulan
3 Nursery 2 45 hari 1,5 bulan
4 GO 1 90 hari 3 bulan
5 GO2 420 hari 14 bulan
Jumlah 610 hari 20,33 bulan

5.2.2 Produksi

Kegiatan produksi di PT. Indonesia Mariculture Industries disajikan dalam


Tabel dibawah ini :
Tabel 10. Kegiatan produksi.
No Nama Kegiatan Periode
1 Pemberian pakan 1 hari
Pengecekan jaring dan monitoring hama
2 1 hari
penyakit
3 Pengukuran kualitas air 1 hari
4 Pengkayaan pakan 1 hari
5 Pengambilan pakan harian 1 hari
6 Rendam H2O2 21 hari
7 Sampling 1 bulan
8 Ganti jaring 6 bulan
47

9 Pembersihan pelampung 1 bulan


10 Pembersihan pemberat (bottom frame) 1 bulan
11 Perawatan sampan 3 bulan
12 Pembersihan jaring 6 bulan
13 Pembersihan tali 1 bulan
14 Pengecekan jangkar 1 bulan

Produksi ikan kakap putih dalam pemeliharaanya belum dilakukan panen


secara total, sehingga hanya mendapatkan data panen parsial pada jaring no
12,15,16 dan 17 yang terdapat dalam Tabel dibawah ini :

Tabel 11. Hasil panen parsial

No Populasi DOC Size akhir Biomassa Hasil


Jaring akhir sampling akhir Produksi
sampling sampling (gr) (Ton)

12 3593 347 1759 6.320.087 11.307.8


15 16.741 155 1.361 22.784.501 2.064.5
16 14.971 286 1.679 25.076.425 4.634.3
17 1.423 202 1.043 1.484.189 3.294.6
Jumlah 55.665.211 21.301.2
48

5.2.3 Pertumbuhan

Laju pengamatan pertumbuhan yang diamati yaitu pada jaring no 13, 19 dan
20. Data pertumbuhan berada pada lampiran 7 :

Bacth : P180514MXG (Karamba no 13)

Berikut Grafik :

Pertumbuhan
800 35000
700 30000
600 25000
500
20000
400
15000
300
200 10000

100 5000
0 0
14-May-18 1-Jun-18 1-Jul-08 1-Aug-18 1-Sep-18 1-Oct-18
Tanggal sampling

Populasi ABW Standar ABW

Berdasarkan Grafik dibawah ini, pemeliharaan ikan kakap putih selama 114
hari dibawah standar, hal ini diduga Feed intake (pakan yang termakan)
menghasilkan laju pertumbuhan yang menurun, Nutrisi yang terkandung dalam
pakan tidak mencukupi ikan untuk tumbuh dan berkembang. SR selama
pemeliharaan ikan kakap putih dibawah standar yaitu 79 %, sedangkan untuk SR
standar yaitu 95 %. Hal ini diduga karena serangan Scale Drop Disease dengan
jumlah kematian 6.016 ekor dan terkena parasite Benedenia sp. dengan jumlah
kematian 578 ekor. FCR selama pemeliharaan menghasilkan FCR yang berbeda-
beda, namun untuk FCR yang berada diatas standar terdapat pada tanggal 01 juli
2018, FCR yang dihasilkan sebesar 1.77 sedangkan FCR standar yaitu 1.47. FCR
diatas standar diduga karena pakan yang diberikan banyak namun belum tentu
termakan semua.
49

Bacth : P180811MXG (Karamba no 19)

Berikut Grafik :

Pertumbuhan
300.00 20.500
20.000
250.00 19.500
200.00 19.000
18.500
150.00 18.000
17.500
100.00 17.000
50.00 16.500
16.000
0.00 15.500
11/8/2018 1/9/2018 1/10/2018
Tanggal sampling

Populasi ABW Standar ABW

Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat, pemeliharaan ikan kakap putih


selama 52 hari pada tanggal 1 september 2018 dibawah standar, hal ini diduga
karena terjadi penurunan nafsu makan, sedangkan pada tanggal 1 oktober 2018
pertumbuhan diatas standar hal ini diduga peningkatan terhadap nafsu makan
sehingga feed intake atau pakan yang termakan menghasilkan laju pertumbuhan
yang meningkat. SR (kelangsungan hidup) yang diperoleh selama pemeliharaan
ikan yaitu 99 % dapat dikatakan bagus karena nilai SR diatas standar yaitu 95 %.
Hal ini diduga karena ikan masih berada di masa penyesuaian sehingga nafsu
makan meningkat. Jika nafsu makan meningkat dapat meningkatkan kekebalan
tubuh sehingga rentan terhadap serangan penyakit. Presentase mortalitas ikan
kakap putih yaitu 1 % dari jumlah ikan yang ditebar, hal ini diakibatkan adanya
serangan parasite benedenia sp. FCR pada tanggal 1 september 2018 dan 1 october
2018 diperoleh dibawah standar yaitu 0,8 dan 1.19, sedangkan FCR standar
yaitu 1,47 dan 1.54, FCR ini dapat dikatakan bagus, karena pakan yang diberikan
tidak melebihi standar pakan, dan menghasilkan laju pertumbuhan yang
meningkat, hal ini dapat dilihat laju pertumbuhan diatas standar. Populasi pada
tanggal 01 October lebih tinggi dari populasi awal dikarenakan adanya ikan in atau
ikan masuk. Ikan yang masuk sejumlah 3.327 ekor dengan size 220 gr.
50

Bacth : P180626MXG

Berikut Grafik :

Pertumbuhan
900.00 20.000
800.00 18.000
700.00 16.000
600.00 14.000
12.000
500.00
10.000
400.00
8.000
300.00 6.000
200.00 4.000
100.00 2.000
0.00 0.000
26-Jun-18 1-Jul-18 1-Aug-18 1-Sep-18 1-Oct-18
Tanggal sampling

Populasi ABW Standar ABW

Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa, pemeliharaan ikan kakap


putih selama 98 hari dibawah standar, hal ini diduga karena nafsu makan ikan
menurun, sehingga laju pertumbuhan menurun. Selain itu pada waktu penebaran
ikan sudah terkena serangan penyakit Scale Drop Disease dengan jumlah kematian
ikan yang terkena Scale Drop Disease yaitu 7.671 ekor dan dilanjutkan dengan
serangan parasite Bendenia sp. dengan jumlah kematian 69 ekor. Hal ini
menyebabkan SR (Kelangsungan hidup) ikan kakap putih selama pemeliharaan
dibawah standar yaitu 58 %, sedangkan SR standar yaitu 95 %. SR dibawah standar
dikarenakan banyaknya kematian karena serangan penyakit. FCR pada
pemeliharaan ikan kakap putih pada tanggal 01 juli 2018 yaitu 26.8, hal ini diduga
laju pertumbuhan yang dihasilkan selama 5 hari menghasilkan pertambahan berat
yaitu 0,25 gr. FCR pada tanggal 01 agustus 2018 - 01 october 2018 diatas standar,
dapat dilihat hasil FCR pada tanggal 01 Agustus 2018 sebesar 1.43 sedangkan FCR
standar yaitu 1.0. hasil FCR pada tanggal 01 Juli 2018 sebesar 1.55 sedangakan
FCR standar yaitu 1.09. FCR pada tanggal 01 October 2018 sebesar 1.57,
sedangkan FCR standar yaitu 1.59. Hal ini diduga pada saat pemberian pakan,
pakan yang diberikan disesuaiakan dengan respon ikan terhadap pakan, walaupun
pemberian pakan sedikit namun pakan termakan semua.
51

5.2.4 ADG

ADG yang diperoleh dari 3 keramba dapat dilihat pada Grafik dibawah ini:

ADG
7
6
5
4
3
2
1
0
1-Jun-18 1-Jul-18 1-Aug-18 1-Sep-18 1-Oct-18

Jaring no 13 Jaring no 19 Jaring n0 20

ADG pada pemeliharaan ikan kakap putih yaitu berkisar antara 0.06-6.06.
ADG terkecil sebesar 0.06 pada karamba no 20, dikarenakan waktu
pemeliharaannya baru mencapai 4 hari. Hasil ADG disemua karamba berfluktuasi.
Namun pada karamba no 19 hasil ADG menurun dikarenakan laju pertumbuhan
yang lambat dan pertumbuhan tidak mencapai target, hal ini diduga karena nafsu
makan yang menurun. Nafsu makan menurun diduga terdapat ikan in atau masuk
sehingga ikan belum menyesuaikan lingkungan yang baru. Pada karamba no 20
tingkat ADG mengalami peningkatan dan penurunan pada tanggal 01 Oktober
2018. Karamba no 13 pada tanggal 1 Juli 2018 mengalami penurunan laju
pertumbuhan, hal ini diduga kondisi ikan pada waktu tebar sudah terkena serangan
penyakit, pada tanggal 01 Agustus 2018 sampai tanggal 01 Oktober 2018
mengalami peningkatan ADG karena semakin bertambahnya waktu pemeliharaan,
kematian ikan semakin hari semakin menurun.

5.2.5 SR (Survival Rate)

Tingkat kelangsungan hidup atau survival rate (SR) ikan kakap ini erat
kaitannya dengan populasi, perhitungan tingkat kelangsungan hidup ini dilakuka
setiap harinya dengan cara mengurangi jumlah benih yang ditebar dengan
mortalitas perhari. Adapun data kematian ikan disajikan per bulan selama
pemeliharaan sebagai berikut :
52

Tabel 12.Tingkat mortalitas karamba yang diamati :

No Jumlah Mortality (Ekor) Jumlah SR


Keramba tebar Bulan ekor
(ekor) 5 6 7 8 9
13 32.292 146 126 362 2.630 3.361 6.625 79 %
19 17.243 102 268 370 99 %
20 18.375 452 5.428 1.733 125 7.738 58 %

Berikut grafik :

SR
120%

100%

80%

60%

40%

20%

0%
Karamba no 13 Karamba no 19 Karamba no 20

Berdasarkan grafik diatas dapat disimpulkan bahwa SR pemeliharaan ikan


kakap putih dibawah standar yang ditetapkan di perusahaan yaitu 95 %, karamba
no 19 mempunyai tingkat kelangsungan hidup paling tinggi karena waktu
pemeliharaan baru mencapai 52 hari dengan kematian ikan 370 ekor diduga karena
penyakit parsasit Benedenia sp. Karamba no 13 mempunyai kelangsungan hidup 79
% sebanyak 6.625 diduga terkena serangan penyakit Scale Drop Disease,
sedangkan karamba no 20 mempunyai tingkat kelangsungan hidup yaitu 58 %
dengan tingkat kematian ikan sebanyak 7.738 diduga terkena penyakit Scale Drop
Disease dan Benedenia sp.
53

5.2.6 FCR (Feed Convertation Ratio)

Hasil pengamatan selama praktik, karamba yang diamati menghasilkan


FCR sebagai berikut :

Bacth : P180514MXG

Berikut Grafik :

FCR
2
1.77
1.55 1.57 1.63
1.5 1.43 1.52
1.47
1.33
1 1.07
0.92

0.5

0
1-Jun-18 1-Jul-18 1-Aug-18 1-Sep-18 1-Oct-18

FCR Standar FCR

Berdasarkan Grafik diatas nilai FCR dibawah standar dari perusahaaan,


namun pada tanggal 01 Juli 2018 FCR melebihi standar dari perusahaan sebesar
1.77 dari standar perusahaan 1.47, hal ini dikarenakan pemberian pakan yang
berlebih sehinga ada pakan yang tidak termakan.
Bacth : P180811MX
Berikut Grafik :

FCR
2
1.54
1.5 1.47
1.19
1
0.78
0.5

0
1-Sep-18 1-Oct-18

FCR Standar FCR


54

Berdasarkan Grafik diatas FCR pada tanggal 01 September 2018 dan 01


Oktober 2018 diatas standar yang ditetapkan, Nilai FCR pada tanggal 01 September
2018 0.78 sedangkan standar FCR yaitu 1.19 . FCR pada tanggal 01 Oktober 2018
yaitu 1.47 sedangkan standar FCR yaitu 1.54. Hal ini dikarenakan ikan masih dalam
tahap penyesuaian lingkungan baru karena ada beberapa ikan yang baru ditebar,
sehingga nafsu makan belum stabil, hal ini mempengaruhi laju pertumbuhan.

Bacth : P180626MXG

Berikut Grafik :

FCR
3
2.68
2.5
2
1.55 1.57
1.5 1.42 1.43
1.54
1
1.02 1.09
0.5
0
1-Jul-18 1-Aug-18 1-Sep-18 1-Oct-18

FCR Standar FCR

Berdasarkan Grafik diatas FCR selama pemeliharaan dibawah standar dan


dikatakan bagus, kecuali pada tanggal 01 Juli 2018 menghasilkan FCR yaitu 2.68.
pemeliharaan selama 4 hari
55

5.2.7 Kualitas Air

Suhu Pagi (°C)


30.5
30
29.5
29
28.5

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4

Suhu Sore (°C)


30
29.8
29.6
29.4
29.2
29
28.8
28.6

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4

Selama 30 hari pengukuran suhu pada waktu pagi hari berkisar antara 29.1-
30 °C, sedangakan pengukuran suhu pada waktu sore hari yaitu berkisar antara
29.1-29.65 °C, suhu tersebut dapat dikatakan optimal, Keadan suhu ini masih di
dalam kisaran optimal menurut Sudrajad (2015), yang menyatakan bahwa kisaran
suhu optimal untuk budidaya ikan kakap adalah 27-32°C.
Sedangkan menurut Mayunar et al., (1995) menyebutkan bahwa suhu
optimum untuk budidaya ikan kakap putih yaitu adalah 27-32 oC. Suhu berperan
penting bagi kehidupan dan perkembangan biota laut, peningkatan suhu dapat
menurun kadar oksigen terlarut sehingga mempengaruhi metabolisme seperti laju
pernafasan dan konsumsi oksigen serta meningkatnya konsentrasi karbon dioksida.
56

Disolved Oxygen (mg/l) Pagi

9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 stasiun 4

Disolved Oxygen (mg/l) Sore


9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4

Disolved oxygen pada pagi hari berkisar antara 3.89-7.89. Sedangkan pada
waktu sore hari berkisar antara 4.15 – 7.89. Disolved oxygen pada pagi dan sore
hari dikatakan optimal untuk tumbuh dan berkembang. Hal ini sesuai dengan
pendapat Ahmad et al., (1991). Untuk dapat tumbuh dan berkembang minimal 3
mg/l, sedangkan untuk bertahan hidup ikan memerlukan kadar oksigen 1 mg/l,
namun Menurut Mayunar et al., (1995) Oksigen terlarut merupakan parameter
yang paling kritis di dalam budidaya ikan. Kelarutan oksigen didalam air
dipengaruhi suhu, salinitas dan tekanan udara. Peningkatan suhu, salinitas dan
tekanan menyebabkan penurunan oksigen, begitu juga sebaliknya.
57

5.3 Identifikasi Masalah

Berdasarkan hasi performansi budiadaya meliputi ABW, ADG, SR dan


FCR, maka dilakukan identifikasi masalah menggunakan Fishbone analysis.
Penyebab terjadinya performansi budidaya budidaya diakibatkan oleh serangan
penyakit SDD (Scale Drop Disease), Parasit Benedenia Sp. dan Streptococus.
Diagram Fishbone dapat dilihat pada Lampiran.

Tabel 13. Identifikasi masalah.

No Indikator Sebab Akibat


1. Pengelolaan 1. Kurangnya 1. Pelaksana
sumberdaya kedislipinan waktu SOP
manusia kurang
maksimal
2. Pelaksana - -
(Metode)

3. Bahan (Material) 1. Banyak pakan yang 1. FCR tinggi


keluar dari jaring 2. SR rendah
2. Mortalitas ikan tinggi 3. Waktu produksi lama
3. Penambahan berat ikan
yang lambat

4. Sarana dan 1. Jaring penahan pakan 1. Pakan tidak termakan


Prasarana ada beberapa yang dan keluar dari jaring
(Mesin) rusak.
2. Pakan lembab bahkan 2.Tekstu pakan menurun,
basah karena penutup pakan menjadi lembek
pakan yang tidak dan mengumpal
mencukupi jumlah
pakan yang disimpan
pada frame karamba.
58

3. Ukuran mess size 3. Ikan menyangkut pada


biosecurity terlalu jaring serta mengalami
besar sehingga ikan luka bahkan kematian.
sering menyangkut di
jaring

5.4 Usulan pemecahan masalah

Usulan pemecahan masalah dilihat pada Tabel dibawah ini

Tabel 14. Usulan pemecahan masalah

No Indikator Pemecahan masalah


1. Pengelolaan 1. Memberikan motivasi atau arahan untuk feeder
sumberdaya mengenai pentingnya kedislipinan waktu dan pengaruh
manusia terhadap budidaya.

2. Melakukan pengawasan terhadap feeder yang


dilakukan oleh pihak terkait.

2. Pelaksana
(Metode) -

3. Bahan 1. Melihat respon ikan dan kecepatan arus pada saat


(Material) pemberian pakan atau dengan menerapkan metode
pemberian pakan yang benar.

2. Penanganan dan pencegahan penyakit sehingga


meningkatkan SR
59

3. Pemberian suplemen makanana atau pengkayaan


pakan sehingga meningkatkan nafsu makan dan
pertumbuhan.

4. Sarana dan 1. Memperbaiki jaring penahan pakan


Prasarana
(Mesin) 2. Mengganti plastik penutup pakan atau mengatur
jumlah pakan yang disimpan tidak melebihi penutup
pakan

3. Menguatkan tali pada biosecurity agar tidak kendor


sehingga ikan tidak tersangkut ke jaring.

5.5 Analisis Finansial

Untuk mengetahui keberhasilan suatu usaha yang dikembangkan sebaiknya


mengetahui dari perhitungan analisa usaha. Hal ini bertujuan untuk mengetahui
apakah usaha yang dikembangkan mengalami keuntungan ataukah kerugian.
A. Biaya Investasi
Biaya investasi merupakan biaya yang dikeluarkan saat memulai usaha,
biaya investasi tersebut digunakan dalam jangka waktu yang lama. Biaya investasi
perusahaan adalah Rp 4.039.440.000 dan biaya penyusutan Rp 621.060.000
penggunaan biaya investasi ini untuk sarana dan prasarana yang dibutuhkan
selama kegiatan pembenihan ikan kakap, adapun rincian biaya investasi dapat
dilihat pada lampiran 5.
B. Biaya Produksi
a. Biaya tetap
Biaya tetap merupakan biaya yang harus dikeluarkan dalam kegiatan
pembenihan patin. Biaya tetap perusahaan sebesar Rp 787.860.000 adapun
rincian biaya tetap yang harus dikeluarkan dapat dilihat pada lampiran 9.
b. Biaya Tidak Tetap
60

Biaya tidak tetap merupakan biaya yang dikeluarkan dalam satu tahun
adalah Rp 7.137.864.750 adapun data biaya variabel secara detail dapat dilihat
pada Lampiran 7.
Biaya yang diperlukan perusahaan untuk produksi ikan kakap satu siklus
adalah Rp 7.925.724.750
C. Pendapatan
Pendapatan diperoleh dari hasil produksi ikan kakap yang dilakukan di
perusahaan, produksi ikan kakap yang dilakukan dari mulai pemilihan bennih
hingga penjualan yang menghasilkan produksi sebanyak 137.161 kg dengan
harga penjualan ditentukan sebesar Rp 70.000/kg, pendapatan dari harga jual
ikan kakap ini Rp 9.601.270.000
Analisis finansial yang dihitung pada perusahaan ini antara lain adalah :

5.4.1 Laba/Rugi
Analisa laba rugi adalah suatu analisa untuk mengetahui apakah usaha
tersebut untung atau rugi dengan menghitung selisih dari keuntungan dan biaya
produksi. Adapun keuntungan yang didapat perusahaan ini adalah Rp
1.675.545.250
5.4.2 Break Even Point (BEP)
Anlisa titik impas didapatkan apabila jumlah pendapatan sama dengan
jumlah biaya yang dikeluarkan. Artinya usaha dilakukan tidak mengalami untung
maupun rugi. Nilai BEP (nilai) yang dihasilkan dalam produksi kakap ini adalah
Rp 57.784 yang artinya akan menemui titik impas, tidak menerima keuntungan
maupun kerugian. Hal ini menunjukan bahwa kegiatan ini masih menguntungkan
karena memiliki nilai lebih. Adapun nilai BEP (produksi) yang dihasilkan dari
kegiatan produksi benih ini adalah sebesar 113.225 kg. Hal ini menunjukan bahwa
kegiatan produksi ini masih memiliki keuntungan sehingga layak untuk dilanjutkan.

5.4.3 Benefit Cost Ratio (B/C Ratio)


Penghitungan B/C ratio bertujuan untuk mengetahui apakah usaha masih
layak dilakukan atau tidak, usaha pembesaran ikan kakap ini masih layak dilakukan
karena nilai dari B/C ratio yang melebihi 1 dan nilainya mencapai 1,21 yang berarti
dari modal 1 rupiah yang dikeluarkan dapat menghasilkan Rp 1,21

5.4.4 Payback Period (PP)


61

PP adalah untuk menghitung berapa lama waktu yang akan digunakan untuk
mengembalikan biaya investasi yang dikeluarkan untuk melakukan usaha
pembesaran ikan kakap. Waktu yang digunakan untuk mengembalikan modal
investasi terhadap usaha produksi ikan kakap adalah 2,4 sehingga, pengembalian
modal investasi di PT Indomarind harus memerlukan waktu 28,8 bulan.

5.4.5 Return on Investment (ROI)


ROI adalah tingkat pengembalian investasi atau asset yaitu membandingkan
hasil usaha yang diperoleh dari operasi perusahaan atau nilai keuntungan yang
diperoleh dari sejumlah modal. Tingkat laba yang dihasilkan untuk setiap rupiah
investasi yang ditanam yaitu sebesar 41.48%.
62
63
64

Johan R, Sophia L. Sagala dan Widodo S. Pranowo. 2015. Aplikasi Model Numerik
Karakteristik Gelombang Untuk Kajian Kesesuaian Lahan Pengembangan
Budidaya Laut di Situbondo Jawa Timur.Pusat Pengkajian dan Perekayasaan
Teknologi Kelautan dan Perikanan.

Phillipose, K. K., Loka, J., Sharma, K. S. R., and Damodoran, D. (2013). Hand book
on open sea cage culture. central marine fisheries research institut. karwar research
centre. india

Shubhi, M.A., Yohana, K., Denah, S., 2017. Study Of Suitability And Enviromental
Carring Capasity For Barranmundi (Lates calcarifer. Bloch) Culture In Waters Of
Lemukutan Islan dan Penata Besar Island, Bengkayang Island Dan Penata Besar
Island, Bengkayangregion West Kalimantan.
65

.
66
67