PRAKTEK KLINIK KEPERAWATAN DEWASA I DI
MASYARAKAT PADA SISTEM KARDIOVASKULER
DENGAN PASIEN HIPERTENSI
“Kecamatan Pasaleman Kabupaten Cirebon”
DISUSUN OLEH :
AGHNIA NUR ZIYAN
1811020059
IV A
KEPERAWATAN S1
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN S1
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
Etiologi : Gejala Klinis Hipertensi
LAPORAN PENDAHULUAN Menurut (Widjadja,2009) penyebab hipertensi dapat Crowin (2001) menyebutkan bahwa sebagian besar
dikelompookan menjadi dua yaitu : a) Hipertensi primer atau gejala klinis timbul setelah mengalami hipertensi
esensial Hipertensi primer artinya hipertensi yang bertahun-tahun berupanyeri kepala saat terjaga,
Definisi Hipertensi belum diketahui penyebab dengan jelas. b) Hipertensi kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat
sekunder yang penyebabnya sudah di ketahui, umumnya peningkatan tekanan darah intrakranial,penglihatan
Hipertensi adalah terjadinya peningkatan tekanan
berupa penyakit atau kerusakan organ yang berhubungan kabur terjadikerusakan retina akibat hipertensi,ayunan
darah secara abnormal dan terus menerus yang
dengan cairan tubuh, misalnya ginjal yang tidak langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan
disebabkan satu atau beberapa faktor yang tidak
berfungsi, pemakaian kontrasepsi oral, dan terganggunya
berjalan sebagaimana mestinya dalam
keseimbangan hormon yang merupakan faktor pengatur
mempertahankan tekanan darah secara normal (Brian
tekanan darah. Patofisiologi
Hayens, 2003).
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi
Pemeriksaan Penunjang
pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada
Penatalaksanaan
General check up jika seseorang di duga menderita medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras
hipertensi, dilakukan beberapa pemeriksaan, yakni saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda
Menurut (Junaedi, Sufrida & Gusti, 2013) dalam
wawancara untuk mengetahui ada tidaknya riwayat spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia
penatalaksanaan hipertensi berdasarkan sifat terapi
keluarga penderita. Pemeriksaan fisik, pemeriksan simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat
terbagi menjadi 3 bagian, sebagai berikut : a) Terapi
laboratorium, pemeriksaan ECG, jika perlu pemeriksaan vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang
non-farmakologi, b) Terapi farmakologi (terapi
khusus, seperti USG, Echocaediography (USG bergerak ke bawah melaluisistem saraf simpatis ke
dengan obat), c) Terapi herbal.
jantung), CT Scan, dan lain-lain. ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion
melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut
Diagnosa Keperawatan saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana
Fokus pengkajian : dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan
Diagnosa keperawatan hipertensi yang muncul menurut (Doenges, 2000 ; Nathea, konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti
a) Aktifitas/istirahat 2008) adalah sebagai berikut : kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon
b) Sirkulasi pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi.
c) Integritas ego 1. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi Individu dengan hipertensi sangat sensitifterhadap
d) Eliminasi pembuluh darah. norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas
e) Makanan dan cairan mengapa hal tersebut bisa terjadi (Corwin,2009).
f) Neurosensorik 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidak seimbangan
g) Nyeri/ketidaknyamanan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
Intervensi keperawatan
h) Pernapasan
3. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.
i) Keamanan 1. Jelaskan semua prosedur pada pasien/keluarga.
j) Pembelajaran/penyuluhan 4. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan 2. Didiskusikan situasi khusus atau individu yang
berlebih sehubungan dengan kebutuhan metabolik. mengancam pasien dan keluarga.
3. Bantu pasien/keluarga mengidentifikasi faktor apa
5. Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping tidak efektif, yang meningkatkan rasa keamanan.
harapan yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistik. 4. Fasilitasi untuk mempertahankan kebiasaan tidur
pasien.
6. Kurang pengetahuan mengenai konndisi penyakitnya berhubungan dengan
kurangnya informasi.
Usia Elastisitas
pembuluh darah Faktor kebiasaan Obesitas
P Jumlah Nefron
Resistensi perifer Merokok LDL dan VLD
A Hormon angiostensi 1
meningkat
Perubahan atoromosus Pembuluh darah rusak
T Aldosteron tidak terbentuk
Terbentuk plak
aterosklerosis
Disfungsi sel endotel
H Volume darah tidak bisa dikontrol
Pembentukan
Konsumsi garam
Resistensi perifer
berlebihan
Sitokin
W Jenis kelamin perempuan
Peningkatan natrium
Reabsorpsi
A Jumlah hormone esterogen Natrium
Cairan tertarik
Pembentukan plak aterosklerosis ke vaskuler
Y Volume
Stress
Darah
Resistensi perifer
Cairan Aktivasi saraf
HIPERTENSI ekstravaskuler Relasin simpatis
masuk ke KATEKOLAMIN
Ekskresi garam & air Ginjal
interistil
Peningkatan
Peningkatan tekanan Epinefrin dan
Sering berkemih Otak kontraktilitas
arteri retina norepinefrin
pada malam hari Volume cairan jantung dan
diaktivkan
interistil vasokontriksi
Peningkatan tekanan Tekanan
Nokturia vaskuler otak intrakranial Penglihatan
kabur Edema Peningktan
Gangguan pola Gangguan rasa volume
Nyeri kepala
eliminasi urine nyaman Kelebihan sekuncup
Risiko
volume cairan
cedera
Nutrisi kurang dari Intake & output
Mual, muntah
kebutuhan tidak adekuat
Jantung
Kelemahan dalam Intoleransi Peningkatan
beraktifitas aktivitas preload
Brunner & Suddart
FORMAT ASKEP SINGKAT
Nama Mahasiswa : Aghnia Nur Ziyan
NIM : 1811020059
Kasus : Hipertensi (Sistem Kardiovaskuler)
Deskripsi Ny. S usia 53 tahun yang tamat pendidikan SD dan bekerja sebagai
kasus/rangkuma pedagang nasi kuning dari Desa Cilengkrang Kecamatan
n Pasaleman datang ke Pkm. P dengan riwayat hipertensi mengeluh
pengkajian : sering pusing dan pegal di pundak. Pasien mengatakan ia sering
kencing di malam hari dan hanya tidur selama 6 jam tiap harinya.
Pasien mengaku masih bisa beraktifitas mandiri seperti biasanya
tetapi sering merasa mual disertai dengan rasa pusing tersebut.
Ketika keluarga pasien diberi pertanyaan tentang penyakit yang di
derita anggota keluarganya tersebut, keluarga pasien tidak
mengetahui dan tidak menjawab dengan jelas. Pasien nampak
cemas dan mata terlihat kotor dengan hasil pemeriksaan fisik yaitu
TD : 140/90 mmHg,P : 21 x/menit, S : 36°C, dan N : 76 x/menit.
Lalu pola BAK di dapatkan hasil 20 x/hari, vol. 3 ml/hr termasuk
ke dalam kategori poliuria. Hasil laboratorium yaitu kolesterol 312
mg/dL.
Diagnose Ds : Pasien mengeluhkan sering pusing dan dan pegal di pundak
utama : Do : Pasien nampak cemas dengan pemeriksaan fisik yaitu TD :
140/90 mmHg, P : 21 x/menit, S : 36°C, dan N : 76 x/menit.
Dx : Hambatan rasa nyaman.
Intervensi : Outcome :
Status Kenyamanan
Status Kenyamanan : Fisik
1. Pasien mampu mengkomunikasikan kebutuhan.
2. Pasien mampu menjelaskan apa yang ia rasakan walau
merasa pusing.
Intervensi :
1. Jelaskan semua prosedur pada pasien/keluarga.
2. Didiskusikan situasi khusus atau individu yang mengancam
pasien dan keluarga.
3. Bantu pasien/keluarga mengidentifikasi faktor apa yang
meningkatkan rasa keamanan.
4. Fasilitasi untuk mempertahankan kebiasaan tidur pasien.
Tindakan Bantu pasien/keluarga mengidentifikasi faktor apa yang
prioritas : meningkatkan rasa keamanan.
Evalusi : Pasien/keluarga sudah diajarkan bagaimana melakukan teknik slow
deep breathing dan mereka sudah mengetahui manfaat slow deep
breathing untuk meningkatkan rasa aman Smeltzer & Bare, 2008)
(Penelitian di University of Leuven).
Masalah teratasi sebagian.
Dalam Pengawasan Perawat Puskesmas Setempat
(Mahmudin, Amd.Kep)
FORMAT PENILAIAN ASKEP
NO Komponen Penilaian Skore
.
1 Laporan Pendahuluan
Kelengkapan dalam pembuatan laopran
pendahuluan (definisi, Etiologi, Tanda
gejala, Patofisiologi, Pathway, Pemeriksaan
penunjang, Penatalaksanaan, focus
pengkajian, diagnose keperawatan yang
mungkin muncul, rencana tindakan)
2 Pengkajian
Deskripsi kasus lengkap (format SBA, data
anamesa, pemeriksaan fisik dan penunjang
lengkap)
3 Diagnosa
Ketepatan dalam diagnose keperawatan
4 Intervensi
Ketepatan dalam penyususnan tujuan dan
kriteria hasil (NOC), ketepatan dalam
menyusun intervensi keperawatan (NIC),
terdapat intervensi observasi, mandiri,
edukasi dan
kolaborasi (ONEC)
5 Implementasi
Prioritas tindakan tepat
6 Evaluasi
Dalam evalausi terdapat data subjektif dan
objektif yang jelas, melakukan analisis
dengan tepat dan menuliskan rencana
tindakan selanjutnya
Rerata
Skoring
Unsatisfactory = Skor < 70
Satisfactory = Skor 70-80
Good = Skor 80-100
Format Student Oral Case
Analisis Nama Mahasiswa : Aghnia Nur Ziyan
NIM : 1811020059
Keterangan :
1. Tidak mampu 3. Cukup mampu
2. Kurang mampu 4. Mampu
Bobot Bobot x
Bobo
No Poin Penilaian Nilai
t
1 2 3 4
1 Review Kasus Secara Umum
Kemampuan mahasiswa dalam menyusun peta konsep
dan menjelaskan hubungan antara diagnosis dengan 25
kondisi lainnya seperti etiologi, faktor risiko dan faktor
predisposisi.
2 Patofisiologi dan Patogenesis
Kemampuan mahasiswa dalam menjelaskan setiap
mekanisme terjadinya suatu penyakit yang ditandai
dengan timbulnya berbagai gejala dan tanda penyakit 20
serta kemampuan mahasiswa dalam menjelaskan
perubahan berbagai struktur tubuh yang ditunjukkan
dengan berbagai pemeriksaan penunjang.
3 Diagnosis
Kemampuan mahasiswa dalam membuat diagnosis
15
keperawatan
yang rasional didukung dengan data-data yang lengkap.
4 Manajemen atau Penatalaksanaan
Kemampuan mahasiswa dalam menjelaskan berbagai
jenis intervensi keperawatan dengan menerapkan
20
berbagai ilmu-ilmu dasar., dan kemampuan dalam
menjelaskan terapi yang ditetapkan dokter baik yang
bersifat promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif.
5 Komplikasi
Kemampuan mahasiswa dalam menjelaskan berbagai
10
komplikasi
yang mungkin terjadi pada pasien.
6 Prognosis
Kemampuan mahasiswa dalam menjelaskan prognosis 10
dari penyakit pasien.
Jumlah 100
………………………….
Nilai = (Jumlah nilai)/4 Pembimbing Akademik
( )