Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

KEBIJAKAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT

A. Topik

Kewenangan atau kekuasaan pemerintah dalam mengarahkan


masyarakat dan bertanggungjawab melayani kepentingan umum.
kesadaran masyarakat dalam berperan terhadap mempengaruhi
kebijakan itu baik pada tingkat proses penentuan masalah, isu kebijakan,
perumusan masalah, prioritas masuknya isu itu dalam agenda kebijakan,
perumusan kebijakan, pengesahan maupun dalam implementasi dan
penilaian kebijakan.

B. Definisi

Definisi kebijakan menurut para ahli, menurut Thomas dye adalah


sebagai pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan
sesuatu. Sedangkan menurut lasswel dan Kaplan menyebukan kebijakan
sebagai program yang diproyeksikan berkenaan dengan tujuan , nilai,
dan praktek. Sedangkan menurut friedrich yang paling pokok bagi suatu
kebijakan adalah adanya tujuan , sasaran dan kehendak.

Pengertian publik dalam rangkaian kebijakan public memiliki tiga


konotasi yaitu pemerintah, masyarakat dan umum. Dapat dilihat dari
dimensi subjek, objek dan lingkungan dari kebijakan. Sebagai subjek,
kebijakan publik adalah kebijakan pemerintah. Kebijakan dari pemerintah
yang dianggap sebagai kebijakan yang resmi sehingga mempunyai
kewenangan dan dapat memaksa masyrakat untuk mematuhinya.

1
Dalam dimensi lingkungan, pengertian publik sebagai masyarakat,
contohnya kebijakan publik tentang ekspor impor yang berdampak
kepada pelaku dunia usaha.

C. ISI

Menurut Huglo diuraikan oleh Jones dengan beberapa isi dari kebijakan
itu :

1. Tujuan tertentu yang dikehendaki untukdicapai (the desires ends


to be achieve)
2. Rencana atau proposal yang merupakan alat atau cara tertentu
untuk mencapai .
3. Program atau cara tertentu yang telah mendapatkan persetujuan
dan pengesahan untuk mencapai tujuan
4. Keputusan yakni tindakan tertentu yang diambil untuk menentukan
tujuan ,membuat dan menyesuaikan rencana, serta melaksanakan
dan mengevaluasi program.
5. Dampak (effect) yang timbul dari suatu program masyarakat

Perkembangan teknologi dan partisipasi masyarakat Partisipasi


mayrakat dalam peran serta kebijakan pemerintah mulai tumbuh sejak
masa tradisional menjadi kebutuhan sehari-hai dalam penentuan
kebijakan pemerintah.

Strata kebijakan dapat dibedakan dalam tiga tingkatan yaitu


kebijakan umum , kebijakan pelaksanaan dan kebijakan teknis.Jenjang
jabatan dan muatanya Semakin tinggi suatu jabatan maka semakin
banyak kaitanya dengan politik.

2
D. Konteks
Pengertian kebijakan publik dan criteria yang harus dilakukan
dalam pelaksanaan kebijakan publik diantaranya adanya saran atau
masukan dari masyarakat dan peran serta dari masyarakat dalam
pengambilan kebijakan oleh pemerintah.

E. KRITIK
Kebijakan yang dibuat saat ini harus lebih transparan prosesnya
karena menyangkut kepentingan umum.harus benar-benar memahami
permasalahan yang ada di masyrakat terutama bagi pemangku jabatan
yang sarat akan kepentingan politik.

F. KESIMPULAN
Kebijakan adalah keputusan yang diambil oleh pemerintah atau
lembaga yang berwenang untuk memecahkan masalah dan mencapai
tujuan yang diinginkan oleh masyarakat, untuk itu meskipun pemerintah
terdiri politik, kebijakan yang diambil harus netral sesuai dengan
kebutuhan yang ada di masyarkat.

3
BAB 2

SISI-SISI KEBIJAKAN PUBLIK

A. Topik

Dalam masyarakat dewasa ini, sering ada keluhan bahwa hasil


suatu analisis yang dilakukan dalam suatu bidang sulit di terapkan.
Kesulitan dalam perencanaan ini di sebabkan oleh kenyataan bahwa
masyarakat merupakan kancah peraturan berbagai aspek yang bersifat
multi dimensional. Dalam masyarakat, berbagai aspek saling
mempengaruhi segingga diperlukan analisis yang bersifat
multidimensional. Untuk menjawab yantangan dari kesulitan penerapan
ini, Dunn menamakan ilmu analisis kebijakan dengan sebutan applied
sosialscinence karna ilmu ini menggunakan yang bersifat menyeluruh (
hokistic approach).

B. Definisi

Pengertian kebijakan
Secara harafiah, ilmu kebijakan merupakan terjemahan langsung
dari kata policy scinece (Yehezkel,1968: 6-8). Beberapa penulis besar
dalam ilmu ini. Seperti wiliam dunn. Charles Jones, dan Lee Friedman
menggunakan istilah public policy dan public policy analisis dalam
pengertian yang tidak berbeda. Istilah kebijaksanaan dan kebijakan yang
di terjemahkan dari kata policy memang biasanya di kaitkan dengan
keputisan pemerintah karna pemerintah yang mempunyai wewenang
atau kekuasaan untuk mengarahkan masyarakatdan vertanggung jawab
untuk melayani kepentingan umum. Hal ini sejalan dengan pengertian

4
public dalam bahasa indonesia yang berarti pemerintah, masyarakat,
atau umum.
Kata policy secara etimologi berasal dari kata polis dalam bahasa
yunani (Greek) yang berarti negara-kota. Dalam bahasa Latin kata ini
berubah menjadi politia yang berarti negara. Masuk dalam bahasa ingris
lama ( the middle english ) kata tersebut menjadi policie yang
pengertianya berkaitan dengan urusan pemerintah dan administrasi
pemerintah.
Menurut Thomas Dye menyebutkan kebijakan sebagai pilihan
pemerintah unruk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Kebijakan menurut H. Hugh Helgo menyebutkan kebijakan
sebagai suatu tindakan yang bermaksud untuk mencapai tujuan tertentu.

Pengertian publik
Pengertian publik dalam rangkaian kata public policy memiliki tiga
konotasi, yaitu pemerintah masyaraakat, dan umum. Hal ini dapat di lihat
dalam dimensi subjek, objek, dan lingkungan dari kebijakan. Dalam
dimensi subjek, kebijakan publik adalah kebijakan dari pemerintah.

Strata kebijakan :

 Kebijakan umum adalah kebijakan yang menjadi pediman atau


petunjuk pelaksanaan , baik yang bersifat positif ataupun negatif yang
meliputi keseluruhan wilayah atau instansi yang bersangkutan.
 Kebijakan pelaksanaan adalah kebijakan yang menjabarkan kebijakan
undang-undang atau keputusan mentri yang menjabarkan
pelaksanaan keputusan presiden.

5
C. Konten

Pengaruh lebih jauh dari perkembangan teknologi dalam bidang


komunikasi, dan transportasi ini telah mengakibatkan adanya pengaruh
kebijakan yang mendunia. Pengatuh suatu kebijakan terhadap kehidupan
tidak hanya terbatas dari kebijakan pemerintah siatu negara terhadap
rakyatnya, tetapi juga turut di pengaruhi kebijakan pemerintah negara
lain.
Sebagai kosekuensi keadaan ini, peran serta masyarakat dalam
mempengaruhi kebijakan pemerintah dapat mengambil bentuk yang
semakin canggih. Peran media masa dan elektronik dalam seluruh
proses kebijakan menjadi sangat penting.

D. Konteks

Meskipun birokrasi harus bersikap netral atau bebas dari politik,


mereka yang menduduki jabatan tinggi tidak boleh melepaskan diri dari
pengaruh politik, dapat menimbulka. Kelemahan dalam memperoleh
dukungan masyarakat terhadap kebijakan yang dibuatnya.

E. Kritik

Pada prinsipnya publik yang akan terkena dampak dan


menanggung resiko dari suatu kebijakan pemerintah memiliki hak yang
tidak dapat diingkari untuk diikut-sertakan dalam pengambilan keputusan
kebijakan yang bersangkutan. Dalam proses pembuatan kebijakan
daerah, peran serta publik hanya bersifat pasif atau reaktif saja, artinya
keikutsertaan mereka hanya sebagai akibat dari kebijakan pemerintah.
Sesuai dengan perkembangan dan kemajuan dalam era otonomi daerah,
publik menjadi lebih aktif, dalam arti terdapat inisiatif untuk

6
mempengaruhi kebijakan pemerintah. Sebagai contoh, dapat dilihat pada
setiap kali ada pengumuman pemberlakuan kebijakan pemerintah baik di
bidang sosial, ekonomi, maupun politik, selalu ada tanggapan dari publik
dalam bentuk demonstrasi penolakan.
Proses dialog stakeholders telah mendorong pemerintahan agar
lebih terbuka terhadap masukan stakeholders lain dan lebih responsif
terhadap tuntutan masyarakat. Berbagai praktik partnership
menunjukkan bahwa kerja sama yang baik hanya dapat berlangsung
apabila komunikasi yang sehat antara pemerintah dan masyarakat
terbangun.

F. Konklusif
1. Kebijakan adalah keputusan yang di buat oleh pemerintah atau
lembaga yang berwenang untuk memecahkan masalah atau
mewujudkan tujuan yang di inginkan masyarakat.
2. Tujuan ini baru dapat di wujudkan manakala terdapat faktor- faktor
pendukung yangvsecara sepintas dapat disamakan dengan faktor
input dalam pendekatan bisnis.
3. Meskipun kebijakan bersifat teknis, kebijakan tetap berada pada strata
strategis yang dapat di bedakab dengan sekadar suatu petinjuk
pelaksanaan atau petunjuk teknis.
4. Dalam era modern sekarang ini, partisipasi masyarakat menjadi
bertambah penting sejalan dengan perkembangan teknologi dalam
bidang informasi dan transportasi. Masyarakat semakin menyadari
bahwa kebijakan semakin mempengaruhi kehidupan masyarakat dan
masyarakat juga dapat mempengaruhi keseluruhan proses kebijakan.
5. Dalam lingkup birokrasi pemerintah, kandungan unsur kebijakan
berbanding lurus dengan jenjang jabatan yang ada.

7
BAB 3

PENDEKATAN KEBIJAKAN PUBLIK

A. Topik
Pendekatan Kebijakan Publik
B. Definisi
Setiap disiplin ilmu mempunyai gaya pendekatan tersendiri
yang umumnya berbeda dengan gaya pendekatan disiplin ilmu lain.
Namun, semua pendekatan ilmu tersebut adalah pendekatan ilmiah
yang berbeda dengan pendekatan yang bersifat common sense.
Pendekatan ilmiah memiliki dua ciri pokok yaitu terkontrol dan
sistematis. Pendekatan kebijakan juga merupakan pendekatan ilmiah
yang harus memiliki ciri-ciri yang dimaksud. Namun sebagai ilmu
sosial terapan pendekatan ini lebih bersifat multidimensi yang tidak
hanya berbicara tentang fakta dan nilai tetapi juga tentang aksi atau
tindakan.

C. Content
Analisis kebijakan dimaksudkan untuk menghasilkan informasi
yang relevan yang bersifat :
1. Designatif
Informasi yang bersifat designative adalah gambaran keadaan
sebagaimana adanya yang diolah dari fakta dan data objektif.
2. Evaluatif
Informasi yang bersifat evaluatif adalah informasi yang mempunyai
nilai-nilai yang berguna bagi kita untuk membuat keputusan.
3. Advokatif

8
Informasi yang bersifat advokatif berkaitan dengan aksi atau
tindakan yang harus dilakukan berdasarkan perhitungan nilai-nilai
informasi evaluatif.

D. Konteks
Bentuk Dan Teknik Pendekatan Kebijakan
Ketiga jenis informasi (yang bersifat designatif, evaluatif,
advokatif )yang dihasilkan oleh pendekatan (empiris, evaluatif, dan
normatif) memberikan gambaran tindakan yang berbeda dalam
masing-masing kurun waktu masa lampau dan masa depan.
Dalam kurun waktu masa lampau, gambaran tindakan dari
informasi tersebut dapat berupa deskripsi ataupun evaluasi. Deskripsi
memberi jawaban atas pertanyaan tentang keberadaan dan keadaan
suatu kebijakan sedangkan evaluasi memberi jawaban tentang
kepatutan nilai dari suatu kebijakan.
Dalam kurun waktu masa depan, gambaran tindakan informasi
berbentuk prediksi, preskripsi dan evaluasi. Prediksi merupakan
informasi tentang kecenderungan perkembangan masa depan tanpa
ada intervensi atau pengaruh dari suatu kebijakan. Preskripsi adalah
informasi tentang dampak yang muncul pada masa yang akan datang
sebagai konsekuensi dari implementasi suatu kebijakan. Dan, Evaluasi
memberikan keterangan tentang kepatutan suatu kebijakan untuk
diterapkan pada waktu yang akan datang.

9
ARUS INFORMASI KEBIJAKAN

Masalah Alternatif Aksi


kebijakan strategi kebijakan

Hasil Dampak Wujud


kebijakan kebijakan kebijakan

PROSES KEBIJAKAN INFORMASI YANG RELEVAN

Masalah kebijakan

Strukturisasi Prakiraan
Masalah

Hasil dan dampak Wujud


kebijaksanaan kebijaksanaan

Monitoring Evaluasi Rekomendasi

Aksi Kebijaksanaan

10
E. KRITIK :
Pendekatan kajian kebijakan lanjutan
Sebagai ilmu sosial terapan dalam teknologi modern sekarang ini,
pendekatan kebijakan yang multidisiplin berhadapan dengan kondisi
lingkungan yang serba kompleks dan dinamis yang menimbulkan
tuntutan perubahan focus dan perluasan wawasan yang cukup
signifikan dari kebijakan itu sendiri. Sehingga akan muncul perubahan
sebagai berikut :
1. Landasan filosofis
2. Ultrarasional
3. Globalisasi
4. Perspektif ke depan Yang berjangka panjang dan berwawasan luas
5. Kecenderungan perubahan focus kebijakan

F. KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
1. Disamping perbedaan yang jelas antara pendekatan ilmiah dengan
pendekatan yang bersifat commonsense, pada masing-masing ilmu
terdapat pula gaya pendekatan yang tidak sama satu dengan yang
lain.
2. Dalam perkembangannya sekarang, kajian kebijakan publik perlu
mengindahkan berbagai perkembangan dalam bidang teknologi
yang mempengaruhi proses perumusan kebijakan, implementasi
dan evaluasinya.
3. Adanya kecenderungan perubahan focus dari yang bersifat ad hoc
dan makro pada hal-hal yang institusional dan realistis. Sejalan
dengan hal tersebut, muncul system pemerintahan yang lebih
demokratis dan otonom.

11
BAB 4

SIFAT UMUM KEBIJAKAN PUBLIK

A. Topik

Sifat Umum Kebijakan Publik

B. Definisi

Kebijakan terdiri dari dua dimensi yaitu:


1. Dimensi Internal meliputi berbagai elemen yang saling terkait yang
membentuk susuna yang perpaduannya tidak sama dengan
system lain.
2. Dimensi Eksternal adalah gambaran luar dari system sebuah
kebijakan yang membentuk jaringan interrelasi dengan eksponen
luar dalam proses kebijakan yang dipandang sebagai sifat umum
kebijakan.

C. Konten
1. Kompleksitas

Kebijakan publik pada umumnya bersifat komplek, semakin


umum kebijakan semakin komplek atau rumit keadaanya. Dalam
pengamatan sepintas kebijakan teknis bias dipandang lebih rumit
kerena aspek-aspek yang perlu diperhitungkan namun keterkaitanya
tidak luas.

12
Gambar aspek-aspek yang terdapat di UU no 14 tahun 1992

Aspek - Ekonomi
- Keamanan/ketertiban
- Budaya/Disiplin
- Hukum
- Administrasi
- Pendidikan

UU No.14/1992 Disiplin Ilmu - Ekonomi


- Hukum
- Politik
- Sosiologi
- Administrasi
- Psikologi
- Pendidikan

Pihak Terkait - Sopir


- Polisi Kepentingan
- Kejasaan
- Hakim Kekuasaan
- Pemda
- Bank
Kecenderungan
- Penumpang
- ABRI/TNI

Keseluruhan proses kebijakan dari identifikasi masalah sehingga perumusan,


pelaksanaan, dan evaluasi kebijakan melibatkan banyak pihak. Dalam contoh
UU No. 14 tahun 1992 dapat kita amati pihak-pihat yang terlibat, berbicara
tentang pihak-pihak yang terkait ini berarti kita berbicara tentang hal-hal yang
berkaitan dengan manusia

- Pertama bahwa masing-masing pihak mempunyai kepentingan yang


berbeda dalam hubungan dengan subjekyang diatur oleh UU tersebut,
setiap pihak cenderung melihat hal-hal yang diatur oleh kebijakan ini dari
segi kepentingannya.

13
- Kedua Masing-masing pihak memiliki kekuasaan yang berbeda dalam
mempengaruhi perumusan, pelaksanaan, ataupun menghalangi
berlakunya suatu kebijakan, sangat jelas bahwa polisi memiliki kekuasaan
yang berbeda dibandingkan dengan sopir, begitu pula dengan jaksa yang
memiliki kewenangan yang tidak sama dengan penumpang kendaraan
umumdan dengan ABRI/TNI, dll. Tarik menarik diantara berbagai
kepentingan dan kekuasaan yang berbeda ini selalu terjadi dalam
masyarakat, sekalipun hal ini tidak terlihat secara terbuka, ini adalah wujud
dari kehidupan bermasyarakat.

Dalam masyarakat yang maju dan demokratis tarik menarik terjadi


secara halus dan terstruktur dimana kepentingan orang banyak menjadi lebih
dominan, sebaliknya di dalam masyarakat yang tidak maju kekuasaan dalam
bentuk kekerasan yang lebih memegang peranan dari pada kepentingan
orang banyak.
Peranan kekuasaan dalam memengaruhi proses kebijakan ini tidak perlu
ditafsirkan dalam pengertian besar kecilnya kekuatan fisik untuk menentang
atau mempertahankan suatu kebijakan, namun harus dilihat dari berlangsung
tidaknya hubungan diantara pihak-pihak yang terkait dengan subtansi
kebijakan. Sebagai contoh sopir yang merupakan target dalam UU ini
berkedudukan sebagai pelengkap pelaku (sekaligus pelengkap penderita)
mempunya peran yang lebih besar dibanding dengan ABRI/TNI yang menjadi
pelengkap penyerta dalam menyukseskan berlakunya kebijakan tersebut
tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap keamanan masyarakat.
Satu hal yang menarik dapat dilihat dalam pelaksanaan UU Nomor 14 Tahun
1992, UU ini mengalami kesulitan dalam pelaksanaannya setelah disahkan
oleh DPR RI yaitu besarnya denda yang harus dibayar oleh pelanggar
(sopir)yang menjadi hambatannya. Keadaan ini menjadi menarik untuk dilihat

14
dari segi perimbangan kekuatan yang mendukung ataupun yang menentang
proses kebijakan pada setiap tahap UU tersebut yang langsung berhubungan
denga kepentingan sopir karena di DPR RI tidak ada yang secara resmi
mewakili sopir karena profesi sopir yang kurang jelas (ambivalence) yang
susah terhimpun dalam suatu kepentingan.
.

2. Dinamis
Dinamis adalah perubahan, hal ini berhubungan dengan keadaan keadaan
masyarakat yang oleh kebijakan yang bersifat dinamis, selain ALLOH dalam
masyarakat segala sesuatu berubah kecuali perubahan itu sendiri.

Perubahan ada tiga macam:


1. Perubahan dalam masyarakat yang disebabkan oleh faktor-faktor
eksogenous yakni faktor-faktor diluar subjek kebijakan yang
bersangkutan.
2. Perubahan yang disebabkan oleh factor-faktor yang berkaitan dengan
subjek kebijakan tersebut, sebagai contoh jumlah pelanggaran lalu lintas
yang semakin banyak sebagai akibat ringannya sanksi hukuman dalam
jumlah yang dirasakan semakin kecil dengan menurunnya nilai uang yang
dalam waktu yang cukup lama.
3. Perubahan yang ketiga dalam masyarakat terjadi sebagai koneksitas dari
adanya kebijakan-kebijakan sebelumnya dalam bidang yang sama.

3. Berupa Sebuah Keputusan

Kebijakan pada dasarnya adalah sebuah keputusan sehingga


segala sifat dan prosedur yang ada pada sebuah keputusan melekat pula
pada suatu kebijakan, sebagai sebuah keputusan publik proses kebijakan

15
tidak hanya berkenaan dengan pemilihan yang terbaik diantara berbagai
alternative tetapi juga berhubungan dengan aksi kebijakan atau aplikasi
dari keputusan itu, pengambilan keputusan publik perlu menggunakan
kriteria yang sama berat antara pertimbangan yang bersifat konseptional
dangan pertimbangan yang bersifat operasional, pertimbangan yang
bersifat operasional cenderung memperhatikan nilai-nilai dalam
masyarakat yang mempengaruhi ataupun yang akan dipengaruhi oleh
suatu kebijakan.

D. KONTEKS

Proses pengambilan keputusan biasanya dilakukan melalui


beberapa tahap,
- tahap pertama adalah pangamatan dan pemahaman kondisi dan
lingkungan dengan maksud agar keputusan cukup realistis dan
rasional. Artinya keputusan tersebut dapat memahami batasan-
batasan yang ada dan aplikasi dari keputusan itu dapat menggunakan
sumber daya yang tersedia secara efisien. Hal yang diharapkan dari
pemahaman lingkungan itu adalah organizational, artinya suatu
keputusan berada dalam wawasan pencapaian tujuan yang lebih
besar dari organisasi

- tahap kedua setelah pemahaman lingkungan adalah penyusunan


berbagai kemungkinan (alternatif) strategi kebijakan. Dalam menyusun
berbagai alternatif diperlukan adanya sikap terbuka dan kreatif.

- Tahap ketiga adalah pemilihan salah satu strategi yang paling tepat,
pada tahap ini diperlukan penilaian secara objektif atas dasar satu
atau beberapa kriteria.

16
E. Kritik
Suatu keputusan berada dalam wawasan pencapaian tujuan yang
lebih besar dari organisasi misalnya seperti kebijakan public dalam
bidang pendidikan tidak boleh bertentangan dengan tujuan Negara
untuk mencerdaskan bangsa

F. Kesimpulan
1. Sekalipun suatu kebijakan terlihat sederhana, suatu kebijakan tetap
kompleks, dinamis, dan melalui proses yang serupa dengan proses
pengambilan keputusan ilmiah.
2. Kompleksitasnya suatu kebijakan mengharuskan proses perumusan,
implementasi, dan evaluasi kebijakan dengan melibatkan banyak
pihak dalam masyarakat.
3. Dalam situasi yang dinamis dan terdapat kecenderungan pada
banyak orang untuk berfikir dalam lingkup “batasan yang bersifat
semu” diperlukan adanya upaya untuk berfikir bebas dan terbuka
terhadap hal-hal yang baru dan belum pernah ada, karena kemajuan
adalah sesuatu yang baru dan belum pernah ada sebelumnya.

17
BAB 5
KAJIAN DAN ORIENTASI

A. Topik :
Peran pemerintah terhadap kebijakan publik dalam kajian dan orientasi.

B. Definisi :
Sebagai ilmu sosial yang bersifat terapan ,studi tentang kebijakan
publik banyak melibatkan dimensi ilmu. Setiap tentang kebijakan,sekalipun
kelihatanya cukup sempit,pada umumnya terkait dengan banyak aspek dan
banyak melibatkan banyak pihak dalam masyarakat.

C. Konten
Melalui kebijakan publik berhubungan dengan tiga alasan pokokyang
mendorong munculnya keperluan yang semakin meningkat terhadap
kajian kebijakan publik.
1.Variabel bebasa dan variabel terikat
Variabel bebas adalah variabel yang mempenggaruhi, sedAngkan
variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi.
2. Alasan profesional, dalam hubungan sebab akibat diharapkan dapat
ditemukan berbagai alternatif kebijakan untuk memecahkan masalah –
masalah publik.
3. Alasan politik negara atau pemerintah. Artinya, kajian kebijakan publik
perlu ditunjukan untuk menjamin terwujudnya pemerintahan yang
melaksanakan kebijakan untuk kepentingan rakyat.
Analisis kebijakan publik menunjukan ada tiga bentuk analisis kebijakan :
1. Analisis kebijkan yang prospektif
2. Analisis kebijakan yang retrospektif
3. Integrasi antara analisis prospektif dan retrospektif

18
D. Konteks :
Wujud Analisis dan bentuk kebijakan publik, aksi kebijakan mengarah
pada peraturan untuk kepentingan masyarakat. Sebagai pengaturan
kepentingan masyarakat, kebijakan merupakan praktik sosial, bukan
urusan perorangan atau pengaturan yang hanya meliputi lingkungan
tertentu saja.
Kebijakan publik dapat dibedakan dalam beberapa bentuk sebagai
berikut:
1. Berupa aturan atau ketentuan yang mengatur kehidupan masyarakat
(regulasi)
2. Distribusi atau alokasi sumber daya
3. Redistribusi atau re-lokasi
4. Pembekalan atau pemberdayaan
5. Etika

E. Kritik:
Dalam penentuan kebijakan publik: kajian dan orientasi harus
memperhatikan perumusan kebijakan jangan sampai kebijakan yang
diambil oleh pemerintah akan merugikan masyarakat pada akhirnya.
Sebagai contoh kebijakan penentuan harga beras dimana petani sebagai
masyarakat golongan terbesar menghendaki adanya harga beras yang
cukup tinggi, namun pada kenyataanya harga dipasaran tidak pernah
mampu untuk mensejahterakan petani.

F. Conclusi
Sebagai ilmu terapan,kajian kebijakanpublik,disuatu pihak semakin
lebih dibutuhkan oleh masyarakat dalam analisis keterkaitan hubungan
yang semakin bervariasi antara masyarakat dengan pemerintah. Di lain
pihak, kajian ini dihadapkan pada keperluan untuk menjadi lebih realistis.

19
Informasi yang dihasilkan oleh kajian kebijakan sesuai dengan
jenis kebijakan yang pada giliranya menuntut informasi – masukan yang
relevan dengan jenis kajian yang digunakan.
Kebijakan dalam segala bentuknya tidak boleh lepas dari nilai- nilai
tradisonal yang dianut jika kebijaksanaan diharapkan menjadi aturan
yang hidup dalam masyarakat

20
BAB 6
MODEL-MODEL KEBIJAKAN PUBLIK

A. Topik

Model-model kebijakan publik

B. Definisi (di bawah)

Persoalan pokok yang dihadapi yang selalu dihadapi para perumus,


pelaksana, dan pengawas kebijakan publik adalah kesulitan dalam
memahami masalah. Sehingga diperlukan upaya untuk melihatnya secara
sederhana.
Dalam pengertian sistem, masalah merupakan sebuah sistem yang terdiri
dari beberapa subsistem yang terkait satu sama lain, saling mendukung,
dan mempengaruhi. Oleh karena itu dalam pengamatan terhadap
masalah, kita perlu melihatnya sebagai beberapa subsistem dengan
segala sifat dan cirinya yang bersifat khusus. Bentuk hubungan di antara
subsistem tersebut diamati dengan sebuah model.
William Dunn memaparkan tetntang perbedaan bentuk dari model
kebijakan, antara lain:

1. Descriptive model: model yang digunakan untuk memprediksi hasil


atau akhir dari kebijakan. Bentuk ini biasa terdapat dalam sebuah
saran atau rekomendasi kebijakan.
2. Normative model: model yang tidak hanya mengemukakan masing-
masing alternatif kebijakan serta akibatnya, namun juga memaparkan
ketentuan-ketentuan yang harus diikuti atau dipenuhi dalam
penerapan setiap kebijakan.

21
3. Verbal model: presentasi dengan cara verbal ini lebih bersifat uraian
dengan kata-kata dari pada simbol-simbol.
4. Simbolic model: model ini menggunakan persamaan matematis untuk
menunjukkan hubungan antar variabel.

Thomas Dye mengemukakan pendekatan model dari analisis kebijakan


publik. Ia melihat hubungan dan interelasi yang terjadi dalam proses
kebijakan publik dengan berbagai persepsi politik. Antara lain:

1. Menyederhanakan dan memperjelas pemikiran tentang politik dan


kebijakan.
2. Mengidentifikasi aspek-aspek penting dari kebijakan kebijakan publik.
3. Membantu mengomunikasikan satu aspek dengan aspek lain.
4. Berupaya mengarahkan secara langsung pada apa yang penting dan
apa yang tidak penting.
5. Dapat diarahkan pada penyampaian saran kebijakan dalam hubungan
antara kebijakan dan akibat yang diharapkan muncul.

Selanjutnya Thomas Dye menyampaikan 8 model kebijakan sebagai berikut:

1. Model institusi, yaitu berkisar di antara institusi pemerintahan,


sehingga dihasilkan kebijakan publik yang merupakan putusan dari
lembaga negara yang memberikan otoritas untuk pelaksanaannya.
Dari sini terdapat hubungan timbal balik di antara lembaga negara,
kebijakan publik, dan lingkungan masyarakat. Dalam hal ini kualitas
kebijakan yang dihasilkan ditentukan oleh mutu DPR yang ditentukan
lebih lanjut oleh lingkungan masyarakat yang memilihnya. Selanjutnya
implementasi kebijakan publik ditentukan ditentukan lagi oleh kualitas
birokrasi dan kualitas kebijakan itu sendiri. Hubungan timbal balik yang
saling mempengaruhi ini merupakan inti dari model institusi dari
kebijakan.

22
2. Model proses, yaitu melihat kebijakan sebagai subyek dari proses
yang berurutan. Proses ini dimulai dari identifikasi masalah,
pengaturan agenda kebijakan, perumusan kebijakan, legitiamasi,
implementasi, sampai evaluasi.
3. Model rasional, yaitumodel yang berorientasi pada pendekatan
ekonomi. Model ini melihat kebijakan publik sebagai upaya untuk
mendapatkan manfaat sebesar-besarnya. Nilai manfaat yang
diharapkan tidak boleh bersifat picik hingga merugikan aspek lain.
Misalnya kebijakan dapat menghasilkan keuntungan bagi kenaikan
pendapatan, tetapi merugikan dilihat dari kesempatan kerja yang
menjadi sempit. Begitu pula kebijakan dengan meningkatkan
keuntungan dari segi ekspor hasil bumi, tetapi merugikan dilihat dari
lingkungan hidup dan sumber daya di masa depan.
4. Model inkremental, yaitu model yang muncul dengan menyandarkan
diri pada masa lampau. Dalam model ini mula-mula dipelajari apa yang
sudah dilakukan dan apa hasil yang dipeoleh. Kemudian dilihat apa
yang menyebabkan kegagalan atau kelemahannya. Setleah itu baru
dianalisis apa yang perlu diperbaiki. Jadi model inkremental lebih
melihat pada strategi tambahan (increments) atau perubahan yang
perlu dilakukan terhadap kebijakan yang ada.
5. Model kelompok, yaitu hasil pergumulan anatarkelompok dalam
masyarakat atau sebagai kompromi dari persaingan yang tidak
selesai. Oleh karena itu kebijakan publik seringkali merupakan
keputusan akhir yang belum tetap. Selama pergumulan antar
kelompok masih berlangsung, kebijakan dapat berubah sewaktu-
waktu.Maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
a. Menciptakan aturan main dalam penyaluran kepentingan dan
aspirasi masyarakat

23
b. Mewujudkan kompromi antarklompok, terutama yang
menyangkut kepentingan yang berbeda
c. Menampung kesepakan tersebut dalam bentuk kebijakan publik
d. Mengimplementasikan kebijakan publik tersebut melalui sistem
administrasi negara yang objektif dan efektif.
6. Model elit, yaitu merupakan puncak dari model kelompok. Dalam hal
ini elit merupakan individu-individu yang dominan dalam masyarakat.
Karena kelebihannya mereka memegang kendali dalam masyarakat,
membuat keputusan, menetapkan pelaksanaan keputusan, dan
mengawasinya. Mereka berkuasa karena kelebihan tertentu yang
dimilikinya, misalnya karena keturunan dari dinasti pengusa, pemilik
kekayaan yang sangat besar, pemegang kekuasaaan bersenjata, dsb.

C. Isi
Membahas berbagai macam model kebijakan publik yang ada di
masyarakat

D. Konteks
Melihat dari berbagai sisi kebijakan publik, mulai dari sumber
awalnya, proses hingga hasil dari kebijakan tersebut yang akan kembali
menjadi umpan balik menjadi sebuah sumber dari kebijakan yang baru.

E. Kritik
Sampai saat ini masyarakat kita pada umumnya tidak memahami
bahwa kebijakan publik yang dihasilkan dan diberlakukan kepada
masyarakat adalah berawal/bersumber dari sebuah keputusan politik,
dalam hal ini adalah Pemilu dalam semua jenjang (pilkada, pilpres, pileg).
Masyarakat masih abai dan mudah tergoda dengan kepentingan sesaat

24
tanpa mempertimbangkan akibat panjang dari pilihan yang mereka
tentukan dalam setiap pemilu tersebut.

F. Kesimpulan:
Masyarakat sudah saatnya berperan aktif dalam setiap proses
pengambilan keputusan, bukan hanya menjadi objek, namun seharusnya
memberikan masukan yang merupakan aspirasi mereka dan
memperjuangkannya melalui sebuah keputusan yang cerdas dalam
setiap pemilu untuk mendapatkan wakil-wakil rakyat yang terpercaya.

25