Anda di halaman 1dari 11

Ujian Tengah Semester Teori Pembangunan

Analisis Perdebatan antara Teori Modernisasi dengan Teori


Struktural terhadap Pembangunan Dunia Ketiga

Oleh:
Al Afdal Permana
0810842026

Dosen:
Drs. Yoserizal, M.Si

Program Studi Ilmu Administrasi Negara


Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Padang
2010
Analisis Perdebatan antara Teori Modernisasi
dengan Teori Ketergantungan terhadap
Pembangunan Dunia Ketiga
I. Komparatif Secara Umum Teori Modernisasi dengan Teori Struktural
(Ketergantungan) tentang Penyebab Kemiskinan dan Keterbelakangan

Starting point analisis tentang penyebab keterbelakangan dan kemiskinan


antara teori modernisasi dengan teori struktural adalah teori pembagian kerja
secara internasional yang dianut oleh negara-negara di dunia. Teori pembagian
kerja secara internasional didasarkan pada teori keuntungan komparatif yang
dimiliki oleh setiap negara artinya setiap negara harus melakukan spesialisasi
produksi sesuai dengan keuntungan komparatif yang dimiliki oleh masing-
masing negara. Negara-negara di khatulistiwa yang tanahnya subur melakukan
spesialisasi di bidang produksi pertanian sedangkan negara-negara di bagian
bumi sebelah utara yang iklimnya tidak cocok untuk usaha pertanian melakukan
kegiatan produksi di bidang industri. Oleh karena itu secara umum, di dunia ini
terdapat dua kelompok negara:

1. Negara-negara yang memproduksi hasil pertanian


2. Negara-negara yang memproduksi barang industri

Akibat teori pembagian kerja secara internasional, negara-negara di dunia


terbagi kedalam dua kelompok, menurut Raul Prebisch negara-negara yang
menghasilkan barang industri disebut negara-negara pusat dan negara pinggiran
yaitu negara-negara yang memproduksi hasil-hasil pertanian.
Antara kedua kelompok negara ini terjadi hubungan perdagangan
internasional dan menurut teori pembagian kerja secara internasional kedua
kelompok negara ini saling mendapatkan keuntungan. Negara-negara pertanian
dapat membeli barang-barang industri secara lebih murah dan negara-negara
industri dapat membeli hasil-hasil pertanian secara lebih murah dari pada
menghasilkan sendiri.
Tetapi dalam realita dan pelaksanaanya beberapa puluh tahun kemudian,
tampak bahwa negara-negara indusri berkembang pesat dan menjadi semakin
kaya sedangkan negara-negara yang mengkhususkan pada produksi pertanian
semakin tertinggal dan mendekati kemiskinan. Neraca perdagangan antara kedua
kelompok besar negara ini selalu menguntungkan negara-negara yang
mengkhususkan diri pada produksi barang industri.

Secara umum terdapat dua kelompok teori untuk menjelaskan timbulnya


keterbelakangan dan kemiskinan tersebut:

1. Teori Modernisasi
Teori-teori ini menjelaskan bahwa kemiskinan ini terutama disebabkan
oleh faktor-faktor internal atau faktor-faktor yang terdapat di dalam negara-
negara yang bersangkutan untuk menerima modernisasi. Teori modernisasi
memberikan jawaban bahwa penyebab kesalahannya terletak pada negara-negara
yang terbelakang tersebut. Keterbelakangan dan kemiskinan adalah akibat dari
keterlambatan negara-negara tersebut melakukan modernisasi negaranya.
Hubungan internasional dalam arti kontak dengan dunia luar dianggap
membantu negara-negara ini, khususnya dalam pengenalan nilai-nilai modern
yang rasioal, pemberian modal, pendidikan dan transfer teknologi ataupun
lembaga-lembaga modern seperti perbankan yang mampu menopang dan
menyokong proses pembangunan. Negara-negara ini belum mampu meyerap
nilai-nilai tersebut sehingga tidak mampu menopang proses pembangunan.
Dengan maksud ini negar-negara maju bisa membantu dalam hal ini.
2. Teori Struktural
Teori-teori yang lebih banyak mempersoalkan factor-faktor eksternal atau
faktor-faktor yang terdapat di luar negara yang bersangkutan sebagai penyebab
terjadinya kemiskinan. Kemiskinan dilihat terutama sebgai akibat dari
bekerjanya kekuatan-kekuatan luar yang menyebabkan negara yang
bersangkutan gagal melakukan pembangunan. Teori struktural berpendapat
bahwa kemiskinan yang terdapat di negara-negara Dunia Ketiga yang
mengkhususkan diri pada produksi pertanian adalah akibat dari struktur
perekonomian dunia yang bersifat eksploitatif, di mana yang kuat melakukan
eksploitasi dan ekspansi terhadap yang lemah. Maka surplus dari negara-negara
Dunia Ketiga beralih ke negara-negara industri maju. Menurut Teori struktural,
perdagangan dunia yang bebas dan tak terbatas merupakan wadah untuk praktek
eksploitasi yang berakibat keterebelakangan dan kemiskinan.

II. Analisis dan Perdebatan antara Teori Modernisasi dengan Teori


Struktural (Ketergantungan) dalam Pembangunan Dunia Ketiga

Gambaran Teori Modernisasi dan Teori Ketergantungan


Teori-teori yang mewakili beberapa pemikiran aliran teori modernisasi antara
lain:
1. Teori Harrod-Domar: Tabungan dan Investasi
2. Max Weber: Etika Protestan
3. David McClelland: Dorongan Berprestasi atau n-Ach
4. W.W. Rostow: Lima Tahap Pembangunan
5. Bert F. Hoselittz: Faktor-Faktor Non-Ekonomi
6. Alex Inkeles dan David H. Smith: Manusia Modern
Salah satu kelompok teori yang tergolong ke dalam teori struktural yaitu teori
ketergantungan sebab teori ketergantungan memakai pendekatan struktural,
teori-teori yang termasuk dalam teori ketergantungan:
1. Raul Prebisch: Industri Subtitusi Impor
2. Paul Baran: Sentuhan yang Mematikan dan Kretinisme
3. Andre Gunder Frank: Pembangunan Keterbelakangan
4. Theotonio Dos Santos: Membantah Frank

II.1. Perdebatan Teori Modernisasi dan Teori Struktural (Ketergantungan):


Hubungan dan Campur Tangan dengan “Dunia Luar”/ Hubungan
Internasional

Secara umum telah dijelaskan perbedaan mendasar antara teori


modernisasi dengan teori struktural tentang penyebab yang menghambat
pembangunan hingga menimbulkan kemiskinan dan keterbelakangan. Antara
teori modernisasi dan teori struktural memiliki perbedaan mendasar tentang
pentingnya berhubungan dengan dunia luar terutama dalam pembangunan negara
Dunia Ketiga. Dalam teori-teori modernisasi, seperti Teori Harrod-Domar
tentang Tabungan dan Investasi. Dalam teori ini diyakini bahwa pertumbuhan
ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Kalau tabungan dan
investasi rendah, pertumbuhan ekonomi masyarakat atau negara tersebut juga
akan rendah. Inti dari teori ini adalah masalah modal yang dapat menunjang
pembangunan, sehingga diperlukan adalah penambahan investasi modal, yang
jika memang real terimplementasi maka akan menciptakan pembangunan
ekonomi. Namun, yang menjadi permasalahan serta keterbelakangan pada
negara-negara Dunia Ketiga (negara-negara berkembang) dibanding negara-
negara industri adalah kekurangan modal. Untuk memecahkan masalah
kekurangan modal inilah maka diperlukan usaha-usaha untuk mencari tambahan
modal. Salah satu alternatif untuk memecahkan permasalahan kekurangan modal
ini adalah dengan berhubungan dengan “Dunia Luar”/ hubungan internasional
bisa dilakukan melalui penanaman modal ataupun hutang luar negeri. Tindakan-
tindakan seperti ini perlu dilakukan oleh negara-negara Dunia Ketiga untuk
melaksanakan pembangunannya yaitu berhubungan dengan dunia luar dan
dalam teori modernisasi dapat menyokong dan memecahkan permasalahan-
permasalahan dalam pembangunan. Berbeda dengan teori modernisasi, dalam
teori struktural akan memberikan dampak lain bagi negara-negara Dunia Ketiga
seperti yang dikatakan oleh Frank bahwa “apabila negara berkembang
bekerjasama dengan negara maju maka negara berkembang akan miskin”.
Pentingnya bagi negara-negara Dunia Ketiga untuk berhubungan dengan
“dunia luar” atau hubungan internasional tampak dari lima tahap pembangunan
yang dilontarkan oleh W.W. Rostow. Lima tahap pembangunan tersebut
merupakan pembangunan yang berproses dan bergerak dari sebuah garis lurus
dari masyarakat yang terbelakang menuju masyarakat yang maju. Pentingnya
hubungan dengan “dunia luar” tergambar dalam tahapan prakondisi untuk lepas
landas.
Dalam lima tahap pembangunan rostow mengawali keterbelakangan dari
masyarakat tradisional. Ilmu pengetahuan pada masyarakat ini masih belum
banyak dikuasai akibatnya produksi masih sangat terbatas, masyarakat
cenderung bersifat statis dalam arti kemajuan berjalan dengan sangat lamban.
Produksi dipakai untuk konsumsi, tidak ada investasi. Setelah masyarakat
tradisional, Rostow menjelaskan pembangunan selanjutnya adalah prakondisi
untuk lepas landas. Tahapan kedua ini, Rostow secara jelas mengatakan perlu
adanya hubungan dan campur tangan luar untuk pembangunan. Dalam
masyarakat tradisional timbulnya mobilitas karena adanya campur tangan dari
luar, dari masyarakat yang sudah lebih maju. Campur tangan dari luar ini
membawa ide-ide pembaharuan. Hal-hal seperti ini diperlukan bagi negara
Dunia Ketiga untuk pembangunannya.
Dalam pandangan positif, pembangunan yang mengikutsertakan ke
dalam perdagangan internasional lebih baik dari pada pembangunan yang
didasarkan pada kemandirian melalui isolasi sebagian atau keseluruhan. Namun,
teori struktural menyatakan sebaliknya, hubungan dengan luar dapat
menyebabkan kegagalan pembangunan yang berakhir kemiskinan dan
keterbelakangan. Hal ini tidak dapat disalahkan sebab menurut teori struktural
perekonomian internasional itu bersifat eksploitatif dan bentuk ekspansi terhadap
negara-negara lemah dengan membawa paham-paham imprealisme dan
kolonialisme.
Hubungan negara-negara Dunia Ketiga ini dengan dunia luar/
perekonomian internasional menurut Paul Baran akan mengakibatkan negara-
negara Dunia Ketiga tersebut terhambat kemajuan pembangunannya dan akan
terus hidup dalam keterbelakangan. Melirik kembali teori Harrod-Domar tentang
tabungan dan investasi, bahwa masalah negara-negara Dunia Ketiga adalah
kekurangan modal maka alternatifnya adalah perlunya investasi modal dari luar
(negara industri maju/barat). Namun menurut Paul Baran dengan munculnya
kekuatan ekonomi asing ini dalam bentuk modal dari negara-negara
industri/barat ke negara-negara Dunia Ketiga akan membuat surplus di negara
Dunia Ketiga akan diambil oleh kaum pendatang tadi melalui berbagai macam
cara. Maka yang terjadi di negara-negara Dunia Ketiga bukanlah akumulasi
penambahan modal melainkan penyusutan modal.
Sejalan dengan pendapat Paul Baran, Andre Gunder Frank dengan
konsep negara-negara satelit (pinggiran) dan negara-negara pusat (metropolis)
berlawanan dengan konsep tentang investasi modal dari luar sebagaimana dalam
pendapat Harrod-Domar tentang tabungan dan investasi ataupun W.W. Rostow
dalam pra kondisi lepas landas yang menggalakkan tabungan dan investasi yang
kemudian disalurkan pada hal-hal produktif. Frank menggambarkan bahwa
dalam rangka mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, kaum-kaum borjuis di
negara-negara metropolis (pusat) bekerjasama dengan pejabat di negara-negara
satelit (pinggiran). Akibatnya terjadi kerjasama antara modal asing negara
metropolis dengan negara satelit. Timbul kegiatan ekonomi praktis yang
merupakan kegiatan ekonomi modal asing yang beralokasi di negara satelit
berakibat kehidupan ekonomi yang tergantung pada modal asing. Dalam keadaan
seperti ini menggalakkan pembangunan sulit dan sia-sia karena modal negara
satelit tergantung kepada modal asing di Negara metropolis. Akumulasi modal
yang terjadi akan diserap oleh kekuatan modal asing yang tidak ditabungkan dan
diinvestasikan di dalam negara satelit. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi
negara satelit hanya akan menguntungkan kepentingan modal asing .
Terlihat jelas perbedaan pandangan antara pandangan teori modernisasi
dengan teori struktural yang saling bantah-membantah. Teori modernisasi yang
menganggab hubungan dengan luar (negara industri/pusat/maju) akan
mengakibatkan kemajuan bagi negara-negara berkembang sedangkan tesis dari
teori struktural mengatakan bahwa negara-negara pinggiran yang disentuh oleh
negara-negara maju tidak mengalami kemajuan.
Meskipun secara lengkap teori struktural Paul Baran dan Andre Gunder
Frank menjelaskan akibat pembangunan yang tergnatung dengan pihak luar atau
asing tapi dalam kenyataannya, kebanyakan pembangunan selalu berhubungan
dengan kekuatan asing. Secara teoritis, hal ini tentu saja bisa dilakukan tetapi
dalam kenyataannya, usaha ini sangat sulit, karena pertumbuhan ekonomi negara
tersebut secara makro (dalam bentuk kenaikan produksi nasional) akan lebih
mudah diperoleh kalau ekonomi negara tersebut dikaitkan dengan operasi modal
asing, melalui kerja sama dengan perusahaan-perusahaan multinasional. Kalau
tidak negara-negara Dunia Ketiga harus membangun kekuatan produksi sendiri
yang membutuhkan modal besar dan teknologi canggih.
II.2. Perdebatan Teori Modernisasi dan Teori Ketergantungan (Struktural):
Kapitalisme dan Hubungan Negara Pusat dengan Negara Pinggiran

Dalam menjelaskan perdebatan teori modernisasi dan teori


ketergantungan dalam aspek kapitalisme, hubungan negara pusat dengan negara
pinggiran ,penjelasan teori modernisasi diambil dari pendapat-pendapat Karl
Marx. Meskipun teori struktural seringkali dianggap bersumber dari teori yang
dilontarkan Marx sama sekali tidak berarti teori-teori pembangunan yang
dilahirkan oleh teori struktural (ketergantungan) mengikuti pendapat-pandapat
Marx. Bahkan dalam membahas hubungan antara negara industri maju(pusat)
dengan negara-negara pertanian(pinggiran) , teori-teori yang disampaikan Mark
cenderung mengarah ke teori modernisasi. Sehingga dalam pembahasan kedua
ini, penulis mengambil teori-teori Marx yang cenderung kearah teori
modernisasi.
Marx menyatakan bahwa masa depan dari negara-negara yang
terbelakang dapat dilihat pada negara-negara yang sudah maju. Menurut Marx
negara-negara kapitalis maju akan menularkan sistem kapitalismenya ke negara-
negara berkembang. Ini berarti seperti halnya teori modernisasi. Marx
menjelaskan kemajuan teknologi dalam segala bidang akan menyebabkan dunia
akan berkembang menuju kapitalisme global. Negara-negara Dunia Ketiga akan
mendapat pengaruh dari negara-negara pusat (industri, barat,maju) sehingga
akan muncul sebuah proses pembangunan yang dinamis yang dapat memajukan
negara-negara Dunia Ketiga melalui perdagangan dunia. Oleh karena itu, tidak
bisa dihindari lagi, semua negara di dunia akan menjadi negara kapitalis.
Paul Baran (Teori Struktural) menolak pandangan Marx tentang
pembangunan di negara-negara Dunia Ketiga. Bila Marx mengatakan bahwa
sentuhan negara-negara kapitalis maju kepada negara-negara pra-kapitalis yang
terbelakang akan membangunkan negara-negara Dunia Ketiga ini untuk
berkembang seperti negara-negara kapitalis di Eropa, Paul Baran berpendapat
lain. Baginya sentuhan negara-negara kapitalis akan mengakibatkan negara-
negara pra-kapitalis (Dunia Ketiga) terhambat kemajuannya dan akan terus hidup
dalam keterbelakangan. Baran menyatakan bahwa perkembangan kapitalisme di
negara-negara pinggiran berbeda dengan perkembangan kapitalisme di negara-
negara pusat. Di negara-negara pinggiran, sistem kapitalisme seperti terkena
penyakit kretinisme bukan industrialisme yang terjadi seperti kapitalis di negara-
negara maju
Pendapat Paul Baran seiring dengan pendapat Andre Gunder Frank.
Menurut Andre Gunder Frank, kapitalisme baik global maupun nasional adalah
faktor yang telah menghasilkan keterbelakangan di masa lalu yang terus
mengembangkan keterbelakangan di masa sekarang. Dengan demikian,
keterbelakangan merupakan sebuah proses ekonomi, politik dan sosial yang
terjadi sebagai akibat globalisasi dari sistem kapitalisme. Keterbelakangan di
negara-negara pinggiran (yang oleh Frank disebut sebagai negara satelit) adalah
akibat langsung dari terjadinya pembangunan di negara-negara pusat (negara
metropolis).
Berbeda dengan pendapat Frank, Theotonio Dos Santos membantah
argumen Frank tentang hubungan antara negara satelit dengan negara metropolis.
Dalam definisi yang diberikan Dos Santos terungkap bahwa negara-negara
pinggiran atau satelit pada dasarnya hanya merupakan bayangan dari negara-
negara pusat atau metropolis. Bila negara pusat yang menjadi induknya
berkembang negara satelit bisa juga berkembang. Bila negara induknya
mengalami krisis satelitnyapun juga mengalami krisis.
Berbeda dengan definisi ketergantungan Frank. Bagi Frank, hubungan
dengan negara metropolis selalu berakibat negatifbagi negara satelit. Tidak
mungkin ada perkembangan di negara satelit selama negara ini masih
berhubungan dan menginduk kepada kepada negara metropolis.
Daftar Pustaka:

Budiaman, Arif. 2000. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta:Gavindo.