Anda di halaman 1dari 33

I.

JUDUL PRAKTIKUM : PENGARUH PENAMBAHAN


SURFAKTAN TERHADAP
TEGAGAN PERMUKAAN LARUTAN
GARAM

II. HARI/TANGGAL PRATIKUM


Rabu, 06 November 2018; 09.30 WIB

III. SELESAI
Rabu, 06 November 2018; 12.00 WIB

IV. TUJUAN PRAKTIKUM


Untuk mengetahui pengaruh penambahan surfaktan terhadap
tegangan permukaan larutan garam.

V. IDENTIFIKASI MASALAH
Fenomena :
Ana memasukkan penjepit kertas dari logam diatas air dalam gelas
tanpa tenggelam. Ketika Ana menambahkan detergen di pinggir gelas,
ternyata penjepit kertas tadi bergerak menjauhi lokasi penambahan
detergen tadi lalu tenggelam. Di waktu lain, Ana mencelupkan dua helai
sapu tangan kedalam dua wadah yang berisi air dengan suhu yang berbeda.
Setelah 1 detik kemudian dai mengangkatnya dari air. Dia lihat ternyata
kedua sapu tangan tersebut memiliki tingkat kebasahan yang berbeda. Ana
mengira bahwa hal ini disebabkan oerbedaan tegangan permukaan air.
Bagaimana cara menghitung tegangan permukaan air ? bagaimana cara
membuktikannya ?
Penyelesaian :
Fenomena di atas merupakan fenomena yang terjadi karena
perbedaan tegangan permukaan zat cair. Faktor yang mempengaruhi
perbedaan tegangan permukaan pada zat cair adalah penambahan
surfaktan dan suhu. Tegangan permukaan didefinisikan sebagai kerja yang
dilakukan dalam memperluas permukaan cairan dengan satu satuan luas.
Satuan untuk tegangan permukaan adalah J m-1 atau dyne cm-1 atau Nm-1.
(Francis, 1994).
Metode yang paling umum digunakan untuk mengukur tegangan
permukaan adalah kenaikan atau penurun cairan dalam pipa kapiler.
Adapun rumus yang digunakan, yaitu :
ℎ ∆
=
2 cos

VI. TINJAUAN PUSTAKA


a. Tegangan permukaan
Tegangan permukaan adalah gaya persatuan panjang yang
harus dikerjakan sejajar permukaan untuk mengimbangi gaya tarikan
kedalam pada cairan. Hal tersebut terjadi karena pada permukaan, gaya
adhesi (antara cairan dan udara) lebih kecil dari pada gaya kohesi
antara molekul cairan sehingga menyebabkan terjadinya gaya kedalam
pada permukaan cairan (Giancoli,2001).
Molekul-molekul pada permukaan cairan mempunyai sifat
khusus yang tidak dimiliki oleh sebagian dasar molekul-molekul dalam
cairan. Salah satu sifat khusus ini adalah tegangan permukaan. Apabila
jarum diletakkan secara hati-hati di atas permukaan air, jarum akan
terapung. Padahal jelas berat jenis jarum lebih besar daripada berat
jenis air, sehingga diharapkan jarum akan tenggelam. Terapungnya
jarum disebabkan permukaan air seolah-olah diliputi oleh selaput tipis
yang berhubungan dengan tegangan permukaan yaitu terbentuknya
miniskus apabila dimasukkan cairan ke dalam tabung reaksi. Air yang
membasahi dinding kapiler dan akan naik sehingga lebih tinggi
daripada permukaan air sekitarnya. Spons yang dapat menyerap air
ataupun air yang dapat meresap ke dalam tanah merupakan beberapa
contoh yang menunjukkan bahwa tegangan permukaan memang ada
(Bird,1993).
Tegangan permukaan didefinisikan sebagai kerja yang
dilakukan dalam memperluas permukaan cairan dengan suatu satuan
luas. Satuan untuk tegangan permukaan (Y) adalah J.m-2 atau dyne
cm-1. Metode yang paling umum untuk mengukur tegangan permukaan
adalah kenaikan atau penurunan cairan dalam pipa kapiler (Francis,
1994).
Tegangan antar muka adalah gaya persatuan panjang yang
terdapat pada antarmuka dua fase cair yang tidak bercampur. Tegangan
antar muka selalu lebih kecil dari pada tegangan permukaan karena
gaya adhesi antara dua cairan tidak bercampur lebih besar dari pada
adhesi antara cairan dan udara (Giancoli,2001).
Di dalam zat cair suatu molekul dikelilingi oleh molekul-
molekul lainnya yang sejenis dari segala arah sehingga gaya tarik
menarik sesama molekul (kohesi) adalah sama. Pada permukaan zat
cair terjadi suatu gaya tarik menarik antar molekul zat cair dengan
molekul udara (gaya adhesi). Gaya adhesi lebih kecil bila
dibandingkan dengan gaya kohesi, sehingga molekul di permukaan zat
cair cenderung untuk masuk ke dalam. Tetapi hal ini tidak terjadi
karena adanya gaya yang bekerja sejajar dengan permukaan zat cair
untuk mengimbangi. Sedangkan tegangan antar permukaan karena
gaya adhesi antara zat cair untuk mengimbangi gaya kohesi.
Sedangkan tegangan antar permukaan selalu lebih kecil dari tegangan
permukaan (Lachman, 1994).
Pada umumnya zat cair memiliki permukaan mendatar, tetapi
apabila zat cair bersentuhan dengan zat padat atau dinding bejana,
maka permukaan bagian tepi yang bersentuhan dengan dinding akan
melengkung. Gejala melengkungnya permukaan zat cair disebut
dengan miniskus (Estien, 2005).

b. Metode untuk menentukan tegangan permukaan


1. Metode kapiler
Menurut metode kapiler, tegangan permukaan diukur
dengan melihat ketinggian air/cairan yang naik melalui satu pipa
kapiler. Metode kenaikan pipa kapiler hanya dapat digunaka untuk
mengukur tegangan permukaan, tidak bisa untuk mengukur
tegangan antar muka salah satu besaran yang berlaku pada sebuah
pipa kapiler adalah sudut kontak, yaitu sudut yang dibentuk oleh
permukaan zat cair yang dekat dengan dinding. Sudut kontak ini
timbul akibat gaya tarik menarik antar zat yang sama (gaya kohesi)
dan gaya tarik menarik antar molekul zat yang berbeda (adesi).

Molekul biasanya saling tarik menarik. Dibagian dalam


cairan, setiap molekul cairan dikelilingi oleh molekul-molekul
cairan disamping dan di bawah. Dibagian atas tidak ada molekul
cairan yang lain karena molekul cairan tarik menarik satu dengan
yang lainnya, maka terdapat gaya total yang besarnya nol pada
molekul yang berbeda di bagian dalam cairan. Sebaliknya molekul
cairan yang terletak di permukaan ditarik oleh molekul cairan yang
berada di samping dan dibawahnya. Akibatnya permukaan cairan
terdapat gaya total yang berarah ke bawah karena adanya gaya total
yang arahnya ke bawah, maka cairan yang terdapat di perukaan
cenderung memeperkecil luas permukaannya dengan menyusut
sekuat mungkin. Hal ini yang menyebabkan lapisan perukaan
seolah-olah tertutup oleh selapur elastis yang tipis (Atkins, 1994).
Tegangan permukaan didefinisikan sebagai kerja yang
dilakukan dalam memperluas permukaan cairan dengan satu satuan
luas. Satuan untuk tegangan permukaan adalah J m-1 atau dynecm-1
atau Nm-1. Metode yang paling umum digunakan untuk mengukur
tegangan permukaan adalah kenaikan atau penurun cairan dalam
pipa kapiler. Adapun rumus yang digunakan, yaitu :


=

Keterangan :

= tegangan permukaan (dyne cm-1)

r = jari-jari pipa kapiler (cm)

h = kenaikan cairan dalam pipa kapiler (cm)

∆ = massa jenis larutan (cm)

g = konstanta gravitasi (m/s2)

2. Metode Tersiometer Du-Nouy


Metode cincin du-nouuy bisa digunakan untuk mengukur
tegangan permukaan ataupun tegangan antar muka. Prinsip dari
alat ini adalah gaya yang diperlukan untuk melepaskan suatu cincin
platina iridium yang diperlukan sebanding dengan tegangan
permukaan atau tegangan antar muka dari cawan tersebut (Atkins,
1994).
Cara ini dapat digunakan untuk mengukur tegangan
permukaan dan tegangan antar permukaan zat cair. Prinsip kerja
alat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa gaya yang dibutuhkan
untuk melepaskan cincin yang tercelup pada zat cair yang
sebanding dengan tegangan permukaan atau tegangan antar
permukaan. Gaya yang dibutuhkan untuk melepaskan cincin dalam
hal ini diberikan oleh kawat besi yang dinyatakan dalam dyne.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi tegangan permukaan


 Suhu
Tegangan permukaan menurun dengan meningkatnya suhu, karena
meningkatnya energi kinetik molekul.
 Zat terlarut (solute)
Keberadaan zat terlarut dalam suatu cairan akan mempengaruhi
tegangan permukaan. Penambahan zat terlarut akan meningkatkan
viskositas larutan, sehingga tegangan permukaan akan bertambah
besar. Tetapi apabila zat yang berada dipermukaan cairan
membentuk lapisan monomolekular, maka akan menurunkan
tegangan permukaan, zat tersebut biasa disebut dengan surfaktan.
 Surfaktan
Surfaktan (surface active agents), zat yang dapat mengaktifkan
permukaan, karena cenderung untuk terkonsentrasi pada
permukaan atau antar muka. Surfaktan mempunyai orientasi yang
jelas sehingga cenderung pada rantai lurus. Sabun merupakan salah
satu contoh dari surfaktan (Giancoli, 1997).
Tegangan permukaan bervariasi antar berbagai cairan. Air
memiliki tegangan permukaan yang tinggi dan merupakan agent
pembasah yang buruk karena air membentuk droplet, misalnya tetesan
air hujan pada kaca depan mobil. Permukaan air membentuk suatu
lapisan yang cukup kuat sehingga beberapa serangga dapat berjalan di
atasnya (Suminar, 2001).
d. Surfaktan
Molekul surfaktan memiliki bagian polar (hidrofilik) yang larut
dalam air dan bagian nonpolar (hidrofobik) yang larut dalam
minyak/pelarut non-polar digambarkan secara skematis pada Gambar
1. Bagian hidrofilik molekul surfaktan dapat berupa gugus ionic
bermuatan positif atau negatif, atau gugus bersifat polar non-ionik
yang bermuatan netral (Lehninger, 1988).
Surfaktan merupakan suatu molekul dengan rantai hidrokarbon
panjang dengan gugus ujung bersifat polar atau ionik. Bagian rantai
hidrokarbon dari molekul ini bersifat hidrofobik dan larut dalam cairan
non polar, sedangkan gugus ujung polar/ionik bersifat hidrofilik dan
larut dalam air. Berdasarkan klasifikasinya, surfaktan dapat
dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu surfaktan yang larut dalam
minyak dan surfaktan yang larut dalam air.
Surfaktan yang larut dalam minyak adalah senyawa organik
yang memiliki rantai panjang umumnya mempunyai gugus polar yang
khas seperti –COOH, –OH, –CONH2, –NH2, –SO3H, –SH, dan garam-
garam dari gugus karbosilat dan sulfonat. Senyawa-senyawa ini
umumnya tidak menurunkan tegangan permukaan cairan, tetapi
menurunkan tegangan antarmuka minyak air. (Schramm, et, al, 2000).
Sedangkan surfaktan yang larut dalam air adalah surfaktan yang ujung
ion bersifat hidrofilik seperti surfaktan anionik, surfaktan kationik,
surfaktan nonionik atau netral dan surfaktan amfoterik, bergantung
pada sifat dasar gugus hidrofiliknya.
Klasifikasi surfaktan berdasarkan sifat muatannya dapat
dikategorikan menjadi 4 jenis, yaitu: surfaktan anionik, kationik,
nonionik dan amfoterik. Surfaktan anionik adalah merupakan suatu
surfaktan yang gugus polarnya mengandung muatan negatif
(contohnya adalah C12H25C6H4SO3-Na+ (Natrium Alkil Benzena
Sulfonat), sodium lauril sulfonat, sodium dodesil benzen sulfonat,
sodium lauril eter sulfat, ammonium lauril sulfat, sodium metil kokoil
sulfat, sodium lauril sarkosinat. (Mansyur, 2009). Surfaktan kationik
adalah merupakan suatu surfaktan yang gugus polarnya mengandung
muatan positif (contohnya RNH3+ Cl- (garam amina rantai panjang),
benzalkonium klorida (dimetilbenzilalkil ammonium klorida) dan
stearalkonium klorida).
Surfaktan kationik biasanya berasal dari senyawa amina yang
berantai panjang primer, sekunder, tersier dan kuartener yang larut
dalam pelarut pada semua pH. Senyawa kelompok surfaktan kationik
ini dapat digunakan sebagai zat tolak air, zat pelunak untuk tekstil dan
kertas, zat pencegah korosi serta digunakan dalam flotasi bijih
(Mansyur, 2009).
Surfaktan nonionik atau netral adalah merupakan suatu
surfaktan dengan bagian aktif permukaannya mengandung gugus non
ion (contohnya adalah suatu karbohidrat yang dapat berikatan hidrogen
dengan air) (Fessenden, 1998).
Surfaktan amfoterik adalah surfaktan yang mengandung
muatan negatif dan positif pada bagian aktif permukaannya misalnya
sulfobetain. Sifat ini menyebabkan surfaktan dapat diabsorbsi pada
antar muka udara-air, minyakair, dan zat padat-air, membentuk lapisan
tunggal dimana sifat hidrofilik berada pada permukaan air dan rantai
hidrokarbon menjauhi permukaan air artinya sifat hidrofobik kontak
dengan udara dan zat padat maupun terendam dalam fasa minyak.
Umumnya sifat polar (hidrofilik) mengandung gugus hidroksil,
sementara sifat non polar (hidrofobik) memiliki rantai alkil panjang.

VII. RUMUSAN MASALAH


Bagaimana pengaruh penambahan surfaktan terhadap tegangan permukaan
larutan garam ?

VIII. HIPOTESIS
Semakin tinggi konsentrasi surfaktan ditambahkan, maka semakin rendah
tegangan permukaan larutan garam.

IX. VARIABEL PERCOBAAN


1. Variabel manipulasi : konsentrasi surfaktan
2. Variabel respon : tegangan permukaan larutan garam
3. Variabel kontrol : volume dan konsentrasi larutan garam

X. ALAT BAHAN, RANGKAIAN ALAT DAN PROSEDUR


a. Alat dan Bahan
 Alat-alat
1. Pipa kapiler 1 buah
2. Gelas kimia 5 buah
3. Penggaris 1 buah
4. Neraca anlitik 1 buah
5. Labu ukur 100 mL 1 buah
6. Gelas ukur 25 mL 1 buah
7. Piknometer 1 buah
8. Spatula 1 buah
 Bahan-bahan
1. Aquades secukupnya
2. Surfaktan (detergen) 1g
3. Garam 1g
b. Rangkaian alat
Pengenceran :

Penentuan tegangan permukaan :


c. Prosedur

1. Persiapan alat

Pipa kapiler

- Ditimbang massa pipa kapiler kosong


- Ditimbang massa pipa kapiler yang telah berisi aquades
- Diukur jari-jarinya

Massa dasn volume pipa kapiler

2. Menghitung larutan sabun berbagai konsentrasi

10 ml larutan garam

- Dimasukkan piknometer kosong yang telah diketahui massanya


- Ditambah 3 tetes surfaktan
- Ditimbang massanya dan diulangi untuk konsentrasi surfaktan
yang berbeda
3. Menghitung tegangan permukaan larutan garam yang ditambahkan
surfaktan

10 ml larutan garam

- Dimasukkan ke dalam gelas kimia


- Ditambah 3 tetes surfaktan
- Dihitung selisih tinggi air dalam pipa dan
tinggi air pada gelas kimia

- Dihitung berat dan volume larutan


- Dihitung tegangan permukaan
- Diulangi percobaan dengan kondentrasi yang berbeda

Tegangan permukaan
XI. HASIL PENGAMATAN

No. Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/reaksi Kesimpulan


Perc

1. Persiapan alat
Sebelum : Semakin tinggi Didapatkan Massa pipa
- Pipa kapiler : padatan tak konsentrasi larutan kapiler = 0,1670 gram,
Pipa kapiler
berwarna sabun yang Panjang pipa kapiler = 15
- Aquades : larutan tidak ditambahkan, maka cm, Massa pipa kapiler +
berwarna semakin kecil aquades = 0,3243 gram

- Ditimbang massa pipa kapiler kosong Sesudah : tegangan dan Jari-jari pipa kapiler =

- Ditimbang massa pipa kapiler yang - Massa pipa kapiler = permukaan air 0,056 cm

terisi aquades 0,1670 gram

- Diukur jari-jarinya - Panjang pipa kapiler = 15


cm
- Massa pipa kapiler +
aquades = 0,3243 gram
Massa dan volume - Jari-jari pipa kapiler =
pipa kapiler 0,056 cm
2. . Menghitung larutan sabun berbagai konsentrasi Sebelum :
Diperoleh massa jenis
- Garam ; padatan berwarna larutan garam+ surfaktan :
10 ml larutan garam
putih
- Aquades : larutan tidak Konsentrasi
berwarna
Surfaktan (gr/ml)
- Dimasukkan kedalam - Massa piknometer kosong :
20,7146 gram
piknometer kosong yang telah 1,03486
1%
diketahui massanya
Sesudah : 1,03147
- Ditambah 3 tetes surfaktan 0,5 %

- Ditimbang massanya dan - Garam + aquades : larutan 1,0301


0,33 %
diulangi untuk konsentrasi tidak berwarna
1,0286
surfaktan yang berbeda - Garam + aquades + 0,25 %
surfaktan: larutan keruh, 1,02746
0,20 %
ada endapan
Massa jenis
larutan
3. Menghitung tegangan permukaan larutan garam Sebelum : - Diperoleh γ untuk
yang ditambahkan surfaktan - Larutan garam : larutan masing-masing larutan:
tidak berwarna 1% : 0,1703 10 N/m
- Surfaktan : serbuk 0,5% : 0,2264 10 N/m
10 ml larutan garam berwarna putih 0,33% : 0,2826 10
N/m
- Dimasukkan ke dalam gelas Sesudah : 0,25% : 0,3386 10
- Surfaktan diencerkan: N/m
kimia larutan keruh berbusa 0,2% : 0,3665 10 N/m
- Ditambah 3 reres pipa kapiler - Larutan garam+ surfaktan:
larutan keruh tak berwarna - Semakin rendah
- Dihitung selisih tinggi air dalam - ∆ℎ untuk masing-masing konsentrasi surfaktan
pipa dan tinggi air pada gelas larutan yang ditambahkan, maka

kimia Konsentrasi ∆ℎ ( ) semakin beasr tegangan


permukaan pada larutan
surfaktan garam.
∆ℎ

1% 0,6
- Dihitung berat dan volume
0,5 % 0,8
larutan
- Dihitung tegangan permukaan
0,33 % 1,0
- Diulangi pengukuran dengan
konsentrasi surfaktan yang
0,25 % 1,2
berbeda

Tegangan permukaan 0,2 % 1,3


XII. ANALISIS DATA, PERHITUNGAN DAN PERSAMAAN REAKSI
a. Analisis data
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan data
dari masing-masing konsentrasi larutan adalah sebagai berikut :
M
r (m) g ( m/s) ρ (g/mL) h (m) γ (N/m)
(%)

0,056.10-2 9,8 1,03486 0,6.10-2 0,1703.10-4


1

0,056.10-2 9,8 1,03147 0,8.10-2 0,2264.10-4


0,5

0,056.10-2 9,8 1,03010 1,0.10-2 0,2826.10-4


0,33

0,056.10-2 9,8 1,02860 1,2.10-2 0,3386.10-4


0,25

0,056.10-2 9,8 1,02746 1,3.10-2 0,3665.10-4


0,2

Data diatas menunjukkan bahwa semakin rendahnya


konsentrasi surfaktan yang ditambahkan, maka tegangan permukaan
yang dihasilkan akan semakin meningkat. Hal tersebut sesuai dengan
teori yang menyebutkan bahwa semakin tinggi konsentrasi surfaktan
ditambahkan, maka semakin rendah tegangan permukaan zat cair
dalam faktor yang mempengaruhi tegangan permukaan yaitu pengaruh
penambahan surfaktan.
b. Perhitungan

1. Menghitung pengenceram

A. Konsentrasi 1%

1 gram surfaktan dalam 100 ml aquades

1gram/100 ml = 1%
B. Konsentrasi 0,5%

M1.V1 = M2. V2

1%. V1 = 0,5% . 100 mL

V1 = 50 mL

B. Konsentrasi 0,5%

M1.V1 = M2. V2

1%. V1 = 0,5% . 100 mL

V1 = 50 mL

C. Konsentrasi 0,33%

M1.V1 = M2. V2

0,5%. V1 = 0,33% . 100 mL

V1 = 66 mL

D. Konsentrasi 0,25%

M1.V1 = M2. V2

0,33%. V1 = 0,25% . 100 mL

V1 = 75,7 mL

E. Konsentrasi 0,2%

M1.V1 = M2. V2

0,25%. V1 = 0,2% . 100 mL

V1 = 80 mL
2. Menghitung jari-jari pipa kapiler

Diket: Massa pipa kapiler = 0,1670 gram

Massa pipa kapiler+aquades = 0,3324 gram

Massa aquades = 0,1573 gram

Tinggi pipa kapiler = 15 cm

Dit: jari=jari pipa kapiler?

Jwb: Vaquades =

,
=
, /

= 0,1482 cm3

V2 =
.

,
=
, .

= 0,003146 cm2

r = 0,003146

= 0,0560 cm

3. Menghitung massa jenis larutan garam+ surfaktan dalam berbagai


konsentrasi

A. Konsentrasi 1%

ρ=

( , , )
=

= 1,03486 gram/ml
B. Konsentrasi 0,5%

ρ=

( , , )
=

= 1,03486 gram/ml
C. Konsentrasi 0,33%

ρ=

( , , )
=

= 1,0301 gram/ml
D. Konsentrasi 0,25%

ρ=

( , , )
=

= 1,0286 gram/ml
E. Konsentrasi 0,2%

ρ=

( , , )
=

= 1,02746 gram/ml
4. Menghitung tegangan permukaan larutan garam + surfaktan dalam berbagai
Konsentrasi

Diket: r = 0,056 cm

g = 9,8 m/s

cos Ө = cos 0 = 1

A. Konsentrasi 1%

Diket: Δh = 0,6 cm

ρ = 1,03486 gram/ ml

Dit : γ ?

. . .
Jwb: γ =
Ө

, . , , . , /
=

= 0,1703x10 N/m

B. Konsentrasi 0,5%

Diket: Δh = 0,8 cm

ρ = 1,03147 gram/ ml

Dit : γ ?

. . .
Jwb: γ =
Ө

, . , , . , /
=

= 0,2264x10 N/m

C. Konsentrasi 0,33%

Diket: Δh = 1 cm

ρ = 1,0301 gram/ ml
Dit : γ ?

. . .
Jwb: γ =
Ө

, . , . , /
=

= 0,2826x10 N/m

D. Konsentrasi 0,25%

Diket: Δh = 1,2 cm

ρ = 1,0286 gram/ ml

Dit : γ ?

. . .
Jwb: γ =
Ө

, . , , . , /
=

= 0,3386x10 N/m

A. Konsentrasi 0,2%

Diket: Δh = 1,3 cm

ρ = 1,02746 gram/ ml

Dit : γ ?

. . .
Jwb: γ =
Ө

, . , , . , /
=

= 0,3665x10 N/m
XIII. PEMBAHASAN
Percobaaan ini berjudul “pengaruh penambahan surfaktan terhadap
tegangan permukaan larutan garam” dengan tujuan untuk mengetahui
pengaruh penambahan surfaktan terhadap tegangan permukan larutan
garam. Salah satu faktor yang mempengaruhi tegangan permukaan zat cair
adalah keberadaan zat terlarut dan juga penambahan surfaktan.
Berdasarkan teori yang ada, semakin banyak zat terlarut dalam larutan
maka tegangan permukaannya akan semakin besar. Akan tetapi
sebaliknya, jika suatu zat cair ditambahkan surfaktan, maka semakin besar
konsentrasi surfaktan maka tegangan permukaan zat cair akan semakin
menurun. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan percobaan ini untuk
membuktikan teori tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tegangan
permukaan pada zat cair tersebut.
Percobaan ini terbagi atas tiga tahap percobaan yaitu persiapan
alat, persiapan sampel dan tegangan permukaan larutan garam. Masing-
masing tahap percobaan tersebut akan dibahas pada penjelasan di bawah
ini :
1. Persiapan alat
Tahap percobaan ini digunakan untuk mengetahui jari-jari pipa
kapiler yang digunakan dalam percobaan dimana nantinya jari-jari pipa
kapiler ini digunakan dalam persamaan untuk menghitung tegangan
permukaan pada larutan garam yang telah ditambahkan surfaktan.
Langkah pertama adalah dengan menyiapkan pipa kapiler sepanjang
15 cm yang kemudian ditimbang dengan menggunakan neraca analitik.
Massa pipa kapiler yang digunakan dalam percobaan ini yaitu 0,1670
gram.
Selanjutnya, pipa kapiler dicelupkan dalam aquades dan
ditunggu kenaikan cairannya. Setelah itu pipa kapiler diangkat dengan
ditutup bagian atasnya. Kemudian pipa kapiler berisi aquades
ditimbang menggunakan neraca analitik dan didapatkan massa sebesar
0,32439 gram. Dari perhitungan massa sebelum dan sesudah
ditambahkan aquades, didapatkan massa aquades sebesar 0,1573 gram.
Massa aquades ini digunakan untuk menghitung volume aquades yang
nantinya dapat berguna dalam perhitungan jari-jari pipa kapiler.
Dimana, volume aquades = ; dan diperoleh hasil sebesar 0,1402 cm3.

Selanjutnya, volume aquades digunakan untuk menentukan r pipa


kapiler dengan diimasukkan ke dalam persamaan V = t dan
didapatkan r sebesar 0,0560 cm. Selanjutnya, jari-jari pipa kapiler yang
sudah diketahui disini digunakan dalam persamaan untuk menentukan
tegangan permukaan pada larutan garam setelah ditambahi surfaktan
dengan konsentrasi yang berbeda.
2. Persiapan sampel
Tahap yang kedua yaitu tahap persiapan sampel dengan tujuan
untuk mempersiapkan sampel berupa larutan garam dan surfaktan
(detergen Daia) yang nantinya akan diukur tegangan permukaannya.
Langkah pertama yaitu menyiapkan larutan garam dengan cara
menimbang 1 gram garam beryodium dengan neraca analitik.
Selanjutnya garam tersebut dilarutkan dalam labu ukur 100 mL
sehingga dihasilkan larutan garam yang nantinya akan ditentukan
tegangan permukaannya.
Selanjutnya, menyiapkan larutan surfaktan yang akan
ditambahkan dalam larutan garam dengan konsentrasi yang berbeda.
Konsentrasi larutan surfaktan yang digunakan berturut-turut yaitu 1%,
0.5%, 0,33%, 0.25% dan 0,2%. Untuk menentukan massa jenis larutan,
langkah pertama yaitu dengan menimbang piknometer kosong dengan
neraca analitik dan didapatkan massa piknometer kosong yaitu
20,71469 gram. Selanjutnya, kedalam piknometer tersebut
ditambahkan larutan garam dan surfaktan kemudian ditimbang lagi dan
didapatkan massa larutan berturut-turut yaitu :
Konsentrasi Massa larutan = massa
surfaktan total – massa piknometer
ditambahkan kosong (g)
(%)
1 25,87161
0,5 25,7847
0,33 25,75261
0,25 25,71721
0,2 25,68661

Setelah didapatkan data diatas, maka massa jenis larutan dapat


dihitung menggunakan persamaan :
massa piknometer terisi − massa piknometer kosong
=
volume piknometer
Berdasarkan persamaan tersebut, maka didapatkan massa jenis
untuk masing-masing larutan adalah sebagai berikut :
Konsentrasi
Massa jenis larutan
surfaktan
(g/mL)
ditambahkan
(%)
1 1,03486
0,5 1,03147
0,33 1,03010
0,25 1,02860
0,2 1,02746

Dari data diatas, massa jenis larutan terbesar ialah pada


konsentrasi 1%, hal tersebut dikarenakan zat terlarut pada konsentrasi
tersebut paling banyak dibandingkan larutan dengan konsentrasi yang
lebih rendah.
3. Tegangan permukaan larutan garam
Tahap percobaan yang terakhir yaitu menentukan tegangan
permukaan larutan garam dengan ditambahkan larutan surfaktan
berbagai konsentrasi. Langkah pertama dalam percobaan ini yaitu
menyiapkan 10 mL larutan garam yang telah dibuat pada percobaan
tahap sebelumnya. Selanjutnya, isi gelas kimia sebanyak lima buah
gelas kimia yang masing-masing diisi dengan 10 mL larutan garam.
Kemudian kedalam masing-masing gelas kimia tersebut ditambahkan 3
tetes larutan surfaktan dengan konsrentrasi yang berbeda. Campur
larutan dengan baik dan larutan siap diukur tegangan permukaannya.
Pengukuran tegangan permukaan menggunakan metode pipa
kapiler dilakukan dengan cara mencelupkan pipa kapiler kedalam
larutan yang telah terisi dengan larutan garam dan surfaktan dengan
konsentrasi yang berbeda. Selanjutnya biarkan larutan didalam gelas
kimia naik perlahan di dalam pipa kapiler kemudian hitung selisih
kenaikan larutan tersebut. Berikut adalah selisih tinggi air pada
permukaan air dengan tinggi air dalam pipa kapiler :
∆h (m)
M (%)

1 0,6.10-2
0,5 0,8.10-2
0,33 1,0.10-2
0,25 1,2.10-2
0,2 1,3.10-2

Dari data diatas dapat dicari tegangan permukaan pada masing-


masing cairan dengan rumus sebagai berikut.
∆ℎ
=
2 cos

Dimana θ adalah sudut kontak, dan sudut kontak pada


percobaan ini adalah 0o. Dimana cos 0 = 1. sehingga rumus yang
dipakai
∆ℎ
=
2
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan didapatkan
hasil tegangan permukaan untuk setiap penambahan larutan surfaktan
dengan berbagai konsentrasi sebagai berikut :
M (%) γ (N/m)

0,1703.10-4
1

0,2264.10-4
0,5

0,2826.10-4
0,33

0,3386.10-4
0,25

0,3665.10-4
0,2

Berdasarkan data yang telah diperole dari hasil percobaan


membuktikan bahwa semakin rendah konsentrasi larutan surfaktan
yang ditambahkan kedalam larutan garam, maka semakin tinggi
tegangan permukaan pada larutan garam tersebut begitupun
sebaliknya. Hal ini sesuai teori yang menyatakan bahwa semakin
tinggi konsentrasi surfaktan, maka semakin rendah tegangan
permukaan zat cair yang dihasilkan.

XIV. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi surfaktan ditambahkan,
maka semakin rendah tegangan permukaan larutan garam.
XV. DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P.W.. 1994. Kimia Fisik edisi ke-4 jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Bird, T. 1993. Kimia Fisika Untuk Universitas. Jakarta : PT. Gramedia
Pustaka Utama.

Estien, Yazid. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta : Andi.

Fessenden J. Ralp dan Fessenden S. Joan. 1998. Kimia Organik. Jakarta :


Erlangga.

Francis, Weston & Mark W. Zemansky. 1994. Fisika Untuk Universitas 2.


Bandung: Bina Cipta.

Giancoli, Douglas C. 1997. Fisika Jilid I. Jakarta : Erlangga.


Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika Jilid I (terjemahan). Jakarta : Penerbit
Erlangga.

Lachman,L,.dkk,.1994.Teori dan Praktek Farmasi Industri II.edisi III.


diterjemahkan oleh Siti Suyatmi. Jakarta : UI Press

Lehninger. 1982. Dasar-Dasar Biokimia. Jilid 1. Jakarta : Erlangga

Mansyur R, .2009. Sintesis Kitosan Sulfonat Sebagai Surfaktan, Tesis


Program Magister. Bandung : Institut Teknologi Bandung.

Suminar. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern. Jakarta : Erlangga


Tim Dosen Kimia Fisika. 2018. Petunjuk Praktikum Kimia Fisika IV.
Surabaya : Jurusan Kimia Unesa.
LAMPIRAN

1. lampiran perhitungan

1. Menghitung pengenceram

A. Konsentrasi 1%

1 gram surfaktan dalam 100 ml aquades

1gram/100 ml = 1%

B. Konsentrasi 0,5%

M1.V1 = M2. V2

1%. V1 = 0,5% . 100 mL

V1 = 50 mL

B. Konsentrasi 0,5%

M1.V1 = M2. V2

1%. V1 = 0,5% . 100 mL

V1 = 50 mL

C. Konsentrasi 0,33%

M1.V1 = M2. V2

0,5%. V1 = 0,33% . 100 mL

V1 = 66 mL

D. Konsentrasi 0,25%

M1.V1 = M2. V2

0,33%. V1 = 0,25% . 100 mL

V1 = 75,7 mL

E. Konsentrasi 0,2%

M1.V1 = M2. V2

0,25%. V1 = 0,2% . 100 mL

V1 = 80 mL
2. Menghitung jari-jari pipa kapiler

Diket: Massa pipa kapiler = 0,1670 gram

Massa pipa kapiler+aquades = 0,3324 gram

Massa aquades = 0,1573 gram

Tinggi pipa kapiler = 15 cm

Dit: jari=jari pipa kapiler?

Jwb: Vaquades =

,
=
, /

= 0,1482 cm3

V2 =
.

,
=
, .

= 0,003146 cm2

r = 0,003146

= 0,0560 cm

3. Menghitung massa jenis larutan garam+ surfaktan dalam berbagai


konsentrasi

A. Konsentrasi 1%

ρ=

( , , )
=

= 1,03486 gram/ml
B. Konsentrasi 0,5%

ρ=

( , , )
=

= 1,03486 gram/ml
C. Konsentrasi 0,33%

ρ=

( , , )
=

= 1,0301 gram/ml
D. Konsentrasi 0,25%

ρ=

( , , )
=

= 1,0286 gram/ml
E. Konsentrasi 0,2%

ρ=

( , , )
=

= 1,02746 gram/ml
4. Menghitung tegangan permukaan larutan garam + surfaktan dalam
berbagai

Konsentrasi

Diket: r = 0,056 cm

g = 9,8 m/s

cos Ө = cos 0 = 1

A. Konsentrasi 1%

Diket: Δh = 0,6 cm

ρ = 1,03486 gram/ ml

Dit : γ ?

. . .
Jwb: γ =
Ө

, . , , . , /
=

= 0,1703x10 N/m

B. Konsentrasi 0,5%

Diket: Δh = 0,8 cm

ρ = 1,03147 gram/ ml

Dit : γ ?

. . .
Jwb: γ =
Ө

, . , , . , /
=

= 0,2264x10 N/m

C. Konsentrasi 0,33%

Diket: Δh = 1 cm
ρ = 1,0301 gram/ ml

Dit : γ ?

. . .
Jwb: γ =
Ө

, . , . , /
=

= 0,2826x10 N/m

D. Konsentrasi 0,25%

Diket: Δh = 1,2 cm

ρ = 1,0286 gram/ ml

Dit : γ ?

. . .
Jwb: γ =
Ө

, . , , . , /
=

= 0,3386x10 N/m

A. Konsentrasi 0,2%

Diket: Δh = 1,3 cm

ρ = 1,02746 gram/ ml

Dit : γ ?

. . .
Jwb: γ =
Ө

, . , , . , /
=

= 0,3665x10 N/m
2. lampiran dokumentasi

Gambar Keterangan Gambar

Alat dan bahan yang digunakan dalam


praktikum ini adalah pipa kapiler,
piknometer dan gelas kimia 100 ml

Menimbang pipa kapiler sebelum diisi


aquades dan setelah diisi aquades
dengan neraca analitik diperoleh hasil
massa pipa kapiler sebelum diisi
aquades 0,1670 gram dan massa pipa
kapiler setelah diisi aquades adalah
0,3270 gram.

Membuat larutan garam dengan


memasukkan garam kedalam aquades
dengan konsentrasi 1%, 0,5%, 0,33%,
0,25%, 0,2%

Mengukur massa jenis larutan garam


dengan cara menimbang piknometer
kosong kemudian menimbang
piknometer yang telah diisi larutan
garam ditambah surfaktan dan diperoleh
hasil massa piknometer kosong 20,7146
dan massa pikometer yang telah diisi
larutan garam 46,5863 gram dan
diperoleh massa jenis larutan garam +
surfaktan
ρ konsentrasi 1% =1,03486 gram/ml
ρ konsentrasi 0,5% =1,03147 gram/ml
ρ konsentrasi 0,33% =1,0301 gram/ml
ρ konsentrasi 0,25% =1,0286 gram/ml
ρ konsentrasi 0,2% =1,02746 gram/ml

Mengukur tegangan permukan pada


larutan garam + surfaktan pada
konsentrasi 1%, 0,5%, 0,33%, 0,25%
dan 0,2% dipeoleh

γ konsentrasi 1% =0,1703x10 N/m

γ konsentrasi 0,5% =0,2264x10 N/m

γ konsentrasi 0,33% =0,2826x10


N/m

γ konsentrasi 0,25% =0,3386x10


N/m

γ konsentrasi 0,2% =0,3665x10 N/m