Anda di halaman 1dari 11

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN BAYI BARU LAHIR

DENGAN MASALAH RESIKO INFEKSI TALI PUSAT

Denis Indah Krisna Wati, Wisoedhanie Widi Anugrahanti, Maria Magdalena Setyaningsih
Prodi D-III Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Waluya Malang
Email: denisindah04@gmail.com

ABSTRAK
Bayi baru lahir (BBL) adalah bayi yang baru lahir dalam 24 jam pertama sampai usia empat minggu.
Imun pada bayi baru lahir imun belum terbentuk sempurna sehingga rentan terhadap infeksi. Infeksi
merupakan masalah serius pada bayi baru lahir. Tujuan penelitian ini untuk melaksanakan asuhan
keperawatan pada Bayi Baru Lahir dengan masalah Risiko Infeksi Tali Pusat. Desain penelitian
menggunakan metode studi kasus dengan dua bayi pada bulan Mei 2019. Penelitian dilakukan pada
bayi pertama yang lahir secara Sectio Caesarea dan bayi kedua dengan persalinan normal. Pada kedua
klien, tali pusat masih belum lepas, dan masih basah. Diagnosa keperawatan Risiko Infeksi Tali Pusat
berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer. Selama tiga hari dilakukan perawatan
tali pusat dengan metode terbuka secara baik dan benar Evaluasi yang didapatkan pada bayi pertama,
kedua, adalah masalah teratasi. Pentingnya perawatan pada tali pusat bayi baru lahir dapat mencegah
bayi terinfeksi. Oleh karena itu penting bagi bayi untuk dilakukan IMD dan minum ASI agar imun
dapat terbentuk sempurna.
kata kunci : Bayi Baru Lahir, Risiko infeksi Tali Pusat

ABSTRACT
Newborns (BBL) are newborns within the first 24 hours until the age of four weeks. Immunism in
newborns is not yet fully formed so it is vulnerable to infection. Infection is a serious problem in
newborns. The purpose of this study was to carry out nursing care in newborns with the risk of
umbilical cord infection. The study design used the case study method with two infants in May 2019.
The study was carried out on the first baby born by cesarean section and the second baby with a
normal delivery. For both clients, the umbilical cord is still not loose, and is still wet. Nursing
Diagnosis The risk of umbilical cord infection is related to the inadequacy of primary body defense.
During the three days of treatment of the umbilical cord with open methods properly and correctly
Evaluation obtained in the first baby, second, is a problem is resolved. The importance of care for the
newborn's umbilical cord can prevent the baby from becoming infected. Therefore it is important for
babies to do IMD and drink ASI so that the immune system can be formed perfectly.
keywords: Newborns, Risk of cord infection

1
Pendahuluan Rumah Sakit Panti Waluya Malang.
Bayi baru lahir (BBL) adalah bayi yang Terdapat satu bayi berumur 1 hari. Ibu
lahir selama satu jam pertama kelahiran mengatakan 3 jam sebelum persalinan
bayi sampai usia 4 minggu. Bayi Baru ketuban ibu pecah, usia kehamilan ibu 38
Lahir normal memiliki berat lahir antara minggu, berat badan lahir 2350 gram, dan
2500 – 4000 gram, cukup bulan dan lahir bayi tampak kekuningan. Berdasarkan data
langsung menangis (Donna, 2014). Bayi tersebut, bayi ditegakkan diagnosa
lahir prematur dan bayi dengan berat keperawatan Resiko infeksi.
badan lahir rendah punya risiko lebih besar
mengalami infeksi tali pusat infeksi ini Risiko infeksi tali pusat bayi baru lahir
juga berperan dalam terjadinya angka (BBL) ditandai dengan kulit kemerahan
kesakitan dan angka kematian bayi baru dan lembab. Penyebab infeksi tali pusat
lahir (BBL) di Indonesia (Hurlock, 2015). terbuka adanya paparan bakteri, sistem
kekebalan tubuh yang jauh lebih rendah
dari pada bayi normal (Setyo, 2015). Bayi
Berdasarkan penelitihan World Health
yang baru lahir dua menit akan segera
Organization WHO Tahun 2013 sampai
dipotong tali pusatnya dua sampai tiga
2014 diseluruh Dunia terdapat kematian
senti meter dari pusat umbilicus. Apabila
bayi sebesar 56 per 10.000. Penyebab
perawatan tali pusat tidak dilakukan
kematian tersebut antara lain karena
dengan baik dan benar, maka tali pusat
infeksi tali pusat. Penyebab utama infeksi
bisa menjadi jalan masuk bakteri yang
tali pusat adalah paparan bakteri sistem
mengakibatkan bayi mengalami penyakit
kekebalan tubuh yang jauh lebih rendah
tetanus (Hidayat, 2015). Ujung tali pusat
dari pada bayi normal. Di Jawa Timur
akan mengeluarkan nanah, pada sekitar
terdapat 88 kasus infeksi tali pusat pada
pangkal tali pusat akan memerah dan
Tahun 2015 (Kemenkes, RI, 2015).
disertai edema. Dampak yang ditimbulkan
Prevalensi kejadian Bayi Baru Lahir di
adalah kuman-kuman masuk melalui
Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan
pembuluh darah tali pusat masuk ketubuh
Malang sebanyak 289 dari bulan Januari
bayi hingga menyebabkan kematian
2017 hingga Januari 2018 (Rekam Medik
(Sodikin, 2015). Sebagai perawat,
Panti Waluya Malang, 2018).
pertolongan kesehatan yang dapat
diberikan adalah merawat tali pusat
Peneliti menemukan fenomena pada saat
dengan cara steril, memberikan asuhan
praktik bulan Januari 2017 di ruang AP
keperawatan kepada klien, melalui

2
kolaborasi, kuratif dan preventif. spinal pada pukul 15:00 WIB masuk
Perawatan tali pusat dalam keadaan steril, ke ruang Operasi. Selesai operasi
bersih dan kering. Pemberian pengetahun pukul 16:00 WIB lalu bayi
tentang perawatan tali pusat sangatlah dipindahkan ke Recovery room dan
penting bagi ibu yang mempunyai bayi baru kembali dari ruang Operasi pukul
baru lahir ( Hidayat, 2015). Berdasarkan 17:00 WIB. Saat dilakukan
masalah latar belakang peneliti tertarik pemeriksaan fisik pada bayi
untuk melakukan penelitian tentang ditemukan keadaan tali pusat masih
"Asuhan keperawatan pasa Bayi Baru basah. Pada tali pusat tidak ditemukan
Lahir dengan masalah Resiko infeksi Di kemerahan, pembengkakan, bau
Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan maupun nanah.
Malang”.
Pada bayi 2 mengatakan kontraksi
Metode penelitian
mengeluarkan sedikit cairan ketuban
Penelitian ini dilakukan melalui metode
pada tgl 24-5-2019 jm 07:00 lalu di
studi kasus, yaitu studi untuk
bawa ke rumah sakit pada tgl 25- 5-
mengeksplorasi asuhan keperawatan bayi
2019 melahirkan secara normal Klien
baru lahir dengan Resiko infeksi tali pusat
MRS pada tanggal 25 Mei 2019 pukul
di RS Panti Waluya Sawahan Malang.
08:40 WIB. Pada tanggal tersebut ibu
Klien dirawat di ruang Agnes Paviliun
bayi dilakukan persalinan secara
(AP), RS Panti Waluya Sawahan Malang
normal pada pukul 09.00 WIB. Bayi
pada tanggal 24-26 Mei 2019 (pasien 1)
dengan neonatus kurang bulan dengan
dan tanggal 25-27 Mei 2019 (pasien 2).
indikasi ketuban pecah dini. Selesai
persalinan pukul 10:30 WIB BB
Hasil
2000gram lalu bayi dipindahkan ke
Pada studi kasus ini didapatkan hasil
kamar pukul 15.00 WIB. Plasenta
sebagai berikut:
lahir secara lengkap dan ketuban
1. Pengkajian
jernih. Pada saat dilakukan,
Pada bayi 2 dilahirkan secara sectio
pemeriksaan fisik terutama pada status
caesarea dengan indikasi ibu
gizi dan tali pusat. Ditemukan tali
mempunyai riwayat Hipertensi, ibu
pusat masih basah dan tali pusat tidak
bayi MRS pada tanggal 24 Mei 2019
ditemukan kemerahan,
pukul 13:19 WIB. Pada tanggal
pembengkakan, bau maupun nanah
tersebut ibu bayi dilakukan tindakan
section Caesarea dengan anastesi

3
2. Diagnosa Keperawatan teratasi yang ditandai dengan tidak
Berdasarkan hasil pengkajian Menurut ada tanda-tanda resiko infeksi.
penulis, Pada bayi 1 dan 2 ditetapkan
diagnosa keperawatan yang sama
yaitu Resiko infeksi tali pusat Pembahasan

berhubungan dengan 1. Pengkajian

ketidakadekuatan pertahanan tubuh Ibu bayi melahirkan secara sectio

primer. caesarea dengan indikasi ibu


mempunyai riwayat Hipertensi. Ibu

3. Intervensi Keperawatan bayi dilakukan tindakan Sectio

Berdasarkan data dari diagnosa Caesarea dengan anastesi spinal pada

keperawatan yang ada maka dapat pukul 15:00 WIB masuk ke ruang

disusun rencana keperawatan pada Operasi. Saat dilakukan pemeriksaan

klien bayi baru lahir dengan masalah fisik pada bayi ditemukan keadaan tali

risiko infeksi tali pusat.. Berdasarkan pusat masih basah. Ibu bayi

Hidayat (2015) melakukan perawatan mengatakan kontraksi mengeluarkan

tali pusat terbuka sebanyak 9 sedikit cairan ketuban. Bayi 2 dengan

intervensi. neonatus kurang bulan dengan


indikasi ketuban pecah dini. Bayi

4. Implementasi Keperawatan dengan BB 2000gram, plasenta lahir

Berdasarkan diagnosa keperawatan secara lengkap dan ketuban jernih.

pada bayi yang mengalami risiko Pada klien 1 dan 2 tali pusat tidak

infeksi terdapat perbedaan tindakan ditemukan kemerahan,

implementasi pada bayi 1 dan 2 dan 9 pembengkakan, bau maupun nanah.

interensi dapat dilaksankan Menurut penulis, bayi 1 dan 2 dapat


seluruhnya. beresiko mengalami infeksi khususnya
karena Ketidakadekuatan pertahanan
5. Evaluasi Keperawatan tubuh primer. Pada bayi baru lahir
Pada bayi 1 dan 2 tindakan imunitas bayi umumnya masih rendah
implementasi dilakukan selama 3 hari sehingga sangat rentan terhadap
dan didapatkan evaluasi sesuai dengan paparan mikroorganisme yang
kriteria hasil yang ditetapkan terbukti menjadi penyebab infeksi yang dapat
pada kedua bayi masalah dapat ditularkan melalui udara sekitar atau

4
lingkungan sekalipun sudah dilakukan lahir, tubuhnya belum berfungsi
tindakan aseptik. dengan sempurna sehingga sistem
Masalah tersebut sesuai dengan teori imun pada bayi belum aktif hingga
menurut Musbikin (2015) dimana beberapa bulan dan beresiko
risiko infeksi pada tali pusatt dapat mengakibatkan infeksi bila mana
disebabkan oleh infeksi terpapar lingkungan. Tindakan
mikroorganisme yang terdapat pada invansif dengan steril pun tetap terjadi
lingkungan sekitar bayi. Menurut infeksi akibat sistem imun yang belum
Saputra (2014), Setelah lahir bayi matang.
menjadi rentan akan berbagai infeksi Infeksi pada tali pusat dapat terjadi
dan alergi karena sistem kekebaan disebabkan oleh beberapa faktor
tubuh belum matang. Imunitas akan sesuai dengan teori Pusonegoro (2010)
memberikan kekebalan alami yang faktor yang berhubungan dengan
dapat disediakan oleh sel darah yang resiko infeksi tali pusat dibagi menjadi
membunuh organisme asing dan 3 : resiko prenatal, resiko nosokomial,
kekebalan yang didapat akan muncul dan resiko neonatal. Faktor neonatal
setelah bayi dapat membentuk reaksi meliputi KPD dan infeksi selama
anti bodi terhadap antigen asing kehamilan. Resiko nosokomial
meliputi lama rawat, prosedur invasif,
2. Diagnosa Keperawatan prosedur cuci tangan, pengetahuan
Menurut penulis, Pada bayi 1 dan 2 dan perilaku ibu dalam perawata tali
ditetapkan diagnosa keperawatan yang pusat. Faktor neonatal meliputi : berat
sama yaitu Resiko infeksi tali pusat badan lahir rendah dan kelainan
berhubungan dengan kongenital. Menurut Saputra (2014),
ketidakadekuatan pertahanan tubuh sebelum lahir, plasenta merupakan
primer. sawar yang menjaga janin. Setelah
Menurut penulis bayi 1 dan 2 lahir, bayi menjadi rentan akan
memiliki persamaan diagnosa berbagai infeksi dan alergi karena
keperawatan yaitu resiko infeksi tali sistem kekebaan tubuh belum matang.
pusat namun memiliki etiologi yang Imunitas akan memberikan kekebalan
berbeda. Pada bayi 1 dan 2 memiliki alami yang dapat disediakan oleh sel
etiologi yang sama yaitu darah yang membunuh organisme
ketidakadekuatan pertahanan tubuh asing dan kekebalan yang didapat
primer. Pada umumnya, bayi baru akan muncul setelah bayi dapat

5
membentuk reaksi anti bodi terhadap tanda infeksi pada ibu dan keluarga,
antigen asing. melakukan pemeriksaan TTV 3 x/24
jam, memonitor tanda dan gejala
3. Intervensi infeksi , batasi pengunjung, anjurkan
Rencana tindakan keperawatan yang meningkatkan asupan nutrisi.
akan dilakukan adalah 1) lakukan
perawatan luka seteril 3x/24 jam 2)
mencontohkan cara cuci tangan 4. Implementasi

sebelum dan sesudah melakukan Implementasi yang dilakukan

tindakan perawatan tali pusat 3) mengacu pada intervensi 1-9 dan tidak

memberikan contoh keluarga semua dilakukan namun disesuaikan

mengenai tehnik perawatan luka dengan kondisi klien dan telah

seteril 4) jelaskan tanda-tanda infeksi disetujui oleh klien dan keluarga.

pada ibu dan keluarga 5) lakukan Tindakan pada kedua bayi adalah

pemeriksaan TTV 3x/24 jam 6) memonitor keadaan tali pusat dan

memonitor tanda dan gejala infeksi 7) merawat tali pusat dengan baik dan

batasi pengunjung 8) anjurkan benar dengan cara perawatan tali pusat

meningkatkan asupan nutrisi 9) terbuka oleskan menggunakan ujung

anjurkan ibu melakukan IMD. cotton bud sedikit di basahi dengan


aquades 25ml memutar pada ujung tali
Pada bayi 1 dan 2 telah ditetapkan
pusat, buka popok agar terpapar
rencana keperawatan yang bersifat
langsung dengan udara supaya tali
tindakan sesuai dengan tinjauan
pusat tidak lembab, bayi kedua
pustaka. Pada bayi 1 dan tidak ada
anjurkan ibu untuk meningkatkan
perbedaan pada intervensi karena
asupan nutrisi bayi melalui pemberian
memiliki etiologi yang sama.
ASI.
Intervensi yang telah direncanakan Hal di atas sesuai dengan teori
bagi kedua pasien telah sesuai dengan menurut (fraser, 2015) dengan
teori menurut (fraser, 2015) melakukan implementasi sesuai
melakukan perawatan luka seteril 3 dengan keadaan klien diaharapkan
x/24 jam, mencuci tangan sebelum dapat mencapai kriteria hasil yang
dan sesudah melakuan tindakan, kasih telah ditetapkan. Implementasi yang
tahu keluarga mengenai tehnik dilakukan mencakup tindakan mandiri
perawatan luka seteril, jelaskan tanda-

6
pada ibu bayi dan tindakan klien 2 dengan waktu 3 x 24 jam. Pada
kolaboratif. klien 1 dan klien 2 masalah dapat teratasi
karena pada evaluasi terakhir dan kedua
5. Evaluasi klien dapat memenuhi semua kriteria hasil
Pada bayi 1 dan 2 Suhu bayi dalam yang sudah ditentukan.
batas normal 36℃, RR 34x/menit, tali
pusat tampak sedikit kering, tidak ada
infeksi, nanah, kemerahan dan bau Daftar Pustaka

pada tali pusat. Donna. L. Wong 2015. Buku Ajar


Keperawatan. Cetak pertama.
Jakarta;ECG
Pada klien 1 masalah resiko infeksi
tali pusat tidak terjadi karena tidak ada Hidayat, A. Aziz Alimul (2015) pengantar
Ilmu Kesehatan anak untuk
masalah pada tali pusat, pada hari ke 3
Pendidikan Kebidanan.
tali pusat sudah mulai mengering. Jakarta;Salemba Medika.
Pada klien 2 tidak terjadi masalah
Hurlock, Elizabeth B, (2015) Spikologi
resiko infeksi tali pusat karena tali Perkembangan, Jakarta:Erlangga
usat sudah sedikit mengering. Namun, edisi kelima

masalah masih tetap beresiko karena Kemenkes RI.profil Kesehatan Indonesia.


sistem imun pada bayi masih belum Jakarta :Depkes RI. 2015

matang, terlebih pada bayi 2 yang Pusponegoro, 2010. Sepsis pada neonatus
mengalami premature. (sepsis neonatal). Sari Pediatri,
vol.2.No.2:96-102
Hal di atas sesuai dengan teori
Setyo,Andrian.2015.”Perawatantalipusat”
Hidayat (2015) dalam pentalaksanaan .document.Http://andriansetyo.wor
dpress.co
mengantisipasi terjadinya resiko
infeksi tali pusat yaitu dengan cara m/2015/16/perawatan-tali-
pusat.docx,diunduh pada tanggal
merawat tali pusat terbuka yang baik
25 oktober 2015 pukull 19.30 Wib
dan benar agar tidak ada Putra
menimbulkan infeksi tali pusat.
Sodikin (2015) Buku saku keperawatan
tali pusat Jakarta Buku kedokteran
EGC.Ebooks.Http://books.google.c
o.id/boooks/about/buku_saku_pera
Kesimpulan watan_tali_pusat.html?hl.id&id=A
Asuhan Keperawatan pada Bayi Baru n8r5+HgAyUC&redu_esc=y,diund
uh tanggal 26 Oktober 2015 pukul
Lahir dengan masalah Resiko Infeksi Tali 14.30 Wib
Pusat telah dilaksanakan pada klien 1 dan

7
Muslihatul, Wafinur (2015) Asuhan
Neonatus, Bayi dan Balita .
Yogyakarta:Firamaya.

8
9
10
11