Anda di halaman 1dari 15

Laporan Praktikum Hari/Tanggal : Selasa, 3 September 2019

Biokimia Waktu : 11.00-13.00 WIB


PJP : Ukhradiya M Safira, SSi, MSi
Asisten : Danti Oktiana P
Ruhama K

PROTEIN I
(UJI MILLON, UJI HOPKINS-COLE, UJI NINHIDRIN, UJI BELERANG,
UJI XANTOPROTEAT, UJI BIURET)

Kelompok 1

M. Agri Pahlevi J3L118081


Muhammad Aprianto J3L118122
Anggie Yuan Ramadhani J3L118133
Lisa Wahyuni J3L218178
Ashif Adimas Saputro J3L218207

PROGRAM STUDI ANALISIS KIMIA


SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2019
PENDAHULUAN

Protein adalah sekelompok senyawa organik yang nyaris keseluruhannya


terdiri atas karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen. Protein biasanya suatu
polimer yang tersusun atas banyak sub-unit (monomer) yang dikenal sebagai asam
amino. Asam amino yang biasanya ditemukan dalam protein menunjukkan
struktur sebagai berikut (Fried dan Hademenos, 2006).
Protein merupakan makromolekul yang paling melimpah di dalam sel dan
menyusun lebih dari setengah berat kering pada semua organisme. Sebagai makro
molekul, protein merupakan senyawa organik yang mempunyai berat molekul
tinggi dan berkisar antara beberapa ribu sampai jutaan dan tersusun dari C, H, O
dan N serta unsur lainnya seperti S yang membentuk asam-asam amino. Semua
protein pada semua makhluk, dibangun oleh oleh susunan dasar yang sama, yaitu
20 macam asam amino baku yang molekulnya sendiri tidak mempunyai aktivitas
biologis sedang protein sebagai enzim dan hormon mempunyai fungsi khusus.
Disamping itu protein dapat berfungsi sebagai pembangun struktur,
sumber energi, penyangga racun, pengatur pH dan bahkan sebagai pembawa sifat
turunan dari generasi ke generasi (Patong 2012).
Melalui reaksi hidrolisis protein telah didapatkan 20 macam asam amino
yang dibagi berdasarkan gugus R-nya, berikut dijabarkan penggolongan tersebut :
asam amino non-polar dengan gugus R yang hidrofobik, antara lain Alanin, Valin,
Leusin, Isoleusin, Prolin, Fenilalanin, Triptofan dan Metionin. Golongan kedua
yaitu asam amino polar tanpa muatan pada gugus R yang beranggotakan Lisin,
Serin, Treonin, Sistein, Tirosin, Asparagin dan Glutamin. Golongan ketiga yaitu
asam amino yang bermuatan positif pada gugus R dan golongan keempat yaitu
asam amino yang bermuatan negatif pada gugus R. Dari ke-20 asam amino yang
ada, dijumpai delapan macam asam amino esensial yaitu valin, leusin, Isoleusin,
metionin, Fenilalanin, Triptofan, Treonin, dan Lisin. Asam amino essensial ini
tidak bisa disintesis sendiri oleh tubuh manusia sehingga harus didapatkan dari
luar seperti makanan dan zat nutrisi lainnya (Samadi,2012).
Fungsi dari protein itu sendiri yaitu sebagai bahan struktural dan sebagai
mesin yang bekerja pada tingkat molekular. Sedangkan protein struktural lain ada
juga yang berfungsi sebagai perekat, seperti kolagen (Hawab 2004). Percobaan
bertujuan menunjukan sifat dan struktur asam amino dan protein melalui uji-uji
kualitatif diantaranya uji Millon, Uji Hopkins-cole, uji Ninhidrin, Uji Belerang,
Uji Xantoproteat, dan Uji Biuret
H O
R C C
OH
NH2

Gambar Struktur asam amino


METODE

Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum ini dilakukan di Laboratarium GG KIM IPB. Waktu praktikum


yaitu hari Selasa tanggal 3 September 2019 pukul 11.00 - 13.00 WIB.

Bahan dan Alat

Alat-alat yang digunakan yaitu tabung reaksi, pipet tetes, rak tabung reaksi,
penangas air, pipet serologi 10 ml, labu semprot plastik, bulb, kaki tiga, kasa
asbes, gelas piala, pembakar bunsen, dan gegep kayu. Sedangkan bahan-bahan
yang digunakan ialah sampel albumin, gelatin, kasein, pepton, fenol dengan
konsentrasi masing-masing 2 %, pereaksi Millon, pereaksi Hopkins-Cole, Asam
sulfat pekat, pereaksi Ninhidrin, NaOH 10%, Pb-asetat 5 %, HNO3 pekat, CuSO4
0,1 % dan air suling.
.
Prosedur Penelitian

Uji Millon
Pereaksi Millon ditambahkan sebanyak 3 tetes ke dalam tabung reaksi
yang telah diisi oleh larutan protein yang akan diuji sebanyak 3 mL, kemudian
campuran dipanaskan baik-baik di atas penangas air. Perubahan warna yang
terjadi diamati dan apabila berubah menjadi warna merah menandakan positif
mengandung tirosin.

Uji Hopkins-Cole
Larutan uji dipipet 2 ml ke dalam tabung reaksi, lalu ditambah 2 ml pereaksi
Hopkins-Cole. Kemudian 3 ml H2SO4 pekat melalui dinding tabung reaksi dengan
cara dimiringkan. Perubahan kimia diamati, adanya cincin violet merupakan
reaksi positif.

Uji Ninhidrin
Larutan uji dipipet 3 ml ke dalam tabung reaksi, lalu ditambah 0,5 ml
pereaksi Ninhidrin 0,1 %. Kemudian tabung berisi campuran larutan dimasukkan
ke dalam penangas air yang telah mendidih, ditunggu sekitar 10 menit. Hasil
perubahan diamati, reaksi positif ditunjukkan dengan perubahan warna menjadi
biru keunguan.

Uji Belerang
Larutan protein sebanyak 2 ml ditambahkan 5 ml NaOH 10% dan
dididihkan beberapa menit. Larutan Pb asetat 5% sebanyak 4 tetes ditambahkan
pada larutan kemudian dilanjutkan pemanasan beberapa menit lalu diamati warna
yang terjadi.
Uji Xantoproteat
Larutan protein 2 ml ditambahkan 1 ml HNO3 pekat lalu dicampurkan
baik-baik dan dipanaskan secara hati-hati lalu diperhatikan timbulnya warna
kuning tua. Selanjutnya, tabung didinginkan dan ditambahkan tetes demi tetes
larutan NaOH pekat sampai larutan menjadi basa. Perubahan warna yang terjadi
diamati.

Uji Biuret
Larutan NaOH 10% sebanyak 1 ml ditambahkan kedalam 3 ml larutan
protein, dan dikocok. 1 tetes larutan CuSO4 0,1% ditambahkan hingga timbul
perubahan warna lalu dikocok.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Uji millon

Uji Millon dilakukan untuk menguji adanya asam amino dalam satu
senyawa. Uji millon digunakan untuk mengidentifikasi protein yang memiliki
gugus tirosin. Hasil dari pengujian uji millon disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Uji millon


Sampel Hasil Perubahan Warna Gambar

Tidak Berwarna -
Albumin 2% + Terbentuk endapan
kuning

Tidak berwarna –
Gelatin 2% -
Kuning seulas

Tidak Berwarna –
Merah Seulas dan
Kasein 2% +
Terbentuk sedikit
endapan merah bata

Kuning bening –
Pepton 2% -
Kuning pekat

Tidak Berwarna –
Fenol 2% +
Merah Bata

Keterangan : ( + ) Mengandung tirosin yang ternitrasi, ( - ) Tidak mengandung tirosin.


Pengujian tirosin dalam suatu senyawa ditandai dengan terbentuknya
kompleks berwarna merah pada sampel protein. Tirosin merupakan gugus R dari
asam amino yang polar larut dalam air atau lebih hidrofilik dibandingkan dengan
asam amino yang lainnya (Lehninger 1982) serta tirosin merupakan asam amino
yang mengandung gugus hidroksifenil (Fenol) mengalami nitrasi dengan pereaksi
Millon yang mengandung ion merkuri/merkuro dalam asam nitrat/nitrit yang akan
membentuk kompleks merah (Poedjiadi 2007 ).

Gambar 1 Reaksi uji Millon

Uji ini dilakukan pada senyawa albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton
2%, dan fenol 2%. Mekanisme uji Millon dimulai saat sampel dan pereaksi Millon
dicampurkan kemudian terjadi reaksi. HNO3 akan bereaksi dengan sampel. Reaksi
tersebut adalah reaksi nitrasi dimana terjadi substitusi atom H- dengan NO2, maka
akan menghasilkan endapan berwarna putih dan dapat berubah menjadi endapan
berwarna merah jika dipanaskan. Endapan tersebut berasal dari endapan merkuri,
pada awalnya Hg yang terlarut dalam HNO3 teroksidasi menjadi Hg+. Ion ini
kemudian akan membentuk garam dengan gugus karboksil dari tirosin.
Pada saat pemanasan berfungsi untuk membuat protein mengalami
denaturasi atau kerusakan, sehingga diharapkan molekul protein yang terjadi dari
banyak polipeptida dapat terputus menjadi molekul-molekul penyusunnya yang
lebih kecil, sehingga hal ini dapat mempercepat reaksi. Berdasarkan hasil
percobaan fenol 2% menjadi kontrol positif karena mengahasilkan endapan
berwarna merah. Secara teoritis albumin dan kasein mengandung asam amino
tirosin, sedangkan gelatin dan pepton tidak mengandung tirosin. Hasil yang
didapatkan sesuai dengan literature. Untuk percobaan terhadap albumin 2%
menghasilkan endapan kuning dan pada kasein 2% juga menghasilkan endapan
tetapi berwarna merah. Keduanya menghasilkan endapan yang sangat sedikit.
Terbentuknya endapan tersebut menandakan bahwa kedua larutan sampel protein
positif mengandung gugus tirosin sesuai dengan literature yang ada. Pada
percobaan terhadap pepton 2% dan gelatin 2%, larutan sampel protein tidak
terbentuk endapan merah. Hal ini menandakan bahwa sampel negative
mengandung gugus tirosin. Sesuai dengan literature yang ada bahwa pepton dan
gelatin memang tidak mengandung gugus tirosin.
Tirosin Yunani tyros, (dari bahasa yang berarti keju, karena ditemukan
pertama kali dari keju). la memiliki fenol satu gugus (fenil dengan satu tambahan
gugus hidroksil). Bentuk umum adalah L-tirosin (S-tirosin), yang juga ditemukan
dalam tiga struktur: para, meta, dan orto. Pembentukan tirosin menggunakan
bahan baku fenilalanin oleh enzim Phe-hidroksilase. Enzim ini hanya membuat
para-tirosina. Dua isomer yang terletak membentuk "serangan" dari radikal bebas
pada kondisi oksidatif tinggi (keadaan stres). Fungsi biologi dan keschatan:
Dalam transduksi sinyal, tirosina memiliki peran kunci dalam pengaktifan
beberapa cnzim tertentu melalui proses fosforilasi (membuat fosfotirosina). ( Sari
dan Indah 2007 )

Gambar 2 Struktur Tirosin

Salah satunya faktor kesalahan yang dapat terjadi adalah human error,
seperti terlalu cepat memasukkan larutan pada penangas air yang belum cukup
tinggi suhunya, kesalahan terhadap alat yang mungkin belum dalam keadaan
bersih pada saat pencucian sehingga terkontaminasi dengan senyawa lain. Faktor
kesalahan lain yaitu bahan yang digunakan penyimpanannya sudah terlalu lama
sehingga dapat mempengaruhi hasil percobaan.

Uji Hopkins-Cole

Uji Hopkins-Cole spesifik pada protein yang mengandung asam amino


triptofan. Triptofan merupakan salah satu asam amino esensial yang tidak bisa
diproduksi sendiri oleh tubuh. Gugus fungsional triptofan adalah indol, yang tidak
dimiliki oleh asam amino lainnya membuat triptofan menjadi prekursor dari
banyak senyawa penting tubuh seperti melatonin (hormon perangsang tidur),
serotonin (Suatu transfer pada sistem saraf) dan niasin (suatu vitamin) (Rudini dan
Ayustaningwarno 2013). Triptofan banyak dikandung oleh cokelat, durian,
mangga, telur dan kacang. Hasil dari pengujian Hopkins-Cole disajikan pada
Tabel 2.
Tabel 2 Uji hopkins-cole
Bahan uji Hasil Perubahan warna Gambar

Tidak berwarna –
Albumin 2% + tebentuk cincin
ungu

Tidak berwarna –
Gelatin 2% -
tidak berwarna

Tidak berwarna –
Kasein 2% + terbentuk cincin
ungu

Kuning bening -
Pepton 2% + terbentuk cincin
ungu

Tidak berwarna -
Fenol 2% + terbentuk cincin
ungu

Keterangan : (+) = Mengandung triptofan, (-) = Tidak mengandung triptofan

Prinsip pengujian ini adalah triptofan akan berkondensasi dengan aldehid.


Untuk mengetahui apakah terdapat asam amino, sampel direaksikan dengan
pereaksi Hopkins-Cole mengandung asam glioksilat (HgSO4), lalu ditambahkan
asam pekat, asam yang digunakan yaitu asam sulfat pekat (HSO4 (p)) sehingga
dapat membentuk kompleks berwarna ungu, fungsi asam ini hanya sebagai
oksidator dalam sebuah reaksi (Indrawan et al 2016).
Hasil positif ditunjukkan bila terbentuk cincin ungu pada pertemuan kedua
lapisan cairan tersebut. Berdasarkan hasil pengujian terdapat hasil negatif pada uji
hopkins-cole, yaitu gelatin. Gelatin tidak memiliki gugus indol, hal ini sesuai
dengan literatur. Ananda menyatakan “Hasil uji Hopkins-Cole test pada gelatin
dinyatakan negatif (-) kandungan asam amino triptofan karena tidak terdapat
cincin ungu pada larutan uji” (Ananda 2018). Dibandingkan dengan bahan uji
yang lain mengandung gugus indol sehingga dapat berkondensasi dengan aldehid
(Ngili 2009). Pada Tabel 2. cincin ungu yang diperoleh sudah ada yang
terhomogenkan dengan semua cairan yang ada pada tabung reaksi, hal ini terjadi
karena adanya gerakan yang menyebabkan tabung reaksi bergerak. Gambar 3 dan
4 merupakan struktur indol dan persamaan reaksi antara triptofan dengan asam
glioksilat.

Gambar 3 Gugus indol (Yuwono 2010)

Gambar 4 Persamaan reaksi triptofan dengan asam glioksilat (Kusuma


2001)

Fenol digunakan sebagai acuan perbandingan positif bagi bahan uji yang
lain karena pada fenol terdapat gugus yang mudah tereduksi, sehingga fenol
dianggap tepat digunakan sebagai acuan positif suatu reaksi.

Uji Ninhidrin

Ninhidrin merupakan oksidator kuat yang bereaksi dengan gugus amina dari
senyawa asam amino pada pH 4-8 menghasilkan senyawa hasil ikatan antara
hidrindantin dan ninhidrin melalui jembatan nitrogen yang bewarna ungu. Prolin
dan hidroksiprolin yang gugus aminonya tersubtitusi, memberikan hasil reaksi
lain yang berwarna kuning. Reaksi ninhidrin dapat dipakai untuk penentuan
kuantitatif asam amino dengan cara spektrometri (Agustina dan Kurniasih 2013).
Mekanisme reaksi antara amina dengan ninhidrin dapat dilihat dari persamaan
reaksi pada gambar 5 di bawah ini:
Gambar 5 Mekanisme reaksi amina dengan ninhidrin

Berikut hasil pengujian uji ninhidrin yang disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Uji Ninhidrin


Sampel Hasil Perubahan warna Gambar

Albumin
+ Tidak berwarna -Ungu
2%

Gelatin 2% + Tidak berwarna - Ungu

Kasein 2% + Tidak berwarna - Kuning

Pepton 2% + Kuning bening - Ungu pekat

Keterangan : (+) = Mengandung asam amino, (-) = Tidak mengandung asam amino.

Berdasarkan Tabel 3. dapat diketahui bahwa semua sampel mengandung


asam amino. Hal tersebut diindikasikan dengan perubahan warna saat direaksikan
dengan ninhidrin menghasilkan warna ungu untuk sampel albumin, gelatin,
pepton dan warna kuning untuk sampel kasein.

Uji Belerang

Penambahan NaOH pada uji belerang bertujuan untuk mendenaturasi


protein sehingga ikatan yang menghubungkan atom S (asam amino sistein) akan
terurai menjadi ion sulfida dan ditambahkan Pbasetat membentuk PbS.
Penambahan Pbasetat bertujuan untuk membentuk garam berwarna hitam.
Pemanasan dilakukan untuk mempercepat pembentukan garam tersebut. Garam
yang dihasilkan yaitu garam PbS yang berwarna hitam. Garam ini terbentuk
dalam suasana basa dan berasal dari sulfur (belerang) pada molekul sistein yang
bereaksi dengan Pb-asetat (Silaban et al 2014). Hasil pengujian uji belerang
disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 Uji Belerang


Sampel Hasil Perubahan Warna Gambar

Tidak terjadi perubahan


Albumin 2% -
warna

Tidak terjadi perubahan


Gelatin 2% -
warna

Tidak terjadi perubahan


Kasein 2% -
warna

Tidak terjadi perubahan


Pepton 2% -
warna

Keterangan : (+) = Mengandung belerang, (-) = Tidak mengandung belerang

Hasil percobaan menunjukkan bahwa pembentukan garam PbS pada


semua sampel bereaksi negatif dengan tidak terjadinya perubahan warna pada saat
ditambahkan Pb-asetat dalam keadaan dipanaskan. Menurut literatur, asam amino
yang nmengandung sulfur ialah sistein, sistin dan metionin (Silaban et al 2014).
Sehingga pengujian berhasil dan sesuai dengan literatur.
Uji Xantoproteat

Uji xantoproteat membuktikan adanya asam amino torisin, triptofan, atau


fenilalanin yang terdapat dalam protein. Jika protein yang mengandung cincin
benzena (tirosin, triptofan, dan fenilalanin) ditambahkan asam nitrat pekat, maka
akan terbentuk endapan putih yang dapat berubah menjadi kuning sewaktu
dipanaskan. Fungsi pemanasan secara umum untuk mempercepat reaksi dengan
mekanisme denaturasi protein atau membuat proterin rusak, sehingga diharapkan
molekul protein yang terjadi dari banyak polipeptida dapat terputus menjadi
molekul-molekul penyusunnya yang lebih kecil, sehingga dapat mempercepat
reaksi. Hasil pengujian uji xantoproteat disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 5 Uji xantoproteat


Sampel Hasil Perubahan Warna Gambar

Tidak terjadi
Albumin 2% -
perubahan warna

Tidak terjadi
Gelatin 2% -
perubahan warna

Tidak berwarna –
Kasein 2% +
orange

Kuning bening –
Pepton 2% +
orange

Tidak berwarna –
Fenol 2% +
orange kehijauan

Keterangan: (+) = mengandung inti benzena, (-) = tidak mengandung inti benzena

Gambar 6 Reaksi Uji Xantoproteat


Dalam percobaan ini sema sampel menghasilkan uji yang positif terhadap
reagen xantropoteat yang ditandai dengan terbentuknya kompleks berwarna
kuning tua/kuning muda ketika berada dalam suasana asam (ditambahkan HNO3)
dan terbentuk kompleks berwarna jingga/kuning ketika berada dalam suasana basa
(ditambahkan NaOH) (Poedjiadi 2007). Fungsi penambahan HNO3 adalah
sebagai penyebab terjadinya reaksi nitrasi karena inti benzena dari asam amino
akan bereaksi dengan HNO3 dan menghasilkan campuran berwarna kuning
(Girindra 1986).

Gambar 7 Struktur Asam Amino Mengandung Inti Benzena

Berdasarkan hasil pengamatan pada (Tabel 5) larutan protein yang


menujukkan uji positif ialah kasein dan pepton. Hal ini menunjukkan bahwa
dalam kedua zat uji tersebut terdapat asam amino yang mengandung inti benzene
yaitu tirosin, fenilalanin, dan triptofan. Sedangkan, albumin dan gelatin
menunjukkan hasil negatif karena tidak mengalami perubahan warna menjadi
kuning. Hal ini, tidak sesuai dengan fenol sebagai kontrol positif yang
menghasilkan warna kuning.
Bentuk yang umum pada mamalia adalah, seperti asam amino lainnya, L-
triptofan. Sedangkan di alam ditemukan dalam bentuk D-triptofan. Gugus
fungsional yang dimiliki triptofan, indol, tidak dimiliki asam-asam amino dasar
lainnya. Akibatnya, triptofan menjadi prekursor banyak senyawa biologis penting
yang tersusun dalam kerangka indol. Triptofan adalah precursor melatonin
(hormon perangsang tidur), serotonin (suatu transmiter pada sistem saraf) dan
niasin.
Tirosin (dari bahasa Yunani tyros, berarti keju, karena ditemukan pertama
kali dari keju). Ia memiliki satu gugus fenol (fenil dengan satu tambahan
gugus hidroksil). Bentuk yang umum adalah L-tirosin (S-tirosin), yang juga
ditemukan dalam tiga isomer struktur: para, meta, dan orto. Fungsi biologi dan
kesehatan : Dalam transduksi signal, tirosina memiliki peran kunci dalam
pengaktifan beberapa enzim tertentu melalui proses fosforilasi (membentuk
fosfotirosina).
Fenilalanin adalah suatu asam amino penting, yang bersama-sama dengan
asam amino tirosin dan triptofan merupakan kelompok asam amino aromatik yang
memiliki cincin benzena. Fenilalanin bersama-sama dengan taurin dan triptofan
merupakan senyawa yang berfungsi sebagai penghantar atau penyampai pesan
(neurotransmitter) pada sistem saraf otak
Uji Biuret

Biuret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk


pada pemanasan dua molekul urea. Komposisi dari reagen ini adalah senyawa
kompleks yang mengandung unsur karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), dan
nitrogen (N) dan merupakan hasil reaksi antara dua senyawa urea (CO(NH2)2). Uji
biuret digunakan untuk mendeteksi adanya ikatan peptida yang diperoleh hasil
reaksi berupa warna ungu pada larutan yang menunjukkan adanya protein. Hasil
pengujian uji biuret disajikan dalam Tabel 6.

Tabel 6 Uji biuret


Perubahan
Sampel Hasil Gambar
Warna

Albumin 2% + Ungu

Gelatin 2% + Ungu

Kasein 2% + Ungu

Pepton 2% - Kuning

Keterangan : (+) = Dapat membentuk senyawa komples, (-) = Tidak dapat membentuk senyawa kompleks.

Berdasarkan data diatas, diperoleh hasil bahwa albumin, gelatin, dan


kasein menunjukkan uji positif mengandung ikatan peptida. Sedangkan pepton
tidak mengalami perubahan warna sehingga tidak mengandung ikatan peptida.
Hal ini sesuai literatur, karena kasein terdiri dari tirosin dan triptofan yang
mengandung ikatan peptida. Semakin pekat warna ungu yang terbentuk
menandakan semakin banyaknya ikatan peptida pada suatu sampel.
Dalam suasana basa, ion Cu2+ yang berasal dari pereaksi biuret (CuSO4)
akan bereaksi dengan gugus –CO dan – NH dari rantai peptida yang menyusun
protein membentuk kompleks berwarna violet. Untuk membuat CuSO4 dalam
suasana basa, maka ditambahkan reagen basa berupa NaOH. Dipeptida dan asam-
asam amino (kecuali histidina, serina dan treonina) tidak memberikan uji positif
pada uji biuret. Beberapa protein yang mempunyai gugus –CS-NH-, -CH-NH-
dalam molekulnya juga memberikan tes warna positif dengan biuret. (Putri A et al
2016)
Larutan CuSO4 yang bersifat basa bereaksi dengan polipeptida, sedangkan
polipeptida merupakan penyusun protein. Yang menandakan adanya protein yaitu
terdapat ikatan peptida yang lebih banyak, hal itu terbukti saat
penambahan larutan CuSO4 dan dikocok larutan tetap berwarna ungu yang
menandakan bahwa ikatan peptidanya kuat, karena apabila ikatan peptidanya
lemah saat larutan protein ditambahkan larutan CuSO4, warna ungunya akan
memudar saat dikocok.

Gambar 1 Reaksi Uji Biuret

Gambar 8 Reaksi Uji biuret

SIMPULAN

Dalam semua uji, bahan yang diuji memiliki sifat dan struktur yang
berbeda. Sehingga setiap bahan uji memiliki reaksi yang berbeda-beda pula pada
setiap ujinya. Untuk uji Millon, bahan yang positif mengandung tirosin yaitu
albumin, kasein, dan fenol sebagai kontrol positif. Uji Hopkins-cole, bahan yang
positif mengandung triptofan yaitu albumin, kasein, pepton dan fenol sebagai
kontrol positifnya. Uji Ninhidrin, bahan yang positif mengandung gugus karboksil
dan gugus asam amino bebas yaitu albumin, kasein, gelatin, pepton. Uji Belerang,
semua bahan uji negatif mengandung sulfur (belerang). Uji Xantoproteat, bahan
yang positif mengandung inti benzena yaitu kasein, pepton dan fenol sebagai
kontrol positif. Serta uji Biuret, bahan yang positif membentuk senyawa
kompleks yaitu albumin, gelatin dan kasein.

SARAN

Ketika proses pemanasan perlu diperhatikan lagi estimasi waktunya,


karena dalam percobaan ini waktu yang dibutuhkan lebih lama dibandingkan
waktu yang seharusnya serta praktikan harus lebih berhati-hati karena pada
percobaan menggunakan asam pekat.
DAFTAR PUSTAKA

Agustina S, Kurniasih Y. 2013. Pembuatan kitosan dari cangkang udang dan


aplikasinya sebagai adsorben untuk menurunkan kadar logam Cu. Seminar
Nasional FMIPA UNDIKSHA III 3(1).
Ananda AR, Triastuti RJ, Andriyono S. 2018. Isolasi dan Karakterisasi Gelatin
dari Teripang (Phyllophorus sp.) dengan Metode Ekstraksi Berbeda. Journal
of Marine and Coastal Science 7(1).
Fried GH dan Hademenos GJ. 2006. Schaum’s Outlines Biologi Edisi Kedua.
Jakarta (ID): Erlangga.
Girindra A. 1986. Biokimia I . Jakarta (ID): Gramedia.
Hawab HM. 2004. Pengantar Biokimia. Jakarta (ID): Bayu Media Publishing
Indrawan MR, Agustina R, Rijai L. 2016. Ekstraksi Gelatin dari Kaki Ayam
Broiler Melalui Berbagai Larutan Asam dan Basa Dengan Variasi Lama
Perendaman. Journal Trop Pharm Chem 3(4)
Kusuma MW. 2001. Biokimia: Protein, Enzim dan Asam Nukleat. Bandung (ID):
ITB.
Lehninger AL. 1990. Dasar-Dasar Biokimia. Thenawidjaja, penerjemah. Jakarta
(ID) : Erlangga. Terjemahan dari : Basic of Biochemistry.
Ngili Y. 2009. Biokimia Struktur & Fungsi Biomolekul. Yogyakarta (ID) : Graha
Ilmu.
Patong AR. 2012. Biokimia Dasar. Makassar (ID): Lembah Harapan Press.
Poedjiadi. 2007. Dasar-Dasar Biokimia. Edisi Revisi. Jakarta (ID): UI Press
Putri A, Yuliet, Jamaluddin. 2016. Analisis kadar albumin ikan sidat (Anguilla
marmorata dan Anguilla bicolor) dan uji aktivitas penyembuhan luka
terbuka pada kelinci (Oryctolagus cuniculus). Journal of Pharmacy 2(2): 90-
95
Rudini B, Ayustaningwarno F. 2013. Kadar Protein, Triptofan dan Mutu
Organoleptik Kudapan Ekstrusi Jagung Dengan Substitusi Kedelai. Journal
of Nutrition College 2(3): 373-381.
Samadi, 2012, Konsep Ideal Protein (Asam Amino) Fokus pada Ternak Ayam
Pedaging. Jurnal Penelitian 12 (2): 42-48.
Sari, Indah M. 2007. Struktur Protein. Medan (ID) : Universitas Sumatera Utara.
Silaban R, Hutapea V, Manullang R, Alexander IJ. 2014. Pembuatan minyak
kelapa murni (virgin coconut oil, VCO) melalui kombinasi teknik
fermentasi dan enzimatis menggunakan getah pepaya. Jurnal Pendidikan
Kimia. 6(2): 55-64.
Yazid E, Nursanti L. 2006. Penuntun Praktikum Biokimia Untuk Mahasiswa
Analisis. Yogyakarta (ID): Andi Yogyakarta.