0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
151 tayangan13 halaman

Perlakuan Pajak Sewa-Guna-Usaha

Dokumen tersebut berisi diskusi mengenai akuntansi perpajakan terkait aset tetap dan sewa guna usaha. Terdapat penjelasan mengenai perlakuan pajak untuk lessor dan lessee serta contoh soal penyusutan, revaluasi, dan penjualan aset tetap.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
151 tayangan13 halaman

Perlakuan Pajak Sewa-Guna-Usaha

Dokumen tersebut berisi diskusi mengenai akuntansi perpajakan terkait aset tetap dan sewa guna usaha. Terdapat penjelasan mengenai perlakuan pajak untuk lessor dan lessee serta contoh soal penyusutan, revaluasi, dan penjualan aset tetap.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Hiskia Roni Pasaribu

NIM : 1805111279
Kelas : PE_Koperasi 4

AKUNTANSI PERPAJAKAN (JAWABAN SOAL HAL. 149-ASET TETAP)


1. JAWABAN :
Termasuk ke dalam beda waktu, karena pengertian dari beda waktu adalah penghasilan
dan biaya yang dapat diakui saat ini sekaligus oleh akuntansi pajak, biasanya karena
perbedaan metode pengakuan. Contohnya : biaya penyusutan, biaya sewa, dan pendapatan
laba selisih kurs.

2. JAWABAN :
 Perlakuan Pajak Penghasilan pada Sewa-Guna-Usaha-Dengan-Hak-Opsi bagi lessor
a) penghasilan lessor yang dikenakan Pajak Penghasilan adalah sebagian dari
pembayaran sewa guna usaha dengan hak opsi yang berupa imbalan jasa sewa guna
usaha;
b) lessor tidak boleh menyusutkan atas barang modal yang disewa-guna-usahakan dengan
hakopsi;
c) dalam hal masa sewa-guna-usaha lebih pendek dari masa yang ditentukan yaitu
sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun untuk barang modal Golongan I, 3 (tiga) tahun untuk
barang modal Golongan II dan III, dan 7 (tujuh) tahun untuk Golongan bangunan, maka
Direktur Jenderal Pajak melakukan koreksi atas pengakuan penghasilan pihak lessor;
d) lessor dapat membentuk cadangan penghapusan piutang ragu-ragu yang dapat
dikurangkan dari penghasilan bruto, setinggi-tingginya sejumlah 2,5% (dua setengah
persen) dari rata-rata saldo awal dan saldo akhir piutang sewa-guna-usaha dengan hak
opsi.
e) kerugian yang diderita karena piutang sewa-guna-usaha yang nyata-nyata tidak dapat
ditagih lagi dibebankan pada cadangan penghapusan piutang ragu-ragu yang telah
dibentuk pada awal tahun pajak yang bersangkutan;
f) dalam hal cadangan penghapusan piutang ragu-ragu tersebut tidak atau tidak
sepenuhnya dibebani untuk menutup kerugian dimaksud maka sisanya dihitung sebagai
penghasilan, sedangkan apabila cadangan tersebut tidak mencukupi maka
kekurangannya dapat dibebankan sebagai biaya yang dikurangkan dari penghasilan
bruto.

 Perlakuan Pajak Penghasilan pada Sewa-Guna-Usaha-Dengan-Hak-Opsi bagi lessee


1) selama masa sewa-guna-usaha, lessee tidak boleh melakukan penyusutan atas barang
modal yang disewa-guna-usaha, sampai saat lessee menggunakan hak opsi untuk
membeli;
2) setelah lessee menggunakan hak opsi untuk membeli barang modal tersebut, lessee
melakukan penyusutan dan dasar penyusutannya adalah nilai sisa (residual value)
barang modal yang bersangkutan;
3) pembayaran sewa-guna-usaha yang dibayar atau terutang oleh lessee kecuali
pembebanan atas tanah, merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan
bruto lessee sepanjang transaksi sewa-guna-usaha tersebut memenuhi ketentuan
dalam Pasal 3 Keputusan ini;
4) dalam hal masa sewa-guna-usaha lebih pendek dari masa yang ditentukan dalam Pasal
3 Keputusan ini, Direktur Jenderal Pajak melakukan koreksi atas pembebanan biaya
sewa-guna-usaha.
5) Lessee tidak memotong Pajak Penghasilan Pasal 23 atas pembayaran sewa-guna-
usaha yang dibayar atau terutang berdasarkan perjanjian sewa-guna-usaha dengan hak
opsi.

 Perlakuan Pajak Penghasilan pada Sewa-Guna-Usaha-Tanpa-Hak-Opsi bagi Lessor


a) seluruh pembayaran sewa-guna-usaha tanpa hak opsi yang diterima atau diperoleh
lessor merupakan obyek Pajak Penghasilan.
b) lessor membebankan biaya penyusutan atas barang modal yang disewa-guna-
usahakan tanpa hak opsi, sesuai dengan ketentuan Pasal 11 Undang-undang Pajak
Penghasilan 1984 beserta peraturan pelaksanaannya.

 Perlakuan Pajak Penghasilan pada Sewa-Guna-Usaha-Tanpa-Hak-Opsi bagi Lessee


1) pembayaran sewa-guna-usaha tanpa hak opsi yang dibayar atau terutang oleh lessee
adalah biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.
2) lessee wajib memotong Pajak Penghasilan Pasal 23 atas pembayaran sewa-guna-
usaha tanpa hak opsi yang dibayarkan atau terutang kepada lessor.

3. JAWABAN :
Apabila perusahaan melakukan pengalihan asset tetap yang telah direvaluasi, maka
perusahaan dikenai tambahan PPh yang bersifat final, dengan tariff sebesar tariff tertinggi
PPh WP badan dalam negeri yang berlaku pada saat penilaian kembali dikurangi 10%.
Tambahan PPh bersifat final tersebut wajib dibayar lunas ke kas Negara paling lama 15
hari setelah akhir bulan terjadinya pengalihan asset tetap tersebut. Keterlambatan
pelunasan tambahan PPh yang bersifat final yang terutang, akan dikenai sanksi
administrasi berupa bunga sesuai dengan UU KUP Nomor 28 Tahun 2007 dan peraturan
pelaksanaannya.

4. JAWABAN :
Jurnal pencatatan transaksi atas revaluasi asset tetap :
Tanggal Keterangan Debit Kredit
Asset tetap Xxxx -
Akumulasi penyusutan asset tetap Xxxx -
Surplus revaluasi asset tetap - Xxxx
PPh final atas revaluasi asset tetap Xxxx -
Kas/bank - Xxxx

5. JAWABAN :
Dalam akuntansi, revaluasi asset tetap pada umumnya tidak diperkenankan. Hal ini
disebabkan karena SAK-ETAP menganut penilaian asset tetap berdasarkan biaya
perolehan atau harga pertukaran
6. JAWABAN :
Sesuai KEP-220/PJ./2002 tentang perlakuan PPh atas biaya pemakaian telepon seluler dan
kendaraan perusahaan terdapat perlakuan PPh yang memberikan batasan-batasan tertentu
atas biaya perolehan dapat dibebankan melalui penyusutan untuk asset sebagai berikut.
1) Biaya perolehan atau pembelian telepon seluler yang dimiliki dan dipergunakan
perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya, dapat
dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50% dari jumlah biaya perolehan atau
pembelian melalui penyusutan asset tetap kelompok 1, dan atas biaya berlangganan
atau pengisian ulang pulsa dan perbaikan telepon seluler tersebut dapat dibebankan
sebagai biaya rutin perusahaan sebesar 50%
2) Biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar kendaraan sedan atau yang
sejenis yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena
jabatan atau pekerjaannya, dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50%
dari jumlah biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar melalui penyusutan
asset tetap kelompok 2, dan atas biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin kendaraan
tersebut dapat dibebankan sebagai biaya rutin perusahaan sebesar 50%

7. JAWABAN:
Beban penyusutan per bulan
=12,5% x Rp 360.000.000,.00 : 12 bulan
= Rp. 3.750.000
Akumulasi penyusutan dari maret 2012- Juli 2012
=Rp 3.750.000,.00 x 4 bulan
= Rp 15.000.000
Laba atau rugi penjualan:
Biaya perolehan Rp 360.000.000
Akumulasi penyusutan Rp (15.000.000)
Nilai buku Rp 345.000.000
Harga pasar Rp 25.000.000
Laba penjualan aset Rp 120.000.000
Jurnal
Kas/Bank Rp 247.500.000
Akumulasi penyusutan kendaraan Rp 15.000
Rugi penjualan kendaraan bermotor Rp 120.000
Kendaraan Rp360.000.000
PPN 16D Rp22.500.000

8. JAWABAN:
Perhitungan koreksi Fiskal dan Laba Fiskal setelah koreksi Biaya penyusutan
Penyusutan menurut Akuntansi
240.000.000 / 10 = 24.000.000
Jurnal :
Biaya penyusutan Truk Rp.24.000.000
Akumulasi penyusutan kredit Rp.24.000.000
Perpajakan = Kelompok II/8 tahun
Penyusutan menurut Pajak
31 Desember 2006 = 9/12 x 240.000.000 x 12,5 = 22.500.000
a. Menggunakan metode garis lurus

Keterangan Akuntansi (Rp) Pajak (Rp)

Harga perolehan 240.000.000 240.000.000


Akumulasi penyusutan (24.000.000) (22.500.000)
Nilai buku 216.000.000 217.500.000
Harga pasar (56.000.000) (56.000.000)
Laba penjualan asset 160.000.000 161.500.000
b. Menggunakan metode saldo menurun

Keterangan Akuntansi (Rp) Pajak (Rp)

Harga perolehan 240.000.000 240.000.000


Akumulasi penyusutan (24.000.000) (45.000.000)
Nilai buku 216.000.000 195.000.000
Harga pasar (56.000.000) (56.000.000)
Laba penjualan asset 160.000.000 139.000.000

9/12 x 240.000.000 x 25 % = 45.000.000


a. Koreksi Fiskal penyusutan metode garis lurus yaitu Koreksi positif dimana 24.000.000
– 22.500.000 = Rp.1.500.000
Koreksi laba fiskal metode garis lurus yaitu Koreksi positif dimana 160.000.000 –
161.500.000 = Rp.1.500.000
b. Koreksi fiskal penyusutan metode saldo menurun yaitu Koreksi negatif dimana
24.000.000 – 45.000.000 = (Rp.21.000.000)
Koreksi Laba fiskal mettode saldo menurun yaitu koreksi negatif dimana dimana
160.000.000 – 139.000.000 = Rp. 21.000.000

9. JAWABAN:
Harga faktur $ 40.000
Beban Asuransi $ 8.000
Beban Angkut $ 12.000 –
CIF $ 20.000
CIF dalam rupiah $ 20.000 x 9.500 Rp.190.000.000
Bea Masuk 5% x 190.000.000 Rp. 9.500.000
Bea Masuk tambahan 20% x 190.000.000 Rp. 38.000.000
Nilai impor mobil Rp. 237.500.000

Ø Penyusutan Menurut Akuntansi


1/12 x 20% x Rp. 237.500.000 = Rp. 3.958.333,333
Ø Penyusutan Menurut Pajak
25% x Rp. 237.500.000 x 1/12 = Rp. 4.947.916.666
Jurnal Penyusutan 31 Des 2008
Ø Untuk Akuntansi
Beban Penyusutan Mobil Rp.3.958.333,333
Akumulasi Penyusutan mesin Rp.3.958.333,333
Ø Untuk Pajak
Beban Penyusutan Mobil Rp.4.947.916,666
Akumulasi Penyusutan Mesin Rp.4.947.916,666
Jurnal pembelian mobil impor 22 Des 2008
Mobil Rp.237.500.000
PPN Masukan Rp. 23.750.000
PPh 22 dibayar dimuka Rp. 17.812.500
Kas/Bank Rp.279.062.500
10. JAWABAN:

Keterangan Menurut akuntansi Menurut pajak

Harga perolehan 120.000.000 120.000.000


Akumulasi penyusutan (30.000.000) (25.000.000)
Nilai buku 90.000.000 95.000.000
Harga jual 100.000.000 100.000.000
Laba penjualan 10.000.000 5.000.000

Menurut akuntansi Rp.120.000.000/6 x 1 6/12 = Rp. 30.000.000


Menurut perpajakan Rp. 120.000.000/6 x 1 6/12 = Rp. 25.000.000.

11 . JAWABAN:
Metode penyusutan garis lurus :
= Rp80.000.000 X 12,5%X7/12= Rp 5.833.333.

Laba/rugi fiskal penjualan kendaraan

keterangan Perpajakan(Rp)

Harga perolehan 80.000.000


Akumulasi penyusutan 5.833.333
Nilai buku 74. 166.667
Harga pasar (60.000.000)
(Rugi) laba fiskal atas penjualan 14.166.667

12. JAWABAN :
 Straight line = Rp 4,000,000 x 12,5% = Rp 500,000
 Double declining balace = Rp 4,000,000 x 25% = Rp 1,000,000
13. JAWABAN:
Penyusutan Menurut Pajak
Nilai perolehan :
= Rp. 177.315.750x 25.5%x1 6/12
= Rp. 33.246.703
Menurut ketentuan perpajakan beban penyusutan tersebut diperbolehkan untuk
mengurangi penghasilan bruto.
SPT PPh badan tahun 2004:
= Rp.177.315.750-Rp33.246.703
=Rp144.069047
14. JAWABAN:
Mesin bekas:
Harga perolehan Rp. 200.000.000
Akumulasi penyusutan Rp. 60.000.000
Nilai buku Rp. 140.000.000
Harga pasar Rp. 130.000.000
Rugi Rp. 10.000.000

Mesin baru
Harga perolehan Rp. 250.000.00
Akumulasi penyusutan Rp. 60.000.0
Nilai buku Rp. 190.000.000
Harga pasar Rp. 250.000.000
Laba Rp. 60.000.000
Mesin baru ( laba yang direalisasi)
= Rp.100.000.000 xRp.60.000.000
= Rp. 26.000.000
Rp.100.000.000+Rp.130.000.000
Harga perolehan mesin baru
= Rp. 130.000.000+Rp. 100.000.000
=Rp. 230.000.000
Mesin baru ( Rp. 230.000.000+ Rp. 10.000.000)= Rp.240.000.000
Akumulasi penyusutan Rp. 60.000.000
Kas Rp. 100.000.000
Mesin lama Rp. 200.000.000

Mesin lama Rp 130.000.000-( Rp. 60.000.000-Rp. 26.000.000) =96.000.000


Mesin lama Rp. 96.000.000
Akumulasi penyusutan Rp. 60.000.000
Cash Rp.100.000.000
Mesin baru Rp.230.000.000
Laba Rp. 26.000.000

16. JAWABAN:
Harga pasar Rp 10,950,000,000
Nilai buku Rp 3,200,000,000
Selisih penilaian kembali Rp 7,750,000,000
PPh Final 10% Rp 775,500,000
17. JAWABAN:

keterangan Akuntansi Rp

Harga perolehan 30.000.000


Akuntansi penyusutan ( 7.500.000)
Nilai buku 22.500.000
Harga pasar 54.000.000
Laba atas penjualan 76.000.000

Maka laba atas penjualan adalah Rp 76.000.000.

18. JAWABAN:
Penyusutan menurut akuntansi Rp 200.000.000 –Rp 50.000.000 = Rp 30.000.000
Penyusutan menurut pajak Rp 200.000.000 X 12,5% = Rp 12.500.000
Laba Rugi penukaran asset

keterangan Akuntansi (Rp) Perpajakan (Rp)

Harga perolehan 150.000.000 200.000.000


Akumulasi penyusutan ( 30.000.000) (12. 500.000)
Nilai buku 120.000.000 187 500.000
Harga pasar 100.000.000 100.000.000
Rugi atas pertukaran aset 20.000.000 87.500.000

Harga perolehan peralatan yang baru ( akuntansi) = harga perolehan – penyusutan


=150.000.000 – 30.000.000
=Rp 120.000.000
Harga perolehan peralatan yang baru ( perpajakan) =harga perolehan –penyusutan
= 200.000.000 – 12.500.000
= Rp187.500.00

19. JAWABAN :
 Metode garis lurus = Rp 87,750,000 x 12,5% = Rp 10,968,750
 Metode saldo menurun = Rp 87,750,000 x 25% = Rp 21,937,500

20. JAWABAN:
a. Biaya penyusutan masing-masing asset menurut pajak
1) Biaya penyusutan gedung = 5% x Rp 375.000.000/12 x 10 = Rp 15.625.000
2) Biaya penyusutan mesin A = 12,5% x Rp 28.000.000/12 x 8 = Rp 2.333.333
3) Biaya penyusutan mesin B = 12,5% x Rp 60.000.000/12 x 6 = Rp 3.750.000
4) Biaya penyusutan komputer = 25% x Rp 15.000.000/12 x 5 = Rp 1.562.500
5) Biaya penyusutan peralatan = 25% x Rp 87.000.000/12 x 11 = Rp 19.937.500
6) Biaya penyusutan kendaraan sedan = 12,5% x Rp 140.500.000/12 x 7 = Rp
10.244.792
b. Koreksi fiskal atas penyusutan masing-masing aset
1) Biaya penyusutan gedung menggunakan koreksi positif
Rp 24.666.667 – Rp 15.625.000 = Rp 9.041.667
2) Biaya penyusutan mesin A menggunakan koreksi positif
Rp 4.166.666 – Rp 2.333.333 = Rp 1.833.333
3) Biaya penyusutan mesin B menggunakan koreksi positif
Rp 9.333.333 – Rp 3.750.000 = Rp 5.583.333
4) Biaya penyusutan computer menggunakan koreksi positif
Rp 4.833.333 – Rp 1.562.500 = Rp 3.270.833
5) Biaya penyusutan peralatan menggunakan koreksi positif
Rp 28.666.667 – Rp 19.937.500 = Rp 8.729.167
6) Biaya penyusutan kendaraan sedan menggunakan koreksi positif
Rp 17.000.000 – Rp 10.244.792 = Rp 6.755.208
22. JAWABAN :
Transaksi tsb termasuk pengertian Bangun Guna Serah ( BOT ) yang diatur dalam
KMK 248/KMK.04/1995 jo SE 38/PJ.4/1995 yang mengatur diantaranya : Biaya-biaya
yg dikeluarkan oleh investor untuk memdirikan bangunan merupakan nilai perolehan
investor untuk mendapatkan hak menggunakan atau hak mengusahakan bangunan tsb,
dan nilai perolehan tsb oleh investor diamortisasi dalam jumlah yg sama besarnya
setiap tahun selama masa perjanjian bangun guna serah.
Perhitungannya sbb : Rp 300 M / 15 tahun = Rp 20 M
23. JAWABAN:
Apabila masa perjanjian bangun guna serah menjadi lebih pendek dari masa yang
ditentukan maka sisa biaya pembangunan yg belum diamortisasi, amortisasi sekaligus
oleh investor pada tahun berakhirnya masa bangun guna serah yg lebih pendek tsb.
Nilai Perolehan Rp 300 Milyar
Akumulasi Amortisasi Rp 220 Milyar ( 20 Milyar X 11 Tahun )
Nilai Buku Rp 80 Milyar (diamortisasi sekaligus ditahun ke
12)

24. JAWABAN :
Apabila masa perjanjian Bangun Guna Serah diperpanjang karena adanya penambahan
bangunan, maka biaya penambahan tsb ditambahkan dengan sisa biaya yang belum
diamortisasi dan oleh investor jumlah tersebut diamortisasikan hingga berakhirnya
masa bangun guna serah yg lebih panjang tsb.
Nilai Perolehan Rp 300 Milyar
Akumulasi Amortisasi Rp 200 Milyar ( 20 Milyar X 10 Tahun )
Nilai Buku Rp 100 Milyar
Biaya Penambahan Rp 50 Milyar
Dasar Amortisasi Baru Rp 150.Milyar
Amortisasi per tahun Rp 10 Milyar (Rp 150 M / 15 tahun )

25. JAWABAN:
Pasal 10 ayat 3 UU PPh : Nilai perolehan atau pengalihan harta yg dialihkan dalam
rangka likuidasi, penggabungan,peleburan,pemekaran,pemecahan atau pengambilan
alih usaha adalah jumlah yg seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga
pasar, kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.
Karena permohonan menggunakan nilai buku ditolak Menkeu,maka harus
menggunakan Nilai Pasar.
PT Angin : Rp 250 juta – Rp 200 Jt = Rp 50 Jt
PT Puyuh : Rp 450 Jt – Rp 300 Jt = Rp 150 Jt

AKUNTANSI PERPAJAKAN (HAL. 165-ASET TAK BERWUJUD)


1. Apakah yang dimaksud dengan asset tak berwujud?
Jawab :
Asset tak berwujud (intangible asset) adalah asset nonmoneter teridentifikasi tanpa
wujud fisik. Yaitu hak-hak istimewa, atau posisi yang menguntungkan guna
menghasilkan pendapatan.

2. Sebutkan ciri-ciri utama asset tak berwujud!


Jawab :
Ciri khas tak berwujud yang paling utama adalah tingkat ketidakpastian mengenai
nilai dan manfaatnya di kemudian hari.

3. Sebutkan contoh-contoh dari asset tak berwujud!


Jawab :
1) Aktiva yang tidak berwujud yang masa manfaatnya tidak terbatas, contoh : trade
mark dan goodwill.
2) Aktiva yang tidak berwujud dengan masa manfaat yang dibatasi oleh undang-
undang, peraturan/persetujuan atau oleh sifat aktiva itu sendiri, contoh : hak patent,
hak cipta dan franchise.

4. Bagaimana penyajian asset tak berwujud dalam laporan keuangan?


Jawab :
Pada umumnya asset tetap tak berwujud dilaporkan tersendiri setelah asset tetap
berwujud. Pelaporan harus cukup jelas, bilamana perlu diberi catatan tambahan, baik
dalam laporan itu sendiri maupun dalam catatan atas laporan keuangan. Selain itu,
metode amortisasi yang digunakan dan jumlah amortisasi untuk tahun yang
bersangkutan juga disebutkan.

5. Bagaimana perlakuan perpajakan untuk asset tak berwujud yang anda ketahui?
Jawab :
Asset tak berwujud menurut perpajakan (penjelasan pasal 11A ayat (1) UU PPh
Nomor 36 Tahun 2008) harus diamortisasikan apabila harta itu mempunyai masa
manfaat lebih dari 1 tahun yang digunakan untuk mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan

6. Apakah yang dimaksud dengan goodwill? Bagaimana timbulnya goodwill tersebut?


Jawab :
Goodwill adalah hak-hak istimewa yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Timbulnya
goodwill karena adanya keistimewaan dalam lokasi, produksi, distribusi, nama, dan
pengalaman yang mmbuatnya lebih unggul dari pada perusahaan lain.

7. Jelaskan mengenai biaya pendirian dan perluasan modal juga biaya pra-operasi,
menurut akuntansi dan perpajakan!
Jawab :
 Menurut Akuntansi :
1) Biaya pendirian dan perluasan modal :
Biaya pendirian memiliki masa manfaat kurang dari 1 tahun, harus
dibebankan sekaligus pada tahun berjalan yang bersangkutan sedangkan yang
memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun, dan dapat dikapitalisasi dan
diamortisasikan sesuai dengan ketentuan masa manfaat dan tarif amortisasi
dalam UU PPh.
2) Biaya pra-operasi :
Menurut PSAK No. 6 mengenai Akuntansi dan Pelaporan bagi Perusahaan
dalam Tahap Pengembangan, dalam paragraph 5 diatur secara jelas bahwa :
“Prinsip akuntansi yang berlaku umum bagi setiap perusahaan dalam tahap
pengembangan (pra-operasi) baik dalam pengakuan pendapatan maupun
dalam menentukan apakah biaya dibukukan sebagai beban pada periode
berjalan, atau ditangguhkan pembebanannya ( dikapitalisasi) untuk
disusutkan/diamortisasi selama beberapa periode sesuai dengan pemulihan
manfaatnya di masa depan. Penangguhan pembebanan tersebut hanya terbatas
pada biaya-biaya yang memiliki manfaat di masa depan yang antara lain
meliputi beban pendirian perusahaan”. Dari paragraph tersebut, jelas bahwa
tidak semua biaya yang timbul selama perusahaan masih dalam kondisi pra-
operasi dapat ditangguhkan (dikapitalisasi). Penangguhan pembebanan hanya
diperbolehkan sebatas untuk biaya yang nyata-nyata dapat memberikan
manfaat untuk lebih dari satu periode akuntansi. Untuk biaya yang tidak
memenuhi kriteria tersebut, seperti misalnya biaya kantor dan biaya umum
harus langaung dibebankan dalam laporan laba rugi tahun berjalan.

 Menurut Perpajakan :
1) Biaya pendirian dan perluasan modal :
Dalam perpajakan biaya pendirian dan perluasan modal dapat dibebankan
sebagai biaya pada tahun pengeluaran atau diamortisasi berdasarkan metode
garis lurus atau metode saldo menurun dengan masa manfaat sesuai dengan
pasal 11A ayat (1) UU PPh Nomor 36 Tahun 2008.

2) Biaya pra-operasi :
Peraturan perpajakan mengatur perlakuan pencatatan fiscal atas biaya pra-
operasi. Dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan yang diubah terakhir
dengan UU No. 17 tahun 2000 Pasal 11A ayat (6) dijelaskan bahwa :
“pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial yang mempunyai
masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, dikapitalisasi dan kemudia
diamortisasi sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)”.
Kemudian, dalam bagian penjelasan diuraikan lebih jauh bahwa dalam
pengertian pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial (yang
dapat dikapitalisasi/ditangguhkan) adalah biaya-biaya yang dikeluarkan
sebelum operasi komersial, misalnya biaya studi kelayakan dan biaya
produksi percobaan, tetapi tidak termasuk biaya-biaya operasional yang
sifatnya rutin, seperti gaji pegawai, biaya rekening listrik dan telepon dan
biaya kantor lainnya. Untuk pengeluaran operasional yang rutin ini tidak
boleh dikapitalisasi tetapi dibebankan sekaligus pada tahun pengeluaran.

8. Apakah perbedaan antara biaya pendirian dengan biaya pra-operasi?


Jawab :
Biaya pendirian memiliki masa manfaat kurang dari 1 tahun, harus dibebankan
sekaligus pada tahun berjalan yang bersangkutan sedangkan Biaya pra-operasi (biaya
sebelum operasi) memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun, dan dapat
dikapitalisasi dan diamortisasikan sesuai dengan ketentuan masa manfaat dan tarif
amortisasi dalam UU PPh.

9. Apakah yang dimaksud dengan deplesi?


Jawab :
Deplesi adalah istiah yang digunakan dalam akuntansi untuk menyatakan alokasi
sistematis dan rasional perolehan sumber alam.

Anda mungkin juga menyukai