Anda di halaman 1dari 10

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN

DAERAH BERBASIS KEARIFAN LOKAL

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………..................……................... i
DAFTAR ISI ………………………………………………................……............... ii

1. BAB I PENDAHULUAN ….......... ..................................................................….


1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ....................... ............................................................... 2
2. BAB II KAJIAN PUSTAKA.................................................................................
3. BAB III PEMBAHASAN ………………......…………………. ..........................
3.1 Pembangunan Daerah ............................................................................... 3
3.2 Otonomi Daerah........................................ ................................................. 4
3.3 Peran Masyarakat dalam Pembangunan Daerah Berbasis Kearifan Lokal
saat ini.......................................................................................................... 5

4. BAB IV PENUTUP ……….................................……………………..………..


4.1 Kesimpulan dan Saran ..……………………………………................... 9

5. DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………. ................... 10

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan Daerah merupakan suatu usaha yang sistematik dari berbagai pelaku,
baik umum, pemerintah, swasta, maupun kelompok masyarakat lainnya pada tingkatan
yang berbeda untuk menghadapi saling ketergantungan dan keterkaitan aspek fisik,
sosial ekonomi dan aspek lingkungan lainnya sehingga peluang baru untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah dapat ditangkap secara berkelanjutan.

Oleh karena itu Pembangunan Daerah membutuhkan Kearifan Lokal atau Otonomi
Daerah yang baik, karena keberhasilan pembangunan daerah tergantung kepala daerah
melihat potensi di wilayahnya dengan dibantu Masyarakat untuk melancarkannya.
Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, pembangunan di daerah tidak
tergantung pada pemerintahan pusat melainkan kearifan lokasi pemerintah daerah dan
berhasil tidaknya Otonomi Daerah itu di jalankan dengan benar. Ketika pemerintah
pusat bertekad melakukan pembangunan di daerah tetapi pemerintah daerah dan
Masyarakat tidak antusias, maka pembangunan akan berjalan lambat. Tetapi bila
pemerintah daerah antusias, maka pembangunan akan berjalan dengan baik.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Pembangunan Daerah?


2. Apa yang dimaksud dengan Otonomi Derah?
3. Bagaimana Peran Masyarakat dalam Pembangunan Daerah Berbasis Kearifan
Lokal?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Mengetahui Pengertian Pembangunan Daerah.


2. Mengetahui Pengertian Otonomi Derah.
3. Mengetahui Peran Masyarakat dalam Pembangunan Daerah Berbasis Kearifan
Lokal

1
BAB II
KAJIAN PUSAKA

Keberhasilan pembangunan daerah di Indonesia tergantung pada kepala daerah melihat


potensi di wilayahnya. Pembangunan di daerah tidak tergantung pada pemerintah pusat
melainkan kearifan lokasl pemerintah daerah. Peran masyarakat juga sangat
menentukan dan berpengaruh, peran apa saja yang dilakukan masyarakat dalam
berpartisipasi dalam peningkatan pembangunan daerah adalah

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pembangunan Daerah
Pembangunan Daerah merupakan suatu usaha yang sistematik dari berbagai pelaku,
baik umum, pemerintah, swasta, maupun kelompok masyarakat lainnya pada tingkatan
yang berbeda untuk menghadapi saling ketergantungan dan keterkaitan aspek fisik,
sosial ekonomi dan aspek lingkungan lainnya sehingga peluang baru untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah dapat ditangkap secara berkelanjutan.

Tujuan Pembangunan Daerah

 Mengurangi disparsi atau ketimpangan pembangunan antara daerah dan sub daerah
serta antara warga masyarakat (pemerataan dan keadilan).
 Memberdayakan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan
 Menciptakan lapangan kerja.
 Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat daerah.
 Mempertahankan atau menjaga kelestarian sumber daya alam agar bermanfaat bagi
generasi sekarang dan generasi berkelanjutan.

Masalah Pembangunan Daerah di Negara Berkembang

 Sistem pertanian yang masih tradisional


 Kurangnya dana modal dan modal fiskal
 Peranan tenaga terampil dan berpendidikan
 Pesatnya perkembangan penduduk

3.2 Otonomi Daerah


Otonomi daerah merupakan hak, wewenang, serta kewajiban daerah otonom guna untuk
mengatur serta mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
daerah tersebut yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Secara harfiah, kata
otonomi daerah berasal dari otonomi dan daerah. Dalam bahasa Yunani, kata otonomi

2
berasal dari autos dan namos. Autos yang memiliki arti "sendiri" serta namos yang
berarti "aturan" atau "undang-undang". Sehingga otonomi daerah dapat diartikan
sebagai kewenangan untuk mengatur sendiri atau kewenangan guna untuk membuat
aturan untuk mengurus daerahnya sendiri. Sedangkan daerah merupakan kesatuan
masyarakat hukum dan mempunyai batas-batas wilayah.

Pelaksanaan otonomi daerah selain memiliki landasan pada acuan hukum, juga sebagai
suatu implementasi tuntutan globalisasi yang diberdayakan dengan cara memberikan
daerah tersebut kewenangan yang luas, nyata dan memiliki tanggung jawab, terutam
dalam hal mengatur, memanfaatkan, serta menggali berbagai sumber-sumber potensi
yang terdapat di daerahnya masing-masing.

3.3 Peran Masyarakat dalam Pembangunan Daerah Berbasis


Kearifan Lokal saat ini
Agenda peningkatan optimalisasi dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan pada
era globalisasi seperti saat ini semakin memiliki nilai strategis untuk dibicarakan. Hal
ini cukup penting, mengingat dari rangkaian pembicaraan yang terjadi, diharapkan akan
memunculkan pemikiran-pemikiran, ide-ide serta gagasan-gagasan yang inovatif,
kreatif serta berwawasan ke depan bagi kemajuan hubungan yang lebih erat antara
pemerintah dan masyarakat. Dari pembicaraan itu juga, bisa saja ditemukan
kesimpulan-kesimpulan yang baik bagi pengembangan serta peningkatan partisipasi
masyarakat.

Adapun, kalau kita jabarkan secara singkat dan sederhana, peran apa saja yang
dilakukan masyarakat dalam berpartisipasi dalam peningkatan pembangunan daerah
adalah, diantarnya:

Peran di Bidang Pendidikan

Pendidikan adalah permasalahan besar yang menyangkut nasib dan masa depan bangsa
dan negara. Karena itu, tuntutan reformasi politik, ekonomi, sosial, hak azasi manusia,
sistem pemerintahan dan agraria tidak akan membuahkan hasil yang baik tanpa
reformasi sistem pendidikan. Krisis multidimensi yang melanda negara dan bangsa
Indonesia dewasa ini, tidak hanya disebabkan oleh krisis ekonomi, sosial dan politik,
melainkan juga oleh krisis pada sistem pendidikan nasional.

Upaya pemerintah memberikan bantuan darurat dalam bentuk materi baik melalui
program "jaring pengaman sosial" maupun melalui proyek "Padat Karya" ternyata
belum mampu memberdayakan masyarakat miskin secara maksimal. Tentu saja
masyarakat lapisan bawah sangat memerlukan bantuan semacam ini. Akan tetapi, fakta-
fakta di lapangan menunjukkan bahwa upaya tersebut masih sarat dengan korupsi,
kolusi, dan nepotisme. Bantuan yang seharusnya menjadi porsi dan hak masyarakat
lapisan bawah justru sebaliknya kadangkala dinikmati mereka yang tidak berhak.

Pola partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan seharusnya memang bukan pola
yang bersifat top-down intervention yang terkadang mengandung nuansa
kurangmenjunjung tinggi aspirasi dan potensi masyarakat untuk melakukan kegiatan

3
swadaya. Akan tetapi yang relatif lebih sesuai dengan masyarakat lapisan bawah
terutama yang tinggal di desa adalah pola pemberdayaan yang sifatnya bottom-up
intervention yang di dalamnya ada nuansa penghargaan dan pengakuan bahwa
masyarakat lapisan bawah memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhannya,
memecahkan permasalahannya, serta mampu melakukan usaha-usaha pendidikan
dengan prinsip swadaya dan kebersamaan. Bagaimana peran partisipasi masyarakat
dalam bidang pendidikan formal dan nonformal untuk melahirkan SDM yang
berkualitas tentu saja menjadi pekerjaan rumah semua pihak.

Masalahnya adalah bagaimana pemerintah menjadi motivator dan akselerator yang baik
bagi tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan milik masyarakat sehingga mampu
menjadi daya dukung pembangunan SDM yang berkualitas. Pada tataran ini pula,
pemerintah harus mendorong secara maksimal agar masyarakat mampu meningkatkan
kualitas pendidikan yang lebih baik, yang didalamnya terdapat tujuan mulia untuk
mengubah perilaku masyarakat, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan menjadi
seorang insan yang utama .

Peran di Bidang Ekonomi

Sebagian besar masyarakat Indonesia adalah petani dan buruh. Ironisnya, sejumlah
besar petani kita, bekerja dan hidup di atas lahan yang bukan milik mereka sendiri.
Mereka yang merasa “memiliki” lahan pun kadangkala tanpa hak kepemilikan yang
resmi. Legalisasi serta sertifikasi tanah yang ada baru mencakup sebagian kecil dari
lahan yang diolah para petani. Di tengah kondisi itu, pemerintah belum mengupayakan
perbaikan maksimal nasib para petani. Wajarlah ketika akhirnya di Jawa Tengah para
petani yang kecewa kepada pemerintah membakar gabah yang merupakan hasil panen
dari kerja keras dan banting tulang mereka selama ini.

Sedangkan nasib para buruh di Indonesia, ternyata tidak begitu jauh dari para petani.
Karena umumnya para buruh kita berangkat dari latar belakang pendidikan yang
rendah, maka mereka cenderung tidak punya pilihan selain hanya menjadi buruh
selamanya. Artinya, hampir bisa dikatakan ketika usia mereka masih belia dan masuk
ke sektor ini, hingga kemudian mereka menjadi tua, dalam prakteknya mereka
mengalami kesulitan untuk bisa beralih ke profesi lain yang lebih baik. Terkadang para
buruh ini pula yang pada akhirnya justeru melahirkan buruh-buruh generasi selanjutnya
yang akan menggantikan mereka. Lingkaran kemiskinan yang terjadi di kalangan petani
dan buruh ternyatamenyebabkan rentannya kehidupan ekonomi mereka. Kondisi ini
pula pada perkembangan selanjutnya berimplikasi pada perekonomian sebagian besar
penduduk Indonesia.

Di tengah-tengah kondisi yang terjadi tersebut, ternyata juga, terjadi pula ledakan
urbanisasi, kekumuhan dan ekspansi sektor informal yang muncul sebagai bagian
kompleksitas problema kehidupan masyarakat. Di saat yang sama, seringkali kebijakan
yang dilakukan pemerintah difokuskan justeru pada pembangunan sektor formal
semata. Pada kenyataannya, fenomena sektor informal haruslah kita lihat sebagai
bagian dari ekspansi ekonomi yang lebih banyak memberi harapan daripada
permasalahan. Belajar dari pengalaman di Barat, pemerintah di sana seringkali

4
memberikan wadah formal yang sesuai untuk masyarakat yang bergerak di sektor
informal tersebut.

Peran di Bidang Politik

Pada dataran konseptual, banyak pihak yang menyangka bahwa politik pada dasarnya
adalah hal yang hanya berurusan dengan kekuasaan. Padahal secara substansial, politik
sebenarnya menyangkut juga kehidupan manusia secara luas. Makanya dalam
kehidupan praktis, kita menjumpai istilah politik ekonomi, politik pendidikan serta
istilah politik lain yang dihubungkan dengan persoalan yang terjadi.

Namun begitu, dalam konteks pembicaraan politik saat ini, kita akan memfokuskan
pada dua hal pembahasan. Pertama, politik yang kita maknai sebagai wahana (arena)
perjuangan tempat elemen dalam masyarakat bersaing mendapat porsi dalam kekuasaan
yang ada dalam bentuk institusi legislatif dan eksekutif yang adadi berbagai
tingkatan. Kedua, ketika masalah pertama tadi telah dilampaui, maka keadaannya
menjadi bergeser ke dalam manajemen kekuasaan tersebut. Secara substansi harusnya
kekuasaan mampu memberikan jawaban kepada publik, akan diarahkan kemana
kekuasaan yang telah diraih. Secara ideal, siapapun yang pada akhirnya berkuasa secara
syah sekaligus secara legal formal aturan demokrasi bisa terpenuhi harusnya
mengarahkan kekuasaan yang ada pada pencapaian sebesar-besarnya bagi pengurusan
kepentingan masyarakat. Secara spsifik berarti memperbesar legitimasi dan fokus awal
(yang ada pada kelompok atau elemen pendukung awal; bisa berupa satu partai atau
gabungan) untuk sanggup melintasi tujuan bersama yang lebih baik, yakni menuju
masyarakat berkualitas yang dalam kehidupannya tercipta keadilan, kemakmuran, dan
kesejahteraan. Masyarakat yang dalam hidupnya pula tercipta rasa aman, damai
sentausa, tanpa takut pada tekanan atau intimidasi pihak lain.

Untuk mewujudkan hal yang seperti di atas, pada dasarnya di masyarakat sendiri
sebenarnya telah terbangun sendi-sendi kehidupan yang mengarah ke sana. Di tengah
masyarakat pula, kita saksikan ada banyak tokoh masyarakat, baik yang berlatar
belakang tokoh agama (kyai, ulamaatau ustadz), tokoh sosial, aparat pemerintahan
maupun para pemimpin informal lainnya yang selalu saja akan segera sigap membantu
penyelesaian masalah begitu terjadi kesalahpahaman atau persoalan-persoalan lain yang
terjadi di tengah masyarakat. Potensi inilah yang secara khusus harus kita syukuri,
mengingat perselisihan pandangan atau perbedaan politik seperti apapun yang terjadi di
masyarakat kita,akan segera selesai ketika para tokoh masyarakat sedera ikut serta
membantu penyelesaian masalah yang terjadi.

Peran di Bidang Sosial Budaya

Karya sastra dan kesenian yang tumbuh di tengah masyarakat ternyata kadangkala
mampu membuatbanyak orang terpengaruh, baik secara langsung ataupun tidak
langsung. Pengaruh ini, baik sebatasvisi dan pandangan hidup atau malah pada perilaku
keseharian. Dengan begitu kesan yang mungkin ditimbulkan oleh sebuah produk
kesenian haruslah mampu terkontrol. Artinya, seni dan produk berkesian secara ideal
5
seyogianya berada dalam koridor tatanan normatif yang mampu menjembatani
kebebasan berekspresi dan etika yang berlaku di tengah masyarakat. Ini haruslah
dilakukan, mengingat Indonesia adalah negara yang secara nyata menjadikan dasar-
dasar kehidupan masyarakatnya berada di atas landasan moral dan spiritual yang baik.
Jika tidak terjadi keseimbangan seperti itu, maka dikhawatirkan akan terjadi polemik
berkepanjangan tanpa penyelesaian. Ini terjadi sebagaimana pada beberapa waktu yang
lalu, yang dimungkinkan karena berbedanya cara pandang terhadap seni dan produk
kesenian yang ada di tengah masyarakat.

Dunia seni dan produk kesenian pada dasarnya adalah produk budaya masyarakat.
Kalau kita amati dalam perjalanannya di tengah kehidupan bangsa, kadangkala seni dan
produk budaya bangsa ini pula yang mampu menjadikan bangsa kita dihormati dan
dihargai oleh bangsa lain. Dengan begitu, seni adalah asset besar bangsa yang kalau
bisa dikelola dengan baik serta tetap memegang etika yang baik akan justeru menaikkan
derajat bangsa.

Dan sebagaimana kita telah ketahui bersama, di tengah masyarakat kita telah tumbuh
beranekaragam kesenian dan budaya yang merupakan warisan dari para orang tua serta
nenek moyang kita. Halini, tentu saja wujud kekayaan yang tak ternilai harganya bagi
bangsa. Dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, kesenian dan budaya ini akan menjadi
semakin bermanfaat besar ketika kita terus menggalai, mengembangkanserta
memberikan inovasi-inovasi kreatif. Sehingga pada akhirnya usaha-usaha ini akan
mejadikan masyarakat semakin menghargai kesenian dan budaya kita.

Peran di Bidang Mental Spiritual (Keagamaan)

Untuk meningkatkan kehidupan keberagamaan masyarakat, diperlukan sistem yang


tepat, terpadu dan sistemik. Untuk membangun hal tersebut, tentu saja pemerintah tidak
bisa berdiri sendiri, diperlukan peran masyarakat yang lebih luas. Pendidikan agama
yang selama ini berjalan tentu saja tidak akan memadai untuk sekedar memahamkan
orang.

Dan memang, pendidikan agama bukanlah segala-galanya, tetapi ia lebih sebagai


stimulan untuk mengembangkan pendidikan nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki. Kita
semua mengetahui bahwadinamika pendidikan yang terjadi berjalan sangat cepat,
sementara perbaikan sistem yang bisa dilakukan terbatas dan butuh waktu yang tidak
sedikit. Dinamika ini pula kadangkala tidak bisa direspon sesegera mungkin secara
cepat. Oleh karena itu, kerjasama mutlak diperlukan oleh semua pihak.Tidaklah cukup
kalau hanya dilakukan kerja-kerja yang sifatnya parsial. Maka dibutuhkan upaya
pendidikan agama secara terpadu untuk menutupi kebutuhan ini.

Pendidikan agama pada dasarnya diarahkan kepada tiga aspek, yaitu: pertama,
penguatan aspek Ibadah, melalui ibadah-ibadah rutin harian, serta ibadah sunah. Kedua,
pengayaan pemikiran dan wawasan keilmuan melalui kegiatan membaca, diskusi dan
kajian yang berjalan secara rutin. Dan ketiga, peningkatan kemampuan teknis dan
keterampilan hidup (life skills) baik untuk kepentingan dalam lingkup pribadi maupun
dalam lingkup berorganisasi di tengah masyarakat. Ketiga hal tadi, akan lebih baik pula

6
ketika di sana juga ditumbuhkan serta dilatih kedisiplinan dan keterampilan dalam
konteks pembinaan mental kepemimpinan.

Dalam hal ini, fungsi kontrol pemerintah adalah memotivasi dan mengevaluasi aktifitas
pendidikan agama yang dilakukan masyarakat. Pemerintah dalam batas yang
memungkinkan, ikut memfasilitas program pendidikan tersebut, misalnya dengan
menggelar berbagai kajian dan pelatihan peningkatan keberagamaan masyarakat.

Yang perlu dipahami bersama, diantara karakter penting sistem pendidikan yang ada
adalah penguatan pada sisi pendidikan kepribadian atau disebut juga akhlak..
Masyarakat juga diarahkan agar mampu untuk memahami dan menguasasi berbagai
bidang keilmuan dan ketrampilan, berkonsekuensi pada tidak mungkinnya semua itu
bisa dipenuhi oleh penyelenggara pendidikan agama. Maka diperlukanlah aktifitas yang
terpadu dan terencana secara baik

Peran di Bidang Keamanan, Ketertiban dan Keindahan

Orang barat seringkali mengatakan Indonesia is a violent country. Itulah kata-kata


penyunting Freek Colombijn dan J. Thomas Lindblad ketika memberi pengantar sebuah
buku yang berjudul Roots of Violence in Indonesia (menelusuri akar-akar kekerasan di
Indonesia). Mereka dalam buku tersebut mengatakan bahwa geneologi kekerasan itu
sendiri ternyata berakar cukup kuat di Indonesia. Terutama sejak jatuhnya rezim orde
baru. Kekerasan menurut mereka seperti menjadi ritualitas masyarakat Indonesia yang
diproduksi dan direproduksi kembali. Kekerasan bulan Mei, Situbondo, Sambas,
Ketapang, Sampit, Maluku, dan seterusnya, cukup jelas menunjukkan bahwa Indonesia
menurut mereka adalah violent country.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan pada era globalisasi seperti saat ini semakin
memiliki nilai strategis untuk dibicarakan. Hal ini cukup penting, mengingat dari
rangkaian pembicaraan yang terjadi, diharapkan akan memunculkan pemikiran-
pemikiran, ide-ide serta gagasan-gagasan yang inovatif, kreatif serta berwawasan ke
depan bagi kemajuan hubungan yang lebih erat antara pemerintah dan masyarakat. Dari
pembicaraan itu juga, bisa saja ditemukan kesimpulan-kesimpulan yang baik bagi
pengembangan serta peningkatan partisipasi masyarakat.

4.2 Saran
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan
yang perlu ditambah dan diperbaiki. Untuk itu penulis mengharapkan inspirasi dari para
pembaca dalam hal membantu menyempurkan makalah ini, terimakasih

7
DAFTAR PUSAKA

1. https://miswarymyusuf.blogspot.com/2015/12/makalah-pembangunan-daerah.html
2. https://www.kompasiana.com/nsudiana/5500cc89a333119814510152/peran-
masyarakat-dalam-pembangunan
3. Zainul Ittihad Amin, 2014. MKDU 4111-Pendidikan Kewarganegaraan,
Tanggerang Selatan : Universitas Terbuka
4. Mudrajat Kuncoro, Ph.D. 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah, Erlangga,
Surabaya