Anda di halaman 1dari 6

UAS Hukum Perusahaan

Magister Ilmu Hukum Universitas Indonesia


Hukum Ekonomi A (sore)
Nama : Artika Purnama Sari
NPM : 1906325085

Nomor Putusan : 2414/K/Pdt/2012


Tingkat Proses : Kasasi
Tahun Register : 2012
Klasifikasi : Perdata
Sub Klasifikasi : Perbuatan Melawan Hukum
Pihak Pemohon Kasasi : 1. Paulina Martha Toding (almh)
2. John Ernest Toding
3. dr. Florida Irene Toding, MARS
Pihak Termohon Kasasi : 1. Drs. Wellem Ganna Toding
2. Eka Gesuriwaty

KASUS POSISI
Paulina Martha Toding (alm), John Ernest Toding, dr. Florida Irene Toding,
MARS (“Para Pemohon Kasasi”) adalah istri dan anak dari Abraham Toding, S.H.,
(alm) selaku pendiri PT Bank Perkreditan Rakyat Capta Sakti Sejahtera dengan Akta
Pendirian Nomor 15 tahun 1991 berkantor di Jalan Andi Djemma Bone-bone,
Masamba, Kabupaten Luwu Utara dan sebagai pemegang saham terbesar di PT BPR
Capta Sakti Sejahtera sebesar 33,3% persen saham yang ada. Drs. Wellem Ganna
Toding merupakan Komisaris Utama PT BPR Capta Sakti Sejahtera dan Eka
Gesuriwaty merupakan Direktur Utama PT BPR Capta Sakti Sejahtera yanh dalam
hal ini sebagai “Para Termohon Kasasi”. Pimpinan/Kepala Cabang Bank Indonesia
Makassar, Ny. Pudji Redjeki Irawati S.H., dan Wahyuni Inti Hastuti, S.H., dalam hal
ini sebagai Para Turut Termohon yang dahulunya Tutu Tergugat I, II, dan Turut
Terbanding I, II, III.

1
Para Pemohon Kasasi merupakan ahli waris dari sepeninggalnya Abraham Toding,
S.H pada tahun 2001. John Ernest Toding sebagai Pemohon Kasasi dalam jabatannya
sebagai Dewan Komisaris dan pemengang saham terbesar kedua yaitu (16,7%) dari
jumlah saham yang ada bersama saudara kandungnya dr. Florida Irene Toding,
MARS (Pemohon Kasasi) yang juga memiliki saham terbesar kedua yaitu (16,7%)
dari jumlah keseluruh saham perseroan. Pada tanggal 15 Oktober 1992 terdapat
perubahan/penerbitan Akta Nomor 62 yang dibuat Notaris Ny.Pudji Redjeki Irawati,
S.H di Ujung Pandang atas dasar RUPS pengurus tentang perubahan:
a. Pengurus;
b. Kepemilikan saham;
c. Penjualan dan pengeluaran saham fortofolio sebanyak 40.000 (empat puluh ribu)
lembar saham.
Perubahan kepengurusan, pengurusan kepemilikan saham dan penjualan saham
dan pengeluaran saham dalam fortofolio sebanyak 40.000 (empat puluh ribu) lembar
saham yang didasarkan atas keputusan pengurus (RUPS) yang sama “tidak
sepengetahuan dewan pendiri dan melanggar mekanisma dan prosedur hukum bahkan
tanpa sepengetahuan dewan komisaris yang berwenang dalam hal ini Para Pemohon
Kasasi. Dari akta Perubahan Nomor 62 tanggal 15 Oktober 1992, John Ernest Toding
baik sebagai anggota Dewan Komisaris maupun sebagai pemegang saham mayoritas
ke 2 (kedua) dalam perseroan, namanya tidak lagi muncul atau tertera dalam Akta
Perubahan tersebut, demikian pula dengan nama dr. Florida Irene Toding, MARS
sebagai pemegang/pemilik saham terbesar kedua, namanya tidak lagi tercantum.
Akta Perubahan Nomor 62 tanggal 15 Oktober 1992 oleh Notaris Ny. Pudji
Redjeki Irawati, S.H Ujung Pandang (Makassar) adalah diluar kehendak atau
kemauan dan tidak sepengetahuan oleh Abraham Toding sebagai pendiri, sebagai
pemilik modal awal dan sebagai pemilik saham terbesar dalam perseroan, demikian
juga Para Pemohon Kasasi Ir. John Ernest Toding dan dr. Florida Irene Toding,
MARS yang seolah-olah melepas atau menjual sahamnya. Maka atas tindakan dari
perubahan akta tersebut menimbulkan kerugian bagi Abraham Toding, S.H dan atau
ahli warisnya (1) Paulina Martha Toding (istri) (2). Ir. John Ernes Toding (3). dr.

2
Florida Irene Toding/ Para Penggugat. Dengan diterbitkannya Akta Nomor 62 Tahun
1992 yang memiliki cacat hukum tersebut maka seluruh akta-akta yang terbit yang
mempedomani Akta Perubahan tersebut. Alm. Abraham Toding, S.H semasa
hidupnya, telah berulang kali meminta secara lisan maupun tertulis kepada pengurus
Perseroan PT. BPR Capta Sakti Sejahtera agar kiranya dapat diberikan data-data atau
akta perubahan, tentang pengurus, kepemilikan saham dan perkembangan kemajuan
perseroan, namun tidak mendapat tanggapan yang baik.
Para Penggugat mengajukan dengan dasar perbuatan melawan hukum berdasarkan
Pasal 1365 KUH perdata (Sivil Rechtkelike and sprakelijheid) dalam penerbitan Akta-
Akta Perubahan pertama Nomor 62 tanggal 15 Oktober tahun 1992 dan akta-Akta
Perubahan lainnya yang mempedomani Akta Perubahan pertama yang sudah
mengandung cacat hukum (legal defect) sehingga keberadaannya tidak valia
(Invalia),
Surat-surat kuasa di bawah tangan yang dipergunakan oleh pengurus PT. BPR
Capta Sakti Sejahtra seolah-olah dibuat dan ditandatangani oleh Abraham Toding
semasa hidupnya, baik dalam hal “penerbitan Akta, perubahan susunan pengurus,
perubahan kepemilikan saham, pernyataan menjual saham dan perubahan lainnya”
sangatlah disangsikan kebenarannya dan apabila hal tersebut adalah benar
ditandatangani Abraham Toding, S.H, itu hanya dapat terjadi jika kepadanya
disodorkan surat atau kertas dalam bentuk kosong. Menurut Para Pemohon Kasasi
dalam penerbitan Akta-akta perubahan pertama Nomor 62 tanggal 15 Oktober tahun
1992 dan akta-akta perubahan lainnya yang mempedomani Akta Perubahan pertama
yang sudah mengandung cacat hukum (legal defect) sehingga keberadaannya tidak
valia (Invalia) dan mengandung unsur perbuatan melawan hukum berdasarkan Pasal
1365 KUH perdata (Sivil Rechtkelike and sprakelijheid) serta memohon memohon
kepada Ketua Pengadilan Negeri Masamba kiranya dapat meletakkan sita jaminan
(conservatoir beslaag) atas bangunan dan tanah yang dipergunakan, serta aset PT.
BPR Capta Sakti Sejahtera berupa harta benda tetap dan bergerak.

3
Dasar Hukum
1. Kitab Undang-undang Hukum Perdata (“KUHPer”)
2. Undang – Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (“UU No.
40/2007”)
3. Undang-undang Nomor 6 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia Menjadi
Undang-Undang (“UU No. 6/2009”)

Analisis
1. Tindakan Para Penggugat adalah cacat hukum, dan menyebabkan gugatan
Penggugat menjadi cacat hukum, dimana Paulina Martha Toding telah meninggal
dunia pada tanggal 2 Juni 2011, sehingga dengan meninggalnya Penggugat I
tersebut maka dengan sendirinya Surat Kuasa Khusus yang diberikan kepada
kuasa hukumnya adalah berakhir dan tidak berlaku lagi. Terdapat error in
persona pada turut tergugat I yaitu Surat Gugatan Penggugat yang menempatkan
secara langsung Pimpinan Bank Indonesia Cabang Makassar sebagai Turut
Tergugat I tanpa menempatkan Gubernur Bank Indonesia secara “cq” sebagai
Turut Tergugat adalah Gugatan yang “imperfect” atau tidak sempurna. Surat
gugatan hukum yang diajukan terhadapnya harus langsung ditujukan pula kepada
Gubernur Bank Indonesia paling tidak diajukan secara berjenjang. Dalam
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009 sangat jelas ditegaskan adanya ketentuan
bahwa hanya Gubernur Bank Indonesia lah yang berhak mewakili Bank
Indonesia didalam dan diluar Pengadilan. Sehingga Judex Facti salah dalam
memeriksa dan mengadili perkara ini yakni diantaranya terlihat dalam
pertimbangan hukum tingkat pertama berkenaan dengan eksepsi yang diajukan
oleh Turut Tergugat I yakni tentang adanya “error in persona” dan adanya
“kekurangan pihak” dalam Surat Gugatan namun oleh Hakim Tingkat Pertama
dipertimbangkan secara keliru dalam putusannya dan ironisnya kemudian pada
Tingkat Banding.

4
2. Kedudukan hukum “legal standing” Para Tergugat tersebut adalah sebagai ahli
waris almarhum Abraham Toding selaku pemegang saham mayoritas pada “PT.
BPR Capta Sakti Sejahtera” yang beroperasi Bone Bone (semula sebelum diubah
dengan nama “PT. BPR Sinar Dana Harapan”), namun pada sisi lain kedudukan
Penggugat I dan Penggugat II juga adalah pemegang saham tersendiri diluar
saham ayahnya alm. Abraham Toding yang dalam Akta Pendirian Nomor 15
tertanggal 14 Juni 1991 yang dibuat oleh Notaris Hj. Zahara Pohan, S.H di
Jakarta itu saham almarhum Abraham Toding disebut sebesar 66,6%. Dahulu
dalam Surat Gugatan semula kedudukan Penggugat II Ir. Jhon Ernest Toding dan
Penggugat III dr. Florida Irene Toding, MARS selaku Penggugat III berada
dalam dua kualitas yakni atas nama diri sendiri dan kedudukan hukum lainnya
dalam Surat Gugatan bersama-sama dengan almarhum Penggugat I Paulina
Martha Toding sebagai ahli waris almarhum Abraham Toding. Dengan konteks
status hukum atau “legal standing” sebagai Penggugat dalam perkara seperti itu,
dapat disebut Ir. Jhon Ernest Toding dan dr. Florida Irene Toding menyandang
dua predikat yakni sebagai ahli waris almarhum Abraham Toding (bersama
Paulina Martha Toding) dan juga sebagai subjek hukum tersendiri yang juga
sebagai pemegang saham atas nama diri sendiri. Dalam hal ini Para Pemohon
Kasasi melepas atau menjual sahamnya sebagai pemegang saham dengan
mengajukan gugatan berdasarkan Pasal 6 ayat 1 Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang menjelaskan bahwa:
“Setiap pemegang saham berhak mengajukan gugatan terhadap perseroan
ke Pengadilan Negeri apabila di rugikan karena tindakan Perseroan yang
“tidak adil” dan tanpa alasan yang wajar sebagai akibat keputusan RUPS,
Direksi dan/atau Dewan Komisaris”
Namun dalam status hukum atau “legal standing” tidak jelas, karena para
penggugatan dalam gugatan harus ditegaskan dahulu kedudukan hukum Jhon
Ernest Toding dan Florida Irene Toding apakah dalam perkara ini bertindak
sebagai ahli waris almarhum Abraham Toding ataukah bertindak sebagai

5
bertindak untuk diri sendiri sebagai pemegang saham tersendiri dalam BPR
tersebut.
3. Bahwa dasar perbuatan melawan hukum sesuai Pasal 1365 KUHPerdata Akta-
Akta Perubahan pertama Nomor 62 tanggal 15 Oktober tahun 1992 dan akta-
Akta Perubahan lainnya yang mempedomani Akta Perubahan pertama yang
sudah mengandung cacat hukum (legal defect) tidak dapat dibuktikan karena
bukti-bukti yang diajukan Para Penggugat tidak ada yang dapat membuktikan
bahwa alm. Abraham Toding, S.H sebagai pemilik saham sebesar 66,7% pada PT
Bank Perkreditan Rakyat Capta Sakti Sejahtera, akan tetapi terbukti sebaliknya
bahwa berdasarkan keterangan saksi Kori Lobo, saham Abraham Toding telah
dijual kepada Paul Tobing pada Rapat Umum Pemegang Saham tanggal 27 Mei
1999.

Kesimpulan
1. Pada kasus ini terdapat cacat hukum terhadap Para Pemohon Kasasi , dimana
Paulina Martha Toding telah meninggal dunia pada tanggal 2 Juni 2011,
sehingga dengan meninggalnya Penggugat I tersebut maka dengan sendirinya
Surat Kuasa Khusus yang diberikan kepada kuasa hukumnya adalah berakhir dan
tidak berlaku lagi. Selain itu kedudukan hukum atau “legal standing” tidak jelas,
karena para penggugatan dalam gugatan harus ditegaskan dahulu kedudukan
hukum Jhon Ernest Toding dan Florida Irene Toding apakah dalam perkara ini
bertindak sebagai ahli waris almarhum Abraham Toding ataukah bertindak
sebagai bertindak untuk diri sendiri sebagai pemegang saham tersendiri dalam
PT BPR Capta Sakti Sejahtera.
2. Unsur perbuatan melawan hukum berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata pada
Akta-Akta Perubahan pertama Nomor 62 tanggal 15 Oktober tahun 1992 dan
akta-Akta Perubahan lainnya yang mempedomani Akta Perubahan pertama yang
sudah mengandung cacat hukum (legal defect) tidak dapat dibuktikan karena
yang terbukti adalah saham Abraham Toding telah dijual kepada Paul Tobing
pada Rapat Umum Pemegang Saham tanggal 27 Mei 1999.