Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH PERBEDAAN PENYUSUNAN

ANGGARAN PERUSAHAAN JASA DENGAN


PERUSAHAN MANUFAKTUR

Dosen Pembimbing :

Drs. Endro Pramono., M.M

Di Susun Oleh :

Putri Rahmawati(18.2.3251)

FAKULTAS MANAJEMEN

STIE AKA SEMARANG TAHUN AJARAN 2018/2019


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah swt yang telah senantiasa memberikan rahmat dan nikmat yang
tiada terkira bagi kami. Sehingga dengan nikmat dan rahmatNya kami mampu untuk
menyelesaikan makalah ini .

Terimakasih juga kami sampaikan kepada bapak. yang telah memberikan tugas tersebut
sehingga kami menjadi semakin mengerti tentang Penyusunan anggaran . Khususnya pada materi
”Perbedaan Penyusunan Anggaran Perusahaan Jasa dan Perusahaan Manufaktur ”.

Sekian dari saya semoga bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi semua orang
umumnya.

Semarang, 02 Oktober 2019

Putri Rahmawati
KATA PENGANTAR…………………………………………………….

DAFTAR ISI………………………………………………………………

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………....

Latar Belakang……………………………………………….…..

Rumusan Masalah………………………………………………..

BAB II PEMBAHASAN………………………………………………...

Pengertian Perusahaan Jasa dan Perusahaan Manufaktur………

Peyusunan Anggaran Perusahaan Jasa dan Perusahaan Manufaktur

Perbedaan Peyusunan Anggaran Perusahaan Jasa dan Perusahaan Manufaktur

BAB III PENUTUP……………………………………………………….

Kesimpulan………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………...
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dalam dunia bisnis, kita akan dikenalkan pada tiga macam usaha berbeda yang tentunya
sedikit memengaruhi bentuk akuntansi dari pencatatan keuangannya. Tiga jenis usaha yang
mempengaruhi pencatatan akuntansinya tersebut adalah perusahaan dagang, perusahaan
manufaktur, dan perusahaan jasa.

Perusahaan manufaktur berbeda dengan perusahaan jasa yang membeli dan menjualnya
dalam bentuk yang sama, perusahaan manufaktur harus mengolah 2 terlebih dahulu bahan baku
atau bahan mentah yang dibelinya sebelum menjualnya kepada masyarakat, maka dari itu jenis
persediaan di dalam perusahaan manufaktur dapat dibedakan menjadi persediaan bahan baku,
persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi.

Salah satu yang melatar belakangi berdirinya perusahaan jasa dilihat dari pengertian
perusahaan yaitu suatu organisasi dimana sumber daya (input) dasar seperti bahan dan
tenaga kerja dikelola serta diproses untuk menghasilkan barang atau jasa (output) kepada
pelanggan. Jasa merupakan hal yang biasa kita dengar sehari-hari dalam berbagai kegiatan
yang dilakukan. Jasa juga dapat dikaitkan dengan sarana penunjang dari produk yang dibeli
agar tercipta kepuasan konsumen.

Juga salah satu faktor berdirinya perusahaan jasa adalah kebutuhan manusia yang
tidak terbatas selain barang yang berwujud manusia juga perlu pelayanan yang dapat
memuaskan kebutuhan hidupnya.

RUMUSAN MASALAH

1. Apa Pengertian Perusahaan Manufaktur dan Perusahaan Jasa


2. Perbedaan Penyusunan Anggaran
PEMBAHASAN

ANGGARAN PERUSAHAAN JASA

 Perusahaan Jasa adalah perusahaan yag kegiatannya menjual jasa dalam bentuk
pelayanan (service) dalam rangka memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi
konsumen

 Anggaran Perusahaan Jasa adalah anggaran yang disusun dengan rinci mengenai segala
aktivitas yang behubungan dengan penyampaian jasa dan pendukung lainnya untuk suatu
periode waktu tertentu di masa yang akan datang.

 Master Budget Perusahaan jasa merupakan kumpulan anggaran perusahaan yang disusun
secara komprehensif membentuk suatu jaringan kerja dari berbagai jenis anggaran yang
saling berhubungan.

 Penyusunan anggaran induk perusahaan jasa dimulai dari penyusunan anggaran


pendapatan jasa didasarkan atas taksiran jasa yang diberikan.

 Anggaran induk perusahaan jasa terdiri dari Operational Budget dan Financial Budget

 Struktur Master Budget Perusahaan Jasa


PERUSAHAAN JASA

Tahap pertama adalah tahap pengidentifikasian yaitu mengidentifikasi transaksi-


transaksi yang mengakibatkan perubahan posisi keuangan perusahaan. Selanjutnya tahap kedua
adalah tahap pencatatan yaitu mencatat semua bukti-bukti transaksi yang telah dianalisis ke
dalam jurnal umum. Setelah selesai, tahap berikutnya adalah tahap penggolongan yaitu
menggolongkan dan memposting pos-pos jurnal ke akun masing-masing dalam buku besar untuk
menghitung jumlah/nilai dari tiap-tiap jenis akun.

Pada akhir periode, memasuki tahap pengikhtisaran, saldo akun-akun dalam buku
besar disusun dalam suatu daftar yang disebut neraca saldo guna memeriksa keseimbangan
antara jumlah saldo debet dan saldo kredit akun-akun buku besar. Neraca saldo ini juga
mengawali penyusunan neraca lajur. Saldo-saldo akun yang desusun dalam neraca saldo tadi
masih bersifat sementara, karena belum menunjukkan saldo yang sesungguhnya. Agar saldo
menunjukkan saldo yang sesungguhnya, maka perlu penyesuaian dengan berdasar pada
informasi pada akhir periode. Dengan penyesuaian ini akan memberikan gambaran jumlah
pendapatan dan beban selama satu periode dan saldo harta dan hutang yang sesungguhnya pada
akhir periode.
Berdasarkan neraca saldo dan penyesuaian itu, diselesaikanlah neraca lajur yang merupakan
konsep untuk membantu mempermudah penyusunan laporan keuangan. Neraca lajur ini memuat
lajur: Neraca saldo, Penyesuaian, Ikhtisar Rugi Laba dan Neraca.

Lajur ikhtisar rugi laba diisi dari neraca saldo disesuaikan, khusus akun nominal atau
akun pendapatan dan beban. Setelah itu, lajur debet dan kredit dijumlahkan. Jika debet lebih
besar daripada jumlah kredit, maka selisihnya disebut saldo rugi, dan sebaliknya. Saldo rugi
bersifat mengurangi modal sedangkan saldo laba akan menambah modal. Dalam lajur neraca
diisi dari angka neraca saldo disesuaikan, khusus akun harta, utang dan modal. Apabila lajur
debet dan kredit dijumlahkan dan ditambah pindahan saldo rugi/ laba, maka jumlah debet dan
kredit kolom neraca sama. Akun pendapatan, beban dan prive merupakan akun nominal atau
sementara, sehingga harus dipindahkan kea kun modal melalui ikhtisar rugi laba ke dalam jurnal
penutup, sehingga akun yang bersifat sementara tadi akan bersaldo nol. Setelah itu, untuk
memeriksa keseimbangan jumlah saldo debet dan kredit akun-akun buku besar setelah
penutupan, maka disusunlah neraca saldo setelah penutupan yang berisi akun-akun riil saja
(harta, utang dan modal ).

Tahap akhir dari proses akuntansi adalah tahap pelaporan, yaitu menyusun laporan
keuangan yang terdiri dari laporan Rugi Laba, laporan Perubahan modal dan Laporan Neraca,
yang diambil berdasarkan neraca lajur. Pada awal periode perlu diperiksa akun-akun yang tidak
disusun secara proses akuntansi berlangsung, tetapi muncul pada saat penyesuaian. Untuk
menjaga konsistensi tekhnik pembukuan dan menghindari kemungkinan kesalahan, maka akun-
akun ini perlu dihapuskan dan menghidupkan kembali akun yang dipakai dalam proses
pencatatan. Proses ini dicatat dalam jurnal pembalik dengan cara mencatat balik penyesuaiannya.

Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa

Secara umum bentuk siklus akuntansi perusahaan jasa meliputi:

Pembuatan bukti transaksi

Adalah mengidentifikasi transaksi-transaksi yang mengakibatkan perubahan posisi


keuangan perusahaan.

Membuat jurnal/buku harian atas transaksi yang terjadi sesuai berdasarkan tanggal transaksi

Adalah semua transaksi yang terjadi kemudian memasukkannya ke dalam jurnal umum.

Pemindahbukuan dari jurnal ke buku besar (pembuatan buku besar)

Adalah penggolongan yaitu menggolongkan dan memposting pos-pos jurnal ke akun


masing-masing dalam buku besar untuk menghitung jumlah/nilai dari tiap-tiap jenis akun.
Menyusun Neraca Saldo

Saldo akun-akun dalam buku besar disusun dalam suatu daftar yang disebut neraca
saldo guna memeriksa keseimbangan antara jumlah saldo debet dan saldo kredit akun-akun buku
besar.

Pembuatan Jurnal Penyesuaian

Agar saldo menunjukkan saldo yang sesungguhnya, maka perlu penyesuaian dengan
berdasar pada informasi pada akhir periode. Dengan penyesuaian ini akan memberikan gambaran
jumlah pendapatan dan beban selama satu periode dan saldo harta dan hutang yang
sesungguhnya pada akhir periode.

Menyusun Neraca Lajur

Berdasarkan neraca saldo dan penyesuaian itu, diselesaikanlah neraca lajur yang
merupakan konsep untuk membantu mempermudah penyusunan laporan keuangan. Neraca lajur
ini memuat lajur: Neraca saldo, Penyesuaian, Ikhtisar Rugi Laba dan Neraca.Lajur ikhtisar rugi
laba diisi dari neraca saldo disesuaikan, khusus akun nominal atau akun pendapatan dan beban

Membuat jurnal penutup

Adalah jurnal yang dibuat untuk memindahkan saldo-saldo akun sementara (akun-akun nominal
dan prive).

Penutupan buku besar

Pada akhir periode, angka-angka rupiah yang terdapat pada sisi debet dan sisi kredit
semua akun buku besar dijumlahka, dan setelah jurnal penutup dibubukan maka akun-akun
nominal akan seimbang. Jumlah-jumlah sisi debet dan sisi kredit yang telah seimbang kemudian
diberi garis dobel yang menunjukkan bahwa penggunaan akun tersebut telah berakhir dan siap
digunakan kembali dalam periode berikutnya.

Neraca sisa/saldo setelah penutupan

Setelah selesai penutupan buku, diadaka pengujian untuk memeriksa kebenaran dan
keseimbangan jumlah debet dan jumlah kredit. Pengujian tersebut dilakukan dengan cara
membuat neraca saldo setelah penutupan buku, yaitu daftar yang berisi saldo-saldo akun buku
besar setelah perusahaan melakukan penutupan buku. Neraca saldo yang disusun setelah
penutupan hanya berisi akun-akun riil. Pengujian dilakukan dengan membandingkan data yang
tercantum dalam neraca saldo setelah penutupan buku dengan neraca yang disusun dari neraca
lajur, dan akun serta jumlah saldo pada neraca harus sama dengan akun dan jumlah saldo yang
tercantum dalam neraca saldo setelah penutupan.

Membuat jurnal penyesuaian kembali

Setelah laporan keuangan disusun dan jurnal penutup dicatat serta dibukukan, pada awal
tahun buku berikutnya perusahaan kadang-kadang merasa perlu untuk melakukan penyesuaian
kembali atas beberapa jurnal penyesuaian yang telah dibuatnya pada akhir tahun yang lalu yang
disebut jurnal penyesuaian kembali atau jurnal pembalikan, karena pendebetan dan
pengkreditannya merupakan kebalikan dari jurnal penyesuaian yang telah dibuat sebelumnya.
Jurnal penyesuaian kembali berisi nama akun dan jumlah rupiah yang sama dengan jurnal
penyesuaian yang bersangkutan, akan tetapi posisinya terbali

Contoh Penyusunan Anggaran Perusahaan Jasa :

Frans seorang akuntan membuka jasa konsultasi di bidang akuntansi diberi nama
FRANS KONSULTAMA memiliki informasi sampai Desember 2014 sbb :

Keterangan Jumlah (Rp.)

Pendapatan Jasa 400.000.000

Biaya tenaga kerja profesional 160.000.000

Biaya tenaga kerja pendukung 80.000.000

Biaya perlengkapan kantor 25.000.000


Biaya transportasi dan akomodasi 35.000.000

Biaya utilitas 20.000.000

Biaya sewa 22.000.000

Biaya penyusutan aktiva tetap 12.000.000

Untuk mengantisipasi kondisi tahun 2015, Frans menyusun anggaran dengan


memperkirakan hal-hal sbb :

Pendapatan jasa akan meningkat minimal sebesar 8%

Biaya tenaga kerja profesional akan meningkat sebesar 10%

Biaya tenaga kerja pendukungakan meningkat sebesar 6%

Biaya perlengkapan dan biaya utilitas akan meningkat sebesar 5%

Biaya transportasi dan akomodasi turun sebesar 6%

Biaya sewa dan biaya penyusutan tidak ada perubahan

Susunlah Anggaran Laporan L/R untuk Frans Konsultama periode 2015

Keterangan Perhitungan Jumlah (Rp.)

Pendapatan jasa = 1,08 x 400.000.000 432.000.000

Biaya tenaga kerja profesional = 1,10 x 160.000.000 176.000.000

Biaya tenaga kerja pendukung = 1,06 x 80.000.000 84.800.000


Biaya perlengkapan kantor = 1,05 x 25.000.000 26.250.000

Biaya transportasi dan akamodasi = 0,94 x 35.000.000 32.900.000

Biaya utilitas = 1,05 x 20.000.000 21.000.000

Biaya sewa 22.000.000 22.000.000

Biaya penyusutan aktiva tetap 12.000.000 12.000.000

Anggaran Perusahaan Manufaktur

Perusahaan manufaktur (manufacturing firm) adalah perusahaan yang kegiatannya


mengolah bahan baku menjadi barang jadi kemudian menjual barang jadi tersebut. Kegiatan
khusus dalam perusahaan manufaktur adalah pengolahan bahan baku menjadi barang
jadi. Kegiatan ini sering disebut proses produksi. Bidang akuntansi yang menangani masalah
produksi disebut akuntansi biaya (cost accounting). Tujuannya, menetapkan beban
pokok produksi barang jadi. Bab ini akan membahas sesuai ruang lingkup yang telah disebutkan,
yakni penetapan beban pokok produksi. Titik berat pembahasan masih diletakkan pada
pengenalan terhadap proses akuntansi dan laporan khusus untuk perusahaan manufaktur.

Perbedaan ini timbul karena perusahaan dagang langsung menjual barang yang
dibelinya,sedangkan peusahaan manufaktur harus membuat dulu barang yang akan
dijualnya.Laporan harga pokok produksi menujukkan biaya untuk menghasilkan produk yang
dihasilkan perusahaan manufaktur.Adanya perbedaan catatan dan teknik yang digunakan dalam
akuntansi untuk biaya-biaya ini,menyebabkan timbulnya perbedaan dalam karakteristik
akuntansi perusahaan manufaktur.
Kegiatan dan Masalah Khusus Perusahaan Manufaktur

Pada perusahaan dagang, persediaan barang dagang diperoleh dengan membeli barang
tersebut dari pedagang besar lainnya atau langsung membeli dari produsen.Tanpa terlebih dahulu
melakukan perubahan bentuk, barang tersebut kemudian dijual kembali. Pada perusahaan
manufaktur (manufacturing company), persediaan barang yang siap untuk dijual merupakan hasil
proses produksi dengan pemakaian sejumlah bahan baku dan penggunaan sumber daya tenaga
kerja dan kapasitas pabrik seperti mesin.

Elemen-elemen Biaya Produksi

Dalam proses produksi untuk menghasilkan suatu produk,perusahaan manufaktur


biasanya mengeluarkan berbagai macam biaya.Biaya yang beraneka ragam tersebut dapat
dikelompokan menjadi 3 golongan besar,yakni :bahan langsung,tenaga kerja langsung,dan
overhead pabrik.

Bahan Langsung

Bahan yang digunakan dan menjadi bagian dari produk jadi disebutbahan
langsung.sebagai contoh,bahan langsung dalam sebuah pabrik sepatu terdiri dari
kulit,kain,benang,paku,dan lem. Bahan langsug harus dibedakan daribahan tak langsung yang
meliputi bahan-bahan perlengkapan pabrik seperti minyak dan oli mesin,bahan bakar
dan sebagainya.bahan tak langsung digunakan dalam proses produksi,tetapi tidak menjadi bagian
dari produk jadi.oleh karena itu,biaya bahan tak langsung menjadi sukar untuk ditelusuri ke unit
barang tertentu atau proses tertentu Itulah sebabnya, dalam akuntansi untuk biyaya produksi,
biaya bahan tak langsung diperlukan sebagai overhead pabrik.

Barang-barang yag dibeli perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi


disebut bahan baku(raw material).biasanya bahan baku digunakan dalam proses produksi,seperti
halnya bahan langsung.pada saat dibeli bahan tersebut didebet ke rekening pembelian
bahan baku.akan tetapi jika bahan yang dibeli tersebut akan digunakan sebagai bahan tak
langsung,maka rekening yang digunakan adalah perlengkapan pabrik.
Tenaga kerja langsung

Tenaga kerja yang terlibat langsung dalam proses mengubah bahan menjadi produk jadi
disebut tenaga kerja langsung.tenaga kerja tak langsung digunakan dalam proses produksi tetapi
tidak bias dihubungkan atau diterapkan pada suatu produk tertentu.oleh karena itu tenaga kerja
tak langsung tidak dapat dengan mudah dihubungkan atau dibebankan pada unit atau proses
tertentu. Contoh tenaga kerja tak langsung adalah tenaga pengawas,tenaga pemeliharaan
mesin,dan tenaga pembersih.

Rekening yang digunakan untuk mencatat biaya tenaga kerja langsung dalam system
akuntansi umum disebut tenaa kerja langsung.Sedangkan biaya kerja tak langsung dicatat dalam
satu atau beberapa rekening tenaga kerja tak langsung.

Overhead Pabrik

Biaya-biaya produksi lain,selain bahan langsung dan tenaga kerja langsung


disebut overhead pabrik.Biaya-biaya ini disebut juga biaya produksi tak langsung.Contoh biaya
overhead pabrik adalah:

Contoh overhead pabrik

Tenaga kerja tak langsung Biaya listrik pabrik

Bahan tak langsung : Biaya gas pabrik

Bahan Pembersih Depresiasi mesin dan peralatan

Bahan Pelumas (oil dll) Amortisasi hak paten

Bahan bakar (solar dll) Penghapusan alat-alat kerja kecil


Reparasi gedung dan peralatan pabrik Asuransi tenaga kerja

Asuransi peralatan pabrik Pajak penghasilan tenaga kerja

Pajak bangunan pabrik Pabrik

Biaya Produksi (Production Cost) dan Biaya Periode (Period Cost)

Biaya produksi (production cost) adalah biaya yang dibebankan dalam proses produksi
selama suatu periode. Biaya ini terdiri dari persediaan barang dalam proses awal ditambah biaya
pabrikasi (manufacturing cost), kemudian dikurangi dengan persediaan barang dalam proses
akhir. Biaya pabrikasi adalah semua biaya yang berhubungan dengan proses produksi. Tiga
komponen biaya yang terdapat dalam biaya produksi adalah biaya bahan baku, biaya
tenaga kerja langsung, dan biaya overhead. Biaya overhead adalah semua biaya pabrikasi (semua
biaya yang terkait dengan proses produksi) yang bersifat tidak langsung, termasuk biaya-biaya
yang dibebankan pada persediaan dalam proses pada akhir periode. Biaya overhead ini
seringkali tidak dapat diatribusikan/dilekatkan pada masing-masing unit produk yang dikerjakan
secara spesifik. Karena biaya ini biasanya dinikmati bersama selama proses produksi
berlangsung. Dalam situasi tertentu dapat pula disebut sebagai biaya bersama (common
cost). Biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung sering pula disebut sebagai biaya
utama (prime cost), yaitu biaya yang merupakan komponen utama dari produk yang dibuat dan
dapat dengan mudah diatribusikan pada masing-masing unit produk yang dikerjakan atau dibuat.
Biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead sering pula disebut sebagai biaya konversi
(conversion cost), yaitu biaya yang dikeluarkan atau terjadi sehingga bahan baku dapat diubah
menjadi produk jadi.

Kelompok biaya lain selain biaya produksi adalah biaya periode (period cost), yaitu biaya
nonpabrikasi yang dikeluarkan atau terjadi selama periode berjalan dalam rangka operasional
perusahaan. Biaya ini dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni beban penjualan
atau pemasaran dan beban-beban administratif. Klasifikasi biaya yang berbeda-beda ini
dilakukan agar dapat mengukur kinerja atau prestasi masing-masing bagian secara lebih fair.
Kata lainnya adalah, alokasi yang tepat akan dapat meningkatkan pertanggungjawaban
masingmasing bagian. Sehingga sebuah beban, bisa jadi teralokasikan ke dalam pos-pos yang
berbeda walaupun jenisnya sama. Beban depresiasi komputer, misalnya, bisa jadi merupakan
kelompok biaya overhead, jika komputer tersebut berada di atau dipergunakan untuk kegiatan
oleh departemen produksi. Mungkin juga merupakan beban pemasaran/penjualan jika komputer
tersebut dimanfaatkan oleh bagian tersebut. Atau boleh jadi pula beban depresiasi komputer
tersebut merupakan kelompok beban adminstratif jika komputernya digunakan oleh bagian
kantor atau administrasi. Oleh karena itulah kita harus dapat mengklasifikasikan setiap beban ke
dalam kelompok biaya yang tepat karena berdasarkan laporan tersebut kinerja suatu
bagian/seseorang akan diukur.

Beban pokok produksi (Cost of Goods Manufactured)

Biaya barang yang telah diselesaikan selama suatu periode disebut beban pokok produksi barang
selesai (cost of goods manufactured) atau disingkat dengan beban pokok produksi. Harga pokok
ini terdiri dari biaya pabrik ditambah persediaan dalam proses awal periode dikurangi persediaan
dalam proses akhir periode. Beban pokok produksi selama suatu periode dilaporkan dalam
laporan harga produksi (cost of goods manufactured statement). Laporan ini merupakan
bagian dari beban pokok penjualan (cost of goods sold).

Akuntansi Perusahaan Manufaktur

Seperti telah dijelaskan, siklus akuntansi meliputi tahap pencatatan dan tahap pengikhtisaran
yang terdiri dari:

a. Tahap pencatatan

1. Pembuatan atau penerimaan bukti transaksi

2. Pencatatan dalam jurnal

3. Pemindahanbukuan ( posting ) ke buku besar

b. Tahap pengikhtisaran

4. Pembuatan neraca saldo


5. Pembuatan neraca lajur dan jurnal penyelesaian

6. Penyusunan laporan keuangan

7. Pembuatan jurnal penutup

8. Pembuatan neraca saldo penutup

9. Pembuatan jurnal balik

Bahan Baku (Raw Materials)

Pembelian bahan baku, seperti halnya perusahaan dagang, dicatat dalam buku pembelian
(untuk pembelian kredit) dan buku pengeluaran kas (untuk pembelian tunai). Pembayaran hutang
yang bersangkutan dicatat dalam buku pengeluaran kas. Di buku besar, pembelian bahan
baku dicatat dalam rekening pembelian dan rekening-rekening lain yang berhubungan, misalnya
potongan pembelian serta pembelian retur dan pengurangan harga. Pengeluaran bahan baku dari
gudang untuk produksi tidak dicatat.

Jadi, seperti dalam perusahaan dagang, perkiraan persediaan bahan baku hanya
digunakan untuk menampung ayat jurnal penyesuaian pada akhir periode. Jurnal penyesuaian
dibuat untuk nilai persediaan yang ada di awal dan akhir periode. Sementara itu, nilai
persediaan ditentukan dengan mengadakan penghitungan fisik. Jurnal penyesuaian untuk
persediaan (awal dan akhir) dilakukan terhadap rekening Ikhtisar Beban pokok produksi.

Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)

Pembayaran gaji kepada tenaga kerja langsung dicatat dalam buku pengeluaran kas.
Dalam buku perlu disediakan perkiraan tersendiri untuk biaya buruh langsung. Pada akhir
periode dibuatkan jurnal penyesuaian untuk upah yang masih belum saatnya
dibayar. Pembebanan biaya buruh langsung dilakukan dengan mambuat jurnal penutup ke
rekening Ikhtisar Beban pokok produksi.
Biaya Overhead Pabrik (Overhead)

Biaya ini terdiri dari berbagai jenis, misalnya: bahan pembantu, tenga keja tidak
langsung, gaji, listrik, telepon, perlengkapan pabrik, pemeliharaan dan perbaikan, asuransi,
penyusutan bangunan pabrik, penyusutan mesin-mesin pabrik, penyusutan kendaraan
pabrik, penyusutan peralatan pabrik dan lain-lain. Untuk tiap-tiap jenis biaya dapat dibuatkan
rekening tersendiri di buku besar. Atau, kalau ingin lebih sederhana, dalam buku besar hanya
disediakan satu rekening saja yaitu biaya overhead pabrik sebagai rekening induk
(sesungguhnya). Rincian biaya overhead pabrik ke dalam tiap-tiap jenis biaya dicatat dalam
buku tambahan. Pembelian biaya overhead pabrik, misalnya pembelian bahan pembantu, dicatat
dalam buku pembelian. Pembayarannya, dicatat dalam buku pengeluaran kas. Pembebanan biaya
overhead pabrik ke dalam produksi dilakukan dengan membuat jurnal penutup atas rekening
yang bersangkutan. Rekening lawanya adalah Ikhtisar Beban pokok produksi.

Persediaan dalam Proses ( Work in Process Inventory )

Proses produksi adalah kegiatan yang berlangsung terus menerus. Sementara itu,
akuntansi harus melaporkan informasi keuangan secara berkala. Akibatnya, pada saat laporan
keuangan harus dibuat, terdapat kemungkinan adanya sebagian barang yang belum selesai
diproses. Walaupun demikian, biaya yang telah terjadi untuk barang itu, tetap harus dilaporkan.
Inilah yang dicantumkan sebagai persediaan dalam proses. Untuk memperoleh beban pokok
produksi barang yang telah selesai, biaya pabrik ditambah dengan nilai persediaan dalam proses
di awal periode dan dikurangi dengan nilai persediaan dalam proses di akhir periode.

Pesediaan dalam proses, baik di awal maupun akhir periode diperoleh dengan jalan
melakukan penghitungan phisik. Untuk sementara, jangan diperhatikan dahulu bagaimana
menghitung nilai persediaan dalam proses. Yang perlu diketahui adalah bahwa nila ini terdiri
dari biaya bahan baku, buruh langsung dan biaya pabrikase yang telah terjadi sampai dengan saat
dilaporkan. Untuk mencatat nilai persediaan dalam proses, dibuatkan rekening yang diberi
nama: “Persediaan dalam Proses”. Pada akhir periode dibuat jurnal penyesuaian untuk
menghilangkan persediaan dalam proses awal dan membebankannya ke proses produksi.
Sementara itu, jurnal penyesuaian lain untuk menimbulkan persediaan dalam proses yang ada
pada akhir periode. Rekening lawan yang digunakan dalam jurnal penyesuaian tersebut adalah
Ikhtisar Beban pokok produksi.

Laporan Keuangan

Laporan Keuangan perusahaan manufaktur hampir sama dengan laporan keuangan perusahaan
dagang. Perbedaannya terletak pada bagian Aktiva Lancar di Neraca dan Harga Pokok Penjualan
di Laporan Rugi-Laba.

Neraca

Perbandingan Neraca Perusahaan Dagang dan Perusahaan Manufaktur:

Perusahaan Dagang Perusahaan Manufaktur

Neraca sebagian Neraca sebagian

31 Desember 2010 31 Desember 2010

Aktiva Lancar: Aktiva Lancar:

Kas Rp 1.000 Kas Rp 1.200

Piutang (bersih) 13.000 Piutang (bersih) 4.000

Persediaan Barang Dagangan 9.000 Persediaan:

Sewa Dibayar di Muka 2.900 Barang Jadi Rp 15.000

25.900 Barang Dalam Proses 18.000

Bahan Baku 9.000


Rp 42.000

Sewa Dibayar di Muka 1.600

RP 48.800

Laporan Rugi-Laba

Perbandingan bagian Harga Pokok Penjualan di Laporan Rugi-Laba antara Perusahaan


Dagang dan Perusahaan Manufaktur:

Perusahaan Dagang

Laporan Rugi-Laba sebagian

Periode Tahun 2010

Harga Pokok Penjualan:

Persediaan Barang Dagangan 1 Januari ………… Rp 10.000

(+) Pembelian Bersih …………………..………….. 99.250

Barang Tersedia Untuk Dijual …………………… Rp 109.250

(-) Persediaan Barang Dagangan 31 Desember ……. 9.000

Harga Pokok Penjualan ……………………………. Rp 100.250

Perusahaan Manufaktur

Laporan Rugi-Laba sebagian

Periode Tahun 2010

Harga Pokok Penjualan:

Persediaan Barang Jadi 1 Januari …………………. Rp 12.000


(+) Harga Pokok Produksi (lihat skedul) …………… 688.000

Barang Tersedia Untuk Dijual ………………………. Rp 700.000

(-) Persediaan Barang Jadi 31 Desember …………. 15.000

Harga Pokok Penjualan Rp 685.000

Komponen yang berbeda digambarkan secara skematis sebagai berikut:

Perusahaan Manufaktur:

Persediaan Barang Jadi (Awal) + Harga Pokok Produksi - Persediaan BarangJadi (Akhir)
= Harga PokokPenjualan

Pada perusahaan manufaktur diperlukan banyak rekening untuk menentukan harga pokok
produksi, tetapi dalam Laporan Rugi-Laba hanya disajikan totalnya saja, sedangkan rinciannya
disajikan dalam Skedul Harga Pokok Produksi.

Contoh Skedul Harga Pokok Produksi (merupakan lampiran Laporan Rugi-Laba di atas):

Skedul Harga Pokok Produksi

Tahun 2015

Persediaan Barang Dalam Proses 1 Januari ………………….. Rp 10.000

Ditambah:

Bahan Baku:

Persediaan 1 Januari ……………….. Rp


5.000
Ditambah: Pembelian ………………. 100.000

Tersedia Dipakai …………..………... Rp105.000

Dikurangi : Persediaan 31 Desember 9.000

Bahan Baku Dipakai ……………………………….. Rp 96.000

Biaya Tenaga Kerja Langsung …………………….…. 200.000

Biaya Overhead Pabrik:

Tenaga Kerja Tidak Langsung ..…… Rp 50.000

Listrik dan Air ………………………… 140.000

Bahan Habis Pakai Pabrik …………. 30.000

Penyusutan Gedung Pabrik ………... 120.000

Penyusutan Mesin …………………... 60.000

Total Biaya Overhead Pabrik ……………………… 400.000

Total Biaya Produksi tahun ini …………………………………… 696.000

Total Biaya Barang Dalam Proses ………………………………… Rp 706.000

Dikurangi:

Persediaan Barang Dalam Proses 31 Desember …………….. 18.000

Harga Pokok Produksi ……………………………………………… Rp 688.000

Harga Pokok Produksi


Biaya produksi atau Harga Pokok Produksi (Cost of Goods Manufactured) merupakan
kumpulan dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan mengolah bahan baku
sampai menjadi barang jadi.

Biaya-biaya tersebut terdiri dari:

Biaya Bahan Baku (disingkat BBB)

Biaya Tenaga Kerja Langsung ( disingkat BTKL)

Biaya Overhead Pabrik (disingkat BOP)

Biaya Bahan Baku

Biaya Bahan Baku adalah harga perolehan (harga pokok) seluruh substansi / materi
pokok yang terdapat pada barang jadi.

Bahan baku merupakan bagian Barang jadi yang dapat ditelusur keberadaannya.

Bahan baku pada sebuah pabrik dapat berasal dari Barang jadi pabrik yang lain.

Biaya Tenaga Kerja Langsung

Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang memiliki kinerja langsung terhadap
proses pengolahan barang, baik menggunakan kemampuan fisiknya maupun dengan bantuan
mesin.

Tenaga kerja langsung memperoleh kontraprestasi yang dikategorikan sebagai Biaya


tenaga kerja langsung. Jadi, Biaya Tenaga Kerja Langsung adalah semua kontraprestasi yang
diberikan kepada tenaga kerja langsung.

Biaya Overhead Pabrik


Biaya Overhead Pabrik adalah biaya-biaya yang timbul dalam proses pengolahan, yang
tidak dapat digolongkan dalam biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

Biaya-biaya yang termasuk dalam biaya overhead pabrik, a.l.:

Biaya tenaga kerja tidak langsung, seperti Upah pengawas, mandor, mekanik, bagian reparasi, dll

Biaya bahan penolong, yaitu macam-macam bahan yang digunakan dalam proses pengolahan,
tetapi kuantitasnya sangat kecil dan tidak dapat ditelusur keberadaannya pada barang jadi.

Biaya penyusutan gedung pabrik, Biaya penyusutan mesin, dll.

Siklus Akuntansi

Siklus akuntansi perusahaan manufaktur sama dengan siklus akuntansi perusahaan dagang.

Akuntansi perusahaan manufaktur dengan sistem fisik:

1. Rekening Persediaan Bahan Baku hanya digunakan untuk mencatat nilai bahan baku yang
masih tersisa, baik di awal maupun akhir periode.

2. Transaksi pembelian Bahan baku tidak dicatat ke rekening Persediaan Bahan Baku, tetapi
dicatat ke rekening Pembelian Bahan Baku, seperti terlihat pada jurnal berikut:

Mei 17 Pembelian Bahan Baku Rp 100.000

Kas / Utang Dagang Rp 100.000

3. Rekening Persediaan Barang DalamProses hanya digunakan untuk mencatat nilai barang
yang masih dalam proses, baik di awal maupun akhir periode.

4. Rekening Persediaan Barang Jadi hanya digunakan untuk mencatat nilai barang jadi pada
awal dan akhir periode.
5. Jurnal penyesuaian untuk perusahaan manufaktur sama dengan jurnal penyesuaian untuk
perusahaan dagang.

6. Neraca Lajur untuk perusahaan manufaktur pada prinsipnya sama dengan neraca lajur
untuk perusahaan dagang, tetapi ditambahkan kolom untuk skedul harga pokok produksi.

Contoh Neraca Lajur Sebagian:

Perusahaan Manufaktur

Neraca Lajur sebagian

Periode tahun 2010

Nama Rekening NSSD Harga Pokok Laporan Rugi-Laba Neraca


Poduksi

Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit

Persediaan Barang 12.000 12.000 15.000 15.000


Jadi

Persed. Barang 10.000 10.000 18.000 18.000


Dlm. Proses

Persediaan Bahan 5.000 5.000 9.000 9.000


Baku

Pembelian Bahan 100.000 100.000


Baku

Biaya Tenaga 200.000 200.000


Kerja Lgsg.

Biaya Tenaga 50.000 50.000


Kerja Tak Lgsg.

Biaya Listrik dan 140.000 140.000


Air

Biaya Bahan 30.000 30.000


Habis Pakai

Biaya Penyst. 120.000 120.000


Gedung Pabrik

Biaya Penyst. 60.000 60.000


Mesin

Biaya Pemasaran 40.000 40.000

Penjualan 1.500.000 1.500.000

………. ……….. 715.000 27.000

Harga Pokok 688.000


Produksi

715.000 715.000

2.10 Jurnal Penutup

Jurnal penutup untuk perusahaan manufaktur berbeda dengan perusahaan dagang. Dalam
perusahaan manufaktur, rekening Harga Pokok Produksi digunakan untuk menutup semua
rekening yang akan dilaporkan di Skedul Harga Pokok Produksi. Saldo rekening ini kemudian
ditransfer ke rekening Ikhtisar Rugi-Laba.

Contoh:
Des. 31 Harga Pokok Produksi Rp 715.000
Persediaan Barang Dalam Proses Rp 10.000
Persediaan Bahan Baku 5.000
Pembelian Bahan Baku 100.000
Biaya Tenaga Kerja Langsung 200.000
Biaya Tenaga Kerja Tak Langsung 50.000
Biaya Listrik dan Air 140.000
Biaya Bahan Habis Pakai 30.000
Biaya Penyusutan Gedung Pabrik 120.000
Biaya Penyusutan Mesin 60.000
(untuk menutup rekening-rekening Persediaan
Bahan Baku awal, Barang Dalam Proses awal,
dan rekening-rekening Biaya produksi)
31 Persediaan Barang Dalam Proses Rp 18.000
Persediaan Bahan Baku 9.000
Harga Pokok Produksi Rp 27.000
(untuk mencatat persediaan akhir barang dalam
proses dan bahan baku)
31 Persediaan Barang Jadi Rp 15.000
Penjualan 1.500.000
Ikhtisar Rugi-Laba Rp 1.515.000
(untuk mencatat persediaan akhir barang jadi
dan menutup rekening penjualan)
31 Ikhtisar Rugi-Laba Rp 700.000
Persediaan Barang Jadi Rp 12.000
Harga Pokok Produksi 688.000
(untuk menutup rekening persediaan awal
barang jadi dan harga pokok produksi)
31 Ikhtisar Rugi-Laba Rp 40.000
Biaya Pemasaran Rp 40.000[5]
(untuk menutup biaya pemasaran)
PERBEDAAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR dan PERUSAHAAN JASA

Produk mereka terlihat berupa hasil jasa mereka. Sehingga dalam pencatatan akuntansi
mereka hanya akan terlihat pada bagian persediaan dan pembelian saja. Dengan kata lain dapat
kita ringkas sebagai berikut.

Perusahaan Manufaktur Perusahaan Jasa

– Bahan Baku

– Persediaan dalam proses


produksi
Persediaan Tidak memiliki persediaan
– Persediaan bahan
pembantu

– Persediaan barang jadi

Langsung dimasukkan dalam peralatan atau


Pembelian Ada
perlengkapan

Ada harga pokok penjualan


Harga Tidak ada harga pokok penjualan (HPP)
(HPP)

Akuntansi
Ada akuntansi biaya Tidak ada akuntansi biaya
Biaya
Perusahaan manufaktur memperoleh produk persediaan yang dibuat dari bahan mentah
menjadi bahan setengah jadi maupun barang jadi. Bisa jadi perusahaan manufaktur mengolah
bahan baku untuk perusahaan lain. Perusahaan Jasa tidak memiliki persediaan barang dagang
untuk dipasarkan karena produk mereka bersifat tidak berwujud seperti perusahaan dagang atau
manufaktur. Produk perusahaan jasa berupa hasil kasa mereka.

Perusahaan Jasa

Perusahaan jasa (service business) merupakan perusahaan yang tidak menghasilkan


barang atau produk. Sehingga tidak memiliki persediaan barang dagang untuk dipasarkan karena
produk mereka bersifat tidak berwujud, tetapi menghasilkan output berupa jasa.
a.Tidak memerlukan pembuatan laporan harga pokok produksi.
b.Tidak memiliki persediaan barang.
c.Tujuannya memperoleh laba keuntungan yang ditetapkan.
d.Tidak menentukkan harga pokok barang.
e.Tidak menjual barang atau produk tetapi menjual dalam bentuk jasa.

Perusahaan Manufaktur
Perusahaan manufaktur sering disebut juga pabrikan. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang
kegiatannya mengubah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi maupun barang jadi.
a.Membuat laporan harga pokok produksi
b.Tujuannya menghasilkan barang jadi yang bernilai jual.
c.Memiliki persediaan bahan olahan atau bahan baku.
d.Dalam menentukkan harga pokok harus melalui beberapa tahapan.
e.Menjual barang yang diperoleh dengan cara mengolah bahan baku terlebih dahulu.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan kita selama menyusun dan mencari sumber referensi makalah
ini bahwa:

Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang memproduksi barang dari bahan baku, bahan
setengah jadi ssampai dengan barang jadi yang siap untuk di jual.

Setiap perusahaan manufaktur harus menghitung HPP (Harga Pokok Penjualan) dengan cara
BBB+BTKL+BOP.

Setiap data laporan keungan perusahaan manufaktur harus valid, akurat, dapat dipercaya dan ada
buktinya.

Sedangkan Perusahaan Jasa

a. Ketidakberwujudan (intangibility) : jasa tidak dalam bentuk fisik sehingga tidak dapat
disimpan dan harus segera dikonsumsi pada saat diperoleh.

b. Ketidakterpisahkan (inseparability) : konsumen tidak terlibat dalam jasa tersebut tetapi jasa
diberikan dalam hal tertentu seperti acara televisi.

c. Keanekaragaman (heterogeneity) : jenis dan kualitas layanan berbeda-beda.

d. Keterlenyapan (perishability) : manfaat pada jasa akan habis denga cepat sehingga
konsumsi jasa akan dilakukan konsumen secara berulang.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.tahuakuntansi.web.id/2017/09/5-perbedaan-perusahaan-jasa-dagang-dan.html

http://yosephineendahnurdiani.blogspot.com/2011/04/makalah-perusahaan-manufaktur-lanjut.html

https://www.jurnal.id/id/blog/2017-perbedaan-akuntansi-perusahaan-jasa-dagang-dan-manufaktur/

http://noviaekasari.blogspot.com/2012/11/makalah-akuntansi-pada-perusahaan.html