Anda di halaman 1dari 7

MODUL III

PENGUKURAN DAYA LISTRIK

Eka Rizky Adhansyah Alathas (F1B018017)


Asisten : Muhammad Abdulloh Hamzan (F1B017062)
Tanggal Percobaan : 2 November 2019

ES2123 – Praktikum Pengukuran Besaran Listrik


LAB. LISTRIK DASAR - TEKNIK ELEKTRO – UNRAM

Abstrak
Pengukuran daya listrik. Pada pengukuran ini menggunakan empat metode, yaitu
metode voltmeter-amperemeter, 3 voltmeter, 3 amperemeter dan wattmeter. Hasil
dari pengukuran daya dengan menggunakan berbagai metode tersebut akan
dibandingkan dan dianalisa apa saja perbedaan tersebut, dan untuk pembuktiannya
digunakan hasil data pengukuran menggunakan alat ukur dan perhitungan
berdasarkan dasar teori.

Kata kunci: Pengukuran Daya, Metode Pengukuran, Perbedaan Metode

1. PENDAHULUAN Segitiga daya merupakan segitiga yang


Untuk mengenal berbagai metode pengukuran daya menggambarkan hubungan matematika antara tipe-
tipe daya yang berbeda (Apparent Power, Active
listrik dan mengetahui beberapa perbedaannya.
Power dan Reactive Power) berdasarkan prinsip
trigonometri.
2. DASAR TEORI
2.1 Pengertian Daya
Daya Listrik atau dalam bahasa
Inggris disebut dengan Electrical Power adalah
jumlah energi yang diserap atau dihasilkan
dalam sebuah sirkuit/rangkaian. Sumber Energi
seperti Tegangan listrik akan menghasilkan
daya listrik sedangkan beban yang terhubung
dengannya akan menyerap daya listrik tersebut. Gambar 2.1 Diagram faktor daya
Dengan kata lain, Daya listrik adalah tingkat dimana berlaku hubungan :
konsumsi energi dalam sebuah sirkuit atau S (VA) = Veff Ieff
rangkaian listrik. Rumus umum yang P (Watt) = Veff Ieff Cos φ
digunakan untuk menghitung Daya Listrik Q (VAr) = Veff Ieff Sin φ
dalam sebuah Rangkaian Listrik adalah sebagai
berikut : 2.3 Lux Meter
P=VxI Lux meter adalah sebuah alat yang
Atau digunakan untuk mengukur intensitas cahaya
P = I 2R atau tingkat pencahayaan. Biasanya digunakan
P = V2/R di dalam ruangan. Kebutuhan pencahayaan
Dimana: setiap ruangan terkadang berbeda. Semuanya
P = Daya Listrik dengan (W) tergantung dan disesuaikan dengan kegiatan
V = Tegangan Listrik (V) yang dilakukan. Untuk mengukur intensitas
I = Arus Listrik (A) cahaya dan menyesuaikan dengan cahaya yang
R = Hambatan (Ω) dibutuhkan.
2.2 Segitiga Daya 2.4 Metode Voltmeter-Amperemeter

MODUL 1 | Praktikum Pengukuran Besaran Listrik 2017 / F1B016000


Salah satu cara pengukuran tahanan yaitu Gambar 2.3 Rangkaian metode amperemeter-
dengan menggunakan metode voltmeter voltmeter
amperemeter. Apabila tegangan V antara
ujung-ujung tahanan dan arus I mengalir Pada gambar 2.4.1 amperemeter membaca arus
melalui tahanan tersebut diukur maka tahanan beban (Ix) yang sebenarnya dan voltmeter
Rx yang tidak diketahui nilainya dapat mengukur tegangan sumber (Vt). Apabila Rx
ditentukan berdasarkan hukum Ohm berikut: besar dibandingkan dengan tahanan dalam
Rx = 𝑉/𝐼 amperemeter, kesalahan yang diakibatkan oleh
Persamaan di atas mempunyai arti tahanan penurunan tegangan di dalam amperemeter
amperemeter adalah nol dan tahanan voltmeter dapat diabaikan dan Vt sangat mendekati
tak terhingga sehingga kondisi rangkaian tidak tegangan beban yang sebenarnya (Vx). Oleh
terganggu. Pada gambar 2.2 di bawah arus karena itu, rangkaian pada gambar 1 adalah
sebenarnya yang disalurkan ke beban diukur yang paling baik untuk pengukuran nilai-nilai
oleh amperemeter tetapi voltmeter lebih tepat tahanan yang tinggi (high resistance values).
mengukur tegangan sumber daripada tegangan Pada gambar 2.4.2 voltmeter membaca
beban nyata. Untuk mendapatkan tegangan tegangan beban yang sebenarnya (Vx) dan
yang sebnarnya pada beban, penurunan amperemeter membaca arus sumber (It).
tegangan di dalam amperemeter harus Apabila Rx kecil dibandingkan tahanan dalam
dikurangkan dari penunjukan voltmeter. voltmeter, arus yang dialirkan ke voltmeter
tidak begitu mempengaruhi arus sumber dan It
sangat mendekati arus beban sebenarnya (Ix).
Oleh karena itu rangkaian pada gambar 2
merupakan rangkaian yang paling baik untuk
pengukuran nilai-nilai tahanan rendah (low
resistance values).

2.5 Metode 3 Voltmeter

Gambar 2.2 Rangkaian metode voltmeter-


amperemeter
Apabila voltmeter dihubungkan
langsung di antara ujung-ujung tahanan seperti
di dalam gambar 2.3, maka voltmeter
mengukur tegangan beban yang sebenarnya
tetapi amperemeter menghasilkan kesalahan
(error) sebesar arus yang melalui voltmeter.
Pada kedua cara pengukuran Rx ini kesalahan
Gambar 2.4 Rangkaian Metode 3 Voltmeter
tetap dihasilkan. Cara yang benar untuk
menghubungkan voltmeter bergantung pada
nilai Rx beserta tahanan voltmeter dan
amperemeter. Umumnya tahanan amperemeter
rendah sedangkan tahanan voltmeter tinggi.

Gambar 2.5 Vektor Tegangan

Bila masing-masing voltmeter memberikan


hasil pengukuran V1, V2, dan V3 maka hasil
penjumlahan vektor tegangan V1 dan V2 akan
menghasilkan vektor tegangan V3. Daya yang terserap
pada beban:
P = V1.I.cos φ (1)
MODUL 1 | Praktikum Pengukuran Besaran Listrik 2017 / F1B016000
Arus beban I dapat dihitung secara tidak langsung dari 2.7 Metode Wattmeter
tahanan R: Pengukuran Daya Bolak-Balik 1 Fasa Pengukuran
I = V2 / R (2) dengan wattmeter 1 fasa
Maka, daya beban
V1 × V2 × cosφ
𝑃=
R
Daya tidak dapat dihitung dengan persamaan (1)
karena cos φ tidak diketahui. Cara lain dengan
menggunakan rumus penjumlaha vektor:

𝑉32 = 𝑉12 + 𝑉22 + 2𝑉1𝑉2𝑐𝑜𝑠𝜑

2𝑉1𝑉2𝑐𝑜𝑠𝜑 = 𝑉32 − 𝑉12 − 𝑉22


Gambar 2.7 Rangkaian Metode Wattmeter
𝑉1𝑉2𝑐𝑜𝑠𝜑 𝑉32 − 𝑉12 − 𝑉22 Pada pengukuran daya bolak-balik 1 fasa, bila besaran
= yang diukur lebih besar dari batas alat ukur, dapat
𝑅 2𝑅
dilakukan dengan pertolongan trafo arus dan trafo
𝑉32 − 𝑉12 − 𝑉22 tegangan. Rangkaian pengukurannya adalah:
𝑃=
2𝑅
3. METODOLOGI
2.6 Metode 3 Amperemeter 3.1 Spesifikasi Alat dan Bahan
Pengukuran Daya Ac Satu Fasa dng Metode 3 1. Voltmeter : 3 buah
Ampermeter AC 2. Wattmeter 3∅ : 1 buah
3. Amperermeter : 3 buah
4. Panel Percobaan : 1 buah
5. Konektor : Secukupnya
6. Resistor : 1 buah
7. Lux meter : 1 buah
8. Power Supply 3 Phase : 1 Buah

Gambar 2.6 Rangkaian Metode 3 Amperemeter 3.2 Metode Voltmeter – Amperemeter


Daya yang terserap pada beban: -Gambar rangkaian
P = V.I1.cos φ
Arus beban I dapat dihitung secara tidak langsung dari
tahanan R:
V = I2.R
Maka, daya beban
I1 × I2 × cosφ
𝑃=
R
Cara lain dengan menggunakan rumus penjumlahan
vektor:
𝐼32 = 𝐼12 + 𝐼22 + 2𝐼1𝐼2𝑐𝑜𝑠𝜑

2𝐼1𝐼2𝑐𝑜𝑠𝜑 = 𝐼32 − 𝐼12 − I22 Gambar 3.1 Gambar 3.2


-Langkah percobaan
𝐼1𝐼2𝑐𝑜𝑠𝜑 𝐼32 − 𝐼12 − 𝐼22
= a. Menyisipkan rangkaian percobaan seperti gambar
𝑅 2𝑅
3.1 pada panel yang tersedia.
𝐼32 − 𝐼12 − 𝐼22
𝑃= b. Meneliti apakah rangkaian yang dibuat sudah
2𝑅
benar.

MODUL 1 | Praktikum Pengukuran Besaran Listrik 2017 / F1B016000


c. Menyiapkan beban dengan cermat minimal 5 buah
yang nilainya berbeda-beda (melakukan kombinasi
dari beban yang tersedia). Gambar 3.4 Gambar 3.5
d. Menghubungkan beban pertama, mencatat -Langkah percobaan
penunjukkan voltmeter dan amperemeter. a. Membuat rangkaian percobaan seperti gambar 3.5
e. Melakukan prosedur yang sama untuk beban - b. Melakukan pengukuran terhadap setiap beban yang
beban yang lain dan jugaVs konstan. tersedia
Menabulasikan hasilnya dalam tabel. c. Mencatat hasil penunjukan ketiga amperemeter ke
f. Membuat rangkaian percobaan seperti Gambar 3.2 dalam tabel.
pada panel. 3.5 Metode Wattmeter
g. Melakukan prosedur a. sampai e. Untuk rangkaian -Gambar rangakaian
ini.
3.3 Metode 3 Voltmeter
- Gambar Rangkaian

Gambar 3.6
a. Membuat rangkaian percobaan seperti gambar 3.6
b. Menyiapkan beberapa beban dari berbagai
kombinasi yang mungkin
Gambar 3.3 Rangkaian Metode 3 Voltmeter
-Langkah Percobaan c. Menghubungkan beban dengan kombinasi yang
a. Membuat rangkaian percobaan gambar 3.3 pada mungkin dan mencatat hasil penunjukan wattmeter
panel. ke dalam tabel
b. Memastikan bahwa rangkaian sudah benar.
c. Menyiapkan beban minimal 10 buah yang nilainya 4. HASIL DAN ANALISIS
RANGKAIAN I RANGKAIAN II
BEBAN
berbeda - beda (melakukan kombinasi dari beban – NO
(Watt)
P1=V1 x I1 P2=V2 x % error
V1 I1 V2 I2
I2
beban tersebut). 1 40 232.2 0.8 185.76 232.2 0.8 185.76 364.4%
d. Menghubungkan beban pertama, mencatat harga 2 60 232.2 1.02 236.844 232.2 1.02 236.844 294.74%

yang ditunjukkan ketiga voltmeter. 3 105 232.8 1.12 260.736 232.8 1.12 260.736 148.32 %

e. Meakukan pengukuran untuk beban - beban lain 4.1 Metode Voltmeter-Amperemeter


4.1.1 Data Hasil dan Perhitungan
yang tersedia dan mencatat hasilnya pada tabel 3.2.
Tabel 4.1 Hasil Metode Voltmeter-Amperemeter
3.4 Metode 3 Amperemeter
-Gambar rangkaian
A. Menghitung daya menggunakan rumus
berikut :
 Diketahui:
V1= 232.2 volt

MODUL 1 | Praktikum Pengukuran Besaran Listrik 2017 / F1B016000


I1= 0.8 ampere Dari grafik diatas dapat dianalisa bahwa
 Ditanyakan semakin besar 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 maka semakin besar pula
𝑃ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = ? tegangan (V) yang dihasilkan, begitu pula sebaliknya,
 Penyelesaian: karena 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 berbanding lurus dengan V. Hal ini
𝑃ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = V.I sesuai dengan rumus daya yaitu

𝑃ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 232.2 x 0.8 P = V.I


b. Grafik Hubungan 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 dengan I
𝑃ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 185.76 watt
B. Menghitung persentase error daya (% error)
1.2
 Diketahui: 1.12
1 1.02
𝑃ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 185.76 watt 0.8 0.8

I (Ampere)
0.6
𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 = 40 watt
0.4
 Ditanyakan 0.2
% error = ? 0
 Penyelesaian: 40 60 105
P beban (Watt)
𝑃−𝑃ℎ
% error= | | x 100%
𝑃
40−185.76 Dari grafik diatas dapat dianalisa bahwa semakin
% error= | | x 100%
40
% error=364.4% besar 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 maka semakin besar pula arus (I) yang
4.1.2 Analisa dihasilkan, begitu pula sebaliknya, karena 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛
Tabel 4.1 dapat dianalisa bahwa semakin besar berbanding lurus dengan I. Hal ini sesuai dengan
nilai beban maka tegangan yang dihasilkan akan tetap
atau semakin besar. Sedangkan untuk nilai arus yang rumus daya yaitu
dihasilkan akan semakin besar pula. Sedangkan P = V.I
persentase error yang didapatkan pada kedua
rangkaian kedua relative lebih besar dari rangkain c. Grafik Hubungan 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 dengan 𝑃ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔
pertama. Hal ini dikarenakan selisih P hitung dan P 300
236.84 260.73
P hitung (Watt)

ukur yang relative besar, yang disebabkan antara lain


oleh ketelitian alat ukur yang sudah lama yang 4 6
200
185.76
digunakan saat praktikum dan human error.Salah satu
hal yang dapat dijadikan acuan adalah besar P hitung 100
di kedua rangkaian. Seharusnya nilai P hitung pada
0
beban 40, 60 dan 105 watt di ke tiga rangkaian
nilainya sama besar jika ketelitan alat ukur tidak 40 60 105
P beban (Watt)
bermasalah dan human error sangan kecil. Tetapi
walaupun sama nilai P hitung juga seharusnya sama Dari grafik diatas dapat dianalisa bahwa
dengan P ukur. semakin besar 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 maka 𝑃ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 akan semakin
4.1.3 Grafik besar pula, begitupun sebaliknya. Hal ini dikarenakan
a. Grafik Hubungan 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 dengan V jika semakin besar 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 maka akan semakin besar
pula arus (I) dan tegangan (V) , karena besarnya
233 𝑃ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 tergantung pada hasil perkalian dari arus (I)
232.8
V (Volt)

232.5 dan tegangan (V).


232.2 232.2
232
231.5
40 60 105
P beban (Watt)

MODUL 1 | Praktikum Pengukuran Besaran Listrik 2017 / F1B016000


4.2 Metode Voltmeter-Amperemeter konstan dan V2 yang semakin besar. Juga dikarenakan
4.2.1 Data Hasil dan Perhitungan rangkaian yang dipasarng seri.
Tabel 4.2 Hasil dan Perhitungan Sedangkan persentase error yang didapatkan pada
percobaan dikarenakan selisih P hitung dan P ukur
R = 500  yang relative besar, yang disebabkan antara lain oleh
ketelitian alat ukur yang sudah lama yang digunakan
BEBAN V1 V2 V3
NO 𝑃ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 % error saat praktikum dan human error.
(Watt) (Volt) (Volt) (Volt) 4.2.3 Grafik
1 40 172 65 227 17.72 55.7 % a. Grafik Hubungan 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 dengan V1
2 60 150 92 226 20.112 198.3 %
3 100 114 120 226 23.68 322.3 %
200
172
150 150

V1 (Volt)
A. Menghitung daya menggunakan rumus sebagai
berikut: 100 114
1
𝑃ℎ = (𝑉 2 − 𝑉22 − 𝑉12 ) 50
2𝑅 3
 Diketahui: 0
P= 40 watt 40 60 100
V1= 172 volt
V2= 65 volt Pbeban (Watt)
V3= 227 volt Analisa
R= 500  Dari grafik diatas dapat dianalisa bahwa semakin
 Ditanyakan: besar 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 maka semakin kecil pula tegangan (V)
Ph
 Penyelesaian : yang dihasilkan, begitu pula sebaliknya, karena 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛
1 berbanding terbalik dengan V. Hal ini sesuai dengan
𝑃ℎ = (𝑉 2 − 𝑉22 − 𝑉12 )
2𝑅 3
1 rumus daya yaitu
𝑃ℎ = (2272 − 652 − 1722 )
2𝑥500 𝑃
Ph = 17.72 watt V=
𝐼
B. Menghitung persentase error daya (% error)
b. Grafik Hubungan 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 dengan V2
 Diketahui:
140
𝑃ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 17.72 watt
120 120
𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 = 40 watt 100
92
V2 (Volt)

 Ditanyakan 80
% error = ? 60 65
40
 Penyelesaian:
𝑃−𝑃ℎ
20
% error= | | x 100% 0
𝑃
40−17.72
% error= | | x 100% 40 60 100
40
% error=55.7% Pbeban (Watt)
4.2.2 Analisa
Tabel 4.2 menjelaskan bahwa semkin besar beban Dari grafik diatas dapat dianalisa bahwa semakin
yang digunakan maka nilai V1 akan semakin kecil dan
V2 akan semakin besar dan V3 konstan. V3 memiliki besar 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 maka semakin besar pula tegangan (V2)
nilai konstan karena V3 diukur pada tegangan sumber. yang dihasilkan, hal inii dikarenakan 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 memiliki
Nilai V2 lebih kecil dari V3 dan semakin besar
nilainya disebabkan oleh hambatan yang nilainya tetap resistansi yang lebih besar dari V1 karena V1 dan V2
dipasang seri pada rangkaian dan semakin besar diparalelkan.
nilainya karena pengaruh daya beban dan arus yang
mengalir pada rangkaian, sesuai persamaan P= V.I.
Nilai V1 semakin kecil karena selisih nilai V3 yang

MODUL 1 | Praktikum Pengukuran Besaran Listrik 2017 / F1B016000


c. Grafik Hubungan 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 dengan V
227.5
227
227
V3(Volt)

226.5

226 226 226

225.5
40 60 100
Pbeban (Watt)

Dari grafik diatas dapat dianalisa bahwa semakin


besar nilai tegangan V maka Pbeban akan semakin
kecil dan setelah turun nilai seterusnya akan konstan.
d. Grafik Hubungan dengan 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 dengan V3 relatif
konstan hal ini disebabkan karena V3 diukur pada
tegangan sumber.

25
23.68
20 20.112
P hitung (Watt)

17.72
15

10

0
40 60 100
P beban (Watt)

Dari grafik diatas dapat dianalisa bahwa semakin


besar 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 maka 𝑃ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 akan semakin besar pula,
begitupun sebaliknya. Hal ini dikarenakan jika
semakin besar 𝑃𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 maka akan semakin besar pula
arus (I) dan tegangan (V) , karena besarnya 𝑃ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔
tergantung pada hasil perkalian dari arus (I) dan
tegangan (V).

MODUL 1 | Praktikum Pengukuran Besaran Listrik 2017 / F1B016000