Anda di halaman 1dari 11

Cinta Monyet dan Gorila

Cinta bagai debu, terbang diterbangkan angin yang selalu sibuk


berjalan-jalan dan tersesat di hati yang gersang. Lain lagi bila langit biru
mulai menghitam, cinta adalah sunyi, tanpa bunyi. Yang selalu
terdengar hanya nada-nada datar dan sumbang bergema lemah di
langit-langit kamar hatiku.

Pada akhirnya, cinta masih seputar kisah tentangmu yang sekarang


berjalan memunggungiku dengan wajah yang sama, ceria seperti biasa,
tanpa dosa. Adakah aku di ingatanmu? Tidak ada? Sedikit saja?
Ah, aku masih mengingatmu dengan jelas. Kamu salah satu murid
dengan catatan merah kebanggaanmu, mie ayam depan sekolah
kesukaanmu, atau peringkatmu yang jauh di bawahku, juga suara
sumbangmu yang tak henti menggetarkan gendang telingaku sejak
beberapa tahun lalu, dan semua keburukanmu masih terpahat tepat di
hatiku. Ah, memangnya apa lebihmu? Hanya kekuranganmu yang
membuatku bertahun mengenangmu.

Cinta monyet dan gorila bukan hanya tumbuh subur di masa SMA,
bahkan paragraf utama cerita ini berada di masa remaja sebelum aku
beranjak dewasa, masa SMP. Konyol memang, tapi senangnya luar
biasa dan sakitnya pun dari luar biasa.

Dia adalah seorang teman yang sudah sangat mahir dalam dunia
percintaan, mengatakan tiga kata singkat yang memaksaku untuk
tergagap tak kuasa menolak. “Aku suka kamu.” Untuk perrtama kalinya
aku mendengar kalimat itu. Padahal yang kudapat darinya hanya
sebatang coklat yang harganya tak lebih dari seribu rupiah. Betapa
murahnya cinta itu. Bahkan kini ia hanyalah dongeng pengantar tidur
yang memilukan. Tentu saja dia adalah segalanya. Bahagiaku juga
sakitku. Paket komplet kisah cinta masa lalu.

Entah apa kelebihannya atau apa yang kusuka darinya. Ia sama sekali
tidak tampan, pintar juga tidak, tidak juga kaya, romantis apa lagi. Hal-
hal yang kusukai justru tidak ia sukai. Begitu pula sebaliknya. Aku
sampai tak tahu persamaan apa yang kami miliki.

Saat itu saat kami sedang duduk tepat di teras rumahku, ia membawa
gitar milik temannya. Tentu saja ia tak bisa memainkannya. Sudah
kubilang ia tak ada lebihnya. Ia baru akan mulai belajar dengan gitar itu.
Aku hanya tertawa saat ia dengan rasa percaya diri tingkat tingginya
mengatakan akan menyanyikan lagu yang mengungkapkan
perasaannya padaku. Hari itu adalah hari kedua dalam diary hatiku.
Yang menjadi sound track drama ini hanyalah lagu kecil yang begitu
besar maknanya bagiku. Ini adalah lagu luar biasa yang ia nyanyikan
untukku. Ia memetik gitar sembarang nada, kemudian menyanyikan lagu
itu.

Satu-satu aku sayang kamu


Dua-dua juga sayang kamu
Tiga-tiga sayang sama kamu
Satu dua tiga kamu semuanya
Bayangkan bagaimana suaranya yang terjal dan berliku. Ekspresi
wajahnya yang sok menghayati isi lagu. Juga petikan gitar dengan
melodi aneh yang ia ciptakan sendiri. Musik terlangka yang pernah
kudengar yang karenanya aku tertawa dengan begitu nikmatnya.

Mulai dari petikan nada pertama, kemudian ia bunyikan suara


malaikatnya yang tiada duanya, hingga bait terakhir yang nadanya
semakin melengking, tawaku tak juga bisa kutahan. Aku begitu bahagia
saat itu. Bukan karena suaranya sumbang atau nadanya yang
belepotan, tapi karena aku bahagia dan sangat bahagia. Padahal
rumput liar pun tahu lagu itu sedikit pun tak ada romantis-romantisnya,
tapi untuk yang satu ini aku tak sependapat. Saat itu yang kami lakukan
hanya tertawa lagi dan lagi.Inikah cinta? Ah, betapa indah cinta itu
Tuhan.
Saat tawa kami mulai megundang lembayung senja datang, ia bertanya
padaku dengan lugunya, “Apa lagu itu romantis?”
Jawabku, “Lebih dari romantis.”
“Apa suaraku bagus?”
“Hmmmmmmm.” Tertawa lagi.
“Apa kamu bahagia?”
“Banget.”
Hey aku tak berbohong. Baru kali ini bisa kutemukan kelebihannya dan
ternyata lebihnya itu banyak sekali. Bahkan hanya dengan nada aneh itu
pun ia sudah mampu mengembangkan sejuta tawa di bibirku.
Kelanjutannya adalah kami tertawa lagi untuk kesekian kalinya. Oh
Tuhan mengapa ia memikat hatiku begitu dalamnya? Aku benar
mencintainya.
Keesokan harinya masih di teras yang sama saat langit di atas rumahku
mulai menguning pertanda siang akan berganti malam, ia datang lagi
mengunjungiku. Selalu dengan rambut yang mulai meronta-ronta meraih
alisnya yang berjajar rapi di atas matanya yang selalu berbinar. Tak
pernah lupa memakai sepatu putih yang agak lusuh itu. Ia pasti baru
selesai bermain basket di sekolah. Keringatnya terlihat jelas di
punggung kaus pendeknya. Meski begitu, kali ini ia tetap tampak manis
seperti biasa dengan kaus merah mudanya yang baru kulihat hari itu. Ia
bahkan tak merasa malu memakainya. Dasar orang aneh.

Ia tak akan menatapku walau selintas bila ia belum sampai tepat di


depanku. Meski demikian, aku tetap selalu menunggu senyuman itu.
Ayo senyum untukku! Cepat senyum! Bisikku dalam hati. Tidak
terdengar olehnya. Tidak ada senyuman.

Ia menghampiriku lalu terduduk menunduk. Tak ada senyuman


pembuka. Aku pun tak menyapa, hanya menatapnya sambil memainkan
gantungan di tas gendongnya. Satu menit, dua menit, tiga menit.
Akhirnya ia mengangkat kepalanya. Masih dengan napas yang
tampaknya begitu lelah. Ia tersenyum. Hmmm manis sekali. Aku
membalas.

Tetangga sekamarku pasti sedang menguping di balik pintu kamar


kami. Ia tidak sendiri, selalu dengan tetangga kami yang setahun lebih
tua dariku. Pasti sambil membongkar isi diaryku.
“Abis main bola?” Aku membuka percakapan.
“Hmmmm.” Ia mengangguk membenarkan dan masih dengan
senyuman itu.
Dari dalam kamar mulai terdengar bisik-bisik yang terlalu keras sampai
perbincangan mereka pun bisa kudengar dengan jelas. Aku cukup
berpura-pura tidak menyadarinya. Mungkin juga dia yang kusebut
sebagai pacarku ini mendengar celotehan-celotehan di belakang
punggungnya.

Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Aku menebak,


mungkin coklat seribuan lagi atau mie ayam depan sekolah lagi.
Jangan-jangan ia akan menyogokku dengan kado kecil atau apa lah itu.
Ternyata semua tebakan itu salah. Yang dikeluarkannya adalah boneka
Teddy berwarna cokelat berukuran sedang. Mungkin untukku. Aku yakin
saat itu wajahku sangat cerah karena senangnya. Benar saja, ia
menyerahkannya padaku. Lalu ia bertanya.
“Kamu bisa bungkusin kado nggak?”
“Eh?” Aku sedikit kaget dengan pertanyaannya.
“Bisa nggak?”
“Aku nggak terlalu pinter bungkusin kado. Buat siapa?” Aku membiarkan
boneka itu tergeletak di lantai.
“Teman.” Jawabnya tersenyum meyakinkan.
“Oh.”

Menyebalkan sekali. Baru hari ketiga, lembaran diaryku sudah dicoreti


dengan kecemburuan dan ketakutan tentang Teddy itu. Kado untuk
temannya? Teman yang mana? Pasti perempuan. Pasti cantik. Atau
mungkin manatan pacarnya? Aaaaah aku benci boneka Teddy.

Teman-temanku mulai melemparkan bermilyar asumsi yang memancing


ketakutanku.

“Jangan-jangan ia selingkuh.” Kata mereka.


“Atau mau balikan sama mantannya.”
Bagaimana caranya aku mencari tahu? Salat? Ah, bahkan Allah tak
memberi izin aku untuk pacaran bukan? Mungkin lebih baik cari aman,
diam.
Hari ke empat semua masih baik-baik saja. Kami yang belajar di bawah
atap kelas yang sama masih berbincang santai bersama. Kali ini ia
memamerkan permainan gitarnya yang mulai bisa membunyikan
beberapa kunci, E, G, dan C. Kemajuan yang bagus. Sepertinya ia
berusaha dengan keras. Jari-jarinya terlihat memerah dan agak
bengkak.

Setelah permainan gitar sederhana itu ia mengajakku berfoto bersama


dengan handphonenya. Aku tak suka berfoto dengan laki-laki
sebenarnya. Lagi pula di sekolah aku merasa sangat culun. Langitnya
juga tidak lagi berwarna biru, justru abu-abu. Tampaknya kantung-
kantung air di atas sana sudah siap ditumpahkan ke bumi. Foto yang
kami buat pun ikut-ikutan mendung.

Hari berikutnya tak ada yang istimewa antara kami. Hanya sapaan basa-
basi yang terjadi sekali, pagi hari. Sorenya ia menemuiku seperti biasa.
Tak ada bosan-bosannya. Sudah ia cetak foto kami kemarin itu. Sayang,
fotonya tak ada bagus-bagusnya. Tepat seperti dugaan. Meski begitu,
tetap saja sayang untuk dibuang. Ia mengeluarkan pulpennya lalu
menuliskan inisial nama kami di belakangnya, N&A.
Pagi hari ke tujuh aku bangun kesiangan. Pergi ke sekolah pun lebih
siang dari biasanya. Dari kejauhan, tepat di kursi sepan kelas aku
melihatnya. Berdua. Ia bersama salah satu temanku juga. Ia sempat
melihatku tapi tak ada senyuman juga sapaan. Diam. Ah, mereka kan
hanya teman, fikirku.

Namun kenyataannya, tak ada satu pun tulisan tanpa coretan. Seperti
kisah tanpa akhir. Atau tiada cinta tanpa luka. Sangat tidak mungkin.
Yang menyakitkan adalah ketika ia tersenyum dan membuat senyuman
di bibir orang lain. Juga saat ia menyenandungkan nada sumbangnya di
telinga orang lain. Atau saat ia memamerkan kemampuan gitarnya pada
orang lain. Rasanya sakit sekali.

Ternyata bahagia itu hanya ada dalam tujuh hari yang singkat. Ah, cinta
apa itu? Ia bahkan tak keberatan membagi kisah-kisahnya pada
gorilanya tepat di depan monyetnya. Betapa jahatnya. Betapa sakit cinta
itu. Betapa tak bernilai kisah lalu itu. Ia hanya berjalan pergi
membelakangiku dengan senyumnya yang terkembang untuk cinta-cinta
lain yang siap tertipu sepertinya bodoh nya aku yang selalu
mempercayai nya . aku pun bertanya di kepala berulang apa kah aku
akhiri saja hubungan ini ? aku pun bertanya kepada nya “sedang apa
kau dengan nya ?” dia menjawab “aku hanya menghibur nya yang
sedang sedih dan memberikan sedikit hiburan . aku pun lega setelah
mendengar nya aku pikir dia akan mulai menyukai wanita lain

aku, rara ,ocha, rurul dan maria sedang dikantin menyantap makanan
siang kami , kami pun membahas tentang rencana untuk lanjut
perguruan tinngi karena tidak lama lagi kami akan lulus dari sekolah
menengah atas . aku menginginkan untuk lanjut diluar kota contoh nya
di jawa . dan rara merencanakan di bandung ingin tinggal dengan bibi
dan paman nya , ocha yang ingin melanjutkan perguruan tinggi yang
ada disini sedangkan rurul dan maria ingin melanjutkan jurusan
keperawatan di perguruan tinggi . hal ini membuat aku semangat belajar
karena perguruan yang inginkan universitas yang benar susah untuk
bisa kuliah disana . ya tuhan tolong aku , keinginan aku terlalu tinggi
untuk bisa masuk . namun aku harus tetap berusaha. Aku memikirkan
dia , apakah yang terjadi jika kalau aku kuliah di luar kota sedangkan dia
masih disini? Ahh aku benar benar pusing saat ini.
Aku pun dan dia bertemu saat pulang sekolah . dia mengantar aku
pulang dengan menggunakan sepeda motor . sepanjang di perjalanan
aku pun bertanya kepda nya “kamu kalau udah lulus mau masuk kuliah
dimana ?dia menjawab “belum kepikiran kemana mana,aku pikir akan
bagus disini saja. Kalau kamu ?aku berpikir sejenak cukup lama dan
menghening lalu menjawab” aku berencana kuliah di luar “ ohh ya bagus
dong !

Aku pun sampai dirumah dan berkata “ kalau kamu mau aku akan tetap
disini bersama mu ,kuliah bareng dan tetap bisa jalan bareng , gimana?
Aku pikir mengiyakan perkataan ku ternyata dia mengeleng dan
menjawab “aku gapapa disini , kamu harus kuliah yang kamu ingin
kan.”hshsxj. aku tersenyum .

Setelah percakapan itu aku berpikir kalau ternyata dia baik banget ,aduh
jadi sedikit kagum sekaligus senang. Aku pikir akan bagus kalau aku
bakal satu kampus bareng terus bisa belajar bersama sama dan masih
bisa jalan jalan seperti sepasang kekasih . halu banget si aku.

Keesokan sekolah aku pun ada mengikuti seminar untuk juara 1 sampai
5 . aku pun mengikuti nya karena aku termasuk .aku pun mengikuti
seminar ternyata ada promosi bimbel yang dimana pernah aku ikut pada
kelas 6 sd akupun mulai terniat mengikuti bimbel itu supaya aku bisa
mendapat waktu belajar yang teratur yang lebih efisien .aku berpikir
tentang biaya bimbel yang cukup mahal menurut aku. Ok aku mulai ragu
.ada sebaiknya aku mendiskusikan ini dengan orang tua aku . dia
mereka setuju kalau aku masuk bimbel tersebut.

Setelah mengikuti les aku mulai merasa lelah karena sepulang sekolah
langsung siap siap pergi ke tempat bimbel tersebut . menurutku bimbel
cukup nyaman dan mudah beradaptasi karena aku dan teman ku sama
baru masuk pada saat itu . aku murid baru dan harus memperkenal kan
diri dengan teman teman disana . aku mulai merasa kalau aku banyak
ketinggalan karena teman teman yang lama les disana cepat sekali
untuk mengerti dalam pelajaran yang ajarkan. Aku merasa sedikit
minder dengan kemampuan diri .oh tuhan aku mulai sedikit kesal pada
hari itu .
Semenjak aku mengikuti bimbel tersebut aku jarang melihat dia dan
bertemu karena kayak dia sedikit sibuk karena pertandingan bola yang
diikuti nya . sedikit kecewa karena jarang komunikasi dengan nya .

Pada saat les aku mengikuti yang namanya to yah ternyata ada ujian
juga di tempat les dan soal to yang 100 soal dan susah banget . aku
mulai frustasi di bagian matematika yang mapel yang pertama . aku gak
suka menghitung apa lagi menalar . semua aku serah yang diaatas
karena hanya itu yang bisa aku lakukan pada saat ini . aku pun
membaca bahasa inggris yang text nya mulai mengikuti bahasa
indonesia yang tex yang panjang tapi pertanyaan yang pendek . aku gak
itu..

Setelah to hasilnya pun keluar karena itu aku makin badmood ya


gimana ya namanya pertama kali pasti jelek . ya begitu meliat tidak
seburuk yang aku kira lumayan lah gak bagus dan tidak terlu jelek .lalu
aku menunjukkan kepada mama. Respon mama adalah suruh lebih giat
lagi belajar nya . mama aku orang pemarah dan orang susah di ajak
kompromi menurut ku dia itu seorang mama yang kuat ,berani ,dan
lemah lembut. Yaitu aku akan bersikap begitukah ?kan buah jatuh tidak
jauh dari pohon nya.

Sebenarnya aku terbebani yang masuk bimbel ini soalnya udah nguras
waktu dan tenaga aku harus bisa ngimbangan kan pekerjaan di rumah
terus aku gak secara langsung mama membebani aku harus masuk
universitas diluar yang inginkan dan yang penting negri kalu bisa yang
ikatan dinas biar bisa jadi pns . aku juga mau kayak gitu tapi beban tuh
kalau di ingat jadi harus hati hati . aku merasa menghadapi ujian
semester ini jadi deg deg an karena kalau sampai turun mungkin mama
kecewa dan marah besar kayak nya dia uadah berharap banget kalau
aku bisa dia banggain . aku pengen sih yang di iginkan nya soal aku
jarang jarang bikin dia terharu bangga kepada aku.aku sering bikin dia
marah marah karna kelakuan aku selama ini . tapi sisi lainaku merasa
berat ha jadi kalau sampai gak kesampaian pasti marah nya dan omelan
nya sampai berhari hari dan aku jadi takut hal itu terjadi apalagi kalau
dibahas kalau aku suka main gadget dan nonton drakor .
Setelah aku cari cari tau tentang kampus aku terniat masuk stan karena
udah lama ngidamin dari kelas satu SMA aku udah suka . aku tau stan
dari kakak aku ,dia gak pernah coba masuk dia lebih mau coba ipdn sih
kemarin namun gagal di tes kesehatan . stan itu kampus besar dan aku
suka dari stan itu adalah belajar hanya sampai diploma tiga biar cepat
lulus dan bisa kerja dan bahagia kan orang tua aku .itu sih mau nya aku
. aku pun banyak cari tau tentang yang lain ptn yaitu usu aku tertarik
karena kampus berkualitas di sumatra,kalau aku bisa masuk aku
pengen nya jurusan menejemen atau hukum juga boleh . aku suka
pelajaran ekonomi karena berkaitan dengan cita cita aku yaitu penegn
jadi pengusaha sukses .

Selama ini aku kurang kontekan dengan dia karena aku cukup sibuk
dikelas karena banyak ulangan dan tugas dan banyak lagi . lelah yah
memang kayak gitu,lila pun melihat aku terduduk bermenung pun
mengajak aku kekantin , aku pun menuruti . aku bertemu dengan dia
karena sudah lama gak ketemu akhirnya aku menyapa nya duluan tapi
kenapa dia hanya diam saja ? aku pun gak tau apa salah aku ? apakah
aku pernah buat salah dengan nya ? aku abaikan saja dia . aku tak
peduli lagi karena mungkin dia sudah bosan menunggu aku yang harus
kontekan duluan nya.

Aku berlalu hari hari aku merasa hari demi hari adalah hari mulai
membosan yang harus mengkerjakan tugas latihan di sekolah pulang
sekolah langsung pergi les dan pulang melihat buku mapel untuk besok
dan tidur sampai jam sepuluhan . aku m erasa bosan karena itu yang
aku kerjakan terus menerus . aku kurang motivasi dalam aku mencapai
tujuan tertentu . aku binggung dan lelah apa yang aku harus dapat kan
yah sampai akhir nya aku merasa sedeikit putus asa .

pada hari ini pertandingan bola pun dimulai aku semangat karena aku
sudah lama tiak menonton bola disekolah .akuberniat buat nonton bola
nya tapi nantik dikira aku dukung dia lagi . aku masih merasa sedikit
kesal sama dia karena dia mengabaikan ku aku kesal . jadi aku tetap
ikut nonton juga akhirnya .pokoknya aku dukung buat nama sekolah
bukan sebagai teman atau pacarnya, itu yang aku tanamkan pada
pikiran ku selama pertandingan nya .pada saat selesai aku lega karena
sekolah aku yang menang jadi aku secepatnya mau pulang tetapi teman
aku melarang aku cepat ,dia menyuruh ku untuk mengucapkan selamat
pada nya,namun dengan cepat aku menolak dan beralasan udah capek
banget.tapi teman aku pun ngotot buat ngucapin sekarang ,aku gak tau
dengan dia yang kelakuan yang hari ini cukup aneh dia.akhirnya aku
ditarik ke lapangan dan bertemu dengan nya dia.
Sama sama ngeliatin tapi tanpa suara .

Teman “ kok diam sih katanya mau ngucapin selamat “

Aduh kenapa sikamprev ni bikin gua jadi makin gugup yah aku harus
ngapain yah ? ucapin selamat aja kali yah? Kan kalau dia cuek dan gak
ngebales gua yang malu? Yaudah deh orang udah dari tadi nliatin gua

“selamat atas kemenangannya “ kata gua dengan cepat cepat


mengulurkan tangan.

Ini apa apaan pake ngulurkan tangan segala ? reflek banget gua
.melihat tangan gua kosong cukup lama ,gua berniat turun kan tapi ehh
dia langsung nyalamin gua dengan cukup erat .akhirnya gak jadi malu.

“makasih yah ,udah datang padahal loe lagi sibuk “katanya sambi
lsenyum yaampun kok dia senyumin gua dengan manis sih kan jadi
baper lagi gua

“iya sama sama “kata gue

“ mel, gua pengen ngomong sesuatu nih ,loe ada waktu gak ?”

Sebenarnya mau cepat cepat pulang soalnya mama gua pasti bakalan
merepet kalo pulang lama atau kemalaman .

“ yaudah ,sekarang aja “

“mel ,gue ngerasa aja kita sekarang gak cocok dan gak bisa lagi
pertahan hubungan kita ,dan gua ngerasa udah jarang kontek lagi sama
loe,selama itu merasa kangen dan kesepian tapi lama kelamaan gua
merasa kan uadah terbiasa bahkan lebih nyaman dengan sekarang ,

“jadi loe minta putus ?”dengan cepat gua sela karna gua gak enak hati
jadinya terlalu belit .

“ jadi gua minta elo dengan tenang ngejar cita dan masa depan dan
jauhi gue “

“ oke ,gue ngerti maksud loh , udah yah gua mau balik nantik
kemalaman .

‘tapi mel ,gua juga masih ingin berteman kayak dulu ,loh mau kan ?

“ya,gua balikduluan”
“ok”

Gua pergi secepatnya dari hadapan nya karena gua sedih dan merasa
sangat kecewa yang akhirnya mengakhiri hubungan ini dengan alasan
sepele .aku pun pulang dengan merasa kecewa dan anehnya gua gak
sedih . mungkin ini yang terbaik untuk saat ini

Inilah kisah yang pernah gua alami ,kurang dan lebih salah dan benar
akua amohon maaf karena aku masih proses belajar .
Tugas bahasa indonesia

Oleh

Nama : Melsi arosty


Kelas :XII IPS 4