Anda di halaman 1dari 5

DI

S
U
S
U
N

OLEH :

KELOMPOK 3 (TIGA)
NAMA KELOMPOK :

1. AVINAS GERRY AGUSTIA


2. AYU PUTRIANTI
3. DEVI ANGGRISTA SITUNGKIR
4. DINDA MUTHIA CHAIRIAH SARAGIH
5. ERI NANDITA
6. HADI PURNOMO
7. INSANUL SALSABIL
8. KHETRIN NADA

KELAS : XII IPA 1

SMA PERSIAPAN STABAT


TAHUN PELAJARAN 2015 / 2016
SENI KLASIK

A. Pengertian Seni Klasik


Perkembangan seni klasik didasari atas berkembangnya kebutuhan dan
kepercayaan. Kepercayaan yang hidup pada zaman prasejarah berkembang pesat pada
zaman klasik. Kepercayaan awal pemujaan terhadap arwah (roh nenek moyang)
berkembang menjadi kepercayaan kepada para dewa. Kebutuhan sarana ibadah baik
bentuk dewa maupun tempat peribadatan menjadi alasan mereka menciptakan karya
seni rupa, berupa kuil, candi, vihara, dan patung-patung perwujudan dari dewa dan dewi,
serta piramid. Didorong oleh perkembangan ilmu dan teknologi, serta ditemukannya
bahan logam, menjadikan karya-karya mereka mencapai tahap perkembangan yang dapat
mencapai puncak (klasik).
1) Mempunyai nilai atau mutu yg diakui dan menjadi tolok ukur kesempurnaan yg abadi;
tertinggi;
2) Karya sastra yg bernilaitinggi serta langgeng dan sering dijadikan tolok ukur atau karya
susastra zamankuno yg bernilai kekal;
3) Bersifat spt seni klasik,yaitu sederhana, serasi, dan tidak berlebihan;
4) Termasyhur krn bersejarah:bangunan klasik peninggalan zaman Sriwijaya itu akan
dipugar;
5) Tradisional dan indah (ttpotongan pakaian, kesenian, dsb): pertunjukan tari-tarian Jawa
klasik
Seni rupa pada zaman klasik ini di seluruh dunia hampir mengalaminya, di Yunani,
Romawi, Mesir, India, Mesopotamia, dan Indonesia. Perbedaanya hanya terletak pada
waktu. Bisa diambil Seni Klasik di Mesir dengan didasari pada pemujaan terhadap dewa.
Fir'aun sebagai raja yang dipercaya turunan dewa, maka setelah meninggal
dipatungkan dalam wujud dewa. Pemujaan terhadap Fir'aun setelah mati bukan sekedar
dipatungkan, tetapi juga dibuat mummi (mayat yang diawetkan). Mummi ini didasari
atas kepercayaan bahwa manusia setelah mati rohnya akan bersemayam melindungi
manusia yang hidup asalkan jasadnya diawetkan. Kebutuhan kepercayaan itulah maka
dibuat mummi. Karya seni bentuk lain adalah piramid. Piramid adalah tempat makam
Fir'aun. Piramid ini merupakan karya klasik dan monumental.
Pada bagian tempat menyimpan mummi, didalam piramid dibuat kamar (cela):
Pada Dinding cela ini digambarkan si mati ketika semasa hidupnya dan kendaraan kapal
sebagai kendaran roh si mati menuju nirwana. Karya seni rupa yang lahir adalah relief. Di
depan piramid dibangun pintu gerbag (pylon) yang diapit oleh dua tugu (obelix), yang
1
terbuat dari batu utuh dengan ketinggian puluhan meter. Dibelakangnya dibuat patung
yang berbadan singa berkepala manusia (sphink), yang mengandung makna simbolis.
Piramid, patung, tugu, dan sphink, serta mummi adalah karya seni rupa
yang mencapai tahap klasik (puncak) karya seni rupa mesir. Itu semua didasari oleh
kebutuhan kepercayaan. Contoh lain seni rupa klasik yang lahir di Yunani dan Romawi.
Karya seni rupa mereka mencapai klasik sebab menciptakan karya-karya yang
monumental seperti kuil, patung dewa dewi, dan tempat olahraga olimpiade. Karya-karya
mereka pun lahir didasari oleh kebutuhan kepercayaan kepada para dewa. Dewa-
dewa diciptakan dalam bentuk patung manusia yang sempurna dalam bentuk fisik (idial).
Lahirlah patung dewa Zeus, Dewa Appolo, Dewa Olahraga, dan dewa - dewa lainnya
dalam bentuk patung yang menggunakan bahan batu, logam dan emas. Ketelitian,
keuletan, kesungguhan dalam membuat patung sangat telliti dan tinggi, sehingga
melahirkan karya-karya patung yang sempurna (klasik).
Selain patung seni rupa yang didasari kepercayaan terhadap dewa ini berupa sarana
ibadah atau kuil. Kuil-kuil ini mencapai tahap klasik sebab didukung oleh tiang-tiang
yang indah dan dihiasi dengan patung-patung dewa dan relief yang agung. Karena teknik
yang tinggi dan kecermatan yang luar biasa, maka terciptalah kuil-kuil yang monumental
(klasik). Seni klasik yang lahir di Indonesia, didasari oleh kepercayaan agama Hindu dan
Budha. Ajaran agama Hindu yang percaya kepada para Dewa melahirkan perwujudan
dewa-dewa dalam bentuk patung, dewa syiwa, dan brahma. Raja dianggap sebagai
turunan dewa, maka raja biasanya dipatungkan dalam wujud dewa. Tempat
pemakaman para raja biasanya dibuatkan bangunan candi asal kata dari Candika (Dewa
Kematian). Dinding bangunan candi dihias dengan relief yang berisi ajaran agama.
Patung, relief dan candi yang dibangun untuk kebutuhan kepercayaan di Indonesia
mencapai tahap klasik dan monumental seperti Candi Prambanan, Borobudur dan
Penataran
Kesenian klasik merupakan puncak perkembangan kesenian tertentu, yang mana
tidak dapat berkembang lagi (mandeg). Karya seni yang dianggap klasik memiliki kriteria
sebagai berikut : (1) Kesenian yang telah mencapai puncak (tidak dapat berkembang lagi),
(2) merupakan standarisasi dari zaman sebelum dan sesudahnya, dan (3) telah berusia
lebih dari setengah abad. Selain dari ketentuan itu, suatu kesenian belum bisa
dikategorikan seni klasik. Karya-karya seni klasik dapat dijumpai pada bangunan-
bangunan kuno Nusantara pada zaman Hindu-Budha dan bangunan-bangunan kuno di
Yunani dan Romawi.

2
B. Seni lukis zaman klasik
Seni lukis zaman klasik kebanyakan dimaksudkan untuk tujuan:
 Mistisme (sebagai akibat belum berkembangnya agama)
 Propaganda (sebagai contoh grafiti di reruntuhan kota Pompeii),
Di zaman ini lukisan dimaksudkan untuk meniru semirip mungkin bentuk-bentuk yang
ada di alam. Hal ini sebagai akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan dimulainya
kesadaran bahwa seni lukis mampu berkomunikasi lebih baik daripada kata-kata dalam
banyak hal.

C. Seni Klasik Indonesia


 Munculnya Pertulisan /Prasasti.
 Arsitektur Masa Klasik.
 Seni Arca

D. Seni Rupa Zaman Hindu-Budha.


Zaman Hindu-Budha merupakan babak baru periodesasi kebudayan di Indonesia.
Zaman ini juga di katakana sebagai akhir dari zaman prasejarah dan menjadi awal zaman
sejarah. Hal ini di buktikan dengan adanya penemuan tulisan. Masa inipun sering
dikatakana sebagai masa klasik. Peninggalan karya seni rupa pada masa Hindu-Budha
yaitu prasasti dan candi. Prasasti adalah batu yang berisi sebuah tulisan tentang sesuatu
peristiwa atau upacara tertentu yang dilakukan oleh orang-orang di lingkungan kerajaan.
Pada zaman Hindu-Budha,banyak sekali kerajaan yang berdiri, mulai dari
kerajaan kecil sampai kerajaan besar. Hampir semua kerajaan memiliki peninggalan yang
berupa prasasti. Berikut adalah beberapa prasasti peninggalan kerajaan-kerajaan pada
masa Hindu-Budha.
1. Prasasti ciaruteum yang bergambar telapak kaki (Kerajaan Tarumanegara)
2. Prasasti kedukan bukit ( 683),menyebutkan kemenangan Raja Dapunta hyang
(Kerajaan Sriwijaya)
3. Prasasti canggal di Gunung Wakir (732), menyebutkan Banga Sanjaya membangun
sebuah lingga di daerah Kunjara Kunya di jawa Dwipa (Kerajaan Mataram Kuno)
4. Prasasti tukmas di lereng Gunung Merbabu,menyebutkan adanya mata air dari
sumber yang dapat di samakan dengan sungai gangga (Kerajaan Kaling)
Selain prasasti yang di sebutkan di atas, masih banyak lagi peninggalan kerajaan
yang berkembang pada masa Hindu-Budha. Candi merupakan peninggalan zaman Hindu-
Budha yang paling megah dan agung, karena orang zaman klasik membangunnya untuk
tujuan yang agung yaitu untuk kegiatan spiritual.
3
Candi berasal dari kata” Candika Gerha” yang artinya rumah dewi candika. Dewi
Candika disebut juga Dewi Durga atau Dewi Maut. Orang membangun candi dengan
harapan mendapat pertolongan dari dewi durga dalam kematianya sehingga candi
kebanyakan berfungsi sebangai kuburan raja-raja. Pada perkembangan selanjutnya,
Fungsi candi menjadi bermacam-macam di antaranya sebangai berikut :
1. Sebagai hiasan (Candi Sari)
2. Sebagai kuburan Abu Jenazah (Candi Budha)
3. Sebagai Pemujaan (Candi penataran)
4. Sebagai tempat Semedi (Candi Jalatunda)
5. Sebagai Pemandian (Candi Belahan)
6. Sebagai Gapura (Candi Bajang Ratu)
Seperti halnya zaman Hindu-Budha, zaman Islam juga memiliki peninggalan karya seni
rupa yang cukup megah. Hasil karya seni rupa zaman Islam berupa arsitektur dan seni
hias
Seni Arsitektur meliputi
 Masjid
 Makam
 Istana
Seni hias meliputi
 Seni ukir
 Seni kaligrafi (arab)
 Seni wayang
 Seni batik
 Seni lukis