Anda di halaman 1dari 19

PERMINTAAN UANG, TINGKAT BUNGA EKUILIBRIUM DAN KEBIJAKAN

MONETER

MAKALAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Ekonomi Makro

Yang dibina oleh Ibu Umi Nuraini, M.Pd.

Oleh :

Alfin Laila 180421621547

Beta G.T. 180421621587

UNIVERSITAS NEGEERI MALANG

FAKULTAS EKONOMI

JURUSAN AKUNTANSI

2019
KATA PENGANTAR

Kami mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karuniaNya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan
judul “Permintaan Uang, Tingkat Bunga Ekuilibrium dan Kebijakan Moneter”. Makalah ini
kami susun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Pengantar Ekonomi Makro, diharapkan
dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Kami memohon maaf apabila banyak kekurangan, karena kami menyadari dalam
penyusunan makalah masih jauh dari sempurna. Maka dari itu, kami mengharapkan kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun sebagai evaluasi menjadi lebih baik
kedepannya.

Malang, 9 Oktober 2019

Penyusun

i
Halaman

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i


DAFTAR ISI..................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................ 1
C. Tujuan Penulisan .............................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Permintaan Uang ............................................................................ 3
B. Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Uang ................................................ 4
C. Permintaan Total atas Uang ............................................................................. 7
D. Volume Transaksi dan Tingkat Harga.............................................................. 7
E. Tingkat Bunga Ekuilibrium .............................................................................. 8
F. Bank Sentral dan Kebijakan Moneter .............................................................. 9
G. Analisis Kasus ................................................................................................ 12

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan..................................................................................................... 15
B. Saran ............................................................................................................... 15

DAFTAR RUJUKAN ..................................................................................................... 16

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam setiap pembahasan mengenai permintaan uang perlu diperjelas mengenai


definisi uang. Hal ini mengingat adanya banyak defini mengenai uang. Dalam hal ini,
uang didefinisikan sebagai alat tukar (medium of exchange), yaitu suatu barang atau
kekayaan rill yang secara umum dapat diterima sebagai pembayaran. Uang juga
dipergunakan sebagai penyimpan nilai dan sebagai alat pengukur, atau secara ringkasnya
bisa dinyatakan dalam satuan uang.

Dalam perekonomian Indonesia, permasalahan suku bunga (domestik) merupakan


indikator makro yang sangat penting. Bank adalah lembaga intermediasi yang banyak
dikenal masyarakat Indonesia yang dapat membantu memperlancar aktivitas ekonomi
melalui jasa yang disediakan. Di Indonesia sendiri kebijakan moneter diatur tunggal oleh
Bank sentral yaitu Bank Indonesia. Bank memiliki peran penting terhadap perekonomian
nasional, sehingga upaya menjaga stabilitas sektor perbankan tetap dilakukan agar
keberadaan bank mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat Indonesia. Sektor
moneter mempunyai peranan penting, bukan hanya sebagai perantara finansial tetapi
juga sebagai pihak yang membatasi, menilai dan mendistribusikan resiko yang dihadapi.

B. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud permintaan uang ?
b. Faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi permintaan uang ?
c. Apa yang dimaksud permintaan total atas uang ?
d. Bagaimana volume transaksi dan tingkat harga dapat mempengaruhi permintaan
uang ?
e. Bagaimana menentukan tingkat bunga ekuilibrium ?
f. Apa yang dimaksud bank sentral dan kebijakan moneter ?

1
C. Tujuan
a. Memahami pengertian permintaan uang
b. Mengetahui apa saja faktor – faktor yang mempengaruhi permintaan uang
c. Memahami pengertian dari permintaan total atas uang
d. Memahami pengaruh volume transaksi dan tingkat bunga terhadap permintaan uang
e. Dapat menentukan tingkat bunga ekuilibrium
f. Memahami pengertian bank sentral dan kebijakan moneter

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Permintaan Uang

Konsep permintaan uang pada dasarnya mengandung makna sebagai suatu keinginan
masyarakat agar dapat mewujudkan sebagian dari pendapatannya dalam bentuk uang
kas. Kemampuan uang sebagai alat tukar terhadap suatu barang dapat memberikan
gambaran terkait laju peredaran uang dalam masyarakat. Sedangkan laju peredaran uang
merukapan bagian penting dari kelancaran suatu kegiatan ekonomi. Permintaan uang
adalah jumlah uang yang ingin dipegang oleh masyarakat dan perusahaan secara
keseluruhan. Permintaan uang merupakan total permintaan uang dari seluruh rumah
tangga dan perusahaan dalam sebuah perekonomian.

Menurut pandangan ekonom klasik, uang hanya berfungsi sebagai alat tukar. Oleh
karena itu, jumlah uang yang diminta berbanding secara proporsional dengan tingkat
pendapatan masyarakat dalam suatu perekonomian. Artinya, jika tingkat pendapatan
masyarakat meningkat, maka permintaan uang juga meningkat, begitu juga sebaliknya.
Semakin tinggi tingkat pendapatan, maka semakin tinggi pula permintaan terhadap uang.
Jumlah uang yang dipegang oleh masyarakat tidak semata-mata menunjukkan nilai
nominalnya, tetapi juga mencerminkan nilai daya belinya. Daya beli adalah nilai nominal
dibandingkan dengan tingkat harga atau real money balances. Karena uang hanya
berfungsi sebagai alat tukar, maka uang bersifat netral (money neutrality). Ini artinya
uang hanya berpengaruh terhadap tingkat harga. Pernyataan ini dikemukakan oleh
ekonom bernama Irving Fisher. Pendapat Irving Fisher dikenal dengan teori kuantitas
uang klasik atau classical quality of money. Persamaan teori kuantitas uang klasik dapat
diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut :

MV = PT

M = penawaran uang (Money Supply)

V = laju peredaran uang (Velocity of Money)

3
P = harga (Price)

T = jumlah barang-barang dan jasa yang diperjualbelikan (Trading)

B. Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Uang


Ekonom Inggris bernama John Maynard Keynes (1883-1946) menyatakan bahwa
permintaan terhadap uang atau demand for money atau yang disebut sebagai preferensi
likuiditas, dipengaruhi oleh tiga motif, yaitu :
1. Motif transaksi

Salah satu motif masyarakat untuk memegang uang adalah agar dapat melakukan
transaksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan tersebut berjalan secara
terus-menerus, sedangkan penerimaan pendapatannya terjadi secara berkala, misalnya
seminggu sekali, atau sebulan sekali. Terdapat perbedaan waktu antara penerimaan dan
pengeluaran merupakan alasan atau pertimbangan masyarakat untuk meminta atau
memegang atau memiliki uang setiap saat. Motif transaksi yaitu motif untuk melakukan
kegiatan transaksi perdagangan seperti tukar menukar barang atau membeli barang
kebutuhan pokok. Besarnya permintaan uang dengan motif transaksi sangat tergantung
pada tingkat pendapatan seseorang. Artinya semakin besar tingkat pendapatan yang
dihasilkan, maka jumlah uang diminta untuk transaksi juga mengalami peningkatan
demikian sebaliknya. Dengan demikian fungsi permintaannya adalah :

MDt = f(Y)

Mt = kebutuhan transaksi

F(Y) = fungsi pendapatan

Alasan utama memegang uang ketimbang aset berbunga adalah uang bermanfaat
untuk membeli berbagai hal. Para ekonom menyebut hal ini motif transaksi. Logika
memegang uang memerlukan beberapa asumsi penyederhanaan. Pertama, diasumsikan
hanya ada dua jenis aset yang tersedia bagi rumah tangga yaitu obligasi dan uang.
“Obligasi” berarti surat berharga berbunga dari segala jenis. “Uang” berarti uang kartal
yang beredar dan dalam simpanan, dan tidak ada yang menghasilkan bunga. Kedua,

4
diasumsikan bahwa pendapatan rumah tangga sudah ditumpuk. Pendapatan datang satu
kali dalam satu bulan, yaitu pada awal bulan. Belanja, sebaliknya yaitu tersebar dari
waktu ke waktu yang berarti belanja terjadi pada tingkat yang sepenuhnya seragam
sepanjang bulan, yakni jumlah yang sama dibelanjakan setiap hari. Ketidak sepadanan
antara waktu aliran uang masuk pada rumah tangga dan waktu uang keluar untuk belanja
rumah tangga disebut ketidaksinkronan pendapatan dan belanja.

2. Motif Berjaga – jaga

Motif berjaga-jaga yaitu motif menyimpan uang untuk kegiatan berjaga-jaga atau
untuk membiayai sesuatu yang tidak terencana atau terduga. Motif tersebut terjadi akibat
terdapatnya ketidakpastian di waktu yang akan datang. Ketidakpastian ini dapat dianggap
sebagai suatu kondisi darurat atau munculnya kesempatan-kesempatan lainyang tidak
dapat diperkirakan sebelumnya. Masyarakat menjadi perlu memegang sejumlah uang
agar selalu dapat menghadapi ketidakpastian tersebut. Kebutuhan untuk berjaga-jaga ini
cenderung meningkat dengan meningkatnya pendapatan. Dengan tingkat pendapatan
yang lebih tinggi, masyarakat dapat menghadapi kemungkinan timbulnya kesempatan-
kesempatan lain yang lebih besar, walaupun dengan resiko yang lebih besar juga. Oleh
sebab itu, bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi, kebutuhan memegang uang
untuk memenuhi motif berjaga-jaga cenderung lebih tinggi. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa permintaan untuk motif transaksi maupun tuk berjaga-jaga merupakan
fungsi yang berkorelasi positif terhadap pendapatan, yaitu bahwa jumlahnya tergantung

5
kepada tingkat pendapatan masyarakat. Jadi dapat diformulasikan dengan persamaan
sebagai berikut :

M1 = MDt + MDp = f(Y)

M1 = permintaan uang untuk motif transaksi dan berjaga-jaga

MDt = permintaan uang dengan motif transaksi


MDp = permintaan uang dengan motif berjaga-jaga
f(Y) = fungsi pendapatan

3. Motif Spekulasi

Motif spekulasi merupakan motif memegang uang dengan cara menyimpannya


dalam bentuk surat-surat berharga, seperti saham dan obligasi. Salah satu alasan
memegang obligasi dan bukan uang karena nilai pasar obligasi berbunga berhubungan
terbalik dengan tingkat bunga, para investor mungkin bersedia memegang obligasi ketika
tingkat bunga tinggi dengan harapan menjualnya ketika tingkat bunga turun. Hal ini
berbeda dengan dua motif sebelumnya, yang dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, motif
spekulasi dipengaruhi oleh tingkat suku bunga yang berlaku. Tingkat suku bunga
merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap penentuan motif spekulasi. Pada
tingkat suku bunga yang relative tinggi, masyarakat akan memilih menyimpan uangnya
dalam bentuk surat berharga dibandingkan dengan memegang uang tunai. Bunga yang
relative tinggi akan memberikan pendapatan lebih kepada masyarakat. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa fungsi permintaannya adalah :

MDs = f(i)

MDs = permintaan uang spekulasi

f(i) = suku bunga

Dari ketiga motif diatas, maka formula untuk permintaan uang menurut Keynes
adalah:
MD = MDt + MDp + MDs

6
C. Permintaan Total Atas Uang

Pada tiap waktu tertentu ada permintaan uang, atas tunai dan saldo rekening cek,
meskipun rumah tangga dan perusahaan perlu memegang saldo untuk transaksi sehari-
hari, permintaannya memiliki batas. Pada rumah tangga maupun perusahaan, kuatitas
uang yang diminta pada tiap saat tergantung pada biaya peluang memegang uang, biaya
yang ditentukan oleh tingkat bunga. Keynes berpendapat bahwa meskipun permintaan
akan uang untuk tujuan transaksi dan berjaga-jaga adalah fungsi stabil, tetapi ada
kemungkinan bahwa permintaan total akan uang didominasi oleh permintaan akan uang
untuk spekulasi sehingga posisi fungsi permintaan total ini tidak bisa dianggap stabil.

D. Volume Transaksi dan Tingkat Harga


Volume transaksi dalam perekonomian mempengaruhi permintan uang. Volume dolar
total transaksi bergantung pada jumlah transaksi total maupun rata-rata jumlah transaksi.
Pada tingkat bunga tertentu, tingkat output yang lebih tinggi berarti peningkatan jumlah
transaksi dan permintaan uang yang lebih banyak. Kurva permintaan uang bergeser
kekanan ketika y naik. Demikian pula penurunan y berarti penurunan jumlah transaksi
dan permintaan uang yang lebih rendah, kurva permintaan uang bergeser ke kiri ketika y
turun.

7
E. Tingkat Bunga Ekuilibrium

Suku bunga adalah persentase tertentu yang diperhitungkan dari pokok pinjaman yang
harus dibayarkan oleh debitur dalam periode tertentu, dan diterima oleh kreditur sebagai
imbal jasa. Imbal jasa ini merupakan suatu kompensasi kepada pemberi pinjaman
(kreditur) karena telah merelakan debitur (peminjam dana) untuk mendapatkan manfaat
dari dana yang dimilikinya. Masyarakat yang meminjam dana dibebankan bunga sebagai
"harga" dari dana yang dipinjam. Jadi, suku bunga adalah biaya atas pinjaman.

Dalam pasar uang, ekuilibrium ditunjukkan dengan titik di mana kuantitas uang yang
diminta sama dengan kuantitas uang yang ditawarkan menentukan tingkat bunga
ekuilibrium dalam perekonomian.

 Penawaran dan Permintaan di Pasar Uang

Hanya pada tingkat bunga tertentu untuk dapat terjadi ekulibrium, diperlukan
penyesuaian jika tingkat bunga tidak sesuai. Ketika kuantitas uang yang ditawarkan
melibihi kuantitas uang yang diminta, tingkat bunga akan turun. Saat kuantitas uang yang
diminta melebihi kuantitas yang ditawarkan, tingkat bunga akan naik agar ekuilibrium
tercapai. Jika tingkat bunga pada awalnya cukup tinggi sehingga menciptakan penawaran
uang berlebih, tingkat bunga akan segera turun untuk menurunkan niat orang berpindah
dari memegang uang ke obligasi. Jika tingkat bunga awal cukup rendah sehingga
menciptakan permintaan uang berlebih, tingkat bunga kan segera meningkat untuk
menurunkan niat orang berpindah dari memegang obligasi ke uang.

 Mengubah Penawaran Uang Untuk Mempengaruhi Tingkat Bunga

Dengan pemahaman tentang ekuilibrium, dapat memahami pengurangan tingkat


bunga dengan menambah penawaran uang. Fed untuk menambah penawaran bisa
mengurangi cadangan minimum, memotong tingkat diskon, atau membeli surat berharga
di pasar terbuka. Perlakuan sebaliknya jika ingin menaikkan tingkat bunga.

 Peningkatan Y dan Pergeseran Kurva Permintaan Uang

Perubahan penawaran dan permintaan mempengaruhi tingkat bunga ekuilibrium.


Hubungan antara permintaan uang yang bergantung pada tingkat bunga maupun volume
transaksi menggunakan tingkat output (pendapatan) agregat dengan Y itu positif,

8
peningkatan Y menggeser kurva permintaan uang ke kanan. Kenaikan tingkat harga
serupa dengan peningkatan Y dengan hasil kenaikan tingkat bunga ekuilibrium.

F. Bank Sentral dan Kebijakan Moneter


Kebijakan moneter adalah seperangkat kebijakan ekonomi yang mengatur ukuran
dan tingkat pertumbuhan pasokan uang dalam suatu perekonomian negara. Kebijakan
moneter dilaksanakan melalui cara, termasuk penyesuaian suku bunga, pembelian atau
penjualan sekuritas pemerintah, dan mengubah jumlah uang tunai yang beredar dalam
pasar. Bank sentral atau badan negara pengatur yang bertanggung jawab atas hal ini yang
berhak merumuskan kebijakan ini. Di Indonesia sendiri kebijakan moneter diatur tunggal
oleh Bank sentral yaitu Bank Indonesia. Fed bisa mengubah tingkat bunga dengan
mengubah kuantitas uang yang ditawarkan juga mengubah output (pendapatan) agregat.
Penggunaan kekuatan ini untuk mempengaruhi kejadian di pasar uang adalah pusat
kebijakan moneter pemerintah. Ketika mengurangi penawaran uang sebagai upaya untuk
membatasi perekonomian, para ekonom menyebutnya kebijakan moneter ketat.
Melakukan kebijakan moneter longgar, mendorong perekonomian dengan menambah
penawaran uang.

Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk
mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga,
pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca
pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi
yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran
internasional yang seimbang. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian
terganggu, maka kebijakan moneter dapat dipakai untuk memulihkan (tindakan
stabilisasi). Pengaruh kebijakan moneter pertama kali akan dirasakan oleh sektor
perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil. Untuk mencapai tujuan tersebut,
Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan
uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja
penuh dan kelancaran dalam pasokan/distribusi barang. Pengaturan jumlah uang yang
beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang
yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :

9
 Kebijakan moneter ekspansif (Monetary expansive policy)
suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini
dilakukan untuk mengatasi pengangguran dan meningkatkan daya beli masyarakat
(permintaan masyarakat) pada saat perekonomian mengalami resesi atau depresi.
Kebijakan ini disebut juga kebijakan moneter longgar (easy money policy)
 Kebijakan Moneter Kontraktif (Monetary contractive policy)
suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini
dilakukan pada saat perekonomian mengalami inflasi. Disebut juga dengan kebijakan
uang ketat (tight money policy)

Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan


moneter, yaitu antara lain :

 Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)


Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual
atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin
menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga
pemerintah. Namun, bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka
pemerintah akan menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Surat
berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat
Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang.
 Fasilitas Diskonto (Discount Rate)
Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah uang yang beredar dengan memainkan
tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum kadang-kadang mengalami
kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah
uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya
menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang.
 Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)
Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan
jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk
menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk
menurunkan jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio.

10
 Imbauan Moral (Moral Persuasion)
Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar
dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti
menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit
untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang
lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian.

Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai
rupiah. Tujuan ini sebagaimana tercantum dalam UU No. 3 tahun 2004 pasal 7 tentang
Bank Indonesia. Hal yang dimaksud dengan kestabilan nilai rupiah antara lain adalah
kestabilan terhadap harga-harga barang dan jasa yang tercermin pada inflasi. Untuk
mencapai tujuan tersebut, sejak tahun 2005 Bank Indonesia menerapkan kerangka
kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter (Inflation
Targeting Framework) dengan menganut sistem nilai tukar yang mengambang (free
floating). Peran kestabilan nilai tukar sangat penting dalam mencapai stabilitas harga dan
sistem keuangan. Oleh karenanya, Bank Indonesia juga menjalankan kebijakan nilai
tukar untuk mengurangi volatilitas nilai tukar yang berlebihan, bukan untuk
mengarahkan nilai tukar pada level tertentu.

Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk melakukan


kebijakan moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter (seperti uang beredar atau
suku bunga) dengan tujuan utama menjaga sasaran laju inflasi yang ditetapkan oleh
Pemerintah. Secara operasional, pengendalian sasaran-sasaran moneter tersebut
menggunakan instrumen-instrumen, antara lain operasi pasar terbuka di pasar uang baik
rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan wajib
minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan. Bank Indonesia juga dapat
melakukan cara-cara pengendalian moneter berdasarkan Prinsip Syariah.

Perbedaan dari kebijakan fiskal dan kebijakan moneter

11
DASAR
Kebijakan Fiskal Kebijakan Moneter
PERBANDINGAN

Pengertian Kebijakan yang dikeluarkan Sebuah kebijakan yang


pemerintah sebagai penerimaan digunakan oleh bank sentral
dan pengeluaran pajak untuk untuk mengatur jumlah uang
mempengaruhi ekonomi sebuah beredar dalam pasar
negara,

Pelaksana Kementrian Keuangan Bank Indonesia

Sifat Kebijakan fiskal berubah setiap Perubahan dalam kebijakan


tahun. moneter tergantung pada
status ekonomi bangsa.

Berhubungan Pendapatan dan Pengeluaran Bank & Kontrol Kredit


Dengan Negara

Berfokus Pada Pertumbuhan ekonomi Stabilitas Ekonomi

Instrument Tarif pajak dan pengeluaran Suku bunga dan rasio kredit
Kebijakan pemerintah

Pengaruh Politik Ya Tidak

G. Analisis Kasus
1. Paparan Kasus
Kenaikan Suku Bunga The Fed Tidak Untungkan Ekonomi Global
Rina Anggraeni
Rabu, 20 Maret 2019 - 15:33 WIB

JAKARTA - Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) pada pekan ini
sedang menggelar rapat untuk menentukan kebijakan moneter. Beberapa investor
berharap The Fed kembali menaikkan suku bunga seperti tahun kemarin.

Sepanjang tahun ini, The Fed memilih tetap mempertahankan suku bunga di 2,50%.
Dalam beberapa kesempatan, The Fed memilih bersikap dovish--seperti burung merpati
yang lembut--tidak seagresif (hawkish), mengingat data ekonomi AS yang belakangan
tidak cantik.

Dan kenaikan tingkat suku bunga The Fed pada tahun lalu telah tidak menguntungkan
kondisi ekonomi secara global. "Sebelumnya Amerika Serikat merasa nyaman atas
pertumbuhan ekonomi mereka yang kuat. Namun sekarang mulai merasakan dampak

12
global, mulai tidak menguntungkan bagi perekonomian mereka sendiri," terang Sri
Mulyani di Jakarta, Rabu (20/3/2019).
Sri Mulyani menambahkan, perlambatan kenaikan suku bunga The Fed belakangan ini
sangat disambut. Bukan hanya oleh AS sendiri juga oleh dunia.

Seiring rapat The Fed pekan ini, kata Sri Mulyani, Indonesia akan terus mencermati
keputusan suku bunga AS. Sejauh ini, Bank Indonesia dinilai bisa mengatasi dengan
baik, dimana juga secara agresif menaikkan suku bunga hingga 6 kali sejak Mei-
Desember 2018, dari semula 4,50% menjadi 6%.

Pemerintah Indonesia juga akan terus memantau perkembangan geopolitik dan


perdagangan internasional, termasuk pergerakan harga komoditas yang semakin
memperparah ketidakpastian ekonomi global.

2. Analisis
Dalam perekonomian Indonesia, permasalahan suku bunga (domestik) merupakan
indikator makro yang sangat penting. Di Indonesia sendiri, masyarakat menginginkan
tingkat suku bunga yang rendah. Pada kasus ini tingginya tingkat suku bunga The Fed
membuat ekonomi global tidak diuntungkan. Salah satu penyebabnya yaitu karena The
Fed adalah Bank Sentral AS dan mata uang AS merupakan mata uang dunia, sehingga
Indonesia secara tidak langsung harus mengikuti tingkat suku bunga yang ditetapkan
oleh The Fed. Selain itu, akibat dari perang dagang AS dan China yang menimbulkan
tergerusnya produk domestik bruto (PDB) dunia. Menurut IMF, hampir 90% negara di
dunia akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Dampaknya permintaan uang
di Indonesia berkurang, karena permintaan uang sendiri adalah jumlah uang yang ingin
dipegang oleh masyarakat dan perusahaan secara keseluruhan membuat kurva
permintaan uang menurun. Hubungan antara tingkat bunga dengan permintaan uang
berbanding terbalik. Penggerusan produk domestik bruto (PDB) mempengaruhi
permintaan uang, karena volume transaksi yang menurun.

13
Dari penyebab masalah tersebut, cara mengatasi tingkat suku bunga yang tinggi di
Indonesia melalui kebijakan moneter Bank Indonesia. Upaya yang dilakukan untuk
mengimbangi langkah Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed dengan menggunakan
kebijakan moneter ekspansif (longgar) yaitu meningkatkan jumlah uang yang beredar
melalui instrumen kebijakan moneter yaitu fasilitas diskonto yang menurunkan tingkat
bunga bank sentral sehingga membuat jumlah uang beredar bertambah.

14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa uang
sangat diperlukan oleh masyarakat dan perusahaan. Oleh karena itu, timbulah permintaan
uang. Permintaan uang merupakan total permintaan uang dari seluruh rumah tangga dan
perusahaan dalam sebuah perekonomian yang digunakan untuk tiga tujuan, yaitu tujuan
transaksi, tujuan berjaga-jaga, dan tujuan spekulasi. Permintaan uang juga dipengaruhi
oleh volume transaksi dan tingkat harga dalam suatu perekonomian. Dalam pasar uang,
ekuilibrium ditunjukkan dengan titik di mana kuantitas uang yang diminta sama dengan
kuantitas uang yang ditawarkan menentukan tingkat bunga ekuilibrium dalam
perekonomian. Tingkat bunga ekuilibrium dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan
di pasar uang, permintaan uang yang bergantung pada tingkat bunga maupun volume
transaksi dengan pemahaman tentang ekuilibrium dapat mengubah penawaran uang
untuk mempengaruhi tingkat bunga, dan dapat meningkatan Y sehingga menyebabkan
pergeseran kurva permintaan yang menghasil kenaikan tingkat bunga ekuilibrium.
Kebijakan moneter adalah seperangkat kebijakan ekonomi yang mengatur ukuran dan
tingkat pertumbuhan pasokan uang dalam suatu perekonomian negara, yang berhak
mengatur dan bertanggung jawab serta merumuskan kebijakan moneter adalah Bank
sentral.

B. Saran
Dalam penyusunan karya tulis ini masih banyak kekurangan dalam penulisannya,
harapan kedepannya penulis dapat lebih mempersiapkan diri dengan mengkaji berbagai
literatur yang berhubungan dengan bab karya tulis yang diangkat sehingga karya tulis
memiliki nilai yang baik.

15
DAFTAR RUJUKAN

Case, Karl E. & Fair Ray C. 2007. Prinsip-prinsip Ekonomi Makro, Edisi Kedelapan. Jakarta:
PT Gelora Aksara Pratama.

https://www.kajianpustaka.com/2016/08/teori-permintaan-uang.html. Diakses pada 5 Oktober


2019.

https://cpssoft.com/blog/keuangan/penjelasan-lengkap-kebijakan-moneter/. Diakses pada 5


Oktober 2019.

https://www.academia.edu/29067561/Makalah_Permintaan_Uang_Jumlah_Uang_Beredar_.
Diakses pada 5 oktober 2019.

https://ardra.biz/permintaan-uang/. Diakses pada 5 Oktober 2019.

https://ekbis.sindonews.com/read/1388428/33/kenaikan-suku-bunga-the-fed-tidak-untungkan-
ekonomi-global-1553070806. Diakses pada 8 Oktober 2019.

https://m.liputan6.com/bisnis/read/3643506/bi-terapkan-kebijakan-moneter-ketat-pada-2019.
Diakses pada 8 Oktober 2019.

https://katadata.co.id/berita/2019/10/09/imf-hitung-kerugian-akibat-perang-dagang-setara-
ekonomi-swiss. Diakses pada 8 Oktober 2019.

16