Anda di halaman 1dari 43

MAKALAH PRAKTIKUM PATOLOGI DAN KIMIA KLINIK

PEMERIKSAAN HEMATOLOGI

Oleh
Kelompok III (A3C):
1. Putu Ayu Nita Pebriyanti (18021077)
2. I Putu Arya Yayang Kresna Yuda (18021081)
3. Ni Putu Sintya Devi Widyarini (18021083)

Dosen Pengampu: Dyancinantya Windydaca Brata Putri, S.Farm,. M.Farm., Apt.

Disusun Dalam Rangka Memenuhi Nilai Akhir Mata Kuliah Praktikum Patologi dan
Kimia Klinik Semester Ganjil
Tahun Ajaran 2019/2020

PROGRAM STUDI FARMASI KLINIS


UNIVERSITAS BALI INTERNASIONAL
DENPASAR

i
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah
ini tepat pada waktunya. Makalah yang berjudul “Pemeriksaa Hematologi” ini
membahas mengenai ragam pemeriksaan hematologi yang berkembang didunia
kesehatan.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapatkan tantangan dan
hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi.
Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga
bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari
bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat
penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga penulisan makalah ini dapat memberikan manfaat kepada
banyak pihak

Denpasar, 22 Januari 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

COVER .................................................................................................................................i

KATA PENGANTAR ..........................................................................................................ii

DAFTAR ISI .........................................................................................................................iii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................v

DAFTAR LAMPIRAN .........................................................................................................v

BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................................1

1.1 Latar Belakang..........................................................................................................2

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................................8

1.3 Tujuan Penulisan ......................................................................................................8

1.4 Manfaat Penulisan....................................................................................................8

BAB II. ISI ...........................................................................................................................10

2.1 Definisi Hematologi ................................................................................................10

2.1.1 Pemeriksaan Hematologi .............................................................................10

2.2 Sampel dalam Pemeriksaan Hematologi .................................................................10

2.3 Jenis-Jenis Pemeriksaan Hematologi ......................................................................13

2.3.1 Pemeriksaan Hemoglobin ............................................................................14

2.3.2 Pemeriksaan Hematokrit .............................................................................18

2.3.3 Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) .......................................................21

2.3.4 Hitung Sel-Sel Darah ...................................................................................14

iii
2.4 Implikasi Klinis Masing-Masing Jenis Pemeriksaan HEmatologi .......................... 41

2.4.1 Implikasi Klinis Pemeriksaan Hemoglobin ................................................. 41

2.4.2 Implikasi Klinis Pemeriksaan Hematokrit .................................................. 42

2.4.3 Implikasi Klinis Pemeriksaan LED ............................................................. 42

2.4.4 Implikasi Klinis Hitung Eritrosit ................................................................. 43

2.4.5 Implikasi Klinis Hitung Leukosit ................................................................ 43

2.4.6 Implikasi Klinis Hitung Retikulosit ........................................................... 44

2.4.7 Implikasi Klinis Hitung Trombosit ............................................................ 45

BAB III. PENUTUP .................................................................................................... 46

VI. DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 50

iv
v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hematologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari darah,
organ pembentuk darah dan penyakitnya. Khususnya jumlah dan morfologi sel-
sel darah, serta sumsum tulang. Darah adalah jaringan khusus yang berbeda
dengan organ lain, karena berbentuk cairan. Jumlah darah dalam tubuh adalah 6-
8% berat tubuh total. Empat puluh lima sampai 60% darah terdiri dari sel-sel,
terutama eritrosit, leukosit dan trombosit. Fungsi utama darah adalah sebagai
media transportasi, serta memelihara suhu tubuh dan keseimbangan cairan (Atul
dan Victor, 2008 cit. Arifin dkk, 2015).
Pemeriksaan panel hematologi (hemogram) terdiri dari leukosit, eritrosit,
hemoglobin, hematokrit, indeks eritrosit dan trombosit. Pemeriksaan hitung darah
lengkap terdiri dari hemogram ditambah leukosit diferensial yang terdiri dari
neutrofil, basofil, eosinofil, limfosit dan monosit (Menkes RI, 2011).
Darah sebagai sampel utama dalam pemeriksaan panel hematologi
merupakan bagian dari tubuh yang berperan penting dalam mempertahankan
kehidupan. Sebab, ia berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau
bakteri. Darah berbentuk cairan, sehingga dapat didistribusikan ke seluruh tubuh
melalui pembuluh darah. Volume dalam tubuh bervariasi, pada orang dewasa
volume darah sekitar 6liter atau sekitar 7-8 % dari berat badan. Darah terdiri dari
komponen berbentuk dan komponen plasma. Komponen berbentuk kurang lebih
45% (eritrosit, lekosit dan trombosit). Angka (45 %) ini dinyatakan dalam nilai
hermatokrit atau volume sel darah merah yang dipadatkan yang berkisar antara 40
sampai 47 (Erna dan Supriyadi, 2015).
Suatu uji pemeriksaan laboratorium akan bernilai hasilnya jika
mempengaruhi diagnosis, prognosis atau terapi, memberikan pemahaman yang
lebih baik mengenai proses penyakit dan memberikan rekomendasi terkait
penyesuaian dosis (Menkes RI, 2011). Pemeriksaan laboratorium sebagai
penunjang diagnosis, dituntut untuk dapat memberikan hasil yang akurat atau
memberikan hasil yang dapat mendeteksi kondisi pasien yang sebenarnya, karena

1
dengan hasil yang didapat akan dapat ditegakkan diagnosis dan diberikan tindakan
serta terapi terhadap pasien tersebut (Lee, Joyce le Fever (ed). 2007).
Pemeriksaan laboratorium selalu melalui beberapa tahapan dalam
penentuan hasil agar dapat dipercaya, yakni tahapan pra-analitik, analitik dan
pasca-analitik. Tahap pra-analitik pemeriksaan laboratorium meliputi persiapan
pasien, pengambilan sampel dan penanganannya termasuk pemberian
antikoagulan dalam hal ini ialah EDTA (ethylenediaminetetraacetic acid)
merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang
terpercaya (Wijaya, K. 2006).
Pemeriksaan laboratorium rutin dilakukan untuk mendapatkan informasi
yang berguna dalam pengambilan keputusan klinik mulai dari pemilihan obat,
penggunaan obat hingga pemantauan efektivitas dan keamanan, Apoteker
memerlukan hasil pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan tersebut
dibutuhkan sebagai pertimbangan dalam penggunaan obat, penentuan dosis,
hingga pemantauan keamanan obat. Oleh karena itu, Apoteker dituntut untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam interpretasi data
laboratorium, khususnya yang terkait penggunaan obat, yaitu pemahaman nilai
normal dan implikasi perubahannya (Menkes RI, 2011).

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut:
a. Apakah yang dimaksud dengan hematologi dan pemeriksaan yang melibatkan
hematologi tersebut?
b. Apakah sampel yang digunakan dalam melakukan pemeriksaan hematologi?
c. Apa sajakah jenis-jenis pemeriksaan hematologi yang dilakukan guna
membantu menetapkan diagnosis penyakit dalam tubuh?
d. Bagaimana implikasi klinis tiap jenis pemeriksaan hematologi?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah maka didapatkan tujuan penulisan
makalah ini yaitu sebagai berikut:

2
a. Mengetahui dan memahami yang dimaksud dengan pemeriksaan hematologi
b. Memahami dan mengetahui jenis sampel yang dugunakan dalam melakukan
pemeriksaan hematologi
c. Memahami dan mengetahui jenis-jenis pemeriksaan hematologi yang menjadi
dasar dalam mendukung diagnosis suatu penyakit pada tubuh.
d. Memahami dan mengetahui implikasi klinis dari masing-masing jenis
pemeriksaan hematologi.

1.4 Manfaat Penulisan


a. Bagi Penulis
Menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman dengan mengaplikasikan
mata kuliah kefarmasian serta dapat melatih mahasiswa berpikir kritis tentang
ragam metode, sampel dan prinsip yang terlibat dalam pemeriksaan
hematologi.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Makalah ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi mahasiswa lain
yang ingin mengetahui tentang ragam metode, sampel dan prinsip yang
terlibat dalam pemeriksaan hematologi.

3
BAB II
ISI

2.1 Definisi Hematologi


Hematologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari darah, organ
pembentuk darah dan penyakitnya. Khususnya jumlah dan morfologi sel-sel
darah, serta sumsum tulang. Darah adalah jaringan khusus yang berbeda dengan
organ lain, karena berbentuk cairan. Jumlah darah dalam tubuh adalah 6-8% berat
tubuh total. Empat puluh lima sampai 60% darah terdiri dari sel-sel, terutama
eritrosit, leukosit dan trombosit. Fungsi utama darah adalah sebagai media
transportasi, serta memelihara suhu tubuh dan keseimbangan cairan (Atul dan
Victor, 2008 cit. Arifin dkk, 2015).
2.1.1 Pemeriksaan Hematologi
Pemeriksaan panel hematologi (hemogram) terdiri dari leukosit, eritrosit,
hemoglobin, hematokrit, indeks eritrosit dan trombosit. Pemeriksaan hitung darah
lengkap terdiri dari hemogram ditambah leukosit diferensial yang terdiri dari
neutrofil (segmented dan bands), basofil, eosinofil, limfosit dan monosit. Rentang
nilai normal hematologi bervariasi pada bayi, anak anak dan remaja, umumnya
lebih tinggi saat lahir dan menurun selama beberapa tahun kemudian. Nilai pada
orang dewasa umumnya lebih tinggi dibandingkan tiga kelompok umur di atas.
Pemeriksaan hemostasis dan koagulasi digunakan untuk mendiagnosis dan
memantau pasien dengan perdarahan, gangguan pembekuan darah, cedera
vaskuler atau trauma (Darda, 2016).

2.2 Sampel dalam Pemeriksaan Hematologi


Dalam pemeriksaan hematologi, sampel utama yang digunakan adalah darah
dimana darah yang paling sering digunakan dalam pemeriksaan adalah sampel
darah yang diambil dari pembuluh darah vena. Darah adalah jaringan cair yang
terdiri dari dua bagian. Bahan intraseluler adalah cairan yang disebut plasma dan
didalamnya terdapat unsur-unsur padat, yaitu sel darah merah. Volume darah
secara keseluruhan kira-kira merupakan satu perdua belas berat badan dan kira-
kira 5 liter. Sekitar 55 persennya adalah cairan, sedangkan 45 persen sisanya
terdiri atas sel darah. Angka ini dinyatakan dalam nilai hematokrit (Pearce, 2009).

4
Meskipun darah secara makroskopis berbentuk cair, sebenarnya darah terdiri
dari bagian yang cair dan padat. Darah yang diperiksa dibawah mikroskop,
tampak banyak benda bundar kecil didalamnya, yang dikenal sebagai sel darah.
Sel-sel darah merupakan bagian yang padat, sedangkan cairan tempat sel-sel ini
berada merupakan bagian cair yang disebut plasma. Sel-sel darah membentuk
45% seluruh volume darah dan plasma membentuk 55% seluruh volume darah.
(Pearce, 2009).

Gambar 2.1 Komposisi darah

Sel darah terdiri atas 3 jenis yaitu eritrosit atau sel darah merah, leukosit
atau sel darah putih serta trombosit atau keping darah.
1. Eritrosit atau sel darah merah
Eritrosit merupakan sel yang telah berdiferensiasi dan mempunyai fungsi
khusus untuk transfor oksigen. Selnya berbentuk cakram (bikonkaf) bila
dilihat pada bidang datar bentuknya bundar. Jumlah eritrosit jauh lebih besar
daripada unsur darah lain. (Syaifuddin,2009).
Eritrosit berbentuk cakram bikonkaf dengan diameter sekitar 7,5 mikron,
tebal bagian tepi 2 mikron dan bagian tengahnya 1 mikron atau kurang,
tersusun atas membran yang sangat tipis dan tidak mempunyai inti sel
(Syaifuddin,2009).
Pembentukan sel darah merah (eritrosit) diproduksi dalam sumsum tulang
merah, limpa, dan hati. Eritrosit berusia sekitar 120 hari. Sel yang telah tua
dihancurkan di limpa 4. Eritrosit beredar didalam tubuh kurang lebih 114
sampai 115 hari, setelah itu akan mati. Hemoglobin yang keluar dari eritrosit
yang mati akan terurai menjadi dua zat yaitu hematin yang mengandung Fe
yang berguna untuk membuat eritrosit baru dan hemoglobin yaitu suatu zat

5
yang terdapat dalam eritrosit yang berguna untuk mengikat oksigen dan
karbon dioksida. Jumlah normal pada orang dewasa kira-kira 11,5 – 15
gram dalam 100 cc darah. Normal Hb wanita 11,5 mg% dan laki-laki 13,0 mg
% (Gandasoebrata, 2007).
2. Leukosit atau sel darah putih
Leukosit merupakan sel-sel yang berinti, tidak berwarna dan bentuknya
lebih besar dari eritrosit, tetapi jumlahnya lebih sedikit dari eritrosit.
Leukosit mempunyai nilai normal 6.000 sampai 10.000 mm³. Leukosit
terdiri dari dua golongan yaitu leukosit bergranula dan leukosit tidak
bergranula. Leukosit bergranula terbagi menjadi neutrofil, eosinofil dan
basofil. Leukosit yang tidak bergranula terbagi menjadi limposit dan monosit
(Syaifuddin,2009).
3. Trombosit atau keeping darah
Trombosit merupakan sel kecil kira-kira sepertiga ukuran sel darah
merah. Terdapat 150.000 sampai 400.000 trombosit dalam setiap mm³ darah.
Memiliki masa hidup sekitar 1-2 minggu atau kira-kira 8 hari. Berperan
penting dalam proses penggumpalan darah (Pearch,2009). Trombosit adalah
keping-keping darah berwujud cakram dan tidak berwarna. Trombosit terlihat
berbentuk lonjong, seperti batang dan tidak terdapat inti. Trombosit memiliki
peran penting dalam hemostasis yang menempel pada daerah luka dan
menghasilkan trombosit putih yang menutup permukaan cedera dengan
mengisi lubang-lubang dalam dinding pembuluh darah (Syaifuddin,2009).
Darah dari pembuluh darah vena merupakan darah yang rendah akan oksigen
(teroksigenasi atau miskin oksigen) kecuali untuk darah vena paru yang
membawa darah beroksigen dari paru-paru kembali ke jantung. Darah vena
sistemik yang kurang oksigen berwarna jauh lebih gelap dan lebih merah
kebiruan dari darah arteri normal (Syaifuddin,2009).
Pembuluh darah vena adalah tempat pengambilan darah vena yang
merupakan kebalikan dari pembuluh arteri yaitu berfungsi membawa darah
kembali ke jantung. Bentuk dan susunannya hampir sama dengan arteri. Katup
pada vena terdapat di sepanjang pembuluh darah. Katup tersebut berfungsi untuk
mencegah darah tidak kembali lagi ke sel atau jaringan (Syaifuddin,2009).

6
Lokasi pengambilan darah vena pada orang dewasa dipakai salah satu vena
dalam fossa cubiti biasanya vena yang sering digunakan adalah vena mediana
cubiti karena memiliki fiksasi yng baik sehingga mempermudah pekerjaan
(Gandasoebrata,2007).

Gambar 2.2 Lokasi Pengambilan Darah


Vena mediana cubiti adalah lokasi yang sering dipakai sedangkan sebagai
pilihan kedua yaitu vena chepalica yaitu vena sejajar dengan ibu jari dan pilihan
ketiga yaitu vena basilica yaitu vena sejajar dengan jari kelingking
(Gandasoebrata,2007).

2.3 Jenis-Jenis Pemeriksaan Hematologi


Pemeriksaan panel hematologi (hemogram) terdiri dari pemeriksaan terkait
jumlah leukosit, eritrosit, hemoglobin, hematokrit, indeks eritrosit dan trombosit.
Jenis-jenis pemeriksaan hematologi tersebut adalah sebagai berikut (Darda, 2016).
2.3.1 Pemeriksaan Hemoglobin
Hemoglobin adalah protein majemuk yang tersusun atas protein sederhana
yaitu globin dan radikal prostetik yang berwarna, yang disebut heme. Protein ini
terdapat dalam butir-butir darah merah dan dapat dipisahkan daripadanya dengan
cara pemusingan. Berat molekulnya yang ditentukan dengan ultra sentrifuge
sebesar 68.000rpm. Ini adalah protein pertama yang diperoleh dalam bentuk
hablur. Hemoglobin merupakan protein pembawa oksigen dalam darah. Tiap liter
darah mengandung kira-kira 150 gr hemoglobin (Hoffbrand, 2012).
Menurut buku “Dinamika Obat” dari Ernst Mutschler bahwa hemoglobin
berfungsi dalam transport oksigen dari paru-paru ke jaringan serta transport
karbondioksida dari jaringan ke paru-paru. Disamping iu berfungsi juga sebagai

7
dapar. Hemoglobin memiliki bentuk molekul yang hampir bulat yang disebut
sebagai kromoprotein. Ini terdiri atas empat rantai polipeptida dengan masing-
masing satu komponen zat warna yang disebut hem. Bobot molekulnya sekitar
64.500. Dalam hemoglobin dewasa (Hba) terdapat 2 rantai polipeptida-α dengan
masing-masing 146 asam amino dalam susunan yang simetris
(Gandasoebrata,2007).

Gambar 2.3 Struktur Hem


Nilai normal Hemoglobin (Hb) dikategorikan sebagai berikut:
Konsentrasi Hb ( )
No Kategori
Normal Abnorm
al
1. Wanita 12 – 16 <12
2. Pria 13 – 18 <13
3. Anak 10 – 16
4. Bayi baru lahir 12 – 24
(Gandasoebrata, 2007)
Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dalam melakukan
pemeriksaan hemoglobin yaitu adalah sebagai berikut (Kiswari, 2014):
1. Metode Talquist
Prinsip dasar dari metode ini adalah warna darah yang menempel pada kertas
saring talquist, dibandingkan dengan warna standar yang tersedia pada buku
talquist. Standar menunjukkan kadar Hb dalam prosentase. Kadar Hb 100% setara
dengan 15.8 gr/dl. Alat – alat yang digunakan adalah kapas alkohol 70%, blood
lancet, kertas saring dan buku talquist.
Cara kerja pada pemeriksaan hemoglobin dengan metode ini adalah dengan
dilakukkan sterilisasi lokal dengan cara dioleskan kapas alkohol 70%, kemudian
dilakukan penusukkan perifer (dihapus tetesan pertama yang keluar). Diteteskan
darah pada kertas saring talquist satu tetes, setelah kering, dicocokkan warnanya

8
dengan standar warna yang ada pada buku talquist, baca prosentasinya. Metode ini
tidak dianjurkan untuk digunakan karena akurasinya kurang dan tingkat kesalahan
ini antara 25-50%. Dan metode ini sudah jarang untuk digunakan, kadang-kadang
digunakan dalam keadaan darurat.
2. Metode Sahli
Prinsip dasar dari pemeriksaan hemoglobin denganmetode sahli adalah
hemoglobin diubah menjadi asam hematin kemudian warna yang terjadi
dibandingkan secara visual dengan standart warna pada alat hemoglobinmeter.
Dalam penetapan kadar hemoglobin, metode sahli memberikan hasil 2% lebih
rendah dari pada metode lainnya. Adapun alat yang digunakan pada metode ini
adalah spuit, hemometer sahli, pipet pasteur dan kapas sedangkan bahan yang
dbutuhkan adalah alkohol, HCl 0,1 N dan sampel darah vena.
Cara Kerja dari metode sahli ini adalah mula-mula disiapkan alat dan bahan
yang akan digunakan, kemudian tabung sahli di isi dengan HCl 0,1 N sampai
tanda batas angka 2.Dioleskan kapas alkohol 70 % untuk mensterilisasi lokal dan
di lakukan penusukan pada vena. Dengan pipet sahli diambil darah sebanyak 20
µL, kemudian di masukan segera di dalam tabung sahli yang berisi HCl 0,1 N. Di
campur sampai homogen (terbentuk warna tengguli) dan di encerkan isi tabung
dengan aquadest sampai dengan menyamai warna standar. Lalu di baca hasilnya
dengan memperhatikan miniskus cairan pada angka skala.
Kelebihan Metode Sahli :
1. Alat (Hemoglobinometer) praktis dan tidak membutuhkan listrik.
2. Harga alat (Hemoglobinometer) murah.
Kekurangan Metode Sahli :
1. Pembacaan secara visual kurang teliti.
2. Alat (Hemoglobinometer) tidak dapat distandarkan.
3. Tidak semua bentuk hemoglobin dapat diubah menjadi hematin asam.
Metode Sahli merupakan metode estimasi kadar hemoglobin yang tidak teliti,
karena alat hemoglobinometer tidak dapat distandarkan dan pembandingan
warna secara visual tidak teliti. Metode sahli juga kurang teliti karena
karboxyhemoglobin, methemoglobin dan sulfhemoglobin tidak dapat diubah
menjadi asam hematin.

9
3. Metode Cyanmethemoglobin
Metode cyanmethemoglobin merupakan metode laboratorium terbaik yang
dianjurkan digunkaan untuk menentukan kadar hemoglobin secara kuantitatif.
Metode cyanmethemoglobin menggunakan sampel yaitu sampel darah yang
berasal dari pembuluh vena.
Prinsip dasar dari metode cyanmethemoglobin adalah Hemoglobin diubah
menjadi cyanmethemoglobin dalam larutan yang berisi larutan kalium ferisianida
dan kalium sianida. Absorbansi larutan diukur pada panjang gelombang nm atau
filter hijau. Larutan drabkin yang dipakai pada cara ini mengubah menjadi.
Hb + K4Fe(CN)6 ---> MetHb
MetHb + KCN ---> HiCN (CyanMet Hb)
Alat – alat yang dibutuhkan pada pemeriksaan ini adalah spektrofotometer /
Fotometer dengan filter 540-550 nm, tabung reaksi, klinipet, tip, dispenser dan
tabung reaksi. Reagen khusus yang digunakan pada metode ini adalah larutan
drabkin. Larutan drabkin terdiri dari K3Fe(CN)6 200mg, KCN 50mg, KH2PO4
140mg, Non ionic detergent 1ml, aquadest 1000ml pH 7,0 - 7,4 larutan
sianmethemoblobin standart.
Cara Kerja pemeriksaan dengan metode cyanmethemoglonin ini adalah
pertama masukkan 5ml larutan drabkin ke dalam tabung, kemudian di pipet darah
vena (EDTA) dengan pipet otomatik 20mikron. Kelebihan darah yang menempel
dihapus dengan kertas pembersih / tissue dan di masukkan darah ke dalam tabung
reaksi yang berisi larutan drabkin. Pipet di bilas dengan larutan drabkin tersebut.
Di campur larutan dengan cara mengoyang tabung secara perlahan hingga larutan
homegen dan di biarkan selama 5 menit kemudian di baca dengan menggunakan
fotometer / spektrofotometer sebagai blanko dengan gunakan larutan drabkin.
Sumber kesalahan dalam metode ini antara lain :
a. Terjadinya jendalan darah.
b. Leukositosis berat mempengaruhi pengukuran lebih rendah dari seharusnya.
c. Tidak tepat memipet pada saat mengambil darah.
d. Pemipetan pereaksi yang tidak akurat
e. Fotometer yang kurang baik
2.3.2 Pemeriksaan Hematokrit

10
Hematokrit didefinisikan sebagai jumlah volume darah merah terhadap
volume seluruh darah yang dinyatakan dalam % yang tergantung pada jenis
kelamin. Hematokrit adalah perbandingan bagian dari darah yang mengandung
eritrosit terhadap volume seluruh darah yang dihitung dalam % (Sutedjo,2009).
Pemeriksaan hematokrit merupakan salah satu metode yang paling teliti
dan simpel dalam mendeteksi derajat anemia atau polisitemia. Kadar hematokrit
juga digunakan untuk menghitung nilai eritrosit rata-rata. Nilai itu ditentukan
dengan darah vena atau darah kapiler (Gandasoebrata,2007).
Darah utuh disentrifus, partikel yang lebih berat akan turun ke dasar
tabung kapiler dan partikel endapan yang lebih ringan berada diatasnya. Kadar
hematokrit dapat segera diukur. Kadar normal hematokrit berbeda dalam jenis
kelamin. Laki-laki kadar hematokritnya adalah 40% - 48% sedangkan untuk
wanita kadar hematokritnya adalah 37% - 43 (Gandasoebrata,2007).
Pemeriksaan hematokrit dapat dilakukan dengan cara makro dan mikro.
Cara makro digunakan tabung wintrobe dengan panjang 9,5 cm, diameter 0,6
mm dan berskala 0-100. Cara mikro digunakan tabung kapiler dengan panjang
75 mm dan diameter 1,5 mm (Gandasoebrata,2007).
Metode makro menggunakan sentrifuge yang cukup besar, untuk
memadatkan sel-sel darah merah dan membutuhkan waktu ±30 menit. Metode
mikro menggunakan sentrifus mikrohematokrit yang mencapai kecepatan yang
jauh lebih tinggi, maka dari itu lamanya pemusingan dapat di perpendek
(Gandasoebrata,2007).
Pada pemeriksaan hematokrit metode makro, bahan yang digunakan
adalah darah vena. Sedangkan pada pemeriksaan hematokrit metode mikro dapat
menggunakan darah kapiler dan darah vena. Pemeriksaan hematokrit baik
metode makro maupun metode mikro terdapat lapisan Buffy coat yang letaknya
diantara lapisan sel darah merah dan plasma. Lapisan ini terdiri dari leukosit dan
trombosit yang berwarna kelabu kemerahan atau keputih-putihan. Keadaaan
normal tingginya lapisan Buffy coat 0,1 mm sampai dengan 1 mm. Tingginya
0,1 mm kira-kira sesuai dengan 1000 leukosit/mm³. Tinggi Buffy coat yang
masih dalam range normal belum berarti benar, misalnya kalau ada limfosit
yang pada umumnya lebih kecil dari granulosit. Tingginya lapisan Buffy coat

11
merupakan perkiraan saja terhadap ada tidaknya leukositosis
(Gandasoebrata,2007).

Gambar 2.4 Sampel Darah yang telah disentrifugasi


Selain dibedakan berdasarkan makro dan mikro, pemeriksaan hematokrit
juga dapat dibagi menjadi pemeriksaan secara konvensional dan dengan automatic
yaitu sebagai berikut (Gandasoebrata,2007).
1. Pemeriksaan hematokrit dengan cara konvesional
Pemeriksaan hematokrit dapat dilakukan dengan cara makro dan cara mikro
dengan prinsip pemeriksaan yaitu dimana darah dengan antikoagulan disentrifus
pada kecepatan tertentu dan dalam waktu tertentu. Perbandingan volume eritrosit
terhadap volume spesimen darah dinyatakan dalam %. Kekurangan dalam
melakukan pemeriksaan hematokrit cara konvensional metode makro adalah
waktu yang diperlukan untuk sentrifus rata-rata 30 menit dan sampel darah yang
digunakan juga cukup banyak. Kelebihannya adalah tidak perlu menutup salah
satu ujung tabung dengan nyala api, karena disini menggunakan tabung wintrobe
(Gandasoebrata,2007).
Sedangkan kekurangan dalam melakukan pemeriksaan hematokrit dengan
cara konvensional metode mikro adalah penutupan ujung tabung kapiler yang
tidak rapat, karena hal tersebut dapat menyebabkan kebocoran tabung kapiler saat
disentrifus dan dapat menyebabkan nilai hematokrit menurun. Kelebihannya
adalah tekniknya lebih sederhana, sampel yang digunakan sedikit dan nilai
hematokrit dari tabung kapiler variabilitasnya hanya 1-2 % (Gandasoebrata,2007).
2. Pemeriksaan hematokrit dengan cara otomatis (Hematologi Analyzer)

12
Pemeriksaan hematokrit dengan hematologi analyzer salah satunya dapat
dilakukan menggunakan sysmex XP-100. Sysmex XP-100 menggunakan 3
detector block dan 2 jenis reagen untuk analisis darah. Pemeriksaan hematokrit
menggunakan sysmex XP-100 reagen yang digunakan adalah cell pack yang
berfungsi untuk pengenceran atau diluents, stromalyzer dan cell clean yang
memiliki prinsip yaitu metode deteksi berdasarkan tinggi pulsa eritrosit
(Cumulative Pulse Height Detection Methode) merupakan rasio sel darah merah
terhadap volume total darah. Kadar hematokrit didapat dari perbandingan antara
volume eritrosit dengan volume darah keseluruhan dinyatakan dalam %
(Gandasoebrata,2007).
Kekurangan pemeriksaan hematokrit dengan cara otomatis menggunakan
hematology Analyzer adalah kurang efisien dari segi dana dan membutuhkan
sampel darah yang lebih banyak. Kelebihannya adalah hasil pemeriksaan akan
dibaca secara otomatis dan hasil pemeriksaan dapat langsung diketahui secara
tepat dan mempunyai derajat ketepatan yang tinggi (Gandasoebrata,2007).
2.3.3 Laju Endap Darah (LED)
Laju endap darah (LED) disebut juga erythrocyte sedimentation rate (ESR)
atau sedimentation rate (sed rate) atau bezinking-snelheid der erythrocyten (BSE)
adalah kecepatan pengendapan sel-sel eritrosit di dalam tabung berisi darah yang
telah diberi antikoagulan dalam waktu satu jam. Laju endap darah juga
didefinisikan sebagai kecepatan pengendapan sel-sel eritrosit dalam plasma. Hasil
pemeriksaan LED digunakan sebagai penanda non spesifik perjalanan penyakit,
khususnya memantau proses inflamasi dan aktivitas penyakit. Peningkatan nilai
LED menunjukkan suatu proses inflamasi dalam tubuh seseorang, baik inflamasi
akut maupun kronis, atau adanya kerusakan jaringan. Hasil pemeriksaan LED
walaupun tidak dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis etiologik, tetapi
secara praktis masih rutin digunakan di klinik, karena selain prosedurnya
sederhana dan mudah, juga ekonomis, praktis, dan dapat sebagai pemeriksaan
point-of-care (dekat pasien), dan tetap mempunyai arti klinis yang penting
(Gandasoebrata. 2008).
1. Aplikasi
Laju endap darah (LED) memiliki signifikansi klinis dengan penyakit sel sabit,

13
osteomyelitis, stroke (LED ≥28mm/jam memiliki prognosis yang lebih buruk),
kanker prostat (LED ≥37mm/jam memiliki insiden perkembangan penyakit yang
lebih tinggi dan kematian), dan penyakit aeteri coroner (LED ≥22mm/jam pada
orang kulit putih memiliki resiko tinggi untuk penyakit arteri koroner). Pada
kehamilan,LED cukup meningkat, mulai minggu 10-12, dan kembali normal
sekitar 1 bulan setelah melahirkan. LED meningkat secara nyata pada gangguan
monoclonal protein darah, seperti beberapa myeloma atau makroglobulinemia,
dalam hiperglobulinemia poliklonal karena peradangan parah, dan dalam
hyperfibrinogenemia (Kiswari, 2014).
LED meningkat pada penyakit inflamasi aktif seperti artritis rheumatoid,
infeksi, kronis, penyakit kolagen dan neoplastic. LED ini memiliki sedikit nilai
diagnostic tetapi dapat berguna untuk pemantauan penyakit. Pemeriksaan lebih
sederhana dibandingkan dengan pengukuran serum protein, yang cenderung untuk
menggantikan LED (Kiswari, 2014).
Karena hasil LED sering normal pada pasien dengan neoplasma, penyakit
jaringan ikat dan infeksi, maka hasil LED yang normal tidak bisa digunakan untuk
menyingkirkan kemungkinan diagnostic. LED berguna dan dapat digunakan
dalam menegakan diagnosis dan memantau reumatik polimialgia arteritis
temporal, biasanya presentase melebihi 90mm/jam. LED digunakan dalam
mengevaluasi artetritis temporal, septik artritis, penyakit radang panggul, dan
radang usus buntu. Pada penyakit Hodgkin, LED mungkin sangat berguna untuk
prognosis karena tidak adanya gejala sistemik (demam, berat badan menurun,
keringat malam). Dalam suatu penelitian, sepertiga dari pasien tanpa disertai
gejala, ESR kurang dari 10mm/jam, dan menunjukan prognosis yang sangat baik,
tanpa memandang umur, derajat, penyakit atau histopatologi (Kiswari, 2014).
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi laju endap darah diantaranya
yaitu (Kiswari, 2014):
a. Faktor eritrosit
Faktor terpenting yang menentukan kecepatan endapan eritrosit adalah ukuran
atau massa dari partikel endapan. Pada beberapa penyakit dengan gangguan
fibrinogen plasma dan globulin, dapat menyebabkan perubahan permukaan

14
eritrosit dan peningkatan laju endap darah. Laju endap darah berbanding terbalik
dengan viskositas plasma.
b. Faktor plasma
Beberapa protein plasma mempunyai muatan positif dan mengakibatkan
muatan permukaan eritrosit menjadi netral, hal ini menyebabkan gaya menolak
eritrosit menurun dan mempercepat terjadinya agregasi atau endapan eritrosit.
Beberapa protein fase akut memberikan kontribusi terjadinya agregasi.
c. Faktor teknik dan mekanik
Faktor terpenting pemeriksaan laju endap darah adalah tabung harus benar-
benar tegak lurus. Perubahan dan menyebabkan kesalahan sebesar 30%. Selain itu
selama pemeriksaan rak tabung tidak boleh bergetar atau bergeser. Panjang
diameter bagian dalam tabung laju endap darahjuga mempengaruhi hasil
pemeriksaan.
3. Hubungan kondisi klinis dengan LED

1. LED meningkat pada semua kondisi dimana ada kerusakan jaringan atau
masuknya protein asing ke dalam darah, kecuali untuk infeksi ringan lokal.
2. Penetapan LED berguna untuk memeriksa kemajuan penyakit, jika kondisi
pasien meningkat, LED cenderug turun. Jika kondisi pasien semakin parah,
LED cenderung naik, namun tidak ditujukan untuk diagnostik penyakit
tertentu.
(Kiswari, 2014).
Peningkatan kadar kolesterol juga mempengaruhi kecepatan
sedimentasi meskipun kecil pengaruhnya. Albumin memperlambat
sedimentasi. Oleh karena itu, peningkatan fibrinogen dalam kondisi apapun
(semua penyebab kerusakan jaringan seperti tuberkoulosis dan infeksi kronis
lainnya) atau globulin (demam reumatik, mieloma, kalaazar, dll ) akan
menyebabkan peningkatan laju endap darah.Jumlah eritrosit yang tinggi,
cenderung untuk menurunkan tingkat sedimentasi, sementara jumlah sel darah
yang rendah cenderung untuk mempercepat laju sedimentasi. Pada anemia sel
sabit, pembentukan rouleaux cenderung untuk terhambat karna sedimentasi akan
berlangsung lambat, demikian pula pada anemia hipokromik, karena bentuk
mikrosit akan menghalangi pembentukan rouleaux (Kiswari, 2014).

15
Tingkat laju endap darah pada wanita lebih besar dibandingkan pada pria,
dan berhubungan dengan perbedaan dalam PVC. Selama masa kehamilan, LED
akan meningakt setelah 3 bulan kehamilan dan kembali normal dalam 3-4 minggu
setelah melahirkan. LED rendah pada bayi dan meningkat secara bertahap hingga
pubertas yang kemudian menurun kembali pada usia tua (Kiswari, 2014).
LED merupakan penanda yang berguna tetapi tidak spesifik terhadap
peradangan yang mendasarinya. Ketika darah vena dengan antikoagulan
ditempatkan di tabung vertikal, eritrosit akan cenderung mengendap. Panjang
kolom endapan eritrosit selama suatu interval waktu tertentu disebut laju endap
darah (Kiswari, 2014).
4. Makna LED dalam klinik
LED yang normal dapat memberikan petunjuk kemungkinan tidak adanya
penyakit organ yang serius. Sebaliknya, pada LED yang tidak normal, perlu
dilakukan pemeriksaan penunjang lain untuk menentukan diagnosis pasti. LED
adalah jenis pemeriksaan yang bersifat tidak spesifik, artinya LED bisa meningkat
pada semua penyakit atau dalam keadaan patologi bila terjadi peradangan,
degenerasi, atau neokrosis jaringan. Nilai LED umunya tetap dalam batas normal
pada penyakit-penyakit infeksi local yang kecil atau infeksi akut, misalnya
apendisitis akut, infeksi selaput lendir dengan sedikit reaksi radang dan pada lesi-
lesi kulit, keadaan alergi yang tidak disertai infeksi, difisensi nutrisi, hipertensi
tanpa komplikasi, serta gagal jantung terkompensasi. Akan tetapi sebaliknya LED
menjadi sangat meninggi pada tuberculosis, infeksi kronis, demam reumatik,
artritis dan nefritis (Kiswari, 2014).
5. Hal-hal penting yang berkaitan dengan LED
1. LED sebaiknya jangan digunakan sebagai pemeriksaan penyaring terhadap
seseorang yang asimptomatik (tidak terdapat gejala penyakit).
2. LED digunakan untuk iterpretasi bila pemeriksaan fisik gagal untuk
mendiagnosis secara spesifik.
3. Apabila tidak ada penjelasan mengenai sebab meningkatnya LED, maka
pemeriksaan bisa diulangi beberapa bulan lagi.
4. LED di indikasikan sebagai pemeriksan untuk mendiagnosis dan memantau
polimalgia reumatika dan artritis reumatoid.

16
5. LED bermanfaat untuk memantau terapi pasien penderita penyakit Hodgkin.
(Kiswari, 2014)
6. Faktor-faktor yang terlibat dalan proses pengukuran LED
1. Faktor plasma
LED dipercepat oleh peningkatan kadar fibrinogen dan globulin. Molekul-
molekul protein asimetris memiliki efek yang lebih besar dari protein lain dalam
menurunkan muatan negatikf eritrosit (potensial zeta) yang cenderung
memisahkannya. Penurunan potensial zeta memudahkan pembentukan rouleaux
sehingga lebih cepat mengendap dibandingkan sel tunggal. Menghilangkan
fibrinogen (defibrinasi) akan menurunkan LED. Albumin dan lesitin menghambat
sedimentasi, sedangkan kolestrol mempercepat LED(Kiswari, 2014).
2. Faktor eritrosit
Anemia meningkatkan LED karena perubahan rasio eritrosit, plasma akan
memudahkan pembentuka rouleaux, terlepas dari perubahan konsentrasi protein
plsama. Tingkat sedimentasi berbanding lurus dengan berat sel agregrat dan
berbanding terbalik dengan luas permukaan. Mikrosit yang mengalami penurunan
luas permukaan atau rasio terhadap volume mengendap lebih lambat daripada
makrosit. Rouleaux juga menyebabkan penurunan permukaan rasio volume
sehingga mempercepat LED. Eritrosit dengan bentuk yang abnormal atau tidak
teratur, seperti sel sabit atau sferosit, menghambat pembentukan rouleaux
sehingga menurunkan LED (Kiswari, 2014).
7. Fase-fase pengendapan eritrosit
1. Fase pertama (fase pembentukan rouleaux)
Pada fase ini terjadi rouleaux formasi yaitu eritrosit mulai saling
menyatukan diri. Waktu yang dibutuhkan adalah dari beberapa menit hingga 30
menit. Adanya makromolekul dengan konsentrasi tinggi di dalam plasma,
dapat mengurangi sifat saling menolak di antara sel eritrosit, dan
mengakibatkan eritrosit lebih mudah melekat satu dengan yang lain, sehingga
memudahkan terbentuknya rouleaux. Rouleaux adalah gumpalan eritrosit yang
terjadi bukan karena antibodi atau ikatan konvalen, tetapi karena saling tarik-
menarik di antara permukaan sel. Bila perbandingan globulin terhadap albumin
meningkat atau kadar fibrinogen sangat tinggi, pembentukan rouleaux

17
dipermudah hingga LED meningkat (Kiswari, 2014).

Gambar 2.5 Fase Terjadi Rouleaux


2. Fase kedua (fase pengendapan cepat)
Fase ini disebut juga fase pengendapan maksimal, karena telah
terjadi agregasi atau pembentukan rouleaux atau dengan kata lain
partikelpartikel eritrosit menjadi lebih besar dengan permukaan yang lebih
kecil sehingga menjadi lebih cepat pula pengendapannya. Kecepatan
pengendapan pada fase ini adalah konstan. Waktunya 30 menit sampai 120
menit(Kiswari, 2014).
3. Fase ketiga (fase pengendapan lambat/ pemadatan)
Fase ini terjadi pengendapan eritrosit yang sangat lambat. Dalam keadaan
normal dibutuhkan waktu setengah jam hingga satu jam untuk mencapai fase
ketiga tersebut. Pengendapan eritrosit ini disebut sebagai laju endap darah dan
8. Macam-macam metode pemeriksaan LED (Kiswari, 2014):
Pemeriksaan LED dikenal dengan dua metode, yaitu:
a. Metode Westergren
b. Metode Wintrobe
Dalam keadaan normal nilai LED jarang melebihi 10mm per jam. LED
ditentukan dengan mengukur tinggi cairan plasma yang kelihatan jernih berada di
atas sel darah merah yang mengendap pada akhir 1 jam (60 menit). Nilai LED
meningkat pada keadaan seperti kehamilan (35mm/jam), menstruasi, TBC paru-
paru (65 mm/jam) dan pada keadaan infeksi terutama yang disertai dengan
kerusakan jaringan. Metode yang dianjurkan oleh ICSH (International Comunitet
for Standardization in Hematology) adalah cara Westergren. Kedua metode
tersebut antara lain sebagai berikut (Kiswari, 2014).

18
A. Pemeriksaan LED metode Westergreen
Prinsip kerja dari pemeriksaa LED atau laju endap darah adalah darah yang
telah diencerkan dengan antikoagulan natrium citrate akan mengendap dalam satu
satuan waktu tertentu bila diletakkan dalam keadaan tegak lurus. Bahan yang
dibutuhkan pada pemeriksaan ini adalah sampel darah vena (Kiswari, 2014).
Variasi nilai Laju Endap Darah menurut metode Westergren (Kiswari, 2014):
Dewasa:
a. Pria <50 tahun = kurang dari 15mm/jam,
b. Pria >50 tahun = kurang dari 20 mm/jam,
c. Wanita <50 tahun = kurang dari 20 mm/jam
d. Wanita >50 tahun = kurang dari 30 mm/jam
Anak-anak:
a. Baru lahir = 0 – 2 mm/jam
b. Baru lahir sampai masa puber = 3 – 13 mm/jam
Cara kerja pada pemeriksaan ini adalah pertama darah vena 4 bagian
ditambahkan natrium sitrat 3,8 %, 1 bagian.bila darah EDTA encerkan dengan
saline (perbandingan 4 : 1). Selanjutnya homogenisasi sampel sebelum diperiksa.
Sampel darah yang telah diencerkan tersebut kemudian dihisap ke dalam tabung
Westergreen sampai tanda/skala 0. Pipet harus kering dan bersih, lalu tabung akan
diletakkan pada rak dengan posisi tegak lurus,jauhkan dari getaran maupun sinar
matahari langsung. Biarkan tepat 1 jam dan catatlah berapa mm penurunan
eritrosit (Kiswari 2014).
Nilai Rujukan Metode Westergreen (Kiswari 2014):
Pria: 0 – 15 mm/jam
Wanita: 0 - 20 mm/jam

Gambar 2.6 Alat yang digunakan pada LED metode Westergreen


B. Pemeriksaan LED metode Wintrobe
Prinsip kerja dari pemeriksaa LED atau laju endap darah adalah darah yang

19
telah diencerkan dengan antikoagulan natrium citrate akan mengendap dalam satu
satuan waktu tertentu bila diletakkan dalam keadaan tegak lurus. Bahan yang
dibutuhkan pada pemeriksaan ini adalah sampel darah vena yang ditambahkan
antikoagulan EDTA (Kiswari, 2014).
Alat yang dbutuhkan dalam pengukuran metode LED adalah tabung
wintrobe dan raknya, pipet Pasteur, dan timer. Cara kerja pada metode ini adalah
pertama mengisi tabung Wintrobe dengan memakai pipet Pasteur sampai garis
tanda nol. Lakukan secara hati – hati, jangan sampai terjadi gelembung udara.
Selanjutnya Letakkan tabung berdiri vertikal pada raknya dan catat waktunya
sesudah tabung itu diletakkan berdiri vertikal. Catat LED sesudah 1 jam, nyatakan
dalam mm/jam (Kiswari 2014).
Nilai Normal adalah sebagai berikut (Kiswari 2014).
Laki – laki : 0-20 mm/jam
Wanita : 0-10 mm/jam

Gambar 2.7 cara pemeriksaan LED metode Wintrobe


9. Nilai Abnormal Laju Endap Darah
Apabila laju endap darah itu sangat tinggi maka muatan itu tidak negatif lagi
tetapi berubah menjadi netral. Pada suatu peradangan, interleukin yang berasal

dari granulosit-granulosit yang rusak, merangsang sel hati untuk meningkatkan


produksi fibrinogen. Protein yang memegang peranan utama dalam proses
pembekuan darah, hanya dibuat dalam hati.Kadar fibrinogen dalam darah akan

20
naik dan fibrinogen membentuk suatu lapisan tipis di sekeliling eritrosit, sehingga
eritrosit akan kehilangan muatan listrik negatif dan membentuk deretan uang
logam.Apabila dilihat secara mikroskopis akan terlihat seperti gambar di bawah
ini
Gambar 2.8 Abnormal laju endap darah
2.3.4 Hitung sel-sel darah
1. Hitung leukosit
Leukosit disebut juga sel darah putih, sel ini memiliki inti tetapi tidak
memiliki bentuk sel yang tetap dan tidak berwarna. Mempunyai granula spesifik
(granulosit), inti bentuk bulat seperti ginjal. Terdapat dua jenis leukosit agranuler
yaitu limfosit dan monosit. Terdapat tiga jenis granuler: neutrofil, basofil,
asidofil atau eosinofil yang dapat dibedakan dengan afinitas granula terhadap zat
warna netral, basa dan asam (Efendi,2003).
Sel leukosit mempunyai peranan penting, leukosit menyediakan
pertahanan yang cepat dan kuat terhadap setiap bahan infeksius yang mungkin
ada. Peningkatan leukosit dijumpai pada infeksi yang disebabkan bakteri maupun
mikroba lain yang infeksius dan toksik. Pada radang akut yang berperan yaitu
netrofil dan monosit. Sedangkan yang radang kronik yang berperan yaitu
makrofag dan limfosit (Sadikin MH, 2002).
Leukosit meningkat melebihi 10.000 sel/mm3 disebut leukositosis. Karena
lekosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh dari
serangan mikroorganisme. Leukositosis reaktif kadang-kadang menunjukkan
gambaran yang meriah dengan masuknya leukosit muda maupun yang matang
kedalam darah tepi dalam jumlah lebih. Reaksi leukomid akan menyatakan
lekosit yang meningkat dan meningkatnya bentuk imatur. Ini akibat dari bentuk
respon toksik, infeksi, dan peradangan(Sadikin MH, 2002).
Dalam melakukan perhitungan jumlah kadar leukosit pada seseoran,
adapun tahapan pemeriksaan yang dapat dilakukan menurut Kiswari (2014) :
a. Reagen dan alat :
1. Larutan pengencer leukosit (Turk)

2. Pipet thoma untuk leukosit yang dilengkapi aspirator

3. Bilik hitung Neubauer Improved dan kaca penutup

21
4. Kasa-alkohol

5. Mikroskop konvensional

Gambar 2.9 Alat hemositometer

b. Cara kerja :

1. Dengan pipet Thoma, isap darah sampai tanda 0,5

2. Selanjutnya dengan pipet tersebut, isap larutan Turk sampai tanda 11


(jangan memipet dengan mulut), dalam hal ini akan menghasilkan
pengenceran 1:20.

3. Lepaskan tabung aspirator,beri label dan letakkan pipet pada “pipette


shaker” (bila ada) atau secara manual selama 5-10 menit untuk
memastikan pencampuran berlangsung naik dan eritrosit telah lisis
sempurna.

4. Bersihkan bilik hitung dan kaca penutup.

5. Ambil pipet yang berisi spesimen yang telah tercampur. Buang 5-6 tetes
pertama, satu tetes berikutnya deletakan pada bilik hitung. Jangan sampai
terjadi gelembung udara atau kelebihan spesimen dalam bilik hitung.

6. Biarkan beberapa menit bilik hitung yang berisi spesimen agar leukosit
mengendap. Agar tidak kering, bilik hitung dimasukan ke dalam cawan
petri yang berisi kasa basah dan ditutup
7. Letakan bilik hitung pada mikroskop dan lakukan pembacaan dengan
pembesaran 10x. Leukosit dihitung pada 4 kotak besar disudut. Masing-
masing kotak tersebut terbagi menjadi 16 kotak sedang.

22
8. Mulailah menghitung dari sudut kiri atas, terus ke kanan; kemudian turun
ke bawah dan dari kanan ke kiri; lalu turun lagi kebawah dan mulailah lagi
dan kiri ke kanan. Cara seperti ini dilakukan pada keempat “bidang besar”
9. Kadang-kadang ada sel-sel yang letaknya menyinggung garis batas suatu
bidang sel-selnya yang menyinggung garis-batas sebelah kiri atau garis-
atas, harus dihitung sebaliknya, sel-sel yang menyinggung garis-batas
sebelah kanan atau bawah, tidak boleh dihitung.
c. Perhitungan leukosit:
Darah diencerkan dalam pipet leukosit, kemudian dimasukan ke dalam
kamar hitung. Jumlah leukosit dihitung dalam volume tertentu, dengan
menggunakan faktor konversi jumlah leukosit per mL darah. Perhitungan
dilakukan untuk semua leukosit yang terdapat dalam keempat “bidang besar”
pada sudut-sudut kotak “seluruh permukaan yang dibagi” (Kiswari, 2014).

Total leukosit = leukosit yang ditemukan X factor pengencer X factor koreksi


volume

Pengenceran yang terjadi dalam pipet adalah 20x. Faktor koreksi volume
adalah 2,5. Angka itu berasal dari leukosit yang dihitung dalam 1µL dibagi
volume leukosit yang dihitung (pada bilik hitung) yaitu 0,4 µL. Misalnya,
ditemukan leukosit sejumlah 180 sel, maka:
Jumlah leukosit : 180 x 20 x 2,5 = 9000/ mL atau 180 x 50 = 9000/ mL
Nilai normal : 4,5-10 x 103 ribu/mL
(Kiswari, 2014).
d. Prinsip Kerja Hitung Leukosit
Spesimen yang mengandung elemen selular seperti leukosit dan eritrosit,
dicampur dengan larutan pengencer pada volume tertentu. Larutan pengencer
akan melisis eritrosit sehingga leukosit mudah dihitung. Hitung leukosit secara
manual sangat bermanfaat pada kasus jumlah leukosit sangat sedikit (Kiswari,
2014).

2. Hitung Eritrosit
Sel darah merah atau eritrosit adalah sel yang sangat penting untuk makhluk

23
hidup. Sel eritrosit termasuk sel yang terbanyak di dalam tubuh manusia. Dalam
keadaan fisiologik, darah selalu berada dalam pembuluh darah sehingga dapat
menjalankan fungsinya sebagai pembawa oksigen, mekanisme pertahanan tubuh
terhadap infeksi dan mekanisme hemostatis. Darah terdiri dari dua komponen
utama, pertama plasma darah yaitu bagian darah yang terdiri dari air, elektrolit
dan protein darah, kedua sel-sel darah merah yang terdiri dari sel darah merah
(eritrosit), sel darah putih (lekosit) dan keping darah (trombosit) (Indah V dan
Tristyanto, 2012).
Pembentukan dan pematangan eritrosit di dalam sumsum tulang selama 7 hari.
Dalam darah perifer inti umumnya sudah hilang. Retikulosit adalah sel eritrosit
termuda yang mengandung RNA, yang jumlahnya cukup untuk menggantikan
eritrosit yang mati. Kira-kira 10% dari eritrosit dalam darah perifer adalah
retikulosit hal ini hanya 1% dari jumlah jangka hidup eritrosit. Sedangkan
panjang masa hidup eritrosit setelah pelepasan dari sumsum tulang kurang lebih
120 hari sampai mengalami penuaan dan dekstruksi (Kosasih E.N dan Kosasih
A.S, 2008).
Penurunan jumlah eritrosit dapat dijumpai pada anemia, peningkatan
hemolisis, kehilangan darah (perdarahan), trauma, leukemia, infeksi kronis,
mieloma multiple, cairan per intra vena berlebih, gagal ginjal kronis, kehamilan,
dehidrasi berlebih, defisiensi vitamin, malnutrisi, infeksi parasit, penyakit sistem
endokrin, intoksikasi (Kosasih E.N dan Kosasih A.S, 2008).
Peningkatan jumlah eritrosit dijumpai pada polisitemia vera,
hemokonsentrasi/dehidrasi, penduduk yang tinggal di dataran tinggi, dan penyakit
kardiovaskuler. Nilai normal eritrosit pada pria dewasa 4,5-6,5jt/mm 3 dan pada
wanita dewasa 3,8-4,8jt/mm3(Riswanto, 2013). Dua metode yang bisa digunakan
pemeriksaan eritrosit adalah manual dan otomatis (Kiswari, 2014).
Dalam melakukan perhitungan jumlah kadar leukosit pada seseoran, adapun
tahapan pemeriksaan yang dapat dilakukan menurut Kiswari (2014) :
a. Bahan :
Sebagai pengencer digunakan larutan Hayem, yang terdiri dari :
1. Natrium sulfat (berisi kristal) 5g
2. Natrium klorida 1g

24
3. Merkuri klorida 0,5g
4. Aquadest ad 200ml
Selain itu, juga boleh dipakai larutan Gowers (Larutan ini harus disaring
sebelum digunakan) yang terdiri dari :
1. Natrium sulfat 12,5g
2. Asam asetat glasial 33,3ml
3. Aquadest ad 200ml
b. Cara kerja :
1. Mengisi pipet eritrosit.
Caranya sama seperti cara mengisi pipet leukosit, yaitu darah diisap sampai
garis-tanda 0,5 dan larutan pengencer sampai garis-tanda 101.
2. Mengisi kamar hitung caranya sama seperti pada menghitung leukosit
3. Menghitung jumlah sel
a. Turunkan lensa koridensor atau kecilkan diagfragma. Meja mikroskop
harus dalam sikap rata air
b. Aturlah fokus terlebih dahulu dengan memakai lensa objektif kecil (10x),
kemudian lensa tersebut diganti dengan lensa objektif besar (40x) sampai
garis-garis bagi dalam bidang besar tengah nampak jelas.
4. Hitunglah semua eritrosit yang terdapat dalam 5 bidang yang tersusun dari
16 bidang kecil, pada keempat sudut bidang besar ditambah yang berada di
tengah-tengah. Cara menghitung eritrosit sama seperti menghitung jumlah
leukosit, yaitu mulai dari kiri kenan kemudian dari kanan ke kiri, dan
seterusnya. Kepastian untuk menghitung ada tidaknya eritrosit yang
menyinggung garis-batas, sama juga seperti untuk menghitung leukosit.
c. Perhitungan eritrosit:
Dalam melakukan perhitungan terhadap eritrosit dilakukan sebuah
pengenceran yang dimana pengenceran dalam pipet eritrosit adalah 200 kali. Luas
setiap bidang kecil 1/400mm2, tinggi 1/10mm, sedangkan eritrosit dihitung dalam
5x16 bidang kecil = 80 bidang kecil, yang jumlah luasnya 1/5 mm2. Faktor untuk
mendapatkan jumlah eritrosit per µL darah menjadi (Kiswari, 2014):

5 x 10 x 200 = 10.000

25
Misalnya, ditemukan 400 eritrosit, maka jumlah eritrosit adalah :
400 x 10.000 = 4.000.000 µL
Nilai normal :
Laki laki : 4,6-6,2 x 106 /mL
Wanita : 4,2-5,4 x 106 /mL
d.Prinsip Perhitungan eritrosit:
Darah diencerkan dalam pipet eritrosit, kemudian dimasukan kedalam
kamar hitung. Jumlah eritrosit dihitung dalam volume tertentu dengan
menggunakan faktor konversi. Dengan demikian jumlah eritrosit setiap mL
darah dapat dihitung (Kiswari, 2014).
3. Hitung Retikulosit
Hitung retikulosit umumnya menggunakan metode pewarnaan supravital.
Sampel darah dicampur dengan larutan brilliant cresyl blue (BCB) atau new
methylene blue maka ribosom akan terlihat sebagai filament berwarna biru.
Jumlah retikulosit dihitung per 1000 eritrosit dan dinyatakan dalam %, jadi
hasilnya dibagi 10 (Sutedjo, AY. 2006).
Retikulosit adalah sel-sel eritrosit muda yang telah kehilangan inti sel, dan
mengandung sisa-sisa asam ribonukleat di dalam sitoplasmanya, serta masih dapat
mensintesis hemoglobin. Retikulosit di dalam perkembangannya melalui 6 tahap:
pronormoblast, basofilik normoblas, polikromatofilik normoblas, ortokromik
normoblas, retikulosit, dan eritrosit. Dalam keadaan normal keempat tahap
pertama terdapat pada sumsum tulang. Retikulosit terdapat baik pada sumsum
tulang maupun darah tepi. Di dalam sumsum tulang memerlukan waktu kurang
lebih 2 – 3 hari untuk menjadi matang, sesudah itu lepas ke dalam darah. (Rodak
dan Bell, 2002: 202)
a. Prinsip Hitung Retikulosit
Retikulosit dalam darah diwarnai dengan cara supravital, kemudian
jumlahnya dibandingkan dengan jumlah eritosit dan dinyatakan dalam % atau
promil. Dalam melakukan perhitungan jumlah kadar leukosit pada seseoran,
adapun tahapan pemeriksaan yang dapat dilakukan menurut Kiswari (2014):

Reagen pewarna yang digunakan adalah dengan formula sebagai berikut:

26
1. Larutan brilliant crecyl blue 1 g
2. NaCl 0,85 g
3. Citrat natricus 0,40 g
4. Aquadest 100 mL
Persentanse dari jumlah retikulosit:

Jumlah retikulosit
Kadar retikulosit (%) = × 100 %
1000 eritrosit
Retikulosit per L darah : Kadar %  Jumlah eritrosit per L darah
Nilai Rujukan
Dewasa : 0.5 - 1.5 %
Bayi baru lahir : 2.5 - 6.5 %
Bayi : 0.5 - 3.5 %
Anak : 0.5 - 2.0 %
4. Hitung Trombosit
Trombosit adalah elemen terkecil dalam pembuluh darah. Trombosit
diaktivasi setelah kontak dengan permukaan dinding endotelia. Trombosit
terbentuk dalam sumsum tulang. Masa hidup trombosit sekitar 7,5 hari. Sebesar
2/3 dari seluruh trombosit terdapat disirkulasi dan 1/3 nya terdapat di limfa.
Pemeriksaan hitung jumlah trombosit dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
secara langsung dan tidak langsung (Kiswari, 2014).

NILAI RUJUKAN
Nilai Rujukan Normal Jumlah Trombosit
Laki-Laki Dewasa 150.000 – 440.000 sel/mm3
Wanita Dewasa 150.000 – 400.000 sel/mm3

a. Hitung Trombosit Cara Langsung


Hitung trombosit dengan cara langsung dilakukan dengan menggunakan
larutan pengencer Rees ecker dan Amonium oksalat 1%. Larutan pengencer Rees
ecker memiliki kelebihan dibandingan dengan Amonium oksalat 1%, yaitu
(Kiswari, 2014):
a) Eritrosit tidak dilisiskan, maka disamping dapat dilihat trombosit juga dapat
dilihat sel eritrosit.
b) Trombosit lebih jelas terlihat karena kandungan BCB di dalam reagen Rees

27
ecker yang dapat mewarnai trombosit sehingga jelas
Namun karena harga Rees ecker yang lebih mahal, beberapa laboratorium
masih menggunakan amonium oksalat sebagai larutan pengencer dengan alasan
lebih ekonomis. Kesalahannya dapat terjadi karena faktor teknis atau pengenceran
yang tidak akurat, adalah pencampuran yang belum merata dan adanya perlekatan
trombosit atau agregasi (Kiswari, 2014).
Penghitung sel otomatis mampu mengukur secara langsung
hitung trombosit selain hitung lekosit dan hitung eritrosit. Sebagian
besar alat menghitung trombosit dan eritrosit bersama-sama, namun keduanya
dibedakan berdasarkan ukuran. Partikel yang lebih kecil dihitung sebagai
trombosit dan partikel yang lebih besar dihitung sebagai eritrosit. Dengan alat ini,
penghitungan dapat dilakukan terhadap lebih banyak trombosit (Kiswari, 2014).
Sumber kesalahan:
 Jumlah lekosit lebih dari 100.000/mm3
 Fragmentasi eritrosit yang berat
 Cairan pengencer berisi partikel-partikel eksogen
 Sampel sudah terlalu lama didiamkan sewaktu pemrosesan atau apabila
trombosit saling melekat (Rahajuningsih D., 2007).
b. Hitung trombosit secara tidak langsung
Cara ini menggunakan sediaan apus darah yang diwarnai dengan pewarna
Wright, Giemsa atau May Grunwald. Sel trombosit dihitung pada bagian sediaan
dimana eritrosit tersebar secara merata dan tidak saling tumpang tindih. Metode
hitung trombosit tak langsung adalah metode Fonio yaitu jumlah trombosit
dibandingkan dengan jumlah eritrosit, sedangkan jumlah eritrosit itulah yang
sebenarnya dihitung. Cara ini sekarang tidak digunakan lagi karena tidak praktis,
dimana selain menghitung jumlah trombosit, juga harus dilakukan hitung eritrosit.
Penghitungan trombosit secara tidak langsung yang menggunakan sediaan apus
dilakukan dalam 10 lp x 2000 atau 20 lp x 1000 memiliki sensitifitas dan
spesifisitas yang baik untuk populasi trombosit normal dan tinggi (trombositosis).
Menghitung jumlah trombosit pada sediaan apus darah yang telah diwarnai. Cara
ini cukup sederhana, mudah dikerjakan, murah dan praktis (Kiswari, 2014).

28
Gambar 2.10 Bilik hitung serta garis pada bilik hitung
a) Keunggulan : dapat mengungkapkan ukuran dan morfologi trombosit, tetapi
b) Kekurangan : perlekatan ke kaca obyek atau distribusi yang tidak merata di
dalam apusan dapat menyebabkan perbedaan yang mencolok dalam
perhitungan konsentrasi trombosit.
Hitung trombosit adekuat apabila apusan mengandung satu trombosit per dua
puluh eritrosit, atau dua sampai tiga trombosit per lapang pandang besar (minyak
imersi). Pemeriksaan apusan harus selalu dilakukan apabila hitung
trombosit rendah karena penggumpalan trombosit dapat menyebabkan
hitung trombosit rendah palsu. Uji laboratorium untuk menilai kualitas
trombosit adalah agregasi trombosit, retensi trombosit, retraksi bekuan,
dan antibody anti trombosit. Sedangkan uji laboratorium untuk menilai
kuantitas trombosit adalah masa perdarahan (bleeding time) dan hitung
trombosit (Azhari Muslim, 2015).

2.4 Implikasi Klinis Masing-Masing Jenis Pemeriksaan Hematologi


2.4.1 Implikasi Klinis Pemeriksaan Hemoglobin
a. Penurunan nilai Hb dapat terjadi pada anemia (terutama anemia karena
kekurangan zat besi), sirosis, hipertiroidisme, perdarahan, peningkatan
asupan cairan dan kehamilan.
b. Peningkatan nilai Hb dapat terjadi pada hemokonsentrasi (polisitemia, luka
bakar), penyakit paru-paru kronik, gagal jantung kongestif dan pada orang
yang hidup di daerah dataran tinggi.
c. Konsentrasi Hb berfl uktuasi pada pasien yang mengalami perdarahan dan
luka bakar.

29
d. Konsentrasi Hb dapat digunakan untuk menilai tingkat keparahan anemia,
respons terhadap terapi anemia, atau perkembangan penyakit yang
berhubungan dengan anemia.
(Kemenkes RI, 2011)
2.4.2 Implikasi Klinis Pemeriksaan Hematokrit
a. Penurunan nilai Hct merupakan indikator anemia (karena berbagai sebab),
reaksi hemolitik, leukemia, sirosis, kehilangan banyak darah dan hipertiroid.
Penurunan Hct sebesar 30% menunjukkan pasien mengalami anemia sedang
hingga parah.
b. Peningkatan nilai Hct dapat terjadi pada eritrositosis, dehidrasi, kerusakan
paru-paru kronik, polisitemia dan syok.
c. Nilai Hct biasanya sebanding dengan jumlah sel darah merah pada ukuran
eritrosit normal, kecuali pada kasus anemia makrositik atau mikrositik.
d. Pada pasien anemia karena kekurangan besi (ukuran sel darah merah lebih
kecil), nilai Hct akan terukur lebih rendah karena sel mikrositik terkumpul
pada volume yang lebih kecil, walaupun jumlah sel darah merah terlihat
normal.
e. Nilai normal Hct adalah sekitar 3 kali nilai hemoglobin.
f. Satu unit darah akan meningkatkan Hct 2% - 4%.
(Kemenkes RI, 2011)
2.4.3 Implikasi Klinis Pemeriksaan LED
a. Nilai meningkat terjadi pada: kondisi infeksi akut dan kronis, misalnya
tuberkulosis, arthritis reumatoid, infark miokard akut, kanker, penyakit
Hodkin’s, gout, Systemic Lupus Erythematosus (SLE), penyakit tiroid, luka
bakar, kehamilan trimester II dan III. Peningkatan nilai LED > 50mm/ jam
harus diinvestigasi lebih lanjut dengan melakukan pemeriksaan terkait
infeksi akut maupun kronis, yaitu: kadar protein dalam serum dan protein,
immunoglobulin, Anti Nuclear Antibody (ANA) Tes, reumatoid factor.
Sedangkan peningkatan nilai LED >100mm/jam selalu dihubungkan dengan
kondisi serius, misalnya: infeksi, malignansi, paraproteinemia, primary
macroglobulinaemia, hiperfi brinogenaemia, necrotizing vaskulitis,
polymyalgia rheumatic

30
b. Nilai menurun terjadi pada: polisitemia, gagal jantung kongesti, anemia sel
sabit, Hipofi brinogenemia, serum protein rendah Interaksi obat dengan hasil
laboratorium: etambutol, kuinin, aspirin, dan kortison.
(Kemenkes RI, 2011).
2.4.4 Implikasi Klinis Hitung Eritrosit
a. Secara umum nilai Hb dan Hct digunakan untuk memantau derajat anemia,
serta respon terhadap terapi anemia
b. Jumlah sel darah merah menurun pada pasien anemia leukemia, penurunan
fungsi ginjal, talasemin, hemolisis dan lupus eritematosus sistemik. Dapat
juga terjadi karena obat (drug induced anemia). Misalnya: sitostatika,
antiretroviral.
c. Sel darah merah meningkat pada polisitemia vera, polisitemia sekunder,
diare/dehidrasi, olahraga berat, luka bakar, orang yang tinggal di dataran
tinggi.
(Kemenkes RI, 2011)
2.4.5 Implikasi Klinis Hitung Leukosit
a. Nilai krisis leukositosis: 30.000/mm3. Lekositosis hingga 50.000/mm3
mengindikasikan gangguan di luar sumsum tulang (bone marrow). Nilai
leukosit yang sangat tinggi (di atas 20.000/mm3) dapat disebabkan oleh
leukemia. Penderita kanker post-operasi (setelah menjalani operasi)
menunjukkan pula peningkatan leukosit walaupun tidak dapat dikatakan
infeksi.
b. Biasanya terjadi akibat peningkatan 1 tipe saja (neutrofi l). Bila tidak
ditemukan anemia dapat digunakan untuk membedakan antara infeksi
dengan leukemia
c. Waspada terhadap kemungkinan leukositosis akibat pemberian obat.
d. Perdarahan, trauma, obat (mis: merkuri, epinefrin, kortikosteroid), nekrosis,
toksin, leukemia dan keganasan adalah penyebab lain leukositosis.
e. Makanan, olahraga, emosi, menstruasi, stres, mandi air dingin dapat
meningkatkan jumlah sel darah putih
f. Leukopenia, adalah penurunan jumlah leukosit <4000/mm3. Penyebab
leukopenia antara lain:

31
1. Infeksi virus, hiperplenism, leukemia.
2. obat (antimetabolit, antibiotik, antikonvulsan, kemoterapi)
3. Anemia aplastik/pernisiosa
4. Multipel myeloma
(Kemenkes RI, 2011)
2.4.6 Implikasi Klinis Hitung Retikulosit
a. Jumlah retikulosit dapat membedakan antara anemia karena kerusakan
sumsum tulang dengan anemia karena pendarahan atau hemolisis (kerusakan
sel darah) karena pendarahan atau hemolisis akan menstimulasi
pembentukan retikulosit pada pasien dengan sumsum tulang yang normal.
b. Jumlah retikulosit akan meningkat pada pasien anemia hemolitik, penyakit
sel sabit dan metastase karsinoma.
c. Jika jumlah retikulosit tidak meningkat pada pasien anemia, hal ini
menandakan sumsum tulang tidak memproduksi eritrosit yang cukup (misal
anemia kekurangan besi, anemia aplastik, anemia pernisiosa, infeksi kronik
dan terapi radiasi).
d. Setelah pengobatan anemia, peningkatan retikulosit menandakan efektifi tas
pengobatan. Setelah pemberian dosis besi yang cukup pada anemia
kekurangan besi, jumlah retikulosit akan meningkat 20%; peningkatan
secara proporsional terjadi ketika dilakukan transfusi pada anemia
pernisiosa. Peningkatan maksimum diharapkan terjadi 7-14 hari setelah
pengobatan (suplemen besi).
(Kemenkes RI, 2011).
2.4.7 Implikasi Klinis Hitung Trombosit
a. Trombositosis berhubungan dengan kanker, splenektomi, polisitemia vera,
trauma, sirosis, myelogeneus, stres dan arthritis reumatoid.
b. Trombositopenia berhubungan dengan idiopatik trombositopenia purpura
(ITP), anemia hemolitik, aplastik, dan pernisiosa. Leukimia, multiple
myeloma dan multipledysplasia syndrome.
c. Obat seperti heparin, kinin, antineoplastik, penisilin, asam valproat dapat
menyebabkan trombositopenia
d. Penurunan trombosit di bawah 20.000 berkaitan dengan perdarahan spontan

32
dalam jangka waktu yang lama, peningkatan waktu perdarahan
petekia/ekimosis.
e. Asam valproat menurunkan jumlah platelet tergantung dosis.
f. Aspirin dan AINS lebih mempengaruhi fungsi platelet daripada jumlah
platelet.
(Kemenkes RI, 2011)

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan

33
Pemeriksaan panel hematologi (hemogram) terdiri dari leukosit, eritrosit,
hemoglobin, hematokrit, indeks eritrosit dan trombosit. Pemeriksaan hitung darah
lengkap terdiri dari hemogram ditambah leukosit diferensial yang terdiri dari
neutrofil (segmented dan bands), basofil, eosinofil, limfosit dan monosit. Rentang
nilai normal untuk hasil pemeriksaan hematologi bervariasi antara bayi, anak anak
dan remaja, umumnya lebih tinggi saat lahir dan menurun selama beberapa tahun
kemudian.
Dalam pemeriksaan hematologi, sampel utama yang digunakan adalah
darah dimana darah yang paling sering digunakan dalam pemeriksaan adalah
sampel darah yang diambil dari pembuluh darah vena. Darah adalah jaringan cair
yang terdiri dari dua bagian. Bahan intraseluler adalah cairan yang disebut plasma
dan didalamnya terdapat unsur-unsur padat, yaitu sel darah merah.
Salah satu pemeriksaan hematologi adalah pemeriksaan hemoglobin.
Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dalam melakukan pemeriksaan
hemoglobin yaitu metode talquist, metode sahli dan metode cyanmethemoglobin.
Pemeriksaan hematologi lainnya adalah pemeriksaan hematokrit. Pemeriksaan
hematokrit merupakan salah satu metode yang paling teliti dan simpel dalam
mendeteksi derajat anemia atau polisitemia. Pemeriksaan LED (Laju Endap
Darah) juga merupakan salah satu jenis pemeriksaan hematologi. Pemeriksaan
laju endap darah (LED) adalah pemeriksaan kecepatan pengendapan sel-sel
eritrosit di dalam tabung berisi darah yang telah diberi antikoagulan dalam waktu
satu jam. Hitung eritrosit, leukosit, retikulosit dan trombosit juga merupakan salah
satu pemeriksaan hematologi. Hitung eritrosit
Implikasi klinis dari pemeriksaan hematologi berfungsi untuk membantu
menetapkan keadaan penderita. Salah satu implikasi klinis tersebut adalah
implikasi klinis pemeriksaan hemoglobin yaitu penurunan nilai Hb dapat terjadi
pada pasien yang menderita anemia (terutama anemia karena kekurangan zat
besi), sirosis, hipertiroidisme, perdarahan, peningkatan asupan cairan dan
kehamilan.
2. Saran
Dalam mempelajari pemeriksaan hematologi diperlukan buku standar panduan
hematologi sehingga pemahaman mengenai pengertian hematologi serta jenis

34
pemeriksaan hematologi lebih mudah dipahami.

DAFTAR PUSTAKA

Azhari Muslim, 2015. Hubungan Pemeriksaan Hitung Jumlah Trombosit Dan


Kadar Hemoglobin Pada Infeksi Malaria. Jakarta

35
Baron, D.N. 1990. Kapita Selekta Patologi Klinik. Jakarta: EGC
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Patofisiologi (diterjemahkan oleh Nkhe Budhi
Subekti). Jakarta : EGC
Effendi, N. 2003. Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta:
EGC. Ed. Ke-2 pp: 247-248.
Gandasoebrata, R. 1984. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : Dian Rakyat
Gandasoebrata. 2008. Penuntun Laboratorium Klinik. Dian Rakyat :Jakarta.
Indah V Agustina., dan Trystianto Nugroho., 201. Perbandingan Hasil
Pemeriksaan Kadar Hematokrit Mikro Pada Darah yang Mengandung
Antikoagulansia EDTA Dengan Darah Segar Tanpa Antikoagulansia,
jurnal Analis Kesehatan.Malang.
Jurnal Teknologi Laboratorium Volume 4 Nomor 1 Tahun 2015. Jakarta
Kee, Joyce LaFever. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan
Diagnostik. Jakarta: EGC)
Kiswari, Rukman. 2014. Buku Hematologi dan Transfusi. Erlangga : PT. Gelora
Aksara Pratama. Jakarta (Hal 91-133).
Kosasih, E.N dan A.S Kosasih. 2008. Tafsiran Hasil pemeriksaan Laboratorium
Klinik edisi kedua. Karisma Publishing Group : Tangerang
Lee, Joyce le Fever (ed). 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan
Diagnosti. Dialihbahasakan oleh : Sari Kurnianingsih. EGC. Jakarta.
Rahajuningsih D., 2007. Hemostasis dan Trombosis.Ed 3. ( Jakarta : FK UI ).
Ronald A. Sacher. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan
Laboratorium.Jakarta:EGC
Sadikin MH, 2002. Biokimia Darah Edisi ke-1. Jakarta: penerbit Wijaya Medika.
Savage., et al, 1989. Analytic inaccuracy and imprecision in reticulocyte
counting: a preliminary report from the College of American
Pathologists ReticulocyteProject. J Blood Cells. 1985;11(1):97-112.
Sutedjo, AY. 2006.Mengenal Penyakit Melalui Pemeriksaan Laboratorium.
Yogyakarta:Amara Books.
Watanabe, et al. 1994. Reticulocyte maturity as an indicator for estimating
qualitative abnormality of eritropoesis. J Clin Pathol. 1994
Aug;47(8):736-9.
Winarno, AA., Setyawati. IPR (Indeks Produksi Retikulosit) pada Berbagai
Klasifikasi Anemia. Makalah Bebas Nasional, 2002.

36
Wirawan, Riadi dan Silman Erwin.,1996.Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi Sederahana, Edisi ke dua Jakarta Fakultas Kedokteran UI.

37
38