Anda di halaman 1dari 35

TUGAS KEPERAWATAN JIWA

KONSEP STRESS, RENTANG SEHAT SAKIT JIWA DAN KOPING

OLEH
Faradella Niken Andarike, Amd.Kep

STIKES ALIFAH PADANG


2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt, karena atas berkat dan limpahan
rahmatnyalah makalah tentang “Konsep Stress, Rentang Sehat Sakit Jiwa dan Koping” ini dapat
terselesaikan dengan baik. Meskipun masih banyak kekurangan baik dari isi, sistematika,
maupun cara penyajiannya.

Makalah tentang “Konsep Stress, Rentang Sehat Sakit Jiwa dan Koping” ini adalah
sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Keperawatan jiwa bagi Semester 1 Program Studi S1
Keperawatan di STIKes ALIFAH Padang.

Ucapan terimakasih kami ucapkan kepada dosen pembimbing Mata Kuliah Keperawatan
jiwa ini. Serta bagi semua pihak yang turut mendukung dalam pembuatan makalah ini.

Kami berharap semoga makalah ini dapat membantu mahasiswa dalam mempelajari
materi tentang Konsep Stress, Rentang Sehat Sakit Jiwa dan Koping. Semoga dapat bermanfaat
bagi pembaca dan peneliti lain yang akan menulis tentang tema yang sama, khususnya bagi kami
sendiri sebagai penyusun.

Padang, 3 Oktober 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTARISI........................................................................................................................ii
BAB 1. PENDAHULUAN
§ LatarBelakang.................................................................................................................3
§ Rumusan Masalah...........................................................................................................3
§ Tujuan..............................................................................................................................3

BAB 2. PEMBAHASAN
A.Konsep Stress.................................................................................................................4
a.Pengertian Stress............................................................................................................4
b. Gejala Stress.................................................................................................................4
c. Ciri- Ciri Stress.............................................................................................................4
d. Faktor Yang Mempengaruhi Stress...............................................................................5
e.Cara Mengatasi Stress....................................................................................................5
B.Rentang Sehat Sakit Jiwa..............................................................................................9
C.Koping.............................................................................................................................10

BAB 3.PENUTUP..............................................................................................................14
§ Kesimpulan.....................................................................................................................14
§ saran................................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sesuatu hal dapat terjadi pada setiap orang, baik hal yang buruk ataupun baik, seperti
kondisi stress atau peningkatan kesehatan. Pemahaman tentang stress dan akibatnya sangatlah
penting bagi upaya pengobatan dan pencegahan stress itu sendiri. Setiap orang mengalami
sesuatu yang disebutstress sepanjang kehidupannya. Masalah stress sering dihubungkan
dengankehidupan modern dan sepertinya kehidupan modern merupakan sumber bermacam gangguan
stress. Para ahli telah banyak meneliti masalah stress,terutama yang bertalian dengan situasi dan
kondisi hidup.
Stres dapat memberikan stimulus terhadap perkembang dan pertumbuhan, dan dalam
hal ini stress adalah hal positif dan diperlukan. Namun demikian, terlalu banyak stress dapat
menimbulkan gangguan-gangguan seperti, penyesuaian yang buruk, penyakit fisik
danketidakmampuan untuk mengatasi atau koping terhadap masalah. Sejumlah penelitian
yang telah dilakukan menunjukan adanya suatu hubungan antara peristiwa kehidupan yang
menegangkan atau penuh stress dengan berbagaikelainan fisikdan psikiatrik (Yatkin &
Labban, 1992).
Claude Bernand, tahun 1867, adalah satu dari ahli fisiologi pertamayang mengenali
konsekuensi stress. Ia menyatakan perubahan dalamlingkungan internal dan eksternal dapat
mengganggu fungsi suatu organnismedan hal ini penting bagi organisme untuk
mengadaptasi stressor sehinggaorganisme tersebut dapat bertahan. Walter Cannon, tahun
1920, menyelidikirespons fisiologis terhadap rangsangan emosional dan penekanan fungsi
adaptif dari reaksi ‘melawan atau lari’ (fight or flight). Cannon jugamenunjukan bahwa
respon ini adalah hasil dari pengaruh emosional padatubuh dan bahwa respon selanjutnya
adalah adaptif dan fisiologis (Robinson,1990)
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat menyadari bahwa klien adalah
manusia utuh dan unik yang terdiri dari aspek bio, psiko, sosial, dan spritual tuntutan
masyarakat akan kwalitas pelayanan perawatan cenderung semakin meningkat. Hal ini
membawa dampak yang positif terhadap peran dan fungsi perawat untuk mengantisipasi
tuntutan masyarakat mutu pelayanan perawatan.
Pada pengkajian seringkali perawat hanya memusatkan perhatian pada aspek
biologis atau fisiknya saja, sehingga asuhan keperawatan secara konprensif tidak tercapai.
Maka dari itu perlunya perawat untuk membekali baik ilmu maupun pengalaman-
pengalaman. Sehingga respon klien dapat terkaji lebih dalam dengan tujuan mengenal dan
menentukan masalahnya atau kebutuhannya.

Pada masa lalu, sebagian besar individu dan masyarakat memandang sehat dan sakit
sebagai sesuatu Hitam atau Putih. Dimana kesehatan merupakan kondisi kebalikan dari
penyakit atau kondisi yang terbebas dari penyakit. Anggapan atau sikap yang sederhana ini
tentu dapat diterapkan dengan mudah; akan tetapi mengabaikan adanya rentang sehat-sakit.

Saat ini sehat dipandang dengan perspektif yang lebih luas. Luasnya aspek itu
meliputi rasa memiliki kekuasaan, hubungan kasih sayang, semangat hidup, jaringan
dukungan sosial yang kuat, rasa berarti dalam hidup, atau tingkat kemandirian tertentu
(Haber, 1994).

Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan
tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi,
sosial dan spiritual.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah itu konsep stres?
2. Apa itu rentang sehat sakit jiwa dan koping?

C. Tujuan
Adapun Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui konsep stress,
rentang sehat sakit jiwa dan koping

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Stress
1. Pengertian Stress
Stress menurut Hans Selye 1976 merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik
terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat
dikatakan stress apabila seseorang mengalami beban atau tugas yang berat tetapi orang
tersebut tidak dapat mengatasi tugas yangdibebankan itu, maka tubuh akan berespon dengan
tidak mampu terhadap tugastersebut, sehingga orang tersebut dapat mengalami stress.
Respons atau tindakan ini termasuk respons fisiologis dan psikologis. Stress dapat
menyebabkan perasaan negative atau yang berlawanan dengan apa yang diinginkan atau
mengancam kesejahteraan emosional. Stress dapat menggangu cara seseorang dalam
menyerap realitas, menyelesaikan masalah, berfikir secara umum dan hubungan seseorang dan rasa
memiliki. Terjadinya stress dapat disebabkan oleh sesuatu yang dinamakan stressor,stressor
ialah stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan. Stressor secara umum dapat
diklasifikasikan sebagai stressor internal atau eksternal.Stressor internal berasal dari dalam diri
seseorang (mis. Kondisi sakit,menopause, dll ). Stressor eksternal berasal dari luar diri seseorang
atau lingkuangan (mis. Kematian anggota keluarga, masalah di tempat kerja, dll ).
Pengertian stress akan berbeda satu dengan lainnya, hal ini bergantung dengan cara
pandang seseorang dalam mendefinisikannya. Ada beberapa pengertian yang perlu diketahui
mahasiswa yaitu,
a. Hans Selye,1976
Stress adalah rspon tubuh yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap tuntutan beban
atasnya.
b. Emanuelsen&Rosenlicht, 1986
Stress didefinisikan sebagai respon fisik dan emosionalterhadap tuntutan yang
dialami individu yang diiterpretasikansebagai sesuatu yang mengancam keseimbangan
c. Soeharto Heerdjan, 1987
Stres adalah suatu kekuatan yang mendesak ataumencekam, yang menimbulkan
suatu ketegangan dalam diri seseorang.
d. Maramis, 1999
Secara umum, yang dimaksud ³Stres adalah reaksi tubuhterhadap situasi yang
menimbulkan tekanan, perubahan,ketegangan emosi, dan lain-lain´. ³Stres adalah segala
masalahatau tuntutan penyesuaian diri, dan karena itu, sesuatu yangmengganggu
keseimbangan kita´
e. Vincent Cornelli, sebagai manadikutip oleh Grant Brecht(2000)
Stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yangdisebabkan oleh perubahan
dan tuntutan kehidupan, yangdipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan
individudi dalam lingkungan tersebut.
f. Keliat, B.A. , 1999
Stress adalah realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapatdihindari. Stres
disebabkan oleh perubahan yang memerlukan penyesuaian.

2. Gejala Stress
Stres sifatnya universiality, yaitu umum semua orang sama dapat merasakannya,
tetapi cara pengungkapannya yang berbeda atau diversity. Sesuai dengan karakteristik
individu, maka responnya berbeda- beda untuk setiap orang. Seseorang yang mengalami
stres dapat mengalami perubahan-perubahan yang terjadi,

Ø Cary Cooper dan Alison Straw mengemukakan gejala stres dapat berupa tanda-tanda
berikut ini :

1. Fisik, yaitu nafas memburu, mulut dan tenggorokan kering, tangan lembab,
merasa panas, otot-otot tegang, pencernaanterganggu, sembelit, letih yang tidak
beralasan, sakit kepala, salah urat dan gelisah.
2. Perilaku, yaitu perasaan bingung, cemas, sedih, jengkel, salah paham, tidak
berdaya, gelisah, gagal, tidak menarik, kehilangan semangat, susah konsentrasi, dan
sebagainya.
3. Watak dan kepribadian, yaitu sikap hati-hati yang berlebihan, menjadi lekas
panik, kurang percaya diri, penjengkel.
.

Ø Menurut Braham, gejala stres dapat berupa tanda-tanda,sebagai berikut :


1. Fisik, yaitu sulit tidur atau tidak dapat tidur teratur, sakit kepala, sulit buang air
besar, adanya gangguan pencernaan, radang usus, kulit gatal-gatal.
2. Emosional, yaitu marah-marah, mudah tersinggung, terlalu sensitif,gelisah dan
cemas, suasana hati mudah berubah-ubah, sedih, mudah menangis.
3. Intelektual, yaitu mudah lupa, kacau pikirannya, daya ingat menurun, sulit
berkonsentrasi, suka melamun, pikiran hanya dipenuhi satu pikiran saja
4. Interpersonal, yaitu acuh, kurang percaya kepada orang lain, sering mengingkari
janji, suka mencari kesalahan orang lain, menutup diri, mudah menyalahkan orang lain.

3. Ciri-ciri Stres

Ø Ciri-ciri stres yang baik:


1. Mengahadapi sesuatu dengan penuh harapan untuk melawan rasa takut dalam diri.
2. Memiliki jadwal yang sangat padat, tetapi didalam sela-sela jadwal yang padat itu
ada aktivitas yang sangat diharapkandan sangat dinikmati.
3. Memiliki komitmen yang lebih terhadap apa yang Anda sayangi. Misalnya:
pernikahan, menjadi seorang ayah/ibu, menjadi pekerja, atau menjadi pegawai negeri.
4. Bekerja dengan tujuan tertentu dan Anda tahu kecepatan Anda saat bergerak akan
berkurang saat tujuan itu tercapai atau bahkan saat baru akan tercapai.
5. Merasa tertantang, siap dan bersemangat untuk menerima dan menyelesaikan
tugas yang akan Anda hadapi.
6. Merasakan kondisi badan yang cukup lelah namun akhirnya akan menikmati tidur
yang lelap dan nyaman.

Ø Ciri-ciri stres yang jahat:


1. Menghadapi segala sesuatu dengan perasan takut, resah, gelisah dan khawatir.
2. Memiliki jadwal yang sangat padat, tetapi tak ada satupun yang dapat Anda
nikmati dan mau tidak mau, harus Anda penuhi kewajiban itu.
3. Merasa bahwa semua yang Anda lakukan tidaklah penting, tidak memenuhi
seluruh kebutuhan Anda, dan tak sebanding dengan tenaga, pikiran dan waktu yang Anda
curahkan.
4. Merasa tidak memegang kendali dan selalu merasa panic seakan-akan tidak ada
jalan keluar untuk menyelesaikan tugas, merasa tidak ada selesainya, dan merasa tidak
ada yang membantu menyelesaikannya.
5. Merasa lebih baik bekerja daripada berhenti/istirahat sejenak saat jam kerja.
6. Memiliki tidur yang tidak lelap, tidur yang resah, sering sakit maag, sakit
punggung dan mempunyai sakit yang sifatnya menahun.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stress
Kondisi-kondisi yang cenderung menyebabkan stress disebut stressors. Meskipun
stress dapat diakibatkan oleh hanya satu stressors, biasanya karyawan mengalami stress
karena kombinasi stressors. Menurut Robbins (2001:565-567) ada tiga sumber utama yang
dapat menyebabkan timbulnya stress yaitu :
1. Faktor Lingkungan
Keadaan lingkungan yang tidak menentu akan dapat menyebabkan pengaruh
pembentukan struktur organisasi yang tidak sehat terhadap karyawan. Dalam faktor
lingkungan terdapat tiga hal yang dapat menimbulkan stress bagi karyawan yaitu
ekonomi, politik dan teknologi. Perubahan yang sangat cepat karena adanya penyesuaian
terhadap ketiga hal tersebut membuat seseorang mengalami ancaman terkena stress. Hal
ini dapat terjadi, misalnya perubahan teknologi yang begitu cepat. Perubahan yang baru
terhadap teknologi akan membuat keahlian seseorang dan pengalamannya tidak terpakai
karena hampir semua pekerjaan dapat terselesaikan dengan cepat dan dalam waktu yang
singkat dengan adanya teknologi yang digunakannya.
2. Faktor Organisasi
Didalam organisasi terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan stress yaitu
role demands, interpersonal demands, organizational structure dan organizational
leadership.
Pengertian dari masing-masing faktor organisasi tersebut adalah sebagai berikut :
a. Role Demands
Peraturan dan tuntutan dalam pekerjaan yang tidak jelas dalam suatu organisasi
akan mempengaruhi peranan seorang karyawan untuk memberikan hasil akhir yang ingin
dicapaibersama.

b. Interpersonal Demands
Mendefinisikan tekanan yang diciptakan oleh karyawan lainnya dalam organisasi.
Hubungan komunikasi yang tidak jelas antara karyawan satu dengan karyawan lainnya
akan dapat menyeba bkan komunikasi yang tidak sehat. Sehingga pemenuhan kebutuhan
dalam organisasi terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial akan menghambat
perkembangan sikap dan pemikiran antara karyawan yang satu dengan karyawan lainnya.
c. Organizational Structure
Mendefinisikan tingkat perbedaan dalam organisasi dimana keputusan tersebut
dibuat dan jika terjadi ketidak jelasan dalam struktur pembuat keputusan atau peraturan
maka akan dapat mempengaruhi kinerja seorang karyawan dalam organisasi.
d. Organizational Leadership
Berkaitan dengan peran yang akan dilakukan oleh seorang pimpinan dalam suatu
organisasi. Karakteristik pemimpin menurut The Michigan group (Robbins, 2001:316)
dibagi dua yaitu karakteristik pemimpin yang lebih mengutamakan atau menekankan
pada hubungan yang secara langsung antara pemimpin dengan karyawannya serta
karakteristik pemimpin yang hanya mengutamakan atau menekankan pada hal pekerjaan
saja. Empat faktor organisasi di atas juga akan menjadi batasan dalam mengukur
tingginya tingkat stress. Pengertian dari tingkat stress itu sendiri adalah muncul dari
adanya kondisi-kondisi suatu pekerjaan atau masalah yang timbul yang tidak diinginkan
oleh individu dalam mencapai suatu kesempatan, batasan-batasan, atau permintaan-
permintaan dimana semuanya itu berhubungan dengan keinginannya dan dimana hasilnya
diterima sebagai sesuatu yang tidak pasti tapi penting (Robbins, 2001:563).
3. Faktor Individu
Pada dasarnya, faktor yang terkait dalam hal ini muncul dari dalam keluarga,
masalah ekonomi pribadi dan karakteristik pribadi dari keturunan. Hubungan pribadi
antara keluarga yang kurang baik akan menimbulkan akibat pada pekerjaan yang akan
dilakukan karena akibat tersebut dapat terbawa dalam pekerjaan seseorang. Sedangkan
masalah ekonomi tergantung dari bagaimana seseorang tersebut dapat menghasilkan
penghasilan yang cukup bagi kebutuhan keluarga serta dapat menjalankan keuangan
tersebut dengan seperlunya. Karakteristik pribadi dari keturunan bagi tiap individu yang
dapat menimbulkan stress terletak pada watak dasar alami yang dimiliki oleh seseorang
tersebut. Sehingga untuk itu, gejala stress yang timbul pada tiap-tiap pekerjaan harus
diatur dengan benar dalam kepribadian seseorang.

5. Koping / Cara Mengatasi stress


Koping merupakan cara-cara yang digunakan oleh indifidu unyuk menghadapi
situasi yang menekan.Oleh karena itu meskipun koping menjadi bagian dari penyesuaian
diri,namun koping merupakan istilah yang khusus digunakan untuk menunjukkan reaksi
individu ketika menghadapi tekanan/stress.
Ada berbagai macam koping.Pendapat berbagai tokoh pun beragam.Ada yang
menyebutkan istilah koping hanya untuk cara-cara mengatasi persoalan yang sifatnya
positif.Namun ada juga yang melihat koping sebagai istilah yang netral.
Koping yang negatif menimbulkan berbagai persoalan baru di kemudian
hari,bahkan sangat mungkin memunculkan berbagai gangguan pada diri individu yang
bersangkutan.Sebaliknya koping yang positif menjadikan individu semakin
matang,dewasa dan bahagia dalam menjalani kehidupannya.
Ada berbagai cara untuk mengatasi stress.kalau akibat stres telah mempengaruhi
fisik,dan bahkan menimbulkan penyakit tertentu,peranan obat/medikasi biasanya
diperlukan.namun obat itu sendiri kurang efektif untuk mengatasi stress dalam jangka
panjang.Ada efek negatif bila menggunakan obat terus menerus.Disamping obat-obat
tertentu membutuhkan biaya yang mahal,obat juga bias mengakibatkan ketergantungan
dan bahkan membuat orang tertentu kebal terhadap obat tertentu.Untuk mencegah dan
mengatasi stres agar tidak sampai ke tahap yang paling berat, maka dapat dilakukan
dengan cara :
1. Istirahat dan Tidur
Istirahat dan tidur merupakan obat yang baik dalam mengatasi stres karena
dengan istirahat dan tidur yang cukup akan memulihkan keadaan tubuh. Tidur yang
cukup akan memberikan kegairahan dalam hidup dan memperbaiki sel-sel yang rusak.
2. Olah Raga atau Latihan Teratur
Olah raga dan latihan teratur adalah salah satu cara untuk meningkatkan daya
tahan dan kekebalan fisik maupun mental. Olah raga dapat dilakukan dengan cara jalan
pagi, lari pagi minimal dua kali seminggu dan tidak perlu lama-lama yang penting
menghasilkan keringat setelah itu mandi dengan air hangat untuk memulihkan kebugaran.
3. Berhenti Merokok
Berhenti merokok adalah bagian dari cara menanggulangi stres karena dapat
meningkatkan ststus kesehatan dan mempertahankan ketahanan dan kekebalan tubuh.
4. Tidak Mengkonsumsi Minuman Keras
Minuman keras merupakan faktor pencetus yang dapat mengakibatkan terjadinya
stres. Dengan tidak mengkonsumsi minuman keras, kekebalan dan ketahanan tubuh akan
semakin baik, segala penyakit dapat dihindari karena minuman keras banyak
mengandung alkohol.
5. Pengaturan Berat Badan
Peningkatan berat badan merupakan faktor yang dapat menyebabkan timbulnya
stres karena mudah menurunkan daya tahan tubuh terhadap stres. Keadaan tubuh yang
seimbang akan meningkatkan ketahanan dan kekebalan tubuh terhadap stres.
6. Pengaturan Waktu
Pengaturan waktu merupakan cara yang tepat dalam mengurangi dan
menanggulangi stres. Dengan pengaturan waktu segala pekerjaaan yang dapat
menimbulkan kelelahan fisik dapat dihindari. Pengaturan waktu dapat dilakukan dengan
cara menggunakan waktu secara efektif dan efisien serta melihat aspek prokdutivitas
waktu. Seperti menggunakan waktu untuk menghasilkan sesuatu dan jangan biarkan
waktu berlalu tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
7. Terapi Psikofarmaka
Terapi ini dengan menggunakan obat-obatan dalam mengalami stres yang dialami
dengan cara memutuskan jaringan antara psiko neuro dan imunologi sehingga stresor
psikososial yang dialami tidak mempengaruhi fungsi kognitif afektif atau psikomotor
yang dapat mengganggu organ tubuh yang lain. Obat-obatan yang digunakan biasanya
digunakan adalah anti cemas dan anti depresi.
8. Terapi Somatik
Terapi ini hanya dilakukan pada gejala yang ditimbulkan akibat stres yang dialami
sehingga diharapkan tidak dapat mengganggu sistem tubuh yang lain.

9. Psikoterapi
Terapi ini dengan menggunakan teknik psikologis yang disesuaikan dengan
kebutuhan seseorang. Terapi ini dapat meliputi psikoterapi suportif dan psikoterapi
redukatif di mana psikoterapi suportif memberikan motivasi atau dukungan agar pasien
mengalami percaya diri, sedangkan psikoterapi redukatif dilakukan dengan memberikan
pendidikan secara berulang. Selain itu ada psikoterapi rekonstruktif, psikoterapi kognitif
dan lain-lain.
10. Terapi Psikoreligius
Terapi ini dengan menggunakan pendekatan agama dalam mengatasi
permasalahan psikologis mengingat dalam mengatasi permasalahn psikologis mengingat
dalam mengatasi atau mempertahankan kehidupan seseorang harus sehat secara fisik,
psikis, sosial, dan sehat spiritual sehingga stres yang dialami dapat diatasi.
11. Homeostatis
Merupakan suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam
menghadapi kondisi yang dialaminya. Proses homeostatis ini dapat terjadi apabila tubuh
mengalami stres yang ada sehingga tubuh secara alamiah akan melakukan mekanisme
pertahanan diri untuk menjaga kondisi yang seimbang, atau juga dapat dikatakan bahwa
homeostatis adalah suatu proses perubahaan yang terus menerus untuk memelihara
stabilitas dan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.
Homeostatis yang terdapat dalam tubuh manusia dapat dikendalikan oleh suatu
sistemendokrin dan syaraf otonom. Secara alamiah proses homeostatis dapat terjadi
dalam tubuh manusia. Dalam mempelajari cara tubuh melakukan proses homeostatis ini
dapat melalui empat cara di antaranya:
a. Self regulation di mana sistem ini terjadi secara otomatis pada orang yang sehat
sepertidalam pengaturan proses sistem fisiologis tubuh manusia.
b. Berkompensasi yaitu tubuh akan cenderung bereaksi terhadap ketidak normalan
dalam tubuh.
c. Dengan cara sistem umpan balik negatif, proses ini merupakan penyimpangan dari
keadaan normal segera dirasakan dan diperbaiki dalam tubuh dimana apabila tubuh
dalam keadaan tidak normal akan secara sendiri mengadakan mekanisme umpan balik
untuk menyeimbangkan dari keadaan yang ada.
d. Cara umpan balik untuk mengkoreksi suatu ketidakseimbangan fisiologis.
Pencegahan terhadap stres bisa dilakukan dengan mengubah sikap hidup.Orang
yang terlibat lebih aktif dengan pekerjaan dan kehidupan masyarakat,lebih berorientasi
pada tantangan dan perubahan ,dan merasa dapat menguasai kejadian-kejadian dalam
hidupnya adalah orang yang tidak akan mudah terkena efek negatif stress.

B. RENTANG SEHAT SAKIT JIWA


A. Konsep sehat sakit
1. Defenisi sehat
Sehat adalah keadaan fisik , mental dan sosial yang baik, tidak hanya terbebas
dari penyakit , cacat , atau kelemahan .arti sehat secara harfiah adalah sesuatu yang
berhubungan dengan kondisi fisik seseorang . orang dikatakan apabila terbebas dari
serangan penyakit .
Sehat adalah keadaan yang sempurnabaik fisik, mental maupun social, tidak
hanya terbebas dari penyakit/cacat. (WHO dalam Notosoedirjo, 2005)
Di indonesia kriteria sehat ditetapkan melalui undang-undang nomor 1960
tentang pokok-pokok kesehatan dan telah diperbaharui dengan pasal 1 ayat (1) yang
bunyinya : kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan , jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
(sumber:suyono,M.sc,Dr.budiman,s.pd,SKM,S.kep,M.Kes.ilmu kesehatan
masyarakat.1-2.2010)
a. Cir–Ciri Sehat

Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau
tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh
berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan
spiritual.
1. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
2. Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan
emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.
3. Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur,
pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni
Tuhan Yang Maha Kuasa (Allah SWT dalam agama Islam). Misalnya sehat spiritual
dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang.
4. Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain
atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau
kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan
menghargai.
5. Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti
mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap
hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial. Bagi mereka yang belum dewasa
(siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan sendirinya batasan ini
tidak berlaku. Oleh sebab itu, bagi kelompok tersebut, yang berlaku adalah produktif
secara sosial, yakni mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka nanti,
misalnya berprestasi bagi siswa atau mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan,
atau pelayanan kemasyarakatan lainnya bagi usia lanjut.

2. Defenisi Kesehatan Jiwa


Menurut UU Kesehatan Jiwa No. 3 tahun 1996, kesehatan jiwa adalah kondisi
yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, emosional, secara oprimal dari
seseorang dan perkembangan ini berjalan selaras dengan orang lain.
kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sehat emosional, psikologi dan social yang
terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, prilaku dan koping yang efektif,
konsep diri yang positif dan kestabilan emosional. ( Videbeck, 2008)

3. Definisi sakit
Dalam pengertian sederhana , sakit adalah deviasi /penyimpangan dari status
sehat .seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun(kronis) , atau
gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja /kegiatannya
terganggu.walaupun seseorang sakit (istilah sehari-hari) seperti masuk angin, pilek ,
tetapi bila ia tidak terganggu untuk melaksanakan kegiatannya , maka ia dianggap tidak
sakit.
Ada tiga kriteria untuk menentukan apakah mereka sakit sakit , yaitu :
1) Adanya gejala , seperti naiknya temperatur nyeri
2) Presepsi bagaimana tentang mereka merasakan: baik,buruk,sakit.
3) Kemampuan untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari : bekerja ,sekolah.
(sumber:anik maryunani.keterampilan dasar praktik klinik kebidanan.5.2011).

a. Ciri-Ciri Sakit

1. Individu percaya bahwa ada kelainan dalam tubuh ; merasa dirinya tidak sehat /
merasa timbulnya berbagai gejala merasa adanya bahaya.
Mempunyai 3 aspek :
- secara fisik : nyeri, panas tinggi.
- Kognitif : interprestasi terhadap gejala.
- Respons emosi terhadap ketakutan / kecamasan.
2. Asumsi terhadap peran sakit (sick Rok).Penerimaan terhadap sakit.

4. Rentang sehat sakit

ü Suatu skala ukur secara relative dalam mengukur keadaan sehat/kesehatan


seseorang.
ü Kedudukannya pada tingkat skala ukur : dinamis dan bersifat individual.

ü Jarak dalam skala ukur : keadaan sehat secara optimal pada satu titik dan kematian
pada titik yang lain.

a. MODEL SEHAT SAKIT


1. Model Rentang Sehat-Sakit (Neuman)
Menurut Neuman (1990): ”sehat dalam suatu rentang merupakan tingkat
kesejahteraan klien pada waktu tertentu , yang terdapat dalam rentang dan kondisi
sejahtera yang optimal , dengan energi yang paling maksimum, sampai kondisi
kematian yang menandakan habisnya energi total” Jadi menurut model ini sehat
adalah keadaan dinamis yang berubah secara terus menerus sesuai dengan
adaptasi individu terhadap berbagai perubahan pada lingkungan internal dan
eksternalnya untuk mempertahankan keadaan fisik, emosional, inteletual, sosial,
perkembangan, dan spiritual yang sehat. Sedangkan Sakit merupakan proses
dimana fungsi individu dalam satu atau lebih dimensi yang ada mengalami
perubahan atau penurunan bila dibandingkan dengan kondisi individu
sebelumnya. Karena sehat dan sakit merupakan kualitas yang relatif dan
mempunyai tingkatan sehingga akan lebih akurat jika ditentukan seseuai titik-titik
tertentu pada skala Rentang Sehat-Sakit. Dengan model ini perawat dapat
menentukan tingkat kesehatan klien sesuai dengan rentang sehat-sakitnya.
Sehingga faktor resiko klien yang merupakan merupakan faktor yang penting
untuk diperhatikan dalam mengidentifikasi tingkat kesehatan klien. Faktor-faktor
resiko itu meliputi variabel genetik dan psikologis.
Kekurangan dari model ini adalah sulitnya menentukan tingkat kesehatan
klien sesuai dengan titik tertentu yang ada diantara dua titik ekstrim pada rentang
itu (Kesejahteraan Tingkat Tinggi – Kematian). Misalnya: apakah seseorang yang
mengalami fraktur kaki tapi ia mampu melakukan adaptasi dengan keterbatasan
mobilitas, dianggap kurang sehat atau lebih sehat dibandingkan dengan orang
yang mempunyai fisik sehat tapi mengalami depresi berat setelah kematian
pasangannya.
Model ini efektif jika digunakan untuk membandingkan tingkat
kesejahteraan saat ini dengan tingkat kesehatan sebelumnya. Sehingga bermanfaat
bagi perawat dalam menentukan tujuan pencapaian tingkat kesehatan yang lebih
baik dimasa yang akan datang.

2. Model Kesejahteraan Tingkat Tinggi (Dunn)


Model yang dikembangkan oleh Dunn (1977) ini berorientasi pada
cara memaksimalkan potensi sehat pada individu melalui perubahan perilaku.
Pada pendekatn model ini perawat melakukan intervnsi keperawatan yang dapat
membantu klien mengubah perilaku tertentu yang mengandung resiko tinggi
terhadap kesehatan Model ini berhasil diterapkan untuk perawatan lansia, dan juga
digunakan dalam keperawatan keluarga maupun komunitas.
3. Model Agen-Pejamu-Lingkungan(Leavell at all.)
Menurut pendekatan model ini tingkat sehat dan sakit individu atau
kelompok ditentukan oleh hubungan dinamis antara Agen, Pejamu, dan
Lingkungan
Agen :Berbagai faktor internal-eksternal yang dengan atau tanpanya dapat
menyebabkan terjadinya penyakit atau sakit. Agen ini bisa bersifat biologis, kimia,
fisik, mekanis, atau psikososial. Jadi Agen ini bisa berupa yang merugikan
kesehatan (bakteri, stress) atau yang meningkatkan kesehatan (nutrisi, dll).
Pejamu: Sesorang atau sekelompok orang yang rentan terhadap
penyakit/sakit tertentu.
Faktor pejamu antara lain: situasi atau kondisi fisik dan psikososoial yang
menyebabkan seseorang yang beresiko menjadi sakit.
Misalnya: Riwayat keluarga, usia, gaya hidup dll.
Lingkungan: seluruh faktor yang ada diluar pejamu.
Lingkungan fisik: tingkat ekonomi, iklim, kondisi tempat tinggal, penerangan,
kebisingan
Lingkungan sosial: Hal-hal yang berkaitan dengan interaksi sosial, misalnys:
stress, konflik, kesulitan ekonomi, krisis hidup.
Model ini menyatakan bahwa sehat dan sakit ditentukan oleh interaksi
yang dinamis dari ketiga variabel tersebut. Menurut Berne et al (1990) respon
dapat meningkatkan kesehatan atau yang dapat merusak kesehatan berasal dari
interaksi antara seseorang atau sekelompok orang dengan lingkungannya.
Selain dalam keperawatan komunitas model ini juga dikembangkan dalam
teori umum tentang berbagai penyebab penyakit
4. Model Keyakinan-Kesehatan
Model Keyakinan-Kesehatan menurut Rosenstoch (1974) dan Becker dan
Maiman (1975) menyatakan hubungan antara keyakinan seseorang dengan
perilaku yang ditampilkan. Model ini memberikan cara bagaimana klien akan
berprilaku sehubungan dengan kesehatan mereka dan bagaimana mereka
mematuhi terapi kesehatan yang diberikan.
Terdapat tiga komponen dari model Keyakinan-Kesehatan antara lain
1. Persepsi Individu tentang kerentanan dirinya terhadap suatu penyakit.
Misal: seorang klien perlu mengenal adanya pernyakit koroner melalui riwayat
keluarganya, apalagi kemudian ada keluarganya yang meninggal maka klien
mungkin merasakan resiko mengalami penyakit jantung.
2. Persepsi Individu terhadap keseriusan penyakit tertentu.
Dipengaruhi oleh variabel demografi dan sosiopsikologis, perasaan terancam oleh
penyakit, anjuran untuk bertindak (misal: kampanye media massa, anjuran
keluarga atau dokter dll)
3. Persepsi Individu tentang manfaat yang diperoleh dari tindakan yang
diambil.
Seseorang mungkin mengambil tindakan preventif, dengan mengubah
gaya hidup, meningkatkan kepatuhan terhadap terapi medis, atau mencari
pengobatan medis.
Model ini membantu perawat memahami berbagai faktor yang dapat
mempengaruhi persepsi, keyakinan, dan perilaku klien, serta membantu perawat
membuat rencana perawatan yang paling efektif untuk membantu klien,
memelihara dan mengembalikan kesehatan serta mencegah terjadiny penyakit
5. Model Peningkatan-Kesehatan (Pender)
Dikemukakan oleh Pender (1982,1993,1996) yang dibuat untuk menjadi
sebuah model yang menyeimbangkan dengan model perlindungan kesehatan.
Fokus dari model ini adalah menjelaskan alasan keterlibatan klien dalam aktivitas
kesehatan (kognitif-persepsi dan faktor pengubah).
b. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Keyakinan dan Tindakan
Kesehatan
1. Faktor Internal
a) Tahap Perkembangan
Artinya status kesehatan dapat ditentukan oleh faktor usia dalam hal ini
adalah pertumbuhan dan perkembangan, dengan demikian setiap rentang usia
(bayi-lansia) memiliki pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan
yang berbeda-beda. Untuk itulah seorang tenaga kesehatan (perawat) harus
mempertimbangkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan klien pada saat
melakukan perncanaan tindakan. Contohnya: secara umum seorang anak belum
mampu untuk mengenal keseriusan penyakit sehingga perlu dimotivasi untuk
mendapatkan penanganan atau mengembangkan perilaku pencegahan penyakit.
b) Pendidikan atau Tingkat Pengetahuan
Keyakinan seseorang terhadap kesehatan terbentuk oleh variabel
intelektual yang terdiri dari pengetahuan tentang berbagai fungsi tubuh dan
penyakit , latar belakang pendidikan, dan pengalaman masa lalu.
Kemampuan kognitif akan membentuk cara berfikir seseorang termasuk
kemampuan untuk memehami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit
dan menggunakan pengetahuan tentang kesehatan untuk menjaga kesehatan
sendirinya.
c) Persepsi tentang fungsi
Cara seseorang merasakan fungsi fisiknya akan berakibat pada keyakinan
terhadap kesehatan dan cara melaksanakannya. Contoh, seseorang dengan kondisi
jantung yang kronik merasa bahwa tingkat kesehatan mereka berbeda dengan
orang yang tidak pernah mempunyai masalah kesehatan yang berarti. Akibatnya,
keyakinan terhadap kesehatan dan cara melaksanakan kesehatan pada masing-
masing orang cenderung berbeda-beda. Selain itu, individu yang sudah berhasil
sembuh dari penyakit akut yang parah mungkin akan mengubah keyakinan
mereka terhadap kesehatan dan cara mereka melaksanakannya. Untuk itulah
perawat mengkaji tingkat kesehatan klien, baik data subjektif yiatu tentang cara
klien merasakan fungsi fisiknya (tingkat keletihan, sesak napas, atau nyeri), juga
data objektif yang aktual (seperti, tekanan darah, tinggi badan, dan bunyi paru).
Informasi ini memungkinkan perawat merencanakan dan mengimplementasikan
perawatan klien secara lebih berhasil.
d) Faktor Emosi
Faktor emosional juga mempengaruhi keyakinan terhadap kesehatan dan
cara melaksanakannya. Seseorang yang mengalami respons stres dalam setiap
perubahan hidupnya cenderung berespons terhadap berbagai tanda sakit, mungkin
dilakukan dengan cara mengkhawatirkan bahwa penyakit tersebut dapat
mengancam kehidupannya.
Seseorang yang secara umum terlihat sangat tenang mungkin mempunyai
respons emosional yang kecil selama ia sakit. Seorang individu yang tidak mampu
melakukan koping secara emosional terhadap ancaman penyakit mungkin akan
menyangkal adanya gejala penyakit pada dirinya dan tidak mau menjalani
pengobatan. Contoh:seseorang dengan napas yang terengah-engah dan sering
batuk mungkin akan menyalahkan cuaca dingin jika ia secara emosional tidak
dapat menerima kemungkinan menderita penyakit saluran pernapasan. Banyak
orang yang memiliki reaksi emosional yang berlebihan, yang berlawanan dengan
kenyataan yang ada, sampai-sampai mereka berpikir tentang risiko menderita
kanker dan akan menyangkal adanya gejala dan menolak untuk mencari
pengobatan. Ada beberapa penyakit lain yang dapat lebih diterima secara
emosional, sehingga mereka akan mengakui gejala penyakit yang dialaminya dan
mau mencari pengobatan yang tepat.
e) Spiritual
Aspek spiritual dapat terlihat dari bagaimana seseorang menjalani
kehidupannya, mencakup nilai dan keyakinan yang dilaksanakan, hubungan
dengan keluarga atau teman, dan kemampuan mencari harapan dan arti dalam
hidup.
Spiritual bertindak sebagai suatu tema yang terintegrasi dalam kehidupan
seseorang. Spiritual seseorang akan mempengaruhi cara pandangnya terhadap
kesehatan dilihat dari perspektif yang luas. Fryback (1992) menemukan hubungan
kesehatan dengan keyakinan terhadap kekuatan yang lebih besar, yang telah
memberikan seseorang keyakinan dan kemampuan untuk mencintai. Kesehatan
dipandang oleh beberapa orang sebagai suatu kemampuan untuk menjalani
kehidupan secara utuh. Pelaksanaan perintah agama merupakan suatu cara
seseorang berlatih secara spiritual.
Ada beberapa agama yang melarang penggunaan bentuk tindakan
pengobatan tertentu, sehingga perawat hams memahami dimensi spiritual klien
sehingga mereka dapat dilibatkan secara efektif dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan.
f) Faktor Eksternal
a. Praktik di Keluarga
Cara bagaimana keluarga menggunakan pelayanan kesehatan biasanya
mempengaruhi cara klien dalam melaksanakan kesehatannya.
Misalnya:
Jika seorang anak bersikap bahwa setiap virus dan penyakit dapat
berpotensi mejadi penyakit berat dan mereka segera mencari pengobatan, maka
bisasnya anak tersebut akan malakukan hal yang sama ketika mereka dewasa.
Klien juga kemungkinan besar akan melakukan tindakan pencegahan jika
keluarganya melakukan hal yang sama. Misal: anak yang selalu diajak orang
tuanya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, maka ketika punya anak
dia akan melakukan hal yang sama.
b. Faktor Sosioekonomi
Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan risiko terjadinya
penyakit dan mempengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan bereaksi terhadap
penyakitnya. Variabel psikososial mencakup: stabilitas perkawinan, gaya hidup,
dan lingkungan kerja. Sesorang biasanya akan mencari dukungan dan persetujuan
dari kelompok sosialnya, hal ini akan mempengaruhi keyakinan kesehatan dan
cara pelaksanaannya.
c. Latar Belakang Budaya
Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan kebiasaan
individu, termasuk sistem pelayanan kesehatan dan cara pelaksanaan kesehatan
pribadi. Untuk perawat belum menyadari pola budaya yang berhubungan dengan
perilaku dan bahasa yang digunakan.

c. Sakit Dan Prilaku Sakit


Sakit adalah keadaan dimana fisik, emosional, intelektual, sosial,
perkembangan, atau seseorang berkurang atau terganggu, bukan hanya keadaan
terjadinya proses penyakit.
Oleh karena itu sakit tidak sama dengan penyakit. Sebagai contoh klien
dengan Leukemia yang sedang menjalani pengobatan mungkin akan mampu
berfungsi seperti biasanya, sedangkan klien lain dengan kanker payudara yang
sedang mempersiapkan diri untuk menjalanaio operasi mungkin akan merasakan
akibatnya pada dimensi lain, selain dimensi fisik.
Perilaku sakit merupakan perilaku orang sakit yang meliputi: cara
seseorang memantau tubuhnya; mendefinisikan dan menginterpretasikan gejala yang
dialami; melakukan upaya penyembuhan; dan penggunaan sistem pelayanan
kesehatan.
Seorang individu yang merasa dirinya sedang sakit perilaku sakit bisa
berfungsi sebagai mekanisme koping.
1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Sakit :
a) Faktor Internal
· Persepsi individu terhadap gejala dan sifat sakit yang dialami
Klien akan segera mencari pertolongan jika gejala tersebut dapat
mengganggu rutinitas kegiatan sehari-hari.
Misal: Tukang Kayu yang menderitas sakit punggung, jika ia merasa hal tersebut
bisa membahayakan dan mengancam kehidupannya maka ia akan segera
mencari bantuan. Akan tetapi persepsi seperti itu dapat pula mempunyai akibat
yang sebaliknya. Bisa saja orang yang takut mengalami sakit yang serius, akan
bereaksi dengan cara menyangkalnya dan tidak mau mencari bantuan.

Asal atau Jenis penyakit


Pada penyakit akut dimana gejala relatif singkat dan berat serta mungkin
mengganggu fungsi pada seluruh dimensi yang ada, Maka klien bisanya akan
segera mencari pertolongan dan mematuhi program terapi yang diberikan.
Sedangkan pada penyakit kronik biasany berlangsung lama (>6 bulan)
sehingga jelas dapat mengganggu fungsi diseluruh dimensi yang ada. Jika
penyakit kronik itu tidak dapat disembuhkan dan terapi yang diberikan hanya
menghilangkan sebagian gejala yang ada, maka klien mungkin tidak akan
termotivasi untuk memenuhi rencana terapi yang ada.

b) Faktor Eksternal
· Gejala yang Dapat Dilihat
Gajala yang terlihat dari suatu penyakit dapat mempengaruhi Citra Tubuh
dan Perilaku Sakit.
Misalnya: orang yang mengalami bibir kering dan pecah-pecah mungkin akan
lebih cepat mencari pertolongan dari pada orang dengan serak tenggorokan,
karena mungkin komentar orang lain terhadap gejala bibir pecah-pecah yang
dialaminya.
· Kelompok Sosial
Kelompok sosial klien akan membantu mengenali ancaman penyakit, atau
justru meyangkal potensi terjadinya suatu penyakit.
Misalnya: Ada 2 orang wanita, sebut saja Ny. A dan Ny.B berusia 35 tahun
yang berasal dari dua kelompok sosial yang berbeda telah menemukan adanya
benjolan pada Payudaranya saat melakukan SADARI. Kemudian mereka
mendisukusikannya dengan temannya masing-masing. Teman Ny. A mungkin
akan mendorong mencari pengobatan untuk menentukan apakah perlu dibiopsi
atau tidak; sedangkan teman Ny. B mungkin akan mengatakan itu hanyalah
benjolan biasa dan tidak perlu diperiksakan ke dokter.
· Latar Belakang Budaya
Latar belakang budaya dan etik mengajarkan sesorang bagaimana menjadi
sehat, mengenal penyakit, dan menjadi sakit. Dengan demikian perawat perlu
memahami latar belakang budaya yang dimiliki klien.

· Ekonomi
Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang biasanya ia akan lebih cepat
tanggap terhadap gejala penyakit yang ia rasakan. Sehingga ia akan segera
mencari pertolongan ketika merasa ada gangguan pada kesehatannya.
· Kemudahan Akses Terhadap Sistem Pelayanan
Dekatnya jarak klien dengan RS, klinik atau tempat pelayanan medis lain
sering mempengaruhi kecepatan mereka dalam memasuki sistem pelayanan
kesehatan. Demikian pula beberapa klien enggan mencari pelayanan yang
kompleks dan besar dan mereka lebih suka untuk mengunjungi Puskesmas yang
tidak membutuhkan prosedur yang rumit.
· Dukungan Sosial
Dukungan sosial disini meliputi beberapa institusi atau perkumpulan yang
bersifat peningkatan kesehatan. Di institusi tersebut dapat dilakukan berbagai
kegiatan, seperti seminar kesehatan, pendidikan dan pelatihan kesehatan, latihan
(aerobik, senam POCO-POCO dll). Juga menyediakan fasilitas olehraga seperti,
kolam renang, lapangan Bola Basket, Lapangan Sepak Bola, dll.

2. Tahap-tahap Perilaku Sakit


a) Tahap I (Mengalami Gejala)
Pada tahap ini pasien menyadari bahwa ”ada sesuatu yang salah ” Mereka
mengenali sensasi atau keterbatasan fungsi fisik tetapi belum menduga adanya
diagnosa tertentu. Persepsi individu terhadap suatu gejala meliputi: (a) kesadaran
terhadap perubahan fisik (nyeri, benjolan, dll); (b) evaluasi terhadap perubahan
yang terjadi dan memutuskan apakah hal tersebut merupakan suatu gejala
penyakit; (c) respon emosional. Jika gejala itu dianggap merupakan suatu gejal
penyakit dan dapat mengancam kehidupannya maka ia akan segera mencari
pertolongan.
Terjadi jika gejala menetap atau semakin berat, Orang yang sakit akan
melakukan konfirmasi kepada keluarga, orang terdekat atau kelompok sosialnya
bahwa ia benar-benar sakit sehingga harus diistirahatkan dari kewajiban
normalnya dan dari harapan terhadap perannya. Menimbulkan perubahan
emosional spt : menarik diri/depresi, dan juga perubahan fisik. Perubahan
emosional yang terjadi bisa kompleks atau sederhana tergantung beratnya
penyakit, tingkat ketidakmampuan, dan perkiraan lama sakit.
Seseorang awalnya menyangkal pentingnya intervensi dari pelayanan
kesehatan, sehingga ia menunda kontak dengan sistem pelayanan kesehatan à
akan tetapi jika gejala itu menetap dan semakin memberat maka ia akan segera
melakukan kontak dengan sistem pelayanan kesehatan dan berubah menjadi
seorang klien.
Pada tahap ini klien mencari kepastian penyakit dan pengobatan dari
seorang ahli, mencari penjelasan mengenai gejala yang dirasakan, penyebab
penyakit, dan implikasi penyakit terhadap kesehatan dimasa yang akan datang
Profesi kesehatan mungkin akan menentukan bahwa mereka tidak
menderita suatu penyakit atau justru menyatakan jika mereka menderita penyakit
yang bisa mengancam kehidupannya. à klien bisa menerima atau menyangkal
diagnosa tersebut.
Bila klien menerima diagnosa mereka akan mematuhi rencan pengobatan
yang telah ditentukan, akan tetapi jika menyangkal mereka mungkin akan mencari
sistem pelayanan kesehatan lain, atau berkonsultasi dengan beberapa pemberi
pelayanan kesehatan lain sampai mereka menemukan orang yang membuat
diagnosa sesuai dengan keinginannya atau sampai mereka menerima diagnosa
awal yang telah ditetapkan.
Klien yang merasa sakit, tapi dinyatakan sehat oleh profesi kesehatan,
mungkin ia akan mengunjungi profesi kesehatan lain sampai ia memperoleh
diagnosa yang diinginkan
Klien yang sejak awal didiagnosa penyakit tertentu, terutama yang
mengancam kelangsungan hidup, ia akan mencari profesi kesehatan lain untuk
meyakinkan bahwa kesehatan atau kehidupan mereka tidak terancam. Misalnya:
klien yang didiagnosa mengidap kanker, maka ia akan mengunjungi beberapa
dokter sebagai usaha klien menghindari diagnosa yang sebenarnya.

b) Tahap II (Asumsi Tentang Peran Sakit)


c) Tahap III (Kontak dengan Pelayanan Kesehatan)
d) Tahap IV (Peran Klien Dependen)
Pada tahap ini klien menerima keadaan sakitnya, sehingga klien
bergantung pada pada pemberi pelayanan kesehatan untuk menghilangkan gejala
yang ada.
Klien menerima perawatan, simpati, atau perlindungan dari berbagai
tuntutan dan stress hidupnya. Secara sosial klien diperbolehkan untuk bebas dari
kewajiban dan tugas normalnya à semakin parah sakitnya, semakin bebas. Pada
tahap ini klien juga harus menyesuaikanny dengan perubahan jadwal sehari-hari.
Perubahan ini jelas akan mempengaruhi peran klien di tempat ia bekerja, rumah
maupun masyarakat. Merupakan tahap akhir dari perilaku sakit, dan dapat terjadi
secara tiba-tiba, misalnya penurunan demam. Penyembuhan yang tidak cepat,
menyebabkan seorang klien butuh perawatan lebih lama sebelum kembali ke
fungsi optimal, misalnya pada penyakit kronis.
e) Tahap V (Pemulihan dan Rehabilitasi)
Tidak semua klien melewati tahapan yang ada, dan tidak setiap klien
melewatinya dengan kecepatan atau dengan sikap yang sama. Pemahaman
terhadap tahapan perilaku sakit akan membantu perawat dalam mengidentifikasi
perubahan-perubahan perilaku sakit klien dan bersama-sama klien membuat
rencana perawatan yang efektif

d. Dampak Sakit
1. Terhadap Perilaku dan Emosi Klien
Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda-beda tergantung pada asal
penyakit, reaksi orang lain terhadap penyakit yang dideritanya, dan lain-lain.
Penyakit dengan jangka waktu yang singkat dan tidak mengancam kehidupannya
akan menimbulkan sedikit perubahan perilaku dalam fungsi klien dan keluarga.
Misalnya seorang Ayah yang mengalami demam, mungkin akan mengalami
penurunan tenaga atau kesabaran untuk menghabiskan waktunya dalam kegiatan
keluarga dan mungkin akan menjadi mudah marah, dan lebih memilih menyendiri.
Sedangkan penyakit berat, apalagi jika mengancam kehidupannya.dapat
menimbulkan perubahan emosi dan perilaku yang lebih luas, seperti ansietas,
syok, penolakan, marah, dan menarikd diri. Perawat berperan dalam
mengembangkan koping klien dan keluarga terhadap stress, karena stressor sendiri
tidak bisa dihilangkan.

2. Terhadap Peran Keluarga


Setiap orang memiliki peran dalam kehidupannya, seperti pencari nafkah,
pengambil keputusan, seorang profesional, atau sebagai orang tua. Saat
mengalami penyakit, peran-peran klien tersebut dapat mengalami perubahan.
Perubahan tersebut mungkin tidak terlihat dan berlangsung singkat atau terlihat
secara drastis dan berlangsung lama. Individu / keluarga lebih mudah beradaftasi
dengan perubahan yang berlangsung singkat dan tidak terlihat.
Perubahan jangka pendek :
· klien tidak mengalami tahap penyesuaian yang berkepanjangan. Akan
tetapi pada perubahan jangka penjang klien memerlukan proses penyesuaian yang
sama dengan ’Tahap Berduka’.
· Peran perawat adalah melibatkan keluarga dalam pembuatan rencana
keperawatan.
3. Terhadap Citra Tubuh
Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang terhadap penampilan
fisiknya. Beberapa penyakit dapat menimbulkan perubahan dalam penampilan
fisiknya, dan klien/keluarga akan bereaksi dengan cara yang berbeda-beda
terhadap perubahan tersebut. Reaksi klien/keluarga etrhadap perubahan gambaran
tubuh itu tergantung pada:
Jenis Perubahan (mis: kehilangan tangan, alat indera tertentu, atau organ tertentu)
· Kapasitas adaptasi
· Kecepatan perubahan
· Dukungan yang tersedia.

4. Terhadap Konsep Diri


Konsep Diri adalah citra mental seseorang terhadap dirinya sendiri,
mencakup bagaimana mereka melihat kekuatan dan kelemahannya pada seluruh
aspek kepribadiannya. Konsep diri tidak hanya bergantung pada gambaran tubuh
dan peran yang dimilikinya tetapi juga bergantung pada aspek psikologis dan
spiritual diri. Perubahan konsep diri akibat sakit mungkin bersifat kompleks dan
kurang bisa terobservasi dibandingkan perubahan peran. Konsep diri berperan
penting dalam hubungan seseorang dengan anggota keluarganya yang lain. Klien
yang mengalami perubahan konsep diri karena sakitnya mungkin tidak mampu
lagi memenuhi harapan keluarganya, yang akhirnya menimbulkan ketegangan
dan konflik. Akibatnya anggiota keluarga akan merubah interaksi mereka dengan
klien.
Misal: Klien tidak lagi terlibat dalam proses pengambilan keputusan
dikeluarga atau tidak akan merasa mampu memberi dukungan emosi pada
anggota keluarganya yang lain atau kepada teman-temannya klien akan merasa
kehilangan fungsi sosialnya. Perawat seharusnya mampu mengobservasi
perubahan konsep diri klien, dengan mengembangkan rencana perawatan yann
membantu mereka menyesuaikan diri dengan akibat dan kondisi yang dialami
klien.

5. Terhadap Dinamika Keluarga


Dinamika Keluarga meruapakan proses dimana keluarga melakukan
fungsi, mengambil keputusan, memberi dukungan kepada anggota keluarganya,
dan melakukan koping terhadap perubahan dan tantangan hidup sehari-hari.
Misal: jika salah satu orang tua sakit maka kegiatan dan pengambilan
keputusan akan tertunda sampai mereka sembuh. Jika penyakitnya
berkepanjangan, seringkali keluarga harus membuat pola fungsi yang baru
sehingga bisa menimbulkan stress emosional.
Misal: anak kecil akan mengalami rasa kehilangan yang besar jika salah
satu orang tuanya tidak mampu memberikan kasih sayang dan rasa aman pada
mereka. Atau jika anaknya sudah dewasa maka seringkali ia harus menggantikan
peran mereka sebagai mereka termasuk kalau perlu sebagai pencari nafkah.

e. Peningkatan Kesehatan Dan Pencegahan penyakit


Peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit merupakan dua konsep
yang berhubungan erat dan pada pelaksanaannya ada beberapa hal yang menjadi
saling tumpang tindih satu sama lain.
Peningkatan kesehatan merupakan upaya memelihara atau memperbaiki
tingkat kesehatan klien saat ini. Sedangkan Pencegahan Penyakit merupakan
upaya yang bertujuan untuk melindungi klien dari ancaman kesehatan yang
bersifat aktual maupun potensial. Kegiatan Peningkatan Kesehatan dapat bersifat
Aktif maupun Pasif

a) Peningkatan Kesehatan Pasif


Merupakan strategi peningkatan kesehatan dimana individu akan
memperoleh manfaat dari kegiatan yang dilakukan oleh orang lain tanpa harus
melakukannya sendiri.
Misal: Pemberian florida pada pusat suplai Air Minum (PAM); Portifikasi pada
susu dengan vitamin D.
b) Peningkatan Kesehatan Aktif
Pada strategi ini, setiap individu diberikan motivasi untuk melakukan
program kesehatan tertentu. Misal: Program Penurunan BB, dan Program
pemberantasan rokok, menuntut keikutsertaan klien secara aktif.

Sedangkan Pencegahan Penyakit terdiri dari beberapa tingkatan adl:


1. Pencegahan Primer
Merupakan pencegahan yang dilakukan sebelum terjadi penyakit dan
gangguan fungsi, dan diberikan kepada klien yang sehat secara fisik dan mental.
Tidak bersifat terapeutik, tidak menggunakan tindakan yang terapeutik, dan tidak
menggunakan identifikasi gejala penyakit

Terdiri dari :
· Peningkatan Kesehatan: pendidikan kesehatan, standarisasi nutrisi,
perhatian terhadap perkembangan kepribadian, penyediaan perumahan sehat,
skrining genetik dll
· Perlindungan Khusus: imunisasi, kebersihan pribadi (PHBS), sanitasi
lingkungan, perlindungan tempat kerja, perlindungan kecelakaan, perlindungan
karsinoge dan alergen.
2. Pencegahan Sekunder
Merupakan tindakan pencegahan yang berfokus pada individu yang meng-
alami masalah kesehatan atau penyakit, dan individu yang berisiko mengalami
komplikasi atau kondisi yang lebih buruk.m Pencegahan sekunder dilakukan
melalui pembuatan diagnosa dan pemberian intervensi yang tepat sehingga akan
mengurangi keparahan kondisi dan memungkinkan klien kembali pada kondisi
kesehatan yang normal sedini mungkin. Pencegahan komplikasi sebagian besar
dilakukan di RS atau tempat pelayanan kesehatan lain yang memiliki fasilitas
memadai. Pencegahan skunder terdiri dari teknik skrining dan pengobatan
penyakit pada tahap dini untuk membatasi kecacatan dengan cara menghindarkan
atau menunda akibat yang ditimbulkan dari perkembangan penyakit.
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan ini dilakukan ketika terjadi kecacatan atau ketidakmampuan
yang permanen dan atau tidak dapat disembuhkan. Pencegahan ini terdiri dari cara
meminimalkan akibat penyakit atau ketidakmampuan melalui intervensi yang
bertujuan untuk mencegah komplikasi dan penurunan kesehatan Kegiatannya
lebih ditujukan untuk melaksanakan rehabilitasi, dari pada pembuatan diagnosa
dan tindakan penyakit. Perawatan pada tingkat ini ditujukan untuk membantu
klien mencapai tingkat fungsi setinggi mungkin, sesuai dengan keterbatasan yang
ada akibat penyakit atau kecacatan. mTingkat perawatan ini bisa disebut juga
perawatan preventive, karena didalamnya terdapat tindak pencegahan terhadap
kerusakan atau penurunan fungsi lebih jauh. Misal: dalamm merawat orang yang
Buta, disamping memaksimalkan kemampuan klien dalam aktivitas sehari-hari,
juga mencegah terjadinya kecelakaan pada klien.
C. Koping
Koping adalah sebuah mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau
beban yang diterima tubuh dan beban tersebut menimbulkan respon tubuh yang sifatnya
nonspesifik yaitu stres. Apabila mekanisme coping ini berhasil, seseorang akan dapat
beradaptasi terhadap perubahan atau beban tersebut (Ahyar, 2010).
Koping melibatkan upaya untuk mengelola situasi yang membebani, memperluas
usaha untuk memecahkan masalah-masalah hidup, dan berusaha untuk mengatasi dan
menguragi stres. Keberhasilan dalam koping berkaitan dengan sejumlah karakteristik,
termasuk penghayatan mengenai kendali pribadi, emosi positif, dan sumber daya
personal (Folkman & Moskowitz, 2004). Meskipun demikian keberhasilan dalam koping
juga tergantung pada strategi-strategi yang digunakan dan konteksnya (John W Santrock,
2007: 299)
Relevan dengan perbedaan individual dalam merespons situasi penuh stres
merupakan konsep koping, yaitu bagaimana orang berupaya mengatasi masalah atau
menangani emosi yang umumnya negatif yang ditimbulkannya. Bahkan diantara mereka
yang menilai suatu situasi sebagai penuh stres, efek stres dapat bervariasi tergantung
pada bagaimana individu menghadapi situasi tersebut (Gerald C.Davison, 2010: 275)
Menurut Lazarus dan Folkman (dalam Smet, 1994: 143) mengatakan bahwa
perilaku koping merupakan suatu proses dimana individu mencoba mengelola jarak yang
ada antara tuntutan tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun
tuntutan yang berasal dari lingkungan) 11 dengan sumber-sumber daya yang mereka
gunakan dalam menghadapi situasi yang penuh dengan stress.
Sedangkan menurut Lazarus (1985), koping adalah perubahan kognitif dan
perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau
eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu.
1. Mekanisme Koping

Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam


menyelesaikanmasalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap
situasi yang mengancam (Keliat, 1999).

Berdasarkan kedua definisi di atas, maka yang dimaksud mekanisme koping


adalah cara yang digunakan individu dalam menyelesaikan masalah, mengatasi
perubahan yang terjadi dan situasi yang mengancam baik secara kognitif maupun
perilaku

Individu dapat mengatasi stres dengan menggerakkan sumber koping di


lingkungan. Ada lima sumber koping yaitu: aset ekonomi, kemampuan dan keterampilan
individu, teknik-teknik pertahanan, dukungan sosial dan dorongan motivasi (Hidayat,
2008).

2. Metode koping

Bell (1977, dalam Rasmun 2004) menyatakan ada dua metode koping yang di
gunakan oleh individu dalam mengatasi masalah psikologis yaitu: metode koping jangka
panjang dan metode koping jangka pendek.

Metode koping jangka panjang bersifat konstruktif dan merupakan cara yang
efektif dan realitas dalam menangani masalah psikologis untuk kurun waktu yang lama,
hal ini seperti; berbicara dengan orang lain, teman, keluarga atau profesi tentang masalah
yang sedang dihadapi, mencoba mencari informasi yang lebih banyak tentang masalah
yang sedang dihadapi, menghubungkan situasi atau masalah yang sedang dihadapi dalam
kekuatan supra natural, melakukan latihan fisik untuk mengurangi ketegangan/masalah,
membuat berbagai alternatif tindakan untuk mengurangi situasi, mengambil pelajaran
dari peristiwa atau pengalaman masalalu.

Sedangkan metode koping jangka pendek digunakan untuk mengurangi


stres/ketegangan psikologis dan cukup efektif untuk waktu sementara, tetapi tidak efektif
jika digunakan dalam jangka panjang contohnya adalah; mengunakan alkohol, melamun
fantasi, mencoba melihat aspek humor dari situasi yang tidak menyenangkan, tidak ragu,
dan merasa yakin bahwa semua akan kembali stabil, banyak tidur, banyak merokok,
menangis, beralih pada aktifitas lain agar dapat melupakan masalah.

Pada tingkat keluarga koping yang dilakukan dalam menghadapi masalah seperti
yang di kemukakan oleh Mc.Cubbin (1979, dalam Rasmun, 2004) adalah; mencari
dukungan sosial seperti minta bantuan keluarga, tetangga, teman, atau keluarga jauh,
reframing yaitu mengkaji ulang kejadian masa lalu agar lebih dapat menanganinya dan
menerima, menggunakan pengalaman masa lalu untuk mengurangi stres/kecemasa,
mencari dukungan spiritual, berdoa, menemui pemuka agama atau aktif pada pertemuan
ibadah, menggerakkan keluarga untuk mencari dan menerima bantuan, penilaian secara
pasive terhadap peristiwa yang di alami dengan cara menonton tv, atau diam saja.

3. Bentuk-bentuk Strategi Koping


Lazarus dan Folkman (Gerald C.Davison, 2010: 276) mengidentifikasikan dua
bentuk strategi koping, yaitu:
a. Koping yang berfokus pada masalah (problem focused coping) mencakup bertindak
secara langsung untuk mengatasi masalah atau mencari informasi yang relevan dengan
solusi. Contohnya adalah menyusun jadwal untuk menyelesaikan berbagai tugas dalam
satu semester sehingga megurangi tekanan pada akhir semester.
b. Koping yang berfokus pada emosi (emotion focused coping) merujuk pada berbagai
upaya untuk mengurangi berbagai reaksi emosional negatif terhadap stres, contohnya
dengan mengalihkan perhatian dari masalah, melakukan relaksasi, atau mencari rasa
nyaman dan orang lain. Mengatasi stres yang diarahkan pada masalah yang
mendatangkan stres (problem focused coping) bertujuan untuk mengurangi tuntutan
hal, peristiwa, orang, keadaan yang mendatangkan stres atau memperbesar sumber
daya untuk menghadapinya. Metode yang dipergunakan adalah metode tindakan
langsung. Sedangkan pengatasan stres yang diarahkan

pada pengendalian emosi (emotion focused coping) bertujuan untuk


menguasai, mengatur, dan mengarahkan tanggapan emosional terhadap situasi stres.
Pengendalian emosi inidapat dilakukan lewat perilaku 12 negatif seperti menenggak
minuman keras atau obat penenang, atau dengan perilaku positif seperti olahraga,
berpaling pada orang lain untuk meminta bantuan pertolongan. Cara lain yang
dipergunakan dalam penanganan stres lewatpengendalian emosi adalah dengan
mengubah pemahaman terhadap masalah stres yang dihadapi (Bart Smet, 1994: 143-
145).

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Koping


Menurut Smet (dalam smet, 1994: 130) perilaku koping dipengaruhi beberapa faktor,
antara lain :
a. Kondisi individu: umur, tahap kehidupan, jenis kelamin, temperamen, pendidikan,
intelegensi, suku, kebudayaan, status ekonomi dan kondisi fisik.
b.Karakteristik kepribadian: introvert-ekstrovert, stabilitas emosi secara umum,
kekebalan dan ketahanan.
c. Sosial-kognitif: dukungan sosial, dukungan yang diterima, integrasi dalam jaringan
sosial.
d.Strategi dalam melakukan koping.
BAB III
KESIMPULAN

Stress menurut Hans Selye 1976 merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik
terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya.
Manifestasi Stress ; Stres sifatnya universiality, yaitu umum semua orang sama dapat
merasakannya, tetapi cara pengungkapannya yang berbeda atau diversity. Sesuai dengan
karakteristik individu, maka responnya berbeda- beda untuk setiap orang.
Faktor yang mempengaruhi stress yaitu, faktor lingkungan, faktor organisasi, dan faktor
individu.

Sehat adalah keadaan fisik , mental dan sosial yang baik, tidak hanya terbebas dari
penyakit , cacat , atau kelemahan .arti sehat secara harfiah adalah sesuatu yang berhubungan
dengan kondisi fisik seseorang . orang dikatakan apabila terbebas dari serangan penyakit .
Dalam pengertian sederhana , sakit adalah deviasi /penyimpangan dari status sehat
.seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun(kronis) , atau gangguan
kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja /kegiatannya terganggu.walaupun seseorang
sakit (istilah sehari-hari) seperti masuk angin, pilek , tetapi bila ia tidak terganggu untuk
melaksanakan kegiatannya , maka ia dianggap tidak sakit.

Koping merupakan cara-cara yang digunakan oleh indifidu unyuk menghadapi situasi
yang menekan.Oleh karena itu meskipun koping menjadi bagian dari penyesuaian diri,namun
koping merupakan istilah yang khusus digunakan untuk menunjukkan reaksi individu ketika
menghadapi tekanan/stress.
Ada berbagai macam koping.Pendapat berbagai tokoh pun beragam.Ada yang
menyebutkan istilah koping hanya untuk cara-cara mengatasi persoalan yang sifatnya
positif.Namun ada juga yang melihat koping sebagai istilah yang netral.
Koping yang negatif menimbulkan berbagai persoalan baru di kemudian hari,bahkan
sangat mungkin memunculkan berbagai gangguan pada diri individu yang
bersangkutan.Sebaliknya koping yang positif menjadikan individu semakin matang,dewasa dan
bahagia dalam menjalani kehidupannya
DAFTAR PUSTAKA

Siswanto, 2007, Buku Kesehatan Mental Konsep,Cakupan dan Perkembangan .Yogyakarta

Keliat, Budi Anna dll. (1998). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.. EGC: Jakarta.

Schultz dan Videback. (1998). Manual Psychiatric Nursing Care Plan. 5th edition

Stuart, Gail W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Potter, Patricia, 2005, Buku Ajar Fundamental Keperawatan : konsep, proses, dan
praktek/Patricia A. Potter, Anne Griffin Perry; Alih Bahasa, Yasmin Asih et al.
Editor edisi Bahasa indonesia, Devi Yulianti, Monica Ester. – Ed.4. – Jakarta ;
EGC, 2005