Anda di halaman 1dari 2

Terdapat beberapa macam kesehatan yang belom disepakati pembakuannya oleh para logis.

Namum secara umum kesehatan terjadi karena tidak mengikuti aturan aturan penyimpulan.
Kesalahan demikian secara garis besar terdapat dalam empat hal. :
1. Kesalahan Formal kesalahan secara formal terjadi pada bentuknya ( formanya)
sehingga menghasilkan penalaran yang tidak valid . Kesalahan ini disebabkan tidak
diikutinya aturan aturan dalam logika
2. Kesalahan logika material, kesalahan ini terjadi berkaitan dengan isinya atau fakta
fakta dari materi penalaran. Hal ini mencangkup ke dalam dua hal. Pertama,
kesalahan bukti bukti. Hal demikian terkait dengan alasan alasan yang di dukung oleh
bukti bukti empirik yang dibiktikan oleh kesimpulan. Kedua, kesalahan
ketidaksesuaian. Hal demikian bisa terjadi jika alasan alasan untuk mendukung tidak
sesuai dengan kesimpulan.
3. Kesalahan logika dalam linguistik, kesalahan linguistik dapat terjadi berkaitan
dengan sifat bahasa yang memiliki sifat ambigu:
Ambigu ini sering membawa pada masalah kesalahan kesimpulan. Kesalahan bahasa
dapat terbagi dalam :
 Kesalahan aksentuasi verbal. Hal ini terjadi karena ada suatu suku kata yang
harus di beri tekanan tidak dilakukan dan menyebabkan perubahan arti.
Misalnya “tahu” ( suatu jenis makanan yang terbuat dari kedelai) dengan “
tahu” ( mengenal atau mengetahui sesuatu)
 Kesalahan aksentuansi non verbal. Contohnya pernyataan “dengan satu juta
rupiah anda bisa kuliah “ pada kenyataannya uang sebesar itu hanyalah untuk
cicilan pertamakali apa bila seseorang ingin terdaftar sebagai mahasiswa.
Setelah itu pada semester semester berikutnya yang bersangkutan harus
membayar sejumlah uang tertentu.
 Kesalahan ekuivasi verbal, yaiti terjadinya kesesatan disebabkan ooleh bunyi
yang sama di maknai dua arti yang saling berbeda. Misalnya “menjilat” coklat
atau kembang gula dengan “ menjilat” dalam pengertian membesar-besarkan/
mengharumkan-harumkan seseorang dengan suatu maksud yang ingin dicapai.
 Kesalahan evakuasi non-verbal. Misalnya menggunakan kain/kemeja baju
yang serba putih diasumsikan sebagai orang orang yang memiliki kebersihan
secara religius. Namun pakaian serba putih bagi seorang wanita di India
dimaknai sebagai orang yang telah bercerai dari suaminya / janda.
 Kesalahan amfiboli. Kesalahan ambifoli disebut juga dengan kesalahan
gramatikal. Akibatnya dari kesalahan tersebut suatu proposisi memiliki makna
ganda atau dapat mengakibatkan penfsiran yang berbeda. Misalnya ‘Dijual
kursi bayi tanpa lengan’. Pertanyaan tersebut memiliki dua pemaknaan.
Pertama, hendak dijual sebuah kursi untuk keperluan bayi yang tidak memliki
lengan (karena cacat misalnya). Kedua, hendak dijual sebuah kursi bayi
namun pada kursi tersebut tidak memiliki lengan kursi. Pernyataan yang
seharusnya tertulis ‘Dijual kursi bayi, tanpa lengan kursi.
 Kesalahan metaforis. Kesalahan ini merupakan kesesatan yang terjadi karena
campurnya antara kiasan dengan makna yang sebenarnya. Pada proses
penalaran hal demikian mengakibatkan kesesatan. Misalnya ‘wanita cantik itu
adalah bunga mawar desa’.
4. Kesalahan logika karena emosi, Hal demikian bisa terjadi karena memasukan unsur-
unsur atau dugaan dugaan serta prasangka sehingga berepngaruh pada kesimpulan.

Menurut Lorens Bagus, sesat pikir mengakomodir enam hal yaitu: pertama,
menyatakan bahwa suatu gagasan (proposisi) adalah sesat yang berarti bahwa fakta yang
diacu oleh gagasan itu tidak ada (tidak ada dalam kenyataan). Kedua, tidak sesuai dengan
kebenaran. Ketiga, tidak mempunyai evidensi (fakta) pendukung yang baik. Keempat,
berarti salah. Kelima, basis dari dua perangkat nilai kebenaran yang menyangkal nilai
kebenaran yang ditentukan bagi suatu kenyataan. Dan yang keenam, lain dari kebenaran.
Apabila melihat pengertian pengertian sesat piker versi Lorens Bagus maka sesat piker
terjadi dengan dua hal yaitu ketika tidak terjadi kesesuaian antar pernyataan dengan
kenyataan serta ketidakkonsistenan pada penggunaan alur-alur formal dalam logika.
Karena kelogisan itu tidak hanya bersifat material tetapi juga bisa hanya sebatas logis
secara formal.
Lorens Bagus membagi kesesatan dalam tiga kategori. Pertama, kesesatan secara
logis. Kesesatan ini terjadi apabila suatu putusan tidak menyajikan secara tepat materi
yang dibicaraka. Ciri kesesatan logis ialah bahwa sesuatu disangkal (negatif) yang
seharusnya diafirmasi (positif), atau sebaliknya. Konsep-konsep itu sendiri tidak dapat
benar sekaligus tidak dapat salah. Seseorang hanya bisa berbicara tentang konsep yang
salah sejauh konsep-konsep itu diterapkan pada objek-objek sebagai akibat dari putusan
yang tidak tepat.
Secara umum kesesatan terbagi kedalam dua hal. Pertama kesesatan karena bahasa.
Kesesatan model ini timbul karena sifat bahasa yang kadang bersifat ambigu. Kedua,
kesesatan karena cara penarikan kesimpula yang salah.