0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan16 halaman

Sejarah dan Raja-Raja Kerajaan Bali

Kerajaan Bali didirikan oleh Dinasti Warmadewa pada abad ke-10 Masehi. Kerajaan ini berdiri di Pulau Bali yang berada di sebelah timur Pulau Jawa. Beberapa raja terkenal Kerajaan Bali antara lain Raja Dharmodhayana Warmadewa, Marakata, dan Anak Wungsu. Sumber sejarah Kerajaan Bali berasal dari prasasti-prasasti yang ditemukan di Bali serta berita-berita dari Cina dan India.

Diunggah oleh

Rahman Maulana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan16 halaman

Sejarah dan Raja-Raja Kerajaan Bali

Kerajaan Bali didirikan oleh Dinasti Warmadewa pada abad ke-10 Masehi. Kerajaan ini berdiri di Pulau Bali yang berada di sebelah timur Pulau Jawa. Beberapa raja terkenal Kerajaan Bali antara lain Raja Dharmodhayana Warmadewa, Marakata, dan Anak Wungsu. Sumber sejarah Kerajaan Bali berasal dari prasasti-prasasti yang ditemukan di Bali serta berita-berita dari Cina dan India.

Diunggah oleh

Rahman Maulana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KERAJAAN BALI

KATA PENGANTAR

Sembah sujud penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena anugerah dan rahmat-Nya
jualah sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah
berusaha semaksimal mungkin, yang mana telah memakan waktu dan pengorbanan yang tak
ternilai dari semua pihak yang memberikan bantuannya, yang secara langsung merupakan suatu
dorongan yang positif bagi penulis ketika menghadapi hambatan-hambatan dalam menghimpun
bahan materi untuk menyusun makalah ini.
Namun penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, baik
dari segi penyajian materinya maupun dari segi bahasanya. Karena itu saran dan kritik yang
bersifat konstruktif senantiasa penulis harapkan demi untuk melengkapi dan menyempurnakan
makalah ini.

DAFTAR ISI

KATA PENGATAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah Kerajaan Bali
B. Sumber Sejarah Kerajaan Bali
C. Raja-raja kerajaan bali
D. Keadaan masyarakat
E. Masa kejayaan kerajaan bali
F. Penyebab keruntuhan kerajaan bali
G .Peninggalan kerajaan bali
BAB III KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah kerajaan Bali merupakan salah satu bagian dari sejarah kehidupan masyarakat bali secara
keseluruhan. Bagian pemerintahan kerajaan di Bali juga beberapa kali berganti mengingat pada masa itu,
terjadi banyak pertikaian antara kerajaan yang memperebutkan daerah kekuasaan mereka. Kerajaan Bali
pertama pada saat itu kemungkinan bernama Kerajaan Bedahulu dan dilanjutkan oleh kerajaan
Majapahit. Setelah Majapahit runtuh, kerajaan Gelgel mengambil alih, dan dilanjutkan oleh kerajaan
Klungkung setelahnya. Pada masa Klungkung, terjadi perpecahan yang menyebabkan kerajaan Klungkung
terbagi menjadi dela

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah Kerajaan Bali ?

2. Apa saja sumber sejarah Kerajaan Bali ?

3. Bagaimana kondisi politik Kerajaan Bali ?

4. Bagaimana kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Kerajaan Bali ?

5. Apa saja kepercayaan Kerajaan Bali ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui sejarah Kerajaan Bali

2. Untuk mengetahui sumber sejarah Kerajaan Bali

3. Untuk mengetahui kondisi politik Kerajaan Bali

4. Untuk mengetahui kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Kerajaan Bali

5. Untuk mengetahui kepercayaan Kerajaan Bali


BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Kerajaan Bali

Kerajaan Bali terletak di sebuah pulau yang tidak jauh dari daerah Jawa Timur, tepatnya di sebelah
timur Pulau Jawa, maka dalam perkembangan sejarahnya, Bali mempunyai hubungan yang sangat erat
dengan Pulau Jawa. Ketika kerajaan Majapahit runtuh, banyak dari rakyat Majapahit yang melarikan diri
kemudian menentap di Bali. Sehingga sampai saat ini masih ada kepercayaan bahwa sebagian dari
masyarakat Bali adalah pewaris tradisi Majapahit.

Kerajaan Bali adalah sebuah kerajaan yang terletak di sebuah pulau berukuran kecil yang tak jauh dari
Pulau Jawa dan berada di sebelah timur. Kerajaan ini berada di sebuah pulau kecil yang dahulu masih
dinamakan dengan Pulau Jawa sehingga bisa dikatakan pulau ini masih dianggap sebagai bagian dari Pulau
Jawa.

Kerajaan ini pada umumnya menganut kepercayaan berupa agama Hindu walau pada
perkembangannya nanti ternyata tidak hanya agama Hindu yang dominan, tapi juga kepercayaan-
kepercayaan seperti animisme dan dinamisme. Ini bisa terjadi karena kentalnya budaya nenek moyang
pada saat itu walau kerajaan ini sudah berdiri

Melalu beberapa prasasti yang ditemukan, Kerajaan Bali ini dipastikan berdiri oleh raja-raja dari Dinasti
Warmadewa.

Raja yang paling terkenal di Kerajaan Bali adalah Dharmodhayana Warmadewa yang memerintah sejak
tahun 989. Ia memimpin kerajaan bersama permaisurinya yang bernama Mahendradatha atau
Gunapriyadharmaptani sampai tahun 1001.
Sang permaisuri wafat dan diabadikan dalam sebuah candi yang terletak di Desa Berusan tepatnya ada
disebelah tenggara Bedulu. Adapun arcanya merupakan perwujudan dari Durga yang ditemukan di
daerah Kutri (Gianyar).

Sang raja Dharmodhayana Warmadewa tetap memrintah kerajaan hingga tahun 1011 Masehi. Dan
kemudian wafat serta dicandikan di Banu Wka yang sampai sekarang keberadaannya belum diketahui.

Dalam perkawinan antara Dharmodhayana dan Mahendradatha lahirlah tiga orang putra. Ketiga putra
tersebut bernama Airlangga, lalu menikah dengan seorang putri Dharmawangsa dan menjadi raja di
Pulau Jawa, Marakata, dan Anak Wungsu.

Setelah ayahnya wafat, tahta kerajaan diturunkan kepada seorang pangeran bernama Marakata yang
memiliki gelar Dharmodhyana Wangsawardhana Marakata Panjakasthana Uttunggadewa pada tahun
1011 hingga 1022.

Karena perhatiannya yang sangat besar terhadap rakyatnya, kehadiran beliau sangat dihormati di daerah
kerajaan. Bahkan berkat sikapnya yang seperti itu, beliau kerap kali dianggap sebagai penjelmaan dari
kebenaran hukum.

Sebagai bukti perhatiannya kepada rakyat kerajaan, beliau membangun sebuah tempat pertapaan
(prasada) di Gunung Kawi yang letaknya berdekatan dengan Istana Tampak Siring.

Bangunan ini memiliki ciri yang unik yaitu pahatan yang berada di batu gunung berbentuk menyerupai
candi serta bagian dasarnya terdapat gua pertapaan.

Hingga saat ini, bangunan pertapaan tersebut masih dilestarikan dengan baik dan menjadi salah satu
objek wisata di Bali yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan.

Selepas Marakata wafat, tahta kerajaan diturunkan kepada putranya yang bernama Anak Wungsu sejak
tahun 1049 hingga 1077.

Saat masa pemerinatahan Anak Wungsu, ia meninggalkan 28 buah prasasti yang merupakan prasasti
terbanyak daripada raja-raja yang sempat memerintah sebelumnya.

Anak Wungsu sendiri tidak mempunyai keturunan. Ia wafat dan kemudian didharmakan di daerah
Gunung Kawi.

Pada tahun 1430, Kerajaan Bali saat itu dipimpin oleh Raja Dalem Bedaulu, dan kemudian kerajaan
jatuh ke tangan Gajah Mada dari Majapahit.

B. Sumber Sejarah

Sumber sejarah Kerajaan Bali didapat dari beberapa berita dari Jawa dan juga prasasti-prasasti di Bali.

1. Prasasti Sanur menunjukkan adanya kekuasaan raja-raja dari Wangsa atau Dinasti Warmadewa.

2. Prasasti Calcuta, India (1042) dalam prasasti ini dikemukakan tentang asal-usul Raja Airlangga yang
merupakan keturunan raja-raja Bali, Dinasti Warmadewa. Raja Airlangga lahir dari hasil perkawinan Raja
Udayana dari Kerajaan Bali dengan Mahendradata (putri Kerajaan Medang Kamulan adik raja
Dharmawangsa)
3. Komplek Candi Gunung Kawi (Tampak Siring) merupakan makam dari raja-raja Bali. Komplek candi
tersebut dibangun pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu.

Berita yang cukup tentang Pulau Bali adalah prasasti yang berangka 881 M. Bahasa yang di pakai
adalah Bahasa Bali Kuno. Ada juga prasasti yang tertulis dalam bahasa Sanskerta. Pada abad ke- 11 sudah
ada berita dari Cina yang menjelaskan tentang tanah Po-Li ( Bali ). Berita Cina itu menyebutkan bahwa
adat istiadat penduduk di tanah Po-Lihampir sama dengan masyarakat Ho-ling(Kalingga). Penduduknya
menulis di atas daun lontar. Bila orang meninggal, mulutnya di masukan emas kemudian dibakar. Adat
semacam ini masih berlangsung di Bali. Adat itu dinamakan ''Ngaben''. Salah satu keluarga terkenal yang
memerintah Bali adalah Wangsa Warmadewa. Hal itu dapat diketahui dari Prasati Blanjong berangka 914
ditemukan di Desa Blanjong, dekat Sanur, Denpasar, Bali. Tulisannya bertulisan Nagari(India), dan
sebagian berbahasa Sanskerta. Diberitakan bahwa raja yang memerintah adalah Raja Khesari
Warmadewa. Pada tahun 915, Khesari Warmadewa digantikan Ugrasena

C.RAJA- RAJA KERAJAAN BALI

Raja yang sempat memerintah Kerjaan Bali diantaranya sebagai berikut:

1. Sri Kesari Warmadewa


2. Ugrasena
3. Tabanendra Warmadewa
4. Jayasingha Warmadewa
5. Jayashadu Warmadewa
6. Sri Wijaya Mahadewi
7. Dharma Udayana Warmadewa
8. Marakata
9. Anak Wungsu
10. Jaya Sakti
11. Bedahulu
Struktur Kerajaan Bali berdasarkan pada prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Udayana adalah
sebagai berikut :
1. Raja berperan sebagai kepala pemerintahan, jabatan raja diwariskan secara turun-temurun.
2. Badan penasihat raja disebut "pakirakiran i jro makabehan" yang beertugas memberi nasihat dan
pertimbangan kepada raja dalam pengambilan keputusan penting. Badan ini terdiri dari beberapa
senapati dan beberapa pendeta agama Hindu (dang acarya) dan Buddha (dang upadyaga).
3. Pegawai kerajaan membantu raja dalam bidang pemerintahan, penarikan pajak, dan administrasi.
Karena kurangnya sumber-sumber dan bukti dari adanya kerajaan Bali, menyebabkan sistem
dan bentuk pemerintahan raja-raja Bali kuno tidak dapat diketahui dengan jelas, namun raja-raja
yang pernah berkuasa diantaranya:
1. Raja Sri Kesari Warmadewa yang memiliki istana di Singhadwala. Buktinya terdapat pada prasasti
Sanur (913 M). Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Raja Sri Kesari Warmadewa berhasil
mengalahkan musuh-musuhnya di daerah pedalaman. Raja Sri Kesari Warmadewa adalah raja
pertama dan merupakan pendiri Dinasti Warmadewa.
2. Raja Urganesa yang memerintah daritahun 915 M-942 M. Memerintah Kerajaan Bali untuk
menggantikan Raja Sri Kesari Warmadewa. Pusat pemerintahannya terdapat di Singhadwala.
Masa pemerintahan Raja Urganesa meninggalkan 9 buah prasasti yang ditemukan di Babahan,
Sembiran, Pentogan, dan Batunhya. Dalam prasasti-prasasti itu berisi tentang pembebasan pajak
terhadap daerah-daerah tertentu dalam kekuasaannya dan menunjukkan bahwa otoritasnya
meliputi area yang cukup luas. Selain itu juga terdapat prasasti yang berisi tentang pembangunan
tempat-tempat suci. Sistem dan bentuk pemerintahan pada masa pemerintahan Raja Urganesa telah
teratur terutama tentang pemberian tugas kepada pejabat-pejabat istana.
3. Raja Tabanendra Warmadewa yang menggantikan Raja Urganesa sebagai raja Kerajaan Bali
selanjutnya. Raja Tabanendra Warmadewa memerintah bersama permaisurinya yang bernama
sang Ratu Luhur Sri Subhadrika Dharadewi. Keadaan pada masa pemerintahan Raja Tabanendra
Warmadewa tidak dapat diketahui karena kurangnya berita-berita dan sumber-sumber dari
prasasti.
4. Raja Jayasingha Warmadewa atau Raja Sri Candrabhayasingha Warmadewa. Masa
pemerintahannya tidak dapat diketahui karena tidak adanya sumber yang terkait dengannya.
5. Raja Jayasandhu Warmadewa. Masa kekuasaan dan pemerintahannya juga tidak dapat diketahui
dengan pasti.
6. Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi memerintah pada tahun 983. Kerajaan Bali pada masa ini
diperintah oleh seorang raja putri. Beberapa ahli menafsirkan bahwa dia raja putri ini adalah putri
dari Mpu Sindok (Dinasti Isyana).
7. Dharma Udayana Warmadewa memerintah setelah masa pemerintahan Sri Maharaja Sri Wijaya
Mahadewi. Masa pemerintahan Udayana 989-1022 M. Dia memerintah bersama permaisurinya
yang bernama Mahendradata (Gunapria Dharmapadni) yang merupakan putri dari Raja Jawa
Timur Makutawamsawardhana, dan karena hal tersebut, hubungan Kerajaan Bali dengan kerajaan-
kerajaan di Jawa Timur berjalan dengan baik dan pada masa ini penulisan prasasti-prasasti dengan
menggunakan huruf dan bahasa Jawa Kuno dimulai. Udayana dan Mahendradata dikaruniai tiga
orang anak lelaki, yaitu Airlangga, Dharmawangsa, dan Anak Wungsu.
8. Raja Marakata kemudian menggantikan Udayana setelah kematiannya. Namun dia hanya
memerintah sebentar hingga tahun 1025.
9. Raja Anak Wungsu adalah Raja Bali yang memerintah setelah Marakata. Dan Anak Wungsu
adalah Raja Bali yang berhasil mempersatukan seluruh wilayah Bali. Pada masa pemerintahannya,
kehidupan rakyat Bali aman dan sejahtera. Rakyat Bali pada masa itu sudah mulai bervariasi,
mereka hidup dari bercocok tanam, pande besi, tukang kayu, dan pedagang. Raja Anak Wungsu
juga memberikan perhatian besar pada masalah-masalah keagamaan dengan jalan menjamin
kesejahteraan para pertapa. Anak Wungsu menjadi raja termasyur karena pada masa
pemerintahannya, dibangun kompleks candi-candi dan gua-gua meditasi di tebing-tebing jurang
sungai Pakerisan dan situs Gunung Kawi.
10. Raja Jaya Sakti yang kemudian memerintah Bali adalah keturunan dari Airlangga yang pada masa
itu Airlangga telah menjadi penguasa Jawa Timur.
11. Raja Bedahulu adalah Raja Bali yang terakhir memerintah pada tahun 1343 M. Raja Bedahulu
juga dikenal dengan sebutan Sri Astasura Ratna Bhumi Banten. Raja Bedahulu dalam menjalankan
pemerintahannya dibantu oleh dua orang patih yaitu Kebo Iwa dan Pasunggrigis.

D.KEADAAN MASYARAKAT

Kehidupan Politik Kerajaan Bali


Pada awal tahun 989 hingga 1011, Kerajaan Bali dipimpin oleh Udayana
yang mempunyai tiga orang putra bernama Airlangga,
Marakatapangkaja, dan Anak Wungsu.

Kelak, Airlangga nantinya akan menjadi raja terbesar dari Kerajaan


Medang Kamulan di Jawa Timur.

Menurut salah satu prasasti, Udayana menjalin hubungan baik


dengan Dinasti Isyana di Jawa Timur, hal terssebut tak lain karena
permaisuri Udayana yang bernama Gunapriya Dharmapatni merupakan
keturunan Mpu Sindok.

Setelah wafat, tahta dari Udayana diteruskan oleh putranya yang


bernama Marakata.
Pda saat pemerintahan Marakata, masyarakat menganggap bahwa sang
raja merupakan sumber kebeneran hukum sebab sifatnya yang
dermawan dan juga selalu melindungi rakyatanya.

Selama pemerintahan Marakata dibangunlah sebuah tempat


peribadatan untuk masyarakat kerajaan yang berada di Gunung Kawi
(Tampaksiring).

Setelah Marakata wafat, kepemimpinan kerajaan digantikan oleh


adiknya yang bernama Anak Wungsu. Anak Wungsu adalah raja
terbesar yang berasal dari Dinasti Warmadewa.

Selama pemerintahan Anak Wungsu, beliau berhasil dalam hal


menjaga kestabilan kerajaan dengan menanggulangi berbagai gangguan,
baik dari dalam maupun luar wilayah kerajaan.

Dalam pmerintahannya, Anak Wungsu juga dibantu oleh penasihat


pusat yang dikenal dengan sebutan pakirankiran i jro makabehan.

Badan penasihat tersebut terdiri atas senapati dan pendeta Siwa serta
Buddha. Bertugas untuk memberi tafsiran serta nasihat kepada sang raja
dalam berbagai permasalahan yang muncul di kehidupan masyarakat.

Sedangkan senapati memiliki tugas dalam bidang kehakiman dan


pemerintahan, lalu pendeta bertugas untuk mengurusi masalah sosial
dan juga agama.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Bali


Kegiatan Ekonomi pada masa Kerajaan Bali mengandalkan sektor
petanian. Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena telah disebutkan
dalam beberapa prasasti yang memuat berbagai hal yang berhubungan
dengan kehidupan bercocok tanam.

Beberapa istilah seputar bercocok tanam yang digunakan yaitu sawah,


parlak (sawah kering), kebwan (kebun), gaga (ladang), dan kasuwakan
(irigasi).

Selain mengandalkan sektor pertanian, juga ditemukan kegiatan lain


dari masyarakat Kerajaan Bali, diantaranya sebagai berikut:

Pande (Pandai = Perajin)

Masyarakat dengan golongan ini memiliki kepandaian dalam hal


membuat kerajaan perhiasan dari bahan emas dan perak.

Kerajinan yang dibuat biasanya berupa peralatan rumah tangga, alat-alat


pertanian, dan juga senjata.

Undagi
Masyarakat undagi memiliki kepandaian dalam hal pahat, lukis, serta
seni bangunan.

Pedagang

Masyarakat Kerajaan Bali juga mengandalkan sektor perdagangan. Di


masa Bali Kuno, perdagangan dibagi atas pedagang laki-laki yang
disebut wanigrama serta pedagang perempuan yang disebut sebagai
wanigrami.

Saat itu, mereka mampu melakukan kegiatan berdagang hingga antar


pulau. Hal tersebut tertera dalam sebuah prasasti yang bernama Prasasti
Banwa Bharu.

Kehidupan Sosial-Budaya
Struktur kehidupan masyarakat yang berkembang dimasa Kerajaan Bali
Kuno dilandaskan pada beberapa hal sebagai berikut:

Sistem Kesenian

Kesenian yang telah berkembang di wilayah kerajaan masyarakat Bali


kuno telah dibedakan atas sistem kesenian keraton serta sistem kesenian
rakyat.

Sistem Kasta (Caturwarna)

Sama halnya dengan kebudayaan Hindu yang ada di India, awalnya


perkembangan agama Hindu di Kerajaan Bali sistem kehidupan
masyarakatnya juga terbagi atas beberapa kasta.

Namun sedikit berbeda, untuk masyarakat yang berada di luar kasta itu
disebut sebagai budak atau njaba.

Sistem Hak Waris

Pewaris dari harta benda dalam suatu keluarga dibedakan menjadi anak
laki-laki dan anak perempuan. Dalam hal ini, anak laku-laki menerima
warisan lebih banyak daripada anak perempuan.

Agama dan Kepercayaan


Seperti yang telah kita ketahui, masyarakat kerajaan bali sangat terbuka
dalam hal menerima pengaruh dari luar, namun meski begitu mereka
tetap mempertahankan tradisi kepercayaan nenek moyang mereka.

Oleh sebab itu, di Bali juga terdapat beberapa penganut seperti penganut
agama Hindu, Buddha, serta kepercayaan animisme.

E.Masa Kejayaan Kerajaan Bali

Pada masa pemerintaan Dharmodayana, Kerajaan Bali mengalami


puncak kejayaan. Pada masa pemerintahan beliau, Kerajaan Bali
mengalami puncak kejayaan dengan sitem pemerintahannya yang lebih
jelas daripada sebelumnya.

Pada masa kepemimpinan Dharmodayana, kekuatan kerajaan juga


diperkuat atas perkawinan antara Dharma Udayana dengan
Mahendradata, putri dari seorang raja Makutawangsawardhana yang
berasal dari Jawa Timur.

Hal tersebut pada akhirnya semakin memperkokoh kekuatan kedudukan


kerajaan di antara Pulau Jawa dan juga Bali.
F.Penyebab Keruntuhan Kerajaan Bali
Kerajaan Bali runtuh akibat siasat yang dilakukan oleh patih Gajah Mada
yang pada saat itu tengah menjalankan misinya untuk memperluas
wilayah ekspansinya ke nusantara.

Pada mulanya, Patih Gajah Mada mengajak raja dari Kerajaan Bali
untuk berunding mengenai penyerahan wilayah kerajaan ke tangan
majapahit. Oleh sebab itu, patih Kebo Iwa dikirim menuju Majapahit
untuk melakuakan perdamaian.

Namun sesampainya disana, Kebo Iwa dibunuh tanpan sepengetahuan


Kerajaan Bali, lalu Kerajaan Majapahit mengutus Patih Gajah Mada
untuk berpura-pura mengajak berunding bersama.

Namun naas, Kerajaan Majapahit malah membunuh raja Gajah Waktra


sehingga Kerajaan Bali pun berada di dalam kekuasaan Kerajaan
Majapahit.

G.Peninggalan Kerajaan Bali


Terdapat beberapa peninggalan dari Kerajaan Bali yang hingga sekarang
dapat kita jumpai, diantaranya sebagai berikut:

1. Prasasti Blanjong

2. Prasasti Panglapuan
3. Prasasti Gunung Panulisan

4. Prasasti-prasasti peninggalan Anak Wungsu

5. Candi Padas di Gunung Kawi


6. Pura Agung Besakih

7. Candi Mengening

8. Candi Wasan.
BAB III
KESIMPULAN

Kerajaan Bali terletak di sebuah pulau yang tidak jauh dari daerah Jawa Timur, tepatnya di
sebelah timur Pulau Jawa, maka dalam perkembangan sejarahnya, Bali mempunyai hubungan
yang sangat erat dengan Pulau Jawa. Ketika kerajaan Majapahit runtuh, banyak dari rakyat
Majapahit yang melarikan diri kemudian menentap di Bali. Sehingga sampai saat ini masih ada
kepercayaan bahwa sebagian dari masyarakat Bali adalah pewaris tradisi Majapahit.
Kerajaan Bali adalah sebuah kerajaan yang terletak di sebuah pulau berukuran kecil yang tak
jauh dari Pulau Jawa dan berada di sebelah timur. Kerajaan ini berada di sebuah pulau kecil yang
dahulu masih dinamakan dengan Pulau Jawa sehingga bisa dikatakan pulau ini masih dianggap
sebagai bagian dari Pulau Jawa.
Kerajaan ini pada umumnya menganut kepercayaan berupa agama Hindu walau pada
perkembangannya nanti ternyata tidak hanya agama Hindu yang dominan, tapi juga kepercayaan-
kepercayaan seperti animisme dan dinamisme. Ini bisa terjadi karena kentalnya budaya nenek
moyang pada saat itu walau kerajaan ini sudah berdiri

DAFTAR PUSTAKA

http://www.zonasiswa.com/2015/05/sejarah-kerajaan-bali-kehidupan-politik.html
http://www.gurupendidikan.co.id/kerajaan-bali-sejarah-raja-dan-peninggalan-beserta-
kehidupan-politiknya-secara-lengkap/
KATA PENGANTAR

Sembah sujud penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena anugerah dan rahmat-Nya
jualah sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah
berusaha semaksimal mungkin, yang mana telah memakan waktu dan pengorbanan yang tak
ternilai dari semua pihak yang memberikan bantuannya, yang secara langsung merupakan suatu
dorongan yang positif bagi penulis ketika menghadapi hambatan-hambatan dalam menghimpun
bahan materi untuk menyusun makalah ini.
Namun penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, baik
dari segi penyajian materinya maupun dari segi bahasanya. Karena itu saran dan kritik yang
bersifat konstruktif senantiasa penulis harapkan demi untuk melengkapi dan menyempurnakan
makalah ini.

Anda mungkin juga menyukai