Anda di halaman 1dari 31

ANALISIS JURNAL

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

STIKes Al- Insyirah Pekanbaru

Judul Jurnal : Pengaruh Terapi Kompres Dingin Terhadap Nyeri

Post Operasi ORIF Pada Pasien Fraktur di RSD

Dr.H.Koesnadi Bondowoso

Nama Peneliti : Amanda Putri Anugerah

Publikasi Jurnal : Jurnal Keperawatan Tahun 2017

A. Analisa Jurnal PICO

1. Problem ( P )

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, biasanya

disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Nyeri merupakan

keluhan yang paling umum pada pasien fraktur. Nyeri pasca

pembedahan ORIF disebabkan oleh tindakan invasive bedah

yang dilakukan. Walaupun fragmen tulang telah direduksi, tetapi

manipulasi seperti pemasangan screw dan platemenembus tulang

akan menimbulkan nyeri hebat. Nyeri tersebut bersifat akut yang

berlangsung selama berjam-jam hingga berhari-hari. Hal ini

disebabkan oleh berlangsungnya fase inflamasi yang disertai

dengan oedema jaringan. Lamanya proses penyembuhan setelah

mendapatkan penanganan dengan fiksasi internal akan

berdampak pada keterbatasan gerak yang disebabkan oleh nyeri

maupun adaptasi terhadap penambahan screw dan platetersebut.


Kondisi nyeri ini seringkali menimbulkan gangguan pada

pasien baik gangguan fisiologis maupun psikologis. Prinsip

penanganan pertama pada fraktur berupa tindakan reduksi dan

imobilisasi. Tindakan reduksi dengan pembedahan disebut

dengan reduksi terbuka yang dilakukan pada lebih 60% kasus

fraktur, sedangkan tindakan reduksi tertutup hanya dilakukan

pada simple fraktur dan pada anak-anak. Imobilisasi pada

penatalaksanaan fraktur merupakan tindakan untuk

mempertahankan proses reduksi sampai terjadi proses

penyembuhan.

Data yang didapat dari RSD Dr .H. Koesnadi Bondowoso

pada tahun 2015, jumlah pasien yang mengalami fraktur terbuka

sebanyak 102 pasien dan mengalami fraktur tertutup sebanyak

150 orang pasien sehingga totalnya menjadi 252 pasien. Pada

bulan Januari dan Februari tahun 2016, didapatkan 18 pasien

yang mengalami fraktur terbuka dan 24 pasien yang mengalami

fraktur tertutup sehingga keseluruhan pasien yang mengalami

fraktur sebanyak 42 pasien. Studi pendahuluan terhadap 10

orang yang mengalami fraktur di ruang dahlia didapatkan 7

pasien mengalami fraktur akibat kecelakaan dan 3 pasien

mengalami fraktur akibat terjatuh.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh terapi

kompres dingin terhadap nyeri pada pasien post operasi fraktur


ORIF. Metode penelitian ini adalah pre eksperimental dengan

desain penelitian one group pretest-posttest. Populasi penelitian

ini adalah pasien yang telah menjalani operasi fraktur ORIF dan

mendapatkan perawatan di ruang Dahlia RSD Dr. H. Koesnadi

Bondowoso pada bulan juni-juli 2016. Tekhnik sampling yang

digunakan quotasampling.

2. Intervensi ( I )

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh terapi

kompres dingin terhadap nyeri pada pasien post operasi fraktur

ORIF. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak

10 orang pasien post operasi fraktur ORIF. Penelitian ini

dilaksanakan di ruangan Dahlia RSD Dr . Koesnadi di Bondowoso.

Pretest dilakukan sebelum responden diberikan terapi kompres

dingin, terapi kompres dingin diberikan selama 10 menit selanjutnya

posttestdilakukan setelah pemberian terapi kompres dingin. Tekhnik

pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar

observasi nyeri Verbal Descriptor Scale (VDS).

3. Comparison (C)

a. Jurnal yang dianalisa

Pengaruh Terapi Kompres Dingin Terhadap

Nyeri Post Operasi ORIF Pada Pasien Fraktur di

RSD Dr.H.Koesnadi Bondowoso Tahun 2017.


Hasilpenelitian terhadap 10 orang responden,

didapatkan bahwa nilai rata-rata intensitas nyeri sebelum

diberikan intervensi adalah 3,7 dan setelah diberikan

intervensi 2,9. Skala nyeri responden sebelum diberikan

intervensi paling banyak pada skala 3 yaitu 5 orang. Skala

1-3 merupakan nyeri ringan, skala 4-6 merupakan nyeri

sedang dan skala 7-10 merupakan nyeri berat.

b. Jurnal Pembanding

Upaya Penurunan Nyeri Pada Pasien Fraktur

Humerus Post Orif Hari Ke 0 Di RSOP Dr. R.

Soeharso SurakartaHasil penelitian yang

dilakukan penulis selam 3 hari yang berfokus pada upaya

penurunan intensitas nyeri maka tindakan yang dilakukan

adalah tindakan nonfarmakologi yaitu mengajarkan

tekhnik relaksasi nafas dalam. Tekhnik relaksasi nafas

dalam merupakan salah satu metode manajemen nyeri

nonfarmakologi. Berdasarkan tindakan 3x24 jam yang

telah dilakukan penulis, evaluasi keperawatan dengan

diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen ciderafisik

teratasi sebagian. Dengan demikian dapat disimpulkan

tindakan nonfarmakologi tekhnik relaksasi nafas dalam

efektif dalam menurunkan nyeri pasca operasi.


4. Outcome (O)

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Rata-rata

penurunan nilai nyeri pada responden setelah diberikan terapi

kompres dingin yaitu sebesar -0,8. Hasil uji Wilcoxon untuk

intensitas nyeri sebelum dan sesudah intervensi menunjukkan

nilai p -value sebesar 0,005 atau nilai p-value kurang dari α

(0,05), artinya ada perbedaan rata-rata intensitas nyeri sebelum

dan sesudah diberikan kompres dingin. Hal ini menunjukkan

adanya pengaruh terapi kompres dingin terhadap nyeri. Namun

pada hasil penelitian juga didapatkan bahwa 2 responden tidak

mengalami penurunan nyeri setelah diberikan intervensi. Dua

responden yang tidak mengalami penurunan nyeri berusia 56

tahun dan 67 tahun, dimana kisaran usia tersebut termasuk dalam

dewasa tua. Responden yang tidak mengalami penurunan nyeri

dipengaruhi oleh faktor usia. Usia dapat mempengaruhi nyeri

dikarenakan semakin tinggi usia semakin adaptif seseorang

terhadap nyeri yang dirasakan.

Faktor lain yang mungkin dapat menyebabkan tidak terjadi

penurunan nyeri pada 2 responden adalah media kompres dingin

yang digunakan. Pada penelitian Khodijah, peneliti

menggunakan media kompres kantong karet yang berisi es dan

didapatkan hasil pasien mengalami penurunan nyeri yang

signifikan yaitu sebesar p= 0,000 (p < 0,05).


Sedangkan kelompok kontrol yang hanya dikompres

menggunakan kompres air biasa tidak mengalami penurunan

yang signifikan yaitu sebesar p= 0,080. Terdapat pengaruh terapi

kompres dingin terhadap nyeri pada pasien post operasi fraktur

ORIF. Kompres Dingin dapat meredakan nyeri pasien post

operasi fraktur ORIF. Perawat dapat memberikan pendidikan

kesehatan tentang terapi kompres dingin yang dapat meredakan

nyeri pada pasien post operasi fraktur ORIF.

Pengaruh Terapi Kompres Dingin Terhadap Nyeri Post

Operasi ORIF (Open Reduction Internal Fixation) pada Pasien

Fraktur di RSD Dr. H. Koesnadi Bondowoso (The Effect of Cold

Compress Therapy toward Post OperativePain in Patients ORIF

Fracture in RSD Dr. H. Koesnadi Bondowoso) Amanda Putri

Anugerah, Retno Purwandari, Mulia Hakam

Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember Jl. Kalimantan No. 37


Kampus Tegal Boto Jember Telp./Fax. (0331) 323450 email:
retno_p.psik@unej.ac.id

Abstract
Fracture is a break of continuity of bone, usually caused by trauma or
physical exertion. Pain is the most common complaint in patients with
fracture. One of the interventions that can reduce fracture pain is giving
cold compress using a towel put in ice cubes mixed with water and put it on
the skin that do for 10 minutes. The purpose of this research was to analyze
the effect of cold compress therapy against post operative pain in patients
ORIF fracture. This research method was pre experimental with one group
pretest-posttest design. The sampling technique was quota sampling
involving 10 respondents. The independent variable was cold compress
therapy and dependent variable was post operative pain. The data were
analyzed using wilcoxon test with significant level of α = 0,05. Mean of
respondent pain score before intervention was 3,7 and score after
intervention was 2,9. The result showed a significant difference between
pretest and posttest (p = 0,005). This result indicates that there is
significant effect of cold compress therapy on post operative pain in
patients ORIF fracture. Nurse was suggested to apply cold compress
therapy as one of interventions to decrease post operative pain in patients
ORIF fracture.

Keywords: ORIF, cold compress, post operative pain

Abstrak
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, biasanya disebabkan oleh
trauma atau tenaga fisik. Nyeri merupakan keluhan yang paling umum
pada pasien dengan fraktur. Salah satu intervensi yang dapat mengurangi
nyeri patah tulang adalah memberikan kompres dingin menggunakan
handuk dimasukkan ke dalam es batu dicampur dengan air dan
menaruhnya di atas kulit yang dilakukan selama 10 menit. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh terapi kompres dingin
terhadap nyeri pasca operasi pada pasien fraktur ORIF. Metode penelitian
ini adalah pre eksperimental dengan desain one group pretest-posttest.
Teknik pengambilan sampel adalah quota sampling melibatkan 10
responden. Variabel independen adalah terapi kompres dingin dan
variabel dependen adalah nyeri pasca operasi. Data dianalisis
menggunakan uji wilcoxon dengan tingkat signifikan α = 0,05. Rerata
nilai nyeri responden sebelum intervensi adalah 3,7 dan nilai setelah
intervensi adalah 2,9. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang
signifikan antara pretest dan posttest (p = 0,005). Hasil ini menunjukkan
bahwa ada pengaruh yang signifikan dari terapi kompres dingin terhadap
nyeri post operasi pada pasien fraktur ORIF. Perawat disarankan untuk
menerapkan terapi kompres dingin sebagai salah satu intervensi untuk
mengurangi nyeri pasca operasi pada pasien fraktur ORIF.
Kata Kunci: ORIF, kompres dingin, nyeri post operasi.

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol.5 (no.2), Mei, 2017 247


Anugerah, et al, Pengaruh Terapi Kompres Dingin terhadap Nyeri Post Operasi ORIF….

Pendahuluan dan 3 pasien mengalami fraktur akibat


terjatuh.
Kemajuan teknologi saat ini membawa
dampak positif dan negatif bagi kehidupan. Prinsip penanganan pertama pada
Salah satu dampak negatifnya ialah sering fraktur berupa tindakan reduksi dan
terjadi berbagai kecelakaan. Kecelakaan imobilisasi. Tindakan reduksi dengan
kendaraan bermotor dan kecelakaan kerja pembedahan disebut dengan reduksi
merupakan contoh kejadian yang dapat terbuka yang dilakukan pada lebih dari
menyebabkan fraktur. Pasien yang 60% kasus fraktur, sedangkan tindakan
mengalami fraktur diperlukan penanganan reduksi tertutup hanya dilakukan pada
yang kompeten yaitu tidak hanya simplefracture dan pada anak-anak [5].
mengandalkan pengetahuan atau teknologi Imobilisasi padapenatalaksanaan fraktur
saja melainkan harus ditangani oleh merupakan tindakan untuk
kombinasi pengetahuan dan juga teknologi mempertahankan proses reduksi sampai
[1]. terjadi proses penyembuhan. Pemasangan
Menurut WHO, pada tahun 2010 angka screw dan plate atau dikenal dengan pen
kejadian fraktur akibat trauma mencapai 67 merupakansalah satu bentuk reduksi dan
juta kasus [2]. Secara nasional, angka imobilisasi yang dilakukan dengan
kejadian fraktur akibat trauma pada tahun prosedur pembedahan, dikenal dengan
2011 mencapai 1,25 juta kasus sedangkan di
Open Reduction and InternalFixation
Provinsi Jawa Timur pada tahun 2011 tercatat
(ORIF). Alat fiksasi yang digunakanterdiri
67.076 ribu kasus [3]. Menurut hasil data
dari beberapa logam panjang yang
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun
menembus axis tulang dan dihubungkan
2011, sebanyak 45.987 kejadian terjatuh dan
oleh penjepit sehingga tulang yang
yang mengalami fraktur sebanyak 1.775
direduksi dijepit oleh logam tersebut [6].
orang atau 3,8 %. Kejadian kecelakaan lalu
Nyeri pasca pembedahan ORIF
lintas sebanyak 20.829 dan yang mengalami
disebabkan oleh tindakan invasif bedah
fraktur sebanyak 1.770 orang atau 8,5
yang dilakukan. Walaupun fragmen tulang
% serta dari 14.127 kejadian trauma benda
telahdireduksi, tetapi manipulasi seperti
tajam/tumpul yang mengalami fraktur
pemasangan screw dan plate menembus
sebanyak 236 orang atau 1,7 % [4].
tulang akan menimbulkan nyeri hebat.
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan
Nyeri tersebut bersifat akut yang
orang yang mengalami kecelakaan beresiko
berlangsung selama berjam-jam hingga
tinggi mengalami fraktur.
berhari-hari. Hal ini disebabkan oleh
Data yang didapat dari RSD Dr. H.
berlangsungnya fase inflamasi yang
Koesnadi Bondowoso pada tahun 2015,
disertai dengan edema jaringan
jumlah pasien yang mengalami fraktur
[7]. Lamanya proses penyembuhan setelah
terbuka sebanyak 102 pasien dan yang
mendapatkan penanganan dengan fiksasi
mengalami fraktur tertutup sebanyak 150
internal akan berdampak pada keterbatasan
pasien sehingga totalnya menjadi 252 pasien.
gerak yang disebabkan oleh nyeri maupun
Pada Bulan Januari dan Februari tahun 2016,
adaptasi terhadap penambahan screw dan
didapatkan 18 pasien yang mengalami fraktur
plate tersebut. Kondisi nyeri ini
terbuka dan 24 pasien yang mengalami
seringkalimenimbulkan gangguan pada
fraktur tertutup sehingga keseluruhan pasien
pasien baik gangguan fisiologis maupun
yang mengalami fraktur sebanyak 42 pasien.
psikologis [8].
Studi pendahuluan terhadap 10 orang yang
Kompres dingin dapat meredakan
mengalami fraktur di ruang dahlia didapatkan
nyeri dikarenakan kompres dingin dapat
7 pasien mengalami fraktur akibat kecelakaan
mengurangi aliran darah ke suatu bagian
dan mengurangi perdarahan edema yang
diperkirakan menimbulkan efek analgetik Metode Penelitian
dengan memperlambat kecepatan hantaran
saraf sehingga impuls nyeri yang mencapai Metode penelitian ini adalah
otak lebih sedikit [9]. Pemberian kompres preeksperimental dengan desain penelitian
dingin dapat meningkatkan pelepasan one group pretest-posttest. Populasi
endorfin yang memblok transmisi stimulus penelitian iniadalah pasien yang telah
nyeri dan juga menstimulasi serabut saraf menjalani operasi fraktur ORIF dan
yang memiliki diameter besar α-Beta mendapatkan perawatan di Ruang Dahlia
sehingga menurunkan transmisi impuls nyeri RSD Dr. H. Koesnadi Bondowoso pada
melalui serabut kecil α-Delta dan serabut bulan Juni-Juli 2016. Kriteria inklusi
saraf C [10]. Berdasarkan permasalahan di penelitian adalah pasien post operasi
atas maka peneliti bermaksud untuk fraktur ORIF hari ke -1, bersedia menjadi
menganalisis pengaruh terapi kompres dingin responden penelitian, dan pasien compos
terhadap nyeri pada pasien post operasi
fraktur ORIF.
e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol.5 (no.2), Mei, 2017 248
Anugerah, et al, Pengaruh Terapi Kompres Dingin terhadap Nyeri Post Operasi ORIF….

mentis. Kriteria eksklusi penelitian adalah H. Koesnadi Bondowoso (Juni-Juli 2016;


pasien anak-anak (usia <18 tahun) dan pasien
n=10)
tidak
mengikuti keseluruhan kegiatan atau Responde
mengundurkan diri sebagai responden n
penelitian. Teknik sampling yang digunakan Variabel (%
quota sampling. Peneliti menetapkan jatah Jumlah )
sebanyak 10 pasien post operasi fraktur ORIF Jenis Kelamin
sebagai sampel. Laki-laki 8 80
Penelitian ini dilaksanakan di ruang Perempuan 2 20
dahlia RSD Dr. H. Koesnadi Bondowoso. Total 10 100
Waktu penelitian dilakukan pada bulan Juni
Suku
sampai Juli 2016. Pretest dilakukan sebelum Jawa 1 10
responden diberikan terapi kompres dingin. Madura 9 90
Terapi kompres dingin diberikan selama 10 Lainnya 0 0
menit. Selanjutnya postest dilakukan setelah
pemberian terapikompres dingin. Teknik Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui
pengumpulan data dalam penelitian ini
berdasarkan jenis kelamin bahwa lebih
menggunakan lembar observasi nyeri Verbal
Descriptor Scale (VDS). Uji normalitas pada banyakresponden laki- laki dibandingkan
penelitian ini menggunakan uji saphiro wilk. perempuan yaitu sebanyak 8 orang (80 %).
Data dianalisis denganmenggunakan uji Karakteristik suku responden paling banyak
wilcoxon. Etika penelitian pada penelitian ini adalah suku madura sebanyak 9 orang (90
adalah Informed consent dan anonimity untuk %).
menjaga kerahasiaan responden. Tabel 3. Nilai Skala Nyeri pada Responden
Hasil Penelitian Sebelum dan Sesudah dilakukan
Karakteristik Responden Terapi Kompres Dingin di RSU
Responde Dr. H. Koesnadi Bondowoso
Tabel 1. Distribusi Karakteristik n (Juni-Juli 2016; n=10)
Berdasarkan Usia pada pasien post Kode Nilai
operasi Sebelu
frakt ORI di RSU Dr. H. Responden m Sesudah
ur F Koesnadi 1 5 4
Bondowoso (Juni-Juli 2016; n=10) 2 5 4
3 3 2
Mea Media Min- 4 3 2
Variabel n SD 5 3 2
n Maks 6 6 5
Usia 7 2 2
(tahun) 46,20 41,50 15,252 26-75 8 3 2
Responden 9 4 4
10 3 2
Tabel 1 menunjukkan rata-rata usia Total 37 29
responden pada penelitian ini adalah 46,20 Mean 3,7 2,9
tahun dengan SD 15,252.
Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui
Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan bahwa terjadi penurunan nilai skala nyeri
Jenis Kelamin dan Suku di RSU Dr. setelah dilakukan terapi kompres dingin.
Rata-rata nilai skala nyeri pada pengukuran dengan nilai posttest lebih rendah daripada
sebelum terapi adalah 3,7 dan mengalami nilai pretest yaitu sebanyak 8 orang. Tidak
penurunan setelah terapi kompres dingin ada responden yang mengalami
menjadi 2,9. peningkatan nyeri dan dua orang yang
tidak mengalami perubahan.
Tabel 4. Hasil Uji Wilcoxon Signed
Rank Test Tabel 5. Hasil Uji Wilcoxon Nilai Skala
Nyeri Pada Responden (n=10)
Karakteristik
Nyeri Jumlah No
Posttest-Pretest Kelompok Test Z p
Negative Ranks 8 .
Positive Ranks 0
Ties 2 Responde Pretest
Total 10 1. -2,828 0,005
n Posttest
Hasil analisis tabel 4 diatas
menunjukkan hasil bahwa responden

5 diatas menunjukkan hasil uji wilcoxon menyebabkan kemungkinan terjadinya


pada responden yaitu nilai p<0,05 (α),artinya fraktur pada laki-laki lebih besar
terdapat perbedaan yang signifikan nilai skala dibandingkan dengan perempuan [12].
nyeri sebelum dan sesudah dilakukan terapi Baik responden laki-laki maupun
kompres dingin. responden perempuan sama-sama
mengalami nyeri ringan dan nyeri sedang.
Pembahasan Perbedaannya adalah responden
Karakteristik Responden perempuan lebih terbuka dalam
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengungkapkan nyeri yang dirasakan,
rata-rata usia responden pada penelitian ini mereka menceritakannya lebih detail,
adalah 46,20 tahun dengan usia minimal sedangkan responden laki-laki lebih
responden 26 tahun dan usia maksimal 75 ringkas dalam menceritakan nyeri yang
tahun. Hasil penelitian juga menunjukkan dirasakan. Menurut penelitian Setyawati,
terdapat 6 responden yang mengalami nyeri laki-laki memiliki sensitivitas yang lebih
ringan dan 4 responden yang mengalami rendah dibandingkan wanita. Laki-laki juga
nyeri sedang. Responden yang berusia kurang mengekspresikan nyeri yang
maksimal yaitu 75 tahun termasuk responden dirasakan secara berlebihan dibandingkan
yang mengalami nyeri ringan dan responden wanita [13].
yang berusia minimal yaitu 26 tahun
termasuk responden yang mengalami nyeri Hasil pada penelitian ini didapatkan
sedang. Seiring dengan bertambahnya usia bahwa suku responden paling banyak
maka individu cenderung mempunyai adalah Suku Madura yaitu sebanyak 9
pengalaman yang lebih dalam merasakan orang (90%). Suku dan nilai-nilai budaya
nyeri daripada usia sebelumnya sehingga mempengaruhi cara individu mengatasi
memberikan pengalaman secara psikologis nyeri. Individu mempelajari apa yang
dan mempunyai kemampuan beradaptasi diharapkan dan apa yang diterima oleh
terhadap nyeri yang dirasakan [11]. kebudayaan mereka. Hal ini meliputi
Pada penelitian ini menunjukkan bahwa bagaimanaindividu bereaksi terhadap nyeri
responden dengan jenis kelamin laki-laki [14]. Pada penelitian ini, 1 responden yang
(80%) lebih banyak dibandingkan perempuan bersuku jawa mengalami nyeri ringan dan
(20%). Dapat disimpulkan bahwa laki-laki responden lainnya yang bersuku madura
lebih banyak menderita fraktur jika
mengalami nyeri ringan dan nyeri sedang.
dibandingkan dengan perempuan. Laki-laki
Responden yang bersuku jawa maupun
juga cenderung lebih aktif dalam beraktivitas
madura tidak berbeda dalam
dibandingkan dengan perempuan. Hal ini
menyampaikan nyeri yang dirasakan baik intervensi menunjukkan nilai p -value
secara verbal maupun non verbal. sebesar 0,005 atau nilai p-value kurang dari
α (0,05), artinya ada perbedaan rata-rata
Nilai Nyeri Sebelum dan Sesudah Terapi intensitas nyeri sebelum dan sesudah
Kompres Dingin diberikan kompres dingin. Hal ini
Berdasarkan hasil penelitian terhadap 10 menunjukkan adanya pengaruh terapi
orang responden, didapatkan bahwa nilai rata- kompres dingin terhadap nyeri. Namun
rata intensitas nyeri sebelum diberikan pada hasil penelitian juga didapatkan
intervensi adalah 3,7 dan setelah diberikan bahwa 2 responden tidak mengalami
intervensi 2,9. Skala nyeri responden sebelum penurunan nyeri setelah diberikan
diberikan intervensi paling banyak pada skala intervensi. Dua responden yang tidak
3 yaitu 5 orang. Skala 1-3 merupakan nyeri mengalami penurunan nyeri berusia 56
ringan, skala 4-6 merupakan nyeri sedang dan tahun dan 67 tahun, dimana kisaran usia
skala 7-10 merupakan nyeri berat. Nyeri tersebut termasuk dalam dewasa tua.
ringan merupakan nyeri yang timbul Responden yang tidak mengalami
berintensitas ringan. Ciri-ciri responden penurunan nyeri dipengaruhi oleh faktor
dengan nyeri ringan adalah pasien tidak usia. Usia dapat mempengaruhi nyeri
merasakan sakit ketika beristirahat, nyeri dikarenakan semakin tinggi usia semakin
sedikit ketika bergerak, dan nyeri yang adaptif seseorang terhadap nyeri yang
dirasakan tidak mengganggu aktivitas pasien. dirasakan.
Selain itu menurut Tamsuri, pada nyeri ringan Faktor lain yang mungkin dapat
biasanya pasien secara obyektif dapat menyebabkan tidak terjadi penurunan nyeri
berkomunikasi dengan baik [10]. pada 2 responden adalah media kompres
Nyeri sedang merupakan nyeri yang
dingin yang digunakan. Pada penelitian
timbul berintensitas sedang. Ciri-ciri
Khodijah, peneliti menggunakan media
responden dengan nyeri sedang adalah pasien
kompres kantong karet yang berisi es dan
terkadang merasakan nyeri ketika beristirahat,
didapatkan hasil pasien mengalami
nyeri sedang ketika bergerak, dan nyeri yang
penurunan nyeri yang signifikan yaitu
dirasakan mengganggu aktivitas pasien.
sebesar p= 0,000 (p < 0,05). Sedangkan
Selain ciri-ciri tersebut, secara obyektif
kelompok kontrol yang hanya dikompres
biasanya pasien mendesis, menyeringai, dapat
menggunakan kompres air biasa tidak
menunjukkan lokasi nyeri serta
mengalami penurunan yang signifikan
mendeskripsikannya, dan dapat mengikuti
yaitu sebesar p= 0,080
perintah dengan baik [10].
% Perbedaan ini bisa dikarenakan
Skala nyeri responden yang didapatkan
media kantong karet lebih tahan lama
setelah diberikan intervensi kompres dingin
dalam menahan suhu dingin sehingga
paling banyak yaitu pada skala 2 sebanyak 6
sensasi dingin yang memblok transmisi
orang. Nyeri yang dirasakan sebelum diberi
nyeri akan lebih konstan.
kompres dingin rata-rata dirasakan ketika
Penurunan intensitas nyeri yang
responden menggerakkan bagian tubuh yang
dirasakan oleh 8 responden sejalan dengan
telah dioperasi, namun nyeri yang dirasakan
teori Price & Wilson, yaitu terapi dingin
tidak sampai mengganggu aktivitas
tidak hanya dapat mengurangi spasme otot
responden. Setelah diberi kompres dingin,
tetapi juga bisa menimbulkan efek
sebagian responden mengatakan bahwa
analgetik yang memperlambat kecepatan
nyerinyeri [15].
hantaran saraf sehingga impuls nyeri yang
mencapai otak lebih sedikit [9]. Oleh
Pengaruh Pemberian Terapi Kompres
karena itu, nyeri yang dirasakan akan
Dingin Terhadap Nyeri
berkurang. Kerusakan jaringan karena
trauma baik trauma pembedahan atau
Rata-rata penurunan nilai nyeri pada
trauma lainnya menyebabkan sintesa
responden setelah diberikan terapi kompres
prostaglandin, dimana prostaglandin inilah
dingin yaitu sebesar -0,8. Hasil uji Wilcoxon
yang akan menyebabkan sensitisasi dari
untuk intensitas nyeri sebelum dan sesudah
reseptor-reseptor nosiseptif dan transmisi impuls nyeri melalui serabut
dikeluarkannya zat-zat mediator nyeri seperti kecil α-Delta dan serabut saraf C [10].
histamin dan serotonin yang akan Mekanisme penurunan nyeri dengan
menimbulkan sensasi nyeri pemberian kompres dingin berdasarkan
% Nyeri pembedahan sedikitnya atas teori gate control. Teori ini
mengalami dua perubahan, pertama akibat menjelaskan mekanisme transmisi nyeri.
pembedahan itusendiri yang menyebabkan Apabila masukan yang dominan berasal
rangsangan nosiseptif dan yang kedua setelah dari serabut beta-A, maka akan menutup
proses pembedahan terjadi respon inflamasi mekanisme pertahanan. Apabila masukan
pada daerah sekitar operasi, dimana terjadi yang dominan berasal dari serabut delta-A
pelepasan zat-zat kimia (prostaglandin, dan serabut C, maka akan membuka
histamin, serotonin, bradikinin, substansi P, pertahanan tersebut dan pasien
dan lekoterin) oleh jaringan yang rusak dan mempersepsikan sensasi nyeri. Alur saraf
sel-sel inflamasi. Zat-zat kimia yang desenden melepaskan opiat endogen seperti
dilepaskan inilah yang berperan pada proses endorfin, suatu pembunuh nyeri alami yang
transduksi dari nyeri [18]. berasal dari tubuh. Semakin tinggi kadar
Nyeri yang dirasakan setelah prosedur endorphin seseorang, semakin ringan rasa
pembedahan dapat diatasi dengan kompres nyeri yang dirasakan. Produksi endorphin
dingin. Kompres dingin merupakan suatu dapat ditingkatkan melalui stimulasikulit.
terapi es yang dapat menurunkan Stimulasi kulit meliputi massase,
prostaglandin yang memperkuat sensitivitas penekanan jari-jari dan pemberian kompres
nyeri dan subkutan lain pada tempat cedera hangat atau dingin [21].
dengan menghambat proses inflamasi [14]. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat
Kompres dingin ini menggunakan handuk disimpulkan bahwa pengaruh kompres
yang dimasukkan ke dalam es batu yang dingin terhadap nyeri ialah melalui
dicampur dengan air dan meletakkannya di peningkatan endorfin yang memblok
kulit yang dilakukan selama 5-10 menit [19]. transmisi stimulus nyeri sehingga dapat
Secara fisiologis, pada 10-15 menit pertama meredakan nyeri yang dirasakan yang
setelah pemberian kompres dingin terjadi dirasakan berkurang ketika sensasi dingin
vasokonstriksi pada pembuluh darah [20]. mulai terasa. Hal ini dikarenakan dingin
Pemberian kompres dingin dapat memiliki efek analgetik dan anastesi lokal
meningkatkan pelepasan endorfin yang dalam mengurangi intensitas nyeri yang
memblok transmisi stimulus nyeri dan juga dirasakan seseorang. Mekanisme lain yang
menstimulasi serabut saraf yang memiliki mungkin bekerja adalah persepsi dingin
diameter besar α-Beta sehingga menurunkan menjadi dominan dan mengurangi perseps

Bagi peneliti selanjutnya diharapkan


Simpulan dan Saran untuk
Terdapat pengaruh terapi kompres dingin menambahkan kelompok kontrol dan
terhadap nyeri pada pasien post operasi menggunakan media kompres dingin lain
fraktur ORIF. Kompres Dingin dapat seperti ice gel dan kirbat es.
meredakan nyeri pasien post operasi fraktur
ORIF. Perawat dapat memberikan pendidikan Ucapan Terima Kasih
kesehatan tentang terapi kompres dingin yang Penulis menyampaikan terima kasih
dapat meredakan nyeri pada pasien post kepada RSD Dr. H. Koesnadi Bondowoso
operasi fraktur ORIF. serta pasien post operasi fraktur ORIF yang
menjalani pengobatan di RSU Dr. H.
Koesnadi Bondowoso dan telah bersedia
menjadi responden dalam penelitian ini.
Daftar Pustaka 8. Septiani L. Analisis faktor-faktor yang
: Astutik. Perbedaan tingkat mobilitas pada mempengaruhi nyeri pada klien fraktur
pasien post operasi fraktur ekstremitas di rs pku muhammadiyah yogyakarta.
bawah sebelum dan sesudah dilakukan [internet] Yogyakarta; 2015. [Cited 21
penyuluhan kesehatan di ruang Agustus 2016]. Available From:
bougenville dan teratai rsud dr. soegiri http://opac.unisayogya.ac. i
lamongan. [internet] Lamongan; 2011. d/96/1/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf
[Cited 17 Februari 2016]. Available From: 9. Muttaqin A. Buku saku gangguan
http://stikesmuhla.ac.id/v2/wp- muskuloskeletal: aplikasi pada praktik
content/uploads/jurnalsurya/noIX/0.pdf. klinik keperawatan. Jakarta: EGC;
: World Health Organization. Statistics of 2012
road traffic accident. Geneva: UN 10. Kozier B, Erb G. Buku ajar praktik
Publications; 2011 keperawatan klinis edisi 5. Jakarta:
: Haryadi. Transportasi: peran dan EGC; 2009
dampaknya dalam pertumbuhan ekonomi 11. Khodijah S. Efektifitas kompres
sosial. Jawa Timur: Jurnal Perencanaan; dingin terhadap penurunan intensitas
2012 nyeri pasien fraktur di rindu b rsup H.
: Riset Kesehatan Dasar. Laporan riskesdas adam malik medan. [internet] Medan;
2011. [internet] Jakarta; 2011. [Cited 17 2011. [28 Februari 2016]. Available
Februari 2016]. Available From: From:
http://www.riskesdas.litbang.depkes.go.id/ http://repository.usu.ac.id/bitstream/12
download/Laporan_riskesdas_2011.pdf. 3456789/24614/7/Cover.pdf
: Aslam M. Penanganan traumatologi. 12. Vanderah T. Pathophysiology of pain.
[internet] Jakarta; 2009. [Cited 20 Mei The Medical Clinics of North
2016]. Available From: http://o America. Med Clin N Am; 2007
nlinelibrary.wiley//trauma_nyeri_aslam.co 13. Woolf C. Pain moving from symptom
m control toward mechanism-specific
pharmacologic management. Annals of
: Canale S. Campbell operative Internal Medicine; 2004
orthopaedics. [internet] St. Louis; 2003. 14. Potter PA, Perry AG. Buku ajar
[Cited 20 Mei 2016]. fundamental keperawatan: konsep,
Available From: proses, dan praktik. Jakarta: EGC;
http://www.mdconsult.com/bo 2005
oks/page.do?eid=4-ul.0-B987 15. Novita I. Dasar-dasar fisioterapi pada
olahraga. Yogyakarta: Universitas
: Schoen D. Adult orthopaedic nursing. Negeri Yogyakarta; 2010
Philadelphia: Lippincott, Williams & 16. Smeltzer SC, Bare BG. Buku ajar
Wilkins; 2000 keperawatan medikal bedah edisi 8 vol
3. Suratun. Pasien gangguan sistem 3. Jakarta: EGC; 200
muskuloskeletal: seri asuhan keperawatan.
Jakarta: EGC; 2008
4. Price SA, Wilson LMC. Patofisiologi
konsep klinis proses-proses keperawatan
volume 2 edisi 6. Jakarta: EGC; 2005
5. Tamsuri A. Konsep dan penatalaksanaan
nyeri. Jakarta: EGC; 2007
6. Puntillo. Patient’s perception and
responses to procedural pain: result from
thunder project II. American Journal of
Critical Care; 2001
7. Reeves, Roux, Lockhart. Keperawatan
medikal bedah buku I. Jakarta: Salemba
Medika; 2001
UPAYA PENURUNAN NYERI PADA PASIEN FRAKTUR HUMERUS
POST ORIF HARI KE 0 DI RSOP DR. R. SOEHARSO SURAKARTA

PUBLIKASI ILMIAH

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi


Diploma III pada Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan

Oleh:

VIOLA SATRIANAJ
200 130 081

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU

KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

SURAKARTA 2016
i
ii
iii
UPAYA PENURUNAN NYERI PADA PASIEN FRAKTUR HUMERUS
POST ORIF HARI KE 0 DI RSOP SURAKARTA
Viola Satriana, Enita Dewi, Yuni Astuti Tri Indarti Program Studi DIII
Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta JL.
Ahmad Yani, Trombol Pos 1, Pabelan Kartasura Email :
Violasatriana06@gmail.com

Abstrak
Pembedahan atau operasi adalah tindakan yang menggunakan cara invasif
dengan membuat sayatan dan diakhiri dengan penutupan dan penjahitan. Akibat
dari prosedur pembedahan, pasien akan mengalami gangguan rasa nyaman atau
nyeri. Nyeri adalah sensasi yang sangat tidak menyenangkan, bervariasi pada tiap
individu dan dapat mempengaruhi seluruh pikiran seseorang. Salah satu tindakan
non farmakologi dalam mengurangi atau mengontrol nyeri dengan tindakan
relaksasi nafas dalam. Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini untuk mengetahui
gambaran umum tentang asuhan keperawatan dengan fraktur humerus sinistra
serta melaporkan tindakan nonfarmakologi terhadap penurunan nyeri pada pasien.
Metode yang digunakan deskriptif dengan studi kasus dan menggunakan
pendekatan proses keperawatan. Proses keperawatan dimulai dari pengkajian
sampai evaluasi. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam pada
pasien post operasi fraktur humerus dengan masalah nyeri akut teratasi sebagian
dan intervensi dilanjutkan. Adanya pengaruh pemberian terapi nonfarmakologi
dalam menurunkan skala nyeri. Masalah nyeri akut teratasi sebagian sehingga
membutuhkan perawatan lebih lanjut, peran keluarga yang sangat diperlukan
untuk keberhasilan asuhan keperawatan.

Kata kunci : fraktur, humerus, nyeri, teknik relaksasi, penurunan, post


operasi,studi kasus.

1
PAIN REDUCTION EFFORTS IN PATIENTS HUMERUS
FRACTURES POST ORIF DAY 0 IN RSOP SURAKARTA
Viola Satriana, Enita Dewi, Yuni Astuti Tri Indarti Study
Program DIII of Nursing Faculty of Health Sciences
Muhammadiyah University of Surakarta JL. Ahmad Yani,
Trombol Pos 1, Pabelan Kartasura Email :
Violasatriana06@gmail.com

Abstracts

Surgery or operation is the action that uses invasive way by making an


incision and ends with closure and suturing. As a result of the surgical procedure, the
patient will experience a sense of discomfort or pain disorders. Pain is a sensation
that is very unpleasant, varies among individuals and can affect a person's entire
mind. One non-pharmacological measures to reduce or control the pain with deep
breathing does relax. The purpose of writing a scientific paper is to determine the
general idea of nursing care with a fracture of the left humerus and reporting
nonpharmacological measures to the reduction of pain in patients. The method used
descriptive case studies and using the nursing process approach. The nursing process
starts from the assessment and evaluation. After 3x24-hour nursing care for patients
post surgery fracture of the humerus with acute pain issues resolved partially and
continued intervention. The influence nonpharmacological therapy in reducing pain
scale. Acute pain problems solved most of that needs further treatment, the role of
families is indispensable for the success of nursing care.

Keyword :fractures, humerus, pain, relaxation techniques, decreased,


postoperative, case studies.

2
1. PENDAHULUAN (Muttaqin, 2011). Selain itu perawat perlu
Fraktur merupakan memiliki kemampuan dalam
hilangnya kontinuitas tulang mengidentifikasi dan mengatasi rasa nyeri
yang disebabkan oleh trauma yang dialami klien (Asmadi, 2008 dalam
atau tenaga fisik. Jaringan jurnal Ani Dwi Pratintya, 2014).
lunak disekitar fraktur akan Badan kesehatan dunia (WHO)
menentukan apakah fraktur mencatat kasus fraktur yang terjadi di
yang terjadi lengkap atau tidak dunia kurang lebih 13 juta orang pada
lengkap (Helmi, 2012). tahun 2008, dengan angka prevalensi
Sedangkan fraktur humerus 2,7%. Sementara pada tahun 2009
adalah putusnya hubungan terdapat kurang lebih 18 juta orang
tulang humerus bagian atas dengan angka prevalensi 4,2 %. Tahun
yang sering disebabkan oleh 2010 meningkat menjadi 21 juta orang
pukulan langsung atau jatuh dengan angka prevalensi 3,5 %.
dengan bertumpu pada lengan. (Mardiono, 2010 dalam jurnal Rivaldy
(Kneale & Davis, 2011). Djamal dkk, 2015). Prevalensi kasus
Pembedahan atau operasi adalah tindakan fraktur pada penduduk Indonesia 5,8 %.
yang menggunakan cara invasif dengan Fraktur terbanyak terjadi di Papua dengan
membuat sayatan dan diakhiri dengan prevalensi 8,3% sedangkan di Jawa
penutupan dan penjahitan. Akibat dari Tengah 6,2 %. (Kemenkes, 2013).
prosedur pembedahan, pasien akan Terjadinya fraktur tersebut dari berbagai
mengalami gangguan rasa nyaman atau insiden antara lain kecelakaan, cedera
nyeri. (Akbar Apriansyah, dkk, 2015). olahraga, bencana kebakaran, bencana
Apabila sesorang mengalami nyeri, maka alam dan lain sebagainya.
akan mempengaruhi fisiologis dan Pada tahun 2013 dalam kurun waktu
psikologis dari orang tersebut (Tamsuri, satu bulan di rumah sakit Orthopedi Prof.
2006 dalam jurnal Ani Dwi Pratintya, DR. R Soeharso Surakarta terdapat kasus
2014). Nyeri merupakan sensasi yang fraktur humerus yang memerlukan
sangat tidak menyenangkan yang muncul penanganan operasi sebanyak 9,4 % dari
akibat kerusakan jaringan aktual dan 382 kasus yang mana kasus fraktur
potensial, bervariasi pada tiap individu dan humerus masuk kedalam peringkat
dapat mempengaruhi seluruh pikiran sepuluh besar kasus tertinggi (Triastuti,
seseorang. Awitan yang tiba-tiba atau 2012).
lambat dari intensitas ringan hingga berat Pentingnya upaya penurunan nyeri
dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dengan melakukan tindakan
diprediksi dan berlangsung <6 bulan nonfarmakologi yaitu teknik relaksasi
(NANDA, 2015). Perawat perlu merupakan tindakan yang dilakukan untuk
mendapatkan data baik secara subjektif mengurangi nyeri. Teknik relaksasi nafas
maupun objektif untuk menilai seberapa dalam adalah teknik melakukan nafas
besar pengaruh nyeri pada pasien dengan lambat dan menghembuskan nafas dalam
menggunakan komunikasi terapeutik. secara perlahan, kemudian pasien dapat
(Berman, Snyder, Kozier, & Erb, 2003 memejamkan matanya dan bernafas
dalam jurnal Chandra Kristianto Patasik dengan perlahan dan nyaman. Irama yang
dkk, 2013). Pengkajian nyeri meliputi P konstan dapat dipertahankan dengan
(provoking incident/insidens pemicu). Q menghitung dalam hati dan lambat
(Quality of pain). R (Region, radiation, bersama setiap inhalasi (“ hirup, dua,
relief). S (Severity/scale of pain). T (Time). tiga”) dan ekshalasi (hembuskan, dua,
tiga). (Brunner & Suddarth, 2013). karya ilmiah ini adalah di ruang
Relaksasi secara umum sebagai metode Instalasi Bedah Sentral RS Ortopedi
yang paling efektif terutama pada pasien Prof. DR. R Soeharso Surakarta. Waktu
yang mengalami nyeri (National Safety pelaksanaan studi kasus pada tanggal 28
Council, 2003 dalam jurnal Ernawati dkk, Maret – 2 April 2016. Penulisan
2010). publikasi ilmiah ini mengambil kasus
Berdasarkan latar belakang diatas pada pasien Tn. M dengan Fraktur
pasien dengan fraktur yang rata-rata Humerus di bangsal Ceplok Sriwedari.
anggota tim kesehatan hanya memberikan Dalam penyusunan publikasi ilmiah
obat analgetik untuk mengurangi nyeri. penulis mendapatkan data melalui
Maka penulis tertarik untuk memberikan wawancara, pemeriksaan fisik dan
teknik relaksasi nafas dalam untuk observasi. Wawancara dilakukan untuk
megurangi dan mengontrol nyeri karena mendapatkan data secara subjektif
teknik relaksasi nafas dalam dapat dengan menggunakan pertanyaan
dipraktekkan dan tidak menimbulkan efek terbuka dan tertutup. Pemeriksaan fisik
samping. Studi pendahuluan yang sudah dapat dilakukan dengan empat cara
dilakukan penulis ada 4 pasien yang yaitu inspeksi, palpasi, perkusi dan
mengalami fraktur namun pasien dan auskultasi. Sedangkan observasi
anggota tim kesehatan cenderung melakukan pengamatan antara lain
memandang obat sebagai satu-satunya respon fisik dan psikologis, respon
metode untuk menghilangkan nyeri. emosi serta rasa aman dan nyaman yang
Tujuan umum penulisan tersebut untuk dirasakan klien (Debora Oda, 2011).
mengetahui gambaran umum tentang Dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah
asuhan keperawatan dengan fraktur ini maka penulis mengumpulkan
humerus sinistra serta melaporkan berbagai sumber (buku, jurnal, artikel,
tindakan nonfarmakologi terhadap dan web) sebagai acuan.
penurunan nyeri pada pasien. Sedangkan
tujuan khususnya yaitu melakukan 2. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dari proses yang sudah dilakukan
pengkajian, merumuskan diagnosa,
didapatkan data pengkajian, diagnosa
membuat intervensi, melakukan
prioritas, intervensi keperawatan,
implementasi, serta evaluasi pada Tn. M
implementasi dan evaluasi. Dari data
dengan fraktur humerus sinistra.
pengkajian penulis akan membahas satu
Berdasarkan rumusan masalah di
persatu didalam diagnosa sampai
atas penulis tertarik untuk menjelaskan
dengan evaluasi.
dan menganalisis tentang penanganan
kasus fraktur humerus dengan judul
2.1 Pengkajian
“Upaya Penurunan Nyeri Pada Tn. M
dengan Fraktur Humerus Sinistra Post Pengkajian adalah langkah pertama
ORIF Hari ke 0 di RSOP Dr. Soeharso dalam proses keperawatan. Proses ini
Surakarta”. meliputi ; pengumpulan data, verifikasi
1.METODE data, menganalisa data, intrepetasi data,
pendokumentasian data. Pengkajian
Metode yang digunakan dalam
bertujuan untuk mendapatkan data dasar
publikasi ilmiah ini yaitu menggunakan
tentang kesehatan klien baik
metode deskriptif dengan pemaparan
fisik,psikologis maupun emosional.
kasus dan menggunakan pendekatan
Data dasar ini digunakan untuk
proses keperawatan. Tempat
menetapkan status kesehatan klien,
pengambilan kasus dalam pembuatan
menetukan masalah aktual ataupun tampak meringis menahan sakit saat
potensial. Hal yang dikaji bukan hanya mencoba menggerakkan lengan kirinya,
kondisi fisik klien tetapi juga kegiatan kekuatan otot 1 (tidak mampu
fisik dan gaya hidup klien setiap hari mengangkat) pada ekstremitas kiri,
(Debora, 2011). Penulis mulai pergelangan sendi shoulder terbatas,
memaparkan hasil dari pengkajian yang pergerakan sendi pergelangan tangan
dilakukan pada tanggal 28 Maret 2016 masih kaku. Tekanan darah : 110/80
jam 13.00 WIB dengan keluhan nyeri mmHg, Nadi : 80 x/m, Suhu : 36,5 °C,
pada luka post operasi tangan kiri. Pada Pernafasan : 22 x/m.
pengkajian riwayat penyakit sekarang Berdasarkan hasil pengkajian
klien mengatakan melakukan operasi yang dilakukan penulis menggunakan
pelepasan pen di lengan sebelah kiri. mekanisme pengkajian sesuai dengan
Riwayat penyakit dahulu klien teori Arif Muttaqin (2008). Teori
mengatakan 6 tahun yang lalu tersebut menyatakan bahwa pengkajian
mengalami kecelakaan sepeda montor muskoloskeletal dilakukan dari
dan mengalami patah tulang dilengan anamnese meliputi identitas klien,
kiri. Kemudian klien melakukan operasi riwayat penyakit sekarang, riwayat
pemasangan pen lengan kiri di RSKB penyakit dahulu dan pemeriksaan fisik.
Siaga Barjarmasin. Ini kali ke dua Pemeriksaan fisik dibagi menjadi dua
pasien melakukan operasi untuk yaitu pemeriksaan umum (status
melepas pen di RSOP Dr. Soeharso general) dan pemeriksaan setempat
Surakarta. Pemeriksaan fisik pada (lokal) yang bertujuan mengklarifikasi
tanggal 28 Maret 2016 didapat Keadaan hasil dari anamnesis dan mengevaluasi
umum baik. Kesadaran compos mentis. keadaan fisik secara umum serta
TTV ; tekanan darah :110/80 mmHg, melihat apa ada indikasi penyakit
pernafasan : 22x/m, Suhu : 36,5 °C, lainnya. Dalam melaksanakan
Nadi : 80x/m. Berat badan : 66 kg. pemeriksaan fisik perawat perlu
Tinggi Badan : 170 cm. Pengkajian melakukan penilaian keadaan umum
dengan menggunakan format klien seperti keadaan baik buruknya,
pengkajian pasien rawat inap menurut, tingkat kesadaran, tanda-tanda vital.
Arif Muttaqin, (2008) pada B6 (Bone) : Selanjutnya pengkajian dari B1 sampai
kemampuan gerak sendi bebas, B6. B1 (Breathing) pengkajian ini
kekuatan otot ekstremitas bawah penuh melakukan pemeriksaan sistem
(5), kekuatan otot ekstremitas atas pernafasan untuk mengetahui ada
lengan kanan penuh (5). Kekuatan otot tidanya kelainan, B2 (Blood)
lengan kiri 1 (tampak kontraksi atau ada pengkajian ini melakukan pemeriksaan
sedikit gerakan dan ada tahanan pada organ jantung, B3 (Brain)
sewaktu jatuh). Akral kulit hangat, pengkajian ini melakukan pemeriksaan
turgor baik, tidak ada odem, tidak mulai dari kepala, leher, wajah, mata,
menggunakan alat bantu dalam telinga, hidung dan mulut, B4 (Bladder)
berjalan. pengkajian ini melakukan pemeriksaan
Dari pengkajian diatas diperoleh data pada sistem perkemihan, B5 (Bowel)
subjektif dan objektif. Data subjektif pengkajian ini melakukan pemeriksaan
klien mengatakn nyeri pada luka post pada abdomen, B6 (Bone) pengkajian
operasi, nyeri sepertitertekan, di lengan ini dilakukan dengan cara look atau
kiri post operasi, dengan skala 5, secara melihat ada tidaknya pembengkakan
terus menerus. Data Objektif : klien dan deformitas, feel mengkaji adanya
nyeri tekan (tenderness)dan krepitasi, manajemen nyeri, mampu mengenali
move mengkaji adanya gangguan gerak. nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan
Setelah dilakukan anamnesis, tanda nyeri), menyatakan rasa nyaman
pemeriksaan fisik, pemeriksaan setelah nyeri berkurang, skala nyeri 0-1
laboratorium yang meliputi pengkajian atau teradaptasi. Rencana tindakan
darah lengkap. keperawatan yang dilakukan adalah
2.2 Diagnosa keperawatan lakukan pengkajian nyeri secara
Diagnosa keperawatan merupakan komprehensif meliputi lokasi,
sebuah label singkat yang karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
menggambarkan kondisi pasien yang dan faktor presipitasi. Lakukan
diobservasi dilapangan. Kondisi ini manajemen nyeri keperawatan ajarkan:
dapat berupa masalah actual atau teknik nonfarmakologi; ajarkan teknik
potensial atau diagnosis sejahtera relaksasi pernafasan dalam ketika nyeri
(Judith Wilkinson, NIC, NOC, 2013). muncul, ajarkan teknik distraksi pada
Tahap diagnosa keperawatan saat nyeri muncul, lakukan manajemen
memungkinkan perawat menganalisis sentuhan. (Muttaqin, 2011). Berikan
data, diagnosa didapatkan dari penilaian informasi tentang nyeri, seperti
klinik tentang respon individu, keluarga penyebab nyeri dan aktivitas yang dapat
atau komunitas terhadap masalah meningkatkan atau menurunkan nyeri.
kesehatan (Allen, Carol Vestal, 2010). Kolaborasi dengan dokter dalam
Sesuai dengan hasil pengkajian penulis pemberian obat. (Judith Wilkinson,
menegakkan diagnosa keperawatan NIC, NOC, 2013).
berdasarkan prioritas pertama sesuai 3.4 Implementasi
dengan judul yaitu Nyeri Akut Dari perencanaan yang dibuat
berhubungan dengan Agen Injuri Fisik. oleh penulis, selanjutnya akan
Nyeri akut adalah pengalaman diaplikasikan kepada klien sesuai
kompleks yang tidak menyenangkan dengan kebutuhan klien saat itu dan
terkait dengan emosi, kognitif dan kebutuhan yang paling dirasakan oleh
sensorik, sebagai respon atas trauma klien. Tindakan yang dilakukan dalam
jaringan dengan intensitas ringan implementasi mungkin sama, mungkin
hingga berat dengan akhir yang dapat juga berbeda dengan urutan yang telah
diantisipasi atau diprediksi (Kapita dibuat pada perencanaan (Debora Oda,
Selekta Kedokteran, 2014). Sedangkan 2011). Kemampuan yang dimiliki
agen injuri fisik misalnya abses, perawat pada tahap implementasi
amputasi, luka bakar, terpotong, adalah kemampuan komunikasi yang
mengangkat berat, prosedur bedah, efektif, kemampuan untuk menciptakan
trauma, olahraga berlebihan (NANDA, hubungan saling percaya dan saling
2015) bantu, kemampuan melakukan teknik
2.3 Intervensi Keperawatan psikomotor, kemampuan melakukan
Tujuan dilakukan tindakan keperawatan observasi sistematis, kemampuan
diharapkan nyeri berkurang atau hilang. memberikan pendidikan
Dengan kriteria hasil klien mampu kesehatan,kemampuan advokasi dan
mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, kemampuan evaluasi (Asmadi, 2008).
mampu menggunakan tehnik Penulis akan memaparkan implementasi
nonfarmakologi untuk mengurangi mulai tanggal 28-30 maret 2016.
nyeri), melaporkan bahwa nyeri Tanggal 28 maret jam 14.00
berkurang dengan menggunakan mengobservasi tingkat nyeri. Data
subjektif : klien mengatakan nyeri pada relaksasi nafas dalam. Data subjektif :
luka post operasi, nyeri seperti tertekan, klien mengatakan lebih rileks dan nyeri
lengan kiri post operasi, skala nyeri 5, berkurang luka post operasi, nyeri
terus menerus. Data Objektif : ekspresi seperti tertekan, lengan kiri post
wajah tegang menahan sakit. Tekanan operasi, skala 3, hilang timbul. Jam
darah : 110/ 90 mmHg, Nadi : 80 x/m, 13.00 melakukan injeksi. Data subjektif
Pernafasan : 22 x/m, Suhu : 36,5 ° C. : klien mengatakan bersedia di injeksi.
Pada jam 15.00 mengajarkan teknik Data objektif : injeksi masuk lewat IV
relaksasi nafas dalam. Data subjektif : cefazolin 1 g, ketorolac 30 mg.
klien mengatakan masih nyeri pada luka Dari pengkajian yang dilakukan
post operasi, nyeri seperti tertekan, selama tiga hari penulis berfokus pada
lengan kiri post operasi, skala 5, terus upaya penurunan nyeri maka tindakan
menerus. Jam 21.00 melakukan injeksi. yang dilakukan adalah tindakan
Data subjektif : klien mengatakna nonfarmakologi yaitu mengajarkan
bersedia di injeksi. Data objektif : teknik relaksasi nafas dalam. Teknik
injeksi masuk lewat IV cefazolin 1 g, relaksasi nafas dalam merupakan salah
ketorolac 30 mg. satu metode manajemen nyeri
Tanggal 29 maret jam 08.00 nonfarmakologi. Menurut (Suhono,
mengobservasi tingkat nyeri. 2010 dalam jurnal Chandra Kristianto
Datasubjektif : klien mengatakan nyeri Patasik dkk, 2013) beberapa penelitian
pada luka post operasi, nyeri menunjukkan bahwa relaksasi nafas
sepertitertekan, lengan kiri post operasi, dalam sangat efektif dalam menurunkan
skala nyeri 5, terus menerus. nyeri pasca operasi, tehnik relaksasi
DataObjektif : ekspresi wajah menahan nafas dalam juga dapat dipraktekkan
sakit. Tekanan darah : 120/ 90mmHg, dan tidak menimbulkan efek samping.
Nadi : 80 x/m, Pernafasan : 20 x/m, Selain dapat menurunkan nyeri, tehnik
Suhu : 36 ° C. Pada jam 09.00 relaksasi nafas dalam juga dapat
mengobservasi penggunaan teknik meningkatkan ventilasi paru dan
relaksasi nafas dalam. Datasubjektif : oksigenasi darah. (Koto Yeni, 2015).
klien mengatakan lebih rileks dan nyeri Penatalaksanaan non farmakologis
luka post operasiberkurang, nyeri teknik relaksasi nafas dalam untuk
seperti tertekan, lengan kiri post menurunkan nyeri pada pasien post
operasi, skala 4, hilang timbul. Jam fraktur humerus dipilih karena terapi
13.00 melakukan injeksi. Data subjektif relaksasi nafas dalam dapat diakukan
: klien mengatakna bersedia di injeksi. secara mandiri, relatif mudah dilakukan
Data objektif : injeksi masuk lewat IV daripada terapi nonfarmakologis
cefazolin 1 g, ketorolac 30 mg. lainnya, tidak membutuhkan waktu
Tanggal 30 maret jam 08.00 lama untuk terapi dan mampu
mengobservasi keadaan umum klien. mengurangi dampak buruk. Dari
Data subjektif : klien mengatakan nyeri beberapa intervensi yang dibuat penulis
pada luka post operasi, nyeriseperti yang dilakukan saat implementasi
tertekan, lengan kiri post operasi, skala adalah pengkajian nyeri secara
nyeri 4, terus menerus. Data Objektif : komprehensif meliputi frekuensi,
ekspresi wajah menahan sakit. Tekanan intensitas, lokasi, dan karakteristik nyeri
darah : 120/ 90mmHg, Nadi : 80 x/m, (PQRST), manajemen nyeri
Pernafasan : 20 x/m, Suhu : 36 ° C. keperawatan : ajarkan teknik tentang
Pada jam 09.00 mengajarkan teknik teknik nonfarmakologi ; ajarkan teknik
nonfarmakologi ; ajarkan teknik dilakukan karena banyak pasien dan
relaksasi pernafasan dalam ketika nyeri anggota tim kesehatan cenderung untuk
muncul, ajarkan teknik distraksi pada memandang obat sebagai satu-satunya
saat nyeri muncul, lakukan manajemen metode untuk menghilangkan nyeri.
sentuhan. Berikan informasi tentang Meskipun metode pereda nyeri biasanya
nyeri, seperti penyebab nyeri dan mempunyai resiko yang sangat rendah
aktivitas yang dapat meningkatkan atau dan tindakan tersebut bukan merupakan
menurunkan nyeri dan pemberian obat pengganti obat-obatan, tetapi tindakan
analgetik. Rencana tindakan yang tidak tersebut mungkin diperlukan untuk
dilakukan penulis dalam implementasi mempersingkat episode nyeri yang
adalah mengajarkan tehnik distraksi dan berlangsung beberapa detik atau menit.
manajemen sentuhan. Teknik distraksi Namun dalam implementasi diatas
adalah memfokuskan perhatian pasien penulis hanya berfokus pada tindakan
pada sesuatu selain pada nyeri. nonfarmakologis teknik relaksasi nafas
Keefektifan distraksi tergantung pada dalam.
kemampuan pasien untuk menerima dan 3.5 Evaluasi
membangkitkan input sensori selain Evaluasi adalah pernyataan
nyeri. Pereda nyeri secara umum kesimpulan yang menunjukkan tujuan
meningkat dalam hubungan langsung dan memberikan indikator kualitas dan
dengan partisipasi aktif individu, ketepatan perawatan yang
banyaknya modalitas sensori yang menghasilkan hasil pasien yang positif
dipakai, dan minat individu dalam (Tucker, Susan Martin, 2008). Pada
stimuli. Karenanya, stimuli penglihatan, tahap evaluasi penulis membandingkan
pendengaran, dan sentuhan mungkin hasil tindakan yang telah dilakukan
akan lebih efektif dalam menurunkan dengan kriteria hasil yang sudah
nyeri dibanding stimuli satu indera saja ditetapkan serta menilai apakah masalah
(Brunner & Suddarth, 2013). Menurut yang terjadi sudah teratasi seluruhnya,
penulis teknik distraksi membutuhkan hanya sebagian atau bahkan belum
konsentrasi dan pendampingan, teratasi semuanya. (Debora, 2011).
meskipun jika dilakukan juga sama- Evaluasi pada hari senin tanggal 28
sama mampu menurunkan nyeri pada maret 2016 jam 21.00 Subjektif : klien
pasien post operasi. Selain teknik mengatakan nyeri pada luka post
relaksasi nafas dalam, teknik distraksi operasi, seperti tertekan, pada lengan
dan manajemen sentuhan yang kiri, skala nyeri 5, terus menerus.
disebutkan penulis dalam rencana Objektif : ekspresi wajah menahan nyeri
tindakan menurut Arif Muttaqin (2011), nyeri, TTV ; Tekanan darah : 110/80
ada banyak tindakan nonfarmakologi mmHg, Nadi : 80x/m, Pernafasan : 22
yang dapat membantu dan mengurangi x/m, Suhu : 36,5°C. Assessment :
nyeri antara lain stimulasi dan masase masalah belum teratasi, Planning :
kutaneus yang bertujuan menstimulasi Lanjutkan intervensi ; observasi nyeri
serabut-serabut yang menstranmisikan yang komprehensif meliputi frekuensi,
sensasi tidak nyeri memblok atau intensitas, lokasi, dan karakteristik
menurunkan tranmisi implus nyeri, nyeri, ajarkan teknik relaksasi nafas
terapi es dan panas, stimulasi saraf dalam, berikan informasi tentang nyeri,
elektris transkutan, imajinasi seperti penyebab nyeri dan aktivitas
terbimbang dan hipnosis. Tindakan yang dapat meningkatkan atau
nonfarmakologis diatas jarang menurunkan nyeri, kolaborasi dengan
dokter dalam pemberian obat Evaluasi teknik relaksasi nafas dalam,
pada hari selasa tanggal 29 maet 2016 menganjurkan kepada klien untuk
jam 15.00. Subjektif : Klien mengatakan kontrol ke rumah sakit sesuai jadwal
nyeri luka operasi sedikit yang diberikan, kolaborasi dengan
berkurang,seperti tertekan, daerah dokter dalam pemberian obat. Evaluasi
lengan kiri, skala 4, hilang timbul. yang dilakukan selama tiga sehari
Objektif : terjadi penuruna skala nyeri dari hari
eskpresi wajah datar, melindungi lengan pertama skala nyeri 5 menjadi 3. Dari
saat bergerak. Tekanan darah evaluasi diatas dapat disimpulkan
: 120/90 mmHg, Nadi : 80 x/m, Pernafasan tindakan nonfarmokologi teknik
: 20 x/m, Suhu : 36,5 °C. relaksasi nafas dalam efektif dalam
Assessment : masalah teratasi sebagian, menurunkan nyeri sesuai dengan jurnal
Planning : Lanjutkanintervensi ; dalam Chandra Kristianto Patasik dkk,
observasi nyeri yang komprehensif (2013) menunjukkan bahwa relaksasi
meliputi frekuensi, intensitas, lokasi, nafas dalam sangat efektif dalam
dan karakteristik nyeri, ajarkan teknik menurunkan nyeri pasca operasi.
relaksasi nafas dalam, berikan informasi
tentang nyeri, seperti penyebab nyeri PENUTUP
dan aktivitas yang dapat meningkatkan A. Kesimpulan
atau menurunkan nyeri, kolaborasi 1. Hasil pengkajian didapatkan
dengan dokter dalam pemberian obat. diagnosa pada Tn. M Nyeri akut
Evaluasi pada hari rabu tanggal berhubungan dengan agen injuri
30 maret 2106, jam 15.00. Subjektif : fisik.
Klien mengatakan nyeri luka operasi 2. Intervensi keperawatan pada klien
berkurang, sepertitertekan, daerah dengan diagnosa nyeri akut
lengan kiri, skala 3, hilang timbul. berhubungan dengan agen injuri fisik
Objektif : eskpresi wajah datar, antara lain : observasi nyeri yang
melindungi lengan saat bergerak. komprehensif meliputi frekuensi,
Tekanan darah : 120/80 mmHg, Nadi : intensitas, lokasi, dan karakteristik
82 x/m, Pernafasan : 20 x/m, Suhu : 36 nyeri. Lakukan manajemen nyeri
°C. Assessment : masalah teratasi keperawatan : ajarkan teknik
sebagian. Planning : Lanjutkan nonfarmakologi ; ajarkan teknik
relaksasi pernafasan dalam ketika
intervensi ; informasikan kepada klien
nyeri muncul, ajarkan teknik
saat nyeri muncul anjurkan untuk
distraksi pada saat nyeri muncul,
menggunakan teknik relaksasi nafas
lakukan manajemen sentuhan.
dalam, menganjurkan kepada klien
Berikan informasi tentang nyeri,
untuk kontrol ke rumah sakit sesuai
seperti penyebab nyeri dan aktivitas
jadwal yang diberikan, kolaborasi
yang dapat meningkatkan atau
dengan dokter dalam pemberian obat. menurunkan nyeri. Kolaborasi
Berdasarkan tindakan dengan dokter dalam pemberian
keperawatan 3x24 jam yang telah obat.
dilakukan penulis, evaluasi keperawatan 3. Implementasi yang dilakukan
dengan diagnosa nyeri akut berdasarkan prioritas diagnosa
berhubungan dengan agen cedera fisik adalah mengajarkan teknik
teratasi sebagian, intervensi dilanjutkan. nonfarmakologi. Teknik relaksasi
Informasikan kepada klien saat nyeri nafas dalam merupakan salah satu
muncul anjurkan untuk menggunakan metode manajemen nyeri
nonfarmakologi. Alasan penulis Berdasarkan hasil pembahasan dan
melakukan relaksasi nafas dalam kesimpulan penulis memberikan saran-
karena relaksasi nafas dalam sangat saran sebagai berikut :
efektif dalam menurunkan nyeri a. Bagi rumah sakit
pasca operasi selain itu teknik Diharapkan agar lebih
relaksasi nafas dalam dapat meningkatkan pelayanan asuhan
dipraktekkan secara mandiri dan keperawatan dengan fraktur
tidak menimbulkan efek samping. humerus di Ruang Instalasi Bedah
Sedangkan implementasi yang tidak Sentral, terutama pada tindakan
dilakukan penulis adalah nonfarmakologi untuk
mengajarkan teknik distraksi dan meminimalkan kejadian nyeri dan
manajemen sentuhan. mencegah komplikasi lebih lanjut.
4. Evaluasi dari diagnosa nyeri akutb. b. Bagi klien dan keluarga
berhubungan dengan agen injuri fisik Diharapkan klien ikut serta dalam
belum teratas. Intervensi dilanjutkan upaya penurunan nyeri
: informasikan kepada klien saat menggunakan tindakan
nyeri muncul anjurkan untuk
nonfarmakologi seperti tindakan
menggunakan teknik relaksasi nafas
relaksasi nafas dalam untuk
dalam, menganjurkan kepada klien
meningkatkan kenyamanan pasien.
untuk kontrol ke rumah sakit sesuai
c. Bagi peneliti lain Diharapkan hasil
jadwal yang diberikan, kolaborasi
penelitian ini menjadi acuan dan
dengan dokter dalam pemberian
referensi untuk dikembangkan dalam
obat.
5. Pemberian teknik relaksasi nafas memberikan asuhan keperawatan
dalam pada Tn. M nyeri akut secara nonfarmakologi.
berhubungan dengan agen injuri fisik
dalam menurunkan nyeri terbu pada
Saran
hari terakhir dari skala nyeri 5 menjadi 3.
DAFTAR PUSTAKA
DR. R.D. Kandou Manado. Jurnal
Allen, Carol Vestal. 2010. Memahami Proses
Keperawatan. Jakarta : Keperawatan. Volume 3,Nomor 2,
Oktober 2015.
EGC.
Asmadi. 2008. Konsep dasar Endah Estria Nurhayati, Herniyatun,
Keperawatan. EGC : Jakarta. Safrudin ANS. 2011. Pengaruh Teknik
Distraksi Relaksasi Terhadap Penurunan
Ani Dwi Pratintya, Harmilah, Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Operasi
Subroto. 2014. Kompres Hangat Laparatomi Di PKU Muhammadiyah
Menurunkan Nyeri Persendian Gombong. Jurnal Ilmiah Kesehatan
Osteoartitis Pada Lanjut Usia. Jurnal Keperawatan. Volume 7, No.1, Februari
Kebidanan dan Keperawatan. Vol. 10, 2011.
No. 1, Juni 2014 : 1-7.
Akbar Apriansyah, Siti
Romadoni, Desy Andrianovita. 2015.
Ernawati, Retno Wida Hapsari,
Hubungan Antara Tingkat Kecemasan
Tri Anasari. 2013. Efektifitas Teknik
Pre-Operasi Dengan Derajat Nyeri Pada
Relaksasi Nafas Dalam Dan Metode
Pasien Post Sectio Caesarea Di Rumah
Pemberian Coklat Terhadap Penurunan
Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun
Intensitas Disminore Pada Remaja Putri
2014. Jurnal Keperawatan Sriwijaya,
Di SMK SWAGAYA 2 Purwokerto.
Volume 2-Nomer 1, Januari 2015, ISSN
Jurnal Involusi Kebidanan, Vol 3, No.
No 2355 5459.
Januari 2013, 26-38.
Brunner & Suddarth. 2013. Buku
Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Helmi, Noor Zairin. 2012. Buku Ajar
Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta
Jakarta : EGC.
:Salemba Medika.
Chandra Kristianto Patasik, Jon Kemenkes RI. 2013. Riset
Tangka, Julia Rottie. 2013. Efektifitas Kesehatan Dasar ; RISKESDAS. Jakarta :
Tehnik Relaksasi Nafas Dalam dan Guide Kemenkes RI.
Imagery Terhadap Penurunan Nyeri pada
Pasien Post Operasi Sectio Caesar di Irina Kneale Julia & Davis Peter. 2011.
Keperawatan Ortopedik & Trauma.
D BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou
Jakarta :EGC.
Manado. Jurnal Keperawatan. Volume 1.
Nomor 1. Agustus 2013. Muttaqin, Arif. 2011. Buku Saku
Gangguan Muskuloskeletal AplikasiPada
Debora, Oda. 2011. Proses
Keperawatan Dan Pemeriksaan Fisk. Praktik Klinik Keperawatan. Jakarta :
Jakarta : Salemba Medika. EGC.

Djamal Rivaldy, Sefty Rompas, Muttaqin, Arif. 2008. Buku Saku


Jeavery Bawotong. 2015. Pengaruh Gangguan Muskuloskeletal AplikasiPada
Terapi Musik Terhadap Skala Nyeri Pada Praktik Klinik Keperawatan. Jakarta :
Pasien Fraktur Di Irina A RSUP Prof. EGC.
NANDA Internasional Inc.Diagnosis
Keperawatan Definisi & Klasifikasi
2015-2017, Ed. 10. Jakarta : EGC.
Tucker,Susan Martin. 2008.
Standart Perawatan Pasien
(ProsesDiagnosis dan Evaluasi). Edisi 5
Volume 4. Jakarta : EGC.
Triastuti, Reni. 2012. “Asuhan
Keperawatan Pada Ny. S Dengan Close
Fraktur Humerus Sinistra Di Ruang
Instalasi Bedah Sentral RS Ortopedi Prof.
DR. R. Soeharso Surakarta”.Publikasi
ilmiah. Surakarta : Fakultas Ilmu
Kesehatan, Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
Wilkinson, Judith M., Ahern,
Nancy R. 2013.Buku Saku Diagnosis
Keperawatan, Edisi 9 (NANDA NIC
NOC, 2013). Jakarta : EGC.
Yeni Koto. 2015. Efektifitas
Penurunan Intensitas Nyeri Sebelum dan
Sesudah Dilakukan Tehnik Relaksasi
Nafas Dalam. JurnalKeperawatan Ilmu
Indonesia. Vol. 5 No. 4. Desember 2015.
Chris Tanto [et al]. Kapita Selekta
Kedokteran, Ed. 4. Jakarta : Media
Aesculapis, 2014.