Anda di halaman 1dari 17

Surat No: 044/LO-HP/1218 Jakarta,13 Desember 2018

Kepada Yth,
Ibu Dr. Yetty Komalasari Dewi, S.H., M.L.I
Dosen Pengajar Mata Kuliah Hukum Perusahaan
Magister Hukum - Universitas Indonesia
Jl. Salemba Raya No 4
Jakarta 10430

Perihal : PENDAPAT HUKUM

Dengan Hormat,
Bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Tjokorda Agung Candra Aditya, S.H
NIM : 1806157830
Kelas : A/Eko Sore
Mata Kuliah : Hukum Perusahaan
Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama diri sendiri sebagai mahasiswa Program Magister
Hukum di Universitas Indonesia, guna memenuhi kebutuhan tugas Ujian Akhir Semester Mata
Kuliah hukum Perusahaan, maka perkenankanlah Saya untuk menyampaikan Pendapat Hukum
Saya terhadap Putusan Pengadilan Negeri Depok dalam Perkara Nomor 108/Pdt.G/2015/PN.Dpk
Dalam Gugatan Derivatif antara PT. Etam Abdi Nusa melawan Djarot Sutjahjono, Dkk dengan
sistematika sebagaimana yang akan Saya uraikan dibawah ini.

I. PENDAHULUAN
Bahwa Pendapat Hukum ini disusun untuk memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester
untuk Mata Kuliah Hukum Perusahaan yang diasuh oleh Ibu Dr. Yetty Komalasari Dewi,
S.H., M.L.I berkaitan dengan Pendapat Hukum terhadap Putusan Pengadilan yang telah

1
berkekuatan kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) atas perkara hukum pada
perusahaan keluarga.

II. BATASAN DAN ASUMSI-ASUMSI


Dalam menyusun pendapat hukum ini, Kami menerapkan batasan-batasan dan asumsi-
asumsi bahwa :
1. Pendapat hukum ini dibuat berdasarkan dokumen-dokumen, fakta-fakta, keterangan-
keterangan, dan pernyataan-pernyataan, baik tertulis maupun lisan yang disampaikan
atau diperlihatkan kepada Kami adalah benar, akurat, terkini dan sesuai dengan yang
sebenarnya.

2. Tanda tangan dan pihak-pihak yang terdapat dalam dokumen-dokumen yang diperiksa,
baik asli maupun fotokopi atau salinan adalah tanda tangan otentik dari pihak yang
disebutkan dalam masing-masing dokumen tersebut dan sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya. Pihak yang membubuhkan tanda tangan tersebut mempunyai dan telah
memperoleh kewenangan serta memenuhi persyaratan untuk menandatangani dokumen-
dokumen tersebut.

3. Sampai dengan tanggal dikeluarkannya pendapat hukum ini, setiap dan seluruh data,
informasi/keterangan, dokumen-dokumen, fakta-fakta, keterangan-keterangan dan
pernyataan-pernyataan yang telah disampaikan dan diperlihatkan kepada Kami tidak
mengalami perubahan material. Apabila dikemudian hari ternyata terdapat perubahan
dan/atau perbedaan dan/atau ketidakakuratan atas informasi, keterangan, data, dokumen
ataupun pernyataan yang diterima dan disampaikan kepada Kami, tanpa diketahui oleh
Kami, maka keadaan tersebut berada diluar tanggung jawab Kami.

4. Pendapat hukum ini hanya ditujukan kepada Ibu dr. Yetty Komalasari Dewi, S.H.,
M.L.I, dan karenanya hanya dapat digunakan untuk keperluan internal Ibu dr. Yetty
Komalasari Dewi, S.H., M.L.I. Pendapat hukum ini (baik sebagian maupun seluruhnya
dan dalam bentuk atau format apapun), tidak dapat digunakan, diberikan, diungkapkan
ataupun disebarluaskan ke pihak manapun untuk tujuan-tujuan apapun, tanpa
persetujuan tertulis dahulu dari Kami.

5. Pendapat hukum ini merupakan masukan bagi kepentingan Perkuliahan Hukum


Perusahaan, karenanya pendapat hukum ini tidak memiliki kekuatan
2
mengikat/memaksa. Segala keputusan, pilihan yang diambil serta akibat hukumnya
menjadi tanggung jawab bagi Para Pihak yang menggunakannya.

6. Pendapat hukum ini hanya didasarkan pada ketentuan hukum yang berlaku di negara
Republik Indonesia, sehingga hanya berlaku dan dipergunakan di Indonesia.

III. RUMUSAN MASALAH


1. Apakah yang dimaksud dengan gugatan derivative dan syarat-syarat serta unsur-unsur
hukum apa sajakah yang melandasi diajukannya gugatan tersebut?
2. Bagaimanakah pendapat hukum Saudara terhadap Putusan Perkara a quo?

IV. BAHAN, BUKU, DATA DAN DOKUMEN


Copy Akta No. 5 Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Para
Pemegang Saham PT/ Etam Abdi Nusa, tertanggal 11 Juni 2004;
Copy Surat Sisminbakum Nomor: C-03512HT.01.04.TH.2005 tanggal 11 Februari 2005;
Copy Akta Nomor 5 tentang Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
Perseroan Terbatas PT Etam Abdi Nusa tanggal 2 Juli 2013;
Copy Akta Nomor 69 tentang Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
Perseroan Terbatas PT Etam Abdi Nusa tanggal 18 Juli 2008;
Copy Surat No.223/DRI/BYB/Let/X/11 dari PT. Dharma Rosadi International kepada
Bank Yudha Bhakti;
Copy Tambahan Berita Negara R.I No. 81 tanggal 9/10 tahun 2007 tentang masukknya
Andika Abdilah S.R sebagai pemegang saham mayoritas PT. Etam Abdi usa;
Copy Akta Nomor 13 tentang Perubahan Perjanjian Kredit Dengan Memakai Jaminan
antara PT. Etam Abdi Nusa dengan PT. Bank Yudha Bakti tertanggal 19 Juni 2008
dihadapan Lucia Catharina Sani, Notaris di Jakarta;
 Putusan Pengadilan Negeri Depok Perkara Nomor:108/Pdt.G/2016/PN.Dpk;
Buku Munir Fuady “Doktrin-Doktrin Modern dalam Corporate Law dan Eksistensinya
dalam Hukum Indonesia”;
Gunawan Widjaja, “Tanggung Jawab Direksi atas Kepailitan Perseroan;
Jurnal Hukum Bisnis Volume 26-No.3-Tahun 2007;

V. DASAR HUKUM
 Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

VI. KASUS POSISI

3
Bahwa adapun Pihak-pihak dalam gugatan yang telah didaftarkan di Kepaniteraan
Pengadilan Negeri Depok pada tanggal 20 Mei 2015 dengan Nomor Perkara: No.
108/Pdt.G/2015/PN.Dpk adalah sebagai berikut:

PENGGUGAT : PT. ETAM ABDI NUSA yang diwakili oleh ANDIKA


ABDILLAH SOERIA ROSADI dalam kapasitasnya sebagai
Komisaris Utama dan/atau Pemegang Saham Mayoritas PT. Etam
Abdi Nusa.
TERGUGAT I : DJAROT SUTJAHJONO
dalam kapasitasnya sebagai mantan direktur utama dan/atau
pemegang saham PT. Etam Abdi Nusa.
TERGUGAT II : IMAM MUSLIKHIN
dalam kapasitasnya sebagai mantan komisaris PT. Etam Abdi
Nusa.
TURUT TERGUGAT : PT. BANK YUDHA BAKTI
dalam kapasitasnya sebagai Kreditur PT. Etam Abdi Nusa

Bahwa adapun PT. ETAM ABDI NUSA merupakan perusahaan keluarga dimana
antara Andika Abdillah Soeria Rosadi sebagai Komisaris dan Pemegang Saham
Mayoritas Perseroan dengan Tergugat I Djarot Sutjahjono terdapat hubungan
keluarga dimana, Andika Abdillah Soeria Rosadi merupakan keponakan dari Djarot
Sutjahjono.
Bahwa adapun gugatan Perkara No. 108/Pdt.G/2015/PN.Dpk diajukan dengan alasan-
alasan yang pada pokoknya adalah sebagai berikut :
1. Bahwa Penggugat mendalilkan gugatannya kepada Tergugat I dan Tergugat II serta
Turut Tergugat berdasarkan kepada Pasal 97 ayat (6) Undang-undang No. 40 Tahun
2007 tentang Perseroan Terbatas yang berbunyi :

“Atas nama Perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu
persepuluh) bagian dan jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat
mengajukan gugatan melalui pengadilan negeri terhadap anggota Direksi yang
karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada Perseroan”.

2. Bahwa Penggugat mendalilkan Tergugat I dan Tergugat II semasa menjabat sebagai


Direktur Utama dan Komisaris Utama Perseroan telah merubah Akta No. 05 tentang
Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Para Pemegang Saham “PT.
ETAM ABDI NUSA”, Tanggal 11 Juni 2004, pada Pasal 11 Ayat 3 yang sebelumnya
harus mendapat persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham menjadi persetujuan

4
Komisaris Utama atau dua orang Komisaris dimana dalam Pasal 11 Ayat 3 disebutkan
bahwa “Direksi berhak mewakili Perseroan di dalam dan segala kejadian, mengikat
Perseroan dengan pihak lain dan pihak lain dengan Perseroan serta menjalankan segala
tindakan baik yang mengenai kepengurusan maupun kepemilikan, akan tetapi dengan
pembatasan bahwa untuk :
a)Meminjam atau meminjamkan uang atas nama Perseroan (tidak termasuk
mengambil uang Perseroan di Bank);
b)Mendirikan suatu usaha baru atau turut serta pada perusahaan lain baik di dalam
maupun di luar negeri:
Pada point a dan b tersebut harus dengan persetujuan Komisaris Utama atau dua orang
Komisaris.

3. Bahwa Penggugat mendalilkan Tergugat I dan Tergugat II telah melakukan perbuatan


Mismanagement sebagaimana diatur dalam Pasal 97 ayat (3) Undang-undang No. 40
Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas sehingga Perseroan PT. Etam Abdi Nusa
memiliki banyak hutang dan mengalami kerugian;

4. Penggugat menuntut agar Tergugat I dan Tergugat II secara tanggung renteng membayar
hutang Perseroan PT. Etam Abdi Nusa kepada Turut Tergugat sebesar Rp.
8.073.555.399,- (delapan milyar tujuh puluh tiga juta lima ratus lima puluh lima ribu
tiga ratus sembilan puluh sembilan rupiah);

VII. ANALISA HUKUM

A. Yang dimaksud dengan gugatan derivative dan syarat-syarat serta unsur-unsur


hukum apa sajakah yang melandasi diajukannya gugatan tersebut.

1. Pengertian Gugatan Derivative.

Dalam rezim tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) semua
unsur perusahaan seharusnya mempunyai hubungan yang baik. Namun dalam prakteknya,
pemegang saham minoritas acapkali berada dalam posisi lemah ketika harus
mempertahankan hak-haknya. Meskipun Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) bisa
dimanfaatkan untuk memperjuangkan hak, prinsip majority vote membuat pemegang

5
saham minoritas sering kalah suara. Karena itu, harus ada mekanisme yang bisa menjamin
perlindungan hukum buat pemegang saham minoritas. Salah satu jawaban atas masalah
perlindungan hukum itu adalah gugatan derivatif (derivative action). Gugatan derivative
action bertujuan untuk melindungi perseroan sebagai badan hukum sekaligus melindungi
kepentingan-kepentingan pemegang saham minoritas.

Apabila melihat dari dalil-dalil gugatan yang diajukan oleh Penggugat dalam hal ini
PT. Etam Abdi Nusa, maka objek permasalahan dalam gugatan derivative yang diajukan
oleh PT. Etam Abdi Nusa adalah adanya kerugian dan hutang yang diderita perseroan pada
saat Tergugat I dan Tergugat II menjabat sebagai Direktur Utama dan Komisaris Utama
Perseroan sehingga menimbulkan utang kepada Turut Tergugat dikarenakan adanya
mismanagement dan/atau ketidakmampuan Tergugat I dan Tergugat II didalam melakukan
pengelolaan Perseroan.

Yang menjadi landasan hukum diajukannya gugatan oleh Penggugat dalam hal ini
adalah gugatan derivative yang didasarkan pada ketentuan Undang-undang Nomor 40
tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dimana pengaturan tentang gugatan direksi diatur
pada pasal 97 ayat (6) dan gugatan komisaris diatur pada pasal 114 ayat (6).

Pada kedua UUPT di atas, gugatan derivatif diterjemahkan sebagai hak pemegang
saham untuk dan atas nama perseroan (tidak untuk kepentingan diri pribadi) pemegang
saham yang mewakili paling sedikit 1/10 dari jumlah saham dengan hak suara yang sah
dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri terhadap anggota Direksi atau
Komisaris yang dikarenakan kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada
perseroan. Di samping itu juga, gugatan derivatif dimungkinkan berdasarkan pasal 61 ayat
1 UUPT yang membuka ruang gugatan tersebut dengan ketentuan bahwa setiap pemegang
saham berhak mengajukan gugatan terhadap perseroan melalui Pengadilan Negeri, yang
dasar hukumnya meliputi kedudukan perseroan yang merugikan kepentingannya dianggap
tidak adil dan dilakukan tanpa alasan yang wajar sebagai akibat keputusan RUPS, Direksi
dan/ atau dewan Komisaris.1

1
http://business-law.binus.ac.id/2017/09/16/mengatur-gugatan-derivatif-tetapi-tidak-menyelesaikan-
gugatan/, diakses pada tanggal 3 Desember 2018.

6
Berdasarkan Law Dictionary (Gifis, Steven H.;1984: 129), yang dimaksud dengan
Gugatan derivatif adalah suatu gugatan berdasarkan hak utama (primary right) dari
perseroan, tetapi dilaksanakan pemegang saham untuk dan atas nama pereroan. Gugatan ini
dapat diajukan oleh pemegang saham dalam hal terjadi kerugian serta kegagalan dalam
perseroan yang dilakukan oleh anggota Direksi.2

2. Unsur-unsur Gugatan Derifative.

Berkaitan dengan definisi tersebut, doktrin hukum dari Munir Fuady dalam
bukunya yang berjudul “Doktrin-Doktrin Modern dalam Corporate Law dan
Eksistensinya dalam Hukum Indonesia” dapat dilihat bahwa unsur dari gugatan derivatif
adalah sebagai berikut:

1. Adanya suatu gugatan.


2. Gugatan tersebut diajukan ke pengadilan.

3. Gugatan diajukan oleh pemegang saham perseroan yang bersangkutan.

4. Pemegang saham mengajukan gugatan untuk dan atas nama perseroan.

5. Pihak yang digugat selain perseroan, biasanya direksi perseroan.

6. Penyebab dilakukannya gugatan karena adanya kegagalan dalam perseroan atau


kejadian yang merugikan perseroan yang bersangkutan.

7. Oleh karena diajukan untuk dan atas nama perseroan, maka segala hasil gugatan
menjadi milik perseroan walaupun pihak yang mengajukan gugatan adalah pemegang
saham.

2
http://www.hukumperseroanterbatas.com/gugatan/gugatan-derivatif-atau-derivative-action-dalam-
perseroan-terbatas/, diakses pada tanggal 3 Desember 2018.

7
Bahwa mengenai unsur-unsur yang terkandung ketentuan Pasal 97 ayat (6) dan ketentuan
Pasal 114 ayat (6) tentang gugatan derivative sebagaimana diatur dalam ketentuan Undang-
undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas akan diuraikan lebih jelas
sebagai berikut:
a) Adanya Gugatan yang diajukan ke Pengadilan oleh pemegang saham perseroan
untuk dan atas nama Perseroan. Terhadap ketentuan unsur ini, maka gugatan
tersebut wajib untuk diajukan oleh pemegang saham akan tetapi bukan bertindak
atas nama pribadinya sebagai pemegang saham, namun wajib bertindak untuk dan
atas nama Perseroan, sehingga biaya perkara yang timbul dari adanya gugatan
tersebut merupakan tanggung jawab dari Perseroan dikarenakan hasil dari gugatan
tersebut akan menjadi kepentingan perseroan;
b) Gugatan diajukan kepada Direksi maupun Komisaris Perseroan yang didasarkan
pada alasan-alasan karena adanya kegagalan dalam perseroan atau kejadian yang
merugikan perseroan yang bersangkutan diakibatkan oleh kelalaian dan atau
kesalahan dari Direksi maupun Komisaris perseroan dalam menjalankan kegiatan
usaha perseroan. Sehingga hal utama dalam mengajukan gugatan ini maka wajib
dibuktikan apakah perbuatan hukum dari direksi maupun komisaris tersebut tidak
sesuai dengan Anggaran Dasar Perusahaan, Undang-undang Perseroan Terbatas
maupun peraturan perundang-undangan terkait lainnya sehingga menyebabkan
perseroan mengalami kerugian. Selain itu, gugatan tersebut haruslah diajukan
kepada Direksi maupun komisaris yang masih aktif sebagai pengurus perseroan.

Dalam hal pemegang saham yang bertindak sebagai penggugat, ia tidak mewakili
dirinya sendiri melainkan untuk dan atas nama perseroan. Sehingga berdasarkan doktrin
hukum dari Munir Fuady, ada beberapa karakteristik khusus dalam suatu gugatan derivatif
yaitu:3

1. Sebelum dilakukan gugatan, sejauh mungkin dimintakan yang berwenang (direksi)


untuk melakukan gugatan untuk dan atas nama perseroan sesuai ketentuan dalam
anggaran dasarnya.

3
Doktrin-Doktrin Modern dalam Corporate Law dan Eksistensinya dalam Hukum Indonesia, Citra Aditya
Bakti, Bandung, 2002, hal 76

8
2. Pihak pemegang saham lain dapat dimintakan juga partisipasinya dalam gugatan
derivatif ini, mengingat gugatan tersebut juga untuk kepentingannya.

3. Selain itu diperhatikan juga kepentingan pemegang saham yang lain, pihak pekerja, dan
kreditor.

4. Tindakan penolakan gugatan derivatif berdasarkan alasan ne bis in idem tidak boleh
merugikan kepentingan pihak stake holder yang lain

5. Harus dibatasi bahkan dilarang penerimaan manfaat oleh pemegang saham yang ikut
terlibat dalam tindakan merugikan perseroan, yakni manfaat dari ganti rugi yang
diberikan terhadap gugatan derivatif tersebut

6. Seluruh manfaat yang diperoleh dari gugatan derivatif menjadi milik perseroan

7. Sebagai konsekuensinya, maka seluruh biaya yang diperlukan dalam gugatan derivatif
harus ditanggung oleh pihak perseroan.

3. Syarat-syarat Derivative Action.

Tidak semua gugatan yang diajukan oleh pemegang saham untuk dan atas nama
perseroan dapat diakui sebagai derivative action. Sebagai salah satu contoh gugatan
derivate action yang pada tingkat Pengadilan Negeri ditolak sebagaimana yang dikutip
dalam artikel Erman Rajagukguk adalah perkara PT. Dwi Satrya Utama vs Raymond
Richard Sparks dan Inderadi Kosim yang tercatat dalam register perkara No:
59/Pdt.G/2002/PN.Jak.Sel.4

Ada beberapa syarat dan ketentuan yang perlu diperhatikan bagi pemegang saham
yang bertindak untuk dan atas nama perseroan untuk melakukan gugatan derivative
diantaranya adalah:5
a) Pemegang saham tidak dapat mengajukan gugatan dalam bentuik derivative action, jika
yang digugat adalah tindakan atau perbuatan anggota Direksi yang dapat disahkan oleh

4
Jurnal Hukum Bisnis Volume 26-No.3-Tahun 2007, hal. 28
5
Gunawan Widjaja, “Tanggung Jawab Direksi atas Kepailitan Perseroan”, PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta, cet. I, 2003, hal. 44-45

9
Rapat Umum Pemegang Saham berdasarkan persetujuan sederhana (Ordinary
resolution);
b) Anggota direksi yang melakukan tindakan atau perbuatan melanggar fiduciary duty
tersebut adalah anggota Direksi yang dominant dan memegang kendali dalam
Perseroan, dan dalam hal tertentu telah disetujui oleh sebagian besar pemegang saham
independent.

Demikian juga tidak semua tindakan Direksi yang melanggar prinsip-prinsip


fiduciary duty dapat dikatakan sebagai derivative action. Ada beberapa pengecualian dari
tindakan direksi yang melanggar fiduciary duty mendapatkan pengesahan dan persetujuan
dari Rapat Umum Pemegang Saham dalam suara mayoritas biasa diantaranya adalah:
a) tindakan ultra vires;
b) tindakan lain yang memerlukan persetujuan khusus dalam suatu Rapat Umum
Pemegang Saham;
c) Tindakan yang merupakan fraud on the minority.

Akan tetapi tidak semua tindakan direksi yang melanggar fiduciary duty yang
disahkan oleh Rapat Umum Pemegang Saham mengikat pemegang saham minoritas.
Tindakan-tindakan direksi yang mengutamakan kepentingannya sendiri diatas kepentingan
perseroan dapat digugat oleh pemegang saham minoritas sebagaimana yang telah diuraikan
diatas. Derivatif action merupakan instrument untuk mengontrol tindakan anggota Direksi
yang dipercaya untuk mengurus Perseroan. Kontrol tersebut ditujukan terhadap tindakan-
tindakan Direksi yang dimungkinkan dapat merugikan perusahaan. Oleh karena hak
derivative action tersebut merupakan amanat UU yang ditentukan tegas dalam pasal 97
ayat (6) UU PT, maka hak tersebut dapat diinterpretasikan ada kendati sebuah perseroan
belum berdiri.

Ke depan ketentuan mengenai derivative action ini harus diberikan penjelasan yang
lengkap agar tidak menimbulkan interpretasi dalam proses gugatan di Pengadilan Negeri.
Selain itu oleh karena prinsip dan kelahiran Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas bertujuan untuk membenahi iklim usaha yang kondusif maka perlu
dicarikan alternative penyelesaian sengketa menyangkut derifative action ini yang
memungkinkan dunia usaha yang bergerak di bidang perseroan tidak terhambat
aktifitasnya menyangkut proses hukum melalui mekanisme Pengadilan Negeri.

10
B. Bagaimanakah pendapat hukum Saudara terhadap Putusan Gugatan Derivatif
dalam Perkara a quo.
Pertama-tama Penulis sepakat dengan seluruh pertimbangan Majelis Hakim
Pengadilan Negeri Depok yang mengadili Perkara a quo, dimana alasan-alasan persetujuan
penulis terhadap putusan majelis hakim akan penulis uraikan lebih jelasnya dibawah ini.

1. Bahwa Penggugat mengajukan gugatannya sebagai Komisaris Utama/Pemegang Saham


mayoritas dari PT. Etam Abdi Nusa, sehingga melakukan gugatan derivative kepada
Tegugat I dan Tergugat II dalam kapasitasnya sebagai Direktur dan Komisaris Utama
Perseroan dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2013. Dimana telah Penulis urailan
diatas mengenai unsur-unsur maupun syarat-syarat dari pengajuan gugatan derivative
yang diatur dalam ketentuan Pasal 97 ayat (6) dan Pasal 114 ayat (6) Undang-undang
Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dimana gugatan harus diajukan oleh
Pemegang saham yang memiliki minimal 1/10 saham di Perseroan. Kemudian gugatan
diajukan oleh Pemegang saham untuk dan atas nama Perseroan. Namun pada faktanya
apabila melihat dari Surat Kuasa Penggugat dan dalil-dalil Penggugat dalam putusan
Perkara Nomor 108/Pdt.G/2015/PN.Dpk yang telah diputus oleh Majelis Hakim
Pengadilan Negeri Depok pada tanggal 15 Agustus 2016, dapat dilihat dan diketahui
jika Penggugat tidak menjelaskan secara jelas atas dasar kapasitas apa Penggugat
mengajukan gugatan derivative ini, apakah sebagai Komisaris Utama ataukah sebagai
Pemegang Saham Mayoritas dari PT. Etam Abdi Nusa.

Pasal 97 ayat (6) Undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
yang berbunyi :
“Atas nama Perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu
persepuluh) bagian dan jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat
mengajukan gugatan melalui pengadilan negeri terhadap anggota Direksi yang
karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada Perseroan”.

Penjelasan Pasal 97 ayat (6) menjelaskan :


“Dalam hal tindakan Direksi merugikan Perseroan, pemegang saham yang
memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan pada ayat ini dapat mewakili

11
Perseroan untuk melakukan tuntutan atau gugatan terhadap Direksi melalui
Pengadilan.”

Bahwa Tergugat I sejak tanggal 2 Juli tahun 2013 telah resmi mengundurkan diri
sebagaimana tertuang dalam Akta RUPSLB PT. Etam Abdi Nusa No. 5 Tahun 2013
yang dibuat dihadapan Indrawan Adhi Bakti, SH., M.Hum Notaris di Balikpapan (vide
bukti TI-3) sehingga dalil Penggugat untuk mengajukan gugatan derivatif sudah
seharusnya otomatis menjadi batal, sehingga yang seharusnya digugat oleh Penggugat
in casu adalah anggota Direksi yang sedang menjabat saat ini terlebih lagi Penggugat
tidak tegas dalam menentukan kapasitas dirinya sebagai subjek hukum yang berhak
untuk mengajukan gugatan, dimana dalam gugatan Penggugat, Penggugat mengajukan
gugatan a quo dalam jabatannya selaku KOMISARIS UTAMA/Pemegang Saham,
terlihat jelas Penggugat ragu-ragu atau tidak paham terhadap ketentuan Pasal 97 ayat (6)
Undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yang seharusnya
Penggugat bertindak selaku Pemegang saham bukan sebagai Komisaris Utama. Dalam
hal ini dapat disimpulkan apabila Penggugat tidak memiliki Legal Standing untuk
mengajukan gugatan derivative mengingat ketidakjelasan uraian kedudukan hukum
Penggugat apakah sebagai Komisaris Utama ataukah Pemegang Saham, sehingga
gugatan menjadi kabur (Obscuur Libel). Hal ini juga telah dipertimbangkan oleh
Majelis Hakim dalam putusannya halaman 62 paragraf 3 yang menyebutkan sebagai
berikut “…dan oleh karena Penggugat dalam perkara in casu adalah sebagai
Komisaris Utama, maka Penggugat tidak memiliki kewenangan hukum atau legal
standing untuk mengajukan gugatan kepada Tergugat I.”

2. Selanjutnya yang menarik untuk dilakukan analisis hukum atas putusan ini adalah dapat
atau tidakkah gugatan Penggugat diajukan kepada Tergugat I dan Tergugat II dalam
kapasitasnya sebagai Direktur Utama dan Komisaris Utama dahulu sampai tahun 2013,
mengingat gugatan diajukan oleh Penggugat pada tahun 2015. Apabila melihat rumusan
Pasal 97 Ayat (6) juga memberikan batasan-batasan untuk melakukan gugatan derivatif,
yaitu gugatan ini diajukan terhadap:
a)anggota Direksi yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam menjalankan
pelaksanaan pengurusan perseroan;

12
b)hak itu timbul apabila kelalaian atau kesalahan itu menimbulkan kerugian pada
perseroan;
c)gugatan diajukan pemegang saham atas nama perseroan, bukan atas nama
pemegang saham sendiri.

Mengingat sistem sistem tanggung jawab anggota Direksisatu dengan yang lainnya
adalah tanggung jawab renteng, sehingga walaupun Pasal 97 Ayat (6) Undang-Undang
Nomor 40 Tahun 2007 menyatakan bahwayang digugat secara derivatifadalah anggota
dari Direksi, akan tetapi demi hukum anggota yang lain pun ikut terbawa sebagai
konsekuensi dari sistem kolegial terhadap Direksi. Apabila melihat fakta-fakta dan
pertimbangan majelis hakim dalam perkara tersbut, dapat diketahui jika Tergugat I dan
Tergugat II sejak tanggal 2 Juli tahun 2013 telah resmi mengundurkan diri sebagaimana
tertuang dalam Akta RUPSLB PT. Etam Abdi Nusa No. 5 Tahun 2013 yang dibuat
dihadapan Indrawan Adhi Bakti, SH., M. Hum Notaris di Balikpapan. Dengan demikian
gugatan derivative tidak dapat diajukan kepada Mantan Direksi dan/atau Mantan
Komisaris, namun seharusnya gugatan yang diajukan oleh Penggugat apabila merasa
ada kerugian yang ditimbulkan oleh Tergugat I dan Tergugat II pada saat menjabat
sebagai Direksi dahulu adalah Gugatan Perbuatan Melawan Hukum.

3. Bahwa analysis penulis tersebut diatas juga senada dengan pertimbangan Majelis Hakim
dalam putusan pada halaman 62 Putusan Perkara Nomor 108/Pdt.G/2015/PN.Dpk yang
menyatakan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 97 ayat (6) UU No. 40 Tahun
2007 dihubungkan dengan landasam teori tersebut diatas, maka majelis Hakim
berpendapat bahwa Gugatan Derivatif tersebut dapat diajukan oleh pemegang
saham minoritas terhadap anggota Direksi yang sedang menjalankan tugas dan
fungsinya selaku Direksi atau dengan kata lain Direksi aktif. Sedangkan dalam
perkara in casu berdasarkan bukti P-16 yang merupakan bukti yang sama dengan
bukti T.I-3 berupak Akta RUPS LB No. 5 tanggal 2 Juli 2013 diperoleh fakta bahwa
Tergugat I telah keluar sebagai Direktur Utama Perseroan dan hal tersebut telah
mendapat persetujuan bulat dari semua pemegang saham, dengan demikian maka

13
sejak tanggal 2 Juli 2013 Tergugat I sudah tidak lagi menjabat sebagai Direktur
Utama (Direksi) PT. Etam Abdi Nusa dan statusnya sudah menjadi mantan Direksi.
Oleh karena itu, gugatan derivative yang diajukan kepada Tergugat I selaku
mantan direksi adalah gugatan yang terlambat diajukan karena seharusnya
gugatan tersebut diajukan pada saat Tergugat I masih aktif sebagai Direksi.”

4. Kemudian apabila dilihat dari bukti-bukti yang dihadirkan oleh Para Pihak dan jika
materi putusan seandainya dilanjutkan ke pokok perkara maka dapat diketahui dimana
Tergugat I selama menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai Direktur PT. Etam Abdi
Nusa telah melaksanakan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab dan itikad baik
(Prinsip Fiduciary Duty) serta telah mendapatkan persetujuan dari Tergugat II dan juga
Rapat Umum Pemegang Saham PT. Etam Abdi Nusa sebagaimana yang telah
dipersyaratkan maupun diatur dalam anggaran dasar Perseroan dan kesemuanya
dilaksanakan dalam kapasitasnya selaku Direktur bukan sebagai pribadi terlebih lagi
sama sekali tidak ada penyimpangan yang dilakukan oleh Tergugat I selama menjabat
sebagai Direktur PT. Etam Abdi Nusa.

Ketentuan Pasal 92 ayat (1) Undang-undang Perseroan Terbatas No. 40 tahun 2007
yang menyebutkan:

“Direksi menjalankan pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan dan


sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan”

Pasal 92 ayat (2) menjelaskan apabila :


“Direksi berwenang menjalankan pengurusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
sesuai dengan kebijakan yang dipandang tepat, dalam batas yang ditentukan oleh
Undang-undang ini dan/atau anggaran dasar.”

Sehingga dengan demikian Tergugat I yang sekarang sudah tidak menjabat sebagai
Direksi di PT. Etam Abdi Nusa tidak dapat dibebani pertanggung jawaban hutang
Perseroan PT. Etam Abdi Nusa kepada PT. Bank Yudha Bhakti in casu Turut Tergugat;

14
5. Bahwa telah diperoleh fakta hukum yang dihubungan dengan vide bukti T1-1, T1-2, T1-
4, T1-6, T1-7, T1-8, T1-9 apabila terhadap Pinjaman hutang kepada PT. Bank Yudha
Bhakti in casu Turut Tergugat yang dilakukan oleh PT. Etam Abdi Nusa yang dalam
perbuatan hukum tersebut diwakili oleh Tergugat I yang secara sah bertindak untuk dan
atas nama Perseroan PT. Etam Abdi Nusa telah memperoleh Persetujuan dari Tergugat II
selaku Komisaris Utama dan juga telah sesuai dengan Anggaran Dasar PT. Etam Abdi
Nusa;

6. Bahwa berdasarkan keterangan saksi fakta Oktia Hendra yang dihubungkan dengan
Bukti-bukti tertulis yang diajukan oleh Tergugat I, maka diperoleh fakta hukum yang
tidak terbantahkan apabila Tergugat I tidak pernah sama sekali menikmati uang
pinjaman dari Turut Tergugat justru Tergugat 1 bahkan mengorbankan diri pribadinya
untuk berhutang kepada Turut Tergugat guna membayar tagihan cicilan bunga PT. Etam
Abdi Nusa kepada Turut Tergugat;

7. Bahwa berdasarkan keterangan saksi Ayu Patria Rosadi yang dihubungkan dengan
bukti-bukti Tergugat I telah secara jelas membenarkan bahwa Bukti T1-1 telah dibuat
dan disetujui oleh RUPS dan juga seluruh pemegang saham, berdasarkan keterangan
saksi yang dihubungkan dengan bukti T1-6 diperoleh fakta hukum apabila Penggugat
masuk sebagai Pemegang Saham Mayoritas PT. Etam Abdi Nusa pada tahun 2006
berdasarkan Akta No. 109 tanggal 30 Desember 2005 tentang masukknya Andika
Abdilah S.R sebagai pemegang saham mayoritas PT. Etam Abdi Nusa;

8. Bahwa berdasarkan keterangan saksi Ayu Patria Rosadi yang dihubungkan dengan bukti
T1-3 juga diperoleh fakta hukum apabila Tergugat I telah mengundurkan diri sejak
tahun 2011 dan secara resmi telah disetujui oleh RUPS pada tahun 2013 berdasarkan
Akta No. 5 tanggal 2 Juli 2013 tentang Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham
Luar Biasa Perseroan Terbatas “PT. Etam Abdi Nusa”, dimana saksi mengetahui tidak
ada penolakan maupun tuntutan dari para pemegang saham atas mundurnya Tergugat I
sebagai Direktur Utama;

15
9. Bahwa fakta hukum yang juga tidak terbantahkan adalah saksi Ayu Patria Rosadi
mengetahui perihal adanya Surat No.223/DRI/BYB/Let/X/11 (vide bukti T1-5) dari PT.
Dharma Rosadi International kepada Bank Yudha Bhakti terkait dengan PT. Dharma
Rosadi International telah melakukan pemberitahuan kepada Turut Tergugat terkait
dengan pengambilalihan seluruh hutang-hutang Penggugat kepada Turut Tergugat

10. Berdasarkan pada fakta-fakta pada point 1 sampai dengan 7 tersebut diatas yang
dihubungkan dengan bukti-bukti tertulis dari Penggugat, Tergugat I, Tergugat II dan
Turut Tergugat serta keterangan dari saksi maupun ahli, diperoleh fakta yang tidak
terbantahkan apabila Tergugat I dan Tergugat II tidak terbukti telah melakukan
Perbuatan Mismanagement sebagaimana diatur dalam Pasal 97 ayat (3) Undang-undang
No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas didalilkan oleh Penggugat sehingga tidak
diwajibkan maupun diharuskan secara hukum untuk membayar hutang Perseroan PT.
Etam Abdi Nusa kepada Turut Tergugat sebesar Rp. 8.073.555.399,- (delapan milyar
tujuh puluh tiga juta lima ratus lima puluh lima ribu tiga ratus sembilan puluh sembilan
rupiah), karena kewajiban pembayaran hutang tersebut kepada Turut Tergugat tetap
merupakan kewajiban dari PT. Etam Abdi Nusa sebagai suatu Perseroan bukan
tanggung jawab pribadi dari Tergugat I dan Tergugat II;

VIII. PENDAPAT HUKUM

1. Penulis sepenuhnya setuju atas seluruh pertimbangan majelis hakim dalam Perkara
Nomor 108/Pdt.G/2015/PN.Dpk dimana sudah tepat apabila gugatan yang diajukan oleh
Penggugat tidak dapat diterima (Niet Onvankelijke verklaard) karena tidak memiliki
Legal Standing untuk mengajukan gugatan dan telah salah mengajukan gugatan
derivative kepada Tergugat I dan Tergugat II yang merupakan mantan Direksi;

2. Bahwa seharusnya apabila Penggugat ingin mengajukan gugatan keapda mantan direksi,
maka seharusnya gugatan yang diajukan adalah gugatan Perbuatan Melawan Hukum,
dengan tetap memperhatikan bukti-bukti dan dasar hukum yang kuat untuk

16
membuktikan adanya kelalaian maupun kesalahan dari mantan Direksi dalam
melakukan pengelolaan Perseroan;

IX. KESIMPULAN DAN SARAN


Pengajuan Gugatan Derivatif oleh Pemegang Saham Perseroan sebagaimana diatur
dalam Ketentuan Pasal 97 ayat (6) dan Pasal 114 ayat (6) Undang-undang Nomor 40 Tahun
2007 tentang Perseroan Terbatas wajiblah untuk memperhatikan unsur-unsur dan syarat-
syarat dari gugatan derivatif tersebut, sehingga nantinya dalam gugatan yang diajukan tidak
menimbulkan cacat formil dan mengakibatkan gugatan tidak dapat diterima (Niet
Onvankelijke verklaard). Perlu persiapan dengan Analisa mendalam apakah seharusnya
mengajukan gugatan derivative ataukah gugatan Perbuatan Melawan Hukum terhadap
organ perseroan, khusunya bagi mantan Direksi Perseroan.

Putusan Perkara Nomor 108/Pdt.G/2015/PN.Dpk ini Telah Berkekuatan Hukum Tetap


(inkracht van gewijsde) yang dibuktikan tidak diajukannya Upaya Hukum Banding atas
Putusan Majelis Hakim Yang Mengadili Perkara a quo oleh Penggugat.

Demikian Pendapat Hukum ini Saya sampaikan, atas perkenan dan perhatiannya, Saya
mengucapkan terima kasih.

Hormat Saya,

Tjokorda Agung Candra Aditya, S.H


1806157830

17