Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH SISTEM INFORMASI KEPERILAKUAN

MODEL PENERIMAAN TEKNOLOGI

Di susun oleh :

Kelompok 5

Andi Milda Waty Sukarta A31116003

Naifah Azisah A31116016

Tariq Hidayatullah H A31116301

Irwin Purnomo Mamu A31116304

Maria Kibtia Seban A31116328

DEPARTEMEN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah Model
Penerimaan Teknologi.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak terdapat kekurangan baik dari
kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima saran
dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah mata kuliah Sistem Informasi
Keperilakuan ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi bagi pembaca.

Makassar, 17 September 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ......................................................................................................................... i


Daftar Isi ................................................................................................................................... ii
Bab 1 Pendahuluan .................................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................................... 1
Bab 2 Pembahasan ................................................................................................................... 2
A. Konsep model penerimaan teknologi ......................................................................... 2
B. Konstruk-konstruk di tam........................................................................................... 4
C. Perbedaan tam dan tpb ............................................................................................... 5
D. Perkembangan tam...................................................................................................... 6
E. Variabel-variabel eksternal tam................................................................................ 11
F. Teknologi, subyek dan situasi yang berbeda ............................................................. 11
G. Kelebihan-kelebihan tam .......................................................................................... 12
H. Kelemahan-kelemahan tam ..................................................................................... 13
I. Pengukuran konstruk-konstruk ................................................................................ 14

Bab 3 Penutup ........................................................................................................................ 20

A. Kesimpulan............................................................................................................... 20

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BERLAKANG
Salah satu teori tentang penggunaan sistem teknologi informasi yang dianggap
sangat berpengaruh dan umumnya digunakan untuk menjelaskan penerimaan individual
terhadap penggunaan sistem teknologi informasi dan model penerimaan teknologi
(Technology Acceptance Model) (TAM). Teori ini pertama kali dikenalkan oleh Davis
(1986). Teori ini dikembangkan oleh Theory of Reasoned Action atau TRA oleh Ajzen
dan Fishbein (1980).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Konsep model penerimaan teknologi
2. Konstruk-konstruk di tam
3. Perbedaan tam dan tpb
4. Perkembangan tam
5. Variabel-variabel eksternal tam
6. Teknologi, subyek dan situasi yang berbeda
7. Kelebihan-kelebihan tam
8. Kelemahan-kelemahan tam
9. Pengukuran konstruk-konstruk

1
BAB II

PEMBAHASAN

4.1 KONSEP MODEL PENERIMAAN TEKNOLOGI


Model penerimaan teknologi (Technology Acceptance Model atau TAM) merupakan
suatu model penerimaan sistem teknologi informasi yang akan digunakan oleh pemakai.
Model penerimaan teknologi atau technology acceptance model (TAM) dikembangkan oleh
Davis et al. 1989 berdasarkan model TRA.
Model TRA dapat diterapkan karena keputusan yang dilakukan oleh individu untuk
menerima suatu teknologi sistem informasi merupakan tindakan sadar yang dapat dijelaskan
dan diprediksi oleh minta perilakunya. TAM menambahkan dua konstruk utama ke dalam
model TRA. Dua konstruk utama ini adalah kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan
kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use). TAM beragurgumentasi bahwa
penerimaan individual terhadap sistem teknologi informasi ditentukan oleh dua konstruk
tersebut.
Kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan persepsian
(perceived ease of use) keduanya mempunyai pengaruh ke minat perilaku (behavioral
intention). Pemakai teknologi akan mempunyai minat menggunakan teknologi (minat
perilaku) jika merasa sistem teknologi bermanfaat dan mudah digunakan.
Kegunaan persepsian (perceived usefulness) juga mempengaruhi kemudahan
penggunaan persepsian (perceived ease of use) tetapi tidak sebaliknya. Pemakai sistem akan
menggunakan sistem jika sistem bermanfaat baik sistem akan menggunakan sistem jika
sistem bermanfaat baik sistem itu mudah digunakan atau tidak mudah digunakan. Sistem
yang sulit digunakan akan tetap digunakan jika pemakai merasa bahwa sistem masih berguna.
Model dari TAM dapat dilihat di gambar berikut ini.

2
Karena TAM dimaksudkan untuk penggunaan teknologi, maka perilaku (behavior) di
TAM dimaksudkan sebagai perilaku menggunakan teknologi. Oleh karena itu TAM juga
banyak dituliskan lebih spesifik pada penggunaan teknologi sebagai berikut ini.

3
4.2 KONSTRUK-KONSTRUK DI TAM
Technology acceptance model (TAM) yang pertama yang belum dimodifikasi menggunakan
lima konstruk utama. Kelima konstruk ini adalah sebagai berikut ini.
1. Kegunaan persepsian (perceived usefulness)
Konstruk tambahan yang pertama di TAM adalah kegunaan persepsian (perceived
usefulness). Kegunaan persepsian (perceived usefulness). Kegunaan perspesian (perceived
usefulness) didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan
suatu teknologi akan meningkatkan kinerja pekerjaannya (“as the extent to which a person
believes that using a technology will enhance her or his performance.”)
Dari definisinya, diketahui bahwa kegunaan persepsian (perceived usefulness)
merupakan suatu kepercayaan (belief) tentang prose pengambilan keputusan. Dengan
demikian jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi berguna maka dia akan
menggunakannya. Sebaliknya jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi
kurang berguna maka dia tidak akan menggunakannya.
2. Kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use)
Konstruk tambahan yang kedua di TAM adalah kemudahan penggunaan persepsian
(perceived ease of use). Kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use)
didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan teknologi akan
bebas dari usaha (“is the extent to which a person believes that using a technology will be
free of effort.”)
Dari definisinya, diketahui bahwa konstruk kemudahan penggunaan persepsian
(perceived ense of use) ini juga merupakan suatu kepercayaan (belief) tentang proses
pengambilan keputusan. Jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi mudah
digunakan maka dia akan menggunakannya. Sebaliknya jika seseorang merasa percaya
bahwa sistem informasi tidak mudah digunakan maka dia tidak akan menggunakannya.
Penelitian-penlitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa konstruk kemudahan
penggunaan persepsian (perceived ease of use) mempengaruhi kegunaan persepsian
(perceived usefulness), sikap (attitude), minat (behavioral intention), dan penggunaan
sesungguhnya (behavior).
3. Sikap terhadap perilaku (attitude towards behavior) atau sikap menggunakan teknologi
(attitude towards using technology)
Sikap terhadap perilaku (attitude towards behavior) didefinisikan oleh Davis et al. (1989)
sebagai perasaan positif dan negative dari seseorang jika harus melakukan perilaku yang

4
akan ditentukan. Sikap terhadap perilaku (attitude towards behavior) juga didefinisikan
oleh tarikannya menggunakan sistem.
Hasil penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sikap (attitude) ini
berpengaruh secara positif ke minat perilaku. Akan tetapi beberapa penelitian juga
menunjukkan bahwa sikap ini tidak mempunyai pengaruh signifikan ke minat perilaku.
Oleh karena itu, beberapa penelitian yang menggunakan TAM tidak memasukkan
konstruk sikap didalam modelnya.
4. Minat perilaku (behavioral intention) atau minat perilaku menggunakan teknologi
(behavioral intention to use)
Minat perilaku adalah suatu keinginan seseorang untuk melakukan suatu perilaku yang
tertentu. Seseorang akan melakukan sesuatu perilaku jika mempunyai keinginan atau
minat untuk melakukannya.
Hasil penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa minat perilaku merupakan
prediksi yang baik dari penggunaan teknologi oleh pemakai sistem.
5. Perilaku (behavior) atau penggunaan teknologi sesungguhnya (actual technology use)
Perilaku adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Dalam konteks penggunaan
sistem teknologi informasi, perilaku adalah penggunaan sesungguhnya dari teknologi.
Karena penggunaan sesungguhnya tidak dapat diobservasi oleh peneliti yang
menggunakan daftar pertanyaan, maka penggunaan sesungguhnya ini banyak diganti
dengan nama pemakaian persepsian (perceived usage).
4.3 PERBEDAAN TAM DAN TPB
Tiga perbedaan utama antara TAM dan TPB adalah sebagai berikut ini.
1. Tingkat generalisasinya berbeda.
Kepercayaan-kepercayaan (beliefs) tentang kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan
kemudahan pengunaan persepsian (perceived ease of use) di TAM lebih spesifik sebagai
penentu utama keputusan menggunakan teknologi. Di TPB lebih luas dan berbeda untuk
situasi tertentu.
2. Variabel-variabel sosial.
TPB memasukkan norma-norma sosial, yaitu subjective norm kedalam modelnya. Variabel-
variabel sosial tidak ada di TAM.
3. Perlakuan berbeda terhadap kontrol perilaku.
Model TPB memasukkan variabel-variabel yang mengontrol perilaku yang disebut dengan
kontrol perilaku persepsian (perceived behavior control), untuk TAM, variabel-variabel
pengontrol perilaku ini tidak ada secara eksplisit.
5
4.4 PERKEMBANGAN TAM
Menurut Lee et al. (2003), sejak TAM dikenalkan sampai tahun 2000 saja, ini sudah
dirujuk oleh 424 penelitian lainnya dan sampai dengan tahun 2003 sudah dirujuk oleh 698
penelitian seperti yang dilaporkan oleh Social Science Citation Index (SSCI).
Perkembangan TAM sampai dengan tahun 2003 oleh Lee et al. (2003) diklasifikasikan
kedalam empat kemajuan, yaitu pengenalan model (model introduction), ekstensi model
(model validation), dan elaborasi model (model elaboration) yang digambarkan seperti
gambar 4.3.
4.4.1 Pengenalan Model
Banyak peneliti mencoba menentukan faktir-faktor apa saja yang mempengaruhi
kepercayaan-kepercayaan (beliefs) dan sikap (attitude) pemakai terhadap penggunaan sistem
teknologi informasi. TAM dikembangkan dari teori TRA untuk memberikan penjelasan
tentang perilaku pemakai sistem informasi. TAM pertamakali dikenalkan oleh Davis (1986).

Karena TAM masih merupakan model yang baru, penelitian-penelitian di era pengenalan
model ini banyak mencoba membandingkan TAM dengan TRA dan dengan TPB. Davis et al.
(1989) menemukan bahwa TAM lebih baik menjelaskan keinginan untuk menerima teknologi
dibandingkan dengan TRA.
Mathieson (1991) membandingkan Technology Acceptance Model (TAM) dan Theory of
Planned Behavior (TPB). Kedua model ini sama-sama memprediksi minat pemakai untuk
menggunakan teknologi sistem informasi. Kedua model ini dibandingkan menggunakan tiga
kriteria sebagai berikut ini.

6
1. Seberapa baik mereka memprediksi minat pemakai untuk menggunakan sebuah
sistem informasi.
2. Seberapa bernilai informasi yang disediakan oleh model-model.
3. Seberapa sulit model-model diterapkan.
Mathieson (1991) menyimpulkan bahwa kedua model menjelaskan minat perilaku dengan
baik, tetapi TAM menjelaskan sikap lebih baik dari TPB. Secara umum tidak dapat
disimpulkan satu model lebih baik dari yang lainnya.
Hubona dan Cheney (1994) membandingkan tiga model yaitu TAM, TPB, dan TPB yang
didekomposisi. Penelitian ini menggunakan subyek dokter di Hong Kong. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa TAM lebih baik dari menjelaskan minat perilaku dokter untuk
menggunakan teknologi telemedicine dibandingkan yang dijelaskan TPB. TPB yang
didekomposisi memberikan hasil yang lebih baik dari TAM.
Taylor dan Todd (1995) menemukan bahwa TPB dan TPB didekomposisi lebih dapat
menjelaskan penerimaan pemakai sistem dibandingkan dengan TPB. Hasil yang harus
diartikan secara lebih hati-hati karena mendekomposisi TPB akan menambah variabel dan
tentunya juga meningkatkan kekuatan penjelasan dari modelnya.
4.4.2 Validasi Model
Beberapa penelitian menguji validitas dari instrument-instrumen yang digunakan untuk
mengukur penerimaan teknologi oleh pemakai. Peneliti-peneliti ini ingin menguji validitas
instrument tersebut untuk digunakan di teknologi, situasi dan tugas-tugas yang berbeda.
Penelitian Adams et al. (1992) mereplikasi dan mengembangkan penelitian Davis (1982)
dengan hasil menunjukkan bahwa pengukuran konstruk kegunaan persepsian (perceived
usefulness) atau PU dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) atau
PEOU dari TAM valid di analisis test-retest.
Szajna (1994) menginvestigasi variditas prediksi dari pengukuran TAM untuk
mengetahui apakah pengukuran tersebut dapat memprediksi dengan berhasil perilaku
kedepan. Szajna menggunakan sampel 47 mahasiswa MBA dan menganalisisnya dengan
analisis diskriminan (discriminant analysis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa PU dan
PEOU dapat digunakan untuk memprediksi perilaku kedepan dari pemakai sistem informasi.
Segars dan Grover (1993) menguji model TAM dengan menggunakan analisis faktor
konfirmatori (confirmatory factor analysis). Hasil penelitian mereka ini menemukan model
TAM tidak hanya mengandung dua faktor saja, yaitu PU dan PEOU tetapi seharusnya
menjadi tiga faktor model, yaitu terdiri dari tiga faktor dengan di tambah dengan faktor
efektivitas sebagai faktor baru di TAM.
7
Hasil penelitian Segars dan Grover (1993) ini mendapat beberapa dukungan dan
sanggahan. Barki dan Hartwick (1994) menyatakan bahwa konstruk PU dapat terdiri dari
beberapa konstruk-konstruk di dalamnya. Konstruk-konstruk di dalam konstruk PU ini dapat
diukur dengan item-item perceived usefulness (PU), dan peningkatan produktivitas
persepsian, efektivitas, dan kinera. Dengan demikian faktor efektivitas sebenarnya bagian
dani faktor PU. Hasil penelitian Segars dan Grover (1993) juga dibantah oleh Chin dan Todd
(1995). Dengan menggunakan analisis Pemodelan Persamaan Struktural atau SEM
(Structural Equation Modelling) mereka menemukan sebuah faktor tunggal PU dan
menyimpulkan bahwa tidak ada alasan rasional untuk memecah menjadı dua dimensı yaitu
PU dan efektivitas. Mereka menduga hasil penelitian Segars danGrover (1993) terkena efek
konfounding (confounding effect) akibat merubah skala-skala (scales) di daftar pertanyaan
dan juga karena ukuran sampel yang kecil. Selama periode tahun 1990 sampai dengan tahun
1995 banyak penelitian yang mencoba mengui konsistensi, validitas dan reliabilitas
pengukuran instrumen-instrumen TAM. Semua peneliti sependapat bahwa tidak ada peng
ukuran yang secara absolut benar untuk membentuk suatu konstruk. Demikian juga tidak ada
pengukuran yang absolut benar untuk konstruk PU dan PEOU yang berbeda waktu kondisi
dan tekonologi yang digunakan. Akan tetapi, secara umum, hasil-hasil penelitian
menunjukkan bahwa peng- ukuran instrumen-instrumen TAM cukup kuat, konsisten, valid,
dan reliabel.
4.4.3. Ekstensi Model
Disamping menguji validitas model TAM, beberapa peneliti juga mencoba
mengembangkan (mengekstensi) model TAM dengan menambahkan beberapa variabel
eksternal yang menerangkan lebih lanjut atau menjadi penyebab (antecedent) dari kegunaan
persepsian (perceived usefulness) atau PU dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived
case of use) atau PEOU di TAM. Model TAM yang dimodifikasi ini dengan ditambahkan
variabel-variabel eksternal tampak di Gambar berikut ini.

8
Penelitian-penelitian yang mencoba mengembang an model TAM melakukannya dengan
menambahkan variabel-variabel eksternal Variabel-variabel eksternal yang digunakan dapat
dikategorikan misalnya sebagai variabel variabel individual, organisasi, kultur, dan
karakteristik karakteristik tugas.
Penelitian yang menambahkan variabel-variabel individual misalnya adalah yang
dilakukan oleh Agarwal dan Prasad (1999), Gefen dan Straub (1997), dan Karahanına et al.
(1999). Penelitian ini mengembangkan model TAM dengan menambahkan lima macam
variabel individual sebagai variabel-variabel eksternal yang lebih menjelaskan konstruk PU
dan PEOU. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pelatihan (training) berhubungan positip
dengan konstruk PU dan pengalaman masa lalu (prior experience), peran pemakai
sehubungan dengan teknologi (role with regard to technology), masa kerja (tenure in
workplace), tingkat pendidikan (level of education) berhubungan dengan PEOU.
Gefen dan Straub (1997) meneliti efek dari perbedaan gender terhadap penerimaan
sistem informasi Hasil penelitian mereka menemukan bahwa laki-lak lebih di- akibatkan oleh
PU dan wanita lebih dipengaruhi oleh PEOU dan norma-norma subyektif dalam menerima
sistem informasi. Pernelitian Karaharna et al. (1999) membedakan antara pengadopsi sistem
informasi yang potensial, yang belum mengadopsi, dengan pernakai yang sudah meng-
adopsi dari waktu ke waktu, Penelitian mereka menemukan hal yang berbeda, yaitu norma
subyektif mempengaruhi minat dari pengadopsi potensial dan sikap (attitude) mem-
pengaruhi pengadopsi sekarang.

9
Penelitian yang menambahkan variabel-variabel organisasi dilakukan oleh Igbaria et al.
(1995). Penelitian ini menggunakan variabel-variabel pelatihan pemakai (user fraining),
dukungan komputasi (computing support), dan dukungan manajemen (management support).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel-variabel organisasi ini berhubungan dengan
konstruk PU, PEOU dan pemakaian komputer mikro.
Penelitian yang menambahkan variabel kultur misal- nya dilakukan oleh Straub (1994).
Penelitian ini menggunakan dua negara yang mempunyai dua kultur yang berbeda, yaitu
Amerika Serikat dan Jepang. Penelitian ini menemu kan bahwa kultur mempengaruhi sikap
pemakai sistem dalam pemilihan media yang akan digunakan. Penelitian ini menunjukkan
bahwa pekerja-pekerja Jepang menganggap fax lebih berguna, sedang pekerja-pekerja
Amerika menganggap e-mail lebih bermanfaat.
Penelitian yang menambahkan variabel karakteritik karakteristik tugas misalnya
dilakukan oleh Karahanna dan Limayem (2000), Gefen dan Straub (2000), dan Moon dan
Kim (2001). Penelitian Karahanna dan Limayem (2000) menggunakan tugas-tugas yang
dilakukan dengan email dan voice-mail. Mereka menemukan hasil bahwa penentu pemakaian
sistem informasi dengan konstruk PU dan PEOU berbeda untuk tugas-tugas yang berbeda
Konstruk PU tidak mempunyai pengaruh dengan penggunaan e mail tetap berhubungan
dengan penggunaan toice mail. Gefen dan Straub (2000) menggunakan dua tugas yang
berbeda, yaitu tugas mencari informasi dan tugas pembelian produk dengan menggunakan
internet Konstruk PEOU signifikan memprediksi penggunaan sistem informasi untuk tugas
pembelian produk telapi tidak untuk tugas pencarian informasi. Moon dan Kim (2001) juga
mengguraikan tugas-tugas di internet untuk tugas hiburan (entertamnment task) dan tugas
pekerjaan (uork-related task). Hanya untuk tugas pekerjaan saja konstruk PU berpengaruh
terhadap penerimaan sistem informasi Lebih lanjut mengenai variabel variabel eksternal di
TAM dikaji oleh Lee at al. (2003) dengan sangat lengkap.
4.4.4. Elaborasi Model
TAM yang pertama mempunyai empat buah konstruk yaitu perceived usefulness (PU),
perceived cuse of use (PEOU), behavior intention (BI) dan behavior (B) Minat perilaku
(behavior intention) di model TAM diproksi dengan minat penggunaan (usage intention atau
UI) dan perilaku (behavior) diproksi dengan frekuensi penggunaan, waktu yang digunakan,
pemakaian nyata atau diversiti pemakaian atau usage (U) dari sistem teknologi informasi.
Penelitian-penelitian TAM di tahun 2000an mencoba untuk mengelaborasi model TAM
menjadi model yang lebih lengkap. Model baru TAM yang lebih lengkap dibangun dari
elaborasi hasil-hasil penelitian sebelumnya yang sudah menenukan banyak variabel-variabel
10
eksternal yang mem- pengaruhi konstruk PU dan PEOU, minat penggunaan dan penggunaan
sistem teknologi informasi.
4.5. VARIABEL-VARIABEL EKSTERNAL TAM
TAM Lee et al.(2003) melakukan analisis-meta (meta- analysis) untuk
mengkombinasikan hasil-hasil penelitian TAM sebelumnya. Analisis-meta ini
menggabungkan dari 101 penelitian yang dipublikasikan di jurnal-jurnal sistem informasi
terkemuka mulai tahun 1996 sampai Juni 2003. Hasil dari analisis-meta ini berupa model
TAM yang lengkap dengan variabel-variabel eksternal seperti di gambar berikut ini. hasil
dari analisis meta ini berupa model TAM yang lengkap dengan variabel-variabel eksternal
seperti di gambar berikut ini.

4.6. TEKNOLOGI, SUBYEK DAN SITUASI YANG BERBEDA


Penelitian-peneltian TAM sudah banyak sekali dilakukan. Penelitian-penelitian ini
menerapkan TAM ke beberapa penggunaan teknologi, situasi, dan individu subyek
pemakainya yang berbeda Penelitian-penelitian TAM sudah banyak diterapkan di beberapa
aplikasi dan teknologi sistem informasi yang berbeda. Aplikasi dan teknologi yang digunakan
di penelitian-penelitian TAM oleh Lee et al. (2003) dapat di- golongkan kedalam 4 tipe, yaitu
sistem-sistem komunikasi (communiction systems), sistem-sistem maksud-umum (general
purpose systems), sistem-sistem kantor (office systems), dan sistem-sistem bisnis khusus
(specialized business systems).
Pemakai-pemakai sistem penelitian-penelitian TAM juga beraneka ragam. Banyak
penelitian penelitian TAM yang menggunakan pekerja- pekerja dan manajer-manajer di

11
perusahaan, seperti misal- nya pemakai-pemakai akhir manajer (end users) di beberapa
tingkatan, dan pekerja-pekerja berpengetahuan (knowledge workers). Subyek pemakai di
penelitian-penelitian TAM juga dibedakan antara individu-individu yang bukan profesional
dengan individu-individu yang profesional Individu individu yang dianggap bukan
profesional adalah subyek yang berupa mahasiswa S1, dan mahasiswa MBA yang belum
bekerja lama) Individu-individu yang dianggap profesional adalah mereka yang sudah terlatih
baik dan mandiri di bidangnya. Individu-individu profesional ini misalnya adalah dokter,
akuntan, dosen, eksekutif perusahaan, konsultan dan lainnya.
Penelitian-penelitian TAM juga banyak diterapkan pada situasi kultur yang berbeda
Karena TAM berbasis pada permasalahan perilaku (behavior) manusia, maka di- perkirakan
penerapan TAM dengan aplikasi, teknologi dan pamakai yang sama dapat memberikan hasil
yang berbeda karena adanya perbedaan kultur, terutama kultur negara yang berbeda.
4.7. KELEBIHAN-KELEBIHAN TAM
TAM mempunyai beberapa kelebihan dan juga kelemahan Kelebihan kelebihan TAM adalah
sebagai berikut ini.
1. TAM merupakan model perilaku (behavior) yang bermanfaat untuk menjawab pertanyaan
mengapa banyak sistem teknologi informasi gagal diterapkan karena pemakainya tidak
mempunyai minat (intention) untuk menggunakannya. penerapan sistem teknologi informasi
yang memasuk- kan faktor psikologis atau perilaku (behavior) di dalam modelnya dan TAM
adalah salah satu yang mempertimbangkannya. Tidak banyak model-model penerapan sistem
teknologi informasi yang memasukkan faktor psikologis atau perilaku (behavior) di dalam
modelnya dan TAM adalah salah satu yang mempertimbangkannya.
2. TAM dibangun dengan dasar teori yang kuat
3. TAM telah diuji dengan banyak penelitian dan hasilnya sebagian besar mendukung dan
menyimpul- kan bahwa TAM merupakan model yang baik Bahkan TAM telah banyak diuji
dibandingkan dengan model yang lain misalnya dengan Theory Reasoned Action (TRA) dan
Theory Planned Behavior (TPB) dan hasilnya juga konsisten bahwa TAM cukup baik
4. Kelebihan TAM yang paling penting adalah model ini merupakan model yang parsimoni
(parsimonious) yaitu model yang sederhana tetapı valid Membuat model yang sederhana
telapi valid merupakan hal yang tidak mudah Terjadi trade-off dari pembuatan model. Ti
diinginkan model yang sederhana mestinya meng- gunakan banyak asumsi bahwa faktor-
faktor lain tetap tidak berpengaruh pada modelnya, tetapi ini akan ber- pengaruh pada
kualitas dan validitas modelnya yang akan menurun. Sebaliknya jika diinginkan model yang

12
valid dan lengkap, maka semua faktor-faktor pengaruh harus dimasukkan ke dalam model
dengan akibat model akan menjadi komplek.
4.8.KELEMAHAN-KELEMAHAN TAM
Disamping kelebihan kelebihan TAM tersebut, TAM juga mempunyai beberapa kekurangan
yaitu sebagai berikut ini.
1. TAM hanya memberikan informasi atau hasil yang sangat umum saja tentang minat
dan perilaku pemakai sistem dalam menerima sistem teknologi informasi TAM hanya
menjelaskan kepercayaan-kepercayaan (beliefs) mengapa pemakai mempunyai minat
perilaku menggunakan sistem yaitu percaya bahwa sistem yang digunakan berguna
dan mudah digunakan Akan tetapi TAM belum memberikan informasi dan men-
jelaskan mengapa pemakai sistem mempunyai kepercayaan-kepercayaan tersebut
Untuk mengatasi kekurangan TAM, banyak peneliti mulai mengembang kan TAM
dengan memasukkan banyak variabel variabel eksternal untuk menjelaskan hal
tersebut.
2. Perilaku pemakai sistem teknologi informasi di TAM tidak dikontrol dengan kontrol
perilaku (behavioral control) yang membatasi minat perilaku seseorang Kontrol
perilaku (behavioral control) ini menjelaskan mengapa seseorang mempunyai minat
perilaku yang berbeda pada situasi yang sama Kemungkinan mereka mempunyai
norma norma subyektif yang ber- beda Inilah salah satu contoh dari kontrol perilaku
(behavioral control). Model TPB memasukkan konstruk kontrol perilaku (behavioral
control) ini. Untuk meng- atasi kelemahan ini, beberapa peneliti menggabungkan
TAM dengan model TPB yaitu dengan menambahkan konstruk kontrol perilaku
(behavioral control) ke dalam TAM
3. Perilaku (behavior) yang diukur di TAM seharusnya adalah pemakaian atau
sesungguhnya (actual usage). Kenyataannya banyak penelitian menggunakan
penggunaan teknologi yang dilaporkan sendiri oleh responden (self-reported usage)
atau penggunaan teknologi yang diperkirakan (self predicted usage) yang belum tentu
mencerminkan atau mengukur pemakaian sebenarnya.
4. Penelitian-penelitian TAM umumnya hanya menggunakan sebuah sistem informasi
saja. Kenyataannya permakai sistem dihadapkan dengan lebih dari satu sistem
informasi
5. Beberapa penelitian TAM menggunakan subyek mahasiswa Penggunaan subyek
mahasıswa terutama mahasiswa S1 tidak sesuai merefleksikan dengan lingkungan
kerja yang sebenarnya.
13
6. Penelitian-penelitian TAM kebanyakan hanya meng- gunakan subyek tunggal sejenis
saja, misalnya hanya menggunakan sebuah organisasi saja, sebuah departemen saja,
alau sebuah kelompok mahasiswa tertentu saja misalnya mahasiswa MBA
Penggunaan subyek tunggal ini mempunyai kelemahan di validitas eksternal, yaitu
hasilnya tidak dapat digeneralisasikan lintas organisasi lainnya secara umum.
7. Penelitian-penelitian ini umumnya adalah penelitian cross sectional yang hanya
melibatkan waktu satu periode tetapi dengan banyak sampel individu Penelitian cross
sectional ini mempunyai kelemahan di validitas eksternal yang hasilnya tidak dapat di
generalisasikan lintas waktu.
8. Penelitian-penelitian TAM umumnya hanya meng- gunakan sebuah tugas semacam
saja. Kenyataannya teknologi yang digunakan dipakai untuk menyelesai- kan lebih
dari satu macam tugas.
9. Umumnya model penelitian TAM kurang dapat jelaskan sepenuhnya antar hubungan
(causation variabel-variabel di dalam model.
10. Tidak mempertimbangkan perbedaan kultur.
4.9. PENGUKURAN KONSTRUK-KONSTRUK
Untuk tujuan penelitian survei, item-item di daftar pertanyaan, untuk membentuk
konstruk-konstruk di dalam model, perlu dikembangkan Davis (1989) adalah orang pertama
yang membangun pengukuran-pengukuran konstruk konstruk di TAM. Untuk maksud ini,
Davis (1989) mengadakan penelitian untuk mencari pengukuran yang lebih baik dalam
memprediksi dan menjelaskan penggunaan (use) sistem teknologi informasi di model TAM
Investigasi penelitian ini difokuskan pada dua konstruk teoritis yaitu kegunaan persepsian
(perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceved ease of use) yang
secara teori merupakan penentu-penentu dasar dari penggunaan sistem Skala-skala
pengukuran banyak item untuk konstruk kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan
kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) dikembangkan di penelitian ini,
diuji dan divalidasi menggunakan dua studi empiris.
4.9.1. Teori yang Mendasari
Beberapa teori digunakan untuk membangun peng ukuran untuk konstruk kegunaan
persepsian (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of
use), yaitu teori keyakinan-sendiri (self-efficacy theory), paradigma biaya-manfaat (cost-
benefit paradigm), adopsi dari inovasi-inovasi (adoption of innovations), evaluasi dari
laporan- laporan informasi (evaluation of information reports), dan model disposisi kanal
(channel disposition model)
14
Teori Keyakinan-sendiri
Bandura (1982, hal. 122) mendefinisikan keyakınan-sendiri (self-efficacy) sebagai
pertimbangan-pertimbangan tentang seberapa baik seseorang dapat melakukan tindakan
tindakan yang dibutuhkan untuk menghadapi situasi-situası prospektit ("judgments of how
well one can execute courses of action required to deal with prospective situations. ")
Selanjutnya Bandura (1982) seperti dikutip di Harrison and Rainer (1992, hal 102)
mendefinisikan keyakinan-sendiri (self-efficacy) sebagai suatu estimasi dari kemampuan
seseorang untuk melakukan perilaku sasaran dengan berhasil ("an estimation of one's ability
to perform target behaviors successfully.")
Hong et al. (2002) mendefinisikan keyakinan-sendiri komputer (computer self-efficacy),
yang dikonsepsualisasikan berdasarkan teori self-efficacy sebagai suatu evalusi individual
tentang kemampuan kemampuannya meng gunakan komputer. Menurut Hong et al. (2002)
ini, dosen- dosen dengan derajad keyakinan-sendiri komputer (computer self-efficacy) yang
tinggi, kemungkinan besar akan mempunyai derajad yang tinggi pula dalam kemudahan
penggunaan persepsian (perceived ease of use).
Bandura (1982) membedakan antara pertimbangan keyakinan-sendiri (self-efficacy
judgment) dengan pertimbangan hasil (outcome judgment). Pertimbangan keyakinan-sendiri
(self-efficacy judgment) diteorikan berfungsi sebagai penentu dari perilaku. Pertimbangan
hasil (outcome judgment) ber- hubungan dengan seberapa jauh suatu perilaku jika di lakukan
dengan berhasil dipercaya berhubungan dengan hasil-hasilnya Variabel pertimbangan hasil
(outcome judgment) ini murip dengan kegunaan persepsian (perceived usefulness). Bandura
selanjutnya percaya bahwa perilaku (behavior) dapat diprediksi dengan baik oleh
kepercayaan keyakinan-sendiri (self-efficacy belief) dan kepercayaan hasil (outcome belief).
Selanjutnya riset-riset di bidang ini menglkan bahwa kemudahan penggunaan (ense of use)
dan kegunaan persepsian (percerved usefulness) berfungsi sebaga dasar dari penentu perilaku
pemakai (user belavior).
Paradigma Biaya Manfaat
Paradigma biaya manfaat (cost benefit paradigm) menjelaskan pilihan orang terhadap
banyaknya strategi- strategi pengambilan keputusan yang ada dalam bentuk fradeoff kognitif
antara usaha yang diperlukan untuk menerapkan strategi dan kualitas (akurasi) dari hasil
keputusan. Selain pengukuran obyektif untuk usaha dan akurası dari hasil keputusan,
pengukuran subyektif lebih digunakan Alasannya adalah sebagai berikut ini

15
1. Menurut Beach dan Mitchell (1978) suatu pilihan strategi yang dilakukan oleh pengambil
keputusan diteorikan berbasis pada usaha dan akurasi subyektif dibandingkan usaha dan
akurasi obyektifnya.
2. Riset lainnya (Abelson dan Levi, 1985) menunjukkan bahwa pengukur subyektif
kadangkala bertentangan dengan pengukuran obyektif. Jika dihubungkan maka perceived
ease of use adalah mirip dengan usaha (effort) dan perceived usefulness adalah mirip dengan
kinerja (performance) dari pengambilan keputusan subyektif.
Adopsi dari Inovasi-inovasi
Penelitian analisis-meta (meta-analysis) yang dilakukan oleh Tornatzky dan Klein (1982)
menemukan bahwa kompatibilitas (compatibility), keuntungan relatif (relative advantage),
dan kompleksitas (complexity) merupakan variabel-variabel yang konsisten signifikan
berhubungan dengan tipe-tipe inovasi Kompleksitas (complexity) di definisikan oleh Rogers
dan Shoemaker (1971, p. 154) sebagai seberapa besar suatu inovasi dipersepsikan sebagai
sesuatu yang secara relatif susah dipahami dan digunakan ("the degree to which an
innovation is perceved as relatively difficult to understand and use") Definisi inu
menunjukkan bahwa kompleksitas paralel dengan konstruk perceived ease of use.
Evaluasi dari Laporan-laporan Informasi
Penelitian sebelumnya mengenai evaluasi dari laporan-laporan informasi menyatakan
terdapat perbedaan antara kegunaan (usefulness) dan kemudahan penggunaan (ease of use).
Larcker dan Lessig (1980) melakukan analısis faktor untuk mencari faktor yang mengukur
tingkat laporan-laporan informasi. Faktor yang ditemukan adalah kepentingan persepsian
kemanfaatan persepsian (percerved usableness).
Faktor kepentingan persepsian (perceived mportance) didefinisikan oleh Larcker dan
Lessig (1980, p 123) sebagai kualitas yang menyebabkan suatu kumpulan informasi tertentu
membutuhkan relevansi kepada si pembuat keputusan ("the quality that causes a particular
information set to acquire relevance to a decision maker.") Kemanfaatan persepsian
(perceived usableness) didefinisikan sebagai seberapa tinggi suatu format informasi tidak
membingung- kan, jelas dan dapat dibaca ("the degree to which the information format is
unambiguous, clear or readable.")
Dua definisi ini menunjukkan bahwa bahwa faktor kepentingan persepsian (perceived
importance) mirip dengan kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan Kemanfaatan
persepsian (perceived usableness) mirip dengan kemudahan penggunaan persepsian
(perceinved ease of use) meskipun Larcker dan Lessig (1980) menunjukkan bahwa kedua
dimensi itu secara bersama-sama mengacu ke kegunaan persepsian (percerved usefulness).
16
Model Disposisi Kanal
Model disposisi kanal (channel disposition model) dikenalkan dan diui oleh Swanson (1987).
Model ini di- gunakan untuk menjelaskan pilihan dan penggunaan laporan-laporan informasi
(information reports). Model disposisi kanal (channel disposition model) mempunyai dua
komponen utama yaitu kualitas informasi atributan (attributed information quality) dan
kualitas akses atributan (attributed access quality). Dengan model ini, pemakai yang
potensial dihipotesiskan akan memilih dan menggunakan darilaporan-laporan informasi
berbasis pada frade off psikologis antara dua komponen model, yaitu antara kualitas dari
informasinya dan biaya yang berhubungan dengan meng- akses informasi tersebut.
Hasil penelitian Swanson (1987) ini menunjukkan bahwa konstruk kualitas informasi
atributan (attributed information quality) yang terdiri dari item-item: penting (important),
relevan (relevant), berguna (useful), dan bernilai (valuable) adalah paralel dengan konstruk
kegunaan persepsian (perceived usefulness). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa
konstruk kualitas akses atributan (attributed access quality) yang dibentuk dari item-item
kenyamanan (convenient), terkontrol (controllable), mudah (easy), dan keringanan
(unburdensome) adalah sesuai dengan konstruk kemudahan penggunaan persepsian
(perceived ease of use). Walaupun studi oleh Swanson (1987) ini lebih mengarah ke
eksploratori bukan konfirmatori dengan tidak menguji validitas dari konstruk-konstruknya,
tetapi hasil konstruk-konstruk mereka setuju bahwa terdapat perbedaan konsep antara
konstruk-konstruk kegunaan persepsian (perceved usefulness) dengan kemudahan
penggunaan persepsian (perceived ease of use).
Dari teori-teori yang didiskusikan dengan hasil-hasil risetnya menunjukkan adanya
kesesuaian hasil yang me nunjukkan bahwa kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan
kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) adalah penentu-penentu kunci
darn perilaku. Kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan
persepsian (perceived konstruk yang berbeda yang menentukan perilaku meng-gunakan
sistem teknologi informasi Penelitian Davis (1989) mencoba menemukan pengukuran yang
lebih baik untuk mengukur kedua konstruk pemahaman yang lebih mendetail sebagai peran
penentu- penentu penggunaan komputer ease of use) keduanya adalah dua ini supaya
didapatkan
4.9.2. Membangun Pengukuran Konstruk-Konstruk
Penelitian Davis (1989) ini merupakan contoh penelitian yang baik yang
menunjukkan bagaimana konstruk-konstruk dibangun. Suatu konstruk yang baik harus valid
dan reliabel. Valid artinya mengenai sasaran dan reliabel artinya konsisten. Untuk mencapai
17
validitas yang tinggi, konstruk-konstruk kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan
kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) di penelitian Davis (1989) ini
dilakukan dengan sangat hati-hati. Pertama konstruk-konstruk dibentuk dengan cara sebagai
berikut ini.
1. Pengukuran awal.
Pengukuran awal dilakukan dengan mengkaji penelitian-penelitian sebelumnya dan mengkaji
teori teori yang relevan untuk mendapatkan item-item yang membentuk konstruk yang
diinginkan, yaitu konstruk kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan konstruk
eemudahan penyggunaan perspsian (perceived ase of se) Hasil dari pengukuran awal ini
diperoleh 14 item untuk masing masing konstruk
2. Sebelum tes (pretest).
Sebelum tes (pretest) dilakukan dalam bentuk studi pilot (pilot study) melibatkan 15
partisipan untuk mengkonfirmasi item-item yang membentuk konstruk konstruk tersebut.
Hasil dari pretest ini adalah untuk membuang atau mengganti itern-item yang kurang cocok
membentuk konstruk-konstruk yang diinginkan Dari pretest ini diperoleh 10 item untuk
masing-masing konstruk
3. Validitas konstruk.
Setelah item-item ditentukan untuk membentuk konstruk maka item-item tersebut perlu diuji
validitasnya Validitas konstruk digunakan untuk menentukan item-item apa saja yang valid
membentuk konstruk-konstruk tersebut Dua buah studi dilakukan oleh Davis (1989) untuk
menguji validitas ini yang disebut dengan Studi 1 dan Studi 2 komponen-komponen prinsipal
(principal Analisis components analysis) kemudian dilakukan untuk menentu- kan item-item
mana yang dapat masuk membentuk suatu konstruk. Dari hasil analisis ini untuk Studi 1,
seluruh 10 item untuk masing-masing konstruk valid. Akan tetapi untuk Studi 2 hanya 6 item
yang valid untuk konstruk kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan juga 6 item yang
valid untuk konstruk kemudahan penggunaan persepsian (perceived case of use).
4. Realibilitas.
Setelah ditemukan 6 item valid untuk masing-masing konstruk, tahap berikutnya yang
dilakukan oleh Davis (1989) adalah menguji reliabilitasnya. Davis menggunakan nilai
Cronbach alpha untuk menguji kedua konstruksi tersebut. Hasilnya kedua konstruk
mempunyai reliabilitas yang sangat tinggi.
4.9.3 Hubungan dengan Penggunaan

18
Analisis regresi digunakan untuk melihat hubungan antara konstruk kegunaan persepsian
(perceived usefulness) dan konstruk kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of
use) dengan menggunakan prediksi sendiri.

19
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Model penerimaan teknologi (Technology Acceptance Model atau TAM)
merupakan suatu model penerimaan sistem teknologi informasi yang akan digunakan
oleh pemakai. Model penerimaan teknologi atau technology acceptance model (TAM)
dikembangkan oleh Davis et al. 1989 berdasarkan model TRA.
Model TRA dapat diterapkan karena keputusan yang dilakukan oleh individu untuk
menerima suatu teknologi sistem informasi merupakan tindakan sadar yang dapat
dijelaskan dan diprediksi oleh minta perilakunya. TAM menambahkan dua konstruk
utama ke dalam model TRA. Dua konstruk utama ini adalah kegunaan persepsian
(perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use).
TAM beragurgumentasi bahwa penerimaan individual terhadap sistem teknologi
informasi ditentukan oleh dua konstruk tersebut.

20