Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF
“Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Penyakit”

Oleh :
Kelompok 1
Shinta Octa Lyana 1711211026
Detri Mayang Sari 1711212019
Hukma Shabiyya 1711212048
Yulia Arum Sekarini 1711212052
Yesa Melam Sari 1811216010
Arief Ramdhoni 1811216011

Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Andalas
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya,
sehingga dapat menyelesaikan makalah “Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya
Penyakit”. Makalah ini ditulis guna menyelesaikan tugas mata kuliah
Epidemiologi Deskriptif.
Penyusunan tugas ini dilaksanakan atas bimbingan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu perkenankan kami menyampaikan ucapan hormat dan terima
kasih kepada Dosen pengampu mata kuliah Epidemiologi Deskriptif yang telah
membimbing dan membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhirnya kami berharap semoga
makalah tugas ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Padang, 18 Agustus 2019

Kelompok 1

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1 Latar Belakang..........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................2
1.3 Tujuan........................................................................................................2
1.3.1 Tujuan Umum....................................................................................2
1.3.2 Tujuan Khusus...................................................................................2
1.4 Manfaat......................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................3
2.1 Konsep Sehat Sakit........................................................................................3
2.2 Trias Epidemiologi.........................................................................................5
2.3 Riwayat Alamiah Penyakit.............................................................................8
2.4 Konsep Pencegahan Penyakit......................................................................10
BAB III PENUTUP.............................................................................................21
3.1 Kesimpulan..............................................................................................21
3.2 Saran........................................................................................................21
Daftar Pustaka......................................................................................................22

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut WHO kesehatan merupakan suatu keadaan yang mencangkup
pada tiga hal yakni sempurna secara fisik, sempurna secara mental, dan sempurna
secara sosial. Selain itu sehat tidak hanya dubatasi oleh terbebasnya dari penyakit
atau terbebas dari kelemahan. Berdasarkan UU RI No 36 tahun 2009 tentang
kesehatan menyatakan bahwa kesehatan adalah keadaan sehat baik secara fisik,
mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup
produktif secara sosial dan ekonomis.
Untuk mencapai kesehatan tersebut salah satu hal yang berpengaruh
adalah terbebasnya dari penyakit, dimana sakit merupakan suatu keadaan dimana
terjadi penurunan/ melemahnya kondisi emosional, fisik, atau intelektual yang
menyebabkan kesehatan menjadi buruk, hal ini akan berdampak pada
produktifitas manusia itu sendiri dan lingkungan sekitar.
Di Indonesia pada tahun 2018 masih memiliki permasalahan ganda dalam
kesehatan dimana penyakit menular yang belum teratasi secara sempurna, dan kini
timbul beban kesehatan tentang penyakit tidak menular, permasalahan kesehatan
terbesar di Indonesia sampai tahun 2018 adalah gizi buruk seperti Stunting dan
penyakit tidak meular
Berdasarkan data RISKESDAS 2018 mencatat bahwa kementrian
Kesehatan hanya mampu mengurangi angka stunting dari 37,2 % menjadi 30, 8 %
selama 5 tahun, sedangkan untuk gizi buruk hanya berkurang dari 19 % ke 17 %.
Selain itu penyakit tidak menular juga mengalami peningkatan, serta penyakit
mental yang mengalami kenaikan yang signifikan yaitu dari 1.7 % menjadi 7 %.
Jika dilihat dari jenis penyakit ini merpakan penyakit yang dipicu oleh gaya hidup
yang tidak sehat. Selain juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti
lingkungan, pelayanan kesehatan, serta gen masing masing individu.
Dari data diatas dapat dilihat bahwa Indonesia masih mempunyai
permasalahan kesehatan, sehingga untuk mengatasi permasalahan tersebut
dibutuhkan pemecahan masalah yang bersumber dari dasar seperti melihat pada

1
faktor-faktor yang menimbulkan atau menjadi penyebab timbulnya penyakit
tersebut.
Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi timbulnya penyakit.

1.2 Rumusan Masalah


Apakah faktor-faktor yang dapat menimbulkan penyakit ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui
tentang faktor-faktor yang dapat menimbulkan penyakit.
1.3.2 Tujuan Khusus
- Mengetahui tentang konsep sakit dan sehat.
- Mengetahui tentang faktor faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit.
- Pencegahan penyakit.

1.4 Manfaat
Penulisan makalah ini merupakan salah satu prasayarat dalam mata kuliah
epidemiologi deskriptif.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Sehat Sakit


2.1.1 Konsep Sehat Sakit
Perkembangan teknologi dan budaya mengubah cara pandang masyarakat
dengan meninggalkan konsep sakit dan mulai menganut ke arah konsep sehat.
Masyarakat cendrung sadar akan pentingnya sehat dan melakukan tindakkan
preventif seperti pemeriksaan kesehatan berkala, imunisasi, tes pas-smear dan
tindakkan preventif lainnya agar tidak jatuh sakit.
Bustan(2012:24) mengemukakkan bahwa secara sederhana konsep sehat
sakit dapat dianggap bergerak dari satu titik sehat ke titik sakit melalui garis
horizontal. Perbedaan latar belakang sosial dan budaya sering kali menyebabkan
adanya perbedaan dalam menentukan apakah seseorang berada dalam kondisi
sehat atau dalam kondisi sakit. Luasnya jangkauan persepsi tentang sehat dan
sakit menyebabkan perlu adanya kriteria atau defenisi tentang apa yang disebut
dengan sehat dan apa yang disebut dengan sakit. WHO (1948), mendefenisikan
“health is a stateof complete physical, mental, and social wll-being and not
merely the absence of diseasor infirmity”.
Kesehatan yang dimaksud dalam defenisi WHO ini mengandung tiga hal
yakni, sempurna secara fisik, sempurna secara mental dan sempurna secara sosial.
Selain itu sehat tidak hanya dibatasi oleh terbebas dari penyait atau terbebas dari
keemahan. Defenisi ini mendapat kritik karna sulit mendefenisiskan dan
mengukur yang dimaksud dengan kondisi sempurna.
Defenisi kesehatan juga disampaiakanoleh Devey et al (1984), yang
menyatakan “health is defained as the abality for the individual to function in a
way wicth is acceptable to the group from which they blong”. Dalam defenisi ini
kesehatan akan sangat tergantung dari kelompok dimana individu berada.
Misalnya, di negara-negara barat perilaku seks diluar menikah adalah hal yang
biasa, untuk di Indonesia sendiri itu merupakan perilaku menyimpang. Sehingga
bagi masyarakat Indonesia, individu yang melakukan seks diluar nikah merupakan
individu yang sakit secara sosial.

3
Kondisi kesehatan yang lebih konfrehensif tertuang dalam undang-undang
Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 yang menyebutkan bahwa kesehatan
adalah keadaan sehat , baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secra sosial dan ekonomis.
Dari beberapa defenisi ini dapat disimpulakan bahwa kesehatan meliputi berbagai
aspek yaitu fisik, mental, spiritual dan sosial. Individu yang sehat tidak hanya
ditandai dengan tidak adanya penyakit dan terbatas dari kelemahan, namun juga
memungkinkan individu tersebut untuk melangsungkan kehidupan secara
produktif. Penyakit (disease) dapat di defenisikan sebagai suatu kondisi adanya
penyimpangan atau gangguan dari struktur atau fungsi normal bagian, organ atau
sistem tubuh yang dimanifestasikan sebagai sejumlah karakteristik dari gejala dan
tanda, baik etiologi, patologi, dan prognisis diketahui maupun tidak diketahui
(http;//medical dictionary.thefreedictionary.com disesase). Penyakit dalam kata
penyakit (disease) terkait dengan disfungsi dari fisiologi dan psikologi
(Last,2001;52) dimana status penyakit dapat ditentukan oleh kriteria medis. Sakit
(illness) juga didefinisikan sebagai penyakit dari tubuh atau pikiran, kondisi
kesehatan yang buruk atau kondisi yang tidak sehat. Sakit (illness) merupakan
sebua proses abmormal dimana aspek sosial,fisik dan emosional atau intelektual
seseorang berada dalam kondisi dan fungsi yang menurun atau melemah
dibandingkan dengan kondisi orng tersebut sebelumnya. Kondisi sempurna :
1. Emosional
2. Fisik
3. Intelektual
4. Psikologi
5. Sosial
Sakit dalam kata illness bersifat subjektif terkait dengan apa yang dirasakan
individu. Dalam istilah bahasa inggris dikenal dengan istilah sickness. Sakit dalam
kata sickness terkait dengan disfungsi sosial.
Secara sederhana, sakit dapat ditandai dengan melemahnya kondisi
emosional, fisik ataua intelektual yang menyebabkan kesehatan menjadi buruk.
Seseorang dikategorikan sakit atau tidak didasarkan pada diagnosis yang telah
ditegakkan. Kriteria diagnosis biasanya didasarkan pada gejala, tanda, riwayat,
dan hasil tes. Setiap penyakit tidak harus sama dalam menggunakan kriteria
diagnosis. Sebagai contoh, seseorang diidentifikasi sebagai penderita TB Paru

4
apabila telah menunjukan gejala dan tanda seperti batuk lebih dari dua minggu,
dan temukan bakteri penyebab TB Paru pada pemeriksaan spatum. Penyakit
hepatitis diidentifikasi bila ada tanda dan gejala perubahab secara spesifik pada
paru, adanya fibrosis pada jaringan paru pada hasil radiografi atau adanya
pengentalan pleura dan HIV dideteksi dengan tes HIV pertama adalah untuk
menguji antibodi dalam darah atau air liur. Jika tes HIV posistif, tes HIV kedua
disebut Western blot, dilakukan untuk konfirmasi tes pertama. Contoh lainnya,
orang yang mengalami gangguan kejiwaan seperti pasien Schizopenia, secara fisik
mereka terlihat sehat, namun secara emosional sosial dan psikologis mereka
termasuk kategori sakit. Ilustrasi defenisi sakit berdasarkan kamus kedokteran dan
epidemiologi.

2.2 Trias Epidemiologi

Segitiga epidemiologi yang sering dikenal dengan istilah trias epidemiologi


merupakan konsep dasar yang memberikan gambaran tentang hubungan antara
tiga faktor utama yang berperan dalam terjadinya penyakit dan masalah kesehatan
lainnya yaitu: host, agent,dan lingkungan.
Dalam pandangan epidemiologi klasik dikenal segitiga epidemiologi
(epidemiologic triangle) yang digunakan untuk menganalisis terjadinya penyakit
yang di gambarkan sebagai berikut :

5
Konsep ini bermula dari upaya untuk menjelaskan proses timbulnya
penyakit menular dengan unsur-unsur mikrobiologi yang infeksius sebagai agen,
namun selanjutnya dapat pula digunakan untuk menjelaskan proses timbulnya
penyakit tidak menular dengan memperluas pengertian agen.

Komponen pada Segitiga Epidemiologi


A. Faktor penjamu/host
Pejamu adalah manusia atau makhluk hidup lainnya yang menjadi tempat
terjadinya proses alamiah perkembangan penyakit. Yang termasuk faktor pejamu
adalah
1. Genetika
Faktor keturunan dapat meliputi status kesehatan. Misalnya: buta
warna, asma, hemofilia,dll.
2. Umur dan keadaan imunologi mempengaruhi status kesehatan karena
ada kecenderungan penyakit menyerang umur tertentu. Misalnya: -
pada penderita karena imunya belum stabil. Pada manula karena
imunnya sudah menurun.
3. Jenis kelamin mempengaruhi status kesehatan karena ada penyakit yang
terjadi lebih banyak atau hanya ditemukan pada pria atau wanita.
Misalnya: kanker serviks pada wanita

6
4. Etnis/ras/warna kulit mempengaruhi status kesehatan karena terdapat
perbedaan antara etnis atau ras tetentu.
Misalnya: Ras kulit putih lebih beresiko terkena kanker kulit
dibandingkan dengan ras kulit hitam.
5. Keadaan fisiologi tubuh, mempengaruhi status kesehatan.
Misalnya: kelelahan, kehamilan, pubertas, keadaan gizi.
6. Perilaku dan kebiasaan atau gaya hidup mempengaruhi status
kesehatan
Misalnya: personal hygiene, hubungan antara pribadi dan lain-lain.

B. Faktor agen
Agen adalah suatu unsur, organisme hidup atau kuman infeksi yang
menyebabkan terjadinya penyakit atau masalah kesehatan lainnya. Agent
penyakit yang terdiri dari biotis dan abiotis.
1. Penyebab biotis ada lima golongan :
a. Protozoa (plasmodium, amoeba)
b. Metazoa (arthropoda, helmintes)
c. Bakteri (salmonela, meningitis)
d. Virus (dengue,polio)
e. Jamur (candida, tinia algae)
2. Penyebab abiotis terdiri dari :
a. Nutrient agent: kekurangan/kelebihan gizi.
b. Chemical agent: pestisida, obat dan logam berat.
c. Physical agent: suhu, kelembapan, panas
d. Mechanical agent: pukulan, kecelakaan, trauma, dll

C. Environment
Lingkungan adalah sebuah faktor diluar individu yang dapat berupa
lingkungan fisik, biologis, sosial, dan ekonomi yang termasuk faktor lingkungan
adalah lingkungan fisik, lingkungan biologis, lingkungan sosial, dan lingkungan
ekonomi. Lingkungan adalah kumpulan dari semua kondisi atau kekuatan dari
luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan dari suatu organisme
hidup (manusia). Lingkungan fisik seperti tanah dan udara serta interaksi satu
sama lain. Lingkungan biologis adalah semua organisme hidup baik binatang
tumbuhan maupun mikroorganisme kecuali manusia sendiri. Lingkungan sosial

7
termasuk semua interaksi antara manusia dari makhluk sesamanya yang meliputi
faktor sosial, ekonomo, kebudayaan, dan psikososial.

2.3 Riwayat Alamiah Penyakit


Riwayat alamiah penyakit (natural history of disease) adalah deskripsi
tentang perjalanan waktu dan perkembangan penyakit pada individu, dimulai
sejak terjadinya paparan dengan agen kausal hingga terjadinya akibat penyakit,
seperti kesembuhan atau kematian, tanpa terinterupsi oleh suatu intervensi
preventif maupun terapetik (CDC, 2010). Riwayat alamiah penyakit merupakan
salah satu elemen utama epidemiologi deskriptif (Bhopal, 2002, dikutip
Wikipedia, 2010).
Riwayat alamiah penyakit perlu dipelajari. Pengetahuan tentang riwayat
alamiah penyakit sama pentingnya dengan kausa penyakit untuk upaya
pencegahan dan pengendalian penyakit. Dengan mengetahui perilaku dan
karakteristik masing- masing penyakit maka bisa dikembangkan intervensi yang
tepat untuk mengidentifikasi maupun mengatasi problem penyakit tersebut
(Gordis, 2000).
Perjalanan penyakit dimulai dengan terpaparnya individu sebagai penjamu
yang rentan (suseptibel) oleh agen kausal. Paparan (exposure) adalah kontak atau
kedekatan (proximity) dengan sumber agen penyakit. Konsep paparan berlaku
untuk penyakit infeksi maupun non-infeksi. Contoh, paparan virus hepatitis B
(HBV) dapat menginduksi terjadinya hepatitis B, paparan stres terus-menerus
dapat menginduksi. Terjadinya neurosis, paparan radiasi menginduksi terjadinya
mutasi DNA dan menyebabkan kanker, dan sebagainya. Arti “induksi” itu sendiri
merupakan aksi yang mempengaruhi terjadinya tahap awal suatu hasil, dalam hal
ini mempengaruhi awal terjadinya proses patologis. Jika terdapat tempat
penempelan (attachment) dan jalan masuk sel (cell entry) yang tepat maka
paparan agen infeksi dapat menyebabkan invasi agen infeksi dan terjadi infeksi.
Agen infeksi melakukan multiplikasi yang mendorong terjadinya proses
perubahan patologis, tanpa penjamu menyadarinya. Periode waktu sejak infeksi
hingga terdeteksinya infeksi melalui tes laboratorium/ skrining disebut “window
period”. Dalam “window period” individu telah terinfeksi, sehingga dapat

8
menularkan penyakit, meskipun infeksi tersebut belum terdeteksi oleh tes
laboratorium. Implikasinya, tes laboratorium hendaknya tidak dilakukan selama
“window period”, sebab infeksi tidak akan terdeteksi. Contoh, antibodi HIV
(human immuno-deficiency virus) hanya akan muncul 3 minggu hingga 6 bulan
setelah infeksi. Jika tes HIV dilakukan dalam “window period”, maka sebagian
besar orang tidak akan menunjukkan hasil positif, sebab dalam tubuhnya belum
diproduksi antibodi. Karena itu tes HIV hendaknya ditunda hingga paling sedikit
12 minggu (3 bulan) sejak waktu perkiraan paparan. Jika seorang telah terpapar
oleh virus tetapi hasil tes negatif, maka perlu dipertimbangkan tes ulang 6 bulan
kemudian.
Selanjutnya berlangsung proses promosi pada tahap preklinis, yaitu keadaan
patologis yang ireversibel dan asimtomatis ditingkatkan derajatnya menjadi
keadaan dengan manifestasi klinis (Kleinbaum et al., 1982; Rothman, 2002).
Melalui proses promosi agen kausal akan meningkatkan aktivitasnya, masuk
dalam formasi tubuh, menyebabkan transformasi sel atau disfungsi sel, sehingga
penyakit menunjukkan tanda dan gejala klinis. Dewasa ini telah dikembangkan
sejumlah tes skrining atau tes laboratorium untuk mendeteksi keberadaan tahap
preklinis penyakit (US Preventive Services Task Force, 2002; Barratt et al., 2002;
Champion dan Rawl, 2005).
Waktu sejak penyakit terdeteksi oleh skrining hingga timbul manifestasi
klinik, disebut “sojourn time”, atau detectable preclinical period (Brookmeyer,
1990; Last, 2001; Barratt et al., 2002). Makin panjang sojourn time, makin
berguna melakukan skrining, sebab makin panjang tenggang waktu untuk
melakukan pengobatan dini (prompt treatment) agar proses patologis tidak
termanifestasi klinis. Kofaktor yang mempercepat progresi menuju penyakit
secara klinis pada sojourn time (detectable preclinical period) disebut akselerator
atau progresor (Achenbach et al., 2005). Waktu yang diperlukan mulai dari
paparan agen kausal hingga timbulnya manifestasi klinis disebut masa inkubasi
(penyakit infeksi) atau masa laten (penyakit kronis).
Pada fase ini penyakit belum menampakkan tanda dan gejala klinis, disebut
penyakit subklinis (asimtomatis). Masa inkubasi bisa berlangsung dalam hitungan
detik pada reaksi toksik atau hipersentivitas. Contoh, gejala kolera timbul

9
beberapa jam hingga 2-3 hari sejak paparan dengan Vibrio cholera yang
toksigenik. Pada penyakit kronis masa inkubasi (masa laten) bisa berlangsung
sampai beberapa dekade. Kovariat yang berperan dalam masa laten (masa
inkubasi), yakni faktor yang meningkatkan risiko terjadinya penyakit secara
klinis, disebut faktor risiko. Sebaliknya, faktor yang menurunkan risiko terjadinya
penyakit secara klinis disebut faktor protektif.
Selanjutnya terjadi inisiasi penyakit klinis. Pada saat ini mulai timbul tanda
(sign) dan gejala (symptom) penyakit secara klinis, dan penjamu yang mengalami
manifestasi klinis disebut kasus klinis. Gejala klinis paling awal disebut gejala
prodromal. Selama tahap klinis, manifestasi klinis akan diekspresikan hingga
terjadi hasil akhir/ resolusi penyakit, baik sembuh, remisi, perubahan beratnya
penyakit, komplikasi, rekurens, relaps, sekuelae, disfungsi sisa, cacat, atau
kematian. Periode waktu untuk mengekspresikan penyakit klinis hingga terjadi
hasil akhir penyakit disebut durasi penyakit. Kovariat yang mempengaruhi
progresi ke arah hasil akhir penyakit, disebut faktor prognostik (Kleinbaum et al.,
1982; Rothman, 2002). Penyakit penyerta yang mempengaruhi fungsi individu,
akibat penyakit, kelangsungan hidup, alias prognosis penyakit, disebut ko-
morbiditas (Mulholland, 2005). Contoh, TB dapat menjadi ko-morbiditas
HIV/AIDS yang meningkatkan risiko kematian karena AIDS pada wanita dengan
HIV/AIDS (Lopez-Gatell et al.,).

2.4 Konsep Pencegahan Penyakit


Salah satu kegunaan pengetahuan tentang riwayat alamiah penyakit adalah
untuk dipakai dalam merumuskan dan melakukan upaya pencegahan. Artinya,
dengan mengetahui perjalanan penyakit dari waktu ke waktu serta perubahan yang
terjadi di setiap masa/fase, dapat dipikirkan upaya-upaya pencegahan apa yang
sesuai dan dapat dilakukan sehingga penyakit itu dapat dihambat
perkembangannya sehingga tidak menjadi lebih berat, bahkan dapat disembuhkan.
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan akan sesuai dengan perkembangan
patologis penyakit itu dari waktu ke waktu, sehingga upaya pencegahan itu di bagi
atas berbagai tingkat sesuai dengan perjalanan penyakit.
Ada empat tingkat utama dalam pencegahan penyakit, yaitu :

10
1. Pencegahan tingkat awal (Priemodial Prevention)
 Pemantapan status kesehatan (underlying condition)
2. Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)
 Promosi kesehatan (health promotion)
 Pencegahan khusus
3. Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)
 Diagnosis awal dan pengobatan tepat (early diagnosis and
prompt treatment)
 Pembatasan kecacatan (disability limitation)
4. Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)
 Rehabilitasi (rehabilitation).
Pencegahan tingkat awal dan pertama berhubungan dengan keadaan
penyakit yang masih dalam tahap prepatogenesis, sedangkan pencegahan tingkat
kedua dan ketiga sudah berada dalam keadaan pathogenesis atau penyakit sudah
tampak.
Tingkat Pencegahan Dan Kelompok Targetnya Menurut Fase Penyakit

Tingkat pencegahan Fase penyakit Kelompok target


Primordial Kondisi normal kesehatan Populasi total dan
kelompok terpilih
Primary Keterpaparan factorPopulasi total dan
penyebab khusus kelompok terpilih dan
individu sehat
Secondary Fase patogenesitas awal Pasien
Tertiary Fase lanjut (pengobatanPasien
dan rehabilitasi)

Sumber : Beoglehole, WHO 1993


Hubungan Kedudukan Riwayat Perjalanan Penyakit, Tingkat Pencegahan
Dan Upaya Pencegahan

Riwayat penyakit Tingkat pencegahan Upaya pencegahan


Pre-patogenesis Primordial prevention Underlying condition
Primary prevention Health promotion
Specific protection
Patogenesis Secondary prevention Early diagnosis and
prompt treatment

11
Disability limitation
Tertiary prevention Rehabilitation

Sumber : Beoglehole, WHO 1993


Salah satu teori public health yang berkaitan dengan pencegahan timbulnya
penyakit dikenal dengan istilah 5 Level Of Prevention Against Diseases. Leavel
dan Clark dalam bukunya Preventive Medicine For The Doctor In His
Community mengemukakan adanya tiga tingkatan dalam proses pencegahan
terhadap timbulnya suatu penyakit. Kedua tingkatan utama tersebut meliputi hal-
hal sebagai berikut :
1) Fase sebelum sakit
Fase pre-pathogenesis dengan tingkat pencegahan yang disebut
pencegahan primer (primary prevention). Fase ini ditandai dengan adanya
keseimbangan antara agent (kuman penyakit/ penyebab), host (pejamu)
dan environtment (lingkungan).
2) Fase selama proses sakit
Fase pathogenesis, terbagi dalam 2 tingkatan pencegahan yang disebut
pencegahan sekunder (secondary prevention) dan pencegahan tersier
(tertiary prevention). Fase ini dimulai dari pertama kali seorang terkena
sakit yang pada akhirnya memiliki kemungkinan sembuh atau mati.

Tingkat pencegahan penyakit:


1. Pencegahan tingkat Dasar (Primordial Prevention)
Pencegahan tingkat dasar merupakan usaha mencegah terjadinya risiko atau
mempertahankan keadaan risiko rendah dalam masyarakat terhadap penyakit
secara umum.
Tujuan primordial prevention ini adalah untuk menghindari terbentuknya pola
hidup social-ekonomi dan cultural yang mendorong peningkatan risiko penyakit .
upaya ini terutama sesuai untuk ditujukan kepada masalah penyakit tidak menular
yang dewasa ini cenderung menunjukan peningkatannya.
Pencegahan ini meliputi usaha memelihara dan mempertahankan kebiasaan
atau pola hidup yang sudah ada dalam masyarakat yang dapat mencegah
meningkatnya risiko terhadap penyakit dengan melestarikan pola atau kebiasaan

12
hidup sehat yang dapat mencegah atau mengurangi tingkat risiko terhadap
penyakit tertentu atau terhadap berbagai penyakit secara umum. Contohnya
seperti memelihara cara makan, kebiasaan berolahraga, dan kebiasaan lainnya
dalam usaha mempertahankan tingkat risiko yang rendah terhadap berbagai
penyakit tidak menular.
Selain itu pencegahan tingkat dasar ini dapat dilakukan dengan usaha
mencegah timbulnya kebiasaan baru dalam masyarakat atau mencegah generasi
yang sedang tumbuh untuk tidak melakukan kebiasaan hidup yang dapat
menimbulkan risiko terhadap berbagai penyakit seperti kebiasaan merokok,
minum alkhohol dan sebagainya. Sasaran pencegahan tingkat dasar ini terutama
kelompok masyarakat usia muda dan remaja dengan tidak mengabaikan orang
dewasa dan kelompok manula. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
pencegahan awal ini diarahkan kepada mempertahankan kondisi dasar atau status
kesehatan masyarakat yang bersifat positif yang dapat mengurangi kemungkinan
suatu penyakit atau factor risiko dapat berkembang atau memberikan efek
patologis. Faktor-faktor itu tampaknya banyak bersifat social atau berhubungan
dengan gaya hidup atau pola makan. Upaya awal terhadap tingkat pencegahan
primordial ini merupakan upaya mempertahankan kondisi kesehatan yang positif
yang dapat melindungi masyarakat dari gangguan kondisi kesehatan yang sudah
baik.
Dari uraian diatas dapat dimengerti bahwa usaha pencegahan primordial ini
sering kali disadari pentingnya apabila sudah terlambat. Oleh karena itu,
epidemiologi sangat penting dalam upaya pencegahan penyakit.

2. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)


Pencegahan tingkat pertama merupakan upaya untuk mempertahankan
orang yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit
(Eko budiarto, 2001). Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) dilakukan
dengan dua cara : (1) menjauhkan agen agar tidak dapat kontak atau memapar
penjamu, dan (2) menurunkan kepekaan penjamu. Intervensi ini dilakukan
sebelum perubahan patologis terjadi (fase prepatogenesis). Jika suatu penyakit

13
lolos dari pencegahan primordial, maka giliran pencegahan tingkat pertama ini
digalakan. Kalau lolos dari upaya maka penyakit itu akan segera dapat timbul
yang secara epidemiologi tercipta sebagai suatu penyakit yang endemis atau yang
lebih berbahaya kalau tumbuldalam bentuk KLB.
Pencegahan tingkat pertama merupakan suatu usaha pencegahan penyakit
melalui usaha-usaha mengatasi atau mengontrol faktor-faktor risiko dengan
sasaran utamanya orang sehat melalui usaha peningkatan derajat kesehatan secara
umum (promosi kesehatan) serta usaha pencegahan khusus terhadap penyakit
tertentu. Tujuan pencegahan tingkat pertama adalah mencegah agar penyakit tidak
terjadi dengan mengendalikan agent dan faktor determinan. Pencegahan tingkat
pertama ini didasarkan pada hubungan interaksi antara pejamu (host), penyebab
(agent atau pemapar), lingkungan (environtment) dan proses kejadian penyakit.

Pejamu perbaikan status gizi, status kesehatan dan pemberian


(host) : imunisasi.
Penyebab menurunkan pengaruh serendah mungkin seperti
(agent) : dengan penggunaan desinfeksi, pasteurisasi, sterilisasi,
penyemprotan insektisida yang dapat memutus rantai
penularan.
Lingkungan perbaikan lingkungan fisik yaitu dengan perbaikan air
(environment): bersih, sanaitasi lingkungan dan perumahan.

Usaha pencegahan penyakit tingkat pertama secara garis besarnya dapat dibagi
dalam usaha peningkatan derajat kesehatan dan usaha pencegahan khusus. Usaha
peningkatan derajat kesehatan (health promotion) atau pencegahan umum yakni
meningkatkan derajat kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal,
mengurangi peranan penyebab dan derajat risiko serta meningkatkan lingkungan
yang sehat secara optimal. contohnya makan makanan bergizi seimbang,
berperilaku sehat, meningkatkan kualitas lingkungan untuk mencegah terjadinya
penyakit misalnya, menghilangkan tempat berkembang biaknya kuman penyakit,
mengurangi dan mencegah polusi udara, menghilangkan tempat berkembang
biaknya vektor penyakit misalnya genangan air yang menjadi tempat berkembang

14
biaknya nyamuk Aedesatau terhadap agent penyakit seperti misalnya dengan
memberikan antibiotic untuk membunuh kuman.
Adapun usaha pencegahan khusus (specific protection) merupakan usaha
yang ter-utama ditujukan kepada pejamu dan atau pada penyebab untuk
meningkatkan daya tahan maupun untuk mengurangi risiko terhadap penyakit
tertentu. Contohnya yaitu imunisasi atau proteksi bahan industry berbahaya dan
bising, melakukan kegiatan kumur-kumur dengan larutan Flour untuk mencegah
terjadinya karies pada gigi. Sedangkan terhadap kuman penyakit misalnya
mencuci tangan dengan larutan antiseptic sebelum operasi untuk mencegah
infeksi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan untuk mencegah penyakit
diare.
Terdapat dua macam strategi pokok dalam usaha pencegahan primer, yakni :
(1) strategi dengan sasaran populasi secara keseluruhan dan (2) strategi dengan
sasaran hanya terbatas pada kelompok risiko tinggi. Strategi pertama memiliki
sasaran lebih luas sehingga lebih bersifat radikal, memiliki potensi yang besar
pada populasi dan sangat sesuai untuk sasaran perilaku. Sedangkan pada strategi
kedua, sangat mudah diterapkan secara individual, motivasi subjek dan pelaksana
cukup tinggi serta rasio antara manfaat dan tingkat risiko cukup baik.
Pencegahan pertama dilakukan pada masa sebelum sakit yang dapat berupa :
a) Penyuluhan kesehatan yang intensif.
b) Perbaikan gizi dan penyusunan pola menu gizi yang adekuat.
c) Pembinaan dan pengawasan terhadap pertumbuhan balita khususnya anak-
anak, dan remaja pada umumnya.
d) Perbaikan perumahan sehat.
e) Kesempatan memperoleh hiburan yang sehat untuk memungkinkan
pengembangan kesehatan mental maupu sosial.
f) Nasihat perkawinan dan pendidikan seks yang bertanggung jawab.
g) Pengendalian terhadap faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi
timbulnya suatu penyakit.
h) Perlindungan terhadap bahaya dan kecelakaan kerja.

15
Pencegahan primer merupakan upaya terbaik karena dilakukan sebelum kita jatuh
sakit dan ini adalah sesuai dengan “konsep sehat” yang kini dianut dalam
kesehatan masyarakat modern.
3. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Sasaran utama pada mereka yang baru terkena penyakit atau yang terancam
akan menderita penyakit tertentu melalui diagnosis dini untuk menemukan status
patogeniknya serta pemberian pengobatan yang cepat dan tepat. Tujuan utama
pencegahan tingkat kedua ini, antara lain untuk mencegah meluasnya penyakit
menular dan untuk menghentikan proses penyakit lebih lanjut, mencegah
komplikasi hingga pembatasan cacat. Usaha pencegahan penyakit tingkat kedua
secara garis besarnya dapat dibagi dalam diagnosa dini dan pengobatan segera
(early diagnosis and promt treatment) serta pembatasan cacat.
Tujuan utama dari diagnosa dini ialah mencegah penyebaran penyakit bila
penyakit ini merupakan penyakit menular, dan tujuan utama dari pengobatan
segera adalah untuk mengobati dan menghentikan proses penyakit,
menyembuhkan orang sakit dan mencegah terjadinya komplikasi dan cacat. Cacat
yang terjadi diatasi terutama untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan
hingga mengakibatkan terjadinya kecacatan yang lebih baik lagi.
Salah satu kegiatan pencegahan tingkat kedua adalah menemukan penderita
secara aktif pada tahap dini. Kegiatan ini meliputi : (1) pemeriksaan berkala pada
kelompok populasi tertentu seperti pegawai negeri, buruh/ pekerja perusahaan
tertentu, murid sekolah dan mahasiswa serta kelompok tentara, termasuk
pemeriksaan kesehatan bagi calon mahasiswa, calon pegawai, calon tentara serta
bagi mereka yang membutuhkan surat keterangan kesehatan untuk kepentingan
tertentu ; (2) penyaringan (screening) yakni pencarian penderita secara dini untuk
penyakit yang secara klinis belum tampak gejala pada penduduk secara umum
atau pada kelompok risiko tinggi ; (3) surveilans epidemiologi yakni melakukan
pencatatan dan pelaporan sacara teratur dan terus-menerus untuk mendapatkan
keterangan tentang proses penyakit yang ada dalam masyarakat, termasuk
keterangan tentang kelompok risiko tinggi.
Selain itu, pemberian pengobatan dini pada mereka yang dijumpai
menderita atau pemberian kemoprofilaksis bagi mereka yang sedang dalam proses

16
patogenesis termasuk mereka dari kelompok risiko tinggi penyakit menular
tertentu.
4. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Pencegahan pada tingkat ketiga ini merupakan pencegahan dengan sasaran
utamanya adalah penderita penyakit tertentu, dalam usaha mencegah bertambah
beratnya penyakit atau mencegah terjadinya cacat serta program rehabilitasi.
Tujuan utamanya adalah mencegah proses penyakit lebih lanjut, seperti
pengobatan dan perawatan khusus penderita kencing manis, tekanan darah tinggi,
gangguan saraf dan lain-lain serta mencegah terjadinya cacat maupun kematian
karena penyebab tertentu, serta usaha rehabilitasi.
Rehabilitasi merupakan usaha pengembalian fungsi fisik, psikologis dan
sosial seoptimal mungkin yang meliputi rehabilitasi fisik/medis (seperti
pemasangan protese), rehabilitasi mental (psychorehabilitation) dan rehabilitasi
sosial, sehingga setiap individu dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif
dan berdaya guna.
Usaha pencegahan penyakit secara umum dikenal berbagai strategi
pelaksanaan yang tergantung pada jenis, sasaran serta tingkat pencegahan. Dalam
strategi penerapan ilmu kesehatan masyarakat dengan prinsip tingkat pencegahan
seperti tersebut di atas, sasaran kegiatan diutamakan pada peningkatan derajat
kesehatan individu dan masyarakat, perlindungan terhadap ancaman dan
gangguan kesehatan, penanganan dan pengurangan gangguan serta masalah
kesehatan, serta usaha rehabilisasi lingkungan.Tujuan pencegahan penyakit adalah
menghalangi perkembangan penyakit dan kesakitan sebelum sempat berlanjut.
Sehingga diharapkan upaya pencegahan penyakit ini mampu menyelesaikan
masalah kesehatan di masyarakat dan menghasilkan derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya.
Pencegahan penyakit adalah upaya mengarahkan sejumlah kegiatan untuk
melindungi klien dari ancaman kesehatan potensial.dengan kata lain, pencegahan
penyakit adalah upaya mengekang perkembangan penyakit, memperlambat
kemajuan penyakit, dan melindungi tubuh dari berlanjutnya pengaruh yang lebih
membahayakan. Meningkatkan kesejahteraan ibu dan mengurangi angka
kesakitan anak merupakan tugas pokok seorang bidan. Sebelumnya kita harus

17
ketahui terlebih dahulu hal hal yang menghalangi kesejahteraan ibu dan penyebab
kesakitan pada anak. Dimana penyebab kematian ibu, rendahnya kesadaran
masyarakat tentang kesehatan ibu hamil. Menjadi faktor penentu angka kematian
meskipun masih banyak faktor yang harus di perhatikan untuk menangani
masalah ini persoalan kematian yang terjadi lantaran indikasi yang lazim
muncul ,yakni pendarahan,keracunan kehamilan yang di sertai kejang kejang,
aborsi,dan infeksi.namun, ternyata masih ada faktor lain yang juga cukup
penting.misalnya pemberdayaan perempuan yang tak begitu baik, latar belakang
pendidikan, sosial ekonomi keluarga , lingkungan masyarakat dan politik,
kebijakan juga ikut berpengaruh.kaum laki laki pun di tuntut harus berupaya ikut
aktif dalam segala permasalahan bidang reproduksi secara lebih bertanggung
jawab.
Selain masalah medis , tingginya kematian ibu juga karena masalah ketidak
setaraan gender , nilai budaya, perekonomian dan serta rendahnya perhatian laki
laki terhadap ibu hamil dan melahirkan.oleh karena itu, pandangan yang
menganggap kehamilan adalah peristiwa alamiah perlu di ubah secara
sosiokultural agar perempuan dapat perhatian dari masyarakat. Sangat di perlukan
upaya peningkatan pelayanan perawatan ibu baik oleh pemerintah,swasta,maupun
masyarakat terutama suami.
Penyebab terbesar kematian ibu:
Pendarahan
Pendarahan menempati presentase tertinggi penyebab kematian ibu
(28%),anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil menjadi
penyebab utama terjadinya pendarahan dan infeksi yang merupakan factor
kematian ibu di berbagai Negara paling sedikit seperempat dari seluruh kematian
ibu di sebabkan oleh pendarahan . proporsinya berkisar antara kurang dari 10 %
sampai 60% walaupun seorang perempuan bertahan hidup setelah mengalami
pendarahan pasca persalinan ,namun dia akan menderita akibat kekurangan darah
yang berat (anemia berat) dan akan mengalami masalah kesehatan yang
berkepanjangan .
Eklamsia

18
Persentase tertinggi kedua penyebab kematian ibu adalah eklamsia
(24%),kejang bias terjadi pada pasien dengan tekanan darah tinggi , hipertensi,
yang tidak terkontrol sat persalina. Hipertensi dapat terjadi karena kehamilan,dan
akan kembali normal bila kehamilan sudah berakhir .namun ada juga yang tidak
kembali normal setelah bayi lahir kondisi ini akan menjadi lebih berat bila
hipertensi sudah di derita ibu sebelum hamil (Profil Kesehatan Indonesia ,2007).
Infeksi
Sedangkan persentase tertinggi ke tiga penyebab kematian ibu melahirkan
adalah infeksi (11%) Tiga penyebab diatas sebagai seorang bidan harus
mengatasinya , dimana merupakan suatu upaya pencegahan penyakit yang
berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak.dari itu ada beberapa program kesehatan
yang terkait dalam peningkatan status kesehatan ibu dan anak.

IBU HAMIL
Penyakit yang berpengaruh terhadap kehamilan
Jika seorang wanita mengidap penyakit bawaan atau pun penyakit tertentu
yang cukup serius, harus waspada dan berhati hati dalam menghadapi kehamilan.
Dengan perawatan dan pengobatan yang teratur,umumnya kehamilan dapat
berjalan dengan lancar.walaupun demikian , resiko munculnya sesuatu yang tidak
di inginkan dapat saja terjadi. Beberapa penyakit yang perlu mendapat perhatian
khusus jika di idap oleh wanita hamil di antara lain:
a. Penyakit jantung pada kehamilan
b. Tekanan darah tinggi (hipertensi ) pada kehamilan
c. Penyakit paru paru pada kehamilan
d. Penyakit saluran pencernaan pada kehamilan
e.Penyakit hati pada kehamilan (hepatitis A atau B )
f. Penyakit infeksi pada kehamilan (Syphilis,Gonorrhoe, HIV/AIDS)

Pemeliharaan kesehatan ibu hamil


a. Memperhatikan nutrisi gizi ibu hamil

19
Nutrisi yang yang sehat dan bergizi bagi seorang ibu hamil adalah hal pertama
yang menjadi perhatian kita. Karena pasokan gizi yang baik dan sehat akan sangat
berpengaruh kepada ibu hamil sendiri dan juga kesehatan sang janin.
b. Menjaga kebersihan lingkungan ibu hamil
c. Mengenali tanda bahaya kehamilan dan persalinan
d. Melakukan vaksinasi dalam masa kehamilan
e. Pemeriksaan kesehatan kehamilan secara rutin

20
BAB III
PENUTUP

1.5 Kesimpulan
Kesehatan adalah keadaan sehat , baik secara fisik, mental, spiritual
maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secra
sosial dan ekonomis. Individu yang sehat tidak hanya ditandai dengan tidak
adanya penyakit dan terbatas dari kelemahan, namun juga memungkinkan
individu tersebut untuk melangsungkan kehidupan secara produktif.
Penyakit (disease) dapat di defenisikan sebagai suatu kondisi adanya
penyimpangan atau gangguan dari struktur atau fungsi normal bagian, organ atau
sistem tubuh yang dimanifestasikan sebagai sejumlah karakteristik dari gejala dan
tanda, baik etiologi, patologi, dan prognisis diketahui maupun tidak diketahui.
Segitiga epidemiologi yang sering dikenal dengan istilah trias epidemiologi
merupakan konsep dasar yang memberikan gambaran tentang hubungan antara
tiga faktor utama yang berperan dalam terjadinya penyakit dan masalah kesehatan
lainnya yaitu: host, agent,dan lingkungan. selain dari tiga faktor tesebut hal yang
juga harus diperhatikan adalah riwayat penyakit.
Riwayat alamiah penyakit (natural history of disease) adalah deskripsi
tentang perjalanan waktu dan perkembangan penyakit pada individu, dimulai
sejak terjadinya paparan dengan agen kausal hingga terjadinya akibat penyakit.
Pengetahuan tentang riwayat alamiah penyakit sama pentingnya dengan kausa
penyakit untuk upaya pencegahan dan pengendalian penyakit.
Upaya pencegahan penyakit dilakukan berdasarkan perjalanan penyakit
yaitunya Pencegahan tingkat awal (Priemodial Prevention) Pencegahan tingkat
pertama (Primary Prevention) Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)
Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention).

1.6 Saran
Melalui penulisan makalah ini diharapkan dapat menjadi literatur dan
menambah pengetahuan tentang faktor-faktor yang menimbulkan penyakit
terutama untuk pembaca.

21
Daftar Pustaka

Azwar, Azrul. 1988. Pengantar Epidemiologi Edisi Pertama. Jakarta : Bina Putra
Aksara.
Budiarto, Eko dan Dewi Anggraeni. 2001. Pengantar Epidemiologi Edisi 2.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Budioro, B. 2001. Pengantar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Bustan, M. N. 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka Cipta.
Bustan, M.N. 2006. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Bustan, M.N. dan Arsunan. 2002. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Chandra, Budiman. 2006. Ilmu Kedokteran Pencegahan dan Komunitas. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Kasjono, Heru Subaris. 2008. Intisari Epidemiologi. Jogjakarta : Mitra Cendekia.
Kasjono, Heru Subaris, dkk. 2006. Manajemen Epidemiologi. Yogyakarta: Media
Pressindo.
Murti, Bhisma. 1997. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta: Gajah
Mada University Press.
Noor, Nur Nasry. 2008. Epidemiologi. Jakarta : Rineka Cipta.
Nugroho, Sri Haryanto S. 2009. Terapi Pengobatan Tumor Kanker. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
kanker.pdf Diakses pada tanggal 15 Desember 2017 pukul 11:21 WIB.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21588/4/Chapter%20II.pdf
Diakses pada tanggal 15 Desember 2017 pukul 11:45 WIB.
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
kanker.pdf Diakses pada tanggal 15 Desember 2017 pukul 12:00 WIB.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21588/4/Chapter%20II.pdf
Diakses pada tanggal 15 Desember 2017 pukul 12:16 WIB.
www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-kanker.pdf
Diakses pada tanggal 15 Desember 2017 pukul 12:45 WIB.

22
Rahayu, Wahyu. Mengenali, Mencegah dan Mengobati 35 Jenis Kanker. Victory
Inti Cipta.
Soemirat, Juli. 2010. Epidemiologi, Wabah Penyakit, Lingkungan, Sumber Daya
Alam. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Timmreck, Thomas C. 2001. Epidemiologi Suatu Pengantar.Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC

23