Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Untuk perusahaan perseorangan, ekuitas sering disebut modal. Untuk


perseorangan, istilah ekuitas (ekuitas pemegang saham atau stockholders' equity)
lebih merefleksi kata yang ingin dikandungnya.Istilah modal sering digunakan
pula sebagai padan kata equity walaupun modal lebih dekat maknanya dengan
istilah capital. Ekuitas mengandung unsur kepemilikan (ownership), untuk
organisasi nonprofit ekuitas disebut dengan aset bersih (net assets) untuk
menghindari kesan adanya pemilikan.

Konsep kesatuan usaha yang memisahkan antara manajemen dan pemilikan,


informasi tentang akuitas pemegang saham menjadi sangat penting karena hal
tersebut menunjukan hubungan antara perusahaan (perseroan) dengan pemegang
saham. dari sudut pemegang saham, ekuitas pemegang saham merupakan hak atas
kekayaan atau nilai yang tertanam dalam perseroan. Kalau dipandang dari sudut
kesatuan usaha, ekuitas pemegang saham merupakan "utang" perseroan kepada
para pemegang saham. Oleh karena itu, ekuitas pemegang saham dapat juga
dipandang sebagai gambaran hubungan yuridis antara perseroan dan pemegang
saham. Dengan kedudukannya yang demikian persoalannya adalah bagaimana
melaporkan atau menyajikan informasi elemen ini agar hubungan dan tanggung
jawab yuridis dapat dipertahankan.

Karena konsep kesatuan usaha menuntut artikulasi antar statemen


keuangan,tidak terdapat masalah semantik atau definisional dalam pembahasan
ekuitas seperti halnya elemen pendapatan, biaya dan laba. Teori ekuitas yang
bersifat semantik adalah teori sudut pandang atau teori entitas. Ekuitas pemegang
saham itu sendiri terdiri atas dua komponen penting yaitu modal setoran (paid-in
atau contributed capital) dan laba ditahan (retained earnings). Sebagai pasangan
modal setoran, laba ditahan dapat disebut sebagai modal bentukan atau cioptaan
(earned capital).

1
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam makalah ini


adalah sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan ekuitas?


2. Bagaimana penggolongan ekuitas?
3. Bagaimana pengakuan ekuitas?
4. Bagaimana pengukuran ekuitas?
5. Bagaimana penyajian ekuitas?
6. Bagaimana pengungkapan ekuitas?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan ekuitas


2. Untuk mengetahui bagaimana penggolongan ekuitas
3. Untuk mengetahui bagaimana pengakuan ekuitas
4. Untuk mengetahui bagaimana pengukuran ekuitas
5. Untuk mengetahui bagaimana penyajian ekuitas
6. Untuk mengetahui bagaimana pengungkapan ekuitas

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ekuitas
Dalam kerangka dasar Standart Akuntansi Keuangan (2002) misalnya Ikatan
Akuntansi Indonesia (IAI) mandefinisikan Ekuitas adalah hak residual atas aktiva
perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Godfrey, Hodgson, dan Holmes
(1997) membedakan ekuitas dan kewajiban atas dasar kriteria sebagai berikut:
1. Hak-hak masing-masing pihak atas penyelesaian klaim
2. Hak penggunaan aset dalam operasi
3. Substansi ekonomik perjanjian
Ekuitas adalah sisa bunga atas aset perusahaan setelah dikurangi semua
kewajiban. Ekuitas sering disebut sebagai ekuitas pemegang saham, ekuitas atau
modal perusahaan. Ekuitas sering dikelompokkan pada pernyataan posisi
keuangan ke dalam kategori berikut:
1. Modal saham
2. Share premium
3. Laba ditahan
4. Akumulasi penghasilan komprehensif lainnya
5. Saham treasuri
6. Bunga non-pengendali (hak minoritas)
Perbedaan antara modal setoran dan laba ditahan adalah modal setoran
merupakan dana dasar yang harus tetap dipertahankan untuk menunjukkan
perlindungan bagi pihak lain. Sedangkan, laba ditahan merupakan salah satu
komponen untuk menunjukkan daya melaba, dan jumlahnya harus dipisahkan
dengan modal setoran walaupun jumlah akhirnya ditotal untuk membentuk ekuitas
pemegang saham.

B. Penggolongan Ekuitas
Ekuitas pemegang saham diklasifikasi atas dasar dua komponen penting
yaitu modal setoran dan laba ditahan. Modal setoran dipecah menjadi modal
saham sebagai modal yuiridis dan modal setoran tambahan dan komponen lain

3
yang merefleksi transaksi pemilik. Ekuitas Pemegang Saham dan Komponennya
adalah sebagai berikut:
1. Modal Setoran
a. Modal Yuridis
b. Modal Setoran Lain
2. Modal Bentukan atau Laba Ditahan
a. Laba atau rugi (dari statement laba rugi)
b. Dividen
c. Rekapitalisasi
d. Defisit
e. Koreksi
f. Perubahan akuntansi

C. Penyajian Ekuitas
Pengungkapan informasi ekuitas pemegang saham akan sangat dipengaruhi
oleh tujuan penyajian informasi tersebut kepada pemakai statement keuangan.
Pada umumnya, tujuan pelaporan informasi ekuitas pemegang saham adalah
menyediakan informasi kepada yang berkepentingan tentang efesiensi dan
kepengurusan manajemen (Suwardjono 2005).
Untuk memenuhi tujuan tersebut, informasi yang harus disampaikan tentang
ekuitas pemegang saham tersebut minimal adalah:
- Sumber ekuitas pemegang saham beserta riwayatnya.
- Peraturan yuridis yang membatasi pembagian dividen dan pengambilan
modal setoran kepada pemegang saham.
- Prioritas beberapa golongan pemegang saham atau pemegang ekuitas
lainnya.

1. Modal Setoran Dan Laba Ditahan

Laba ditahan pada dasarnya terbentuk dari akumulasi laba yang


dipindahkan dari akun ikhtisar laba rugi. Begitu saldo laba ditutup ke laba
ditahan, sebenarnya saldo laba tersebut telah lebur menjadi elemen modal

4
pemegang saham yang sah. Dengan demikian untuk mengukur seluruh hak
pemegang saham atas asset, laba ditahan harus digabungkan dengan modal
setoran (Suwardjono 2005). Terdapat beberapa komponen yang membentuk
ekuitas pemegang saham, yaitu:

a. Jumlah rupiah yang disetorkan oleh pemegang saham


b. Laba ditahan yang merupakan sisa laba setelah pembagian dividen
c. Jumlah rupiah yang timbulakibat revaluasi aset fisis tertentu
d. Jumlah rupiah donasi dari pihak non pemegang saham
e. Sumber lainnya

Pembedaan antara dua bagian elemen ekuitas pemegang sangat


penting. Dari segi administrasi keuangan, laba ditahan merupakan indikator
daya melaba sehingga laba ditahan harus selalu dipisahkan dengan modal
setoran meskipun jumlahnya akhirnya ditotal untuk membentuk ekuitas
pemegang saham. Pembedaan ini juga sangat penting secara yuridis karena
modal setoran merupakan dana dasar yang harus tetap dipertahankan untuk
menunjukkan perlindungan bagi pihak lain. Dana ini hanya dapat ditarik
kembali dalam likuidasi atau dalam keadaan luar biasa lainnya. Sementara
itu, laba ditahan adalah jumlah rupiah yang secara yuridis dapat digunakan
untuk pembagian dividen.

2. Modal Yuridis

Modal yuridis timbul karena ketentuan hukum yang mengharuskan


bahwa harus ada sejumlah rupiah yang harus dipertahankan dalam rangka
perlindungan rehadap pihak lain. Bentuk ketentuan hukum ini adalah bahwa
saham harus mempunyai nilai nominal atau nilai minimum yang dinyatakan
untuk menunjukkan hak yuridis. Modal yuridis merupakan jumlah rupiah
“minimal” yang harus disetor oleh investor sehingga membentuk modal
yuridis.

Akuntansi menganggap pengungkapan modal yuridis tersebut tidak


penting karena akuntasi lebih menekankan pada jumlah rupiah yang benar-
benar disetor pemegang saham sebagai jumlah rupiah kontrak antara

5
perseroan dengan pemegang saham. Dalam hal perusahaan berjalan terus,
pengungkapan modal yuridis kemudian akan berfungsi semata-mata untuk
menunjukan batas jumlah aset yang dapat didistribsikan kepada pemegang
saham baik dalam bentuk dividen maupun likuidasi modal dan dianggap hal
ini memberi informasi terhadap batas perlindungan bagi kreditor
(Suwardjono, 2010:518).

Besarnya Modal Yuridis. Dalam hal saham bernilai nominal (par


stock), modal yuridis dapat sama dengan jumlah yang dikenal dengan nama
modal saham (capital stock). Modal saham merupakan batas tanggungjawab
pemegang saham dan batas kerugian pribasi yang harus ditanggung
pemegang saham. Artinya, dalam hal terjadi likuidasi pemegang saham tidak
dapat menuntut pembagian kekayaan atas dasar modal yang disetor (kecuali
ada sisa untuk itu).

3. Modal Setoran Lain

Transfer dari modal setoran ke laba ditahan tanpa alasan yang kuat
adalah penyimpangan dari penalaran yang valid. Ini berarti bahwa modal
tidak dapat digunakan sebagao sumber laba ditahan. Demikian juga, tidak
sebagian pun dari jumlah rupiah laba ditahan dapat dimasukkan sebagai
modal setoran kecuali jumlah rupiah tersebut telah diubah menjadi modal
dengan proses kapitalisasi yuridis atau telah berubah karena transaksi modal
yang dibahas dibawah ini.

Tujuan utama dari perekayasaan akuntansi modal setoran ini adalah


untuk membedakan secara tegas antara perubahan akibat transaksi operasi
dan perubahan akibat transaksi operasi. Dalam kenaikan modal setoran,
pembedaan ini bermanfaat untuk mencegah memperlakukan kenaikan akibat
modal sebagai laba sehingga timbul kesan adanya jumlah yang tersedia
untuk pembagian dividen (Suwardjono 2005). Berbagai sumber yang dapat
mengubah modal setoran dengan berbagai masalah teoretisnya adalah:

6
a. Pemesanan saham
Pada umumnya, investor yang berminat membeli saham
perusahaan harus memesan (to subscribe) lebih dahulu saham yang
akan dibeli dengan harga sesuai dengan kesepakatan pada saat
pemesanan. Secara konseptual, ekuitas pemegang saham bersifat
seperti kewajiban. Oleh karena itu, jumlah rupiah saham pesanan dapat
diakui sebagai modal setoran hanya apabila kedua syarat berikut
dipenuhi:
1) Jumlah rupiah yang disepakati dalam pemesanan merupakan
klaim yuridis bagi perusahaan terhadap pemesan dan tidak dapat
dibatalkan.
2) Harga pemesanan tersebut akan ditagih penerbit dalam perioda
yang cukup pasti dan tidak terlalu lama (Suwardjono, 2010:522).
b. Obligasi terkonversi atau berhak-tukar
Perusahaan menerbitkan obligasi dengan karekteristik bahwa
obligasi tersebut dapat ditukarkan dengan saham biasa atas kehendak
pemegang obligasi dalam perioda konversi tertentu. Kalau hak tukar
tersebut digunakan (exercised), yang terjadi adalah perubahan status
kewajiban menjadi modal setoran. Masalah teoretisnya adalah
menentukan jumlah rupiah yang dapat dianggap sebagai modal setoran
sehingga modal saham dan kelebihan diatas modal saham (kalau ada)
dapat ditentukan. Dalam hal ini, ada dua nilai yang dapat digunakan
sebagai basis kapitalisasi yaitu:
1) Nilai buku (book value) atau nilai bawaan (carrying value)
obligasi pada saat penukaran.
2) Harga pasar obligasi atau harga pasar saham (mana yang paling
obyektif).
c. Saham istimewa terkonversi atau berhak-tukar
Pengukuran jumlah rupiah yang harus diakui sebagai modal
setoran dapat menggunakan cara seperti pada obligasi terkonversi.
Dengan pendekatan pertama, nilai nominal saham prioritas plus porsi
premium/diskun ditransfer ke modal pemegang saham dan

7
premium/diskun modal pemegang saham biasa.Pendekatan kedua juga
dapat diterapkan. Kalau ada selisih antara harga pasar baik saham biasa
maupun saham prioritas, selisih tersebut harus dikompensasi ke atau
dari laba ditahan. Pendekatan ini mengisyaratkan diterimanya konsep
kesatuan usaha karena laba ditahan dianggap sebagai ekuitas
perusahaan yang terpisah atau independen. Ini berarti harga pasar
saham biasa yang diperhitungkan dianggap tidak merefleksi hak yang
melekat pada laba ditahan.
Setelah konversi berarti perusahaan menjadi bebas dari kewajiban
membayar dividen secara tetap. Ini berarti likuiditas perusahaan
bertambah dan akan mengurangi risiko pemegang saham biasa.
Penggunaan harga pasar juga pararel dengan transaksi pertukaran
untuk potensi jasa atau aset yang tidak sejenis (dissimilar) yang
menggunakan harga pasar sebagai dasar penentuan cost-nya.
d. Dividen saham
Dividen saham adalah distribusi dividen dalam bentuk saham
yang sejenis dengan saham yang mula-mula diterbitkan. Bila distribusi
dividen saham tidak disertai dengan kapitalisasi laba ditahan, dividen
saham akan menyerupai pemecahan saham (stock split).
1) Karakteristik Dividen Saham
Dari sudut pandang kesatuan usaha, dividen saham bukan
merupakan pembagian laba karena tidak ada penurunan aset
perusahaan atau kenaikan utang perusahaan. Hal ini berbeda
dengan dividen kas jelas merupakan pendapatan bagi penerima
karena ada transfer kemakmuran (wealth) ke pemegang saham.
Dari sudut pandang kesatuan pemilik, dividen saham bukan
merupakan laba bagi penerimanya.Alasannya adalah bahwa laba
perseroan juga merupakan laba pemilik. Oleh karena itu,dividen
kas dianggap sebagai pengambilan atau prive oleh pemilik dari
sesuatu yang memang sudah menjadi haknya.sehingga tidak ada
tambahan kemakmuran. Dividen sahan juga bukan merupakan
laba tetapi sekedar reklasifikasi ekuitas.

8
2) Kapitalisasi Atas Dasar Nilai Nominal
Kalau tujuan penyajian informasi modal pemegang saham adalah
untuk menunjukkan modal yuridis (legal capital), kapitalisasi
dividen saham haruslah hanya sebesar nilai nominal atau
nyataannya. Jumlah ini sebesarnya merupakan jumlah minimal
yang harus dikapitalisasi untuk memenuhi ketentuan yuridis.
Alasan pendukung kapitalisasi hanya sebesar nilai yuridis adalah
dividen saham bukan merupakan pendapatan dan
mengkapitalisasi sebesar harga pasar memberi kesan bahwa
dividen tersebut merupakan pendapatan yang di reinvestasi
kedalam perusahaan. Alasan lain yang dianggap cukup kuat
adalah bahwa harga pasar menggambarkan harga seluruh ekuitas
pemegang saham (modal setoran dan laba ditahan).
3) Kapitalisasi Atas Dasar Harga Saham
Dividen saham dapat dipandang sebagai pengganti dividen kas
karena dividen saham mempunyai nilai. Nilai tersebut diukur atas
dasar harga saham. Dengan demikian, harga pasar merupakan
dasar yang tepat untuk menentukan kapitalisasi.
e. Hak beli saham
Hak beli saham adalah hak yang diberikan bagi pemegang saham
lama untuk membeli sejumlah saham saham (proporsional dengan
pemilikan). Hal ini biasanya dimaksudkan untuk mempertahankan
pemilikan pemegang saham lama. Pada umumnya hak beli saham
umurnya tidak lama dan harga beli saham dengan hak beli tersebut
biasanya lebih rendah dari harga pasar saham bersangkutan. Oleh
karena itu, hak beli saham sering dianggap mempunyai harga pasar
sehingga timbul pendapat bahwa hak beli tersebut dikapitalisasi.
f. Opsi saham.
Opsi saham ini biasanya di gunakan sebagai sarana untuk
meningkatkan loyalitas dan motivasi karyawan dengan menjadikan
mereka pemilik perusahaan dan untuk menambah penghasilan
karyawan (sebagai kompensasi tambahan). Banyaknya saham yang

9
dapat dibeli dan harga opsi dapat ditentukan pada saat hak opsi
diberikan atau bergantung pada beberapa kejadian di masa mendatang
seperti pertumbuhan perusahaan dan perubahan harga saham.
Opsi Saham Non Imbalan
Kalau opsi saham tersebut non imbalan, harga saham atau harga
pengambilan ditentukan sama dengan harga saham pada saat opsi
diberikan. Dengan demikian pada saat tersebut karyawan dianggap
tidak menerima manfaat atau penghasilan tambahan karena karyawan
akan membayar jumlah yang sama dengan jumlah yang harus dibayar
oleh non karyawan untuk saham bersangkutan di pasar saham
Opsi Saham Imbalan
Kalau program opsi saham tidak memenuhi kriteria sebagai opsi
saham non imbalan, tentunya opsi saham tersebut merupakan opsi
saham imbalan. Misalnya saja, opsi saham ditawarkan hanya kepada
para eksekutif tertentu bukan pada seluruh karyawan.
g. Waran
Dalam PSAK No. 41, IAI mendefinisikan Waran adalah efek
yang diterbitkan oleh suatu perusahaan yang memberi hak kepada
pemegangnya untuk memesan saham dari perusahaan tersebut pada
harga dan jangka waktu tertentu (pasal 03).
Pemegang waran dapat membeli sejumlah saham dengan
mengembalikan waran tersebut dan membayar sejumlah uang kas
tertentu. Waran berbeda dengan hak beli saham dan opsi saham dalam
beberapa aspek yaitu:
1) Waran diterbitkan oleh perusahaan sedangkan hak beli saham
(call dan put) diterbitkan oleh investor (baik individual maupun
institusional)
2) Jangka waktu opsi waran biasanya lebih lama (dapat tahunan)
dari pada jangka waktu opsi hak beli saham
3) Waran dijual atau diterbitkan kepada umum (bukan kepada
pemegang saham atau karyawan perusahaan) dan biasanya hal ini
menjadi syarat bagi pembeli

10
4) Saham dijual dengan harga tertentu atau tunai (tidak gratis)
5) Harga pembelian saham total (harga waran plus tambahan kas)
pada saat pengambilan opsi biasanya melebihi harga pasar saham
pada saat waran ditawarkan
6) Bila hak opsi tidak diambil kos waran tidak dapat ditarik kembali
oleh pemengang waran
7) Waran dapat diterbitkan menyertai penerbitan surat utang
(obligasi)

Apabila waran diambil, jumlah rupiah yang melekat pada waran


dikapitalisasi ke modal saham dan agio saham (bila ada). Apabila
waran tidak diambil sampai masa opsi berakhir, jumlah rupiah tercatat
waran tetap diperlakukan sebagai modal setoran lain.

D. Penurunan Modal Setoran

Pada umumnya lebih banyak faktor yang bersifat menaikan modal setoran
daripada yang menurunkan modal setoran. Alasannya adalah begitu modal disetor
dan tertanam dalam perusahaan maka modal tersebut akan menjadi investasi
permanen dalam perusahaan. Kalaupun pemegang saham mau melepas
investasinya, maka pemegang saham akan menjualnya ke pasar saham sehingga
apa yang dilakukan pemegang saham tidak mempegaruhi operasi ataupun posisi
keuanagn perusahaan (Suwardjono, 2010:533).

Modal setoran tidak akan berkurang kecuali adanya pembayaran atau


pembagian deviden yang dapat dikatagorikan sebagai deviden likuidasi atau
penarikan kembali saham yang beredar secara permanen.

1. Saham treasuri
Transaksi yang jelas akan mengurangi modal setoran adalah penarikan
kembali untuk sementara menjadi saham treasuri. Beberapa alasan
perusahaan melakuka penarikan kembali saham sebagai saham terasuri
adalah:
a. Saham tersebut akan diterbitkan kembali kepada karyawan dalam
program opsi saham. Dengan penggunaan saham treasuri dalam

11
program opsi saham. Proporsi pemilikan saham yang masih beredar
tidak berkurang dibandingakan kalau digunakan saham baru.
b. Saham tersebut akan digunakan untuk membeli perusahaan lain dalam
transaksi penggabungan usaha.

Beberapa masalah dapat timbul akibat adanya modal treasuri, misalnya


penentuan jumlah rupiah yang dianggap sebagai pengurang modal setoran
dan laba ditahan serta bagaimana pengungkapannya terhadap modal yuridis,
bila saham treasuri dijual kembali. Terdapat dua pendekatan yang dapat
digunakan untuk mengatasi masalah tersebut, diantaranya:

a. Konsep Satu Transaksital

Konsep ini disebut dengan metode kos karena jumlah rupiah total yang
dibayarkan, diangap seakan-akan merupakan kos pembelian saham
treasuri. Apabila saham treasuri tidak segera dijual maka kos
pembelian tersebut tidak dapat dianggap sebagai aset, tetapi akan
diklasifikasikan sebagai pengurang ekuitas pemegang saham secara
keseluruhan.

b. Konsep Dua Transaksi

Dalam Suwardjono telah disebutkan bahwa pemerolehan kembali


saham sebagai saham treasuri dianggap sebagai likuidasi ekuitas
pemegang saha, sedangkan penjualan kembali saham dianggap sebagai
penerbitan saham baru.

E. Perubahan Laba Ditahan

Terdapat beberapa hal lain yang dapat menyebabkan laba ditahan dalam satu
periode berubah selain karena transaksi modal tetapi karena transaksi khusus
yaitu:

1. Penyesuaian periode-lalu
Penyesuaian periode lalu adalah perlakuan terhadap suatu jumlah
rupiah yang mempengaruhi operasi periode masa lalu (yang baru ditemukan

12
atau baru dapat diakui dalam periode sekarang) bukan sebagai pengurang
atau penambah perhitungan laba tahun sekarang (masuk dalam statment
laba/rugi tahun sekarang atau berjalan) tetapi sebagai penyesuai tehadap laba
ditahan awal periode sekarang. Perlakukan semacam ini dimaksudkan untuk
menjadikan laba ditahan awal periode sekarang menunjukan saldo
semestinya seandainya jumlah rupiah tersebut telah diakui dalam periode
yang lalu (Suwardjono, 2010:539).
2. Koreksi kesalahan dalam laporan keuangan sebelumnya
Sistem akuntansi biasanya sudah dirancang dengan cukup cermat
sehingga kesalahan dalam pencatatan akan segera dapat dideteksi sehingga
dapat dilakukan koreksi. Dalam hal tertentu, kesalahan tidak segera
diketahui dan baru ketahuan beberapa waktu atau bahkan beberapa periode
setelah statement keuangan disusun dan diterbitkan. APB Opinion nomor 20
paragraf 13 mendefinisikan kesalahan sebagai berikut:
Errors in financial statements result from mathematical mistakes,
mistakes in application of accounting principles, or oversight or misue of
facts that existed at the time the financial statements were prepared
Jadi, untuk dapat disebut kesalahan, suatu jumlah rupiah harus berasal
dari kesalahan hitung, kesalahan aplikasi, atau penerapan prinsip akuntansi,
atau kekhilafan atau kekeliruan menggunakan fakta yang tersedia dalam
penyusunan laporan keuangan. APB membedakan antara kesalahan dengan
perubahan taksiran atau perubahan akuntansi. Perubahan taksiran muncul
dari adanya informasi atau perkembangan baru yang berarti dari tilikan yang
lebih baik atau pertimbangan yang lebih mantap. Untuk disebut kesalahan,
harus ada unsur kekhilafan atau salah pakai informasi (Suwardjono,
2010:542).
3. Pengaruh perubahan akuntansi
Karena alasan tertentu suatu perusahaan mungkin melakukan kebijakan
yang mempunyai pengaruh terhadap konsistensi dalam proses akuntansi dan
pelaporan keuangan yang disebut dengan perubahan akuntansi. Ada tiga
macam perubahan akuntansi yaitu:

13
a. Perubahan prinsip atau metode akuntansi (change in accounting
principle or method).
b. Perubahan taksiran akuntansi (change in accounting estimate).
c. Perubahan kesatuan pelaporan (change in the reporting entity)
(Suwardjono, 2010:545).

Jumlah rupiah laba dan asset berkaitan yang mula-mula dilaporkan


dalam statemen keuangan periode yang lalu sebelum adanya perubahan
tentunya akan berbeda dengan jumlah rupiah seandainya perubahan tersebut
telah dilakukan dalam periode yang lalu dan bukan dalam periode sekarang
atau berjalan. Salah satu elemen yang terpengaruh adalah laba periode yang
lalu (Suwardjono, 2010:545).

4. Kuasi-reorganisasi
Kuasi organisasi biasanya dilakukan dalam hal terjadinya suatu defisit.
PSAK No. 51 Pasal 9 mendeskripsikan pengertian Kuasi-reorganisasi adalah
reorganisasi, tanpa melalui reorganisasi secara hukum yang dilakukan
dengan menilai kembali akun-akun aktiva dan kewajiban pada nilai wajar
dan mengeliminasi saldo defisit.
Selanjutnya ditegaskan bahwa kuasi-reorganisasi merupakan prosedur
akuntansi yang mengatur perusahaan untuk merestrukturisasi ekuitasnya
dengan menghilangkan defisit dan menilai kembali seluruh asset dan
kewajbannya, tanpa melalui reorganisasi secara hukum. Dengan mekanisme
ini, diharapkan perusahaan dapat meneruskan usahanya secara lebih baik
seperti baru mulai (fresh start) dengan modal yuridis baru tanpa dibebani
defisit (Suwardjono, 2010:550).

F. Penyajian Modal Pemegang Saham

Urutan penyajian kewajiban dan modal pemegang saham dalam neraca


sebenarnya menggambarkan urutan perlindungan dalam kondisi perusahaan yang
mengalami defisit dan dalam kondisi perusahaan dilikuidasi. Dalam terjadi defisit,
urutan penyajian menggambarkan:

14
1. Urutan penyerapan rugi:
a. Pendapatan kotor. Pos ini menyerap semua biaya dan rugi dan
debit/beban yng berasal dari transaksi nonpemilik.
b. Laba bersih. Hal ini akan terjadi pendapatan kotor tidak cukup untuk
menutup semua kos terhabiskan baik yang bersala dari konsumsi
manfaat maupun hilangnya manfaat. Bila digunakan pendekatan laba
komprehensif, laba bersih akan menjadi laba komprehensif.
c. Laba ditahan. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila laba bersih periode
berjalan tidak cukup untuk menyerap suatu rugi tertentu atau rugi luar
biasa.
d. Premium modal saham. Bagian modal ini baru dapat menyerap rugi
kalau laba ditahan telah habis untuk menyangga suatu rugi. Dengan
kata lain, modal saham harus tetap dijaga kebutuhannya sampai
premium modal saham benar-benar telah habis
e. Modal saham. Bila kebutuhan modal yuridis telah terpengaruh secara
subtansial, kebijakan untuk melakukan kuasi-reorganisasi atau bahkan
likuidasi perusahaan mungkin diperlukan.
2. Urutan menerima distribusi asset:
Ditinjau dari segi ini, urutan perlindungan dapat dikemukakan sebagai
berikut:
a. Karyawan dan pemerintah. Pihak ini dapat dipandang sebagai kreditor
yang diprioritaskan yaitu karyawan dengan hak atas gaji dan
pemerintah dengan hak atas pajak terhutang.
b. Kreditor berjaminan. Pihak ini adalah pemegang obligasi atau kreditor
lain yang haknya dijamin dengan hak sita atas aset tertentu.
c. Kreditor takberjaminan. Pihak ini terdiri atas para kreditor yng tidak
dijamin yang terefleksi dalam utang usaha atau utang wesel baik
jangka pendek maupun jangka panjang.
d. Pemegang saham prioritas. Pihak ini dilindungi oleh laba ditahan
sebagai penyangga modal saham atau yuridis.

15
e. Pemegang saham biasa. Pihak ini merupakan pemegang hak atas sisa
kekayaan yang berarti bahwa pemegang saham biasa harus
menanggung lebih dahulu rugi atau defisit.

G. Perincian Laba Ditahan

Bila komponen-komponen tertentu yang berasal dari transaksi operasi


dilaporkan langsung ke laba ditahan, laba ditahan dapat disajikan dan dirinci atas
dasar:

1. Perincian atas dasar sumber


Dengan dasar ini, laba ditahan dapat dirinci menjadi laba ditahan yang
berasal dari operasi normal atau rutin dan yang berasal dari laba luar biasa.
Dapat saja pembedaan antara kedua sumber laba ditahan tersebut dipertajam.
Namun, sebenarnya tidak cukup beralasan untuk memecah kembali jumlah
rupiah bersih laba periodic atas dasar klasifikasi sumber bilamana statment
laba-rugi telah memuat semua faktor yang menentukan laba bersih
(pendekatan laba komprehensif) dan laba komprehensif ini telah ditransfer
ke laba ditahan menjadi bagian dari ekuitas pemegang saham. Jadi, bila
perubahan akibat transaksi operasi dipisahkan secara tegas dengan transaksi
modal, statment laba-rugi telah merefleksi sumber laba ditahan sehingga
perincian laba ditahan akan percuma.
2. Perincian atas dasar tujuan penggunaan
Dalam praktik, perincian ini ditunjukkan dengan adanya pos cadangan
jaminan sosial, laba ditahan terbatas (restricted retained earnings), dan
cadangan umum. Perincian semacam itu sebenarnya sama saja dengan
mengaitkan laba ditahan dengan aset tertentu (asset imputation). Artinya,
dalam aset apa saja laba ditahan terikat. Klasfikasi ini mendasarkan pada
tujuan penggunaan laba ditahan sebagaimana ditunjukkan oleh komponen
aset yang terkait.

16
H. Laba Komprehensif

Masalah teoritis dalam hal ini adalah pos-pos mana saja yang disajikan
melalui statement laba rugi dan pos-pos mana saja yang dilaporkan melalui
statement laba ditahan. Dalam hal ini, ada 2 pendekatan yang dapat dianut yaitu:

1. Laba kinerja sekarang. Pendekatan ini hanya memasukkan ke dalam statment


laba-rugi pos-pos operasi yang dianggap bertalian dengan tahun berjalan dan
penggunaan asset (sumber ekonomik) untuk mencapai tujuan utama.
Pendekatan ini meenekankan makna periode sekarang atau berjalan (current)
dan operasi (operating) dalam arti sempit (Suwardjono, 2010:558).
2. Laba semua-termasuk. Pendekatan ini menekankan pemisahan secara tegas
transaksi operasi dalam arti luas dan transaksi modal. Dengan kata lain, yang
diperhitungkan sebagai laba dan disajikan melalui statment laba-rugi adalah
semua pos akibat transaksi nonpemilik. Pendekatan ini dilandasi oleh konsep
dasar kontinuitas usaha yang memandang statment laba-rugi merupakan
penggalan aliran operasi (pendapatan dan biaya) dalam jangka panjang.

Dalam segi teknis tidak terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara dua
pendekatan tersebut, namun perbedaannya sebenarnya terletak pada tujuan
pemerolehan kembali saham tersebut. Jika tujuannya adalah menjual kembali
saham treasuri tersebut kepada karyawan atau pihak khusus lainnya, maka konsep
satu transaksi akan lebih relevan. Namun jika tujuannya adalah untuk membeli
saham para pemegang saham yang tidak setuju dengan kebijakan perusahaan,
maka pendekatan dua transaksi akan lebih mengena. Faktor utama yang
mempengaruhi besarnya laba ditahan yaitu laba rugi periodik dan pembagian
deviden. Tetapi, terdapat faktor khusus lain yang dapat mempengaruhi besarnya
laba ditahan yaitu:

1. Penyusaian periode lalu


Suatu jumlah rupiah baru dapat diperlakukan sebagai penyesuaian periode
lalu apabila jumlah tersebut:

17
a. Dapat diidentifikasi secara tegas sebagai akibat atau dapat dikaitkan
langsung dengan kegiatan-kegiatan bisnis dalam periode tertentu masa
lalu.
b. Tidak timbul akibat peristiwa ekonomis yang terjadi setelah tanggal
laporan keuangan periode lalu. Artinya, persitiwa yang menimbulkan
jumlah rupiah telah terjadi di masa lalu, hanya tidak pasti jumlah atau
waktu mengikatnya bagi perusahaan.
c. Sangat bergantung pada ketetapan pihak selain manajemen. Artinya,
jumlah dan kepastian mengikatnya tidak berada di bawah pengendalian
atau keputusan manajemen.
d. Tidak dapat ditaksir atau diantisipasi secara layak sebelum adanya
ketetapan tersebut.

2. Koreksi kesalahan dalam laporan keuangan sebelumnya

a. Koreksi sebagai penyesuaian laba ditahan


b. Koreksi sebagai penyesuai modal setoran lain
c. Koreksi sebagai komponen laporan laba rugi

3. Pengaruh perubahan akuntansi

Terdapat tiga macam perubahan akuntansi, yaitu:

a. Perubahan prinsip atau metode akuntansi


b. Perubahan taksiran akuntansi
c. Perubahan kesatuan pelaporan

Terdapat tiga alternatif atau metode yang diusulkan, yaitu:

a. Penyesuaian retroaktif
b. Penyesuaian sekarang
c. Penyesuaian sekarang dan prospektif
d. Aplikasi dalam standar

18
4. Kuasi-reorganisasi

Kuasi organisasi adalah reorganisasi, tanpa melalaui reorganisasi


secara hukum yang dilakukan dengan menilai kembali akun-akun aktiva dan
kewajiban pada nilai wajar dan mengeliminasi saldo defisit.

Dewan standar akuntansi menetapkan syarat perusahaan yang dapat


melakukan kuasi reorganisasi, yaitu:

a. Perusahaan mengalami deficit dalam jumlah yang material


b. Perusahaan harus memiliki status kelancaran usaha dan memiliki
prospek yang baik pada saat kuasi-reorganisasi dilakukan
c. Perusahaan tidak sedang menghadapi permohonan kepailitan
d. Tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku
e. Saldo ekuitas sesudah kuasi-reorganisasi haris positif

19
BAB III
KESIMPULAN

Ekuitas pemegang saham menggambarkan hubungan yuridis antara perseroan


dengan para pemegang saham. Ekuitas pemegang saham terdiri atas dua komponen
yaitu modal setoran dan laba ditahan. Modal setoran dipecahkan menjadi modal yuridis
dan modal setoran lain. Ekuitas didefinisikan secara sintatik sebagai hak residual atas
aset perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Ekuitas terpaksa didefinisi secara
sintatik bukan semantik karena keperluan untuk memprtahankan artikulasi statemen
keuangan. Ekuitas mengandung makna pemilikan.
Ekuitas berbeda dengan kewajiban dalam tiga hal, yaitu hak atas penyelesaian
klaim, hak penggunaan aset, dan substansi perjanjian (yuridis). Walaupun demikian,
atas dasar konsep kesatuan usaha kreditor dan investor dipandang sebagai pihak luar
perusahaan yang terpisah dari manajemen. Modal setoran perlu dibedakan dengan laba
ditahan karena modal setoran merupakan suatu bentuk kontrak yuridis yang harus
dipertahankan keutuhannya sedangkan laba ditahan merupakan modal yang tercipta atau
terhimpun karena pemanfaatan aset. Modal setoran merupakan perubahaan aset dalam
rangka pendanaan (transaksi modal) sedangkan laba ditahan merupakan perubahan aset
dalam rangka produksi (transaksi operasi).
Kontrak yang sesungguhnya antara pemegang saham dan perseroan ditunjukan
oleh keseluruhan dana yang disetor (modal setoran) tanpa memperhatikan adanya modal
yuridis atau modal saham yang sering dianggap sebagai batas perlindungan bagi pihak
lain. Pemisahan dan pelaporan modal yuridis tidak menjadi masalah secara teknis. Akan
tetapi, secara konseptual modal yuridis dan modal setoran lain harus ditotal untuk
menunjukan modal setoran yang harus dibedakan dengan laba ditahan.Dari segi
akuntansi, yang mendasarkan diri pada konsep dasar substansi di atas bentuk, ekuitas
pemegang saham adalah seluruh jumlah yang secara ekonomik tertanam dalam
perseroan termasuk laba ditahan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Suwardjono. 2005. Teori Akuntansi. Yogyakarta, BPFE Yogyakarta.

21