Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PERAN PERAWAT JIWA DAN KOLABORASI INTERDISIPLIN DALAM


KESEHATAN DAN KEPERAWATAN JIWA

DOSEN PEMBIMBING:

Ns. Nofrida Saswati,M.kep.

KELOMPOK 3:

Adho alif akbar


Era Rahayu
Miranda Saraswati
Sarah

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

YAYASAN HARAPAN IBU JAMBI

TAHUN AKADEMIK 2019/2020


KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kepada Allah SWT memberikan rahmat kepada
penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Keperawatan Jiwa 1 yang berjudul
“Peran Perawat Jiwa dan Kolaborasi Interdisiplin dalam kesehatan Keperawatan Jiwa”.
Makalah ini merupakan laporan yang dibuat sebagai bagian dalam memenuhi kriteria mata
kuliah. Shalawat serta salam kami panjatkan kepada junjungan kita tercinta Rasulullah SAW,
keluarga, para sahabat serta seluruh kaum muslimin yang tetap teguh dalam ajaran beliau.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih ada kekurangan disebabkan oleh
kedangkalan dalam memahami teori, keterbatasan keahlian. Semoga segala bantuan,
dorongan, dan petunjuk serta bimbingan yang telah diberikan kepada kami dapat bernilai
ibadah disisi Allah SWT. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua,
khususnya bagi penulis sendiri.

Jambi,22 September 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ......................................................................................................... i

Kata Pengantar ....................................................................................................... ii

Daftar Isi ................................................................................................................... iii

BAB I.Pendahuluan

1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 1
1.3 Tujuan ............................................................................................................ 1
BAB II. Pembahasan

2.1 Definisi kesehatan jiwa .................................................................................. 2

2.2 Peran perawat ................................................................................................. 2

2.3 pengertian kolaborasi interdisiplin .................................................................. 5

2.4 Elemen kolaborasi interdisiplin....................................................................... 6

2.5 Manfaat kolaborasi inter disiplin .................................................................... 7

2.6 Hambatan kolaborasi interdisiplin .................................................................. 7

BAB III. Penutup

3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 8

3.2 Saran ................................................................................................................ 8

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan jiwa merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di
Negara- negara maju, meskipun masalah kesehatan jiwa tidak dianggap sebagaigangguan
yang menyebabkan kematian secara langsung, namun gangguantersebut dapat
menimbulkan ketidakmampuan individu dalam berperilaku yangdapat menghambat
pembangunan karena mereka tidak produktif.

Kesehatan jiwa merupakan bagian dari kesehatan jiwa menyeluruh, bukansekedar


terbebas dari gangguan jiwa, tetapi pemenuhan kebutuhan perasaan bahagia, sehat, serta
mampu menangani tantangan hidup. Secara medis,kesehatan jiwa diterjemahkan sebagai
suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang
optimal dari seseorang.Perkembangan tersebut berjalan selaras dengan keadaan orang
lain.

Himpitan hidup yang semakin berat di alami hampir oleh semua


kalanganmasyarakat sehingga dapat mengakibatkan gangguan kesehatan jiwa.

Pelayanan kesehatan jiwa yang komperehensif yaitu pelayanan yang difokuskan


pada pelayanan kesehatan jiwa primer,sekunder dan tersier. Dan pelayanankesehatan
jiwa yang holistic yaitu pelayanan yang difokuskan pada aspek bio-psiko-sosio-kultural
dan spiritual dengan perawatan mandiri individu dan keluarga.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari perawat jiwa?


2. Bagaimana Peran dari Perawat jiwa?
3. Apa dan Bagaimana dengan Kolaborasi Interdisiplin pada kesehatan dan Keperawatan
Jiwa?

1.3 Tujuan Penulisan

Agar pembaca dapat memahami tentang keperawatan kesehatan jiwa, mulai dari
pengertian, peran perawat jiwa itu sendiri dan bagaimana kolaborasi interdisiplin pada
keperawatan jiwa.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi kesehatan Jiwa

Keperawatan jiwa merupakan merupakan sebagian dari penerapan ilmutentang


perilaku manusia, psikososial, bio-psik dan teori-teori kepribadian,dimana penggunaan
diri perawat itu sendiri secara terapeutik sebagai alat atauinstrumen yang digunakan
dalam memberikan asuhan keperawatan (Erlinafsiah,2010)

2.2 Peran Perawat Jiwa

Perawat jiwa memiliki peran dalam tingkat pelayanan kesehatan jiwa yaitu:

1. Peran dalam prevensi primer.


 Memberikan penyuluhan tentang prinsip.
 prinsip sehat jiwa.
 Mengefektifkan perubahan dalam kondisi kehidupan, tingkat kemiskinan, dan
pendidikan.
 Memberikan pendidikan kesehatan.
 Melakukan rujukan yang sesuai dengan sebelum gangguan jiwa terjadi.
 Membantu klien di RSU untuk menghindari masalah psikiatri di masa
mendatang.
 Bersama-sama keluarga memberi dukungan pada anggota keluarga dan
meningkatkan fungsi kelompok.
 Aktif dalam kegiatan masyarakat & politik yang berkaitan dengankesehatan
jiwa.
2. Peran dalam prevensi sekunder
 Melakukan skrining & pelayanan evaluasi kesehatan jiwa.
 Melaksanakan kunjungan rumah atau pelayanan.
 Memberikan konsultasi.
 Memberikan psikoterapi individu, keluarga, dan kelompok padaberbagai tingkat
usia.

2
 Memberikan intervensi pada komunitas dan organisasi yang telahteridentifikasi
masalah yang dialaminyananganan dirumah.
 Memberikan pelayanan kedaruratan psikiatri di RSU.
 Menciptakan lingkungan yang terapeutik.
 Melakukan supervisi klien yang mendapatkan pengobatan.
 Memberikan pelayanan pencegahan bunuh diri.
3. Peran dalam prevensi tersier
 Melaksanakan latihan vokasional & rehabilitasi.
 Mengorganisasi “after care” untuk klien yang telah pulang dari fasilitas
kesehatan jiwa untuk memudahkan transisi dari rumah sakit kekomunitas.
 Memberikan pilihan “partial hospitalization” (perawatan rawat siang) pada klien

Peran perawat kesehatan jiwa mempunyai peran yang bervariasi dan spesifik,
aspek dari peran tersebut meliputi kemandirian dan kolaborasi diantaranya adalah:

1. Peran pelaksana pelayanan

yaitu perawat memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan jiwa


kepada individu, keluarga, dan komunitas. Dalam menjalankan perannya perawat
menggunakan konsep perilaku manusia, perkembangan kepribadian dan konsep
kesehatan jiwa serta gangguan jiwa dalam melaksanakan asuhan keperawatan
kepada individu, keluarga dan komunita

Perawat melaksanakan asuhan keperawatan secara komprehensif melalui


pendekatan proses keperawatan jiwa, yaitu pengkajian, penetapan diagnosa
keperawatan, perencanaan dan tindakan keperawatan dan melaksanakan tindakan
serta evaluasi terhadap tindakan tersebut.

2. Peran perawat pelaksana pendidikan


Perawat memberi pendidikan kesehatan jiwa kepada individu,
keluargadan komunitas agar mampu melakukan perawatan pada diri sendiri,
anggota keluarga dan anggota masyarakat lain.Pada akhirnya diharapkan setiap
anggota masyarakat bertanggung jawab terhadap kesehatan jiwa.
3. Peran perawat sebagai pengelola keperawatan
Perawat harus menunjukkan sikap kepemimpinan dan bertanggung jawab
dalam mengelola asuhan keperawatan jiwa. Dalam melaksanakan perannya ini

3
perawat diminta menerapkan teori manajemen dan kepemimpinan, menggunakan
berbagai strategi perubahan yang diperlukan, berperan serta dalam aktifitas
pengelolaan kasus dan mengorganisasi pelaksanaan berbagai terapi modalitas
keperawatan.
4. Peran perawat sebagai pelaksana penelitian
Perawat mengidentifikasi masalah dalam bidang keperawatan jiwa
danmenggunakan hasil penelitian serta perkembangan ilmu dan teknologi
untukmeningkatkan mutu pelayanan dan asuhan keperawatan jiwa.

2.3 Fungsi Perawat

Fungsi perawat jiwa adalah memberikan asuhan keperawatan secara langsung dan
asuhan keperawatan secara tidak langsung. Fungsi tersebut dapat dicapai melalui
aktifitas perawat jiwa, yaitu:

1. memberikan lingkungan terapeutik yaitu lingkungan yang ditata sedemikian


rupa sehingga dapat memberikan perasaan aman, nyaman baik fisik,
mental,dan sosial sehingga dapat membantu penyembuhan pasien.
2. Bekerja untuk mengatasi masalah klien “here and now” yaitu dalam
membantu mengatasi segera dan tidak ditunda sehingga tidak terjadi
penumpukkanmasalah.
3. Sebagai model peran yaitu perawat dalam memberikan bantuan kepada pasien
menggunakan diri sendiri sebagai alat melalui contohperilaku yang
ditampilkan oleh perawat.
4. Memperhatikan aspek fisik darimasalah kesehatan klien merupakan hal yang
sangat penting. Dalam hal ini perawat perlu memasukkan pengkajian biologis
secara menyeluruh dalan evalausi pasien jiwa untuk mengidentifikasi adanya
penyakit fisik sedini mungkin sehingga dapat diatasi dengan caya yang tepat.
5. Memberikan pendidikan kesehatan yang ditujukan kepada pasien, kleuarga
dan komunitas yang mencakup pendidikan kesehatan jiwa, gangguan jiwa,
ciri-ciri sehat jiwa, penyebab gangguan jiwa, ciri-ciri gangguan jiwa, fungsi
dan tugas keluarga, dan upaya perawatan pasien ganggua jiwa.
6. Sebagai perantara sosial yaitu perawatdapat menjadi perantara dari pihak
pasien, keluarga dan masyarakat dalammemfasilitasi pemecahan masalah
pasien.

4
7. Kolaborasi dengan tim lain adalah perawatmembantu pasien mengadakan
kolaborasi dengan petugas kesehatan lain yaitudokter jiwa, perawat kesehatan
masyarakat (perawat komunitas), pekerja sosial, psikolog, dll.
8. Memimpin dan membantu tenaga perawatan adalahpelaksanaan pemberian
asuhan keperawatan jiwa didasarkan pada manajemenkeperawatan kesehatan
jiwa. Kesembilan, menggunakan sumber di masyarakatsehubungan dengan
kesehatan mental.

2.4 Pengertian Pelayanan dan Kolaborasi Interdisiplin Keperawatan Jiwa

Pelayanan dan kolaborasi interdisiplin keperawatan jiwa merupakan pelayanan


kesehatan yang dilakukan oleh sekolompok tim kesehatan profesional (perawat, dokter,
tim kesehatan lainnya maupun pasien dan keluarga pasien sakit jiwa) yang mempunyai
hubungan yang jelas, dengan tujuan menentukan diagnosa, tindakan-tindakan medis,
dorongan moral dan kepedulian khususnya kepada pasien sakit jiwa. Pelayanan akan
berfungsi baik jika terjadi adanya konstribusi dari anggota tim dalam memberikan
pelayanan kesehatan terbaik kepada pasien sakit jiwa. Anggota tim kesehatan meliputi :
pasien, perawat, dokter, fisioterapi, pekerja sosial, ahli gizi, manager, dan apoteker. Oleh
karena itu tim kolaborasi interdisiplin hendaknya memiliki komunikasi yang efektif,
bertanggung jawab dan saling menghargai antar sesama anggota tim.

Secara integral, pasien adalah anggota tim yang penting. Partisipasi pasien dalam
pengambilan keputusan akan menambah kemungkinan suatu rencana menjadi efektif.
Tercapainya tujuan kesehatan pasien yang optimal hanya dapat dicapai jika pasien
sebagai pusat anggota tim. Karena dalam hal ini pasien sakit jiwa tidak dapat berpikir
dengan nalar dan pikiran yang rasional, maka keluarga pasienlah yang dapat dijadikan
pusat dari anggota tim. Disana anggota tim dapat berkolaborasi dalam menentukan
tindakan-tindakan yang telah ditentukan. Apabila pasien sakit jiwa tidak memiliki
keluarga terdekat, maka disinilah peran perawat dibutuhkan sebagai pusat anggota tim.
Karena perawatlah yang paling sering berkomunikasi dan kontak langsung dengan pasien
sakit jiwa. Perawat berada disamping pasien selam 24 jam sehingga perawatlah yang
mengetahui semua masalah pasien dan banyak kesempatan untuk memberikan pelayanan
yang baik dengan tim yang baik.

Perawat adalah anggota membawa persfektif yang unik dalam interdisiplin tim.
Perawat memfasilitasi dan membantu pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan

5
dari praktek profesi kesehatan lain. Perawat berperan sebagai penghubung penting antara
pasien dan pemberi pelayanan kesehatan.

Dokter memiliki peran utama dalam mendiagnosis, mengobati dan mencegah


penyakit. Pada situasi ini dokter menggunakan modalitas pengobatan seperti pemberian
obat dan pembedahan. Mereka sering berkonsultasi dengan anggota tim lainnya
sebagaimana membuat referal pemberian pengobatan.

2.5 Elemen Penting Dalam Mencapai Kolaborasi Interdisiplin Efektif

Kolaborasi menyatakan bahwa anggota tim kesehatan harus bekerja dengan


kompak dalam mencapai tujuan. Elemen penting untuk mencapai kolaborasi interdisiplin
yang efektif meliputi kerjasama, asertifitas, tanggung jawab, komunikasi, kewenangan
dan koordinasi seperti skema di bawah ini.

1. Kerjasama adalah menghargai pendapat orang lain dan bersedia untuk memeriksa
beberapa alternatif pendapat dan perubahan kepercayaan.
2. Ketegasan penting ketika individu dalam tim mendukung pendapat mereka dengan
keyakinan. Tindakan asertif menjamin bahwa pendapatnya benar-benar didengar dan
konsensus untuk dicapai.
3. Tanggung jawab artinya mendukung suatu keputusan yang diperoleh dari hasil
konsensus dan harus terlibat dalam pelaksanaannya.
4. Komunikasi artinya bahwa setiap anggota bertanggung jawab untuk membagi
informasi penting mengenai perawatan pasien sakit jiwa dan issu yang relevan untuk
membuat keputusan klinis.
5. Pemberian pertolongan artinya masing-masing anggota dapat memberikan tindakan
pertolongan namun tetap mengacu pada aturan-aturan yang telah disepakati.
6. Kewenangan mencakup kemandirian anggota tim dalam batas kompetensinya.
7. Kordinasi adalah efisiensi organisasi yang dibutuhkan dalam perawatan pasien sakit
jiwa, mengurangi duplikasi dan menjamin orang yang berkualifikasi dalam
menyelesaikan permasalahan.
8. Tujuan umum artinya setiap argumen atau tindakan yang dilakukan memiliki tujuan
untuk kesehatan pasien sakit jiwa.

6
Kolaborasi dapat berjalan dengan baik jika :

 Semua profesi mempunyai visi dan misi yang sama.


 Masing-masing profesi mengetahui batas-batas dari pekerjaannya.
 Anggota profesi dapat bertukar informasi dengan baik.
 Masing-masing profesi mengakui keahlian dari profesi lain yang tergabung dalam
tim.
2.6 Manfaat Kolaborasi Interdisiplin Dalam Pelayanan Keperawatan Jiwa

Kolaborasi didasarkan pada konsep tujuan umum, konstribusi praktisi


profesional, kolegalitas, komunikasi dan praktek yang difokuskan kepada pasien.
Kolegalitas menekankan pada saling menghargai, dan pendekatan profesional untuk
masalah-masalah dalam tim dari pada menyalahkan seseorang atau atau menghindari
tangung jawab.

Beberapa tujuan kolaborasi interdisiplin dalam pelayanan keperawatan jiwa antara lain :

1. Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan menggabungkan keahlian


unik profesional untuk pasien sakit jiwa.
2. Produktivitas maksimal serta efektifitas dan efesiensi sumber daya.
3. Peningkatnya profesionalisme dan kepuasan kerja, dan loyalitas.
4. Meningkatnya kohesifitas antar profesional.
5. Kejelasan peran dalam berinteraksi antar profesional.
6. Menumbuhkan komunikasi, menghargai argumen dan memahami orang lain.

2.7 Hambatan Dalam Melakukan Kolaborasi Interdisiplin dalam Keperawatan Jiwa

Kolaborasi interdisiplin tidak selalu bisa dikembangkan dengan mudah. Ada


banyak hambatan antara anggota interdisiplin, meliputi :

1. Ketidaksesuaian pendidikan dan latihan anggota tim.


2. Struktur organisasi yang konvensional.
3. Konflik peran dan tujuan.
4. Kompetisi interpersonal.
5. Status dan kekuasaan, dan individu itu sendiri

7
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Untuk mencapai pelayanan perawatan pasien sakit jiwa yang efektif


makakeluarga, perawat, dokter dan tim kesehatan lainnya harus berkolaborasi
satudengan yang lainnya. Tidak ada kelompok yang dapat menyatakan
lebih berkuasa diatas yang lainnya.

Masing-masing profesi memiliki kompetensi profesional yang berbeda sehingga


ketika digabungkan dapat menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Kolaborasi yang efektif antara anggota tim kesehatan memfasilitasi terselenggaranya
pelayanan keperawatan jiwa yang berkualitas.Kolaborasi interdisiplin tidak selalu bisa
dikembangkan dengan mudah dalamkeperawatan jiwa. Ada banyak hambatan antara
anggota interdisiplin, meliputiketidaksesuaian pendidikan dan latihan anggota tim,
struktur organisasi yang konvensional, konflik peran dan tujuan, kompetisi interpersonal,
status dan kekuasaan, dan individu itu sendiri

3.2 Saran

Demikian isi makalah ini, kami sangat menyadari bahwa makalah ini masih
jauhdari kata sempurna dan banyak kekurangan baik dari segi bentuk maupun
materiyang kami uraikan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan
saranyang membangun dari para pembaca untuk perbaikan makalah selanjutnya.

8
DAFTAR PUSTAKA

1. Dalami E, 2010. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: Trans Info Media


2. Erlinafsiah. 2010. Modal Perawat dalam Praktik Kepeawatan Jiwa. Jakarta: Trans Info
Media
3.