Analisis Kinesiologi Pencak Silat
Analisis Kinesiologi Pencak Silat
KENISIOLOGI
AANALISIS GERAK UMUM PADA PENCAK
SILAT
NAMA KELOMPOK 7
BAGAS ARIF WIBOWO
DWI PUTRA OKTABRIYANTORO
HANIF KHOIRUL AFIFI
KATA PENGANTAR
A. LATAR BELAKANG
Kinesilogi berasal dari kata Kinesis dan logos. Kinesis adalah gerak, logos adalah ilmu.
Kinesiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari gerakan manusia yang efesien, efektif dan
aman didekati dari analisis rangka, otot dan hukum mekanika. Gerakan manusia yang efesien,
efektif dan aman merupakan gerak yang baik( teknik yang baik). Karena setiap pola gerakan
menggunakan energi ( tenaga) yang efesien dalam mencapai hasil atau sasaran yang dituju
(efektif) serta terhindar dari cedera dalam melakukan gerakan (aman). Untuk menganalisis gerak
yang efesien, efektif dan aman berkaitan dengan analisis tulang dan sendi (anatomi), sistim otot
saraf (fisiologi) dari gerakan manusia, dan asas- asas hukum mekanika yang dihubungkan
dengan gerakan manusia (mekanika). Pendekatan ketiga bidang ilmu (anatomi, fisiologi dan
mekanika) dapat memberi jawaban yang tepat bagaimana gerak yang efesien, efektif dan aman
(teknik yang baik), mangapa teknik ini terjadi, dan seberapa tingkat kejadiaannya. Seperti halnya
ilmu-ilmu lain, yang tak pernah berdiri sendiri. Kinesiologi ini untuk mempelajarinya dibutuhkan
bantuan ilmu-ilmu lain. Dengan perkataan lain, kinesiologi adalah gabungan antara ilmu
anatomi, fisiologi dan mekanika.
Dasar pengkajian atau pembicaraan yang dipakai adalah bahwa tubuh manusia dipandang
sebagai mesin yang melakukan suatu pekerjaan dalam sehari-hari. Karenanya pengetahuan
tentang mekanika harus dimengerti betul-betul.
Kinesiologi bekerja di penelitian, industri kebugaran, secara klinis , dan di lingkungan industri.
Karenanya tepatlah bila kinesiologi dinyatakan sebagai ilmu paduan dari berbagai cabang ilmu
yaitu Ilmu Urai, Ilmu Faal, Biokimia dan Mekanik.
Bertolak dari pengetahuan Ilmu Urai, khususnya tentang sistem alat gerak, maka penerapan dasar
mekanik tercermin pada bagaimana sikap tubuh, cara jalan seseorang, cara penggunaan alat-alat
rumah- tangga maupun alat-alat olah raga dan sebagainya. Walaupun pada waktu ini psycholoog.
psychiater dan psyehoanalis sangat berkenan pada penelitian aspek Psychosomatik dari
kinesiologi dan memperbincangkan tentang “mengapa” manusia bergerak, tidak jarang pula
adanya perenung yang merenungkan bahwa memang tepatlah apa yang dikatakan oleh nenek-
moyang kita yaitu bahwa manusia dapat bergerak secara teratur, berjalan secara anggun dan
mempunyai kemampuan penyesuaian dengan lingkungan; semua ini adalah karunia Tuhan
Pencipta Alam Tetapi janganlah salah sangka, sebab kinesiologi bukanlah suatu studi untuk
menikmati karunia Tuhan.
Kinesiologi terapan banyak dijumpai pada bidang kedokteran dan bidang olahraga serta
pelaksanaan penyembuhan fisik dan rehabilitas serta bidang seni tari.Kinesiology adalah ilmu
yang mempelajari gerak atau the science human movement yang diaplikasikan dan menjelaskan
tentang gerak tubuh manusia kemudian ilmu ini dapat diaplikasikan terhadap prinsip-prinsip
mekanik dalam gerak manusia yang disebut biomekanika atau biomekanik kinesiology
sedangkan aplikasi anatomi dalam gerak manusia disebut anatomi kinesiologi.
Model studi kinesiologi pada hakikatnya hampir sama dengan model pendidikan gerak dalam
orientasi nilainya, tetapi menggunakan kegiatan gerak untuk mempelajari dasar-dasar disiplin
gerak manusia (misalnya fisiologi latihan, biomekanika, dan kinesiologi). Karena itu, model ini
pun disebut juga sebagai pendidikan disiplin keilmuan olahraga.
Untuk menganalisis membutuhkan alat yang berteknologi cukup untuk mendapatkan sebuah data
yang akurat sehingga dapat memberikan data yang real atau benar. Sebuah data yang didapatkan
pada saat menganalisinya sangat penting guna dijadikan bahan koreksi atau evaluasi serta
sebagai bahan pertimbangan pembuatan program latihan untuk atlet. Analisis yang digunakan
dalam mencari data biasanya akan berhubungan dengan apa yang ingin diperoleh dan
dibutuhkan.
B. Rumusan masalah
Analisis kinesiologi ?
Alat – alat yang membantu untuk menganalisis kinesiologi ?
C. Tujuan
Mengetahuai bagaimana cara menganalisis kinesiologi.
Mengetahui alat – alat apa saja yang digunakan untuk menganalisis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakekat Pencak Silat
Pencak silat adalah cabang olahraga yang berupa hasil budaya manusia Indonesia untuk membela /
mempertahankan eksistensi (kemandirian) dan intergritas terhadap lingkungan hidup/alam sekitarnya
untuk mencapai keselarasan hidup, meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
(Sucipto, 2001:27).
Pencak di definisikan sebagai gerak dasar beladiri yang terikat pada aturan dan digunakan dalam belajar,
latihan dan pertunjukan. Silat dapat diartikan sebagai gerak beladiri yang sempurna yang bersumber
pada kerohanian yang suci murni guna keselamatan diri atau kesejahteraan bersama, serta untuk
menghindarkan manusia dari bencana/bahaya. Peranan pencak silat adalah sebagai sarana dan
prasarana untuk membentuk manusia seutuhnya yang sehat, kuat, tangkas, terampil, sabar, ksatria, dan
percaya diri.
Pencak silat mempunyai 4 aspek yang mencakup nilai-nilai luhur sebagai suatu kesatuan yang tak
terpisahkan, aspek tersebut meliputi :
b. Aspek Beladiri
- Mengembangkan pencak silat sebagai budaya bangsa Indonesia yang mencerminkan nilai luhur
- Mengembangkan pencak silat yang diarahkan pada penerapan nilai-nilai kepribadian bangsa.
- Mencegah penonjolan secara sempit nilai-nilai pencak silat yang bersifat kedaerahan.
d. Aspek olahraga
- Berlatih dan melaksanakan olahraga pencak silat sebagi bagian dari kehidupan sehari-hari.
- Meningkatkan prestasi.
Pencak silat merupakan salah satu unsur budaya peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang saat
ini sudah berkembang sampai ke manca negara. Pencak silat adalah suatu cabang olahraga kebanggaan
bangsa dan rakyat Indonesia yang lahir dan berkembang di bumi pertiwi untuk mempertahankan
eksistensi bangsa dan mencapai keselarasan hidup, serta meningkatkan iman dan taqwa kepada tuhan
Yang Maha Esa.
Pada pesta-pesta olahraga baik tingkat regional, nasional, maupun internasional, pencak silat sudah
sejajar kedudukannya dengan cabang olahraga lainnya. Hal ini telah terbukti dengan dibentuknya
Persekutuan Pencak Silat Antar Bangsa (PERSILAT) pada tanggal 1 Maret 1980. Dengan demikian pencak
silat bukan saja milik bangsa Indonesia tetapi sudah milik bangsa-bangsa lain di Dunia.
Para pendekar, dan perguruan progresif mengupayakan untuk membentuk pencak silat sebagai
olahraga. Mereka berjuang keras untuk meyakinkan bahwa pencak silat perlu dikembangkan sebagi
olahraga agar tidak musnah dimasyarakat. Alasannya, bahwa dengan berakhir masa peperangan, pencak
silat sudah kehilangan peran sebagai saran bela diri. Dalam upaya mencari peran baru, yang lebih sesuai
dengan perkembangan zaman, pencak silat sebaiknya dicoba untuk dipertandingkan.
Uji coba pertandingan pencak silat pertama diadakan antara pendekar-pendekar di Stadion Kalisari,
Semarang tahun 1957. Pertandingan ini menggembirakan, karena berjalan dengan lancar, tanpa ada
kecelakaan. Namun, uji coba di tempat lainnya tidak begitu berhasil, karena peraturan masih sangat
longgar dan kontak antara pesilat tidak dibatasi. Akibatnya banyyak terjadi cedera, bahkan sampai
mengakibatkan kematian. Selanjutnya, pencak silat hanya dijadikan acara demonstrasi di Pekan
Olahraga Nasional I (PON I) tahun 1948 sampai PON ke-VII tahun 1969. Pencak silat untuk pertama kali
tampil sebagai cabang olahraga prestasi dan dipertandingkan secara resmi yaitu pada PON VIII tahun
1973 di Jakarta.
Sejak saat itu dapat dikatakan Pencak Silat Tanding mengalami perkembangan pesat, baik teknik-teknik yang
terus diperhalus agar lebih efektif dan efisien dan tidak bersifat mencelakai, maupun dalam bidang
pembinaan dan pelatihannya. Pembinaan dan pelatihan Pencak Silat semakin disesuaikan dengan ilmu
dan prinsip-prinsip olahraga, yang secara umum menitikberatkan kepada kemampuan maksimal tubuh.
Kemampuan tersebut dibedakan menjadi beberapa spesifikasi, yaitu : strength (kekuatan), endurance
(daya tahan), speed (kecepatan), flexibelity (kelentukan), agility (kelicahan), fitness (kesegaran jasmani)
dan reaction (reaksi).
-Pengertian Kekuatan
Kekuatan adalah tenaga kontraksi otot yang dicapai dalam sekali usaha maksimal. Usaha
maksimal ini dilakukan oleh otot atau sekelompok otot untuk mengatasi suatu tahanan. Kekuatan
merupakan unsur yang sangat penting dalam aktivitas olahraga, karena kekuatan merupakan daya
penggerak, dan pencegah cedera. Selain itu kekuatan memainkan peranan penting dalam komponen-
komponen kemampuan fisik yang lain misalnya power, kelincahan dan kecepatan. Dengan demikian
kekuatan merupakan faktor utama untuk menciptakan prestasi yang optimal.
Kekuatan otot adalah kemampuan otot atau kelompok otot untuk melakukan kerja, dengan menahan
beban yang diangkatnya. Otot yang kuat akan membuat kerja otot sehari-hari secara efisien seperti,
mengangkat, menjinjing dan lain-lain serta mereka akan membuat bentuk tubuh menjadi lebih baik. Otot-
otot yang tidak terlatih karena sesuatu sebab, karena sesuatu kecelakaan misalnya, akan menjadi lemah.
Karena serabutnya mengecil (atropi), dan kalau hal ini dibiarkan dapat mengakibatkan kelumpuhan otot
(Sajoto, 1988 : 45).
Terdapat beberapa tipe kekuatan yang harus diketahui, yaitu kekuatan umum, kekuatan khusus, kekuatan
maksimum, daya tahan kekuatan, kekuatan absolut dan kekuatan relatif (Bompa, 1993). Dengan
mengetahui tipe kekuatan kita dapat melatihnya secara efektif. Misalnya, dengan mengetahui
perbandingan antara berat badan dan kekuatan, kita dapat membandingkan kekuatan setiap siswa, dan ini
merupakan petunjuk apakah siswa dapat melakukan beberapa keterampilan.
A. Kekuatan Umum adalah kekuatan sistem otot secara keseluruhan. Kekuatan ini mendasari bagi
latihan kekuatan siswa secara menyeluruh, oleh karena karenanya harus dikembangkan semaksimal
mungkin.
B. Kekuatan Khusus, merupakan kekuatan otot tertentu yang berkaitan dengan gerakan tertentu pada
cabang olahraga.
C. Kekuatan Maksimum adalah daya tinggi yang dapat ditampilkan oleh sistim saraf otot selama
kontraksi volunter (secara sadar) yang maksimal. Ini ditunjukkan oleh beban terberat yang dapat
dianggkat dalam satu kali usaha.
D. Dayatahan Kekuatan ditampilkan dalam serangkaian gerak yang bersinambung mulai dari bentuk
menggerakkan beban ringan berulang-ulang, daya tahan dikelompokkan menjadi tiga :
- Kerja sedang (intensitas sedang yang dapat berakhir sampai empat menit).
E. Kekuatan Absolut merupakan kemampuan siswa untuk melakukan usaha yang maksimal tanpa
memperhitungkan berat badannya.
F. Kekuatan Relatif adalah kekuatan yang ditunjukkan dengan perbandingan antara kekuatan absolut
(Absolut Strength) dengan berat badan (Body Weight). Dengan demikian kekuatan relatif tergantung pada
berat badan, semakin berat badan seseorang semakin besar peluangnya untuk menampilkan kekuatannya.
Kekuatan relatif sangat penting pada cabang olahraga senam dan cabang yang dibagi ke dalam kategori
berdasarkan berat badan.
Disamping unsur-unsur fisiologis yang dimiliki seseorang ada beberapa faktor yang mempengaruhi
kekuatan otot. Faktor-faktor tersebut adalah termasuk biomekanika, sistem pengungkit, ukuran otot, jenis
kelamin, dan faktor umur.
1. Faktor Biomekanika
Sangat dimungkinkan bahwa dari dua orang yang mempunyai jumlah tegangan tangan otot yang sama,
akan jauh berbeda dalam kemampuanya mengangkat beban.
2. Faktor Pengungkit
Meperhitungkan letak beban yang secara mekanika yang tepat dan benar. Tentang pengungkit
diklasifikasikan dalam tiga kelas, yaitu dibagi menurut letak sumbu pengungkit, gaya beban, dan gaya
gerak mengangkat.
Klasifikasi ketiga : letak gaya berada diantara sumbu dengan gaya beban.
Klasifikasi pertama : letak sumbu berada diantara gaya beban dengan gaya angkat.
3. Faktor Ukuran
Walaupun wanita yang mengikuti program latihan beban akan kembang kekuatannya, dengan rata-rata
perkembangannya sama dengan rata-rata perkembangan pria. Dan walaupun diketahui pula bahwa,
kekuatan otot laki-laki dan wanita centimeter perseginya sama besar. Kenyataanya menunjukkan bahwa
pada akhir masa puber, anak laki-laki mulai memiliki otot lebih besar dibanding wanita. Maka latihan-
latihan kekuatan akan memberi keuntungan lebih baik bagi anak laki-laki dibanding bagi wanita.
Penelitian oleh Westcott (1974, 1976, 1979), menunjukkan bukti tersebut.
4. Faktor Usia
Unsur kekuatan laki-laki dan wanita diperoleh melalui proses kematangan atau kedewasaan. Apabila
mereka tidak berlatih dengan beban, maka pada umur 25 tahun, kekuatan mereka akan mengalami
kemunduran. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa baik laki-laki maupun wanita sama-sama
kekuatannya, bila mereka mengikuti latihan beban atau weig-training.
Program latihan peningkatan kekuatan otot yang paling efektif adalah, program latihan dengan
memakai beban atau “Weiight Training Program” (J.P. O’Shea, 1976: Philip J. Rasch 1882: Wayne L.
Westrn 1983: E.L Fok, 1984).
O’Shea menyatakan bahwa latihan berbeban mempunyai dua fisiologi yang dapat mengembangkan
kekuatan secara maxsimum. Terutama bahwa semua program latihan harus berdasarkan “SAID”, yaitu
(Specific Adaptation to Imposed Demands). Prinsip tersebut menyatakan bahwa latihan hendaknya
bersifat khusus, sesuai sasaran yang memenuhi syarat untuk tujuan itu. Sedangkan bila untuk tujuan
endurance, maka program latihan harus memenuhi syarat untuk tujuan tersebut pula. Dengan berprinsip
kepada SAID tersebut, diharapkan pengaruh latihan dapat dirasakan secara maximum. Oleh karena besar
beban latihan yang diberikan harus dapat diterima oleh tubuh dalam berlatih.
Kedua, bahwa latihan haruslah diberikan dengan prinsip overlap. Prinsip ini akan menjamin agar sistem
didalam tubuh yang menjalani latihan, mendapat tekanan beban yang besarnya makin meningkat,
diberikan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu. Apabila tidak diberikan secara bertahap, maka
komponen kekuatan tidak akan dapat mencapai tahap potensi sesuai fungsi kekuatan secara maksimal.
Terdapat masalah latihan beban atau weig-training, Edwar Fox, 1984, yang sekarang mendapat serta
teorinya masih dianggap cukup baik. Menyatakan bahwa program latihan beban hendak dapat
berpedoman pada empat prinsip yang cukup mendasar, yaitu :
Dengan prinsip overload, maka otot akan berimbang secara efektif. Penggunaan beban secara overload
dapat merangsang penyesuaian fisiologis dalam tubuh, yang mendorong meningkatnya kekuatan otot.
Otot yang menerima beban latihan atau overload kekuatan akan bertambah. Dan apabila kekuatan
bertambah beban, maka program latihan berikutnya, bila tidak ada penambahan beban, tidak ada lagi
penambahan kekuatan. Penambahan beban ini dilakukan sedikit demi sedikit dan pada saat suatu set dan
dalam jumah repetisi tertentu, otot umum merasakan lelah. Prinsip penambahan demikian, dinamakan
prinsip penerapan penambahan beban secara progresif.
Latihan beban hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga kelompok otot besar mendapat giliran latihan
lebih dulu, sebelum latihan kelompok otot kecil. Hal ini perlu agar kelompok otot besar mendapat giliran
latihan. Pengaturan latihan hendaknya diperganti sedemikian rupa, hingga tidak terjadi dua bagian otot
dalam tubuh yang sama, mendapatkan giliran latihan secara berurutan.
Kekhususan dalam prinsip ini merupakan kekhususan pada otot yang dilatih, kekhususan terhadap pola
gerak yang diharapkan, kekhususan sistem energi (predominant energy system), kekhususan terhadap
sudut jenis kontraksi, kekhususan terhadap sudut sendi (joint angle).
Fungsi otot adalah untuk berkontraksi dan menggerakkan anggota-anggota tubuh. Berdasarkan kontraksi
otot yang sedang berkerja maka latihan tahanan dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori, yaitu :
a) Kontraksi Isotonis
Kontraksi isotonis adalah kontraksi otot yang menunjukkan terjadinya perubahan panjang dan pendek
otot. Kontraksi isotonis disebut juga kontraksi konsentris atau dinamis (dinamic countraction).
b) Kontraksi Isometris
Kontraksi isometris tidak tanpak perubahan panjang atau pendeknya otot dan tidak terlihat adanya
gerakan. Salah satu dari kontraksi isometris adalah kontraksi statis.
c) Kontraksi Eksentrik
Kontraksi eksentrik biasanya terjadi pemendekan atau panjang otot tetap. Akan tetapi, adakalanya ada
perpanjangan otot pada waktu kontraksi.
d) Kontraksi Isokinetik
Kontraksi isokinetik adalah kontaksi yang timbul pada otot saat menjadi pendek dengan kecepatan
(kinetik) yang sama (iso).
-Pengertian Power
Power atau daya ledak otot disebut juga sebagai kekuatan eksplosif (Pyke dan Watson, 1978). Power
menyangkut kekuatan dan kecepatan kontraksi otot yang dinamis dan eksplosif serta melibatkan
pengeluaran kekuatan otot yang maksimal dalam waktu yang secepat-cepatnya. Bahkan yang
dikemukakan oleh Hatfield (1989) yaitu : power merupakan hasil perkalian antara gaya (force) dan jarak
(distance) dibagi dengan waktu (time) atau dapat juga power dinyatakan sebagai kerja bagi waktu
(Kirkendall, 1987).
-Pengertian Kecepatan
Kecepatan adalah kemampuan bergerak dengan kemungkinan kecepatan tercepat. Ditinjau dari sistem
gerak, kecepatan adalah kemampuan dasar mobilitas sistem saraf pusat dan perangkat otot untuk
menampilkan gerakan-gerakan pada kecepatan tertentu. Dari sudut pandang mekanika, kecepatan
diekspresikan sebagai rasio antara jarak dan waktu (Bompa: 1990). Kecepatan merupakan gabungan dari
tiga elemen, yakni waktu reaksi, frekuensi gerakan per unit waktu, kecepatan menempuh suatu jarak.
Kecepatan adalah salah satu kemampuan biomotorik yang penting untuk melakukan aktivitas olahraga
(Bompa: 1990). Menurut Jonath et. Al. (1997) Di dalam gerakan dasar manusia, massa adalah tubuh atau
salah satu anggota tubuh dan tenaga merupakan kekuatan otot yang digunakan seseorang menurut massa
yang digerakkan.
Ozolin dalam Bompa (1990), kecepatan dibedakan menjadi dua macam, yakni kecepatan umum dan
kecepatan khusus.
1. Kecepatan Umum
Kecepatan umum adalah kapasitas untuk melakukan berbagai macam gerakan (reaksi motorik) dengan
cara cepat.
2. Kecepatan Khusus
Kecepatan khusus adalah kapasitas untuk melakukan suatu latihan atau keterampilan pada kecepatan
tertentu, biasanya sangat tinggi. Kecepatan khusus adalah khusus untuk tiap cabang olahraga dan
sebagian besar tidak dapat ditransferkan, dan hanya mungkin dikembangkan melalui metode khusus.
Berdasarkan struktur gerak, kecepatan gerak dibedakan menjadi kecepatan asiklis, siklis, dan kecepatan
dasar.
a. Kecepatan Asiklis
Kecepatan asiklis adalah kecepatan gerak yang dibatasi oleh faktor-faktor yang terletak pada otot, yakni :
kekuatan statis, kecepatan kontraksi otot, kerja otot-otot antagonis, panjang pengungkit, dan massa yang
digerakkan.
b. Kecepatan Siklis
Kecepatan sikis adalah produk yang dihitung dari frekuensi dan amplitudo gerak.
c. Kecepatan Dasar
Kecepatan dasar sebagai kecepatan maksimal yang dapat dicapai dalam gerak siklis adalah produk
maksimal yang dapat dicapai dari frekuensi dan amplitudo.
B. Gerak Dasar
Menurut Sudrajat Usli Lingling, dkk, (2008) “teknik dasar merupakan keterampilan-
keterampilan pokok yang harus dikuasai untuk dapat berprestasi tinggi”. Sedangkan Luxbacher
dalam Lingling, dkk (2008) menjelaskan bahwa “teknik dasar ialah semua gerakan yang
mendasari permainan, dan dengan modal tersebut seseorang dapat bermain dengan baik atau
berlatih secara terarah”.
Dari sekian banyak teknik pukulan yang terdapat dalam pencak silat, ternyata dalam
pelaksanaannya tidak semuanya dapat digunakan, dengan pertimbangan efisiensi dan efektivitas
serta keselamatan pesilat. Dalam pertandingan olahraga pencak silat, teknik pukulan yang sering
dipergunakan adalah pukulan depan, pukulan sangkal/bandul, pukulan samping, dan pukulan
melingkari
2. Tendangan
Tendangan merupakan teknik dan taktik serangan yang dipergunakan untuk jarak jangkau
jauh dan sedang dengan mempergunakan tungkai sebagai komponen penyerangan. Dalam
olahraga pencak silat, teknik tendangan yang masuk ke sasaran mendapat nilai 2.
Teknik-teknik tendangan yang terdapat dalam pencak silat pada prinsipnya dapat
dipergunakan untuk menyerang dalam pertandingan olahraga pencak silat. Namun, sebagaimana
halnya dengan pukulan, tidak semua teknik dalam pencak silat olahraga digunakan, berdasarkan
efisiensi pelaksanaan teknik tendangan dan efektivitas untuk memperoleh angka serta
keselamatan pesilat yang melakukan tendangan tersebut. Teknik tendangan yang digunakan pada
pertandingan pencak silat olahraga antara lain tendangan lurus, sabit, ”T”, belakang, jejag, dan
gajul.
a. Tendangan lurus (A). Tendangan depan atau lurus adalah tendangan yang dilakukan dengan
lintasan lurus ke depan. Perkenaannya pada pangkal jari-jari kaki. Variasi dalam pelaksanaan
teknik ini antara lain dengan lompatan.
b. Tendangan sabit (B). Tendangan sabit adalah tendangan yang dilakukan dengan lintasan dari
samping melengkung seperti sabit/arit. Perkenaannya pada punggung kaki. Tendangan ini dapat
dilaksanakan dalam posisi kaki berada di depan maupun di belakang dan dapat pula divariasikan
dengan lompatan.
c. Tendangan ”T” (C). Tendangan ”T” adalah tendangan yang dilakukan dengan posisi tubuh
menyamping dan lintasan tendangan lurus ke samping. Perkenaannya adalah sisi bagian tajam
telapak kaki, telapak kaki, dan tumit. Banyak variasi dalam pelaksanaan tendangan ”T” ini,
antara lain ”T” jepret, ”T” gantung, dan ”T” lompat.
d. Tendangan jejag (D). Tendangan jejag adalah tendangan yang dilaksanakan dengan posisi tubuh
tegak dan lintasan lurus ke depan, perkenaannya adalah tumit. Selintas tendangan ini mirip
dengan tendangan depan, namun terdapat perbedaan dalam pelaksanaannya. Jika tendangan
depan dilakukan dengan melecutkan tungkai ke depan (seperti gerakan menusuk), sedangkan
tendangan jejag dilakukan dengan terlebih dahulu mengangkat lutut setinggi mungkin kemudian
mendorong tungkai ke depan sasaran.
e. Tendangan belakang (E). Tendangan belakang adalah tendangan yang dilakukan dengan terlebih
dahulu memutar tubuh dan sikap tubuh membelakangi lawan, dengan perkenaan pada telapak
kaki atau tumit.
f. Tendangan gajul (F). Tendangan gajul perkenaannya pada tumit, sedangkan lintasannya adalah
dari arah atas ke bawah.
3. Tangkapan
Tangkapan merupakan teknik dan taktik serangan pada jarak jangkau dekat dan sedang
yang dilaksanakan dengan menangkap salah satu komponen tubuh lawan untuk dilanjutkan
dengan bantingan, jatuhan, dan kuncian. Dari segi teknik, tangkapan dapat dilaksanakan dari luar
dan dari dalam, yang masing-masing disebut tangkapan luar dan tangkapan dalam.
4. Jatuhan
Jatuhan adalah teknik dan taktik serangan pada jarak jangkau jauh dan sedang yang
dilaksanakan dengan menggunakan tungkai atau kaki untuk menjatuhkan lawan. Teknik jatuhan
ini dalam pencak silat lazim disebut dengan teknik sapuan. Teknik ini dapat dibedakan menjadi
lima macam, yaitu:
a. Sapuan tegak
b. Sapuan rebah
c. Besetan
d. Guntingan
e. Sabetan
5. Bantingan
Pengertian bantingan adalah teknik dan taktik serangan pada jarak jangkau dekat yang
dilakukan dengan terlebih dahulu menangkap salah satu komponen tubuh lawan untuk
selanjutnya melalui proses mendorong atau menarik, lalu dihempaskan. Dilihat dari titik tumpu
penyangganya, bantingan dapat dilaksanakan dengan sekurang kurangnya empat macam teknik,
yakni bantingan tungkai, bantingan pinggul, bantingan punggung, dan bantingan kaki.
D. Tendangan T
Tendangan T adalah sebutan lain untuk macam tendangan dengan nama gerakan tendangan
ke arah Samping. Dalam bahasa Karate tendangan ini disebut sebagai Yoko-geri. Terdapat
berbagai macam variasi tendangan samping ini. Semua varian diatas, khususnya untuk
permainan atas, awalan boleh berbeda tetapi bentuk akhirnya sama yaitu seperti huruf T. Kuda-
kuda kokoh dan tegap, salah satu kaki ke depan dan sedikit di tekuk, kaki yang di belakang lurus
dan tumit kaki belakang sejajar dengan tumit kaki depan, kedua tangan berada di depan dada
dengan keadaan siap, pada saat akan melakukan tendangan, kaki di angkat dengan rata-rata air
dengan lutut di tekuk, Pada dasarnya tendangan samping memakai tumit sebagai alat serang atau
menggunakan sisi luar telapak kaki atau ada yang menyebut sebagai pisau kaki.
E. Pelaksanaan tendangan T
Dalam melakukan tendangan “T” atau samping ada 5 tahapan yaitu; awalan, ayunan, kontak,
gerakan lajutan, akhiran.
1. Gerakan awalan. Yaitu gerakan perrpindahan berat badan ke kaki tumpuan. Hal ini berguna
untuk meningkatkan power saat terjadi kontak
2. Gerakan ayunan. Ayunan tungkai ini menentukan arah sasaran. Semakin sempit sudut ayunan
maka semakin cepat sebuah gerakan. Dan semakin besar sudut ayunan, semakin besar tenaga
yang dihasilkan. Gerakan ayunan ini harus diikuti dengan badan yang agar miring untuk
memberikan kekuatan yang maksimal serta diimbangi dengan gerakan tangan secukupnya.
3. Kontak. Kontak ini adalah pertemuan kaki bagian luar dengan sasaran. Kontak harus diikuti
dengan dorongan untuk menimbulkan efek sakit.
4. Gerakan lanjutan adalah gerakan dorongan bertujuan untuk menimbukan efek cedera pada
lawan.
5. Gerakan akhiran. Gerakan ini dilakukan untuk menarik kembali sehingga posisi tubuh menjadi
stabil.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraikan pendahuluan dan pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa
pencak silat merupakan salah olahraga beladiri di dunia yang berasal dari Indonesia. Pencak
silat memiliki perbedaan dengan beladiri lainnya karena pencak silat memiliki gerak dasar yang
banyak dan tidak dimiliki beladiri lainnya. Gerak dasar sendiri merupakan keterampilan dasar
yang dimiliki oleh seorang atlet untuk mendapatkan prestasi yang maksimal. Gerak dasar pencak
silat antara lain pukulan, tendangan, bantingan, dan lain-lain. Dari beberapa gerak dasar dalam
pencak silat, penulis menganalisa tendangan T. Tendangan T merupakan salah satu macam dari
gerak dasar tendangan. Analisis biomekanika dari tendangan T antara lain awalan, ayunan,
kontak, gerak lanjutan dan gerak akhir. Analisis digunakan untuk meningkatkan gerak yang
efektif dan efisien sehingga hasil yang diperoleh maksimal.
Saran
Dari kesimpulan diatas maka saran yang diberikan pada makalah ini adalah tentunya
meningkatkan keterampilan teknik dasar khususnya teknik dasar yang masih rendah dan
mempertahankan teknik dasar yang sudah baik dalam tendangan T. Kemudian apabila yang memiliki
gerakan dasar yang tertinggi maka gerak dasar tendangan tersebut adalah senjata ampuh bagi seorang
altet pencak silat, sudah selayaknya teknik dasar tersebut untuk dikembangkan lebih baik lagi dalam
proses latihan agar mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Selanjutnya selain pengembangan teknik
dasar dalam latihan, pengembangan unsur – unsur mental dan motivasi atlet juga harus diperhatikan
perkembangannya agar kualitas dalam mencapai prestasi puncak lebih terarahkan.
DAFTAR PUSTAKA
Lubis Johansyah. (2004). Pencak Silat Panduan Praktis. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Usli Lingling, Enteng Hermanu, dan Iman Imanudin. (2008). Bandung: Pelatihan Cabang Olahraga
Sepak Bola. Jurusan Kepelatihan Olahraga Fakultas Pendidkan Olahraga dan Kesehatan
Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.
____________. (2015). Biomekanika Olahraga Pencak Silat. Jakarta: __________. Diakses dari
www.mediabelajarblog.com pada tanggal 8 April 2016 pukul 14.12